Kategori: Tokoh

  • Sorotan Publik ke LBH GP Ansor: Seharusnya Jadi Penengah, Bukan Pemantik Ketegangan

    Sorotan Publik ke LBH GP Ansor: Seharusnya Jadi Penengah, Bukan Pemantik Ketegangan

    LBH GP Ansor Dampingi Sahara

    wp.sorbansantri.com – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) GP Ansor Kota Malang menyatakan resmi mendampingi Sahara sejak pertengahan September 2025. Pendampingan itu dilakukan setelah Sahara melaporkan dugaan pencemaran nama baik dan pelecehan verbal yang disebut melibatkan Yai Mim.

    Dalam pernyataannya, LBH GP Ansor menegaskan pendampingan dilakukan murni dari aspek hukum, tanpa intervensi sosial atau politik, serta bersifat pro bono (gratis). Mereka menyebut bahwa setiap warga, termasuk perempuan, berhak mendapat perlindungan hukum tanpa memandang latar belakang pihak lain.

    “Kami berdiri pada asas keadilan hukum. Pendampingan ini bukan bentuk permusuhan, tapi bentuk perlindungan terhadap hak warga yang merasa terzalimi,” kata salah satu pengurus LBH GP Ansor dikutip dari Malang Times (7/10/2025).


    Sorotan Publik Muncul

    Namun, langkah ini justru memicu sorotan tajam dari publik dan kader muda Nahdlatul Ulama. Banyak yang menilai, GP Ansor semestinya tampil sebagai penengah dan penjaga kesejukan sosial, bukan langsung berpihak pada salah satu pihak dalam konflik yang sebenarnya bisa dimediasi secara kekeluargaan.

    Kasus ini bermula dari sengketa lahan parkir di kawasan perumahan yang dulunya merupakan tanah wakaf akses jalan milik Yai Mim. Konflik berkembang menjadi perdebatan terbuka dan viral di media sosial, hingga memunculkan narasi saling tuding dan pelaporan ke pihak kepolisian.

    “Seharusnya Ansor hadir untuk menenangkan, bukan menajamkan. Kalau ada masalah antarwarga, lebih baik jadi jembatan perdamaian, bukan corong hukum yang memperkeruh,” ujar salah satu tokoh muda NU di Mojokerto saat dimintai tanggapan oleh Sorban Santri.


    Kritik Internal dan Seruan Refleksi

    Kritik juga datang dari kalangan internal sendiri. Sejumlah kader Ansor di Jawa Timur menilai bahwa langkah LBH GP Ansor ini berpotensi menimbulkan salah tafsir publik tentang arah gerakan pemuda NU.

    “Ansor itu organisasi besar dengan akar sosial yang kuat. Jangan sampai tindakan segelintir orang di LBH membuat marwah organisasi ikut tercoreng,” ungkap anggota GP Ansor Pacet yang dimintai tanggapan.

    Ia menambahkan, seharusnya Ansor lebih fokus memperhatikan kadernya sendiri, termasuk membina moral, ekonomi, dan pendidikan hukum bagi anggota muda, daripada terseret pada konflik antarindividu yang sifatnya pribadi.


    Peran Penyejuk Diharapkan

    Banyak pihak berharap GP Ansor bisa mengambil langkah islah (perdamaian) dengan mengumpulkan kedua belah pihak untuk dialog terbuka. Pendekatan sosial, spiritual, dan kultural dianggap lebih sesuai dengan karakter Nahdliyyin ketimbang pendekatan hukum formal yang cenderung kaku.

    “Lebih baik Ansor turun tangan sebagai penengah yang menyejukkan, bukan sekadar lembaga advokasi yang membawa perkara ke ranah hukum. Sebab masyarakat menunggu peran Ansor sebagai penjaga ketenangan umat,” ujar salah satu pengamat sosial dari Malang Raya.


    Kesimpulan

    Kasus Yai Mim dan Sahara telah membuka refleksi besar bagi organisasi kepemudaan di bawah NU. Keadilan hukum memang penting, namun kesejukan sosial jauh lebih bernilai di tengah masyarakat yang mudah tersulut oleh isu media.

    GP Ansor diharapkan dapat kembali pada peran utamanya:

    • Melindungi kader dan umat dari konflik horizontal,
    • Menjadi penengah yang adil dan berempati, serta
    • Menjaga nama baik Nahdliyyin dengan sikap yang sejuk, santun, dan mendidik.

  • Ketika Data Rahasia Terbuka: Jingga Cyber Mengusik Keamanan Negeri

    Ketika Data Rahasia Terbuka: Jingga Cyber Mengusik Keamanan Negeri

    Sorbansantri.com- Dunia maya kembali bergetar. Sosok yang mengaku sebagai Bjorka asli muncul dan mengklaim telah membocorkan data pribadi milik ratusan ribu personel Polri. Aksi itu menjadi tanggapan atas penangkapan seorang pemuda bernama WFT, yang sebelumnya dituduh sebagai pelaku di balik akun “Bjorka”.

    Dalam unggahan yang viral di media sosial, Bjorka menyindir keras publik dan aparat yang disebutnya “terlalu cepat menuduh, tanpa memahami dunia digital secara utuh”. Ia juga menyatakan bahwa data anggota Polri memang telah bocor secara terbuka di forum siber internasional.

    “Publik sok-sokan tahu. Tangkap saja Fufufafa,” tulis akun yang menamakan diri Bjorka Asli, menyinggung sindiran warganet terhadap aparat yang dianggap gegabah.
    (Sumber: suara.com, 6/10/2025)


    🔍 Kronologi Singkat

    • Penangkapan WFT oleh Polda Metro Jaya pada awal Oktober menuai sorotan luas. Pemuda asal Minahasa itu disebut sebagai pemilik akun @bjorkanesiaa, yang mengunggah data 341 ribu personel Polri.
    • Beberapa hari kemudian, “Bjorka Asli” muncul, menegaskan bahwa WFT bukan dirinya, dan mengunggah kembali sebagian data untuk membuktikan eksistensinya.
    • Data yang dibocorkan mencakup nama, pangkat, unit tugas, dan kontak pribadi aparat kepolisian — memicu kekhawatiran serius soal keamanan nasional.

    🕌 Suara dari Kalangan Santri

    Dari berbagai pondok pesantren, para kiai dan santri menyoroti kasus ini bukan hanya sebagai masalah siber, tetapi juga krisis moral dan amanah digital.

    “Menjaga data sama seperti menjaga aurat; ia tak pantas dibuka sembarangan, dan bila dibocorkan, bisa menelanjangi kehormatan seseorang,”
    ujar KH. M. Syarifuddin, pengasuh salah satu pesantren di Mojokerto, saat dimintai tanggapan oleh SorbanSantri.com.

    Para kiai juga menekankan pentingnya pendidikan etika digital bagi generasi muda — terutama santri dan pelajar — agar memahami batas antara ilmu yang berguna dan ilmu yang melukai.


    📜 Pelajaran Moral di Era Siber

    Kasus Bjorka menjadi cermin bahwa kemajuan teknologi tidak akan membawa manfaat jika tidak dibarengi dengan nilai-nilai:

    1. Kejujuran dalam menegakkan hukum digital.
      Salah tangkap bisa menghancurkan nama baik seseorang dan meruntuhkan kepercayaan publik.
    2. Etika dan tanggung jawab di ruang maya.
      Hacking tanpa izin adalah pelanggaran moral dan hukum.
    3. Pendidikan literasi digital di pesantren.
      Santri harus melek keamanan data, bukan hanya kitab kuning.

    🌙 Penutup

    Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa dunia digital membutuhkan lebih dari sekadar firewall dan algoritma. Ia membutuhkan akhlak, kehati-hatian, dan amanah.

    Karena di balik setiap data yang bocor, ada manusia, keluarga, dan kehormatan yang ikut tergores.


    Redaksi SorbanSantri.com
    “Menulis dengan Nurani, Menyuarakan Kebenaran dengan Adab.”

  • SorBan Naga Optimistis Hadapi Dominasi Tokopedia-Shopee, Tawarkan Pendekatan Berbasis Hati UMKM

    SorBan Naga Optimistis Hadapi Dominasi Tokopedia-Shopee, Tawarkan Pendekatan Berbasis Hati UMKM

    PACET – SorbanSantri.com | Di tengah persaingan ketat industri e-commerce Indonesia yang didominasi oleh raksasa seperti Tokopedia dan Shopee, SorBan Naga hadir dengan strategi berbeda: mendekatkan diri ke hati UMKM dan masyarakat lokal.

    Dalam sebuah percakapan internal yang beredar di kalangan tim penggerak SorBan Naga, diungkapkan analisa bahwa dua pemain besar e-commerce nasional saat ini sedang memasuki fase politik bisnis, yang dapat membuka peluang bagi platform lokal berbasis kecamatan seperti SorBan Naga untuk berkembang.

    “Saat keduanya masuk pada arus politik global apalagi berkaitan dengan finansial, yang bertahan adalah e-commerce buatan anak negeri sendiri. Naaah, untuk itu SorBan Naga dimulai dari sekarang,” ujar salah satu pendiri SorBan Naga. Ia menyebutkan bahwa 4–5 tahun ke depan akan menjadi masa penentu pertumbuhan startup lokal ini.

    Strategi yang kini diusung SorBan Naga sangat jelas: meraih hati pelaku UMKM dan membangun ekosistem kepercayaan berbasis lokal. Namun demikian, tim juga menyadari bahwa SorBan Naga bukan sekadar platform jual beli barang, melainkan berfokus pada jasa dan pelayanan.

    Salah satu alasan keyakinan pendirinya adalah masih minimnya e-commerce buatan anak negeri yang benar-benar berani tampil di tengah persaingan platform global dan nasional. “Karena di Indonesia belum ada e-commerce buatan anak negeri yang berani tampil,” tegasnya.

    Menanggapi potensi ancaman dari para kompetitor besar, ia menyatakan, “Lawannya nggak main-main lo! Tokopedia dan Shopee. Tapi SorBan Naga unggul dalam hal status dibanding mereka. Seharusnya kita jaga sampai masa itu tiba.”

    Penutup dari percakapan tersebut mencerminkan semangat dan keistiqomahan tim:
    “BISMILLAH… YAKIN, MLAKU BENER, ISTIQOMAH… InsyaAllah.”

    SorBan Naga hadir bukan sekadar untuk ikut-ikutan tren digital, tetapi sebagai representasi gerakan ekonomi lokal yang menempatkan tradisi, kedekatan sosial, dan pemberdayaan sebagai ruh utama. Dengan slogan “Tradisi Terjaga, Belanja Lebih Berdaya”, SorBan Naga bukan hanya nama, tetapi juga harapan besar masyarakat Pacet dan sekitarnya.

    #banjek #sorbanojek #sorbannaga #sorbansantri #umkmdigital #umkmdigital #ecommercesorban #ecommercelokal #ecommercekecamatan #appsorbannaga #godigital #ecommercenaga #sahabatUMKM

  • PDIP Heran Jokowi Diutus ke Vatikan, Bukan Wapres

    PDIP Heran Jokowi Diutus ke Vatikan, Bukan Wapres

    Sorbansantri.com – Jakarta

    Keputusan Presiden terpilih Prabowo Subianto yang menunjuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk bertemu Paus Fransiskus di Vatikan menimbulkan tanda tanya besar, terutama dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Mereka mempertanyakan, mengapa bukan Wakil Presiden Ma’ruf Amin yang dikirim dalam kunjungan tersebut.

    Ketua DPP PDIP, Djarot Saiful Hidayat, menyampaikan keheranannya atas langkah Prabowo. Menurutnya, dalam tradisi ketatanegaraan, tugas kenegaraan seperti ini mestinya diberikan kepada Wakil Presiden, apalagi mengingat masa jabatan Jokowi yang sebentar lagi akan berakhir.

    “Ini soal etika dan pembagian tugas. Kalau presiden berhalangan, biasanya wakil presiden yang mewakili. Kenapa malah presiden yang diutus?” kata Djarot.

    Sebelumnya, hubungan PDIP dan Presiden Jokowi memang diketahui sedang tidak harmonis. PDIP bahkan tidak mengundang Jokowi dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) kelima partai yang akan digelar Mei 2024 mendatang. Djarot menjelaskan, keputusan itu diambil karena PDIP menilai Jokowi telah melanggar konstitusi dan etika politik, sehingga tidak lagi dianggap bagian dari “keluarga besar” partai.

    Sikap PDIP ini juga diamini oleh Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden RI, yang menyebut bahwa ketidakhadiran Jokowi dalam Rakernas adalah hal wajar karena beliau bukan lagi bagian dari internal PDIP.

    Sementara itu, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menegaskan bahwa arah kepemimpinan bangsa ke depan seharusnya diteruskan oleh Ganjar Pranowo dan Mahfud MD, bukan oleh Prabowo-Gibran. “Yang melanjutkan visi-misi Pak Jokowi itu Ganjar-Mahfud, bukan pasangan lain,” tegas Hasto.

    Langkah Prabowo mengutus Jokowi ini, menurut PDIP, semakin menambah deret panjang keputusan-keputusan politik yang dianggap keluar dari norma ketatanegaraan yang sehat. Sampai berita ini diturunkan, pihak Prabowo belum memberikan tanggapan resmi atas kritik dari PDIP tersebut.

  • Ustad Abdul Somad Sorot Program Makan Gratis, Kritisi Tugas Negara dalam Pemberdayaan Rakyat

    Ustad Abdul Somad Sorot Program Makan Gratis, Kritisi Tugas Negara dalam Pemberdayaan Rakyat

    Sorbansantri.com – Penceramah kondang Ustad Abdul Somad (UAS) kembali menjadi sorotan publik usai pernyataannya yang diduga mengkritik program makan gratis bergizi viral di media sosial X.

    Dalam sebuah video yang diunggah akun @kegblgnun****, UAS terlihat menyampaikan ceramah di sebuah majelis. Ia menekankan bahwa tugas negara bukanlah memberi makan anak-anak, melainkan memastikan orang tua mereka memiliki pekerjaan agar bisa mencukupi kebutuhan keluarga.

    “Negara itu menyediakan lapangan kerja, bapaknya punya gaji ngasih makan anaknya bergizi, begitu konsepnya,” ujar UAS dalam ceramahnya.

    Ia juga mempertanyakan bagaimana anak-anak diberi makan menggunakan anggaran APBN, sementara para orang tua justru masih banyak yang menganggur.

    “Tugas negara itu bukan kasih makan anak, tugas negara itu ngasih kerja kepada bapaknya, anaknya ya diurusin bapaknya,” tegasnya lagi.

    Pernyataan UAS ini kemudian menuai berbagai respons dari warganet. Banyak yang sepakat dengan kritik tersebut, menilai bahwa kebijakan negara seharusnya lebih berfokus pada penyediaan lapangan pekerjaan ketimbang sekadar program bantuan makanan.

    “Kasih kerjaan bapaknya, cerdas kan anak-anaknya, itu lebih penting dari sekadar kasih makan gratis,” tulis akun @mdns***.

    “Pak ustad ini gimana, kalau bapaknya dikasih kerjaan nanti keluarganya bisa kaya, anak-anaknya bisa sekolah tinggi sampai pinter. Kalau udah pinter nanti kerjaannya kritik penguasa terus. Penguasa itu nggak suka dikritik, Pak Ustad,” cuit @masterjamet dengan nada satire.

    “Masa sekelas pemerintah gitu aja nggak ngerti dan mesti dikasih tahu dulu caranya sama rakyatnya?” ujar akun @FadhliAshif.

    Hingga kini, video ceramah UAS tersebut terus menjadi perbincangan dan memicu diskusi publik terkait kebijakan sosial pemerintah. (AI SorBan)

    @beritasorban Ustad Abdul Somad kembali jadi sorotan publik usai pernyataannya yang diduga mengkritik program makan gratis bergizi viral di media sosial. Dalam sebuah ceramah, UAS menegaskan bahwa tugas negara seharusnya adalah menyediakan lapangan kerja, bukan memberi makan anak-anak. Menurutnya, jika orang tua punya pekerjaan dan penghasilan, mereka bisa mencukupi kebutuhan gizi anak dengan baik. Pernyataan ini langsung menuai beragam respons dari warganet. Ada yang setuju, ada juga yang menyindir kebijakan pemerintah yang dianggap kurang tepat sasaran. Gimana menurut kalian? Setuju dengan UAS? #UstadAbdulSomad #KritikPemerintah #ProgramMakanGratis #LapanganKerja #SorbanSantri #BeritaViral #KebijakanPublik #fyp ♬ suara asli – Sorban Santri

  • Viral! Nelayan Kholid Berani Bongkar Dalang Pagar Laut Tangerang: ‘Ini Perjuangan Masyarakat yang Terinjak

    Viral! Nelayan Kholid Berani Bongkar Dalang Pagar Laut Tangerang: ‘Ini Perjuangan Masyarakat yang Terinjak

    Sorbansantri.com – Nama Kholid, seorang nelayan asal Serang, menjadi perbincangan hangat usai aksinya dengan lantang menolak keberadaan pagar laut sepanjang 30,16 kilometer di perairan Tangerang. Kholid tak hanya menuai pujian atas keberaniannya, tetapi juga atas prinsip dan alasan yang mendasari sikap tegasnya.

    Dalam sebuah unggahan di akun TikTok miliknya, @kholid.miqdar, Minggu (26/1/2025), Kholid menyampaikan alasan di balik keberaniannya berbicara blak-blakan terkait proyek yang ia nilai merugikan masyarakat kecil, khususnya nelayan.

    “Kita sebagai masyarakat sudah terlalu diinjak-injak. Bahkan diinjak di dataran paling bawah, sehingga sudah tidak ada lagi tempat bagi kami. Maka, ini loncatan tertinggi, meledak, viral,” ujar Kholid.

    Dia juga menegaskan bahwa keberaniannya bukanlah semata karena kemampuan dirinya sendiri, melainkan sebuah bentuk kehendak Tuhan untuk membantu masyarakat yang merasa terzalimi.

    “Ini kehendak Allah, mungkin ini cara Allah mendengar jeritan masyarakat yang terzalimi,” lanjutnya.

    Keteguhan Prinsip dan Keberanian Melawan Keserakahan

    Ketika ditanya alasan mengapa ia tak gentar memprotes pagar laut Tangerang, Kholid dengan santai menjawab, “Pertanyaan ringan,” sambil tersenyum.

    Menurutnya, segala sesuatu yang ada di muka bumi adalah milik Sang Pencipta. Baginya, tak ada alasan untuk takut menghadapi manusia lain, termasuk mereka yang ia anggap serakah dan rakus.

    “Selain Tuhan Yang Maha Esa (Allah), semua kekuasaan di muka bumi ini lenyap. Harta, ketenaran, kehebatan, semuanya punah. Yang saya hadapi adalah keserakahan dan kerakusan,” tegasnya.

    Lebih jauh, Kholid mengaku tak takut kehilangan nyawa akibat perjuangannya ini. Baginya, kehidupan di dunia hanyalah persinggahan sementara.

    “Takut sama siapa? Hidup ini tidak selesai di dunia. Mati itu seperti telur menetas, kita pindah ke alam yang lebih luas,” ungkapnya penuh keyakinan.

    Penderitaan yang Telah Lama Dialami

    Kholid juga membagikan kisah perjuangannya melawan ketidakadilan yang dialami para nelayan sejak 2005. Ia mengungkapkan bagaimana proyek reklamasi di Teluk Jakarta, termasuk pembangunan Pantai Indah Kapuk (PIK 1), telah menimbulkan penderitaan bagi masyarakat pesisir Banten.

    Kala itu, ia bersama nelayan lainnya menggugat aktivitas penambangan pasir laut yang digunakan untuk reklamasi. Perjuangan mereka membuahkan hasil pada 2016, ketika gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) dikabulkan, tepat di masa peralihan gubernur dari Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ke Anies Baswedan.

    “Waktu itu, alhamdulillah menang gugatan. Saya bisa nangkap ikan lagi,” kenangnya.

    Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Kholid kembali merasa ruang geraknya terbatas akibat adanya pagar laut di perairan Tangerang, yang ia klaim dibangun oleh korporasi besar.

    “Kalau lihat bangunan pagar itu, tidak mungkin dilakukan oleh orang tidak punya duit. Kalau ada yang percaya, ya perlu dibawa ke psikiater,” tegas Kholid.

    Ia juga mengungkapkan bahwa pekerja yang memasang pagar tersebut mengaku diperintah oleh sebuah korporasi ternama di Jakarta.

    Simbol Perjuangan Nelayan

    Keberanian Kholid bukan hanya menjadi suara bagi dirinya sendiri, tetapi juga simbol perjuangan bagi para nelayan lain yang terdampak oleh proyek-proyek besar yang dianggap menyingkirkan hak masyarakat kecil.

    Dengan keyakinan yang kuat, Kholid berharap bahwa perjuangannya bisa membuka mata banyak pihak, sekaligus membawa perubahan yang lebih baik bagi masyarakat pesisir. “Dunia ini hanya persinggahan, tapi keadilan harus ditegakkan di sini,” pungkasnya. (AI SorBan)

    @beritasorban Seorang nelayan asal Serang bernama Kholid mendadak viral karena aksinya yang berani menolak pagar laut di perairan Tangerang. Pagar sepanjang 30,16 kilometer itu dianggap merugikan para nelayan kecil. Kholid menyebut proyek ini didalangi korporasi besar dan merasa masyarakat kecil telah diinjak-injak haknya. Dalam sebuah video, Kholid mengaku tak takut melawan keserakahan, bahkan mempertaruhkan nyawanya. "Hidup di dunia ini cuma persinggahan," tegasnya. Sebelumnya, Kholid juga pernah memenangkan gugatan terkait reklamasi Pantai Indah Kapuk di tahun 2016. Namun kini, ia kembali menghadapi batasan ruang gerak akibat proyek pagar laut tersebut. Keberanian Kholid menjadi simbol perjuangan para nelayan yang mencari keadilan. "Ini cara Tuhan mendengar jeritan masyarakat kecil yang terzalimi," ujarnya. Apa pendapatmu soal perjuangan Kholid? #NelayanBerani #KeadilanUntukRakyat #FYP ♬ suara asli – Sorban Santri
  • Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus MUI Kecamatan se-Kabupaten Mojokerto

    Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus MUI Kecamatan se-Kabupaten Mojokerto

    Mojokerto, Sorbansantri.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Mojokerto mengadakan pelantikan dan pengukuhan pengurus MUI di tingkat kecamatan untuk masa khidmat 2025-2029. Pelantikan ini dilaksanakan secara bergilir di masing-masing kecamatan mulai tanggal 3 hingga 29 Desember 2024. Prosesi pelantikan dipimpin langsung oleh Ketua Umum MUI Kabupaten Mojokerto, Drs. KH. Cholil Arphaphy, MM, beserta jajaran pengurus harian MUI Kabupaten Mojokerto.

    Lokasi dan Kehadiran Aparat Setempat

    Pelantikan dilaksanakan di pendopo kecamatan masing-masing dengan dihadiri oleh para camat, Kapolsek, dan Dandim. Kehadiran mereka sebagai Dewan Pertimbangan MUI Kecamatan menegaskan sinergi antara ulama dan Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) setempat. Kegiatan ini juga melibatkan tokoh-tokoh masyarakat dan mendapatkan sambutan yang hangat dari berbagai pihak.

    Drs. KH. Cholil Arphaphy, MM, menyampaikan pentingnya pelantikan ini sebagai langkah awal dalam memperkuat peran ulama di tingkat kecamatan. “Kita berharap pengurus MUI kecamatan yang baru dilantik dapat menjalankan amanahnya dengan penuh tanggung jawab, membawa manfaat bagi umat, dan terus bersinergi dengan Muspika untuk kemaslahatan masyarakat Mojokerto,” ujar beliau.

    Antusiasme yang Tinggi

    Pelantikan di setiap kecamatan berlangsung dengan antusiasme yang tinggi dari para peserta. Keikutsertaan ulama dan Muspika setempat menciptakan suasana kebersamaan yang harmonis. Kehadiran masyarakat dalam jumlah besar juga menjadi bukti dukungan terhadap program MUI.

    Agenda Selanjutnya

    Setelah prosesi pelantikan selesai, agenda berikutnya adalah rapat kerja (raker) yang akan dilaksanakan di masing-masing kecamatan. Raker ini bertujuan untuk merumuskan program kerja MUI di tingkat kecamatan guna mendukung visi dan misi organisasi selama masa khidmat 2025-2029.

    Pelantikan pengurus MUI kecamatan ini menjadi awal yang baik untuk memperkuat peran ulama di Mojokerto, sekaligus mempererat sinergi antara elemen keagamaan dan pemerintahan di tingkat kecamatan. Semoga kepengurusan yang baru dapat memberikan kontribusi nyata dalam mewujudkan masyarakat Mojokerto yang religius, harmonis, dan sejahtera. (AI Sorban)

    @beritasorban Pelantikan dan pengukuhan pengurus MUI kecamatan se-Kabupaten Mojokerto untuk masa khidmat 2025-2029 berlangsung sukses. Acara bergilir di pendopo kecamatan sejak 3 hingga 29 Desember 2024 ini dipimpin langsung oleh Ketua Umum MUI Kabupaten Mojokerto, Drs. KH. Cholil Arphaphy, MM. Kegiatan ini dihadiri oleh camat, Kapolsek, Dandim, serta ulama setempat, mencerminkan sinergi kuat antara ulama dan Muspika. Dengan antusiasme masyarakat yang tinggi, acara ini menjadi momen penting untuk memperkuat peran ulama dalam membawa Mojokerto menjadi lebih religius dan harmonis. Agenda berikutnya adalah rapat kerja di masing-masing kecamatan untuk merancang program kerja ke depan. MUI Mojokerto siap melangkah maju, bersinergi, dan berkontribusi nyata bagi umat! #PelantikanMUIMojokerto #UlamaBersinergi #MUI2025_2029 #MojokertoReligius #HarmoniUlamaMuspika #foryoupage ♬ suara asli – Sorban Santri
  • Ahok dan Anies Baswedan Bertemu di Acara Bentang Harapan JakASA: Kolaborasi untuk Jakarta yang Lebih Baik

    Ahok dan Anies Baswedan Bertemu di Acara Bentang Harapan JakASA: Kolaborasi untuk Jakarta yang Lebih Baik

    Jakarta, Sorbansantri.com – Momen langka terjadi di Balai Kota Jakarta Pusat pada Selasa, 31 Desember 2024, saat dua mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Anies Baswedan, bertemu dalam acara Bentang Harapan JakASA. Acara yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta ini menarik perhatian publik, mengingat latar belakang dan basis pendukung yang berbeda dari kedua tokoh tersebut.

    Kebersamaan yang Menginspirasi

    Dalam pantauan Tempo, Ahok dan Anies duduk berdampingan di depan Gedung Pendopo Balai Kota, lokasi utama acara. Keduanya terlihat berbicara akrab, bahkan sesekali berbagi senyuman, yang menjadi pemandangan istimewa bagi para peserta acara dan awak media.

    Ahok menggunakan kesempatan ini untuk menuliskan harapannya di sebuah papan khusus yang disediakan. Ia menulis: “Jakarta yang memiliki pejabat-pejabat yang suka memenuhi tuntutan keadilan sosial warganya, serta Jakarta yang memenuhi persyaratan yang standard dunia menjadi Kota Megapolitan Dunia.”

    Dalam pernyataannya, Ahok menekankan pentingnya kehadiran pejabat yang memprioritaskan keadilan sosial. Ia juga mengapresiasi Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta, Teguh Setyabudi, atas inisiatif mengumpulkan seluruh mantan gubernur DKI untuk bersama-sama menyongsong masa depan Jakarta.

    “Kita harus berani bersama-sama menyongsong 500 tahun Jakarta. Kami sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Pak Pj, semoga niat baik ini bisa terwujud dengan baik,” ujar Ahok.

    Anies Baswedan, yang juga memberikan sambutannya, menyoroti Jakarta sebagai rumah harapan bagi semua warganya. “Jakarta adalah tentang manusianya. Jakarta adalah milik kita,” ujarnya dengan penuh semangat.

    Ia juga menekankan bahwa kota ini bukan hanya tentang gedung pencakar langit, melainkan juga tentang semangat kebersamaan dan kesetaraan. “500 tahun telah terlewati, ribuan tahun ke depan menanti. Semoga Jakarta semakin maju, setara, dan adil bagi seluruh warganya,” tambah Anies.

    Obrolan Misterius Ahok dan Anies

    Ketika ditanya soal isi pembicaraan mereka, baik Ahok maupun Anies memberikan jawaban yang serupa. “Tunggu bulan depan tanggal mainnya,” ucap Ahok dengan senyum misterius. Anies pun menguatkan pernyataan tersebut. “Nanti dong, kan sudah dibilang tunggu. Jadi ya harus sabar menunggu,” katanya.

    Peran Pj Gubernur dan Harapan untuk Jakarta

    Pj Gubernur Teguh Setyabudi mengungkapkan bahwa acara Bentang Harapan JakASA merupakan bagian dari persiapan menjadikan Jakarta sebagai kota global, meski tidak lagi menjadi ibu kota negara. “Tidak lagi ibu kota negara bukan berarti kita men-downgrade Kota Jakarta, tapi kita meng-upgrade-nya menjadi kota global,” jelas Teguh dalam sambutannya.

    Acara ini juga dihadiri para mantan gubernur lainnya, seperti Sutiyoso (Bang Yos), Fauzi Bowo, dan Ahmad Riza Patria. Tidak ketinggalan, pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta terpilih, Pramono Anung dan Rano Karno, turut hadir bersama para kandidat Pilkada Jakarta 2024.

    Kolaborasi untuk Masa Depan

    Bentang Harapan JakASA bukan sekadar acara seremonial, melainkan simbol harapan dan kolaborasi antar generasi pemimpin Jakarta. Dengan visi bersama, para pemimpin ini diharapkan dapat membawa Jakarta menuju masa depan yang lebih cerah dan inklusif.

    @beritasorban Jakarta kembali mencatat sejarah dengan pertemuan dua mantan gubernur, Ahok dan Anies Baswedan, dalam acara Bentang Harapan JakASA di Balai Kota Jakarta. Duduk berdampingan, keduanya berbagi senyuman dan menuliskan harapan untuk Jakarta yang lebih baik. Ahok menekankan pentingnya keadilan sosial, sementara Anies menyebut Jakarta sebagai rumah harapan. Di bawah kepemimpinan Pj Gubernur Teguh Setyabudi, acara ini menjadi momen penting untuk menyongsong 500 tahun Jakarta sebagai kota global. Apa isi obrolan Ahok dan Anies? Keduanya meminta kita untuk sabar menunggu ‘tanggal mainnya’ bulan depan. Kolaborasi dan kebersamaan ini menjadi simbol harapan baru bagi masa depan Jakarta. #AhokAniesBersatu #Jakarta500Tahun #HarapanJakASA #KolaborasiPemimpin #JakartaUntukKita #fyp ♬ suara asli – Sorban Santri
  • Haul Gus Dur ke-15 di Mojokerto: Gus Sa’dulloh Diberikan Gelar “Al Man’u ‘Ainul Atho'”

    Haul Gus Dur ke-15 di Mojokerto: Gus Sa’dulloh Diberikan Gelar “Al Man’u ‘Ainul Atho’”

    Mojokerto, Sorbansantri.com – Pada Senin, 30 Desember 2024, Dewan Pimpinan Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (DPC PKB) Kabupaten Mojokerto menggelar peringatan Haul Gus Dur ke-15 di Hotel Aston Mojokerto. Acara tersebut berlangsung khidmat dengan dihadiri tokoh-tokoh penting, termasuk KH Abdussalam Shohib atau yang akrab disapa Gus Salam, cucu KH Bisri Syansuri, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

    Salah satu momen istimewa dalam acara tersebut adalah pemberian gelar kepada Gus Sa’dulloh Syarofi oleh Kyai H. Masrikan Asy’ari. Gus Sa’dulloh diberikan gelar “Al Man’u ‘Ainul Atho’,”pencegahan adalah inti pemberian.” Makna ini berasal dari konsep spiritual dalam Islam yang mengajarkan bahwa apa yang tampaknya seperti pencegahan atau penghalangan dari Allah sebenarnya adalah bentuk pemberian yang lebih besar..ungkap Kyai Masrikan dalam pidatonya.

    Selain itu, acara ini juga diwarnai dengan kegiatan santunan untuk anak yatim dan dhuafa sebagai wujud kepedulian sosial yang menjadi salah satu nilai utama Gus Dur. Santunan ini mendapat sambutan hangat dari para hadirin yang mengapresiasi inisiatif tersebut.

    Dalam kesempatan yang sama, Gus Salam menyampaikan pesan penting kepada para kader NU, khususnya yang tergabung dalam PKB, untuk memperkuat tradisi silaturahmi. “Khususnya bagi para wakil yang sudah duduk di anggota dewan, hendaknya sering bersilaturahmi. Ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga sebagai penguat hubungan dan kebermanfaatan bagi umat,” ujar Gus Salam.

    Acara yang berlangsung hingga sore hari ini mencerminkan semangat Gus Dur dalam memperjuangkan nilai-nilai kebangsaan, keagamaan, dan kemanusiaan. Dengan kehadiran para tokoh NU dan PKB, acara ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali perjuangan Gus Dur serta menguatkan komitmen terhadap umat dan bangsa. (AI Sorban)

    @beritasorban Senin, 30 Desember 2024, DPC PKB Kabupaten Mojokerto menggelar Haul Gus Dur ke-15 di Hotel Aston Mojokerto. Acara ini menjadi momen istimewa ketika Gus Sa’dulloh Syarofi menerima gelar Al Man'u 'Ainul Atho' yang mengandung maknapencegahan adalah inti pemberian.” Makna ini berasal dari konsep spiritual dalam Islam yang mengajarkan bahwa apa yang tampaknya seperti pencegahan atau penghalangan dari Allah sebenarnya adalah bentuk pemberian yang lebih besar." ungkap Kyai Masrikan dalam pidatonya.. Tak hanya itu, acara juga diisi santunan untuk anak yatim dan dhuafa, mencerminkan semangat Gus Dur dalam kepedulian sosial. KH Abdussalam Shohib, cucu KH Bisri Syansuri, turut hadir dan mengajak kader N U serta PKB untuk memperkuat tradisi silaturahmi, khususnya bagi para anggota dewan. Momentum ini memperkuat nilai kebangsaan, keagamaan, dan kemanusiaan yang selalu diperjuangkan Gus Dur. Sorbansantri.com Melaporkan! Suara Santri, Suara Hati. #HaulGusDur15 #AlManuAinulAtho #PKBMojokerto #NUBerkhidmat #SantunanYatim #GusSalam #SemangatSilaturahmi #fypdongggggggg ♬ suara asli – Sorban Santri

  • Kiai Toni Wanggai: Nahdliyin Papua Kecewa dengan PBNU

    Kiai Toni Wanggai: Nahdliyin Papua Kecewa dengan PBNU

    Sorbansantri.com – Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Papua 2021-2026, KH Toni Victor Mandawiri Wanggai, menilai keputusan yang diambil Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terhadap PWNU Papua telah mengabaikan perasaan Nahdliyin di Bumi Cenderawasih.

    “Keputusan-keputusan yang diambil para pemangku kebijakan di tubuh PBNU tidak boleh mengabaikan realitas sosial umat. Sebaliknya, keputusan tersebut seharusnya menjadi peneguh persatuan, bukan pemicu perpecahan,” ujar Kiai Toni pada Selasa (17/12).

    Menurut Kiai Toni, ketika umat merasa tercederai oleh kebijakan yang tidak sesuai dengan amanah konstitusi, maka kepercayaan akan terancam runtuh. Hal ini berpotensi menghilangkan legitimasi moral organisasi di hadapan umat yang dilayani.

    “Dengan berat hati, umat Islam di Papua mengecam segala bentuk upaya yang berpotensi memecah belah,” tegasnya.

    Kiai Toni mengingatkan bahwa organisasi besar seperti NU tidak hanya dibangun di atas struktur administratif, melainkan juga pada fondasi nilai-nilai luhur yang menjiwai setiap langkahnya.

    “Apa yang terjadi ketika pedoman itu tergoyahkan? Bagaimana muruah organisasi dapat dijaga di tengah badai perbedaan dan godaan kuasa? Di tanah Papua, pertanyaan-pertanyaan ini hadir tidak hanya sebagai retorika, tetapi sebagai ujian nyata atas komitmen bersama,” tambahnya.

    Lebih lanjut, Kiai Toni menjelaskan bahwa umat Islam di Papua hidup dalam keberagaman. Mayoritas dari mereka adalah Nahdliyin yang memandang NU bukan sekadar organisasi, melainkan rumah spiritual dan penjaga keharmonisan sosial.

    “Papua adalah wilayah dengan medan dakwah yang kompleks. Kondisi geografis yang luas dan sulit dijangkau, keterbatasan infrastruktur, hingga perbedaan budaya menjadi tantangan yang hanya dapat dijawab dengan kebijaksanaan dan strategi yang matang,” ujarnya.

    Namun, tantangan dakwah ini semakin berat ketika internal organisasi terguncang oleh kebijakan yang dianggap tidak berpijak pada konstitusi yang disepakati bersama.

    “Tantangan dakwah ini kian bertambah berat ketika internal organisasi sendiri terguncang oleh keputusan yang dianggap tidak berpijak pada konstitusi yang disepakati bersama,” pungkas Kiai Toni. (AI Sorban)

    @beritasorban Ketua PWNU Papua, Kiai Toni Wanggai, menyampaikan kekecewaan Nahdliyin Papua terhadap keputusan PBNU yang dinilai mengabaikan realitas sosial umat. Menurutnya, NU seharusnya menjadi pemersatu, bukan pemicu perpecahan. Papua memiliki medan dakwah yang kompleks dengan tantangan geografis dan budaya. Namun, kebijakan yang dianggap tidak berpijak pada konstitusi justru menambah beban umat. Kiai Toni mengingatkan, NU adalah rumah spiritual bagi mayoritas umat di Papua. Kebijakan yang tepat dan berlandaskan nilai luhur sangat penting untuk menjaga kepercayaan Nahdliyin dan muruah organisasi di tengah ujian yang ada. #NU #KiaiToniWanggai #Papua #SolidaritasNU #PWNU #PBNU #SuaraNahdliyin #PersatuanUmat #fyp ♬ suara asli – Sorban Santri