Tag: ulama’

  • RAWI UNIVESITAS IMAM SYAFI’I HADRAMAUT, YAMAN ADAKAN IJTIMA’ NASIONAL

    RAWI UNIVESITAS IMAM SYAFI’I HADRAMAUT, YAMAN ADAKAN IJTIMA’ NASIONAL

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Rabu, 15 Desember 2021, Ikatan Alumni Universitas Imam Syafi’i, Mukalla, Hadramaut, Yaman yang tergabung dalam organisasi Rabithah Al-Atha’ wal Irfan (RAWI) sukses mengadakan Ijtima’ Nasional dalam rangka menyambut Duf’ah ke empat Alumnus Universitas Imam Syafi’I Mukalla, Hadramaut, Yaman.

    Universitas Imam Syafii Mukalla, Hadramaut, Yaman adalah salah satu Universitas Favorit yang menjadi tujuan para pencari ilmu belajar di Negeri Sejuta Wali Yaman ini, Universitas yang diasuh oleh Ulama Besar Yaman Sayyidi Syaikh Al-Allamah Dr. Muhammad Ali Ba’athiyyah telah menelorkan para juru dakwah yang tersebar diseluruh penjuru nusantara dan dunia.

    Dalam rangka menguatkan persatuan para alumni, RAWI mengadakan Ijtima’ Nasional yang dilaksanakan 2 hari di Pondok Pesantren Matla’ul Anwar Kota Cirebon yang diasuh oleh salah satu alumnus Universitas Imam Syafii Yaman Ustadz Sofi Maulana, Lc, S.Pd, MA. Al Hafidz, RAWI menghadirkan seluruh dai dan Asatidz angkatan ke empat yang berasal dari penjuru Indonesia misalnya Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera, Kalimantan dan daerah lainnya.

    Ijtima’ dimulai pukul 16.00 WIB diawali dengan pembacaarn Maulid Nabi yang dipimpin oleh Al Munsid Ustadz Arif Fathur Rahman, M.Pd. dan Ustadz Fadli Aziz, Lc, kemudian dilanjutkan sambutan dari tuan rumah. Dalam sambutannya tuan rumah Ustadz Sofi Maulana selaku tuan rumah merasa bersyukur bisa menjadi tuan rumah, beliau berharap perkumpulan seperti ini selalu istiqomah sebagai bentuk irtibat para alumnus kepada guru Mulia Sayyidi Syekh Dr. Muhammad bin Ali Baatiyah.

     

    Sambutan berikutnya dari Pembina Yayasan Rabithah Al-Atha’ wal Irfan (RAWI) sekaligus Wakil Ketua RAWI Ustadz Hafidz, M.Pd. “Kelulusan kalian Laisa minan Nihayat ( bukanlah akhir dari sebuah perjuangan ) akan tetapi kelulusan kalian dari Hadramaut adalah Nuqtotul Bidayah ( titik awal dari hakikat perjuangan ), maka siapkan diri kalian untuk bisa bermanfaat bagi masyarakat dan umat dengan niat khidmah kepada Sayyidi Syekh Hafidzahullahu Ta’ala (As-Syaikh Dr. Muhammad bin Aly Ba’atiyah )”.

    “Ciri-ciri kesuksesan seorang penuntut ilmu adalah adanya Irtibat ( sambungan dzahir dan batin ) antara murid dengan guru setelah lulus, dan adanya sambungan antara satu murid dengan yang lain terkhusus kepada alumnus yang lebih dahulu dan hendaknya selalu memiliki sifat Al Ihatiram wa Fadl As-Sabiq.” Pungkas ulama muda yang juga menjadi Pengajar di Pondok Pesantren Darus Sa’adah Malang ini.

    Ketua Yayasan Rabithah Al-Atha’ wal Irfan (RAWI) Ustadz H. Minanurrahman, M.Pd dalam sambutannya merasa bersyukur dengan semangat Duf’ah Robi’ah dalam acara Ijtima’ ini.

    “Saya berharap dengan terselenggaranya Ijtima’ Rabithah Al-Atha wal Irfan (RAWI) ini menjadikan semakin kuatnya hubungan persaudaraan antara pengurus RAWI dan anggota, sehingga RAWI lebih eksis dalam menyebarkan Dakwah Islamiyah, Syiar Syariah, Tarbiyah dan Dakwah berbasis Ahlussunnah Waljamaah di Indonesia sesuai Manhaj Dakwah Sayyidi Syekh Dr. Muhammad bin Aly Ba’atiyah.”

    “Kita harus kompak, kita harus bersama-sama, tidak boleh ada yang keluar dari jalur dan manhaj Sayyidi Syaikh, karena dengan persatuan yang kokok kita akan lebih mudah dan maju dalam menjalankan visi dakwah mulia ini.” Pungkas Pemuda yang sekarang menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Darul Mannan Bankalan Madura ini.

    Acara berikutnya adalah penyampaian pesan melalui Telepon dari Hadramaut oleh Ustadz Arif Rahman Rasyadi, M.Pd., beliau menyampaikan bahwa Al Walid Asy Syaikh Muhammad bin Ali Batiyah bersyukur dan senang atas terselengggaranya acara ini. Ada harapan kuat dari Syaikh untuk seluruh peserta agar mengikuti acara seperti ini secara istiqomah.

    Sebelum menuju pada acara musyawarah bersama, peserta terlebih dahulu mendengarkan motivasi dan strategi dakwah dari salah satu Pengurus RAWI pusat yang telah sukses membuat dakwah dan pesantren online yaitu ustadz Ahmad Fahim, M.Pd. Pendakwah yang juga Penulis buku ini mengajak seluruh peserta untuk bergabung bersama, merapatkan barisan untuk bisa menyebarluaskan ilmu yang telah didapatkan dari Yaman.

    Acara dilanjutkan dengan  Pembahasan Strategi Dakwah, Melengkapi Kepengurusan RAWI dan Penyampaian visi misi serta profil RAWI oleh Pengurus. Ijtima’ Ulama menghasilkan semakin lengkapnya stuktur kepengurusan RAWI dengan ditambahnya pengurus baru dari Duf’ah Rabiah.

    Khusus Duf’ah Rabi’ah ( Alumnus Universitas Imam Syafii, Mukalla, Hadramaut, Yaman angkatan keempat ) pada pagi harinya mengadakan pertemuan khusus untuk membentuk kepengurusan Duf’ah. Dan telah terpilih sebagai Syuriyah ( Dewan Pertimbangan dan Penasehat ) :

    1. Raden KH. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha, M.A. ( Pondok Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan, Surakarta )
    2. Habib Hasan bin Ja’far Baabud ( Pondok Pesantren Al Bahjah Cirebon ) dan
    3. Al-Ustadz Muhamad Hasyim Asy’ari, Lc. ( Pondok Pesantren Darus Saadah Malang ).

    Adapun Ketua Duf’ah Rabi’ah terpilih adalah Ustadz M. Sofi Maulana, M.A. ( Pondok Pesantren Ma’taul Anwar Cirebon ) dengan sekretaris Ustadz Ahmad Mahdi, Lc ( Pondok Pesantren Darus Solihin, Batu, Malang ) dan bendahara Ustadz Ahmad Haris, Lc. ( Pondok Pesantren Ilmu Qur’an Singosari Malang )

    Dalam rangka melengkapi keberkahan Ijtima’ Nasional ini, peserta Ijtima’ dipimpin oleh tuan rumah mengadakan Ziarah bersama ke Makam Sunan Gunung Jati Cirebon, Makam Syarif Fatahillah ( Pangeran Jayakarta ) dan Syarifah Muda’im ( Nyimas Rarasantang ), setelah ziarah, para peserta Ijtima’ Nasional RAWI mengadakan kunjungan ke ndalem KH. Yahya Zainul Maarif ( Buya Yahya ) di Pondok Pesantren Al Bahjah Cirebon. Dalam pertemuan tersebut para peserta Ijtima’ Nasional RAWI mendapatkan banyak wejangan tentang pentingnya keikhlasan dalam berdakwah dan petingnya kekompakan dan kebersamaan dalm berdakwah. (abi sorban)

  • DAKWAH ULAMA ASWAJA

    DAKWAH ULAMA ASWAJA

    SORBANSANTRI.COM

    Oleh: KH. Ma’ruf Khozin.

    wp.sorbansantri.com – Ajaran Islam terdiri dari Aqidah, Syariah/ Fikih dan Akhlah/ Tasawuf. Ini adalah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

    Jika dakwah terlalu mengedepankan Aqidah dengan mengabaikan yang lain maka kecenderungan bagi da’i tersebut adalah mengafir-kafirkan. Jika Fikihnya yang terlalu menonjol maka akan menyesat-sesatkan. Jika terlalu dominan pada Tasawuf akan memiliki kecenderungan pembiaran sambil mengira akan ada perubahan.

    Maka yang tepat adalah keseimbangan 3 hal tersebut. Jika ada penyimpangan dari umat maka akan dibimbing dengan kesantunan, kasih sayang, etika dan sebagainya.

    Kita lihat saat Allah memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk mendatangi Fir’aun -Raja yang mengaku Tuhan-, maka Allah berfirman:

    ‎فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

    “Maka berbicaralah kamu berdua kepada Fir’aun dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (Ţāhā: 44).

    Imam Al-Qurthubi menyelaraskan dengan keadaan kita saat ini dalam berdakwah:

    ‎ﻓﺎﻟﻘﺎﺋﻞ ﻟﻴﺲ ﺑﺄﻓﻀﻞ ﻣﻦ ﻣﻮﺳﻰ ﻭﻫﺎﺭﻭﻥ، ﻭاﻟﻔﺎﺟﺮ ﻟﻴﺲ ﺑﺄﺧﺒﺚ ﻣﻦ ﻓﺮﻋﻮﻥ، ﻭﻗﺪ ﺃﻣﺮﻫﻤﺎ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺑﺎﻟﻠﻴﻦ ﻣﻌﻪ.

    Kita tidak lebih mulia dari pada Nabi Musa dan Nabi Harun. Orang yang kita dakwahi tidak lebih buruk dari pada Fir’aun, padahal Allah memerintahkan kepada kedua Nabi tersebut untuk berkata lembut kepada Fir’aun.

    ‎ﻭﻗﺎﻝ ﻃﻠﺤﺔ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ: ﻗﻠﺖ ﻟﻌﻄﺎء ﺇﻧﻚ ﺭﺟﻞ ﻳﺠﺘﻤﻊ ﻋﻨﺪﻙ ﻧﺎﺱ ﺫﻭﻭ ﺃﻫﻮاء ﻣﺨﺘﻠﻔﺔ، ﻭﺃﻧﺎ ﺭﺟﻞ ﻓﻲ ﺣﺪﺓ ﻓﺄﻗﻮﻝ ﻟﻬﻢ ﺑﻌﺾ اﻟﻘﻮﻝ اﻟﻐﻠﻴﻆ، ﻓﻘﺎﻝ: ﻻ ﺗﻔﻌﻞ! ﻳﻘﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ:” ﻭﻗﻮﻟﻮا ﻟﻠﻨﺎﺱ ﺣﺴﻨﺎ”. ﻓﺪﺧﻞ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ اﻵﻳﺔ اﻟﻴﻬﻮﺩ ﻭاﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﻓﻜﻴﻒ ﺑﺎﻟﺤﻨﻴﻔﻲ

    Talhah bin Umar berkata kepada Atha’: “Kamu dikelilingi banyak orang yang berbeda keinginan. Sementara saya orang yang tegas. Saya berkata kepada mereka dengan kata-kata yang kasar”. Atha’ berkata: “Jangan lakukan itu! Allah berfirman: “Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia” (Al-Baqarah 83). Dalam ayat ini diperintah berkata yang baik kepada Yahudi dan Nasrani, apalagi sesama Muslim (Tafsir Al-Qurthubi 2/16). (abi sorban)

  • Melacak Sumber Kutipan Imam Syafi’i Soal Panah Fitnah

    Melacak Sumber Kutipan Imam Syafi’i Soal Panah Fitnah

    SORBANSANTRI.COM
    Oleh : Gus Nadirsyah Hosen
    wp.sorbansantri.com – Belakangan ini beredar luas kutipan yang dikatakan berasal dari Imam Syafi’i tentang ulama mana yang harus kita ikuti. Dari kutipan baik berbentuk tulisan maupun meme (gambar) itu konon Imam Syafi’i menyarankan kepada muridnya untuk mengikuti ulama yang terkena fitnah atau dibenci oleh orang kafir.
    Saya penasaran. Di kitab mana Imam Syafi’i mengatakan demikian? Saya telusuri sejumlah kitab karya Imam Syafi’i yang saya miliki, dari mulai ar-Risalah, al-Umm, Diwan dan Musnad, tapi saya tidak menjumpainya. Begitu juga sejumlah kitab babon yang ditulis oleh para murid Imam Syafi’i juga saya coba telusuri, namun saya tidak mendapatkan sanad kutipan tersebut.
    Dalam bahasa Arab kutipan yang beredar itu begini teksnya:
    ‎سئل اﻹمام الشافعي رحمه الله : كيف نرى الحق من بين كل هذه الفتن ؟ ‎فقال :اتبع سهام العدو ترشدك إلى الحق
    Imam Syafi’i ditanya: “Bagaimana kita mengetahui pengikut kebenaran di jaman yang penuh fitnah?”
    Beliau menjawab: “Perhatikanlah panah-panah musuh (ditujukan kepada siapa), maka itu akan menunjukimu kepada siapa ‘Pengikut Kebenaran’ itu”.
    Redaksi di atas telah dimodifikasi dalam berbagai versi yang viral sesuai kepentingan masing-masing. Misalnya yang saya temukan:
    Versi pertama;
    Imam Syafi’i berkata: “Carilah pemimpin yang banyak panah-panah FITNAH menuju kepadanya, IKUTILAH mereka yang banyak di FITNAH, Karena sesungguhnya mereka sedang berjuang di JALAN yang BENAR.”
    Versi kedua:
    Imam Syafi’i pernah berkata: Nanti di akhir zaman akan banyak Ulama yang membingungkan Umat, sehingga Umat bingung memilih mana Ulama Warosatul Anbiya dan mana Ulama Suu’ yang menyesatkan Umat.
    Lantas murid Imam Syafi’i bertanya: “Ulama seperti apa yang kami harus ikuti di akhir zaman wahai guru?”
    Beliau menjawab: “Ikutilah ulama yang dibenci kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik. Dan jauhilah ulama yang disenangi kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik, karena ia ia akan menyesatkanmu, menjauhimu dari Keridhoan Allah“.
    Saya menemukan pula di internet bahwa kutipan senada yang dinisbatkan kepada Imam Syafi’i itu juga sering disandarkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib dan juga kepada Ibn Taimiyah. Jadi sebenarnya itu kutipan dari siapa? Wa Allahu a’lam.
    Tapi yang jelas sejauh ini saya tidak menemukan rujukan dari kitab klasik manapun dan juga tidak mendapati sanad kutipan yang diklaim berasal dari pernyataan Imam Syafi’i. Terakhir, setelah usaha saya menelusuri lembaran kitab gagal, saya bertanya langsung kepada Syekh Ibrahim al-Shafie seorang ulama keturunan langsung dari Imam Syafi’i. Lewat WA beliau mengonfirmasi bahwa beliau pun tidak menemukan kutipan tersebut dalam kitab manapun baik dari Imam Syafi’i maupun dari murid-murid sang Imam.
    Jadi, saya berani mengatakan bahwa kutipan di atas itu PALSU, sampai ada yang bisa menyebutkan sumber dan sanad kutipan tersebut dan kita verifikasi bersama kevalidannya.
    Nah, kutipan di atas telah diviralkan sejumlah pihak sesuai kepentingannya. Para pendukung HRS misalnya mengatakan banyak fitnah terhadap HRS dari para musuh Islam dan itu membuktikan HRS sebagai ulama yang benar, berbeda dengan para ulama NU seperti Gus Dur dan Kiai Said Aqil Siradj yang justru disenangi oleh kaum kafir. Pendukung Gus Dur dan Kiai SAS juga melawan dengan menggunakan kutipan yang sama bahwa justru banyak sekali fitnah yang ditujukan kepada kedua kiai NU ini, dan itu menunjukkan mereka juga benar.
    Yang mengejutkan ISIS pun ternyata memakai kutipan di atas dan mengatakan dulu panah musuh, sekarang pesawat tempur dan rudal musuh Islam ditujukan kepada mereka, maka merekalah kelompok yang benar dan harus diikuti umat Islam.
    Saya ingin mengatakan bahwa kutipan di atas yang belum terverifikasi itu sudah menjadi BOLA LIAR dan dipakai untuk membela kepentingan masing-masing. Tapi jangan-jangan kita semua yang memakai kutipan di atas jadi turut berdusta atas nama Imam Syafi’i.
    Dan kalau kita mau kaji lebih jauh, masak sih standar ‘kebenaran’ itu diukur dari berapa banyak fitnah yang ditujukan kepada ulama? Jangankan para ulama, lha wong saya saja yang bukan siapa-siapa sering kena fitnah dibilang liberal, Syi’ah, sesat, bahkan setiap saat akun saya di medsos diserang para haters. Apa otomatis itu menjadikan pendapat saya benar? Ya belum tentu. Ukuran kebenaran bukan semata-mata soal kebencian dan fitnah dari orang lain, tapi yang terutama adalah soal otoritas keilmuan dan kekuatan argumentasi berdasarkan Nash dan kitab-kitab rujukan.
    Kembali ke masalah di atas. Saya tegaskan sekali lagi, bahwa klaim kutipan dari Imam Syafi’i di atas belum terverifikasi, dan harus kita anggap sebagai PALSU dan jangan lagi disebarkan selama belum ada sumber dan sanadnya. Kalau ada yang menyebarkannya, tanya saja: “di kitab apa Imam Syafi’i berkata demikian?” Jangan sampai kita dianggap berdusta atas nama Imam Syafi’i. (kang jay)
    Mari kita kirimkan al-Fatihah untuk Imam Syafi’i 
  • Silaturahmi KH Thoifur Mawardi Purworejo di kediaman Maulana Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan

    Silaturahmi KH Thoifur Mawardi Purworejo di kediaman Maulana Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Rabu, 7 Oktober 2020 selepas Isya Maulana Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan kedatangan seorang tamu, ulama kharismatik dari kota Purworejo Jawa Tengan, alumni Abuya Sayid Muhammad Almaliki Mekkah, yaitu KH Thoifur Mawardi Purworejo.
    Maulana Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan terlihat sangat gembira dan senang sekali dg kedatangannya.
    Begitu beliau tiba dan duduk sejenak di ruang tamu, sudut atas, maka salah seorang abdi dalem beliau memberi tahu, maka beliau Maulana Habib Lutfi bin Yahya langsung beranjak dari kamarnya dan segera menemuinya. Dan ternyata memang kedatangannya itu tengah dinanti- nanti oleh beliau.
    Dua ulama besar yg saling menghormati dan saling menyintai, satu dari kalangan kyai yg satu dari kalangan dzurriyah nabi saw, persis seperti yg pernah terjadi dan dialami pada sahabat Ibnu Abbas dan zeid bin Tsabit ra.
    Kedatangan KH Thoifur Mawardi Purworejo di kediaman Maulana Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan disamping untuk silaturahmi, juga untuj membahas berbagai masalah yg berkaitan dg masalah umat, perjuangan dakwah dan lainnya, juga untuk mengantarkan sebuah kitab karya Maulana Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan yg usai disyarahi dan beri ta’liq oleh beliau.
    Pertemuan kedua ulama besar tersebut walaupun dalan waktu singkat dan tidak lama, yakni sekitar 2-3 jam, tapi terlihat sangat hangat penuh keakraban dan sejuk di pandang, petanda rahmat dan barokah Allah akan segera turun untuk keamanan dan keselamat negeri tercinta Indonesia ini, yg tengah dilanda berbagai macam masalah, penyakit dan lain sebagainya.
    Keduanya mengungkapkan berbagai cerita sejarah dan untaian ilmu yg sangat menarik, yg kami hanya dapat tercengang, sambil mendengar dan mencatatnya dg setia.
    Dari mulai cerita tentang sholawat, keampuhan membaca sholawat, sejarah nabi, makam para wali dari india, Mesir, Yaman, Mekkah hingga Indonesia, kaum Wahai, sejarah para pejuang Indinesia, hingga cerita tentang guru mereka berdua, yaitu Abuya Sayid Muhammad Almaliki Mekkah.
    Yang menarik adalah saat Maulana Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan menceritakan secara rinci tentang berbagai karomah Abuya Sayid Muhammad Almalik dan bagaimana kecintaan, perhatian, sayangnya Abuya Sayid Muhammad kepadanya, maka KH Thoifur Mawardi Purworejo menuturkan dg tegas, “Iya betul, kawan- kawan santri menceritakan hal itu semua kepadaku, Abuya Sayid Muhammad Almaliki Mekkah telah memperlakukan Maulana Habib Lutfi bin Yahya dg sangat istimewa dan luar biasa, dan beliau sangat cinta dan sayang dg Maulana Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan.” (Muhdor Ahmad)
  • Kritikan Gus Baha Untuk Orang-orang NU

    Kritikan Gus Baha Untuk Orang-orang NU

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- NU itu terlalu banyak pengajian umum. Tradisi ngaji (kitab) mulai hilang. Itu lampu merah. Orang kaya suka ulama. Suka kiai. Tapi maunya ngatur ulama, tidak mau diatur ulama.
    Saya gak mau ngaji yang ribet itu. Harus pasang panggung, sound system, yang penting bupati datang. Ribet.
    Mereka habis 50 juta, 100 juta tidak masalah. Tapi sesuai mau mereka, yang datang jamaahnya banyak. Coba, kalo nuruti maunya kiai, ulama, ngajinya menganalisa kitab, uangnya buat mencetak naskah, pasti tidak mau.
    Saya ingin kebesaran ulama itu kembali, yaitu bisa mengatur orang kaya. Bukan seperti sekarang, diatur orang kaya.
    Banyak yang datang minta pengajian umun, bawa alphard, saya jawab kalo mau ngaji datang ke sini saja. Kalo kiai diatur-atur, kan ribet. Bukan saya anti. Dan itu perlu. Tapi sudah over. Tapi tradisi ngaji yang sebenarnya, yang jadi standar NU, sudah mulai ditinggalkan. Ditambah, kiai yang kedonyan, cinta dunia. Klop. Yang kaya, tahunya memuliakan kiai dengan uang, kiainya juga senang. Musibah. Terutama di Jawa Timur. Saya keluar dari kantor PWNU Jawa Timur, langsung dikasih voucher umroh. Saya jawab, tidak, saya kiai Jawa Tengah.
    Makanya saat saya diundang di Tebu Ireng, Pondok Syaikhona Kholil, Termas … Saya mau asal, disediakan naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Kholil, Syaikh Mahfudz Termas.
    Ya, saya ngajinya kitab para pendiri pesantren itu. Bukan ngaji Gus Baha tapi ngaji Mbah Hasyim Asy’ari, dll.
    Ini kan musibah. Selama ini dzurriyah, para cucu tidak peduli dengan naskah pendiri. Padahal ada ahli filologi, pengumpul naskah. Naskah masyayikh kita ada di luar negeri, cucunya ga punya.
    Saya punya naskahnya Syaikh Mahfudz yang tidak ada di Termas. Saya dikasih Mbah Moen. Akhirnya, para cucu ngaji ke sini.
    Coba, Sirojut Tholibin di cetak di mana-mana, termasuk Yaman. Namun, kita tahu nasibnya di Jampes.
    Kiai-kiai NU itu sudah alim. Ngerti hukum secara tafsil, kok malah hobi bicara yang mujmal. Ini kan sudah mau pinter, di suruh goblok lagi.
    Anda itu ngaji, sampai buka kamus, meneliti tiap kata, harusnya ngajarnya seperti itu. Agar tetap alim.
    Ada kiai yang sehari manggung 3 kali. Padahal, pasti dia tidak paham problem dakwah di setiap tempat itu. Dia tidak tahu objeknya, tidak tahu obatnya. Pasti bicaranya standar, itu-itu saja, yang penting lucu dan menarik. Mana ada waktu untuk belajar lebih dalam?
    Akhirnya ada orang ceramah ditambahi musik macam-macam. Karena dia tidak alim. Tidak terkontrol, yang penting menarik. Akhirnya ya goblok beneran. Pondok NU juga ikut-ikutan tren. Bikin acara, ya pengajian umum. Yang datang banyak. Masak, pondok NU mengundang Ustad/Kiai yg tidak jelas. Karena ikut tren tadi. Tidak tahu, keduanya itu kategorinya apa, detailnya mereka. Musibah lagi, warga NU membaca tulisan Gus Ulil, Nusron bahkan Abu Janda tapi tidak tahu naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari.
    Saya hanya ingin, tradisi ilmiah di NU itu kembali. Kiai tidak boleh diatur orang kaya. Jika tidak, NU bisa habis (orang alimnya). Saya di NU ditugasi ini, bukan yang lain. Maka, saat saya di Lirboyo, saya bilang ‘Gus Kafa, saya lebih senang disambut 4 santri yang benar-benar niat ngaji, daripada banyak santri yang niatnya tidak jelas’. Kemudian, setiap kali saya ke Lirboyo, anak, mantu, cucu dikumpulkan dulu ngaji sama saya.
    Jika, kita 5 tahun saja memulai. NU akan hebat. Jika bukan anak kita yang jadi alim, cucu kita akan jadi ulama. Itulah NU. NU itu harusnya melahirkan kiai – allamah, bukan kiai-mubaligh seperti sekarang. Dan saya melihat sudah lampu merah. Padahal di zaman kakek saya, bahasa Arab itu seperti bahasa Jawa. Saya punya tulisannya Mbah Hasyim Asy’ari yang surat-suratan dengan kakek saya dengan bahasa Arab.
    Keilmuan, kealiman ini jangan habis. Dulu para pendiri, kakek kita, allamah, punya naskah. Jika kita terus begini, bisa habis. (abi sorban)
    Penjelasan Gus Baha; ( KH. Ahmad Bahauddin Nursalim) dalam pengajian beliau
  • HIDUPKAN AGAMA, JANGAN MALAH CARI HIDUP DARI AGAMA. Sertifikasi Da’i, Aku Sih Yes.

    HIDUPKAN AGAMA, JANGAN MALAH CARI HIDUP DARI AGAMA. Sertifikasi Da’i, Aku Sih Yes.

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Saya tidak ingat betul, Tapi kira-kira seperti itulah, kalimat terahir ketika mengikuti lomba pidato di sekolah saya beberapa puluh tahun yang lalu. Itupun kalimat tersebut saya kutip dari da’i kondang Zainuddin MZ.
    Jadilah ketika saya mengatakan, ” ” Hidupkan agama, jangan malah cari hidup dari agama,” Itu persis mencontohkan gayanya Zainuddin MZ yang sedang memberikan tausiyah kepada jamaah.

    Ceritanya waktu itu, sehari sebelum mengikuti lomba pidato saya masih kelabakan mencari judul yang pas. Akhirnya atas usulan teman, saya diberikan kaset bajakan yang isinya ceramah Zainudin MZ. Setelah dengan susah payah mendengarkan seluruh isi ceramah dai kondang tersebut, saya kemudian lantas dengan seketika jatuh cinta dengan gaya penyampaian yang iya bawakan.

    Jika hari ini misalnya kembali akan diadakan lomba pidato antar alumni SD, tentu saya akan menolak untuk berpartisipasi lagi. Ya bukan apa-apa takutnya nanti model ceramah saya tidak sesuai dengan selera keinginan masyarakat. Itu bisa dimaklumi karena memang hari model ceramah-ceramah agama bukan main banyaknya. Ada yang sambil membentak-bentak, kemudian setelah itu, meneriakan kalimat takbir. Ada yang dengan santun. Ya, pokoknya macam-macam.

    Selain itu juga, isi pesan dari penceramah kita hari ini kan juga beragam. Ada yang mengajak untuk poligami saja, ada banyak. Bahkan pernah berseliweran digrup-grup WhatsApp cara cepat memperoleh istri empat. Ada yang senangnya membahas soal kafir, itu juga banyak. Bahkan masih ada para penceramah yang sering mengaitkan isi ceramah dengan kebangkitan PKI.

    Inilah problem kita hari ini. Da’i atau penceramah sering kali menyampaikan hal-hal yang membuat masyarakat kebingungan. Bisa jadi dikarenakan ketidaktahuannya akan suatu persoalan atau memang sebuah setingan untuk menaikkan pamor dari da’i tersebut. Jangan dikira setingan itu hanya kehidupan artis saja.

    Pernah dalam satu tayangan live di salah satu stasiun televisi swasta, seorang da’i menyampaikan kalimat yang penuh kontroversial. Bahkan menurut saya ini keterlaluan tak pantas diucapkan seorang penceramah apalagi ini live disaksikan oleh jutaan orang di seluruh Indonesia.

    ” Salah satu kenikmatan yang ada di dalam surga adalah pesta seks. Minta maaf, karena inilah yang kita tahan-tahan di dunia. Dan kenikmatan terbesar yang diberikan oleh Allah SWT di surga adalah pesta seks.”

    Meski akhirnya sang dai meminta maaf atas kekeliruannya tapi video kontroversi tersebut telah beredar dan terus saja menjadi konsumsi publik. Begitu juga dengan para pemirsa yang terlanjur telah mendengar kalimat tersebut. Akan terus tertanam dibenaknya tentang pembenaran si da’i tersebut.

    Ada banyak lagi contoh kasus di mana sang dai lewat isi ceramah-ceramahnya menuai kontroversi di masyarakat luas. Salah satu yang cukup menyedot perhatian dan energi ialah kontroversi ialah ucapan ustadz Evi Afandi yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah sesat. Dan anda pasti bisa menebak dengan benar apa yang dilakukan ustadz tersebut. “Minta maaf.”

    Jika mau diulas satu demi satu maka tulisan ini akan penuh dengan berbagai macam kontroversi yang ditimbulkan oleh para dai. Hal semestinya tidak harus sampai terjadi jika memang para dai itu punya standar yang jelas, kompetensi ia miliki sudah tidak diragukan lagi. Dan tidak perlu lagi membuat klarifikasi permintaan maaf atas kekeliruannya dalam menyampaikan tauziah. Saya sudah sangat muak dengan pengulangan-pengulangan itu.

    Itulah kenapa ketika Kemenag ingin mensertifikasi para da’i, saya pun dengan seketika menyatakan setuju. Layaknya seperti mas Anang Hermansyah dalam program pencarian bakat ketika ditanya oleh pembawa acara dengan spontan ia menjawab. “ Aku sih yes”

    Setidaknya dengan adanya sertifikasi da’i akan mengurangi potensi-potensi ceramah agama yang dapat menimbulkan kontroversi ditengah masyarakat. Karena dengan sertifikasi akan ketahuan mana yang benar-benar ulama mana yang mengaku-ngaku sebagai ulama.

    Selama ini batasan itu belum jelas, siapa saja yang berhak memberi tausiyah. Apa kompetisinya, bagaimana penguasanya terhadap suatu persoalan dan masih banyak lagi syarat harus dimiliki. Barulah kemudian ia diberi mikrofon.

    Bayangkan saja hampir setiap hari kita itu selalu bersinggungan dengan para da’i atau mendengarkan ceramah. Mulai dari tayangan di televisi, ribuan konten ceramah di berbagai platform media sosial yang begitu mudah di share. Belum lagi kegiatan-kegiatan seremonial kita selalu menghadirkan para da’i. Mulai dari perkawinan sampai peresmian kantor bahkan sekarang ditempat kerja pun ada semacam kajian yang harus diikuti oleh setiap karyawan.

    Sertifikasi da’i sebenarnya juga menguntungkan para da’i itu sendiri. Minimal sang da’i tersebut akan bebas berceramah di mana saja selama masih di wilayah Indonesia, tanpa takut akan terjadinya persekusi.

    Kekhawatiran dengan adanya sertifikasi da’i akan menjadi kontrol bagi penguasa sebenarnya adalah hal yang tak perlu terlalu dirisaukan. Layaknya seperti jargon yang sering kita dengar, “Kalo bersih kenapa harus risih”.

    Dokter saja ketika ingin membuka praktek harus mengantongi surat izin dari pemerintah, begitu juga dengan pelatih sepakbola jika ingin melatih klub sepakbola haruslah mempunyai lisensi atau sertifikat baru kemudian bisa melatih. Itu Artinya menandakan bahwa pentingnya sebuah keahlian, nah untuk membuktikan kita ahli dalam bidang tertentu ya mestilah diuji dahulu.

    begitu pula profesi da’i memang benar-benar harus diisi oleh orang yang mumpuni, yang mengerti dengan agama. Hingga yang keluar dari tenggorokannya ajakan untuk selalu menebar kebaikan, berdakwah dengan carxa merangkul bukan memukul. Mengajak bukan membentak. (m.arfah ansor batam)

  • SAMPEYAN PERCAYA NABI ATAU KYAI???

    SAMPEYAN PERCAYA NABI ATAU KYAI???

    SORBANSANTRI.COM

    Oleh : Shuniyya Ruhama

    cyberaswaja.online –Kalimat di atas kerap sekali terdengar, menghenyakkan kita semua. Mempertanyakan kapasitas muktabaroh Ulama, dan membandingkan dengan Kanjeng Nabi yang memang jelas tidak berbanding sama sekali. Jika tidak faham, maka akan jelas sekali seolah-olah banyak perkara yang dilakukan oleh Kyai bertentangan dengan Kanjeng Nabi.

    Kyai itu tidak berpendapat melalui hayalan beliau sendiri, melainkan berdasarkan ajaran dari Kyainya Kyai juga. Demikian seterusnya hingga sanad bersambung kepada Kanjeng Nabi. Jadi tidaklah benar bahwa Kyai itu menyelisihi Kanjeng Nabi.

    Ibaratnya, saat Kanjeng Nabi memerintahkan kita untuk “ngliwet sego”. Maka yang dilakukan Kyai bukan ‘sego diliwet’, melainkan akan ‘mususi’ beras, ‘dikaru’. Setelah setengah matang, ‘beras karon’ ini ditanak dalam dandang. Inilah yang disebut ngliwet sego.

    Sementara, mereka yang tidak punya guru yang jelas sanadnya, begitu ada perintah Kanjeng Nabi untuk ‘ngliwet sego’, maka yang mereka lakukan adalah mencari nasi untuk diliwet. Karena dalam hayalannya yang namanya ‘ngilwet sego’ berarti harus ada ‘sego’ kemudian ‘diliwet’.

    Tidak sampai di situ, mereka memprovokasi, mencaci maki dan mentertawakan serta menganggap kita bodoh, salah, menyelisihi Quran Hadits karena diperintahkan ‘ngliwet sego’, tapi malah kita ‘mususi beras’ dst.

    Itulah gambaran bagi wong NU yang belajar dari Kyai dalam memahami Quran dan Hadits, jika dibandingkan dengan mereka yang over percaya diri “memurnikan” Quran Hadits dan langsung mengambil hukum dari sumbernya, tanpa menggunakan ilmu alat.

    Lalu, mereka akan mempertanyakan kepada kita, “Anda percaya dengan Nabi atau Kyai?”, seakan-akan Kyai kita itu salah dan tersesat dalam memahami nash suci. Bagi masyarakat awam, hal ini tentu akan bisa menjerumuskan mereka untuk tidak percaya lagi dengan para ulama muktabaroh an nahdliyyah.

    Maka kita saksikan akhirnya, mereka beribadah, berijtihad dan mengambil hukum tidak jelas jluntrungnya karena memang tidak pernah dilakukan oleh generasi-generasi Ulama terdahulu.(abi sorban)

     

     

  • Ketika Para Ulama Besar Bertemu.

    Ketika Para Ulama Besar Bertemu.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Merendahlah, karena sebagaimana air, ilmu tak akan pernah mengalir ke tempat yang lebih tinggi…. Ini sejumput cerita tentang seorang ulama besar bernama Syekh Abu Ishaq Asy-Syirazi (393–476 H/1003–1083 M).

    Nama lengkap ulama besar mazhab Syafi’i ini adalah Abu Ishaq Ibrahim bin Ali bin Yusuf bin Abdillah Asy-Syirazi Al-Fayruzabadi. Kitab Al-Muhazzab karya Imam Abu Ishaq Asy-Syirazi adalah salah satu kitab rujukan utama dalam mazhab Syafi’i sampai abad ke 6 hijriah.

    Al-Muhazzab banyak menjadi bahan kajian ilmiah bagi para ulama, sehingga muncul banyak karya ilmiah yang didasarkan darinya baik berupa Syarah dan Hasyiah. Yang paling termasyhur tentu saja kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab karangan Imam Nawawi.

    Suatu ketika Syekh Abu Ishaq Asy-Syirazi menjadi utusan Khalifah ke Bastam dalam menyelesaikan ketegangan yang terjadi antara Sultan Malik Syah dengan ‘Amid Abu al-Fath bin Laits, seorang pejabat di Iraq.

    Demikian dikisahkan dalam al-Kamil fit Tarikh (juz 8, halaman 283). Ini artinya Khalifah al-Muqtadi sangat mempercayai Syekh Abu Ishaq Asy-Syirazi.

    Nama besar Syekh Abu Ishaq asy-Syirazi, sebagai utusan Khalifah, menjadi magnet tersendiri. Para ulama keluar menemui beliau, termasuk Syekh Juwaini yang dikenal sebagai Imam al-Haramain, guru dari Imam al-Ghazali. Rakyat juga berbondong-bondong menyambut sambil membawa roti dan buah-buahan.

    Dikisahkan seorang Syekh Sufi bernama as-Sahlaki mendatangi Syekh Abu Ishaq asy-Syirazi. Ibn al-Atsir menyebut Sahlaki ini sebagai “Syaikhun Kabirun”. Abu Ishaq yang diberitahu kedatangan Syekh as-Sahlaki ini langsung keluar menemuinya dengan berjalan kaki.

    Syekh as-Sahlaki segera turun dari kendaraannya dan mencium tangan Syekh Abu Ishaq. Syekh Abu Ishaq membalas penghormatan ini dengan mencium kaki Syekh as-Sahlaki, lantas menempatkan Syekh as-Sahlaki di kursinya, sementara Syekh Abu Ishaq memilih duduk di bawah di antara kedua tangan Syekh as-Sahlaki.

    Jelas tampak kedua orang ulama besar berbeda disiplin ilmu ini saling menghargai. Yang satu ahli fiqh; satunya lagi seorang sufi. Syekh as-Sahlaki memberi hadiah, yang disebut-sebut merupakan perbendaharaan dari masa Syekh Abu Yazid al-Busthami, seorang sufi agung generasi sebelumnya. Syekh Abu Ishaq asy-Syirazi menerimanya dengan gembira.

    Syekh as-Sahlaki ini, hasil pelacakan saya, nama lengkapnya adalah Abu al-Fadl Muhammad bin Ali bin Ahmad as-Sahlaki. Beliau mengumpulkan berbagai pernyataan dan ujaran Syekh Abu Yazid al-Busthami.

    Itulah contoh pertemuan antara seorang faqih dengan seorang sufi. Contoh ini menjadi penting karena seringkali terjadi pertentangan antara ahli Hadits dengan ahli Fiqh, dan juga antara ahli Fiqh dengan ahli Tasawuf. Maka jauh-jauh hari Imam Malik sudah mengingatkan:

    “Barang siapa bertasawuf tanpa berfikih maka dia zindiq. Barang siapa berfikih tanpa bertasawuf maka dia fasik. Barang siapa menggabung keduanya maka dia akan sampai pada hakikat.”

    Para ulama, apapun disiplin keilmuannya, bila bertemu akan saling menghormati.
    Bahkan kalaupun mereka saling berbeda pandangan.
    Tidak ada caci-maki yang keluar dari lisan mereka. Itulah akhlak yang diwariskan kepada kita semua.
    Maukah kita meneladaninya?
    Insya Allah.

    Sumber:
    Dalam kitab al-Kamil fit Tarikh (juz 8, halaman 283).

  • Saat Sebelum Kemerdekaan, Tan Malaka Sowan Mbah Hasyim

    Saat Sebelum Kemerdekaan, Tan Malaka Sowan Mbah Hasyim

    SORBANSANTRI.COM

    Sorban Santri-Pada saat itu Tan Malaka merasa tertarik dengan gaya pengajaran Mbah Hasyim di Pondok Pesantren Tebuireng yang mengajari santrinya untuk hidup mandiri tanpa ketergantungan pada kedua orang tua yakni dengan cara berladang, bertani dan bahkan berternak seagai sumber penghidupan para santri dibilik-bilik kecil pondok pesantren.

    Inilah alasan ketertarik Tan Malaka kepada Mbah Hasyim yang selanjutnya diaktualisasikan di tempatnya Semarang dengan Sekolah Rakyatnya, di mana infrastruktur dari sekolah tersebut dari kerja keras peserta didik dan sumbangan para saudagar.

    Mbah Hasyim juga mengatakan kepada Tan Malaka sebagai tokoh penganut Sosialis, bahwa ada korelasi atau hubungan yang serasi antara Sosialis dan Islam. Yakni Sosialis mengajarkan orang untuk bersikap adil dan melindungi kaum marginal yang tertindas, pun begitu dengan pengajaran Islam terdapat kewajiban Zakat untuk dibagikan kepada rakyat miskin dan Islam mengajari untuk bersikap adil dan melindungi orang lemah.

    Kyai tersohor kelahiran Jombang Jawa Timur ini selama hidupnya pernah belajar di berbagai Pondok Pesantren di Jawa, Madura bahkan sempat mendalami ilmu agama di Makkah Al-Mukaromah sampai beberapa tahun lamanya. Diantara guru Beliau yang termasyhur seantero negeri ialah Ulama Hijaz asal Banten yakni Syeikh Muhammad Nawawi Bin Umar Tanara Al-Bantani yang mengarang ratusan kitab, dari fiqh, tashawwuf, maupun tafsir al Qur’an, Syeikh Nawai juga melahirkan tidak sedikit ulama dan pejuang-pejuang kemerdekaan tanah air tercinta ini.

    Sebagai satu contoh, saat Kyai Hasyim Asy’ari muda nyantri kepada Kiai Soleh Darat di Semarang, Beliau bertemu dan bersahabat akrab dengan Muhammad Darwis atau yang lebih populer dikenal dengan nama KH Ahmad Dahlan, pimpinan sekaligus pendiri organisasi besar di Indonesia yakni Muhammadiyah. Beliau bersahabat akrab sampai masa dewasa dan tuanya, yaaa meskipun berbeda pandangan atau pendapat tetapi, kerukunan dan kearifan yang Beliau contohkan kepada para santri sungguh luar biasa dan menakjubkan.

    Menurut Beliau, perbedaan ialah hal yang bersifat fitrah dan memang manusiawi, di dunia ini tidak ada yang sama oleh sebab itu harus saling mengerti dan memahami satu sama lain untuk membentuk tatanan kemasyarakatan yang rukun dan bersatu dalam perjuangan melawan penjajajah. Itulah yang kiranya bisa kita contoh dari para tokoh tersebut. tak pernag kendur semangat.

    Dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia sebelumnya, Mbah Hasyim sempat menyerukan kepada rakyat Jombang untuk mogok kerja di perkebunan Tebu milik kolonial Belanda. Alasannya, tanah yang dipakai koloni sejatinya ialah milik rakyat, namun dalam praktiknya disewa Belanda secara paksa, sehingga rakyat sendiri memeras keringat dengan bekerja sehingga hasilnya disetorkan kepada Belanda dan rakyat hanya mendapatkan sebagian kecil dari hasil tersebut. Hati Mbah Hasyim benar-benar tak tega melihat keadaan rakyat yang sangat menderita saat itu.

    Tidak sedikit rintangan dan halangan yang beliau hadapi, bahkan sampai-sampai bilik Pondok Pesantren Tebuireng dibakar habis oleh pihak koloni Belanda. Memang perubahan dan perjuangan penuh dengan pengorbanan dan Mbah Hasyim menyadari hal itu. Mbah Hasyim tidak serta merta merasa putus asa dan takut menghadapi akibat dari perjuangan yang dilakukannya, karena menurut beliau berjuang membela Tanah Air memang sudah semestinya dilakukan oleh semua orang di Negara ini tanpa terkecuali.

    Mempelajari kisah dan perjuangan dari para pendahulu bangsa, salah satunya dari Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy’ari inilah, yang semestinya kita sebagai bagian dari Bangsa dan Negara ini insyaf dan sadar akan pentingnya sebuah perjuangan untuk mendapatkan kemerdekaan dengan melakukan hal-hal yang positif saat mengisi kemerdekaan seperti perjuangan membela kaum-kaum yang termarjinalkan. Dengan penuh rasa nasionalisme dan kesadaran Kebhinekaan antara satu dengan yang lainnya untuk bersatu membangun Bangsa dan Negara ini agar senantiasa Maju, Makmur dan Sejahtera.

    Petuah KH Hasyim Asy’ari :

    “Agama Dan Nasionalisme Adalah Dua Kutub Yang Tidak Berseberangan. Nasionalisme Adalah Bagian Dari Agama Dan Keduanya Saling Menguatkan.” (KH. Hasyim Asy’ari)

  • KH. ZAINUDDIN BIN MU’MIN MOJOSARI NGANJUK.

    KH. ZAINUDDIN BIN MU’MIN MOJOSARI NGANJUK.

    SORBANSANTRI.COM

    Sorban Santri – KH. Zainuddin merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tua di Dusun Mojosari, Loceret, Nganjuk, Jawa Timur generasi ke 7 Penerus Pesantren ini. Pondok Pesantren Mojosari didirikan pada tahun 1720 M oleh Kyai Ali Imron, Bendungan.

    Ketika menjadi santri di pesantren Langitan, Tuban, Kiai Zainuddin yang asal Padangan, Bojonegoro diambil menantu oleh pengasuh pondok tersebut, dan diminta untuk meneruskan kepemimpinan Pondok Mojosari. Di bawah kepemimpinannya, Ponpes Mojosari mencapai kejayaannya.

    Kyai Zainuddin adalah sosok Kyai yang istiqomah, diakui kewaliannya dan sangat peduli dengan lingkungan, ini dibuktikan dengan banyaknya hewan piaraan dirumahnya, spt sapi, kuda, kambing, bebek, ayam dan lainnya. Seakan-akan rumahnya mirip kebun binatang.

    Meski di kenal sebagai Waliyullah, kegiatan KH Zainuddin sehari-hari tak jauh berbeda dengan petani pada umumnya, tapi ia terkenal sangat disiplin dan istiqamah. Jam 22.00 setelah selesai mengajar dimalam hari, sang kiai istirahat hingga jam 02.00 lalu shalat tahajjud, membaca Al Qur’an atau melakukan ibadah-ibadah lain yang bertujuan Taqarrub/mendekatkan diri kepada Allah hingga menjelang datang waktu subuh.

    Namun adakalanya, sembil menanti subuh, Beliu berputar-putar mengelilingi pekarangan yang banyak ditumbuhi pohon buah-buahan, dikumpulkannya buah sawo, jambu dan buah-buahan lainnya yang berjatuhan untuk makanan ternak. Setelah itu barulah Beliu membangunkan para santri di pondok dengan menyebut nama mereka satu per satu. Begitu banyak nama santri yang beliau hafal.

    Apabila musim penghujan tiba, biasanya santri agak sulit bangun pagi, untuk mengatasinya KH. Zainuddin tidak pernah kehabisan taktik. Beliau keliling membawa wadah air dan selembar serbet (kain lap). Serbet yang sudah dibasahi itu kemudian ditempelkan atau diteteskan airnya ketubuh siapa saja yang belum bangun, tak peduli santri atau tamu yang kebetulan sowan ke pondok.

    Santri yang terkejut merasakan tetesan air itu mulai bergerak bangun, namun lucunya Kyai Zainuddin malah dengan sigapnya bersembunyi dibalik pintu tak ubahnya seperti anak kecil yang sedang bermain petak umpet. Hal ini terus dilakukan sampai santri benar-benar bangun.

    Untuk santri yang masih juga membandel, padahal sudah berulang kali tetesan air mengenai tubuhnya maka Kyai Zainuddin meneteskan minyak tanah dari sumbu lampu kaleng. Si santripun bisa jengkel dan bangun sampil berteriak : “wo bocah nakal !!! mbeling tenan, nganggo lengo gas” (wah nakal, keterlaluan banget, pakai minyak tanah). Dan santri itupun hanya bisa tersipu malu ketika mengetahui pelakunya adalah kiainya sendiri. Kyai Zainuddin yang terkenal nyentrik ini memang memiliki selera humor tinggi sehingga santri-santri sangat akrab dengan Beliau.

    Usai shalat Subuh, Kegiatan Kyai Zainuddin dilanjutkan dengan pengajian, dari kitab yang kecil maupun besar. Sekitar jam 07.00 diambilnya sapu lidi, dan dengan sigap Beliau membersihkan halaman rumah sampai ke kandang kuda, sapi, kambing dan ayam. Kalau perlu, Beliau juga turut memberi makan binatang-binatang ternak piaraannya, kiai Zainuddin termasuk penyayang binatang dan rajin menjaga kebersihan lingkungan.

    Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Kiai Zainuddin bekerja keras, mengayun cangkul, menanam singkong, jagung atau pisang. Dan untuk keperluan kesehatan, juga membuat apotek hidup dihalaman ndalemnya.

    Pada suatu hari, Hadlrotusyaikh KH. Hasyim Asy’ari banyak mendapatkan laporan dari masyarakat, tentang pertunjukan di pondok Mojosari yang dianggap tabu di kalangan “NU” saat itu, Setelah melakukan rapat dengan sejumlah Kyai, akhirnya KH. Hasyim Asy’ari memutuskan akan mengirim surat pribadi yang berisi peringatan kepada KH. Zainuddin, Mojosari, supaya melarang santri-santrinya menyelenggarakan acara-acara yang berbau munkarot.

    Ketika surat itu akan dikirim, malam harinya kiai Hasyim bermimpi berjama’ah dengan banyak alim ulama di sebuah masjid. Dan yang mengherankan adalah dengan jelas dia melihat bahwa yang menjadi imamnya adalah KH Zainuddin Mojosari, sedangkan KH. Hasyim sendiri berada di shof agak belakang. maka dia mengurungkan niatnya mengirimkan surat tersebut karena segan dan sangat menghargai kiai Zainuddin.

    Keluarbiasaan yang lain, demikian tingginya mata batin kiai Zainuddin, sehingga dia dapat mengetahui muridnya bakal menjadi ulama besar, itu terjadi pada diri Jazuli, anak Muhammad Utsman, seorang naib dari Desa Ploso, Kediri.

    Konon, Jazuli sudah berada di Batavia untuk masuk Stovia, sekolah kedokteran tempo dulu. Ketika Kiai Zainuddin mengetahui hal itu, ia segera menemui ayah Jazuli dan minta agar Jazuli ditarik pulang. “Dia tidak cocok sekolah disana,” ujarnya mengingatkan.

    Karena yang menyuruh adalah seorang kiai besar, Naib Utsman tidak berani menolak, dikirimnya surat ke Batavia dengan pesan agar Jazuli segera pulang atas saran Kiai Zainuddin. Jazuli sendiri ketika menerima surat itu dapat memahami keputusan tersebut dengan legawa (besar hati), meski ia telah bermukim disana selama beberapa bulan.

    Kenyataannya memang demikian, Jazuli Utsman akhirnya dikenal sebagai ulama, pemimpin Pondok Pesantren Ploso,Kediri.

    Suatu waktu Kyai Zainuddin mengatakan kepada Jazuli “Cepat kamu datang ke Mojosari”, sebab kala itu Jazuli tinggal di luar pondok karena kemampuan finansialnya tidak mengizinkan untuk tinggal di pondok. “Saya tidak punya uang, kyai” jawab Jazuli polos. “Ah Weslah, nanti kamu akan menjadi blawong” kata Kyai Zainuddin.

    Jazuli tidak mengerti apa arti blawong, makanya dia diam saja. Yang terpikir di benaknya adalah posisinya yang serba sulit. Kalau masuk ke pondok, kiriman uang dari rumah tidak cukup, tapi kalau tetap di luar pondok, berarti tidak taat pada gurunya. Oleh karena itu, predikat blawong hanya melintas sekilas di benaknya. Ia tahu bahwa kiai sering memanggil para santri dengan nama julukan daripada nama sebenarnya. Dan julukan itu dibuat sang Kyai sesukanya sendiri. Namun hal itu bukan di anggap kelakar, karena di yakini dapat menembus hal-hal yang bersifat batiniyyah, termasuk masa depan bagi santrinya.

    Rupanya permintaan Kyai Zainuddin agar Jazuli pindah ke pondok, bukan basa-basi. Sampai tiga kali hal itu di kemukakan, sehingga akhirnya Jazuli tinggal di pondok menanti perintah gurunya. Ia di tempatkan disebuah kamar bersama tiga santri lainnya yang merupakan murid-murid kesayangannya. Kelak, mereka ini menjadi kiai yang sukses di desanya masing-masing.

    Nama Kyai Jazuli Utsman sangat terkenal, dan jauh-jauh hari telah di ketahui oleh Kiai Zainuddin bahwa ia bakal menjadi seorang ulama besar, dengan menjulukinya blawong, ternyata blawong adalah nama panggilan seekor burung perkutut mahal yang bunyinya sangat indah dan merdu di kerajaan Majapahit, sehingga semua orang menyimak kicaunya. Ketenaran Kiai Zainuddin menjadi daya tarik masyarakat awam untuk datang ke pesantrennya. Mereka berdatangan dari berbagai penjuru, minta doa dan berkah serta keselamatan.