Kategori: Tokoh

  • DPC PKB Kabupaten Mojokerto Gelar Muscab 28 Maret, Ketua Baru Akan Diseleksi Langsung oleh DPP

    DPC PKB Kabupaten Mojokerto Gelar Muscab 28 Maret, Ketua Baru Akan Diseleksi Langsung oleh DPP

    MOJOKERTO – Dewan Pimpinan Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (DPC PKB) Kabupaten Mojokerto memasuki babak baru dalam regenerasi kepemimpinan. Partai berlambang bola dunia ini dipastikan akan menggelar Musyawarah Cabang (Muscab) pada Sabtu, 28 Maret 2026, bertempat di Hotel Aston Mojokerto.

    Kepastian jadwal tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Panitia Muscab, Ulil Abshor Cholish, atau yang akrab disapa Gus Ulil, saat ditemui di kediamannya di kompleks Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Klinterejo, pada Selasa (24/3/2026).

    Muscab sebagai Forum Tertinggi Evaluasi dan Penetapan Arah Kebijakan

    Gus Ulil menjelaskan bahwa pelaksanaan Muscab ini merupakan agenda rutin partai yang memiliki posisi strategis. Forum ini menjadi mekanisme permusyawaratan tertinggi di tingkat kabupaten untuk mengevaluasi kinerja serta menentukan arah kebijakan partai untuk periode mendatang.

    “*Sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PKB hasil Muktamar Bali, Muscab adalah forum permusyawaratan tertinggi di tingkat kabupaten. Fungsinya untuk mengevaluasi dan menentukan arah kebijakan partai, khususnya terkait kepemimpinan DPC PKB Kabupaten Mojokerto untuk periode 2026-2031,*” ungkap Gus Ulil.

    Mekanisme Seleksi Ketua: Tidak Ada Pemilihan Langsung, DPP yang Tentukan

    Salah satu poin penting yang menjadi sorotan dalam Muscab kali ini adalah mekanisme pemilihan ketua. Gus Ulil menegaskan bahwa forum ini tidak akan digelar sebagai ajang kompetisi terbuka atau pemilihan langsung sebagaimana prosedur umum di beberapa partai lain.

    Ia menjelaskan bahwa proses penetapan ketua DPC akan melalui mekanisme seleksi yang berjenjang, di mana Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKB memegang otoritas penuh.

    Tidak ada proses pemilihan dalam arti kompetisi terbuka. PKB saat ini memilih untuk mengedepankan proses seleksi. Siapa pun yang akan memimpin nanti, baik itu Bu Ayni Zuroh sebagai incumbent, atau teman-teman dari fraksi PKB di DPRD, atau bahkan nama baru yang muncul nanti, semuanya yang menentukan adalah DPP. Insya Allah yang terpilih adalah kader terbaik,” tegas Gus Ulil.

    Peran Tim 7 dan Pemetaan Calon Kader Terbaik

    Saat ini, proses pemetaan bakal calon ketua telah memasuki tahapan yang intensif. Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKB Jawa Timur, atas mandat dari DPP, telah membentuk Tim Penataan Struktur yang terdiri dari 7 orang (Tim 7). Mereka bertugas untuk memetakan dan menjaring nama-nama potensial dari setiap Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) se-Kabupaten Mojokerto.

    “*Nama-nama hasil pemetaan Tim 7 itulah yang nanti akan disampaikan dalam forum Muscab untuk mendapatkan tanggapan dan catatan dari peserta. Namun, proses selanjutnya adalah Uji Kelayakan dan Kepatutan (UKK) yang dilakukan langsung oleh DPP PKB di Jakarta,*” sambungnya.

    Meski nama-nama calon telah melalui pemetaan, Gus Ulil secara diplomatis menolak menyebutkannya lebih awal. Ia menegaskan bahwa hal tersebut merupakan kewenangan Tim 7 dan usulan dari tingkat DPAC.

    Persiapan 80% dan Tema Besar Taubat Ekologis

    Menjelang hari pelaksanaan, persiapan Muscab dilaporkan telah mencapai 80%. Rencananya, Muscab ini akan dihadiri oleh seluruh perwakilan DPAC dari 18 kecamatan yang ada di Kabupaten Mojokerto.

    Selain membahas struktur kepemimpinan, Muscab kali ini juga akan mengusung tema besar yang sejalan dengan platform PKB, yakni Taubat Ekologis. Hal ini diwujudkan dengan komitmen untuk meminimalisir penggunaan sampah, khususnya sampah plastik, selama pelaksanaan acara berlangsung.

    Kami akan berusaha meminimalisir sampah plastik. Ini adalah komitmen kami untuk menjaga lingkungan,” jelas Gus Ulil.

    Turut diundang dalam forum tersebut sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama (NU), para kyai, serta pimpinan partai politik (parpol) yang ada di Kabupaten Mojokerto sebagai bentuk sinergitas dan silaturahmi politik.

  • PBNU ke Depan: Kepemimpinan yang Menjaga Akar, Menyapa Zaman

    PBNU ke Depan: Kepemimpinan yang Menjaga Akar, Menyapa Zaman

    Oleh :
    Abdul Ghofar Fathoni
    Ketua PC LBMNU Kab. Mojokerto

    Dinamika kebangsaan, perubahan sosial yang cepat, serta tantangan internal umat menuntut PBNU dipimpin oleh figur yang tidak hanya kuat secara struktural, tetapi juga matang secara kultural dan visioner secara strategis. NU hari ini membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjaga tradisi sekaligus memandu transformasi. Dalam konteks itulah, duet KH. Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam dan Gus Salam sebagai Ketua Umum PBNU menjadi pilihan yang relevan dan rasional.

    Sebagai Rais Aam, KH. Said Aqil Siradj memiliki legitimasi keilmuan dan pengalaman yang tidak diragukan. Beliau bukan hanya sosok ulama dengan basis intelektual kuat, tetapi juga figur yang telah teruji dalam memimpin NU di tengah dinamika politik dan sosial yang keras. Kapasitasnya dalam merawat khittah, menjaga marwah ulama, serta memosisikan NU sebagai kekuatan moral bangsa adalah modal penting untuk kepemimpinan ke depan.

    Lebih dari itu, KH. Said dikenal memiliki jejaring luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Hal ini menjadikannya figur strategis dalam menjaga posisi NU sebagai organisasi Islam moderat yang berpengaruh dan diperhitungkan. Di tengah meningkatnya polarisasi dan ekstremisme, kehadiran Rais Aam yang berwibawa dan diterima lintas kelompok menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar pilihan.

    Sementara itu, posisi Ketua Umum PBNU membutuhkan sosok eksekutor yang lincah, komunikatif, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Gus Salam merepresentasikan kebutuhan tersebut. Ia membawa semangat generasi baru NU yang memahami tata kelola organisasi modern, penguatan ekonomi umat, serta pentingnya inovasi dalam pelayanan jam’iyyah. Kepemimpinannya diharapkan mampu menggerakkan mesin organisasi secara lebih efektif dan profesional.

    Gus Salam juga memiliki kedekatan kultural dengan kader muda NU tanpa kehilangan akar tradisinya. Ini penting untuk menjembatani jarak antara struktur dan basis, antara nilai-nilai pesantren dan tantangan era digital. NU tidak boleh terjebak nostalgia, tetapi juga tidak boleh tercerabut dari akarnya. Gus Salam berada di titik temu itu.

    Kombinasi KH. Said Aqil Siradj dan Gus Salam mencerminkan keseimbangan antara hikmah dan energi, antara kebijaksanaan ulama sepuh dan dinamika kepemimpinan muda. Rais Aam menjadi penjaga nilai dan arah, sementara Ketua Umum menjadi penggerak program dan konsolidator organisasi. Relasi ini bukan tumpang tindih, tetapi saling melengkapi.

    Pada akhirnya, kepemimpinan PBNU ke depan harus mampu menjawab dua hal sekaligus: menjaga jati diri NU dan mempersiapkannya menghadapi masa depan. Duet KH. Said Aqil Siradj dan Gus Salam menawarkan harapan akan kepemimpinan yang stabil, inklusif, dan progresif—sebuah kepemimpinan yang tidak hanya kuat di dalam, tetapi juga relevan di hadapan umat dan bangsa.

  • KONSEP MAJLIS SYURIAH ; SYURIAH YANG LEGITIMIT INSTITUSIONAL

    KONSEP MAJLIS SYURIAH ; SYURIAH YANG LEGITIMIT INSTITUSIONAL

    *Abdus Salam Sohib

    Sejarah berdirinya NU secara isntitusional adalah sejarah keorganisasian keagamaan yang memliki kekuatan ulama sebagai simbol ketokohan yang terlegitimasi baik sikap maupun gagasan. Keutamaan dari setiap dinamika yang terjadi di tubuh NU, Syuriah sebagai tokoh ulama selalu menjadi jalan berkeputusan yang berdasarkan cara pandang jami’iyah sekaligus perpektif jama’ah.

    Hadrotus Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari memiliki legacy institusional yang sangat bersejarah, yaitu berkeputusan mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad dalam penguatan kemerdekaan yang menjadi keputusan kelembagaan NU saat itu, Kyai Wahab Hasbullah justru lebih di kenal dengan berbagai ide pembaharuan pergerakan ke-NU-an, mulai dari pelopor Komite Hijaz atas restu Kyai Hasyim, Nadhdlatut Tujjar, Taswirul Afkar, Syubbanul Wathon. Kyai Bisri Syansuri saat menjadi rois am sangat melekat sebagai ahli fiqih yang memiliki legacy perancang undang undang pernikahan yang memasukkan ketentuan fiqih sebagai dasar pernikahan di Indonesia, dan juga berkeputusan pancasila sebagai dasar negara yang legitimit berdasarkan fiqih siyasah. Kyai Ali Maksum saat menjadi Rois Am sangat kuat dengan keadaan politik tarik menarik NU dalam kancah politik saat itu, dan Kyai Ali Maksum menjadi penggerak jalan damai bagi persatuan di antara kader NU yang telah terpolarisasi dalam berbagai jalan politik masing masing hingga Kyai Ali Maksum bersama Kyai Ahmad Siddiq melakukan langkah fiqih yang mendasari pancasila sebagai asas tunggal dan kembalinya NU ke Khittah 1926 pada Muktamar Situbondo tahun 1984. Saat Kyai Ahmad Siddiq menjadi Rois Am sangat di kenal sebagai salah satu perumus khittah 1926 sekaligus penjaga khittah 1926 yang konsisten. Dan, yang sangat di kenal dari Kyai Ahmad Siddiq hingga saat ini adalah rumusan trilogi ukhuwah, yaitu ukhuwan islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariah. Kyai Ilyas Ruhiyat saat menjadi Rois Am waktu itu sangat kuat dengan konsistensi sikap dalam menghadapi keadaan politik orde baru yang berjarak dengan NU, dengan konsistensi Kyai Ilyas Ruhiyat, Gusdur yang waktu itu sebagai sebagai Ketua Umum Tanfidziyah justru memiliki penjaga kelembagaan NU yang sangat kokoh, konsisten dan tidak goyah dengan intervensi politik. Hingga Kyai Ilyas Ruhiyat ikut menjadi deklarator berdirinya PKB supaya kelembagaan NU tetap di jalan kelembagaan keagamaan. Kyai Sahal Mahfud saat menjadi Rois Am memiliki legacy keilmuan Fiqih Sosial sebagai metodologi fiqih yang kontekstual dan transformatif, melihat syariat Islam sebagai kerangka untuk menjawab masalah sosial kontemporer seperti kemiskinan, ketidakadilan gender, dan krisis ekologi, bukan hanya hukum ritual. Dan saat Kyai Ma’ruf Amin sebagai Rois Am sangat di kenal dengan konseptor ekonomi syariah Indonesia. Perannya sangat besar dalam memajukan ekonomi syariah nasional, memimpin pengembangan industri keuangan syariah, mempromosikan sertifikasi halal, mendorong sinergi antara ulama dan akademisi, serta menggerakkan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) untuk mewujudkan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia dengan prinsip keadilan, keumatan, dan kedaulatan. Tentu, sejarah panjang kelembagaan syuriah di NU sangat kental dengan kekuatan figur yang mampu beradaptasi dengan keadaan dan zaman yang sekaligus memiliki karakter sebagai penjaga jam’iyah.

    Saat ini, perkembangan zaman dalam pengelolaan jam’iyah NU sangat dinamis. Keterbukaan akses dan jaringan dari semua pihak menjadi tantangan yang tidak mudah bagi NU. Siapapun bisa menjadi mitra produktifnya NU, baik dari sisi sosial, politik, budaya, bahkan ekonomi. Karena itu NU menjadi kelembagaan yang sangat di incar dari berbagai keinginan untuk memperluas pergerakan semua pihak yang berkepentingan dengan dampaknya kelembagaan NU. Hingga banyak persoalan yang muncul di NU karena akibat dari situasi keterbukaan yang tidak bisa di bendung. Dan berbagai persoalan dan tantangan itu, NU butuh supremasi kelembagaan yang kuat. Maka, mengembalikan fungsi syuriah sebagai institusi yang memiliki ketangguhan konsistensi jam’iyah perlu di rumuskan. Salah satu cara pandang yang menguatkan supremasi syuriah adalah dengan menjadikan kelembagaan syuriah sebagai majlis kolektif para ulama yang secara sikap dan keilmuan memiliki konistensi penjaga jam’iyah.

    MAJLIS SYURIAH

    Istilah yang bisa digambarkan dengan mudah adalah semacam Majlis Permusyawaratan Syuriah. Majlis ini terdiri dari sejumlah ulama yang memimpin NU dalam satu periode secara kolektif dan kepemimpinannya ditunjuk bergiliran setiap tahun hinggab selesai dalam satu periode lima tahun. Majlis Syuriah dapat merumuskan kepemimpinan tanfidziyah dalam satu periode yang di putuskan dalam Muktamar NU. Kenapa ide ini menjadi cara pandang baru dalam keberlangsungan kelembagaan NU. Karena saat ini NU butuh kelembagaan kolektif supaya menjadi lembaga yang tangguh dari berbagai intervensi yang memungkinkan NU di tarik dalam pusaran kepentingan tertentu. Ada beberapa keutamaan yang dapat dijadikan pondasi kekokohan keberlangsungan kelembagaan NU dengan format majlis syuriah :

    1. Indepensi Institusi. NU akan mempunyai struktur yang mengembalikan fungsi syuriah sebagai supremasi institusi yang lebih independen, bisa memilah antara sikap individu dan sikap kelembagaan. Begitupun dengan kebutuhan keputusan syari’ah keagaamaan, akan memiliki kekuatan yang legitimit karena manjadi pendapat yang jumhur.
    2. Kontrol kelembagaan. Majlis Syuriah akan lebih memiliki obyektifitas dalam kontrol kelembagaan NU yang dijalankan oleh tanfidziyah. Tidak ada lagi persoalan individu, tidak ada lagi persoalan suka dan tidak suka kepada pribadi, tidak ada lagi individu yang dominan, tidak ada pihak pihak yang mengataskan pribadi tertentu untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.
    3. Konsistensi keberlanjutan. Saat ini, perkembangan NU perlu keberlanjutan tatanan di semua sektor. Ada banyak pengembangan ekonomi di berbagai kelembagaan NU yang telah berjalan dengan sangat produktif, ada banyak rumah sakit atau pelayanan kesehatan yang terus tumbuh, ada banyak lembaga pendidikan dan universitas yang semakin berkembang, ada banyak majlis keagamaan yang menjadi representasi jamaah NU. Semua ini tidak boleh menjadi ajang intervensi personal yang bisa merusak tatanan setiap ada pergantian periode kepengurusan
    4. Penjaga Otorita Institusi. Dengan adanya Majlis Syuriah tidak perlu lagi ada majlis tahkim yang menjadi lembaga pemutus masalah. Karena Majlis Syuriah melalui kepemimpinan yang kolektif bisa melakukan permusyawatan yang dapat memutuskan persoalan antar pihak di internal NU maupun pihak yang melanggar aturan secara kelembagaan maupun secara syariah.
    5. Penjaga Martabat Keilmuan. Majlis Syuriah adalah kumpulan para ulama yang legitimit kealimannya yang bisa mewakili keilmuan ahlussunah waljamaah di dalam forum intelektual islam di Indonesia maupun di berbagai negara.

    Semoga pemikian ini menjadi arah baru bagi NU yang harus tetap istiqomah an-nahdliyah baik sebagai jam’iyah maupun berkhidmat kepada jamaah, bangsa dan negara.

  • Al Mudzakaroh MUI Kabupaten Mojokerto Digelar di RS Mawaddah, Hadirkan Nuansa Berbeda

    Al Mudzakaroh MUI Kabupaten Mojokerto Digelar di RS Mawaddah, Hadirkan Nuansa Berbeda

    Mojokerto – Kegiatan Al Mudzakaroh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Mojokerto kali ini berlangsung dengan nuansa yang berbeda dari biasanya. Jika sebelumnya rutin dilaksanakan di masjid, Al Mudzakaroh kali ini digelar di Aula RS Mawaddah, Jasem, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Senin (awal Januari 2026).

    RS Mawaddah sendiri dikenal sebagai salah satu rumah sakit terbesar di Kabupaten Mojokerto. Lokasi ini bukanlah hal baru bagi MUI, mengingat sebelumnya aula RS Mawaddah juga pernah digunakan sebagai tempat pelantikan pengurus MUI Kecamatan Ngoro, dengan restu pimpinan rumah sakit setempat.

    Acara diawali dengan pembukaan, menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Mars MUI. Selanjutnya, sambutan tuan rumah disampaikan oleh Direktur RS Mawaddah, dr. Sihwati Wilujeng. Sambutan tersebut disambut antusias oleh para hadirin, terlebih saat beliau menyampaikan kekhawatirannya terkait jumlah peserta yang hadir melebihi perkiraan sehingga hidangan yang disiapkan dikhawatirkan tidak mencukupi.

    Lebih jauh, dr. Sihwati juga menyoroti laporan Pemerintah Arab Saudi terkait meningkatnya jumlah jamaah haji asal Indonesia yang meninggal dunia setiap tahunnya. Menurutnya, faktor kesehatan jamaah perlu mendapat perhatian yang lebih serius sejak sebelum keberangkatan. Dalam konteks ini, MUI dinilai memiliki peran strategis sebagai institusi keagamaan resmi negara dalam memberikan edukasi dan perhatian terhadap kesiapan kesehatan jamaah haji.

    Hal tersebut ditanggapi dengan gaya ringan oleh Ketua MUI Kabupaten Mojokerto, KH Cholil Arphaphy, MM. Dalam sambutannya, beliau berseloroh agar RS Mawaddah bisa memberikan pelayanan kesehatan gratis bagi para pengurus MUI Kabupaten Mojokerto. Candaan tersebut sontak mencairkan suasana dan disambut gelak tawa serta tepuk tangan para jamaah yang memenuhi aula.

    Kegiatan Al Mudzakaroh ini dihadiri lengkap oleh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Bupati Mojokerto diwakili oleh Wakil Bupati Bapak Reza, Kapolres Mojokerto AKBP Irham beserta jajaran, Camat Ngoro, serta Kepala KUA Kecamatan Ngoro.

    Dalam sambutannya, Wakil Bupati Reza menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru 2026 kepada seluruh hadirin. Ia juga mengingatkan bahwa tahun 2026 kemungkinan akan membawa tantangan yang berbeda dibandingkan tahun 2025, sehingga diperlukan kesiapan, kebersamaan, dan sinergi seluruh elemen masyarakat.

    Sementara itu, Kapolres Mojokerto AKBP Irham mengenang masa kecilnya di rumah kelahirannya di Muntilan, Magelang. Ia menuturkan bahwa suasana Al Mudzakaroh tersebut mengingatkannya pada tradisi pengajian yang dahulu sering diikuti bersama kakeknya. Dalam kesempatan itu, beliau juga menyampaikan bahwa masa tugasnya sebagai Kapolres Mojokerto merupakan amanah yang berat namun dijalani dengan penuh kesabaran dan tanggung jawab. Menjelang kepindahan tugasnya ke Tulungagung, AKBP Irham pun berpamitan serta memohon doa restu dan maaf kepada seluruh hadirin.

    Sebagai puncak acara, pengajian disampaikan oleh KH Masrihan Asy’ari. Dalam tausiyahnya, beliau menekankan pentingnya pengendalian hawa nafsu. Ia menyampaikan bahwa orang alim yang menuruti hawa nafsunya justru lebih buruk, sementara orang awam yang mampu menahan hawa nafsunya lebih baik dibandingkan orang alim yang kalah oleh nafsu. KH Masrihan juga mengingatkan agar berhati-hati dalam memilih pergaulan, khususnya dengan orang-orang yang selalu menuruti hawa nafsu.

    Tausiyah tersebut disampaikan dengan gaya komunikatif, penuh sindiran halus dan humor segar, sehingga suasana pengajian berlangsung hidup dan disambut riuh tepuk tangan para jamaah.

  • PKB Mojokerto Gelar Pendidikan Kader Pratama Loyalis: Konsolidasi Ideologis Santri untuk Masa Depan Bangsa

    PKB Mojokerto Gelar Pendidikan Kader Pratama Loyalis: Konsolidasi Ideologis Santri untuk Masa Depan Bangsa

    DPC PKB Mojokerto menggelar PKP Loyalis sebagai forum konsolidasi ideologis dan penguatan loyalitas kader di tingkat ranting dan kecamatan.

    Pacet, Mojokerto — Dewan Pengurus Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (DPC PKB) Kabupaten Mojokerto kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun kaderisasi ideologis yang kuat di akar rumput. Melalui kegiatan bertajuk Pendidikan Kader Pratama (PKP) Loyalis, para pengurus dan kader PKB se-Kecamatan Pacet diundang untuk mengikuti pembekalan intensif yang digelar pada Sabtu, 27 Desember 2025, di Graha MWCNU Pacet.

    Acara ini dihadiri oleh jajaran Ketua Syuro, Tanfidz, Sekretaris, dan Bendahara DPAC serta para Ketua Ranting PKB se-Kecamatan Pacet. Dengan dresscode khas PKB—baju putih—para peserta diharapkan hadir tepat waktu untuk mengikuti rangkaian kegiatan yang dirancang sebagai penguatan ideologi, loyalitas, dan strategi perjuangan politik berbasis nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

    🔍 Tujuan PKP Loyalis: Menyatukan Langkah, Meneguhkan Komitmen

    Ketua DPC PKB Mojokerto, Hj. Ayni Zuroh, SE, MM, menegaskan bahwa PKP Loyalis bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan forum konsolidasi ideologis yang bertujuan membentuk kader militan yang memahami arah perjuangan partai. “Kami ingin memastikan bahwa setiap kader di tingkat ranting dan kecamatan memiliki pemahaman yang utuh tentang visi PKB, serta mampu menjadi ujung tombak perubahan di tengah masyarakat,” ujarnya.

    Sekretaris DPC PKB, Masduqi Hasan, ST, menambahkan bahwa kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi antarstruktur partai dan menyamakan persepsi menjelang tahun politik yang semakin dinamis.

    SORBANSANTRI.COM
    Masduqi Hasan, menyebut ini momentum silaturahmi dan strategi bersama

    🧭 Sorotan Santri: Politik Bernilai, Loyalitas Tanpa Batas

    Sebagai partai yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama dan berbasis santri, PKB Mojokerto menekankan pentingnya loyalitas yang berakar pada nilai, bukan sekadar kepentingan pragmatis. Pendidikan Kader Pratama menjadi ruang strategis untuk membumikan semangat politik bernilai di tengah tantangan zaman.

    Dengan semangat “maju tak gentar membela yang benar,” para peserta PKP Loyalis diharapkan pulang dengan bekal ideologis yang kokoh, strategi komunikasi politik yang efektif, serta semangat juang yang tak luntur oleh dinamika politik lokal maupun nasional.

  • PBNU Klarifikasi Beredarnya Dokumen Risalah Rapat Syuriyah di Media Sosial

    PBNU Klarifikasi Beredarnya Dokumen Risalah Rapat Syuriyah di Media Sosial

    Jakarta — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi mengeluarkan klarifikasi terkait tersebarnya dokumen Risalah Rapat Harian Syuriyah di berbagai platform media sosial sejak 21 November 2025. Klarifikasi tersebut disampaikan melalui surat bernomor 4778/PB.02/A.1.01.47/99/11/2025 yang ditandatangani secara elektronik oleh pimpinan PBNU.

    Dalam penjelasannya, PBNU menegaskan bahwa dokumen risalah yang beredar belum memiliki kekuatan administrasi dan belum dapat dinyatakan sebagai dokumen resmi organisasi.


    Rapat Syuriyah Diikuti 37 Anggota dan Sah Secara Kuorum

    Rapat Harian Syuriyah digelar pada 20 November 2025 di Hotel Aston City Jakarta dan dihadiri 37 dari 53 anggota, sehingga memenuhi ketentuan kuorum sebagaimana diatur dalam Peraturan Perkumpulan NU. Sebanyak 7 anggota absen dengan izin, sementara 9 tidak hadir tanpa keterangan.

    PBNU menegaskan bahwa rapat berjalan sesuai mekanisme organisasi dan pembahasan berlangsung sebagaimana agenda yang ditetapkan.


    Risalah Belum Sah Secara Administratif

    Meski rapat sah, PBNU menegaskan bahwa risalah rapat yang beredar belum melalui prosedur legalisasi administrasi organisasi, sebagaimana diatur dalam:

    • Peraturan Perkumpulan NU Nomor 16 Tahun 2025 tentang Pedoman Administrasi, dan
    • Peraturan Perkumpulan Nomor 10 Tahun 2025 terkait legalisasi dokumen dan pengesahan keputusan.

    Surat tersebut menjelaskan bahwa risalah harus ditandatangani oleh pihak yang berwenang sebelum dinyatakan sah, dan hal itu belum terjadi pada dokumen yang beredar di publik. Karena itu, PBNU menyatakan bahwa risalah tersebut belum bisa dijadikan dasar keputusan atau acuan resmi organisasi.


    Surat Pengantar Belum Ditandatangani

    PBNU juga menyebutkan bahwa surat pengantar risalah rapat seharusnya ditandatangani oleh pejabat organisasi sesuai aturan, namun hingga klarifikasi dipublikasikan, dokumen tersebut belum ditandatangani, sehingga status administratifnya belum terverifikasi.


    Pertemuan Internal dan Penyerahan Kembali Dokumen

    Surat tabayun PBNU juga mengungkap bahwa telah dilakukan pertemuan internal antar pengurus untuk mereview dokumen yang beredar dan menyerahkannya kembali kepada pejabat berwenang untuk proses pengecekan formal sesuai mekanisme.


    Harapan Agar Publik Tidak Keliru Memahami Informasi

    Melalui klarifikasi ini, PBNU berharap masyarakat, pengurus wilayah, dan pengurus cabang tidak keliru memahami status dokumen yang beredar, serta mengimbau agar informasi terkait keputusan organisasi tetap merujuk pada dokumen resmi yang telah melalui tahapan administrasi sesuai ketentuan.

  • ROIS AAM PBNU PUTUSKAN KETUM WAJIB MUNDUR DALAM 3 HARI

    ROIS AAM PBNU PUTUSKAN KETUM WAJIB MUNDUR DALAM 3 HARI

    Jakarta – SorbanSantri.com
    Sebuah dokumen resmi yang diduga berasal dari Rois Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai beredar luas di berbagai grup WhatsApp dan internal NU sejak Kamis (20/11/2025). Dalam surat tersebut, Syuriyah PBNU memutuskan bahwa Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf, diminta mengundurkan diri dalam waktu tiga hari sejak keputusan diterima.

    Surat tersebut ditandatangani oleh Rais Aam PBNU, KH. Miftachul Akhyar, dan memuat dua poin utama keputusan rapat:

    1. KH. Yahya Cholil Staquf diminta mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum PBNU dalam waktu 3 hari.
    2. Jika tidak mengundurkan diri dalam batas waktu tersebut, Rapat Harian Syuriyah PBNU akan memutuskan pemberhentian dari jabatan Ketua Umum.

    Dokumen bertanggal 29 Jumadal Ula 1447 H / 20 November 2025 itu menyebut keputusan berasal dari musyawarah Rais Aam PBNU, sekaligus menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan sikap resmi Syuriyah PBNU sebagai lembaga keagamaan tertinggi dalam struktur organisasi.

    Beredarnya surat itu langsung memicu percakapan hangat di kalangan warganet Nahdliyin, pengurus, hingga simpatisan. Banyak yang mempertanyakan latar belakang keputusan tersebut, sementara sebagian lainnya menunggu klarifikasi resmi dari pihak terkait.

    Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari KH. Yahya Cholil Staquf maupun konferensi pers dari PBNU mengenai isi surat yang kini ramai tersebar di platform digital tersebut.

    SorbanSantri.com akan terus mengikuti perkembangan dan menyajikan informasi terbaru terkait dinamika internal PBNU.

  • ABABIL DHIA FATHIYA, SANTRI HISNURI PACET YANG BERPRESTASI DAN MELEK DIGITAL

    ABABIL DHIA FATHIYA, SANTRI HISNURI PACET YANG BERPRESTASI DAN MELEK DIGITAL

    Mojokerto, 16 Nov 2025 — SorbanSantri.com

    Ababil Dhia Fathiya, seorang pelajar putri asal Pacet, Mojokerto, kembali menjadi sorotan berkat prestasinya yang gemilang di bidang bahasa Inggris dan kecakapannya dalam menghadapi era digital. Lahir pada 3 Februari 2012, putri pasangan Ainul Yakin Jihadah dan Arik Fitria ini dikenal sebagai sosok disiplin yang menyeimbangkan pendidikan agama, sekolah, dan kemampuan teknologi.

    Ababil merupakan santri aktif HISNURI (Himpunan Santri Nurul Iman), sebuah wadah pembinaan santri di Masjid Nurul Iman Pacet. HISNURI menjalankan pendidikan sederhana berbasis kitab dan Al-Qur’an, tanpa sistem pesantren formal, namun efektif menempa akhlak dan kedisiplinan santri.

    Selain menimba ilmu agama, Ababil menempuh pendidikan formal di MTs Pacet Mojokerto, tempat ia terus mengasah kemampuan akademik, terutama dalam bahasa Inggris.

    Yang menarik, di rumah Ababil juga dibina langsung oleh ayahnya dalam bahasa pemrograman, sebagai bekal menghadapi masa depan yang serba digital. Ayahnya memberikan pendidikan dasar coding agar Ababil mampu mengembangkan aplikasi dan memahami teknologi sejak dini. Langkah ini menjadi fondasi penting untuk mempersiapkannya menghadapi perkembangan digital di tahun-tahun mendatang.

    Pada tahun 2025, Ababil mengukir berbagai prestasi, di antaranya:

    • Medali Perak OSI-SP 2025 Bahasa Inggris Jawa Timur dengan nilai A
    • The Brave Heart Award – SC Battle Level III
    • 2nd Runner-Up Speaking Competition Grade 7, Olimpiade Bahasa Inggris 2025, NU Trate Center Academic

    Prestasi tersebut menunjukkan bahwa Ababil tidak hanya unggul dalam bahasa Inggris, tetapi juga memiliki pondasi kuat dalam agama serta kesiapan menuju dunia digital.

    Pengurus HISNURI, pihak sekolah, dan keluarga menyampaikan kebanggaan atas pencapaian Ababil. Prestasi ini menjadi inspirasi bagi santri-santri dan pelajar lainnya bahwa pendidikan sederhana, disiplin, dan dukungan keluarga dapat melahirkan generasi unggul yang siap bersaing di era modern.

    Dengan torehan prestasi dan bekal kemampuan digitalnya, Ababil Dhia Fathiya menjadi salah satu potret generasi muda Pacet Mojokerto yang berakhlak, cerdas, dan visioner.

    — SorbanSantri.com

  • Tasyakuran Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional untuk Syaikhona Muhammad Kholil, KH. Abdurrahman Wahid, dan Marsinah

    Tasyakuran Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional untuk Syaikhona Muhammad Kholil, KH. Abdurrahman Wahid, dan Marsinah

    Mojokerto, 14 November 2025 – Kabupaten Mojokerto menggelar dua rangkaian tasyakuran untuk merayakan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada tiga tokoh besar bangsa: Syaikhona Muhammad Kholil, KH. Abdurrahman Wahid, dan Marsinah. Acara ini menjadi momentum penting untuk mengenang jasa dan pengabdian mereka bagi kemajuan bangsa.

    Tasyakuran di DPC PKB Kabupaten Mojokerto

    Rangkaian pertama berlangsung pada Kamis, 13 November 2025, bertempat di kantor DPC PKB Kabupaten Mojokerto. Acara ini dihadiri oleh jajaran pengurus DPC PKB Kabupaten Mojokerto, Fraksi PKB DPRD Kabupaten Mojokerto, pengurus DPAC PKB, lembaga dan banom PKB, serta tokoh masyarakat setempat.

    Dalam kesempatan ini, Ketua DPC PKB Kabupaten Mojokerto, Ibu Hj. Ayni Zuroh, S.E., M.M., menyampaikan sambutan penuh makna, menekankan pentingnya meneladani perjuangan para pahlawan nasional dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan KH. Mubayyin Syafi’i, Ketua Dewan Syuro DPC PKB Kabupaten Mojokerto, memberikan tausiyah yang mengingatkan nilai-nilai kepahlawanan, keikhlasan, dan pengabdian kepada masyarakat.

    Tasyakuran di Gedung DPRD Kabupaten Mojokerto

    Rangkaian kedua digelar Jumat, 14 November 2025, di Gedung DPRD Kabupaten Mojokerto. Acara dihadiri oleh seluruh fraksi PKB di DPRD, pengurus DPC PKB, seluruh pegawai DPRD, serta tokoh-tokoh masyarakat Mojokerto.

    Dalam sambutannya, Ketua DPRD Kabupaten Mojokerto, Hj. Ayni Zuroh, mengapresiasi jasa para pahlawan nasional dan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menghidupkan semangat perjuangan mereka. Acara ditutup dengan Mauidloh Hasanah oleh KH. Mahrus Ali, yang memberikan penguatan spiritual dan motivasi bagi seluruh hadirin.

    Rangkaian tasyakuran ini menjadi bukti nyata penghormatan Kabupaten Mojokerto terhadap para pahlawan nasional dan sebagai pengingat bagi generasi muda akan nilai-nilai keberanian, pengabdian, dan kepedulian sosial.

  • Haul Mbah Surgi dan Peresmian Musholla Nur Hasan, Warga Bacem Antusias Sambut Kehadiran Gus Barra

    Haul Mbah Surgi dan Peresmian Musholla Nur Hasan, Warga Bacem Antusias Sambut Kehadiran Gus Barra

    Mojokerto, SorbanSantri.com – Haul Mbah Surgi atau yang dikenal dengan nama asli Mbah Nur Hasan Tamtojani di Dusun Tepas Bacem, Desa Bening, Kecamatan Gondang, Mojokerto, tahun ini berlangsung meriah dan penuh makna. Selain menjadi momentum spiritual, acara juga dirangkaikan dengan peresmian Musholla “Nur Hasan” oleh Bupati Mojokerto, Gus Muhammad Al Barra, Lc., M.Hum.

    Acara Haul yang digelar selama dua hari ini dimulai pada Jumat, 17 Oktober 2025 dengan kegiatan Sholawat Ishari. Panitia mencatat sekitar 500 jamaah Ishari hadir dari berbagai wilayah di Kabupaten Mojokerto, dari total undangan 1.000 jamaah. Lantunan sholawat bergema silih berganti, menambah khidmat suasana malam pertama haul.

    Puncak acara digelar keesokan harinya, Sabtu, 18 Oktober 2025, dengan pengajian umum yang menghadirkan dua penceramah utama. Ceramah pertama disampaikan oleh KH. Abd Mughni Wahab, kemudian dilanjutkan oleh BP KH. Muslikhuddin Abbas, Suriyah PCNU Kabupaten Mojokerto yang baru saja dilantik bulan lalu.

    Menariknya, di sela pengajian tersebut, Gus Barra hadir secara langsung untuk meresmikan bangunan rehabilitasi Musholla Nur Hasan yang baru rampung. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa musholla tersebut telah dibangun melalui dana pemerintah sebesar Rp 250 juta.

    “Orang yang sudah meninggal itu sebenarnya tidak mati. Mereka hidup di sisi Tuhannya,” ujar Gus Barra, sambil mengutip salah satu ayat Al-Qur’an sebagai dalil, disambut takbir oleh para jamaah.

    Usai sambutan, Bupati termuda di Indonesia itu melakukan penandatanganan prasasti peresmian di atas papan keramik hitam berukuran sekitar 60 cm, dilanjutkan foto bersama para tokoh masyarakat dan pengurus NU setempat.


    Tanpa Pengamanan Banser, Ceramah Berlangsung Tenang Namun Disayangkan

    Meski acara berjalan lancar dan penuh khidmat, terdapat beberapa catatan penting dari warga dan tokoh NU di lapangan. Di antaranya adalah tidak adanya pengamanan dari Banser pada kedua hari kegiatan, baik saat Sholawat Ishari maupun pengajian puncak.

    Hal ini dibenarkan oleh M. Kholil, mantan Ketua Ansor Ranting Bening, yang menyampaikan bahwa pihak Banser tidak pernah menerima konfirmasi dari panitia.

    “Saya sempat menanyakan langsung ke pihak Banser Ranting. Jawabannya, tidak ada permintaan pengamanan dari panitia,” ungkapnya.

    SORBANSANTRI.COM
    Ceramah KH MUSLIKHUDDIN ABBAS tanpa pendampingan Banser

    Selain itu, warga juga menyoroti tidak adanya sambutan resmi dari Panitia serta konfirmasi mendadak terhadap Ranting NU Bening tanpa koordinasi jauh hari.
    Beberapa tokoh NU berharap ke depan, kegiatan masyarakat yang mengatasnamakan NU dapat dikoordinasikan dengan struktur organisasi, mulai dari Ranting, MWC, hingga PCNU, agar sinergi keorganisasian tetap terjaga.

    “Kalau kegiatan masyarakat membawa nama NU, sebaiknya konfirmasi ke pengurus resmi NU. Biar rapi dan tidak menimbulkan kesalahpahaman,” ujar salah seorang tokoh yang enggan disebut namanya.


    Momentum Perbaikan dan Pembelajaran

    Kendati demikian, acara Haul Mbah Surgi tahun ini tetap dianggap lebih baik dan berkembang dibanding tahun sebelumnya. Selain meningkatnya partisipasi masyarakat, terbangunnya Musholla Nur Hasan yang megah menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Dusun Tepas Bacem.

    Ketua Ranting NU Desa Bening, Gus Muhammad Nur Habibi, saat dikonfirmasi secara terpisah menyampaikan apresiasi dan harapan agar kekurangan kecil di tahun ini bisa menjadi bahan evaluasi.

    “Alhamdulillah, secara umum acara berjalan baik dan lancar. Kekurangan itu wajar, yang penting kita belajar dan berbenah untuk tahun berikutnya,” tutur Gus Habibi.

    Dengan rampungnya Musholla Nur Hasan dan semangat warga yang tetap terjaga, Haul Mbah Surgi 2025 menjadi bukti nyata bagaimana tradisi keagamaan dan gotong royong masih hidup kuat di tengah masyarakat Nahdliyyin Mojokerto.