15 Desember 2019. Giat Rutin Koordinasi Masjid dibawah naungan Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul ulama (LTMNU) MWCNU Pacet dihadiri oleh Pengurus Takmir Masjid, Takmir Musholla se-Kecamatan Pacet dan juga dihadiri jajaran Syuriah dan Tanfidziyah MWCNU Pacet yang bertempat di Masjid Sabilul Muttaqin Desa Pandanarum.Kegiatan tersebut dilaksanakan setiap Ahad Wage, adapun rangkaian acara tidak hanya diisi dengan membaca istighosah dan Tahlil, tapi juga di isi dengan Ngaji Kitab Taqrib dan Ngaji Fiqih Kemasyarakatan bertujuan untuk menambah wawasan para Takmir.Tak seperti biasanya, Kegiatan ini juga dihadiri oleh Bapak bupati yang di wakili Asisten 3 memberikan bantuan untuk Adminitrasi Koordinasi Masjid. Semua atas izin Alloh SWT.Sahabat-Sahabat Banser dari Satuan Koordinasi Rayon Banser Kecamatan Pacet juga terlihat di sekeliling Masjid untuk pengamanan Lalu lintas.
Khidmatnya acara tersebut juga menghadirkan Ibu Nyai Sholihatin, dari kecamatan Jatirejo untuk mengisi Siraman Rohani kepada kader kader Banom NU ini. Kegiatan terebut jugaDihadiri ibu ketua tim penggerak PKK Kecamatan serta bpk Zainal mewakili Kepala desa kalikatir.(15/12)
Cyberaswaja.online. Mojokerto, Makam Islam di Prajurit Kulon Kota Mojokerto Ramai dengan para peziarah, Hal ini Berkaitan dengan adanya Haul Alm. Riyanto Ke XIX, beliau Pahlawan Kemanusiaan yang gugur dalam Tugas sebagai Banser pada tahun 2000 Di Salah satu Gereja kota Mojokerto.
Pengurus PC GP Ansor Kota dan Kabupaten Mojokerto mempunyai Peran Penting dalam pelaksanaan HAUL ke XIX ini. Keterlibatan pasukan Banser dalam Apel Kebhinekaan salah satu bentuk hormat kader kepada pahlawan kemanusiaan tersebut.
Rangkaian acara, mulai kirab Bendera Merah Putih di selinggi DrumBand Banser, Apel Kebhinekaan, serta Seminar Nasional adalah upaya agar kader mengingat jasa almarhum sebagai Kader Banser yang menjaga dan menghormati keberagaman agama di tanah tercinta Indonesia.(14/12)
“Apel Kebhinekaan dan acara pada Haul ke XIX ini, kita sebagai kader GP Ansor Jangan Sampai melupakan sejarah, bahwa sahabat Riyanto dengan mengorbankan nyawanya merupakan salah satu Kecintaan pada almamater organisasi dan menjaga perbedaan agama” tegas PC GP Ansor Kabupaten Mojokerto, Gus Ali Nasikh
Berlangsung di lapangan Prajurit kulon kota Mojokerto ini, juga dihadiri dari Tokoh Agama, Polres Kota Mojokerto, serta Ibu Wali Kota Mojokerto Mbak Ita, dan juga Kedua Orang Tua Almarhum. antusias Masyarakat terlihat di sepanjang Lapangan dalam Apel Kebhinekaan Haul ke XIX tersebut. (WakGenk/Infokom)
Cyberswaja.online. Ngoro, Sholawat Bergema di Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto, di bawah Gerakan Pemuda Ansor Ngoro, melalui Lembaga Majlis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor (LMDS RA) nya, melaksanakan Shalawat bersama tokoh pemerintahan dan masyarakat sekitar.(14/12).
Agenda Bulanan yang merupakan Program Dari LMDS RA ini, yang dikemas dengan Pengajian Umum Tidak hanya melantunkan shalawat, namun diisi dengan Santunan yatim Piantu juga.
Banyaknya kehadiran Jama’ah dari berbagai kalangan dan umur tersebut, menunggu Ceramah Agama sesepuh Kyai dari Karangnongko Kab.Mojokerto yaitu Mbah KH. Khusein Ilyas, sebagai acara puncaknya.
“Agenda ini merupakan program yang di tetapkan dan berganti tempat di setiap bulan” tegas Sahabat Surotin Selaku Ketua PAC GP Ansor Ngoro.
Kegiatan berjalan lancar, keamanan dari Banser Ngoro tersebut berperan aktif selama acara berlangsung. (WakGenk/infokom/)
Cyberaswaja.online. Mojokerto, tepat Haul 19 Alm. Riyanto pahlawan Banser, dihadiri Oleh Ka Densus 99 Sahabat Nuruzzaman. Dalam agenda Seminar Nasional dengan tema “kontra radikalisme dan masa depan Bhineka Tunggal Ika”, bertempat di Balai kota Mojokerto, kegiatan tersebut mendapatkan antusiasme dari kader GP Ansor, Banser dalam mengikuti kegiatan Seminar Nasional tersebut (14/12).Seminar Nasional juga menghadirkan, Pendeta Pdt. Brahim Kharimatus, M.Div.M.Th, Dari Satgas Anti-Teror Polri BPK. DR. Didik Nobi Rahmanto, hadir juga BPK. AKBP. Bogiek Sugiyarto, S.H, S.I.K, M.H selaku Kapolres Mojokerto kota.
Kasatkorcab Banser Mojokerto
Selain tokoh tokoh diatas, dihadiri Dari Keluarga Alm. Riyanto, Serta Saksi Hidup Kejadian BOM Natal tahun 2000. Serta Pengurus GP Ansor dan Satkorcab Banser Kabupaten Mojokerto.Sejarah mencatat kepahlawan Alm. Riyanto Sebagai Banser hasil dari didikan kyai, yang selalu menjaga Pentingnya Bhineka Tuggal Ika.(WakGenk/infokom)
1. Hadiahkan Dulu Fatihah Buat
Syeikh Abu Bakar Bin Salim, Karena Beliaulah Yang Pertama Kali Membawa
Kopi Dan Menanamnya Hingga Bisa Dinikmati Sampai sekarang.
2. Baca Niat Dalam Hati : Sahajaku Minum Kopi Meambil Berkat Syeikh Abu Bakar Bin Salim Karena ALLAH Ta`ala.
3. Baca Secara Lisan : Nawaitu Syifa Bibarkati Muhammadurasulullah ( Kalam Abah Guru Sekumpul ) Insyaallah Jadi Obat Penyakit . 4. Usahaka Setiap Minum Kopi 3 Tegakkan Baca : Bismillah, Arrahman, Arrahim. ( Kalam Abah Haji ).
Apel Kebhinekaan dalam peringatan Haul ke 19 Sahabat riyanto, dihadiri oleh tokoh-tokoh besar yang berperan aktif dan luar biasa oleh sahabat sahabat ansor banser.
Dalam acara tersebut Ansor Banser dari berbagai daerah bersatu tekad untuk menjaga ke Bhinekaan.
Bismillahi majreha wamursaha inna robbi lagofururrohiim…sambil mnanti panggilan Allah swt k tanah suci…brjiarah dulu ke makam orang2 yang shaleh waliyullah… Semoga lancar, sehat selamat sampai tujuan… Otw Jawa Timur Keluarga besar Ponpes.Darussalam Ckj-Garut
Dari Tsauban R.A dia berkata, “Rasulullah telah bersabda, ‘Sesungguhnya
Allah tlah memperlihatkan seluruh bumi kpdaku hingga aku dapat
melihatnya, baik itu bagian timur maupun bagian barat. Sesungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai bagian2 bumi yg tlah diperlihatkannya kpdaku
Aku telah dianugerahkan dua perbendaharaan, MERAH DAN PUTIH
Sesungguhnya aku telah memohonkan kepada Tuhanku mengenai umatku, Semoga Allah tdk menghancurkan umatku dngan habisnya pangan dlm jangka setahun penuh
Semoga Allah tdk menjadikan umatku dpat dikuasai oleh musuh dari luar mereka yg melucuti pelindung kepala mereka.
Sesungguhnya Tuhanku telah berfirman, “Hai Muhammad, apabila Aku telah
memutuskan sesuatu, maka sesuatu itu pasti tidak akan tertolak.
Sesungguhnya Aku telah menjamin umatmu bahwasanya,
Aku tidak akan menghancurkan umatmu dngan kehabisan pangan dlm setahun penuh
Aku tdk akan menjadikan umatmu dikuasai oleh musuh dari luar mreka yg melucuti pelindung kepala mereka
meskipun mereka diserang dari berbagai penjuru, kecuali jika sesama umatmu saling menghancurkan & saling menawan. {Muslim 8/171}.
Laziznu Tuban – Sempat sedikit agak terpana saya, ketika TGB (Tuan Guru Bajang) Muhammad Zainul Majdi yang sejak satu tahun terakhir ini sangat getol menarasikan wasatiyyah terutama dalam arah politik keummatan Indonesia, dalam diskusi tim kecil di WA Group alumni Al azhar, TGB menyataka :”Perlu Gus Baha – Gus Baha baru yang muncul kepermukaan yang sebenarnya banyak di pondok-pondok pesantren, yang pemikirannya cemerlang, kita harus dorong mereka untuk terjun aktif ditengah ummat. Nilai-nilai pesantren perlu direvitalisasi termasuk konsep tawadhu. Saking tawadhunya santri, akhirnya panggung dakwah diserahkan kepada yang tidak faham atau setengah faham, dan akhirnya jadilah sebuah dagelan. Kita lihat conto baik dari kehadiran viralnya Gus Baha, setelah tampil ke public, banyak ummat yang tercerahkan’.
Sejak postingan TGB itu, saya akui hampir semua video dakwahnya Gus
Baha saya buka dan ikuti narasinya, subhanalllah, Saya pun merasakan ada
mutiara indah yang tersampaikan dalam viralnya tausiah-tausiah gus Baha
ini.
Gus Baha, sebutan bagi KH. Bahauddin bin Kiai Nursalim,
sedang menjadi idola santri-santri dan milenial muslim, Gus Baha jadi
oase di tengah maraknya ustadz-ustadz yang mencari popularitas. Di
tengah meruahnya pendakwah yang mengumbar kebencian dan mengadu domba
umat. Cara dakwah Gus Baha riang gembira, selow dan santai. Bikin
nyaman.
Ketertarikan terhadap Gus Baha’ didasarkan kepada
metodologi yang digunakan dalam menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an yang
tidak melepaskan diri dari paradigma fikih yang dikuasainya. Banyak yang
menganggap bahwa cara penyajian Gus Baha’ tersebut terbilang langka.
Karena selama ini, mereka hanya menerima penjelasan ayat-ayat al-Qur’an
yang bersifat letterlik dan bahkan terkadang disisipi oleh lathaif
siyasah (motif-motif politik yang tersembunyi).
Gus Baha’, melalui topik-topik yang diangkatnya, sepertinya telah
membaca apa yang sebenarnya dibutuhkan publik di luar pesantren. Beliau
seperti tidak ingin memaksakan cara pandangnya di dalam memahami masalah
kepada audiens yang mendengarkan. Itu bisa dicermati dari bagaimana
beliau mencoba menyederhanakan deskripsi fikih yang rumit ke dalam
bahasa yang mudah, melalui perumpamaan yang mudah dimengerti siapa saja.
Mengomentari kemunculan Gus Baha ini, teringat Kiai Ahmad Baso, di
dalam karyanya, ” Islam Pasca Kolonial” selalu menegaskan bahwa
liberalisme pemikiran bukanlah senyawa orisinil dunia pesantren.
Pesantren mempunyai khasanah dan manhaj-nya sendiri untuk berbicara
tentang peradaban.
Bisa kita nikmati betapa metode pesantren di
nusantara telah menyuguhkan produk pemikir dan pemikiran yang universal
dan kekinian tanpa harus memasukan metode barat yang liberal tapi focus
pada literasi klasik yang digali dengan pisau analisa tanggungjawab
dakwah yang solutip keumatan.
Lebih dalam mengomentari fenomena
dakwah keumatan Gus Baha ini, TGB menegaskan bahwa termasuk dalam arah
wasatiyyah adalah keseimbangan antara fikrah dan harakah. Ide dan gerak,
ilmu dan amal.
Bergerak tanpa kefahaman akan melahirkan
teriakan tanpa manfaat, bising tanpa maslahat. Karenanya panggung dakwah
itu harus diisi oleh orang-orang berkefahaman yang dalam dan utuh,
dengan semangat yang kuat.
Kalau sekedar bersemangat, panggung
dakwah bisa berubah menjadi mimbar kebencian. Semoga Allah menjadikan
kita termasuk yang selalu beramal dalam ilmu dan berilmu dalam amal.
Yaa ritt….. Syukron Tuan Guru !!! (Tasikmalaya, 71219)
Laziznu Tuban – JUJUR saya senang melihat orang-orang kelojotan atas pernyataan Prof Dr KH Said Aqil Siroj. Warga NU yang “agak” normatif mungkin mengerutkan dahi merasa bahwa pernyataan “menguasai masjid-masjid, KUA- KUA dan lainnya” tidak elok untuk didengar ormas lain.
Namun seandainya sedikit saja kita menengok
ke belakang dan melihat serangan bertubi-tubi terhadap NU, kita akan
sadar bahwa pemimpin NU memang sudah waktunya memberi peringatan keras.
Tahun 2009 dilaporkan penelitian Wahid & Maarif Institute bahwa;
ribuan mesjid NU dan Muhammadiyah telah berhasil dikuasai oleh kelompok
“asing”. Mengambil alih mesjid, mengganti imam dan yang paling
mengerikan mengatur tema ceramah. Menyalahkan bacaan dzikir yang sudah
ada dan membid’ahkan semuanya. Mereka sudah masuk dalam rohis sekolah,
mushola-mushola kampus, keagamaan lembaga pemerintah bahkan
mensosialisasikan tahlilan sebagai bid’ah ke kampung-kampung. Masif dan
terencana. Penyusupan ini sudah dilakukan sejak tahun 1980, dengan
menghabiskan biaya mencapai USD 90 Milyar. Tahun 2006, masuk proposal
resmi untuk melakukan ‘bantuan’ kepada pemerintah sebesar USD 500 Dollar
untuk tujuan yang sama(Team, 2009). Beruntung proposal tersebut
ditolak.
Kekhawatiran itu bukan hanya milik NU, bahkan
muhammadiyah PERNAH secara tegas mengeluarkan surat keputusan agar
melarang INFILTRASI PKS dalam tubuh organisasi (lihat, SKPP Muhammadiyah
No.149/KEP/I.0/B/2006) . Terlambat, muhammadiyah tidak memiliki akar
budaya khas yang sulit dirubah seperti NU yang kokoh. Adakalanya tradisi
mengalahkan Dollar. Meskipun serangan bertubi-tubi pada NU melahirkan
“NU Garis Lurus” yang seperti singa di sosial media. Tentu cukup NU
garis lucu untuk membuat mereka imut kembali. Jelang Buya Safii Maarif
turun jabatan, Muhamaddiyah terPkskan. Namun kerugian atas infiltrasi
ideologi semacam ini telah menimbulkan retakan-retakan.
Saya tak
heran kalau kemudian Din Syamsudin langsung memberi statemen atas
pernyataan ketua PBNU, Kyai Said Aqil Siroj pada acara muslimat NU lalu
(27/1/2019). Pekerjaan responsif terhadap NU adalah nostalgia bagi
beliau. Tahun 2001 menjelang penggulingan Gusdur, Din S memiliki peran
besar dalam menyuarakan isu “AJINOMOTO” mengandung babi untuk
mendeligitimasi gusdur sebagai “orang islam” (Kobayashi, 2002). Kejam
bukan?
Beberapa tahun belakangan ketika NU belum memiliki media
online yang mapan, sudah ada web bernama YukKenalNU. Dengan rencana yang
matang dan terstruktur web tersebut khusus untuk memfitnah NU. Warna
template berwarna hijau dan pada huruf NU dibuat berwarna pelangi.
Dengan maksud mengasosiasikan NU sebagai pendukung LGBT. Laman tersebut
memuat Semua tradisi NU: kemudian dievaluasi, dikategorikan bid’ah
hingga dituduh syiah.
Sudah cukup? Belum!
Setelah kasus
pembakaran bendera HTI di Jawa Barat, dilaporkan setelah pembakaran
bendera HTI, video tentang pembakaran tersebut masuk melalui 80 akun
yutube berbeda dalam jangka kurang dari 1 jam! Hebatnya, video ini
disertai berbagai narasi berbeda dengan tujuan yang sama,
mendeligitimasi Banser, pemimpinnya, hingga pucuk pimpinan PBNU dan
kemudian menghancurkan citra NU sebagai Ormas Islam terbesar di planet
bumi.
Cukup? Belum!
Silahkan anda ketik nama “Said Aqil
Siroj” di youtube, yang muncul adalah Said aqil Syiah, Said Aqil
liberal, Said Aqil Jenggot dan lainnya. Lalu anda putar secara bebas.
Anda akan melihat video propaganda yang sudah dipotong, diberi nama,
diberi efek dan kesan jelek. Mau contoh?
Ketika KYAI SAID (KETUM
PBNU) melontarkan pernyataan tentang “jenggot” hampir dipastikan video
yang muncul teratas di youtube itu dipotong sedemikian rupa, lalu
di”cut” dan diteruskan dengan video ceramah ustad-ustad jenggot yang
baru saja memulai karir dengan “menggunakan” hadits.
Anda
bayangkan, penonton video ditampilkan dua rekaman berbeda seakan-akan
KYAI SAID (KETUM PBNU) sedang dihakimi oleh ustad newbie tersebut. Lalu
kemudian ustad anyar tersebut memaki-maki dan menjatuhkan “salah!”
“Dosa!” “Bid’ah” kepada beliau. Lalu video 5 menit itu selesai,
seakan-akan KYAI SAID (KETUM PBNU) berhasil dihakimi. Berani bertemu?
TIDAK!
Setelah itu tampilah ustad itu “seakan-akan berhasil
mengkritik KYAI SAID (KETUM PBNU)” yang belum pernah ia temui. Maka
wajar kalau dalam setiap ceramah KYAI SAID (KETUM PBNU) selalu
mengatakan ia terbuka untuk kritik, kantor PBNU terbuka. Karena sangat
jarang ada yang berani mendebatnya. Kecuali kalangan NU sendiri yang
terbiasa tabayyun.
Ini baru satu video, sedangkan dalam 1 isu
saja tentang pernyataan KYAI SAID (KETUM PBNU), bisa menampilkan hingga
20-40 video. Pertanyaannya, jenis makhluk apakah orang-orang yang
melakukan editing video seperti ini? Apa mereka mengangap fitnah
terencana ini sebagai jihad? maukah mereka diuji secara terbuka dan
ilmiah?
Anda bayangkan, seorang Felix siau yang tidak pernah
diuji secara ilmiah dan akademis pengetahuannya tentang Timur Tengah
mengklaim sebagai orang yang paling tahu tentang Turki Utsmani cukup
dengan membuat NOVEL tentang ‘Muhammad Al-Fatih’(dan liburan ke Turki
beberapa kali)–mempermalukan puluhan lulusan Jurusan Timur Tengah dalam
negeri yang bertahun-tahun berdarah-darah membuat
skripsi-thesis-disertasi. Jangan bandingkan dengan Disertasi Kyai Said
yang dipuji Gusdur karena memakai 1000 referensi teruji.
Kita
boleh jujur, bahwa kadangkala yang melakukan semua ini adalah orang
Islam sendiri. Orang yang mengaku paling Islami namun mereka adalah
Orang yang tidak betah hidup di negeri Pancasila. Mereka anti pada
banyak hal. Sehingga akan mudah berseteru dengan kelompok sendiri.
Itulah yang membuat Timur Tengah retak-retak tanpa jiwa kebangsaan yang
kokoh.
Gayung bersambut, pemerintahan Jokowi memiliki
kekhawatiran bersama bahwa pihak-pihak yang menggerogoti NU dari dalam
adalah sel-sel yang akan menjadi penghancur konsep negara-bangsa. Hal
ini sangat mengancam ideologi Negara. Tak ada pilihan. 10 tahun
pemerintahan SBY tak pernah sedikitpun mampu membubarkan HTI secara
nyata dan terbuka. Padahal kampanye HTI dalam menolak ideologi Negara
begitu gencar dan terbuka (deklarasi khilafah di GBK!). Hanya di
pemerintahan Jokowi, mampu segera membubarkan Organsasi transnasional
tersebut. Dalam hal ini pemerintah telah menunjukan komitmen yang jelas
atas kelompok-kelompok anti-kebangsaan. NU melihat hal tersebut sebagai
komitmen yang nyata.
Sebenarnya NU adalah wajah Islam Indonesia
sendiri, dan mencoba mempertahankan apa yang sudah diajarkan para ulama,
yang ajaran tersebut bisa ditarik tanpa putus hingga pada Nabi Muhammad
Saw. Sementara para veteran konflik Timur Tengah mencoba menghancurkan
keharmonisan ulama Islam di Indonesia dengan wajah islami. Memang
dibutuhkan kekuataan intelektual yang teruji untuk mengenali infiltrasi
mereka yang rajin mengimpor konflik dan mengobral kebencian. Momentum
Pilpres adalah saat yang paling tepat untuk menentukan keberpihakan
antara pihak yang membela kebangsaan dan para kontraktor konflik.
Namun, mesin hoak telah disebar merusak tatanan keluarga dan
membinasakan kebudayaan negri loh jinawi. Mereka bersepakat berkumpul
dikubu Prabowo. PKS, eks-HTI, FPI, dan para alumni non-universitas. Tak
lupa Amin Rais, tokoh sentral ketua MPR yang menjatuhkan Gusdur melalui
isu bulogate dan bruneigate, tanpa PEMBUKTIAN dan tanpa peradilan. Kubu
sebelah sudah mempersiapkan kekalahan mereka dengan menebar isu KPU
curang guna mempersiapkan kondisi kacau setelah Pilpres, memelihara
kelompok anti-kebangsaan, memasukan Rocky Gerung kedalam masjid,
semuanya halal demi ambisi politik.
HARAPAN
NUonline telah
menyalip semua web Islam (garis keras/fundamentalis) dengan rating
tertinggi. Para intelektual hijau sudah merapatkan barisan. Akademis NU
diberbagai Negara menghimpun keahlian mereka melawan Hoax dengan
keilmuan. Berkumpulnya kaum muslimat menghijaukan GBK adalah sinyalemen
bahwa NU mulai siap muncul kepermukaan. Cukup Muslimat NU saja untuk
membuat ramai suatu kawasan tanpa berebut klaim juta-jutaan.
Kemudian, Harlah NU 31/1/2019 dibuka dengan dengan harapan masa depan.
Industri 5.0 dibahas tanpa melupakan UKM lemah ditengah himpitan global
(lihat pidato Kyai Said pada Harlah 31/1/2019). Keberpihakan NU cukup
jelas pada rakyat jelata. Melihat beban yang di emban NU, jelas NU
adalah ormas dengan wawasan Internasional dan menghadapi
persoalan-persoalan global. NU Bukan ormas recehan yang memperebutkan
jatah sektoral dan mencakar saudara sendiri demi ambisi.
Statemen
sudah dibunyikan. NU mulai berhitung. Ketika ambisi Politik
menghancurkan hubungan keluarga, ambisi politiknya yang dihancurkan,
bukan keluarganya. Komitmen NU dalam mempertahankan nilai-nilai
kebangsaan jelas merupakan keberpihakan terhadap keluarga besar Bangsa
Indonesia. Semoga kita TIDAK berada pada pihak yang ingin
menghancurkannya. Sebagaimana mereka mencobanya jutaan kali.