Kategori: Opini dan Analisis

Artikel opini, analisis mendalam, dan editorial tentang berbagai topik yang relevan.

  • Tausyiah Habib Munzir Al Musawa : Puasa Ramadhan

    Tausyiah Habib Munzir Al Musawa : Puasa Ramadhan

    SORBANSANTRI.COM
    Munzir Al-Musawa


    بسم الله الرحمن الرحيم

    قال رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ، مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
    وقال رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ قَامَ رَمَضَانَ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ، مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
    (صحيح البخاري)

    Sabda Rasulullah saw : Barangsiapa yg berpuasa Ramadhan, dg Iman dan Kesungguhan, maka diampuni dosa dosanya. Dan Sabda Rasulullah saw : Barangsiapa yg shalat malam dibulan Ramadhan, dg Iman dan Kesungguhan, maka diampuni dosa dosanya. (shahih Bukhari)

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    فَحَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اَللّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ شَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

    Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha membuka rahasia cahaya keindahan dan anugerah yang tiada mampu diberikan antara seorang hamba kepada yang lainnya kecuali dariNya, yang berupa kehidupan dan kenikmatan dunia yang fana serta kehidupan dan kenikmatan akhirat yang kekal. Dimana kenikmatan akhirat tiada satu makhluk pun yang mampu memberikannya kecuali hanya dari sang pencipta seluruh makhluk, Allah subhanahu wata’ala. Begitu pula kenikmatan dunia tiada akan pernah bisa terjadi tanpa kehendak dan izin dari Allah subhanahu wata’ala, Sang Pemilik kenikmatan dunia dan akhirat yang tiada henti melimpahkan anugerah dan kenikmatan kepada hamba-hambaNya sepanjang waktu dan zaman di dunia secara berkesinambungan dari samudera kelembutanNya, sebagaimana firmanNya :

    وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ
    ( الأعراف : 156 )
    “ Dan rahmatKu (kasih sayangKu) meliputi segala sesuatu”
    Sungguh kasih sayang Allah sampai kepada segala sesuatu di seluruh bentangan langit dan bumi, sejak alam ini dicipta hingga datang hari kiamat, serta akan berlanjut dengan rahmat yang abadi bagi hamba-hamba yang beriman, bagi hamba-hamba yang ingin mendekat kepada Sang Maha pemilik kenikmatan yang abadi, Sang Maha memiliki kenikmatan dhahir dan bathin, pemilik kenikmatan dunia dan akhirat, Sang Maha Tunggal dan Maha Kekal, Maha Abadi dan Maha Sempurna, Rabbul ‘alamin subhanahu wata’ala. Maka bukalah sanubari kita terlebih lagi dengan kehadiran kita di majelis yang luhur ini, di dalam istana keridhaan Allah subhanahu wata’ala, di dalam undangan Allah yang telah mengundang ruh kita hingga mengizinkan seluruh sel tubuh kita berpadu untuk melangkah dan hadir ke tempat ini, dan telah kita fahami bahwa Allah subhanahu wata’ala tiadalah mengundang tamu kecuali pasti memuliakan para tamunya, maka anugerahnya berlimpah di malam hari ini, dimana juga merupakan malam-malam luhur yang semakin dekat dengan bulan terluhur, pemimpin seluruh bulan, yaitu bulan Ramadhan yang beberapa hari lagi berada dihadapan kita, bulan yang paling mulia yang di dalamnya terbuka anugerah-anugerah Ilahi yang diberikan kepada makhluk, yang mana tiada satu makhluk pun yang mampu memberinya antara satu sama lainnya. Dan malam ini akan kita dengarkan khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika telah berakhir bulan Sya’ban dan masuk pada bulan Ramadhan. Dimana beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda diriwayatkan dalam Shahih Ibn Khuzaimah dan juga oleh Al Imam Al Baihaqi dan lainnya, meskipun sebagian ahli hadits mengatakan bahwa hadits ini dha’if, akan tetapi Al Imam Ibn Khuzaimah memasukkannya ke dalam kitab Shahih beliau, namun ucapan-ucapan dari khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut merupakan rangkaian atau rangkuman dari hadits-hadits yang memiliki derajat Shahih yang bisa dipertanggungjawabkan dengan dalil Al qur’anul Karim. Adapun khutbah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah :

    يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيمٌ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ شَهْرٌ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيضَةً، وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعاً مَنْ تَقَرَّبَ فِيهِ بِخُصْلَةٍ مِنَ الخَيْرِكَانَ كَمْنَ أَدَّى فَرِيضَةً فِيما سِوَاهُ، وَمَنْ أَدَّى فِيهِ فَرِيضَةً كَانَ كَمَنْ أدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيضَةً فِيمَا سِوَاهُ، وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ، والصَّبْرُ ثَوَابُهُ الجَنَّةُ، وَشَهْرُ المُوَاسَاةِ وَشَهْرٌ يَزْدَادُ فِيهِ رِزْقُ الْمُؤْمِنِ، مَنْ فَطَّرَ فِيهِ صَائِماً كَانَ مَغْفِرَةً لِذنُوبِهِ، وَعِتْقَ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ، وَكَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْتَقِصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْءٌ، قَالُوْا: لَيْسَ كُلُّنَا نَجِدُ مَا يُفْطِرُ الصَّائِمَ ؟!، فَقَالَ رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “يُعْطِي اللهُ هَذَا الثَّوَابَ مَنْ فَطَّرَ صَائِماً عَلَى تَمْرَةٍ ، أَوْ شَرْبَةِ مَاءٍ أَوْ مَذْقَةِ لَبَنٍ ، وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ ، مَنْ خَفَّفَ عَنْ مَمْلُوْكِهِ غَفَرَ اللهُ لَهُ وَأَعْتَقَهُ مِنَ النَّارِ ، وَاسْتَكْثِرُوْا فِيْهِ مِنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ ، خَصْلَتَيْنِ تَرْضَوْنَ بِهِمَا رَبَّكُمْ ، وَخَصْلَتَيْنِ لاَ غِنَى بِكُمْ عَنْهُمَا ،فَأَمَّا الْخَصْلَتَانِ اللَّتَانِ تَرْضَوْنَ بِهِمَا رَبَّكُمْ : فَشَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله ، وَتَسْتَغْفِرُوْنَهُ ، وَأَمَّا اللَّتَانِ لاَ غِنَى بِكُمْ عَنْهُمَا : فَتَسْأَلُوْنَ اللهَ الْجَنَّةَ ، وَتَعُوْذُوْنَ بِهِ مِنَ النَّارِ ، وَمَنْ أَشْبَعَ فِيْهِ صَائِماً سَقَاهُ اللهُ مِنْ حَوْضِيْ شَرْبَةً لاَ يَظْمَأُ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ .

    “ Wahai manusia telah kepada kalian bulan yang agung, bulan yang penuh dengan keberkahan, bulan dimana di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan (Lailatul Qadr), dan di bulan itu Allah jadikan puasa di siang harinya menjadi kewajiban (bagi yang mampu), dan bangun malam / shalat di malam harinya merupakan hal yang disunnahkan. Barangsiapa yang melakukan satu kebaikan di bulan itu maka pahalanya sama dengan pahala melakukan perbuatan yang fardhu (wajib) di selain bulan Ramadhan, dan barangsiapa melakukaan satu perbuatan wajib di bulan Ramadhan maka pahalanya sama dengan melakukan 70 perbuatan wajib di selain bulan Ramadhan , dan bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran dan balasan kesabaran adalah surga, dan bulan itu adalah bulan yang penuh simpati (tolong menolong), dan bulan ditambahnya rizeki orang mukmin, barangsiapa yang memberikan buka puasa untuk orang yang berpuasa di bulan itu maka baginya pengampunan atas dosa-dosanya dan dibebaskan dari api neraka, serta baginya pahala puasa seperti orang yang berpuasa dan tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa. Ketika mendengar hal itu, para sahabat berkata : “Wahai Rasulullah, tidak semua dari kami memiliki sesuatu untuk memberi makan orang yang berpuasa”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Pahala ini diberikan oleh Allah kepada orang yang memberi makan untuk orang yang berpuasa dengan sebutir kurma atau seteguk air atau susu”, dan bulan Ramadhan awalnya adalah rahmah (kasih sayang) Allah, dan pertengahannya adalah pengampunan Allah, serta akhirnya adalah pembebasan dari api neraka, dan barangsiapa yang meringankan (pekerjaan) budaknya di bulan Ramadhan maka Allah subhanahu wata’ala mengampuni dosanya dan membebaskannya dari api neraka. Dan perbanyaklah dibulan itu (untuk melakukan) 4 hal, 2 hal yang pertama membuat Tuhan kalian (Allah subhanahu wata’ala) ridha, dan 2 hal yang lainnya merupakan sesuatu yang kalian butuhkan. Dua hal yang membuat Tuhan kalian (Allah subhanahu wata’ala) ridha adalah mengucapkan syahadat (أشهد ألا إله إلا الله ), dan kalian meminta ampunan kepada Allah subhanahu wata’ala (أستغفر الله العظيم ), adapun dua hal yang kalian butuhkan terhadap keduanya adalah kalian meminta kepada Allah untuk dimasukkan ke dalam surga dan dijauhkan dari api neraka, dan barangsiapa yang memberi makan orang yang berpuasa di bulan Ramadhan hingga kenyang, maka Allah akan memberinya minum dari telagaku ( Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) dimana seteguk air itu menjadikannya tidak akan merasa haus selama-lamanya hingga ia masuk ke surga”.

    Demikianlah khutbah beliau 14 abad yang silam, dimana beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Wahai manusia kalian telah didatangi oleh bulan yang agung, bulan yang penuh dengan keberkahan (keberkahan adalah kebaikan yang dilipatgandakan oleh Allah subhanahu wata’ala). Dimana bulan itu adalah bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan (Lailatul Qadr), dan di bulan itu Allah jadikan puasa di siang harinya menjadi kewajiban (bagi yang mampu), dan bangun malam / shalat di malam harinya merupakan hal yang disunnahkan. Adapun ucapan ini juga diperkuat dengan hadits yang telah kita baca :

    مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
    “Barangsiapa yang bangun (shalat malam) dengan keimanan dan karena mengharap ridha Allah, maka diampuni dosanya yang telah lalu”.

    Al Imam Ibn Hajar berkata dengan menukil ucapan hujjatul Islam Al Imam An Nawawi bahwa makna kalimat ( إحتسابا ) adalah kesungguhan niat untuk melakukan puasa karena Allah subhanahu wata’ala tanpa ada niat yang lain, adapun sebagian ulama lainnya menafsirkan makna kalimat tersebut adalah kesungguhan untuk berusaha memperindah puasanya yang tidak hanya sekedar menahan lapar dan haus, tetapi diperindah dengan melakukan juga hal-hal yang sunnah dalam berpuasa, yang diantara sunnah-sunnah puasa adalah mengakhirkan waktu makan sahur yaitu ketika telah mendekat waktu subuh, seperti contoh jika waktu subuh jam 04.30 maka sahurnya jam 04.00 , dan mempercepat buka puasa, memperbanyak membaca Al qur’an, beri’tikaf di masjid, dan lainnya dari sunnah-sunah yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun setiap sunnah-sunnah yang dilakukan, sebagaimana yang dijelaskan oleh Al Imam An Nawawi bahwa pahala perbuatan baik di bulan Ramadhan dilipatgandakan menjadi 10 hingga 700 kali lipat, kecuali ibadah puasa, karena ibadah puasa Allah subhanahu wata’ala yang akan memberikan balasan pahalanya, sebagaimana yang riwayatkan dalam hadits qudsi :

    كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ : الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
    “ Setiap perbuatan anak Adam (manusia) dilipatgandakan (pahalanya) ; setiap satu kebaikan dilipatgandakan dengan 10 kebaikan hingga 700 kali lipat, Allah subhanahu wata’ala berfirman : “kecuali puasa, sesungguhnya itu (puasa) adalah untukKu dan Aku yang akan membalasnya (memberi pahalanya)”.

    Dan disebutkan dalam khutbah rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa shalat di malam harinya adalah merupakan hal yang disunnahkan. Maka kembali kepada hadits yang disebut diatas, Al Imam An Nawawi menjelaskan dalam syarah Nawawiyah ‘alaa Shahih Muslim dan merupakan pendapat jumhur ulama’ bahwa makna kalimat (قام ) dalam hadits tersebut yang dimaksud adalah shalat tarawih. Dan dijelaskan oleh Al Imam An Nawawi bahwa dimasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat tarawih dilakukan secara berjamaah kemudian dibubarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena khawatir dianggap sebagai hal yang wajib, kemudian dilakukan secara sendiri. Maka ketika itu shalat tarawih berjamaah tidak lagi diperbuat di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak pula di masa khalifah sayyidina Abu Bakr As Shiddiq Ra. Akan tetapi di masa sayyidina Umar bin Khattab Ra shalat tarawih kembali dilakukan secara berjama’ah di masjid, yang kemudian dilanjutkan juga di masa khalifah sayyidina Utsman bin Affan, kemudian di masa khalifah sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, dan berlanjut hingga masa para imam empat madzhab, namun ada sebagian kecil dari madzhab Imam Malik dan Imam Syafi’i yang melakukan shalat tarawih secara sendiri di masa Al Imam An Nawawi Ar. Namun yang telah kita ketahui tentunya shalat tarawih itu yang lebih utama dilakukan secara berjamaah karena hal ini merupakan pendapat jumhur para ulama’ dan para sahabat radiyallahu ‘anhum sejak masa khalifah sayyidina Umar bin Khattab, dimana mereka semua adalah orang-orang yang lebih mengetahui dan memahami diantara yang afdhal dan yang lebih afdhal, namun jika tidak memungkinkan untuk melakukannya secara berjamaah maka boleh dilakukan secara sendiri. Adapun mengenai jumlah rakaat shalat tarawih adalah 20 rakaat dan 3 rakaat shalat witir, dan tidak ada satu pun dari empat madzhab yang melakukan shalat tarawih kurang dari 23 rakaat beserta witir, kecuali di dalam madzhab Al Imam Malik yang melakukan shalat tarawih 41 rakaat di masjid An Nabawi. Maka tidak ada diantara mereka yang melakukan shalat tarawih 11 rakaat termasuk witir, akan tetapi hal itu juga tidak ada larangannya, karena yang disunnahkan sebagaimana hadits dan khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah melakukan shalat sunnah di malam-malam bulan Ramadhan tanpa ada jumlah tertentu yang diwajibkan, namun tentunya yang afdhal adalah mengikuti apa yang telah diperbuat oleh para shahabat dan para imam RA.

    Kemudian dalam khutbah tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan bahwa perbuatan-perbuatan sunnah di bulan Ramadhan maka pahalanya sama dengan pahala melakukan perbuatan yang fardhu (wajib) di selain bulan Ramadhan, dan melakukan satu perbuatan wajib di bulan Ramadhan sama dengan melakukan 70 perbuatan wajib di selain bulan Ramadhan. Bahkan disebutkan dalam riwayat Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim bahwa amal perbuatan di bulan ramadhan pahala perbuatan dilipatgandakan menjadi 10 hingga 700 kali lipat bahkan lebih. Demikian keagungan rahasia bulan Ramadhan. Disebutkan juga dalam khutbah tersebut bahwa bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan balasan dari kesabaran adalah surga. Sebagaimana kesabaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat agung bersama para sahabatnya dari kaum muhajirin dan anshar, dimana di bulan Ramadhan telah terjadi perang Badr Al Kubra, padahal bulan Ramadhan merupakan bulan penuh kesabaran, namun mengapa justru perang Badr Al Kubra terjadi di bulan itu?, karena dari peperangan itu bukan karena ingin pemusuhan atau ingin menghancurkan, akan tetapi tujuan peperangan itu adalah demi menegakkan dan membela agama Islam dari serangan kaum Quraisy, setelah kesabaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya yang berkesinambungan selama belasan, dimana selama 13 tahun di Makkah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pengikutnya terus dianiaya dan dipersulit hingga setelah hijrah ke Madinah pun hal itu terus terjadi, hingga tibalah waktu dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat ingin memboikot kafilah Abu Sofyan yang akan masuk ke kota Makkah dengan tujuan mengambil sandang pangan yang akan masuk ke kota Madinah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ingin memberikan teguran atas perbuatan orang quraisy terhadap umat Islam. Adapun keluarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama para pengikutnya bukanlah dengan tujuan memerangi kaum Quraisy, namun setelah kaum kuffar quraisy mengetahui hal itu maka mereka pun keluar dengan 3000 pasukan lengkap dengan senjata untuk melawan kaum muslimin, sehingga terjadilah perang Badr Al Kubra. Dan pasukan kaum muslimin di saat itu adalah 313 orang, akan tetapi meskipun dengan jumlah yang sedikit itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih memerintahkan kepada kaum muslimin untuk tidak memukul kaum wanita, anak-anak kecil, dan 0rang-orang yang tidak bersenjata, serta tidak menyerang sebelum mereka menyerang terlebih dahulu. Dua pasukan yang sangat tidak seimbang, dimana pasukan kafir Quraisy yang berjumlah 3000 orang itu, mereka lengkap dengan senjata dan perlengkapan perang yang lainnya, sedangkan pasukan umat Islam hanya berjumlah 313 orang, dimana hanya sebagian saja yang memiliki kuda, sebagian saja yang memiliki senjata. Namun meskipun keadaan demikian, kemenangan tetap didapatkan oleh kaum muslimin dengan kemenangan yang dahsyat di Badr Al Kubra, dengan doa yang dahsyat dari makhluk termulia di malam 17 Ramadhan dan diantara doa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah :
    اللَّهُمَّ إِنْ شِئْتَ أَنْ لاَ تُعْبَدَ بَعْدَ الْيَوْمِ
    “ Wahai Allah, kecuali jika Engkau berkehendak untuk tidak disembah setelah hari ini”
    Mengapa demikian?, karena yang ditinggal di Madinah hanyalah kaum wanita dan anak-anak, sedangkan semua kaum lelaki pergi mengikuti perang Badr, dan jika jumlah pasukan yang hadir di perang Badr itu dibantai dan dikalahkan oleh kaum quraisy, maka tidak ada lagi yang akan mempertahankan dan menyebarkan Islam di muka bumi. Maka keesokan harinya di saat perang Badr berlangsung, Allah subhanahu wata’ala menurunkan 5000 pasukan malaikat untuk membantu kaum muslimin dalam perang Badr, padahal 1 malaikat saja telah cukup untuk melawan pasukan kafir Quraisy, namun mengapa Allah subhanahu wata’ala menurunkan sebanyak 5000 malaikat, hal ini adalah untuk memuliakan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari, ketika malaikat Jibril bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “Wahai Rasulullah, bagaimana keadaan orang-orang yang ikut dalam peperangan Badr Al Kubra?”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “ Mereka adalah sebaik-baik kelompok dari ummatku”, kemudian Jibril berkata : “Begitu juga malaikat yang diturunkan untuk membantu ahlu Badr adalah sebaik-baik malaikat dari seluruh malaikat”. Dalam perang Badr itu telah bersatu kaum Muhajirin dan Anshar, serta para ahlu bait (keluarga) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam satu kesatuan kalimat لا إله إلا الله محمد رسول الله, dimana satu panji dipegang oleh kaum muhajirin yaitu sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw, dan satu panji yang lain dipegang oleh kaum Anshar yang berakhir dengan kemenangan yang dahsyat bagi kaum muslimin, demikian agungnya rahasia pertolongan Allah subhanahu wata’ala kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pecinta beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Disebutkan juga dalam khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa bulan Ramadhan adalah bulan penuh simpati yaitu saling membantu satu sama lain, saling peduli antara satu dan lainnya, serta di bulan Ramadhan orang-orang yang beriman akan ditambah rizkinya oleh Allah subhanahu wata’ala, maka janganlah sekali-kali merasa berat atau takut untuk mengeluarkan shadaqah di bulan Ramadhan ini. Dan dalam khutbah tersebut dikatakan barangsiapa yang memberikan buka puasa untuk orang yang berpuasa maka ia akan mendapatkan pengampunan atas dosa-dosanya dan dibebaskan dari api neraka, serta baginya pahala puasa seperti orang yang berpuasa dan tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa. Ketika mendengar hal itu, para sahabat berkata : “Wahai Rasulullah, tidak semua dari kami memiliki sesuatu untuk memberi makan orang yang berpuasa”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Pahala ini juga diberikan oleh Allah kepada orang yang memberi makan untuk orang yang berpuasa dengan sebutir kurma atau seteguk air atau susu”. Jadi tidak harus memberi makan dengan makanan yang enak atau banyak, namun meskipun dengan memberi makan orang yang berpuasa dengan sebutir kurma, atau seteguk air atau susu maka pengampunan Allah dan pembebasan dari api neraka akan didapatkan. Kemudian disebutkan dalam khutbah tersebut bahwa bulan Ramadhan awalnya adalah rahmat (kasih sayang) Allah, dan pertengahannya adalah pengampunan Allah, serta akhirnya adalah pembebasan dari api neraka. Maka tidak ada keselamatan yang lebih agung dari selamatnya seseorang dari api neraka, selamat dari kemurkaan Allah subhanahu wata’ala yang terbesar dan masuk ke dalam api neraka. Oleh karena itu di bulan Ramadhan merupakan bulan untuk kita berjuang agar mencapai kepada keluhuran dan keridhaan Allah subhanahu wata’ala. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam khutbah tersebut bahwa barangsiapa yang meringankan (pekerjaan) budaknya di bulan Ramadhan maka Allah subhanahu wata’ala mengampuni dosanya, namun di zaman sekarang sudah tidak ada lagi perbudakan. Disebutkan pula di bulan Ramadhan untuk memperbanyak melakukan 4 hal, dimana 2 hal yang pertama akan membuat Allah subhanahu wata’ala ridha, dan 2 hal yang lainnya merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh kita. Dua hal yang pertama adalah mengucapkan syahadat (أشهد ألا إله إلا الله ), dan beristighfar atau meminta ampunan kepada Allah subhanahu wata’ala (أستغفر الله العظيم ), adapun dua hal lainnya yang merupakan hal yang sangat kita butuhkan adalah meminta kepada Allah untuk dimasukkan ke dalam surga dan dijauhkan dari api neraka. Dan 4 hal tersebut adalah ucapan yang sering kita dengar yaitu :

    أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

    “ Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah, aku memohon ampunan kepada Allah, aku memohon kepada Mu surga dan berlindung kepadaMu dari api neraka”
    Serta disebutkan bahwa orang yang memberi makan orang yang berpuasa di bulan Ramadhan hingga kenyang, tidak hanya seperti yang tadi disebutkan yaitu hanya sekedar memberi sebutir kurma atau seteguk air atau susu, akan tetapi memberinya makan hingga kenyang maka ia akan diberi minum dari telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi dimana setelah itu ia tidak akan merasa haus selama-lamanya hingga ia masuk ke surga. Jadi sudah selayaknya di bulan Ramadhan ini setiap umat Islam untuk tidak hanya memikirkan makanan untuk dirinya sendiri, akan tetapi juga memperhatikan orang lain yaitu dengan memberi mereka makanan atau buka puasa, karena dengan hal itu seseorang akan mendapatkan janji dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu meminum air dari telaga beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Haidirin hadirat yang dimuliakan Allah
    Insyaallah kita berjumpa di majelis malam Selasa yang akan datang serta majelis-majelis harian yang lainnya, dan perlu juga diketahui bahwa besok tanggal 17 Juli 2012 adalah majelis Forum Pemuda Muslim Maluku bertempat di daerah Kalimalang. Begitu juga pendaftaran majelis di bulan Ramadhan masih tetap kita buka, karena majelis di bulan Ramadhan tentunya lebih utama daripada majelis di hari-hari lainnya, sebagaimana ibadah di bulan Ramadhan lebih utama daripada bulan lainnya. Para salafusshalih di bulan Ramadhan mereka selalu memenuhi hari-harinya dengan ibadah khususnya memperbanyak membaca Al qur’an di siang atau malam harinya, dan di malam harinya melaksanakan shalat tarawih, seperti yang terjadi di Tarim Hadramaut di beberapa masjid setelah mereka selesai shalat Isya’ di awal waktu, mereka langsung melaksanakan shalat tarawih, ada juga yang melakukan shalat tarawih di masjid lain pada jam 20.30, dan di masjid yang lain ada yang melakukan shalat tarawih pada jam 22.00, di masjid yang lain ada yang melakukan shalat tarawih pada jam 23.30 atau 00.30, hingga jama 02.30 diantara mereka masih ada yang melakukan shalat tarawih, sehingga bagi orang yang mampu maka bisa menghadiri shalat tarawih sampai 3 kali atau lebih dalam satu malam dengan berpindah-pindah dari masjid satu ke masjid yang lainnya. Dan mereka juga tetap melakukan dzikir atau shalawat namun tidak secara berjamaah, tetapi secara sendiri. Adapun kita tetap membuka majelis di bulan Ramadhan ini adalah untuk membuka kesempatan bagi yang ingin melakukannya secara bersama, yang mungkin banyak diantara kita yang tidak mampu untuk melakukannya secara sendiri, oleh sebab itulah majelis-majelis di bulan Ramadhan tetap kita buka.

    Kemudian acara kita pada tanggal 17 Ramadhan yang akan datang, yaitu malam nuzulul Alqur’an dan juga haul Ahlu Badr dengan dzikir يا الله sebanyak 1000 kali di Monas, dan insyaallah akan ada sambutan langsung melalui streaming oleh guru mulia Al Musnid Al ‘Arif billah Al Habib Umar bin Salim bin Hafidh dari Tarim Hadramaut, semoga acara ini sukses dan penuh barakah amin allahumma amin. Acara dan doa yang agung di malam turunnya Al qur’an, serta 17 Ramadhan yang merupakan hari kemenangan Ahlu Badr itu juga bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 1945 hari kemerdekaan RI, negara kaum muslimin terbesar di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wata’ala telah memberikan anugerah besar kepada bangsa Indonesia untuk mengalahkan sekutu, dan kita memohon kepada Allah subhanahu wata’ala semoga Jakarta yang menjadi Ibukota dan benteng negara muslimin terbesar di dunia ini dijaga oleh Allah dari gangguan-gangguan yang ingin menghancurkannya, dimana mana kota Jakarta ini sedang kita bangun untuk menjadi kota yang makmur penuh dengan iman dan kedamaian, maka semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan pertolongan untuk kota Jakarta dan kota-kota serta wilayah-wilayah lainnya di negeri Indonesia, dan juga untuk seluruh negara dan wilayah ummat Islam di barat dan timur sebagaimana pertolongan dan kemenangan yang diberikan kepada Ahlu Badr, dan senantiasa dalam lindungan Allah subhanahu wata’ala. Selanjutnya kita berdoa bersama semoga Allah subhanahu wata’ala melimpahkan rahmat dan kebahagiaan serta mengabulkan seluruh hajat kita, memberikan kesuksesan kepada kita di dunia dan akhirat, dan semoga yang sedang dalam musibah diantara kita Allah angkat musibahnya dan digantikan dengan anugerah, serta musibah-musibah yang akan datang kepada kita segera disingkirkan oleh Allah dan digantikan dengan anugerah dari Allah subhanahu wata’ala…
    فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا
    Ucapkanlah bersama-sama

    يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ…لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ…لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ…مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

    (kalam ulama’)

  • Apa Masalahnya Jika Khilafah Tegak di Indonesia

    Apa Masalahnya Jika Khilafah Tegak di Indonesia

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online- Walau HTI telah dibubarkan dan ditetapkan sebagai Ormas terlarang seperti PKI, namun syabab (anteknya) terus menebar propaganda diberbagai media.

    Propaganda antek HTI yang saat ini beredar yakni dengan membuat video dan tulisan yang berjudul “Apa Masalahnya Jika Khilafah Tegak di Indonesia” karangan syabab HTI, Heri Al-Fatih. Inti dari tulisan ini adalah mengajak orang awam agar semangat menegakkan khilafah dengan membandingkan kondisi bangsa saat ini.

    Berikut adalah tulisan propagandanya antek HTI (Heri Al-Fatih) sekaligus saya beri jawaban sehingga terbongkar semua kebohongan dan iming-iming semu antek khilafah.

    1. Jika Khilafah tegak di Indonesia, maka semua agama selain Islam akan tetap boleh hidup damai, semua akan diberi kebebasan menyembah tuhan-tuhan mereka. Mereka tidak akan dipaksa memeluk Islam. Lalu masalahnya apa Jika Khilafah tegak di Indonesia?

    Jawab: Masalahnya jika khilafah tegak di Indonesia, maka kerukunan antar umat beragama akan terganggu bahkan akan terjadi perang antar agama. Jangankan menghormati atau menjalin perdamaian antar agama, kepada sesama umat Islam saja mereka kafirkan, menuduh musyrik, berhukum thaghut dan halal darahnya untuk ditumpahkan hanya karena tidak menegakkan khilafah. Jadi kebebasan beragama ala kaum khilafah adalah dusta dan tanpa khilafahpun, NKRI sudah menerapkan kebebasan beragama.

    2. Jika Khilafah tegak, maka Pendidikan dan Kesehatan akan digratiskan untuk seluruh warga negera tanpa terkecuali,, karena semua itu adalah hak rakyat dan sudah menjadi kewajiban Khalifah sebagai pelayan rakyat. Lalu apa masalahnya jika Khilafah tegak di Indonesia?

    Jawab: Bagaimana mau menerapkan pendidikan dan kesehatan gratis, lha wong khalifahnya tidak jelas siapa namanya dan dimana rimbanya. Dimana-mana ditolak disetiap negara dan menjadi gerakan pemberontak kok mau menerapkan pendidikan dan kesehatan gratis? Tanpa khilafahpun, saat ini pemerintah sudah memperhatikan pendidikan dan kesehatan bagi rakyatnya. Walau belum maksimal tapi lebih baik dari pada hanya sekedar mimpi dan bualan kaum khilafah.

    3. Jika Khilafah tegak, hukum Allah akan diterapkan secara kaaffah (menyeluruh). Tidak ada lagi perzinahan, riba, miras, dan kesyirikan yang terjadi secara terang-terangan seperti hari ini. Tidak ada lagi muslim yang meninggalkan sholat dengan bangga. Semua akan taat kepada Allah Swt. Lalu apa masalahnya jika Khilafah tegak di Indonesia?

    Jawab: Masalahnya, setan itu hidup disistem manapun termasuk hidup disistem khilafah. Jadi, walau diterapkan sistem khilafah, kerja setan jalan terus. Artinya, kemaksiatan dan kejahatan tetap ada walau dalam sistem khilafah. Kalau kemasiatan berhenti dengan tegaknya khilafah, terus neraka sepi dong? Kata siapa tidak ada kemaksiatan disistem khilafah? Lihatlah sejarah beberapa penguasa dan keturunan khalifah yang ahli zina dan mabuk. Jangan menipu atas nama khilafah. Tanpa khilafah, NKRI sudah kaffah. Setiap pemeluk agama bisa damai dan tenteram menjalankan syariatnya masing-masing. Toh, khilafah bukan bagian dari Rukun Iman dan Rukun Islam, jadi khilafah bukanlah sesuatu yang esensi dalam syariat Islam.

    4. Jika Khilafah tegak, hukum Allah terlaksana secara sempurna, maka negeri ini pun akan diberikahi. Bukankah Allah telah berjanji akan mendatangkan berkah dari langit dan bumi Lihat QS.7:96 jika penduduk ini bertakwa?. Lalu apa masalahnya jika Khilafah tegak di Indonesia?

    Jawab: NKRI ini sudah diberkahi oleh Allah. Jika ada bencana dan musibah, semata-mata adalah ujian bagi kaum yang beriman bukan karena tidak menerapkan khilafah. Negeri ini dihuni oleh para wali, didoakan para ulama dan dicintai oleh penduduknya. Masalahnya jika khilafah tegak, maka mereka akan merusak anugerah Allah berupa berkah dan kedamaian dinegeri ini.

    5. Jika Khilafah tegak, tidak akan ada lagi kemaksiatan yang terjadi secara terang-terangan. Beda dgn hari ini, dimana kemaksiatan menjadi budaya bahkan difasilitasi oleh negara. Maka Khilafah hadir untuk menghilangkan semua jenis kemaksiatan, bukankah itu sebuah kebaikan?.
    Lalu apa masalahnya jika Khilafah di Indonesia?

    Jawab: Masalahnya, kaum khilafah sendiri adalah ahli maksiat. Ahli maksiat dengan bertopeng nama Tuhan. Ahli maksiat yang terus-menerus merongrong negara. Kelompok minoritas tapi gayanya mayoritas dengan menebar kebohongan atas nama ulama, atas nama Islam. Umat Islam yang mana yang mereka ikuti? Mereka adalah kelompok Khawarij-Takfiri perusak perdamaian.

    6. Jika Khilafah tegak, tidak akan ada lagi penista agama seperti Abu Janda, Deni Siregar, Busukma dan Muwafiq. Khilafah dengan hukum Islamnya akan menindak tegas para penista agama. Islam pun akan mulia dan agama lain tetap dihormati. Lalu apa masalahnya jika Khilafah tegak di Indonesia?

    Jawab: Penista agama adalah mereka yang memanipulasi ajaran agama untuk memuaskan kepentingan pribadi atau kelompok. Penista agama adalah mereka yang selalu menebar kebohongan bahwa rasulullah tidak bisa menegakkan rahmatan lil ‘alamin sebelum tegaknya khilafah. Para penista agama adalah mereka yang bodoh tentang agama tapi berlagak ahli agama, bicara tentang agama hanya dengan modal jubah, jenggot panjang dan sorban. Provokator berlagak paling suci sedunia. Ini masalahnya.

    7. Jika Khilafah tegak, tidak ada lagi para maling uang rakyat alias koruptor. Tidak ada lagi rakyat tertindas oleh kezaliman penguasa dan ketidakadilan hukum. Rakyat jelata dan para pejabat negara akan hidup dalam kemakmuran dan keadilan. Lalu apa masalahnya jika Khilafah tegak di Indonesia?

    Jawab: Ada juga loh dimasa kekuasaan daulah dahulu, penguasa yang korup bahkan maling atas nama Tuhan dan kekuasaan. Bukan saja foya-foya di istana tapi juga berebut kekuasaan alias perang saudara. Saling menumpahkan darah hanya karena haus tahta. Ini juga masalahnya. NKRI lebih mulia, dalam setiap pergantian pemimpin tidak ada perang saudara apalagi bunuh-bunuhan.

    8. Jika Khilafah tegak, maka nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila benar-benar akan terwujud, bukan lagi sebuah hayalan belaka. NKRI pun akan terjaga dan wilayahnya akan semakin luas. Tidak ada lagi perusak NKRI seprti OPM di Papua. Tidak ada lagi wilayalah NKRI yg terlepas, seperti terlepasnya Timur-timur. Setiap jengkal tanah negeri ini akan terjaga. Lalu apa masalahnya jika Khilafah tegak di Indonesia?

    Jawab: Bohong besar jika mereka mendukung Pancasila. Bagi antek khilafah, Pancasila itu thaghut. NKRI itu produk kafir. UUD 1945 hanyalah sistem syaithaniyah. Jadi, mereka menghalalkan segala cara untuk menipu kaum awam. Masalahnya, khilafah HTI lebih ganas dan lebih licik dari OPM.

    9. Jika Khilafah tegak para orang tua tidak perlu khawatir dengan tontonan anak-anak di Tv, karena TV hanya akan menayangkan yang baik. Baik menurut Allah, bukan baik menurut manusia. Tidak ada sinetron yang merusak moral dan aqidah. Lalu apa masalahnya jika Khilafah tegak di Indonesia?

    Jawab: Masalahnya, jangankan mengajarkan moralitas, kaum khilafah itu sendiri tidak punya moral. Sudah ditolak tapi tidak tahu malu. Anti NKRI tapi nyaman dan tidur nyenyak di NKRI. Benci dengan pemimpin tapi fasilitas negara dinikmati. Jangankan menjaga akidah, padahal akidah mereka sendiri tidak jelas. Akidah Aswaja tak akan mabuk dengan khilafah. Jadi, kaum khilafah ini pakai akidahnya siapa?

    10. Tegaknya Khilafah akan menghapus segala bentuk penjajahan yang terjadi di negeri ini. Sumber Daya Alam yang hari ini 85% dikuasai oleh Asing dan Aseng akan kembali menjadi milik rakyat. Semua akan dikelola oleh Khilafah dan hasilnya akan dikembalikan kepada rakyat secara gratis. Lalu apa masalahnya jika Khilafah tegak di Indonesia?

    Jawab: Masalahnya, kaum khilafah itu adalah kaum penjajah. Penjajah yang jualan agama. Yang namanya penjajah, semanis apapun janji-janjinya ya tetap membual alias bohong. Ngaku anti asing padahal mendapat donasi dari asing dan dipiara oleh negara asing. Bukankah idelogi khilafah HT adalah ideologi asing dan ideologi usang sehingga tidak dipakai oleh mayoritas ulama. Alhamdulillah, ulama pendiri NKRI dan ulama yang setia NKRI sudah paham tentang kebohongan kaum khilafah.

    11. Jika Khilafah tegak, tidak ada lagi pengangguran. Lapangan pekerjaan akan disediakan oleh Khalifah sebanyak-banyaknya, sehingga rakyat bisa mencari kerja dengan sangat mudah. Bahkan tidak perlu memikirkan ijazah.
    Lalu apa masalahnya jika Khilafah tegak di Indonesia?

    Jawab: Siapa bilang? Yang namanya pemalas, hidup dalam sistem apapun ya tetap pengangguran. Siapapun yang tidak mau sekolah ya tetap bodoh. Masalahnya, kaum khilafah itu bodoh tapi berlagak pintar disegala bidang. Setiap permasalahan jurusnya hanya satu. Tegakkan khilafah!

    12. Jika Khilafah tegak, rakyat yang ingin membuka usaha/bisnis tapi tidak punya modal usaha, maka Khalifah akan memberikan ia modal. Rakyat yang punya utang tidak bisa ia lunasi, maka Khalifah yang akan membantu. Pemuda yang ingin menikah tidak punya modal, juga akan dinikahkan oleh negara(khilafah).
    Lalu apa masalahnya jika Khilafah di Indonesia?

    Jawab: Ini masalahnya, kaum khilafah hobi hutang tapi tidak mau membayar. Mental penindas dan pengemis. Hidup manja dan tidak mau kerja keras tapi menghayalnya sampai langit ketujuh. Menikah tanpa sistem khilafah tetap sah. Yang namanya jomblo, akan ada disetiap masa.

    13. Jika Khilafah tegak, seluruh warga akan dijamin keamanannya sehingga tidak perlu ada yang repot-repot membuat pagar rumah setinggi 5 meter. Tidak perlu menyediakan CCTV apalagi menyewa Security. Lalu apa masalahnya jika Khilafah tegak di Indonesia?

    Jawab: Maling tidak kenal sistem. Justru keberadaan antek khilafah membuat kekacauan dan merusak ketenteraman. Bagaimana jadinya jika negeri ini menerapkan khilafah. Sedikit-sedikit kafir-thaghut, kaum Aswaja tidak lagi nyaman mengamalkan ibadah dan amaliyahnya. Siapa yang berani mengkritik khilafah bisa langsung dijagal. Halal darahnya. Ini tambah masalah.

    14. Jika Khilafah tegak, maka seluruh warga negara akan dijaga kehormatannya. Negara akan menerapkan aturan berkenaan dengan pergaulan pria & wanita sebagai pencegahan dan memberi sanksi yang tegas bagi yang melanggar. Orang tua pun tidak perlu lagi khawatir anaknya jadi korban. Lalu apa masalahnya jika Khilafah tegak di Indonesia?

    Jawab: Masalahnya, jika khilafah tegak di Infonesia, umat Islam di Nusantara tidak lagi kenal budayanya. Dipaksa memakai budaya Arab karena semua budaya Nusantara dianggap kafir. Khalifah bisa menerapkan pergundikan. Menjadikan wanita sebagai pemuas nafsu penguasa.

    15. Jika Khilafah tegak, tidak seorang pun yang terabaikan hak-haknya, semua akan mendapat keadilan secara merata. Lalu apa masalahnya jika Khilafah tegak di Indonesia?

    Jawab: Sistem khilafah bersifat diktator alias absolut. Siapa yang menentang khalifah maka bersiaplah meregang nyawa. Siapa yang melawan khalifah dianggap melawan Tuhan. Semua perkataan khilafah dianggap perkataan Tuhan sehingga totalitas wajib diikuti.

    16. Jika Khilafah tegak, para Ustadz dan Da’i tidak perlu lagi repot-repot mengajak muslim untuk sholat, dan tidak perlu capek-capek mencegah orang lain dari kemaksiatan, karena dakwah akan menjadi tanggungjawab negara. Khalifah akan mengajak seluruh warga untuk taat kepada Allah Swt.
    Lalu apa masalahnya jika Khilafah tegak di Indonesia?

    Jawab: Amar ma’ruf nahi munkar itu tanggung jawab bersama bukan hanya untuk penguasa. Tidak ada jaminan kemaksuman khalifah sehingga khalifah bisa berpotensi salah dan melakukan kemaksiatan. Siapa yang mencegah kezaliman khalifah maka dianggap memusuhi Tuhan. Ini juga masalah.

    17. Saya tidak mampu menuliskan keindahan dan kesejahteraan yang akan kita rasakan jika khilafah tegak nanti, sebagaimana saya tidak mampu menuliskan kezaliman dan kemaksiatan yang terjadi hari ini akibat penerapan sistem demokrasi.
    Lalu masalahnya apa jika Khilafah tegak di Indonesia?

    Jawab: Saya mampu menuliskan kejahatan khilafah sebab khilafah hanyalah sistem buatan manusia dan bukan sistem buatan Tuhan. Sistem khilafah tidaklah suci melainkan tersimpan didalamnya kekurangan dan kejahatannya. Kita bisa membaca sejarah, betapa banyak umat Islam harus meregang nyawa saling membunuh hanya karena berebut tahta. Ini masalah yang perlu dijadikan pelajaran.

    18. Khilafah adalah kewajiban mulia, bahkan para ulama menyebutnya sebagai ‘mahkota kewajiban’, tegaknya merupakan janji dari Allah dan Rasul-Nya yang tidak seorang pun dapat menghalangi. Menghalangi tegaknya Khilafah ibarat menghalangi terbitnya fajar diwaktu pagi, sebuah kemustahilan dan kesia-siaan. Dengan atau tanpa Anda, maka Khilafah PASTI akan segera tegak kembali. Lalu masalahnya apa jika Khilafah tegak di Indonesia?

    Jawab: Khilafah bukanlah kewajiban melainkan tawaran alternatif yang tidak ada jaminan baik. Tak ada dalilnya untuk menerapkan khilafah tahririyah. Khilafah Imam Mahdi memang akan datang tapi bukan khilafah penipu ala HTI. Ulama Aswaja yang lurus tidak akan tergiur dengan mimpi khilafah. Walau dipaksakan bagaimanapun, khilafah akan terus gagal sebab hanyalah produk tafsir gagal yang usang, yang hanya merusak dan mempersempit keagungan ajaran Islam. Masalahnya, negara manakah yang saat ini tertarik dengan mimpi khilafah? Mbokya kaum khilafah sekali-kali bangun, sadar diri, jangan hanya mimpi dan mengigau terus.

    Semoga negeri kita aman dan damai terhindar dari perpecahan. Semoga ideologi asing seperti ideologi komunis dan khilafah tidak menguasai negeri kita. Jaga persatuan dan tetap Pancasila.

    Oleh Suryono Zakka, Aswaja Sumsel
    (abi-sorban)

  • Sejarah Pendirian Nahdlatul Ulama

    Sejarah Pendirian Nahdlatul Ulama

    SORBANSANTRI.COM
    peran penting pendirian Jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU)

    cyberaswaja.online –  Ada tiga orang tokoh ulama yang memainkan peran sangat penting dalam proses pendirian Jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU) yaitu Kiai Wahab Chasbullah (Surabaya asal Jombang), Kiai Hasyim Asy’ari (Jombang) dan Kiai Cholil (Bangkalan). Mujammil Qomar, penulis buku “NU Liberal: Dari Tradisionalisme Ahlussunnah ke Universalisme Islam”, melukiskan peran ketiganya sebagai berikut: Kiai Wahab sebagai pencetus ide, Kiai Hasyim sebagai pemegang kunci, dan Kiai Cholil sebagai penentu berdirinya. walau sebenarnya pendiri NU itu banyak, yaitu para ulama besar selain tiga kiai utama tersebut.

    Tentu selain dari ketiga tokoh ulama tersebut, masih ada beberapa tokoh lainnya yang turut memainkan peran penting. Sebut saja KH. Nawawie Noerhasan dari Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan. Setelah meminta restu kepada Kiai Hasyim seputar rencana pendirian Jamiyyah. Kiai Wahab oleh Kiai Hasyim diminta untuk menemui Kiai Nawawie. Atas petunjuk dari Kiai Hasyim pula, Kiai Ridhwan-yang diberi tugas oleh Kiai Hasyim untuk membuat lambang NU- juga menemui Kiai Nawawie. Tulisan ini mencoba mendiskripsikan peran Kiai Wahab, Kiai Hasyim, Kiai Cholil dan tokoh-tokoh ulama lainnya dalam proses berdirinya NU.

    Keresahan Kiai Hasyim

    Bermula dari keresahan batin yang melanda Kiai Hasyim. Keresahan itu muncul setelah Kiai Wahab meminta saran dan nasehatnya sehubungan dengan ide untuk mendirikan jamiyyah / organisasi bagi para ulama ahlussunnah wal jamaah. Meski memiliki jangkauan pengaruh yang sangat luas, untuk urusan yang nantinya akan melibatkan para kiai dari berbagai pondok pesantren ini, Kiai Hasyim tak mungkin untuk mengambil keputusan sendiri. Sebelum melangkah, banyak hal yang harus dipertimbangkan, juga masih perlu untuk meminta pendapat dan masukan dari kiai-kiai sepuh lainnya.

    Pada awalnya, ide pembentukan jamiyyah itu muncul dari forum diskusi Tashwirul Afkar yang didirikan oleh Kiai Wahab pada tahun 1924 di Surabaya. Forum diskusi Tashwirul Afkar yang berarti “potret pemikiran” ini dibentuk sebagai wujud kepedulian Kiai Wahab dan para kiai lainnya terhadap gejolak dan tantangan yang dihadapi oleh umat Islam terkait dalam bidang praktik keagamaan, pendidikan dan politik. Setelah peserta forum diskusi Tashwirul Afkar sepakat untuk membentuk jamiyyah, maka Kiai Wahab merasa perlu meminta restu kepada Kiai Hasyim yang ketika itu merupakan tokoh ulama pesantren yang sangat berpengaruh di Jawa Timur.

    Setelah pertemuan dengan Kiai Wahab itulah, hati Kiai Hasyim resah. Gelagat inilah yang nampaknya “dibaca” oleh Kiai Cholil Bangkalan yang terkenal sebagai seorang ulama yang waskita (mukasyafah). Dari jauh ia mengamati dinamika dan suasana yang melanda batin Kiai Hasyim. Sebagai seorang guru, ia tidak ingin muridnya itu larut dalam keresahan hati yang berkepanjangan. Karena itulah, Kiai Cholil kemudian memanggil salah seorang santrinya, As’ad Syamsul Arifin (kemudian hari terkenal sebagai KH. As’ad Syamsul Arifin, Situbondo) yang masih terhitung cucunya sendiri.

    Tongkat “Musa”

    “Saat ini Kiai Hasyim sedang resah. Antarkan dan berikan tongkat ini kepadanya,” titah Kiai Cholil kepada As’ad. “Baik, Kiai,” jawab As’ad sambil menerima tongkat itu.

    “Setelah memberikan tongkat, bacakanlah ayat-ayat berikut kepada Kiai Hasyim,” kata Kiai Cholil kepada As’ad seraya membacakan surat Thaha ayat 17-23.

    Sebagai bekal perjalanan ke Jombang, Kiai Cholil memberikan dua keping uang logam kepada As’ad yang cukup untuk ongkos ke Jombang. Setelah berpamitan, As’ad segera berangkat ke Jombang untuk menemui Kiai Hasyim. Tongkat dari Kiai Cholil untuk Kiai Hasyim dipegangnya erat-erat.

    Meski sudah dibekali uang, namun As’ad memilih berjalan kaki ke Jombang. Dua keeping uang logam pemberian Kiai Cholil itu ia simpan di sakunya sebagai kenang-kenangan. Baginya, uang pemberian Kiai Cholil itu teramat berharga untuk dibelanjakan.

    Sesampainya di Jombang, As’ad segera ke kediaman Kiai Hasyim. Kedatangan As’ad disambut ramah oleh Kiai Hasyim. Terlebih, As’ad merupakan utusan khusus gurunya, Kiai Cholil. Setelah bertemu dengan Kiai Hasyim, As’ad segera menyampaikan maksud kedatangannya, “Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk mengantarkan dan menyerahkan tongkat ini,” kata As’ad seraya menyerahkan tongkat.

    Kiai Hasyim menerima tongkat itu dengan penuh perasaan. Terbayang wajah gurunya yang arif, bijak dan penuh wibawa. Kesan-kesan indah selama menjadi santri juga terbayang dipelupuk matanya. “Apa masih ada pesan lainnya dari Kiai Cholil?” Tanya Kiai Hasyim. “ada, Kiai!” jawab As’ad. Kemudian As’ad membacakan surat Thaha ayat 17-23.

    Setelah mendengar ayat tersebut dibacakan dan merenungkan kandungannya, Kiai Hasyim menangkap isyarat bahwa Kiai Cholil tak keberatan apabila ia dan Kiai Wahab beserta para kiai lainnya untuk mendirikan Jamiyyah. Sejak saat itu proses untuk mendirikan jamiyyah terus dimatangkan. Meski merasa sudah mendapat lampu hijau dari Kiai Cholil, Kiai Hasyim tak serta merta mewujudkan niatnya untuk mendirikan jamiyyah. Ia masih perlu bermusyawarah dengan para kiai lainnya, terutama dengan Kiai Nawawi Noerhasan yang menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri. Terlebih lagi, gurunya (Kiai Cholil Bangkalan) dahulunya pernah mengaji kitab-kitab besar kepada Kiai Noerhasan bin Noerchotim, ayahanda Kiai Nawawi Noerhasan.

    Untuk itu, Kiai Hasyim meminta Kiai Wahab untuk menemui Kiai Nawawie. Setelah mendapat tugas itu, Kiai Wahab segera berangkat ke Sidogiri untuk menemui Kiai Nawawie. Setibanya di sana, Kiai Wahab segera menuju kediaman Kiai Nawawie. Ketika bertemu dengan Kiai Nawawie, Kiai Wahab langsung menyampaikan maksud kedatangannya. Setelah mendengarkan dengan seksama penuturan Kiai Wahab yang menyampaikan rencana pendirian jamiyyah, Kiai Nawawie tidak serta merta pula langsung mendukungnya, melainkan memberikan pesan untuk berhati-hati. Kiai Nawawie berpesan agar jamiyyah yang akan berdiri itu supaya berhati-hati dalam masalah uang. “Saya setuju, asalkan tidak pakai uang. Kalau butuh uang, para anggotanya harus urunan.” Pesan Kiai Nawawi.

    Proses dari sejak Kiai Cholil menyerahkan tongkat sampai dengan perkembangan terakhir pembentukan jamiyyah rupanya berjalan cukup lama. Tak terasa sudah setahun waktu berlalu sejak Kiai Cholil menyerahkan tongkat kepada Kiai Hasyim. Namun, jamiyyah yang diidam-idamkan tak kunjung lahir juga. Tongkat “Musa” yang diberikan Kiai Cholil, masih tetap dipegang erat-erat oleh Kiai Hasyim. Tongkat itu tak kunjung dilemparkannya sehingga berwujud “sesuatu” yang nantinya bakal berguna bagi ummat.

    Sampai pada suatu hari, As’ad muncul lagi di kediaman Kiai Hasyim dengan membawa titipan khusus dari Kiai Cholil Bangkalan. “Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk menyerahkan tasbih ini,” kata As’ad sambil menyerahkan tasbih. “Kiai juga diminta untuk mengamalkan bacaan Ya Jabbar Ya Qahhar setiap waktu,” tambah As’ad. Entahlah, apa maksud di balik pemberian tasbih dan khasiat dari bacaan dua Asma Allah itu. Mungkin saja, tasbih yang diberikan oleh Kiai Cholil itu merupakan isyarat agar Kiai Hasyim lebih memantapkan hatinya untuk melaksanakan niatnya mendirikan jamiyyah. Sedangkan bacaan Asma Allah, bisa jadi sebagai doa agar niat mendirikan jamiyyah tidak terhalang oleh upaya orang-orang dzalim yang hendak menggagalkannya.

    Qahhar dan Jabbar adalah dua Asma Allah yang memiliki arti hampir sama. Qahhar berarti Maha Memaksa (kehendaknya pasti terjadi, tidak bisa dihalangi oleh siapapun) dan Jabbar kurang lebih memiliki arti yang sama, tetapi adapula yang mengartikan Jabbar dengan Maha Perkasa (tidak bisa dihalangi/dikalahkan oleh siapapun). Dikalangan pesantren, dua Asma Allah ini biasanya dijadikan amalan untuk menjatuhkan wibawa, keberanian, dan kekuatan musuh yang bertindak sewenang-wenang.

    Setelah menerima tasbih dan amalan itu, tekad Kiai Hasyim untuk mendirikan jamiyyah semakin mantap. Meski demikian, sampai Kiai Cholil meninggal pada 29 Ramadhan 1343 H (1925 M),jamiyyah yang diidamkan masih belum berdiri. Barulah setahun kemudian, pada 16 Rajab 1344 H atau bertepatan dengan 31 Januari 1926, “jabang bayi” yang ditunggu-tunggu itu lahir dan diberi nama Nahdlatul Ulama (NU).

    Setelah para ulama sepakat mendirikan jamiyyah yang diberi nama NU, Kiai Hasyim meminta Kiai Ridhwan Nashir untuk membuat lambangnya. Melalui proses istikharah, Kiai Ridhwan mendapat isyarat gambar bumi dan bintang sembilan. Setelah dibuat lambangnya, Kiai Ridhwan menghadap Kiai Hasyim seraya menyerahkan lambang NU yang telah dibuatnya. “Gambar ini sudah bagus. Namun saya minta kamu sowan ke Kiai Nawawi di Sidogiri untuk meminta petunjuk lebih lanjut,” pesan Kiai Hasyim. Dengan membawa sketsa gambar lambang NU, Kiai Ridhwan menemui Kiai Nawawi di Sidogiri. “Saya oleh Kiai Hasyim diminta membuat gambar lambang NU. Setelah saya buat gambarnya, Kiai Hasyim meminta saya untuk sowan ke Kiai supaya mendapat petunjuk lebih lanjut,” papar Kiai Ridhwan seraya menyerahkan gambarnya.

    Setelah memandang gambar lambang NU secara seksama, Kiai Nawawie memberikan saran konstruktif: “Saya setuju dengan gambar bumi dan sembilan bintang. Namun masih perlu ditambah tali untuk mengikatnya.” Selain itu, Kiai Nawawie juga meminta supaya tali yang mengikat gambar bumi ikatannya dibuat longgar. “selagi tali yang mengikat bumi itu masih kuat, sampai kiamat pun NU tidak akan sirna,” papar Kiai Nawawie. (sumber)

    NU dan politik

    Pertama kali NU terjun pada politik praktis pada saat menyatakan memisahkan diri dengan Masyumi pada tahun 1952 dan kemudian mengikuti pemilu 1955. NU cukup berhasil dengan meraih 45 kursi DPR dan 91 kursi Konstituante. Pada masa Demokrasi Terpimpin NU dikenal sebagai partai yang mendukung Sukarno. Setelah PKI memberontak, NU tampil sebagai salah satu golongan yang aktif menekan PKI, terutama lewat sayap pemudanya GP Ansor.

    NU kemudian menggabungkan diri dengan Partai Persatuan Pembangunan pada tanggal 5 Januari 1973 atas desakan penguasa orde baru. Mengikuti pemilu 1977 dan 1982 bersama PPP. Pada muktamar NU di Situbondo, NU menyatakan diri untuk ‘Kembali ke Khittah 1926’ yaitu untuk tidak berpolitik praktis lagi.

    Namun setelah reformasi 1998, muncul partai-partai yang mengatasnamakan NU. Yang terpenting adalah Partai Kebangkitan Bangsa yang dideklarasikan oleh Abdurrahman Wahid. Pada pemilu 1999 PKB memperoleh 51 kursi DPR dan bahkan bisa mengantarkan Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI. Pada pemilu 2004, PKB memperoleh 52 kursi DPR. (sumber)

    (abi sorban)

  • Tarawih 10 Rakaat di Makkah

    Tarawih 10 Rakaat di Makkah

    cyberaswaja.online – Pada kondisi normal di Masjidil Haram shalat Tarawih 20 rakaat. Ini yang sering saya jadikan dalil empirik bahwa Amaliah Tarawih yang lazim dilakukan di NU menggunakan bukti otentik di Makkah.

    Ramadhan tahun ini jumlah rakaat berkurang. Saya mengira akan dilakukan 8 rakaat. Kalau ini terjadi bisa jadi serangan balik. Ternyata di Masjidil Haram jumlah tarawihnya 10 rakaat. Mana dalilnya? Kalau 8 rakaat dipakai kelompok Salafi, Muhammadiyah dll berdasarkan hadis yang mereka yakini sebagai dalilnya sudah jelas. Ini di Makkah kok 10? Apa jangan-jangan karena shalat Tarawih diqashar sehingga Rukhsoh atau diskonnya 50% gitu?

    Oh ternyata 10 rakaat itu merujuk ke otoritas Fatwa Ulama Saudi yang saat itu dipimpin oleh Syekh Bin Baz. Mana dalil hadisnya? Gak ada! Silahkan cek gambar di bawah:

    berikut cuplikan dari ustazd H. Ma’ruf Khozin dalam page fb

    (abi sorban)

  • Cicit Syekh Nawawi Al Bantani – Ulama Paku Banten sekaligus Paku Bumi Nusantara

    Cicit Syekh Nawawi Al Bantani – Ulama Paku Banten sekaligus Paku Bumi Nusantara

    SORBANSANTRI.COM

    CYBERASWAJA.ONLINE – Abuya Mama Muhammad Abdul Ghufron A Bantani adalah sosok ulama yang saat ini diakui keberadaannya sebagai himayah atau paku bumi nusantara yang masih hidup.

    Ulama yang satu ini sangat jarang dikenali masyarakat Indonesia, bahkan orang Banten sendiri masih sangat banyak yang tak mengenalinya. Dikarnakan Beliau lebih fokus membimbing santri di pesantren dan menciptakan karya2 kitab berbahasa langka yang sekarang bisa dibilang nyaris punah dan sulit ditemukan, seperti Bahasa Suryani dan Bahasa Ibrani. Selain menguasai 2 bahasa ini, Beliau juga mampu menguasai Bahasa Ajam, bahkan Bahasa Seluruh Burung sampai Bahasa Binatang Buas.

    Nama asli Beliau adalah Iyus Sugirman, adapun Muhammad Abdul Ghufron Al Bantani adalah julukan disandarkan oleh gurunya Abuya Mama Armin saat Beliau diberi amalan dengan dikubur hidup2 selama 40hari 40malam. Lalu gurunya berwasiat kepadanya.

    Saat ini Beliau bertempat tinggal di Malang – Jawa Timur dan mendirikan pesantren disana yang sekarang cabangnya sudah ada dimana mana. Semua pesantrennya serba gratis tanpa dipungut biaya sedikitpun.

    Ulama yang satu ini sudah nampak karomahnya sewaktu masih kecil. Banyak sekali keanehan dari diri Beliau yang sulit dicerna akal.

    Yang pasti Kyai ini sangat luar biasa. Penampilannya yang sangat bersahaja membuat orang yg melihatnya bergetar, wajahnya yang memancarkan Nur Ilahi, Beliau bagai magnet kehidupan. Meski Beliau termasuk golongan darah biru yang nasabnya tembus ke Prabu Siliwangi melalui Sultan Hasanuddin bin Syarif Hidayatullah, bahkan tembus hingga Rasulillah SAW, namun hidupnya penuh keprihatinan dan sangat sederhana. Padahal jika inging hidup mewah, tentu Beliau sangat bisa. Namun tidak demikian, Beliau lebih memilih kepentingan umat dibanding kepentingan pribadinya sendiri.

    Semoga Beliau diberi umur panjang dan sehat selalu agar terus dapat membimbing kita semua menuju kedamaian dunia hingga keselamatan di akhirat kelak. Aamiin yaa robbal’aalamiin. (ABI-SORBAN )

  • Doa Buka Puasa (Allahumma Laka Shumtu) Yang Dituduh Dlaif Dan Bidah

    Doa Buka Puasa (Allahumma Laka Shumtu) Yang Dituduh Dlaif Dan Bidah

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online- Ngaji Bareng Daring (Dalam Jaringan/ online) semalam bersama PCI NU Jerman ada pertanyaan yang mengulang terus tiap tahun dari sebuah broadcast yang lagi-lagi menyalahkan doa berbuka puasa “Allahumma Laka Shumtu” yang sudah populer di kalangan Nahdliyyin. Mereka menawarkan doa lain yang sahih, menurut mereka.

    Puasa itu waktu yang tepat untuk banyak-banyak ibadah, bukan menghujat atau menyalahkan. Apalagi saat-saat berbuka puasa adalah momentum tepat untuk berdoa kepada Allah. Bahkan orang yang berbuka puasa ini diberi kemakbulan doa sebagaimana dalam hadits:

    ﺇِﻥَّ ﻟِﻠﺼَّﺎﺋِﻢِ ﻋِﻨْﺪَ ﻓﻄﺮﻩ ﻟَﺪَﻋْﻮَﺓً ﻣَﺎ ﺗُﺮَﺩُّ

    “Sungguh bagi orang yang berpuasa -saat berbuka- memiliki doa yang tidak akan tertolak” (HR Ibnu Majah. Bagi yang hendak menilai dhaif karena ikut syekh Albani silahkan cek di kolom komentar bahwa hadis ini memiliki 3 jalur yang menguatkan antara satu dengan lainnya yang saya kutip dari sesama kelompok mereka, Syekh Syuaib Al Arnauth)

    Karena saat berbuka adalah waktu istijabah dalam berdoa maka boleh pakai doa apa saja. Mau doa dari Nabi, doa sendiri atau apapun. Sebab doa tidak ada syarat harus sahih atau dhaif.

    Terkait tuduhan dhaif dari pengikut syekh Albani maka saya sertakan penilaian sebaliknya dari sesama mereka. Simak saja penjelasan berikut:

    عَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ « اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ ». (رواه أبو داود)

    Telah sampai kepada Muadz bin Zuhrah bahwa jika Nabi shalallahu alaihi wasallam berbuka maka berdoa: “Ya Allah, hanya untuk Mu aku berpuasa, atas rezeki Mu aku berbuka” (HR Abu Dawud)

    Doa ini dituduh bidah oleh sebagian kalangan lantaran statusnya adalah dhaif. Benarkah? Tidak benar, sebab hadis ini memiliki banyak jalur. Misalnya (1) dalam riwayat Thabrani di kitab Mu’jam Ausath, di dalamnya ada perawi Dawud bin Zabarqan, ia dlaif (2) riwayat Thabrani dalam Mu’jam Kabir, di dalamnya ada perawi Abdul Malik bin Harun, ia dlaif (Majma’ Az-Zawaid 3/204). Kendatipun dlaif, ulama Salafi lainnya berkata dan menegaskan hadis ini memiliki banyak Syawahid:

    تعقيب : قال عبد القادر الأرناؤوط 1 / 162 : و لكن له شواهد يقوى بها (روضة المحدثين – ج 10 / ص 304)

    Catatan: Abdul Qadir Al-Arnauth berkata: “Namun hadis ini memiliki banyak riwayat eksternal yang menguatkannya” (Hamisy Raudlah Al-Muhadditsin, 10/304)

    ( ma’ruf khozin ) 

  • BANTAHAN TERHADAP PENDAKWAH PERAMAL BENCANA

    SORBANSANTRI.COM

    Oleh : KH Ma’ruf Khozin
    (Penasehat GMNU Jatim)

    Misteri Pertengahan Ramadhan Di Hari Jum’at (8 Mei 2020)

    Telah beredar sebuah hadis yang menyebutkan terjadinya hal-hal yang menakutkan di pertengahan Ramadhan ini. Umat Islam yang dalam keadaan susah menghadapi musibah Corona masih ditakut-takuti lagi dengan tanda-tanda kiamat.

    ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺃَﺑُﻮ ﻋُﻤَﺮَ، ﻋَﻦِ اﺑْﻦِ ﻟَﻬِﻴﻌَﺔَ، ﻗَﺎﻝَ: ﺣَﺪَّﺛَﻨِﻲ ﻋَﺒْﺪُ اﻟْﻮَﻫَّﺎﺏِ ﺑْﻦُ ﺣُﺴَﻴْﻦٍ، ﻋَﻦْ ﻣُﺤَﻤَّﺪِ ﺑْﻦِ ﺛَﺎﺑِﺖٍ اﻟْﺒُﻨَﺎﻧِﻲِّ، ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻴﻪِ، ﻋَﻦِ اﻟْﺤَﺎﺭِﺙِ اﻟْﻬَﻤْﺪَاﻧِﻲِّ، ﻋَﻦِ اﺑْﻦِ ﻣَﺴْﻌُﻮﺩٍ، ﺭَﺿِﻲَ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ، ﻋَﻦِ اﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ:

    Abu Umar bercerita kepada kami dari Ibnu lahi’ah, Abdul Wahhab bercerita kepada saya, dari Muhammad bin Tsabit dari ayahnya, dari Harits Al-Hamdani dari Ibnu Mas’ud dari Nabi shalallahu alaihi wasallam

    «ﺇِﺫَا ﻛَﺎﻧَﺖْ ﺻَﻴْﺤَﺔٌ ﻓِﻲ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﻣَﻌْﻤَﻌَﺔٌ ﻓِﻲ ﺷَﻮَّاﻝٍ، ﻭَﺗَﻤْﻴِﻴﺰُ اﻟْﻘَﺒَﺎﺋِﻞِ ﻓِﻲ ﺫِﻱِ اﻟْﻘَﻌْﺪَﺓِ، ﻭَﺗُﺴْﻔَﻚُ اﻟﺪِّﻣَﺎءُ ﻓِﻲ ﺫِﻱِ اﻟْﺤِﺠَّﺔِ ﻭَاﻟْﻤُﺤَﺮَّﻡِ، ﻭَﻣَﺎ اﻟْﻤُﺤَﺮَّﻡُ» ، ﻳَﻘُﻮﻟُﻬَﺎ ﺛَﻼَﺛًﺎ، «ﻫَﻴْﻬَﺎﺕَ ﻫَﻴْﻬَﺎﺕَ، ﻳُﻘْﺘَﻞُ اﻟﻨَّﺎﺱُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻫَﺮْﺟًﺎ ﻫَﺮْﺟًﺎ» ﻗَﺎﻝَ:

    “Jika terjadi TERIAKAN di bulan Ramadhan maka akan terjadi huru-hara di bulan Syawal, perpecahan bangsa di bulan Dzulqa’dah, pembunuhan di bulan Dzulhijjah dan Muharram. Nabi mengulang 3x. “Jauh sekali. Jauh sekali. Manusia akan dibunuh di bulan itu secara berbondong-bondong”

    ﻗُﻠْﻨَﺎ: ﻭَﻣَﺎ اﻟﺼَّﻴْﺤَﺔُ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ اﻟﻠَّﻪِ؟ ﻗَﺎﻝَ: ” ﻫَﺪَّﺓٌ ﻓِﻲ اﻟﻨِّﺼْﻒِ ﻣِﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺟُﻤُﻌَﺔٍ، ﻓَﺘَﻜُﻮﻥُ ﻫَﺪَّﺓٌ ﺗُﻮﻗِﻆُ اﻟﻨَّﺎﺋِﻢَ، ﻭَﺗُﻘْﻌِﺪُ اﻟْﻘَﺎﺋِﻢَ، ﻭَﺗُﺨْﺮِﺝُ اﻟْﻌَﻮَاﺗِﻖَ ﻣِﻦْ ﺧُﺪُﻭﺭِﻫِﻦَّ، ﻓِﻲ ﻟَﻴْﻠَﺔِ ﺟُﻤُﻌَﺔٍ، ﻓِﻲ ﺳَﻨَﺔٍ ﻛَﺜِﻴﺮَﺓِ اﻟﺰَّﻻَﺯِﻝِ

    Kami bertanya: Apa teriakan itu wahai Rasulullah? Nabi menjawab: “Gemuruh di separuh Ramadhan di malam Jum’at. Gemuruh ini akan membangunkan orang tidur, mendudukkan orang berdiri, mengeluarkan wanita-wanita muda dari peraduannya. Di malam Jum’at. Di tahun yang banyak terjadi gempa”

    ﻓَﺈِﺫَا ﺻَﻠَّﻴْﺘُﻢُ اﻟْﻔَﺠْﺮَ ﻣِﻦْ ﻳَﻮْﻡِ اﻟْﺠُﻤُﻌَﺔِ ﻓَﺎﺩْﺧُﻠُﻮا ﺑُﻴُﻮﺗَﻜُﻢْ، ﻭَاﻏْﻠِﻘُﻮا ﺃَﺑْﻮَاﺑَﻜُﻢْ، ﻭَﺳُﺪُّﻭا ﻛُﻮَاﻛُﻢْ، ﻭَﺩِﺛِّﺮُﻭا ﺃَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ، ﻭَﺳُﺪُّﻭا ﺁﺫَاﻧَﻜُﻢْ، ﻓَﺈِﺫَا ﺣَﺴَﺴْﺘُﻢْ ﺑﺎﻟﺼﻴﺤﺔ ﻓَﺨِﺮُّﻭا ﻟِﻠَّﻪِ ﺳُﺠَّﺪًا، ﻭَﻗُﻮﻟُﻮا: ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ اﻟْﻘُﺪُّﻭﺱِ، ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ اﻟْﻘُﺪُّﻭﺱِ، ﺭَﺑُّﻨَﺎ اﻟْﻘُﺪُّﻭﺱُ، ﻓَﺈِﻥَّ ﻣَﻦْ ﻓَﻌَﻞَ ﺫَﻟِﻚَ ﻧَﺠَﺎ، ﻭَﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﻔْﻌَﻞْ ﺫَﻟِﻚَ ﻫَﻠَﻚَ ”

    “Jika kalian shalat subuh di hari Jum’at maka masuklah ke rumah kalian, tutup pintu, rapatkan jendela, pakailah selimut, tutup telinga kalian. Jika kalian merasa ada teriakan maka sujudlah kepada Allah dan ucapkan “Subhanal Quddus 2x. Rabbuna Al-Quddus”. Barang siapa melakukan hal itu akan selamat. Jika tidak maka akan binasa”

    Hadis ini terdapat dalam kitab Al-Fitan karya Syekh Nuaim bin Hammad. Berikut penilaian Perawi Hadis menurut para Huffadz di bidang ilmu hadis:

    1. Ibnu Lahi’ah

    Para ulama menilainya dhaif karena ia memiliki kitab yang terbakar sehingga daya ingatnya berubah.

    2. Abdul Wahhab bin Husain

    Al-Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani berkata:

    “ﻋﺒﺪ اﻟﻮﻫﺎﺏ” ﺑﻦ ﺣﺴﻴﻦ ﻋﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺛﺎﺑﺖ ﻭﻋﻨﻪ اﺑﻦ ﻟﻬﻴﻌﺔ ﺃﺧﺮﺝ ﻟﻪ اﻟﺤﺎﻛﻢ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ اﻷﻫﻮاﻝ ﻣﻦ اﻟﻤﺴﺘﺪﺭﻙ ﺣﺪﻳﺜﺎ ﻭﻗﺎﻝ ﺃﺧﺮﺟﺘﻪ ﺗﻌﺠﺒﺎ ﻭﻋﺒﺪ اﻟﻮﻫﺎﺏ ﻣﺠﻬﻮﻝ ﻗﺎﻝ اﻟﺬﻫﺒﻲ ﻓﻲ ﺗﻠﺨﻴﺼﻪ ﻗﻠﺖ ﺫا اﻟﺨﺒﺮ ﻣﻮﺿﻮﻉ اﻧﺘﻬﻰ

    Abdul Wahhab bin Husain, ia meriwayatkan dari Muhammad bin Tsabit, ia dari Ibnu Lahi’ah. Al-Hakim meriwayatkan 1 hadis dalam Al-Mustadrak bab Al-Ahwal. Ia meriwayatkan karena takjub saja. Abdul Wahhab ini tidak diketahui. Adz-Dzahabi berkata: “Hadis ini palsu” (Lisan Al-Mizan 2/139)

    3. Harits Al-A’war

    Terkait perawi yang 1 ini langsung dikomentari oleh Imam Muslim dalam Mukadimah Sahihnya:

    ﻋَﻦِ اﻟﺸَّﻌْﺒِﻲِّ، ﻗَﺎﻝَ: ﺣَﺪَّﺛَﻨِﻲ اﻟْﺤَﺎﺭِﺙُ اﻷَْﻋْﻮَﺭُ اﻟْﻬَﻤْﺪَاﻧِﻲُّ، ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻛﺬاﺑﺎ. ﻋَﻦْ ﻣُﻐِﻴﺮَﺓَ، ﻗَﺎﻝَ: ﺳَﻤِﻌْﺖُ اﻟﺸَّﻌْﺒِﻲَّ، ﻳَﻘُﻮﻝُ: ﺣَﺪَّﺛَﻨِﻲ اﻟْﺤَﺎﺭِﺙُ اﻷَْﻋْﻮَﺭُ، ﻭَﻫُﻮَ ﻳَﺸْﻬَﺪُ ﺃَﻧَّﻪُ ﺃَﺣَﺪُ اﻟْﻜَﺎﺫِﺑِﻴﻦَ

    “Sya’bi berkata bahwa Harits al-A’war Al-Hamdani ini adalah sangat pembohong”

    Al-Hafidz Adz-Dzahabi memberi penilaian tengah-tengah soal perawi ini dalam kitabnya Siyar A’lam An-Nubala’ 4/152. Beliau berkata:

    ﻓَﺄَﻣَّﺎ ﻗَﻮْﻝُ اﻟﺸَّﻌْﺒِﻲِّ اﻟﺤَﺎﺭِﺙُ ﻛَﺬَّاﺏٌ, ﻓَﻤَﺤْﻤُﻮْﻝٌ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻧَّﻪُ ﻋَﻨَﻰ ﺑِﺎﻟﻜَﺬِﺏِ اﻟﺨَﻄَﺄَ ﻻَ اﻟﺘَّﻌَﻤُّﺪَ

    “Maksud perkataan Sya’bi bahwa Haris ini pembohong diarahkan sebagai kesalahan, bukan bohong secara sengaja”

    ﻭَﻛَﺬَا ﻗَﺎﻝَ ﻋَﻠِﻲُّ ﺑﻦُ اﻟﻤَﺪِﻳْﻨِﻲِّ، ﻭَﺃَﺑُﻮ ﺧَﻴْﺜَﻤَﺔَ: ﻫُﻮَ ﻛَﺬَّاﺏٌ

    “Demikian pula perkataan Ali bin Madini dan Abu Khaitsamah bahwa Harits adalah sangat pendusta”

    ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﻳَﺤْﻴَﻰ ﺑﻦُ ﻣَﻌِﻴْﻦٍ، ﻓَﻘَﺎﻝَ: ﻫُﻮَ ﺛِﻘَﺔٌ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻣَﺮَّﺓً: ﻟَﻴْﺲَ ﺑِﻪِ ﺑَﺄْﺱٌ. ﻭَﻛَﺬَا ﻗَﺎﻝَ اﻹِﻣَﺎﻡُ اﻟﻨَّﺴَﺎﺋِﻲُّ: ﻟَﻴْﺲَ ﺑِﻪِ ﺑَﺄْﺱٌ, ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺃَﻳْﻀﺎً: ﻟَﻴْﺲَ ﺑِﺎﻟﻘَﻮِﻱِّ

    Yahya bin Ma’in berkata: “Ia terpercaya”. Dalam kesempatan lain: “Dia tidak apa-apa”. Demikian pula Imam Nasa’i. Pada kesempatan lain Nasa’i berkata: “Harits bukan perawi yang kuat”

    ﺛُﻢَّ ﺇِﻥَّ اﻟﻨَّﺴَﺎﺋِﻲَّ ﻭَﺃَﺭْﺑَﺎﺏَ اﻟﺴُّﻨَﻦِ اﺣْﺘَﺠُّﻮا ﺑِﺎﻟﺤَﺎﺭِﺙِ

    Kemudian Nasa’i dan para ulama pengarang kitab hadis As-Sunan berhujjah dengan Harits

    ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺃَﺑُﻮ ﺣَﺎﺗِﻢٍ: ﻻَ ﻳُﺤْﺘَﺞُّ ﺑِﻪِ.

    Abu Hatim berkata: “Harits tidak bisa dijadikan Hujjah”

    ﻭَﻫُﻮَ ﻣِﻤَّﻦْ ﻋِﻨْﺪِﻱ ﻭﻗﻔﺔ ﻓِﻲ اﻻﺣْﺘِﺠَﺎﺝِ ﺑِﻪِ

    “Harits ini menurut saya (Adz-Dzahabi) termasuk orang yang tidak boleh dijadikan Hujjah”

    Disamping hadis ini ada yang menilai hadis palsu, juga ada yang menilai dhaif, maka tidak bisa dijadikan Hujjah. Ternyata Syekh Nuaim bin Hammad yang mencantumkan hadis tersebut di dalam kitab Al-Fitan telah membuat judul khusus:

    ﻣَﺎ ﻳُﺬْﻛَﺮُ ﻣِﻦْ ﻋَﻼَﻣَﺎﺕٍ ﻣِﻦَ اﻟﺴَّﻤَﺎءِ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻓِﻲ اﻧْﻘِﻄَﺎﻉِ ﻣُﻠْﻚِ ﺑَﻨِﻲ اﻟْﻌَﺒَّﺎﺱِ

    “Beberapa riwayat tentang tanda-tanda dari langit soal terputusnya kerajaan Bani Abbas”.

    Dengan demikian riwayat ini sangat multi tafsir, hampir setiap Ramadhan yang pertengahan Ramadhan jatuh pada Hari Jum’at maka hadis ini selalu ditampilkan. Wallahu A’lam.

    •] Tetap hadapi Ramadhan dengan bahagia dan buka puasa dengan penuh nikmat

    #GenerasiMudaNU 

    (abi sorban)

  • 40 Hari Meninggalnya Ndan ALFA

    40 Hari Meninggalnya Ndan ALFA

    SORBAN NU MOJOKERTO:Tidak terasa 40 hari sudah Sahabat Ir.H.ALFA ISNAENi, M.Si (Kasatkornas BANSER NU) meninggalkan kita semua,meninggalnya Ndan ALFA yang sangat tiba tiba membuat para Keluarga,famili,sahabat sahabat BANSER sangat terpukul dan sangat kehilangan. Dimana dalam memperingati 40 Hari Meninggalnya *Ndan ALFA* akan dilaksanakan pada hari SABTU Malam,tanggal:18 April 2020,Bertampat di kediaman keluarga besar Ndan ALFA yang berada di Dusun Bendil,Kel.Panggungrejo, Kec/Kab TULUNGAGUNG.

    *Ndan ALFA* …. adalah panggilan akrab beliau dari semua Sahabat2 dalam Organisasi ANSOR-BANSER,bahkan di luar organisasi dan masyarakat semuanya memanggilnya *Ndan ALFA*.
    Beliau adalah sosok pemimpin yang tegas,tangkas,berwibawa serta bertanggung jawab kepada tugas serta kewajibannya, sehingga beliau dihormati dan disukai Sahabat2 yang ada di jajaran bawahnya.
    Ndan ALFA menitih karirnya mulai dari Bawah,baik itu dalam ber-Organisasi maupun dalam Ber-Politik,diantaranya : Ketua IPNU dan GP Ansor Kabupaten,KNPI,SARBUMUSI,DPRD Kabupaten,dan lain sebagainya.
    Serta yang terakhir ini sampai tiada,beliau dipercaya untuk mengemban tugas yang sangat berat,yaitu sebagai KASATKORNAS BANSER NU (Kepala Satuan Kordinasi Nasional Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulam’)

    SORBANSANTRI.COM

    BANSER adalah Pesantren Kedisiplinan,Bela Negara dan Penjaga Pancasila Dalam Kerangka Islam AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH ANNAHDLIYAH” adalah salah satu ucapan dan wejangan Ndan ALFA kepada Sahabat2 BANSER,yang masih teringat di telinga saya….!

    !Sekilas Profil tentang Ndan ALFA.

    Nama : Ir.H.ALFA ISNAINI, M.Si
    TTL. : Tulungagung,22 Mey 1967
    Usia. : 53 tahun
    Agama. : Islam
    Ayah. : H.M.Moestamar (alm)
    Ibu. : Hj.Musrini/Arini (78 tahun)
    Saudara : Anak ke-4 dari 9 saudara.

    1. H. Hadiono.
    2. H. Heriyadi (alm).
    3. H. Moch Helmy Argo.
    4. H. Alfa Isnaeni (alm)
    5. Asih Indarti.
    6. Syamsu Laila.
    7. Nurhadi.
    8. Muhammad Haryono.
    9. Muhammad Kristiono.
    SORBANSANTRI.COM
    Sekilas tentang profil Ndan ALFA

    Semoga Engkau disana diberikan tempat disisi-NYA….
    Berbahagialah Engkau disana,jangan khawatirkan kami serta Negeri ini. Kami-BANSER…. Sahabat2 Mu akan terus dan terus berjuang untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI dari rong rongan orang2,kelompok yang mau merusak dan menghancurkan NKRI ini
    PerjuanganMU yang belum selesai akan kami teruskan…… Sahabatku.!!

    Mojokerto,17/04/2020

    Sumb. Haryono
    red. Irul SORBAN NU

  • Aman Dari Corona Karena Merasa Dekat Dengan Alloh ?

    Aman Dari Corona Karena Merasa Dekat Dengan Alloh ?

    SORBAN Infokom – Merasa aman dari Corona karena merasa dekat dengan Allah?? Anda KELIRU!!
    Ketahuilah Wahai Saudaraku.. Rasulullah adalah manusia yang paling dekat dengan Allah, bersembunyi di Gua Tsur dari kejaran Kafir Quraisy. Bukan karena dia takut atau pengecut, tapi RISALAH AGAMA ini harus sampai ke generasi
    berikutnya..

    Nabi Musa Alaihi Salam adalah salah satu Ulul Azmi, salah satu manusia yang paling dicintai oleh Allah  Subhanawataala berlari menyeberangi laut mati menghindari kejaran Firaun. Bukan karena dia takut atau pengecut tapi Agama ini tidak menginginkan umatnya mati konyol.

    Nabi Ibrahim Alaihi Salam adalah manusia kedua yang paling dicintai oleh Allah Subhana waataala pernah berlari dari kejaran Namrudz. Bukan karena dia takut atau pengecut tapi agama ini kadang harus mengalah untuk menang.

    Khalifah Umar Radhiyallahu Anhu adalah manusia yang dijamin masuk syurga pernah menghindari kampung yang terkena wabah (tha’un). Bukan karena dia takut atau pengecut tapi beliau berpendapat bahwa berlarilah dari takdir buruk ke takdir yang baik.

    Dan kalian yang bukan Rasul, bukan Nabi, bukan pula manusia yang dijamin Syurga dengan pongah seolah menantang wabah (tha’un) dengan berkata jika kita dekat dengan Allah maka wabah itu tidak akan mendekati kita.

    Ketahuilah Saudaraku, jangan engkau JAHIL dengan ilmumu..bukankah lebih baik menghindari Mudharat daripada mengambil Manfaat?? Apa yang di putuskan MUI itulah yang terbaik untuk saat ini. Insya Allah sudah sesuai tuntunan. Yakin dan percaya para Ulama dalam mengambil keputusan di hati kecilnya pasti menangis sama
    seperti kita. Samina’na Wa Ato’na di Rumah Saja. Oleh
    NU Kapuk Cengkareng (red.abi)

  • MENYERANG PEMERINTAH DALAM KESEMPITAN

    MENYERANG PEMERINTAH DALAM KESEMPITAN

    SORBAN Infokom – Kita sdg merasakan getirnya serangan corona, konsentrasi pemerintah harus fokus, selain mengatasi penyakit yg memggerus kekuatan dunia, di waktu yg sama pemerintah harus mengendalikan berjalannya roda ekonomi agar tidak stug.
    Bukan pekerjaan mudah, saya tidak bisa membayangkan bgmn cara Pak Jokowi memutar pikiran pada setiap detiknya, bgmn koordinasi dgn para menteri,dan jajaranya .

    Negara dgn mayoritas agama yg selalu dekat dgn Tuhan, mengaku beradab dan teriakannya menyambangi langit ke tujuh ini ternyata banyak manusianya yg meletakkan mulutnya di jepit pantatnya, dan membiarkan otaknya pindah ke lututnya.

    SORBANSANTRI.COM

    Adalah orang-orang terpelajar seperti, FZ, Haikal Hasan, RR, SBY, AHY, dan sejenisnya, mereka tidak hentinya menyerang pemerintah seolah semua salah pemerintah ,
    Bak pepatah lama, Cermin di pajang, berkaca di celah lubang, pantulannya tak terlihat mukanya.

    Apakah mereka beradab, di tengah negara dilanda bencana yg meresahkan dunia, mereka mencari kesempatan menyerang, tak ada jeda sejak semula,
    apakah oposisi itu harus menghabisi,
    apakah mereka mengenal bangsanya, bagaimana pikirannya di tengah kesusahan mereka berdendang menyerang.
    * Lock down kata AHY yg nyukur kumisnya saja belum bs rata,
    *RR blg rakyat tdk butuh Ibu Kota Baru, rakyat butuh presiden baru, *SBY bilang rakyat tdk akan resah karena corona kalau pemerintah kredibel,
    *FZ gak usah di komen, biarkan saja sampah busuk itu menggunung dan longsor dgn sendirinya.
    *HH bukan kelas kita mengomentarinya.

    Anak bau kencur yg kelimis krn buapaknya presiden yg setengah sinden ini jadi setali tiga uang, like father jd herder.
    Dia mbacot lock down, apa dia ngerti alurnya, apa dia mikir resikonya, dia pikir terus kl bs blg lock down dia dianggap bisa, preet..mayor bekas mau ngegas, lepaslah pedalnya. Nanti saja kalau sdh pakai matic enak nyetirnya.

    SBY, apa kurang kaca sekaligus monumen Hambalang yg sengaja di sisakan Pak Jokowi agar dia selalu bisa kesana saat rindu mencari judul lagu, atau kangen saat-saat nyinden yg lalu.
    Pak Jokowi itu khabarnya tidur hanya 3 jam sehari, makan seadanya, pikirannya hanya kerja buat rakyatnya. Eh kita punya sejarah ada presiden bekas yg sempat nyinden dan 6 kali rekaman. Pertanyaannya, kapan dia kerja, kapan dia mikirin bangsanya. Tapi patut saja, kita tau apa hasilnya, ninggalin hutang yg hanya buat subsidi, dan dilunasi Jokowi.

    RR, manusia putus asa ini dari zaman Gusdur diangkat menteri lalu tergusur, zaman Jokowi di kasi kesempatan di gusur lagi, jadi kesimpulannya memang kapasitasnya gak ada, bisanya mencela tanpa analisa, ibarat anak kera di kasi pisang, ngupasnya saja dia tak bisa.

    Banyak dan ribuan alinea kl kita mau menulis cerita orang yg cuma bs mbacot gak bisa kerja, mereka hanya gaya saja, angkuh, sok kaya, pdhl asal usul hartanya gak jelas juntrungannya. Kalau yg belum kaya, teriak sampai serak ujungnya buka lapak juga.

    Marilah coba jeda mencela, bangsa ini sdg menghadapi bahaya, jangan biasakan menari diatas ring, padahal lawannya masih ngurus yg lebih penting. Pertandingan ada waktunya, jangan mengaku juara kalau bertanding tanpa lawan tanding.

    BERHENTILAH BERTERIAK YG TANPA AKHLAK, KARENA BANGSA INI SEDANG TERSEDAK.

    SIAPAPUN ANDA, KALAU MASIH DI INDONESIA, ANDA MASIH MENGHIRUP UDARANYA. JANGAN TANYA CORONA DARI MANA KARENA KITA WAJIB MENYELAMATKANNYA.

    INDONESIA DALAM BAHAYA BUKAN WAKTUNYA ANDA CARI MUKA.

    by. Iyyas Subiakto✍️