
Kategori: Opini dan Analisis
Artikel opini, analisis mendalam, dan editorial tentang berbagai topik yang relevan.
-

Mbah Kyai Ismail Ibrahim, Kyai Ahli Riyadoh dari Kedungmaling

Ada satu desa yang namanya sangat unik di daerah Brangkal Kab. Mojokerto. Namanya Kedungmaling. Dari cerita mulut ke mulut, nama itu diperoleh dari suatu cerita dimana daerah Brangkal dulu terdapat Kedung. Kedung itu adalah bagian dari sungai yang sangat dalam. Ia biasanya tenang, tetapi menghanyutkan. Pada suatu ketika, ada maling yang sedang lari dikejar-kejar oleh penduduk. Pada saat ia mengalami kebingungan, ia mencebur ke dalam sungai yang ada kedungnya itu tadi. Dan ia pun tenggelam ke dasar sungai itu. Peristiwa tenggelamnya maling di kedung sungai itulah yang kemudian menjadi penanda nama desa itu yang kelak kemudian diberi nama Desa Kedungmaling.
Dulu, Desa Kedungmaling lebih banyak orang awamnya daripada orang yang mengerti agama. Tetapi seketika itu berubah seiring kedatangan seorang santri dari Kediri, namanya Ismail Ibrahim. Ismail Ibrahim pernah nyantri di Pondok Mojosari-Nganjuk. Kemudian melanjutkan mondoknya dengan durasi lama, yakni di Pondok Semelo, yang sekarang lebih dikenal dengan PP. Umar Zahid yang terletak di dusun Semelo, desa Kayen, kecamatan Bandarkedungmulyo-Jombang. Di Pondok ini, Ismail Ibrahim belajar berbagai fan ilmu ke-Islaman. Dan juga melatih jiwannya dengan riyadoh dibawah asuhan KH. Umar Zahid.
Seperti pada umumnya Kyai-Kyai zaman dahulu, selain memikirkan tentang keilmuan santrinya, KH. Umar Zahid juga memikirkan masa depan santri-santrinya. Selain menikahkan, KH. Umar Zahid melalui KH. Munawir Sholeh mencarikan tempat berdakwah pada Ismail Ibrahim. Dan Ismail Ibrahim diberi alternative pilihan untuk mengabdikan ilmunya. Dan melalui sebuah istikhoroh dengan lambang surat an-Nasr, maka desa Kedungmaling-lah yang menjadi tempat pilihannya.
Di Desa Kedungmaling, Ismail Ibrahim menempati sebuah Masjid kecil hasil wakaf dari Ibu Masriah. Ibu Masriah sendiri itu adalah istri dari Kyai Anwar (Ayah dari Pendiri STIE Al Anwar). Namun pernikahannya itu unik. Masing masing suami istri itu bekerja sendiri sendiri. Kyai Anwar berdagang, Ibu Masriah juga berdagang. Dagangannya Ibu Masriah itu diambil dari Surabaya. Tiap ke Surabaya, ia selalu mampir ke Pondok Nderesmo untuk ikut ngaji mendengarkan ceramahnya Mbah Kyai Mansur. Karena seringnya ngaji ke Ndresmo inilah, menjadikan ibu Masriah memiliki kedekatan dengan Mbah Mansur. Ibu Masriah dibimbing untuk menjadi wanita sholehah. Termasuk juga mengarahkan agar tabungan kekayaannya dipergunakan untuk diwakafkan membangun Masjid.
Taqdir kemudian berkata, antara Kyai Anwar dan Ibu Masriah berpisah. Namun bukan berarti terjadi peristiwa pertengkaran yang berlarut larut. Harta gono gininya dibagi secara adil. Dan pembangunan Masjid atas suplay dari Kyai Anwar dan seorang pengusaha asal Jatirejo, Bapak Nur Kholis tetap berjalan hingga berdiri megah.
Dan kemudian Ibu Masriah ini dinikahi oleh Kyai Munawir Sholeh. Dan atas perantara Kyai Munawir Sholeh itulah Ismail Ibrahim menempati Masjid hasil wakaf Ibu Masriah ini.
Siti Sofiah, cucu dari Ibu Masriah bercerita, kalau Ismail Ibrahim dulu menempati rumah Ibu Masriah, yang sekarang menjadi PP. Riyadlul Quran. Setelah usai pembangunan, maka Ismail Ibrahim menempati Masjid yang telah dibangun.
Di Masjid itu, Ismail Ibrahim merawat dan memakmurkan Masjid. Dan satu persatu para santri ikut mengaji kepada Ismail Ibrahim. Tetapi kata Masrurah, putrinya, bercerita kalau KH. Ismail Ibrahim waktu itu pernah merasa putus asa menghadapi masyarakat Kedungmaling yang banyak tidak bisa mengaji. Beruntung ada satu dua santrinya yang bisa mengaji sehingga menambah semangat untuk terus mengabdi di tempat yang baru itu.Dalam segi ekonomi, Ismail Ibrahim bekerja apa saja untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Namun demikian, ia tidak pernah berjodoh dengan pekerjaan itu. Hingga ia pun memutuskan untuk lebih mengkonsentrasikan “ngopeni” santri-santrinya.
Meskipun dengan tertatih-tatih, Ismail Ibrahim tetap istiqomah dalam melayani santri dan masyarakatnya. Lambat laun, orang-orang Kedungmaling dan sekitarnya mengenal Ismail Ibrahim sebagai orang yang linuweh. Orang orang pun berbondong-bondong bertamu dan mengaji kepadanya. Dan kemudian memanggilnya dengan KH. Ismail Ibrahim.
Masruroh bercerita, santri-santri KH. Ismail Ibrahim tidak banyak yang bermukim, paling sekitar 25 santri. Tetapi pada saat ramadhan tiba, Masjid berjubel jubel dengan santri yang mengaji. Para santri itu juga berinisiatif membuat gubuk-gubukan di sekitar Masjid untuk tempat mukim mereka. Bahkan masyarakat, baik masyarakat sekitar atau yang jauh, ikut pula bergabung mendengarkan ngaji dari KH. Ismail Ibrahim. Yang unik, para pedagang-pedagang, ikut ngaji sambil membawa daganganya, sebelum pergi ke pasar.
Biasanya, kata Masruroh, KH. Ismail Ibrahim mengaji kitab Hikam karya Ibnu Athoillah yang terkenal itu. Selebihnya, KH. Ismail Ibrahim lebih menekankan pada penguasaan pembacaan al Quran pada santri-santrinya. Penguasaan pada al-Quran itu bisa dirunut ke PP. Semelo atau KH. Umar Zahid yang ahli dibidang al-Quran. Bahkan pondok ini pulalah yang melahirkan tokoh sebesar KH. Ahmad Munawir Krapyak dan KH. Ahmad Masduki (Pengasuh Roudlotul Tahfidzil Quran Perak-Jombang).KH. Ismail Ibrahim semakin diperhitungkan oleh masyarakat saat meletusnya pemberontakan PKI tahun 1965. KH. Ismail Ibrahim-lah yang membedeng Ansor-Ansor pada masa itu untuk menghadapi PKI. Dan terbukti pemberontakan PKI di Mojokerto mampu dipadamkan oleh bahu membahunya antara tentara dan Ansor.
Tetapi dari pengakuan Masruroh, jauh sebelumnya, KH. Ismail Ibrahim, juga pernah ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan bergabung menjadi Hizbullah. Dan ia sempat menjadi pelindung KH. Wahid Hasyim saat beliau menjadi buron tentara Belanda yang hendak menghabisinya. Dan pada tahun 1955, KH. Ismail Ibrahim juga adalah penggerak partai NU. Hingga sebelum NU berfusi menjadi PPP, KH. Ismail Ibrahim-lah yang menjadi jurkam handal dari partai NU.
Pada tahun 1968, saat putra kinasihnya KH. Basyaruddin menikah itulah, kata Ahmad Zaini, penanda mulai berkibarnya pesantren yang kemudian diberi nama Darul Hikmah. Pesantren Darul hikmah dikenal selain memperdalam ilmu agama, juga diajarkan kepada santri-santrinya untuk memperbanyak riyadoh-riyadoh. KH. Ismail Ibrahim sendiri, kenang Ahmad Zaini, adalah Kyai yang ahli riyadoh. Tiap malam KH. Ismail Ibrahim tidak pernah tidur. Bada subuh, KH. Ismail Ibrahim mengajak para santri-santrinya untuk berdzikir dan mengaji al-Quran sampai waktu dhuha. Baru setelah itu beliau istirahat.
Tetapi bukan tanpa tantangan, orang orang yang tidak suka kepada KH. Ismail Ibrahim sering mengganggunya. Saat berceramah, kadang orang orang usil sering mengganggunya. Tetapi bukan KH. Ismail Ibrahim kalau tidak berani menantang para pengganggunya.
Pernah suatu peristiwa, santri-santri Darul Hikmah disihir oleh seorang pentolan ormas di dekat desa Kedungmaling. Banyak santri santri mengalami kesurupan. KH. Ismail Ibrahim mengumpulkan para santri dan kemudian diterapi serta mengajak kepada seluruh santri untuk mengamalkan dzikir dzikir yang pernah diijazahkan oleh guru-gurunya. Dan pada akhirnya kembali pulalah sihir sihir yang ditiupkan oleh pemimpin ormas yang sekarang berkibar dalam balutan kesesatan itu.
#
Ahmad Zaini, santri KH. Ismail Ibrahim, mengenang pertemuan awalnya dengan KH. Ismail Ibrahim tatkala mendengar ceramahnya yang mempesona. Konon pula, setiap kali KH. Ismail Ibrahim berceramah, sesuatu yang ia ceramahkan itu akan terjadi ditempat itu. Ahmad Zaini akhirnya memutuskan nyantri ke KH. Ismail Ibrahim. Di hadapan KH. Ismail Ibrahim, Ahmad Zaini diajar bagaimana melayani masyarakat dengan mengisi kamar mandi dan tempat wudhu.
Pelajaran melayani itu kelak dirasakan saat ia pada tahun 1975 dinikahkan dan ditempatkan untuk berdakwah di Desa Jalinan. Dengan masyarakat yang masih awam, ia melayani dengan sabar. Dan konon Masjid yang ia tempati untuk berdakwah itu, adalah jejak pohon keramat. Ketika pohon itu ditebang dan menjadi Masjid, maka orang pun tidak menggunakan sesajian ke tempat tempat angker, tetapi berubah ke Masjid.
Menjelang usianya yang semakin sepuh, KH. Ismail Ibrahim seperti menjadi sentral bagi para Kyai-Kyai yang konon banyak orang menyebutnya sebagai wali. Mbah Ilyas dengan keanehan-keanehan yang dilakukan di pasar Brangkal, setiap kali ber-”operasi”, selalu menyempatkan untuk berkunjung ke rumah KH. Ismail Ibrahim. Pun dengan Mbah Ud Pagerwojo-Sidoarjo, seringsekali berkunjung ke KH. Ismail Ibrahim. Bahkan KH. Khusein Ilyas sendiri, setiap kali habis lelaku, senantiasa berkunjung ke rumah KH. Ismail Ibrahim.
Tidak hanya sekadar para Kyai, para pengusaha-pengusaha pun mendekat kepada KH. Ismail Ibrahim. Pak Jakfaril, Ayah Mustofa Kamal Pasha, Mantan Bupati Mojokerto, sering bertandang ke rumah KH. Ismail Ibrahim. Ia sering memberi uang yang banyak kepada KH. Ismail Ibrahim. Katanya, ia suka dengan Kyai yang bekerja.
#
Ada satu hal dari karya KH. Ismail Ibrahim yang hingga sekarang tetap lestari. Apabila pesantren pesantren menggunakan haul sebagai sarana untuk mengirim doa kepada Kyai pendiri pesantrennya, tetapi jamiul jawami’ yang diselenggarakan oleh KH. Ismail Ibrahim diperuntukkan untuk seluruh penduduk langit dan penduduk bumi. Biasanya diadakan acara yang meriah selayaknya haul.
Untuk mendanai jamiul jawami tidaklah mudah. Tetapi perlu biaya besar. Disinilah ada cerita unik. KH. Ismail Ibrahim menyurati Nabi Khidir. Siti Sofiah menuturkan kalau Ayahnya pernah diajak untuk mengirim surat oleh KH. Ismail Ibrahim ke Brondong Lamongan. Ia diajak ke tengah laut. Sampai ditengah laut, surat yang ditulis panjang dengan menggunakan bahasa Arab itu, dilepaskan ditengah laut.Ayah Siti Sofiah pernah bertanya, “Apa bisa sampai surat itu ke Nabi Khidir, Yi?” Dijawab oleh KH. Ismail Ibrahim, “Bisa sampai.” “Buktinya?”tanya Ayah Siti Sofiah. “Nanti kalau pas jamiul jawami, akan banyak yang memberi bandeng. Sebab saya minta bandeng kepada Nabi Khidir” jawab KH. Ismail Ibrahim tenang. Dan memang terbukti, orang orang yang tidak kenal dari berbagai penjuru, setiap jamiul jawami selalu saja ada yang memberi. Dan pengusaha pengusaha asal Gresik, banyak yang memberi bandeng.
Pada tahun 1983, Masruroh menceritakan bagaimana meninggalnya KH. Ismail Ibrahim. Waktu itu ia masih kuliah dan kebetulan izin untuk menunggui sang Ayah yang sedang sakit. Semalaman suntuk KH. Ismail Ibrahim tidak tidur. Dan saat dicabut malaikat pun, kata Masruroh, beliau dalam kondisi sadar.
KH. Ismail Ibrahim disemayamkan di dalam Pondok Pesantren. Para alumnus banyak yang menziarahi makamnya. Pun dengan masyarakat sekitar. Setiap tahun, santri dan masyarakat cancut tali wondo meng-hauli Mbah KH. Ismail Ibrahim.
Isno el kayyis
Ketua LTN NU Kab. MojokertoSumber wawancara dengan:
- Ning Masruroh Ismail Ibrahim pada tanggal 19 Januari 2019 (Beliau Putri dari KH. Ismail Ibrahim)
- Bu Nyai Siti Sofiah, Pengasuh PP. Riyadlul Quran, cucu dari Bu Masriah pada tanggal 20 Januari 2019
- Ahmad Zaini, Santri KH. Ismail Ibrahim, di Desa Jalinan, pada tanggal 20 Januari 2019
-

BERDANDAN JUGA HARUS JUJUR
Oleh Ayik Heriansyahwp.sorbansantri.com – Akhir-akhir ini kita jumpai banyak orang HTI yang dandanannya tidak mencerminkan kondisinya. Misalnya bukan alumni Al-Azhar berdandan ala Azhari. Bukan kiai berdandan ala kiai. Bukan habib berdandan ala habaib. Ada lagi dandanan tidak serasi dengan fikrah yang dianutnya. Misalnya bersarung ala kiai Aswaja Nahdliyah, tapi menyuarakan khilafah. Bersorban ala Habaib tapi membenci ulil ‘amri.Ada juga yang menghiasi dirinya dengan mengenakan gelar-gelar keagamaan seperti ajengan, buya, kiai, tuan guru, guru dan sebagainya tapi kualitas ilmu, adab, akhlak dan ruhiyahnya jauh dari mencerminkan gelar-gelar tersebut. Gelar-gelar keagamaan diberikan masyarakat sebagai bentuk pengakuan atas kualitas orang yang digelari. Gelar-gelar itu tidak bisa diberikan kepada diri sendiri atau kepada orang lain yang satu komunitas.Sudah bisa ditebak, motivasi di balik dandanan dan bergelar keagamaan yang dikenakan oleh ustadz yang tidak sesuai dengan keadaan dirinya, untuk menarik perhatian orang. Akan tetapi itu adalah suatu bentuk penipuan. Yang jelas, yang pertama kena tipu adalah dirinya sendiri, baru kemudian ada orang-orang awam ikut tertipu.Keserasian dandanan dengan kondisi seseorang menunjukkan kejujurannya. Di dalam kitab Lathaiful Minan, diceritakan bahwa ada seorang ahlu shuffah yang meninggal dunia. Di sampingnya ditemukan dua keeping dinar. Melihat itu Rasulullah saw bersabda, “ini dua barang di neraka.”Syaikh Abul Hasan asy-Syadziliy mengatakan bahwa banyak orang yang meninggal dunia pada masa Rasulullah saw dalam keadaan meninggalkan harta, namun Rasulullah saw tidak berkomentar seperti komentar di atas. Sebab, mereka tidak menyembunyikan sesuatu yang berlawanan dengan penampilan lahirnya. Sementara orang itu menampakkan kemiskinan padahal memiliki dua dinar. Ketika apa yang disembunyikannya tampak, Rasulullah saw berujar, “ini dua barang dari neraka”Ada cerita menarik tentang kejujuran ulama waliyullah dalam berdandan. Abul Qasim al-Junaid seorang waliyullah pemuka para sufi guru al-Hallaj. Sewaktu para ulama syariat sepakat untuk menghukum al-Hallaj, al-Junaid sedang mengenakan jubah sufi. Karena itu ia tidak mau membubuhkan tanda tangan. Tapi Khalifah mengatakan mereka butuh tanda tangan al-Junaid.Lalu al-Junaid pulang dan ganti pakaian dengan sorban dan jubah ulama syariat. Setelah itu al-Junaid menandatangani putusan para ulama syariat tersebut. Al-Junaid menulis: “Kami memutuskan berdasarkan hal-hal yang terlihat. Sementara tentang kebenaran yang terbenam di dalam kalbu, hanya Allah yang Maha Tahu.” Kisah ini diceritakan Syaikh Fariduddin al-Attar di dalam kitab Tadzkiratul Auliya Bab al-Hallaj.Amal akan diterima jika dilakukan dengan benar dan jujur (shidq). Kata Syaikh Ibnu ‘Athaillah: “Jika kau menghendaki pahala untuk suatu amal, kau dituntut untuk mengerjakannya dengan benar dan jujur (shidq).” Sebab, balasan tidak akan diberikan kecuali untuk amal yang sempurna dari sisi wujud amal itu sendiri dan dari sisi niatnya. Semua terkandung dalam kata shidq yang berarti benar dan jujur, jelas Syaikh Zarruq di dalam syarah al-Hikam-nya.Amal yang manipulatif dengan dandanan dan gelar keagamaan yang tidak sesuai, terlihat seolah-olah sedang mengerjakan ketaatan, akan tetapi belum tentu diterima. Lebih lanjut Syaikh Ibnu ‘Athaillah bertutur, “Mungkin Dia membukakan untukmu pintu taat, dan tidak membukakan untukmu pintu penerimaan.” Kata Syaikh Zarruq, “amal tanpa penerimaan adalah seperti tidak beramal.” Na’udzubillah min dzalik. (abi sorban) -

Jejak Kiai Istad Djanawi, Sang Penawar di Bumi Tawar
Kiai Istad Djanawi_Kertosono Tidak semua orang yang menjadi Kiai itu berasal dari keturunan seorang Kiai. Tetapi ada juga seseorang yang menyandang status ke-kiaiannya dari proses perjalanan riyadoh dan kealiman ilmunya. Selain kealiman dan kewibawannya, tentu pengakuan dari masyarakat juga menjadi factor penentu. Dan tentu saja itu bisa dimaknai bahwa proses seseorang menjadi Kiai karena adanya interaksi aktif dengan masyarakat. Dan masyarakat melihat kelebihan atau daya linuweh yang dimiliki seseorang itu yang kemudian pantas disebut sebagai seorang Kiai.
Kiai, dimasa dulu, juga kini, selalu menjadi rujukan terhadap berbagai hal dalam kehidupan umat. Karena masyarakat menganggap, Kiai memiliki selain ilmu tentunya, juga kedekatan dengan Tuhan. Sehingga doa-doanya mustajabah. Karenanya selain meminta nasehat, biasanya masyarakat meminta wirid atau doa-doa mustajabah yang mampu menyelesaikan permasalahan umat.
Dan tentu saja juga, penulis tidak mengingkari, apabila terjadi disrupsi terhadap penyebutan Kiai, tanpa ada prasyarat sebagai ahli riyadoh dan kealiman, misalnya pengurus structural di suatu ormas. Ini permasalahan lain. Tulisan ini akan menyuguhkan Kiai yang memiliki prasyarat ahli riyadoh dan alim. Dan contoh Kiai yang memiliki prasyarat ahli riyadoh dan kadar kealimannya yang tidak diragukan lagi itu ialah Kiai Istad Djanawi. Tulisan sederhana ini akan mengungkapkannya.
Asal Muasal Kiai Istad Djanawi
Kiai Istad Djanawi berasal dari Kertosono, tepatnya di Desa Kalianyar. Desa Kalianyar hingga sekarang dikenal dengan nama Desa Mbothe. Nama Mbothe ini mengingatkan pada sebuah tanaman yang bisa digunakan untuk makanan ringan bahkan juga bisa dipergunakan sebagai campuran untuk sayur makanan. Bisa jadi di desa ini dulu banyak tanaman Mbothenya sehingga lebih dikenal dengan nama desa Mbothe.
Kiai Istad Djanawi Ia lahir pada tahun 1875 dari pasangan Djanawi dan Marsiyem. Djanawi sendiri adalah seorang petani yang taat. Pun Marsiyem, adalah ibu rumah tangga yang baik yang mengasuh anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.
Meskipun bukan berasal dari keluarga Kiai, tetapi Ayah Kiai Istad Djanawi merupakan petani taat, yang perhatian terhadap pendidikan putranya, khususnya pendidikan agama. Karenanya sejak kecil, Istad Djanawi sudah mengenyam pendidikan agama secara kuat. Baik pendidikan dari ayahnya langsung maupun ke Kiai Kiai dikampungnya yang alim.
Sebagaimana diketahui, bahwa desa Mbothe adalah desa yang dekat dengan banyak pesantrennya. Seperti Pesantren Mojosari, Pesantren Mangunsari, Pesantren Sekar Putih, dan Pesantren Kedunglo Bandar Lord an lain lain. Karenanya desa ini memperoleh rembesan barokah dari banyaknya pesantren disekitarnya dengan banyaknya alumni pesantren yang berkiprah berdakwah mengembangkan Islam di desa ini. Sehingga kehidupan beragama dan pendidikan agamanya sangat berakar di tengah masyarakat.
Dan saat Istad Djanawi berpamitan untuk melanjutkan pendidikan agamanya ke Pesantren, ayahnya pun mengizinkannya. Sebab, selain sudah menjadi kultur ditengah masyarakat, juga di pesantrenlah pendidikan alternative yang menjadi pilihan, ketika pendidikan Belanda yang diskriminasi, tak terjangkau oleh masyarakat kecil.
Yang menjadi pilihan Istad Djanawi adalah Pesantren Mangunsari. Pesantren yang terletak di Desa Mangunsari Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk. Pengasuhnya waktu itu adalah Kiai Imam Bahri. Istad Djanawi memperdalam ilmu-ilmu alat, Fiqh, tasawuf, Aqidah Akhlak dan lain lain dalam waktu yang lama.
Namun dahaga Intelektualnya belum terpuaskan. Ia kemudian melanjutnya nyantrinya ke Kiai Kholil Bangkalan-Madura. Seorang Kiai yang menjadi punjernya Kiai waktu itu, sehingga banyak Kiai yang memanggilnya Syaikhona. Di Syaikhona Kholil ini, Istad Djanawi memperdalam ilmu alat dan juga tasawuf serta kitab kitab salaf yang menjadi rujukan dalam ilmu agama.
Meskipun sudah mumpuni ilmu agamanya, namun Istad Djanawi belum merasa puas apabila belum menemukan seorang mursyid yang akan membimbingnya menuju kepada Allah. Atas isyarat yang diterimanya, ia pun kemudian melakukan perjalanan menemui sang Mursyid. Dan di Desa Besuk Curahmalang Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang, Kiai Istad Djanawi menemukan mursyidnya. Beliau adalah Syeikh Umar Bisri, mursyid Thoriqoh Naqsabandiyah Kholidiyah Mujaddadiyah. Pada Syeikh Umar Bisri ini, selain berbaiat pada thoriqohnya, Kiai Istad Djanawi juga belajar banyak riyadoh riyadoh taqarub ilalloh.
Sebagaimana para salik, dalam perjalanan menuju kepada Allah selalu ada godaan dan rintangan. Tetapi karena ia dibimbing oleh guru Agung yang pernah menempuh lika liku perjalanan menuju kepada Allah, ia dapat diselematkan dari halangan dan rintangan itu. Suatu kali Kiai Istad Djanawi didatangi ular besar sekali. Ular itu menawarkan berbagai kesaktian yang tidak bisa diperoleh oleh manusia biasa. Ular itu menunjukkan berbagai kesaktian yang mengagumkan. Meskipun demikian, dikarenakan bimbingan gurunya, Kiai Istad Djanawi tidak tergoda sedikitpun. Ia tetap bersiteguh dalam jalan menuju kepada Allah.
Usai memperoleh pencerahan dalam dunia spiritualnya, tidak menjadikan Kiai Istad Djanawi menyendiri bertapa menikmati keasyikan dunia spiritualnya. Namun tugas selanjutnya sesungguhnya lebih berat. Ia harus membumikan pesan-pesan langit ke bumi pertiwi.
Kiai Istad Djanawi pun memperoleh petunjuk untuk menemukan suatu tempat yang kelak akan dipergunakan untuk mendakwahkan agama Allah. Ia pun melakukan perjalanan ke Mojokerto dengan sesekali mengunjungi makam-makam aulia sepanjang perjalanan. Karena perjalanan yang panjang dengan perbekalan yang telah habis, ketika sampai di Desa Melaten Kecamatan Mojosari, Kiai Istad Djanawi tidak sadarkan diri. Ia pun kemudian ditolong oleh warga setempat. Setelah kondisinya pulih, ia pun melanjutkan perjalanan.
Sesampai di Desa Graji Kecamatan Dlanggu, Kiai Istad Djanawi singgah untuk beberapa lama. Bahkan ia pun memiliki seorang santri yang selalu melayani kebutuhannya. Namanya Karim. Di Desa ini, Kiai Istad Djanawi tak berhenti henti untuk melakukan mujahadah. Hingga pada suatu kali, ia memperoleh mimpi yang penuh makna. Ia bermimpi didatangi oleh berada di suatu mushola kecil. Di Depan Mushola kecil itu berdiri dua orang perempuan. Sedang dibelakang Mushola, terdapat makam yang diatasnya berdiri seorang laki-laki pendek memakai blangkon. Lelaki itu kemudian berbicara meminta bantuan kepada Kiai Istad Djanawi.
Isyarat dalam mimpi itu membuat Kiai Istad Djanawi penasaran. Bersama dengan santrinya, ia menelusuri jejak jejak mimpinya. Setiap kampung dicari musholanya dan dicocokkan dengan mimpinya. Tetapi tak satu pun Mushola seperti dalam mimpinya. Hingga ia sampai di sebuah desa Tawar Kecamatan Gondang, ia menemukan sebuah Mushola yang mirip dengan mimpinya. Ia pun kemudian meminta izin untuk singgah di Mushola ini. Dari keterangan warga setempat, diketahui bahwa makam dibelakang Mushola adalah makamnya Kiai Burhani. Kiai Burhani memiliki seorang istri yang bernama Nyai Watiah. Dan Nyai Watiah itu memiliki tujuh anak. Dan salah satu anaknya itu kebetulan seorang janda tanpa anak.
Kiai Burhani adalah pendakwah di desa tersebut. Hanya saja, dakwah yang dikembangkannya kurang berhasil dalam membina masyarakat. Masyarakat masih banyak yang awam dalam mengamalkan syariat syariat Islam. Namun belum banyak perubahan yang dilakukannya, Allah sudah menakdirkan ia kembali ke haribaan-Nya.
Kiai Istad Djanawi kemudian berusaha menghidupkan kegiatan Mushola ini. Dengan sholat jamaah dan Ngaji. Bertepatan pula pada saat itu, sudah masuk pada bulan ramadhan. Mushola kecil itu pun semarak.
Perubahan yang ada pada kehidupan religius di Mushola kecil itu setelah kedatangan Kiai Istad Djanawi sontak membuat Janda dari Kiai Burhani tertarik untuk meminangnya menjadi menantunya. Kiai Istad Djanawi dijodohkan dengan anaknya yang berstatus janda tanpa anak yang bernama Fathimah Jayun Yaumi. Gayung pun bersambut, Kiai Istad Djanawi yang sudah berumur 40 tahun pun menerima dengan lapang dada. Pernikahannya pun diberlangsungkan. Dari pernikahannya itu lahir dua belas anak yang bernama Haidlor Ali, Sulaiman Afandi, Khoirul Anam, Riyadlul Badiah, Muhajir, Zaenah, Muhayanah, Musyarofah, Baidlowi, Ahmad Syamsuddin, Isroil, dan Nur Roihanah.
#
Dalam kehidupan sehari-hari Kiai Istad Djanawi melakukan aktivitas seperti kebanyakan warga Tawar. Bahkan yang tidak umum, Kiai Istad Djanawi ba’da melakukan aktivitas ritual ibadah pagi, dari qiyamul lail, sholat subuh, dan pembacaan aurot thoriqoh yang berlangsung hingga waktu dhuha, jalan jalan ke pasar untuk sarapan dan berjualan. Kiai Istad Djanawi bahkan terkenal sebagai seorang makelar. Ia menjual padi, palawijo, bahkan juga rumah. Dari aktivitas jual beli dengan masyarakat itulah Kiai Istad Djanawi pelan pelan mengajak masyarakat untuk berkehidupan yang sesuai dengan agama tanpa menyinggung perasaan masyarakat.
Lambat laun, masyarakat pun banyak yang berguru kepada Kiai Istad Djanawi. Berbagai persoalan ditanyakan kepada Kiai Istad Djanawi. Dan Kiai Istad Djanawi melayani dengan sepenuh hati. Beliau sabar menghadapi masyarakat yang berbeda beda karakternya.
Dalam soal Aqidah, seperti karakter dakwah awal di daerah abangan, biasanya akan berhadapan dengan keyakinan suatu tempat yang diyakini akan kesakralannya. Dahulu di Desa Tawar ada puthuk, semacam tempat yang penuh pohon dengan gundukan tanah, yang disakralkan. Tempat ini juga angker. Saking angkernya, banyak orang kemudian menghubungkan semua kejadian dengan tempat ini. Bahwa sebab marabahaya juga berasal dari puthuk ini. Agar kehidupan berjalan normal, maka mereka akan memberikan sesajen. Dan disinilah masyarakat tanpa sadar tergelincir dalam kesesatan aqidah.
Maka, Kiai Istad Djanawi membongkar tempat ini. Santri santrinya dikerahkan. Sayangnya, ada satu kejadian yang membuat orang orang membenarkan keangkeran puthuk ini. Salah satu murid terkubur terkena longsoran tanah puthuk ini. Namun beruntung, dengan kekeramatan Kiai Istad Djanawi, sang murid bisa ditemukan tubuhnya yang terkubur di tanah, dalam keadaan masih hidup.
#
Pada tahun 1947, Kiai Istad Djanawi mulai membuka baiat Thariqah Naqsabandiyah Kholidiyah Mujaddadiyah. Tentu saja atas izin dari guru yang pernah mengijazahinya yakni Syekh Umar Bisri Curah Malang. Banyak masyarakat yang turut berbaiat kepadanya. Tiap hari senin malam dan kamis malam diadakan khususiyah untuk murid murid thoriqoh. Karena pelaksanaan khususiyah hingga larut malam, maka para murid yang rumahnya jauh, bermalam hingga pagi hari. Dan dipagi hari, Kiai Istad Djanawi memberikan hidangan sarapan secara gratis.
Lambat laun, murid murid thoriqohnya pun semakin banyak. Tidak hanya di wilayah Mojokerto saja bahkan sampai diluar Mojokerto. Thoriqoh ini hingga saat ini masih dilanjutkan oleh putranya yakni KH. Syamsudin sepeninggal Kiai Istad Djanawi.
#
Pada tahun 1947 Kiai Istad Djanawi mendirikan Madrasah Ibtidaiyah di Desa Tawar. Banyak sambutan atas berdirinya Madrasah Ibtidaiyah ini. Orang tua banyak yang mendaftarkan anak-anaknya ke Madrasah Ibtidaiyah ini. Sehingga pembelajaran di gedung yang dididirikan tidak memuat jumlah siswanya. Pembelajaran dilakukan sampai di serambi Masjid dan di rumah Kiai Istad Djanawi sendiri.
Pada tahun 1953, Kiai Istad Djanawi mendirikan bangunan sekolah dengan biaya sendiri. Sebab tempat yang digunakan untuk pembelajaran Madrasah Ibtidaiyah sudah tidak memadai lagi. Kiai Istad Djanawi mendirikan tiga bangunan lagi. Meskipun semi permanen, tetapi sudah dikatakan layak pada masanya.
Di Madrasah Ibtidaiyah ini, kurikulum yang digunakan kurikulum klasik berkhas pesantren. Yakni berbasis kitab kuning. Kiai Istad Djanawi mengajarkan Kitab Talim Mutaalim dalam bentuk nadzam nadzam yang dihafal oleh santri santrinya. Juga mengajarkan kitab Safinatun Najah, kitab fiqh dasar yang memuat dasar dasar hukum Islam sehari hari. Pada tingkat lanjut, Kiai Istad Djanawi juga mengajarkan Tafsir Jalalain.Selanjutnya Madrasah Ibtidaiyah ini dikembangkan oleh putra putrinya, hingga berkembang seperti sekarang ini. Di Desa Tawar telah berdiri MI, MTS, hingga MA dan Pondok pesantren tentunya.
Tentang Pondok Pesantren, sebenarnya sejak era Kiai Istad Djanawi, sudah ada rencana membangun pesantren. Hanya saja, belum terlaksana proses pendiriannya, Kiai Istad Djanawi telah berpulang ke rahmatullah. Di tangan putra putranyalah dikemudian pesantren itu berdiri besar, hingga sekarang ini.
Tepat diusianya yang ke 80, yakni pada tanggal 5 November 1959, Kiai Istad Djanawi menghembuskan nafas terakhirnya setelah berjuang dari sakit paru parunya. Isak tangis dari putra putrinya mengiringi jenazahnya. Pun kerabat serta santri santrinya.
Berita kematiannya menyebar luas. Masyarakat merasakan duka yang mendalam atas wafatnya seorang ulama yang mengayomi. Berduyun duyun pentakziyah memenuhi rumah Kiai Istad Djanawi.
Pukul 10.00 WIB, jenazah diberangkatkan oleh KH. Kholil dari Simping Dlanggu. Diiringi pula oleh para Kiai yang Masyhur di Mojokerto seperti KH. Ismail Ibrahim (Pengasuh PP. Kedungmaling Sooko), KH. Ahyat Chalimi (Pengasuh PP. Sabilul Muttaqin), dan KH. Yahdi Matlab (Pengasuh PP. Mojogeneng) dan lain lain.
Penulis :
Isno Woeng Sayun
Ketua LTN NU Kab. Mojokerto -

KH. Muhammad Suhud; Kyai Militer Yang Terlupakan

Tidak banyak penulis sejarah peran santri dalam perang kemerdekaan yang mengulas panjang lebar tentang kiprah KH. Muhammad Suhud. Padahal begitu besar jasanya dalam membentuk dan melatih para santri sehingga siap berperang baik dalam Laskar Hizbullah maupun Sabilillah.
KH. Muhammad Suhud lahir di Pare Kediri pada tanggal 1 Nopember 1926. Tanggal lahir ini, menurut Gus Yakub, putranya, tanggal lahirnya tidak sesuai, sebab karena urusan dengan pencalonannya menjadi anggota DPR, maka umurnya di-muda-kan. Kemungkinan juga, seperti orang dulu pada umumnya, tidak perduli dengan angka kelahiran. Sehingga ketika diera modern ditanya tentang angka kelahiran, maka akan dikira-kirakan. Apabila mengacu keterangan dari Gus Yakub, kalau umurnya KH. Muhammad Suhud itu “unda undi” dengan KH. Wahid Hasyim, berarti kelahirannya antara tahun 1915-1920. Ini setara pula dengan angka kelahiran dari sahabat sahabt Ansornya di Mojokerto seperti KH. Ahyat Chalimi, KH. Munasir Ali dan Mansur Solikhi yang lahir antara tahun 1915-1920.
KH. Muhammad Suhud memiliki nasab yang bersambung ke jalur Mataram. Hal ini bisa dilacak disilsilah yang ditulis dalam buku Taman Solaya yang sekarang dikomandani oleh KH. Habib Mastur. Ayah dari KH. Muhammad Suhud adalah KH. Hasan Besari bin KH. Raden Khabib bin KH. Raden Muhammad bin Pangeran Hadi Ningrat Kerto Noto Agomo jejuluk KH. Raden Nur Qoyidi bin Sunan Kuning bin Sunan Mas bin Adipati Anom bin Aryo Prabu Adi bin Mas Rangsang bin Mas Jolang bin Sutowijoyo bin Ki Gede Pemanahan.
KH. Muhammad Suhud kecil tinggal di Pare. Setelah tumbuh remaja, ia dibawa oleh orang tuanya tinggal di Sumobito. Di Sumobito ini, KH. Muhammad Suhud remaja belajar mengaji di Masjid Sumobito. Kemudian pada tahun 1930 ia melanjutkan nyantri di PP. Tebuireng. Di PP. Tebuireng ini, ia memperoleh pengalaman luar biasa. Ia selain dididik langsung oleh Hadratus Syeikh Hasim Asyari juga menjadi teman diskusi KH. Wahid Hasyim. Dari KH. Wahid Hasyim inilah KH. Muhammad Syuhud memperoleh ilmu organisasi dan ilmu sosial politik, yang kelak menjadi bekalnya dalam berpolitik pasca kemerdekaan.
Ilmu organisasi dan ilmu sosial politik ini, diperoleh oleh KH. Muhammad Suhud dari KH. Wahid Hasyim, karena pada saat itu, tatkala KH. Wahid Hasyim pulang dari Mekkah, ia mengusulkan reformasi pada sistem pembelajaran yang ada di PP. Tebuireng. Dari bandongan ke sistem diskusi atau musyawarah. Bahkan dalam ilmu terapan, KH. Wahid Hasyim mengusulkan untuk membuat kursus-kursus yang sistematis dan memperoleh hasil sesuai dengan tujuan yang dibuat. KH. Wahid Hasyim juga mengusulkan agar perpustakaan di PP. Tebuireng, tidak hanya sekadar mengoleksi kitab kitab kuning, tetapi juga buku buku berbahasa Inggris, Belanda, melayu dan bahasa bahasa pengetahuan lainnya. Dan KH. Muhammad Suhud memperoleh keberkahan dengan kemajuan yang dialami oleh PP. Tebuireng pada masa itu.
Selain di PP. Tebuireng, KH. Muhammad Suhud juga menimba ilmu diberbagai pesantren, seperti PP. Mojosari Nganjuk, PP. Siwalan-Sidoarjo, dan lain lain. Bahkan menurut Gus Yakub, KH. Muhammad Suhud juga pernah berguru kepada KH. Halim Majalengka. Di Majalengka inilah ia satu perguruan dengan Kyai Yazid, ahli bahasa dari Pare, yang kelak melahirkan seorang murid penggagas Kampung Inggris, Mr. Kalend.
Karir KH. Muhammad Suhud dimulai di MI al Muhsinun Kauman. Ia menjadi Kepala Sekolah di Madrasah milik Nahdlatul Ulama bentukan KH. Zaenal Alim ini. Ia juga dipercaya oleh Hadratus Syekh Hasyim Asyari untuk mendirikan dan membina MI dibeberapa daerah. Biasanya Hadratus Syekh Hasyim Asyari setelah pranata disiapkan, akan mengirim santri untuk tinggal ditempat tersebut dan kemudian dijodohkan dengan gadis daerah tersebut. Sehingga kemudian ia mampu mengembangkan dan menyebarkan Islam di daerah tersebut.
Kemampuan dalam dunia pendidikan semakin terasah, ketika pada tahun 1943, KH. Muhammad Suhud memperoleh kursus pelatihan Guru Agama di Jakarta selama tiga bulan. Dan pada tahun yang sama, KH. Muhammad Suhud juga mewakili Mojokerto ikut kursus pelatihan Kyai di Jakarta selama tiga bulan juga.
Selain menjadi pengajar di MI al Mushinun, KH. Muhammad Suhud juga bergabung menjadi anggota Ansor Mojokerto pimpinan KH. Ahyat Chalimi. Di Ansor, ia berinteraksi secara intens dengan anggota Ansor seperti KH. Munasir Ali, Mansur Solikhi, Mulyadi, Ahmad Yatim dan lain sebagainya. Pada saat Masyumi menyetujui untuk mengirim santri santri bergabung dengan PETA, KH. Muhammad Suhud ikut bergabung. Ia dikirim untuk berlatih militer di Jatinegara dan Jakarta. Dan kemudian mengantarkannya memperoleh kedudukan sebagai Shodancho.
Perlu diketahui, Struktur PETA terdiri atas 65 Daidan (batalyon) yang ada di Jawa dan 3 Daidan di Bali. Tiap Daidan beranggotakan 535 personil dipimpin Daidancho (komandan batalyon) pangkat setingkat mayor dibantu kepala staf berpangkat Chudancho. Setiap Daidan terdiri dari 4 Chudan yang dipimpin seorang Chudancho (komandan kompi) pangkat setingkat kapten. Tiap Chudan terdiri dari 3 shodan yang dipimpin seorang shodancho (komandan peleton) pangkat setingkat letnan. Tiap shodan terdiri dari 4 bundan yang dipimpin seorang bundancho (komandan regu) pangkat setingkat sersan.
Pada saat yang sama, KH. Muhammad Suhud juga ikut tergabung dalam latihan militer di Cibarosa yang diperuntukkan untuk pembentukan Laskar Hizbullah. KH. Muhammad Suhud mewakili Mojokerto bersama dengan Mulyadi dan Ahmad Yatim.
Ada cerita menarik saat ia dilatih tentara Jepang. Pemuda-pemuda yang dilatih tentara Jepang itu, pada suatu kali diadu dengan Sumo. Siapa yang kalah, dijamin meninggal dunia. Banyak para pemuda yang mengalami retak tubuhnya. Pada gilirannya, KH. Muhammad Suhud dihadapkan dengan Sumo. KH. Muhammad Suhud merapal Hizib Nawawi dan binasalah sumo itu. Tetapi tentara Jepang, segera mengirim Sumo lagi untuk bergulat dengannya. Sampai lima Sumo terpental. Dan sebelum tenaganya sendiri kehabisan, akhirnya KH. Muhammad Suhud membuat strategi, hanya bertahan hingga waktu lama.Selesai latihan di Cibarosa, KH. Muhammad Suhud mendapat mandat untuk melatih santri santri memiliki dasar-dasar berperang. Latihannya, kalau di Mojokerto di daerah Prajurit Kulon. Sedang kalau di Jombang, ditempatkan di Mojoagung.
Dari alumni-alumni pelatihannya itulah, kemudian KH. Muhammad Suhud bersama pemimpin lainnya membentuk dan memperkuat pasukannya dalam beberapa kelompok. Yang masih muda dimasukkan ke dalam Laskar Hizbullah sedangkan yang sudah berumur dimasukkan ke dalam Sabilillah. Ada juga Laskar yang dibentuk oleh KH. Muhammad Suhud, yakni Laskar M. Laskar M ini terdiri dari para pencuri, perampok dan bandit. Mereka juga dilatih untuk melakukan aksi aksi mengacaukan. Bahkan mereka adalah spionase spionase handal yang kelak dipergunakan oleh tentara republic Indonesia untuk mendapatkan informasi selama perang revolusi.Ketika Laskar Hizbullah masuk ke dalam TKR, KH. Muhammad Suhud juga ikut bergabung. Dan karir kemiliterannya berakhir saat Indonesia telah merdeka secara bulat pada tahun 1950. Ia mengundurkan diri. Sepertinya alasannya seperti pada umumnya para santri, resolusi jihad hanya mengamanatkan untuk mengusir penjajah. Kala penjajah sudah tidak ada maka mengangkat senjata sudah tidak diperlukan lagi.
Namun demikian, kata Gus Yakub, meskipun KH. Muhammad Suhud mulai fokus ke pesantrennya, Roudlotul Muttaqin Ngares, beliau masih tetap terus diintai oleh para militer, bahkan hendak dikaitkan dengan pemberontakan DI/TII. Dan pada akhirnya, KH. Muhammad Suhud memilih jalur politik untuk melawan berbagai upaya pelemahannya. Pada tahun 1955, ia menjadi DPRD dari jalur Partai NU. Dan kemudian saat orde baru, yang menuntut fusi partai Islam bergabung ke PPP, ia pun bergabung dengan partai yang menaungi umat Islam itu. Tetapi menjelang tahun 1980-an, berbagai intimidasi intimidasi kepada Kyai kerap dilakukan oleh pihak militer. Dan dengan ijtihad politiknya, KH. Muhammad Suhud bergabung dengan Golkar. Keputusan ini pernah mengantarkannya disidang oleh para Kyai. Tetapi dengan argumentasi strategi politiknya, maka para Kyai memahami keputusannya.
Bahkan salah satu idenya, agar kiai NU bisa ada dimana mana, terwujud pasca NU melakukan gerakan khitoh. Wallahualam.
Isno Woeng Sayun
Ketua LTN NU Kab. Mojokerto -

11 Februari Kelahiran 2 Ulama Besar Kalimantan Selatan
InfokomBanserNU- Ditanggal 11 Februari Ini Ada 2 Ulama Besar Kalimantan Selatan Tanggal Lahirnya Sama Akan Tetapi Tahunnya Berbeda,Yaitu Pertama Adalah Alhm.Guru DiSekumpuL(K.H.Muhammad Zaini bin Abdul Ghani/Abah Guru SekumpuL).
Dan Yang Kedua Adalah Guru Ibad(K.H.Badruddin bin K.H.Ahmad Zaini).1- Sedikit Manaqib Alhm.Guru DiSekumpuL.
11 Februari 1942 Adalah Kelahiran Ulama Besar Ditanah Banjar dan Juga Seorang Auliya Allah,Beliau Adalah Alhm.Guru DiSekumpuL(K.H.Muhammad Zaini bin Abdul Ghani).
Beliau Adalah Dzurriyat Syaikh Muhammad Arsyad bin Abdullah aLBanjari(Datu Kalampayan).Pangkat Beliau Sejak Kecil Sudah Diangkat Menjadi Wali Qutub.dan Beliau Mempunyai Kerajaan Tersendiri Didalam Surga.Yang Mengisi Kerajaan Beliau Adalah Orang Yang Beliau Pilih Tentunya Para Pecinta Beliau.
Beliau Dilahirkan DiKampung Tunggul Irang Sebrang Martapura. Nama Ayah Beliau Adalah H.Abdul Ghani bin H.Abdul Manaf. Nama Ibu Beliau Adalah Hj.Masliyah binti H.Mulya. Dari Segi Keturunan,Kakek Beliau(H.Abdul Manaf)Adalah Dzurriyat Datu Kalampayan(Syaikh Muhammad Arsyad bin Abdullah aLBanjari).
Sedangkan Nenek Beliau(Salbiyah)Ada Garis Keturunan Dari Sunan Giri(Maulana Ainul Yaqin).
Diantara Guru Beliau Adalah Paman Beliau Sendiri Yaitu Guru Semman Mulya dan Guru Bangil(Guru Syarwani Abdan). Nama Beliau Sewaktu KeciL Adalah Qusyairi.
Beliau Mempunyai 2 Orang Putera Yang Bernama H.Muhammad Amin Badali dan H.Ahmad Hafi Badali.Mudah2an Keduanya Panjang Umur,Sehat Badan dan Dimudahkan Segala Urusan,,Aamiin.
Alhm.Guru DiSekumpuL Wafat Pada Tanggal 9 Agustus 2005 Bertepatan Tanggal 05 Rajab 1426 H.
Walaupun Beliau Sudah Meninggalkan Kita Semua Akan Tetapi Jasa2 Beliau Selalu Kita Kenang.
Dan Ditanggal Kelahiran Beliau Ini Sepatutnya Kita Bersyukur Berharap Berkat dan Syafa’at Beliau Semoga Terkumpul Diakhirat Bersama Beliau Berkat Cinta Kepada Beliau.2-Sedikit Manaqib Guru Ibad.
Nama beliau K.H.Badruddin bin K.H.Ahmad Zaini bin K.H.AbdurRahman bin H.Zainuddin bin AbdusShamad bin Abdullah aLbanjari. Orang Martapura biasa memanggil beliau Guru Ibad.
Beliau dilahirkan pada tanggal 11 Februari 1937 M/29 Dzulqo’dah 1355 H didesa Tunggul Irang Martapura.
Ayah beliau bernama K.H.Ahmad Zaini,sedangkan Ibu beliau bernama Hj.Jannah.Diantara Guru2 beliau dikalimantan adalah
- K.H.Husein Qodri(Kakak Kandung Beliau)
- K.H.Muhammad Sya’rani Arif
- K.H.Muhammad Semman Mulya
- K.H.Muhammad Salim Ma’ruf
K.H.Badruddin adalah orang yang pertama kali yang membawakan Maulid aLhabsy Simtudduror dikalimantan yang mana beliau dapat izin dari guru beliau,akan tetapi beliau menyerahkannya kepada K.H.Muhammad Zaini bin Abdul Ghani(alhm.guru disekumpul)untuk mengembangkannya kekalimantan khususnya kalimantan selatan sampai sekarang ini.
Kyai Falaq Bogor pernah menyerahkan Selempang warna coklat kepada Guru Ibad.Kyai Falaq menyuruh Guru Ibad untuk mengurusi dipemerintahan.maka dari itu K.H.Badruddin sering menjabat dipemerintahan pada masa itu.
K.H.Badruddin juga pernah memimpin pesantren darussalam martapura periode ke-7 tahun 1976-1992.
Beliau wafat pada tanggal 23 Desember 1992/28 Jumadil Akhir 1413 H
Beliau dimaqomkan dipemaqoman alkah keluarga didesa Tunggul Irang,Martapura berdampingan dengan Kakek,Ayah dan Saudara2nya.Mudah2an Berkat Rasulullah,Para Auliya dan Orang2 Sholeh,,Segala Dosa dan Kesalahan Dzohir Bathin Seumur Hidup Diampuni Allah,Qobul Segala Hajat,Selamat Dunia Akhirat,Husnul Khatimah dan Masuk Surga Bighoiri Hisaab,,Aamiin..!!!
#K.H.Badruddin bin H.Ahmad Zaini
#K.H.Muhammad Zaini bin H.Abdul Ghani -

SEKELAS QURAISH SHIHAB, DITUDUH SESAT?

Oleh Asep Safa’at Siregarwp.sorbansantri.com – Sudah tidak asing bagi kita siapa M Quraish Shihab. Salah satu cendekiawan Muslim asli Indonesia. Karya spektakulernya diantara puluhan atau bahkan ratusan lainnya adalah Tafsir Al-Misbah.(Tafsir al-Misbah adalah sebuah tafsir al-Quran lengkap 30 Juz pertama dalam kurun waktu 30 tahun terakhir. Warna keindonesiaan penulis memberi warna yang menarik dan khas serta sangat relevan untuk memperkaya khazanah pemahaman dan penghayatan umat Islam terhadap rahasia makna ayat Allah SWT).Tapi bagi sebagian orang mengatakan bahwa beliau ini sesat, Syiah, liberal dsb bermodal potongan video YouTube dan narasi tulisan diberbagai medsos.Siapa yang menuduh itu?Mereka ustadz amatir. Mereka yang belajar agama otodidak. Mereka yang paling mementingkan penampilan. Atau bahkan mereka yang bergelar u-lama karena gamis dan serbannya. Mereka yang dinobatkan sebagai ustadz karena pandai ceramah. Mereka yang belajar agama dari google atau YouTube. Mereka semua yang bukan maqam-nya disitu.Maka jika sekelas Quraish Shihab saja mereka klaim sesat dengan penilaian subjektif semata, kita tidak akan heran bila sekarang ini banyak yang berani terang-terangan menghina atau menghujat para ulama kita.Mengkritik memang boleh saja, tapi yah… Lihat diri jugalah. Jangan sampai seorang guru bahasa Inggris mengoreksi Ahli Tafsir. Seorang alumni “pesantren kilat” berani mengatakan sesat orang yang bertahun-tahun di pesantren. (Ini permisalan saja, mohon maaf kepada guru 2 bahasa Inggris)Bukan berarti ahli tafsir dan alumni pesantren nihil salah, bukan. Tapi saya ingin mengatakan tidak pas, tidak cocok atau tidak layak.Jangan pula kita menuduh seseorang sesat hanya karena keluarganya tidak sesuai pemahaman kita. Misalnya Quraish Shihab dicemooh karena anaknya Najwa Shihab tidak memakai jilbab. Padahal masalah jilbab ada ikhtilaf dikalangan ulama dalam konteks kekinian.Andaikan saja, benar-benar ada anggota keluarga dari ulama yang sesat, kan tidak boleh juga kita meng-generalisasi Ulamanya (ayahnya) juga sesat.Apakah kita meragukan kenabian Nuh as karena anak dan istrinya ditenggelamkan Allah karena tidak mendapat hidayah??Sebaliknya, Apakah kita meragukan kerasulan Ibrahim as hanya karena ayahnya musyrik (penyembah dan produsen patung berhala)? (abi sorban) -

MBAH MANSYUR MENGANGKAT SEPOOR

Kaitan Masjid Brangkal dan Pondok Ndresmo
Daya linuweh yang dimiliki seseorang bukanlah sebuah hal yang aneh. Kelebihan itu didapatkan dari proses lelaku dan kedekatan pada Sang Pencipta. Kejadian yang tidak mungkin bagi mereka dapat dilakukan. Mbah Mansyur salah seorang yang memiliki daya linuweh tersebut.
Mbah Mansyur adalah seorang dai yang berasal dari Sidoresmo Surabaya. Dia menetap dan mendirikan sebuah masjid di dekat Kali Brangkal. Lokasi masjid itu langsung berhadapan dengan pabrik gula Brangkal milik Eachauzier. Pendirian. Pabrik itu merupakan pabrik gula terbesar yang ada di Mojokerto. Oleh masyarakat sekitar Mbah Mansyur dikenal sebagai orang sakti.
Ketika membangun masjid Brangkal, ada sebuah peristiwa aneh yang dilakukan oleh Mbah Mansyur. Pada saat menaikkan kap bangunan ternyata diketahui bahwa ada blandar yang kurang panjang. Kayu yang tersedia sudah tidak ada lagi yang bisa digunakan menyambungnya. Menebang kayu lainnya juga tidak mungkin karena butuh waktu untuk mengeringkan kayu tersebut. Mendapatkan laporan dari para tukang, Mbah Mansyur segera turun ke lapangan. Kayu jati yang kurang panjang beliau pegang dan ditariknya. Seperti karet saja, kayu jati itu molor mengikuti tarikan Mbah Mansyur. Setelah itu kayu dipasang dan bangunan dapat diselesaikan tanpa tertunda lagi.
Salah satu keanehan Mbah Masyur adalah kekuatannya saat menarik gerbong kereta. Diceritakan bahwa pada suatu hari gerbong kereta terjebur ke kali Brangkal. Gerbong kereta barang tersebut milik perusahaan kereta api Oost Java Stoomtram (OJS). Seperti biasanya jika ada kecelakaan semacam itu, maka didatangkalah kereta derek dari stasiun besar Mojokerto.
Seharian penuh upaya evakuasi dilakukan dengan alat mekanis. Untuk kebutuhan itu maka jalur transportasi kereta dari arah Mojoagung harus dihentikan. Sayangnya gerbong tidak bisa ditarik dari dalam kali. Derek seolah tidak mampu mengangkat berat gerbong kosong tersebut. Para pekerja sudah kehabisan akal mengatasi hal itu.
Pada saat itulah ada seorang warga yang menyarankan agar minta tolong pada Mbah Mansyur. Saran itu dilakukan dengan mendatangi beliau dan kesediaanpun dudapatkan. Untuk mengangkat gerbong dari dalam kali, Mbah Mansyur tidak butuh alat bantu apapun kecuali seutas benang. Dengan daya linuwehnya, gerbong berhasil ditarik sendiri oleh Mbah Mansyur. Ditarik sendiri dengan seutas benang.
Peristiwa anjloknya gerbong kereta api OJS di Brangkal itu sendiri terjadi pada bulan Maret 1926. Berita kecelakaan tersebut sempat dimuat dalam koran Sumatra Post tanggal 15 Maret.
Masyarakat memang tidak heran dengan kesaktiannya. Beliau berasal dari keluarga pesantren Ndresmo yang kondang dengan ilmu kanuragan. Sejak muda terbiasa dengan lelalu dan tirakat untuk menempa dirinya.
Tokoh sakti itu hidup pada tahun 1930-an. Seperti tokoh yang memiliki kelebihan atau kasekten, maka Mbah Mansyur juga berusaha untuk menjauhkan diri dari keramaian dunia. Sebuah pondok beliau dirikan di Brangkal. Pesantren itu memang tidak sebegitu besar pada waktu diasuh oleh Mbah Mansyur dan mengalami kemajuan pesat saat dipegang oleh KH Khusen Ihsan. Karena itu pesantren tersebut dinamakan Al Ikhsan. Mbah Mansyur kembali ke Sidoresmo pada kisaran tahun 1940-an. Masjid dan pesantren diteruskan oleh Kyai Ihsan dan nantinya dilanjutkan oleh putranya, KH Khusen Ihsan.
Pada mimbar khutbah di Masjid Brangkal tertulis bila masjid itu didirikan pada bulan Oktober 1938. Pendiriannya tepat pada bulan Ramadhan 1357 Hijriyah. Berdasarkan catatan tahun itu maka dapat dipastikan bahwa Mbah Mansyur tinggal di Brangkal pada kisaran tahun tersebut.
Saat tinggal di Mojokerto Mbah Mansyur sering mengunjungi makam ulama di sekitar Mojokerto. Salah satu makam yang kerap dikinjungi adalah Makam Mbah Sinari Manting. Oleh karena itu makam mbah Manting hingga saat ini dihormati oleh keluarga Sidosermo.
Ketetkaitan Mbah Mansyur dengan Pesantren Brangkal terjadi lagi tahun 1946. Keluarga Mbah Mansyur yaitu Kyai Mas Muhajir Masyur mengungsi ke Brangkal. Selain mengungsi beliau juga ikut mengajar disana. Aktifitas yang berhenti saat serdadu Belanda menyerang Brangkal dan menjadikan masjid Brangkal menjadi pos tentara Belanda.
*photo dari www.Ndresmo.blogspot.
-

Ustadz Maaher Meninggal Dunia di Rutan Mabes Polri

wp.sorbansantri.com – Soni Ernata atau Ustadz Maaher meninggal dunia di Rutan Mabes Polri. Dia meninggal pada pukul 19.00 WIB tadi.
“Betul, beliau meninggal sekira jam 7 malam di Rutan Mabes Polri,” ujar kuasa hukum Ustaz Maaher Djudju Purwantoro saat dihubungi, Senin (8/2/2021).
Jenazah Ustaz Maaher langsung dibawa ke RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur pada pukul 20.00 WIB.
“Dan sekitar jam 8 dibawa ke RS Polri. Ba’da Isya. Dan saya saat ini menuju RS Polri Kramat Jati,” terangnya.
Djudju mengungkapkan Ustaz Maaher meninggal karena sakit. Seminggu lalu almarhum baru saja kembali ke rutan dari RS Polri untuk mendapat perawatan.
“Meninggal kan di berita-berita banyak sakitnya beliau dan kami mohon dibantarkan. Dan beliau seminggu yang lalu baru pulang dari RS Polri habis perawatan. Dan 3 hari lalu sudah dialihkan dilimpahkan ke kejaksaan dan Kamis saya sudah kirim surat atas nama kuasa saya mintakan yang bersangkutan melihat kondisi sakit untuk kembali dirawat,” tandasnya.
Ustadz Maaher ditahan di Rutan Bareskrim Polri setelah menjadi tersangka kasus ujaran kebencian di media sosial. Dia ditangkap pada 4 Desember 2020 lalu.
Di dalam tahanan, Ustadz Maaher sempat mengeluhkan sakit. Dia kemudian dibantarkan ke RS Polri. (sumber)
-

Gus Dur dan Ilmu Kasyafnya yang Tinggi

wp.sorbansantri.com – Istilah ilmu kasyaf itu sangat familiar bagi masyarakat santri pengamal dan pengkaji ilmu tasawuf.
Kasyaf/mukasyafah secara gampang bisa diartikan dengan tersingkapnya tabir yang menutupi hal-hal ghaib pada seseorang karena tingginya derajat spiritualitasnya sehingga orang tersebut bisa melihat hal-hal ghaib yang bagi orang pada umumnya tidak tampak/tertutupi.Nah, suatu ketika Gus Dur berangkat haji dengan “bolo-bolo plek” nya alias teman-teman akrabnya.
Ada Abah saya (Abah Amanulloh Tambakberas), ada Kyai Mu’adz dan Kyai Nukman Tohir Kajen Pati, ada H. Masnuh Waru Sidoarjo, dan beberapa orang lainnya. Keberangkatan haji rombongan ini sangat istimewa karena membawa misi khusus dari sesepuh sesepuh NU untuk wiridan menjelang muktamar.
Di tengah-tengah suasana wukuf di padang Arafah, tiba-tiba Gus Dur mengajak H. Masnuh untuk keluar dari tenda dan menggelar sajadah di samping tenda.Mereka berdua berdzikir dan berdoa di luar tenda tanpa atap yang menghalangi panasnya matahari di Arafah.
Tiba-tiba Gus Dur berbisik kepada H. Masnuh : “Ji, lihat ke langit ya. Kalau langitnya terbelah segera beritahu saya dan kita langsung berdoa. Sampeyan baca doa Sapu Jagat saja sampai langit itu menutup kembali.”
Setelah beberapa saat menunggu, tiba-tiba H. Masnuh tergopoh-gopoh dan bilang ke Gus Dur.
“Gus.. Gus.. Langitnya sudah membelah.”
Dan Gus Dur segera merapal doa-doa.Begitu juga H. Masnuh membaca doa yang diperintah Gus Dur untuk membacanya, sampai langit tertutup kembali.
Setelah langit menutup kembali, Gus Dur segera mengajak H. Masnuh untuk kembali masuk tenda.
Gus Dur bilang: “Ji, ayo kembali dan kita tidur saja di dalam tenda”.
Kemudian H. Masnuh menjawab : “Lho Gus, Ini waktu wukuf masih lama. Kenapa kok tidur?” “Gak papa, biarkan mereka terus berdzikir dan berdoa. Saya mau tidur saja. Karena langit sudah tutup”, jawab Gus Dur sambil terkekeh khas beliau.Itulah tanda kasyafnya Gus Dur, hamba Allah istimewa yang diberi kemampuan melihat tanda-tanda alam yang tidak bisa dilihat oleh manusia biasa. Dan pada tahun 2015, setelah 20 tahun lebih peristiwa itu terjadi, air mata H. Masnuh masih saja menetes deras ketika menceritakan hal itu pada saya. Beliau masih hidup dan cerita ini bisa dicrosscek ke beliau.
Ila hadlroti ruhi Gus Dur, Al Fatihah…(Penulis: Gus Wafiyul Ahdi, Tambakberas Jombang)








