Penulis: Sorban Santri

  • Gus Dur dan Gus Mus Ngerjain Calon Kiai Gontor

    Gus Dur dan Gus Mus Ngerjain Calon Kiai Gontor

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Teh yang digodok panas-panas tentu enak dan bikin semangat. Tapi tidak bagi KH Syukri Zarkasyi (Gontor) saat sowan ke kos-kosan Gus Dur dan Gus Mus.

    Ketika kuliah di Kairo, Mesir, Gus Dur suka memelonco pendatang baru dari Tanah Air. Partnernya dalam ‘panitia perpeloncoan’ biasanya adalah KH Mustofa Bisri dari Rembang yang kini terkenal sebagai kiai-penyair.

    Pada suatu hari KH Syukri Zarkasyi yang ketika itu pasti belum Kiai Haji —dan menurut Gus Dur “pekerjaannya di Kairo hanya main band tapi pulang-pulang jadi kiai”— bertamu ke tempat kos Gus Dur dan Gus Mus. Tentu saja disambut dengan penuh keramahtamahan. Dipersilakan duduk, saling menanyakan keselamatan, di-godog-kan air untuk membuat minuman teh dan seterusnya.

    Hanya saja karena namanya saja tempat kos: kamar, dapur, dan ruang belajar ya jadi satu. Maka Gus Syukri melihat segala yang dilakukan oleh tuan rumahnya. Gus Mus mempersiapkan cangkir dan lepek sambil bertanya kepada Gus Dur, “Di mana lapnya tadi?”

    SORBANSANTRI.COM
    KH Syukri Zarkasyi (Gontor)

    Gus Dur berjalan ke sisi almari, mengambil “lap” yang ternyata adalah celana dalam alias sempak. Lalu Gus Dur memberikannya kepada Gus Mus dan diterima dengan wajah dingin, kemudian langsung dipakai untuk ngelap cangkir sambil mengobrol dengan Gus Syukri.

    Merah-padamlah wajah calon kiai Gontor ini, sekaligus pucat-pasi. Ketika teh sudah tersuguhkan, mau tak mau ia meminumnya, meskipun perasaan dan lidahnya bercampur-aduk.

    Sekian lama kemudian baru mereka bertiga tertawa cekakakan. “Cangkir harus dilap dengan kain istimewa yang paling bersih, di antara kain-kain yang ada. Dan kain itu betul-betul gress dari toko, belum pernah dipakai sebagai sempak, karena itu belum bisa disebut sempak,” kata Gus Dur membela diri.

    Dalam dunia santri, ngerjain atau memelonco sudah akrab dilakukan. Bukan semata-mata karena tujuan jail atau iseng, dibalik itu agar nantinya timbul keakraban yang selalu membekas bagi mereka.

    Menurut Cak Nun ternyata Cerita tadi tidak hanya sekedar Jahil semata, ada makna filosofis yang sangat dalam dibaliknya.
    Menurut Cak Nun’, Cerita Gus Dur di atas kita di ajak untuk melihat esensi, fungsi dan manfaatnya dalam menilai semua hal agar tidak tertipu dengan Bentuk dan identitas. Mengenai Sempak misalnya jika dilihat Bentuk dan identitasnya memang membuat kesan bahwa itu sesuatu yang Kotor (biasa digunakan di selangkangan kaskuser) padahal secara esensi dan fungsinya itu hanya kain yang difungsikan sebagai pembersih noda pada cangkir yang sebenarnya tak ada bedanya dengan kain lap pada umumnya (kain yang difungsikan sebagai alat pembersih). Kalau Pun Mengalami Kebingungan tentang suatu hal yang konteksnya identik dengan cerita gus dur tadi, itu adalah kebingungan budaya bukan kebingungan hakiki.

    Kembali Menurut Cak Nun Ternyata Cerita itu sengaja di ceritakan langsung Oleh Gusdur kepada Cak Nun Untuk Mengerjainya ,karena Cak Nun adalah santri Gontor.
    Coba Anda Bayangkan Bagaimana perasaan anda kalau Guru, ulama yang anda hormati atau idol anda dikerjain seperti Gus Dur mengerjai Kiai Gontor , mungkin itu bisa menggambarkan perasaan Cak Nun waktu itu.

    Gus Dur memang terkenal Jahil bahkan dari sejak masih anak-anak. Pernah suatu ketika didalam forum pengajian yang dihadiri Gus Dur dan Cak Nun, ternya Gus Dur masih sempet-sempetnya Ngerjain Orang. korbaanya Tidak lain dan tidak bukan adalah Cak Nun sendiri.
    Waktu Cak Nun Jamnya Mengisi Acara, Cak Nun kebingungan karena baju yang rencananya akan dipakai pada saat mengisi acara tiba-tiba hilang. sempat dicari kemana-mana tidak ketemu, akhirnya karena sudah waktunya tampil mau tidak mau akhirnya Cak Nun terpaksa naik Kepanggung menggunakan kaos seadanya. Setibanya di panggung ternyata baju yang tiba-tiba hilang tadi telah di pakai Gus Dur, dan dengan entengnya Gus Dur tanya, Cari Apa Cak? (abi sorban)

  • DOSA YANG LEBIH BESAR DARI ZINA

    DOSA YANG LEBIH BESAR DARI ZINA

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Suatu senja, seorang wanita melangkahkan kaki mendekati kediaman Nabi Musa.

    Setelah mengucapkan salam, dia masuk sambil terus menunduk.
    Air matanya berderai tatkala berkata, “Wahai Nabi ALLAH, tolonglah saya.

    Doakan agar ALLAH mengampuni dosa keji saya”.
    “Apakah dosamu wahai wanita…?” Tanya Nabi Musa.
    “Saya takut mengatakannya,”­ jawab wanita itu.
    “Katakanlah, jangan ragu-ragu…!”desak Nabi Musa.

    Maka perempuan itu pun dengan takut bercerita, “Saya telah berzina.”

    Kepala­ nabi Musa terangkat, hatinya tersentak.
    “Dari perzinaan itu saya hamil. Setelah anak itu lahir,
    langsung saya cekik lehernya sampai mati,” lanjut perempuan itu seraya menangis.

    Mata Nabi Musa berapi-api.
    Dengan muka yang berang dia menghardik.
    “Perempuan celaka, pergi dari sini. Agar siksa ALLAH tak jatuh ke dalam rumahku.

    Pergi…!!!!” teriak nabi Musa sambil berpaling karena jijik.

    Hati perempuan itu bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh.
    Dia menangis tersedu-sedu dan keluar dari rumah Nabi Musa.
    Ia tak tahu harus kemana lagi mengadu. Bahkan dia tak tahu ke mana harus melangkahkan kaki.

    Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana manusia lain bakal menerimanya…?

    Sepeninggalnya wanita tersebut, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa.

    Jibril lalu bertanya,
    “Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak BERTAUBAT

    dari dosanya…? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar dari itu…?”

    Nabi Musa terperanjat.
    “Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu…?

    Betulkah ada dosa yang lebih besar daripada perempuan yang hina itu…?” Tanyanya.

    “Ada…!!!” Jawab Jibril dengan tegas.

    “Orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar daripada SERIBU kali berzina.”

    Mendengar penjelasan ini Nabi Musa memanggil wanita tadi,
    lalu berdoa memohon ampunan kepada ALLAH.

    Nabi Musa menyadari, orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja

    tanpa penyesalan seakan menganggap remeh perintah ALLAH.
    Sedangkan BERTAUBAT dan menyesali Dosa dengan sungguh-sungguh­

    berarti masih mempunyai IMAN di dadanya dan Yakin ALLAH itu ada.

    Semoga Bermanfaat Untuk Kita semua Aamiin

  • Cerita Nabi Musa

    Cerita Nabi Musa

    SORBANSANTRI.COM

    Pada suatu hari,malaikat Izrail diperintahkan Allah utk mencabut nyawa nabi Musa.

    Tiba di kediaman nabi Musa,malaikat mengetuk pintu.
    “Siapa kamu?” tanya nabi Musa dr dlm rumah.
    “Aku,Izrail.” jawab malaikat lantang.
    “Ada perlu apa kau datang kemari?” tanya nabi Musa lagi.
    “Aku diperintahkan Allah utk mencabut nyawamu malam ini.” jawab malaikat lbh lantang.

    Tanpa menjawab,nabi Musa langsung membuka pintu dan memukul wajah malaikat Izrail dgn keras hingga lepaskah sebelah matanya.

    Malaikat Izrail mengaduh kesakitan.
    “Siapa kau berani2nya mencabut nyawaku. Tak tahukah kau siapa aku? Derajat dan kedudukanku? Pergi sana!” hardik nabi Musa dgn sombong.

    Karena malaikat Izrail mengetahui kedudukan nabi Musa di sisi Allah,maka ia segera melesat ketakutan ke langit menghadap Allah.
    Musa,pria gagah perkasa dan mendapat kemuliaan dr Allah shg berjuluk kalamullah,yg bisa berbicara dengan Allah.

    Tiba di langit,malaikat Izrail ditanya oleh Allah, “Kemana sebelah matamu,wahai malaikatku?”
    “Duhai,Rabb… Musa telah memukulku.”
    “Turunlah lagi kebumi,ambil matamu. Dan perintahkan Musa naik ke puncak gunung. Katakan,aku ingin bicara dgnnya.”
    “Baik,ya Rabb.”

    Maka,turunlah malaikat Izrail mengambil sebelah matanya yg lepas sekaligus menyampaikan pesan Rabb-Nya pada nabi Musa.

    Dan,nabi Musa pun naik gunung. Tiba disana,dia menghadap Allah.
    “Wahai,Musa… kuperintahkan engkau untuk turun gunung. Dan carilah makhluk-Ku yg menurutmu paling hina dimuka bumi ini. Kuberi kau waktu seminggu. Bawalah dia kemari.” begitu perintah Allah pd nabi Musa.

    Lalu,nabi Musa pun turun gunung dan mulai melakukan pencarian ke seluruh pelosok negeri,mencari makhluk yg hina.

    Tiba di sebuah desa,nabi Musa melihat seorang laki2 tua,berjalan tertatih menggunakan tongkat. Rambutnya beruban,kulitnya keriput. Pakaiannya lusuh dan bau.
    “Ahh,akhirnya… kutemukan orang yg hina itu.” begitu pikir nabi Musa.
    Lalu dia ajak orang tua itu naik gunung utk menemui Allah. Tapi,ditengah perjalanan nabi Musa berpikir lagi,”Tunggu dulu,orang ini lbh tua drpd aku. Bisa jadi ibadahnya lbh banyak drpd aku. Sedekahnya,tahajjudnya dan amal sholehnya. Tidak mungkin,dia orang yg paling hina.”
    Maka,nabi Musa menyuruh orang tua itu kembali ke desanya setelah memberinya bekal secukupnya.

    Dan,nabi Musa pun melanjutkan perjalanannya.
    Tiba di suatu desa,nabi Musa melihat anak kecil yg berlarian tanpa alas kaki.
    Maka dia bawa anak kecil itu untuk menghadap Allah. Tapi,ditengah jalan nabi Musa berfikir, “Dia masih muda. Bisa jadi dia belum banyak berbuat dosa dan maksiat.”
    Maka,dilepaskan lagi anak kecil itu.

    Dan,nabi Musa melanjutkan perjalanan lagi.
    Di suatu sudut pasar nabi Musa melihat seekor anjing kurap yg sedang mengais2 sampah mencari sisa2 makanan.
    Pikir nabi Musa,”Akhirnya kutemukan makhluk hina ini.”
    Maka dibawalah anjing itu kepuncak gunung utk menghadap Allah.
    Tapi,lagi2 ditengah jalan nabi Musa berpikir,
    “Bukankah anjing adalah binatang yg tak memiliki akal. Dia hanya sekedar hidup utk makan dan berkembang biak. Tak ada hisab untuknya. Tak perlu beribadah. Tak punya dosa,pun tak ada pahala.”
    Maka,sekali lagi nabi Musa melepaskan anjing itu.
    Sedangkan waktu yg ditentukan oleh Allah sudah habis. Tanpa membawa apa2,nabi Musa menemui Allah.
    “Wahai,Musa…. angkat kepalamu.”
    “Ampun,yaa Rabb… hamba malu. Hamba tak bisa memenuhi perintahMu.” jawab nabi Musa tertunduk.
    “Kenapa?” tanya Allah.
    Lalu,nabi Musa menceritakan tentang kisah pencariannya dan berkata, “Akhirnya,hamba sadari… makhlukMu yg paling hina adalah hamba sendiri yaa,Rabb.”
    “Ketahuilah,Musa… seandainya hari ini kau menghadap Aku dan membawa salah satu dari makhluk-Ku,meskipun hanya anjing itu… maka hari ini juga akan kucabut gelar kenabianmu.
    Akulah satu2nya yg berhak menyombongkan diri,wahai Musa.” kata Allah.
    “Hamba mengerti,yaa Rabb. Ampunilah kekhilafan hamba.”
    Dan,nabi Musa pun bersujud seraya berdzikir mengagungkan Rabb-Nya.

    Smoga kita dpat mngambil makna crita ini..

  • Cerita Sebenarnya Sosok Samson Betawi ( di kutip dari cerita zaman Nabi Muhammad SAW.)

    Cerita Sebenarnya Sosok Samson Betawi ( di kutip dari cerita zaman Nabi Muhammad SAW.)

    SORBANSANTRI.COM
    Benyamin Sueb_ Samson Betawi

    SORBAN SANTRI- Perlu kalian semua ketahui asal dari mula cerita syamson betawi yang kita kenal selama ini sebagai manusia yang punya kekuatan super versi suku betawi ternyata aslinya diambil dari cerita Syam’un versi Zaman sahabat Kanjeng Nabi Muhammad SAW Yang mana ini sebagai salah satu asal mula turunnya surat AlQodar berikut cerita dari Syamson versi Zaman Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Lest go..

    Pada Zaman Dahulu Malaikat jibril becerita kepada Nabi Muhammad SAW tentang seorang hamba pada masa bani isro’il yang bernama syamsul al ghozi . Dia telah berperang melawan orang orang kafir selama 1000 bulan dengan hanya bersenjata sehelai rambut jenggot unta. Meskipun hanya dengan senjata tersebut, syam’un bisa membunuh begitu banyak musuh hanya dengan satu sabetan saja. Perlawanan Syam’ un dengan orang orang kafir mampu berjalan setiap hari selama 1000 bulan ( 83 tahun 4 bulan).tidak ada seorang pun dari kaum kaum kafir yang mampu mengalahkan syam’un.

    Lalu mereka meminta bantuan kepada istri syam’un yang juga kafir, untuk membunuh suaminya,
    Ketika syam’un tidur istrinya mengikat dia kua kuat, dan beralasan sekedar bergurau. namun saat terbangun syam’un dapat melepas tali pengikatnya. peristiwa ini terjadi berulang ulang. Hingga akhirnya syam’un memberitahukan pada istrinya bahwa ia hny dpat dikalahkan dengan rambutnya sendiri yang panjang.setelah mengetahui ini, istri memotong delapan utas rambut kepala syam’un. Yang mana ditalikan kepada syam’un ke tangan dan kakinya.

    Ketika terbangun syam’un tidak bisa melepas ikatan rambutnya, lantas dia dibawa oleh kaum kafir ke suatu bangunan untuk dibantai. Kemudian syam’un berdoa kepada Allah agar diberi kekuatan supaya bangunan itu merobohi kaum kafir termasuk istrinya. pemintaan syam’un dikabulkan dan ia selamat. sesudah peistiwa itu ia sempat beribadah 1000 bulan lagi. Malam hari shalat malam, siang harinya berpuasa hingga akhirnya mati syahid di medan perang melawan orang orang kafir.

    Mendengar cerita syam’un para sahabat Nabi SAW menangis karena terharu dan tertarik. Kemudian Allah swt menyuruh malaikat jibril turun membawa surat Al Qodar ini kepada nabi Muhammad. Allah memberi keistimwaan berupa satu malam lailatu qodar pada nabi Muhammad dan umatnya yang beribadah pada malam
    itu lebih utama dari pada ibadah 1000 bulan.

    Sumber ( Kitab Durotunnashihin )

  • Islam Hadir Bukan untuk “meng-Arab-kan” Bangsa, Bahasa, dan Budaya

    Islam Hadir Bukan untuk “meng-Arab-kan” Bangsa, Bahasa, dan Budaya

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Islam ada bukan untuk mengubah ucapan “sampurasun” atau “selamat pagi/siang” atau “good morning” atau “Syalom” dan lain sebagainya menjadi “assalamu’alaikum”. Seperti ucapan selamat yang lain, “assalamu’alaikum” juga sama: baik kaum Muslim maupun non-Muslim yang berbahasa Arab akan mengucapkan “kalimat perdamaian” ini. Para kolegaku yang non-Muslim tiap hari bilang “salamu’alaikam-salamu’alaikum”.

    Karena itu jika ada sejumlah kelompok non-Muslim yang “alergi” dengan kalimat “salam damai” ini karena dipandang sebagai “ucapan selamatnya orang Islam” sama lucunya dengan sejumlah kelompok Muslim yang bernafsu ingin mengganti semua ucapan salam dalam bahasa lokal menjadi “assalamu’alikum” karena dipandang “lebih Islami”. Tidak ada hubungannya antara “assalamu’alaikum” dengan “identitas keislaman”.

    Islam hadir bukan untuk “meng-Arab-kan” bangsa, bahasa dan budaya lain: mengubah ayah/bunda, bapak/ibu, bapake/simboke dan lain sebagainya menjadi “abi/umi”, mengganti saudara/saudari menjadi ikhwan/akhwat atau akhi/ukhti dan lain sebagainya. Kehadiran Islam tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memperbaiki akhlak dan moralitas manusia, agar kaum Muslim menjadi “Muhammad-Muhammad kecil” yang mampu membawa perubahan positif, rahmat dan kedamaian bagi semua umat manusia dan alam raya ini.

    Apalah artinya fasih berbahasa Arab, jika kefasihan itu kalian gunakan untuk mencaci-maki bahasa lain dan menebar kebencian terhadap orang dan budaya lain; apalah artinya pandai berdalil jika dalil itu kau gunakan untuk memfitnah dan menyebarkan kekerasan kepada orang lain; apalah artinya berjidat hitam jika otak dan perilaku kalian hitam-legam sehitam jidat kalian;

    Apalah artinya berjenggot panjang jika keburukan dan kejahatan kalian sama dengan jenggot kalian yang menjuntai itu; dan apalah artinya berpakaian meniru-niru Nabi Muhammad SAW, jika ternyata pikiran dan tindakan kalian seperti “begundal tengik” Abu Jahal wa ala alihi wa ashhabihi ajma’in. (red)

  • Gender Dan Poligami

    Gender Dan Poligami

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Isu gender bagi kalangan para santri terdiri dari 2 arus besar. Bagi para santri yang terus berkecimpung di pesantren dengan pegangan kitab kuning setiap harinya akan terlihat respon penolakannya, atau setidaknya kurang setuju. Sementara bagi arus kedua, para santri yang sudah aktif di lingkungan akademisi, pergerakan, bersentuhan dengan komunitas dan sosial yang beragam biasanya menerima isu gender ini.

    Arus kedua ini -dalam amatan saya- ada yang langsung menggugat bentuk patriarki dan penempatan wanita dalam kelas dua di beberapa literatur kitab. Namun ada pula yang lebih soft, tidak mendekonstruksi ‘doktrin’ kitab kuning namun mereinterpretasi (menafsirkan ulang) beberapa kitab rujukan tersebut dengan membandingkan dari penjelasan para ulama lain. Biasanya menggunakan tafsir ulama yang berbeda dalam penekanan sisi makna bahasa, atau dengan menggunakan pendekatan Ilmu Ushul Fiqh. Kyai Imam Nakhai yang kemarin menjadi narasumber bersama dengan saya dalam seminar nasional online adalah tipe yang soft ini. Saya memaklumi karena pangkat beliau sudah selevel Al-Ghazali, yakni di depannya sudah pakai “Imam”.

    Dalam penyampaian materi, kyai Imam Nakhai yang juga Dosen di Ma’had Ali Salafiyah Syafi’iyah Situbondo ini memaparkan beberapa dalil, menganalisa beberapa redaksi hadis, memposisikan mana dalil Am dan Khash, Mutlaq dan Muqayyad. Pada titik kesimpulan beliau katakan bahwa laki-laki dan perempuan pada sisi Insaniyah (kemanusiaan) dan Akromiyah (kemuliaan) adalah sama, sederajat. Namun pada sisi Afdlaliyah (keutamaan) terkadang laki-laki memiliki sifat keutamaan tersebut namun tidak menutup peluang bagi wanita untuk mencapai keutamaan tersebut.

    Saya didapuk oleh panitia menyampaikan materi seputar ibadah puasa dan hari raya di masa wabah ini. Jadi, saya hanya fokus dengan materi saya.

    Pada sesi tanya jawab hampir kebanyakan suara yang bertanya diwakili oleh kaum Adam dan bertanya tentang poligami. Beliau menjawab dengan jawaban yang sedikit mengejutkan awalnya, namun bisa dipahami di bagian akhir. Kata beliau poligami bukan ajaran Islam. Tapi ajaran umat terdahulu. Yang terdapat dalam Islam tentang poligami adalah mengatur dan memberi batasan.

    Tanpa diduga moderator menanyakan kepada saya soal poligigi ee poligami. Tentu saya terkejut. Saya menjawab dengan penjelasan yang terdapat dalam sebagian kitab Madzhab Syafi’iyah:

    ﻭﻧﺪﺏ ﺇﻟﻰ اﻻﻗﺘﺼﺎﺭ ﻋﻠﻰ ﻭاﺣﺪﺓ ﺧﻮﻓﺎ ﻣﻦ اﻟﺠﻮﺭ ﻭﺗﺮﻙ اﻟﻌﺪﻝ، ﻭﻫﺬا ﻣﺄﻣﻮﻥ ﻣﻦ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ

    Dianjurkan menikah hanya 1 wanita saja, khawatir ada penyelewengan dan tidak adil. Kedua alasan ini tidak terdapat dalam diri Nabi shalallahu alaihi wasallam (Al-Majmu’ wa Takmilah 16/144)

    Di samping itu, redaksi dalam kitab-kitab Syafi’iyah biasanya ketika menjelaskan poligami menggunakan bahasa boleh (jawaz). Maka ada penuturan dalam sebagian kitab Madzhab Syafi’i lainnya dijelaskan:

    ﺇﺫَا ﻗِﻴﻞَ ﻳَﺠُﻮﺯُ ﻛَﺬَا ﻳُﻔْﻬَﻢُ ﻣِﻨْﻪُ ﻋُﺮْﻓًﺎ ﺃَﻥَّ ﺗﺮﻛﻪ ﺃﻭﻟﻰ

    “Jika ada redaksi ‘boleh melakukan ini’ maka dapat dipahami secara umum bahwa sebaiknya tidak dilakukan” (Bujairimi Khatib
    2/174) (kh. ma’ruf khozin)

  • Hukum Menghadiri Undangan Tak Punya Uang

    Hukum Menghadiri Undangan Tak Punya Uang

    SORBANSANTRI.COM

    بسم الله الرحمن الرحيم

    SORBAN SANTRI- Menghadiri Undangan hajatan hukumnya wajib, terkadang sehari sampe 3 tempat, sedangkan uang tak punya,
    1) apa boleh hadir tanpa bawa uang amplop?
    2) apakah uang hasil sumbangan hajatan harus dikembalikan dikemudian hari (ketika sipolan pesta?)

    Jawaban
    1) wajib hadir walaupun tdk punya uang, dan boleh tidak membawa uang amplop.
    ☝️ Syarat wajib menhadiri :
    ¹ hubungan tetangga ² teman ³ kerabat ⁴ ke-ilmu-an,kebaikan dll.
    Kalo tak kenal, boleh tdk hadir.

    2) uang amplop tidak wajib dikembalikan, krn bukan hutang, melainkan Hibah(pemberian).
    Kecuali sudah ada kesepakatan untuk dikembalikan.

    Dalil ( liat poto > h.qulyubi\i.tholibin \h.jamal))
    Maknanya
    “Pendapat Yg lebih tampak harta² yg ditradisikan dlm pesta² adalah hibah bukan piutang meskipun ditradisikan dimasyarakat untuk dikembalikan.”

    di kitab at-Tuhfah
    “Pendapat Yang lebih tampak harta-harta yang ditradisikan dalam pesta² adalah hibah dan tidak berpengaruh kebiasaan yang berlaku dimasyarakat selama tidak terdapati pernyataan semacam ‘ambillah…!!
    (ia niati menghutangkan dan disepakati oleh pemilik pesta atau ahli warisnya)

    Kesimpulan :
    sebesar apapun sumbangan hajatan yg diterima, itu adalah hibah\ pemberian,Bukan hutang,

    Wallohu a’lam bisshowab
    Walhamdulillah

  • BILAL UNTUK SHALAT IDUL FITHRI

    BILAL UNTUK SHALAT IDUL FITHRI

    SORBANSANTRI.COM

    1. Ketika shalat akan dimulai Bilal mengucapkan :

    اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ, اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ , لَا إلٰهَ إلَّا اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ
    اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
    صَلُّوْا سُنَّةً لِعِيْدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ جَامِعَةً رَحِمَكُمُ اللهُ × ٢

    Shalatlah sunat ‘Idul Fithri 2 raka’at dengan berjama’ah, semoga Allah memberi rahmat kepada kalian.

    2. Shalat Idul Fitri dilaksanakan secara berjama’ah. Setelah shalat selesai Bilal berdiri menghadap jama’ah lalu menguca

    يَامَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ وَزُمْرَةَ الْمُؤْمِنِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ. اِعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمُ عِيْدِ الْفِطْرِ وَيَوْمُ السُّرُوْرِ، وَيَوْمُ الْمَغْفُوْرِ. أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ. إِذَا صَعِدَ الْخَطِيْبُ عَلَى الْمِنْبَرِ, اَنْصِتُوْا وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا رَحِمَكُمُ اللهُ, اَنْصِتُوْا وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا رَحِمَكُم اللهُ, اَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ.

    Artinya : Wahai sekalian kaum Muslimin dan golongan kaum Mukminin, semoga Allah memberi rahmat kepada kalian. Ketahuilah sesungguhnya hari kalian ini adalah Hari ‘Idul Fithri (hari kembali suci), hari bahagia dan hari pengampunan. Allah menghalalkan bagi kalian makan pada hari itu dan Allah mengharamkan bagi kalian puasa pada hari itu. Apabila khatib naik ke atas Mimbar, perhatikanlah, dengarkanlah dan taatilah, semoga Allah memberi rahmat kepada kalian (2 x). Perhatikanlah, semoga kalian dirahmati oleh Allah.

    اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلىٰ مُحَمَّدٍ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلىٰ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ،وَاْلحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ قَوِّاْلاِسْلاَمَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْاَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، وَيَسِّرْهُمْ عَلىٰ اِقَامَةِ الدِّيْنِ. رَبِّ اخْتِمْ لَنَامِنْكَ بِالْخَيْرِ وَيَاخَيْرَالنَّاصِرِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

    Artinya : Ya Allah, bberilah rahmat kepada Nabi Muhammad, Ya Allah berilah rahmat kepada junjungan kita Nabi Muhammad, Ya Allah berilah rahmat kepada junjungan kita Nabi Muhammad, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Ya Allah, kuatkanlah Islam dari orang-orang muslim dan muslimat, orang-orang mukmin dan mukminat, baik yang masih hidup dan yang sudah meninggal dunia. Dan mudahkanlah mereka dalam mendirikan Agama. Wahai Tuhan, akhirilah kami dari Engkau dengan kebaikan, wahai Tuhan sebaik-baik penolong, dengan rahmatMu, wahai Tuhan yang Maha Pengasih dari yang pengasih. (red)

  • WAHABI BERTANYA, ASWAJA MENJAWAB

    WAHABI BERTANYA, ASWAJA MENJAWAB

    SORBANSANTRI.COM
    Bingung Sendirikan

    Pertanyaan dari salah seorang WAHABI :

    Kenapa kalian (ASWAJA) menolak ALLAH berada/bertempat di atas langit, tapi ketika berdo’a kalian tetap menghadap ke atas langit.?

    JAWABAN KAMI :

    ALLAH Ta’ala berfirman :

    وَفِي السَّمَاء رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ

    Dan di Langit itu Rizki kalian dan sesuatu yang di janjikan bagi kalian.

    [QS. Adz-Dzariyat : 22]

    IMAM AN-NAWAWI Rahimahullah mengatakan :

    وَهُوَ الَّذِيْ إِذَا دَعَاهُ الدَّاعِيْ اِسْتَقْبَلَ السَّمَاءَ، كَمَا إِذَا صَلَّى الْمُصَلِّيْ اِسْتَقْبَلَ الْكَعْبَةَ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لأَنَّهُ مُنْحَصِرٌ فِي السَّمَاءِ كَمَا أَنَّهُ لَيْسَ مُنْحَصِرًا فِيْ جِهَةِ الْكَعْبَةِ، بَلْ ذَلِكَ لِأن السَّمَاءَ قِبْلَةُ الدَّاعِيْنَ، كَمَا أَن الكعبةَ قِبْلَةُ الْمُصَلِّيْنَ

    Dan Dialah (ALLAH) yang apabila seseorang berdoa kepadanya, orang itu menghadap ke langit sebagaimana juga orang yang shalat dia menghadap ke Ka’bah, dan bukanlah hal itu menunjukan bahwa ALLAH berada di langit sebagaimana juga ALLAH tidak berada di arah Ka’bah.

    Akan tetapi hal itu dikarnakan bahwa langit adalah kiblat bagi orang-orang yang berdoa sebagaimana juga Ka’bah yang menjadi kiblat bagi orang-orang yang shalat.

    [Syarah Shahih Muslim : Jilid 5, Halaman 26, Cetakan ke 3, Tahun 1996 dari Darul Ma’rifah, Beirut Libanon].

    IMAM IBNU HAJAR AL-ASQALANI Rahimahullah mengatakan :

    اَلسَّمَاءُ قِبْلَةُ الدُّعَاءِ كَمَا أَنَّ الْكَعْبَةَ قِبْلَةُ الصَّلَاةِ

    Langit adalah kiblat doa sebagaimana ka’bah yang menjadi kiblat shalat.
    .
    [Fathul Bari : Juz 2, Halaman 233]

    Jawaban diatas dikutip dari ucapan seorang bocah Madrasah Ibtida’iyah. [Sebut Saja Mawar]

    Wassalamualaikum

  • Hukum Sholat Wanita Keputihan

    Hukum Sholat Wanita Keputihan

    SORBANSANTRI.COM

    بسم الله الرحمن الرحيم

    • apakah keputihan termasuk haid? Najis atau tidak?
    • Bagaimana cara shalatnya?

    Jawaban:
    Keputihan bukan termasuk haid. Cairan putih sebab keputihan hukumnya ada 2 :
    1.cairan Keluar dr farji bagian luar (bagian yg tampak ketika wanita jongkok) itu tidak najis alias suci
    2.cairan keluar dr bagian dalam farji itu najis ,sama dg najisnya madzi dan wadzi.

    Cara shalat wanita yg keputihan,
    jika cairan itu keluar terus menerus seperti orang beser, maka berlaku hukum seperti orang beser.
    Yaitu:

    • mensucikan kemaluan
    • lalu disumbat dengan pembalut atau kapas.
    • lalu wudlu dan segera shalat.

    ingat: Penderita keputihan dan orang yang beser tidak boleh menunda-nunda shalat setelah wudlu, kecuali menjawab adzan atau menunggu jama’ah.

    Wallohu a’lam bisshowab
    Walhamdulillah
    #dalil: HasiahJamal 2-149