Kategori: Berita Utama

Liputan Sorban Santri mengenai berita terkini dan terpenting baik dari dalam maupun luar negeri

  • Asas Hubungan Muslim non-Muslim adalah Perdamaian

    Asas Hubungan Muslim non-Muslim adalah Perdamaian

    InfokomBanserNU- Wacana terkait hubungan antara Muslim dan non-Muslim selalu hangat diperbincangkan. Banyak yang masih alergi saat bertemu kalangan beragama lain. Apalagi hal tersebut diperkuat dengan sejumlah ayat, hadits dan kisah yang menyebutkan bahwa dalam Islam tidak dikenal hubungan lintas agama. “Hubungan Muslim non-Muslim itu asasnya adalah perdamaian, dan bukan peperangan. Islam adalah agama cinta dan kasih sayang,” demikian disampaikan Ustadz Yusuf Suharto, Rabu (11/12).

    Pandangan tersebut disampaikan tim peneliti Pengurus Wilayah (PW) Aswaja NU Center Nahdlatul Ulama Jawa Timur ini saat menjadi pembicara pada ‘Seminar Kebangsaan; Islam, Toleransi, dan Konsep Kewarganegaraan’. Kegiatan diselenggarakan Ikatan Keluarga Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif (Ikapmam) Denanyar, Jombang di gedung teatrikal Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. “Kepada non-Muslim saja kita diajarkan oleh Islam untuk bertoleransi dan kasih sayang, apalagi kepada sesama Muslim,” ungkap kandidat doktor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang ini.

    Bagaimana jika dalam kenyataannya terjadi perbedaan pandangan dan pendapat yang berbeda terkait satu masalah? “Jika ada perbedaan pendapat sesama Muslim, ya berbeda dengan proposional saja. Tidak perlu saling membully. Ya, berbeda ilmiah,” tegasnya. Justru di sinilah kedewasaan dan keluasan pandangan kaum Muslimin dipertaruhkan. Sejauh mana mereka memaknai dan menyikapi perbedaan yang ada. “Inilah toleransi, yaitu menyadari bahwa ada perbedaan, dan kita bertenggang rasa,” terangnya. Ustadz Yusuf Suharto kemudian menceritakan sejumlah kisah yang membenarkan terkait pola hubungan manakala terdapat perbedaan pendapat.

    Bahkan Nabi Muhammad juga telah memberikan teladan bagaimana menyikapi perbedaan tersebut. “Rasulullah sendiri diutus untuk membawa ajaran yang lurus dan toleran, yakni buitstu bil hanifiyyah as-samhah,” jelasnya. Di ujung paparannya, dirinya mengutip pendapat almaghfurlah KH Maimoen Zubair, terkait bagaimana menyikapi perbedaan pendapat. “Perbedaan jangan dibesar-besarkan, sehingga kita bisa hidup rukun. Semua persepsi dan polemik harus kita redam.

    Jangan marah-marah lalu membuatnya semakin menjadi-jadi. Habluminallah harus dikuatkan dan habluminannas harus selalu dijaga dengan baik. Harus pintar-pintar menyelaraskan,” katanya. Sementara itu pembicara kedua, Ngatiyar, berbicara agar meningkatkan kadar toleransi dari personal menuju toleransi sosial. “Toleransi itu kebalikan alienasi. Dalam toleransi itu kebersamaan dan tak mengasingkan sesama warga negara,” pungkas dosen Sekolah Tinggi Ilmu Fiqih (STIF) An-Nawawi Banten ini di hadapan peserta seminar. Tampil sebagai moderator Amamur Rohman Hamdani selaku Koordinator Jumat atau Jaringan Ulama Muda Nusantara, Yogyakarta

    (sumber Ansor Pejogol)

  • ISN Ngoro-Mojokerto peduli bencana Nganjuk

    ISN Ngoro-Mojokerto peduli bencana Nganjuk

    Sorbansantri.com – Kepedulian Info Seputar Ngoro (ISN) Kec.Ngoro,Kab Mojokerto Untuk meringankan beban warga Ngetos Kab. Nganjuk pasca di terjang banjir bandang dan tanah longsor membuat satu dusun mengalami duka yang mendalam akibat bencana tersebut, sebagian rumah warga hancur rata dengan tanah sehingga membuat 15 Kepala Keluarga kehilangan rumahnya, juga ada yang kehilangan sanak saudara akibat tertimbun longsoran tanah akibat hujan deras yang mengguyur di wilayah tersebut.

          Komunitas Facebook Info Seputar Ngoro-Mojokerto yang di ketuai oleh Moh Hasan Bisri menggelar open donasi melalui jejaring sosial untuk mengetuk hati para dermawan.
    
          Menurut rekanita Mey selaku kordinator menerangkan waktu kami wawancara "<em>Alhamdulillah sehari dari open donasi banyak respon dari para dermawan untuk mengirimkan sumbangan ke sekretariat ISN yang berada di desa sedati</em>" lanjutnya lagi dalam keterangannya "<em>ada juga yang berupa sembako, uang tunai, mie instan, perlengkapan bayi dll, uang tunai dari dermawan terkumpul sejumlah 2.400.000 lalu kita belanjakan paket sembako, beras 1 kwintal 25 kg, mie instan 6 dus, telur 1 peti, pampes bayi 5 bal, mie kuning 36 kg, kecap 5 bungkus, kopi sacet 1 dus, minyak goreng 1 dus dll</em>".
    
           Semua perolehan dari donasi diserahkan ke posko 3 bencana di kantor GP ANSOR Kota Nganjuk dan serah terima di saksikan oleh anggota BANSER dan GP ANSOR setempat, karena untuk saat ini akses menuju lokasi bencana masih di tutup untuk umum.
    

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

             Harapan dari komunitas ISN ini "<em>semoga dengan adanya donasi bisa sedikit meringankan beban hidup mereka yang terdampak musibah, dan mudah mudahan rumah yang mengalami kerusakan segera bisa di perbaiki oleh pemerintah agar aktifitas warga bisa kembali normal seperti semula"</em> (<strong><em>Hasan-sorban</em></strong>)
    
  • Download Logo Resmi Harlah ke 97 Nahdlatul Ulama’ (16 Rajab 1344 -1441 H)

    Download Logo Resmi Harlah ke 97 Nahdlatul Ulama’ (16 Rajab 1344 -1441 H)

    InfokomBanserNU- Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia. Sejarah hari lahir NU terjadi 94 tahun silam, tepatnya tanggal 31 Januari 1926.

    Mengenal Sosok Pendiri NU: KH Hasyim Asy’ari. Nahdlatul Ulama (NU) menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. Berdirinya NU pada 31 Januari 1926 tidak bisa lepas dari peran KH Hasyim Asy’ari.

    Karena sebesar besarnya organisasi Islam di Mesir itu maksimum 72 juta orang, tidak tentu semua orang anggotanya. … Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan, NU bisa menjadi organisasi terbesar di dunia. Sebab tidak semua organisasi Islam di dunia memiliki anggota banyak seperti NU. Bahkan untuk organisasi di Mesir.

    Tujuan utama didirikannya NU di antaranya adalah: a) memelihara, melestarikan, mengembangkan dan mengamalkan ajaran Islam Ahlusunnah wal-Jamaah dengan mengikuti pola madzhab empat: Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Hanbali serta mempersatukan langkah-langkah para ulama dan pengikut-pengikutnya.

    Download Logo HARLAH NU 97 H versi Corel Adobe Ilustrator ( AI ) PNG JPG PSD dan TWIBON ( Foto Profil )

    SORBANSANTRI.COM

     

    SORBANSANTRI.COM
    DOWNLOAD TWIBON 1
    SORBANSANTRI.COM
    DOWNLOAD TWIBON 2

    #logoHarlahNU97Corel #logoHarlahNU97PSD #logoHarlahNU97AI #logoHarlahNU97PNG #logoHarlahNU97JPG #TwibonHarlahNU97

    (reb.abi)

  • TURBA PC : Usaha mandiri PAC GP ANSOR Kec.Kutorejo

    TURBA PC : Usaha mandiri PAC GP ANSOR Kec.Kutorejo

    Infokom NU Mojokerto; Turba ke-8 PC GP ANSOR Kab.Mojokerto di PAC GP ANSOR Kec.Kutorejo sangat menginspirasi buat Sahabat2 PAC lainya di wilayah Kab.Mojokerto

    SORBANSANTRI.COM
    Ketua dan sekertaris PC GP ANSOR Kab.Mojokerto

    Dalam sambutan ketua PAC GP ANSOR kec.Kutorejo yaitu Sahabat Solikuddin menyampaikan beberapa hal,diantaranya; 1.PAC Kec. Kutorejo telah mendirikan Yayasan yang diberi nama “Yayasan Muda Mandiri. 2.Membentuk usaha ternak bebek yang dikelola oleh Sahabat2 Ansor Kutorejo. 3.Pembentukan Group Dram Band Banser Kec.Kutorejo.

    SORBANSANTRI.COM
    Sambutan ketua PAC sahabat Solikuddin

    Dalam TURBA PC yang dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 19/02/2020 pukul 20.00wib-selesai di gedung MWCNU Kec.Kutorejo tersebut dihadiri: 1.Jajaran PC ANSOR-BANSER dan RA Kab.Mojokerto. 2.Ketua MWC NU Kec.Kutorejo.

    SORBANSANTRI.COM
    Semangat Sahabat2 ANSOR-BANSER
    SORBANSANTRI.COM
    Jajaran PC dan PAC

    Infokom PAC Kutorejo

    #By. Irul-Infokom NU Mojokerto

  • Kegiatan rutin LMDS-RA PAC GP Ansor kecamatan Ngoro

    Kegiatan rutin LMDS-RA PAC GP Ansor kecamatan Ngoro

    Sorrbansantri.com – Rijalul Ansor adalah bagian dari Ansor yang ada merupakan Banom dari Nahdlatul Ulama’ yang bergerak di bidang dakwah dan syiar agama lebih-lebih di ke-NUan.

    Hari Sabtu malam Minggu tanggal 20-2-2021 kegiatan rutin LMDS (Lembaga Majelis Dzikir dan Sholawat) yang bertempat di Masjid Darut Taqwa Dusun Kontrak Desa Ngoro, dalam rutinan ini dihadiri oleh seluruh Banom NU baik IPNU, IPPNU, ANSOR, FATAYAT, MUSLIMAT yang tersebar di seluruh Kecamatan Ngoro juga tim keamanan dari ratusan anggota Banser Satkoyon kecamatan Ngoro, selain dari itu tampak hadir juga tamu undangan dari Rois syuriah MWC NU Ngoro Kyai Marzuki Nur beserta jajarannya, juga turut mengundang Romo Kyai Khusain Ilyas, Kyai Muhajir sebagai pengisi maulidatul Hasanah,

    Acara pembukaan diisi dengan Pembacaan Ratib al-haddad Istighosah dan tahlil yang dipimpin oleh Gus Miftah, dilanjut dengan acara pemberian santunan kepada anak yatim yang di kordinir oleh gus Sujono selaku ketua umum Rijalul Ansor Kec Ngoro.

    Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Ngoro sahabat Saufi, S.Kom berpesan kepada para anggotanya “untuk selalu mematuhi instruksi pemerintah dengan menjalankan kegiatan sesuai protokol kesehatan yang dianjurkan oleh petugas gugus Covid-19”

    Dalam Maulidatul Hasanah yang pertama oleh KH Muhajir, beliau menyampaikan bahwa “kita harus sering-sering membaca shalawat Nabi sebagai bekal untuk menangkal penyebaran virus Corona yang sedang melanda negara kita ini”
    Mauidhotul Hasanah yang kedua yang disampaikan oleh Romo Kyai Husein Ilyas,beliau berpesan “agar kita selalu hormat dan patuh kepada kedua orang tua kita lebih lebih kepada ibu kita karena ridhonya orang tua ridho Allah juga”
    acara terakhir di tutup dengan doa yg di pimpin oleh Kyai Marzuki Nur.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    Dari keseluruhan rangkaian acara ditutup dengan gelar apel pasukan Banser sebagai tanda selesainya tugas untuk pengamanan selama acara LMDS berlangsung.yang langsung dipimpin oleh Sahabat Api’i selaku Kasatkoryon Banser Kec.Ngoro. (Hasan.sorban)

  • SURAT UNTUK ADEK KU YANG CANTIK PENDUKUNG HTI

    SURAT UNTUK ADEK KU YANG CANTIK PENDUKUNG HTI

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com – 
    Adek ku yang cantik pendukung HTI..
    Dek, apa kabar..?
    Senang melihatmu begitu atraktif mendukung Hizbut Thahrir.
    Adek pasti sama dengan sekian ratus pendukung Hizbut Thahrir di seluruh dunia, bermimpi tentang indahnya negeri ini ketika berada di bawah naungan khilafah.
    Tapi coba abang ingatkan dulu sebuah peristiwa..
    Adek kenal wanita yang bernama Bibi Aisha..?
    Bibi Aisha adalah gadis muda cerdas yang tinggal di Afghanistan.
    Ia sebelumnya baik-baik saja sebelum ayahnya berhutang pada organisasi Taliban.
    Taliban ini adalah pendukung khilafah, sama seperti yang Hizbut Thahrir lakukan.
    Mereka punya keyakinan yang sama.
    Akhirnya Bibi Aisha dikawinkan paksa pada usia 14 tahun, justru saat dia sedang menikmati masa remajanya.
    Dan adek tahu apa yang terjadi pada Bibi Aisha..?
    Dia dihajar habis oleh suaminya, karena konsep khilafah yang mereka yakini tidak mengenal wanita sebagai pendamping, hanya aksesori.
    Bibi Aisha kabur dari suaminya tetapi ia tertangkap.
    Dan tahu apa yang dialami Bibi Aisha, dek..?
    Hidungnya yang mancung dipotong oleh suaminya dan Bibi Aisha ditinggal dalam kondisi koma karena kekurangan darah.
    Untunglah ia ditemukan oleh orang baik dan dilarikan ke rumah sakit.
    Wajah Bibi Aisha dengan hidungnya yang hilang kemudian menjadi cover majalah Time tahun 2010 dan ia bercerita tentang kehidupan di Afghanistan pasca penguasaan kelompok Taliban yang meyakini negara Islam.
    Penderitaan Bibi Aisha juga yang diderita para wanita di Nigeria yang diculik oleh kelompok Boko Haram yang meyakini konsep khilafah yang sama.
    Jangan tanya apa yang dilakukan ISIS kepada wanita dan para gadis yang bahkan belum matang di Irak dan Suriah.
    Mereka habis-habisan diperkosa..
    Adekku yang cantik..
    Adek harusnya bersyukur tinggal di negeri tercinta ini.
    Negeri indah yang memuliakan wanita.
    Mendorong wanita supaya bisa setara dengan pria.
    Memberikan pendidikan yang sama tanpa membedakan siapa dia.
    Banyak pahlawan wanita disini, yang terkenal salah satunya adalah RA Kartini, yang berjuang untuk mendapatkan sisi yang sama dengan para lelaki.
    Adek bisa masih cantik dan bebas bersuara karena konsep dan sistem Pancasila di negeri ini.
    Jika Indonesia menjadi negeri Islam seperti yang adek dambakan, adek sudah pasti tidak bisa turun ke jalan apalagi bersuara keras seperti sekarang yang adek lakukan.
    Adek bisa-bisa sudah dikawinkan sejak dini dan harus patuh pada suami untuk tidak boleh kemana-mana, bahkan untuk shopping keluar saja.
    Belum lagi mengalami kekerasan..
    Adekku yang cantik boleh-boleh saja bermimpi tentang negara Islam, tetapi manakah di dunia ini yang sudah menerapkan sistemnya..?
    Belum ada dek.., karena mengerikan.
    Bahkan negara sekelas Arab Saudi saja masih monarkhi, dan dari penerapan syariat mereka wanita berada di kelas dua.
    Mereka baru boleh menyetir mobil sendiri baru-baru saja.
    Bukan karena Saudi menghormati wanita, tapi karena ekonomi mereka sedang berada pada titik terendah dan penerapan supir untuk wanita membebani kas negara.
    Jadi adek seharusnya cukup bersyukur saja bahwa adek ada di tempat yang memuliakan wanita.
    Negeri Indonesia adalah surganya.
    Tidak perlu ribut menggantinya dengan sistem yang bahkan adek tidak mengerti dampaknya.
    Mungkin Bibi Aisha dan banyak wanita lain di dunia yang ditindas dengan sistem khilafah yang salah akan berseru..,
    “Hai cantik… Nikmat Tuhan manakah yang kau ingkari dengan hidup di negeri seperti Indonesia ini..?
    Lihatlah kami, diri kami ditindas setiap hari karena kearoganan sebuah sistem yang menjadikan wanita sebagai aksesori.
    Bersyukurlah, apakah tidak cukup bagimu semua ini..?”
    Adekku yang cantik, belajarlah dengan baik.
    Jadilah wanita yang bisa mengangkat derajat dan harkat sesamamu nanti.
    Tidak usah meributkan hal yang tidak kau mengerti.
    Biar kami yang menjaga negeri ini dan cukuplah dirimu mendukung perjuangan kami menjaga dirimu, kaum wanita sepertimu dan ibu pertiwi.
    Salam dari abang
    (sumber)
  • Nasihat Ketua MUI ke Ustaz Yahya Waloni: Mualaf Belajar Dulu

    Nasihat Ketua MUI ke Ustaz Yahya Waloni: Mualaf Belajar Dulu

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com -Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis menanggapi soal pernyataan Ustaz Yahya Waloni yang mengaku menabrak seekor anjing.

    Cholil memberikan sebuah nasihat yang menyinggung tentang seorang mualaf. Perlu diketahui, bahwa Ustaz Yahya Waloni merupakan seorang mualaf.

    Melalui akun Twitter @cholilnafis, dirinya menanggapi perbuatan Ustaz Yahya Waloni.

    Menurut Cholil, seorang mualaf harus belajar terlebih dahulu untuk menjadi ustaz sehingga tidak perlu terburu-buru.

    “Mualaf harusnya belajar dulu jangan buru-buru jadi ustaz. Masyarakat pun hendaknya cari penceramah yang bisa ngaji dan berilmu. Ini perlu dibina dibimbing, kecuali kalau tak mau ya,” cuitnya, dikutip Suara.com.

    Lebih lanjut, Cholil mengatakan mualaf sebaiknya tidak menjelekkan agama sebelumnya. Selain itu, mualaf juga tidak boleh membenci makhluk hidup termasuk anjing.

    “Mualaf itu tak boleh menjelekan agama sebelumnya, tak boleh membenci mahkluk Allah meskipun anjing,” lanjutnya.

    Sebelumnya, Cholil Nafis juga pernah mengomentari soal mualaf. Menurutnya, orang mualaf belum memiliki banyak ilmu soal agama Islam.

    Cholil mengatakan seorang mualaf sebaiknya tidak menyampaikan sesuatu yang tidak ia ketahui kepastiannya.

    “Saya pernah komentar tentang mualaf, bahwa ia orang yang baru masuk Islam sehingga tak banyak tahu tentang Islam. Sampaikan soal mengapa ia memilih Islam tapi jangan ceramah ajaran Islam yang tak dia ketahui,” ujar Cholil.

    Ustaz Yahya Waloni sempat mengaku pernah sengaja menabrak seekora anjing hingga kakinya pincang.

    “Ku tabrak juga satu ekor anjing, ga tau siapa yang punya itu, lari pincang kakinya. Kalau kambing saya masih rem, ku lihat anjing najis, ku tembak satu kali di depan-depan,” katanya.

    (sumber suara.com)

  • TURBA PC; ANSOR masa depan NU

    TURBA PC; ANSOR masa depan NU

    Infokom NU Mojokerto; Perjalanan TURBA PC GP ANSOR Kab.Mojokerto terus digalakkan di semua PAC,pada malam,hari Selasa tanggal 18 feb 2020 pukul 20.00 wib-selesai bertempat di kantor mwcNU Kec.Puri adalah TURBA PC yang ke-8 di PAC GP ANSOR Kec.Puri.

    SORBANSANTRI.COM
    Sambutan ketua PC GP ANSOR

    Seperti pada TURBA di PAC sebelumnya,di PAC Puri dihadiri oleh Ketua dan Sekertaris PC GP ANSOR Kab.Mojokerto,Kasatkorcab BANSER Kab.Mojokerto beserta jajaran dan lembaga PC lainya.

    SORBANSANTRI.COM
    Jajaran pengurus PC Kab.Mojokerto

    Dalam TURBA tersebut ketua PC GP ANSOR Kab.Mojokerto memberi sambutan mengenai; 1.Khullu Ansorrulloh=Ansor adalah agamanya ALLOH SWT. 2.Generasi ANSOR adalah Masa depan/penerus NU. 3.Barang siapa yang ikut dan memperjuangkan NU….Maka dia,istri-anaknya,keluarga dan sudara2 nya diakui jadi muridnya KH.Hasim Asy’ari.

    SORBANSANTRI.COM
    Jajaran ANSOR-BANSER PAC PURI

    Suatu kebanggaan kita semuanya dan keluarga kita apabila kita semuanya bisa dan siap ikut serta memperjuangkan amalan2 NU.

    SORBANSANTRI.COM
    Foto Bersama

    Infokom PAC PURI

    By. Irul Infokom,19/02/2020

  • Mengenal Pencipta Shalawat Nahdliyyah

    Mengenal Pencipta Shalawat Nahdliyyah

    SORBANSANTRI.COM

    Oleh Abdul Moqsith Ghazali

    wp.sorbansantri.com – Belakangan warga NU luar Jawa Timur sudah mulai tahu nama pencipta Shalawat Nahdhiyah, yang tak lain dan tak bukan adalah KH Hasan Abdul Wafi. Siapa KH Hasan Abdul Wafi? Mari saya jelaskan secara singkat. Ia lahir di Pamkesasan Madura tahun 1923 dan wafat di PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo Jawa Timur pada Rabu, 31 Juli 2000. Lahir dari pasangan KH. Miftahul Arifin ibn Kiai Hadu dan Nyai Nyai Lathifah ibn Kiai Jamaluddin ibn Kiai Ruham.

    Berbagai sumber mengisahkan bahwa Kiai Hadu dan Kiai Ruham adalah saudara kandung. Dan kita tahu bahwa Kiai Ruham adalah kakek dari KH. R. As’ad Syamsul Arifin ibn KH.R Syamsul Arifin ibn Kiai Ruham (1841-1951). Dengan demikian, jika dirunut dari jalur ayah, maka KH. Hasan Abdul Wafi adalah sepupu KH. R. As’ad Syamsul Arifin (1897-1990).

    Namun, dari jalur ibu, Kiai Hasan Abdul Wafi adalah keponakan Kiai As’ad, karena ibunda Kiai Hasan (Nyai Lathifah) adalah anak dari Kiai Jamaluddin Ruham yang notabene kakak kandung KH.R Syamsul Arifin. Namun, Kiai Hasan Abdul Wafi dan enam kakaknya seperti KH Sufyan Miftahul Arifin Situbondo (1912-2012 M.) dan Kiai Masduqi Miftahul Arifin (ayahanda KH. Badri Masduqi Probolinggo [1942-2002]) lebih memilih memanggil paman pada Kiai As’ad dan bukan kakak.

    Singkatnya, jika melalui jalur ayahandanya, Kiai Hasan Abdul Wafi adalah Bani Hadu, maka melalui jalur ibundanya, beliau adalah Bani Ruham.

    Wafat dan dikebumikan di Pesantren Nurul Jadid Paiton karena Kiai Hasan Abdul Wafi adalah menantu KH Zaini Mun’im (1906-1976), Pendiri dan Pengasuh Pertama PP. Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Beliau menikah dengan Nyai Aisyah binti Zaini Mun’im. Bukan hanya menantu, dari jalur ibu, Kiai Hasan Abdul Wafi sebenarnya masih ada hubungan keluarga dengan Kiai Zaini. Ini karena istri Kiai Ruham yang bernama Nyai Nur Sari adalah saudara kandung Kiai Mudarik/Kiai Mudrikah.

    Jika dibentangkan, maka silsilahnya adalah Kiai Hasan Abdul Wafi ibn Nyai Lathifah binti Nyai Nur Sari binti Kiai Ismail. Sementara silsilah Kiai Zaini adalah Kiai Zaini ibn Kiai Abdul Mun’im ibn Kiai Mudarik ibn Kiai Ismail. Dengan demikian, nasab Kiai Hasan dan Kiai Zaini bertemu di Kiai Isma’il (keponakan Kiai Mahalli, Pendiri Pesantren Kembang Kuning Pamekasan tahun 1619 M.)

    Demikian nasab biologis Kiai Hasan Abdul Wafi yang terhubung dengan Kiai As’ad Syamsul Arifin dan Kiai Zaini Mun’im. Bagaimana nasab ilmunya?

    Sebagaimana Kiai As’ad dan Kiai Zaini Mun’im yang santri kelana, maka Kiai Hasan Abdul Wafi juga. Ia malang melintang dari satu pesantren ke pesantren lain. Pertama-tama tentu Kiai Hasan belajar pada orang tuanya. Setelah ayah dan ibunya wafat ketika beliau masih kecil, maka Kiai Hasan melanjutkan studi ke Pesantren Banyuanyar yang saat itu diasuh oleh KH Abdul Madjid ibn Kiai Abdul Hamid ibn Kiai Itsbat.

    Tak hanya Kiai Hasan Abdul Wafi yang belajar di Pesantren Banyuanyar Pamekasan. Satu tahun sebelum Kiai Hasan Abdul Wafi lahir (1923), tahun 1922 KH Zaini Mun’im mondok di Pesantren Banyuanyar Pamekasan asuhan KH Abdul Hamid yang dibantu putranya, KH Abdul Madjid (wafat tahun 1958 M.). Hal yang sama juga dilakukan Kiai As’ad Syamsul Arifin. Beliau juga berguru pada Kiai Abdul Hamid. B

    Bahkan, menurut penuturan KH Muhyiddin Abdushomad (Rais Syuriah PCNU Jember), Kiai As’ad sempat menjadi menantu Kiai Abdul Madjid saat beliau menikahi Nyai Tuhfah binti Kiai Abdul Madjid. Setelah menikah selama dua tahun, karena satu dan lain hal, mereka berpisah, pernikahan tak bisa dilanjutkan.

    Dengan demikian jelas, sekiranya Kiai Hasan Abdul Wafi belajar pada Kiai Abdul Madjid Banyuanyar, maka Kiai As’ad dan Kiai Zaini Mun’im belajar pada ayahanda Kiai Abdul Madjid, yaitu Kiai Abdul Hamid.

    Beberapa naskah menyebutkan bahwa Kiai Abdul Hamid ibn Kiai Itsbat wafat tahun 1931 di Mekah dan dikuburkan di Pekuburan Ma’la bersama kuburan para ulama, para Sahabat Nabi, dan Siti Khadijah binti Khuwailid (istri Nabi Muhammad SAW). Dan sepeninggal Kiai Abdul Hamid, persisnya tahun 1943 Kiai Abdul Madjid mendirikan pesantren sendiri yang diberi nama “Pondok Pesantren Mambaul Ulum” Bata-Bata Pamekasan.

    Usai belajar di Banyuanyar Pamekasan Madura, Kiai Hasan Abdul Wafi melanjutkan studi ke sebuah pesantren di Sidoarjo asuhan KH Sahlan selama dua tahun dan selanjutnya ke PP Darul Ulum Paterongan Rejoso Jombang yang saat itu sedang diasuh KH Ramli Tamim (1888-1958 M.), ayahanda KH Mustain Ramli (1931-1985). Tak hanya Kiai Hasan Abdul Wafi, putra KH Zaini Mun’im seperti KH Moh. Hasyim Zaini (1939-1984) dan KH Abdul Wahid Zaini (1942-2002) juga pernah belajar di Pesantren Paterongan Rejoso Jombang ini.

    Beda dengan dengan enam saudaranya yang lain yang hanya studi di pesantren-pesantren di Jawa Timur, mka Kiai Hasan Abdul Wafi menempuh pendidikan dengan lokasi paling jauh, yaitu Pondok Pesantren Krapyak Jogyakarta. Di pesantren yang kuat tradisi al-Qur’annya ini, Kiai Hasan mendapatkan suasana akademis baru yang beda dengan pesantren-pesantren sebelumnya yang bertitik tekan pada fikih dan tasawuf.

    Di Krapyak, Kiai Hasan melengkapi diri dengan ilmu-ilmu qiraat langsung dari induknya, Ahlul Qur’an. Namun, apakah ketika mondok di Krapyak, beliau sempat berjumpa Kiai Munawwir yang wafat tahun 1942? Walahhu’alam.

    Yang jelas, dari pengembaraan panjangnya mulai dari Banyuanyar hingga Krapyak, Kiai Hasan Abdul Wafi tak pulang ke Pamekasan lagi. Tahun 1956, Kiai Hasan Abdul Wafi melanjutkan belajarnya pada Kiai Zaini Mun’im yang saat itu merintis pendirian Pesantren Nurul Jadid. Bersama sang kakak, KH Ahmad Sufyan Miftahul Arifin, Kiai Hasan Abdul Wafi ikut membantu pembangunan pesantren tersebut.

    Di Nurul Jadid, Kiai Hasan rupanya tak hanya mendapat ilmu melainkan juga istri. Tahun 1957, Kiai Hasan menikahi Nyai Aisyah Zaini Mun’im dengan dikaruniai 12 anak, salah satunya KH Kholilurrahman (mantan Bupati Pamekasan).

    Dalam berorganisasi, Kiai Hasan Abdul Wafi juga mengikuti langkah Kiai Zaini Mun’im; aktif di NU bukan di organisasi lain. Sebagaimana dikisahkan sebagian sumber, awalnya ketika NU keluar dari Masyumi tahun 1952, Kiai Zaini sempat bimbang antara bertahan di Masyumi dan hijrah ke Partai NU.

    Kebimbangan ini bisa dimaklumi. Di satu sisi, Kiai Abdul Madjid putra Kiai Abdul Hamid yang sekaligus guru Kiai Hasan Abdul Wafi tersebut mengajak Kiai Zaini untuk aktif di AKUI, organisasi yang berada di bawah payung Masyumi. Sementara di sini lain, Kiai Zaini masih memiliki keterikatan batin dan kontak perjuangan dengan para kiai alumni Pesantren Demangan Bangkalan asuhan Saikhuna Kholil Bangkalan dan Pesantren Tebuireng asuhan KH Hasyim Asy’ari yang sebagian besar memilih membesarkan Partai NU daripada yang lain.

    Berhari-hari dalam kebimbangan, Kiai Zaini Mu’im melakukan permenungan mendalam dan menjalani shalat istikhorah. Akhirnya, ditemukan jawaban langit bahwa dirinya mantap memilih NU sebagai media perjuangan dengan konsekuensi keluar dari Masyumi.

    Sejak itu, Kiai Zaini dan seluruh keluarga besar PP Nurul Jadid termasuk Kiai Hasan Abdul Wafi aktif ber-NU. Tak hanya menjadi warga NU biasa, Kiai Zaini pernah menjadi Rais Syuriah PCNU Kraksaan Probolinggo. Dan mengikuti jalan hidup Kiai Zaini, Kiai Hasan Abdul Wafi juga pernah menjabat Rais Syuriah PCNU Kraksaan.

    Putusan Munas NU tahun 1983 agar NU kembali ke khittah 1926 melegakan Kiai Hasan Abdul Wafi. Sejak itu, beliau tak melibatkan diri dalam carut-marut politik praktis. Kiai Hasan berkonsentrasi pada upaya menjadikan NU sebagai media dakwah untuk mengedukasi masyarakat.

    Beliau berkeliling dari desa ke desa untuk menyampaikan ajaran Islam Ahlussunnah Waljamaah Annahdliyah. Semboyannya yang paling terkenal, masyarakat harus memiliki pengetahuan setara S2, yaitu Sullam Safinah.

    Tak hanya berdakwah ke kampung-kampung. Kiai Hasan Abdul Wafi juga rajin mengikuti aktivitas bahtsul masail NU, mulai dari tingkat PCNU hingga PWNU bahkan Munas dan Muktamar NU.

    Di beberapa diskusi dan bahtsul masail, Kiai Hasan Abdul Wafi berada dalam lingkaran diskusi panas dengan para kiai NU lain. Natijah-natijah hukum Islam yang disampaikan para nara sumber seminar dan perumus bahtsul masail kerap mendapatkan tantangan akademik cukup kuat dari KH Hasan Abdul Wafi.

    Dalam sebuah acara halaqah tentang hukum bunga bank yang diselenggarakan Ma’had Aly Situbondo Jawa Timur, Kiai Hasan Abdul Wafi misalnya terlibat dalam diskusi tajam dengan Prof. Dr. KH Sjechul Hadi Permono (1941-2010). Tarik tambang tambang pemikiran tak terhindarkan.

    Namun, alhamdulillah, diskusi yang sempat panas itu berhasilkan didinginkan oleh sang moderator piawai, KH Yusuf Muhammad Jember (1952-2004). Ya Allah, tiga kiai itu sekarang sudah tidak ada, dipanggil Allah. Allah rahimahum wa nawwara quburahum wa a’ada ‘alaina min barakatihim.

    Akhirnya, saya mengenang Kiai Hasan Abdul Wafi sebagai orang alim terutama di bidang fikih, teguh pendirian, dan memiliki komitmen ke-NU-an cukup kuat. Soal komitmen ke-NU-annya salah satunya tercermin melalui Shalawat Nahdhiyah-nya yang kini berkumandang di mana-mana.. (abi sorban)

  • ALHAMDULILLAH KIAI NAHDHATUL ULAMA’ BIKIN ULAH LAGI

    ALHAMDULILLAH KIAI NAHDHATUL ULAMA’ BIKIN ULAH LAGI

    SORBANSANTRI.COM

    Alhamdulillah! Kiai NU Meluruskan Khalid Basalamah yang Tidak Paham Dalil Tabarruk

    Beredarnya video bikinan tim “da’wah” Ustadz Khalid Basalamah benar-benar sangat berhasil membuat saya -wong ndeso ini- merangkai tulisan-tulisan yang saya dedikasikan buat tim beliau agar dibaca.

    Bukan karena saya lebih bisa, karena ternyata Ustadz Khalid lebih terkenal daripada saya.

    Bukan karena saya banyak tahu, tapi karena saya ingin meluruskan orang-orang yang sok tahu.

    Terlebih dalam video itu ada sosok Kiai yang kami -para santri- sangat kagumi dan sangat hormati. KH. Maimun Zubair. Juga sosok santri dan situasi pesantren.

    Baik Tim Ustadz Khalid,

    Ketika santri berebut mencium tangan Kiai, mereka berharap berkah dari beliau. Apakah itu salah? Sama sekali tidak. At-Tabarruk atau berharap berkah artinya : berharap tambah dan berlipatnya nilai ibadah. Bertabarruk bukan menyembah. Tolong Pahami itu.

    Dalam Al Qur’an, konsep tabarruk telah ada, seperti tertuang dalam Surat Al Baqoroh ayat 125 :

    وَاتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

    “Kenapa sholat di Maqam Ibrahim?” Ini ada unsur tabarruk.

    Begitu juga dalam Surat Yusuf ayat 93 dan 96:

    اذْهَبُواْ بِقَمِيصِي هَذَا فَأَلْقُوهُ عَلَى وَجْهِ أَبِي يَأْتِ بَصِيرًا
    فَلَمَّا أَن جَاء الْبَشِيرُ أَلْقَاهُ عَلَى وَجْهِهِ فَارْتَدَّ بَصِيرًا

    “Kenapa baju Nabi Yusuf yang dijadikan sebagai pelantara kesembuhan Mata Nabi Ya’qub?” Ini juga Tabarruk.

    Dalam Hadits Rasulullah Riwayat Muslim (1305) konsep tabarruk tertuang ketika Rasulullah membiarkan rambut mulianya dimiliki oleh para sahabat.

    عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَتَى مِنًى فَأَتَى الْجَمْرَةَ فَرَمَاهَا ثُمَّ أَتَى مَنْزِلَهُ بِمِنًى وَنَحَرَ ثُمَّ قَالَ لِلْحَلاَّقِ « خُذْ ». وَأَشَارَ إِلَى جَانِبِهِ الأَيْمَنِ ثُمَّ الأَيْسَرِ ثُمَّ جَعَلَ يُعْطِيهِ النَّاسَ.

    “Kenapa Rasulullah membiarkan rambut beliau dibagi-bagikan kepada para sahabat?” Karena Beliau meridloi tabarruk.

    Kenapa ketika perang Yarmuk, Kholid bingung mencari pecinya padahal bisa saja ia memakai peci yang lain atau peci apa saja? Karena dalam pecinya ada rambut Rasulullah yang beliau cukur saat berumroh, dan tidak ada satupun peperangan yang ia hadiri dengan memakai peci itu kecuali Allah memberikan kemenangan kepada umat islam. Inilah tabarruk.

    Ada sebuah sumur di Madinah yang bernama sumur Bidla’ah. Nabi pernah meludahi air dalam sumur ini, sehingga setiap melewati sumur ini, Muslimin hampir pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan meminum airnya. Tabarruk juga ini namanya.

    (Majma’ Az Zawa’id Wa Manba’ Al Fawa’id, Nuruddin Ali bin Abi Bakar Al Haitsamy)

    Belum lagi riwayat Imam Bukhari tentang bagaimana para sahabat ketika tangannya berhasil menangkap dahak Rasulullah, ia mengusapkan keseluruh tubuhnya. Ketika Rasulullah berwudlu, para sahabat hampir seperti akan berperang hanya karena berebut sisa air wudlu Beliau. Semua itu dalam konsep Tabarruk bukan?

    Mungkin kalian akan berkata : “Ah, itukan kepada Rasulullah. Kalau selain Rasulullah beda dong? gak boleh dong?

    Oke, coba perhatikan yang berikut :

    Seorang Abdurrahman bin Razin (Tabi’in) bergegas mencium tangan Sahabat Salamah bin Akwa’ berharap keberkahan dari tangan yang pernah bersentuhan dengan Rasulullah.

    Begitu pula alasan Tsabit Al-Bunani (Tabi’in), ketika ia mencium tangan Sahabat Anas bin Malik setelah bertanya : “Apakah engkau menyentuh Rasulullah dengan tangan ini?” dan Sahabat Anas menjawab : “Ya”.

    Abu Aliyah, seorang ulama Salaf, mencium dan mengusap-usapkan apel pemberian sahabat Anas karena menganggap apel itu telah dipegang oleh tangan yang pernah menyentuh Rasulullah. Semua dengan alasan tabarruk lho.

    Kalian akan membantah lagi : “Loh, itu kan masih ada hubungannya dengan Rasulullah. Pasti beda dong kalau tanpa ada hubungannya dengan beliau”

    Eits, jangan ambil kesimpulan terburu-buru dong, emang terbiasa begitu kalian ya…. Perhatikan yang berikut ini dulu : Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah pernah mencium tangan dan kedua kaki pamannya Sahabat Abbas. Ketika bertemu, Imam Muslim mencium wajah gurunya -Imam Bukhari- diantara kedua mata beliau, lalu meminta restu agar beliau dapat mencium kedua kaki gurunya itu.

    Apa alasannya? tabarruk.

    Bahkan, Rasulullah pernah bertabarruk kepada kaum muslimin. Dalam sebuah kitab yang bernama Al Jami’ As Shoghir Wa Ziyadatih (Al Fath Al Kabir) yang ditulis oleh Muhammad Nashiruddin Al Albani (pasti kalian kenal dong beliau itu siapa) tertulis sebagai berikut :

    “كان يبعث إلى المطاهر فيؤتى بالماء فيشربه , يرجو بركة أيدي المسلمين”

    Bahwa Rasulullah meminum air dari tempat bersucinya para muslimin seraya berharap keberkahan mereka.

    Disebuah kesempatan Rasulullah jelas tidak suka para sahabat mengambil air dari sumur Kaum Tsamud lalu memerintahkan mereka mengambil air dari sumur yang pernah diminum airnya oleh unta Nabi Sholeh. Hal ini tertuang dalam Hadits berikut :

    عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ أَخْبَرَهُ أَنَّ النَّاسَ نَزَلُوا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى الْحِجْرِ أَرْضِ ثَمُودَ فَاسْتَقَوْا مِنْ آبَارِهَا وَعَجَنُوا بِهِ الْعَجِينَ فَأَمَرَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُهَرِيقُوا مَا اسْتَقَوْا وَيَعْلِفُوا الإِبِلَ الْعَجِينَ وَأَمَرَهُمْ أَنْ يَسْتَقُوا مِنَ الْبِئْرِ الَّتِى كَانَتْ تَرِدُهَا النَّاقَةُ.

    Jadi, saudaraku sesama muslim, khusus teruntuk “tim da’wah Ustadz Khalid yang terhormat”.

    Bertabarruk itu boleh kok, bertabarruk itu dianjurkan kok. Jadi kalau kalian tidak menemukan referensi tentang itu, please deh, jangan terus kalian anggap amaliah kami salah, syirik dan lain sebagainya. Kami lo memaklumi kalau kalian begitu dibatasi dengan literasi dan pemahaman yang mudah dan instan tanpa penggalian lebih dalam ala santri, karena kalian tidak akan mampu seperti santri yang mau mengenyam pendidikan lebih lama guna bertafaqquh fid diin.

    Oh iya, ada ya kopi sampai bernilai jual tinggi karena ada unsur tabarruk? Kalau ada, emang kalian gak setuju ya?

    Lalu, Kenapa ya, di Negeri Wahabi ada sebuah gedung mewah dan megah yang didedikasikan untuk Syekh Utsaimin dan bahkan menganggap “keramat” pena yang terakhir beliau pakai sebelum beliau meninggal lalu menyimpannya dengan sistem keamanan tinggi bak menyimpan berlian bernilai triliunan rupiah?

    Hm, sudahlah, emang kalian begitu sih.

    Ada satu lagi, pesan Ustadz Khalid Basalamah agar tidak meminum air sisa minumannya dan tidak mencium tangannya ketika bertemu, dengan senang hati akan kami jalankan. Karena, kriteria orang-orang yang pantas dicium tangannya dan diminum air sisa minumannya -sangat kebetulan- tidak terdapat pada diri beliau. Jadi jangan khawatir, tanpa dimintapun, kami tak akan melakukannya.

    Wallahu A’lamu Bis Showab.

    H. Abdul Aziz. AR, Anggota Team Kiswah Aswaja NU Center PCNU Bangil

    Sumber: https://bangkitmedia.com/kiai-nu-meluruskan-khalid-basalamah-yang-tidak-paham-dalil-tabarruk/

    (InfokomBanserNu)