Penulis: Sorban Santri

  • Hujjah Aswaja Khatib Pegang Tongkat

    Hujjah Aswaja Khatib Pegang Tongkat

    dalil-hujjah-aswaja-tongkat-khotib-nu-2cyberaswaja.online- Nabi shalallahu alaihi wasallam keluar menuju tempat shalat Id berjalan kaki. Pulang juga berjalan. Nabi memperbanyak takbir di sela-sela Khutbah. Dan Nabi juga memperbanyak Takbir dalam Khutbah. Ketika Khutbah Nabi memegang tongkat (HR Al-Hakim, Thabrani dan Baihaqi)

    Anjuran melaksanakan shalat Idul Fitri di rumah saja, telah berlalu. Meski sebagian kecil juga ada yang menyelenggarakan Shalat Id di masjid dan mushala, tapi sebagaian besar juga melaksanakan shalat berjamaah di rumah.

    Namun begitu, masih ada tersisa masalah. Yakni, soal memegang tongkat saat berkhotbah dalam Shalat Idul Fitri di masa Pandemi Covid-19 kali ini.

    Sejumlah media sosial menayangkan model berkhutbah yang lazim dilakukan di kalangan masyarakat secara umum di masjid-masjid di Indonesia. Yakni, dalam khotbah, baik Shalat Jumat maupun Shalat Id, dengan memegang tongkat.

    Menanggapi hal itu, Ustadz Ma’ruf Khozin, Ketua Aswaja NU Center Jawa Timur, memberi penjelasan sebagai berikut:

    Memegang tongkat saat khutbah hari raya adalah dianjurkan dalam Madzhab Syafi’iyah, berdasarkan riwayat:

    ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻳَﺨْﺮُﺝُ ﺇِﻟَﻰ اﻟْﻌِﻴﺪَﻳْﻦِ ﻣَﺎﺷِﻴًﺎ ﻭَﻳَﺮْﺟِﻊُ ﻣَﺎﺷِﻴًﺎ، ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻳُﻜَﺒِّﺮُ ﺑَﻴْﻦَ ﺃﺿﻌﺎﻑ اﻟْﺨُﻄْﺒَﺔِ ﻭَﻳُﻜْﺜِﺮُ اﻟﺘَّﻜْﺒِﻴﺮَ ﻓِﻲ اﻟْﺨُﻄْﺒَﺔِ ﻭَﻳَﺨْﻄُﺐُ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﺼًﺎ

    Nabi shalallahu alaihi wasallam keluar menuju tempat shalat Id berjalan kaki. Pulang juga berjalan. Nabi memperbanyak takbir di sela-sela Khutbah. Dan Nabi juga memperbanyak Takbir dalam Khutbah. Ketika Khutbah Nabi memegang tongkat (HR Al-Hakim, Thabrani dan Baihaqi)

    Di Bab Jum’at atau hari raya Imam Syafi’i menganjurkan pakai tongkat. Bagaimana bila tidak ada tongkat?

    (ﻗَﺎﻝَ اﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻲُّ) : ﻭَﺃُﺣِﺐُّ ﻟِﻜُﻞِّ ﻣَﻦْ ﺧَﻄَﺐَ ﺃَﻱَّ ﺧُﻄْﺒَﺔٍ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﺃَﻥْ ﻳَﻌْﺘَﻤِﺪَ ﻋَﻠَﻰ ﺷَﻲْءٍ

    “Asy-Syaafi’i berkata: Aku senang bagi setiap Khatib, Khutbah apapun, untuk memegang sesuatu” (Al-Umm 1/272)

    “Sesuatu” boleh tombak, boleh pancing, boleh senapan tembak (gun), boleh kayu, stick billiar pun boleh.

    •] Shalat Id di rumah dan khutbah Saudara Muslim di Negeri Jiran tetap memegang tongkat, yang penting benda panjang, apapun itu. (Red)

  • Banyaknya Orang Alim, Sedikitnya Orang Wira’i

    Banyaknya Orang Alim, Sedikitnya Orang Wira’i

    101234449_3641096199251676_4378827095095115776_n

    fb: KH. Ma’ruf Khozin

    cyberaswaja.online- Saya diberi kesempatan berkumpul dengan para penentu keputusan Bahtsul Masail PWNU Jatim selama 10 tahun. Di tengah seriusnya beliau-beliau membahas selalu banyak candaan. Kalimat ‘kurang nyegoro’, ‘kitabnya kurang gede’ dan sebagainya adalah bagian candaan saja untuk melengkapi dinamika adu argumentasi. Begitu kalimat itu dibawa keluar kok serius banget.

    Mengamalkan pendapat yang ketat dan berat adalah soal Wira’i. Sudah maklum kok di Mukadimah kitab Majmu’ dijelaskan urutan pendapat ulama yang layak diikuti adalah Aura’ (lebih Wira’i) untuk didahulukan.

    Salah satu pendiri NU yang juga menjadi Rais Akbar, Hadlratusyekh KH Hasyim Asy’ari menulis dalam kitabnya Ziyadatu At-Ta’liqat (lihat gambar atas):

    “Diantara yang sudah ditetapkan bahwa jika dalam 1 masalah terdapat 2 Qaul (pendapat Imam Syafi’i) atau 2 Wajh (pendapat ulama Syafi’iyah) maka tidak harus mengamalkan pendapat yang hati-hati dan paling berat. Sebab kesemuanya benar. Ini berlaku bagi orang-orang awam.

    Sementara untuk orang-orang tertentu seperti para pemimpin agama, ahli fikih yang berorientasi akhirat dan ulama yang takut kepada Allah maka mereka mewajibkan kepada diri mereka sendiri untuk mengamalkan pendapat yang paling berat dan paling hati-hati.”

    Di kitab lain karya beliau, yakni Risalah Ahlissunah wal Jamaah, Kyai Hasyim Asy’ari menulis:

    والتقليد بعد العمل جائز فلو صلى شافعي ظن صحة صلاته على مذهبه ثم تبين بطلانها في مذهبه وصحتها على مذهب غيره فله تقليده ويكتفي بتلك الصلاة

    “Taklid setelah selesai melakukan ibadah adalah boleh. Jika seorang Madzhab Syafi’i mengira bahwa shalatnya sah dalam madzhab tersebut, lalu setelah shalat ternyata tidak sah menerut Madzhab Syafi’i, tetapi sah menurut Madzhab yang lain, maka dia boleh berpindah madzhab dan shalatnya tetap menjadi sah.”

    Soal ikut Madzhab selain Syafi’i karena hajat atau tatabbu’ ar-rukhas (mencari pendapat ringan) terjadi beda pendapat di kalangan ulama kita. Selain 4 madzhab juga masih ada 7 madzhab lain. Di kalangan ulama kita juga belum satu suara.

    Intinya, sesama santri membahas seberat apapun problematika umat jangan lupa sambil ngopi. Sebab “Dalam segelas kopi terdapat pahit dan manis menyatu dalam kehangatan”. (kh. ma’ruf khozin)

  • SOSOK ABAH KH.UCI TURTUSI CILONGOK

    SOSOK ABAH KH.UCI TURTUSI CILONGOK

    101547873_567239177317124_8786622705219665920_n

    cyberaswaja.online- Ulama NU Banten Dengan Keluasan Ilmu Namun Tetap Sederhana Bagi kalangan santri, pemburu barokah khususnya Nahdliyin warga NU yang tinggal di Jabodetabek nama beliau mungkin tidaklah asing lagi, sosok guru keagamaan yang tampil sederhana, santun murah senyum dan tentunya dengan keluasan ilmu beliau, cara penyampaian dakwah yang sejuk, mudah di terima dan di cerna semua kalangan. Setiap pengajian beliau tidak pernah sepi dari pengunjung dari mana saja, ada yang dari jakarta, bekasi, bogor hingga karawang dan purwakarta, mulai dari pedagang kaki lima hingga pejabat semua rela ndlosor alias duduk di alas tikar ngariung bersama.

    Abah KH.Uci Turtusi memiliki kedekatan khusus dengan tokoh-tokoh NU dari dulu hingga sekarang, beliau sangat dekat dengan Gusdur, KH.Abuya Muhtadi, Habib Luthfi bin Yahya, KH.Said Aqil Siradj hingga KH.Ma’ruf Amin.

    Dengan logat sunda nya yang masih sangat kental beliau suka membaur secara langsung di masyarakat, tidak heran walaupun beliau tidak muncul di televisi, tidak memiliki chanel khusus Youtube atau tim dakwah media lainnya beliau tetap di sowani para tokoh-tokoh besar, para komunitas pemuda keagamaan hingga hingga para aparatur sipil negara yang sekedar ingin nasihat beliau.

    Kesaksian beliau tentang kewalian Gusdur juga di balas dengan kesaksian Gusdur bahwa kelak beliau benar-benar akan menjadi salah satu ulama besar tanah banten.

    Beliau juga salah satu kyai yang gemar & hafal membaca kitab kuning, yang selama ini menjadi kitab penting kalangan santri pesantren dan ulama-ulama Nusantara lainnya.

    Semoga guru-guru kita semua di berikan kesehatan, terus menebar barokah dari setiap manfaat ilmu-ilmu yang beliau amalkan pada masyarakat dan santri.( fb. santrinu)

  • JANGAN MENIKAH HANYA SEKADAR RASA NYAMAN DAN RASA CINTA

    JANGAN MENIKAH HANYA SEKADAR RASA NYAMAN DAN RASA CINTA

    Pernikahan-dan-Solusinya

    cyberaswaja.online- “Jika menikah Hanya dilandasi oleh rasa saling mencintai, begitu pesan Al Imam Umar Bin Khatab. “Lalu dimana kedudukan iman?”

    Betapa banyak yang saling mencintai, Tapi pernikahan mereka justru tidak berkah. Bahkan berakhir dengan cekcok maupun perceraian.

    Karena iman, Rasulullah sabar ketika dirumahnya hanya tersedia cuka lalu memakannya.
    Karena Iman, Ali Bin Thalib sabar menjadi kuli menimba air dgn upah segenggam kurma.
    Karena Iman, Fatimah Az-Zahra sabar menggiling gandum hingga tangannya melepuh.

    Pernikahan, sungguh tak seindah apa yang dikatakan para motivator ataupun buku pranikah.

    Akan banyak cobaan dan ujian. Maka pahamilah, rasa cinta kadang tak bisa ikut berperang. Hanya iman yang kuat dengan pedang kesabaran dikala susah, dan senjata syukur dikala senang, yang mampu menghadapi bala ujian dan cobaan.

    Oleh karenanya, boleh boleh saja menikah karna saling mencintai. Namun pastikan, perasaan itu hanya menjadi makmum dan Imanlah yang haru menjadi imamnya. Pahamilah! Tak semua cinta itu melahirkan Iman. Tapi semua Iman, insyaallah akan melahirkan cinta.

    Guru mulia Al Imam sayyidil Al habib Umar Bin Muhammad Bin Salim Bin Hafidz..

  • AROMA SEMERBAK MINYAK KESTURI

    AROMA SEMERBAK MINYAK KESTURI

    96m23zwizik5fgwm8mvj_14689

    Al-Imam Ibnul Jauzi bercerita :

    Abu Bakar Al Misky ditanya seseorang, “Kami selalu mencium aroma semerbak minyak misik (kesturi) dari tubuhmu.

    Apa penyebabnya?

    ” Ia menjawab, “Demi Allah, telah bertahun-tahun aku tidak memakai minyak kesturi.

    Namun penyebab munculnya bau wangi ini adalah karena seorang perempuan yang menjebak aku hingga membuatku terperangkap masuk ke dalam rumahnya. Setelah itu ia menutup semua pintu dan merayuku agar melakukan perbuatan tidak senonoh dengannya.

    Dalam keadaan bingung dan kehilangan akal untuk menghindari bujuk rayunya aku berkata, “Aku ingin ke kamar kecil untuk buang hajat.”

    Lalu ia menyuruh pelayan perempuan mengantarku menuju kamar kecil.
    Setelah berada di kamar kecil aku mengambil kotoran dan melumuri seluruh tubuhku dengannya. Lalu dengan tubuh penuh kotoran aku keluar menemuinya kembali. Melihat keadaan tubuhku yang berlumuran kotoran, ia terkejut dan tercengang lalu mengusirku keluar.

    Akhirnya aku berhasil keluar dari rumahnya dan pergi untuk mandi membersihkan badan.

    Pada saat tidur aku bermimpi mendengar suara berkata kepadaku, “Engkau telah melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan siapapun sebelummu. Karena itu aku akan membuat tubuhmu selalu menebarkan bau wangi di dunia dan akhirat.”

    Semenjak saat itulah tubuhku berbau wangi sampai sekarang.”

    (Ibnul Jauzi, Al Majalis wal Mawa’idz, hal. 224. Lihat juga Al-Jaza’ Min Jinsil Amal juz 2 hal. 128).

    Mulai saat itulah Abu Bakar, sang pemuda sholeh tersebut lekat denga gelar AL-MISKY (yang selalu wangi minyak kesturi). Pemuda yang tahan godaan seperti inilah yang akan menjadi penerus perjuangan para Ulama, pemuda harapan bangsa, pemuda yang didamba-dambakan setiap orang tua bahkan membuat Takjub Allah Azza Wa Jalla.

    Dalam sebuah Hadits disebutkan :

    Dari Sayyidina ‘Uqbah bin Amir, beliau berkata : Rasulullah ﷺ bersabda :

    “Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla takjub terhadap seorang pemuda yang tidak menuruti hawa nafsunya”

    (HR. Ahmad, Abu Ya’la dan At-Thabrani dengan Isnad yang Hasan)

    [Al-Haitsami, Majma’ Az-Zawaid, juz 10 hal. 477 no. 17954].

    SEMOGA BERMANFAAT

  • Pedoman, Aqidah dan Asas Nahdlotul Ulama’

    Pedoman, Aqidah dan Asas Nahdlotul Ulama’

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online- Pedoman Nahdlatul Ulama berpedoman kepada Al-Qur’an, As-Sunnah, Al-Ijma’ dan Al-Qiyas. Aqidah Nahdlatul Ulama beraqidah Islam menurut faham Ahlussunnah wal Jama’ah; dalam bidang aqidah mengikuti madzhab Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi; dalam fiqih mengikuti salah satu dari madzhab empat (Hanafi, Maliki Syafi’i dan Hanbali); dan dalam bidang tasawuf mengikuti madzhab Imam Al-Junaidi.

    Pedoman

    Nahdlatul Ulama berpedoman kepada Al-Qur’an, As-Sunnah, Al-Ijma’ dan Al-Qiyas.

    Aqidah

    Nahdlatul Ulama beraqidah Islam menurut faham Ahlussunnah wal Jama’ah; dalam bidang aqidah mengikuti madzhab Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi; dalam fiqih mengikuti salah satu dari madzhab empat (Hanafi, Maliki Syafi’i dan Hanbali); dan dalam bidang tasawuf mengikuti madzhab Imam Al-Junaidi Al-Bagdadi dan Abu Hamid Al-Ghazali.

    Asas

    Dalam Kehidup berbangsa dan bernegara di Indonesia Nahdlatul Ulama berasas kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

    Mudah-mudahan bermanfaat. (red)

  • Abu Nawas Memindahkan Istana Khalifah

    Abu Nawas Memindahkan Istana Khalifah

    SORBANSANTRI.COM

    Cyberaswaja.online – Khalifah Harun Al Rasyid tampak berbinar-binar matanya. Ia baru saja membaca kisah Nabi Sulaiman yang memindahkan istana Ratu Bilqis. Ia kemudian mendapatkan ide. “Asyik juga kalau istanaku dipindah di atas gunung. Aku bisa menikmati pemandangan negeriku dari atas,” gumannya dalam hati. Namun kemudian ia berfikir, siapa yang sangggup melakukannya. Nah, hingga akhirnya muncul dalam benaknya adalah Abu Nawas.

    Sekejap kemudian Khalifah memanggil pengawalnya untuk menjemput Abu Nawas. Tak berapa lama setelah itu, Abu Nawas datang menghadap. Khalifah kemudian mengutarakan maksud dan tujuannya memanggilnya.

    “Begini. Sanggupkah engkau memindahkan istanaku ke atas gunung wahai Abu Nawas?” tanya Khalifah .

    Titah ini membuat Abu Nawas kaget. Ia berfikir ini sebuah pekerjaaan yang mustahil. Namun bila tidak dikerjakan akan mendatangankan hukuman yang berat baginya. Dengan mengernyitkan dahinya Abu Nawas menyanggupi proyek hil yang mustahal ini.

    Setelah itu Abu Nawas pulang dengan hati gundah gulana. Mengingat pekerjaan ini hanya diberi waktu sebulan, membuat dirinya berfikir keras. Namun akhirnya ia punya ide untuk proyek yang rumit ini. Pada saat hari kesepuluh, Abu Nawas menghadap Khalifah membahas proyek tersebut. Melihat kedatangannya, Khalifah sangat senang. Ia dengan tekun mendengarkan apa yang dilontarkan Abu Nawas,

    “Saya mempunyai usul demi memperlancar tugas hamba ini,” kata Abu Nawas.

    ” Dengan senang hati saya akan mendengarkan usul itu?,” jawab Khalifah.

    ” Begini yang mulia hamba akan memindahkan istana tepat pada Hari Raya Idul Qurban yang kebetulan sudah dekat. Disamping itu Baginda harus menyembelih sepuluh ekor sapi yang gemuk untuk dibagikan kepada fakir miskin,” pinta Abu Nawas.

    “Baiklah kalau usulmu Cuma itu maka aku setujui,” jawab Khalaifah.

    Mendengar permintaannya dikabulkan, Abu Nawas lalu pulang dengan riang gembira.

    Tepat di hari raya Idul Adha rakyat telah berkumpul di halaman istana. Mereka penasaran apa yang akan dilakukan Abu Nawas untuk bisa memindahkan istana Khalifah. Tak lama kemudian nampak Abu Nawas berjalan menuju istana . Sesampai di depan istana, Abu Nawas berhenti dan bertanya kepada Khalifah.

    ” Wahai Baginda, apakah istana sudah tidak ada orangnya lagi?” tanya Abu Nawas.

    “Tidak ada .” jawab Khalifah tegas.

    Mendenbgar jawaban tersbeut Abu Nawas melangkah lagi. Ia berjalan lebih mendekat ke istana. Ia berdiri mematung sambil memandangi istana seperti menunggu sesuatu. Pada awalnya Khalifah tampak tertegun. Namun hal itu berlangssng lama.

    Nampak Abu Nawas terus berdidi berdiri mematung. Akhirnya Khalifah tak sabar dan bertanya kepada Abu Nawas,” Kapan engkau mulai mengangkat istanaku.”

    “Lho bagaimana Baginda ini, hamba sudah siap dari tadi,” jawab Abu Nawas.

    “Apa maksudmu dengan sudah siap sejak tadi? Kalau engkau memang sudah siap betul apa lagi yang engkau tunggu?” kata Khalifah.

    “Hamba menunggu istana ini diangkat oleh seluruh rakyat yang hadir disini. Kemudian istana itu diletakkkan di atas pundak hamba. Setelah itu hamba akan memindahkan istana ini ke gunung sesuai dengan perintah Baginda, ” jawab Abu Nawas dengan senyum yang melebar. (wkwkkwkwkw, dalam hati abu nawas sambil ngakak)

    Mendengar jawab itu Khalifah Harun Al Rasyid terpekur sejenak dan merasa sedih karena sudah berkorban 10 sapi lucu milik tetangganya. (cerita abu Nawas)

  • Batalyon Hizbullah Berhasil Merebut Pacet dari Belanda

    Batalyon Hizbullah Berhasil Merebut Pacet dari Belanda

    batalyon-hizbullah-berhasil-merebut-pacet-dari-belanda_m_37814

    cyberaswaja.online- Serangan Gerilya di Malam Pergantian Tahun bagi orang Eropa, perayaan pergantian tahun adalah satu rangkian dengan perayaan Natal. Mereka melakukan persiapan dan rencana kegiatan yang disusun jauh hari sebelumnya.

    Demikian pula dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang Belanda di Mojokerto. Salah satu tempat yang menjadi destinasi adalah Pacet. Hawa dingin yang berhembus di kawasan lereng Gunung Welirang itu dianggap sebagai tempat yang cocok untuk menggelar pesta akhir tahun dengan acara dansa lengkap bersama minuman kerasnya.

    Sejarawan Mojokerto, Ayu hanafiq menceritakan, pada akhir tahun 1948, orang Belanda di Mojokerto bersuka cita. Suasana tenang yang jauh dari aroma mesiu sudah dirasakan sejak pertengahan tahun 1947. Atau setelah perjanjian Renville ditetapkan.

    Garis demarkasi seperti permintaan Van Mook disetujui oleh Perdana Menteri Amir Syarifudin dari Partai Sosialis. ”Dengan perjanjian itu, maka tentara republik dipaksa keluar dari Mojokerto,” jelasnya.

    Menurutnya, saat itu, orang-orang Belanda semakin yakin akan terjaminnya keamanan daerahnya setelah kaum republik bertikai sendiri. Sebagaimana diketahui, kekuatan kiri yang tergabung dalam Front Demokrasi Rakyat (FDR) pimpinan Amir Syarifudin dan Partai Komunis Indonesia (PKI) Muso bergabung melakukan makar di Madiun.

    Tidak lama kemudian, Belanda bergerak menyerbu Jogjakarta pada akhir September 1948. ”Maka, pantas kiranya bila tahun itu dirayakan sebagai tahun kemenangan,” ungkap pria yang akrab disapa Yuhan ini.

    Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini mengatakan, pada saat itu, tentu Belanda tidak menyadari bila serangan ke ibu kota republik adalah awal dari perang gerilya.

    Para pejuang tidak lagi terikat dengan wilayah kekuasaan karena boleh bergerak ke daerah manapun yang diinginkan. ”Tapi, banyak pejuang yang memilih kembali ke daerah asalnya,” ujarnya.

    Seperti yang dilakukan oleh Batalyon Mansyur Sholikhi yang berasal dari Mojokerto dan memilih kembali ke Mojokerto. Bersama pasukan gabungan yang dinamakan Pasukan Hayam Wuruk, Batalyon Mansyur bergerak dari Wonosalam, Jombang menerobos hutan hingga ke Gondang, Mojokerto.

    Mansyur meneruskan perjalanan ke Sajen, Pacet pada 30 Desember tahun tersebut. ”Rupanya para pejuang diam-diam telah mempersiapkan kejutan di akhir tahun,” urainya.

    Jumat malam, ketika kalender menunjukkan tepat 31 Desember 1948, pasukan Mansyur segera berpencar. Mereka menunggu pada tempat yang sudah dituju, yaitu vila yang masih memancarkan cahaya ketika hari menjelang berganti.

    Penerangan itu seolah memberikan sinyal bahwa tempat tersebut terdapat orang-orang Belanda sedang bersuka ria.

    Namun, kemeriahan pesta di Pacet ternyata tidak berlangsung lama. Tepat setelah terompet dan lonceng dibunyikan sebagai tanda pergantian tahun, tiba-tiba disusul oleh suara tembakan.

    Yuhan menyebutkan, peluru datang dari kegelapan malam menerobos ruang pesta. ”Vila tempat mereka berdansa jadi porak poranda oleh orang-orang yang ketakutan,” tuturnya.

    Orang sipil sibuk menyelamatkan diri dari peluru dan para serdadu mencari senjata masing-masing. Perlawanan mereka dilakukan secara membabi-buta dengan menghamburkan peluru pada gelap malam tanpa membidik sasaran.

    Pada malam itu, Batalyon Hizbullah yang dipimpin oleh Mayor Mansyur Solikhi mengepung wilayah Pacet. Sejak sore, pasukan berani mati itu telah mengintai dengan berpangkalan di Desa Kemiri.

    ”Titik serangan ditetapkan tersebar pada vila dan gedung tempat pesta orang-orang Belanda,” ujar Yuhan. Hujan peluru pun segera membubarkan kemeriahan pesta. Kegembiraan berdansa kemudian berubah jadi ketakutan.

    ”Malam itu seakan menjadi mimpi buruk bagi Belanda,” imbuhnya. Orang Belanda terkepung dalam bangunan kokoh dengan tembok tebal yang mereka dirikan. Bangunan itu seolah benteng pertahanan yang sulit ditembus peluru.

    Tembakan balasan mereka berikan tertuju pada kegelapan di luar. Dia mengungkapkan, pasukan Hizbullah bagaikan hantu yang sulit diketahui tempat sembunyinya.

    Sayangnya, Laskar Hizbullah tidak memiliki senajata berat sejenis meriam atau granat yang bisa membongkar tembok persembunyian musuh. Senjata peledak yang dimiliki hanya pelontar mortir buatan Mrican Kediri.

    Pelontar mortir itu pun akurasi tembakannya rendah. Semalam pengepungan dilakukan dan menjelang pagi orang belanda sudah putus asa. Korban berjatuhan akibat tembakan yang tidak mereka ketahui dari mana datangnya.

    Bantuan penyelamat dari Mojokerto pun tak kunjung datang. Maka tumpaslah mereka di malam pergantian tahun itu. ”Saat fajar menjelang, kota peristirahatan Pacet sudah dikuasai oleh Republik,” pungkas Yuhan.

    (mj/ram/ris/JPR)

  • Salat Jum’at Di Masa New Normal (Salat Jumat Gelombang 1 dan 2)

    Salat Jum’at Di Masa New Normal (Salat Jumat Gelombang 1 dan 2)

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Dalam keadaan normal salat Jumat hukumnya wajib secara berjamaah bagi laki-laki, kecuali wanita, hamba sahaya, anak kecil dan musafir (HR Abu Dawud)

    Saat pemberlakuan new normal ini bukan berarti kembali seperti keadaan semula, tetap melakukan prosedur dan protokol medis, tetap pakai masker, jaga jarak, cuci tangan, mengurangi aktivitas di luar rumah dan sebagainya. Lalu bagaimana dengan jumatan? Problematika ini berkaitan di kota besar, misalnya dalam 1 pabrik, instansi dan perkantoran berisi ratusan staf dan karyawan. Kalau di desa dan kampung tidak ada masalah.

    Jika masih memungkinkan untuk salat Jumat maka tetap wajib sesuai aturan dari pihak terkait dan medis. Bila tidak memungkinkan ada beberapa tahapan:

    1. Memperbanyak Tempat Salat Jum’at.

    Cara ini ditempuh dan disahkan oleh para Ulama dan Habaib di Pasuruan. Yakni jangan sampai meninggalkan salat Jumat tetapi memperbanyak tempat salat Jumat seperti di musolla dan langgar meskipun jama’ahnya tidak sampai 40 orang.

    Syekh Abu Bakar Dimyathi, Guru dari para ulama Tanah Jawa, metulis dalam catatan kitabnya:

    ﻭﻗﺎﻝ اﻟﺴﻴﻮﻃﻲ: ﻛﺜﻴﺮا ﻣﺎ ﻳﻘﻮﻝ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﺑﺘﻘﻠﻴﺪ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ اﻟﻤﺴﺄﻟﺔ، ﺇﺫ ﻫﻮ ﻗﻮﻝ ﻟﻠﺸﺎﻓﻌﻲ ﻗﺎﻡ اﻟﺪﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺭﺟﺤﺎﻧﻪ. اﻩ ﻭﺣﻴﻨﺌﺬ ﺗﻘﻠﻴﺪ ﺃﺣﺪ ﻫﺬﻳﻦ اﻟﻘﻮﻟﻴﻦ ﺃﻭﻟﻰ ﻣﻦ ﺗﻘﻠﻴﺪ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ.

    As-Suyuthi berkata: Banyak dari ulama Syafi’iyah yang taqlid kepada Abu Hanifah soal jama’ah Shalat Jum’at terdiri dari 4 (empat) orang. Padahal pendapat ini merupakan salah satu dari pendapat Asy-Syaafi’i yang memiliki keunggulan dalil. Dengan demikian mengikuti salah satu dari 2 pendapat Asy-Syaafi’i lebih utama dari pada (pindah) taqlid kepada Abu Hanifah (Hamisy Hasyiah I’anah Thalibin 2/70)

    1. Diganti Dzuhur

    ﻭﺃﺟﻤﻌﻮا ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻣﻦ ﻓﺎﺗﺘﻪ اﻟﺠﻤﻌﺔ ﻣﻦ اﻟﻤﻘﻴﻤﻴﻦ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻮا ﺃﺭﺑﻌﺎ

    Para ulama telah membuat konsensus (Ijma’) bahwa orang yang tertinggal melakukan salat Jumat bagi para Muqimin [bukan Musafir] maka wajib salat Dzuhur (Ibnu Al-Mundzir, Al-Ijma’, 1/40)

    1. Pendapat yang Melarang Jum’at bergelombang/ Shift

    حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمْعَةِ لَمْ يُقِمْهَا إِلاَّ فِيْ مَسْجِدِهِ وَلَمْ يُرَخِّصْ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ مَعَ فَرَطِ حُبِّهِ لِلتَّيْسِيْرِ عَلَى أُمَّتِهِ فِيْ أَنْ يُقِيْمُوْهَا فِيْ مَسَاجِدَ مُتَعَدِّدَةٍ أَوْ يُصَلِّيَ بِمَنْ يَتَيَسَّرُ لَهُ الْحُضُوْرُ أَوَّلَ الْوَقْتِ وَيَأْذَنُ فِيْ أَنْ تُقَامَ بَعْدَهُ جُمْعَةٌ وَجُمْعَةٌ وَثَالِثَةٌ وَهَكَذَا لِبَاقِيْ الَّذِيْنَ لاَ يَسْتَطِيْعُ أَنْ يَحْضُرُوْا، وَكَانَ ذَلِكَ أَيْسَرَ عَلَيْهِمْ لَوْ كَانَ

    Sehingga jika sudah datang hari Jum’at, maka beliau Saw. tidak melaksanakan salat Jum’at kecuali di masjidnya. dan Nabi meskipun sangat ingin memberikan kemudahan kepada umatnya tidak memberi dispensasi untuk mendirikan salat Jum’at di banyak mesjid, atau salat bersama orang yang bisa datang kepadanya di awal waktu, dan mendirikan shalat jumat kedua, ketiga dan seterusnya bagi mereka yang tidak bisa datang (di awal waktu). Padahal cara itu lebih mudah bagi mereka seandainya memang diperkenankan. (Tanwir Al-Qulub, 189)

    1. Pendapat yang Membolehkan Bergelombang.

    Masalah seperti ini pernah ditemukan di negeri Eropa, masjid tidak memadai dan sulit memperbanyak tempat salat namun jamaah salat Jumat dari Muslim imigran cukup banyak. Akhirnya ada yang menggunakan cara bershift/ susulan seperti ini:

    ﻣﺎ ﻳﻔﻌﻠﻪ اﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﺇﻋﺎﺩﺓ اﻟﺠﻤﻌﺔ ﻓﻲ ﻣﺴﺠﺪ ﻭاﺣﺪ ﺑﺤﺠﺔ ﺃﻥ اﻟﻨﻈﺎﻡ ﻓﻲ اﻟﻤﺪﺭﺳﺔ ﻻ ﻳﻤﻜﻦ اﻟﻤﺘﺄﺧﺮﻳﻦ ﻣﻦ ﺃﺩاء اﻟﺠﻤﻌﺔ ﻣﻊ اﻷﻭﻟﻴﻦ، ﻓﻬﺬا ﻋﻠﻰ ﻣﺬﻫﺐ اﺑﻦ ﺣﺰﻡ ﻭﻣﻦ ﻭاﻓﻘﻪ ﻻ ﺑﺄﺱ ﺑﻪ، ﺣﻴﺚ ﻳﺮﻯ ﺃﻥ ﻣﻦ ﻓﺎﺗﺘﻪ اﻟﺠﻤﻌﺔ ﻭﻭﺟﺪ ﻣﻦ ﻳﺼﻠﻲ ﻣﻌﻪ ﻭﻟﻮ ﻭاﺣﺪاً ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺼﻠﻲ ﻣﻌﻪ ﺟﻤﻌﺔ، ﺃﻣﺎ ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺠﺪ ﺃﺣﺪاً ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺼﻠﻲ ﻇﻬﺮاً.

    Apa yang dilakukan oleh sebagian orang yang mengulang salat Jumat di 1 masjid dengan dalih aturan sekolah tidak memungkinkan bagi orang yang terlambat untuk melakukan salat Jumat bersama gelombang pertama maka menurut pendapat Ibnu Hazm tidak apa-apa. Ibnu Hazm berpendapat jika ada orang yang ketinggalan salat Jumat dan masih menemukan orang untuk diajak salat Jumat, meski 1 orang, maka ia salat Jumat bersamanya. Jika tidak menemukan sama sekali maka ia salat Dzuhur (Qism Al-Fiqh 79/29)

    Kelemahan dari cara no 4 ini untuk diterapkan di negara kita adalah karena pendapat Madzhab Dhahiri (di luar 4 Madzhab). Disamping itu telah menyalahi Ijma’ mayoritas Umat Islam, serta masih mudahnya menemukan tempat untuk dijadikan tempat salat.

    Solusinya terdapat pada cara ke 1, yakni melakukan di banyak tempat meskipun tidak sampai 40 orang. Jika tidak memungkinkan maka diganti salat Dzuhur. (KH. Ma’ruf khozin)

  • SHOLAWAT KUNCI SEMUA MASALAH DAN URUSAN

    SHOLAWAT KUNCI SEMUA MASALAH DAN URUSAN

    FB_IMG_1588199599914
    SORBAN SANTRI-

    إعانة الطالبين ج1ص12
    واعلم أنه جاء في فضل الصلاة على النبي ﷺأحاديث كثيرة
    منها قوله ﷺمن صلى علي في كتاب لم تزل الملائكة تستغفر له ما دام اسمي في ذلك الكتاب.

    Banyak hadits yang menjelaskan keutamaan shalawat pada Nabi ﷺ diantaranta sabda Nabi ﷺ” barang siapa menulis shalawat kepadaku di dalam sebuah buku maka malaikat terus menerus memintakan ampun untknya selama namaku masih berada dalam buku tersebut ”

    وقوله ﷺ من سره أن يلقى الله وهو عنه راض فليكثر من الصلاة علي
    وقوله ﷺ من أكثر من الصلاة علي في حياته أمر الله جميع مخلوقاته أن يستغفروا له بعد موته.
    وقال ﷺ أكثروا من الصلاة علي فإنها نور في القبرونور على الصراط ونور في الجنة.

    Nabi ﷺ bersabda: ” barang siapa senang bertemu dengan Allah dan Allah ridho kepadanya maka perbanyaklah membaca shalawat kepadaku.”

    Nabi ﷺ bersabda:”barang siapa memperbanyak baca shalawat padaku semasa hidupnya maka Allah memerintahkan kepada semua makhluk untuk memintakan ampun kepdanya setelah meninggal.”

    Nabi ﷺ bersabda:” perbanyaklah membaca shalawat padaku karena sesungguhnya ia adalah cahaya di dalam kubur, cahaya diatas jembatan dan cahaya di dalam surga.”

    وقال ﷺ أكثروا من الصلاة على فإنها تطفئ عضب الجبار وتوهن كيد الشيطان وقال ﷺ أكثركم صلاة علي أكثركم أزواجا في الجنة.

    Nabi ﷺ bersabda:”perbanyaklah membaca shalawat kepadaku karena sesungguhnya ia bisa memadamkan murka Allah yg maha agung dan merendahkan tipu daya syaitan ”

    Nabi ﷺ bersabda: “yang paling banyak membaca shalawat kepadaku diantara kalian maka dialah yg paling banyak istrinya di syurga.”

    وفي حديث مرفوع: ما جلس قوم فتفرقوا عن غير الصلاة على النبي ﷺ إلا تفرقوا عن أنتن من جيفة حمار.

    Dalam hadits marfu’ :” tidaklah suatu kaum duduk kemudian berpisah tanpa membaca shalawat kepada Nabi ﷺ kecuali mereka berpisah lebih busuk daripada bangkai himar ”

    قال ابن الجوزي في البستان: فإذا كان المجلس الذي لا يصلى فيه يكون بهذه الحالة فلا غرو أن يتفرق المصلون عليه من مجلسهم عن أطيب من خزانة العطار وذلك لانه ﷺ كان أطيب الطيبين وأطهر الطاهرين وكان إذا تكلم امتلأ المجلس بأطيب من ريح المسك.

    Ibnul jauzy dalam kitab albustan berkata :
    “Ketika majlis yang tidak dibacakan shalawat di dalamnya dalam keadaan bau busuk sepeti itu, maka sudah jelas majlis yang berpisah dengan membaca shalawat kepada beliau akan lebih harum daripada gudangnya penjual minyak wangi hal itu karena sesungguhnya Nabi ﷺ lebih harum dari semua yang harum dan lebih suci dari yang paling suci,nabi ﷺ ketika bicara maka majlis penuh dengan bau harum yang lebih harum daripada minyak kasturi

    وكذلك مجلس يذكر فيه النبي ﷺ تنمو منه رائحة طيبة تخترق السموات السبع حتى تنتهي إلى العرش ويجد كل من خلقه الله ريحها في الأرض غير الإنس والجن فإنهم لو وجدوا تلك الرائحة لاشتغل كل واحد منهم بلذتها عن معيشته.

    begitu juga dengan majelis yang disebut nama Nabi ﷺ maka akan bertambah bau harum yg tembus sampai langit ketujuh hingga sampai ‘arsy, dan semua makhluk yang Allah ciptakan dibumi bisa menemukan bau harumnya kecuali manusia dan jin, karena jika bisa menemukan bau harumnya maka semua akan sibuk dengan kenikmatannya daripada bekerja.

    ولا يجد تلك الرائحة ملك أو خلق الله تعالى إلا استغفر لأهل المجلس ويكتب لهم بعدد هذا الخلق كلهم حسنات ويرفع لهم بعددهم درجات سواء كان في المجلس واحد أو مائة ألف كل واحد يأخذ من هذا الأجر مثل هذا العددوما عند الله أكثر.

    “Tidak menemukan bau harum tersebut baik malaikat atapun makhluk Allah kecuali mereka akan memintakan ampun untuk ahli majelis, ditulis bagi mereka kebaikan sebanyak hitungan makhluk dan diangkat bagi mereka derajat sebanyak hitungan makhluk,
    baik dalam satu majelis ataupun seratus majelis setiap orang akan mengambil bagian pahala ini serasi dengan hitungan ini, dan yang di dalam kekuasaan Allah lebih banyak lagi.”

    وللصلاة عليه ﷺ فوائد لا تحصى منهاأنها تجلو القلب من الظلمة وتغني عن الشيخ وتكون سببا للوصول وتكثر الرزق وأن من أكثر منها حرم الله جسده على النار.

    Bershalawat pada Nabi ﷺ ada beberapa faidah yang tak terhitung diantaranya :
    bershalawat bisa menajamkan hati dari kegelapan, tidak membutuhkan pembimbing, menjadi sebabnya wushul, memperbanyak rizki dan sesungguhnya orang yang memperbanyak shalawat maka Allah mengharamkan jasadnya atas neraka.

    *Sumber:*
    I’anah Ath-Thalibin,Juz 1,Hal 12