Penulis: Sorban Santri

  • PERTEMPURAN PACET PEBRUARI 1949 SEDAHSYAT PERTEMPURAN SURABAYA.

    PERTEMPURAN PACET PEBRUARI 1949 SEDAHSYAT PERTEMPURAN SURABAYA.

    Pertempuran Pacet Pebruari 1949 Sedahsyat pertempuran Surabaya

    Ketika berburu buku di Kios buku Velodrom Malang, sebuah sebuah buku yang lama aku cari. SAM KARYA BHIRAWA ANORAGA, buku yang menceritakan tentang perjuangan tentara dari Kodam Brawijaya. Terdapat satu paragraf menarik dalam buku tersebut, yaitu paragraf yang membenarkan keyakinanku tentang perang di Mojokerto. Keyakinan itu yang dulu mendorong lahirnya buku GARIS DEPAN PERTEMPURAN

    Memang hanya satu paragraf tetapi itu sudah cukup untuk dijadikan sebagai dasar pengakuan bahwa Mojokerto benar-benar sebuah garis depan perjuangan kemerdekaan. Sebuah peristiwa besar yang tidak banyak ditulis dalam sejarah kita. Bagaimana mungkin, peristiwa yang menelan korban lebih kurang 1000 orang prajurit luput dari catatan ?

    Pertempuran Pacet yang berlangsung dari Januari hingga pebruari 1949 telah memusnahkan 1/3 dari kekuatan pasukan Komando Hayam Wuruk. Sebuah pasukan komando yang dibentuk dari gabungan batalyon Mansyur, Batalyon Bambang Yuwono dan Batalyon Tjipto. Pasukan gabungan itu dikenal dengan nama pasukan MBT, sesuai dengan singkatan nama para komandan batalyonnya. Perintah buat pasukan komando itu adalah menyerang Surabaya dari arah selatan atau dari sidoarjo.

    Pada awal pertempuran, mereka berhasil menguasai daerah Pacet, Mojosari, Ngoro dan Trawas. Dari sana mereka menjadikannya sebagai basis teretorial untuk masuk ke Surabaya. Upaya masuk lewat jembatan Ngoro, Tanjangrono dan Porong tidak berhasil karena dijaga ketat oleh musuh. Sementara. Menyeberang langsung lewat sungai porong nyaris tidak mungkin karena airnya sedang besar besarnya di musim hujan kala itu.

    Kekuatan pasukan MBT kian bertambah ketika ada beberapa kesatuan pejuang masuk ke wilayah Mojosari selatan. Mayor Moenasir datang dengan separuh anggota batalyonnya setelah gagal merebut Brangkal. Sebagian anggota batalyon Moenasir yang dikenal dengan sebutan Batalyon Tjondromowo itu masuk ke utara sungai membantu Mayor Djarot yang berusaha masuk ke Surabaya juga. Ikut bergabung juga Kapten Soemadi dengan anggota kompinya yang dinamakan kompi Macan Putih. Kompi tempur atau Stot-trop iki masuk ke Pacet usai meloloskan diri dari kepungan musuh di Mendalan Kediri.

    Pada pertengahan bulan pebruari, konsolidasi musuh sudah selesai. Kekuatan pasukan belanda disiapkan secara matang berikut senjata beratnya. Pertempuran besar kembali terjadi di Dlanggu dan para pejuang terjepit. Belanda juga membuat siasat perisai hidup dengan menggiring penduduk di depan pasukannya. Dari belakang muntahan peluru dari tank dan meriam terarah pada posisi tentara republik.

    Pertarungan berlangsung sengit mulai pagi hingga malam. Dan kegelapan malam yang menyelamatkan pasukan komando hayam wuruk itu. Mereka mampu lolos dari kepungan, namun sebagian anggotanya tidak bisa kembali ke induk pasukannya, entah meninggal atau hilang. Sebagian dari yang meninggal adalah prajurit yang pernah dilatih dalam kamp pelatihan Hizbullah di Cibarusa. Kapten Mat Yatim, komandan kompi batalyon Mansyur Solikhi dan Madjid Asmara, kepala staf batalyon gugur pada pertempuran di Ngembeh Dlanggu. Batalyon Mansyur yang terkenal keberaniannya dalam pertempuran kehilangan hampir separuh anggotanya. Kesatuan yang merupakan peleburan dari resimen Hizbullah karesidenan Surabaya itu tetap berdiri hingga penyerahan kedaulatan pada akhir tahun 1949.

    Sebagian pejuang berhasil lolos dari pertempuran itu namun jauh lebih banyak lagi yang gugur atau hilang tak kembali ke induk pasukannya. Kyai Achyat Chalimy menyebut besarnya korban di Batalyon Moenasir dengan julukan “Batalyon Ilang”, batalyon yang musnah. Ya, dalam konsolidasi di Cukir Jombang, Moenasir menghitung anggota pasukannya hanya sebagian kecil yang bisa dikumpulkan kembali, sebagian lainnya tidak hadir di tempat yang disepakati sebagai titik kumpul. Karena kehilangan anggota itulah Abah Yat menyebutnya Batalyon Ilang. Maka untuk mencukupi jumlah personil satu batalyon, Mayor Moenasir merekrut anggota baru dari pesantren di sekitar Cukir. Dengan memobilisasi santri itulah Batalyon Moenasir selamat dari likwidasi atau pembubaran. Batalyon ini baru membubarkan diri setelah kemerdekaan berhasil dicapai.

    Bagaimana dengan korban dari pihak lawan?. Menurut penuturan Pak Yazid Qohar (alm) yang menerima cerita dari Abah Yat, pada hari selesainya pertempuran besar itu truk-truk Belanda datang mengevakuasi korban baik yang meninggal maupun terluka. Korban itu kemudian dibawa ke Surabaya. Tidak diketahui berapa jumlah korban tersebut. Sedangkan korban dari rakyat dan pejuang dibiarkan bergeletakan di tempat.

    Sayangnya, pertempuran besar itu tidak ditandai dengan monumen yang layak. Monumen yang patut dijadikan pengingat bahwa ribuan nyawa telah melayang di sana demi mempertahankan kata KEMERDEKAAN.

    Sudowangun, 24 Nopember 2014

    SORBANSANTRI.COM

    Sumber : Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • KH. AHYAT CHALIMY

    KH. AHYAT CHALIMY

    KH. Ahyat Chalimy (bagian 2)

    Baca bagian ke-1

    H. Qodri, memanggil kedua keponakannya – Aslan dan adiknya, bernama Ahyat yang mulai menginjak masa remaja. Ia bercerita kepada kedua keponakannya, ; “ Ayahmu adalah keturunan dari Mbah Rofi’i yang berasal dari Giri, Gresik, sedang Ibumu adalah keturunan dari Mbah Rowiyo, yang berasal dari Ampel, Surabaya.”1) Katanya, memulai paparan ceritanya. Mbah Rofi’i dan Mbah Rowiyo adalah Pahlawan Islam, karena beliau itu adalah anggota pasukan Tumenggung Kertosono, yang merupakan salah satu Panglima Perang Pangeran Diponegoro, dari Mataram, Jawa Tengah. Mbah Rofi’i dan Mbah Rowiyo dibawah pimpinan Tumenggung Kertosono, berangkat ke Jawa Tengah, berperang melawan Kompeni Belanda, bersama Pangeran Diponegoro.

    Karena kelicikan dan tipu muslihat Kompeni Belanda, P. Diponegoro akhirnya ditangkap kompeni Belanda. Pasukan Diponegoro kocar-kacir. Mbah Rowiyo dan Mbah Rofi’i berniat kembali pulang ke Giri dan Ampel. Karena sulitnya menempuh perjalanan pulang, keduanya nekad mengikuti aliran sungai Brantas. Mulai dari Kertosono, kedua beliau terapung-apung beberapa hari, keduanya akhirnya bertekad, dimanapun keduanya terdampar, maka disitulah mereka akan bertempat tinggal. Berkat pertolongan Alloh SWT. Keduanya terdampar di Kecamatan Gedeg, Mojokerto. Akhirnya kedua beliau menetap di Gedeg, tepatnya di desa Gedek. Sekarang, selain makam Mbah Rowiyo, beberapa keturunannya masih bertempat tinggal di Desa Gedeg.

    K.H. Ahyat Halimy, dilahirkan pada tahun 1918, dari pasangan suami istri Hj. Marfu’ah binti Ali dan H. Abd. Halim dari Gedeg. Ayahanda K.H. Ahyat Halimy, meninggal dunia ketika usia kandungan Ibunya baru memasuki bulan ketiga, sedang kakak-kandungnya, K.H. Aslan, lahir pada tahun 1914. Kedua anak yatim ini kemudian di asuh oleh Ibundanya bersama Pakde-nya yang bernama H. Thohir. Ibunda K.H. Ahyat Halimy akhirnya wafat pada tahun 1938, ketika K.H. Ahyat memasuki usia 17 tahun. Pakde H. Thohir ini pula yang membawa dua Yatim bersama Ibunya, untuk bertempat tinggal di Desa Miji (Sekarang lokasi makam Alm. K.H. Ahyat Halimy).

    Masa kecil K.H. Ahyat Halimy beserta kakak kandung-nya, dijalani di Kota Mojokerto. Keduanya sekolah di Sekolah Rakyat Miji (Sekarang SD Miji I), setelah lulus, mereka melan-jutkan sekolahnya ke Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Mereka juga sempat diajar secara langsung oleh Hadrotussyaih K.H. Hasyim Asy’ari, dan putra beliau K.H. Wahid Hasyim, bahkan karena usianya yang hampir sebaya, K.H. Wahid Hasyim selain sebagai guru berperan pula sebagai sahabat dalam melakukan berbagai diskusi, serta dalam satu barisan perjuangan di masa Proklamasi kemerdekaan.

    Selama belajar di Tebuireng, K.H. Ahyat kecil dikenal sebagai santri yang disiplin. Postur tubuh dan wajahnya menyerupai keturunan Arab, gagah dan tampan. Tetapi perilakunya sangat sopan. Ia juga dikenal sebagai anak yang suka menolong teman santri yang lain. Menanak nasi dan menghidangkannya untuk disantap bersama teman-temannya, merupakan pekerjaan yang setiap hari dilakukan dengan sukarela. K.H. Munasir dari Pekukuhan, Mojosari, sebagai teman seka-mar di Pondok Pesantren Tebuireng, pernah memberi kesaksian pada beberapa orang dari pengurus Cabang GP. Ansor di rumahnya dengan mengatakan ; “ Pak Yat, sejak kecil sudah kelihatan kalau akan jadi Kiyai. Dia tidak pernah meninggalkan sholat jama’ah, tidak pernah mau menggunjingkan teman-temannya, bahkan selalu menempatkan diri sebagai pelayan dari teman-temannya. Saya termasuk orang yang paling beruntung ketika mondok di Tebuireng, karena nggak pernah ngliwet atau bahkan nyuci pakaian. Karena semua sudah dikerjakan oleh Pak Yat.”

    Pengakuan dan kesaksian serupa, juga diberikan oleh teman-teman satu angkatan, antara lain ; K.H. Abdullah Siddiq, dari Jember. K.H. Mansur Burhan dari Surabaya, dan K.H. Zainuri dari Qudus.

    Tahun 1938, K.H. Ahyat Halimy beserta kakak kandungnya, K.H. Aslan, kembali ke Mojokerto dan melakukan berbagai aktifitas. Sebagai pemuda, bersama dengan beberapa temannya, antara lain Sdr. M. Thoyib, M. Thohir, Sholeh Rus-man, Aslan, Mansur Solihi, dan Munasir, mendirikan Ansoru Nahdlatul Ulama (ANO) yang sekarang dikenal sebagai Gerakan Pemuda Ansor. Pada tahun yang sama K.H. Ahyat Halimy, juga diangkat sebagai Sekretaris Tanfidziyah NU Mojokerto, periode kepengurusan yang kedua (1938 s/d 1940).

    Seluruh aktivitas itu dikerjakan dengan tanpa meninggalkan aktivitas “ta’lim”, atau belajar, baik ke Tebuireng mau-pun ke K.H. Romly di Rejoso, Peterongan, Jombang. Akhirnya pada tahun 1940, K.H. Ahyat Halimy mempersunting Badriyah, seorang janda dari desa Gayam, Kecamatan Mojowarno, putri dari K.H. Moh Hisyam yang juga memangku Pondok Pesantren. Suami pertama Nyai Badriyah bernama Fauzan, beliau adalah kakak kelas K.H. Ahyat Halimy, waktu belajar di Tebuireng. Perceraian antara Nyai Badriyah dengan P. Fauzan ini berlangsung baik-baik, semata-mata karena sudah bukan jodohnya lagi. Buktinya, ketika Nyai Badriyah ini dipersunting oleh K.H. Ahyat Halimy, P. Fauzan sempat menitipkan Nyai Badriyah kepada K.H. Ahyat Halimy secara langsung. P. Fauzan berpesan agar Nyai Badriyah dijaga dengan baik.

    Aktivitas K.H. Ahyat yang luar biasa banyak ini, tentu saja mengurangi waktu untuk urusan rumah tangga. Kehidupan rumah tangganya dari segi finansial sangat buruk. Untung istrinya masih sangat setia menemani. “ Setelah pulang dari pengungsian pada Tahun 1946 – 1949, yaitu mulai permulaan tahun 1950, merupakan tahun paling berat bagi rumah tangga saya” tulis K.H. Ahyat Halimy, dalam artikel Sejarah Pondok Sabilul Muttaqin. “Saya bersama keluarga menempati rumah tua, dindingnya sudah lapuk. Kalau malam sulit untuk tidur lelap, karena angin dingin menerobos celah-celah dinding yang sudah lapuk”.

    Pada masa sulit ini, K.H. Ahyat Halimy sempat terpilih menjadi anggota Konstituante (Semacam MPR) di Jakarta, yaitu pada masa berlakunya UUDS RI Tahun 1950, tetapi tugas ini hanya dijalani sekitar dua tahun. K.H. Ahyat Halimy mengajukan pengunduran diri dari anggota Konstituante, karena merasa ini bukan makom atau bidang keahliannya. Keputusan yang bagi kebanyakan orang terasa sangat aneh. Betapa tidak, ketika belum mendapatkan pekerjaan yang bisa menjamin kelancaran kehidupan rumah tangganya, K.H. Ahyat Halimy memilih mengundurkan diri dari anggota Konstituante hanya karena merasa bukan bidang keahliannya, pada hal menjadi anggota Konstituante (MPR) berarti “pekerjaan” yang lumayan juga ?.

    Keadaan sulit ini, mengingatkan K.H. Ahyat Halimy pada “dawuh” K.H. Ahmad Basyari Sukonegoro dari Cianjur ;” Sopo wonge ziarah wali songo sarono urut-urut, Insya Alloh oleh barokahe Walisongo” (Barang siapa yang mau berziarah ke makam Walisongo secara berurutan, Insya Alloh akan men-dapat barokah dari Walisongo). K.H. Ahyat Halimy pun akhirnya berangkat ziarah ke Walisongo, menggunakan kendaraan apa saja, dengan bekal uang hasil penjualan gelang milik istrinya. “Lelono” ini membutuhkan waktu satu bulan lebih.

    Ketika sampai di makam Sinuhun Syarif Hidayatullah (Sunan Giri), K.H. Ahyat Halimy mendapat isyarah, bahwa makom-nya ada di dalam Mihrab (tempat Imam Sholat). Isyarah yang sama juga di dapat oleh K.H. Ahyat Halimy, ketika berholwat di makam Batuampar, Madura. K.H. Ahyat Halimy bermimpi ketemu Rosulloh SAW, yang juga menyatakan bahwa makom-nya ada di dalam Mihrab. Isarah-isarah itu kemudian digabungkan oleh beliau, dengan berpedoman pada perilaku Hadratus syaih K.H. Hasyim Asy’ari, yang pernah bercerita, setelah berbagai macam pekerjaan ditempuh dan dijalani, oleh Hadrotussyaih bahkan sampai menjadi “blantik jaran”, akhirnya Hadrotus syaih berkata “ Bareng aku hidmatul ilmu, maka opo wae hasil kabeh”. ( Bersama saya, mengabdi kepada Ilmu, maka apapun akan terpenuhi ).

    Berdasarkan pengalaman-pengalaman diatas, maka sejak tanggal 25 Januari 1956, K.H. Ahyat Halimy mulai bertekad untuk mengabdi pada ilmu, dan mengadakan kuliah subuh, di surau kecil peninggalan datuknya + 150 tahun yang lalu. Kitab yang dibaca adalah kitab Kasyifat al Sajaa’, sesuai dengan saran K.H. Romly, Rejoso Jombang dengan mengatakan “ Kang Ahyat, kitab niku manfaat kangge tiyang Jawi !”. Sejak itu sampai dengan sekarang, kuliah subuh itu terus diselenggarakan secara istiqomah, kecuali hari raya Idul Fitri, di tempat yang sama, yaitu surau kecil yang sekarang telah berubah menjadi Masjid dan Komplek Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin.


    1). Beberapa Ulama sepuh, terutama ulama dari Pasuruan dan Jember, mengatakan bahwa Mbah Rofi’i dan Mbah Rowiyo, bukan saja dari Ampel dan Giri, tetapi kedua beliau adalah juga kerabat dari Sunan Giri dan Sunan Ampel. Namun K.H. Ahyat Halimy, setiap kali bercerita hanya mengatakan Mbah Rowiyo dari Giri, dan Mbah Rofi’i dari Ampel.

    SORBANSANTRI.COM

  • KH. AHYAT CHALIMY

    KH. AHYAT CHALIMY

    KH. Ahyat Chalimy (bagian 1)

    Jamaah sholat Isya’ di surau kecil itu baru saja usai. Beberapa anak muda masih asyik bercengkerama di teras surau. Ahyat, salah seorang dari anak muda itu, beranjak pulang ke rumahnya yang berada di sebelah surau. Beberapa saat kemudian Ahyat kembali sambil membawa cobek dan ulekan. “Ayo rujakan !” katanya pada teman-temannya. Rusman dan Thoyib yang dikenal jago memanjat, segera beraksi, memanjat pohon mangga yang berada persis didepan surau. Selain memanjat mangga, seluruh kegiatan “ngrujak” dilakukan oleh Ahyat. Bukan saja membuat rujak, waktu “liwetan” (menanak nasi untuk dimakan bersama), Ahyat juga yang mengerjakan. Diantara 12 pemuda yang suka bercengkerama di surau itu, Ahyat dikenal teman-temannya sebagai anak yang suka melayani teman-temannya.

    Sambil makan rujak, mereka berbicara mengenai banyak hal. Mulai dari masalah agama, sampai informasi terkini yang mereka dengar dari radio atau dari pembicaraan orang dewasa. Malam itu mereka membicarakan Perang Dunia ke dua, dimana Jerman dan Jepang sudah mulai menguasai beberapa negara. Kabarnya, Belanda sudah mulai diserang Jerman, dan tentara Jepang sudah menguasai Malaka. Tak penting apakah informasi itu akurat atau tidak, topik pembicaraan mereka selesai atau tidak. Yang penting mereka kumpul-kumpul, berinteraksi dan makan bersama.

    Setelah selesai makan rujak, tiba-tiba Ahyat usul untuk membuat kegiatan latihan pencak silat dan baris berbaris. Usul ini disambut dengan senang hati, dan mereka mulai mengajak pemuda yang lain untuk bergabung. Seluruh kegiatan ini dipusatkan di surau kecil, berukuran 5 X 5 m, yang terletak di ujung barat Jalan Miji No. 36 Mojokerto. Biasanya latihan silat diselenggarakan di depan surau, dan latihan baris berbaris, berangkat dari surau menuju ke Pulorejo. Disekitar jembatan Pulorejo itulah mereka latihan baris dengan lebih intensif.

    Mereka sama sekali tidak menduga, apalagi merencanakan, bahwa dari komunitas 12 orang itu kemudian berkembang menjadi puluhan orang, bahkan ratusan pemuda militan yang tergabung dalam laskar rakyat Hisbullah pada perang Kemerdekaan tahun 1945. Pasukan Hisbullah yang pertama dibentuk pada tahun 1943 dan mendapatkan fasilitasi dari Pemerintah Pendudukan Jepang, berupa latihan dasar perang gerilya, untuk mempertahankan Indonesia dibawah kepemimpinan Jepang. Dua tahun kemudian, setelah Proklamasi dikumandangkan, “Pasukan Hisbullah” yang dibentuk melalui forum “rujakan” ini telah mempunyai kekuatan dua batalyon. Batalyon pertama dipimpin oleh Mansur Sholikhi, dan Batalyon kedua dipimpin oleh Munasir.

    Bukan itu saja, surau kecil milik keluarga H. Abd. Halim di Desa Mentikan, tepatnya Jl. Miji No.36 itu menjadi pusat berbagai macam aktifitas keagamaan, sosial dan kebangsaan, yang dimotori oleh dua bersaudara yaitu K.H. Ahyat Halimy dan kakak kandungnya K.H. Aslan. Di Surau ini pula, Syarikat Tani Islam Indonesia (STII) didirikan, yaitu pada tahun 1951. Tahun 1965, surau ini menjadi pusat penumpasan G.30.S PKI dan tempat kelahiran barisan Orde Baru yang diberi nama Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Dengan fasilitasi dan dorongan dari K.H. Ahyat Halimy, tahun 1968, didirikan pula Koperasi Tani yang dimotori oleh H. Husein Abd Gani ( kakak kandung Ruslan Abdul Gani, sesepuh PNI). Bahkan sejak tahun 1958 sampai sekarang, surau ini selalu digunakan untuk kegiatan sosial berupa Khitanan Massal, yang terus berlangsung setiap bulan Dzul Hijjah sampai sekarang.

    Tanggal 29 April 1964, K.H. Ahyat mulai membangun surau itu menjadi Pondok Pesantren hanya dengan modal keyakinan dan tekad yang besar. Ketika pembangunan dimulai, dengan menggali pondasi, K.H. Ahyat tidak mempunyai modal sama sekali, satu-satunya modal yang dimiliki adalah “do’a” dari Almukarrom Kanjeng Sunan Giri, dalam mimpinya, “Kowe tak dungakno iso mbangun bangunan”, kata Kanjeng Sunan. Kemudian ketika batu pertama diletakkan, datang orang tak dikenal memberikan bantuan berupa 23.000 batu bata merah.

    Maka berdirilah Pondok Pesantren, sebagai pusat pendidikan dan pengkaderan pemuda-pemuda Islam, pusat kegiatan sosial keagamaan, sosial kemasyarakatan, serta politik kebangsaan, yang semuanya didasarkan pada landasan Iman kepada Alloh SWT dan Rosul-Nya, Tasdiq, Ihlas. Yakin, Sabar dan Syukur, serta Tawakkal kepada Alloh SWT.

    Pondok Pesantren “Sabilul Muttaqin” ini telah didaftarkan sebagai Badan Hukum melalui Akte Notaris Gusti Johan Nomor 156 tertanggal 20 Desember 1972 dengan nama Yayasan “Sabilul Muttaqin”, dan berkedudukan di Jl. K.H. Wahid Hasyim (dulu Jl. Miji) Nomor 38 Mojokerto. Untuk mencapai lokasi ini, sebenarnya tidaklah terlalu sulit, sebab semua kendaraan umum di Kota Mojokerto, tahu persis tempat ini, anda cukup mengatakan “Pondoke Abah Yat” maka anda akan diantar kesana. Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin ini memang lebih dikenal oleh masyarakat awam dengan sebutan “Pondoke Abah Yat”.

    SORBANSANTRI.COM

  • KH. AHYAT HALIMI, SANTRI MBAH HASYIM YANG DISEGANI.

    KH. AHYAT HALIMI, SANTRI MBAH HASYIM YANG DISEGANI.

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Siapa sangka dari kegemaran menikmati rujak dan makan bersama akhirnya lahir barisan perang yang disegani. Surau kecil juga mampu menjadi markas dalam membincang persoalan umat dan bangsa.Jamaah shalat Isya’ di surau kecil itu baru saja usai. Beberapa anak muda masih asyik bercengkerama di teras surau. Ahyat, salah seorang dari anak muda itu, beranjak pulang ke rumahnya yang berada di sebelah surau. Beberapa saat kemudian ia kembali sambil membawa cobek dan ulekan. “Ayo rujakan!” katanya pada teman lainnya.

    Rusman dan Thoyib yang dikenal jago memanjat, segera beraksi menaklukkan pohon mangga yang berada persis di depan surau. Selain memanjat mangga, seluruh kegiatan “ngrujak” dilakukan Ahyat. Bukan saja membuat rujak, waktu “liwetan” (menanak nasi untuk dimakan bersama), ia juga yang mengerjakan. Di antara 12 pemuda yang suka bercengkerama di surau itu, ia dikenal sebagai anak yang suka melayani mereka.Membincang Persoalan BangsaSambil makan rujak, mereka berbicara mengenai banyak hal. Mulai dari masalah agama, sampai informasi terkini yang didengar dari radio atau dari pembicaraan orang dewasa.

    Malam itu mereka membicarakan perang dunia ke dua, dimana Jerman dan Jepang sudah mulai menguasai beberapa negara. Kabarnya, Belanda sudah mulai diserang Jerman, dan tentara Jepang sudah menguasai Malaka. Tidak penting apakah informasi itu akurat atau tidak, topik pembicaraan mereka selesai atau tidak. Yang penting mereka kumpul, berinteraksi dan makan bersama.Setelah selesai makan rujak, tiba-tiba Ahyat usul untuk membuat kegiatan latihan pencak silat dan baris berbaris.

    Usul ini disambut senang hati, dan mereka mulai mengajak pemuda lain bergabung. Seluruh kegiatan dipusatkan di surau kecil, berukuran 5 × 5 m, yang terletak di ujung barat Jalan Miji No. 36 Mojokerto Jawa Timur. Biasanya latihan silat diselenggarakan di depan surau, dan latihan baris berbaris, berangkat dari surau menuju ke Pulorejo. Di sekitar jembatan Pulorejo itulah mereka latihan baris lebih intensif.Mereka sama sekali tidak menduga, apalagi merencanakan, bahwa dari komunitas 12 orang itu kemudian berkembang menjadi puluhan orang, bahkan ratusan pemuda militan yang tergabung dalam laskar rakyat Hizbullah.

    Pasukan ini yang pertama dibentuk pada tahun 1943 dan mendapatkan fasilitasi dari Jepang, berupa latihan dasar perang gerilya, untuk mempertahankan Indonesia. Dua tahun kemudian, setelah proklamasi dikumandangkan, “Pasukan Hizbullah” yang dibentuk melalui forum “rujakan” ini telah mempunyai kekuatan dua batalyon. Batalyon pertama dipimpin Mansur Sholikhi, dan Batalyon kedua dipimpin oleh Munasir.Bukan itu saja, surau kecil milik keluarga H Abdul Halim di Desa Mentikan, tepatnya jalan Miji No.36 itu menjadi pusat berbagai macam aktifitas keagamaan, sosial dan kebangsaan yang dimotori dua bersaudara yaitu Ahyat Halimy dan kakak kandungnya Aslan.

    Di surau ini pula, tahun 1951 Syarikat Tani Islam Indonesia (STII) didirikan.. Tahun 1965, surau ini juga menjadi pusat penumpasan G30S PKI dan tempat kelahiran barisan Orde Baru yang diberi nama Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Dengan fasilitasi dan dorongan dari Ahyat Halimy, tahun 1968, didirikan Koperasi Tani yang dimotori H Husein Abdul Gani (kakak kandung Ruslan Abdul Gani, sesepuh PNI).

    Bahkan sejak tahun 1958 sampai sekarang, surau ini selalu digunakan kegiatan sosial berupa khitanan massal yang terus berlangsung setiap bulan Dzulhijjah.Sosok PelayanTanggal 29 April 1964, KH Ahyat mulai membangun surau itu menjadi pondok pesantren hanya dengan modal keyakinan dan tekad yang besar. Ketika pembangunan dimulai, dengan menggali pondasi, ia sama sekali tidak mempunyai modal. Satu-satunya yang dimiliki adalah “doa” dari almukarram Kanjeng Sunan Giri.

    Itupun diperoleh dari mimpi. “Kowe tak dungakno iso mbangun bangunan,” kata kanjeng Sunan. Kemudian ketika batu pertama diletakkan, datang orang tidak dikenal memberikan bantuan berupa 23.000 batu bata merah.Maka berdirilah pondok pesantren sebagai pusat pendidikan dan pengkaderan pemuda Islam, pusat kegiatan sosial keagamaan, kemasyarakatan, serta politik kebangsaan, yang semuanya didasarkan pada landasan iman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, tasdiq, ihlas, yakin, sabar dan syukur, serta tawakkal kepada-Nya.

    Pondok Pesantren “Sabilul Muttaqin” telah didaftarkan sebagai badan hukum melalui Akte Notaris Gusti Johan Nomor 156 tertanggal 20 Desember 1972 dengan nama Yayasan “Sabilul Muttaqin” dan berkedudukan di Jl KH Wahid Hasyim (dulu Jl. Miji) nomor 38 Mojokerto. Untuk mencapai lokasi, sebenarnya tidaklah terlalu sulit. Sebab semua kendaraan umum di kota Mojokerto tahu persis tempat ini.

    Anda cukup mengatakan “Pondoke Abah Yat” maka pembaca akan diantar ke sana. Pondok ini memang lebih dikenal masyarakat awam dengan sebutan “Pondoke Abah Yat”.KH Ahyat Halimi, dilahirkan pada tahun 1918 dari pasangan suami istri Hj Marfu’ah binti Ali dan H Abdul Halim dari Gedeg. Ayahnya meninggal ketika usia kandungan sang ibu baru memasuki bulan ketiga, sedang kakak kandungnya, Aslan lahir pada tahun 1914.

    Kedua anak yatim ini kemudian diasuh ibundanya bersama sang paman yang bernama H Thohir. Namun sang ibu juga wafat pada tahun 1938. Sang paman pula yang membawa dua yatim bersaudara ini bersama ibunya untuk bertempat tinggal di Desa Miji (sekarang lokasi makam almarhum KH Ahyat Halimi).Masa kecil Ahyat Halimi beserta kakak kandungnya, dijalani di Kota Mojokerto.

    Keduanya sekolah di Sekolah Rakyat Miji (sekarang SD Miji I). Setelah lulus melanjutkan ke Pesantren Tebuireng Jombang. Mereka juga sempat berguru secara langsung kepada hadratus syaikh KH Hasyim Asy’ari dan putranya Kiai Wahid Hasyim. Bahkan karena usianya yang hampir sebaya, Kiai Wahid Hasyim selain sebagai guru berperan pula sebagai sahabat dalam berbagai diskusi serta dalam satu barisan perjuangan saat proklamasi kemerdekaan.Selama belajar di Tebuireng, Ahyat kecil dikenal sebagai santri disiplin. Postur tubuh dan wajahnya menyerupai keturunan Arab, gagah dan tampan. Perilakunya sangat sopan. Ia juga dikenal sebagai anak yang suka menolong santri.

    Menanak nasi dan menghidangkan untuk disantap bersama merupakan pekerjaan setiap hari dengan sukarela. KH Munasir dari Pekukuhan Mojosari, sebagai teman sekamar di Tebuireng pernah memberi kesaksian pada beberapa orang dari Ansor dengan mengatakan; “Pak Yat, sejak kecil sudah kelihatan kalau akan jadi kiai. Dia tidak pernah meninggalkan shalat jamaah, tidak pernah mau menggunjing teman, bahkan selalu menempatkan diri sebagai pelayan mereka,” terangnya. “Saya termasuk orang yang paling beruntung ketika mondok di Tebuireng, karena tidak pernah ngliwet atau bahkan nyuci pakaian. Karena semua sudah dikerjakan Pak Yat,” lanjutnya. Subhanallah.

    Pengakuan dan kesaksian serupa diberikan teman satu angkatan antara lain KH Abdullah Siddiq, Jember, KH Mansur Burhan (Surabaya) dan KH Zainuri dari Qudus.Tahun 1938, Ahyat Halimi beserta kakaknya Aslan, kembali ke Mojokerto. Sebagai pemuda, bersama temannya, antara lain M Thoyib, M Thohir, Sholeh Rusman, Aslan, Mansur Solihi, dan Munasir, mendirikan Ansoru Nahdlatul Ulama (ANO) yang sekarang dikenal sebagai Gerakan Pemuda Ansor.

    Pada tahun yang sama ia juga diangkat sebagai Sekretaris Tanfidziyah NU Mojokerto selama dua periode (1938 – 1940).Seluruh aktifitas dikerjakan dengan tanpa meninggalkan ta’lim atau belajar, baik ke Tebuireng maupun ke KH Romli di Rejoso, Peterongan. Akhirnya pada tahun 1940, KH Ahyat Halimy mempersunting Badriyah, seorang janda dari desa Gayam, Kecamatan Mojowarno, putri KH Mohammad Hisyam yang juga memangku pesantren.Aktifitas Ahyat yang luar biasa ini tentu mengurangi waktu rumah tangga.

    Untung istrinya sangat setia. “Permulaan tahun 1950, merupakan tahun paling berat bagi rumah tangga saya,” tulisnya dalam artikel Sejarah Pondok Sabilul Muttaqin. “Saya bersama keluarga menempati rumah tua, dindingnya lapuk. Kalau malam sulit untuk tidur lelap karena angin dingin menerobos celah dinding yang sudah lapuk,” tulisnya.Pada masa sulit ini, KH Ahyat Halimi sempat terpilih menjadi anggota konstituante (semacam MPR) dan bertugas di Jakarta, yaitu pada masa berlakunya UUDS RI Tahun 1950.

    Tetapi tugas ini hanya dijalani sekitar dua tahun. Ia mengajukan pengunduran diri dari anggota konstituante, karena merasa bukan makom atau ahliannya. Keputusan yang bagi kebanyakan orang terasa sangat aneh. Betapa tidak, ketika belum mendapatkan pekerjaan yang bisa menjamin kelancaran kebutuhan rumah tangga, ia memilih mengundurkan diri hanya karena merasa tidak mampu. Padahal menjadi anggota konstituante adalah “pekerjaan” lumayan.Ketika keadaan sulit ini, mengingatkannya kepada dawuh KH Ahmad Basyari Sukonegoro dari Cianjur. ”Sopo wonge ziarah Walisongo sarono urut-urut, insya Allah oleh barokahe Walisongo.” (Barangsiapa yang mau berziarah ke makam Walisongo secara berurutan, insya Allah akan mendapat barokah dari Walisongo).

    Ia pun akhirnya berangkat ziarah ke Walisongo, dengan bekal hasil penjualan gelang milik sang istri. “Lelono” ini membutuhkan waktu satu bulan lebih.Ketika sampai di makam Sinuhun Syarif Hidayatullah (Sunan Giri), ia mendapat isyarah bahwa _maqom-_nya ada di dalam mihrab (tempat imam shalat). Isyarah yang sama juga didapat ketika berkhalwat di makam Batuampar, Madura dengan bermimpi bertemu Rasullah SAW, yang juga menyatakan isyarah serupa.Isyarah itu kemudian digabungkan dengan berpedoman pada perilaku hadratus syaikh KH Hasyim Asy’ari. Karena beliau pernah bercerita, setelah berbagai macam pekerjaan ditempuh dan dijalani bahkan sampai menjadi “blantik jaran”, akhirnya hadratus syaih berkata “Bareng aku hidmatul ilmu, maka opo wae hasil kabeh.” (Bersama saya mengabdi kepada ilmu, maka apapun akan terpenuhi).

    Berdasarkan pengalaman tersebut, sejak 25 Januari 1956, ia mulai bertekad mengabdikan ilmu dan mengadakan kuliah subuh, di surau kecil peninggalan leluhurnya. Kitab yang dibaca adalah Kasyifat al Sajaa’. Hal ini sesuai dengan saran KH Romly Rejoso Jombang dengan mengatakan “Kang Ahyat, kitab niku manfaat kangge tiyang Jawi.” Sejak itu sampai dengan kini kuliah subuh terus diselenggarakan secara istiqamah, kecuali hari raya Idul Fitri. Di tempat yang sama yaitu surau kecil yang sekarang telah berubah menjadi masjid dan komplek Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin. (Syaifullah/Aula)

  • BANCAKAN JAJAN PASAR

    BANCAKAN JAJAN PASAR

    #Sopo_Gelem_tak_Dongengi

    Bancakan adalah tradisi di masyarakat Jawa yang masa lalu sering kita jumpai, atau bahkan kita lakukan. Kegiatan bancakan merupakan jenis selamatan dengan segment khusus untuk anak-anak. Biasanya yang dijadikan menu Bancakan adalah makanan jenis jajan pasar atau makanan nasi atau bubur dengan porsi kecil. Maklum karena segmen-nya anak-anak yang porsi makannya sedikit.

    Jajan pasar dipilih sebab menjadi kesukaan anak-anak. Jajan pasar ini seperti kelanting, klepon, Gatot dan semacamnya yang dulu banyak dijual di pasar tradisional. Namun perkembangan jaman jajanan tradisional itu kemudian sering diganti dengan makanan dalam kemasan alias chiki-chikian.

    Bancakan umumnya dilakukan pada hari weton kelahiran anak yang dibancaki. Waktu weton itu dipakai karena adanya keyakinan bila pada hari weton kelahiran anak biasa terjadi balak atau naas dalam kehidupannya. Maka untuk menghilangkan naas itulah maka dimintakan doa dalam bentuk Bancakan.

    Bagaimana awal mula Bancakan itu terjadi ?

    Tersebutlah seorang lelaki yang menikah dengan bidadari. Namanya Joko Tarup yang dengan tipu muslihatnya berhasil menyunting Dewi Nawangwulan. Dalam perkawinan mereka dikaruniai seorang anak perempuan. Namun pada akhirnya Dewi Nawangwulan berhasil mendapatkan kembali selendang yang disembunyikan Joko Tarup dalam lumbung padi. Setelah itu Dewi Nawangwulan menggunakan selendang untuk balik ke habitatnya sebagai bidadari di Kayangan. Maka tinggallah Joko Tarup sendiri membesarkan buah hati mereka.

    Sebelum Dewi Nawangwulan pergi, Joko Tarup sempat merajuk pada istrinya, “Bagaimana nanti jika anak kita bertanya dan ingin menemui ibunya, Dinda ?’, ujarnya seraya berharap istrinya mengurungkan niat.

    “Nanti kalau anak kita rindu padaku ajaklah keluar halaman pada saat bulan purnama. Aku akan datang menghiburnya, Kakang”, jelas Dewi Nawangwulan.

    Pada malam bulan purnama, Joko Tarup berdiri di halaman menatap bulan yang bulat terang bersinar. Seperti yang dijanjikan Dewi Nawangwulan dia berharap dapat bertemu lagi, meski hanya semalam saja. Namun yang dinanti tidak kunjung muncul dihadapannya.

    “Yayi Dewi, dimana kau kini ?”, kata Joko Tarup yang tidak tahu pada siapa kata itu ditujukan. Tidak ada orang dihadapan yang bisa diajak berbincang.

    Tiba-tiba, terdengar suara. Suara yang dikenal Joko Tarup sebagai nada suara milik istrinya.

    “Aku disini, Kakang. Aku menjelma menjadi bulan purnama yang sejak tadi Kakang pandang”, ucap Dewi Nawangwulan.

    “Duh Yayi, aku kira Dinda akan muncul kembali untuk menjenguk anak kita yang terus menanyakan dimana ibunya’, terang Joko Tarup.

    “Maaf, Kakang. Aku tidak bisa datang karena kita berbeda alam”, balas Dewi Nawangwulan.

    “Kalau genduk rindu padaku bawalah dia ke halaman serta. Aku akan menghiburnya, bersenandung untuknya”, jelasnya.

    Pupus sudah harapan Joko Tarup untuk bisa bersanding kembali dengan istrinya. Kata rindu yang dijadikan alasan tidak diindahkan. Lalu kata apa lagi yang akan disodorkannya ?.

    “Terus bagaimana bila genduk sakit, sedangkan bulan purnama belum masanya ?”, sergah Joko Tarup.

    “Agar genduk tidak sakit maka lakukan Bancakan jajan pasar pada hari wetonnya. Dengan demikian genduk akan terhindar bukan hanya dari sakit tetapi juga terhindar dari mala petaka. Bagikan jajan pasar itu pada anak-anak di sekitar rumah kita”, kata Dewi Nawangwulan menjelaskan.

    Pesan Dewi Nawangwulan itu kemudian dijalankan oleh Jojo Tarup. Dengan Bancakan dia berharap anaknya tumbuh besar jauh dari marabahaya. Makanan yang disediakan pun membuat anak-anak yang sedang senang-senangnya mengkonsumsi jajanan menjadi gembira. Maka sejak itu Bancakan dilakukan pada masyarakat di Jawa.

    Madiun, 12 Juli 2019.

    SORBANSANTRI.COM

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • TURBA SEORANG ULAMA “Disipilin Jam’iyah ala Kyai Nawawi”

    TURBA SEORANG ULAMA “Disipilin Jam’iyah ala Kyai Nawawi”

    Ada sebuah artikel yang ditulis oleh KH. Wahid Hasyim yang judulnya “Mengapa Saya Memilih NU”. Isi tulisannya tentang rasionalisasi pilihan terhadap organisasi para kyai itu. Setelah memaparkan kelemahannya dimana NU ditempatkan sebagai organ non-radikal serta tidak cukup memiliki intelektual maka beliau menyatakan bila keunggulan NU ada di faktor Ulama-nya dan ketegasannya terhadap anggota.

    Dari sisi ketegasan, Kyai Wahid menyatakan NU “streng”, terlampau “keras” didalam tuntutannya pada anggota. Keras dalam lingkup kewajiban agama. Tiap anggota NU harus “beres” sembahyangnya, jum’atannya, puasa dan lain kewajiban agamanya. NU didalam hal kehidupan “prive” anggotanya mempunyai ukuran yang berat.

    Seorang anggota NU bisa dipecat jika dinilai melanggar norma agama, melakukan perbuatan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Mereka yang dipecat akan ditarik kartu anggotanya serta diumumkan pada khalayak. Dengan demikian jika seseorang dipecat sama artinya dia mendapatkan sanksi sosial.

    Pengurus NU Mojokerto terbentuk tahun 1928 atau dua tahun setelah dideklarasikan sebagai organisasi para ulama. KH Zainal Alim Suronatan terpilih sebagai ketua syuriyah saat itu. KH Nawawi ditetapkan sebagai salah satu wakilnya. Komposisi itu mirip dengan duet Mbah Hasyim dan Mbah Wahab. Mbah Hasyim sebagai penjaga moral dan Mbah Wahab selaku operator lapangan. Di Mojokerto, Kyai Zainal Alim yang memang dikenal alim didampingi pekerja keras pada diri Kyai Nawawi. Dalam menjalankan organisasi, Kyai Nawawi lebih suka berprinsip “sepi ing pamrih rame ing gawe”. Tidak ingin terlalu menyukai popularitas dan bekerja secara diam. Konsep itu beliau lakukan dengan turun langsung ke bawah atau kring, sebutan untuk pengurus ranting atau desa pada masa lalu. Turba itu dijalankannya sendiri untuk meninjau kondisi pengurus NU, biasanya dengan mengendarai dokar.

    Pada suatu hari, Kyai Nawawi mengunjungi Kring Modopuro Mojosari. Sesampainya di rumah ketua NU setempat kebetulan empunya rumah sedang tidak ada. Maka Kyai Nawawi memutuskan untuk menunggu. Setelah tuan rumah pulang ditanya dari mana dan dijawab baru pulang dari warung. Kyai Nawawi selanjutnya meminta buku organisasi yang dibawanya. Setelah itu beliau menyatakan jika tuan rumah dipecat sebagai anggota NU karena telah melakukan perbuatan yang tidak terpuji, yaitu siang hari nongkrong di warung.

    Mengapa demikan ? Untuk menjelaskan hai itu harus ditarik pada kondisi sosiokutur dan sosiopolitik yang diambil NU saat itu. NU sedang berhadapan dengan kelompok Islam modernis yang ingin menghabisi Amaliyah ala kaum Nahdliyyin. Karena itu NU wajib menjaga disiplin dan moral anggotanya agar tetap memiliki semangat “satu barisan”, Kedua. NU juga berupaya menciptakan identitasnya yang tentu berbeda dengan indentitas kelompok lainya dengan jargon “man tashabbaha bi qaumin fahua minhum”. Ketiga, NU melihat saat itu budaya “marung” merupakan bagian dari identitas kolonial yang suka menghamburkan uang di tempat makan-minum atau berfoya-foya

    Betapa kerasnya aturan organisasi ketika itu. Sementara saya setiap hari nongkrong di warung kopi.

    Sidowangun, 3 Juli 2015

    SORBANSANTRI.COM

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanfiq

  • OPTIMASI INFOKOM BANSER PC MOJOKERTO

    OPTIMASI INFOKOM BANSER PC MOJOKERTO

    SORBANSANTRI.COMDiiringi hujan lebat dan angin tidak mematahkan semangat bagi sahabat-sahabat Banser untuk update informasi tehnolagi….

  • SINGA ASWAJA DAN SINGA ANSOR

    SINGA ASWAJA DAN SINGA ANSOR

    Rijalul Ansor NU – Singa sudah bangun dari tidur panjangnya.
    NU skrg menjadi dewan pertimbangan presiden seperti jaman Bung Karno dlm mengatasi kelompok makar. Semoga Abah Lutfhi saget meneruskan perjuangan Mbah Wahab Chasbulloh.

    Taqdimul mashlahatir rajihah aula min taqdimil mashlahatil marjuhah.

    (mendaulukan kemaslahatan yang sudah jelas lebih didahulukan dari kemaslahatan yang belum jelas).

    #HabibLuthfiBinYahya #NderekHabaib #NderekKyai #NderekNahdlatulUlama #NderekNKRI #RijalulAswajaNU #Aswaja
    #RijalulAnsorNU #Gp_Ansor #BanserNU #PagarNusaNU #FattayatNU #IPPNU #MuslimatNU #LDNU #NahdlatulUlama

  • MEMBENCI NU ITU BISA KUWALAT

    MEMBENCI NU ITU BISA KUWALAT

    Infokom Banser NU-Bukan senjata musuh, tapi kebodohan umat yang ampuh digunakan alat untuk menghancurkan agama Islam.

    Mereka telah berhasil menghasut dan memprovokasi orang awam untuk membenci ulama2 NU dengan memfitnah menggunakan cara memotong dan memelintir pidato2 para kiyai NU, serta menggiring opini dari maksud awal tujuan pidato itu disampaikan. Namun sejarah telah membuktikan bahwa atas pertolongan Allah, NU hingga kini masih dilindungi dan masih dapat memberikan manfaat bagi banyak umat.

    Karena NU didirikan dengan ikhlas dan hasil tirakat para ULAMA dan HABAIB, untuk membentengi kehancuran agama Islam dari virus Wahabi. Ingat! NU berdiri tujuan utamanya adalah melawan Neo Khawarij yang berbungkus paham Wahabi. Sedangkan para pembenci NU, mereka timbul dan kemudian tenggelam. Mereka datang dan kemudian pergi terusir dari panggung kemuliaan. Sejarah kelam Neo Khawarij menghancurkan Islam dengan memelintir ajaran2 agama Islam untuk memusuhi sesama saudaranya.

    Mereka memanfaatkan kebodohan orang Awam dengan simbol2 agama dan penampilan2 Shalih. Namun faktanya, para sahabat Nabipun tidak luput dari kejahatan mereka, sehingga Umar, Ustman, dan cucu Nabi akhirnya terbunuh menggunakan dalil2 agama. Sehingga garis keturunan Nabi dari jalur laki2 musnah di muka bumi disebabkan kejahatan Neo Khawarij yang kini berbaju Wahabi. Jangan mudah tertipu simbol2 Islami dan penampilan2 keshalihan, sebab itu memang sengaja digunakan senjata mengelabui orang awam oleh Neo Khawarij untuk mengacaukan dan menghancurkan agama Islam dari dalam.

    “Akhir zaman, nantinya orang berilmu akan dibantah oleh orang yang bodoh.”
    #…………(Dawuh Gus Qoyyum)………….#

    Bedanya NU dan Salafi/Wahabi, FPI, HTI, ialah, kalau NU berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan,
    sedngkan Salafi/Wahabi, berjuang Merusak, Memberontak dan Mendemo Negara yang sudah merdeka. Terbukti Pelaku2 Terorris di Indonesia Berjenggot, Bercelana Cingkrang, Penjahat Berjubah berkedok agama sang pengasong Khilafah.

    #SantriNderekKyaiDanHabaib #SantriNU
    #RijalulAswajaNU #RijalulAnsorNU #NU
    #AswajaNU #GP_AnsorNU #PagarNusaNU
    #BanserNU #FattayatNU #IPPNU #HWMI
    #NahdlatulUlamaBersamaNKRI_Bersatu

    Rijalul Ansor ASWAJA NU

  • KEKURANGAJARAN NU GARIS LURUS DAN SIKAP PARA TOKOHNYA

    KEKURANGAJARAN NU GARIS LURUS DAN SIKAP PARA TOKOHNYA

    Ketika Ilmu Tasawuf Tidak Menyentuh Qalbu Mereka

    KEKURANGAJARAN NU GARIS LURUS DAN SIKAP PARA TOKOHNYA

    Oleh: Ahmad Muntaha AM*

    Atas tindakan kurang ajar FP NU Garis Lurus terhadap Pondok Lirboyo, mengharamkan mengikuti Pondok Lirboyo, saya telah mencoba komunikasi, tanya via chat WhatsApp kepada beberapa tokoh NU Garis Lurus.

    Pak Ustad Idrus Ramli (Idrus Ramli) saya tanya bilangnya tidak tahu. Pak Gus Luthfi Basori masih diam saja, belum respon.

    Hemat saya Pak Luthfi Bashori⁩, Pak Yahya, Pak Idrus, dan tokoh NU Garis Lurus Lainnya, semestinya membuka secara terang-terangan siapa admin akun FP NU Garis Lurus sebenarnya yang telah melakukan kekurangajaran itu. Kalau tidak tahu, harus berupaya serius mencari tahu sampai ketemu, SDM mereka sangat cukup untuk melakukannya dan disowankan ke Pondok Lirboyo secara baik-baik. Sebab merekalah tokoh-tokohnya yang lebih tahu jaringan-jaringan mereka sebenarnya.

    Istilah dan komunitas NU Garis Lurus terpelihara sampai sekarang merupakan jariyah mereka.

    Entah jariyah baik atau buruk.

    Kita tunggu benar-benar i’tikad baik, keseriusan sikap dan tanggung jawab dari tokoh-tokohnya ini.

    Ini benar-benar menjadi catatan merah bagi berbagai ‘dakwah’ dan propaganda mereka, sekarang dan di waktu-waktu yang akan datang. (*)

    *TIM MEDIA PAC GP ANSOR RENGEL*