Kategori: Berita Utama

Liputan Sorban Santri mengenai berita terkini dan terpenting baik dari dalam maupun luar negeri

  • JIWAMU BEGITU BERSIH

    JIWAMU BEGITU BERSIH

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Tidak ada yang jauh lebih penting dari politik selain kemanusiaan.
    Belum kutemukan sampai hari ini.
    Presiden yang begitu santun dalam hargai agama .
    Belum kutemukan lagi tokoh kemanusiaan sepertimu.
    Kehadiranya begitu singkat tp penuh misteri contoh dari suri tauladannya.
    Yaa ALLoH….ampuni segala dosanya dan tempatkan beliau ketaman indah abadiMU.
    aamiin….
    Gus, susah kucari teladan sepertimu sekarang… Semuanya berpolitik hanya demi sebuah kekuasaan dan menyalurkan syahwat, hasrat dan cita-cita menjadi petinggi bangsa ini..
    Aku lelah Gus…., Doakan bangsa ini dari sana Gus, semoga bangsa ini akan selalu dalam lindungan Alloh Subhanallah Wa Taala.
    Tidak ada kekuasaan yang harus diperjuangkan mati-matian apalagi harus menumpahkan darah..
    Hari ini dan seterusnya, entah tragedi kemanusiaan apalagi yang akan terjadi. Perusakan dan anarkisme apalagi yang akan muncul. ( Yusa Abdulloh Syah )
  • KENAPA PARA SANTRI SUKA MENATA SANDAL KYAI-NYA?

    KENAPA PARA SANTRI SUKA MENATA SANDAL KYAI-NYA?

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Ngalap berkah dengan menata sandal sebenarnya bukan hal baru;
    التبرُّكُ بالنَّعلين من الوليِّ أفضلُ منه بغيرهما لأنهما يَحمِلانِ الجُثَّةَ كلَّها . ( الفوائد المختارة : ٥٧٠ )
    Ngalap berkah melalui sandal seorang wali lebih utama dari pada dengan selainnya. Karena sandal di gunakan untuk membawa jasad seutuhnya.
    Satu hal unik yang sudah menjadi tradisi para santri adalah mereka suka berebutan menata sandal kyainya. Menata sandal kyai adalah bentuk kepatuhan yang tulus dan keta’dziman kepada sosok guru atau kyai dan diyakini didalamnya ada keberkahan. Santri menyebutnya sebagai upaya ngalap berkah.
    Perbuatan menata sandal ini juga melibatkan dua ulama besar Indonesia, yaitu KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari saat mereka bersama berguru pada Kyai Sholeh Darat Semarang. Keduanya selalu berebutan dan bersaing untuk dapat menata sandal kyainya.
    Tidak sampai disini, tradisi unik ini ternyata jg pernah ada di zaman Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Di zaman Rasulullah صلى الله عليه وسلم ada seorang bocah berumur belasan tahun bernama Salman. Ia selalu datang lebih dulu ke Mesjid sebelum nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم datang.
    Setelah nabi Muhammad masuk mesjid, Salman kemudian bergegas merapikan dan membalik posisi sandal Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Hal itu dilakukan setiap hari sehingga membuat Rasulullah صلى الله عليه وسلم penasaran untuk mengetahui siapa yang melakukan itu.
    Suatu kali saat masuk Masjid, Rasulullah Saw sengaja bersembunyi untuk melihat siapa orang yang merapikan dan mengubah letak sandalnya. Saat itulah terlihat Salman yang melakukannya.
    Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم kemudian mendoakan Salman agar menjadi orang yang alim dalam ilmu Fiqh.
    Setelah dewasa dikalangan ulama Salman dikenal sebagai ahli Fiqh sesuai doa nabi terhadapnya. (abi sorban)
  • WARGA SUMUT KEMBALI MELAKUKAN PELECEHAN TERHADAP KIAI

    WARGA SUMUT KEMBALI MELAKUKAN PELECEHAN TERHADAP KIAI

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Pengunggah Foto KH Ma’aruf Amin-‘Kakek Sugiono’ Ditangkap, Begini Tampangnya
    Polisi menangkap penunggah foto Wakil Presiden Ma’ruf Amin disandingkan dengan bintang porno Jepang Shigeo Tokuda alias ‘Kakek Sugiono’.

    SORBANSANTRI.COM
    Sulaiman Marpaung (37), Pengunggah Foto Ma’aruf Amin-‘Kakek Sugiono’
    Pelaku bernama Sulaiman Marpaung (37) merupakan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) di tingkat kecamatan. Informasi yang diperoleh, pelaku ditangkap di rumahnya di Tanjungbalai Asahan, Sumatera Utara, Jumat (2/10/2020).
    Pelaku diketahui menggunakan akun Facebook Oliver Leaman S saat memposting kolase foto Ma’ruf dan ‘Kakek Sugiono‼️ Jangan kasih KENDOR ndan!!
    Dan JANGAN MATERAI 6000..SELESAI (abi sorban)
  • GP ANSOR CANGGU berbagi sembako di era pandemi covid-19

    GP ANSOR CANGGU berbagi sembako di era pandemi covid-19

    SORBAN JETIS:_Ancaman resesi global tidak menyurutkan semangat sahabat sahabat Ansor ranting Canggu dalam mewujudkan kepeduliannya terhadap sesama khususnya kaum duafa dan yatim piatu ..

    SORBANSANTRI.COM

    Pemberian uang saku untuk yatim

    Pendistribusian santunan kali ini sangat spesial karena meskipun dalam kondisi pandemi yang berimbas terhadap perekonomian dunia apalagi ancaman resesi global .

    Tidak hanya kepedulian yang kita tanamkan tetapi juga pembelajaran terhadap anak anak remaja penerus ahlisunnah wal jamaah di wilayah desa Canggu , bagaimana cara peduli terhadap sesama .. mereka kami ajak langsung terjun ke masyarakat melihat langsung kondisi kaum duafa yang butuh perhatian dari semua fihak ..

    Sehingga ketika mereka dewasa atau menjadi sukses nanti tidak akan lupa terhadap fakir miskin karena jiwa dan perasaan mereka sudah di asah dini ..

    Dari sekian banyak duafa yang menerima santunan ada yang tuna netra

    Santunan yang di laksanakan hari Senin , 5 Oktober 20 jam 19 .00 di awali dengan sholat berjamaah di masjid Al muttaqin di lanjutkan dengan pendistribusian santunan yang di kordinatori Gus Slamet dari Canggu permai dan alhamdulillah berjalan dengan lancar dan sukses amiin .

    By: s.parman sorban

  • INI 9 KOMANDAN PERANG YANG PERNAH DIMILIKI NU

    INI 9 KOMANDAN PERANG YANG PERNAH DIMILIKI NU

    SORBAN SANTRI- Kontribusi Nahdlatul Ulama dalam membebaskan bumi pertiwi dari penjajahan, tidak dapat ditanggalkan begitu saja dari alur sejarah kemerdekaan Indonesia. Hizbullah menjadi salah satu motor penggerak para pejuang kala itu. Dari pergolakan perjuangan inilah muncul nama-nama besar para komandan perang NU yang patut kita teladani bersama.

    1. KH. ZAINUL ARIFIN
    Postur tubuhnya yang tegap, gagah dan berparas tampan menguatkan profil dirinya sebagai seorang pejuang sejati. Pria kelahiran Barus, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara pada tahun 1909 ini memang identik dengan Hizbullah. Tampuk kepemimpinan organisasi ini juga pernah dijabatnya sejak awal Januari 1945. Sebagai seorang komandan dirinya selalu memberikan contoh yang baik kepada para bawahannya.Geliat perjuangannya memang tidak terekam jelas dalam sejarah. Namun, dengan diangkatnya Kiai Zainul sebagai Komandan Hizbullah menandakan dirinya berperan besar dalam pergulatan perjuangan NU melawan penjajah. Pria yang masih keturunan dari Raja Barus (Sutan Ramali Pohan bin Sutan Sahi Alain) ini juga telah banyak terkontribusi baik bagi NU maupun negara. Jabatan sebagai Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Kerja III (1962-1963) menjadi satu komitmen khusus kesetiaannya kepada negara. Di akhir hayatnya (2 Maret 1963) ia tercatat sebagai Pahlawan Nasional dan penyandang penghargaan Mahaputera dari pemerintah.

    2. KH. MASJKUR
    Lahir di Singosari, Malang, 1315 H/30 Desember 1900 M. Masa mudanya banyak ia habiskan untuk merantau dari pesantren ke pesantren. Pengembaraannya dimulai dari Pesantren Bungkuk di Singosari, berlanjut ke Pondok Sono, Siwalanpanji, Tebuireng hingga berguru kepada Syaikhona Cholil Bangkalan.

    Di masa-masa perjuangan revolusi pembebasan atas penjajahan, Kiai Masjkur aktif turut berjuang sebagai seorang pejuang. Tak ayal jabatan sebagai Ketua Markas Tertinggi Sabilillah (1945-1947) diamanahkan kepada dirinya. Dan di masa Mr. Amir Syarifuddin ia ditunjuk secara resmi untuk menjadi anggota Badan Pembela Pertahanan Negara.

    Banyak perjuangan lain yang ia tunjukkan demi mengabdi pada negara. Bahkan dirinya juga tercatat pernah menjabat sebagai seorang Menteri Agama hingga 4 kabinet. Pada 19 Desember 1992 dirinya harus berpulang ke Rahmatullah. Dan di waktu pemakaman itulah dirinya mendapat penghormatan secara militer, berkat jasa-jasanya yang besar terhadap negara.

    3. KH. MUNASIR ALI
    Dilahirkan di daerah Modopuro, Mojasari, Mojokerto pada 2 Maret 1919 dari seorang ayah bernama H. Ali yang merupakan seorang kepala desa yang dihormati di daerahnya. Selama perang kemerdekaan meletus Kiai Munasir aktif sebagai seorang pejuang dan berkarir di dunia kemiliteran.

    Karirnya dimulai dengan mengikuti latihan kemiliteran prajurit Jepang dengan masuk sebagai anggota penerangan Heiho. Aktif sebagai pasukan Hizbullah dengan menjadi Komandan Batalyon Condromowo dan turut andil dalam mendirikan Hizbullah Cabang Mojokerto. Dan ketika Hizbullah melebur ke dalam barisan TNI, Kiai Munasir juga terdaftar sebagai anggota aktif, hingga dirinya diangkat menjadi Komandan Batalyon 39 TNI AD.

    Di akhir hayatnya pada 1 Januari 2002 pelbagai penghargaan pernah diberikan kepadanya mulai dari Satya Lentjana peristiwa Perang Kemerdekaan I dan II, Bintang Gerilya dan lain sebagainya.

    4. KH. SULLAM SYAMSUN
    Dia adalah satu-satunya penyandang pangkat tertinggi kemiliteran dari para tokoh NU yang pernah aktif di sana. KH. Sullam Syamsun begitulah nama lengkapnya dilahirkan di Malang 29 April 1922.

    Pada masa karir keaktifannya di dunia kemiliteran pelbagai jabatan telah ia rengkuh mulai dari Komandan Kompi I merangkap Wakil Batalyon I Brigade IV Brawijaya, Komandan Keamanan Malang Kota, Komandan Batalyon 523, 514, Pa Teritorium V/Brawijaya dan pada tahun 1977 pensiun penuh dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI.

    5. KH. ISKANDAR SULAIMAN
    Terlahir dari nasab keturunan bangsawan yang kaya raya. Iskandar Sulaiman tak menampakkan sedikitpun raut kepongahan. Justru ia dikenal sebagai seorang yang sangat dermawan.

    Selepas perjalanannya menimba ilmu di Pesantren Tebuireng, dengan kekayaannya digunakannya untuk memakmurkan masyarakat sekitar sekaligus memperkenalkan NU kepada masyarakat. Beberapa unit pendidikan seperti madrasah dan kegiatan penunjang lain turut didirikannya.

    Namun, karirnya tidak hanya berhenti sebagai seorang pengajar saja. Di masa menjelang dan setelah masa kemerdekaan ia aktif di dunia kemiliteran. Semangat nasionalisme selalu terpancar dari sosoknya. Perjuangan itu terus ia lakukan hingga pangkat terakhir yang pernah ia raih sebagai seorang kolonel.

    6. KH. HASYIM LATIEF
    Dilahirkan di daerah Sumobito, Jombang pada 17 Mei 1928. Nama lengkapnya ialah Hasyim Latief, ia dikenal sebagai seorang tokoh Hizbullah. Awal karirnya di Hizbullah ia mulai di kala ia berstatus sebagai peserta pada pelatihan opsir Hizbullah di Cibarusa, Bogor (1945) Se-Jawa dan Madura.

    Di saat Hizbullah Jombang didirikan, Kiai Hasyim Latief lansung menjabat sebagai seorang komandan latihan. Dan ketika kisaran tahun 1947 terjadi peleburan antara TNI dengan Hizbullah, ia masuk ke dalam resimen 293 dengan komandan Letkol KH. A. Wahib Wehab. Pangkat terakhimya yang ia panggul adalah Komandan Kompi I Yon Munasir. Sayang, perjuangannya harus terhenti pada Mei 2005, pada usia 77 tahun dirinya dipanggil Sang Khalik.

    7. KH. ZAINAL MUSTOFA
    Nama kecilnya adalah Hudaeni. Lahir dari keluarga petani berkecukupan, putra pasangan Nawapi dan Nyonya Ratmah, di kampung Bageur, Desa Cimerah, Kecamatan Singaparna. Dikenal sebagai salah satu tokoh NU yang memiliki banyak pengikut (baik dari kalangan santri dan masyarakat) sekaligus getol dalam menyemangatkan gerakan perlawanan terhadap penjajahan.

    Ia selalu menyerang kebijakan politik kolonial Belanda yang kerap disampaikannya dalam ceramah dan khutbah-khutbahnya. Di masa penjajahan Jepang dirinya juga mengatur strategi perlawanan terhadap Jepang. Dengan semangat jihad membela kebenaran agama dan memperjuangkan bangsa, KH. Zaenal Mustafa merencanakan akan mengadakan perlawanan terhadap Jepang pada tanggal 25 Pebruari 1944 (1 Maulud 1363 H).

    Ia juga turut serta mengomandoi perlawanan terhadap Jepang di Sukamanah Tasikmalaya. Namun sayang perjuangannya harus berakhir di balik jeruji besi. Pesantren yang didirikannya harus ditutup oleh Jepang. Dan atas jasa-jasa itulah kini KH. Zainal Mustofa diangkat sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 064/TK/Tahun 1972.

    8. H. ABDUL MANAN WIJAYA
    Namanya cukup melegenda di wilayah Kotatif Batu. Itu karena namanya telah dijadikan sebagai nama jalan, tepatnya Jl. Manan Wijaya, yang membentang di sepanjang daerah Pujon. Nama aslinya Rumpoko, lahir di Pujon pada 1910. Ayahnya seorang mandor jalan. Manan Wijaya adalah alumni Pesantren Tebuireng Jombang.

    Ketika PETA dibentuk, ia langsung bergabung dengan kesatuan militer Jepang tersebut meski sebagai tentara aktif, namun sosok santri selalu tampak. Ia juga rutin berlangganan Suara NU dan Suara Ansor dari Surabaya.

    Setelah menjadi pembicara dalam rapat akbar di Tebuireng (1967) dan menyebut “Hamid Roesdi itu Ketua Ansor” ia diMabeskan hingga pensiun.
    Pensiun dengan pangkat terakhir Brigjen. Jenazah dimakamkan di Desa Sisir Kecamatan Batu, atas permintaan sendiri, karena tidak mau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.

    9. HAMID ROESDI
    Nama Hamid Roesdi telah menjadi legenda pahlawan masyarakat Kota Malang, sama halnya nama Bung Tomo untuk masyarakat Surabaya. Bahkan nama Hamid Roesdi tidak hanya dijadikan sebagai nama jalan di pusat kota, tapi juga nama terminal di Kedungkandang. Patungnya juga dapat dilihat di Malang.

    Lahir di Sumbermanjing Kulon (Pagak) Malang Selatan pada 1917. Ia putera ke empat H. Umar Roesdi.

    Di masa penjajahan Jepang ia masuk pendidikan perwira Bo Ei Gyugun Kanku Kyokutai di Bogor, kemudian menjadi Cudancho PETA di Malang Syu Dai I Daidan (Dai I Cudan) yang berkedudukan di Glagah Aren Sumbermanjing.

    Awal 1947 diangkat sebagai komandan Resimen Infantri 38 Divisi VII Untung Suropati dan sebagai Komandan Pertahanan Daerah Malang berkedudukan di Pandaan Pasuruan. Pada waktu penumpasan PKI Muso (Madiun Affair) ia menjabat Komandan Komando Penumpasan PKI Muso di daerah Malang Selatan (Turen-Donomulyo).

    Menghadapi Clash II Belanda menjabat Komandan Sub Wherkreise I dan memimpin gerilya di daerah pendudukan Malang Timur dengan pangkat mayor. Pada 8 Maret 1949 ia gugur bersama pasukannya di daerah Wonokoyo, Kedungkandang pukul 03.00 dinihari. (abi sorban)

  • Pekikan Takbir Nasionalisme

    Pekikan Takbir Nasionalisme

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Pengabdian atas Pertiwi ini, tentu bukan hanya tentang pangkat dan jabatan saja, namun lebih dari itu, ini tentang Ketulusan dan Keikhlasan sebuah perjuangan.
    Bung Tomo yang kebetulan representasi dari NU dan para pahlawan pendahulu lainnya, adalah Patriot yang hingga kini masih sangat terasa gaung nasionalismenya, bung tomo dengan pasukan santri dan doa kyai, telah secara nyata turut serta memperjuangkan kemerdekaan NKRI tercinta ini.
    Kami selaku Nahdhiyin muda, sangat masih punya keyakinan yang begitu dalam, Bahwa sebagai generasi penerus, BANSER bersama elemen muda lainnya akan selalu bisa bersinergi untuk bahu membahu menjaga Negeri ini, dari rong-rongan kaum yang tak punya jiwa nasionalisme.
    Kita yaqini bersama, bahwa NU dan Organisasi Kemasyarakatan lainnya, juga akan mampu menciptakan Generasi-Generasi selayaknya Bung Tomo atau Jendral Soedirman.
    Karena Generasi Sudirman dan Bung Tomo inilah, generasi yang Takbirnya Murni dari hati demi kesatuan BANSA, AGAMA dan NEGARA, bukanlah Takbir yang dipekikkan demi kepentingan politik sesaat…
    Dirgahayu ke-75 TNI. Semoga TNI makin kuat, makin kukuh, makin kompak, menjaga kedaulatan NKRI, dan semakin dicintai rakyat Indonesia.(mwc nu srumbung)
  • GIAT RUTIN KADER PENGGERAK NU, MENASIONALKAN TIRYAQUL MUJARROB BIL WALIL MUQORROB

    GIAT RUTIN KADER PENGGERAK NU, MENASIONALKAN TIRYAQUL MUJARROB BIL WALIL MUQORROB

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Jum’at, 02 Oktober 2020. Pertama kalinya kegiatan rutin kader penggerak NU di adakan di Kecamatan Pacet Mojokerto, tepatnya di Masjid Nurul Iman Pacet Nggapuk Pacet Mojokerto. yang bertujuan untuk membentengi serta menjaga IDEOLOGI bagi semua kader-kader NU dengan mengamalkan TIRYAQUL MUJARROB BIL WALIL MUQORROB yang oleh KH. Adnan Anwar diperintah unuk di NASIONALKAN.

    SORBANSANTRI.COM
    pembacaan TIRYAQUL MUJARROB BIL WALIL MUQORROBTIRYAQUL MUJARROB BIL WALIL MUQORROB di Masjid Nurul Iman Pacet Mojokerto

    Kegiatan yang dimulai ba’da isya’ tersebut, dihadiri oleh kader-kader yang pernah mengikuti pelatihan dan bimbingan dalam lembaga dan banom NU seperti PKPNU – MKNU – DTD – DIKLATSAR – PKD – DIKLATAMA – MAKESTA – LKD Fatayat- DLL. Uniknya dalam acara tersebut adalah banyaknya silaturrakhim antar kader dengan sedikit acara ceremonial karena kegiatan ini hanya ada 3 acara inti yaitu Tawassul, pembacaan TIRYAQUL MUJARROB BIL WALIL MUQORROB dan Makhallul Qiyam selebihnya itu adalah acara silaturrokhin dan santai ngobrol sesama kader.

    Dan dalam tema serta pokok bahasan dalam kegiatan tersebut adalah NKRI Harga Mati… Nderek NU sak lawase (ikut NU selamanya). Tema ini sangat dikedepankan dalam kegiatan ini sebagai wadah dan pemantapan IDEOLOGI kader Agar mandiri dalam menjalani Berbangsa dan Bernegara, tetap berpegang teguh dalam IDEOLOGI ASWAJA NU.

    Semoga kita tetap kompak, semangat dalam ber NU, tidak goyah dalam menjalani cerita berbangsa dan bernegara. Bukan Kader NU dalam Kepentingan, Bukan Kader NU dalam Balas Budi, Bukan Kader NU yang Ragu-ragu, tetapi Sebagai Kader NU yang KOKOH. (abi sorban)

    BACAAN TIRYAQUL MUJARROB BIL WALIL MUQORROB

  • Kritikan Gus Baha Untuk Orang-orang NU

    Kritikan Gus Baha Untuk Orang-orang NU

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- NU itu terlalu banyak pengajian umum. Tradisi ngaji (kitab) mulai hilang. Itu lampu merah. Orang kaya suka ulama. Suka kiai. Tapi maunya ngatur ulama, tidak mau diatur ulama.
    Saya gak mau ngaji yang ribet itu. Harus pasang panggung, sound system, yang penting bupati datang. Ribet.
    Mereka habis 50 juta, 100 juta tidak masalah. Tapi sesuai mau mereka, yang datang jamaahnya banyak. Coba, kalo nuruti maunya kiai, ulama, ngajinya menganalisa kitab, uangnya buat mencetak naskah, pasti tidak mau.
    Saya ingin kebesaran ulama itu kembali, yaitu bisa mengatur orang kaya. Bukan seperti sekarang, diatur orang kaya.
    Banyak yang datang minta pengajian umun, bawa alphard, saya jawab kalo mau ngaji datang ke sini saja. Kalo kiai diatur-atur, kan ribet. Bukan saya anti. Dan itu perlu. Tapi sudah over. Tapi tradisi ngaji yang sebenarnya, yang jadi standar NU, sudah mulai ditinggalkan. Ditambah, kiai yang kedonyan, cinta dunia. Klop. Yang kaya, tahunya memuliakan kiai dengan uang, kiainya juga senang. Musibah. Terutama di Jawa Timur. Saya keluar dari kantor PWNU Jawa Timur, langsung dikasih voucher umroh. Saya jawab, tidak, saya kiai Jawa Tengah.
    Makanya saat saya diundang di Tebu Ireng, Pondok Syaikhona Kholil, Termas … Saya mau asal, disediakan naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Kholil, Syaikh Mahfudz Termas.
    Ya, saya ngajinya kitab para pendiri pesantren itu. Bukan ngaji Gus Baha tapi ngaji Mbah Hasyim Asy’ari, dll.
    Ini kan musibah. Selama ini dzurriyah, para cucu tidak peduli dengan naskah pendiri. Padahal ada ahli filologi, pengumpul naskah. Naskah masyayikh kita ada di luar negeri, cucunya ga punya.
    Saya punya naskahnya Syaikh Mahfudz yang tidak ada di Termas. Saya dikasih Mbah Moen. Akhirnya, para cucu ngaji ke sini.
    Coba, Sirojut Tholibin di cetak di mana-mana, termasuk Yaman. Namun, kita tahu nasibnya di Jampes.
    Kiai-kiai NU itu sudah alim. Ngerti hukum secara tafsil, kok malah hobi bicara yang mujmal. Ini kan sudah mau pinter, di suruh goblok lagi.
    Anda itu ngaji, sampai buka kamus, meneliti tiap kata, harusnya ngajarnya seperti itu. Agar tetap alim.
    Ada kiai yang sehari manggung 3 kali. Padahal, pasti dia tidak paham problem dakwah di setiap tempat itu. Dia tidak tahu objeknya, tidak tahu obatnya. Pasti bicaranya standar, itu-itu saja, yang penting lucu dan menarik. Mana ada waktu untuk belajar lebih dalam?
    Akhirnya ada orang ceramah ditambahi musik macam-macam. Karena dia tidak alim. Tidak terkontrol, yang penting menarik. Akhirnya ya goblok beneran. Pondok NU juga ikut-ikutan tren. Bikin acara, ya pengajian umum. Yang datang banyak. Masak, pondok NU mengundang Ustad/Kiai yg tidak jelas. Karena ikut tren tadi. Tidak tahu, keduanya itu kategorinya apa, detailnya mereka. Musibah lagi, warga NU membaca tulisan Gus Ulil, Nusron bahkan Abu Janda tapi tidak tahu naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari.
    Saya hanya ingin, tradisi ilmiah di NU itu kembali. Kiai tidak boleh diatur orang kaya. Jika tidak, NU bisa habis (orang alimnya). Saya di NU ditugasi ini, bukan yang lain. Maka, saat saya di Lirboyo, saya bilang ‘Gus Kafa, saya lebih senang disambut 4 santri yang benar-benar niat ngaji, daripada banyak santri yang niatnya tidak jelas’. Kemudian, setiap kali saya ke Lirboyo, anak, mantu, cucu dikumpulkan dulu ngaji sama saya.
    Jika, kita 5 tahun saja memulai. NU akan hebat. Jika bukan anak kita yang jadi alim, cucu kita akan jadi ulama. Itulah NU. NU itu harusnya melahirkan kiai – allamah, bukan kiai-mubaligh seperti sekarang. Dan saya melihat sudah lampu merah. Padahal di zaman kakek saya, bahasa Arab itu seperti bahasa Jawa. Saya punya tulisannya Mbah Hasyim Asy’ari yang surat-suratan dengan kakek saya dengan bahasa Arab.
    Keilmuan, kealiman ini jangan habis. Dulu para pendiri, kakek kita, allamah, punya naskah. Jika kita terus begini, bisa habis. (abi sorban)
    Penjelasan Gus Baha; ( KH. Ahmad Bahauddin Nursalim) dalam pengajian beliau
  • Kitab Titik Nol Penuh Kenangan, Kisah KH. Ma’ruf Khozin Waktu Santri

    Kitab Titik Nol Penuh Kenangan, Kisah KH. Ma’ruf Khozin Waktu Santri

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Entah kenapa pagi ini tiba-tiba saya membuka lemari dan mendapatkan kitab Tarsyih Mustafidin, sebuah kitab yang penuh kenangan bagi saya. Karena di dalam Kitab inilah tercatat perubahan drastis dalam diri saya.
    Sebelumnya saya sama seperti kebanyakan santri yang dibiayai oleh orang tua, yang boleh dibilang berkecukupan. Kalau mau minta uang dipenuhi oleh orang tuanya. Dan segala fasilitas pondok yang lain juga diwujudkan. Saat itu antara tahun 1994 sampai tahun 2000.
    Saya sama seperti santri yang lain. Tidak terlalu menonjol dalam prestasi. Kalau dibangunin sulit, tidurnya juga sampai larut malam. Subuhnya bangun paling lambat, kecuali kalau kiai langsung yang keliling pondok sambil membangunkan santri.
    Kebiasaan saya nongkrong di kantin, sering ‘khoyal’ (cangkrukan) di dapur dengan 1 gelas kopi dijoin 3-4 teman, kadang di bawah jemuran untuk menghindari dari keamanan pondok (termasuk Gus Umronuddin dan Ust Agha  lladzifie / Pak Ghofur).
    Kenyamanan bagi santri nakal semacam itu tiba-tiba terhenti ketika Abah saya wafat, tepat 2 hari setelah pergantian Milenium tahun 2000. Sejak saat itu saya merasa kehidupan sudah berakhir. Sudah tidak bisa melanjutkan kehidupan. Sudah terasa berat menjalani hari-hari tanpa Abah. Saat kembali ke pondok pun tidak ada semangat, tidak ada gairah.
    Selama di pondok saya berusaha untuk melupakan hal-hal yang berkaitan dengan Abah saya, tapi saat berada di kantin Pondok yang teringat hanya wajah Abah saya. Ketika bercengkrama dengan teman-teman yang lain yang terbayang juga Abah saya. Ketika di dapur pun yang terbesit di dalam pikiran adalah kenangan bersama Abah. Semua diliputi perasaan yang terus menghantui itu.
    Belum saya temukan bagaimana caranya supaya hilang. Tapi ketika membuka kitab tiba-tiba lenyap pikiran itu. Semakin lama membuka kitab semakin tidak ingat terhadap Abah. Maka saya pun terus membuka kitab dan kebetulan di kamar saya ada Kamus Munawir besar, saya cari makna kitab yang tidak saya ketahui di kamus tersebut.
    Saya pun kemudian meminjam kepada kakak saya, Mas Nasihudin, kitab Fathul Muin yang sudah penuh dengan makna dari ngaji beliau kepada Kiai Fuad Jazuli. Lalu saya salin ke kitab saya ini yang bernama kitab Tarsyih Al-Mustafidin, yang bagian atasnya adalah Syarah dan Matan dari Fathul Mu’in.
    Di situlah saya merasakan nikmat betul memaknai kitab, sama sekali tidak ada ingatan terhadap orang tua yang sudah wafat. Ketika kemudian terbangun malam saya pun kemudian memaknai kitab ini. dan terasa nikmat kalau ditemani oleh kopi khas anak pondok, namanya kopi Brontoseno. Ada teman yang kebetulan mengetahui saat itu, di antaranya Mas Amin (Zinedine).
    Terus saya lakukan itu beberapa bulan. Sampai memaknai kitab Fathul Mu’in ini khatam (13 Agustus 2000, walaupun sudah khatam di hari-hari aktif saya masih ngaji Fathul Mu’in kepada Gus Zidni dan Gus Ma’mun). Setelah itu berlanjut ke beberapa kitab yang lain.
    Dari situlah saya merasa ada perubahan dalam hidup saya. Saya tidak menyalahkan kalau ada teman-teman yang menjumpai kehidupan saya di Pondok pada kisaran di bawah tahun 2000, menganggap Ma’ruf itu tukang tidur, itu sukanya di kantin bla bla bla. Tidak salah anggapan itu.
    Tetapi terkadang Allah memberi kesempatan kepada hamba-Nya untuk berubah dan memperbaiki diri. Dari perjalanan hidup saya tersebut saya belajar tidak meremehkan orang lain. Mereka masih berpeluang besar diberi kesempatan oleh Allah untuk menjadi lebih baik. Justru kitalah yang tidak boleh terlalu ujub, bangga diri, sebab boleh jadi tergelincir dalam kesombongan. Naudzubillah. (abi sorban)
    Sumber KH. Ma’ruf Khozin
  • Haul KH.MUSTHOFA bin SINGOKERTO Canggu Jetis mojokerto di era pandemi covid-19

    Haul KH.MUSTHOFA bin SINGOKERTO Canggu Jetis mojokerto di era pandemi covid-19

    Sorban jetis_KH. Muhammad Musthofa bin singokerto salah satu kyai sakti mojokerto, makam beliau di masjid al musthofa, masjid peninggalan beliau di wilayah canggu jetis mojokerto, selain terkenal sakti, beliau juga adalah salah satu ulama yang menyebarkan agama islam di wilayah canggu dan sekitarnya

    SORBANSANTRI.COM
    KH. Moh. Musthofa bin Singokerto

    Untuk mengenang jasa beliau, santri dan warga canggu tiap tahun mengadakan haul di masjid al musthofa, yang di hadiri ribuan santri dan warga sekitar. Berbeda dengan tahun tahun sebelumnya tahun ini haul di laksanakan dengan sederhana, karena mengingat masih dalam kondisi pandemi covid-19, yang di hadiri sekitar 450 santri dan warga canggu.(30/09/20)

    SORBANSANTRI.COM
    Makam KH. Moh. Musthofa bin Singokerto

    Menurut keterangan dari ketua takmir masjid al musthofa Ustadz NUR ALIMAN mengatakan ” sebelum acara di laksanakan pihak takmir sudah berkoordinasi sama kepala desa canggu dan pihak keamanan yang akhirnya di ijinkan melaksanakan acara haul tahun ini, dengan syarat harus bisa memenuhi protokol kesehatan, dan alhamdulillah dengan di bantu BANSER semuanya yang hadir memakai masker, cuci tangan sebelum masuk masjid dan menjaga jarak” untuk undangan menurut Ustadz NUR ALIMAN hanya takmir masjid al musthofa, dan pengurus NU CANGGU serta banomnya, sekitar seratusan undangan tapi yang hadir di luar dugaan masih hampir lima ratusan

    SORBANSANTRI.COM

    Gus DARTOK MULYADI selaku Ketua GP ANSOR CANGGU saat di temui team SORBAN mengatakan “setelah ada permintaan pam BANSER dari pihak takmir masjid al musthofa pada acara haul KH. M MUSTHOFA bin SINGOKERTO Langsung saya intruksikan kepada BANSER canggu untuk hadir semua dan yang hadir sekitar 20 personil, dan kami juga di bantu sahabat2 PAGAR NUSA canggu ada 5 sahabat, dan alhamdulillah acara berjalan dengan lancar aman sampai selesai”

    SORBANSANTRI.COM

    Pantauan dari lokasi acara nampak dari seragam yang di pakai ada NU canggu, ANSOR, MUSLIMAT, FATAYAT, IPNU, PAGARNUSA di kelompok ibu ibu ada sekelompok seragam batik IPPNU, mereka semua tertib dan khusuk mengikuti acara sampai selesai

    By:alim sorban