wp.sorbansantri.com – Untuk memupuk jalinan silaturrahmi antar anggota maka Gp ansor ranting sedati mengadakan agenda rutinan di tiap bulannya dengan di isi pembacaan tahlil, rotibul haddad, sholawat maqom dan menyanyikan lagu mars ansor, mars banser jg yahlal wathon, juga ada rapat anggota.
Menurut sahabat Bagus selaku ketua Gp Ansor ranting sedati mengatakan, agenda ini kita laksanakan rutin setiap bulan, guna untuk memupuk jalinan tali silaturrahmi juga untuk pengkaderan para generasi muda agar tidak terjerumus ke hal hal negatif maka kita rangkul dikit demi sedikit untuk mengikuti kegiatan Gp ansor, awalnya sih agak berat tapi lama kelamaan alhamdulillah banyak pemuda yang ikut gabung menjadi anggota, kemarin sempat juga mengirimkan delegasi anggota untuk mengikuti DIKLATSAR BANSER yang di adakan PAC GP ANSOR NGORO, alhamdulillah ranting sedati bisa mengikut sertakan sebanyak 14 peserta dan yang lebih membahagiakan lagi dari 14 peserta tersebut ada 3 peserta yang menjadi peserta terbaik, peserta terbaik 123 semua di raih oleh ranting sedati (ghufron,bahrul, hasan bisri) dr total 125 peserta se kec ngoro bahkan ada yg dari kabupaten lain yang ikut serta DIKLATSAR BANSER kmrn,.
kami mengucapkan banyak terima kasih kepada para sang juara terbaik 123 yang telah mengharumkan nama baik ranting sedati di tingkat kecamatan ngoro bahkan sampai tingkat pimpinan cabang mojokerto, lanjut kata Bagus kami mengapresiasi yang setinggi tingginya kepada ke tiga peserta terbaik tersebut agar bisa menjadi motifasi kepada anggota anggota yang lain, tetapi jangan di lihat juara atau tidaknya akan tetapi yang kita harapkan loyalitas anggota kepada organisasi yang sangat penting dengan mengikuti di setiap setiap kegiatan agar kita semua mendapat barokae mbah hasyim asr’ary dengan semboyan santri pokok gelem gandol sarunge kyai insya allah hidup menjadi tentram.
Kegiatan kali ini bertempat di musholla AL MUHSININ RT01 RW02 DESA SEDATI, kebetulan yang punyak musholla itu pak ketua RT setempat jd pak RT menyambut dengan tangan terbuka atas ditempatinya untuk kegiatan GP ANSOR ranting sedati, bahkan pak RT berpesan agar kegiatan ini bisa istiqomah dari musholla 1 ke musholla yang lainnya dan mudah mudahan bisa berjalan lancar ila yaumil qiyamah.. aamiin.
(Hasan-sorbansantri)









Sebuah jalan yang membentang dari pasar Dlanggu hingga ke pertigaan Pesanggrahan diberi nama Jalan Mayjen Soemadi. Siapakah dia hingga namanya diabadikan seperti seorang pahlawan ?Menurut informasi, Soemadi adalah pejuang yang lahir di wilayah Kutorejo. Rumah tempat kelahirannya masih ada dan terjaga hingga saat ini. Selain rumah dan nama jalan yang dikaitkan dengannya, beberapa monumen juga dibuat untuk mengenang perjuangannya. Salah satu monumen itu dinamakan Monumen Kompi Macan Putih yang terbuat dari batu hitam di barat Kutorejo.Nama Soemadi mulai dikenal ketika terjadi restrukturisasi TNI pada tahun 1948. Kompi Soemadi tergabung dalam Batalyon Soenandar yang bermarkas di Kediri. Pada waktu agresi militer Belanda ke-2, Kompi Soemadi ditugaskan menjaga PLTA di Mendalan Kasembon. Dia diperintahkan untuk menghancurkan instalasi listrik terbesar di Jawa Timur tersebut jika tidak bisa dipertahankan dari serangan musuh.Tanggal 21 Desember 1948 Belanda menyerang Mendalan. Sesuai dengan intruksi, pasukan Soemadi menyalakan 10 bom yang total berkekuatan 250 kg. Bom itu memang tidak bisa menghancurkan keseluruhan, tetapi akibat ledakan itu Belanda tidak bisa menguasai Mendalan secara utuh. Empat hari kemudian, tanggal 25 Desember 1949 Kompi Soemadi dan Kompi Mistar mengadakan serangan pada pasukan Belanda yang menjaga mendalan. Pertempuran sengit terjadi antara pejuang dengan pasukan Gajah Merah yang dipimpin Kapten Van De Vries. Serangan itu tidak berhasil merebut Mendalan tetapi mampu menggoyahkan kedudukan lawan. Pasukan tambahan kemudian dikirim oleh Belanda lewat udara. Belanda memperkuat pertahanannya di Mendalan.Sejak itu, kompi Soemadi yang dikenal dengan sebutan Macan Putih sering mengganggu musuhnya. Untuk mengakhiri gangguan itu maka dilakukan operasi militer. Pasukan dengan peralatan tempur tank dan panzer menjepit dari arah Pare, Ngoro dan Kandangan. Letda Moestadjab, komandan peleton andalan Kompi Soemadi gugur dalam peristiwa itu. Dan akhirnya Kompi Soemadi harus mundur dari Mendalan. Arah gerak mundur menuju ke Pacet guna memperkuat pasukan Komando Hayam Wuruk yang berusaha masuk ke Surabaya.Kompi Soemadi sampai ke Desa Padusan dan bermarkas sementara di desa tersebut. Esok harinya pasukan itu sudah menyerang pos Belanda di desa Sajen. Serangan yang menyebabkan beberapa serdadu musuh meninggal. Belanda membalas dengan serangan udara ke Padusan. Bom dijatuhkan dan peluru mitralyur ditembakkan dari pesawat P-51 Mustang. Serma Fakih gugur dan di makamkan di kuburan desa Padusan.Kompi Soemadi kemudian bergerak keluar dari Padusan untuk menghindari serangan susulan. Sampai di pertigaan Pacet, dihadang oleh musuh hingga terjadi tembak menembak di depan SD Pacet. Kompi Soemadi berhasil lolos ke Claket dan selanjutnya bergabung dengan Pasukan Komando Hayam Wuruk di Dlanggu. Kehadiran kompi Soemadi menambah kekuatan pasukan gabungan yang dipimpin oleh Mayor Pamoe Rahardjo tersebut.Pada akhirnya sejarah mencatat Pasukan Komando Hayam Wuruk harus menghadapi serangan besar-besaran. Korban berjatuhan pada kedua belah pihak. Bahkan rakyat sipil juga dikorbankan oleh Belanda sebagai tameng hidup dalam pertempuran sehari semalam pada tanggal 12 Pebruari 1949 itu. Kompi Soemadi kembali lolos dari sergapan dengan menerobos pertahanan musuh di sisi selatan. Kapten Soemadi memimpin anak buahnya kembali masuk ke wilayah Kediri dengan melintas hutan gunung Anjasmoro.Setelah kemerdekaan, Soemadi tetap berkarir di dunia militer. Dia pernah menjabat sebagai Komandan Korem 083 DSJ Malang. Sempat menjadi Panglima Kodam Mulawarman ketika terjadi operasi militer menumpas Gerakan Komunis Kalimantan Utara. Soemadi mengakhiri karirnya dengan menyandang pangkat Mayor Jendral. Tidak berlebihan jika namanya diabadikan di daerah kelahirannya sebagai nama jalan. Soemadi menjadi pejuang asli Mojokerto yang berhasil meniti jenjang hingga perwira tinggi.Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq










