cyberaswaja.online – Boleh saja nyinyir kepada “ulama” yang dekat penguasa yang kedekatannya “terbukti” (bukan “terasumsi” atau “teropini”) membuatnya terjerumus kepada perbuatan nista. Memperjual beli agama. Menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Menjadi stempel “halal” terhadap kezaliman penguasa.
Memang, idealnya ulama merangkap sebagai umara dan sebaliknya. Akan tetapi sangat sedikit orang yang mempunyai dua kualitas itu sekaligus. Pemisahan kepemimpinan agama (ulama) dan politik (umara) disebabkan karena tidak semua ulama mempunyai kemampuan sebagai umara, dan tidak semua umara yang memiliki kualitas sebagai ulama. Pemisahan ini bukan berarti penghilangan fungsi ulama dan umara. Bukan juga penegasian satu sama lain.
Hubungan ulama dan penguasa (umara) sangat dinamis. Namun, pada dasarnya, kepentingan ulama terhadap penguasa adalah agar ajaran agama bisa dijalankan selurus-lurusnya oleh penguasa. Mengawal umara supaya menjalani pemerintahan dengan adil dan beradab. Ulama juga berkepentingan menjaga kemaslahatan umat disampaikan oleh penguasa.
Sebagaimana yang dijelaskan Syaikh Ibnu ‘Athaillah dalam kitab Lathaiful Minan, setiap zaman selalu ada ulama waliyullah yang dimuliakan oleh penguasa di zamannya. Para penguasa itu mentaati dan mematuhi ulama waliyullah di zamannya, Ada lagi ulama waliyullah yang hilir mudik di tempat penguasa dan pejabat untuk memenuhi kebutuhan para hamba.
Orang-orang awam nyinyir, “seandainya dia ulama waliyullah tentu tidak hilir mudik di tempat penguasa dunia.” Tentu saja pandangan seperti itu keliru, kata Syaikh Ibnu ‘Athaillah, jangan lihat hilir mudiknya di tempat penguasa, namun lihatlah bagaimana sikapnya. Jika ia datang ke tempat penguasa demi kepentingan para hamba Allah, untuk melenyapkan kesulitan mereka, menjadi penghubung bagi mereka,…serta tetap melakukan amar ma’ruf nahi munkar, kebiasaanya itu tidak menurunkan kehormatannya.
Tentang Syaikh Abul Hasan asy-Syadziliy, Syaikh al-Imam Taqiyuddin Muhammad bin Ali al-Qusyairi mengatakan: “Orang-orang dan para pejabat tidak mengetahui kedudukan Syaikh Abul Hasan asy-Syadziliy karena ia sering hilir mudik di tempat mereka guna membantu para hamba.”
Syaikh Ibnu ‘Athaillah menceritakan di dalam kitab Lathiful Minan. Suatu ketika Syaikh Abul Hasan asy-Syadziliy waktu di Iskandaria, memanggil seorang dokter Yahudi untuk mengobati seseorang. Tetapi dokter Yahudi menolak sebelum mendapat izin dari yang yang berwenang. Ada aturan dari pemerintah, dokter tidak boleh mengobati kecuali ada izin dari kepala dokter di Kairo.
Lalu Syaikh Abul Hasan asy-Syadziliy berangkat ke Kairo meminta izin untuk dokter Yahudi. Setelah mendapat izin, ia langsung pulang tanpa menginap. Lalu memberi surat izin kepadanya. Dokter Yahudi terkesima dan sangat kagum dengan keluhuran akhlak Syaikh Abul Hasan asy-Syadziliy.
Hilir mudik ulama waliyullah di tempat penguasa dalam rangka mengurus kebutuhan umat, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang berakhlah tinggi. Mereka mengorbankan dan menghinakan dirinya demi meraih ridla Allah. Mereka mengetahui luasnya rahmat Allah. Dengan rahmat Allah mereka memperlakukan hamba Allah.
Tulisan di bawah ini saya ambil dari karya KH. Abdul Mun’im. Saat Orde Baru berkuasa, NU berhadapan dengan penguasa. Absurdnya, ormas Islam lain yang sering menyuarakan ukhuwah Islam justeru bungkam seribu bahasa saat NU direpresi. Lebih naif lagi, Orde Baru saat membungkam dan hendak menghabisi NU dibantu oleh beberapa kelompok Islam militan atau radikal. Berikut kisahnya.
Saat KH Abdurrahman Wahid memegang tampuk pimpinan NU, ternyata kepengurusannya tidak diakui pemerintah Orde Baru. Maka untuk mengacaukan kepemimpinan Gus Dur, diciptakan konflik dengan mendorong berdirinya NU tandingan yang dipimpin Abu Hasan.
Para ulama NU dituduh memfitnah, lalu satu persatu ulama NU diperiksa di Polda Jakarta Raya, Hal itu semata untuk meruntuhkan mental para ulama. Tetapi soliditas waga NU semakin kuat. Para pimpinan NU terutama Abdurrahman Wahid yang saat itu juga sebagai ketua Forum Demokrasi dilarang bicara di mana-mana, juga dijegal dengan berbagai cara.
Ketika cara halus tidak bisa dipakai, maka cara yang lebih keras dilakukan, yaitu dengan melakukan tindakan militer. Basis NU di daerah tapal kuda khususnya Banyuwangi mulai dijadikan target operasi.
Pertama yang dilakukan adalah dengan dalih memberantas dukun santet. Ternyata yang disebut dukun santet adalah para kiai, yang memang semua kiai memiliki kemampuan tradisional sebagai tabib. Para kiai NU itu dibantai satu-persatu oleh keompok tak dikenal, tetapi ada juga yang dilakukan oleh masyarakat setempat setelah diprovokasi oleh pihak luar. Ratusan kiai menjadi korban operasi ini. Banyak kiai mendapatkan teror dan ancaman.
Operasi yang semula di Banyuwangi itu mulai menyebar ke daerah Jawa Timur yang lain akhirnya merebak ke seluruh Jawa. Anehnya yang dijadikan sasaran hanya para ulama NU, ulama dari ormas lslam lain tidak ada yang menjadi korban.
Karena aparat keamanan tidak bisa membantu, masyarakat NU dalam mengatasi operasi ninja itu, maka banser dan masyarakat dengan dibimbing oleh para kiai sendiri melakukan penjagaan. Dalam penjagaan itu berhasil menangkap beberapa pelakunya yang berpakaian ninja. Anehnya setelah tertangkap mereka menjadi orang gila yang tidak bisa diajak berkomunikasi. Saat itu muncul orang gila di berbagai tempat.
Melihat kenyataan itu, KH Hasyim Muzadi Ketua NU Wilayah Jawa Timur marah sambil meledek pada pemerintah, bahwa tidak mungkin ada organisasi orang gila atau koperasi orang gila, kok tiba-tiba muncul orang gila di mana-mana, padahal jumlah orang gila di daerah ini sangat terbatas, dan sebagian besar dirawat di rumah sakit jiwa.
Tentu ini ulah orang waras yang terorganisir secara rapi untuk membuat kerusuhan dan pembantaian. Demikian protes Hasyim Muzadi. Operasi ninja ini sangat merepotkan NU, karena para ninja itu memiliki kemampuan tempur yang sangat tinggi, bisa menculik kiai yang sudah dijaga dengan ketat, sehingga merepotkan para pendekar pesantren. Tetapi dengan ketinggian ilmu kanuragan kaum santri, serta kekompakan mereka gerakan kelompok ninja sedikit banyak bisa ditanggulangi.
Sayang, saat NU menghadapi penindasan dan pembantaian luar biasa itu, tidak ada ormas Islam lain yang membantu. Ukhuwah Islamiyah yang dibangun NU selama ini tidak mereka terapkan. Demikian juga kalangan minoritas yang selama ini dibela oleh NU khususnya Gus Dur dengan segala risiko, tetapi kelompok minoritas tidak memberikan bantuannya saat mengenaskan seperti itu. Kelihatan kelompok lain hanya minta perlindungan dan bantuan NU, tetapi mereka tetap enggan membantu NU. Ini sangat ironis, namun demikian NU tidak pernah surut membantu siapapun.
Setelah suasana agak reda, berbagai kelompok termasuk lembaga swadaya masyarakat melakukan investigasi dan membentuk tim pencari fakta, maka ditemukan banyak keanehan dan kejanggalan dalam operasi para ninja itu, dimana menunjukkan adanya keterlibatan kelompok Orde Baru bahkan beberapa kelompok Islam militan dalam operasi tersebut.
KH. Abdurrahman Wahid kemudian membeberkan bahwa kesemuanya gerakan militer tersebut adalah operasi naga hijau yang sengaja dilakukan oleh rezim Orde Baru untuk menghancurkan kekuatan NU. Dalam operasi itu 400 orang pimpinan dan warga NU tewas dibantai, selama masa pembantaian itu NU tidak pernah mendapat bantuan apalagi perlindungan dari aparat keamanan TNI dan Polri. NU dengan Banser dan Pagar Nusa serta pasukan santri menghadapi sendiri. Dengan kesigapan itu operasi militer ninja yang disebar ke seluruh Jawa itu bisa ditanggulangi oleh NU sendiri.
Sementara umat Islam yang lain tenang-tenang tidak diserang dan juga tidak berusaha membantu NU. Tetapi NU sudah kuat sehingga tanpa bantuan sudah mampu mengatasi persoalan sendiri.
Buku Sejarah Tambakberas dipegang dan dibaca KH. Ma’ruf Amin
Jasa NU terhadap negeri ini tak dapat diabaikan. Mulai dari Islamisasi secara damai, memperjuangkan negeri ini dari penjajahan, turut memproklamasikan kemerdekaan hingga ikut dalam membangun bangsa. Tak salah jika NU adalah penyangga NKRI. Jika tidak ada NU maka sudah dapat dipastikan NKRI bubar. Tidak heran jika NU mati-matian membela NKRI apapun taruhannya.
NU mengakui bahwa NKRI adalah negara kesepakatan. Diperjuangkan bukan hanya satu golongan dan didirikan bukan hanya satu kelompok agama melainkan penuh ragam kebhinekaan. Atas dasar itu, maka NU menerima Pancasila sebagai dasar negara dengan penuh suka cita. Pancasila adalah fitrah sekaligus rahmat bagi bangsa Indonesia. Tak boleh diingkari dan tak boleh dikhianati.
Kesetiaan NU terhadap negeri ini bukan omong kosong dan sudah dibuktikan secara nyata, lahir dan batin. Banyak tokoh-tokoh NU baik yang tercatat bahkan lebih banyak yang tak tercatat dalam tinta sejarah sebagai pahlawan. Bagi NU, diabadikan atau tidak, tak menjadi persoalan karena keikhlasan tak membutuhkan tanda jasa dan gelar kehormatan.
Yang menjadi persoalan dan menjadi musuh besar bagi NU adalah kelompok-kelompok yang mencoba merusak negeri ini. Kelompok-kelompok pendatang dan baru kenal Islam namun berupaya merusak kebhinekaan atas nama Islam. Kelompok-kelompok anti Pancasila yang menggunakan simbol-simbol agama untuk melakukan pemberontakan, pembodohan dan hinggga penyesatan.
Kelompok inilah yang disebut sebagai pahlawan kesiangan. Mengaku sebagai pembela Islam, pembela rasulullah, pembela ulama, penegak syariah namun sikap dan karakternya tak mencerminkan sebagai pejuang Islam. Kehadirannya sedikitpun tak membawa rahmat melainkan sebagai penghujat, penebar kebohongan dan pembawa ideologi makar.
Disebut pahlawan kesiangan karena seolah hanya kelompok mereka yang memperjuangkan Islam. Seolah hanya golongannya yang membela kepentingan Islam. Diluar golongannya, dianggap anti Islam, dituduh tak paham ajaran Islam. NKRI yang sudah lama tegak berdiri, mereka anggap belum syar’i, perlu diislamkan karena masih dalam kondisi kekafiran dan kemusyrikan.
Pahlawan kesiangan itu bernama kaum khilafah. Pancasila bagi mereka adalah produk kafir-jahiliyah dan simbol thaghut-berhala yang wajib dibasmi. Maka sangat wajar dalam sepanjang sejarah NKRI, kaum khilafah terus berupaya merongrong kedaulatan negara untuk menancamkan ideologi khilafahnya. Mulai dari DI/TII, HTI hingga Khilafatul Muslimin.
Bukan hanya tidak bermanfaat kehadiran mereka bagi negeri ini namun sangat membahayakan bagi masa depan bangsa. Virusnya kian tersebar dalam ruang kehidupan. Mulai dari institusi Polri, BUMN, Lembaga Pendidikan hingga PNS/ASN, walau tak semua, sudah terpapar ideologi radikal khilafah.
Kaum khilafah adalah kaum yang buta sejarah tentang NKRI. Tidak paham bagaimana NKRI ini ditegakkan dengan susah payah oleh seluruh elemen bangsa tanpa membedakan identitas agama mereka. Pancasila adalah jalan tengah bagi persatuan bangsa. Apabila diusik dan diubah maka rusaklah persatuan bangsa ini.
Apakah mereka tidak paham bahwa negara ini bukan negara agama melainkan negara yang penduduknya beragama. Adanya ideologi Pancasila sebagai bukti bahwa negara ini sudah sangat bersyariah dan tak perlu diubah. Jika diubah menjadi negara syariah belum menjadi jaminan akan lebih baik bahkan bisa bubrah.
NU sebagai ormas moderat yang turut berkontribusi melahirkan NKRI tak pernah mempermasalahkan Pancasila karena Pancasila sebagai tuntunan bernegara yang tak bertentangan dengan syariat Islam bahkan lahir dari beberapa prinsip ajaran Islam. Dengan Pancasila, NU terus berupaya mensyar’ikan nusantara sesuai dengan konteks masyarakat nusantara yang heterogen. Jadi, bagi NU, untuk membentuk negara yang ideal sesuai ajaran Islam tak perlu menegakkan khilafah atau ideologi negara syariah.
Bagi NU, menegakkan ajaran Islam dengan cara menghayati ajaran Islam setiap pemeluknya masing-masing sehingga ajarannya diamalkan dalam setiap perbuatan. Menegakkan ajaran rasulullah bagi NU tak perlu menerapkan negara daulah atau negara syariah karena rasulullah tak pernah mewajibkan umatnya untuk membentuk negara syariah melainkan kondisional sesuai dengan konteks dan kesepakatan masyarakatnya. Cukup meneladani akhlak rasulullah dengan menabar rahmat kepada seluruh manusia apapun agamanya. Justru dengan adanya Pancasila, masyarakat Indonesia telah mencontoh rasulullah dalam mendirikan negara Madinah yang terhimpun atas kemajemukan sebagaimana NKRI. Pancasila adalah perwujudan Piagam Madinahnya bangsa Indonesia.
Jadi, hidup di NKRI tak perlu lagi menjadi pahlawan kesiangan yang berupaya memformat baru konsep negara yang sudah syar’i dan final. NU yang sudah jelas turut andil mendirikan NKRI tak pernah teriak-teriak khilafah dan ganti sistem tapi mengapa anak-anak yang baru lahir kemarin sore merasa lebih paham tentang ajaran Islam dan merasa lebih ahli dalam merumuskan negara. Aneh.
Mudah saja hidup di NKRI. Jika memang ingin tetap hidup di NKRI maka terima saja semua sistem berbangsa dan bernegara yang sudah dibuat oleh pendiri bangsa ini. Tak perlu membuat rumusan sendiri yang tak laku dan tak disukai oleh rakyat Indonesia. Jika memang tetap kukuh ingin mendirikan negara khilafah yang auto masuk surga tanpa hisab maka silakan saja buat negara yang jauh dari NKRI. Gitu aja kok repot? Tapi anehnya, kaum khilafah tetap kerasan di NKRI dan beranak pinak, padalah kata mereka negara ini adalah thaghut. Ajib! (Suryono Zakka)
Suatu hari PBNU mengadakan sebuah acara di Surabaya, mengundang duta-duta besar negara sahabat, dan pelayanan-nya pun VVIP. Lebih-lebih KH. Sahal Mahfudz, sebagai Ra’is Amm PBNU, tentu bisa mendapatkan pelayanan yang lebih.
Di Kota Pahlawan ini, Mbah Sahal -sapaan mulianya, selama dua hari bermalam di sebuah hotel berbintang. Tapi, ketika panitia acara ingin membayar kamar hotel yang ditempati Kyai Sahal, beliau bilang: “Ndak usah, aku jek duwe duet dewe,” (Tidak, saya masih punya uang sendiri), sambil berjalan ke kasir. Panitia pun masih merayu Kyai sahal agar mau dibayari oleh panitia. Mbah Kyai Sahal tetap bilang “Ndak usah” sambil beliau mengeluarkan uang dari tasnya. Setelah itu panitia masih berkata: “Mana bon-nya yai, biar kami ganti.” Mbah Sahal dawuh: “Ndak usah, aku moh nganggo duite NU. Aku gowo duetku dewe ae. Nek NU iku urip-urip NU, ojo sepisan-pisan golek urip nok NU.” (Tidak, saya tidak mau menggunakan duitnya NU. Saya pakai uang saya sendiri saja. Di NU itu harus menghidupi NU, jangan sekali-kali mencari hidup di NU).
Sifat Mbah Kyai Sahal patut kita contoh. Beliau benar-benar tulus, ikhlas mengabdi untuk NU. Padahal sekelas Ra’is Amm seperti mbah sahal tentu mudah sekali bagi beliau untuk mendapat fasilitas dari NU. Semoga amal ibadah beliau diterima Allah SWT. Al-Fatihah
CYBERASWAJA.ONLINE – Abuya Mama Muhammad Abdul Ghufron A Bantani adalah sosok ulama yang saat ini diakui keberadaannya sebagai himayah atau paku bumi nusantara yang masih hidup.
Ulama yang satu ini sangat jarang dikenali masyarakat Indonesia, bahkan orang Banten sendiri masih sangat banyak yang tak mengenalinya. Dikarnakan Beliau lebih fokus membimbing santri di pesantren dan menciptakan karya2 kitab berbahasa langka yang sekarang bisa dibilang nyaris punah dan sulit ditemukan, seperti Bahasa Suryani dan Bahasa Ibrani. Selain menguasai 2 bahasa ini, Beliau juga mampu menguasai Bahasa Ajam, bahkan Bahasa Seluruh Burung sampai Bahasa Binatang Buas.
Nama asli Beliau adalah Iyus Sugirman, adapun Muhammad Abdul Ghufron Al Bantani adalah julukan disandarkan oleh gurunya Abuya Mama Armin saat Beliau diberi amalan dengan dikubur hidup2 selama 40hari 40malam. Lalu gurunya berwasiat kepadanya.
Saat ini Beliau bertempat tinggal di Malang – Jawa Timur dan mendirikan pesantren disana yang sekarang cabangnya sudah ada dimana mana. Semua pesantrennya serba gratis tanpa dipungut biaya sedikitpun.
Ulama yang satu ini sudah nampak karomahnya sewaktu masih kecil. Banyak sekali keanehan dari diri Beliau yang sulit dicerna akal.
Yang pasti Kyai ini sangat luar biasa. Penampilannya yang sangat bersahaja membuat orang yg melihatnya bergetar, wajahnya yang memancarkan Nur Ilahi, Beliau bagai magnet kehidupan. Meski Beliau termasuk golongan darah biru yang nasabnya tembus ke Prabu Siliwangi melalui Sultan Hasanuddin bin Syarif Hidayatullah, bahkan tembus hingga Rasulillah SAW, namun hidupnya penuh keprihatinan dan sangat sederhana. Padahal jika inging hidup mewah, tentu Beliau sangat bisa. Namun tidak demikian, Beliau lebih memilih kepentingan umat dibanding kepentingan pribadinya sendiri.
Semoga Beliau diberi umur panjang dan sehat selalu agar terus dapat membimbing kita semua menuju kedamaian dunia hingga keselamatan di akhirat kelak. Aamiin yaa robbal’aalamiin. (ABI-SORBAN )
SORBAN Infokom- Syekh Abdul Qadir Al-Jailani adalah sosok ulama besar yang dikenang sepanjang masa. Karomah-karomahnya sangat masyhur, apalagi beliau dikenal sebagai rajanya para wali (Sulthonul Aulia’). Syekh Abdul Qadir Al-Jailani juga meninggalkan banyak karya yang sampai sekarang dikaji di seluruh dunia. Karya-karyanya menjadi referensi utama dalam ilmu tasawuf.
Di tengah kondisi wabah penyakit mematikan saat ini, sosok Syekh Abdul Qadir Al-Jailani juga menjadi rujukan tawasul para ulama dan umat Islam ketika meminta pertolongan dari Allah SWT. Namanya selalu dikenang dalam berbagai majlis taklim, majlis mujahadah, majlis ilmu, dan lainnya.
Dalam Kitab Tafrihul Khotirfi Mananaqibi Sayyid Abdul Qodir, dijelaskan bahwa Syekh Abdul Qadir Al-Jailani pernah menyembuhkan orang-orang yang terjangkit wabah Thaun yaitu suatu penyakit menular yang mematikan.
Saat itu, wabah penyakit Thaun sangat mematikan, bahkan sampai ada ribuan manusia yang meninggal setiap harinya. Di tengah kondisi itu, maka para ulama, petinggi pemerintah dan orang-orang terhormat menghadap kepada tuan syekh mereka memohon untuk menolak wabah penyakit tersebut.
“Barang siapa orang yang memakan rerumputan madrasahku niscaya akan disembuhkan Allah dari thaun,” kata Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.
Kemudian orang-orang mengambil dan memakan rumput itu sehingga rerumputan itu tidak mencukupinya.
“Barang siapa yang meminum air madrasahku niscaya disembuhkan Allah dari thaun,” lanjut Syekh Abdul Qadir.
Kemudian orang-orang meminum air itu, hingga hilang wabah thaun dengan izin Allah.
Dengan tawasul kita kepada beliau mudah-mudahan wabah penyakit yang ada pada zaman kita ini segera dihilangkan dengan izin Allah. Aamiin. (red.abi)
SORBAN Infokom – Memajang foto guru mulia dan orang shalih adalah hal mulia, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam : Maukah kuberitahu orang – orang mulia diantara kalian?, mereka yang jika dipandang wajahnya akan membuat orang ingat pada Allah. (HR. Adabul Mufrad olehImam Bukhari)
Mengenai larangan memasang lukisan di masa Nabi shallallahu alaihi wasallam, yang para kuffar menggambar para shalihin dan Nabi di masanya dahulu, dilarang oleh Rasululullah shallallahu alaihi wasallam, karena disembah, namun jika justru untuk menambah ketakwaan kita pada Allah Ta’ala maka hal itu baik, dan diriwayatkan oleh Hujjatul islam Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy bahwa salah seorang istri Nabi shallallahu alaihi wasallam memperlihatkan cermin kecil, ketika Ibn Abbas radliyallahu anhu melihatnya maka cermin itu tak menampakkan wajahnya, tapi menampakkan wajah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Rasul shallallahu alaihi wasallam pernah berkaca dengan cermin itu, maka cermin itu merekam wajah Sang Nabi shallallahu alaihi wasallam dan tak hilang selamanya (Fathul Baari Bisyarah Shahih Bukhari). (red.abi)
Foto: Kiai Sahal Mahfudh menjadi Pemimpin Sidang dalam Muktamar NU di Yogyakarta tahun 1989. Di sampingnya Ada KH Ahmad Shiddiq (Rais Am Syuriyah PBNU) yang memakai sorban putih samping Bapak Menteri.
Salah satu karakter utama Kiai Sahal adalah amanah. Amanah ini sifat para Nabi yang diteruskan oleh Ulama yang menjadi ahli Waris para Nabi yang bertugas menyampaikan Risalah Islam di muka bumi.
Amanah dimaknai dengan bisa-dapat dipercaya. Orang yang amanah akan mencurahkan segala kemampuan (daya-upaya) untuk dapat melaksanakan amanah yang dipercayakan padanya.
Amanah lahir dari sifat tanggungjawab penuh seseorang dalam melaksanakan tugas yang diemban. IA all-out dalam melaksanakan tugas sehingga lahir Prestasi Demi Prestasi yang mencengangkan Dan unpredictable.
Urgensi sifat amanah dijelaskan dalam al-Quran Dan Hadis Nabi.
والذين هم لامنتهم وعهدهم راعون
Dan orang-orang yang Menjaga amanah-amanahnya Dan janjinya (QS. Al-Mu’minun 8)
ان الله يأمركم أن تؤدوا الامانات الي أهلها
Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu semua untuk melaksanakan amanah kepada yang berhak (QS. An-Nisa’ 85)
لا ايمان لمن لا أمانة له ولا دين لمن لا عهد له
Tidak dianggap Punya Iman bagi orang yang tidak bisa dipercaya Dan Tidak dianggap Punya Agama bagi orang yang tidak menepati janji (HR. Ahmad).
اية المنافق ثلاث إذا حدث كذب وإذا وعد اخلف وإذا ائتمن خان
Tanda orang munafik Ada tiga, ketika berbicara bohong, ketika berjanji mengingkari, Dan ketika diberi amanah berkhianat (Muttafaqun Alaih).
Dalam banyak tulisan, Kiai Sahal menjelaskan Salah satu sifat utama seorang Muslim adalah amanah. Kiai Sahal sering mengutip ayat dalam QS. Al-Qashash 28:26:
ان خير من استأجرت القوي الأمين
Sesungguhnya sebaik-baiknya orang yang kamu jadikan pekerja adalah orang yang kuat Dan dapat dipercaya (amanah).
Kiai Sahal sering mengutip hadis:
المؤمن القوي خير واحب الي الله من المؤمن الضعيف
Orang mukmin yang kuat lebih baik Dan lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah (HR. Imam Muslim).
Dalam konteks Islam, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi, orang Tidak boleh mencari atau memperebutkan amanah karena amanah hanya diberikan kepada orang yang benar-benar mampu melaksanakannya.
Ingat hadis Nabi:
اذا وسد الأمر الي غير أهله فانتظر الساعة
Jika suatu perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya (HR. Imam Bukhari).
Namun, dalam waktu darurat, seperti Tidak Ada orang lain yang pantas memegang amanah, maka seseorang boleh mencalonkan Dan memperebutkan amanah, bukan Demi kepentingan pribadi (meraih kekuasaan), tapi Demi kepentingan Umum (tegaknya keadilan Dan kesejahteraan umat).
Hal ini tersirat dalam QS. Yusuf 12:55:
قال رب اجعلني علي خزائن الأرض اني حفيظ عليم
Nabi Yusuf berkata: Wahai pemimpinku, jadikan aku Bendahara kekayaan bumi Mesir sesungguhnya aku orang yang bisa Menjaga Dan mengetahui.
Permintaan Nabi Yusuf kepada Raja Mesir saat itu Tidak lepas dari realitas riil bahwa hanya Nabi Yusuf yang bisa melaksanakan amanah untuk mengatur Ekonomi bangsa Mesir. Fakta membuktikan, di tangan Nabi Yusuf, Ekonomi Mesir Jaya Dan menjadi rujukan negara-negara lain saat terjadi resesi-krisis global, khususnya dalam Hal pangan.
Kiai Sahal Mahfudh
Berbagai tanggungjawab yang diserahkan kepada Kiai Sahal membuktikan bahwa Kiai Sahal adalah orang yang amanah. Posisi sebagai Rais Am Syuriyah PBNU Dan Ketua Umum MUI Pusat Tidak mungkin diberikan kecuali kepada orang yang benar-benar sudah terbukti amanahnya dalam mengemban tanggungjawab besar.
Beberapa indikator bahwa Kiai Sahal adalah pemimpin amanah adalah sebagai berikut:
Pertama, saat pulang (bukan boyong) dari Pondok Sarang, Kiai Sahal tiba-tiba diserahi pamannya KH Abdullah Zain Salam Dan guru-guru untuk memimpin Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) Kajen, sebuah Madrasah yang dirintis kakeknya KH Abdussalam, yang berhasil melahirkan ulama-ulama besar.
Kiai Sahal Tidak menolak amanah ini, tapi menerima amanah ini dengan penuh tanggungjawab.
Ketika mengemban amanah sebagai Direktur PIM ini, Tidak terhitung terobosan positif yang diinisiasi Kiai Sahal. Berdirinya Aliyah, Madrasah Diniyah Ula Dan Wustha, Himpunan Siswa Mathali’ul Falah Putra-Putri (HSM-HISMAWATI), Taman Gizi HISMAWATI, Dan lain-lain sebagian terobosan Kiai Sahal.
Kedua, ketika diserahi amanah menjadi Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah tahun 1982, Kiai Sahal menerima amanah ini, meskipun Rais Syuriyah sebelumnya (ketika Kiai Sahal menjadi Katib Syuriyah), yaitu KH Ahmad Kendal berkenan menjadi Wakil Rais untuk membimbing Kiai Sahal.
Ketiga, ketika diserahi amanah jabatan Rektor INISNU (Institut Islam Nahdlatul Ulama) Jepara, Kiai Sahal melaksanakan amanah ini dengan penuh tanggungjawab meskipun tugas-tugas dalam skala Nasional Dan regional menumpuk. Tugas sebagai Rektor ini beliau emban sampai INISNU berubah menjadi UNISNU (Universitas Islam Nahdlatul Ulama).
Keempat, ketika diserahi memimpin Pondok Pesantren Maslakul Huda untuk melanjutkan kepemimpinan Ayahnya, KH Mahfudh Salam yang merintis Pondok ini, Kiai Sahal melaksanakan dengan sepenuh hati. Pondok Pesantren Maslakul Huda di bawah kepemimpinan Kiai Sahal tidak hanya bergerak di bidang pendidikan tafaqquh fiddin, tapi juga bergerak dalam pemberdayaan Ekonomi warga Kajen Dan sekitarnya.
Kelima, ketika diserahi amanah sebagai Ketua Umum MUI Jawa Tengah, Kiai Sahal menerimanya sampai Dua periode. Menurut sumber, di era kepemimpinan Kiai Sahal, MUI Jateng berhasil membangun Kantor karena kedisiplinan Kiai Sahal dalam menertibkan keuangan lembaga sehingga transparan Dan akuntabel.
Keenam, ketika diamanahi tugas Maha Berat, yaitu Rais Am Syuriyah PBNU di Muktamar NU di Lirboyo tahun 1999, Kiai Sahal menerima amanah besar ini dengan penuh tanggungjawab. Beliau Tidak memanfaatkan posisi ini untuk kepentingan pribadi Dan kelompok. Justru beliau berjuang untuk kemajuan warga NU Dan bangsa secara keseluruhan. Maka wajar jika Kiai Sahal dipilih sebagai Rais Am Syuriyah PBNU tiga periode (sampai akhir hayat).
Ketujuh, ketika diserahi amanah menjadi Ketua Umum MUI Pusat tahun 2000, beliau melaksanakan amanah besar ini dengan sungguh-sungguh. Maka wajar jika Kiai Sahal dipilih kembali menjadi Ketua Umum MUI sampai tiga periode (sampai akhir hayatnya). Di era kepemimpinan Kiai Sahal di MUI ini, berdiri Kantor MUI yang representatif.
Tujuh bukti di atas menunjukkan amanah Kiai Sahal Mahfudh yang menjadi inspirasi Dan motivasi para santri untuk meneladaninya.
فتشبهوا إن لم تكونوا مثلهم – ان التشبه بالرجال فلاح
IPMAFA, Jumat, 11 Rajab 1441 – 6 Maret 2020
Foto: Kiai Sahal Mahfudh menjadi Pemimpin Sidang dalam Muktamar NU di Yogyakarta tahun 1989. Di sampingnya Ada KH Ahmad Shiddiq (Rais Am Syuriyah PBNU) yang memakai sorban putih samping Bapak Menteri.