





SORBAN JETIS:_Ancaman resesi global tidak menyurutkan semangat sahabat sahabat Ansor ranting Canggu dalam mewujudkan kepeduliannya terhadap sesama khususnya kaum duafa dan yatim piatu ..

Pemberian uang saku untuk yatim
Pendistribusian santunan kali ini sangat spesial karena meskipun dalam kondisi pandemi yang berimbas terhadap perekonomian dunia apalagi ancaman resesi global .
Tidak hanya kepedulian yang kita tanamkan tetapi juga pembelajaran terhadap anak anak remaja penerus ahlisunnah wal jamaah di wilayah desa Canggu , bagaimana cara peduli terhadap sesama .. mereka kami ajak langsung terjun ke masyarakat melihat langsung kondisi kaum duafa yang butuh perhatian dari semua fihak ..
Sehingga ketika mereka dewasa atau menjadi sukses nanti tidak akan lupa terhadap fakir miskin karena jiwa dan perasaan mereka sudah di asah dini ..
Dari sekian banyak duafa yang menerima santunan ada yang tuna netra
Santunan yang di laksanakan hari Senin , 5 Oktober 20 jam 19 .00 di awali dengan sholat berjamaah di masjid Al muttaqin di lanjutkan dengan pendistribusian santunan yang di kordinatori Gus Slamet dari Canggu permai dan alhamdulillah berjalan dengan lancar dan sukses amiin .
By: s.parman sorban

SORBAN SANTRI- Kontribusi Nahdlatul Ulama dalam membebaskan bumi pertiwi dari penjajahan, tidak dapat ditanggalkan begitu saja dari alur sejarah kemerdekaan Indonesia. Hizbullah menjadi salah satu motor penggerak para pejuang kala itu. Dari pergolakan perjuangan inilah muncul nama-nama besar para komandan perang NU yang patut kita teladani bersama.
2. KH. MASJKUR
Lahir di Singosari, Malang, 1315 H/30 Desember 1900 M. Masa mudanya banyak ia habiskan untuk merantau dari pesantren ke pesantren. Pengembaraannya dimulai dari Pesantren Bungkuk di Singosari, berlanjut ke Pondok Sono, Siwalanpanji, Tebuireng hingga berguru kepada Syaikhona Cholil Bangkalan.
Di masa-masa perjuangan revolusi pembebasan atas penjajahan, Kiai Masjkur aktif turut berjuang sebagai seorang pejuang. Tak ayal jabatan sebagai Ketua Markas Tertinggi Sabilillah (1945-1947) diamanahkan kepada dirinya. Dan di masa Mr. Amir Syarifuddin ia ditunjuk secara resmi untuk menjadi anggota Badan Pembela Pertahanan Negara.
Banyak perjuangan lain yang ia tunjukkan demi mengabdi pada negara. Bahkan dirinya juga tercatat pernah menjabat sebagai seorang Menteri Agama hingga 4 kabinet. Pada 19 Desember 1992 dirinya harus berpulang ke Rahmatullah. Dan di waktu pemakaman itulah dirinya mendapat penghormatan secara militer, berkat jasa-jasanya yang besar terhadap negara.
3. KH. MUNASIR ALI
Dilahirkan di daerah Modopuro, Mojasari, Mojokerto pada 2 Maret 1919 dari seorang ayah bernama H. Ali yang merupakan seorang kepala desa yang dihormati di daerahnya. Selama perang kemerdekaan meletus Kiai Munasir aktif sebagai seorang pejuang dan berkarir di dunia kemiliteran.
Karirnya dimulai dengan mengikuti latihan kemiliteran prajurit Jepang dengan masuk sebagai anggota penerangan Heiho. Aktif sebagai pasukan Hizbullah dengan menjadi Komandan Batalyon Condromowo dan turut andil dalam mendirikan Hizbullah Cabang Mojokerto. Dan ketika Hizbullah melebur ke dalam barisan TNI, Kiai Munasir juga terdaftar sebagai anggota aktif, hingga dirinya diangkat menjadi Komandan Batalyon 39 TNI AD.
Di akhir hayatnya pada 1 Januari 2002 pelbagai penghargaan pernah diberikan kepadanya mulai dari Satya Lentjana peristiwa Perang Kemerdekaan I dan II, Bintang Gerilya dan lain sebagainya.
4. KH. SULLAM SYAMSUN
Dia adalah satu-satunya penyandang pangkat tertinggi kemiliteran dari para tokoh NU yang pernah aktif di sana. KH. Sullam Syamsun begitulah nama lengkapnya dilahirkan di Malang 29 April 1922.
Pada masa karir keaktifannya di dunia kemiliteran pelbagai jabatan telah ia rengkuh mulai dari Komandan Kompi I merangkap Wakil Batalyon I Brigade IV Brawijaya, Komandan Keamanan Malang Kota, Komandan Batalyon 523, 514, Pa Teritorium V/Brawijaya dan pada tahun 1977 pensiun penuh dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI.
5. KH. ISKANDAR SULAIMAN
Terlahir dari nasab keturunan bangsawan yang kaya raya. Iskandar Sulaiman tak menampakkan sedikitpun raut kepongahan. Justru ia dikenal sebagai seorang yang sangat dermawan.
Selepas perjalanannya menimba ilmu di Pesantren Tebuireng, dengan kekayaannya digunakannya untuk memakmurkan masyarakat sekitar sekaligus memperkenalkan NU kepada masyarakat. Beberapa unit pendidikan seperti madrasah dan kegiatan penunjang lain turut didirikannya.
Namun, karirnya tidak hanya berhenti sebagai seorang pengajar saja. Di masa menjelang dan setelah masa kemerdekaan ia aktif di dunia kemiliteran. Semangat nasionalisme selalu terpancar dari sosoknya. Perjuangan itu terus ia lakukan hingga pangkat terakhir yang pernah ia raih sebagai seorang kolonel.
6. KH. HASYIM LATIEF
Dilahirkan di daerah Sumobito, Jombang pada 17 Mei 1928. Nama lengkapnya ialah Hasyim Latief, ia dikenal sebagai seorang tokoh Hizbullah. Awal karirnya di Hizbullah ia mulai di kala ia berstatus sebagai peserta pada pelatihan opsir Hizbullah di Cibarusa, Bogor (1945) Se-Jawa dan Madura.
Di saat Hizbullah Jombang didirikan, Kiai Hasyim Latief lansung menjabat sebagai seorang komandan latihan. Dan ketika kisaran tahun 1947 terjadi peleburan antara TNI dengan Hizbullah, ia masuk ke dalam resimen 293 dengan komandan Letkol KH. A. Wahib Wehab. Pangkat terakhimya yang ia panggul adalah Komandan Kompi I Yon Munasir. Sayang, perjuangannya harus terhenti pada Mei 2005, pada usia 77 tahun dirinya dipanggil Sang Khalik.
7. KH. ZAINAL MUSTOFA
Nama kecilnya adalah Hudaeni. Lahir dari keluarga petani berkecukupan, putra pasangan Nawapi dan Nyonya Ratmah, di kampung Bageur, Desa Cimerah, Kecamatan Singaparna. Dikenal sebagai salah satu tokoh NU yang memiliki banyak pengikut (baik dari kalangan santri dan masyarakat) sekaligus getol dalam menyemangatkan gerakan perlawanan terhadap penjajahan.
Ia selalu menyerang kebijakan politik kolonial Belanda yang kerap disampaikannya dalam ceramah dan khutbah-khutbahnya. Di masa penjajahan Jepang dirinya juga mengatur strategi perlawanan terhadap Jepang. Dengan semangat jihad membela kebenaran agama dan memperjuangkan bangsa, KH. Zaenal Mustafa merencanakan akan mengadakan perlawanan terhadap Jepang pada tanggal 25 Pebruari 1944 (1 Maulud 1363 H).
Ia juga turut serta mengomandoi perlawanan terhadap Jepang di Sukamanah Tasikmalaya. Namun sayang perjuangannya harus berakhir di balik jeruji besi. Pesantren yang didirikannya harus ditutup oleh Jepang. Dan atas jasa-jasa itulah kini KH. Zainal Mustofa diangkat sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 064/TK/Tahun 1972.
8. H. ABDUL MANAN WIJAYA
Namanya cukup melegenda di wilayah Kotatif Batu. Itu karena namanya telah dijadikan sebagai nama jalan, tepatnya Jl. Manan Wijaya, yang membentang di sepanjang daerah Pujon. Nama aslinya Rumpoko, lahir di Pujon pada 1910. Ayahnya seorang mandor jalan. Manan Wijaya adalah alumni Pesantren Tebuireng Jombang.
Ketika PETA dibentuk, ia langsung bergabung dengan kesatuan militer Jepang tersebut meski sebagai tentara aktif, namun sosok santri selalu tampak. Ia juga rutin berlangganan Suara NU dan Suara Ansor dari Surabaya.
Setelah menjadi pembicara dalam rapat akbar di Tebuireng (1967) dan menyebut “Hamid Roesdi itu Ketua Ansor” ia diMabeskan hingga pensiun.
Pensiun dengan pangkat terakhir Brigjen. Jenazah dimakamkan di Desa Sisir Kecamatan Batu, atas permintaan sendiri, karena tidak mau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.
9. HAMID ROESDI
Nama Hamid Roesdi telah menjadi legenda pahlawan masyarakat Kota Malang, sama halnya nama Bung Tomo untuk masyarakat Surabaya. Bahkan nama Hamid Roesdi tidak hanya dijadikan sebagai nama jalan di pusat kota, tapi juga nama terminal di Kedungkandang. Patungnya juga dapat dilihat di Malang.
Lahir di Sumbermanjing Kulon (Pagak) Malang Selatan pada 1917. Ia putera ke empat H. Umar Roesdi.
Di masa penjajahan Jepang ia masuk pendidikan perwira Bo Ei Gyugun Kanku Kyokutai di Bogor, kemudian menjadi Cudancho PETA di Malang Syu Dai I Daidan (Dai I Cudan) yang berkedudukan di Glagah Aren Sumbermanjing.
Awal 1947 diangkat sebagai komandan Resimen Infantri 38 Divisi VII Untung Suropati dan sebagai Komandan Pertahanan Daerah Malang berkedudukan di Pandaan Pasuruan. Pada waktu penumpasan PKI Muso (Madiun Affair) ia menjabat Komandan Komando Penumpasan PKI Muso di daerah Malang Selatan (Turen-Donomulyo).
Menghadapi Clash II Belanda menjabat Komandan Sub Wherkreise I dan memimpin gerilya di daerah pendudukan Malang Timur dengan pangkat mayor. Pada 8 Maret 1949 ia gugur bersama pasukannya di daerah Wonokoyo, Kedungkandang pukul 03.00 dinihari. (abi sorban)




SORBAN SANTRI- Jum’at, 02 Oktober 2020. Pertama kalinya kegiatan rutin kader penggerak NU di adakan di Kecamatan Pacet Mojokerto, tepatnya di Masjid Nurul Iman Pacet Nggapuk Pacet Mojokerto. yang bertujuan untuk membentengi serta menjaga IDEOLOGI bagi semua kader-kader NU dengan mengamalkan TIRYAQUL MUJARROB BIL WALIL MUQORROB yang oleh KH. Adnan Anwar diperintah unuk di NASIONALKAN.

Kegiatan yang dimulai ba’da isya’ tersebut, dihadiri oleh kader-kader yang pernah mengikuti pelatihan dan bimbingan dalam lembaga dan banom NU seperti PKPNU – MKNU – DTD – DIKLATSAR – PKD – DIKLATAMA – MAKESTA – LKD Fatayat- DLL. Uniknya dalam acara tersebut adalah banyaknya silaturrakhim antar kader dengan sedikit acara ceremonial karena kegiatan ini hanya ada 3 acara inti yaitu Tawassul, pembacaan TIRYAQUL MUJARROB BIL WALIL MUQORROB dan Makhallul Qiyam selebihnya itu adalah acara silaturrokhin dan santai ngobrol sesama kader.
Dan dalam tema serta pokok bahasan dalam kegiatan tersebut adalah NKRI Harga Mati… Nderek NU sak lawase (ikut NU selamanya). Tema ini sangat dikedepankan dalam kegiatan ini sebagai wadah dan pemantapan IDEOLOGI kader Agar mandiri dalam menjalani Berbangsa dan Bernegara, tetap berpegang teguh dalam IDEOLOGI ASWAJA NU.
Semoga kita tetap kompak, semangat dalam ber NU, tidak goyah dalam menjalani cerita berbangsa dan bernegara. Bukan Kader NU dalam Kepentingan, Bukan Kader NU dalam Balas Budi, Bukan Kader NU yang Ragu-ragu, tetapi Sebagai Kader NU yang KOKOH. (abi sorban)


SORBAN SANTRI- Dalam acara Haul H. Drail, HJ, Daiyah dan Gus H. Samiun, yang diadakan pada hari kamis, 1 Oktober 2020 yang bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila, banyak jama’ah dan sahabat ISHARI NU dari berbagai wilayah hadir dalam acara yang diadakan di Dsn Treceh Desa Sajen Kec. Pacet Mojokerto.
Acara yang dimulai ba’da Sholat Magrib itu berakhir dinihari pukul 01.00 wib 2 Oktober 2020 yang dilanjut dengan khotmil Qur’an sampai Subuh. Mengingat padatnya acara dan banyaknya tamu yang hadir dari berbagai wilayah maka, Banser Satkoryon Pacet mengadakan koordinasi yang rapi dalam kegiatan tersebut.
Mengingat tempat parkir yang berada di tengah perkampungan warga, banser satkoryon pacet sampai membagi 10 titik pos penjagaan dalam pengaturan lalu lintas, demi kelancaran kendaraan yang biasa keluar masuk pada daerah tersebut.
Tampak hadir ulama’ dan kiai seperti Pengasuh Pondok Pesantren Fatchul Ulum Pacet KH. Muslikh Abbas dan Mbah Khusain Ilyas yang dalam kesempatan tersebut sempat memberikan cerita dongeng oSholawat.
Telah dikisahkan Oleh Kiai NAWAWI yang diceritakan ini adalah seseorang yang bernama KABUL. Dan Menurut cerita Mbah Khusain Ilyas, kiai NAWAWI kalau mati ingin seperti KABUL. Apa sih yang dilakukan KABUL itu?
Bahwa kiai NAWAWI itu suka membaca sholawat, apalagi pas acara maulud nabi, dan KABUL itu pekerjaannya gembala kambing dan kambingnya itu tidak kurang dari 5000 ekor. Setiap malam jum’at ada kegiatan sholawat dan KABUL ini bilang ke kiai NAWAWI kalau ada kegiatan sholawat dipersilahkan ambil kambingnya untuk dijadikan makanan pada acara sholawat tersebut. Jadi setiap malam jum’at selalu ada pengambilan kambing buat hormat dalam kegiatan sholawat.
Jaman dahulu musholla / langgar itu mangkring (ada diatas) dan dibawahnya itu kolong, Jadi KABUL itu suka sholawatan pas membaca Ashroqol Badru, pasti ada di bawah langgar atau musholla dan membaca paling keras sendiri diantara jama’ah karena sangat cintanya sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Cerita ini berjalan beberapa tahun, cuma KABUL ini menderita penyakit kulit (borok sekujur tubuhnya) semua badannya itu melepuh. Ketika akan ada lagi kegiatan sholawat itu, salah seorang utusan kiai NAWAWI itu berencana mengambil kambing buat acara sholawat, KABUL ini minta ijin gak bisa ikut kegiatan sholawat dikarenakan luka borok sekujur tubuhnya dan berbau tidak sedap serta gak bisa memakai pakaian jadi tidak bisa ikut kegiatan sholawat yang rutin diadakan oleh kiai NAWAWI.
Ketika acara sholawat dimulai, pas membaca Ashroqol Badru, dan KABUL ini sangat sayangnya dengan Nabi Muhammad SAW maka bangunlah KABUL dari rumah menuju langgar/musholla itu dalam keadaan telanjang dan merangkak menuju bawah musholla, karena sangat sayangnya pada Nabi Muhammad SAW. Setelah srokalan selesai, seperti ada bulan jatuh yang cahayanya itu terang benderang dan berjalan kearah musholla. KABUL marah dan menggerutu, ada orang yang telanjang begini kok malah di dekati.
Cahaya itu tambah dekat dan semakin dekat dengan KABUL dan KABUL semakin marah, kok tambah didekati dalam keadaan telanjang itu. Dan akhirnya pipi kanan KABUL itu di pegang oleh cahaya tadi dan bilang ” KABUUUL, aku Rusullulloh SAW ” dan apa yang terjadi… KABUL disayang dicium dengan Nabi Muhammad SAW kemudian KABUL meninggal dunia. Makanya kiai NAWAWI berkata kalau mati ingin didoakan seperti matinya KABUL.
Setelah kematian KABUL dibawah langgar / musholla tadi, yang didatangi Nabi Muhammad SAW itu kiai NAWAWI, kemudian Nabi Muhammad SAW menyuruh sekaligus memberitahukan kalau KABUL sekarang meninggal dan ada di bawah langgar / musholla, besok setelah selesai sholat subuh panggulen ( gendong ) dan harus kamu yang gendong, kalau sucikan harus kamu yang pangku, kalau dikubur harus kamu yang memasukkan keliang lahat (kuburan). Subhanalloh..
Padahal TUBUH kabul banyak borok serta baunya gak sedap, setelah di cium dengan Nabi Muhammad SAW, Air yang jatuh menjadi harum. Mudah-mudahan kita semua akan di sayang oleh Nabi Muhammad SAW.( abi sorban)



