Kategori: Peristiwa

kejadian atau kejadian yang terjadi dalam suatu periode waktu tertentu. Peristiwa dapat berupa apa pun, mulai dari peristiwa alam seperti gempa bumi atau badai, peristiwa politik seperti pemilihan umum atau demonstrasi, peristiwa sosial seperti perayaan budaya atau kampanye amal, hingga peristiwa kehidupan sehari-hari seperti pernikahan atau kelahiran. Peristiwa seringkali menjadi fokus liputan berita karena relevansinya dengan kehidupan masyarakat dan potensinya untuk memberikan informasi yang penting atau menarik bagi orang banyak.

  • HASTAPORA UPACARA PERNIKAHAN ANGGOTA BANSER SATKORYON PACET SUKSES DILAKSANAKAN

    HASTAPORA UPACARA PERNIKAHAN ANGGOTA BANSER SATKORYON PACET SUKSES DILAKSANAKAN

    SORBAN Infokom – HASTAPORA oleh Banser Satkoryon Pacet Mojokerto yang diadakan di Desa Wonokerto / Kramajetak Kecamatan Pacet Mojokerto terjadi Minggu siang hari pukul 13.00 wib. tanggal 22 Maret 2020. dilaksanakan dengan lancar dan sukses, meskipun baru pertamakali digelar. 

    Koordinasi dan semangat yang bagus dari semua anggota Banser Satkoryon Pacet, menghasilkan kesuksesan acara hastapora pernikahan yang di laksanakan di Desa Wonokerto Kramajetak Kec. Pacet. Sahabat-sahabat banser sudah mulai hadir pukul 12.00 wib.

        

    HASTAPORA yang di mulai pukul 13.00 wib itu diawali dengan datangnya iring-iringan pengantin dan disambut dengan basisan anggota banser saling berhadapan dipinggir jalan dengan tangan kanan mengarah ke depan sebagai wujud penghormatan pada pengantin dan tamu pengantar. selanjutnya pasangan pengantin diberikan sedikit saran oleh Ketua GP Ansor Pacet sahabat Mujiburrohman mengenai pernikahan.

    Acara tersebut berakhir dengan ramah tamah dan foto bareng dengan pasangan pengantin. diharapkan dengan adanya hasta pora banser, akan memberi warna lain di setiap acara pernikahan anggota banser sehingga semakin diakui existensi keberadaan banser di masyarakat. (abi-Infokom)

  • Persiapan Hasta Pora Upacara Pernikahan Anggota Banser SATKORYON PACET

    Persiapan Hasta Pora Upacara Pernikahan Anggota Banser SATKORYON PACET

    SORBAN Infokom – Persiapan hasta pora anggota banser yang diadakan di Desa Wonokerto / Kramajetak Kecamatan Pacet, dilakukan oleh BANSER SATKORYON PACET pada hari Minggu, 22 Maret 2020 dipimpin oleh ketua PAC GP ANSOR PACET sahabat Mujibur rohman, Pentingnya upacara hasta pora ini adalah untuk menghormati anggota banser yang sedang melaksanakan hari yang berbahagia tersebut.

    Dimulai dari persiapan dan melakukan koordinasi dengan masing-masing bagaian tugas yang akan dilaksanakan. Ditempat yang sejuk sahabat Mujibur rohman memberikan arahan mulai dari awal sampai akhir upacara hasta pora. Persiapan ini dilakukan mulai pukul 12.00 wib.

    Acara hasta pora yang diadakan di desa wonokerto /kramajetak ini adalah lanjutan dari hasta pora kemarin yang diadakan di Dsn Sukorejo Desa Kemiri kec pacet Mojokerto. Yang mana momen tersebut adalah Pertama kali yang di adakan di PAC GP ANSOR PACET dan dilaksanakan dengan sukses lancar dalam tiap-tiap rangkaian acara hasta pora. (abi-infokom)

  • Diklat Satgas Anti Narkoba di Banyumas

    Diklat Satgas Anti Narkoba di Banyumas

    InfokomBanserNU- Sedikitnya 120 orang peserta dari berbagai kecamatan di Banyumas mengikuti Diklat Satgas Anti Narkoba yang diselenggarakan oleh Badan Ansor Anti Narkoba (Baanar) Banyumas, di Aula Palawi Baturraden, Sabtu-Minggu (29/2-1/3).

    Kepala Baanar Banyumas, Suhardiman mengungkapkan, melalui kegiatan diklat dan pembentukan satgas anti narkoba ini, nantinya pengurus di setiap kecamatan bisa terbentuk. “Setelah dibentuknya kepengurusan di tingkat kecamatan, kedepan targetnya setiap desa terdapat Satgas Anti Narkoba,” terangnya.

    Kegiatan yag dilaksanakan selama dua hari kemarin peserta mendapat berbagai pemahaman, terkait pencegahan, penanggulangan, termasuk materi sosialisasi bahaya narkoba. Pengurus kecamatan nantinya juga akan melakukan pengkaderan di masing-masing wilayahnya.

    Adapun divisi berada di bawah pengurusan kecamatan yakni, bidang pencegahan, bidang sosialisasi dan pengkaderan, serta bidang advokasi. “Terkait advokasi, kami juga sudah melakukan penandatangannan pakta integritas, jika memang kedapatan ada yang bermain, maka kita juga tidak akan memberi pendampingan,” terangnya.

    Sebelum dilantik menjadi satgas, salah satu rencana tindak lanjut dari peserta yag sudah mengikuti diklat, nantinya mereka akan melakukan sosialisasi minimal 3 kali di wilayah masing-masing. “Setelah mereka melakukan kegiatan bersama masyarakat, maka baru kita kukuhkan sebagai satgas Anti Narkoba,” tambahnya.

    Adapun narasumber yang hadir dalam diklat kemarin yakni, Kapolresta Banyumas, Kabag Hukum Pemda Banyumas, BNN Banyumas, Komisi Perlindungan Aids (KPA) Banyumas, Kepala BAANAR Jateng Taufik Hidayat, dan Deputi Bidang Pemberdayaan BAANAR Jateng Dosen Undip Fahmi Arifianto.

    Lebih Lanjut diungkapkan, BAANAR kini juga sudah menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, terkait dengan pencegahan dan penanggulangan narkoba. Hal mendasar yang menjadi urgensi terus dilakukannya sosialisasi dan pencegahan peredaran narkoba, yakni karena semakin canggihnya peredaran narkoba.

  • Kisah KH.As’ad Syamsul Arifin Saat Disuruh Mbah Kholil Bangkalan ( Pada Tahun 1924 )

    Kisah KH.As’ad Syamsul Arifin Saat Disuruh Mbah Kholil Bangkalan ( Pada Tahun 1924 )

    InfokomBanserNU- Asalnya saya ini mengaji di pagi hari, dimarahi oleh kyai, karena saya tidak bisa mengucapkan huruf Ro’. Saya ini pelat (cadal). “Arrohman Arrohim…”

    Kyai marah: “Bagaimana kamu membaca al-Quran kok seperti ini? Disengaja apa tidak?!”

    “Saya tidak sengaja Kyai. Saya ini pelat.”

    Kyai kemudian keluar (Kyai Kholil melakukan sesuatu). Kemudian esok harinya pelat saya ini hilang. Ini salah satu kekeramatan Kyai yang diberikan kepada saya.

    Kedua, saya dipanggil lagi: “Mana yang cedal itu? Sudah sembuh cedalnya?”

    “Sudah Kyai.”

    “Ke sini. Besok kamu pergi ke Hasyim Asy’ari Jombang. Tahu rumahnya?”

    “Tahu.”

    “Kok tahu? Pernah mondok di sana?”

    “Tidak. Pernah sowan.”

    “Tongkat ini antarkan, berikan pada Hasyim. Ini tongkat kasihkan.”

    “Ya, kyai.”

    “Kamu punya uang?”

    “Tidak punya, kyai.”

    “Ini.”

    Saya diberikan uang Ringgit, uang perak yang bulat. Saya letakkan di kantong. Tidak saya pakai. Sampai sekarang masih ada. Tidak beranak, tapi berbuah (berkah). Beranaknya tidak ada. Kalau buahnya banyak. Saya simpan. Ini berkah. Ini buahnya.

    Setelah keesokan harinya saya mau berangkat, saya dipanggil lagi: “Ke sini kamu! Ada ongkosnya?”

    “Ada kyai.”

    “Tidak makan kamu? Tidak merokok kamu? Kamu kan suka merokok?”

    Saya dikasih lagi 1 Ringgit bulat. Saya simpan lagi. Saya sudah punya 5 Rupiah. Uang ini tidak saya apa-apakan. Masih ada sampai sekarang. Kyai keluar: “Ini (tongkat) kasihkan ya, (Kyai Kholil membaca QS. Thaha ayat 17-21):

    وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١

    “Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.”

    Karena saya ini namanya masih muda. Masih gagah. Sekarang saja sudah keriput. Gagah pakai tongkat dilihat terus sama orang-orang. Kata orang Arab Ampel: “Orang ini gila. Muda pegang tongkat.”

    Ada yang lain bilang: “Ini wali.”

    Wah macam-macam perkataan orang. Ada yang bilang gila, ada yang bilang wali. Saya tidak mau tahu, saya hanya disuruh Kyai. Wali atau tidak, gila atau tidak terserah kamu.

    Saya terus berjalan. Saya terus diolok-olok, gila. Karena masih muda pakai tongkat. Jadi perkataan orang tidak bisa diikuti. Rusak semua, yang menghina terlalu parah. Yang memuji juga keterlaluan. Wali itu, kok tahu? Jadi ini ujian. Saya diuji oleh Kyai. Saya terus jalan.

    Sampai di Tebuireng, (Kyai Hasyim bertanya): “Siapa ini?”

    “Saya, Kyai.”

    “Anak mana?”

    “Dari Madura, Kyai.”

    “Siapa namanya?”

    “As’ad.”

    “Anaknya siapa?”

    “Anaknya Maimunah dan Syamsul Arifin.”

    “Anaknya Maimunah kamu?”

    “Ya, Kyai”

    “Keponakanku kamu, Nak. Ada apa?”

    “Begini Kyai, saya disuruh Kyai (Kholil) untuk mengantar tongkat.”

    “Tongkat apa?”

    “Ini, Kyai.”

    “Sebentar, sebentar…”

    Ini orang yang sadar. Kyai ini pintar. Sadar, hadziq (cerdas). “Bagaimana ceritanya?”

    Tongkat ini tidak langsung diambil. Tapi ditanya dulu mengapa saya diberi tongkat. Saya menyampaikan ayat:

    وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١

    “Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.”

    “Alhamdulillah, Nak. Saya ingin mendirikan Jam’iyah Ulama. Saya teruskan kalau begini. Tongkat ini tongkat Nabi Musa yang diberikan Kyai Kholil kepada saya.”

    Inilah rencana mendirikan Jam’iyah Ulama. Belum ada Nahdlatul Ulama. Apa katanya? Saya belum pernah mendengar kabar berdirinya Jam’iyah Ulama. Saya tidak mengerti.

    Setelah itu saya mau pulang. “Mau pulang kamu?”

    “Ya, Kyai.”

    “Cukup uang sakunya?”

    “Cukup, Kyai.”

    “Saya cukup didoakan saja, Kyai.”

    “Ya, mari. Haturkan sama Kyai, bahwa rencana saya untuk mendirikan Jam’iyah Ulama akan diteruskan.”

    Inilah asalnya Jam’iyatul Ulama.

    Tahun 1924 akhir, saya dipanggil lagi oleh Kyai Kholil: “As’ad, ke sini! Kamu tidak lupa rumahnya Hasyim?”

    “Tidak, Kyai.”

    “Hasyim Asy’ari?”

    “Ya, Kyai.”

    “Di mana rumahnya.”

    “Tebuireng.”

    “Dari mana asalnya?”

    “Dari Keras (Jombang). Putranya Kyai Asy’ari Keras.”

    “Ya, benar. Di mana Keras?”

    “Di baratnya Seblak.”

    “Ya, kok tahu kamu?”

    “Ya, Kyai.”

    “Ini tasbih antarkan.”

    “Ya, Kyai.”

    Kemudian diberi uang 1 Ringgit dan rokok. Saya kumpulkan. Semuanya menjadi 3 Ringgit dengan yang dulu. Tidak ada yang saya pakai. Saya ingin tahu buahnya.

    Terus, pagi hari Kyai keluar dari Langgar: “Ke sini, makan dulu!”

    “Tidak, Kyai. Sudah minum wedang dan jajan,”

    “Dari mana kamu dapat?”

    “Saya beli di jalan, Kyai”

    “Jangan membeli di jalan! Jangan makan di jalan! Santri kok makan di jalan?”

    “Ya, Kyai.”

    Saya makan di jalan dimarahami. Santri kok menjual harga dirinya? Akhirnya saya ditanya: “Cukup itu?”

    “Cukup, Kyai.”

    “Tidak!”

    Diberi lagi oleh Kyai. Dikasih lagi 1 Ringgit. Saya simpan lagi. Kemudian tasbih itu dipegang ujungnya: “Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar.” Jadi Ya Jabbar 1 kali putaran tasbih. Ya Qahhar 1 kali putaran tasbih. Saya disuruh dzikir.

    “Ini.”

    Disuruh ambil. Saya tengadahkan leher saya. “Kok leher?”

    “Ya, Kyai. Tolong diletakkan di leher saya supaya tidak terjatuh.”

    “Ya, kalau begitu.”

    Jadi saya berkalung tasbih. Masih muda berkalung tasbih. Saya berjalan lagi, bertemu kembali dengan yang membicarakan saya dulu: “Ini orang yang megang tongkat itu? Wah.. Hadza majnun.” Ada yang bilang “wali”, ya seperti tadi. Jadi saya tidak menjawab. Saya tidak bicara kalau belum bertemu Kyai. Saya berpuasa. Saya tidak bicara, tidak makan, tidak merokok, karena amanatnya Kyai. Saya tidak berani berbuat apa-apa. Sebagaimana kepada Rasulullah, ini kepada guru. Saya tidak berani. Saya berpuasa. Saya tidak makan, tidak minum tidak merokok. Tidak terpakai uang saya.

    Ada yang narik: “Karcis! karcis!”

    Saya tidak ditanya. Saya pikir ini karena tasbih dan tongkat. Saya pura-pura tidur karena tidak punya karcis. Jadi selama perjalanan 2 kali saya tidak pernah membeli karcis. Mungkin karena tidak melihat saya. Ini sudah jelas keramatnya Kyai. Jadi Auliya’ itu punya karomah. Saya semakin yakin dengan karomah. Saya semakin yakin.

    Saya lalu sampai di Tebuireng, Kyai (Hasyim) tanya: “Apa itu?”

    “Saya mengantarkan tasbih.”

    “Masya Allah, Masya Allah. Saya diperhatikan betul oleh guru saya. Mana tasbihnya?”

    “Ini, Kyai.” (dengan menjulurkan leher).

    “Lho?”

    “Ini, Kyai. Tasbih ini dikalungkan oleh Kyai ke leher saya, sampai sekarang saya tidak memegangnya. Saya takut su’ul adab (tidak sopan) kepada guru. Sebab tasbih ini untuk Anda. Saya tidak akan berbuat apa-apa terhadap barang milik Anda.”

    Kemudian diambil oleh Kyai: “Apa kata Kyai?”

    “Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar.”

    “Siapa yang berani pada NU akan HANCUR.
    Siapa yang berani pada ulama akan HANCUR.” Ini dawuhnya.

    ALLAHUMMA sholli ‘alaa sayyidina muhammad wa angzilhu almaq ‘ada almuqorrobba ‘indaka yaumal qiyyamah
    wa ‘alaa aalihi wa shohbihi wa barrik wa ssalim ajma’in

    (Ansor Pejogol)

  • LTMNU PC Temanggung dan NU-Care LAZISNU Temanggung adakan Rapat koordinasi Galakkan Sinergi

    LTMNU PC Temanggung dan NU-Care LAZISNU Temanggung adakan Rapat koordinasi Galakkan Sinergi

    InfokomBanserNU- Upaya Mewujudkan Sinkronisasi antar lembaga dan banom NU, jajaran Pengurus LTMNU PC Temanggung mengadakan rapat koordinasi dengan jajaran pengurus NU-Care Lazisnu PC Temanggung.

    Rapat ini dilaksanakan pada 16 Desember 2019 lalu, di Kantor PCNU Temanggung yang dihadiri oleh KH. Badarudin (Ketua LTMNU), KH. Masturi (WaKa LTMNU), KH. Saifurrahman(Ketua NU-Care LAZISNU), Haris (Media NU-Care LAZISNU) Beserta beberapa anggota jajaran kepengurusan LTMNU dan NU-Care LAZISNU Lainnya.

    Dalam rapat ini membahas sinkronisasi program LTMNU dengan NU-Care Lazisnu terkait alokasi dana pilar jaminan kesejahteraan Imam masjid, operasional Masjid dan Musholla, selain itu menekankan agar LTMNU selalu bergandengan erat dengan Lembaga dan Banom lain, Karena hal tersebuat adalah Satu-Satunya Cara akan terwujudnya sebuah sinergi antar lembaga dan banom yang solid yang nantinya akan dapat menghindari terjadinya miss komunikasi program kegiatan, yang kedepannya Semua program kegiatan akan berjalan lebih baik dan maksimal.

    Akhir pertemuan Rapat Ini dihangatkan dengan Beberapa pesan dari ketua, waka LTMNU, dan ketua lazisnu bahwa segala hal yang berkaitan dengan proker Semuanya harus tertata rapi dan tertarget. Untuk yang berkaitan dengan dedikasi KH. Masturi menyampaikan: “Hidmah di NU dituntut bukti bukan hanya sekedar simbul untuk gagah-gagahan.”

    Semoga Dengan adanya Rapat koordinasi ini Bisa menjadi bekal didalam mengawali pelaksanaan kinerja kepengurusan LTMNU PC Temanggung untuk menjadi yang lebih baik dan maju. Amin …

    Team media LTMNU PC Temanggung

     

  • 20 Pemabuk Tobat Di Hadapan Habib Munzir

    20 Pemabuk Tobat Di Hadapan Habib Munzir

    Kisah, InfokomBanserNU- Seorang miskin sedih dan nangis. Anaknya meninggal, tapi masyarakat dan ustadz sekitarnya tak mau menshalatkan dan menguburkan di kuburan umum. Kenapa? Anaknya seorang pemuda yang nakal, narkoba, pemabuk, dan seabrek label nagatif lainnya. Sebelum meninggal, pemuda itu bertaubat, mencium kaki ibunya dan meminta maaf kepada ibunya. Tak lama setelah itu, pemuda itu wafat.

    Mendengar kabar ini, Habib Mundzir langsung meluncur menuju rumah duka. Saat itu sudah larut malam, karena Habib Mundzir sedang dalam sebuah acara.

    “Habib, jangan masuk rumah saya. Saya orang miskin, tidak mampu memberi apa-apa buat Habib. Saya tak mampu memberi amplop, ya Habib,” kata lelaki tua yang tak lain adalah ayah dari pemuda yang meninggal. Si ayah itu memang orang miskin, sehingga tak berani menerima tamu ustadz karena takut memberi amplop.

    SORBANSANTRI.COM
    Habib Munzir

    Habib Mundzir tergetar hatinya. Merasa sedih dan malu melihat kondisi bapak itu. Akhirnya, dengan lemah lembut Habib mengajak orang tua itu masuk rumahnya. Habib melihat ruangan tamu dengan dinding tanah, tembok yang kusut, lampu yang redup. Di ruang tamu itu ada 20 anak muda gondrong yang terdiam, teman anaknya yang baru saja meninggal.

    “Anak saya dikuburkan di sebelah rumah, dan belum dingajikan karena saya tak mampu membayar orang yang mengaji. Paketnya 300 ribu (saat itu-red),” kata pak tua itu. .

    Melihat kondisi demikian, Habib Mundzir kemudian memerintah kepada jamaahnya agar mengerahkan 100 orang mengaji Al-Qur’an dan dzikir secara bergantian sampai 3 hari 3 malam. Semua kebutuhan konsumsi ditanggung semua oleh Habib.

    Habib Mundzir kemudian mendatangi makam pemuda tadi, berdoa kemudian menyampaikan tausiyah singkat. Subhanallah! 20 anak muda yang menjadi teman narkoba dan mabuk itu akhirnya taubat bersama Habib Mudzir. Mereka berjanji belajar ngaji, bekerja dengan baik, menikah, dan meninggalkan kemaksiatan.

    “Habib, anak saya itu matinya disiksa Allah kah..?,” pak tua bertanya karena masih bersedih, walaupun juga gembira karena 20 pemuda itu bertaubat.

    (kalam ulama’)

  • BUKU MENJERAT GUS DUR AGENDA PELENGSERAN PRESIDEN

    BUKU MENJERAT GUS DUR AGENDA PELENGSERAN PRESIDEN

    InfokomBanserNU- Haul Gus Dur tahun ini agak beda. Haul terasa lebih hangat karena bersamaan dengan peluncuran buku “Menjerat Gus Dur”. Di buku itu misalnya dikisahkan soal agenda pelengseran Presiden Gus Dur. Tak main-main, buku itu menyebut sejumlah nama yang terlibat dalam skenario pelengseran itu.

    Buku itu berguna terutama bagi generasi belakangan yang tidak hidup di era Presiden Gus Dur. Tapi bagi generasi senior yang membaca koran, tabloid serta majalah yang menarasikan pernyataan para tokoh politik kontra Gus Dur saat itu, buku ini lebih bersifat komplementer. Sebab, pelengseran Gus Dur itu bukan agenda tersembunyi. Betapa sejumlah tokoh bicara di TV dengan terus terang menyatakan keinginannya menjatuhkan Gus Dur.

    Sejumlah pimpinan organisasi kemahasiswaan bukan hanya turun ke jalan memprotes Gus Dur. Mereka juga wira-wiri masuk TV untuk menegaskan kegeramannya pada Gus Dur. Jika aktivis angkatan 98 bangga berhasil menurunkan Soeharto, maka beberapa aktivis mahasiswa angkatan 2000 menepuk dada dengan bangga karena sukses menurunkan Gus Dur. Padahal, jelas beda antara Gus Dur dan Pak Harto.

    Apapun itu, sejarah politik kekuasaan Indonesia perlu terus ditulis agar generasi mendatang bisa mengambil pelajaran. Bahwa bukan hanya pemimpin zalim yang bisa jatuhkan, pemimpin bersih seperti Gus Dur pun bisa dilengserkan. Saya jadi ingat pepatah Arab, “al haqqu bila nizham yaghlibuhu al bathil bi nizham”.

    Selasa, 31 Desember 2019
    Salam,

    Cc Abdul Moqsith Ghazali

    (post.muhammad khoirunnadzirin)

  • Informasi Kehilangan Dompet diPengajian Gus Miftah Pungging Mojosari

    Informasi Kehilangan Dompet diPengajian Gus Miftah Pungging Mojosari

    Infokom Mojokerto- Telah hilang sebuah DOMPET WARNA HITAM atas nama SUHARIYADI beramatkan di Desa Jotangan RT.07 Mojosari – Mojokerto. yang berisikan= 1 identitas KTP, 2 SIM, 2 surat STNK dan uang sekitar Rp.700.000 – Rp.800.000

    Mohon yang menemukan bisa mengembalikan kepada pemiliknya dengan no WA:0857-3022-7371 atau bisa menghubungi kami Biro Infokom Mojokerto. Yang menemukan tolong dikembalikan kepada pemiliknya,dan….. SILAHKAN DIAMBIL UANG YANG ADA DIDOMPET.

    SORBANSANTRI.COM
    SUHARIYADI Alamati Desa Jotangan RT.07 Mojosari – Mojokerto

  • Pengajian Bersama Ketua-ketua Ormas di Kantor PCNU Tasikmalaya

    Pengajian Bersama Ketua-ketua Ormas di Kantor PCNU Tasikmalaya

    Infokom Banser NU- Ketua-Ketua Ormas Islam di Kabupaten Tasikmalaya berkumpul di Kantor PCNU Kab. Tasikmalaya. Ada dari Muhammadiyah, Persis, PUI dan dari FPI. Pada kesempatan itu para sesepuh dan Ketua Ketua Ormas ini sepakat untuk melaksanakan pengajian bersama dengan tausyiah langsung oleh Ketua MUI Kab. Tasikmalaya, Mustasyat PCNU Kab. Tasikmalaya sekaligus Pengasuh Ponpes Sukahideng, KH. Ii Abduk Basith.

    Dan hari ini buah dari pertemuan itu sedang dilaksanakan di Masjid Agung Kab. Tasikmalaya di Bojongkoneng. Sesuai dengan hasil rapat dan atas perintah para sesepuh dan para Ketua, Banser ditunjuk sebagai Koordinator pengamanan.

    Dan hari ini juga, untuk pertama kalinya di Kab. Tasikmalaya Ansor, Banser, Pemuda Muhammadiyah, Kokam, Pemuda PUI, Brigade PUI, Pemuda Persis, Brigade Persis dan Laskar FPI berkumpul dalam satu acara. Bahu membahu mengatur dan mengamankan acara.

    (post. salman al arobi)