Blog

  • HABIB HUSEIN AL-MUTHAHAR, PENCIPTA LAGU “17 AGUSTUS TAHUN 45”

    HABIB HUSEIN AL-MUTHAHAR, PENCIPTA LAGU “17 AGUSTUS TAHUN 45”

    11896301_863845910372749_2690254194349858487_o

    cyberaswaja.online- Habib Muhammad Husein Muthahar tidak hanya dikenal sebagai penyelamat bendera pusaka dan pendiri Paskibraka saja, tetapi beliau juga seorang komponis lagu Indonesia yang hebat. Habib yang dikenal dengan nama H. Mutahar ini telah menghasilkan ratusan lagu Indonesia, seperti lagu nasional Hari Merdeka, Hymne Syukur, Hymne Pramuka, Dirgayahu Indonesiaku, juga lagu anak-anak seperti Gembira, Tepuk Tangan Silang-silang, Mari Tepuk, dan lain-lain. Lagu Hari Merdeka dan Hymne Syukur adalah salah satu lagu fenomenal yang diciptakan oleh Habib Muhammad Husein Muthahar.

    Terkait penciptaan lagu Hari Merdeka, ada satu cerita yang menarik. Ternyata inspirasi lagu Hari Merdeka ini muncul secara tiba-tiba saat beliau sedang berada di toilet salah satu hotel di Yogyakarta. Bagi seorang komponis, setiap inspirasi tidak boleh dibiarkan lewat begitu saja. Beliau pun cepat-cepat meminta bantuan Pak Hoegeng Imam Santoso (Kapolri pada 1968–1971). Saat itu Pak Hoegeng belum menjadi Kapolri.

    Sang Habib menyuruh Pak Hoegeng untuk mengambilkan kertas dan bolpoin. Berkat bantuan Pak Hoegeng, akhirnya jadilah sebuah lagu yang kemudian diberi judul “Hari Merdeka”. Sebuah lagu yang sangat fenomenal dan sangat terkenal yang banyak dinyanyikan oleh bangsa Indonesia, bahkan anak-anak pun sangat hafal dan pandai menyanyikannya.

    Berikut lirik lagu “Hari Merdeka” ciptaan Habib Muhammad Husein Muthahar:

    Tujuh belas Agustus tahun empat lima
    Itulah hari kemerdekaan kita
    Hari merdeka Nusa dan Bangsa
    Hari lahirnya bangsa Indonesia
    Merdeka

    Sekali merdeka tetap merdeka
    Selama hayat masih di kandung badan
    Kita tetap setia tetap sedia
    Mempertahankan Indonesia
    Kita tetap setia tetap sedia
    Membela negara kita

    Selain “Hari Merdeka”, lagu berikut juga menjadi karya fenomenal beliau. Judulnya “Syukur”. Lagu ini tercipta dibuatnya pada tanggal 7 September 1944 setelah menyaksikan banyak warga Semarang, kota kelahirannya, bisa bertahan hidup dengan hanya memakan bekicot. Berikut lirik lagunya:

    Dari yakinku teguh
    Hati ikhlasku penuh
    Akan karuniamu
    Tanah Air pusaka
    Indonesia merdeka
    Syukur aku sembahkan
    KehadiratMu Tuhan

    Sekilas Tentang Habib Husein Muthahar

    “Husein Mutahar”, begitu nama latinnya, lahir di Semarang, Jawa Tengah pada tanggal 5 Agustus 1916. Perjalanan pendidikan formalnya dimulai dari ELS (Europese Lagere School atau sama dengan SD Eropa selama 7 tahun) , kemudian dilanjutkan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Ondewwijs atau sama dengan SMP selama 3 tahun) dan dilanjutkan ke AMS (Algemeen Midelbare School atau sama dengan SMA selama 3 tahun) Jurusan Sastra Timur khususnya Bahasa Melayu, di Yogyakarta. Kemudian beliau melanjutkan ke Universitas Gajah Mada dengan mengambil Jurusan Hukum dan Sastra Timur dengan khusus mempelajari Bahasa Jawa Kuno. Namun perkuliahannya hanya 2 tahun, drop out (DO) karena harus ikut berjuang.

    Habib Husein Muthahar terlibat Pramuka sejak awal lembaga kepanduan berdiri. Beliau adalah salah seorang tokoh utama Pandu Rakyat Indonesia, gerakan kepanduan independen yang berhaluan nasionalis. Ia juga dikenal anti-komunis. Ketika seluruh gerakan kepanduan dilebur menjadi Gerakan Pramuka, Habib Husein Muthahar juga menjadi tokoh di dalamnya.

    Dalam kehidupan berorganisasi, pengalaman beliau adalah sbb :
    1. Ikut mendirikan dan bergerak sebagai pemimpin Pandu serta kemudian menjadi anggota Kwartir Besar Organisasi Persatuan dan Kesatuan Kepanduan Nasional Indonesia “Pandu Rakyat Indonesia”, 28-12-1945 s.d. 20-5-1961.
    2. Ikut mendirikan dan bergerak sebagai Pembina Pramuka, duduk sebagai anggota Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Andalan Nasional Urusan Latihan, 1961-1969.
    3. Sekretaris Jenderal Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka, 1973 -1978, dan anggota biasa, 1978-2004.

    Habib Muhammad Husein Muthahar, yang juga mantan duta besar Italia ini, kemudian meninggal dunia di Jakarta tanggal 9 Juni 2004 di usia 88 tahun. Walaupun beliau berhak dimakamkan di Makam Taman Pahlawan Kalibata karena memiliki Tanda Kehormatan Negara Bintang Mahaputera atas jasanya menyelamatkan Bendera Pusaka Merah Putih dan juga memiliki Bintang Gerilya atas jasanya ikut berperang gerilya pada tahun 1948-1949, tetapi beliau tidak menginginkan itu. Sesuai dengan wasiat beliau, akhirnya pada 9 Juni 2004 beliau dimakamkan sebagai rakyat biasa di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut Jakarta Selatan. (foto ulama’ dan habaib)

  • MENGENANG ABAH SULAIMAN Al-LOSARY

    MENGENANG ABAH SULAIMAN Al-LOSARY

    cyberaswaja.online- Sebagai adik kandung yg juga muridnya hingga kini saya masih terheran-heran dg ahir kehidupan seorang kakaku yg orang-orang memanggilnya “Abah” itu. Setahu saya beliau bukan orang yg banyak melakukan “sembayang sunah atau puasa sunah”. Kalau boleh saya berkata sembayang dan puasa beliau pas-pasan saja.

    Namun di hari wafatnya saya dibuatnya kagum dan terheran, terlebih usia beliau yg cukup muda untuk dituakan dan dimusim pandemi yg mewajibkan PSBB. Sejak detik tersiar berita wafatnya ratusan orang berbondong-bondong untuk menyolati dan memberi penghormatan terahir pada beliau. Sekian ulama dan kyai sepuh menangisi kepergian almarhum. Seperti tidak lagi berlaku hukum PSBB di tempat wafatnya yg sempat dinyatakan sebagai zona merah ini. Bahkan dari kepolisian dan TNI menolak untuk diganti memikul jenazahnya hingga turut mengubur jenazahnya. Bahkan hingga tulisan ini saya buat rombongan-rombangan tamu masih berdatangan dirumah duka; dari dalam dan luar kota.

    Beliau itu bukan orang yg punya harta; beliau hanya anak petani yang hidupnya hanya pas-pasan saja. Namun cerita di ahir hanyatnya sungguh membuatku ingin tahu dan mengikuti jejaknya. Ya, siapa orangnya yg tak ingin kepergiannya ditangisi oleh ulama dan kyai? Perlahan saya sedikit memahami bahwa beliau ini pribadi yg sholeh sosialnya. Beliau seseorang yg mampu duduk bersama dan menghormati bahkan pada “bajingan dan pemabuk” sekalipun.

    Banyak dari santri-santrinya yg sebelumnya adalah bajingan, pemabuk dan jomblo putus asa. Selain itu, pengabdiannya pada NU yg totalitas yg mengalahkan segala kepentingan pribadinya bahkan kepentingan kesehatan dirinya sendiri. Ah.. Semoga saya bisa mengikuti jejak semangat juangnya yg tak kenal lelah itu. Amin..

    (Disarikan dari cerita santri dan sekian orang-orang yg kerap berinteraksi dan menyaksikan hidupnya).

  • DEKLARASI HUBUNGAN PANCASILA DENGAN ISLAM

    DEKLARASI HUBUNGAN PANCASILA DENGAN ISLAM

    102560557_685444312238624_8092535614861213696_n

    1. Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama.

    2. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang menjiwai sila-sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.

    3. Bagi Nahdlatul Ulama, Islam adalah akidah dan syari’ah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antarmanusia.

    4. Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syari’at agamanya.

    5. Sebagai konsekuensi dari sikap di atas, Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak.

    Situbondo, 16 Rabi’ul Awwal 1404 H/ 21 Desember 1983 M
    Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdlatul Ulama

    SELAMAT HARI LAHIR PANCASILA
    1 JUNI 1945 – 1 JUNI 2020

  • Nadzom Pancasila oleh keturunan Arab di Purwakarta beraksara Arab Sunda

    Nadzom Pancasila oleh keturunan Arab di Purwakarta beraksara Arab Sunda

    cyberaswaja.online- Keberadaan kampung Arab Yaman adalah sebuah kampung yang didalamnya terdapat sebuah komunitas orang-orang keturunan Arab Yaman yang terletak di Pasar Rebo Purwakarta, yang terletak di Kelurahan Nagri Kidul, mulai.

    Keberadaan orang-orang keturunan Arab Yaman ini berada sejak Abad ke-21, tepatnya pada tahun 1885 orang-orang Arab Yaman mulai berdatangan ke Indonesia melalui kapal uap yaitu melalui jalur laut dan setelah itu menyebar ke kepulauan Indonesia, dan akhirnya menyebar di wilayah-wilayah Indonesia dan sampailah ke Purwakarta.

    Setelah kedatangan orang-orang Arab Yaman ke Purwakarta lalu mereka membuka sebuah perkampungan dan mereka mulai berkembang di Purwakarta, selain berdagang orang-orang keturunan Arab Yaman ini, juga melakukan syi’ar Islam dan perkembangan orang-orang keturunan Arab Yaman ini melalui pernikahan dengan orang-orang pribumi warga Pasar Rebo Purwakarta, dan dari situlah orang-orang keturunan Arab mulai berkembang di Pasar Rebo Purwakarta.
    Dan mulai berbaur dengan orang-orang pribumi.

    Terbentuknya orang-orang keturunan Arab Yaman ini ketika pada abad ke-20 tepatnya pada tahun 1900. Dengan terbentuknya orang-orang keturunan Arab Yaman ini mereka mulai membentuk sarana-sarana keagamaan, perekonomian dan pendidikan.

    Dalam keagamaan, orang-orang keturunan Arab Yaman ini mendirikan Mesjid, yaitu Mesjid yang bernama Ar-Raudlah atau yang dikenal dengan Mesjid Arab. Dalam bidang perekonomian orang-orang keturunan Arab Yaman ini mendirikan sebuah Pasar yang Pasar ini dinamai Pasar Rebo dan sampai saat ini Pasar Rebo menjadi sumber kehidupan bagi warga Pasar Rebo sendiri baik dari luar warga Pasar Rebo.

    Dalam bidang pendidikan orang-orang keturunan Arab Yaman mendirikan sebuah sekolah yang bernama Madrasah Adabiyah Islamiyah yang dimana Madrasah ini sangat berperan bagi orang-orang diluar keturunan Arab Yaman atau bagi orang keturunan Arab Yaman di sekitar Pasar Rebo.

    Warga keturunan Arab di Purwakarta sudah ada sejak zaman perjuangan silam. Hingga kini, jumlah warga Purwakarta keturunan Arab yang merupakan penduduk Purwakarta berjumlah sekira 5.000 orang. “Secara umum, orang Arab di Indonesia itu lebih banyak dibandingkan dengan di negaranya sendiri,” katanya. Warga Purwakarta keturunan Arab itu sendiri mayoritas bermarga “Bajri”, diperkirakan jumlahnya mencapai 85 persen. Sedangkan sisanya yang 15 persen bermacam-macam marga, di antaranya ialah Hilabi (Zaidi), Alatas, Aljufri, Alhabsyi, Assegaf, Alhadad, Joban, dan lain-lain.

    Ditemukannya kitab Nadzom Pancasila yang menurut keterangan terbitan Oktober 1985 ini berisi tentang kaidah penjelasan Pancasila “ini nadzom berisikan dasar negara Indonesia yang tidak bertentangan dengan Al Quran dan Hadis”. Keterangan yang terdapat di cover kitab tersebut, dan keterangan diterbitkan oleh penerbit Joban Purwakarta.(red)

  • ASAL USUL HALAL BIHALAL

    ASAL USUL HALAL BIHALAL

    HALAL BI HALAL

    cyberaswaja.online- Penggagas istilah “Halal bi Halal” ini adalah KH Abdul Wahab Chasbullah. Ceritanya begini: Setelah Indonesia merdeka 1945, pada tahun 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum. Sementara pemberontakan terjadi dimana-mana, diantaranya DI/TII, PKI Madiun.

    Pada tahun 1948, yaitu dipertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara, untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat. Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturrahim, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahmi.

    Lalu Bung Karno menjawab, “Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain”.

    “Itu gampang”, kata Kiai Wahab.

    “Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah ‘halal bi halal’, jelas Kiai Wahab.

    Dari saran Kiai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahmi yang diberi judul ‘Halal bi Halal’ dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

    Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno menyelenggarakan Halal bi Halal yang kemudian diikuti juga oleh warga masyarakat secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama. Jadi Bung Karno bergerak lewat instansi pemerintah, sementara Kiai Wahab menggerakkan warga dari bawah. Jadilah Halal bi Halal sebagai kegiatan rutin dan budaya Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri seperti sekarang.

    Kalau kegiatan halal bihalal sendiri, kegiatan ini dimulai sejak KGPAA Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa. Setelah Idul Fitri, beliau menyelenggarakan pertemuan antara raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana.

    Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Kemudian budaya seperti ini ditiru oleh masyarakat luas termasuk organisasi keagamaan dan instansi pemerintah.akan tetapi itu baru kegiatannya bukan nama dari kegiatannya. kegiatan seperti dilakukan Pangeran Sambernyawa belum menyebutkan istilah “Halal bi Halal”, meskipun esensinya sudah ada.

    Tapi istilah “halal bi halal” ini secara nyata dicetuskan oleh KH. Wahab Chasbullah dengan analisa pertama (thalabu halâl bi tharîqin halâl) adalah: mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan. Atau dengan analisis kedua (halâl “yujza’u” bi halâl) adalah: pembebasan kesalahan dibalas pula dengan pembebasan kesalahan dengan cara saling memaafkan.

    Wallahul Muwaffiq ila Aqwamith Thoriq
    KH Masdar Farid Mas’udi
    Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

    Sumber : MWC NU Wedarijaksa [dari NU Online]

  • 9 JENDRAL TERHEBAT SEPANJANG SEJARAH ISLAM

    9 JENDRAL TERHEBAT SEPANJANG SEJARAH ISLAM

    Generasi-Shalahuddin-Al-Ayubi-1280x720

    SALAHUDDIN AL AYYUBI

    Dunia mengenalnya sebagai salah satu tokoh pemimpin terbesar. Dialah juga merupakan salah satu tokoh terbesar dalam Perang Salib. Namanya dikenal luas takkala ia dapat menaklukkan kerajaan Jerusalem yang ketika itu dipimpin oleh Guy The Lusignan Raja Jerusalem. Pasukan Shalahuddin dikenal sebagai pasukan yang pemberani dibawah pimpinannya. Bernama lengkap Salahuddin Al-Ayubi yang dikenal didunia barat sebagai Saladin terlahir dari keluarga Kurdish di kota Tikrit (140km barat laut kota Baghdad) dekat sungai Tigris pada tahun 1137M. Masa kecilnya selama sepuluh tahun dihabiskan belajar di Damaskus di lingkungan anggota dinasti Zangid yang memerintah Syria, yaitu Nur Ad-Din atau Nuruddin Zangi.

    1490682815170
    ABDULLAH BIN AAMIR

    Abdullah bin Aamir (bahasa Arab:عبدالله بن عامر ) adalah gubernur Busrha (647–656) dan merupakan jenderal militer yang sangat sukes pada masa pemerintahan Khalifah Rasyidin Utsman bin Affan. Dia dikenal atas kehebatannya dalam administrasi dan militer.

    Screenshot_201
    AMR BIN ASH

    Namanya adalah Amr bin Ash bin Wail bin Hisyam bin Said bin Sahm al-Qurasyi as-Sahmi. Di antara jasa besarnya adalah ketika Umar bin Khattab mengamanatinya untuk menaklukkan Mesir, dan dia berhasil menunaikan amanat tersebut. Amr merupakan salah seorang pahlawan bangsa Arab yang sangat terkenal, sekaligus seorang politisi yang cemerlang. Terkenal dengan kecerdasan dan kepintarannya mengatur siasat.

    Screenshot_202
    TARIQ BIN ZIYAD

    Thariq bin Ziyad (670 – 720) (Bahasa Arab: طارق بن زياد), dikenal dalam sejarah Spanyol sebagai legenda dengan sebutan Taric el Tuerto(Taric yang memiliki satu mata), adalah seorang jendral dari dinasti Umayyah yang memimpin penaklukan muslim atas wilayah Al-Andalus (Spanyol, Portugal, Andorra, Gibraltar dan sekitarnya) pada tahun 711 M.

    Screenshot_203
    SYURAHBIL BIN HASANAH

    Adalah sahabat Muhammad. Dia merupakan salah satu komandan tersukes dalam pasukan Rasyidin, bertugas di bawah Khalifah Rasyidin Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Dia merupakan salah satu komandan lapangan utama selama penaklukan Muslim di Suriah, bertugas sejak tahun 634 hingga kematiannya pada tahun 639 akibat wabah.

    Khalid-bin-Walid-Panglima-Perang-yang-Dipecat-Karena-Tak-Pernah-Berbuat-Kesalahan-1
    KHALID BIN WALID

    Khalid ibn al-Walid, atau sering disingkat Khalid bin Walid, adalah seorang panglima perang pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin yang termahsyur dan ditakuti di medan perang serta dijuluki sebagai Saifullah Al-Maslul (pedang Allah yang terhunus). Dia adalah salah satu dari panglima-panglima perang penting yang tidak terkalahkan sepanjang kariernya, terkenal sebagai panglima tertinggi untuk Nabi Muhammad dan penerus-penerusnya. Dibawah kepemimpinan militernya lah Arabia untuk pertama kalinya dalam sejarah membentuk entitas politik yang bersatu, Kekhalifahan.

    Mengkomandani pasukan muslim yang baru, dia tak terkalahkan lebih dari seratus pertempuran termasuk melawan Kekaisaran Byzantium, Kekaisaran Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka termasuk juga suku-suku Arab di luar kekuasaan Khalifah. Pencapaian strategis dia ialah penaklukan Arab, Persia Mesopotamia dan Suriah Romawi hanya dalam waktu empat tahun pada tahun 632 ke 636. Kemenangan-kemenangan yang terkenal darinya ialah kemenangan telak pada Pertempuran Yamama, Pertempuran Ullais dan Pertempuran Firaz, dan kesuksesan taktis pada Pertempuran Walaja dan Pertempuran Yarmuk.

    57990_09461711092019_muhamad_al_fatih
    MUHAMMAD AL FATIH

    Muhammad al-Fatih adalah salah seorang raja atau sultan Kerajaan Utsmani yang paling terkenal. Ia merupakan sultan ketujuh dalam sejarah Bani Utsmaniah. Al-Fatih adalah gelar yang senantiasa melekat pada namanya karena dialah yang mengakhiri atau menaklukkan Kerajaan Romawi Timur yang telah berkuasa selama 11 abad.

    Sultan Muhammad al-Fatih memerintah selama 30 tahun. Selain menaklukkan Binzantium, ia juga berhasil menaklukkan wilayah-wilayah di Asia, menyatukan kerajaan-kerajaan Anatolia dan wilayah-wilayah Eropa, dan termasuk jasanya yang paling penting adalah berhasil mengadaptasi menajemen Kerajaan Bizantium yang telah matang ke dalam Kerajaan Utsmani.

    Screenshot_204
    SA’AD BIN ABI WAQQASH

    Kepahlawanan Sa’ad bin Abi Waqqas tertulis dengan tinta emas saat memimpin pasukan Islam melawan melawan tentara Persia di Qadissyah. Peperangan ini merupakan salah satu peperangan terbesar umat Islam.

    Bersama tiga ribu pasukannya, ia berangkat menuju Qadasiyyah. Di antara mereka terdapat sembilan veteran perang Badar, lebih dari 300 mereka yang ikut serta dalam ikrar Riffwan di Hudaibiyyah, dan 300 di antaranya mereka yang ikut serta dalam memerdekakan Makkah bersama Rasulullah. Lalu ada 700 orang putra para sahabat, dan ribuan wanita yang ikut serta sebagai perawat dan tenaga bantuan.

    Pasukan ini berkemah di Qadisiyyah di dekat Hira. Untuk melawan pasukan Muslim, pasukan Persia yang siap tepur berjumlah 12O ribu orang dibawah panglima perang kenamaan mereka, Rustum.

    12-1
    ABU UBAIDAH BIN ALJARRAH

    Abu Ubaidah bin al-Jarrah adalah Muhajirin dari kaum Quraisy Mekkah yang termasuk paling awal untuk memeluk agama Islam. Ia ikut berhijrah ke Habasyah (saat ini Ethiopia) dan kemudian, Ia hijrah ke Madinah. Ia mengikuti setiap pertempuran dalam membela Islam. Setelah wafatnya Nabi Muhammad, Ia merupakan salah satu calon Khalifah bersama dengan Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

    Setelah terpilihnya Abu Bakar sebagai Khalifah, Dia ditunjuk untuk menjadi panglima perang memimpin pasukan Muslim untuk berperang melawan Kekaisaran Romawi. Ia meninggal disebabkan oleh wabah penyakit.

  • PANCASILA MEMANG BUKAN WAHYU ILAHI, NAMUN IA FIKRUL ISLAMI

    PANCASILA MEMANG BUKAN WAHYU ILAHI, NAMUN IA FIKRUL ISLAMI

    PENDIDIKAN_Tanamkan-Nilai-nilai-Pancasila-Sejak-Dini

    Oleh: Ayik Heriansyah
    Pengurus LD PWNU Jabar

    cyberaswaja.online- Ketakutan kaum radikal yang mau mendirikan khilafah akan diberangus pemerintah sampai ke akar-akarnya karena gerakan mereka ingin mengganti ideologi negara, membuat mereka terus menerus melancarkan propaganda anti Pancasila, membenturkan Pancasila dan agama, mem-bully Pancasila serta mendelegitimasi Pancasila secara membabi buta.

    Membabi buta karena mereka menolak Pancasila tanpa membaca, mengkaji, menghayati dan menjiwai Pancasila dengan objektif dan ilmiah terlebih dahulu. Mereka sebenarnya panik.

    Masih segar dalam ingatan kita, bagaimana M. Ismail Yusanto (Juru bicara HTI) gagap, gugup, salah tingkah dan serba salah ketika ditanya Aiman Wicaksono dari Kompas TV 15 Juni 2017, tentang apakah Pancasila tetap ada ketika khilafah tegak?

    Bahasa tubuh M. Ismail Yusanto menjawab, “Pancasila akan lenyap”. Namun jawaban ini ditutupi dengan lisannya. Dia berkelit berusaha mengaburkan/mengabstrakkan masalah dengan mengatakan bahwa proses dialektis masyarakat yang akan menentukan Pancasila tetap atau lenyap ketika khilafah berdiri.

    Fanatisme kelompok (ashabiyah) terlalu membebani kaum radikal. Ditambah obsesi untuk menegakkan khilafah terlalu membuncah, membuatnya mereka kehilangan objektivitas dan selalu emosional dalam menyikapi narasi-narasi yang mendukung NKRI.

    Seandainya mereka bersikap rasional, dengan paradigm tasyri’i, sejatinya sudah sangat jelas dan gamblang bahwa Pancasila adalah ajaran yang islami. Karena islami, Pancasila sebagai sebuah ajaran, sakti dan abadi.

    Faktanya memang Pancasila bukan wahyu ilahi. Pancasila tidak tercantum dalam al-Qur’an dan hadits. Pancasila bukan nash. Cara berpikir kaum radikal yang wahabis, yaitu segala sesuatu harus ada nash, harus tertulis dan harus terbaca langsung dengan mata kepala adalah cara berpikir yang salah.

    Jumlah ayat dan hadits terbatas. Al-Qur’an dan hadits tidak mencatat segala hal yang ada alam semesta ini. Al-Qur’an dan hadits juga tidak mencatat semua yang dipikirkan, dirasakan dan diperbuat oleh masing-masing orang. Kitab yang mencatat segala sesuatu itu namanya kitab Lauhul Mahfudz. Kitab ghaib, kita tidak bisa membacanya. Itu rahasia Allah swt. Saya yakin Pancasila tercatat dalam kitab tersebut.

    Kaum radikal salah besar saat mereka menolak Pancasila dengan dalih, Islam itu hanya yang ada nash-nya. Dalih ini tidak nyambung, sesat menurut logika. Benar, Pancasila bukan nash. Sebab itu keliru kalau kita sebut Pancasila ajaran Islam. Akan tetapi sila-sila Pancasila digali dari nash (sumber ajaran Islam) yakni al-Qur’an dan hadits melalui proses ijtihad pemikiran.

    Setiap sila dan butir-butirnya bersandar kepada dalil-dalil syara’. Tepat sekali kalau kita sebut Pancasila ajaran yang islami. Pancasila fikrul Islami. Sudah banyak ulama yang mengulasnya. Kaum radikal tinggal baca, kaji, pahami, jiwai dan adopsi. Bukan tempatnya kalau saya uraikan pada tulisan singkat ini.

    Yang penting, kaum radikal yang katanya ingin menegakkan syariah dapat bersikap adil dan beradab terhadap Pancasila. Anggaplah kaum radikal tidak sependapat dengan penjelasan para ulama tentang Pancasila, tetap tidak mengubah Pancasila sebagai fikrul islami.

    Selama nash dan dalil syara’ yang dijadikan sandaran para ulama menerima Pancasila tidak berubah, maka status Pancasila tetap fikrul islami. Ketidaksetujuan kaum radikal tidak bisa mengubah Pancasila menjadi ide kufur atau ajaran thaghut.

    Adab dan etika ikhtilaf dalam fiqih juga berlaku terhadap fikrul islami. Setiap orang harus sabar membiarkan orang lain berbeda pendapat dengannya. Jangan mencelanya, meruntuhkan kehormatannya apalagi menyebarkan fitnah. Fikrul islami tidak boleh diserang secara terbuka dengan maksud provokasi.

    Jika ingin dibahas, perbedaan pendapat tentang fikrul islami, dibahas dengan ilmiah secara terbatas sesama ulama dan tertutup untuk orang awam. Sangat disayangkan, isu agama dan Pancasila dijadikan bahan propaganda politik kaum radikal. Sangat tidak beradab dan tidak etis. Berhentilah menyerang Pancasila.

    #HubbulWathonMinalIman
    #SantriNU

    #SorBanSANTRINU

  • PENGAKUAN KADER PKS “CARA MENGHANCURKAN NKRI”

    PENGAKUAN KADER PKS “CARA MENGHANCURKAN NKRI”

    101675916_565592290815146_7158340933325422592_n

    cyberaswaja.online – Testimoni ini ditulis oleh seorang mantan kader PKS dari UI bernama Arbania Fitriani, sebagai “note” pribadi di facebook.

    Pertama-tama, saya menuliskan pengalaman saya ini tidak untuk menjatuhkan atau menjelek-jelekkan salah satu partai besar di Indonesia. Saya hanya ingin berbagi pengalaman untuk menjadi bahan renungan para pembaca agar dapat lebih mengenal PKS dari dalam.

    Tulisan ini dimaksudkan agar masyarakat dapat mengenal PKS secara objektif, agar rakyat Indonesia mengetahui apakah PKS benar-benar mengusung kepentingan rakyat Indonesia atau justru sedang mengkhianati masyarakat dan para kadernya sendiri dengan sentimen keagamaan serta jargon sebagai partai bersih. Sayangnya, banyak masyarakat dan orang-orang di dalam tubuh PKS ini pun tidak menyadarinya.

    Bagian tersebut akan saya jelaskan secara singkat di akhir cerita saya, dan sekarang saya ingin berbagi dulu kepada para pembaca mengenai sistem pengkaderan PKS yang sangat canggih dan sistematis sehingga dalam waktu singkat membuatnya menjadi partai besar.

    Saya waktu mahasiswa adalah kader PKS mulai dari ‘amsirriyah sampai ke ‘am jahriyah. Mulai dari saya masih sembunyi-sembunyi dalam berdakwah, sampai ke fase dakwah secara terang-terangan, sejak PKS masih bernama PK sampai kemudian menjadi PKS.

    Dalam struktur pengkaderan PKS di kampus, ada beberapa lingkaran, yakni lingkaran inti yang disebut majelis syuro’ah (MS), lingkaran kedua yang disebut majelis besar (MB), dan lingkaran tiga yang menjadi corong dakwah seperti senat (BEM), BPM (MPM), lembaga kerohanian islam.

    Jenjangnya adalah mulai dari lembaga dakwah tingkat jurusan, fakultas, sampai ke universitas. Jika di universitas tersebut terdapat asrama dan punya kegiatan kemahasiswaan, maka di sana pun pasti ada struktur seperti yang telah saya terangkan.

    Universitas biasanya akan berhubungan dengan PKS terkait perkembangan politik kampus maupun perkembangan politik nasional. Dari sanalah basis PKS dalam melakukan pergerakan-pergerakan politik dalam negeri atas nama mahasiswa, baik itu yang berwujud demonstrasi maupun pergerakan lainnya. Sistem pergerakan, pengkaderan dan struktur lingkaran yang terjadi di dunia kampus sama persis dengan yang terjadi di tingkat nasional.

    Kembali ke dalam struktur lingkaran PKS di kampus, orang-orang yang duduk di MS jumlahnya biasanya tidak banyak dan orang-orangnya adalah orang-orang yang terpilih. Kebanyakan yang menjadi anggota MS adalah mahasiswa yang memang sudah dikader sejak SMU. Tapi ada juga yang berhasil masuk ke dalam MS dari orang-orang yang telah dikader pada saat kuliah. Saya termasuk orang yang masuk ke dalam lingkaran MS yang baru dikader pada saat kuliah dan menduduki posisi sebagai mas’ulah di asrama UI sehingga saya punya akses langsung untuk berdiskusi dengan mas’ulah tingkat universitas. Dari sini juga saya akhirnya banyak tahu sistem dalam PKS meskipun saya pada tingkat fakultas hanya masuk sampai tingkat MB.

    Struktur MS dan MB memiliki mas’ul (pemimpin untuk anggota ikhwan) dan mas’ulah (pemimpin untuk anggota akhwat). Masing-masing mas’ul(ah) ini membawahi MS secara keseluruhan dan ada juga mas’ul(ah) yang membawahi sayap-sayap dakwah, yakni sayap tarbiyah (mengurusi pengkaderan khusus untuk ikhwah seperti pemetaan liqoat, materi liqoat, dll), sayap syiar (mengurusi syiar Islam, khususnya dalam lembaga kerohanian formal dan menjaring kader baru), dan sayap sosial & politik (mengurusi dakwah dalam bidang lembaga formal kampus, yakni BEM dan MPM).

    Di lingkaran kedua adalah majelis besar, anggotanya adalah ikhwah yang sudah dikader juga dan tinggal menerima keputusan dari MS untuk dilaksanakan. Jadi, MS ini adalah think-tank dari seluruh kegiatan yang terjadi di kampus. Apabila kader PKS duduk sebagai ketua BEM/Senat atau MPM/BPM, maka semua kegiatannya harus mendapat izin dari MS dan memang biasanya berbagai agenda di BEM/Senat dan MPM/BPM ini dibuat oleh MS.

    Bagaimana sistem pengkaderan PKS itu sendiri? Bagaimana PKS mengubah seorang menjadi kader yang militan?

    Jalan pertama adalah menguasai Senat, BEM, BPM, dan MPM. Apabila lembaga formal ini sudah dikuasai, akan mudah untuk membuat kebijakan terutama pada masa penerimaan mahasiswa baru.

    Saat orientasi mahasiswa baru biasanya mereka akan dibentuk menjadi kelompok kecil (halaqah) dan ikhwah PKS akan berperan sebagai mentor. Kegiatan ini akan berlanjut rutin selama masa perkuliahan di mana halaqah ini akan berkumpul 1 minggu sekali. Dari sinilah biasanya akan terjaring orang-orang yang kemudian akan menjadi ikhwan militan, bahkan orang yang sebelumnya tidak pakai jilbab dan sangat gaul bisa menjadi seorang akhwat yang sangat pemalu namun juga sangat militan.

    Agenda utama kami adalah membentuk Manhaj Islamiyah di Indonesia menuju Daulah Islamiyah (mirip dengan sistem Khilafah Islamiyah dari HTI). Doktrin utama dalam sistem jamaah PKS yang juga menamakan dirinya sebagai jamaah Ikhwanul Muslimin ini adalah “nahnu du’at qobla kulli sya’I” dan “sami’na wa ata’na”. Dua doktrin inilah yang membuat kami semua menjadi orang yang sangat loyal dan militan. Setiap instruksi yang diberikan dari mas’ul(ah) ataupun murabbi(ah) kami akan kami pasti patuhi meskipun kami tidak benar-benar paham tujuannya. Seperti menyumbang, mengikuti demonstrasi, meskipun harus bolos kuliah, dll.

    Selama saya aktif di pergerakan ini, saya melihat banyak sekali teman-teman saya yang berhenti menjadi Aktivis Dakwah Kampus (ADK). Dulu saya merasa kasihan kepada mereka, karena yang saya tahu — diberitahu oleh murabbi kami dan juga seringkali dibahas dalam taujih atau tausiyah (semacam kultum) — bahwa dalam jalan dakwah ini selalu akan ada orang-orang yang terjatuh di jalan dakwah. Mereka adalah orang-orang futur (berbalik ke belakang).

    Orang-orang ini biasanya kami label sebagai anggota “basah” (barisan sakit hati). Saya mempercayai semuanya sampai akhirnya saya pun merasa tidak cocok lagi untuk berada di sana dan memutuskan untuk keluar dari ADK, padahal saya dulu sudah diproyeksikan sebagai ADK abadi (orang yang akan menjadi aktivis dakwah kampus selamanya dengan cara menjadi dosen atau karyawan tetap di kampus).

    Ada beberapa alasan yang membuat saya mengambil keputusan untuk keluar, antara lain: Adanya eksklusivisme antara kami para ADK dengan orang-orang di luar ADK. Kami para ADK adalah orang-orang khos (orang khusus) dan mereka adalah adalah orang ’amah (orang umum). Orang khos adalah orang yang sudah mengikuti tarbiyah dan mengikuti liqo’at (semacam halaqah tapi lebih khusus lagi) dan orang ’amah adalah orang yang belum mengenal tarbiyah. Para ikhwah, terutama para ADK, tidak akan mau menikah dengan ’amah karena mereka dapat membuat orang khos seperti kami menjadi futur, bahkan bisa membuat kami terlempar dari jalan dakwah.

    Istilah khos dan a’amah ini membuat saya merasa tidak natural dan tidak manusiawi dalam menghadapi teman saya yang ’amah. Saya diajarkan bahwa mereka adalah mad’u (objek dakwah) saya. Jika saya bisa menarik mereka ke dalam sistem kami, apalagi bisa menjadi ADK, maka kami akan mendapat pahala yang sangat besar. Saya merasa menjadi berdagang dengan teman saya yang dulunya sebelum menjadi ADK adalah sahabat saya. Saya merasa tidak memanusiakan teman saya dan lebih memandang mereka sebagai objek dakwah.

    Dalam liqo’at ataupun dauroh saya juga ada beberapa hal yang membuat saya tidak sreg, seperti bahwa saya harus lebih mengutamakan liqo’at daripada kepentingan orang tua dan keluarga saya. Bahkan saya pernah diberitahu bahwa bila sudah ada panggilan liqo’at, meski orang tua saya sakit dan harus menjaganya, saya harus tetap datang liqo (entah mengapa selama beberapa tahun saya bisa menerima konsep yang kurang manusiawi ini). Hal lain adalah saya tidak boleh mengikuti kajian di luar liqo saya, padahal setahu saya bahwa kebenaran itu tidak hanya milik liqo saya, masih banyak sekali kebenaran di luar sana.

    Bahkan buku bacaan pun diatur dimana ada banyak buku yang saya sangat berguna untuk menambah wawasan keislaman saya seperti buku yang mengajarkan tentang hakikat Islam namun oleh murabbi saya dilarang. Untuk hal ini saya membangkang karena, seandainya Islam itu memang benar rahmatan lil alamin, ilmunya pasti sangat luas dan tidak hanya monopoli orang-orang di PKS semata. Dan hal yang paling mengusik saya adalah selama saya mengaji di liqo ataupun mengikuti taujih dan taushiyah dalam syuro ataupun dauroh-dauroh (training) saya merasa lebih banyak diajarkan tentang kebencian terhadap agama atau aliran lain, seperti bagaimana kejamnya kaum Nashoro (Nasrani) yang membantai saudara kami di Poso, Yahudi yang membantai saudara kami di Palestina, JIL yang memusuhi kami, NII yang sesat, teman-teman Salafi yang mengganggu kami, dst.

    Sampai-sampai, akibat begitu terinternalisasinya hal tersebut, ketika saya mengikuti tarbiyah universitas dan sedang makan siang, saya dan teman-teman menganggap yang sedang kami makan dan telan itu adalah orang-orang Yahudi dan Nashoro. Doa-doa kami pun selalu secara khusus ketika qunut adalah untuk mujahid-mujahid di Palestina dan Afghanistan (kadang saya berpikir kapan kita berdoa untuk pahlawan perjuangan di Indonesia yang telah menghadiahkan kemerdekaan kepada kita). Sejujurnya, saya lebih tersentuh dan bisa menangis tersedu-sedu ketika dibacakan ayat-ayat seperti dalam surat Ar-Rahman yang menceritakan Cinta-Ilahi ketimbang surah seperti Al-Qiyamah yang menceritakan azab-Nya.

    Kebencian sangat bertentangan dengan hati nurani saya karena saya sangat percaya dengan ayat yang mengatakan bahwa rahmat Allah SWT lebih cepat dari murka-Nya, yang artinya cinta Allah SWT seharusnya dapat menghapus kemarahan-Nya terhadap umat manusia. Inilah sebabnya mengapa di sini hati saya merasa sangat kering saat mengikuti tausiyah dan taujih yang senantiasa bercerita tentang peperangan dan kebencian. Semua ganjalan yang saya rasakan akhirnya meledak ketika saya kemudian tahu dari sumber yang terpercaya dalam pemerintahan, juga dari petinggi PKS sendiri, tentang agenda yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya dan pastinya juga tidak diketahui oleh orang-orang selevel saya atau bahkan pun pengurus inti PKS.

    AGENDA UTAMA PKS

    Agenda utama PKS adalah menghancurkan budaya Indonesia melalui invasi budaya Arab Saudi.

    Banyak sekali indikasi yang saya rasakan langsung pada saat menjadi ADK, seperti upaya kami untuk menghalang-halangi acara seni, budaya, musik, dll. Hingga berbagai upaya kami agar bisa memboikot mata kuliah ilmu budaya dasar (IBD).

    Saya ingat dulu, karena saya begitu termakan doktrin bahwa mata kuliah IBD tidak berguna dan bisa melemahkan iman, saya seringkali membolos kalau ada latihan menari sampai saya sempat dibenci teman-teman saya.

    Kembali pada agenda PKS ini sebagai perpanjangan tangan dari Kerajaan Saudi, tujuan utamanya adalah agar kekuasaan Arab bisa mencapai Indonesia, mengingat satu-satunya sumber devisa Arab adalah minyak yang diperkirakan akan habis pada 2050 dan melalui jamaah haji.

    Indonesia adalah negara yang sangat kaya sumber daya alam dan merupakan umat muslim terbesar di dunia. Bahkan jika seluruh umat muslim di Timur Tengah disatukan, umat muslim Indonesia masih jauh lebih banyak. Untuk itu, agar dapat bertahan secara ekonomi, Arab Saudi harus bisa merebut Indonesia dan cara yang paling jitu adalah melalui invasi kebudayaan.

    Islam dibuat menjadi satu dengan kebudayaan Arab, sehingga budaya Arab akan dianggap Islam oleh masyarakat Indonesia yang relatif masih kurang terdidik dan secara emosional masih sangat fanatik terhadap agama.

    Ketika kebudayaan lokal sudah bisa dihilangkan dan kebudayaan Arab yang disamarkan sebagai Islam dapat berkuasa, maka orang-orang akan menjadi begitu fanatik buta bahkan fundamentalis dan tidak bisa lagi mengapresiasi agama lain dan budaya lokal. Lalu, bila kebudayaan Nusantara sudah sampai dianggap musyrik atau bid’ah, saat itulah NKRI akan bubar.

    Orang-orang yang pulaunya dihuni oleh mayoritas non-muslim atau yang masih memegang budaya lokal di Indonesia akan meminta merdeka. Pulau-pulau di Indonesia akan terpecah-belah dan pada saat itulah orang-orang ini akan bagi-bagi “kue”.

    Peta rencananya adalah bagian pulau di Indonesia yang mayoritas Islam akan dikuasai oleh Arab. Sedangkan daerah yang penduduknya mayoritas Kristen akan dikuasai oleh Amerika. Lalu, daerah-daerah yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, Buddha, Animisme, dll., akan dikuasai oleh Cina.

    Tidak banyak orang PKS yang tahu soal ini, hanya segelintir saja yang memahaminya. Mereka menduduki posisi-posisi strategis dalam pemerintahan agar dapat lebih memudahkan agendanya. Sentimen keagamaan terus dipakai untuk meraih simpati masyarakat. Maka berbagai produk kebijakan, seperti Perda Syariat, UU APP, dll. yang rata-rata hanya sekadar mengurus masalah cara berpakaian semata akan dengan bangganya diterima oleh masyarakat muslim yang naif sebagai keberhasilan Islam.

    Masyarakat kita lupa bahwa sampai saat ini PKS belum menghasilkan produk yang dapat memajukan ekonomi, menyelesaikan permasalahan kesehatan, pendidikan, pencegahan bencana alam, korupsi, trafficking, tayangan TV yang semakin memperbodoh masyarakat, dan permasalahan lain yang lebih riil dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat kita ketimbang sekadar mengatur cara orang dewasa berpakaian dan berperilaku.

    Jangan terburu-buru apriori dan menganggap tulisan mengenai pengalaman saya ini adalah black campaign. Renungkan dengan hati nurani yang dalam. Tidak ada kepentingan saya selain hanya menyampaikan kebenaran.

    Saya tahu risiko yang ada di hadapan saya dan siapa yang saya hadapi. Tapi saya lebih takut menjadi bagian dari orang yang zalim, karena tahu kebenaran, namun tidak bersuara. Rasa cinta saya bagi negeri yang sudah memberi saya kehidupan ini menutupi rasa takut saya. Saya yakin siapa yang berjalan dalam kebenaran maka kebenaran akan melindunginya.

    Buat rekan saya, murabbi saya, sahabat-sahabat saya dulu sesama ikhwah, saya mencintai kalian semua dan akan terus mencintai kalian.Saya berharap, persaudaraan kita tetap terjalin karena bukanlah partai atau agama yang mempersaudarakan kita, tapi karena kita satu umat manusia, anak-cucu Adam. Kalau bahasa teman saya, kita menjadi saudara karena kita menghirup udara yang sama, makanya kita disebut “sa-udara”. Semoga pengalaman saya ini dapat menjadi bahan renungan para jamaah “fesbukiyah” dalam menentukan pilihan pemimpin yang akan membawa kapal Indonesia menuju masyarakat yang bahagia, makmur dan sentosa, yang memiliki jati diri dan menghargai kebudayaan Nusantara. sumber(nublitar.or.id)

  • HUKUMAN BAGI ORANG MURTAD

    HUKUMAN BAGI ORANG MURTAD

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online – Hal yang perlu kita ketahui bahwa umat Islam, dalam bentuk apa pun, dilarang memaksa non-Muslim untuk memeluk Islam.
    Hal ini sebagaimana tercantum dalam Al- Quran dalam Surah Al-Baqarah ayat 256:
    “Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam. Sungguh telah jelas jalan kebenaran dari
    jalan kesesatan.”

    Bersandar pada ayat tersebut, jelas bahwa jika ada non-Muslim yang ingin masuk Islam sesungguhnya dia telah mendapat hidayah.
    Umat Islam akan dengan senang hati menerima mereka dan menjadikan mereka saudara.
    Namun, sebaliknya, jika ada seorang Muslim yang ingin keluar dari Islam, sejatinya dia sedang tersesat dari jalan yang benar setelah sebelumnya dia mendapat hidayah.
    Allah Swt berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 217: “Barangsiapa yang murtad di antara kalian dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”

    Lantas, hukuman apa yang pantas diberikan kepada seorang yang murtad ?

    Tentang hal ini, ulama sepakat, sebagaimana diungkapkan oleh
    Wahbah az-Zuhaili, bahwa laki-laki yang murtad hukumannya adalah dibunuh, dengan syarat ia baligh, berakal, dan tidak dalam
    keadaan dipaksa.
    Bagi perempuan yang murtad
    pun hukumannya adalah dibunuh menurut mayoritas fuqaha, kecuali kalangan Hanafiyah.
    Sungguh hukuman yang sangat keras.

    Mengapa seorang yang murtad begitu keras hukumannya ?
    Hal ini dilakukan untuk menjaga
    kemuliaan Islam dan kaum muslimin, sekaligus menjaga akidah umat Islam dari keragu-raguan yang akan disebarkan murtadin jika mereka bebas berkeliaran di tengah-tengah umat
    Islam.
    Hukuman ini akan menjaga keutuhan jamaah kaum muslimin dari perpecahan, sekaligus menjaga mereka dari berbagai
    kerusakan.

    Simak kisah dari negri yang menjalankan hukum syariah ini :

    Pemerintah Islam Sudan telah memberlakukan hukum syariah pada tahun 1983, tetapi hukuman ekstrim selain cambuk jarang terjadi.

    Belum lama ini,tepatnya kamis kemarin, seorang hakim Sudan menjatuhkan vonis hukuman mati
    kepada seorang wanita yang murtad dari agama Islam, meskipun vonis itu dikecam oleh
    kedutaan besar negara Barat yang menuntut Sudan menghormati kebebasan beragama.

    “Kami memberimu waktu tiga hari untuk kembali ke Islam tetapi Anda bersikeras untuk tidak akan kembali ke Islam. Saya menjatuhkan hukuman gantung sampai mati untukmu,” kata Hakim Abbas Muhammad Al-
    Khalifa kepada wanita yang murtad tersebut.

    Nama kecil wanita murtad tersebut adalah Meriam Yahia Ibrahim Ishag.
    Hakim Khalifa juga menjatuhkan hukuman 100 cambukan karena kasus perzinahan.
    Ishag, yang seorang aktivis HAM, bereaksi tanpa emosi saat Abbas menyampaikan putusan di pengadilan distrik Khartoum Haji
    Yousef.

    Sebelumnya dalam persidangan, seorang pemimpin agama Islam memberikan nasehat kepadanya selama sekitar 30 menit sebelum diputuskan hukuman bagi wanita murtad tersebut.
    Tapi ia dengan tenang mengatakan kepada hakim: “Saya seorang ****** dan saya tidak
    akan kembali ke Islam…kata wanita tersebut.

    Mungkin ini terkesan kejam, tapi ini adalah hukuman yang sesuai dengan ajaran syariat, terlebih di negara yang memakai hukum syariat dalam pelaksanaannya.(red)

  • Quraish Shihab Lebih Memilih Dipanggil Ustadz dari pada Habib

    Quraish Shihab Lebih Memilih Dipanggil Ustadz dari pada Habib

    m-quraish-shihab-jelaskan-lailatul-qadar (1)

    Penulis: Moh. Syahri

    cyberaswaja.online – Seorang Quraish Shihab yang memiliki ilmu dan wawasan luas tentang agama bukan orang sembarangan. Selain dikenal alim dan pemikir agama yang progresif beliau juga keturunan habib yaitu Habib Ali bin Abdurrahman dari Hadramaut.

    Lantas kenapa orang-orang kok tidak memanggil beliau dengan gelar habib, Habib Quraish Shihab. Dalam buku Cahaya, Cinta dan Canda Quraish Shihab, dituliskan ternyata Quraish shihab memang tidak senang dipanggil Habib dan lebih senang dipanggil Ustaz.

    Menurutnya, sebutan ustaz lebih lazim disematkan pada seseorang yang memiliki rekam jejak pengabdian dan pengamalan ilmu keagamaan.
    Sebagai tokoh, tentu beliau tidak ingin terjebak pada gelar yang berat dan
    tanggungjawab moralnya luas. Gelar habib memang banyak dipandang sebagai kelebihan dan kemulian dari seorang tokoh. Namun, tidak sedikit yang bergelar habib justru kehilangan marwah kehormatannya di tengah masyarakat karena perbuatannya yang sudah melenceng dari pendahulunya.

    Pada tataran stratifikasi sosial memang gelar “Ustaz” banyak dipandang remeh dan derajatnya sangat jauh dari “habib”. Fakta berbicara, bahwa
    ketika seorang habib masuk dalam suatu majelis walaupun hanya bisa memimpin shalawat dan tahlil dan tidak bisa menyampaikan ilmu agama atau ceramah kepada masyarakat, tetap akan mendapatkan penghormatan lebih daripada ustaz kampung yang alim-allamah.

    Kenapa bisa demikian?

    Secara historis habib memang memiliki keterkaitan genealogis dengan para pendahulunya. Alim atau tidak, ahli ilmu atau tidak, seorang habib akan tetap mendapatkan penghormatan masyarakat sepanjang dirinya masih lurus dijalan para pendahulunya. Sedangkan Ustaz merupakan kategori achieved yang diperoleh melalui proses pencaharian keilmuan, yang sesuai dengan kompetensi yang digeluti dan pengalaman keberagamaan yang ditempa oleh waktu dan ruang yang memadai.

    Quraish shihab lebih senang dipanggil ustaz karena merujuk pada guru yang memiliki kompetensi di bidang keagamaan. Dan hal ini, sangat relevan dengan rekam jejak akademis beliau sebagai orang terdidik, dan prestasi akademisnya berjibun yang diperjuangkan selama puluhan tahun yang berkecipung di bidang alquran, baik sebagai hafiz maupun mufassir.

    Itulah sosok Quraish Shihab yang tidak ingin bernaung dibawah
    panggilan habib untuk menghindari kesombongan dan riya’ (pamer) maupun over confident daripada harus bergelut dengan panggilan habib.

    Wallahu a’lam

    Tulisan ini sebelumnya dimuat di islami.co