Blog

  • RIJALUL ANSOR NGORO BERSHOLAWAT

    RIJALUL ANSOR NGORO BERSHOLAWAT

    Cyberswaja.online. Ngoro, Sholawat Bergema di Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto, di bawah Gerakan Pemuda Ansor Ngoro, melalui Lembaga Majlis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor (LMDS RA) nya, melaksanakan Shalawat bersama tokoh pemerintahan dan masyarakat sekitar.(14/12).

    Agenda Bulanan yang merupakan Program Dari LMDS RA ini, yang dikemas dengan Pengajian Umum Tidak hanya melantunkan shalawat, namun diisi dengan Santunan yatim Piantu juga.

    SORBANSANTRI.COM

    Banyaknya kehadiran Jama’ah dari berbagai kalangan dan umur tersebut, menunggu Ceramah Agama sesepuh Kyai dari Karangnongko Kab.Mojokerto yaitu Mbah KH. Khusein Ilyas, sebagai acara puncaknya.

    “Agenda ini merupakan program yang di tetapkan dan berganti tempat di setiap bulan” tegas Sahabat Surotin Selaku Ketua PAC GP Ansor Ngoro.

    Kegiatan berjalan lancar, keamanan dari Banser Ngoro tersebut berperan aktif selama acara berlangsung. (WakGenk/infokom/)

  • Kepala Densus 99 Pusat Hadir Haul 19 Riyanto

    Kepala Densus 99 Pusat Hadir Haul 19 Riyanto

    Cyberaswaja.online. Mojokerto, tepat Haul 19 Alm. Riyanto pahlawan Banser, dihadiri Oleh Ka Densus 99 Sahabat Nuruzzaman. Dalam agenda Seminar Nasional dengan tema “kontra radikalisme dan masa depan Bhineka Tunggal Ika”, bertempat di Balai kota Mojokerto, kegiatan tersebut mendapatkan antusiasme dari kader GP Ansor, Banser dalam mengikuti kegiatan Seminar Nasional tersebut (14/12).Seminar Nasional juga menghadirkan, Pendeta Pdt. Brahim Kharimatus, M.Div.M.Th, Dari Satgas Anti-Teror Polri BPK. DR. Didik Nobi Rahmanto, hadir juga BPK. AKBP. Bogiek Sugiyarto, S.H, S.I.K, M.H selaku Kapolres Mojokerto kota.

    SORBANSANTRI.COM
    Kasatkorcab Banser Mojokerto

    Selain tokoh tokoh diatas, dihadiri Dari Keluarga Alm. Riyanto, Serta Saksi Hidup Kejadian BOM Natal tahun 2000. Serta Pengurus GP Ansor dan Satkorcab Banser Kabupaten Mojokerto.Sejarah mencatat kepahlawan Alm. Riyanto Sebagai Banser hasil dari didikan kyai, yang selalu menjaga Pentingnya Bhineka Tuggal Ika.(WakGenk/infokom)

  • Adab Sebelum Minum Kopi

    Adab Sebelum Minum Kopi

    1. Hadiahkan Dulu Fatihah Buat Syeikh Abu Bakar Bin Salim, Karena Beliaulah Yang Pertama Kali Membawa Kopi Dan Menanamnya Hingga Bisa Dinikmati Sampai sekarang.

    2. Baca Niat Dalam Hati : Sahajaku Minum Kopi Meambil Berkat Syeikh Abu Bakar Bin Salim Karena ALLAH Ta`ala.

    3. Baca Secara Lisan : Nawaitu Syifa Bibarkati Muhammadurasulullah ( Kalam Abah Guru Sekumpul ) Insyaallah Jadi Obat Penyakit
    .
    4. Usahaka Setiap Minum Kopi 3 Tegakkan Baca : Bismillah, Arrahman, Arrahim. ( Kalam Abah Haji ).

    Allahumma Shollu`ala sayidinna Muhammad

  • Sekarang Peringatan HAUL sahabat Riyanto Ansor Banser Mojokerto

    Sekarang Peringatan HAUL sahabat Riyanto Ansor Banser Mojokerto

    Apel Kebhinekaan dalam peringatan Haul ke 19 Sahabat riyanto, dihadiri oleh tokoh-tokoh besar yang berperan aktif dan luar biasa oleh sahabat sahabat ansor banser.

    Dalam acara tersebut Ansor Banser dari berbagai daerah bersatu tekad untuk menjaga ke Bhinekaan.

    Bismillahi majreha wamursaha inna robbi lagofururrohiim…sambil mnanti panggilan Allah swt k tanah suci…brjiarah dulu ke makam orang2 yang shaleh waliyullah… Semoga lancar, sehat selamat sampai tujuan… Otw Jawa Timur Keluarga besar Ponpes.Darussalam Ckj-Garut

    Demikian salah satu komentar yang di posting dari daerah garut oleh Keluarga besar Ponpes.Darussalam Ckj-Garut

    Acara haul tersebut di mulai dari sejak tadi pagi, dimulai dari konvoi bendera merah putih sepanjang 100 meter.

    Acara tersebut sampai sekarang masih meriah dan khikmad… Bersambung..

  • Bendera Rasulullah berwarna Merah Putih

    Bendera Rasulullah berwarna Merah Putih

    Andrian Banser Pringsewu-Dalam Syarah Muslim jilid 9, Kitab (Bab) Fitan nomor 2889
    Di sebutkan

    عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ الْأَحْمَرَ وَالْأَبْيَضَ وَإِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي لِأُمَّتِي أَنْ لَا يُهْلِكَهَا بِسَنَةٍ عَامَّةٍ وَأَنْ لَا يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ وَإِنَّ رَبِّي قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنِّي إِذَا قَضَيْتُ قَضَاءً فَإِنَّهُ لَا يُرَدُّ وَإِنِّي أَعْطَيْتُكَ لِأُمَّتِكَ أَنْ لَا أُهْلِكَهُمْ بِسَنَةٍ عَامَّةٍ وَأَنْ لَا أُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ يَسْتَبِيحُ بَيْضَتَهُمْ وَلَوْ اجْتَمَعَ عَلَيْهِمْ مَنْ بِأَقْطَارِهَا أَوْ قَالَ مَنْ بَيْنَ أَقْطَارِهَا حَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكُ بَعْضًا وَيَسْبِي بَعْضُهُمْ بَعْضًا

    Dari Tsauban R.A dia berkata, “Rasulullah telah bersabda, ‘Sesungguhnya Allah tlah memperlihatkan seluruh bumi kpdaku hingga aku dapat melihatnya,
    baik itu bagian timur maupun bagian barat.
    Sesungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai bagian2 bumi yg tlah diperlihatkannya kpdaku

    Aku telah dianugerahkan dua perbendaharaan,
    MERAH DAN PUTIH

    Sesungguhnya aku telah memohonkan kepada Tuhanku mengenai umatku,
    Semoga Allah tdk menghancurkan umatku dngan habisnya pangan dlm jangka setahun penuh

    Semoga Allah tdk menjadikan umatku dpat dikuasai oleh musuh dari luar mereka yg melucuti pelindung kepala mereka.

    Sesungguhnya Tuhanku telah berfirman, “Hai Muhammad, apabila Aku telah memutuskan sesuatu, maka sesuatu itu pasti tidak akan tertolak.

    Sesungguhnya Aku telah menjamin umatmu bahwasanya,

    Aku tidak akan menghancurkan umatmu dngan kehabisan pangan dlm setahun penuh

    Aku tdk akan menjadikan umatmu dikuasai oleh musuh dari luar mreka yg melucuti pelindung kepala mereka

    meskipun mereka diserang dari berbagai penjuru,
    kecuali jika sesama umatmu saling menghancurkan & saling menawan.
    {Muslim 8/171}.

  • TGB : PERLU GUS BAHA’ – GUS BAHA’ BARU DI NEGERI INI

    TGB : PERLU GUS BAHA’ – GUS BAHA’ BARU DI NEGERI INI

    Oleh : Zainurrofieq

    Laziznu Tuban – Sempat sedikit agak terpana saya, ketika TGB (Tuan Guru Bajang) Muhammad Zainul Majdi yang sejak satu tahun terakhir ini sangat getol menarasikan wasatiyyah terutama dalam arah politik keummatan Indonesia, dalam diskusi tim kecil di WA Group alumni Al azhar, TGB menyataka :”Perlu Gus Baha – Gus Baha baru yang muncul kepermukaan yang sebenarnya banyak di pondok-pondok pesantren, yang pemikirannya cemerlang, kita harus dorong mereka untuk terjun aktif ditengah ummat. Nilai-nilai pesantren perlu direvitalisasi termasuk konsep tawadhu. Saking tawadhunya santri, akhirnya panggung dakwah diserahkan kepada yang tidak faham atau setengah faham, dan akhirnya jadilah sebuah dagelan. Kita lihat conto baik dari kehadiran viralnya Gus Baha, setelah tampil ke public, banyak ummat yang tercerahkan’.

    Sejak postingan TGB itu, saya akui hampir semua video dakwahnya Gus Baha saya buka dan ikuti narasinya, subhanalllah, Saya pun merasakan ada mutiara indah yang tersampaikan dalam viralnya tausiah-tausiah gus Baha ini.

    Gus Baha, sebutan bagi KH. Bahauddin bin Kiai Nursalim, sedang menjadi idola santri-santri dan milenial muslim, Gus Baha jadi oase di tengah maraknya ustadz-ustadz yang mencari popularitas. Di tengah meruahnya pendakwah yang mengumbar kebencian dan mengadu domba umat. Cara dakwah Gus Baha riang gembira, selow dan santai. Bikin nyaman.

    Ketertarikan terhadap Gus Baha’ didasarkan kepada metodologi yang digunakan dalam menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an yang tidak melepaskan diri dari paradigma fikih yang dikuasainya. Banyak yang menganggap bahwa cara penyajian Gus Baha’ tersebut terbilang langka. Karena selama ini, mereka hanya menerima penjelasan ayat-ayat al-Qur’an yang bersifat letterlik dan bahkan terkadang disisipi oleh lathaif siyasah (motif-motif politik yang tersembunyi).

    ————————————
    📌 #GusBaha‘ tentang Ketidakjelasan Politik
    🎥 https://youtu.be/G5vW0ICnMMc
    ————————————-

    Gus Baha’, melalui topik-topik yang diangkatnya, sepertinya telah membaca apa yang sebenarnya dibutuhkan publik di luar pesantren. Beliau seperti tidak ingin memaksakan cara pandangnya di dalam memahami masalah kepada audiens yang mendengarkan. Itu bisa dicermati dari bagaimana beliau mencoba menyederhanakan deskripsi fikih yang rumit ke dalam bahasa yang mudah, melalui perumpamaan yang mudah dimengerti siapa saja.

    Mengomentari kemunculan Gus Baha ini, teringat Kiai Ahmad Baso, di dalam karyanya, ” Islam Pasca Kolonial” selalu menegaskan bahwa liberalisme pemikiran bukanlah senyawa orisinil dunia pesantren. Pesantren mempunyai khasanah dan manhaj-nya sendiri untuk berbicara tentang peradaban.

    Bisa kita nikmati betapa metode pesantren di nusantara telah menyuguhkan produk pemikir dan pemikiran yang universal dan kekinian tanpa harus memasukan metode barat yang liberal tapi focus pada literasi klasik yang digali dengan pisau analisa tanggungjawab dakwah yang solutip keumatan.

    Lebih dalam mengomentari fenomena dakwah keumatan Gus Baha ini, TGB menegaskan bahwa termasuk dalam arah wasatiyyah adalah keseimbangan antara fikrah dan harakah. Ide dan gerak, ilmu dan amal.

    Bergerak tanpa kefahaman akan melahirkan teriakan tanpa manfaat, bising tanpa maslahat. Karenanya panggung dakwah itu harus diisi oleh orang-orang berkefahaman yang dalam dan utuh, dengan semangat yang kuat.

    Kalau sekedar bersemangat, panggung dakwah bisa berubah menjadi mimbar kebencian. Semoga Allah menjadikan kita termasuk yang selalu beramal dalam ilmu dan berilmu dalam amal.

    Yaa ritt….. Syukron Tuan Guru !!!
    (Tasikmalaya, 71219)

    Source : tengah dot co

  • RIWAYAT PENDEK PENGHANCURAN NU

    RIWAYAT PENDEK PENGHANCURAN NU

    Oleh: Kiai Dasuki As

    Laziznu Tuban – JUJUR saya senang melihat orang-orang kelojotan atas pernyataan Prof Dr KH Said Aqil Siroj. Warga NU yang “agak” normatif mungkin mengerutkan dahi merasa bahwa pernyataan “menguasai masjid-masjid, KUA- KUA dan lainnya” tidak elok untuk didengar ormas lain.

    Namun seandainya sedikit saja kita menengok ke belakang dan melihat serangan bertubi-tubi terhadap NU, kita akan sadar bahwa pemimpin NU memang sudah waktunya memberi peringatan keras.

    Tahun 2009 dilaporkan penelitian Wahid & Maarif Institute bahwa; ribuan mesjid NU dan Muhammadiyah telah berhasil dikuasai oleh kelompok “asing”. Mengambil alih mesjid, mengganti imam dan yang paling mengerikan mengatur tema ceramah. Menyalahkan bacaan dzikir yang sudah ada dan membid’ahkan semuanya. Mereka sudah masuk dalam rohis sekolah, mushola-mushola kampus, keagamaan lembaga pemerintah bahkan mensosialisasikan tahlilan sebagai bid’ah ke kampung-kampung. Masif dan terencana. Penyusupan ini sudah dilakukan sejak tahun 1980, dengan menghabiskan biaya mencapai USD 90 Milyar. Tahun 2006, masuk proposal resmi untuk melakukan ‘bantuan’ kepada pemerintah sebesar USD 500 Dollar untuk tujuan yang sama(Team, 2009). Beruntung proposal tersebut ditolak.

    Kekhawatiran itu bukan hanya milik NU, bahkan muhammadiyah PERNAH secara tegas mengeluarkan surat keputusan agar melarang INFILTRASI PKS dalam tubuh organisasi (lihat, SKPP Muhammadiyah No.149/KEP/I.0/B/2006) . Terlambat, muhammadiyah tidak memiliki akar budaya khas yang sulit dirubah seperti NU yang kokoh. Adakalanya tradisi mengalahkan Dollar. Meskipun serangan bertubi-tubi pada NU melahirkan “NU Garis Lurus” yang seperti singa di sosial media. Tentu cukup NU garis lucu untuk membuat mereka imut kembali. Jelang Buya Safii Maarif turun jabatan, Muhamaddiyah terPkskan. Namun kerugian atas infiltrasi ideologi semacam ini telah menimbulkan retakan-retakan.

    Saya tak heran kalau kemudian Din Syamsudin langsung memberi statemen atas pernyataan ketua PBNU, Kyai Said Aqil Siroj pada acara muslimat NU lalu (27/1/2019). Pekerjaan responsif terhadap NU adalah nostalgia bagi beliau. Tahun 2001 menjelang penggulingan Gusdur, Din S memiliki peran besar dalam menyuarakan isu “AJINOMOTO” mengandung babi untuk mendeligitimasi gusdur sebagai “orang islam” (Kobayashi, 2002). Kejam bukan?

    Beberapa tahun belakangan ketika NU belum memiliki media online yang mapan, sudah ada web bernama YukKenalNU. Dengan rencana yang matang dan terstruktur web tersebut khusus untuk memfitnah NU. Warna template berwarna hijau dan pada huruf NU dibuat berwarna pelangi. Dengan maksud mengasosiasikan NU sebagai pendukung LGBT. Laman tersebut memuat Semua tradisi NU: kemudian dievaluasi, dikategorikan bid’ah hingga dituduh syiah.

    Sudah cukup? Belum!

    Setelah kasus pembakaran bendera HTI di Jawa Barat, dilaporkan setelah pembakaran bendera HTI, video tentang pembakaran tersebut masuk melalui 80 akun yutube berbeda dalam jangka kurang dari 1 jam! Hebatnya, video ini disertai berbagai narasi berbeda dengan tujuan yang sama, mendeligitimasi Banser, pemimpinnya, hingga pucuk pimpinan PBNU dan kemudian menghancurkan citra NU sebagai Ormas Islam terbesar di planet bumi.

    Cukup? Belum!

    Silahkan anda ketik nama “Said Aqil Siroj” di youtube, yang muncul adalah Said aqil Syiah, Said Aqil liberal, Said Aqil Jenggot dan lainnya. Lalu anda putar secara bebas. Anda akan melihat video propaganda yang sudah dipotong, diberi nama, diberi efek dan kesan jelek. Mau contoh?

    Ketika KYAI SAID (KETUM PBNU) melontarkan pernyataan tentang “jenggot” hampir dipastikan video yang muncul teratas di youtube itu dipotong sedemikian rupa, lalu di”cut” dan diteruskan dengan video ceramah ustad-ustad jenggot yang baru saja memulai karir dengan “menggunakan” hadits.

    Anda bayangkan, penonton video ditampilkan dua rekaman berbeda seakan-akan KYAI SAID (KETUM PBNU) sedang dihakimi oleh ustad newbie tersebut. Lalu kemudian ustad anyar tersebut memaki-maki dan menjatuhkan “salah!” “Dosa!” “Bid’ah” kepada beliau. Lalu video 5 menit itu selesai, seakan-akan KYAI SAID (KETUM PBNU) berhasil dihakimi. Berani bertemu? TIDAK!

    Setelah itu tampilah ustad itu “seakan-akan berhasil mengkritik KYAI SAID (KETUM PBNU)” yang belum pernah ia temui. Maka wajar kalau dalam setiap ceramah KYAI SAID (KETUM PBNU) selalu mengatakan ia terbuka untuk kritik, kantor PBNU terbuka. Karena sangat jarang ada yang berani mendebatnya. Kecuali kalangan NU sendiri yang terbiasa tabayyun.

    Ini baru satu video, sedangkan dalam 1 isu saja tentang pernyataan KYAI SAID (KETUM PBNU), bisa menampilkan hingga 20-40 video. Pertanyaannya, jenis makhluk apakah orang-orang yang melakukan editing video seperti ini? Apa mereka mengangap fitnah terencana ini sebagai jihad? maukah mereka diuji secara terbuka dan ilmiah?

    Anda bayangkan, seorang Felix siau yang tidak pernah diuji secara ilmiah dan akademis pengetahuannya tentang Timur Tengah mengklaim sebagai orang yang paling tahu tentang Turki Utsmani cukup dengan membuat NOVEL tentang ‘Muhammad Al-Fatih’(dan liburan ke Turki beberapa kali)–mempermalukan puluhan lulusan Jurusan Timur Tengah dalam negeri yang bertahun-tahun berdarah-darah membuat skripsi-thesis-disertasi. Jangan bandingkan dengan Disertasi Kyai Said yang dipuji Gusdur karena memakai 1000 referensi teruji.

    Kita boleh jujur, bahwa kadangkala yang melakukan semua ini adalah orang Islam sendiri. Orang yang mengaku paling Islami namun mereka adalah Orang yang tidak betah hidup di negeri Pancasila. Mereka anti pada banyak hal. Sehingga akan mudah berseteru dengan kelompok sendiri. Itulah yang membuat Timur Tengah retak-retak tanpa jiwa kebangsaan yang kokoh.

    Gayung bersambut, pemerintahan Jokowi memiliki kekhawatiran bersama bahwa pihak-pihak yang menggerogoti NU dari dalam adalah sel-sel yang akan menjadi penghancur konsep negara-bangsa. Hal ini sangat mengancam ideologi Negara. Tak ada pilihan. 10 tahun pemerintahan SBY tak pernah sedikitpun mampu membubarkan HTI secara nyata dan terbuka. Padahal kampanye HTI dalam menolak ideologi Negara begitu gencar dan terbuka (deklarasi khilafah di GBK!). Hanya di pemerintahan Jokowi, mampu segera membubarkan Organsasi transnasional tersebut. Dalam hal ini pemerintah telah menunjukan komitmen yang jelas atas kelompok-kelompok anti-kebangsaan. NU melihat hal tersebut sebagai komitmen yang nyata.

    Sebenarnya NU adalah wajah Islam Indonesia sendiri, dan mencoba mempertahankan apa yang sudah diajarkan para ulama, yang ajaran tersebut bisa ditarik tanpa putus hingga pada Nabi Muhammad Saw. Sementara para veteran konflik Timur Tengah mencoba menghancurkan keharmonisan ulama Islam di Indonesia dengan wajah islami. Memang dibutuhkan kekuataan intelektual yang teruji untuk mengenali infiltrasi mereka yang rajin mengimpor konflik dan mengobral kebencian. Momentum Pilpres adalah saat yang paling tepat untuk menentukan keberpihakan antara pihak yang membela kebangsaan dan para kontraktor konflik.

    Namun, mesin hoak telah disebar merusak tatanan keluarga dan membinasakan kebudayaan negri loh jinawi. Mereka bersepakat berkumpul dikubu Prabowo. PKS, eks-HTI, FPI, dan para alumni non-universitas. Tak lupa Amin Rais, tokoh sentral ketua MPR yang menjatuhkan Gusdur melalui isu bulogate dan bruneigate, tanpa PEMBUKTIAN dan tanpa peradilan. Kubu sebelah sudah mempersiapkan kekalahan mereka dengan menebar isu KPU curang guna mempersiapkan kondisi kacau setelah Pilpres, memelihara kelompok anti-kebangsaan, memasukan Rocky Gerung kedalam masjid, semuanya halal demi ambisi politik.

    HARAPAN

    NUonline telah menyalip semua web Islam (garis keras/fundamentalis) dengan rating tertinggi. Para intelektual hijau sudah merapatkan barisan. Akademis NU diberbagai Negara menghimpun keahlian mereka melawan Hoax dengan keilmuan. Berkumpulnya kaum muslimat menghijaukan GBK adalah sinyalemen bahwa NU mulai siap muncul kepermukaan. Cukup Muslimat NU saja untuk membuat ramai suatu kawasan tanpa berebut klaim juta-jutaan.

    Kemudian, Harlah NU 31/1/2019 dibuka dengan dengan harapan masa depan. Industri 5.0 dibahas tanpa melupakan UKM lemah ditengah himpitan global (lihat pidato Kyai Said pada Harlah 31/1/2019). Keberpihakan NU cukup jelas pada rakyat jelata. Melihat beban yang di emban NU, jelas NU adalah ormas dengan wawasan Internasional dan menghadapi persoalan-persoalan global. NU Bukan ormas recehan yang memperebutkan jatah sektoral dan mencakar saudara sendiri demi ambisi.

    Statemen sudah dibunyikan. NU mulai berhitung. Ketika ambisi Politik menghancurkan hubungan keluarga, ambisi politiknya yang dihancurkan, bukan keluarganya. Komitmen NU dalam mempertahankan nilai-nilai kebangsaan jelas merupakan keberpihakan terhadap keluarga besar Bangsa Indonesia. Semoga kita TIDAK berada pada pihak yang ingin menghancurkannya. Sebagaimana mereka mencobanya jutaan kali.

  • PERTEMPURAN PACET PEBRUARI 1949 SEDAHSYAT PERTEMPURAN SURABAYA.

    PERTEMPURAN PACET PEBRUARI 1949 SEDAHSYAT PERTEMPURAN SURABAYA.

    Pertempuran Pacet Pebruari 1949 Sedahsyat pertempuran Surabaya

    Ketika berburu buku di Kios buku Velodrom Malang, sebuah sebuah buku yang lama aku cari. SAM KARYA BHIRAWA ANORAGA, buku yang menceritakan tentang perjuangan tentara dari Kodam Brawijaya. Terdapat satu paragraf menarik dalam buku tersebut, yaitu paragraf yang membenarkan keyakinanku tentang perang di Mojokerto. Keyakinan itu yang dulu mendorong lahirnya buku GARIS DEPAN PERTEMPURAN

    Memang hanya satu paragraf tetapi itu sudah cukup untuk dijadikan sebagai dasar pengakuan bahwa Mojokerto benar-benar sebuah garis depan perjuangan kemerdekaan. Sebuah peristiwa besar yang tidak banyak ditulis dalam sejarah kita. Bagaimana mungkin, peristiwa yang menelan korban lebih kurang 1000 orang prajurit luput dari catatan ?

    Pertempuran Pacet yang berlangsung dari Januari hingga pebruari 1949 telah memusnahkan 1/3 dari kekuatan pasukan Komando Hayam Wuruk. Sebuah pasukan komando yang dibentuk dari gabungan batalyon Mansyur, Batalyon Bambang Yuwono dan Batalyon Tjipto. Pasukan gabungan itu dikenal dengan nama pasukan MBT, sesuai dengan singkatan nama para komandan batalyonnya. Perintah buat pasukan komando itu adalah menyerang Surabaya dari arah selatan atau dari sidoarjo.

    Pada awal pertempuran, mereka berhasil menguasai daerah Pacet, Mojosari, Ngoro dan Trawas. Dari sana mereka menjadikannya sebagai basis teretorial untuk masuk ke Surabaya. Upaya masuk lewat jembatan Ngoro, Tanjangrono dan Porong tidak berhasil karena dijaga ketat oleh musuh. Sementara. Menyeberang langsung lewat sungai porong nyaris tidak mungkin karena airnya sedang besar besarnya di musim hujan kala itu.

    Kekuatan pasukan MBT kian bertambah ketika ada beberapa kesatuan pejuang masuk ke wilayah Mojosari selatan. Mayor Moenasir datang dengan separuh anggota batalyonnya setelah gagal merebut Brangkal. Sebagian anggota batalyon Moenasir yang dikenal dengan sebutan Batalyon Tjondromowo itu masuk ke utara sungai membantu Mayor Djarot yang berusaha masuk ke Surabaya juga. Ikut bergabung juga Kapten Soemadi dengan anggota kompinya yang dinamakan kompi Macan Putih. Kompi tempur atau Stot-trop iki masuk ke Pacet usai meloloskan diri dari kepungan musuh di Mendalan Kediri.

    Pada pertengahan bulan pebruari, konsolidasi musuh sudah selesai. Kekuatan pasukan belanda disiapkan secara matang berikut senjata beratnya. Pertempuran besar kembali terjadi di Dlanggu dan para pejuang terjepit. Belanda juga membuat siasat perisai hidup dengan menggiring penduduk di depan pasukannya. Dari belakang muntahan peluru dari tank dan meriam terarah pada posisi tentara republik.

    Pertarungan berlangsung sengit mulai pagi hingga malam. Dan kegelapan malam yang menyelamatkan pasukan komando hayam wuruk itu. Mereka mampu lolos dari kepungan, namun sebagian anggotanya tidak bisa kembali ke induk pasukannya, entah meninggal atau hilang. Sebagian dari yang meninggal adalah prajurit yang pernah dilatih dalam kamp pelatihan Hizbullah di Cibarusa. Kapten Mat Yatim, komandan kompi batalyon Mansyur Solikhi dan Madjid Asmara, kepala staf batalyon gugur pada pertempuran di Ngembeh Dlanggu. Batalyon Mansyur yang terkenal keberaniannya dalam pertempuran kehilangan hampir separuh anggotanya. Kesatuan yang merupakan peleburan dari resimen Hizbullah karesidenan Surabaya itu tetap berdiri hingga penyerahan kedaulatan pada akhir tahun 1949.

    Sebagian pejuang berhasil lolos dari pertempuran itu namun jauh lebih banyak lagi yang gugur atau hilang tak kembali ke induk pasukannya. Kyai Achyat Chalimy menyebut besarnya korban di Batalyon Moenasir dengan julukan “Batalyon Ilang”, batalyon yang musnah. Ya, dalam konsolidasi di Cukir Jombang, Moenasir menghitung anggota pasukannya hanya sebagian kecil yang bisa dikumpulkan kembali, sebagian lainnya tidak hadir di tempat yang disepakati sebagai titik kumpul. Karena kehilangan anggota itulah Abah Yat menyebutnya Batalyon Ilang. Maka untuk mencukupi jumlah personil satu batalyon, Mayor Moenasir merekrut anggota baru dari pesantren di sekitar Cukir. Dengan memobilisasi santri itulah Batalyon Moenasir selamat dari likwidasi atau pembubaran. Batalyon ini baru membubarkan diri setelah kemerdekaan berhasil dicapai.

    Bagaimana dengan korban dari pihak lawan?. Menurut penuturan Pak Yazid Qohar (alm) yang menerima cerita dari Abah Yat, pada hari selesainya pertempuran besar itu truk-truk Belanda datang mengevakuasi korban baik yang meninggal maupun terluka. Korban itu kemudian dibawa ke Surabaya. Tidak diketahui berapa jumlah korban tersebut. Sedangkan korban dari rakyat dan pejuang dibiarkan bergeletakan di tempat.

    Sayangnya, pertempuran besar itu tidak ditandai dengan monumen yang layak. Monumen yang patut dijadikan pengingat bahwa ribuan nyawa telah melayang di sana demi mempertahankan kata KEMERDEKAAN.

    Sudowangun, 24 Nopember 2014

    SORBANSANTRI.COM

    Sumber : Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • KH. AHYAT CHALIMY

    KH. AHYAT CHALIMY

    KH. Ahyat Chalimy (bagian 2)

    Baca bagian ke-1

    H. Qodri, memanggil kedua keponakannya – Aslan dan adiknya, bernama Ahyat yang mulai menginjak masa remaja. Ia bercerita kepada kedua keponakannya, ; “ Ayahmu adalah keturunan dari Mbah Rofi’i yang berasal dari Giri, Gresik, sedang Ibumu adalah keturunan dari Mbah Rowiyo, yang berasal dari Ampel, Surabaya.”1) Katanya, memulai paparan ceritanya. Mbah Rofi’i dan Mbah Rowiyo adalah Pahlawan Islam, karena beliau itu adalah anggota pasukan Tumenggung Kertosono, yang merupakan salah satu Panglima Perang Pangeran Diponegoro, dari Mataram, Jawa Tengah. Mbah Rofi’i dan Mbah Rowiyo dibawah pimpinan Tumenggung Kertosono, berangkat ke Jawa Tengah, berperang melawan Kompeni Belanda, bersama Pangeran Diponegoro.

    Karena kelicikan dan tipu muslihat Kompeni Belanda, P. Diponegoro akhirnya ditangkap kompeni Belanda. Pasukan Diponegoro kocar-kacir. Mbah Rowiyo dan Mbah Rofi’i berniat kembali pulang ke Giri dan Ampel. Karena sulitnya menempuh perjalanan pulang, keduanya nekad mengikuti aliran sungai Brantas. Mulai dari Kertosono, kedua beliau terapung-apung beberapa hari, keduanya akhirnya bertekad, dimanapun keduanya terdampar, maka disitulah mereka akan bertempat tinggal. Berkat pertolongan Alloh SWT. Keduanya terdampar di Kecamatan Gedeg, Mojokerto. Akhirnya kedua beliau menetap di Gedeg, tepatnya di desa Gedek. Sekarang, selain makam Mbah Rowiyo, beberapa keturunannya masih bertempat tinggal di Desa Gedeg.

    K.H. Ahyat Halimy, dilahirkan pada tahun 1918, dari pasangan suami istri Hj. Marfu’ah binti Ali dan H. Abd. Halim dari Gedeg. Ayahanda K.H. Ahyat Halimy, meninggal dunia ketika usia kandungan Ibunya baru memasuki bulan ketiga, sedang kakak-kandungnya, K.H. Aslan, lahir pada tahun 1914. Kedua anak yatim ini kemudian di asuh oleh Ibundanya bersama Pakde-nya yang bernama H. Thohir. Ibunda K.H. Ahyat Halimy akhirnya wafat pada tahun 1938, ketika K.H. Ahyat memasuki usia 17 tahun. Pakde H. Thohir ini pula yang membawa dua Yatim bersama Ibunya, untuk bertempat tinggal di Desa Miji (Sekarang lokasi makam Alm. K.H. Ahyat Halimy).

    Masa kecil K.H. Ahyat Halimy beserta kakak kandung-nya, dijalani di Kota Mojokerto. Keduanya sekolah di Sekolah Rakyat Miji (Sekarang SD Miji I), setelah lulus, mereka melan-jutkan sekolahnya ke Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Mereka juga sempat diajar secara langsung oleh Hadrotussyaih K.H. Hasyim Asy’ari, dan putra beliau K.H. Wahid Hasyim, bahkan karena usianya yang hampir sebaya, K.H. Wahid Hasyim selain sebagai guru berperan pula sebagai sahabat dalam melakukan berbagai diskusi, serta dalam satu barisan perjuangan di masa Proklamasi kemerdekaan.

    Selama belajar di Tebuireng, K.H. Ahyat kecil dikenal sebagai santri yang disiplin. Postur tubuh dan wajahnya menyerupai keturunan Arab, gagah dan tampan. Tetapi perilakunya sangat sopan. Ia juga dikenal sebagai anak yang suka menolong teman santri yang lain. Menanak nasi dan menghidangkannya untuk disantap bersama teman-temannya, merupakan pekerjaan yang setiap hari dilakukan dengan sukarela. K.H. Munasir dari Pekukuhan, Mojosari, sebagai teman seka-mar di Pondok Pesantren Tebuireng, pernah memberi kesaksian pada beberapa orang dari pengurus Cabang GP. Ansor di rumahnya dengan mengatakan ; “ Pak Yat, sejak kecil sudah kelihatan kalau akan jadi Kiyai. Dia tidak pernah meninggalkan sholat jama’ah, tidak pernah mau menggunjingkan teman-temannya, bahkan selalu menempatkan diri sebagai pelayan dari teman-temannya. Saya termasuk orang yang paling beruntung ketika mondok di Tebuireng, karena nggak pernah ngliwet atau bahkan nyuci pakaian. Karena semua sudah dikerjakan oleh Pak Yat.”

    Pengakuan dan kesaksian serupa, juga diberikan oleh teman-teman satu angkatan, antara lain ; K.H. Abdullah Siddiq, dari Jember. K.H. Mansur Burhan dari Surabaya, dan K.H. Zainuri dari Qudus.

    Tahun 1938, K.H. Ahyat Halimy beserta kakak kandungnya, K.H. Aslan, kembali ke Mojokerto dan melakukan berbagai aktifitas. Sebagai pemuda, bersama dengan beberapa temannya, antara lain Sdr. M. Thoyib, M. Thohir, Sholeh Rus-man, Aslan, Mansur Solihi, dan Munasir, mendirikan Ansoru Nahdlatul Ulama (ANO) yang sekarang dikenal sebagai Gerakan Pemuda Ansor. Pada tahun yang sama K.H. Ahyat Halimy, juga diangkat sebagai Sekretaris Tanfidziyah NU Mojokerto, periode kepengurusan yang kedua (1938 s/d 1940).

    Seluruh aktivitas itu dikerjakan dengan tanpa meninggalkan aktivitas “ta’lim”, atau belajar, baik ke Tebuireng mau-pun ke K.H. Romly di Rejoso, Peterongan, Jombang. Akhirnya pada tahun 1940, K.H. Ahyat Halimy mempersunting Badriyah, seorang janda dari desa Gayam, Kecamatan Mojowarno, putri dari K.H. Moh Hisyam yang juga memangku Pondok Pesantren. Suami pertama Nyai Badriyah bernama Fauzan, beliau adalah kakak kelas K.H. Ahyat Halimy, waktu belajar di Tebuireng. Perceraian antara Nyai Badriyah dengan P. Fauzan ini berlangsung baik-baik, semata-mata karena sudah bukan jodohnya lagi. Buktinya, ketika Nyai Badriyah ini dipersunting oleh K.H. Ahyat Halimy, P. Fauzan sempat menitipkan Nyai Badriyah kepada K.H. Ahyat Halimy secara langsung. P. Fauzan berpesan agar Nyai Badriyah dijaga dengan baik.

    Aktivitas K.H. Ahyat yang luar biasa banyak ini, tentu saja mengurangi waktu untuk urusan rumah tangga. Kehidupan rumah tangganya dari segi finansial sangat buruk. Untung istrinya masih sangat setia menemani. “ Setelah pulang dari pengungsian pada Tahun 1946 – 1949, yaitu mulai permulaan tahun 1950, merupakan tahun paling berat bagi rumah tangga saya” tulis K.H. Ahyat Halimy, dalam artikel Sejarah Pondok Sabilul Muttaqin. “Saya bersama keluarga menempati rumah tua, dindingnya sudah lapuk. Kalau malam sulit untuk tidur lelap, karena angin dingin menerobos celah-celah dinding yang sudah lapuk”.

    Pada masa sulit ini, K.H. Ahyat Halimy sempat terpilih menjadi anggota Konstituante (Semacam MPR) di Jakarta, yaitu pada masa berlakunya UUDS RI Tahun 1950, tetapi tugas ini hanya dijalani sekitar dua tahun. K.H. Ahyat Halimy mengajukan pengunduran diri dari anggota Konstituante, karena merasa ini bukan makom atau bidang keahliannya. Keputusan yang bagi kebanyakan orang terasa sangat aneh. Betapa tidak, ketika belum mendapatkan pekerjaan yang bisa menjamin kelancaran kehidupan rumah tangganya, K.H. Ahyat Halimy memilih mengundurkan diri dari anggota Konstituante hanya karena merasa bukan bidang keahliannya, pada hal menjadi anggota Konstituante (MPR) berarti “pekerjaan” yang lumayan juga ?.

    Keadaan sulit ini, mengingatkan K.H. Ahyat Halimy pada “dawuh” K.H. Ahmad Basyari Sukonegoro dari Cianjur ;” Sopo wonge ziarah wali songo sarono urut-urut, Insya Alloh oleh barokahe Walisongo” (Barang siapa yang mau berziarah ke makam Walisongo secara berurutan, Insya Alloh akan men-dapat barokah dari Walisongo). K.H. Ahyat Halimy pun akhirnya berangkat ziarah ke Walisongo, menggunakan kendaraan apa saja, dengan bekal uang hasil penjualan gelang milik istrinya. “Lelono” ini membutuhkan waktu satu bulan lebih.

    Ketika sampai di makam Sinuhun Syarif Hidayatullah (Sunan Giri), K.H. Ahyat Halimy mendapat isyarah, bahwa makom-nya ada di dalam Mihrab (tempat Imam Sholat). Isyarah yang sama juga di dapat oleh K.H. Ahyat Halimy, ketika berholwat di makam Batuampar, Madura. K.H. Ahyat Halimy bermimpi ketemu Rosulloh SAW, yang juga menyatakan bahwa makom-nya ada di dalam Mihrab. Isarah-isarah itu kemudian digabungkan oleh beliau, dengan berpedoman pada perilaku Hadratus syaih K.H. Hasyim Asy’ari, yang pernah bercerita, setelah berbagai macam pekerjaan ditempuh dan dijalani, oleh Hadrotussyaih bahkan sampai menjadi “blantik jaran”, akhirnya Hadrotus syaih berkata “ Bareng aku hidmatul ilmu, maka opo wae hasil kabeh”. ( Bersama saya, mengabdi kepada Ilmu, maka apapun akan terpenuhi ).

    Berdasarkan pengalaman-pengalaman diatas, maka sejak tanggal 25 Januari 1956, K.H. Ahyat Halimy mulai bertekad untuk mengabdi pada ilmu, dan mengadakan kuliah subuh, di surau kecil peninggalan datuknya + 150 tahun yang lalu. Kitab yang dibaca adalah kitab Kasyifat al Sajaa’, sesuai dengan saran K.H. Romly, Rejoso Jombang dengan mengatakan “ Kang Ahyat, kitab niku manfaat kangge tiyang Jawi !”. Sejak itu sampai dengan sekarang, kuliah subuh itu terus diselenggarakan secara istiqomah, kecuali hari raya Idul Fitri, di tempat yang sama, yaitu surau kecil yang sekarang telah berubah menjadi Masjid dan Komplek Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin.


    1). Beberapa Ulama sepuh, terutama ulama dari Pasuruan dan Jember, mengatakan bahwa Mbah Rofi’i dan Mbah Rowiyo, bukan saja dari Ampel dan Giri, tetapi kedua beliau adalah juga kerabat dari Sunan Giri dan Sunan Ampel. Namun K.H. Ahyat Halimy, setiap kali bercerita hanya mengatakan Mbah Rowiyo dari Giri, dan Mbah Rofi’i dari Ampel.

    SORBANSANTRI.COM

  • KH. AHYAT CHALIMY

    KH. AHYAT CHALIMY

    KH. Ahyat Chalimy (bagian 1)

    Jamaah sholat Isya’ di surau kecil itu baru saja usai. Beberapa anak muda masih asyik bercengkerama di teras surau. Ahyat, salah seorang dari anak muda itu, beranjak pulang ke rumahnya yang berada di sebelah surau. Beberapa saat kemudian Ahyat kembali sambil membawa cobek dan ulekan. “Ayo rujakan !” katanya pada teman-temannya. Rusman dan Thoyib yang dikenal jago memanjat, segera beraksi, memanjat pohon mangga yang berada persis didepan surau. Selain memanjat mangga, seluruh kegiatan “ngrujak” dilakukan oleh Ahyat. Bukan saja membuat rujak, waktu “liwetan” (menanak nasi untuk dimakan bersama), Ahyat juga yang mengerjakan. Diantara 12 pemuda yang suka bercengkerama di surau itu, Ahyat dikenal teman-temannya sebagai anak yang suka melayani teman-temannya.

    Sambil makan rujak, mereka berbicara mengenai banyak hal. Mulai dari masalah agama, sampai informasi terkini yang mereka dengar dari radio atau dari pembicaraan orang dewasa. Malam itu mereka membicarakan Perang Dunia ke dua, dimana Jerman dan Jepang sudah mulai menguasai beberapa negara. Kabarnya, Belanda sudah mulai diserang Jerman, dan tentara Jepang sudah menguasai Malaka. Tak penting apakah informasi itu akurat atau tidak, topik pembicaraan mereka selesai atau tidak. Yang penting mereka kumpul-kumpul, berinteraksi dan makan bersama.

    Setelah selesai makan rujak, tiba-tiba Ahyat usul untuk membuat kegiatan latihan pencak silat dan baris berbaris. Usul ini disambut dengan senang hati, dan mereka mulai mengajak pemuda yang lain untuk bergabung. Seluruh kegiatan ini dipusatkan di surau kecil, berukuran 5 X 5 m, yang terletak di ujung barat Jalan Miji No. 36 Mojokerto. Biasanya latihan silat diselenggarakan di depan surau, dan latihan baris berbaris, berangkat dari surau menuju ke Pulorejo. Disekitar jembatan Pulorejo itulah mereka latihan baris dengan lebih intensif.

    Mereka sama sekali tidak menduga, apalagi merencanakan, bahwa dari komunitas 12 orang itu kemudian berkembang menjadi puluhan orang, bahkan ratusan pemuda militan yang tergabung dalam laskar rakyat Hisbullah pada perang Kemerdekaan tahun 1945. Pasukan Hisbullah yang pertama dibentuk pada tahun 1943 dan mendapatkan fasilitasi dari Pemerintah Pendudukan Jepang, berupa latihan dasar perang gerilya, untuk mempertahankan Indonesia dibawah kepemimpinan Jepang. Dua tahun kemudian, setelah Proklamasi dikumandangkan, “Pasukan Hisbullah” yang dibentuk melalui forum “rujakan” ini telah mempunyai kekuatan dua batalyon. Batalyon pertama dipimpin oleh Mansur Sholikhi, dan Batalyon kedua dipimpin oleh Munasir.

    Bukan itu saja, surau kecil milik keluarga H. Abd. Halim di Desa Mentikan, tepatnya Jl. Miji No.36 itu menjadi pusat berbagai macam aktifitas keagamaan, sosial dan kebangsaan, yang dimotori oleh dua bersaudara yaitu K.H. Ahyat Halimy dan kakak kandungnya K.H. Aslan. Di Surau ini pula, Syarikat Tani Islam Indonesia (STII) didirikan, yaitu pada tahun 1951. Tahun 1965, surau ini menjadi pusat penumpasan G.30.S PKI dan tempat kelahiran barisan Orde Baru yang diberi nama Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Dengan fasilitasi dan dorongan dari K.H. Ahyat Halimy, tahun 1968, didirikan pula Koperasi Tani yang dimotori oleh H. Husein Abd Gani ( kakak kandung Ruslan Abdul Gani, sesepuh PNI). Bahkan sejak tahun 1958 sampai sekarang, surau ini selalu digunakan untuk kegiatan sosial berupa Khitanan Massal, yang terus berlangsung setiap bulan Dzul Hijjah sampai sekarang.

    Tanggal 29 April 1964, K.H. Ahyat mulai membangun surau itu menjadi Pondok Pesantren hanya dengan modal keyakinan dan tekad yang besar. Ketika pembangunan dimulai, dengan menggali pondasi, K.H. Ahyat tidak mempunyai modal sama sekali, satu-satunya modal yang dimiliki adalah “do’a” dari Almukarrom Kanjeng Sunan Giri, dalam mimpinya, “Kowe tak dungakno iso mbangun bangunan”, kata Kanjeng Sunan. Kemudian ketika batu pertama diletakkan, datang orang tak dikenal memberikan bantuan berupa 23.000 batu bata merah.

    Maka berdirilah Pondok Pesantren, sebagai pusat pendidikan dan pengkaderan pemuda-pemuda Islam, pusat kegiatan sosial keagamaan, sosial kemasyarakatan, serta politik kebangsaan, yang semuanya didasarkan pada landasan Iman kepada Alloh SWT dan Rosul-Nya, Tasdiq, Ihlas. Yakin, Sabar dan Syukur, serta Tawakkal kepada Alloh SWT.

    Pondok Pesantren “Sabilul Muttaqin” ini telah didaftarkan sebagai Badan Hukum melalui Akte Notaris Gusti Johan Nomor 156 tertanggal 20 Desember 1972 dengan nama Yayasan “Sabilul Muttaqin”, dan berkedudukan di Jl. K.H. Wahid Hasyim (dulu Jl. Miji) Nomor 38 Mojokerto. Untuk mencapai lokasi ini, sebenarnya tidaklah terlalu sulit, sebab semua kendaraan umum di Kota Mojokerto, tahu persis tempat ini, anda cukup mengatakan “Pondoke Abah Yat” maka anda akan diantar kesana. Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin ini memang lebih dikenal oleh masyarakat awam dengan sebutan “Pondoke Abah Yat”.

    SORBANSANTRI.COM