Kategori: Opini dan Analisis

Artikel opini, analisis mendalam, dan editorial tentang berbagai topik yang relevan.

  • Si Mbah Kyai Moh. Mustofa, Kyai Dungdeng Anak Singokerto Asal Kedungsumur

    Si Mbah Kyai Moh. Mustofa, Kyai Dungdeng Anak Singokerto Asal Kedungsumur

    SORBANSANTRI.COM

    Canggu, selain memiliki jejak jejak sejarah Majapahit yang berlimpah, juga menyimpan sejarah agung seorang ulama yang pernah lahir di wilayah itu. Namanya Mustamin anaknya Singokerto, ki Lurah Kedungsumur Canggu Jetis Mojokerto. Di mulai dari kenakalan Mustamin saat masih muda. Ia berguru kanuragan dari berbagai guru. Tidak hanya ilmu putih, ilmu hitam pun ia serap. Dan yang menjadi cirinya kala itu, ilmu itu harus bisa dibuktikan. Cara membuktikannya dengan bertarung, mencuri, dan perbuatan asusila lainnya.

    Perbuatan Mustamin itu membuat banyak orang resah. Keamanan terganggu. Dan semua orang menjadi takut kepadanya. Akhirnya menggiring kepada para tokoh bermusyawarah untuk menyelesaikan permasalahan ini. Ki Lurah Singokerto pun hadir. Ia menjadi gundah gulana saat mengetahui bahwa anaknyalah yang ternyata berulah. Kepada peserta musyawarah itu Ki Lurah Singokerto berjanji akan menyelesaikannya sendiri terkait ulah anaknya. Pak Lurah pun pergi menemui anaknya, dan menanyakan tujuan dari keonaran yang ia perbuat. Dari percakapan antara bapak dan anak itu, akhirnya Ki Lurah Singokerto faham, bahwa anaknya ingin menjadi dungdeng (sakti). Dan Ki Lurah berjanji akan mencarikan guru yang hebat yang bisa membuat ia menjadi orang yang sakti mandraguna.

    Mustamin kemudian dibawa mondok ke Pondok Sidosermo -Surabaya. Pada saat itu yang menjadi pengasuh adalah KH. Baidlowi. Di Pondok Sidosermo itu Mustamin tidak diajar mengaji, tetapi hanya ditugasi menabuh beduk untuk sholat lima waktu. Karena Mustamin tidak pernah ngaji dan hanya menabuh beduk selama nyantri, maka ia sering diejek teman temannya, akan memperoleh ilmu apa kelak kalau nyantrinya hanya menabuh beduk saja. Tetapi dijawab oleh Mustamin, kalau yang ia perbuat hanya menaati perintah gurunya.

    Mustamin nyantri ke Pondok Sidosermo selama satu tahun. Setelah itu ia melanjutkan nyantri di daerah Pati. Di pondok Pati Jawa Tengah itu pun, ia tidak diajar ngaji oleh gurunya. Ia hanya ditugasi untuk menata dampar para santri yang hendak mengaji. Ia sendiri saat dimulai ngaji, selalu diusir oleh gurunya. Perlakuan gurunya itu membuat nestapa Mustamin. Ia pun nekat untuk ikut ngaji. Setiap Kyainya memberi ngaji kepada santri-santrinya, ia pun naik ke atas genting, mendengarkan isi pengajiannya. Hal itu dilakukan terus menerus. Tetapi pada suatu saat, ia tertidur. Dan kemudian terjatuh dari atap sampai ke bawah di depan pintu.

    Bertepatan pula sang Kyai telah selesai dan melangkahkan kaki ke pintu keluar. Sang Kyai kaget dan memarahi Mustamin. Mustamin meminta maaf. Ia mengaku melakukan itu semua karena ingin mengaji. Kyainya tetap memarahi dan mengusirnya sambil mengatakan, “Kalau begitu ilmuku ambil semua”

    Kata kata Kyai itu yang kemudian menjadi sebab ilmu laduni diperoleh oleh Mustamin. Mustamin memiliki ilmu tingkat tinggi. Ia pun pandai membaca kitab kuning. Perbendaharaan kitabnya pun begitu melimpah.

    Kata Ustad Nur Aliman, Ketua Takmir Masjid Al Mustofa yang saya temui, tentang ilmu laduni itu dan penguasaan teks Arab KH. Muh. Mustofa, dibuktikan dengan pengakuan santri santri KH. Muh. Mustofa sendiri yang pernah ngaji kitab kitab berbahasa Arab. Koleksi kitab dari perpustakaan peninggalan KH. Mustofa sendiri juga berjimbun. Bahkan KH. Muh. Mustofa sendiri juga memiliki karya kitab berbahasa Arab tentang Thoriqoh. Sayangnya Ustad Nur Aliman tidak menyimpannya.

    Setelah dari Pati, Mustamin nyantri ke Pondok di Jrebeng Krian Sidoarjo. Entah pondoknya namanya apa. Ustad Nur Aliman menyebut bahwa waktu itu yang menjadi pengasuhnya bernama KH. Dasuki. Dengan KH. Dasuki ini, Mustamin berbaiat thoriqot Naqsabandiyah Kholidiyah. Ada juga yang bilang kalau thoriqotnya adalah Naqsabandiyah Qodiriyah.

    Tetapi sebelum berbaiat, Mustamin memperoleh perlakuan mengenaskan dari santri santrinya KH. Dasuki. Ia tidak diperkenankan untuk tidur di Pondok. Pun di Masjid. Para santri pernah mendengar sepak terjang Mustamin sebelumnya. Konon, Mustamin, ketika mempelajari ilmu tertentu, pernah meminum darahnya anjing. Karena hal itulah, kemungkinan para santri itu menganggap Mustamin itu najis.

    Perlakuan para santri itu dihadapi dengan sabar. Mustamin kemudian tidur di lapangan.

    Saat KH. Dasuki hendak melaksanakan sholat malam, ia terkaget kaget melihat sinar silau yang menembus langit di tengah lapangan. Dan ternyata sinar itu berasal dari seseorang yang tidur di lapangan. Akhirnya KH. Dasuki menandai santri yang tidur itu dengan memberi tali pada sarungnya. Dan pada akhirnya KH. Dasuki siapa yang tubuhnya bersinar menembus langit itu.

    Selesai berguru ke KH. Dasuki, Mustamin pulang ke rumahnya. Kepada ayahnya ia meminta untuk dibuatkan Masjid. Dan permintaan itu dikabulkannya. Warga berduyun duyun ikut membangunkan Masjid. Dan di Masjid al Mustofa itulah Mustamin memulai dakwahnya. Ia mulai menerima santri.

    Ditengah kesibukannya mengajar ngaji para santrinya, ia merasa belum sempurna perjalanannya sebelum berangkat haji. Ia pun izin kepada ibunya, dan diberi izin untuk melaksanakan haji. Usai menjalankan ibadah haji itulah namanya berubah. Ia kemudian dikenal dengan nama KH. Muhammad Mustofa.

    Nama KH. Muhammad Mustofa semakin harum ditengah masyarakat. Banyak santri dari berbagai daerah ikut ngaji dan mengikuti thoriqohnya. Santrinya pun beragam macam. Maling maling celuring pun ditaklukan dan seketika berubah menjadi santrinya. Pun dengan orang orang sakti, mampu ditandinginya dan kemudian menjadi santrinya.

    Apabila kamisan, mungkin semacam khususiyah, dzikir khusus bagi pengikut thoriqoh, kata Ustad Nur Aliman menirukan salah satu santri KH. Muhammad Mustofa yang pernah ditemuinya, Masjid Al-Mustofa bagaikan pasar. Semua orang tumplek blek menjadi satu. Mereka ikut thoriqohan dan ngaji kepada KH. Muhammad Mustofa.

    Ada cerita menarik, ada salah satu santrinya yang berguru kepada KH. Muhammad Mustofa dengan tujuan ingin sakti. Kemudian oleh KH. Muhammad Mustofa, ia ditempatkan disebuah ruangan, semacam suluk, disuruh berdzikir dan riyadoh selama empat puluh hari. Selama riyadoh itu, ia dibukakan hijab hijabnya. Sampai selesai riyadohnya, ia kemudian menyatakan tidak ingin sakti lagi. Ia hanya ingin memandang Allah semata. Subhanallah.

    KH. Achyat Halimi dari pengakuan santri KH. Muhammad Mustofa, Mbah Aman, Sesepuh Masjid Tiban, menyatakan bahwa KH. Achyat Chalimi juga pernah menjadi santri KH. Muhammad Mustofa. Bahkan beberapa waktu pernah menggantikan posisi imam saat khususiyah.

    Pun Kyai Bajuri, si Mbah Kyai-nya IAI Uluwiyah Mojosari, juga tercatat sebagai santri dari KH. Muhammad Mustofa. Beliau belajar kanuragan dalam upaya ikut berjuang menghadapi Belanda.

    Bisa jadi pula, pejuang pejuang kemerdekaan, menjadikan KH. Muh. Mustofa sebagai jujugan selama perang kemerdekaan. Mengingat pada usia itu, KH. Muhammad Mustofa tergolong Kyai yang disepuhkan. Juga terkenal akan ke-dongdengan-nya.

    Ustad Nur Aliman menceritakan pengalamannya menemui santri santri KH. Muhammad Mustofa yang masih ada. Hampir saat ditemui dan menceritakan sosok KH. Muhammad Mustofa, rata rata menangis tersedu sedan. Ada rasa rindu yang menyeruak. Lidah seakan kelu untuk mengucapkan keagungan dari KH. Muhammad Mustofa.

    Satu dua ada yang dengan jelas bercerita. Seperti KH. Ach Qusyairi Mansur, generasi kedua dari Pondok Pesantren Darul Hikmah Sawahan Mojosari. Saat KH. Muhammad Mustofa memiliki seorang anak. Sang Kyai memperoleh isyarah kalau anaknya akan kelak ketika besar akan menjadi nakal dan tidak memiliki jalan taubat. Karenanya KH. Muhammad Mustofa mengumpulkan para santri untuk berdoa kepada Allah dengan membacakan al-Fatihah agar Allah memberikan yang “terbaik” untuk anaknya. Kecuali KH. Ach Qusyairi Mansur. Ia tidak mau membaca al-Fatihah. Katanya setelah ketahuan dan ditanya oleh KH. Muhammad Mustofa, ia tidak tega kalau seorang anak didoakan meninggal dunia. Ia pun dihukum oleh KH. Mustofa dengan membaca Al Fatihah seribu kali. Usai membaca Al-Fatihah itu, KH. Mustofa mendoakannya menjadi Kyai. Dan terbukti kemudian ia menjadi Kyai besar.

    Dari peristiwa itu, pada akhirnya anak dari KH. Muhammad Mustofa itu memang benar benar meninggal dunia. KH. Muhammad Mustofa tidak memiki keturunan setelah itu. Dan ia pun tidak benar benar pula secara sareh menunjuk khalifah pengganti beliau. Sehingga sempat terjadi kevakuman dalam keberlanjutan throriqohnya. Namun dikemudian hari ada salah satu santrinya bermimpi dan diberi tongkat sebagai penanda estafet kepemimpinan berikutnya. Kata Ustad Nur Aliman, namanya Mustofa dan punya anak yang bernama Mustamin. Asal Sawahan Bangsal.

    Tercatat, KH. Muhammad Mustofa meninggal pada tanggal 27 September 1955. Makamnya berada dibelakang Masjid al Mustofa Canggu. Tiap tahun, khususnya pada bulan Saffar, peringatan Haul dilakukan. Pada saat haul inilah anak dan cucu cucu santrinya dulu masih berkumpul untuk memperingati Mbah Kyai Mustofa. Wallahu alam.

    Isno El Kayyis
    Ketua LTN NU Kab. Mojokerto

    Sumber Tulisan dari Wawancara dengan Ustad Nur Aliman di rumahnya, Desa Canggu, pada tanggal 21 Januari 2020. Ustad Nur Aliman saat ini adalah Ketua Takmir Masjid Al Mustofa. Beliau juga tercatat sebagai anggota Jamaah Qura wal Huffad NU Kab. Mojokerto.

  • NGAJI GUS BAHA: Tips Memilih teman

    NGAJI GUS BAHA: Tips Memilih teman

    wp.sorbansantri.com – Saya selalu teringat pesan para ulama besar dari mulai Sayidina Ali sampai Imam Syafi’i, yg selalu disitir Gus Baha, tentang kawan: “Janganlah kamu berteman dengan orang yang tidak siap melihatmu berbuat salah.”
    Orang seperti itu tak layak dijadikan teman karena ia mengingkari fitrah manusia yaitu berbuat salah. Dan lebih berbahaya lagi, karena diam-diam, orang seperti itu punya rasa sombong Di mata orang seperti itu, ini salah. Itu salah. Tidak terbuka peluang bagi orang untuk memperbaiki diri. Pernah, seorang alim ditegur Tuhan karena berdoa agar dijauhkan dari kesalahan. Kata Tuhan, “Lha kalau kamu tidak berbuat salah, lalu di mana letak kehebatan sifat pengampun-Ku?”
    Sementara Nabi sendiri mensifati umatnya, dan melukiskan kebesaran Tuhan, salah satunya dalam bentuk betapa dhaifnya manusia dan betapa besarnya pengampunan Tuhan. Anak-cucu Adam itu senantiasa berbuat salah, dan sebaik-baiknya mereka adalah yg lekas meminta ampunan.
    Ini berbeda sama sekali dengan orang Khawarij. Kaum ini sering mencap orang yg berbuat salah dan maksiat telah keluar dari Islam. Sementara Tuhan menyeru, sebanyak apapun kesalahan dan dosa hambaNya, jangan pernah berputus asa dari ampunan Tuhan. Aneh sekali kaum Khawarij ini yg justru ‘mengusir’ orang yg sudah masuk Islam hanya karena berbuat salah, sementara Tuhan selalu mengulurkan tangan agar orang yg berbuat salah tak berputus asa.
    Ada kisah orang alim yg selalu dijadikan contoh oleh Gus Baha dalam konteks ini. Beliau adalah Mbah Nafi’. Waktu sudah dianggap alim, oleh sesepuh dan guru-gurunya, Mbah Nafi’ diminta mengajar mengaji. Tapi beliau menolak karena takut salah.
    Akhirnya beliau diundang oleh guru-gurunya dan diberitahu: “Kamu keliru kalau tidak mau mengajar karena takut salah. Memangnya kamu itu siapa? Orang yang takut berbuat salah justru orang yang sombong. Kamu itu bukan nabi kok takut berbuat salah.” Semenjak itu Mbah Nafi’ mau mengajar. (abi sorban)
  • TITIP PESAN UNTUK GP ANSOR KEC. PACET KEDEPAN

    TITIP PESAN UNTUK GP ANSOR KEC. PACET KEDEPAN

    Oleh imron rosyadi
    MENJAGA KESEIMBANGAN OLAH FIKIR DAN OLAH RAGA

    sorbanpeduli.com – Di era 2000 an, awal2 saya pulang ke kampung halaman, masih ingat betul di benak saya, kala itu ada konfrensi ancab gp Ansor Pacet di balai desa Pacet, beberapa hari sebelumnya beberapa senior gp Ansor, salah satunya almarhum Cak jito biasa dipanggil begitu, mendorong saya untuk maju bursa ketua PAC. Waktu itu juga nama saya tercatat di salah satu lembaga GP Ansor PC mojokerto, pernah mengikuti beberapa kali rapat koordinasi di PC, waktu itu ber home base di RSI sakinah.

    Waktu itu ada ke sedikit keinginan juga ingin mengabdikan ke PAC, sempat datang di Acara konfrensi itu, namun tidak masuk ke arena, karena bila masuk ke arena sama juga kami meng- iyakan diri bersedia maju bursa ketua PAC.
    Sebab setelah kami pertimbangkan dan berduskusi dg teman2 dekat kami, kala itu sangat tidak tepat timing nya bila bila berada di arena strategis GP Ansor. Karena kala itu kami menjadi ketua PAC PKB, sangat tidak mendidik bila merangkap jabatan, apalagi jabatan politis, meski PKB era itu terasa sebaga “banomnya NU”. Yg kedua, era itu adalah era olah fisik, yg lebih mengedepankan ke Banser an, nama GP Ansor, seakan tenggelam menjadi banomnya Banser. Kala itu Banser Mojokerto sangat terkenal secara Nasional dari sisi kualitas apalagi kuantitasnya, yg mengantarkan kader Ansor Mojokerto cak Muhid sebagai Satkorwil di era cak Rofik lalu Satkornas di era Ansor nya Gus Ipul, semoga saya tidak salah.

    Maka bila hari ini kita masih menemui kader-kader ansor senior kadang-kadang lemah dalam menempatkan posisi Banser, kita tidak bisa menyalahkan beliau-beliau itu, seperti kejadian Tempo hari.
    Diantara kelebihan GP Ansor masa lalu yg tangguh dalam olah fisik, punya sisi ketidak tangguhan dalam olah fikir.
    Bagaimanapun juga beliau2 adalah bagian dari tali sejarah, yg menjadikan Pacet tidak pernah jeda selalu punya kader Banser (Ansor). Yang Alhamdulillah sambung sampai hari ini dengan eranya Banser muda seperti
    Sahabat Ibad, Nuril, ngateno, #menolak duduk eh tunduk dkk.

    Sejarah masa lalu menjadi pelajaran bagi kader-kader Ansor masa kini, utamanya pengurus baru PAC Pacet. Olah fisik/ olah raga dg indikator kegiatan ke”banser” an yg dinamis, yg selalu siap menjaga kyai sampai mati dan banser akan masuk syurga lebih dulu kata Gus muwafiq, idealnya harus diimbangi dg olah fikir yg dpt diukur dg kegiatan Ansor, yg sarat dg forum2 diskusi, dialog kritis, pelatihan2 resmi n rutin n wajib semacam PKD dan jenjang atasnya, entah apa namanya sekarang, maupun pelatihan ke profesian semacam Wira usaha dsb. Warnai kabinet anda kedepan dg sahabat2 dari banyak kalangab, ada pengusaha muda, PNS muda, dosen muda, ajak semua bersinergi membangun Ansor yg hebat, seimbang olah fikir dan olah fisiknya

    Akhirnya selamat bekerja sahabat2 pengurus GP Ansor Pacet yg baru. JAS MERAH.. jangan melupakan sejarah… apalagi JAS IJO jangan melupakan cari bojo. (abi sorban)

  • KH. SYA’RONI KUDUS MINTA IJAZAH AGAR NAIK HAJI KEPADA KH. BISRI MUSTOFA

    KH. SYA’RONI KUDUS MINTA IJAZAH AGAR NAIK HAJI KEPADA KH. BISRI MUSTOFA

    wp.sorbansantri.com – Suatu hari di tahun 1960-an, KH M Sya’roni Ahmadi mengadu kepada gurunya, KH Bisri Musthofa, ayahanda Gus Mus, tentang keinginan berangkat ke tanah suci yang belum juga terpenuhi. Singkat cerita, KH Bisri Musthofa memberikan trik khusus kepada murid kesayangannya itu supaya keinginan untuk beribadah ke tanah suci segera terwujud .
    KH. Sya’roni pun segera mengamalkan apa yang dipesankan oleh sang guru. Singkat kata, setelah istiqamah menjalankan ijazah dari sang guru. Tak terduga, atas karunia Allah, datanglah rezeki min haitsu laa yahtasib. Lantaran itulah KH. Sya’roni akhirnya bisa menunaikan ibadah haji. KH. Sya’roni lantas mengajak kita, masyarakat muslim secara umum turut juga melaksanakan ijazah tersebut .
    Ijazahnya antara lain :
    1. Sholat Tahajud setiap malam, cukup 2 rakaat saja membaca surat Al-kaafirun dan Al-Ikhlas
    2. Setelah salam membaca wirid istighfar 70X, sholawat Nabi 100X serta lafal “Ya Syakuur” 1000X .
  • Ngaji Kebangsaan Satu Dekade Haul Gus Dur di PCNU Kab Mojokerto

    Ngaji Kebangsaan Satu Dekade Haul Gus Dur di PCNU Kab Mojokerto

    Cyberaswaja.online | Sooko. Halaman parkir penuh dan Aula PCNU Kab Mojokerto ramai, dilangsungkan Ngaji Kebangsaan Satu Dekade Haul Gusdur dengan tema “KEBUDAYAAN MELESTARIKAN KEMANUSIAAN”. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 19.00 wib tersebut, dihadiri Tokoh lintas Agama, diantaranya Walikota Mojokerto, BUPATI Mojokerto, KAPOLRES Kabupaten Mojokerto, DANDIM dan Seluruh ORMAS serta Lintas Komunitas. 25/01/2020.

    foto: Ngaji Kebangsaan Haul Gusdur satu dekade
    foto: Ngaji Kebangsaan Haul Gusdur satu dekade oleh Ning Alisa Wahid

    Acara tersebut sangat penting bagi bangsa dan negara mengingat dari pribadi GUS Dur yang selalu dirindukan dan menjadi marwah NU sebagai satu-satunya ormas yang sudah tidak diragukan lagi dengan Politik Kebangsaannya, sebagai pemersatu bangsa yang berbeda-beda dan merupakan elemen penting dalam berdirinya suatu bangsa.

    foto: Ngaji Kebangsaan Haul Gusdur satu dekade
    Foto: Pengurus PC NU bersama jajaran Forkopimda Mojokerto pada Ngaji Kebangsaan Haul Gusdur satu dekade

    foto: Ngaji Kebangsaan Haul Gusdur satu dekade
    Foto: Peserta Ngaji Kebangsaan Haul Gusdur satu dekade

    Dengan pemateri semua tokoh lintas agama se Kabupaten Mojokerto, keistimewaan acara ini turut juga dihadiri Neng Alisa Wahid, beliau menyampaikan pesan dan kesan, serta bercerita tentang kisah kehidupan almarhum Gus Dur perihal Kebangsaan dan Bernegara. (red-fio)

  • DIROSAH KADER ULA PAC GP ANSOR NGORO MOJOKERTO

    DIROSAH KADER ULA PAC GP ANSOR NGORO MOJOKERTO

    Cyberaswaja.online|Ngoro, Kaderisasi dilaksanakan terus menerus oleh PC GP Ansor Kabupaten Mojokerto. pada LEMBAGA MAJLIS DZIKIR DAN SHOLAWAT RIJALUL ANSOR (LMDS RA) Pendidikan Kader kali ini dilakukan untuk mencetak kader kader Muda khususnya Wilayah Keagamaan.

    Tepat Dusun Watusari Desa Jedong Kecamatan Ngoro kegiatan ini dilaksanakan, lokasi tepat di Lereng Gunung Penanggungan ini berdiri Pondok Pesantren Sabilillah, ditempat ini yang kemudian terlaksana kegiatan Dirosah Kader Ula Angkatan ke-2. (24/01/2020).

    Dirosah Kader Ula ini dilaksanakan selama Tiga hari Dua malam, peserta yang berasal dari utusan masing masing kecamatan se kabupaten mojokerto, ini menginap untuk meneri materi yang telah disiapkan.

    “DIROSAH KADER ULA ANGKATAN KE-2 INI bertujuan mencetak Da’i Da’i Muda Milenial, karena Ansor Hari ini adalah NU masa depan”. Tegas Gus Ali Nasikh, Selaku Ketua PC GP Ansor Kab.Mojokerto

  • NU dan Muhammadiyah Ibarat Bumi dan Matahari

    NU dan Muhammadiyah Ibarat Bumi dan Matahari

    Oleh Ahmad Tsauri

    wp.sorbansantri.com
    – Saya kenal orang yang kebaikannya, amal solihnya itu banyak sekali, banyak sekali masjid yang dibangun tapi tidak digelari tokoh seribu masjid, karena sedekah beliau juga bermiliar-miliar, tapi tidak juga digelari orang dermawan, karena membantu masyarakat dengan berbagai kebutuhan juga tak terhitung jumlahnya, tapi juga tidak dipuji jiwa sosialnya bagus, karena juga taat ibadah tapi belum mendengar orang menyebutnya ahli ibadah, karena juga tidak pernah menggunjing orang, tapi tidak dipuji dengan baik Budi. Saya menemukan banyak sekali orang seperti ini. Karena kebaikannya dahsyat, banyak ia tidak diidentifikasi oleh orang lain dengan salah satu atribut atau kerja sosialnya.
    Begitulah NU dan Muhammadiyah, ibarat matahari tidak lagi perlu dijelaskan bahwa ia bersinar, karena puluhan ribu pesantren dan sekolahnya, ribuah rumah sakit dan lembaga sosial lainnya tak terhitung.
    Ibarat matahari cukuplah bunga-bunga yang bermekaran, manusia hewan yang beranak pinak, ekosistem yang terus berjalan menunjukkan matahari itu memberi manfaat.
    Apa jadinya bumi tanpa matahari, seperti apa jadinya Indonesia tanpa NU dan Muhammadiyah. NU dan Muhammadiyah menyiapkan orang-orang yang menginisiasi sekaligus mengisi kemerdekaan baik di Eksekutif, maupun dilegislatif. Apa anda kira bung Karno dan Jenderal Sudirman itu anggota ormas gurem itu? Bukan beliau kader Muhammadiyah.
    Indonesia tanpa ormas bodong itu terbukti baik-baik saja, tapi terbukti tanpa kontribusi NU Muhammadiyah ini kemerdekaan nyaris tidak bisa diraih dan tidak bisa dipertahankan.
    Jadi maklumi saja kalau ada ormas abal-abal selalu disanjung karena foto mereka dilokasi bencana 10 tahun silam, mungkin kebaikannya hanya itu sementara keburukannya yang menyengsarakan dan melukai hati masyarakat tak terhitung.
    Di era seperti ini, semua kegiatan sosial NU-Muhamadiyah dan badan otonom dibawahnya, yang banyak itu, harus dipublikasikan terutama ditempat bencana, supaya simpatisan ormas piaraan Cendana itu sadar telah salah memilih pelabuhan dalam berorganisasi. (abi sorban)
  • NU dan Masyarakat Ibarat Santan

    NU dan Masyarakat Ibarat Santan

    oleh : Hamdan Suhaemi

    wp.sorbansantri.com – Riwayat sentimen atas NU dan ulamanya adalah riwayat panjang yang jika kita kembali ke masa lalu, sentimen, benci dan menghina NU tersebut cukup sadis, provokatif dan cenderung agitatif. Tak ada ceritanya peci KH. Idham Chalid tertembus peluru jika bukan bencinya pada NU, untung masih selamat. Peluru itu ditembakkan oleh anggota TII ( Tentara Islam Indonesia ), kesatuan dari DI ( Darul Islam ) pimpinan M. Kartosuwiryo, ketika sang Ketum NU tersebut turun dari kreta api dari Surabaya. Dasar kebencian itu tentunya disebabkan Kiai Idham menolak dukungan atas tegaknya Darul Islam.

    Lain, Kiai Idham lain pula KH. Saefudin Zuhri yang dibenci habis-habisan oleh elit PKI hanya karena pasang badan membela HMI ( Himpunan Mahasiswa Islam ), karena hendak dibubarkan oleh Presiden Soekarno atas hasutan dan liciknya Polit Biro PKI. Padahal KH. Saefudin Zuhri, bukan tokoh HMI bukan pula pendiri HMI, beliau Istiqomah mengembangkan GP Ansor sejak zaman revolusi 1945.

    Bahkan KH. Wahab Chasbullah disebut penghianat, penjilat atau oportunis setelah Dekrit 5 Juli 1959 dikeluarkan oleh Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno, dijadikan bulan-bulan oleh tokoh Masyumi karena Kiai Wahab dan NU memilih bergabung dalam koalisi Nasakom ( Nasionalis Agamis Komunis ), padahal KH. Wahab Chasbullah dan KH. Idham Chalid berdebat dengan Aidit dan elit PKI untuk mempertahankan dan membela Masyumi, sebelum Masyumi dibubarkan.

    Era 1960-an era dimana PKI sangat powerfull atas negara. Strategi PKI dalam upaya menuju kudeta hampir sempurna. Tak kurang kiai – kiai NU baik yang ada di pemerintahan maupun di DPR GR, terutama sekali KH. Subhan ZE terus diburu, dimatikan langkahnya, diadudomba. Korban kiai-kiai NU, dan Kader Ansor banyak yang gugur akibat kesadisan PKI. Meski demikian dengan konsistensi KH. Idham Chalid dalam menahkodai NU diramu secara cerdas, lentur, cemerlang dan heroik akhirnya NU dan Banom-nya dapat menumpas dan memberangus PKI dan underbouw-nya hingga ke akar-akarnya, bersama RPKAD dibawah Kolonel Sawo Eddhie Wibowo.

    Masuk era Orde Baru, nasib NU seperti jasad berjalan tapi tanpa kepala. Padahal NU punya jasa besar atas pemberantasan PKI dan antek-anteknya, namun Jenderal Soeharto lebih memilih mengamputasi peran NU relasinya dengan negara selama hampir 32 tahun, itu karena Jenderal Soeharto benci kepada Subhan ZE sebagai rival dalam suksesi kepemimpinan nasional pasca Presiden Soekarno.

    Kekuatan NU

    NU, didirikan oleh kaum ulama hasil restu dari Syaikhona Kholil Bangkalan Madura, dan restu Wali Songo ( secara lahiriah memang tiada ). Hingga NU dipimpin langsung oleh ulama besar yang pakar hadits, musnid kutub al-sittah, pengasuh pesantren Tebuireng yakni Hadrotusyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Kekuatan NU adalah spiritualitas agama dan tradisi sanad ilmu agama. Yang tak pernah bisa dimiliki oleh kelompok atau organisasi manapun.

    NU dan Masyarakat

    Amaliyah kita, seperti doa qunut di sholat subuh, perayaan maulid Rosulullah صلعم , tahlilan, rajaban, kirim doa, istigosah, selametan, semaan, manaqiban, marhabanan, baca syekh, rebo wekasan, dan ziarah kubur itu semua masyarakat memperaktikan dari dulu hingga sekarang, dan itu adalah amaliyah nahdliyyah ( amal ibadah warga Nahdliyyin.

    Meskipun, masyarakat tidak mengaku NU apakah aktif di Jam’iyyah NU sebagai pengurus maupun tidak, tetap amaliyah nya adalah amaliyah yang biasa diajarkan oleh ulama NU, bahkan sudah menjadi tradisi kuat sejak Wali Songo menyebarkan Islam di tanah Jawa secara moderat, santun, hikmah dan halus dibarengi Budi pekerti sufistik, hingga sampai sekarang.

    NU dan masyarakat ibarat air santan, hasil perasan kelapa dan air. Tidak mungkin dipisahkan antara air dan ampas kelapa ketika sudah jadi air santan. Itu adalah gambaran tentang NU dan masyarakat Indonesia umumnya.

    Jika, ada yang bilang NU jauh dengan masyarakat. Tentunya orang tersebut tidak tahu sejarah, tidak paham NU, tidak ta’dhim pada ulama NU, Bahksn sudah menciderai perasaan para ulama yang ikhlas dan gigih bersama masyarakat, hingga 24 jam hidupnya di tengah masyarakat dan selalu mengayomi masyarakat. Begitu teganya bilang NU jauh dari masyarkat, dan terlalu congkak membandingkan dengan FPI yang sudah dibubarkan itu.

    Membandingkan NU dengan ormas lainya ibarat membandingkan sosok ayah dengan anak balita. Jadi jauh sekali, jangankan sama, dekat pun tidak.

    Sekali lagi NU itu sudah lama ada di tengah masyarakat, apakah ia sebagai personal dari kiai-kiai NU, maupun secara keorganisasian. NU dan ulamanya rutin menggelar pengajian-pengajian, dzikir bersama, istigosah, dan perayaan hari besar Islam lainnya.

    Jadi, tidak benar NU jauh dari masyarkat. Justru NU lah ormas yang paling dekat dan selalu bersama masyarakat.
    Hanya yang dengki pada NU, benci NU, dan memusuhi NU akan binasa dan hancur.

    Gang Vinus III, 19-1-2021
    Wakil Ketua PW GP Ansor Banten
    Ketua PW Rijalul Ansor Banten
    (ansor palu)

  • ALASAN INGGRIS MELINDUNGI HT, IM DAN AHMADIYAH

    ALASAN INGGRIS MELINDUNGI HT, IM DAN AHMADIYAH

    Oleh Ayik Heriansyah

    wp.sorbansantri.com – Tidak banyak yang tahu kalau pusat gerakan Hizbut Tahrir dunia ada di negara Inggris, negara yang jelas tidak memakai sistem khilafah. Selain HT, pusat pergerakan Ikhwanul Muslimin (IM) dan Ahmadiyah juga ada di London, Inggris. Mengapa?

    Alasan-alasan Inggris melindungi gerakan-gerakan Islam yang di negeri asalnya ditolak habis, Inggris punya kepentingan politik global untuk membuat gerakan-gerakan Islam yang mereka lindungi sebagai kekuatan penyeimbang, oposisi, atau pengacau bagi dominasi dan kepentingan rival utamanya, yakni Amerika.

    Inggris saudara tua Amerika yang pernah menjadi negara Super Power. Inggris menyimpan ambisi untuk mengembalikan supremasi Pax Britanica. Namun terhalang oleh kekuatan Amerika.

    Tapi Inggris tidak menunjukkan secara terbuka rivalitasnya kepada Amerika. Karena bagaimana pun, Amerika adalah saudara se-bangsa dan sekutu yang baik.

    Inggris memandang gerakan/organisasi Islam tersebut bisa dijadikan proxi untuk menghantam negara lawan di negeri-negeri muslim dengan kompensasi mengizinkan London menjadi pusat dari gerakan-gerakan tersebut. (abi sorban)

  • MUSLIM PRIBUMI TAPI BUKAN WNI

    MUSLIM PRIBUMI TAPI BUKAN WNI

    Oleh Ayik Heriansyah

    wp.sorbansantri.com – Kebalikan dari materi bahtsul masa’il Munas NU 2019 di Banjar yang membahas non-Muslim bukan kafir, tapi warga negara, saya sudah mempermasalahkan status kewarganegaraan kaum Muslim radikal takfiri di beberapa tulisan saya “Dosakah Menjadi Indonesia” (dutaislam.com, 5/8/2017) dan “Golput Takfiri” (ltnnujabar.or.id, 16/1/2019). Momen di setiap forum yang saya isi tentang HTI, saya sampaikan ke audiens persoalan status syar’i kewarganegaraan anggota HTI.

    Berdasarkan pengalaman pribadi waktu menjadi pengurus HTI, saya dan teman-teman secara psikologis ruhiyan wa bathinan tidak menganggap Indonesia sebagai negara kami. Kami punya negara sendiri yaitu Khilafah yang sebentar lagi akan berdiri. Kami punya konstitusi sendiri. Kami punya pemimpin sendiri yaitu Amir Hizbut Tahrir. Yang ketaatan, kepercayaan tsiqah dan loyalitas kami berikan.

    [su_youtube url=”https://youtu.be/Bmdf6GAfbzc”]

    Suasana batin yang sama dialami juga oleh pengikut al-Qaeda, NII dan lSIS. Ketiga kelompok radikal takfiri ini juga mempunya negara dan pemimpinnya sendiri. ISIS dan NII mengklaim telah punya negara. Sedangkan al-Qaeda masih dalam tahap berjuang. Satu hal yang sama dari kelompok-kelompok radikal takfiri ini, mereka sama sekali tidak mengakui NKRI beserta seluruh perangkat pemerintahannya sebagai negara dan pemerintah mereka.

    Bahkan mereka berjuang menggulingkan pemerintah lalu mengganti NKRI menjadi negara seperti yang mereka inginkan. Mereka sama sekali tidak mau memberi loyalitas kepada NKRI. Mereka Muslim dan pribumi. Lahir, tumbuh besar, sekolah, kuliah, berkeluarga dan mencari nafkah di sini akan tetapi mereka bukan warga negara Indonesia.

    Mengapa demikian, karena status kewarganegaraan berbeda dengan status keagamaan. Status keagamaan ditentukan oleh akidah yang diyakini dan syariah yang dianut. Status keagamaan sangat pribadi dan berdimensi ruhiyah, sehingga tidak terikat ruang dan waktu. Status keagamaan berkonsekuensi pada aturan-aturan agama (ibadah, akhlak dan muamalah). Status keagamaan tidak dipengaruhi oleh negara dan pemerintahan. Murni hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.

    Sedangkan status kewarganegaraan tidak berhubungan dengan agama seseorang. Ini status politik yang ditentukan oleh dua hal: tempat tinggal muqimah yang digunakan untuk menetap dan loyalitas wala’ kepada negara dan pemerintah. Status kewarganegaraan terkait hak dan kewajiban warga terhadap negaranya. Status ini banyak berhubungan dengan kehidupan seseorang di ruang publik. Memisahkan status agama dan status kewarganegaraan penting, karena dua hal ini berbeda meskipun tidak bertentangan.

    Forum bahtsul masa’il NU kembali menunjukkan kelasnya sebagai forum ilmiah yang bermutu tinggi di Munas Banjar yang baru usai. Setelah membahas status Indonesia sebagai darul Islam di Muktamar Banjarmasin 1936, 9 tahun sebelum Indonesia merdeka, di Munas Cianjur 1954 NU mengukuhkan pemimpin Indonesia sebagai waliyul amri dharuri bi syaukah di tengah polemik tentang DI/TII dan Imamul A’zham, NU di Munas 1983 menerima Pancasila sebagai asas tunggal, di Munas 2019 NU menyegarkan kembali pemikiran umat Islam dengan melontarkan ide non-Muslim bukan kafir, mereka warga negara.

    Pembahasan non-Muslim jangan disebut kafir karena mereka warga negara merupakan ide cerdas dari pemikiran jernih para kiai NU dalam memahami fakta non-Nuslim dalam sejarah NKRI, fakta fiqih siyasah klasik serta trend radikalisasi makna konsep-konsep Islam akibat maraknya gerakan radikalisme.

    Radikalisme sedikit demi sedikit berhasil menggeser makna konsep-konsep Islam dari tempat asalnya. Oleh para kiai NU, makna-makna tersebut mau dikembalikan ke tempat asalnya secara tepat, sehingga tidak menimbulkan kekacauan ilmu pengetahuan Islam mulai dari lapis epistemis sampai ke tataran praktis.

    Perlu diingat, kekacauan persepsi umat Islam terhadap konsep-konsep dasar agama mereka membawa implikasi kepada kekacauan pemikiran umat dalam merespon problematika mereka kemudian berujung kepada kekacauan amaliah mereka. Pengkategorian negara dan warga negara menurut fiqih siyasah klasik tidak akurat jika digunakan untuk fakta Indonesia. Indonesia didirikan oleh bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan agama.

    Indonesia bukan tanah khorojiah yang pernah ditaklukkan oleh khilafah Islam. Indonesia juga bukan lahir dari gerakan separatisme dari khilafah layak negara-negara Arab modern. Umat Islam Nusantara memeluk Islam secara sukarela, sehingga status tanah Indonesia adalah tanah ‘usyriyah tanah yang tetap dimiliki pribumi sampai hari kiamat, baik Muslim maupun non-Muslim. Status tanah ‘usyriyah yang sama seperti jazirah Arab.

    Sebab itu Indonesia darul Islam, tapi bukan daulah Islamiyah. Negara-negara lain tidak bisa disebut darul harb sepenuhnya. Indonesia menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara Muslim maupun non-Muslim. Indonesia terikat perjanjian damai dengan negara-negara tersebut. Jadi sangat tepat kiranya NU mencetus satu paradigma baru tentang negara dan kewarganegaraan. Sangat dimengerti jika memancing pro kontra di tengah masyarakat khususnya ulama dan tokoh umat, karena mereka masih memaknai kata kafir dalam perspektif aqidah teologi.

    Padahal NU membahasnya dalam konteks fiqih siyasah. Salah besar komentar beberapa tokoh yang mengatakan NU mau mengamandemen al-Qur’an. Yang dilakukan NU justru ingin mengembalikan makna kata ‘kafir’ ke tempat asalnya yakni akidah setelah sempat digeser oleh kaum radikal menjadi bermakna politis.

    Inti dari ide NU tersebut adalah jangan mengkafirkan warga negara bukan Muslim, karena sesama warga negara semua orang berkedudukan sama terlepas dari agama yang dianutnya. Islam memandang kewarganegaraan ditentukan oleh loyalitas wala’ seseorang kepada negara dan pemerintah bukan oleh akidah yang diyakininya.

    Piagam Madinah yang dianggap konstitusi negara Islam pertama, disebutkan Rasulullah saw menggunakan kata “Yahudi” bukan kata “kafir” untuk suku-suku Yahudi di sana.

    Di kemudian hari suku-suku Yahudi tersebut diperangi, karena mereka melepas loyalitas sebagai warga negara dengan cara berkhianat dan bersekongkol untuk menghancurkan negara Medinah. Masa Khalifah Ali bin Abi Thalib, kaum Khawarij hilang hak-hak politik mereka sebagai warga negara setelah mereka melepas loyalitas mereka terhadap khalifah dengan cara memberontak.

    Terakhir, kita harus bersabar menghadapi nyinyiran pihak-pihak yang salah menempatkan kata ‘kafir” utamanya kaum radikal. Bagi mereka jangankan non-Muslim, Muslim pun mereka kafirkan. Harap maklum. (abi sorban)