PKI BURU SANTRI DAN KYAI (KEJADIAN TAHUN 1948/SEBELUM PEMILU 1955)
Kabar mengenai tewasnya Kyai Hamid Dimyathi Pimpinan Ponpes Tremas ditangan PKI yang disampaikan Shoimun (Baca: Part 4) membuat gempar. Sholat ghaib dan tahlil pun dilakukan di mana-mana, sehingga hal itu menyatukan semangat umat Islam khususnya kaum santri untuk kembali membebaskan Madiun dan sekitarnya dari cengkeraman PKI. Banyak kalangan terutama kalangan Pesantren di Jawa Timur dan kalangan Birokrat juga ikut terpukul kala itu. Kyai Dimyathi merupakan ketua DPC Partai Masyumi Pacitan saat itu dan merupakan Ulama cukup dikenal disana dan juga seorang Aktivis pergerakan Kemerdekaan yang juga menjadi anggota Parlemen dalam Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Jasad Kyai Dimyathi ditemukan dalam sebuah sumur kuburan masal di daerah Tirtomoyo Wonogiri. Ditahun itu (sebelum Pemilu pertama 1955) NU belum membentuk Partai dan Partai Masyumi merupakan partai Islam yang didalamnya bergabung para cendekiawan Islam ditanah air termasuk dari NU dan Muhammadiyah.
Biorama di museum lubang buaya, PKI yang menangkapi para kyai (merdeka.com)
Masih tahun 1948, Para PKI terus memburu para Kiai ke daerah lain sampai ke Ngawi, Di Walikukun Ngawi terdapat seorang kiai sepuh yang biasa dipanggil Mbah Ngompak. Ketika Kiai sepuh ini sedang melakukan sholat tahajud di tengah malam di mesjid di Pesantren Tanjung Sari yang diasuhnya tiba-tiba ia disergap gerombolan PKI. Mbah Ngompak diseret keluar masjid dengan tangan terikat lalu diseret dengan kuda melalui jalanan sepanjang 10 KM tetapi ajaibnya Kiai sepuh itu masih bertahan hidup. Kemudian diseret lagi hingga sampai disebuah sungai yang curam, badan Mhah Ngompak yang sudah babak belur itu dilempar ke sungai hingga menemui ajalnya di sungai tersebut.
Pembantaian lain dilakukan gerombolan PKI pada jemaah Kiai Zaenal Abidin, saat itu Kyai Zaenal Abidin yang tengah Riyadoh bersama 25 orang santrinya di masjid ditangkap oleh PKI yang datang bersenjata senapan, klewang, pedang hingga clurit. Sudah lama gerombolan PKI mengincar kiai beserta santrinya itu, tetapi ketika sudah lama ditunggi tidak mau keluar dari masjid, maka mereka diseret keluar secara paksa. Kemudian mereka disekap kedalam rumah penduduk yang sudah kosong lalu rumah itu dibakar, sehingga semuanya mati terbakar.
BELANDA KEMBALI MASUK INDONESIA
Tentu saja pemberontakan PKI ini sangat membahayakan terhadap keselematan Rupublik yang baru dibangun ini. Negeri hasil Proklamasi yang baru berusia 3 tahun kala itu harus menghadapi dua lawan sekaligus. Musuh dari dalam yaitu PKI dan dari luar Belanda beserta tentara Sekutu. Ternyata kedua kekuatan yang selama ini bermusuhan menyatu dalam menghadapi Republik Indonesia. PKI mendapat bantuan besar dari Belanda. Dalam penggerebekannya terhadap Markas PKI dan Pesindo, tentara Hizbullah menemukan berbagai amunisi dari Belanda dan ditemukan bendera Belanda di markas mereka.
sumber: republika.co.id
Peberontakan PKI itu juga difasilitasi Belanda sebagai bentuk politik divide et impera(memecah belah) untuk melumpuhkan Indonesia dari dalam agar Belanda mudah untuk merebut kembali Republik Indonesia untuk dijajah. Pada hari Ahad 19/12/1948 ketika republik ini menghadapi pemberontakan PKI, situasi kacau ini dimanfaatkan Belanda untuk kembali melakukan Agresi Kedua menduduki Ibu Kota RI Yogyakarta dan menagkap Presiden Soekarno serta Wakil Presiden Muhammad Hatta. Dengan didudukinya Yogyakarta, maka satu-persatu daerah stretegis di Jawa diduduki oleh Belanda. Tentara Indonesia di bawah Pimpinan Jenderal Sudirman dengan didukung pasukan Hizbullah dan Sabilillah yang dipimpin KH Masykur dan KH Zainul Arifin dari NU terus melakuakan perang. Sebaliknya PKI Pesindo yang juga berambisi mengambil alih kekuasaan dengan jalan pintas, tertarik dengan agenda Belanda itu, karena itu mereka melakukan pemberontakan pada saat bangsa ini sedang melakukan revolusi nasional.
KH.Masjkur (Lahir di Malang – JATI), Pemimpin Laskar Sabilillah Saat itu (kompas.com)KH. Zainul Arifin (Lahir di Tapanuli Tengah – SUMUT), Pemimpin Laskar Hisbullah saat itu (nu.or.id)
PARA PIMPINAN PKI DIEKSEKUSI MATI, NAMUN AIDIT BERHASIL KABUR (KEJADIAN 1948)
Setiap daerah yang dilalui oleh pasukan PKI di situ dilakukan pembantaian dan perampasan. Bila terjadi perlawanan maka terjadilah perang sasudara, yang memakan korban di kedua belah pihak, setelah itu PKI lari lagi mencari perlindungan di daerah tersembunyi menjauh dari kejaran Tentara. Walaupun keadaan sudah di kuasasi Tentara mulai dari pusatnya di Madiun sendiri maupun daerah sekitarnya yang menjadi benteng pertahanan PKI terjadi berbagai peristiwa bentrok antar PKI dan warga terus terjadi walaupun dalam skala kecil
Dengan kekuatan penuh Tentara dari Divisi Siliwangi dan ditopang oleh pasukan Hizbullah dan Sabilillah keadaaan bisa dipulihkan. Mengingat kekuatan PKI yang telah sedemikian kuat dan menyebar yang meliputi kawasan Jawa Timur dan Jawa tengah maka pasukan pemerintah harus bekerja keras dan cepat. Dengan kerja kerasnya itu maka, kesatuan Republik bisa dipertahankan persis pada 30 September 1948 Madiun dan semua daerah yangPemberontak menguasai keadaan sekitar 13 hari dengan memakan korban nyawa dan harta serta budaya yang tak terhidung jumlahnya. Para gembong PKI seperti Muso, Amir Syarifuddin, Maruto Darusman serta pimpinan lainnya diburu oleh tentara sebelum akhirnya ditembak mati diwaktu yang berbeda. Pada 19/12/1948 di tengah malam, atas perintah tentara para warga Desa Ngalian, sebelah timur kota Solo menggali lubang besar untuk makam Amir Sjarifoedin dkk yang tertangkap, Proses Eksekusi dilakukan secara terburu-buru mengingat Belanda akan melakukan agresi militer Kedua di Indonesia beberapa jam kemudian.
Sambil menunggu Eksekusi, Amir sempat bertanya kepada seorang Tentara berpangkat letnan:
“apa yang akan terjadi?” tanya Amir. Amir bersama 10 anggota PKI yang tertangkap didakwa melakukan makar terhadap pemerintah.
“Apakah saudara sudah mengikhlaskan saya dan kawan-kawan saya?”tanya Amir.
Namun Perwira itu bergeming dan menjawab. “Tidak usah banyak bicara,” sambil menyodorkan surat perintah eksekusi mati.
“Apakah saudara sudah memikirkan yang lebih jernih,” tanya Amir lagi.
Tanpa tedeng aling-aling, pasukan regu tembak mulai mengisi bedilnya dengan amunisi, sebelum ditembak mati, Amir masih sempat menyanyikan lagu Mars Komunis.
Tokoh PKI yang di tembak mati pada 1948 (merdeka.com)Ketika Amir Sjarifoedin Tertangkap dan Digiring oleh Tentara sebelum di tembak Mati pada 1948, Siapa Sangka Tokoh PKI Amir Syarifuddin pernah menempati posisi penting saat Indonesia baru merdeka. Dia pernah menjadi Menteri Penerangan, Menteri Pertahanan, bahkan Perdama Menteri Republik Indonesia. (sumber: historia.id)
Pasukan FDR PKI makin terdesak terus dalam pengejaran Tentara dan Laskar Hisbullah & Sabilillah. Ketika dalam Pengejaran pasukan Siliwangi beberapa tokoh seperti DN Aidit dan gembong PKI lainnya seperti Alimin, Tan Ling Djie, Njoto termasuk Soemarsono, selamat karena masuk ke wilayah pendudukan Belanda. Dan atas jasa Belanda yang selama ini menjadi sekutu FDR PKI, maka mereka dilarikan ke luar negeri untuk menyelamatkan diri, hingga pada 1965 selanjutnya merekalah yang melakukan pemberontakan PKI kembali. Bersambung,,
Referensi: Abdul Mun’im & Tim PBNU. 2013. Benturan NU-PKI 1948-1965 (Hal 52-58). Jakarta: PBNU & Langgar Swadaya.
[irp posts=”4759″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 1)”]
[irp posts=”4772″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 2)”]
[irp posts=”4788″ name=”Sejarah Kekejaman PKI Versi NU (Bagian 3)”]
[irp posts=”4826″ name=”Sejarah Propaganda dan Kekejaman PKI Versi NU [Part 4]”]
cyberaswaja.online-Sang Mujtahid Fatwa dan Tarjih dalam madzhab Syafi’i yakni Imam Nawawi dalam Syarah Shohih Muslim Cetakan Baitul Afkar Ad Dauliyah halaman 1056 menjelaskan sebuah hadits :
“Dari Sa’id bin Musayyab ia berkata : suatu ketika Umar berjalan bertemu dengan Hassan bin Tsabit yang sedang melantunkan sya’ir di masjid. Umar menegur Hassan, namun Hassan menjawab : aku melantunkan sya’ir di masjid yang di dalamnya ada seorang yang lebih mulia dari pada kamu, kemudian dia berpaling kepada Abu Hurairah sambil berkata demi Allah apakah engkau pernah mendengar Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jawablah permintaanku, ya Allah kuatkanlah dia dengan ruh al-qudus. Abu Hurairah menjawab : benar (aku telah mendengarnya)”.
“Dalam hadits ini mengandung kebolehan mendendangkan syi’ir di dalam masjid jika memang bait syi’ir yang dilantunkan adalah sesuatu yang mubah dan kesunnahan bersyi’ir jika memang dalam konteks pujian-pujian kepada Islam dan orang-orang Islam (apalagi Nabi,Sahabat,dan orang sholeh)”.
👉Al Imam Ibnu Hajar Al Haitami yang juga seorang mujtahid dalam Madzhab Syafi’i dalam kitab Al Fatawa Al Fiqhiyyah Al Kubro juz 4 halaman 356-357 mengenai tabuh rebana dalam masjid beliau mengatakan :
“Adapun rebana itu hukumnya mubah secara mutlaq bahkan untuk laki-laki sekalipun, sebagaimana yang dikehendaki oleh pemutlakan dari mayoritas Ulama dan telah dijelaskan oleh Al Imam As Subki dan beliau melemahkan penyelisihan Al Halimi dalam hal ini…..Adapun melakukan tabuh rebana dalam masjid maka hendaknya tidak dilakukan karena masjid tidak dibangun untuk hal itu namun perbuatan tersebut tidak diharamkan kecuali jika membahayakan tanah masjid,tikar masjid, (khawatir) mengganggu orang sholat dan orang tidur. Dan sungguh orang-orang ethiopia menari di dalam masjid, Nabi pun melihat dan menyetujui hal tersebut. Dalam riwayat Imam Turmudzi dan Sunan Ibnu Majah dari Sayyidah Aisyah Rodliyallahu ‘anha Nabi bersabda :
“Umumkanlah pernikahan ini dan langsungkanlah pernikahan itu dimasjid dan iringilah dengan tabuhan rebana”.
“Dalam Hadits ini mengandung isyarat kebolehan menabuh rebana dalam masjid.”
“Adapun kutipan tersebut yang datang dari salaf, maka sungguh Al Wali Abu Zur’ah berkata dalam kitab tahrirnya bahwa hal tersebut memang benar dari Syaikh ‘Izzuddin bin Abdissalam dan Ibnu Daqiq Al ‘Id yang mana beliau berdua adalah pemimpin para ulama muta akhhirin dalam keilmuan dan kewara’an.”
“Adapun dalil kehalalan tentang yang telah disebutkan adalah dalam Shohih bukhori :
“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar beberapa budak perempuan yang menabuh rebana mengatakan : “Diantara kami ada nabi yang mengetahui apa yang terjadi esok”. Lalu Nabi berkata : biarkan, dan ucapkan sebagaimana yang mereka ucapkan.”
“Dan dalam riwayat Imam Turmudzi juga Ibnu Majah :
“Ketika Rasulullah pulang dari peperangan didatangi oleh seorang budak wanita hitam dan ia berkata: “Wahai Nabi, saya bernadzar jika Engkau kembali dari perang diselamatkan oleh Allah, saya akan menabuh terbang di hadapanmu. Rasulullah menjawab: “Jika kamu bernadzar seperti itu, maka lakukanlah nadzarmu”.
cyberaswaja.online- Menisbatkan 212 sebagai agama dengan bahasa lain Islam 212 adalah tak ubahnya membuat pepesan bothok kosong yang tak ada isi baik parutan kelapa atau ikannya. Menyatakan Islam 212 sama halnya membuat distorsi baru dalam aliran pemahamaman Islam. Karena tidak ada tuntutan dan tuntunan membangun distorsi ditubuh tubuh Islam itu. Sehingga nampak janggal ketika seorang musikus yang mohon maaf saya tidak tahu kredibilitas keilmuan Agamanya menggaungkan menggemborkan Islam 212 layaknya ada Islam baru berarti ia mencoba membuat aliran baru membangun perpecahan serta permusuhan baru dalam Islam itu sendiri.
Ada dua pernyataan yang ingin dihubungkan sebelum ia menyebutkan Islam 212 yakni Islam Nusantara dan itu perlu digaris-bawahi sebagai hal prinsip yang perlu diskripsikan. Begini kalau bernafsu ingin mengeneralisai 212 dengan Islam Nusantara itu berbeda jauh hakekat maqam dan fungsi serta eksistensinya bagaikan bumi dan langit. Islam Nusantara jelas secara definitif dan fungtif serta implementasinya. Islam Nusantara sejak awal gagasan narasinya jelas yakni bukan Agama baru bukan keyakinan baru tapi ciri khas Islami yang damai dan berada di Nusantara. Yang punya perbedaan karakteristik dengan Islam timur tengah yang cenderung tekstual dan keras.
Mari kita mencoba melihat dasar gagasan dan pemahaman para kiyai tentang narasi Islam Nusantara menurut para kiyai khususnya Romo Yai Said Aqil Siradj PBNU “Islam Nusantara sama sekali bukan madzhab baru, bukan firqoh baru bukan aliran baru, dia adalah khosois dan mumayyizat. Islam Nusantara Islam yang melebur dengan budaya nusantara yang sesuai dengan syara’.
ciri dari Islam Nusantara adalah Islam yang beradab, santun yang itu adalah Islam warisan ahlussunnah wal jamaah dari para Wali Songo. “Inilah nikmat yang diberikan kepada kita yang belum tentu diwariskan ke bagian negara Islam lain,” Islam Nusantara dilandasi empat semangat yang saling menyatu yakni, semangat religius, semangat kebangsaan, semangat kebinekaan dan semangat kemanusiaan.
Analisa diskripsi serta narasi Islam Nusantara di atas jelas tanpa dikurangi dan ditambah. Yang pasti Islam Nusantara bukan Agama baru bukan paham baru namun karakter Agama sesuai kearifan dan budaya Nusantara. Tapi tidak semua orang memahami apalagi tentang ga sebelah yang tak paham tentang Islam Nusantara sendiri didefinisikan sendiri diolok-olok sendiri. Fix sampai di sini lalu bagaimana dengan Islami 212. Sekali lagi 212 adalah gerakan yang lahir dari konspirasi sebagai alat atau media politik kelompok tertentu yang mempunyai nafsu dan kepentingan kekuasaan. Yang dibalut dengan semangat atas nama dan berkedok bela Islam bela Al-Qur’an dan bela Ulama.
Entah Islam yang mana ? Al-Qur’an yang mana ?Ulama yang mana ? Namun lepas dari itu ternyata tujuan utama seorang Gubernur yang diunggulkan. Jadi jelas 212 bukan Agama mereka ada harakah tapi berbalut Agama. Saya harap dalam kondisi semacam ini kita semua haruslah faham tentang subhat subhat gerakan yang mengarah politik yang berbalut Agama bahkan menjual ayat serta sakralitas Agama. Alhasil menyatakan Islam pada 212 adalah keberaniansembrono yang tak terukur yang harus diluruskan karena didalamnya ada cacat istilah dan kerusakan makna serta kejanggalan pemahamaman yang perlu dihindari bagi orang cerdas dan beragama.
Takutlah dengan makar mereka yang menggunakan Agama sebagai tameng ” Saya jadi ingat pesan Ibnu Rusyid, yang saya kutip (serambi mata)seorang cendikia & ilmuwan muslim yang lahir di Andalusia Spanyol tahun 1128 M, yang mengatakan begini :
“Jika ingin menguasai orang bodoh, bungkus yang batil dengan agama”
SORBAN SANTRI – Berjalan Tanpa Henti, Menyeru Perlawanan Terhadap PKI
Salah satu pendiri utama Nadhlatul Ulama 1926 adalah Guru Mulia Simbah Kyai Haji Maksum Bin Ahmad Lasem, atau biasa kita sebut sebagai Mbah Maksum Lasem.
Beliau lahir pada
tahun 1870 dan wafat pada tahun 1972.
Berdasarkan nasab dari
ayahandanya, beliau merupakan
dzuriyah Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Dikenal sebagai pribadi yang jujur,
mengayomi dan senantiasa menjalin silaturahim, serta selalu menghormati tamu.
Ketika meletus pemberontakan PKI t
ahun 1965, ada salah satu anggota angkatan bersenjata yang berpihak pada pemberontak. Sehingga waktu itu menyebabkan pemerintahan Kota Lasem lumpuh total.
Mbah Maksum segera bergerak.
Beliau menyediakan pondok yang beliau asuh, Pondok Pesantren Al Hidayah menjadi pusat pemerintahan Kota Lasem.
Disulaplah kamar-kamar pondok
dengan pintu tertutup dan jendela terbuka dengan senjata otomatis menghadap keluar, sebagai kewaspadaan jika setiap saat mendapat serangan dari pemberontak. Sehingga dengan demikian, beliau adalah orang yang paling ditarget untuk dibunuh oleh PKI.
Pada waktu itu,
beliau sudah mencapai usia 97 tahun.
Ketika kondisi semakin tidak menentu,
beliau memaksa untuk ‘turun tangan’ langsung mengobarkan perang melawan PKI yang telah membunuh Ulama, Santri dan warga NU.
Dikisahkan, banyak santri yang berusaha mencegah beliau, mengingat usia beliau yang sudah mendekati satu abad, dan kondisinya tentu sudah tidak muda lagi.
Namun, beliau bersikeras, sehingga akhirnya beliau keluar dari Lasem dikawal oleh beberapa santri pilihan sebagai pengayuh becak secara bergantian.
Tak tanggung-tanggung, perjalanan
Ini beliau tempuh dalam waktu dua bulan.
Terus bergerak dari satu tempat ke tempat lain tanpa berhenti hingga menembus beberapa wilayah di Jawa Timur.
Alhamdulillah, beliau selalu dalam
lindungan Gusti Allah SWT. Hingga akhirnya pemberontakan ini berhasil dipadamkan, dan kondisi bisa dipulihkan seperti sedia KALA.
Fungsi Kaderisasi, merupakan kader yang terlatih, tanggap terampil dan berdaya guna untuk pengembangan kaderisasi di lingkungan Gerakan Pemuda Ansor.
Fungsi Dinamisator, merupakan bagian organisasi yang berfungsi sebagai pelopor penggerak program-program Gerakan Pemuda Ansor.
Fungsi Stabilisator, sebagai perangkat organisasi Gerakan Pemuda Ansor yang berfungsi sebagai pengaman program-program kemanusiaan dan sosial kemasyarakatan Nahdlatul Ulama.
Fungsi Katalisator, sebagai perangkat organisasi Gerakan Pemuda Ansor yang berfungsi sebagai perekat hubungan silaturrohim dan menumbuhkan rasa solidaritas sesama anggota Banser, anggota Gerakan Pemuda Ansor dan Nahdlatul Ulama serta masyarakat.
TUGAS BARISAN ANSOR SERBA GUNA ( BANSER )
Merencanakan, mempersiapkan dan mengamalkan cita-cita perjuangan Gerakan Pemuda Ansor serta menyelamatkan dan mengembangkan hasil-hasil perjuangan yang telah dicapai.
Melaksanakan program kemanusiaan dan sosial kemasyarakatan serta program pembangunan yang berbentuk rintisan dan partisipasi.
Menciptakan terselenggaranya keamanan dan ketertiban di lingkungan Gerakan Pemuda Ansor dan lingkungan sekitarnya melalui kerjasama dengan pihak-pihak terkait.
Menumbuhkan terwujudnya semangat pengabdian, kebersamaan, solidaritas dan silaturrohim sesama anggota Banser dan Gerakan Pemuda Ansor.
TANGGUNG JAWAB BARISAN ANSOR SERBA GUNA ( BANSER )
Menjaga, memelihara, menjamin kelangsungan hidup serta kejayaan Gerakan Pemuda Ansor dan jamiyah Nahdlatul Ulama.
Berpartisipasi aktif melakukan pengamanan dan ketertiban terhadap kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh Banser, Gerakan Pemuda Ansor, Jamiyah Nahdlatul Ulama serta kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya yang tidak bertentangan dengan perjuangan Nahdlatul Ulama.
Bersama dengan kekuatan Bangsa yang lain untuk tetap menjaga dan menjamin keutuhan bangsa dari segala ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan dalam ikut menciptakan keutuhan NKRI.
SORBAN SANTRI – Dulu saya sering duduk di rumahnya Kyai Abdul Fattah, untuk mengaji. Di situ ada seorang wali, namanya Kyai Irfan Kertijayan. Kyai Irfan adalah sosok yang nampak hapal keseluruhan kitab Ihya Ulumiddin, karena kecintaannya yang mendalam pada kitab tersebut. Setiap kali ketemu saya beliau pasti memandangi dan lalu menangis. Di situ ada Kyai Abdul Fattah dan Kyai Abdul Adzim.
Lama-kelamaan akhirnya beliau bertanya, “Bib, saya mau bertanya. Cara dan gaya berpakaian Anda kok sukanya sarung putih, baju dan kopyah putih, persis guru saya.”
“Siapa Kyai?” jawabku.
“Habib Hasyim bin Umar,” Jawab Kyai Irfan.
Saya mau ngaku cucunya tapi kok masih seperti ini, belum menjadi orang yang baik, batinku dalam hati. Mau mengingkari/berbohong tapi kenyataannya memang benar saya adalah cucunya Habib Hasyim. Akhirnya Kyai Abdul Adzim dan Kyai Abdul Fattah yang menjawab, “Lha beliau itu cucunya.”
Lalu Kyai Irfan merangkul dan menciumiku sembari menangis hebat saking gembiranya. Kemudian beliau berkata, “Mumpung saya masih hidup, saya mau cerita Bib. Tolong ditulis.”
“Cerita apa Kyai?” jawabku.
“Begini,” kata Kyai Irfan mengawali ceritanya. Mbah Kyai Hasyim Asy’ari setelah beristikharah, bertanya kepada Kyai Kholil Bangkalan, bermula dengan mendirikan Nahdlatut Tujjar dan Nahdlah-nahdlah yang lainnya, beliau merasa kebingungan. Hingga akhirnya beliau ke Mekkah untuk beristikharah di Masjidil Haram. Di sana kemudian beliau mendapat penjelasan dari Kyai Mahfudz at-Turmusi dan Syaikh Ahmad Nahrawi, ulama Jawa yang sangat alim. Kitab-kitab di Mekkah kalau belum di-tahqiq atau ditandatangani oleh Kyai Ahmad Nahrawi maka kitab tersebut tidak akan berani dicetak. Itu pada masa Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, mufti Mekkah pada waktu itu.
Syaikh Mahfudz at-Turmusi dan Syaikh Ahmad Nahrawi dawuh kepada Kyai Hasyim Asy’ari, “Kamu pulang saja. Ini alamat/pertanda NU bisa berdiri hanya dengan dua orang. Pertama Habib Hasyim bin Umar Bin Yahya Pekalongan, dan kedua Kyai Ahmad Kholil Bangkalan (Madura).”
Maka Kyai Hasyim Asy’ari pun segera bergegas untuk pamit pulang kembali ke Indonesia. Beliau bersama Kyai Asnawi Kudus, Kyai Yasin dan kyai-kyai lainnya langsung menuju ke Simbang Pekalongan untuk bertemu Kyai Muhammad Amir dengan diantar oleh Kyai Irfan dan kemudian langsung diajak bersama menuju kediaman Habib Hasyim bin Umar.
Baru saja sampai di kediaman, Habib Hasyim langsung berkata, “Saya ridha. Segeralah buatkan wadah Ahlussunnah wal Jama’ah. Ya Kyai Hasyim, dirikan, namanya sesuai dengan apa yang diangan-angankan olehmu, Nahdlatul Ulama. Tapi tolong, namaku jangan ditulis.” Jawaban terakhir ini karena wujud ketawadhuan Habib Hasyim.
Kemudian Kyai Hasyim Asy’ari meminta balagh (penyampaian ilmu) kepada Habib Hasyim, “Bib, saya ikut ngaji bab hadits di sini. Sebab Panjenengan punya sanad-sanad yang luar biasa.” Makanya Kyai Hasyim Asy’ari tiap Kamis Wage pasti di Pekalongan bersama Hamengkubuwono ke sembelian yang waktu itu bernama Darojatun, mengaji bersama. Jadi Sultan Hamengkubowono IX itu bukan orang bodoh, beliau orang yang alim dan ahli thariqah.
Setelah dari Pekalongan Kyai Hasyim Asy’ari menuju ke Bangkalan Madura untuk bertemu Kyai Ahmad Kholil Bangkalan. Namun baru saja Kyai Hasyim Asy’ari tiba di halaman depan rumah Kyai Kholil sudah mencegatnya seraya dawuh, “Keputusanku sama seperti Habib Hasyim!” Lha ini dua orang kok bisa kontak-kontakan padahal Pekalongan-Madura dan waktu itu belum ada handphone. Inilah hebatnya.
Akhirnya berdirilah Nahdlatul Ulama. Dan Muktamar NU ke-5 ditempatkan di Pekalongan sebab hormat kepada Habib Hasyim bin Umar. Jadi jika dikatakan Habib Luthfi kenceng (fanatik) kepada NU, karena merasa punya tanggungjawab kepada Nahdlatul Ulama dan semua habaib. Dan ternyata cerita ini disaksikan bukan hanya oleh Kyai Irfan, tapi juga oleh Habib Abdullah Faqih Alattas, ulama yang sangat ahli ilmu fiqih.
Maka dari itu Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas dengan Habib Hasyim Bin Yahya tidak bisa terpisahkan. Kalau ada tamu ke Habib Hasyim, pasti disuruh sowan (menghadap) dulu kepada yang lebih sepuh yakni Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas. Dan jika tamu tersebut sampai ke Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib maka akan ditanya, “Kamu suka atau tidak kepada adikku Habib Hasyim bin Umar?” dengan maksud agar sowannya ke Habib Hasyim saja. Itulah ulama memberikan contoh kepada kita tidak perlunya saling berebut dan sikut, tapi selalu kompak dan rukun.
Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas wafat tahun 1347 Hijriyah bulan Rajab tanggal 14, dan haulnya dilaksanakan tanggal 14 Sya’ban. Tiga tahun setelahnya, tahun 1350 Hijriyah, Habib Hasyim bin Umar Bin Yahya wafat. Setahun kemudian (1351 H) adalah wafatnya Habib Abdullah bin Muhsin Alattas Bogor. Waktu itu banyak para ulama besar seperti Mbah Kyai Adam Krapyak dan Kyai Ubaidah, merupakan para wali Allah dan samudera keilmuan.
(Dokumentasi ceramah Habib Luthfi Bin Yahya pada Haul Pakisputih Kedungwuni Pekalongan)
SORBAN SANTRI-Berikut Skenario yang sudah redaksi sorban santri rangkum, perihal santri kembali ke Pondok / Pesantren. Yang dimana data diambil dari Dinas Pendidikan Jatim tentang Santri Kembali ke Pesantren dan Press Release RMI PBNU (Pusat).
Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur telah mengeluarkan pdf Skenario Santri Kembali ke Pesantren. Sedianya, masa perpanjangan masa belajar dari rumah bagi santri sampai pada pertengahan Juni ini. Maka, tanggal 15 Juni 2020, pesantren sudah boleh menerima santri kembali.
Rencana santri kembali ke pesantren ini digulirkan dengan mempertimbangkan hal berikut:
Belum ada penurunan yang signifikan penyebaran covid-19 di Jawa Timur Semua Kabupaten/Kota di Jawa Timur sampai saat ini masuk Zona Merah.
PSBB Surabaya Raya s/d 8 Juni 2020, PSBB Malang Raya s/d 30 Mei 2020
Isolasi mandiri selama 14 hari bagi santri (santri dapat melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing ) sebelum kembali ke Pondok.
Menghindari aktifitas olah raga yang melibatkan kontak fisik dengan orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pelaksaaan kegiatan ibadah dilaksanakan di tempat ibadah yang tersedia di pesantren dengan membawa perlengkapan ibadah sendiri.
PROTOKOL KESEHATAN UNTUK USTADZ/USTADZAH/PENGELOLA SELAMA DI PESANTREN
Selalu mengenakan masker
Selalu menjaga jarak, tidak berkerumun dan tidak saling bersentuhan
Membiasakan cuci tangan dengan air mengalir dan sabun setelah memegang sesuatu
Melaporkan kepada Pengasuh jika merasa sakit atau tidak enak badan
Mengurangi aktivitas di luar kegiatan pembelajaran dan pembelajaran di luar pesantren
Menghindari aktifitas olah raga yang melibatkan kontak fisik dengan orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung
Pelaksaaan kegiatan ibadah dilaksanakan di tempat ibadah yang ada di pesantren dengan membawa perlengkapan ibada sendiri
Selama mengajar ustadz/ustadzah tetap menjaga jarak dari santri dan tidak mobile (tidak berkeliling kelas/mendekati santri)
Tidak memberikan tugas yang bahan/kertasnya berasal dari ustadz/ustadzah, santri menggunakan bahan/kertas kerja milik sendiri.
PROTOKOL KESEHATAN PULANG DARI PESANTREN MENUJU KE RUMAH
Mengenakan Masker
Jika menggunakan kendaraan umum/antar jemput roda 4, tetap menerapkan prinsip jaga jarak, dan tidak menggunakan kendaraan umum roda 2 (ojek)
Jika menggunakan roda 2 milik pribadi atau keluarga dan berboncengan harus dalam satu keluarga (satu Kartu Keluarga)
Sampai di rumah langsung ganti pakaian dan mandi dengan menggunakan air hangat/air mengalir dan sabun
Tidak berkumpul atau melakukan kontak fisik dengan anggota keluarga sebelum mandi.
Sekian skenario santri kembali ke pesantren, semoga bermanfaat.(abi sorban)
SORBAN SANTRI- Operasi tersebut dilakukan karena melaksanakan PSBB dan mencegah penyebaran covid-19 khususnya Kecamatan Pacet, yang dinilai merupakan magnet wisata bagi wisatawan Jawa Timur. dan diharapkan sebagai percontohan wilayah lain. Mengingat Jawa Timur dapat nilai tertinggi di Indonesia dalam penyebaran virus covid-19 tersebut.
Kegiatan ini melibatkan beberapa element pemerintahan yaitu Polsek Pacet, Koramil Pacet, dan organisasi Relawan Banser, Banser Lalu Lintas (balantas), LPBI NU, Welirank Komuniti dan Pramuka, apel dimulai di depan Polsek Pacet sekitar pukul 19.00 wib, Sabtu, 30 Mei 2020.
Pelaksanaan Apel Operasi Protokol Kesehatan covid-19
Skenario dimulainya operasi
Mengingat area pacet adalah kawasan perbukitan dan luas, maka operasi tersebut dibagi 2 kelompok yaitu barat dan timur dengan zona tengah berada di jl. Raya Pacet (polsek pacet). Operasi tersebut bertujuan untuk mencegah menularnya covid-19 dengan cara Menghimbau pada warga dan titik rawan penyebaran virus corona serta memberi semangat pada warga yang melakukan penjagaan posko di tiap-tiap kampung.
Suasana Operasi Kesehatan
Memberikan Himbauan Kepada Pemilik Cafe
Melakukan Pengamanan dan Pengatiran LaluLintas
Memberi Semangat Pada Penjaga Kampung
Sosialisasi kepada warga
Posko Sumber bendo
ramah tamah di rumah kepala desa candi watu
banser satkoryon pacet
Dan bersyukur desa-desa dan zona titik penyebaran covid-19 ( warung tempat nongkrong, dll) sebagaian besar sudah memenuhi standart protokol kesehatan seperti penjagaan wilayah, Pemakaian masker, dan adanya tempat cuci tangan dititik berkumpulnya orang. Ironisnya malah pusat centralnya Pacet, masih banyak pelanggaran mulai dari datangnya pengunjung luar wilayah yang bergerombol dan tidak memakai masker, tidak adanya tempat cuci tangan, bahkan acuh setelah kedatangan tim operasi protokol kesehatan covid-19. Sehingga sempat adanya pengusiran dan bersitegang untuk meninggalkan zona tersebut. Dan rata-rata kendaraan yang mereka pakai itu bodong (tanpa stnk dan sim), kata salah satu petugas operasi yang kebetulan dari Polsek Pacet.
[su_youtube url=”https://youtu.be/-dXEjUnQLzU”]
Titik tersebut antara lain waduk (tempat nongkrongnya anak bermain game online dan semuanya tidak memakai masker), Pasar Pacet dan pasar wisata pacet ( banyaknya pengunjung dari luar pacet yang sangat penuh dan sesak, rawan penyebaran wabah).
setelah operasi, petugas melakukan penyuluhan
operasi di pasar wisata pacet
asik main game diwaduk Pacet
Padahal sebelumnya sudah ada himbauan dari aparat setempat agar setiap pukul 21.00 wib tutup dan selalu pakai masker, tapi masih saja banyak masyarakat yang mengabaikan.(abi sorban)
SORBAN SANTRI – Dari Kh sholeh bandar kidul beliau Dari KH Mahrus Ali lirboyo kediri
1.Seorang suami Seyogyanya didahului dengan berpuasa hari kamis, dan berbuka hanya dg air putih (tidak boleh makan apapun) sempai tengah malam. Kemudian dilanjutkan sholat hajat.
Membaca sholawat 313 x, kemudian ditiupkan pada pusarnya istri yang hamil, dan di usap (di elus elus) sambil membaca
ربنا ما خلقت هذا باطلا سبحانك فقنا عذاب النار
3 x dalam satu nafas
SORBAN SANTRI- Selama ini kita mungkin hanya tahu kalau gelar keturunan nabi atau dzuriah nabi adalah habib .
Tapi ternyata ada lagi marga yang jarang diketahui khalayak .
Tapi kalau mendengar syech pasti orang sudah tahu kalau itu adalah gelar untuk ulama besar yang sangat dihormati.Tapi yang perlu dicatat bahwa habib itu bukan marga , tapi gelar kehormatan . Para habib belum tentu azmatkhan , tapi para azmatkhan pasti habib . Karena arti habib sendiri adalah yang dicintai atau dikasihi , sebagaimana nabi Muhammad diberi gelar kekasih Allah .
Mari kita pelajari bersama di artikel kali ini . kita akan kupas siapa marga keturunan nabi yang dimaksud dan siapa saja orang Indonesia yang punya gelar itu.
Adalah Azmatkhan marga yang dimaksud .
(bahasa Arab: عظمات خان; Transliterasi: Aẓamāt Khān) al-Husaini, juga dieja Azmat Khan, al-Azhamatkhan atau al-Azhamat Chan (bahasa Urdu: عظمت خان) adalah salah satu marga komunitas Hadramaut yang banyak tersebar di Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Azmatkhan al Husaini
Nama Azmatkhan berasal dari penggabungan dua kata dalam bahasa Urdu, Azmat yang berarti mulia atau terhormat; dan Khan yang memiliki arti komandan, pemimpin, atau penguasa.
Mereka merupakan keturunan dari Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin Alawi Ammul Faqih, keturunan Husain bin Ali. Sayyid Abdul Malik berimigrasi dari Hadhramaut ke India pada abad ke-14 Masehi, lebih awal dari para imigran lain dari Hadhramaut (baca :habib ).
Sayyid Abdul Malik kemudian menikahi putri bangsawan Nasirabad dan mendapatkan gelar “Azmat Khan”. Gelar “Khan” diberikan oleh bangsawan Nasirabad agar ia dianggap sebagai bangsawan setempat sebagaimana keluarga yang lain.
Selain itu, mereka menyematkan gelar “Azmat” yang berarti “mulia” karena Abdul Malik berasal dari garis keturunan sayyid. Keturunannya tetap mempertahankan nama ini sebagai patronimik sampai hari ini.
Sayyid Abdul Malik lahir di kota Qasam, Hadhramaut, sekitar tahun 574 Hijriah. Ia juga dikenal dengan gelar “Al-Muhajir Ilallah”, karena dia hijrah dari Hadhramaut ke Gujarat untuk berdakwah sebagaimana kakeknya, Sayyid Ahmad al-Muhajir yang hijrah dari Irak ke Hadhramaut untuk berdakwah.
Menurut Sayyid Salim bin Abdullah Asy-Syathiri Al-Husaini, guru besar dari Tarim, Yaman, keluarga Azmatkhan (yang merupakan leluhur Walisongo) adalah dari Qabilah Ba’Alawi asal Hadramaut dari gelombang pertama yang masuk di nusantara dalam rangka penyebaran Islam.
Karena sejarah panjang perkawinan silang yang ekstensif, terutama dengan bangsawan lokal, kebanyakan dari keturunan Azmatkhan secara fisik dan budaya tidak dapat dibedakan dari penduduk setempat. Tentu ini agak berbeda dengan marga habib yang umumnya menikah dengan keturunan nabi juga ( baca : syarifah ).
Di Indonesia, tidak jarang anggota keluarga Azmatkhan memiliki gelar kerajaan turun temurun seperti Raden, Tubagus, Masagus, Masayu, Kemas, atau Nyimas. Mereka mempertahankan identitas Indonesia dan keturunan Azmatkhan pada saat bersamaan, bahkan beberapa dari mereka tidak dapat melacak nenek moyang mereka lagi.
Dalam sejarah Asia Tenggara, keluarga Azmatkhan tercatat telah mendirikan beberapa kerajaan di Indonesia, serta menjadi raja di beberapa kerajaan di Asia Tenggara.
Di antara kerajaan-kerajaan yang didirikan oleh keluarga besar Azmatkhan adalah Kesultanan Banten, Kesultanan Palembang, Kesultanan Pajang, dan Kerajaan Sumedang Larang. Sedangkan di Kerajaan ada Champa, Kerajaan Pattani, Kesultanan Kelantan , Kesultanan Cirebon, dan Kesultanan Demak, para keturunan Azmatkhan berhasil menduduki kursi pemerintahan sebagai raja atau sultan.
Untuk mencatat dan mempertahankan silsilah keluarga Azmatkhan, para habaib Azmatkhan sedunia mendirikan Lembaga Asyraf Azmatkhan Ahlulbait Internasional, sebuah organisasi nasab internasional yang bertujuan untuk mencatat silsilah setiap keturunan Muhammad datuk dari seluruh sayyid.
Berikut adalah para habib dari marga azmatkhan yang ada di Indonesia.
Jamaluddin Akbar Azmatkhan al-Husaini – tokoh agama, leluhur Walisongo.
Syekh Datuk Kahfi – tokoh agama
Syekh Qurotul Ain (Syekh Quro) – tokoh agama
Maulana Malik Ibrahim Azmatkhan – Sunan Gresik, tokoh agama
Raden Rahmat Azmatkhan – Sunan Ampel, tokoh agama
Raden Maulana Makdum Ibrahim Azmatkhan – Sunan Bonang, tokoh agama
Raden Qasim Azmatkhan – Sunan Drajat, tokoh agama
Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan – Sunan Kudus, tokoh agama
Raden Said Azmatkhan – Sunan Kalijaga, tokoh agama
Raden Umar Said Azmatkhan – Sunan Muria, tokoh agama
Syarif Hidayatullah Azmatkhan – Sunan Gunung Jati, tokoh agama
Syekh Nawawi al-Bantani – ulama, imam Masjidil Haram
Syekh Raden Asnawi, Kudus – ulama
Syekh Tubagus Ahmad Bakri as-Sampuri (Mama Sempur) – ulama
K.H. Hasan Asy’ari – ulama
K.H. Hasan Asy’ari – ulama
K.H. Hasan Genggong – ulama, pimpinan Pesantren Zainul Hasan Genggong
K.H. Tubagus Muhammad Falak Abbas (Mama Falak) – ulama
Abuya Dimyathi al-Bantani – ulama
Abuya Muhtadi Dimyathi – ulama
K.H. Ma’ruf Amin – ulama, Ketua MUI, Rais Aam Syuriah PBNU – wakil presiden
K.H. Abdurahman Wahid (Gus Dur ) – ulama , presiden RI ke 4
K.H. Said Aqil Siradj[16][17] – ulama, Ketua Umum PBNU
Shohibul Faroji – ulama, mursyid,syekh, mufti.
Silsilah Gus Dur
Tokoh kerajaan dari marga azmatkhan :
Syarif Abdullah Umdatuddin Azmatkhan – raja Champa
Maulana Hasanuddin dari Banten – raja Banten pertama
Sri Susuhunan Abdurrahman – raja Palembang pertama
Prabu Geusan Ulun (Pangeran Angkawijaya) – raja Sumedang Larang Islam pertama
Pati Unus – raja Demak kedua
Fatahillah – Pangeran Jayakarta, pendiri Jakarta
Pangeran Tubagus Angke – Pangeran Jayakarta II
Syarif Muhammad ash-Shafiuddin dari Banten – Sultan Banten sekarang
Pejuang dan pahlawan nasional dari marga azmatkhan :
Ageng Tirtayasa dari Banten – sultan Banten, Pahlawan Nasional Indonesia
Sultan Mahmud Badaruddin II – sultan Palembang, pahlawan nasional
Radin Inten II – pahlawan nasional
Hasyim Asy’ari- pahlawan nasional, tokoh agama, pendiri Nahdlatul Ulama
Ahmad Dahlan – pahlawan nasional, tokoh agama, pendiri Muhammadiyah
As’ad Samsul Arifin – pahlawan nasional, tokoh Nahdlatul ‘Ulama
Wahid Hasyim – pahlawan nasional, Menteri Agama Indonesia pertama
Tubagus Ahmad Chatib al-Bantani – pejuang, residen Banten
Kini , gelar azmatkhan sudah tidak banyak diketahui orang karena para tokohnya memang tidak menyematkan marga di namanya dan karena mereka sudah menikah dengan pribumi dan mendapat gelar seperti kyai haji , raden atau tubagus . Sangat susah kita mendapatkan orang yang masih menggunakan gelar terhormat syech ini .
Tapi meskipun begitu , tetap ada wadah atau organisasi yang mencatat atau mendata para dzuriah nabi ini seperti halnya Rabithah Alawiah yang mewadahi para habib dinegri ini .