Blog

  • KH. AHYAT HALIMI, SANTRI MBAH HASYIM YANG DISEGANI.

    KH. AHYAT HALIMI, SANTRI MBAH HASYIM YANG DISEGANI.

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Siapa sangka dari kegemaran menikmati rujak dan makan bersama akhirnya lahir barisan perang yang disegani. Surau kecil juga mampu menjadi markas dalam membincang persoalan umat dan bangsa.Jamaah shalat Isya’ di surau kecil itu baru saja usai. Beberapa anak muda masih asyik bercengkerama di teras surau. Ahyat, salah seorang dari anak muda itu, beranjak pulang ke rumahnya yang berada di sebelah surau. Beberapa saat kemudian ia kembali sambil membawa cobek dan ulekan. “Ayo rujakan!” katanya pada teman lainnya.

    Rusman dan Thoyib yang dikenal jago memanjat, segera beraksi menaklukkan pohon mangga yang berada persis di depan surau. Selain memanjat mangga, seluruh kegiatan “ngrujak” dilakukan Ahyat. Bukan saja membuat rujak, waktu “liwetan” (menanak nasi untuk dimakan bersama), ia juga yang mengerjakan. Di antara 12 pemuda yang suka bercengkerama di surau itu, ia dikenal sebagai anak yang suka melayani mereka.Membincang Persoalan BangsaSambil makan rujak, mereka berbicara mengenai banyak hal. Mulai dari masalah agama, sampai informasi terkini yang didengar dari radio atau dari pembicaraan orang dewasa.

    Malam itu mereka membicarakan perang dunia ke dua, dimana Jerman dan Jepang sudah mulai menguasai beberapa negara. Kabarnya, Belanda sudah mulai diserang Jerman, dan tentara Jepang sudah menguasai Malaka. Tidak penting apakah informasi itu akurat atau tidak, topik pembicaraan mereka selesai atau tidak. Yang penting mereka kumpul, berinteraksi dan makan bersama.Setelah selesai makan rujak, tiba-tiba Ahyat usul untuk membuat kegiatan latihan pencak silat dan baris berbaris.

    Usul ini disambut senang hati, dan mereka mulai mengajak pemuda lain bergabung. Seluruh kegiatan dipusatkan di surau kecil, berukuran 5 × 5 m, yang terletak di ujung barat Jalan Miji No. 36 Mojokerto Jawa Timur. Biasanya latihan silat diselenggarakan di depan surau, dan latihan baris berbaris, berangkat dari surau menuju ke Pulorejo. Di sekitar jembatan Pulorejo itulah mereka latihan baris lebih intensif.Mereka sama sekali tidak menduga, apalagi merencanakan, bahwa dari komunitas 12 orang itu kemudian berkembang menjadi puluhan orang, bahkan ratusan pemuda militan yang tergabung dalam laskar rakyat Hizbullah.

    Pasukan ini yang pertama dibentuk pada tahun 1943 dan mendapatkan fasilitasi dari Jepang, berupa latihan dasar perang gerilya, untuk mempertahankan Indonesia. Dua tahun kemudian, setelah proklamasi dikumandangkan, “Pasukan Hizbullah” yang dibentuk melalui forum “rujakan” ini telah mempunyai kekuatan dua batalyon. Batalyon pertama dipimpin Mansur Sholikhi, dan Batalyon kedua dipimpin oleh Munasir.Bukan itu saja, surau kecil milik keluarga H Abdul Halim di Desa Mentikan, tepatnya jalan Miji No.36 itu menjadi pusat berbagai macam aktifitas keagamaan, sosial dan kebangsaan yang dimotori dua bersaudara yaitu Ahyat Halimy dan kakak kandungnya Aslan.

    Di surau ini pula, tahun 1951 Syarikat Tani Islam Indonesia (STII) didirikan.. Tahun 1965, surau ini juga menjadi pusat penumpasan G30S PKI dan tempat kelahiran barisan Orde Baru yang diberi nama Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Dengan fasilitasi dan dorongan dari Ahyat Halimy, tahun 1968, didirikan Koperasi Tani yang dimotori H Husein Abdul Gani (kakak kandung Ruslan Abdul Gani, sesepuh PNI).

    Bahkan sejak tahun 1958 sampai sekarang, surau ini selalu digunakan kegiatan sosial berupa khitanan massal yang terus berlangsung setiap bulan Dzulhijjah.Sosok PelayanTanggal 29 April 1964, KH Ahyat mulai membangun surau itu menjadi pondok pesantren hanya dengan modal keyakinan dan tekad yang besar. Ketika pembangunan dimulai, dengan menggali pondasi, ia sama sekali tidak mempunyai modal. Satu-satunya yang dimiliki adalah “doa” dari almukarram Kanjeng Sunan Giri.

    Itupun diperoleh dari mimpi. “Kowe tak dungakno iso mbangun bangunan,” kata kanjeng Sunan. Kemudian ketika batu pertama diletakkan, datang orang tidak dikenal memberikan bantuan berupa 23.000 batu bata merah.Maka berdirilah pondok pesantren sebagai pusat pendidikan dan pengkaderan pemuda Islam, pusat kegiatan sosial keagamaan, kemasyarakatan, serta politik kebangsaan, yang semuanya didasarkan pada landasan iman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, tasdiq, ihlas, yakin, sabar dan syukur, serta tawakkal kepada-Nya.

    Pondok Pesantren “Sabilul Muttaqin” telah didaftarkan sebagai badan hukum melalui Akte Notaris Gusti Johan Nomor 156 tertanggal 20 Desember 1972 dengan nama Yayasan “Sabilul Muttaqin” dan berkedudukan di Jl KH Wahid Hasyim (dulu Jl. Miji) nomor 38 Mojokerto. Untuk mencapai lokasi, sebenarnya tidaklah terlalu sulit. Sebab semua kendaraan umum di kota Mojokerto tahu persis tempat ini.

    Anda cukup mengatakan “Pondoke Abah Yat” maka pembaca akan diantar ke sana. Pondok ini memang lebih dikenal masyarakat awam dengan sebutan “Pondoke Abah Yat”.KH Ahyat Halimi, dilahirkan pada tahun 1918 dari pasangan suami istri Hj Marfu’ah binti Ali dan H Abdul Halim dari Gedeg. Ayahnya meninggal ketika usia kandungan sang ibu baru memasuki bulan ketiga, sedang kakak kandungnya, Aslan lahir pada tahun 1914.

    Kedua anak yatim ini kemudian diasuh ibundanya bersama sang paman yang bernama H Thohir. Namun sang ibu juga wafat pada tahun 1938. Sang paman pula yang membawa dua yatim bersaudara ini bersama ibunya untuk bertempat tinggal di Desa Miji (sekarang lokasi makam almarhum KH Ahyat Halimi).Masa kecil Ahyat Halimi beserta kakak kandungnya, dijalani di Kota Mojokerto.

    Keduanya sekolah di Sekolah Rakyat Miji (sekarang SD Miji I). Setelah lulus melanjutkan ke Pesantren Tebuireng Jombang. Mereka juga sempat berguru secara langsung kepada hadratus syaikh KH Hasyim Asy’ari dan putranya Kiai Wahid Hasyim. Bahkan karena usianya yang hampir sebaya, Kiai Wahid Hasyim selain sebagai guru berperan pula sebagai sahabat dalam berbagai diskusi serta dalam satu barisan perjuangan saat proklamasi kemerdekaan.Selama belajar di Tebuireng, Ahyat kecil dikenal sebagai santri disiplin. Postur tubuh dan wajahnya menyerupai keturunan Arab, gagah dan tampan. Perilakunya sangat sopan. Ia juga dikenal sebagai anak yang suka menolong santri.

    Menanak nasi dan menghidangkan untuk disantap bersama merupakan pekerjaan setiap hari dengan sukarela. KH Munasir dari Pekukuhan Mojosari, sebagai teman sekamar di Tebuireng pernah memberi kesaksian pada beberapa orang dari Ansor dengan mengatakan; “Pak Yat, sejak kecil sudah kelihatan kalau akan jadi kiai. Dia tidak pernah meninggalkan shalat jamaah, tidak pernah mau menggunjing teman, bahkan selalu menempatkan diri sebagai pelayan mereka,” terangnya. “Saya termasuk orang yang paling beruntung ketika mondok di Tebuireng, karena tidak pernah ngliwet atau bahkan nyuci pakaian. Karena semua sudah dikerjakan Pak Yat,” lanjutnya. Subhanallah.

    Pengakuan dan kesaksian serupa diberikan teman satu angkatan antara lain KH Abdullah Siddiq, Jember, KH Mansur Burhan (Surabaya) dan KH Zainuri dari Qudus.Tahun 1938, Ahyat Halimi beserta kakaknya Aslan, kembali ke Mojokerto. Sebagai pemuda, bersama temannya, antara lain M Thoyib, M Thohir, Sholeh Rusman, Aslan, Mansur Solihi, dan Munasir, mendirikan Ansoru Nahdlatul Ulama (ANO) yang sekarang dikenal sebagai Gerakan Pemuda Ansor.

    Pada tahun yang sama ia juga diangkat sebagai Sekretaris Tanfidziyah NU Mojokerto selama dua periode (1938 – 1940).Seluruh aktifitas dikerjakan dengan tanpa meninggalkan ta’lim atau belajar, baik ke Tebuireng maupun ke KH Romli di Rejoso, Peterongan. Akhirnya pada tahun 1940, KH Ahyat Halimy mempersunting Badriyah, seorang janda dari desa Gayam, Kecamatan Mojowarno, putri KH Mohammad Hisyam yang juga memangku pesantren.Aktifitas Ahyat yang luar biasa ini tentu mengurangi waktu rumah tangga.

    Untung istrinya sangat setia. “Permulaan tahun 1950, merupakan tahun paling berat bagi rumah tangga saya,” tulisnya dalam artikel Sejarah Pondok Sabilul Muttaqin. “Saya bersama keluarga menempati rumah tua, dindingnya lapuk. Kalau malam sulit untuk tidur lelap karena angin dingin menerobos celah dinding yang sudah lapuk,” tulisnya.Pada masa sulit ini, KH Ahyat Halimi sempat terpilih menjadi anggota konstituante (semacam MPR) dan bertugas di Jakarta, yaitu pada masa berlakunya UUDS RI Tahun 1950.

    Tetapi tugas ini hanya dijalani sekitar dua tahun. Ia mengajukan pengunduran diri dari anggota konstituante, karena merasa bukan makom atau ahliannya. Keputusan yang bagi kebanyakan orang terasa sangat aneh. Betapa tidak, ketika belum mendapatkan pekerjaan yang bisa menjamin kelancaran kebutuhan rumah tangga, ia memilih mengundurkan diri hanya karena merasa tidak mampu. Padahal menjadi anggota konstituante adalah “pekerjaan” lumayan.Ketika keadaan sulit ini, mengingatkannya kepada dawuh KH Ahmad Basyari Sukonegoro dari Cianjur. ”Sopo wonge ziarah Walisongo sarono urut-urut, insya Allah oleh barokahe Walisongo.” (Barangsiapa yang mau berziarah ke makam Walisongo secara berurutan, insya Allah akan mendapat barokah dari Walisongo).

    Ia pun akhirnya berangkat ziarah ke Walisongo, dengan bekal hasil penjualan gelang milik sang istri. “Lelono” ini membutuhkan waktu satu bulan lebih.Ketika sampai di makam Sinuhun Syarif Hidayatullah (Sunan Giri), ia mendapat isyarah bahwa _maqom-_nya ada di dalam mihrab (tempat imam shalat). Isyarah yang sama juga didapat ketika berkhalwat di makam Batuampar, Madura dengan bermimpi bertemu Rasullah SAW, yang juga menyatakan isyarah serupa.Isyarah itu kemudian digabungkan dengan berpedoman pada perilaku hadratus syaikh KH Hasyim Asy’ari. Karena beliau pernah bercerita, setelah berbagai macam pekerjaan ditempuh dan dijalani bahkan sampai menjadi “blantik jaran”, akhirnya hadratus syaih berkata “Bareng aku hidmatul ilmu, maka opo wae hasil kabeh.” (Bersama saya mengabdi kepada ilmu, maka apapun akan terpenuhi).

    Berdasarkan pengalaman tersebut, sejak 25 Januari 1956, ia mulai bertekad mengabdikan ilmu dan mengadakan kuliah subuh, di surau kecil peninggalan leluhurnya. Kitab yang dibaca adalah Kasyifat al Sajaa’. Hal ini sesuai dengan saran KH Romly Rejoso Jombang dengan mengatakan “Kang Ahyat, kitab niku manfaat kangge tiyang Jawi.” Sejak itu sampai dengan kini kuliah subuh terus diselenggarakan secara istiqamah, kecuali hari raya Idul Fitri. Di tempat yang sama yaitu surau kecil yang sekarang telah berubah menjadi masjid dan komplek Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin. (Syaifullah/Aula)

  • BANCAKAN JAJAN PASAR

    BANCAKAN JAJAN PASAR

    #Sopo_Gelem_tak_Dongengi

    Bancakan adalah tradisi di masyarakat Jawa yang masa lalu sering kita jumpai, atau bahkan kita lakukan. Kegiatan bancakan merupakan jenis selamatan dengan segment khusus untuk anak-anak. Biasanya yang dijadikan menu Bancakan adalah makanan jenis jajan pasar atau makanan nasi atau bubur dengan porsi kecil. Maklum karena segmen-nya anak-anak yang porsi makannya sedikit.

    Jajan pasar dipilih sebab menjadi kesukaan anak-anak. Jajan pasar ini seperti kelanting, klepon, Gatot dan semacamnya yang dulu banyak dijual di pasar tradisional. Namun perkembangan jaman jajanan tradisional itu kemudian sering diganti dengan makanan dalam kemasan alias chiki-chikian.

    Bancakan umumnya dilakukan pada hari weton kelahiran anak yang dibancaki. Waktu weton itu dipakai karena adanya keyakinan bila pada hari weton kelahiran anak biasa terjadi balak atau naas dalam kehidupannya. Maka untuk menghilangkan naas itulah maka dimintakan doa dalam bentuk Bancakan.

    Bagaimana awal mula Bancakan itu terjadi ?

    Tersebutlah seorang lelaki yang menikah dengan bidadari. Namanya Joko Tarup yang dengan tipu muslihatnya berhasil menyunting Dewi Nawangwulan. Dalam perkawinan mereka dikaruniai seorang anak perempuan. Namun pada akhirnya Dewi Nawangwulan berhasil mendapatkan kembali selendang yang disembunyikan Joko Tarup dalam lumbung padi. Setelah itu Dewi Nawangwulan menggunakan selendang untuk balik ke habitatnya sebagai bidadari di Kayangan. Maka tinggallah Joko Tarup sendiri membesarkan buah hati mereka.

    Sebelum Dewi Nawangwulan pergi, Joko Tarup sempat merajuk pada istrinya, “Bagaimana nanti jika anak kita bertanya dan ingin menemui ibunya, Dinda ?’, ujarnya seraya berharap istrinya mengurungkan niat.

    “Nanti kalau anak kita rindu padaku ajaklah keluar halaman pada saat bulan purnama. Aku akan datang menghiburnya, Kakang”, jelas Dewi Nawangwulan.

    Pada malam bulan purnama, Joko Tarup berdiri di halaman menatap bulan yang bulat terang bersinar. Seperti yang dijanjikan Dewi Nawangwulan dia berharap dapat bertemu lagi, meski hanya semalam saja. Namun yang dinanti tidak kunjung muncul dihadapannya.

    “Yayi Dewi, dimana kau kini ?”, kata Joko Tarup yang tidak tahu pada siapa kata itu ditujukan. Tidak ada orang dihadapan yang bisa diajak berbincang.

    Tiba-tiba, terdengar suara. Suara yang dikenal Joko Tarup sebagai nada suara milik istrinya.

    “Aku disini, Kakang. Aku menjelma menjadi bulan purnama yang sejak tadi Kakang pandang”, ucap Dewi Nawangwulan.

    “Duh Yayi, aku kira Dinda akan muncul kembali untuk menjenguk anak kita yang terus menanyakan dimana ibunya’, terang Joko Tarup.

    “Maaf, Kakang. Aku tidak bisa datang karena kita berbeda alam”, balas Dewi Nawangwulan.

    “Kalau genduk rindu padaku bawalah dia ke halaman serta. Aku akan menghiburnya, bersenandung untuknya”, jelasnya.

    Pupus sudah harapan Joko Tarup untuk bisa bersanding kembali dengan istrinya. Kata rindu yang dijadikan alasan tidak diindahkan. Lalu kata apa lagi yang akan disodorkannya ?.

    “Terus bagaimana bila genduk sakit, sedangkan bulan purnama belum masanya ?”, sergah Joko Tarup.

    “Agar genduk tidak sakit maka lakukan Bancakan jajan pasar pada hari wetonnya. Dengan demikian genduk akan terhindar bukan hanya dari sakit tetapi juga terhindar dari mala petaka. Bagikan jajan pasar itu pada anak-anak di sekitar rumah kita”, kata Dewi Nawangwulan menjelaskan.

    Pesan Dewi Nawangwulan itu kemudian dijalankan oleh Jojo Tarup. Dengan Bancakan dia berharap anaknya tumbuh besar jauh dari marabahaya. Makanan yang disediakan pun membuat anak-anak yang sedang senang-senangnya mengkonsumsi jajanan menjadi gembira. Maka sejak itu Bancakan dilakukan pada masyarakat di Jawa.

    Madiun, 12 Juli 2019.

    SORBANSANTRI.COM

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • TURBA SEORANG ULAMA “Disipilin Jam’iyah ala Kyai Nawawi”

    TURBA SEORANG ULAMA “Disipilin Jam’iyah ala Kyai Nawawi”

    Ada sebuah artikel yang ditulis oleh KH. Wahid Hasyim yang judulnya “Mengapa Saya Memilih NU”. Isi tulisannya tentang rasionalisasi pilihan terhadap organisasi para kyai itu. Setelah memaparkan kelemahannya dimana NU ditempatkan sebagai organ non-radikal serta tidak cukup memiliki intelektual maka beliau menyatakan bila keunggulan NU ada di faktor Ulama-nya dan ketegasannya terhadap anggota.

    Dari sisi ketegasan, Kyai Wahid menyatakan NU “streng”, terlampau “keras” didalam tuntutannya pada anggota. Keras dalam lingkup kewajiban agama. Tiap anggota NU harus “beres” sembahyangnya, jum’atannya, puasa dan lain kewajiban agamanya. NU didalam hal kehidupan “prive” anggotanya mempunyai ukuran yang berat.

    Seorang anggota NU bisa dipecat jika dinilai melanggar norma agama, melakukan perbuatan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Mereka yang dipecat akan ditarik kartu anggotanya serta diumumkan pada khalayak. Dengan demikian jika seseorang dipecat sama artinya dia mendapatkan sanksi sosial.

    Pengurus NU Mojokerto terbentuk tahun 1928 atau dua tahun setelah dideklarasikan sebagai organisasi para ulama. KH Zainal Alim Suronatan terpilih sebagai ketua syuriyah saat itu. KH Nawawi ditetapkan sebagai salah satu wakilnya. Komposisi itu mirip dengan duet Mbah Hasyim dan Mbah Wahab. Mbah Hasyim sebagai penjaga moral dan Mbah Wahab selaku operator lapangan. Di Mojokerto, Kyai Zainal Alim yang memang dikenal alim didampingi pekerja keras pada diri Kyai Nawawi. Dalam menjalankan organisasi, Kyai Nawawi lebih suka berprinsip “sepi ing pamrih rame ing gawe”. Tidak ingin terlalu menyukai popularitas dan bekerja secara diam. Konsep itu beliau lakukan dengan turun langsung ke bawah atau kring, sebutan untuk pengurus ranting atau desa pada masa lalu. Turba itu dijalankannya sendiri untuk meninjau kondisi pengurus NU, biasanya dengan mengendarai dokar.

    Pada suatu hari, Kyai Nawawi mengunjungi Kring Modopuro Mojosari. Sesampainya di rumah ketua NU setempat kebetulan empunya rumah sedang tidak ada. Maka Kyai Nawawi memutuskan untuk menunggu. Setelah tuan rumah pulang ditanya dari mana dan dijawab baru pulang dari warung. Kyai Nawawi selanjutnya meminta buku organisasi yang dibawanya. Setelah itu beliau menyatakan jika tuan rumah dipecat sebagai anggota NU karena telah melakukan perbuatan yang tidak terpuji, yaitu siang hari nongkrong di warung.

    Mengapa demikan ? Untuk menjelaskan hai itu harus ditarik pada kondisi sosiokutur dan sosiopolitik yang diambil NU saat itu. NU sedang berhadapan dengan kelompok Islam modernis yang ingin menghabisi Amaliyah ala kaum Nahdliyyin. Karena itu NU wajib menjaga disiplin dan moral anggotanya agar tetap memiliki semangat “satu barisan”, Kedua. NU juga berupaya menciptakan identitasnya yang tentu berbeda dengan indentitas kelompok lainya dengan jargon “man tashabbaha bi qaumin fahua minhum”. Ketiga, NU melihat saat itu budaya “marung” merupakan bagian dari identitas kolonial yang suka menghamburkan uang di tempat makan-minum atau berfoya-foya

    Betapa kerasnya aturan organisasi ketika itu. Sementara saya setiap hari nongkrong di warung kopi.

    Sidowangun, 3 Juli 2015

    SORBANSANTRI.COM

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanfiq

  • OPTIMASI INFOKOM BANSER PC MOJOKERTO

    OPTIMASI INFOKOM BANSER PC MOJOKERTO

    SORBANSANTRI.COMDiiringi hujan lebat dan angin tidak mematahkan semangat bagi sahabat-sahabat Banser untuk update informasi tehnolagi….

  • SINGA ASWAJA DAN SINGA ANSOR

    SINGA ASWAJA DAN SINGA ANSOR

    Rijalul Ansor NU – Singa sudah bangun dari tidur panjangnya.
    NU skrg menjadi dewan pertimbangan presiden seperti jaman Bung Karno dlm mengatasi kelompok makar. Semoga Abah Lutfhi saget meneruskan perjuangan Mbah Wahab Chasbulloh.

    Taqdimul mashlahatir rajihah aula min taqdimil mashlahatil marjuhah.

    (mendaulukan kemaslahatan yang sudah jelas lebih didahulukan dari kemaslahatan yang belum jelas).

    #HabibLuthfiBinYahya #NderekHabaib #NderekKyai #NderekNahdlatulUlama #NderekNKRI #RijalulAswajaNU #Aswaja
    #RijalulAnsorNU #Gp_Ansor #BanserNU #PagarNusaNU #FattayatNU #IPPNU #MuslimatNU #LDNU #NahdlatulUlama

  • MEMBENCI NU ITU BISA KUWALAT

    MEMBENCI NU ITU BISA KUWALAT

    Infokom Banser NU-Bukan senjata musuh, tapi kebodohan umat yang ampuh digunakan alat untuk menghancurkan agama Islam.

    Mereka telah berhasil menghasut dan memprovokasi orang awam untuk membenci ulama2 NU dengan memfitnah menggunakan cara memotong dan memelintir pidato2 para kiyai NU, serta menggiring opini dari maksud awal tujuan pidato itu disampaikan. Namun sejarah telah membuktikan bahwa atas pertolongan Allah, NU hingga kini masih dilindungi dan masih dapat memberikan manfaat bagi banyak umat.

    Karena NU didirikan dengan ikhlas dan hasil tirakat para ULAMA dan HABAIB, untuk membentengi kehancuran agama Islam dari virus Wahabi. Ingat! NU berdiri tujuan utamanya adalah melawan Neo Khawarij yang berbungkus paham Wahabi. Sedangkan para pembenci NU, mereka timbul dan kemudian tenggelam. Mereka datang dan kemudian pergi terusir dari panggung kemuliaan. Sejarah kelam Neo Khawarij menghancurkan Islam dengan memelintir ajaran2 agama Islam untuk memusuhi sesama saudaranya.

    Mereka memanfaatkan kebodohan orang Awam dengan simbol2 agama dan penampilan2 Shalih. Namun faktanya, para sahabat Nabipun tidak luput dari kejahatan mereka, sehingga Umar, Ustman, dan cucu Nabi akhirnya terbunuh menggunakan dalil2 agama. Sehingga garis keturunan Nabi dari jalur laki2 musnah di muka bumi disebabkan kejahatan Neo Khawarij yang kini berbaju Wahabi. Jangan mudah tertipu simbol2 Islami dan penampilan2 keshalihan, sebab itu memang sengaja digunakan senjata mengelabui orang awam oleh Neo Khawarij untuk mengacaukan dan menghancurkan agama Islam dari dalam.

    “Akhir zaman, nantinya orang berilmu akan dibantah oleh orang yang bodoh.”
    #…………(Dawuh Gus Qoyyum)………….#

    Bedanya NU dan Salafi/Wahabi, FPI, HTI, ialah, kalau NU berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan,
    sedngkan Salafi/Wahabi, berjuang Merusak, Memberontak dan Mendemo Negara yang sudah merdeka. Terbukti Pelaku2 Terorris di Indonesia Berjenggot, Bercelana Cingkrang, Penjahat Berjubah berkedok agama sang pengasong Khilafah.

    #SantriNderekKyaiDanHabaib #SantriNU
    #RijalulAswajaNU #RijalulAnsorNU #NU
    #AswajaNU #GP_AnsorNU #PagarNusaNU
    #BanserNU #FattayatNU #IPPNU #HWMI
    #NahdlatulUlamaBersamaNKRI_Bersatu

    Rijalul Ansor ASWAJA NU

  • KEKURANGAJARAN NU GARIS LURUS DAN SIKAP PARA TOKOHNYA

    KEKURANGAJARAN NU GARIS LURUS DAN SIKAP PARA TOKOHNYA

    Ketika Ilmu Tasawuf Tidak Menyentuh Qalbu Mereka

    KEKURANGAJARAN NU GARIS LURUS DAN SIKAP PARA TOKOHNYA

    Oleh: Ahmad Muntaha AM*

    Atas tindakan kurang ajar FP NU Garis Lurus terhadap Pondok Lirboyo, mengharamkan mengikuti Pondok Lirboyo, saya telah mencoba komunikasi, tanya via chat WhatsApp kepada beberapa tokoh NU Garis Lurus.

    Pak Ustad Idrus Ramli (Idrus Ramli) saya tanya bilangnya tidak tahu. Pak Gus Luthfi Basori masih diam saja, belum respon.

    Hemat saya Pak Luthfi Bashori⁩, Pak Yahya, Pak Idrus, dan tokoh NU Garis Lurus Lainnya, semestinya membuka secara terang-terangan siapa admin akun FP NU Garis Lurus sebenarnya yang telah melakukan kekurangajaran itu. Kalau tidak tahu, harus berupaya serius mencari tahu sampai ketemu, SDM mereka sangat cukup untuk melakukannya dan disowankan ke Pondok Lirboyo secara baik-baik. Sebab merekalah tokoh-tokohnya yang lebih tahu jaringan-jaringan mereka sebenarnya.

    Istilah dan komunitas NU Garis Lurus terpelihara sampai sekarang merupakan jariyah mereka.

    Entah jariyah baik atau buruk.

    Kita tunggu benar-benar i’tikad baik, keseriusan sikap dan tanggung jawab dari tokoh-tokohnya ini.

    Ini benar-benar menjadi catatan merah bagi berbagai ‘dakwah’ dan propaganda mereka, sekarang dan di waktu-waktu yang akan datang. (*)

    *TIM MEDIA PAC GP ANSOR RENGEL*

  • RAPAT KOORDINASI PC GP ANSOR MOJOKERTO RAYA

    RAPAT KOORDINASI PC GP ANSOR MOJOKERTO RAYA

    Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota & Kabupaten Mojokerto menggelar rapat persiapan teknis acara memperingati Haul Sahabat Riyanto (Alm) ke 19 di Kantor PCNU Kab.

    SORBANSANTRI.COM

  • Cara menghadapi tanggapan buruk mengenai status di sosmed

    Cara menghadapi tanggapan buruk mengenai status di sosmed

    InfokomBanserNU-Jangan mudah terprovokasi dengan tanggapan diinternet seperti gambar ini. karena hal seperti ini bisa terindex mesin pencarian, akibatnya bisa terindex jelek di internet.
    Kita manfaatin hastag (#) untuk identifikasi dan memasukkan mereka pada database hastag tersebut.

    SORBANSANTRI.COM
    salah satu contoh tanggapan buruk tentang banser


    Tujuannya jika ada orang yang terkena hastag, akan lebih mudah pengelompokan data buat zona hastag tersebut.
    catatan : BUKANKAH TAG ADALAH YANG PALING PENTING BUAT SEO AGAR MUDAH DI IDENTIFIKASI MESIN PENCARIAN? CONTOHNYA GOOGLE

  • Inilah yang diindex google tentang NU

    Inilah yang diindex google tentang NU

    Infokom Banser NU -Sahabat-sahabat… Dalam menanggapi berita, kita jangan mudah terpancing terprovokasi dengan pemberitaan negatif yang beredar di dunia maya. Baik itu dari FB, Instagram, Twitter, dll. Kita lawan mereka dengan kearifan Kiai.. Ciri-ciri Santri.. dengan cara Posting hal yang membangun citra NU di internet. Tetap semangat menjaga Aqidah ASWAJA dan NKRI.

    https://youtu.be/STWuPfeXZUM
    saatnya pintar dan bijak menanggapi berita