KLIK UNTUK MENAMPILKAN
| [flipbook id=”3″] |
teks bacaan istighosah dan likhomsatun

KLIK UNTUK MENAMPILKAN
| [flipbook id=”3″] |
teks bacaan istighosah dan likhomsatun

SORBAN Infokom – Sungguh firman Allah ta’ala telah menjawabnya : Sungguh shalat itu menjaga dari perbuatan keji dan mungkar.
Ayat ini jelas merupakan jawaban bagi orang yang sulit meninggalkan maksiat, bagaimana caranya?, tak perlu repot repot susah payah menghindari maksiat yang tak bisa atau sulit kita tinggalkan, cukup kita terus memperbaiki shalat kita agar makin sempurna, teruslah daki tangga tangga kesempurnaan shalat, maka Allah yang akan meruntuhkan semua dosa dan menundukkan kekuatan maksiat agar tidak menguasai kita, Allah bantu kita untuk jauh dari maksiat.

Jika kita terjebak dengan keadaan, maka Allah akan permudah dan perluas kemudahan baginya, jika ia terjebak dosa karena kemiskinan maka Allah akan membuatnya makmur dan sangat berkecukupan, jika ia terjebak dosa karena keluarganya maka Allah akan mencurahkan hidayah pada keluarganya hingga justru balik mendukungnya dalam taat.Jika ia terjebak dosa karena pekerjaan maka Allah akan berikan usaha atau pekerjaan yang sangat memuaskan dan jauh dari dosa, dan Allah ampuni dosa – dosanya.
makna ayat di atas juga bermakna bahwa Allah ta’ala yang akan menyingkirkan dosa – dosa bagi orang yang menjaga shalatnya. (red.abi)

SORBAN Infokom – Merasa aman dari Corona karena merasa dekat dengan Allah?? Anda KELIRU!!
Ketahuilah Wahai Saudaraku.. Rasulullah adalah manusia yang paling dekat dengan Allah, bersembunyi di Gua Tsur dari kejaran Kafir Quraisy. Bukan karena dia takut atau pengecut, tapi RISALAH AGAMA ini harus sampai ke generasi
berikutnya..
Nabi Musa Alaihi Salam adalah salah satu Ulul Azmi, salah satu manusia yang paling dicintai oleh Allah Subhanawataala berlari menyeberangi laut mati menghindari kejaran Firaun. Bukan karena dia takut atau pengecut tapi Agama ini tidak menginginkan umatnya mati konyol.
Nabi Ibrahim Alaihi Salam adalah manusia kedua yang paling dicintai oleh Allah Subhana waataala pernah berlari dari kejaran Namrudz. Bukan karena dia takut atau pengecut tapi agama ini kadang harus mengalah untuk menang.
Khalifah Umar Radhiyallahu Anhu adalah manusia yang dijamin masuk syurga pernah menghindari kampung yang terkena wabah (tha’un). Bukan karena dia takut atau pengecut tapi beliau berpendapat bahwa berlarilah dari takdir buruk ke takdir yang baik.
Dan kalian yang bukan Rasul, bukan Nabi, bukan pula manusia yang dijamin Syurga dengan pongah seolah menantang wabah (tha’un) dengan berkata jika kita dekat dengan Allah maka wabah itu tidak akan mendekati kita.
Ketahuilah Saudaraku, jangan engkau JAHIL dengan ilmumu..bukankah lebih baik menghindari Mudharat daripada mengambil Manfaat?? Apa yang di putuskan MUI itulah yang terbaik untuk saat ini. Insya Allah sudah sesuai tuntunan. Yakin dan percaya para Ulama dalam mengambil keputusan di hati kecilnya pasti menangis sama
seperti kita. Samina’na Wa Ato’na di Rumah Saja. Oleh NU Kapuk Cengkareng (red.abi)


SORBAN Infokom – Memajang foto guru mulia dan orang shalih adalah hal mulia, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam : Maukah kuberitahu orang – orang mulia diantara kalian?, mereka yang jika dipandang wajahnya akan membuat orang ingat pada Allah. (HR. Adabul Mufrad olehImam Bukhari)
Mengenai larangan memasang lukisan di masa Nabi shallallahu alaihi wasallam, yang para kuffar menggambar para shalihin dan Nabi di masanya dahulu, dilarang oleh Rasululullah shallallahu alaihi wasallam, karena disembah, namun jika justru untuk menambah ketakwaan kita pada Allah Ta’ala maka hal itu baik, dan diriwayatkan oleh Hujjatul islam Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy bahwa salah seorang istri Nabi shallallahu alaihi wasallam memperlihatkan cermin kecil, ketika Ibn Abbas radliyallahu anhu melihatnya maka cermin itu tak menampakkan wajahnya, tapi menampakkan wajah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Rasul shallallahu alaihi wasallam pernah berkaca dengan cermin itu, maka cermin itu merekam wajah Sang Nabi shallallahu alaihi wasallam dan tak hilang selamanya (Fathul Baari Bisyarah Shahih Bukhari). (red.abi)

SORBAN Infokom – Setelah pandemi Covid-19, banyak sahabat FB, terutama dari kalangan santri NU, yang menuliskan semacam doa berbentuk syair yang dilantunkan berulang-ulang. Konon syair singkat di bawah ini adalah ijazah dari Hadlratus-Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, salah seorang pendiri organisasi Nahdlatul Ulama.
لي خمسة أطفي بها حر الوباء الحاطمة
المصطفى والمرتضى وابناهما وفاطمة
Saat saya membacanya berulangkali, hati saya terus menerus bertanya, dari manakah asal usul doa itu?
Alhamdulillah, saat saya menelaah sebuah kitab setebal 440 halaman berjudul الملاحق في فقه دعوة النور, karya al-Syaikh Sa’id al-Nursi, secara tak sengaja saya mendapatkan jawabannya.

Pada halaman 81 dalam kitab tersebut antara lain tertulis kalimat sebagai berikut:
وقد قال أحد الفاضلين للإستشفاء والإستشفاع:
لي خمسة أطفي بها نار الوباء الحاطمة
المصطفى والمرتضى وابناهما وفاطمة
Selanjutnya setelah kalimat di atas di bawah footnote tertulis kalimat yang menunjukkan referensi syair di atas, yaitu sebagai berikut:
ورد في مجموعة الأحزاب للكمشخانوي جزء ٢ ص ٥٠٥ في دعاء دفع الطاعون. وفيه : لي خمسة أطفي بها حر الوباء ٠٠٠. الخ.
Kitab di atas lengkapnya berjudul مجموعة الأحزاب الشاذلية adalah sekumpulan hizb yang disusun oleh al-Quthb Abi al-Hasan al-Syadzili yang dikumpulkan oleh al-Syaikh Dliya’ al-Din Ahmad bin Musthafa bin Abdurrahman al-Kamsyakhanawi al-Naqsabandi al-Mujaddidi al-Khalidi (wafat: 1311 H.)
Oleh: KH. Ishomuddin

SORBAN Infokom – Keindahan Allah tak bisa disifatkan, karena berbeda dengan segenap makhluk dan tidak menyerupai makhluk, Allah Ta’ala itu sangat Indah, dan akan semakin indah terasa, dengan hubungan batin kita yang semakin banyak meninggalkan larangannya dan mematuhinya,
Dia ‘Azza wa Jalla akan mengalirkan cinta kepada hati hamba-Nya sehingga hamba-Nya mulai asyik pada Nya.
Nah.. inilah sorga terindah sebelum mereka mengenal sorga, dan kelak mereka melihat keindahan Allah, dan Allah jadikan tempat tinggal mereka di sorga, dan sungguh jika disuruh memilih untuk tinggal di neraka namun boleh melihat keindahan Allah maka semua mereka akan meninggalkan sorga dan masuk ke neraka.
Sebagaimana diriwayatkan ketika seorang hamba yang terakhir keluar dari neraka setelah mungkin ratusan ribu tahun dihancur
leburkan di api neraka, setelah jutaan kali tubuhnya dihidupkan kembali dan disiksa, lalu ia dihadapkan pada Allah.., ia melihat Allah.., lalu Allah bertanya padanya, hambaku, berapa lama kau di api neraka?, hamba itu berkata : aku tak pernah merasakan siksa neraka...
kenapa?, hilang seluruh kepedihan neraka karena melihat keindahan Allah Ta’ala…
Nah.., namun Allah menempatkan hamba hamba yang rindu pada-Nya adalah di sorga, maka mereka meminta sorga karena tahu sorga adalah tempat terdekat pada Allah, mereka mendambakan sorga karena itu tempat orang yang dicintai Allah, mereka mengharap sorga karena di sorga lah mereka akan sering berjumpa dan melihat Allah..
(kenali aqidahmu – habib munzir)

SORBAN Infokom – Mengenai ayat mutasyabih yang sebenarnya para Imam dan Muhadditsin selalu berusaha menghindari untuk membahasnya, namun justru sekarang sangat digandrungi dan makin banyak muncul masa kini. Jika salah memahami maka akan terjatuh dalam jurang kemusyrikan, seperti membahas bahwa Allah ada di langit, mempunyai tangan, wajah dll, yang hanya membuat kerancuan dalam kesucian Tauhid Illahi pada benak muslimin, akan tetapi karena semaraknya masalah ini diangkat ke permukaan, maka perlu kita perjelas mengenai ayat ayat dan hadits tersebut.
Dimanakah Allah?
Sebagaimana makna Istiwa, ada yang mengatakan bahwa Allah itu bersemayam di Arsy, dengan menafsirkan kalimat ISTIWA dengan makna BERSEMAYAM atau ADA DI SUATU TEMPAT. Darimana menemukan makna kalimat Istiwa adalah semayam?, padahal tak mungkin kita katakan bahwa Allah itu bersemayam disuatu tempat, karena bertentangan dengan ayat ayat dan nash hadits lain.
Bila kita mengatakan Allah ada di Arsy, maka dimana Allah sebelum Arsy itu ada? Dan berarti Allah membutuhkan ruang, berarti berwujud seperti makhluk.
Berkata Hujjatul Islam Almuhaddits Al Imam Malik rahimahullah ketika datang seseorang yang bertanya makna ayat : Arrahmaanu alal Arsyistawa, Imam Malik menjawab :
Majhul, Maqul, Imaan bihi wajib, wa sual anhu bidah (tidak diketahui maknanya, dan tidak boleh mengatakannya mustahil, percaya akannya wajib, bertanya tentang ini
adalah Bidah Munkarah), dan kulihat engkau ini orang jahat, keluarkan dia..!. Demikian ucapan Imam Malik pada penanya ini, hingga ia mengatakannya : kulihat engkau ini orang
jahat, lalu mengusirnya.
Masalah ayat atau hadist tasybih (tangan atau wajah) dalam ilmu tauhid terdapat dua pendapat dalam menafsirkannya.
1. Pendapat Tafwidh Maa tanzih
2. Pendapat Tawil
II.1.1. Madzhab Tafwidh Maa Tanzih
Madzhab Tafwidh Maa Tanzih yaitu mengambil dhahir lafadz dan menyerahkan maknanya kepada Allah Ta’ala, dengan Itiqad Tanzih (mensucikan Allah dari segala penyerupaan)
Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal masalah hadist sifat, ia berkata Numinu biha wa nushoddiq biha bilaa kaif wala makna, (Kita percaya dengan hal itu, dan membenarkannya tanpa menanyakannya bagaimana, dan tanpa makna) Madzhab inilah yang juga dipegang oleh Imam Abu Hanifah.
Dan kini muncullah faham mujjassimah yaitu dhohirnya memegang madzhab tafwidh tapi menyerupakan Allah dengan mahluk, bukan seperti para Imam yang memegang madzhab tafwidh.
II.1.2. Madzhab Takwil
Madzhab Takwil yaitu menakwilkan ayat atau hadist tasybih sesuai dengan ke-Esaan dan Keagungan Allah Ta’ala, dan madzhab ini arjah (lebih baik untuk diikuti) karena terdapat
penjelasan dan menghilangkan awhaam (khayalan dan syak wasangka) pada muslimin umumnya, sebagaimana Imam Syafii, Imam Bukhari, Imam Nawawi dll. (Syarah Jauharat Attauhid oleh Imam Baajuri)
Pendapat ini juga terdapat dalam Alquran dan sunnah, juga banyak dipakai oleh para sahabat, tabiin dan imam – imam ahlussunnah waljamaah.
Diriwayatkan dalam hadtist Qudsiy bahwa Allah Ta’ala berfirman : Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya? (Shahih Muslim hadits No.2569)
Apakah kita bisa mensifatkan sakit kepada Allah tapi tidak seperti sakitnya kita?
Berkata Imam Nawawi berkenaan hadits qudsiy diatas dalam kitabnya yaitu Syarah Nawawiy alaa Shahih Muslim bahwa yang dimaksud sakit pada Allah adalah hamba-Nya, dan kemuliaan serta kedekatan-Nya pada hamba-Nya itu. Wa mana ajadtaniy indahu yaniy wajadta tsawaabii wa karoomatii indahu dan makna ucapan : akan kau temui aku disisinya adalah akan kau temui pahalaku dan kedermawanan-Ku dengan menjenguknya
(Syarh Nawawi ala Shahih Muslim Juz 16 hal 125)
Dan banyak pula para sahabat, tabiin, dan para Imam ahlussunnah waljamaah yang berpegang pada pendapat Tawil, seperti Imam Ibn Abbas, Imam Malik, Imam Bukhari, Imam Tirmidziy, Imam Abul Hasan Al Asyariy, Imam Ibnul Jauziy dll (lihat Dafussyubhat Attasybiih oleh
Imam Ibn Jauziy).
Maka jelas bahwa akal tak akan mampu memecahkan rahasia keberadaan Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya : Maha Suci Tuhan-Mu Tuhan Yang Maha Memiliki Kemegahan dari apa apa yang mereka sifatkan, maka salam sejahtera lah bagi para Rasul, dan segala puji atas Tuhan sekalian alam . (QS. Asshaffat : 180-182).
Walillahittaufiq. (Sumber – Kenali Aqidahmu karangan habib munzir )

SORBAN Infokom – Jumlah pasien positif terinfeksi Virus Corona (Covid-19) di Indonesia, per Kamis (2/4), mencapai 1.790 kasus. Dari jumlah itu, korban meninggal mencapai 170 jiwa, dan angka yang sembuh 112 orang.
“Ada penambahan kasus konfirmasi positif 113, sehingga jumlah total menjadi 1.790 kasus positif akumulatif,” kata Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto, dalam keterangan persnya, di gedung BNPB, Jakarta, Kamis (2/4).
Lihat juga: Update Corona DKI 1 April: 794 Kasus, 87 Meninggal, 51 Sembuh
Dia memaparkan dari angka itu korban meninggal mencapai 170 jiwa.
“Ada laporan kematian dari pasien konfirmasi positif sebanyak 13 orang. Sehingga jumlah kematian menjadi 170 orang,” ujar dia.
Selain itu, jumlah pasien yang dinyatakan sembuh setelah menjalani dua kali tes sebanyak 112 orang.
“Ada 9 pasien yang sudah sembuh sehingga total menjadi 112 pasien,” tandasnya.
Sehari sebelumnya, Rabu (1/4), jumlah pasien positif Virus Corona mencapai 1.677 kasus. Dari jumlah itu, korban meninggal mencapai 157 orang, dengan jumlah yang sembuh 103 orang.
Untuk menekan sebaran infeksi Covid-19 ini, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) pun telah meneken Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 yang mengatur tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
(yoa/arh)

Pernah seorang Arab Badwi menarik dengan begitu kasar jubah buatan Najran yang kasar kainnya, yang dipakai oleh Rasulullah SAW hingga berbekas leher baginda. Tetapi Rasulullah SAW tidak marah, malah menghadiahkan jubah itu kepada Arab Badwi tersebut.