Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota & Kabupaten Mojokerto menggelar rapat persiapan teknis acara memperingati Haul Sahabat Riyanto (Alm) ke 19 di Kantor PCNU Kab.


Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota & Kabupaten Mojokerto menggelar rapat persiapan teknis acara memperingati Haul Sahabat Riyanto (Alm) ke 19 di Kantor PCNU Kab.


InfokomBanserNU-Jangan mudah terprovokasi dengan tanggapan diinternet seperti gambar ini. karena hal seperti ini bisa terindex mesin pencarian, akibatnya bisa terindex jelek di internet.
Kita manfaatin hastag (#) untuk identifikasi dan memasukkan mereka pada database hastag tersebut.

Tujuannya jika ada orang yang terkena hastag, akan lebih mudah pengelompokan data buat zona hastag tersebut.
catatan : BUKANKAH TAG ADALAH YANG PALING PENTING BUAT SEO AGAR MUDAH DI IDENTIFIKASI MESIN PENCARIAN? CONTOHNYA GOOGLE

Infokom Banser NU -Sahabat-sahabat… Dalam menanggapi berita, kita jangan mudah terpancing terprovokasi dengan pemberitaan negatif yang beredar di dunia maya. Baik itu dari FB, Instagram, Twitter, dll. Kita lawan mereka dengan kearifan Kiai.. Ciri-ciri Santri.. dengan cara Posting hal yang membangun citra NU di internet. Tetap semangat menjaga Aqidah ASWAJA dan NKRI.

SEORANG pemuda dari Jombang sedang nyantri di Kademangan, Madura. Tugasnya mengurusi kuda milik sang guru, Syeikhona Khalil. Alhasil kesempatannya mengaji pun tak terlampau banyak.
Suatu hari, Syeikhona kerawuhan tamu dari tanah Jawa; seorang kiai yang santrinya masih berjumlah puluhan. Setelah diajak duduk sambil menikmati suguhan, tamu tersebut mengutarakan keperluannya pada tuan rumah–yang mulia.
“Mbah Kholil, niat saya yang pertama datang ke sini adalah ingin silaturahim, dan yang kedua, hendak menikahkan putri saya. Berhubung dia sudah dewasa, kiranya patut saya carikan jodoh, apalagi usia saya juga sudah di ambang pintu ajal. Tak lama lagi Allah pasti memanggil jiwa saya, Mbah. Jika ada calonnya, saya mohon petunjuk dan izin untuk mencarikan.”
Tanpa berpikir panjang, Mbah Kholil langsung memanggil santrinya yang sedang mengurusi kuda–di belakang rumah.
“Hasyim..!”
Demi mendengar suara gurunya memanggil, si santri langsung lari terbirit-birit menghadap sang guru.
“Dalem, Mbah Kholil. Panjenengan memanggil saya?”
“Iya.”
Tanpa banyak tanya lagi, pemuda Hasyim langsung diam merunduk. Lalu Syeikhona berkata pada tamu beliau.
“Ini dia calon yang kamu cari itu, yang akan meneruskan perjuanganmu nanti.”
Si tamu pun terkejut bukan kepalang. Tak sanggup berpikir sambil bergumam dalam hatinya,
“Apa iya sih santri mblasaken seperti ini yang akan mengurusi pesantrenku? Aku tidak yakin bila anak ini banyak ilmunya.”
Saat bersamaan, santri Hasyim pun terkejut pula sambil berkata dalam hatinya, “Apa iya Mbah Kholil tega akan menjodohkan saya dengan putri seorang ulama yang begitu mulia?”
“Sudahlah, kamu pulang saja dan siapkan selamatannya di rumahmu. Tiga hari lagi aqad nikah dilaksanakan. Nah, kamu Hasyim, sana kembali ke belakang!”
Hasyim pun kembali ke tempat tugasnya dengan hati risau, pikiran kacau-balau, dan perasaan galau, sembari bertanya-tanya: ‘Bagaimana saya bisa menjalani ini semua? Kenapa guru tidak memberi tahu saya sebelumnya atau paling tidak menawarkannya terlebih dahulu?’
Gundah gulana, bimbang, ragu, dan bingung terus berkecamuk dalam pikiran Hasyim. Pada saat seperti itulah inayah Allah ditampakkan kepadanya. Ia teringat suatu hari saat Syeikhona sedang mulang kitab dan menurunkan dawuh:
“Sesiapa di antara kalian yang ingin tercapai hajatnya, maka bacalah selawat Nariyah sebanyak mungkin, pada waktu ijabah yang sangat dianjurkan, yaitu setelah separuh malam hingga menjelang Subuh.”
Tengah malam itu juga, Hasyim melaksanakan apa yang pernah diucapkan Syeikhona. Menjelang Subuh ia keboboan. Kala itulah hal ajaib terjadi dalam mimpinya. Ia bertemu Imam al-Bukhari ra yang mengajarkan padanya hadis Shahih selama empatpuluh tahun. Manakala terjaga, Hasyim tertegun atas mimpi mistikal yang ia alami.
Pada malam kedua, hal yang sama terjadi lagi. Kali ini dalam mimpinya, Hasyim mendaras ilmu pada Imam as-Syafi’i yang kemudian mengajarkan padanya ragam kitab fikih dari empat madzhab: Syafi’i, Hanafi, Maliki dan Hanbali, juga selama empatpuluh tahun.
Pada malam ketiga, ia kembali bermimpi dan mengaos ilmu dengan Imam al-Ghazali dan Syeikh Junayd al Baghdadi, yang mengajarkan padanya puspragam kitab tasawuf selama empatpuluh tahun. Ketiga mimpi itu kemudian menyisakan pertanyaan besar dalam pikiran Hasyim: apa makna dari semua mimpi itu.
Keesokan hari, ia hendak bertanya pada Syeikhona namun sudah tidak ada kesempatan lagi, kerana justru ia malah disuruh bergegas menuju rumah calon mertuanya–guna melangsungkan aqad nikah.
Guru-murid ini pun berangkat. Setiba di tempat tujuan, aqad nikah langsung digelar. Sejak kedatangan hingga kemudian hendak pulang, Syeikhona sama sekali tak berkata apa pun, kecuali saat akan berpamitan.
“Hasyim, kamu jangan nyelewang-nyeleweng ya! Ibadah ikut yang dicontohkan Nabi Saw melalui ulamanya, dan ikutilah ulama Allah agar selamat. Allah pasti bersamamu.”
“Inggih, Mbah. Sendiko dawuh,” jawab Hasyim dalam manjura.
Sementara kepada mertua Hasyim, Syeikhona bertitah.
“Jangan ragu dengan Hasyim! Dia sudah mengaji 120 tahun lamanya.”
Semua hadirin nampak kebingungan. Santri yang baru saja menikah di hadapan mereka belum lagi mencapai usia limapuluh tahun. Hasyim juga tak kalah ngungun. Bagaimana mungkin gurunya tahu perihal mimpi mistikalnya. Tak peduli dengan itu semua, Syeikhona pun kembali ke Bangkalan.
Esok hari, Hasyim diuji sang mertua. Ia ingin membuktikan sealim apakah menantu yang dijagokan gurunya itu. Ujian membaca kitab pun dihelat di masjid pesantren. Hasyim mulai gugup. Keringatnya panas-dingin. Sementara di tempat biasa mertuanya duduk, sudah disediakan dua kitab tafsir dan hadis. Di tempat yang sama, Hasyim juga dipersilakan duduk.
Ujian ini jadi kian menakjubkan kala Hasyim langsung membaca dengan fasih, hafal luar kepala, serta membahas laiknya para masyayikh yang sudah kenyang dengan segudang ilmu–tanpa memegang bahkan membuka dua kitab tersebut. Tanpa kesalahan sama sekali.
Para ustadz dan santri senior yang semula tak yakin dengan kemampuan Hasyim, seketika takjub. Begitu pun mertuanya yang mengintip dari celah jendela rumahnya. Sedari hari itu hingga seterusnya, Hasyim muda beroleh tugas mulang semua kitab klasik dari pelbagai cabang ilmu tradisional Islam. Di depan namanya lantas tersematlah satu kata baru: Kiai Hasyim Asy’ari. Karomah ini pula yang kelak memunculkan gelar baru di depan nama Beliau setelah mendirikan Pesantren Tebuireng: Hadratus Syeikh (maha guru)
Demikianlah sekelumit kisah karomah Syeikhona Kholil Bangkalan yang diterima Hadratus Syeikh, dan masih banyak lagi karomah Beliau yang dialami dan disaksikan para santrinya yang lain.
Semoga Allah senantiasa mengalirkan tetesan berkah dan manfaat dari kehidupan beliau-beliau yang mulia, kepada kita dan anak cucu. #Aamiin #Yaa #Robbal ‘#Aalamiin . Lahumul #Faatihah …
Copas by LTNU Turen

Infokom Banser-Mr Angin puting beliung menerjang Dua Desa di Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto. Akibatnya puluhan rumah, warung dan kandang milik warga rusak.
Pantau di lokasi, puluhan atap rumah di dua Desa yakni Desa Mojogebang dan Mojowiryo berterbangan. Sejumlah pohon tumbang, kandang sapi milik warga rubuh serta warung milik warga rusak akibat diterjang angin puting beliung.



Tak hanya itu, atap kantor balai desa Mojogebang juga nampak mengalai kerusaka lumayan parah.
Menurut keterangan warga,
kejadian angin puting beliung terjadi pada Rabu (27/11/19) sekitar pukul 13.00
WIB.
Saat itu, dirinya bersama sang suami sedang berada didalam rumah. Dengan tiba
tiba angin kencang datang dengan cepat disertai hujan.
.
. ” Anginnya tadi dari Selatan ke Utara. Tiba-tiba terdengar angin kencang,
kejadiannya begitu cepat. Kami kaget dan langsung lari berhamburan keluar
rumah, atap rumah sudah beterbangan,” ungkaya.
Hingga sampai saat ini warga sekitar di Dua Desa di Kecamatan Kemelagi masih berupaya membersihkan puing puing atap dan saling bergotong royong membantu rumah warga yang rusak akibat di terjang angin. (infokom banser mr)

Pada hari Selasa, 22 Nopember 2019 PC LMDS Rijalul Ansor Kab. Mojokerto di Aula Wisma NU PCNU Kab. Mojokerto, mengadakan rapat persiapan Diklat Dirosah Ula yang dihadiri oleh Pengurus Harian PC GP Ansor, PC LMDS RA & PAC LMDS RA se-Kab. Mojokerto.
Diklat tersebut bertujuan untuk menguatkan faham ASWAJA NU di kalangan generasi-generasi Muda NU di Mojokerto.


Di bawah adalah dialog imajiner terkait dalil Maulid Nabi Muhammad yang diambil dari Kitab Iqtidhous Shirotal Mustaqim halaman 621, ditulis Ibnu Taimiyah.
WAHABI: “Mengapa Anda mengerjakan Maulid. Padahal itu bid’ah.”
ASWAJA: “Maulid itu perbuatan baik, dan setiap kebaikan diperintah oleh agama untuk dikerjakan.”
WAHABI: “Mana dalilnya?.”
ASWAJA: “Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an:
وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Kerjakanlah semua kebaikan, agar kamu beruntung.” (QS. al-Hajj : 77). Maulid itu termasuk kebaikan, karena isinya sedekah, mempelajari sirah Nabi SAW dan membaca shalawat. Berarti masuk dalam keumuman perintah dalam ayat tersebut.”
WAHABI: “Itu kan dalil umum. Tolong carikan dalil khusus dalam al-Qur’an yang menganjurkan Maulid.”
ASWAJA: “Sebelum saya menjawab pertanyaan Anda, tolong jelaskan dalil anda yang melarang Maulid?”
WAHABI: “Dalil kami sangat jelas. Maulid itu termasuk bid’ah. Setiap bid’ah pasti sesat. Rasulullah SAW bersabda: “Kullu Bid’atin Dholalah.” Setiap bid’ah adalah sesat.”
ASWAJA: “Ah, kalau begitu dalil anda sama dengan dalil kami, sama-sama dalil umum. Yang saya minta adalah, jelaskan ayat atau hadits yang secara khusus melarang maulid.”
Sampai sini, ternyata si Wahabi mati kutu, dan tidak bisa menjawab. Akhirnya si Aswaja berkata: “Anda percaya kepada Syaikh Ibnu Taimiyah?”
WAHABI: “Ya tentu. Beliau itu Syaikhul Islam, ulama besar, dan inspirator dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi, panutan kami kaum Wahabi.”
ASWAJA: “Syaikh Ibnu Taimiyah, membenarkan dan menganjurkan Maulid, dalam kitabnya Iqtidha’ al-Shirath al-Mustaqim, hal. 621.” Lalu si Aswaja menunjukkan teks asli kitab tersebut. Akhirnya si Wahabi terkejut dan terperangah. Mukanya seketika menjadi pucat. Kitab tersebut, dia bolak balik, ternyata penerbitnya juga orang Wahabi di Saudi Arabia. Akhirnya ia berkata:
WAHABI: “Syaikh Ibnu Taimiyah itu manusia biasa. Bisa salah dan bisa benar. Masalahnya Maulid ini tidak memiliki dasar agama yang dapat dipertanggung jawabkan.”
ASWAJA: “Menurutmu, dasar agama itu apa saja?”
WAHABI: “Al-Qur’an dan Sunnah saja. Selain itu tidak ada lagi.”
ASWAJA: “Sekarang saya bertanya kepada Anda. Bagaimana hukum seorang anak memukul orang tuanya?”
WAHABI: “Jelas haram dan dosa besar.”
ASWAJA: “Tolong jelaskan dalil Al-Qur’an atau hadits yang melarang memukul orang tua.”
WAHABI: “Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an;
فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا
“Maka janganlah kamu berkata uff kepada kedua orang tua dan jangan pula membentaknya.”
Dalam ayat tersebut, Allah melarang seorang anak berkata uff, atau berdesis terhadap orang tua, karena jelas akan menyakiti mereka. Apabila berkata uff saja dilarang karena menyakiti, apalagi memukul. Tentu lebih berat dalam hal menyakiti, dan keharamannya lebih berat pula dari pada sekedar berkata uff.”
ASWAJA: “Owh, ternyata di sini Anda menggunakan dalil Qiyas. Tadi Anda berkata, dalil itu hanya al-Qur’an dan Sunnah. Sekarang justru Anda menggunakan dalil Qiyas. Berarti Anda mengakui Qiyas termasuk dalil, selain al-Qur’an dan Sunnah.”

Kunjungan sahabat Infokom di Mako BanyuAdv dalam rangka mempererat tali silaturrahim antar anggota dan juga membahas pemanfaatan media sosial untuk media dakwah.


Pada awalnya kajian islam Ahl as-Sunnah waljama’ah (KISWAH) dilaksanakan pada bulan Ramadhan tahun 2010, dan sesuai dengan hasil rapat harian,KISWAH dilaksanakan setiap hari ahad mulai pagi hingga siang hari di bulan Ramadhan dan yang menjadi pemateri pada saat itu adalah dari dewan Syuriah PWNU Jatim. Setelah bulan Ramadhan berakhir para dewan syuriah sangat menyayangkan jika KISWAH juga ikut berakhir. Selain itu karena dianggap sangat penting di dalam menanggulangi derasnya arus faham lain maka KISWAH harus tetap dilaksanakan. Pelaksanaan KISWAH itu sendiri dilaksanakan setiap sebulan sekali oleh Lajnah, lembaga dan Banom yang bersangkutan.
Setelah berjalan selama kurang lebih satu tahun,tidak hanya KISWAH tetapi terdapat juga program lain seperti TOT dan Buletin yang dilaksanakan. dan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih konprehensif, KH. Abdurrahman Nafis Lc. MHI mengusulkan kepada pengurus PWNU agar dibuat suatu wadah dimana didalamnya terdapat perangkat pelaksana program yang berisikan tentang kajian islam keaswajaan. Sehingga sesuai amanat Konperwil pada tanggal 31 Januari 2011 bertepatan dengan peringatan Harlah NU ke 85 di PWNU Jawa Timur dilaksanakan launching perangkat pelaksana program yang berisikan tentang kajian islam keaswajaan yang diberi nama ASWAJA NU CENTER JATIM oleh wakil ketua umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama : Drs H. As’ad Said Ali.
Aswaja NU Center dipimpin oleh seorang direktur, untuk wilayah Jawa Timur direkturnya adalah KH. Abdurrahman Nafis, Lc MHI(saat ini menjabat sebagai wakil katib suriyah PWNU Jawa Timur). Aswaja NU Center JATIM di mempunyai lima divisi, yakni divisi Kiswah (Kajian islam ala Ahlu as-sunnah wal jama’ah ), Dakwah (Dauroh Ahlu as-sunnah wal jama’ah), Makwah (maktabah Ahlu as-sunnah wal jama’ah), Uswah (usaha sosialisasi Ahlu as-sunnah wal jama’ah), dan Biswah (Bimbingan Ahlu as-sunnah wal jama’ah).

Biro Infokom kab. Mojokerto mengadakan acara ngaji bareng banser di gedung mwcnu puri Kabupaten Mojokerto. Acara tersebut dihadiri oleh perwakilan PAC dari masing-masing wilayah. Disertai pembaiatan anggota infokom Kabupaten Mojokerto yang dipimpin oleh H. Moh Yunus. Diadakannya acara tersebut bertujuan untuk memperkenalkan secara mendalam mengenai informasi dibidang IT khususnya sosial media dan Internet.
