Kategori: Berita Utama

Liputan Sorban Santri mengenai berita terkini dan terpenting baik dari dalam maupun luar negeri

  • Pembukaan SUSBANPIM Angkatan V di Pasuruan Jawa Timur

    Pembukaan SUSBANPIM Angkatan V di Pasuruan Jawa Timur

    Infokom Banser NU- Kursus Banser Pimpinan (SUSBANPIM) Angkatan ke V yang diselenggarakan di Taman Candra Wilwatikta Pandaan Pasuruan resmi dibuka pada Senin (24/02).

    Acara kaderisasi tertinggi dalam hirarki pengkaderan di Barisan Ansor Serbaguna (BANSER) itu dibuka dengan acara Apel kebangsaan yang dipimpin langsung oleh Kepala Satuan Koordinasi Nasional (SATKORNAS) Banser H. Alfa Isnaeni. Sedangkan Sebagai Komandan upacara adalah Irsyad Yusuf selaku Kasatkorwil Banser Jawa Timur.

    Dalam Arahannya Alfa Isnaini menegaskan bahwa SUSBANPIM sebagai tingat tertinggi kaderisasi Banser adalah mencetak pimpinan Banser yang siap mengawal tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia dari rongrongan musuh ideologi bangsa.

    “Sebanyak 175 Peserta Susbanpim angkatan V adalah kader terbaik Banser yang hadir dari berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Aceh, Sulawesi hingga Papua. Ini adalah Kekuatan Banser karena Kadernya yang tersebar ke seluruh pelosok tanah air” tegas Alfa di hadapan Ratusan Peserta Apel.

    Apel kebangsaan yang diikuti oleh ratusan kader Banser yang termasuk didalamnya terdiri dari Kesatuan Khusus Banser seperti Banser Husada (BASADA), Banser Tanggap Bencana (BAGANA) dan Banser Penanggulangan Kebakaran (BALAKAR) Berlangsung mulai pukul 13.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB.

    Hadir dalam Apel Kebangsaan adalah Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas dan Kepala Staf Kepresidenan Jendral (Purn.) Moeldoko serta Jajaran Muspimda Jawa Timur.

    Acara Susbanpim kemudian dibuka secara langsung oleh Sekjen PP GP Ansor Abdurrahman Adung. Dalam sambutannya yang mewakili Ketua Umum PP GP Ansor menyampaikan tentang perjuangan panjang Kader Ansor Banser dalam Menjaga Ulama dan NKRI.

    “Kader Ansor Banser tidak boleh lelah dalam mencintai Pancasila, Merah putih dan NKRI. Kalau ada yang menginjaknya maka mereka adalah musuh besar kader Ansor Banser. Maka Susbanpim siap mencetak kader yang tidak kenal lelah tulus ikhlas menjaga NKRI” Tegas Adung dalam Orasinya.

    Abdurrahman Adung kemudian meminta kesediaan Ketua Umum PP GP Ansor Gus Yaqut Cholil Qoumas Untuk memberikan Pidatonya kepada Peserta Apel.

    Ketua umum PP GP Ansor Gus Yaqut Cholil Qoumas yang sedianya memberikan mandat penuh kepada Sekretaris Jenderal PP GP Ansor akhirnya Turun ke tengah Lapangan menyampaikan Orasi singkatnya.

    Ketua Umum GP Ansor menyebutkan bahwa siapapun mereka yang menginjak harga diri para muassis Nahdlatul Ulama maka mereka akan berhadapan keras dengan Kader Ansor Banser.

    “Sekali lagi saya tegaskan bahwa Kader Ansor Banser Bersambung sanad Perjuangan dengan Para Muassis Nahdlatul Ulama. Maka menjaga marwah para muassis NU yang juga pendiri Negara ini adalah kewajiban ideologis bagi seluruh Kader Ansor Banser” Jelas Yaqut.

    Acara kemudian berlanjut dengan penyerahan secara simbolis Bibit tanaman dari PW GP Ansor Jawa Timur kepada Pengurus Cabang dan Jajaran Musyawarah Pimpinan Daerah Jawa Timur.

    Kemudian dilanjutkan dengan Serah Terima Mobil Satuan Khusus Banser Jawa Timur yaitu Mobil BALAKAR dan BASADA dari PT. HM. Ssmpoerna kepada STAPA Center untuk kemudian diserahkan kepada Ketua PW GP Ansor Jawa Timur Syafiq Syauqi dan Kasatkorwil Banser Jatim Irsyad Yusuf.

    Acara kemudian ditutup dengan rangkaian aksi kanuragan Banser dan Banserwati yang dengan sigap perkasa berhasil mematahkan besi baja dan beton dengan tangan kosong.

    Yang menarik aksi kesaktian khas Pendekar Nahdliyin itu ditutup oleh Atraksi dari Kasatkorwil Banser Jatim Irsyad Yusuf. Komandan Banser Jawa Timur yang juga Bupati Pasuruan itu berhasil memukau peserta dan tamu undangan dengan berhasil mematahkan besi baja dan Beton dengan pukulan tangan kosongnya.

    (GP Ansor Kota Surabaya)

  • ANSOR BANSER LUAR BIASA KATA GIBRAN_RAKABUMING

    ANSOR BANSER LUAR BIASA KATA GIBRAN_RAKABUMING

    InfokomBanserNU_ Post dalam Twiter  @gibran_rakabuming Anak Presiden Joko Widodo.

    Jelas sebuah kebanggan saya diangkat jadi anggota kehormatan Banser Surakarta. Tapi, status itu menuntut tanggung jawab yang besar dan berat, karena ada kesejarahan jamaah dan jam’iyyah NU sebagai salah satu unsur penting pendiri dan penjaga kelangsungan NKRI.

    Peristiwa penting itu terjadi tadi malam, pada acara penutupan Diklatsar Banser-Ansor, Minggu kemaren di Jalan Wanda Maramis, Nusukan, Banjarsari.

    Saya, seperti juga Banser yang lain harus bisa menjadi sahabat siapa saja yang menyintai Indonesia, dengan menjaga jarak yang sama dengan siapa saja tanpa membeda-bedakan latar belakang jenis kelamin, etnis, agama, kesukuan dan sebagainya.

    Saya rasa, sahabat-sahabat Banser dan Nahdliyyin sudah jauh lebih lama mengamalkan ajaran-ajaran para kiai dan pendiri NU.Mari galang terus persaudaraan, menjadi benteng bangsa dan negara dari unsur-unsur radikal yang berpandangan sempit demi kelangsungan peradaban manusia yang adil dan setara.

    Semoga kita semua menjadi manusia yang bermanfaat, menjalankan perintah Allah untuk menjadi pribadi-pribadi yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.Jelas sebuah kebanggan saya diangkat jadi anggota kehormatan Banser Surakarta. Tapi, status itu menuntut tanggung jawab yang besar dan berat, karena ada kesejarahan jamaah dan jam’iyyah NU sebagai salah satu unsur penting pendiri dan penjaga kelangsungan NKRI.

    Peristiwa penting itu terjadi tadi malam, pada acara penutupan Diklatsar Banser-Ansor, Minggu kemaren di Jalan Wanda Maramis, Nusukan, Banjarsari.

    Saya, seperti juga Banser yang lain harus bisa menjadi sahabat siapa saja yang menyintai Indonesia, dengan menjaga jarak yang sama dengan siapa saja tanpa membeda-bedakan latar belakang jenis kelamin, etnis, agama, kesukuan dan sebagainya.

    Saya rasa, sahabat-sahabat Banser dan Nahdliyyin sudah jauh lebih lama mengamalkan ajaran-ajaran para kiai dan pendiri NU.

    Mari galang terus persaudaraan, menjadi benteng bangsa dan negara dari unsur-unsur radikal yang berpandangan sempit demi kelangsungan peradaban manusia yang adil dan setara.

    Semoga kita semua menjadi manusia yang bermanfaat, menjalankan perintah Allah untuk menjadi pribadi-pribadi yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.

    (red_abi)

  • “MENITIPKAN SHOLAWAT LEWAT TUMBUH KEMBANG PEPOHONAN”

    “MENITIPKAN SHOLAWAT LEWAT TUMBUH KEMBANG PEPOHONAN”

    SORBANSANTRI.COM

    Tanam pohon dan bersholawat,,
    Iya mungkin sekilas agak bersebarangan, tapi menurut kami tidak.

    Penulis berfikir bahwa ini adalah hal yang selaras, dari segi amaliah nya. Teringat tentang kisah ketika Nabi melewati sebuah makam, Nabi Muhammad berhenti, kemudian berdo’a dan menaburkan bunga yang masih segar, lalu Nabi Berkata, “bahwa do’a ku akan terus tercurah selagi bunga-bunga ini masih segar dan belum mengering”.

    Lalu kita kembali ke kegiatan di atas dengan mengacu pada kisah ini, apakah salah ketika kita menanam pohon dengan bersholawat dengan harapan agar sholawat kita tetap tercurah selama apa yang kita tanam tumbuh dan membesar?

    Lalu di lihat dari sisi yang lain, menjaga kelestarian alam adalah tugas kita semua, karena di akui atau tidak kita bisa hidup juga berkat rahmat Alloh lewat pepohonan. Jadi tidak ada yg bersebarangan dengan kegiatan ini.

    Semoga ISHARI NU tetap tumbuh dan berkembang layaknya pepohonan yang mendistribusikan rahmat Alloh untuk kelangsungan.

  • GUS BAHA MENERANGKAN CIRI-CIRI AHLI SUNNAH ZAMAN AKHIR

    GUS BAHA MENERANGKAN CIRI-CIRI AHLI SUNNAH ZAMAN AKHIR

    InfokomBanserNU- Dalam pengajiannya gus Baha’ ( KH. Ahmad Bahauddin bin K.H. Noer Salim) menerangkan tentang ciri Ahlussunnah Wal Jamaah di zaman akhir.

    Ciri Ahli Sunnah di zaman akhir itu, dalam aqidah
    – Menganut Abu Hasan Al-Asyaari dan
    – Menganut Imam Abu Mansur Al Maturidi.

    Dalam fiqih mengikuti salah satu mazhab 4 yaitu:
    – Imam Abu Hanifah,
    – Imam Malik,
    – Imam Syafii atau
    – Imam Ahmad bin Hambal.

    Dan dalam tasawuf mengikuti salah satu mazhab antara
    – Abbul Qosim Al-Juanidi atau
    – Imam Ghozali.
    .
    .
    Mengapa menjadi definisi begitu?
    Karena, dulu firqoh di arab banyak yang menentang,
    “Itu pengertian apa?”
    Nabi tidak pernah menjelaskan begitu,
    Kalian jangan terjebak dengan ucapan mereka, bahwa nabi tidak pernah mengeluarkan definisi tentang ciri Ahlussunnah Wal Jamaah seperti itu,
    Ya tentu nabi tidak akan mengatakan seperti itu, karena di zaman nabi belum ada imam Ghozali, belum ada Abbul Qosim Al Junaidi.
    Tapi kita percaya dengan definisi seperti itu. Mengapa?
    Karena kita percaya bahwa Aswaja itu, orang yang seperti di katakan Nabi:

    _“Maa ana alaihil yauma wa ashabi.”
    “Yaitu orang yang mengikuti perilaku saya dan mengikuti para sahabat saya.”

    Itu teks yang disampaikan Nabi,
    Lalu kenapa kita harus menyebut nama imam-imam kita dan sanad kita?
    Karena kalau kita tidak menyebut sanad,
    akan muncul pertanyaan,
    “Kamu ko bisa tahu sahabat melakukan itu kata siapa?”
    Jawabnya “Kata guru saya.”
    Kita kan tidak bisa langsung mengatakan “kata Nabi.”
    Kata Nabi itu yang meriwayatkan siapa?

    Contoh Imam Bukhori,
    Imam Bukhori itu siapa?
    Beliau itu muridnya Imam Syafii,
    Karena Imam Bukhori itu periodenya setelah Imam Syafii,
    Saya hafal sanadnya Imam Bukhori sampai ke Rasulullah.
    Dan saya ( gus Baha ) punya sanad sampai Imam Bukhori.

    Misalkan kalian ditanya, “kamu tahu Amerika?”
    Terus kamu jawab “Tahu.”
    “Ko bisa tahu Amerika?
    Dan kamu jawab “lihat di TV.”
    Televisi saja kamu jadikan sanad ko Imam Syafii tidak jadi sanad.

    Misalkan lagi,
    “Kamu ko tahu kalau ketua DPR tersangka?”
    “Kata TV”.
    Sanadmu dari mana?
    “Kan dari TV.”
    Dan misal kamu bilang “Tahu sendiri” itu tidak mungkin,
    kan tidak mungkin kamu tahu sendiri ketika ada sidang di KPK.

    Contoh lagi, misalkan kamu ditanya suatu hal, terus kamu jawab “Nabi itu berkata gini, jadi tak perlu ulama, harus ke Nabi saja langsung”
    Lha kamu ko tahu kalau nabi bilang seperti itu kata siapa?.
    Apa kamu mau jawab lewat mimpi?
    Akhirnya mau tidak mau kamu harus menyebutkan guru.

    Makanya ada tradisi menyebut sanad, atau disebut juga menyebut ulama,
    Tapi orang-orang sekarang juga kadang bodoh,
    Ada orang yang bilang gak usah lewat ulama, yang penting langsung ke Nabi,
    Ulama bisa salah, kalau Nabi kan tidak bisa salah,
    Lha kamu itu ko bisa bilang kalau Nabi tidak bisa salah kata siapa?
    Jawabmu pasti “kata ulama atau kata guru.”
    Padahal katanya tidak percaya ulama?

    Makanya kalau bodoh jangan kebangetan,
    Apalagi sudah bodoh ngajak-ngajak lagi,
    Dan saya juga heran dengan orang model seperti itu,
    Bodoh kok bisa seperti itu sanadnya gimana?.

    Itulah mengapa, masyhur di dalam ilmu thariqah dan ilmu hakikat pepatah yang bilang begini
    “Laula Murobbi Lamaa arofnaa Robbi,
    wa laulal ulama lamaa arofnal ambiya”

    “Andaikan tidak ada yang mendidikku,sanad,
    tentu aku tidak tahu Tuhanku itu siapa,
    Dan andaikan tidak ada ulama,
    tentu kita tidak tahu para Nabi”.

    Kita mengetahui Tuhan karena ada yang mengajari,
    Kamu tidak mungkin bisa mengetahui Tuhan secara langsung.!
    Tapi diajari guru, bahwa Allah itu wujud, qidam baqa’ dst.
    Anehnya kadang dikenalkan oleh gurunya, terus lama-lama sombong, malah mbantah gurunya,
    Tapi itu sekedar sombong saja, hakikatnya tetap saja mengetahui Allah itu lewat guru.

    Misalnya lagi kamu tahu Nabi lewat saya,
    Saya ( gus Baha ) itu muridnya Kyai Maimoen,
    Kyai Maimoen muridnya Kyai Zubair,
    Kyai Zubair muridnya Kyai Faqih Maskumambang,
    Kyai Faqih muridnya Kyai Mahfudh Tremas,
    Kyai Mahfudh itu murid Sayyid Abu Bakar Satos yang mengarang kitab I’anatut Tholibin,
    Beliau muridnya Sayyid Zaini Dahlan,
    Muridnya Syekh Ustman Addimyati terus sampai

    (red.abi)

  • MAKAR….!! DI BALIK AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR

    MAKAR….!! DI BALIK AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR

    Oleh Ayik Heriansyah

    Sorbansantri.com – Amar ma’ruf nahi munkar suatu metode untuk menjaga kehidupan sosial politik agar tetap sesuai, selaras dan serasi dengan ajaran Islam. Amar ma’ruf nahi munkar bagian dari ajaran Islam. Siapa yang melaksanakannya mendapat ganjaran dari Allah swt. Oleh karena itu, agar diterima Allah swt amar ma’ruf nahi munkar harus benar dan baik sejak dari niat, tata cara sampai tujuan yang ingin dicapai.

    Kata Habib Umar al-Hafidz “Dalam berdakwah lakukan dengan cara yang baik dan lemah lembut. Begitu pula dalam memberantas atau mencegah kemunkaran, nahi munkar juga mesti dilakukan dengan cara yang ma’ruf pula. Bukan dengan cara yang munkar. Bukan dengan caci maki, dusta, khianat yang dengan cara tersebut berarti anda juga melakukan kemunkaran yang lain.” https://www.nu.or.id/post/read/111454/habib-umar–amar-ma-ruf-nahi-munkar–lakukan-dengan-cara-ma-ruf-.

    Sebelum melakukan amar ma’ruf nahi munkar, seseorang harus meluruskan dan membersihkan niatnya dari segala sesuatu selain Allah swt, maksudnya, seseorang harus berniat melakukan amar ma’ruf nahi munkar semata-mata karena perintah Allah swt, bukan yang lain.

    Puncak dari amar ma’ruf nahi munkar adalah ditujukan kepada penguasa. Nabi Ibrahim as dan Nabi Musa as contoh terbaik dalam hal ini. Kedua Nabi as ini mendapat perintah dari Allah swt untuk mendatangi penguasa saat itu, Namrudz dan Fir’aun guna menyampaikan nasehat agar kembali kepada Allah swt.

    Kedua Nabi as ini melakukannya dengan cara-cara yang baik. Bukan ingin mencela, mencaci maki, menghina, menurunkan kehormatan dan wibawa serta bukan pula mau menjatuhkan kekuasaan Namrudz dan Fir’aun. Mereka tidak diperintahkan untuk merebut kekuasaan Namrudz dan Fir’aun.

    Amar ma’ruf nahi munkar yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim as dan Nabi Musa as murni semata-mata karena perintah Allah swt. Tidak tersimpan motif makar di baliknya. Mereka Nabi Allah suri tauladan bagi para negarawan sejati. Melakukan amar ma’ruf nahi munkar tanpa ambisi menjadi penguasa.

    Seorang negawaran sejati tidak mesti jadi penguasa. Bisa datang dari berbagai kalangan masyarakat. Mereka peduli terhadap kondisi negaranya, cermin dari suasana hatinya yang penuh kasih sayang berkat limpahan anugerah kasih sayang Allah swt.

    Negarawan sejati dadanya lapang. Penuh harap akan rahmat Allah swt. Bagaimanapun terpuruknya negara, mereka tidak putus asa berusaha bangkit bersama. Dada mereka tidak sempit, jauh dari kebencian kepada penguasa. Karena mereka sadar, hanya Allah swt tempat bersandar, bukan amal mereka.

    Syaikh Ibnu ‘Athaillah mengawali hikmahnya di dalam kitab al-Hikam dengan untaian kalimat yang indah

    مِنْ عَلاَ مَةِ اْلاِعْـتِــمَادِ عَلَى الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُـودِ الزَّ لــَـلِ

    “Di antara tanda-tanda bersandar kepada amal adalah berkurangnya rasa harap ketika terjadi kesalahan.”

    Negarawan sejati tidak pernah melepas akad bai’at taat kepada pemimpin yang mereka pilih dan angkat. Mereka memilih tetap bersabar sampai Allah swt menurunkan pertolongannya.

    Sebab, keluar dari ketaatan kepada pemerintah (menjadi khawarij), menuntut pemakzulan Presiden (makar) dan bertindak anarki (bughat), di antara bentuk-bentuk putus asa dari rahmat Allah swt. Walaupun dibungkus dengan istilah amar ma’ruf nahi munkar. Anwar-sorbar

  • Hati-hati Mencari Ustadz PASAR GELAP USTADZ oleh Rumaidi Ahmad

    Hati-hati Mencari Ustadz PASAR GELAP USTADZ oleh Rumaidi Ahmad

    InfokomBanserNU- Saya berkali-kali menyampaikan, hati-hati mencari ustaz. Jangan sembarangan mengundang orang untuk mengisi pengajian, memanggil dia ustaz, apalagi menyebutnya sebagai ulama.

    Saya perlu semakin serius mengingatkan hal ini. Karena semakin banyak orang-orang yang hanya bermodal bisa pidato, berbaju gamis, mengumpat sana-sini diundang kemana-mana, dipanggil ustaz. Hafal satu dua ayat al-Quran dan hadis cukup menjadi modal.

    Pasar gelap ustaz ini biasanya dihuni dua kelompok besar. Pertama, para muallaf. Beberapa muallaf, meskipun tidak punya ilmu keislaman yang cukup, tiba-tiba dia menjadi ustaz karena modal bisa pidato. Yang paling banyak diceramahkan biasanya menjelek-jelekkan keyakinan lamanya. Dia ingin menunjukkan sekarang sudah mendapat “hidayah”. Tak lupa, biasanya juga menebar ketakutan, bahwa agama lamanya itu menjadi ancaman terhadap Islam. Kalau melihat orang seperti ini, saya sering jengkel sendiri, membayangkan kalau ada orang keluar dari Islam kemudian menjelek-jelekkan Islam dalam komunitas agamanya yang baru. Orang-orang seperti ini yang biasanya menaikkan ketegangan muslim dan non muslim.

    Kedua, orang-orang yang dulu jauh dari Islam, suka maksiat dan sebagainya, kemudian berubah menjadi lebih religius, mengubah penampilan dan sebagainya. Orang-orang seperti ini biasanya menyebut diri sebagai orang yang sudah “hijrah”. Modal kegelapan masa lalu dieksploitasi, seolah sekarang sudah benar-benar hidup dalam terang. Dengan modal bisa pidato, punya tim media sosial untuk menaikkan popularitasnya, mereka tiba-tiba dipanggil ustaz dan dijadikan rujukan dalam beragama.

    Dua kelompok ini, intinya sama. Mereka tidak punya otoritas keagamaan, tapi dimanjakan oleh situasi. Mareka memanfaatkan media sosial untuk marketing. Yang saya heran, orang-orang seperti ini banyak yang tidak tahu diri soal kapasitas keislamannya.

    Pasar gelap ustaz ini bisa terjadi karena dua hal. Pertama, Islam memang longgar dan tidak ada lembaga yang melakukan “stadarisasi” keulamaan seseorang. Pasar ustaz dalam Islam sangat terbuka. Semua sangat tergantung pada “pasar”. Jika Anda populer, ceramahnya disukai orang, maka Anda bisa masuk dalam pasar keulamaan.

    Kedua, sekarang banyak sarana yang bisa digunakan untuk branding. Jika dulu, untuk menjadi ustaz atau ulama membutuhkan waktu untuk diakui masyarakat, sekarang pengakuan itu bisa dilakukan dengan instan. Yang penting populer di medsos, sudah cukup.

    Siapa yang menjadi korban dari pasar gelap ini? ya masyarakat Islam sendiri. Orang-orang ini bicara atas nama Islam, padahal dia sama sekali tidak punya otoritas ilmu dan moral. Saya tak perlu menyebut nama sebagai contoh. Sekarang ini, masyarakat Islam suka marah-marah, sebagian merupakan hasil dari pasar gelap itu. Benar kata ahli yang mengatakan, di era disrupsi informasi maka akan lahir era matinya keahlian (death of expertise). Yang menjadi rujukan masyarakat bukan orang-orang yang punya otoritas, tapi orang yang terkenal, terutama di media sosial. Lihat saja survey-survey tentang tokoh-tokoh agama yang mereka ikuti, sebagian adalah orang-orang yang lain di pasar gelap ustaz itu.

    Masyarakat harus dididik agar mempunyai literasi keulamaan. Kalau mau menuntut ilmu keislaman, belajarlah pada orang-orang yang gurunya jelas, sanad ilmunya juga jelas. Jangan terpesona dengan tampilan luar. Saya senang, sekarang masyarakat sudah mulai kritis dan berani mempertanyakan ustaz yang menebarkan kebencian dimana-mana. Hanya masyarakat seperti ini yang bisa menghentikan pasar gelap itu.

    Tebet, 21 Pebruari 2019

    Rumadi Ahmad
    Ketua Lakpesdam PBNU

    (LDNU Banjar)

  • Sejarah Singkat Nahdlatul Ulama

    Sejarah Singkat Nahdlatul Ulama

    Sorbansantri.com – Tidak semua orang Indonesia tahu apa itu Nahdlatul Ulama (NU). Ini tulisan singkat sejarah organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.

    Sejarah Singkat Nahdlatul Ulama
    Hari lahir NU diperingati dua kali: 16 Rajab dan 31 Januari. Pertama berdasar kalender Hijriyah, kedua berdasar Masehi.

    Hari ini, 16 Rajab 1442 Hijriyah, adalah hari lahir organisasi Islam terbesar di Indonesia—dan dunia, Nahdlatul Ulama (NU). Tepat 98 tahun yang lalu dalam kelender hijriyah, dimotori duo KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Chasbullah, sejumlah kiai dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Madura berkumpul di kediaman Kiai Wahab di Surabaya, menyepakati perkumpulan yang sebenarnya sudah memiliki embrio jauh sebelum itu.

    Beberapa tahun sebelumnya, sejumlah kiai yang kelak mendirikan NU telah mendirikan organisasi pergerakan Nahdlatul Waton atau Kebangkitan Tanah Air (1916) serta Nahdlatut Tujjar atau Kebangkitan Saudagar (1918). Kiai Wahab Chasbullah sebelumnya (1914) juga mendirikan kelompok diskusi yang ia namai Taswirul Afkar atau kawah candradimuka pemikiran. Nahdlatul Ulama tak lain adalah lanjutan dari komunitas dan organisasi-organisasi yang telah berdiri sebelumnya tersebut, namun dengan cakupan yang lebih luas.

    Pada awal 1920, Nusantara masih dikuasai penjajah Belanda. Rakyat masih miskin dan bodoh, karena sumber daya ekonomi dikuasai Belanda dan sekolah hanya diperuntukkan bagi kalangan priyayi yang direncanakan dan didesain untuk menjadi ambtenaar Belanda. Di desa-desa, rakyat jelata berkubang dalam kemiskinan dan kebodohan.

    Didorong oleh realitas tersebut dan juga semangat mengamalkan ilmu yang didapat, kiai-kiai, kalangan muslim-tradisional terdidik yang tinggal di desa, mulai mendirikan pesantren untuk mendidik orang-orang desa dari buta aksara dan tuna pengetahuan. Sebagian besar yang diajarkan nilai-nilai agama, namun pada kenyataannya mereka yang nyantri belajar lebih dari itu. Dengan adanya pesantren, banyak warga desa yang sebelumnya tidak bisa baca tulis menjadi bisa baca tulis, namun dalam bentuk Arab pegon. Tapi dari situlah transformasi pengetahuan, wawasan dan literasi terjadi.

    Dengan makin banyaknya pesantren, masyarakat yang memeluk Islam juga makin banyak. Namun berbeda dengan kalangan pembaharu puritan yang mendorong pemurnian Islam dari tradisi-tradisi lokal yang dianggap bid’ah, kiai-kiai pesantren menerima dan mengasimilasikan tradisi lokal dengan nilai-nilai Islam. Sehingga warga pribumi Jawa tidak merasa tercerabut dari akarnya ketika memeluk dan mempraktekkan ajaran Islam.

    Namun tekanan kaum puritan yang mengatasnamakan kembali kepada Qur’an dan Hadist membuat banyak kiai merasa tidak nyaman. Tekanan terbesar terhadap kelompok pesantren terjadi ketika terjadi perubahan di Timur Tengah, yang mana Abdul Aziz bin Abdul Rahman atau dikenal dengan sebutan Ibnu Saud menguasai Mekah-Madinah. Ibnu Saud yang berpandangan Wahabi hendak menerapkan azas tunggal Wahabi dan memberangus madzhab-madzhab lain di dua tempat suci orang Islam tersebut dan ingin menghancurkan situs-situs peninggalan Nabi yang dianggap bisa menyeret pada kemusyrikan.

    Para kiai pesantren yang sebagian pernah belajar di Mekah-Madinah pun saling berkomunikasi dan membahas persoalan tersebut. Setelah lewat proses komunikasi yang panjang, KH Wahab Chasbullah beserta KH Hasyim Asy’ari mengundang sejumlah kiai untuk rapat di Surabaya, di kediaman Kiai Wahab. Di situ disepakati bahwa kiai-kiai hendak mengirim utusan untuk mengajukan keberatan kepada Raja Abdul Aziz. Pertemuan yang dikenal dengan istilah Komite Hijaz melahirkan sejumlah tuntutan, diantaranya:
    1. Meminta Raja Ibnu Saud untuk tetap memberikan kemerdekaan bermadzhab bagi umat Islam di Hijaz.
    2. Memohon agar tempat-tempat bersejarah peninggalan jaman Nabi tidak dihancurkan, termasuk makam puteri-puteri Nabi.
    3. Meminta agar biaya yang dikenakan kepada jemaah haji diumumkan ke publik dunia.

    Namun untuk bisa mengirimkan surat dan utusan ke Saudi, para kiai butuh payung organisasi. Maka dari itulah, diikuti kesadaran tentang pentingnya berjam’iyah sebagaimana disitir KH Hasyim Asy’ari di Mukadimah Qanun Asasi NU, maka para kiai tersebut menyepakati membentuk organisasi dengan nama Nahdlatul Ulama. Meski pembahasan tentang keberatan terkait kebijakan Ibnu Saud sudah dibahas saat pendirian NU pada 16 Rajab 1344 Hijriyah atau 31 Januari 1926, namun karena berbagai kendala delegasi ke Arab Saudi yang diwakili oleh KH Wahab Chasbullah serta Syaikh Ahmad Ghonaim Al-Mishri baru bisa berangkat 7 Mei 1928 atau 5 Syawal 1346 Hijriyah, dua setengah tahun setelah NU berdiri.

    Komite Hijaz boleh dikata adalah produk politik pertama Nahdlatul Ulama, yang menunjukkan semangat organisasi ini dalam memperjuangkan kebebasan bermadzhab dalam Islam. Dalam sejarahnya, NU memang tampil sebagai organisasi Islam moderat di Indonesia yang mampu menerima tradisi-tradisi lokal serta beradaptasi terhadap perubahan jaman. Di NU dikenal luas maqolah “Almuhafadhoh alal qodimis solih wal akhdu bil jadidil aslah” atau “Memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik.”

    NU juga dikenal sebagai organisasi yang tak mempertentangkan antara kebangsaan dan keislaman. Di Indonesia, menyadari kebhinekaan yang ada, NU menerima Pancasila dan tak menuntut syariat Islam diterapkan secara formal. Maka tak heran NU sering disebut salah satu soko guru negara-bangsa Indonesia.

    Sikap terbuka NU atas keragaman dan perbedaan tidak mengherankan, selain karena dipengaruhi budaya eklektik Nusantara juga karena NU memiliki prinsip tawasut (moderat), tasamuh (toleran) serta tawazun (proporsional) dalam menyikapi berbagai persoalan, baik sosial, politik maupun keagamaan. Prinsip ini mendasari dan sekaligus memagari NU sehingga tidak jatuh dalam sikap radikal atau ekstrem (tathorruf).

    Di NU, perdebatan dan perbedaan menjadi sesuatu yang biasa dan diterima, tak jarang dengan canda-tawa. Di forum-forum rapat atau bahtsul-masail NU, kiai-kiai bisa berdebat dengan sengit tapi ketika situasi sudah sangat panas maka ada saja yang melempar joke/guyonan yang membuat jamaah forum tertawa bersama.

    SORBANSANTRI.COM

    NU memang unik. Hari lahir NU juga terbilang unik. Karena tiap tahun Harlah NU diperingati dua kali, 16 Rajab serta 31 Januari. Peringatan pertama berdasar kalender hijriyah, peringatan kedua berdasar masehi. Berdasar dua penanggalan berbeda itu, umur NU jadinya juga berbeda.
    Jika berdasar hijriyah umur NU sudah 98 tahun, sedang jika menurut perhitungan masehi umur NU baru 95 tahun. Anwar Sorban

  • Baksos BANSER PAC Mojosari “Bukti” Memasyarakat dan Bermasyarakat

    Baksos BANSER PAC Mojosari “Bukti” Memasyarakat dan Bermasyarakat

    Infokom PAC Mojosarii; BANSER PAC GP ANSOR Kec.Mojosari mempunyai agenda Rutin tiap bulanya.seperti pada bulan Februari ini. BANSER PAC Mojosari pada hari Minggu tanggal 23 February 2020 pukul 07.00wib-selesai mengadakan agenda Baksos di masyarakat Kedunggempol Kec.Mojosari Kab.Mojokerto.Apel sebelum mulai BaksosSORBANSANTRI.COMDimana dalam Baksos ada 2 agenda,yaitu dari BANSER TANGGAP BENCANA “BAGANA” membersihkan rumput ilalang yang tumbuh subur di sekitaran kali Sadar dan BANSER HUSADA “BASADA” megadakan Baksos berupa pengobatan alternatif di Yayasan LPAY ROUDLOTUL AITAM di desa Kedung Gempol kec.Mojosari.SORBANSANTRI.COMSORBANSANTRI.COMSORBANSANTRI.COMBASADA dan BAGANA bersinergiSelain BANSER “BAGANA dan BASADA” di PAC Kec.Mojosari juga terbentuk BANSER “BALANTAS dan INFOKOM” yang selalu aktif dalam semua kegiatan kegiatan yang ada di wilayah Kec.Mojosari.Antusias dan tanggapan masyarakat yang sangat positif dalam giat Baksos ini. Masyarakat/penduduk sekitar berharap semoga baksos ini sering dilakukan di tiap2 desa/dusun di Kecamatan Mojosari#By.Agung/Irul PAC MojosariAntusiasme masyarakat yg hadirSORBANSANTRI.COM

  • “PESAN HABIB LUTHFI BIN YAHYA KEPADA ORANG YANG MENGANGGAP SEBELAH MATA BAHKAN TIDAK MENGANGGAP SAYYID DARI MARGA ADZMAT KHAN”

    “PESAN HABIB LUTHFI BIN YAHYA KEPADA ORANG YANG MENGANGGAP SEBELAH MATA BAHKAN TIDAK MENGANGGAP SAYYID DARI MARGA ADZMAT KHAN”

    Sorbansantri.com – “PESAN HABIB LUTHFI BIN YAHYA KEPADA ORANG YANG MENGANGGAP SEBELAH MATA BAHKAN TIDAK MENGANGGAP SAYYID DARI MARGA ADZMAT KHAN”

    [ KETURUNAN WALI SONGO ]

    “Saya sering menyaksikan, bahwa para habaib yang baru datang dari Hadramaut Yaman, jauh sesudah para wali -9 wafat, mereka petentang petenteng, ngandalke marga mereka.”

    “Kalian itu siapa..?”
    “Apa jasa kalian di bumi Jawa ini..?”

    “Leluhur kalian (para Habaib/sayyid), datang dari Hadramaut ke Negeri ini, itu Jawa sudah banyak Islamnya, dan saat itu islam di Jawa sudah ada sejak ratusan tahun lamanya.”

    “Islam di Nusantara ini, berkah para wali Allah, keturunan Rosulullah dari marga Adzmat Khan.”

    “Artinya, kalian cuma nompo kepenak, tompo resik, tanpa susah payah, dakwah tinggal melanjutkan saja, karena susah dibukakan pintu dan jalan oleh Wali 9 Adzmat Khan, untuk kalian lewati.”

    “Untuk itu saya sangat bersedih jika, diantara kalian malah mencaci maki keturunan Wali 9 itu, apalagi sampai menganggap mereka itu bukan Dzuriyat Rosulullah.”

    “Kalian disini, cuma nggandul berkahe Wali 9 dan keturunan mereka.”

    “Jadi pesan saya kalian para Habaib/Sayyid dari Hadramaut, termasuk saya sendiri, jangan Adi Gang, Adi Gung, Adi Guno, ditanah yang bukan leluhur kita yang membangun.”

    “Kita wajib khidmah, ta’dhim, ngrungkebi, terhadap seluruh keturunan Wali 9 itu.”

    “Dan mereka masih saudara tua kita, mereka bersatu dalam marga Al Adzmat Khan, yang tersebar membaur dengan masyarakat asli negeri ini, bahkan Adzmat Khan banyak yang bersembunyi.”

    “Berhati hatilah dalam bergaul bersama mereka, karena sekali lagi mereka saudara yang lebih tua dari kita.”

    “Dan leluhur mereka lebih dahulu, membukakan pintu Rohmat Alloh di Tanah Nusantara ini, untuk warga asli dan juga untuk kita selaku saudara pendatang.”

    “Kita semua, yang bukan Al Adzmat Khan ditanah ini hanyalah Nggandul barokahe Wali 9 lan keturunan Wali 9.”

    “Kita sangat haram merendahkan mereka, untuk itu kita wajib hormat dan andap ashor kepada mereka.”

    “Kalau bicara dengan mereka, gunakanlah unggah ungguh Jawa yang baik dan benar gunakan bahasa kromo inggil khas Jawa.”

    “Kiranya itu yang dapat saya pesankan bagi kalian semua yang hadir disini.”

    “Semoga bermanfaat dan kalian tancapkan dalam dalam ke sanubari kalian, serta mengamalkanya dikehidupan kalian.” Ardi-Anwar Sorban
    .

  • H. Erwin SE Dipilih Secara Aklamasi Jadi Ketua PC Pagar Nusa Kota Bandung

    H. Erwin SE Dipilih Secara Aklamasi Jadi Ketua PC Pagar Nusa Kota Bandung

    InfokomBanserNU- Para pengurus PAC Pagar Nusa se-Kota Bandung melakukan Konfercab di gedung PAC Jalan Sancang nomor 8 Bandung, Minggu, 23/2/2020.

    Suatu kehormatan dalam Konfercab tersebut dihadiri Ketua DPP Pagar Nusa Pusat, H. Edy Junaedi, DPW Pagar Nusa Jawa Barat, Haji Asep Saeful Millah, para pengurus dan PAC Pagar serta para pendekar Nusa se-Kota Bandung serta memenuhi kourum dimana 22 pengurus PAC yang hadir dari 30 PAC yang ada di Kota Bandung.

    Konfercab ini diadakan untuk menentukan ketua PC dan pengurus baru PC Pagar Nusa Kota Bandung.

    Seperti biasa Konfercab dengan susunan round down acara yang dimulai dengan pembukaan, doa, lagu Kebangsaan Indonesia Raya, sambutan-sambutan, pemilihan ketua baru PC Pagar Nusa Kota Bandung, pidato ketua PC terpilih, Kepengurusan dan ditutup doa.

    “Alhamdulillah yang hadir sudah memenuhi kourum terlaksananya Konfercab dari 30 PAC se-Kota Bandung yang hadir melebihi 50 persen yaitu 22 PAC yang hadir” ungkap H. Edy Junaedi.

    “Siapapun yang jadi ketua dan pengurus baru yang terpilih adalah kesepakatan bersama dan harus didukung bersama dan tetap solid dan kompak, semoga Pagar Nusa Kota Bandung lebih baik dan maju lagi dalam memperjuangkan para ulama serta budaya kita yaitu pencak silat” tambah H. Edy.

    Apresiasi terpilihnya H. Erwin SE datang dari ketua PW Pagar Nusa Jawa Barat, H. Asep Saeful Millah mengatakan bahwa harapan besar terpilihnya H. Erwin SE secara aklamasi menunjukan adanya kekompakan yang luar biasa mempercayakan satu yang semuanya pengurus PAC Pagar Nusa se-Kota Bandung memilih H. Erwin SE.

    “Semoga kerja dan kinerja antara ketua PC dan pengurus serta seluruh ranting dan para pendekar dibawahnya semakin kompak, bersinergi, solid secara internal dan semakin sinergiritas bekerja sama dengan pihak terkait lainnya di Kota Bandung” tukas H. Asep Saeful Millah.

    H. Erwin SE memaparkan bahwa pada Desember 1985, dibentuklah tim persiapan pendirian pencak silat NU dan tepat pada 3 januari 1986 di pondok pesantren Lirboyo, lahirlah Ikatan Pencak Silat NU PAGAR NUSA. PAGAR NUSA bukan nama sembarangan, tapi diciptakan oleh Kyai besar NU yaitu KH Mujib Ridwan, beliau adalah putra KH Ridwan Abdullah yang menciptakan lambang NAHDLATUL Ulama.
    Kita sebagai para pendekar Pagar Nusa, harus mempunyai jati diri Pagar Nusa. Memperkuat ukhuwwah pagar nusa, dengan tidak membedakan aliran dan perguruan silat di Pagar Nusa, tidak membedakan latar belakang sosial dan politik, yang mana kesemuanya itu harus tetap kita jaga keharmonisannya. Ketika kita masuk dan bergabung d pagar nusa baik sebagai pengurus, santri, warga pagar nusa, maka saat itu pula kita tekadkan niat kita untuk mengabdi di Nahdlatul Ulama, mengabdi pada kyai, menjaga NKRI, dan terutama dengan berharap kita diakui menjadi santrinya hadrotusyeh KH Hasyim Asyarie. Resiko yang akan kita hadapi tentu akan sangat besar, kesiapan lahir dan bathin kita harus kita latih mulai sekarang, karena pagar nusa merupakan bentengnya NU dan Bangsa, benteng nya para kyai, penjaga NKRI.

    “Saya, selaku ketua PC Pagar Nusa Kota Bandung terpilih tentunya bukan yang terbaik dari kalian, tapi saya akan bersama – sama dengan kalian para pengurus PAC, pengurus ranting, dan seluruh pendekar pagar nusa Kota Bandung untuk merapatkan barisan dalam memperkokoh ukhuwwah wathoniyyah, basyariah, islamiyyah, memperkuat faham ahlisunnah waljamaah annahdiyyah, dan mengembangkan pencak silat NU pagar nusa d Kota Bandung ini” pungkas H Erwin SE pada konferensi pers.(iwnaruna)

    sumber