Blog

  • Gus Baha’: Agama Itu Dimulai dari Kesenangan

    Gus Baha’: Agama Itu Dimulai dari Kesenangan

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Islam sebagai agama tidak pernah membuat penganutnya merasakan penderitaan. Hanya orang-orang yang tidak taat saja yang merasa gelisah dan menderita. Mereka menjebak dirinya dalam kesulitan, keresahan dan penderitaan. Padahal agama sudah memberi jalan dan ruang yang penuh dengan keceriaan, kenikmatan, ketenangan, bahkan ‘kepuasan’.

    Tidak heran jika Gus Baha’ menyampaikan “Agama itu dimulai dari kesenangan, happy, farah kalau dalam bahasa Arab” Karena Agama sendiri adalah jalan dan ruang yang indah penuh kedamaian. Maka memulainya tentu dengan kesenangan, sebab orang yang beragama melangkah di jalan kemudian masuk di ruang yang terang oleh cahaya kebahagiaan.

    Lebih tegas Gus Baha menghaturkan ayat,

    قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

    “Katakanlah, Wahai Muhammad, dengan fadhal Allah, anugerah Allah dan rahmat Allah. Kemudian dengan itu kamu harus senang. Sehingga dengan senang kepada Allah dan Rasul itu nikmatnya masyaallah“.

    Siapa yang tidak menginginkan anuegrah dan berharap rahmat Allah? Siapapun pasti menunggu ini semua. Karena ketika seorang hamba mendapatkan anugerah dan merasakan rahmat Allah, dia akan mendapatkan kenikmatan yang tiada tara. Apalagi sampai larut dalam kesenangan kepada Allah dan Rasul-Nya. Sungguh tidak ada apapun yang bisa menandinginya.

    Dawuh Gus Baha’ “Andaikan senang itu bisa ditakar, orang yang sedang tahajjud, menangisi dosanya. Itu senengnya jika dibandingkan dengan orang yang sedang dugem, mesti kalah, mesti senengan sedang tahajjud. Karena orang-orang maksiat itu sebenarnya orang-orang yang susah”

    Ya, sungguh senang tiada kata yang sanggup menjelaskannya, jika seseorang sudah menemukan manisnya beribadah kepada Allah. Dan tidak ada orang yang merasa, kesenangan yang didapatkan dari kemaksiatan menjadi kesenangan yang membuat dirinya bahagia, justru dia gelisah dan susah. Sungguh berbeda antara kesenangan yang dirasakan dari ketaatan dan kemaksiatan.

    Gus Baha’ menggambarkan orang yang shalat tahajjud, “Sementara orang yang tahajjud senengnya sangat terasa dan terus diingat. Semisal tadi malam bagaimana menangisi dosa, menangisi nasib. Kemudian menjadi tenang karena kembali ingat kepada Allah dan Rasul. Itu luar biasa senengnya”

    Alhasil, kunci mendapatkan kesenangan beribadah adalah dimulai dengan rasa senang. Jika sudah dimulai dengan kesenangan, ibadah pun menjadi nyaman dilaksanakan. Kemudian berbuah menjadi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Inilah yang dilakukan oleh para ulama kita.

    Karena para ulama sangat mengerti bahwa agama itu adalah jalan kesenangan, maka memulainya harus dengan rasa senang sehingga merasakan manisnya beribadah. Berbeda dengan orang yang melakukan ibadah karena merasa beban atau sekedar menggugurkan kewajiban. Sehingga bukan dengan rasa kesenangan untuk memulai beribadah, melainkan karena keterpaksaan. Mana bisa orang yang dalam keterpaksaan dan tak ada rasa senang akan merasakan kesenangan. Untuk merasakan senang harus diawali dengan senag juga.

    Sama juga seseorang yang menyampaikan dakwah agama. Ketika ia berdakwah dengan main klaim salah sana sini, ditambah dengan kata yang tidak pantas alias umpatan caci maki, bisa saja dia memulai dakwah agama berdasarkan kebencian bukan kesenangan. Na’udzubillah.

    Disarikan dari ngaji bareng Gus Baha pada link video https://www.youtube.com/watch?v=xj0WuVOLA10

    Semoga kita bisa meneladani orang-orang saleh! (Gus tama)

  • ANSOR BANSER ALABIO KALSEL BERSINERGI MELAKUKAN PENGGALANGAN DANA UNTUK MUSIBAH KEBAKARAN

    ANSOR BANSER ALABIO KALSEL BERSINERGI MELAKUKAN PENGGALANGAN DANA UNTUK MUSIBAH KEBAKARAN

    SORBANSANTRI.COM
    Ansor Banser Alabio

    BANSER SATKORWIL KALIMANTAN SELATAN- Jiwa, semangat, peduli tidak kenal lelah dilakukan oleh Ansor, Banser Balakar (Barisan Ansor Serbaguna Penanggulangan Kebakaran) Cabang Alabio Kalimantan Selatan. Upaya mereka dilakukan dengan cara memberikan motivasi pada warga yang terdampak dan melakukan penggalangan dana untuk warga Desa Banyu Tajun Hulu yang di timpa musibah kebakaran.

    SORBANSANTRI.COM
    Penggalangan dana oleh Ansor Banser Alabio Kalimantan Selatan

     

    Kegiatan penggalangan dana tersebut dilakukan 3 hari yang dimulai dari Tanggal 15-17 Juni 2020 dengan 3 titik lokasi, yaitu Jembatan H.Fakhrudin, Pasar Alabio dan Jalan Desa Sungai Sandung. Dengan harapan agar semua warga dan pengendara ikut apresiasi dengan jalan amal sebagai wujud kepedulian sosial terhadap sesama. Dan mudah-mudahan semua dan apa saja yang sudah sahabat Ansor Banser Balakar mendapat ganjaran pahala dari Allah SWT & mendapat keberkahan.Ungkap M.Said (ketua GP Ansor Alabio).

    SORBANSANTRI.COM SORBANSANTRI.COM

    Dari semua aktivitas dan kegiatan tersebut, tidak luput dari adanya koordinasi yang bagus antara Ketua PC GP Ansor Alabio M.Said dan Kasatkorcab Banser Alabio Rif’at. Dengan harapan kedepan agar marwah dalam berorganisasi yang membawa misi sebagai pasukan penjaga aqidah Ahlussunnah wal jama’ah, dapat apresiasi yang bagus untuk warga, negara dan agama. Sebagai salah satu syiar yang perlu dan harus dijaga.(Gusti FikRa Hidayatullah)

  • Seleksi Ketat Menjadi Guru Agama

    Seleksi Ketat Menjadi Guru Agama

    SORBANSANTRI.COM

    Imam Al-Ghazali berkata:

    ﻭﻗﺪ ﺣﻜﻲ ﻋﻦ ﺑﻌﺾ اﻷﻣﻢ اﻟﺴﺎﻟﻔﺔ ﺃﻧﻬﻢ ﻛﺎﻧﻮا ﻳﺨﺘﺒﺮﻭﻥ اﻟﻤﺘﻌﻠﻢ ﻣﺪﺓ ﻓﻲ ﺃﺧﻼﻗﻪ، ﻓﺈﻥ ﻭﺟﺪﻭا ﻓﻴﻪ ﺧﻠﻘﺎً ﺭﺩّﻳﺎً ﻣﻨﻌﻮﻩ اﻟﺘﻌﻠﻢ ﺃﺷﺪ اﻟﻤﻨﻊ.

    Telah diceritakan dari generasi sebelumnya bahwa mereka menguji para murid selama menjadi pendidik akhlaknya. Jika mereka tidak lulus maka mereka tidak diperkenankan melanjutkan

    ﻭﻗﺎﻟﻮا ﺇﻧﻪ ﻳﺴﺘﻌﻴﻦ ﺑﺎﻟﻌﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﻣﻘﺘﻀﻰ اﻟﺨﻠﻖ اﻟﺮﺩﻱ، ﻓﻴﺼﻴﺮ اﻟﻌﻠﻢ ﺁﻟﺔ ﺷﺮّ ﻓﻲ ﺣﻘﻪ

    Para guru mengatakan: “Ilmu bagi orang yang berakhlak buruk akan menjadi alat berbuat kejelekan baginya”

    ﻭﺇﻥ ﻭﺟﺪﻭﻩ ﻣﻬﺬﺏ اﻷﺧﻼﻕ ﻗﻴﺪﻭﻩ ﻓﻲ ﺩاﺭ اﻟﻌﻠﻢ، ﻭﻋﻠّﻤﻮﻩ ﻭﻣﺎ ﺃﻃﻠﻘﻮﻩ ﻗﺒﻞ اﻻﺳﺘﻜﻤﺎﻝ، ﺧﻴﻔﺔ ﺃﻥ ﻳﻘﺘﺼﺮ ﻋﻠﻰ اﻟﺒﻌﺾ، ﻭﻻ ﺗﻜﻤﻞ ﻧﻔﺴﻪ، ﻓﻴﻔﺴﺪ ﺑﻪ ﺩﻳﻨﻪ ﻭﺩﻳﻦ ﻏﻴﺮﻩ

    Jika mereka memiliki akhlak yang baik maka mereka dikarantina di tempat pendidikan (pesantren), mereka diajari dan tidak dilepaskan (wisuda) sebelum sempurna. Khawatir ilmunya setengah matang dan tidak sempurna bagi dirinya. Maka MEMBAHAYAKAN bagi AGAMANYA dan AGAMA ORANG LAIN.

    ﻭﺑﻬﺬا اﻻﺧﺘﺒﺎﺭ ﻗﻴﻞ: ” ﻧﻌﻮﺫ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﻧﺼﻒ ﻣﺘﻜﻠﻢ ﻭﻧﺼﻒ ﻃﺒﻴﺐ. ﻓﺬﻟﻚ ﻳﻔﺴﺪ اﻟﺪﻳﻦ ﻭﻫﺬا ﻳﻔﺴﺪ اﻟﺤﻴﺎﺓ اﻟﺪﻧﻴﺎ “.

    Oleh karena itu ada ungkapan: “Kami berlindung kepada Allah dari ahli agama yang setengah matang dan dari dokter setengah matang. Yang itu merusak agama dan yang ini merusak kehidupan dunia” (Mizan Al-Amal 1/370)

    Kita tidak menghalangi siapapun untuk berdakwah, untuk berbagi ilmu, mengajak kebaikan dan seterusnya. Tapi bagi mereka yang tidak menjalani pendidikan Agama Islam mulai dari dasar hingga tingkat tertinggi diharapkan untuk sadar diri dalam berfatwa, mengambil hukum dari Al-Qur’an dan Hadis, menentang ulama yang lebih alim dan sebagainya.

    #KHmarufKhozin

  • NU CARE LAZISNU BREBES SANTUNI ANAK YATIM PIATU DAN SERAHKAN KALENG KOIN NU KE EMPAT MWC

    NU CARE LAZISNU BREBES SANTUNI ANAK YATIM PIATU DAN SERAHKAN KALENG KOIN NU KE EMPAT MWC

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – PC NU CARE-LAZISNU Kabupaten Brebes, setelah mendapatkan legalitas dari Pengurus Wilayah NU Jawa Tengah dan Pengurus Pusat NU CARE-LAZISNU, langsung dan gencar melaksanakan sosialisasi mengenai penggalangan dana Koin NU maupun Infaq dan Shodaqoh dari tingkat MWC NU (Kecamatan), sampai ke tingkat Ranting NU (Desa).

    SORBANSANTRI.COM

    Setelah Kecamatan Tanjung, Banjarharjo, Kersana dan Bulakamba serta Ranting-ranting di dalamnya, NU CARE-LAZISNU Kabupaten Brebes mensosialisasikan Program-program dan materi administrasi pengelolaan dana NU CARE-LAZISNU.

    Melalui acara diawali dg dibacakan tahlil dilanjutkan pembacaan kitab Mafahim yang digelar di gedung MWC Bumiayu dihadiri oleh MWC Tonjong, Bumiayu, Sirampog dan Paguyangan, H. Wahib Isma menyampaikan bahwa dengan adanya koin NU, yang dikelola dan dengan kerjasama yang kuat serta maksimal melalui NU CARE-LAZISNU dari tingkat kabupaten sampai ranting, InsyaAllah warga NU mampu mandiri.

    SORBANSANTRI.COM

    NU CARE-LAZISNU yang memiliki komitmen MANTAP (Modern, Akuntable, Transparan, Amanah dan Profesional), selalu melaksanakan tugas-tugasnya sebaik mungkin dan dengan gerakan yang cepat.

    Apalagi, saat ini kita sedang dilanda pandemi Covid19, khususnya di Kabupaten Brebes juga sedang dilanda siklus Rob tahunan di sebagian besar pantai pesisir Pulau Jawa. Alhamdulillah, NU CARE-LAZISNU selalu turut membantu dalam setiap kejadian bencana dan masyarakat yg terkena musibah.

    SORBANSANTRI.COM

    Bukan berarti pamer, namun saat ini peran NU dianggap perlu untuk ditampilkan sebagai pembuktian komitmen MANTAP. Tidak ada niat dalam hati kita untuk pamer apa lagi ria.

    Selain dihadiri oleh syuriyah dan tanfidz empat MWC di atas, acara tersebut juga dihadiri oleh Rois Syuriyah PCNU Kabupaten Brebes, yaitu KH. Amin Masyhudi dan H. M. Aqsho selaku Ketua PCNU Kabupaten Brebes.

    Sebelum acara sosialisasi dimulai, dilakukan pentashorufan kepada anak yatim piatu, dan penyerahan Kaleng Koin NU ke masing-masing MWC. Rois Syuriyah KH Amin Mashudi dan Ketua PCNU Brebes H. Aqsho terlihat kompak menghimbau dan menyemangati warga Nahdliyin khususnya yang hadir dalam acara tersebut, untuk turut menyukseskan program Koin NU; dan keduanya juga mengisi ke kaleng Koin NU di tiap MWC yang sudah diserahkan.

    SORBANSANTRI.COM

    Tidak ketinggalan, Gus Sholah yang selaku jajaran Syuriyah PWNU Jawa Tengah juga hadir dalam acara tersebut dan menyampaikan pesan kepada warga NU yang hadir agar selalu semangat dalam berkhidmat pada Nahdlatul ulama sesuai dengan bidangnya masing masing untuk mewujudkan kemandirian Nahdlatul Ulama.

    Semoga gerak langka PC NU CARE LAZISNU Kab Brebes senantiasa mendapat petunjuk dan Ridlo Allah Subhanahu wataala. Kegiatan ditutup dg doa yg dipimpin oleh Rois Syuriyah PCNU Kab Brebes Romo Kyai Haji Aminudin Mashudi.(PC NU kab. Brebes)

  • Raja Tanpa Istana

    Raja Tanpa Istana

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI – Dalam syair indah ini dijelaskan bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam memiliki kekuasaan yang gaib, tidak kasat mata. Secara makna tersirat dalam hadis berikut:

    ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻋُﺮْﻭَﺓُ ﺃَﻱْ ﻗَﻮْﻡِ، ﻭَاﻟﻠَّﻪِ ﻟَﻘَﺪْ ﻭَﻓَﺪْﺕُ ﻋَﻠَﻰ اﻟﻤُﻠُﻮﻙِ، ﻭَﻭَﻓَﺪْﺕُ ﻋَﻠَﻰ ﻗَﻴْﺼَﺮَ، ﻭَﻛِﺴْﺮَﻯ، ﻭَاﻟﻨَّﺠَﺎﺷِﻲِّ، ﻭَاﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥْ ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﻣَﻠِﻜًﺎ ﻗَﻂُّ ﻳُﻌَﻈِّﻤُﻪُ ﺃَﺻْﺤَﺎﺑُﻪُ ﻣَﺎ ﻳُﻌَﻈِّﻢُ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻣُﺤَﻤَّﺪًا، ﻭَاﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥْ ﺗَﻨَﺨَّﻢَ ﻧُﺨَﺎﻣَﺔً ﺇِﻻَّ ﻭَﻗَﻌَﺖْ ﻓِﻲ ﻛَﻒِّ ﺭَﺟُﻞٍ ﻣِﻨْﻬُﻢْ، ﻓَﺪَﻟَﻚَ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﺟْﻬَﻪُ ﻭَﺟِﻠْﺪَﻩُ، ﻭَﺇِﺫَا ﺃَﻣَﺮَﻫُﻢْ اﺑْﺘَﺪَﺭُﻭا ﺃَﻣْﺮَﻩُ، ﻭَﺇِﺫَا ﺗَﻮَﺿَّﺄَ ﻛَﺎﺩُﻭا ﻳَﻘْﺘَﺘِﻠُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻭَﺿُﻮﺋِﻪِ، ﻭَﺇِﺫَا ﺗَﻜَﻠَّﻢَ ﺧَﻔَﻀُﻮا ﺃَﺻْﻮَاﺗَﻬُﻢْ ﻋِﻨْﺪَﻩُ، ﻭَﻣَﺎ ﻳُﺤِﺪُّﻭﻥَ ﺇِﻟَﻴْﻪِ اﻟﻨَّﻈَﺮَ ﺗَﻌْﻈِﻴﻤًﺎ ﻟَﻪُ

    Urwah berkata: Wahai kaumku. Demi Allah. Aku telah bertamu kepada raja-raja. Aku pernah ke Kaisar Romawi, penguasa Persi dan Raja Najjasyi. Demi Allah. Tidak pernah kulihat seorang raja yang diagungkan oleh pengikutnya seperti Muhammad shalallahu alaihi wasallam diangungkan oleh Sahabatnya.

    Demi Allah. Muhammad tidak mengeluarkan dahak kecuali jatuh ke tangan para sahabatnya lalu ia usapkan ke wajah dan kulitnya. Jika Muhammad memerintahkan maka mereka berebut melakukan perintahnya. Jika Muhammad berwudhu’ maka mereka seperti mau perang berebut air wudhu’nya. Jika Muhammad berbicara maka sahabatnya melirihkah suara mereka di dekatnya. Dan mereka tidak ada yang menatap tajam ke arah Muhammad karena mengagungkan Muhammad (HR Bukhari no 2731)(abi SORBAN)

  • Ketua Tanfidziyyah PCNU Brebes, Serahkan Bantuan Untuk Korban ROB AIR LAUT

    Ketua Tanfidziyyah PCNU Brebes, Serahkan Bantuan Untuk Korban ROB AIR LAUT

    SORBANSANTRI.COM

     

    cyberaswaja.online- Ada hikmah dibalik Allah memberikan bala-cobaan, diantaranya adalah makin ditinggikannya derajat seseorang yang telah berhasil melalui ragam cobaan.

    Yah kira-kita begitulah kondisi PCNU Brebes saat ini, setelah kian lama melakukan ikhtiyar penataan kembali sel-sel yang telah lama tertidur dengan ragam pengkaderan, pengaktifan kembali lembaga-lembaga dibawah naugannya hingga penataan MWC sampai tingkat rantingnya, dibawah kepemimpinan Bapak KH. M. Aqsho, kini mulailah nampak betapa PCNU Brebes makin kelihatan kinerjanya, berwibawa dan amat dirasa nampak sumbangsihnya kepada masyarakat Brebes khususnya.

    Hampir semua lembaga dibawah kendali beliau bekerja dengan sungguh-sungguh dengan semangat baru melalui proses panjang, diantaranya LBM, LP Ma’arif, RMI, LDNU, PC NUcare LAZISNU, Aswaja Center NU dan ragam lembaga lainnya.

    Foto dibawah adalah gambaran petapa penataan manajemen PC NUcare LAZISNU Brebes dibawah kendali Bapak H. M. Wahib Isma sudah sesuai dengan amanah yang diberikan pada lembaga yang dipimpinnya.

     

    Walau nilainya tak begitu banyak, semoga sedikit sumbangan yang disalurkan kepada para korban ROB AIR LAUT Desa Randusanga Brebes bisa menjadi tauladan bagi yang lain untuk saling “fastabiqul khoiroot”.

    Tak ketinggalan pula PAC Muslimat Bulakamba ikut andil dalam penggalangan donasi tersebut. Semoga kegiatan kemanusiaan yang dilaksanakan dihari sabtu 13 Juni 2020 pukul 10.00 benar-benar diterima oleh Allah Ta’ala dan bisa bermanfaat bagi para korban, dan semoga para pemberi shodaqoh semoga makin diberkahi dan ditambah rizqinya oleh Allah Ta’ala أمين. (PCNU BREBES)

     

  • BARANGKALI AMERIKA DAN PALESTINA BUTUH PANCASILA

    BARANGKALI AMERIKA DAN PALESTINA BUTUH PANCASILA

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja- Belum selesai dihantam virus COVID-19, Amerika dilanda kerusuhan rasial. Rasialisme menjadi aib demokrasi terbesar di patung Liberty tersebut.

    Menurut Aljazeera, jumlah orang yang ditangkap paling sedikit sudah 5.600 orang berbagai di kota seluruh Amerika Serikat. Sejak demonstrasi meletus memprotes kematian George Floyd. Selain itu, korban jiwa juga sudah berjatuhan di berbagai tempat. https://wartakota.tribunnews.com/2020/06/02/).

    Amerika adidaya dunia yang mulai goyah. Krisis ekonomi dan politik kali ini, menjadi masalah domestik yang tidak berimbas kepada situasi global, menunjukkan pengaruh Amerika semakin melemah. Konstelasi politik global menuju titik kesetimbangan yang hampir sempurna.

    Indonesia diprediksi menjadi kekuatan global baru sebagai penyeimbang salah satu indikasinya, permintaan Hamas kepada Presiden Jokowi. Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyah secara khusus meminta kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk membantu menggagalkan rencana Israel menganeksasi wilayah Palestina di Tepi Barat. Permintaan itu disampaikan pemimpin Hamas itu melalui surat dikirim ke Jokowi selasa lalu. Dalam surat bertanggal 5 Juni 2020 yang diterima redaksi albalad.co. (https://albalad.co/palestina/2020A9968/).

    Ideologi Pancasila sebenarnya yang menjadi rahasia di balik kekokohan Indonesia di tengah ancaman krisis domestik, regional dan global sampai Hamas minta tolong ke Indonesia, bukan negara-negara Arab. Karena isi 5 sila itu adalah manifestasi tertinggi dari ajaran agama-agama di Indonesia.

    Pancasila menjadi titik temu, titik kumpul dan titik simpul dari puncak-puncak ajaran agama di Indonesia. Artinya seorang penganut agama belum mencapai maqam tertinggi jika belum menjadi insan Pancasila seutuhnya.

    Karena puncak ajaran agama-agama di Indonesia merupakan bagian integral dari Pancasila membuat Pancasila menjadi ideologi yang kental dengan aura spiritualitasnya dan juga sangat primordial bagi penganut agama-agama di Indonesia.

    Agama dan Pancasila satu ruh, satu jiwa, bersenyawa. Inilah yang membedakan ideologi Pancasila dengan ideologi Kapitalisme dan Komunisme. Di dalam ideologi Kapitalisme dan komunisme, agama bagian luar dari ideologi, sedang di dalam Pancasila, agama built in dan include.

    Khilafah tidak mungkin bisa mengganti posisi Pancasila, karena khilafah bukan puncak ajaran agama-agama di Indonesia. Khilafah hanya fiqih ranting kecil dari ajaran agama Islam. Khilafah terlalu kecil dan lemah untuk bisa mempertemukan puncak-puncak dari ajaran agama di Indonesia.

    Kecuali dengan sistem paksa di bawah todongan senjata. Akan tetapi itu hanya teori di atas kertas. Pada kenyataannya sistem paksa di bawah todongan senjata memicu perlawanan bersenjata juga. Melahirkan konflik kekerasan tak berujung. Walhasil khilafah menjadi sumber konflik. Bandung, 13 Juni 2020. (post)

    Oleh Ayik Heriansyah
    Pengurus LD PWNU Jabar

     

  • DIALOG GUS DUR DAN SANTRI

    DIALOG GUS DUR DAN SANTRI

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI

    Santri : “Ini semua gara-gara Nabi Adam, ya Gus!”
    Gus Dur : “Loh, kok tiba-tiba menyalahkan Nabi Adam, kenapa Kang.”
    Santri : “Lah iya, Gus. Gara-gara Nabi Adam dulu makan buah terlarang, kita sekarang merana. Kalau Nabi Adam dulu enggak tergoda Iblis kan kita anak cucunya ini tetap di surga. Enggak kayak sekarang, sudah tinggal di bumi, eh ditakdirkan hidup di Negara terkorup, sudah begitu jadi orang miskin pula. Emang seenak apa sih rasanya buah itu, Gus?”
    Gus Dur : “Ya tidak tahulah, saya kan juga belum pernah nyicip. Tapi ini sih bukan soal rasa. Ini soal khasiatnya.”
    Santri : “Kayak obat kuat aja pake khasiat segala. Emang Iblis bilang khasiatnya apa sih, Gus? Kok Nabi Adam bisa sampai tergoda?”
    Gus Dur : “Iblis bilang, kalau makan buah itu katanya bisa menjadikan Nabi Adam abadi.”
    Santri : “Anti-aging gitu, Gus?”
    Gus Dur : “Iya. Pokoknya kekal.”
    Santri : “Terus Nabi Adam percaya, Gus? Sayang, iblis kok dipercaya.”
    Gus Dur : “Lho, Iblis itu kan seniornya Nabi Adam.”
    Santri : “Maksudnya senior apa, Gus?”
    Gusdur : “Iblis kan lebih dulu tinggal di surga dari pada Nabi Adam dan Siti Hawa.”
    Santri : “Iblis tinggal di surga? Masak sih, Gus?”
    Gus Dur : “Iblis itu dulunya juga penghuni surga, terus di usir, lantas untuk menggoda Nabi Adam, iblis menyelundup naik ke surga lagi dengan berserupa ular dan mengelabui merak sang burung surga, jadi iblis bisa membisik dan menggoda Nabi Adam.”
    Santri : “Oh iya, ya. Tapi, walau pun Iblis yang bisikin, tetap saja Nabi Adam yang salah. Gara–garanya, aku jadi miskin kayak gini.”
    Gus Dur : “Kamu salah lagi, Kang. Manusia itu tidak diciptakan untuk menjadi penduduk surga. Baca surat Al-Baqarah : 30. Sejak awal sebelum Nabi Adam lahir… eh, sebelum Nabi Adam diciptakan, Tuhan sudah berfirman ke para malaikat kalo Dia mau menciptakan manusia yang menjadi khalifah (wakil Tuhan) di bumi.”
    Santri : “Lah, tapi kan Nabi Adam dan Siti Hawa tinggal di surga?”
    Gus Dur : “Iya, sempat, tapi itu cuma transit. Makan buah terlarang atau tidak, cepat atau lambat, Nabi Adam pasti juga akan diturunkan ke bumi untuk menjalankan tugas dari-Nya, yaitu memakmurkan bumi. Di surga itu masa persiapan, penggemblengan. Di sana Tuhan mengajari Nabi Adam bahasa, kasih tahu semua nama benda. (lihat Al- Baqarah : 31).
    Santri : “Jadi di surga itu cuma sekolah gitu, Gus?”
    Gus Dur : “Kurang lebihnya seperti itu. Waktu di surga, Nabi Adam justru belum jadi khalifah. Jadi khalifah itu baru setelah beliau turun ke bumi.”
    Santri : “Aneh.”
    Gus Dur : “Kok aneh? Apanya yang aneh?”
    Santri : “Ya aneh, menyandang tugas wakil Tuhan kok setelah Nabi Adam gagal, setelah tidak lulus ujian, termakan godaan Iblis? Pendosa kok jadi wakil Tuhan.”
    Gus Dur : “Lho, justru itu intinya. Kemuliaan manusia itu tidak diukur dari apakah dia bersih dari kesalahan atau tidak. Yang penting itu bukan melakukan kesalahan atau tidak melakukannya. Tapi bagaimana bereaksi terhadap kesalahan yang kita lakukan. Manusia itu pasti pernah keliru dan salah, Tuhan tahu itu. Tapi meski demikian nyatanya Allah memilih Nabi Adam, bukan malaikat.”
    Santri : “Jadi, tidak apa-apa kita bikin kesalahan, gitu ya, Gus?”
    Gus Dur : “Ya tidak seperti itu juga. Kita tidak bisa minta orang untuk tidak melakukan kesalahan. Kita cuma bisa minta mereka untuk berusaha tidak melakukan kesalahan. Namanya usaha, kadang berhasil, kadang enggak.”
    Santri : “Lalu Nabi Adam berhasil atau tidak, Gus?”
    Gus Dur : “Dua-duanya.”
    Santri : “Kok dua-duanya?”
    Gus Dur : “Nabi Adam dan Siti Hawa melanggar aturan, itu artinya gagal. Tapi mereka berdua kemudian menyesal dan minta ampun. Penyesalan dan mau mengakui kesalahan, serta menerima konsekuensinya (dilempar dari surga), adalah keberhasilan.”
    Santri : “Ya kalo cuma gitu semua orang bisa. Sesal kemudian tidak berguna, Gus.”
    Gus Dur : “Siapa bilang? Tentu saja berguna dong. Karena menyesal, Nabi Adam dan Siti Hawa dapat pertobatan dari Tuhan dan dijadikan khalifah (lihat Al-Baqarah: 37). Bandingkan dengan Iblis, meski sama-sama diusir dari surga, tapi karena tidak tobat, dia terkutuk sampe hari kiamat.”
    Santri : “Ooh…”
    Gus Dur : “Jadi intinya begitulah. Melakukan kesalahan itu manusiawi. Yang tidak manusiawi, ya yang iblisi itu kalau sudah salah tapi tidak mau mengakui kesalahannya justru malah merasa bener sendiri, sehingga menjadi sombong.”
    Santri : “Jadi kesalahan terbesar Iblis itu apa, Gus? Tidak mengakui Tuhan?”
    Gus Dur : “Iblis bukan atheis, dia justru monotheis. Percaya Tuhan yang satu.”
    Santri : “Masa sih, Gus?”
    Gus Dur : “Lho, kan dia pernah ketemu Tuhan, pernah dialog segala kok.”
    Santri : “Terus, kesalahan terbesar dia apa?”
    Gus Dur : “Sombong, menyepelekan orang lain dan memonopoli kebenaran.”
    Santri : “Wah, persis cucunya Nabi Adam juga tuh.”
    Gus Dur : “Siapa? Ente?”
    Santri : “Bukan. Cucu Nabi Adam yang lain, Gus. Mereka mengaku yang paling bener, paling sunnah, paling ahli surga. Kalo ada orang lain berbeda pendapat akan mereka serang. Mereka tuduh kafir, ahli bid’ah, ahli neraka. Orang lain disepelekan. Mereka mau orang lain menghormati mereka, tapi mereka tidak mau menghormati orang lain. Kalau sudah marah nih, Gus. Orang-orang ditonjokin, barang-barang orang lain dirusak, mencuri kitab kitab para ulama. Setelah itu mereka bilang kalau mereka pejuang kebenaran. Bahkan ada yang sampe ngebom segala loh.”
    Gus Dur : “Wah, persis Iblis tuh.”
    Santri : “Tapi mereka siap mati, Gus. Karena kalo mereka mati nanti masuk surga katanya.”
    Gus Dur : “Siap mati, tapi tidak siap hidup.”
    Santri : “Bedanya apa, Gus?”
    Gus Dur : “Orang yang tidak siap hidup itu berarti tidak siap menjalankan agama.”
    Santri : “Lho, kok begitu?”
    Gus Dur : “Nabi Adam dikasih agama oleh Tuhan kan waktu diturunkan ke bumi (lihat Al- Baqarah: 37). Bukan waktu di surga.”
    Santri : “Jadi, artinya, agama itu untuk bekal hidup, bukan bekal mati?”
    Gus Dur : “Pinter kamu, Kang!”
    Santri : “Santrinya siapa dulu dong? Gus Dur.”

    Sumber : Perpustakaan Universitas Menyan Indonesia (UMI)

  • KYAI ABDUL HAQ, TOKOH ASWAJA IDOLA ZAMAN

    KYAI ABDUL HAQ, TOKOH ASWAJA IDOLA ZAMAN

    SORBANSANTRI.COM
    (Oleh ; Maemun Abdul Ghofur)
    SORBAN SANTRI- Pertama Saya mengaji pada beliau adalah tahun 2003 di Lirboyo. Saya ngaji ushul fiqh saat itu. Dan sekarang, alhamdulillah walaupun melalui medsos, Saya masih dapat melanjutkan belajar pada beliau.

    Tulisan ini dipersembahkan untuk mereka yang mencari sosok panutan dalam bertauhid. Di sini Saya sekaligus ingin berbagi pengalaman mengaji kepada beliau.

    Sepanjang mengikuti pengajian beliau yang disiarkan di Facèbook secara live, ada 3 kelebihan beliau yang selalu membuat saya ketagihan mengikutinya.

    1. Kekayaan Bahasa

    Bahasa Arab adalah bahasa yang kaya akan makna. Bahkan dari sekian banyaknya bahasa, Allah memilihnya sebagai ‘penerjemah’ untuk menyampaikan pesan kepada umat manusia. Sebagai santri tulen, Kang Abdul Haq memiliki segudang wawasan tentang ilmu bahasa Arab, keunggulan balaghoh dan kekayaan mufrodat. Kita bisa melihatnya ketika beliau menyampaikan sebuah dalil ataupun mengenalkan istilah. Terkadang dalam satu istilah beliau menerjemahkannya dengan beberapa pilihan bahasa sehingga penyimak seperti disuguhi ‘makanan’ mana yang ia mau.
    Beliau selalu menempatkan bahasa sesuai pada muqtadho-nya. Dengan keluasan wawasan, kekayaan bahasa dan pengetahuan riwayat yang valid, beliau selalu tepat dalam memilih kata untuk menerjemahkan uniknya bahasa Arab dengan tetap menyediakan kata yang murodif yang mungkin bisa lebih difahami.

    2. Kekayaan Maqolah

    Dalam menjelaskan kitab, beliau bukan hanya sekedar membantu menerjemahkan, namun juga memberi ta’liqot dan tidak jarang mengutip maqolah-maqolah dari luar kitab sehingga kitab yang kecil-pun terasa sekali kekayaan faidahnya. Cara beliau menjabarkan seperti sedang ‘menyuapi’ kita dengan tambahan ‘lauk-pauk’ yang gurih, sehingga kita disadarkan dari berbagai hal yang dulu mungkin pernah terlintas namun sudah terlupa. Metode seperti inilah yang membuat pengajian beliau tidak membosankan seperti yang umumnya kita temui dari pengajian-pengajian kitab kuning. Seakan-akan beliau mengajari kita cara yang benar dalam ber-turats.
    Beliau juga tidak pelit untuk menceritakan khilafiyah-khilafiyah secara detil berikut referensinya. Contohnya ketika beliau berbicara tentang ayat yang terakhir diturunkan, secara gamblang beliau terangkan berikut riwayat-riwayat valid yang dinukil. Lagi-lagi ini menyadarkan kita bahwa mengaji tidak cukup dengan membaca dan mengiyakan, namun juga harus kritis, rewel menyelidiki validitas riwayat dan terbuka dengan khilafiyah.

    3. Pengayom Aqidah

    Dalam ber-teologi, beliau tergolong guru yang bijak namun tegas. Tidak jarang beliau mengingatkan kesalahan-kesalahan kita dalam mengucapkan kata yang berkaitan dengan tauhid. Contohnya dalam menjelaskan kata “Al Qoyyum”, beliau menjelaskan makna Qoyyum sekaligus mengingatkan kita bahwa “Qayyum” itu nama/ sifat Allah yang tidak semestinya kita gunakan untuk memanggil seseorang bernama Abdul Qoyyum.

    Sebagai pentolan Aswaja, beliau juga tergolong kyai yang sangat mengayomi aqidah umatnya, terutama dari pemikiran-pemikiran yang bathil. Dalam pengajian-pengajiannya, Saya sering menyaksikan kelihaian beliau dalam mendemonstrasikan argumen burhani ketika membahas isu-isu khilafiyah dengan madzhab-madzhab yang dianggap keluar dari jalur Aswaja. Beliau tidak perlu ngotot, mengejek atau nyinyir dalam menelanjangi kebathilan maupun menunjukkan lemahnya argumentasi lawan. Kemahiran dan akhlak yang terkawinkan dalam diri beliau, menjadikannya sosok yang amat patut menjadi idola kaum Aswaja masa-kini.

    Semoga Allah panjangkan umurnya, berkahi halaqahnya dan juga murid-muridnya.
    (PCNU BREBES)

  • Menjenguk Mantan Satkorcab BANSER Manado

    Menjenguk Mantan Satkorcab BANSER Manado

    SORBANSANTRI.COM

    Banser Satkorwil Kalsel– Kamis, 11 Juni 2020 Siang, kami menjenguk sahabat kami yang terbaring sakit sdr. Michael “KELO” Djamal ().
    Sakitnya agak unik, sdh krg lbh 1 tahun ybs mulai merasakan sesuatu yang tdk enak/sakit lalu melalukan pengobatan medis, namun semakin menjadi2 sakitnya dan dianggap sedikit aneh krn dokter tdk menemukan unsur penyakitnya, maka keluarga mencoba menempuh pengobatan alternatif (sdh beberapa jenis).
    Penyakit yang dialaminya adalah sdh krg lbh 4 bln badannya semakin menurun (kurus) tapi secar fisik tdk terlalu terasa sakit.
    Bahkan kedatangan kami kemarin, diterima oleh ayahnya dan ibu tiri yang dengan ikhlas dan tulus merawat ybs (kami bangga dgn ortunya), Kelo berbicara dan bahkan masih bisa bercanda artinya semangat hidupnya begitu kuat, secara fisik dia sakit tapi mentalnya sehat.
    Kami berbincang dgn Ayahnya bhw sdh seminggu ini ybs sdh mulai ada perubahan, makannya sdh lancar, diberikan minuman susu khusus (1 kaleng 700.000) dan madu itu saran dokter.
    Satu hal yang membuat saya terkejut, ketika kami akan pamit dan minta utk memanjatkan doa untuknya, justru dia meminta untuk memanjatkan doa untuk kami (Ka Ulyas boleh saya minta berdoa utk Ka Ulyas dan teman2? Kan doa orang sakit itu makbul kan kak, begitu yang dia sampaikan) Subhanallah, dgn kondisi sakit seperti itu dia tdk memimirkan utk dirinya tapi justru berpikir utk kebaikan dan kemaslahatan orang lain, maka karena itu permintaannya, yah kami persilahkan, dan dgn sedikit meneteskan air mata saya mendengarkan doanya yang luar biasa utk saya pribadi, kami semua yang datang dan untuk NU.
    Ya Allah, Engkau Maha Penyembuh, sembuhkanlah sahabat kami ini, hatinya begitu mulia.
    Allahumma rabbannas, ajhibil ba’sa, isfi anta safii la sifaa illa sifauka sifaan, laa yugadiru sakama.(ulyas taha)