Blog

  • Fenomena Kopiah Hitam dan Putih

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com – Di Pondok Pesantren Mbah Maimun, santri dilarang memakai peci putih. Alasannya, karena orang pergi haji di desa-desa adalah dengan menjual tanah, sawah, tegal atau menabung belasan tahun bahkan sampai berpuluh-puluh tahun. Sementara simbul yang mereka pakai setelah pulang dari haji adalah peci putih.
    “Kalau kamu memakai peci putih seharga 5.000 rupiah, apakah tidak menyakiti hati mereka?” ujar Mbah Maimun sebagaimana diceritakan oleh Gus Baha’.
    Bukan haram dalam kategori fiqh, tapi haram dalam kategori akhlaq. Begini, kata Mbah Moen, ini menurut Gus Baha ya, bahwa orang-orang yang berangkat haji itu butuh perjuangan yang hebat, bahkan dibela-belanin jual sawah segala.
    Nah, Mbah Moen tidak ingin melukai perasaan orang-orang yang telah berangkat haji dengan perjuangan yang sangat berat tersebut dengan prilaku santri yang melecehkan dengan cara memakai kopiah haji yang harganya cuma 5000 an itu. Jangan sampai, prilaku santri di pondok Mbah Moen itu mendowngrade makna haji.
    ( Fatwa itu hanya untuk Sarang, bukan santri yang lain, apalagi berlaku general ke ummat Islam seluruhnya, fatwa ini bertujuan menjaga akhlaq santri-santri Sarang saja)
    Sementara itu, di pesantren Gus Baha’ sendiri, ya kadang ada santri yang memakai peci putih. “Saya tidak melarang mereka. Cuma kadang saya panggil, saya kasih tahu:
    Cung, nek iso aja nganggo kethu putih wong kowe durung kaji…” kata Gus Baha’ sambil tertawa ngakak.
    Gus Baha’ kemudian melanjutkan bahwa menjadi orang alim itu memang repot. Bisa serba salah.
    Di Jawa Timur, asal orang sudah berhaji biasa memakai jubah dan bersorban. Tapi rata-rata di Jawa Tengah Pantura, orang berjubah itu dianggap sudah bisa dan ahli membaca kitab. Kalau sampai berani berjubah tapi tidak bisa membaca kitab dianggap aneh.
    Menurut Gus Baha’, secara hukum memang benar di Jawa Timur, karena memakai jubah dan bersorban itu sunah. Tapi dari sisi kurasi orang alim, tepat di daerah pantura Jawa Tengah. Sebab nanti tidak ada bedanya antara orang yang alim dan orang awam. Antara orang yang menguasai berbagai kitab dengan orang yang baru belajar membaca kitab.
    “Itulah sebabnya, baju saya putih tapi kopiah saya hitam. Saya memakai baju putih sebagai pengingat bahwa bagaimanapun saya sudah melakukan sunah. Sementara saya memakai kopiah hitam sebagai bagian dari menghormati guru sekaligus sudah terbiasa karena lama menjadi santri”. (abi sorban)
  • Gunung Semeru Goro-Goro Tanah Jawa Munculnya Ratu Adil

    Gunung Semeru Goro-Goro Tanah Jawa Munculnya Ratu Adil

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com – Dalam kitab kuno Tantu Pagelaran yang ditulis pada abad ke-15, dijelaskan asal usul adanya Gunung Semeru di Pulau Jawa. Sejarah dan mitos Gunung Semeru mengatakan konon dulunya Pulau Jawa sempat terapung dan terombang-ambing tak tentu arah di tengah lautan. Menurut kepercayaan yang beredar, saat itulah Dewa Siwa berusaha untuk “memaku” Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru ke Pulau Jawa.
    Hyang Siwa memindahkan Gunung Mahameru Bharatawarsa India ke Pulau Jawa dengan bantuan Dewa Wisnu yang menjelma sebagai kura-kura raksasa dan Dewa Brahma yang menjelma sebagai ular sangat panjang.
    Gunung Meru ini ditancapkan di sisi barat barat Pulau Jawa. Namun karena berat sebelah, maka sebagian Gunung Meru ditancapkan di sisi timur Pulau Jawa. Gunung di sisi barat Jawa kini diberi nama Gunung Pananggungan, sedangkan yang di sisi timur Jawa bernama Semeru atau Mahameru.
    Asal-usul nama Mahameru ini konon berasal dari bahasa sanskerta “Meru Agung”. Meru berarti pusat dari alam semesta, baik secara fisik maupun spiritual. Sedangkan Agung berarti sangat besar, atau bisa juga diartikan Maha. Dari sinilah kemudian puncak Gunung Semeru diberi nama Mahameru.
    Sejarah dan mitos Gunung Semeru berkisah bahwa kehadiran Mahameru di timur Jawa melahirkan gunung-gunung lain yang lebih kecil. Beberapa di antaranya Gunung Lawu, Gunung Kelud, Gunung Wilis, Gunung Kawi, Gunung Arjuna dan Gunung Kemukus. Mungkin karena inilah Gunung Semeru dianggap menjadi gunung yang paling agung. Bahkan sejarah dan mitos Gunung Semeru juga menceritakan bahwa gunung ini adalah bapak dari Gunung Agung Bali.
    Terlebih lagi menurut kepercayaan Hindu, pemindahan Gunung Meru India ke Pulau Jawa juga merupakan pemindahan kayangan para dewa dan nilai-nilai luhur dalam agama Hindu. Jauh sebelum Gunung Meru dipindahkan ke Jawa masyarakat Hindu percaya bahwa gunung ini merupakan tempat bersemayamnya para dewa.
    Gelar Gunung Para Dewa pun dilegitimasi oleh cerita Gunung Semeru sebagai area pertapaan Dewa Siwa. Untuk memperindah lokasi pertapaan, Dewa Siwa disebutkan membuat sebuah danau untuk pemandian. Konon, danau tersebut adalah Ranu Kumbolo. Kisah-kisah itu juga diperkuat dengan ditemukannya situs purbakala di sekitar Gunung Semeru. Yang paling dikenal adalah prasasti di Ranu Kumbolo dan Arcapada.
    Bagi para peneliti, gunung ini ibarat laboratorium arkeologi. Banyak situs purbakala di sana. Diidentifikasi ada sebanyak 123 situs purbakala di sana. Dan masih banyak yang lainnya yang belum di temukan.
    Wujud situs–situs tersebut mulai dari punden berundak, candi, petirtaan atau kolam pemandian kerajaan hingga goa pertapaan. Situs–situs itu berdiri berurutan mulai dari kaki hingga pinggang gunung sebelum puncak.
    Pandangan Hindu Siwaistis yang berpengaruh besar di Nusantara, termasuk Bali. Mereka percaya bahwa Dewa Siwa bersemayam di gunung tertinggi. Itu berarti di puncak gunung Mahameru (Himalaya) di India, atau pucak Gunung Semeru di Nusantara. Teks-teks Purana India yang tergolong kitab Upaweda, memang menyuratkan Tuhan Yang Mahatunggal bersemayam di puncak Mahameru dan dikenal pula dengan nama gunung Kailasa atau gunung Himawa, yang bersalju abadi. Di sanalah Siwa menurunkan ajaran-ajaran-Nya kepada sakti-Nya, Dewi Parwati, Sang Dewi Gunung.
    Kisah sejarah dan mitos Gunung Semeru yang masih dipercaya sampai saat ini adalah bahwa gunung ini merupakan gerbang portal terhubungnya bumi, tempat tinggal manusia, dan kayangan, tempat berkumpulnya para dewa.
    Wabah yang seperti saat ini tengah melanda Indonesia, dulu pernah terjadi pada masa peperangan Diponegoro.
    Selama ini belum banyak yang mengetahui bahwa salah satu faktor Perang Diponegoro adalah karena adanya wabah.
    Pada Tahun 1821, empat tahun sebelum perang tersebut dimulai, pelayar dari Malaka datang ke Semarang, ternyata membawa wabah penyakit Kolera.
    Dalam waktu satu minggu, sebanyak 1275 orang meninggal karena wabah tersebut, dan penyakit itu juga bergerak ke Surakarta, Yogyakarta bahkan sampai ke Batavia pada masa itu.
    Wabah itu juga ditambah dengan krisis pangan dan kekeringan, muncul pergolakan sosial, terus sampai tahun berikutnya. Hingga terjadinya gunung api meletus, dan munculnya Pangeran Diponegoro yang dianggap sebagai Ratu Adil pada saat itu.
    Sedangkan saat wabah Virus korona di Indonesia, juga terjadi bersamaan dengan beberapa peristiwa, seperti adanya gunung meletus setelah kedatangan Raja Belanda, William Alexander.
    Banyak kemiripan antara kondisi saat ini dengan sejarah masa lalu, meskipun sejarah tidak bisa berulang, tapi polanya hampir sama.
    Diponegoro melancarkan perang yang sengit untuk sebuah harapan yang radikal seraya tahu bukan dia sang Ratu Adil yang mengatasi waktu. Ia hanya sarananya. Sebuah nujum menyebut, peran itu tak akan lama: sira srananipun/ mapan iku tan dawa…” (engkaulah sarananya/ meskipun hal itu tak akan lama).
    “Sekali berarti, sudah itu mati,” tulis Chairil Anwar dalam sajaknya, Diponegoro. Yang penting bukanlah hidup atau mati, melainkan membuat perjuangan berarti.
    Dengan itulah harapan mendapatkan “daya mesianik”: harapan akan Keadilan itu mampu melebur batas waktu. (sabdo palon)
  • SEJARAH DAN LEGENDA GUNUNG SEMERU PAKU PULAU JAWA

    SEJARAH DAN LEGENDA GUNUNG SEMERU PAKU PULAU JAWA

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com –  Setu Wage, 4 Desember 2021, sekitar pukul 15.00 Gunung Semeru (Gunung Meru) yang terletak di Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur ini, mengalami erupsi cukup dahsyat. Seperti tanpa ada pemberitaan apapun di jagad media, kalaupun ada tidak seperti Gunung Merapi yang dalam beberapa bulam terakhir menghiasi berbagai pemberitaan lokal, nasional bahkan dunia, seolah-olah mengaget masyarakat ketika mendengar bahwa semeru “tiba-tiba” terjadi erupsi. Gunung yang dikenal sebagai gunung tertinggi di pulau Jawa dengan ketinggian mencapai 3.676 meter dari permukaan laut ini, sebagaimana gunung manapun memiliki kemenarikan dari sisi panorama, cerita, legenda dan mitos tersendiri. Selain panorama lavender, terdapat Danau Ranu Kumnolo serta pemandangan eksotis yang menjadi pemikat bagi para pendaki dan pecinta alam.

    Dari sisi legenda, gunung ini juga menyimpan legenda dan sejarah yang sangat menarik, bahkan dijuluki sebagai “paku pulau Jawa”. Sebagai mana catatan Rudi Badil, dkk dalam buku “Soe Hok Gie, Sekali Lagi: Buku, Pesta, dan Cinta di Alam Bangsanya”, diberitakan bahwa ada sebuah kitab kuno bernama “Tantu Pagelaran” yang diyakini berasal dari abad ke-15.

    Di dalamnya dicatat bahwa suatu kala Pulau Jawa terombang-ambing di atas lautan. Dalam legenda itu diceritakan, Batara Guru (Sang Hyang tunggal) meminta para dewa dan raksasa untuk memindah Gunung Mahameru di India sebagai paku pada Pulau Jawa agar tidak bergerak. Gunung Mahameru kemudian diletakkan di barat Pulau Jawa. Namun, karena bagian timur pulau ini terjungkit ke atas, akhirnya Gunung Mahameru dipindahkan ke timur.

    Dalam perjalanan pemindahan ini, Gunung Mahameru tercecer dan membentuk gunung-gunung lainnya di Pulau Jawa. Diantara “ceceran” tersebut adalah Gunung Lawu yang ada di Karanganyar, Jawa Tengah. Ketika Gunung Mahameru berhasil diletakkan di sebelah timur Pulau Jawa, posisinya miring ke arah utara. Sehingga, dikisahkan ujung gunung tersebut dipotong dan potongannya itu diletakkan di barat laut. Potongan gunung tersebut diberi nama Gunung Pawitra yang kini dikenal sebagai Gunung Penanggungan.

    Dalam membaca sebuah legenda yang penuh hyperbol, tentu tidak bisa kita membaca secara “mentah” karena bisa merusak nalar, akan tetapi dari legenda bisa kita ambil hikmah bahkan catatan pengetahuan dengan menterjemahkan simbol-simbol cerita dalam legenda tersebut.

    Versi lain (sebagai tambahan) dari The Seven Summits of Indonesia tulisan tulisan Hendri Agustin, dalam kepercayaan masyarakat Bali, Gunung Semeru diyakini adalah napak dari Gunung Agung yang ada di Bali. Dalam The Seven Summits of Indonesia dicatat, orang yang pertama kali mendaki Gunung Semeru adalah ahli geologi dari Belanda bernama Clignet di tahun 1838. Dia mendaki dari arah barat daya melalui pintu Widodaren. Tentu ini versi “Narasi Belanda”. Faktanya, sangat mungkin sebelum itu sudah beberapa kali dilakukan pendakian tapi tidak tercatat secara baik…. “mungkin”.
    Sedangkan dalam catatan sejarah pendakian semeru selanjutnya adalah pada tahun 1911 yang dilakukan oleh Van Gogh dan Heim melalui lereng urara. Di tahun 1945, ada seorang ahli botani Belanda yang mendaki melalui jalur utara, yaitu Ayek-ayek, Inder-inder, dan Kepolo. Sekali lagi ini catatan versi Belanda. Pasca pendakian di tahun 1945 tersebut, pendakian ke Gunung Semeru pada umumnya dilakukan dari arah utara melalui Ranu Pani dan Ranu Kumbolo, seperti yang banyak dilakukan saat ini.
    Sejarah Erupsi Semeru
    Dari jejak dan catatan berbagai sumber, Erupsi pertama kali Gunung Semeru tercatat pada 8 November 1818. Berpuluh-puluh aktivitas Gunung Semeru kemudian berlanjut dan yang terakhir tercatat adalah pada akhir 2020 lalu sampai Januari 2021 dan hari ini.
    Ikut berdoa, semoga erupsi gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia berjenis strato hari ini akan membawa banyak hikmah bagi banyak pihak, terutama “pengelola” dan masyarakat sekitar. Bahwa alam memiliki “siklus” sendiri dan manusia adalah bagian dari siklus tersebut. Menjaga, merawat, menghormati dan mempersiapkan berbagai hal ketika alam melakukan siklusnya adalah hal-hal yang bisa kita lakukan, terutama “memprioritaskan” tindakan antisipatif ketika alam sudah mengirimkan tanda-tanda siklus nya.
    “PRAY FOR SEMERU”
    (abi sorban)
  • Kita Lebih Keren Daripada Malaikat, Itu Mahsyur!

    Kita Lebih Keren Daripada Malaikat, Itu Mahsyur!

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com – Nabi pernah bersabda, “Nanti pada zaman akhir itu orang-orangnya pada top-top. Bahkan aku rindu dengan umatku yang ada di akhir zaman.”
    Perkataan dari Nabi SAW tersebut pun mengundang tanya dari para sahabat. Para sahabat bertanya, “Bukankah itu adalah malaikat..?”
    Nabi menjawab, “Malaikat beriman itu wajar, sebab dia berada disamping Allah, kalau tidak beriman sangat keterlaluan.”
    “Kalau begitu para Nabi..?”
    Lalu Nabi pun menjawab, “Kalau Nabi sangat wajar kalau beriman, sebab mereka dapat wahyu dan pernah melihat Malaikat Jibril.”
    Dan para sahabat pun bertanya kembali yang ketiga kalinya kepada Nabi.
    “Kalau begitu para sahabat..?”
    Nabi pun kembali menjawab, “Kalian beriman itu karena saya yang mendidik.”
    “Lalu yang Anda maksud siapa..?”, tanya Sahabat
    Gus Baha’ menjelaskan bahwa Nabi begitu bangga dengan umat akhir zaman. Nabi Muhammad SAW mengatakan kepada para sahabat, “Umatku yang hidup di akhir zaman. Dia itu orang yang tidak pernah melihatku, tapi tetap beriman denganku. Tidak pernah melihat surga tapi meminta surga. Tidak pernah melihat neraka tapi ternyata takut dengannya.”
    Ternyata satu hal saja yang membuat umat akhir zaman menjadi lebih hebat dari para malaikat dan Nabi itu adalah mempunyai kepercayaan pada Nabi SAW yang tidak se-zaman dengan mereka.
    “Jadi, hanya modal percaya/yakin saja. Jadi, itu malah keren sebab hanya modal percaya atau yakin saja. Ngono lho khin…” pungkas Gus Baha’
    اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ۞ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ ۞ وَالخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ والنَّاصِرِ الحَقِّ بِالحَقِّ ۞ وَالهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ ۞ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيمِ ۩
    (pengajian gus baha’)
  • Pegawai SPBU kenakan BANSER di hari Pahlawan 10 November 2020

    Pegawai SPBU kenakan BANSER di hari Pahlawan 10 November 2020

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com – Ada yang unik dihari pahlawan kemarin, disebuah SPBU di kota Kendal terlihat sesosok pegawai SPBU cantik yang mengenakan baju BANSER. Sembari dengan senyum ramah melayani para pembeli SPBU, tanpa canggung ia merasa percaya diri dan gagah mengenakan baju kebanggaan Banser itu .
    Dalam rangka memperingati hari pahlawan SPBU Jambe Arum yang berada di kecamatan Patebon Kendal ini mewajibkan karyawannya untuk memakai atribut pahlawan. Nelisa (22th) pegawai SPBU cantik asal Pekalongan ini lebih memilih memakai seragam kebanggaan Banser, ia menuturkan , hal ini ia lakukan karena ia bangga terhadap Banser yang dari dulu hingga sekarang tetap konsisten menjaga negeri ini.
    “saya nge-fans dengan Banser dan saya bangga dengan Banser” tuturnya sembari melayani para pembeli bahan bakar di tempat kerjanya.
    Tak dapat dipungkiri hal ini membuat para pembeli tertarik dan banyak yang mengajak Selfi denganya.
    Doc.pers (Mahfud.eS)
  • The Moments : Muktamar NU di Surabaya 1971

    The Moments : Muktamar NU di Surabaya 1971

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com – Ditulis sejumlah literatur bahwa di tahun 1971 KH Abdul Wahab Hasbullah mengalami masa kritis di usia 83 tahun. Saat itu kondisi Mbah Wahab sudah sangat lemah. Seakan sudah tinggal menunggu waktu segera menghadap keharibaan Illahi Rabbi, dan hal ini juga disampaikan oleh para ulama sepuh kepada pihak keluarga.
    Walau demikian, beliau yang kala itu masih tercatat sebagai Rais Aam PBNU mampu melampui masa kritisnya dan malaikat Izrailpun urung menunaikan tugas. Seakan telah meminta ajalnya ditunda sampai menyelesaikan Laporan Pertanggungan Jawab (LPJ) sebagai Rais Aam PBNU pada muktamar yang akan dilaksanakan 3 bulan kemudian.
    KH Bisri Syansuri kala itu datang menjenguk.
    “Kiai, engkau jangan wafat dulu,” kurang lebih begitu ungkapan Kiai Bisri kepada Mbah Wahab.
    “Kiai masih punya utang,”
    Mendengar perkataan Kiai Bisri, sontak Mbah Wahab tersadar dari kondisi kritisnya dan menjawab: “Utang apa?” sergahnya.
    “Engkau masih belum LPJ,” jawab Kiai Bisri.
    Tanggal 20-25 Desember 1971, Muktamar NU diselenggarakan di Surabaya. LPJ pun telah dipertanggungjawabkan. Utang Mbah Wahab lunas dibayar kontan. Meski pada muktamar tersebut, Mbah Wahab kembali dipercaya menjabat Rais Aam, hakikatnya beliau telah menuntaskan perjuangannya di NU.
    Selang 4 hari pasca muktamar selesai, tanggal 29 Desember 1971 KH Abdul Wahab Chasbullah wafat. Kepergiannya merupakan duka mendalam tidak hanya bagi Nahdliyin atau warga Nahdlatul Ulama, juga bangsa Indonesia. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. (abi sorban)
  • PAC GP Ansor Kemalang Salurkan Donasi ke Korban Erupsi Gunung Semeru

    PAC GP Ansor Kemalang Salurkan Donasi ke Korban Erupsi Gunung Semeru

    SORBANSANTRI.COM
    Klaten, wp.sorbansantri.com – PAC GP Ansor Kemalang Kabupaten Klaten salurkan bantuan erupsi Semeru 35 juta. Bantuan ini dari jajaran anggota Ansor dan masyarakat sekitar Kecamatan Kemalang Kabupaten Klaten.
    Kesadaran berdonasi pada korban erupsi Semeru cukup tinggi di Kecamatan Kemalang, hal ini disebabkan masyarakat menyadari saat mereka mengalami kesusahan akibat erupsi Gunung Merapi.
    “Uluran tangan dan bantuan dari donatur sangat berharga dalam setiap situasi bencana. Apa yang dirasakan oleh saudara-saudara kita di Lumajang saat ini seperti apa yang telah kita rasakan saat erupsi Merapi pada 2010 lalu,” ujar ketua Ketua PAC GP Ansor Kemalang, Faishal Budi saat Apel Akbar Banser Kemalang, di Klaten, Selasa (14/12/2021).
    Faishal juga menyatakan sebagai anggota Ansor Banser memiliki peran penting dalam tiga pilar, yaitu himayatul din, himayatul daulah dan himayatul ummah. Artinya sebagai insan harus berjuang menjaga agama, menjaga negara dari upaya menciderai kesepakatan bernegara dan menjaga kemaslahatan bersama terlebih saat ada masyarakat membutuhkan bantuan maka Banser harus merespon dengan cepat. “Salah satunya memberikan bantuan tenaga atau dalam bentuk lain untuk meringankan beban yang sedang ditimpa kesusahan,” katanya. (Ansor Klaten)
  • Raker II PW GP Ansor Jatim Bahas Ekosistem Digital hingga Pemerataan Ekonomi Ummat

    Raker II PW GP Ansor Jatim Bahas Ekosistem Digital hingga Pemerataan Ekonomi Ummat

    SORBANSANTRI.COM

    MALANG, wp.sorbansantri.com – Rapat kerja (Raker) II Pimpinan Wilayah (PW) GP Ansor Jawa Timur yang digelar Selasa (14/12) di Kebun Teh Wonosari, Lawang, Kabupaten Malang, bisa dibilang ‘bertabur bintang’. Bagaimana tidak, dalam acara yang dihadiri pimpinan Pengurus Cabang (PC) dari semua daerah di Jawa Timur itu, dihadiri banyak tokoh penting.

    Hadir secara online Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang juga anggota kehormatan banser Erick Thohir. Selain itu, hadir secara offline Direktur SDM PTPN Holding Seger Budiharjo
    Direktur PTPN 10 Tuhu Bangun, Direktur PTPN 12 Siwi Peni,
    Direktur PT Sinergi Gula Nusantara Aris Toharisman, Kepala Bapeda Jatim Yasin,
    Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementrian Koordinator Maritim dan Investasi Septian Haryo Septo,

    Ketua PW Ansor Jatim Gus H Syafiq Syauqi dalam sambutannya mengatakan, dalam rapat kerja kedua yang sempat beberapakali ditunda karena pandemi, pihaknya mengambil tema ‘Spirit Baru Ansor Jatim dalam Menyongsong Satu Abad Nahdlatul Ulama.”Tema ini kita ambil sebagai sikap dan langkah gerak kita, menisbahkan diri kita sebagai kader masa depan Nahdlatul Ulama. Kita juga berkewajiban untuk mempersiapkan diri sejak dini terhadap tantangan jam’iyah NU ke depan,” kata Syafiq Syauqi dalam sambutannya.

    Dia menambahkan, dengan kondisi kader yang semakin bertambah dan berkembang, Ansor Jatim tidak boleh menjadi organisasi yang arogan.”Namun, semakin menjadi tantangan buat kita ketika dihadapkan pada pertarungan digital. Kita seperti kedodoran melawan segelinir orang atau kelompok yang massa-nya kecil, tapi mampu mempengaruhi mindset karena menguasai area cyber. Inilah yang disebut cyber war. Dengan demikian, ekosistem digital harus kita bangun,” imbuhnya.

    Karena inilah, Syafiq berharap para kader Ansor bisa semakin aktif dalam menguasai opini media di dunia digital.”Karena siapa yang menguasai opini media cyber hari ini, maka dialah pemenangnya,” imbuhnya.

    Pria yang merupakan keturunan pendiri Ansor KH Wahab Chasbullah, Jombang ini menambahkan, tantangan terberat Ansor saat ini adalah mampu tidaknya organisasi ini mengkonversi kebesaran jumlah anggota, menjadi kekuatan dalam kemandirian ekonomi.”Ini menjadi tantangan kita, karena siapa yang menguasai basis ekonomi, maka dia yang akan menguasai dunia, pemerataan ekonomi juga menjadi tugas kita,” jelasnya. Karena inilah, dalam berbagai kesempatan, Syafiq sering mengundang elemen-elemen dari BUMN untuk memberi wawasan kepada para kader Ansor Jawa Timur.

    Syafiq juga berharap dalam rapat kerja kedua ini, para pimpinan cabang bisa bisa bersinergi dengan program-program yang dimiliki.”Apalagi dalam penataan organisasi ini, kita berada dalam posisi yang semakin dinamis,” pungkasnya. (zulham sorban)

  • Ayo Sarungan ! Mengenal Sarung Budaya Warga NU di Indonesia Khususnya Santri

    Ayo Sarungan ! Mengenal Sarung Budaya Warga NU di Indonesia Khususnya Santri

     

     

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Asal muasal penyebutan kata sarung sebenarnya merupakan serapan dari bahasa arab yaitu syar’i, yang memiliki arti sesuatu yang harus diikuti umat Islam, termasuk dalam hal berpakaian. Kata syar’i kemudian memiliki masdar syar’un. Karena masyarakat Indonesia saat itu sulit untuk menyebut serapan ‘n’ maka disebutlah sarung.

    Sarung pada awal kemunculannya diperkenalkan oleh orang-orang Islam yang berdagang di Indonesia, yakni para saudagar Arab dan Gujarat India. Selain melakukan perdagangan, mereka juga menyebarkan agama Islam di Nusantara, ini terjadi sekitar abad ke-14 Masehi. Sehingga dalam perkembangannya, sarung di Indonesia identik dengan kebudayaan Islam.

    Di beberapa catatan tertulis, asal mula sarung berasal dari Yaman. Sebuah kain yang awalnya dipakai oleh suku Badui yang tinggal di sana.

    Masyarakat Yaman menyebutnya sebagai futah. Pada saat itu futah merupakan kain putih yang dicelupkan ke pewarna yang berwarna hitam. Adanya perdagangan yang membuat eksistensi sarung semakin meluas. Karena pada saat itu industri tekstil adalah komoditas raksasa dalam perdagangan era Islam.

    Standar kualitas tekstil dalam perdagangan masyarakat muslim di semenanjung Arab sangat tinggi. Sehingga industri tekstil di era Islam sangat berpengaruh besar terhadap bangsa barat. Sarung telah menjadi pakaian tradisional masyarakat Yaman saat itu. Bahkan sekarang sarung masih menjadi salah satu oleh-oleh tradisional khas Yaman.

    Sarung juga menunjukkan eksistensinya saat zaman perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pada zaman penjajahan Belanda, sarung identik dengan simbol perlawanan terhadap budaya barat yang dibawa oleh para penjajah. Kaum santri adalah orang-orang yang paling konsisten dalam mengenakan sarung. Sedangkan kaum nasionalis abangan hampir meninggalkan sarung dan beralih ke budaya barat dengan mengenakan celana panjang.

    Itulah sejarah singkat mengenai awal mula kemunculan sarung di Indonesia bahkan eksistensinya saat zaman perjuangan kemerdekaan Indonesia. Terlepas dari itu semua, sarung adalah salah satu item yang telah melekat pada masyarakat Indonesia dan menjadi identitas diri seorang santri. (W S R sorban)

  • Workshop Sekaligus Konsolidasi Media-Cyber PC GP Ansor se Jawa Tengah

    Workshop Sekaligus Konsolidasi Media-Cyber PC GP Ansor se Jawa Tengah

    SORBANSANTRI.COM
    Jateng, wp.sorbansantri.com – Kegiatan diawali dengan ziarah bersama sebelum acara dimulai. Pembukaan dihadiri Wakil Ketua PW GP Ansor Jawa Tengah yang juga Kasatkorwil Banser Jawa Tengah H Muchtar Ma’mun mewakili Ketua PW GP Ansor Jateng, Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Jateng H Mustain Ahmad, Ketua Takmir Masjid Agung Demak KH Abdullah Syifa’, Pengurus PCNU Demak KH Yatin, MWCNU Demak Kota.
    Dilanjutkan sejumlah materi yang disampaikan oleh narasumber. Pada malam harinya, di sela workshop juga dilaksanakan Podcast dengan narasumber Kasatkorwil Banser Jateng, mengulas mengenai ‘Pergerakan Banser di Sektor Digital’ yang akan segera tayang di Chanel YouTube ANSOR JATENG.
    Yang membuat istimewa, workshop ini digelar di kompleks Masjid yang didirikan para Walisongo. Ketua Takmir Masjid Agung Demak KH Abdullah Syifa’ menyebut, pada zaman dahulu area masjid juga digunakan untuk bermusyawarah urusan sosial kemasyarakatan, tata negara, sekaligus pengajian. Maka bisa jadi, yang diduduki oleh peserta workshop kali ini pada zaman dahulu menjadi tempat duduk para Wali.
    SORBANSANTRI.COM
    Selain itu, tempat digelarnya workshop juga berjarak sekitar 15 meter dari makam para Sultan Demak, pejuang Islam, yang merupakan peletak pondasi peradaban Islam di Nusantara. Tentunya, terselip harapan adanya transfer energi pada para kader GP Ansor se Jateng yang terlibat dalam kegiatan ini.
    Sabtu pagi, dikejutkan kehadiran Sahabat Ketua PP GP Ansor yang juga Ketua GP Ansor Korwil Jateng-DIY, Mujiburrohman. Setelah berziarah, Gus Mujib langsung memberikan motivasi dan arahan berisi pesan penting untuk dapat diaplikasikan seluruh kader di Jawa Tengah.
    Gus Mujib sangat mengapresiasi adanya kegiatan konsolidasi koordinator Media-Cyber se provinsi yang merupakan pertama dan satu-satunya di Indonesia ini. Ia berharap kedepan, perlu segera adanya sinergi sekaligus kolaborasi intensif antara “Pasukan Udara” dengan “Pasukan Darat” untuk bergerak di sektor digital.
    Rangkain acara dilanjutkan konsolidasi sekaligus evaluasi Media-Cyber PC se Jateng. Terdapat sejumlah catatan penting untuk penataan manajemen ke depan agar upaya maksimalisasi konten rahmah dan koordinasi lintas bidang dapat berjalan dengan baik dan Super Duper.
    Penutupan dihadiri Sekretaris PW GP Ansor Jateng Dr KH Fahsin M Faal serta Kasatkorcab Banser Demak Teguh Ali Irfan mewakili unsur Pimpinan Cabang.
    Koordinasor Media-Cyber PC GP Ansor Banyumas, Ahmad Mufid menyampaikan, agenda kegiatan ini sangat bermanfaat.
    “Kegiatan yang sangat bermanfaat, banyak ilmu yang didapat. Serta bisa lebih meningkatkan kerjasama Tim Media sesama pengurus cabang,” ungkapnya.
    Menurutnya, peran kader GP Ansor sebagai generasi muda sangat penting untuk membuat konten Islam yang Rahmah. Menyebarkan konten positif di dunia maya.
    Koordinator Media-Cyber PC GP Ansor Grobogan, Ali Geyer menyampaikan, di Grobogan baru saja ada regenerasi kepengurusan. Maka adanya konsolidasi ini adalah momentum penting untuk mendapatkan ilmu baru berkaitan dengan manajemen.
    “Workshop media sangat membantu bagi kami para pemula yang ingin berkhidmah melalui sosial media, dengan ilmu yang diberikan akan sangat membantu dalam syiar perjuangan di daerah kami,” ungkapnya.
    Sementara itu, jajaran perwakilan panitia sekaligus pengelola Media PW GP Ansor Jateng, Wijayanto mengungkapkan, pada agenda konsolidasi ini banyak input yang diperoleh. Semisal, Media PC meminta sering digelarnya agenda konsolidasi se Jateng, sering digelarnya workshop untuk peningkatan kompetensi, dan diharap sering adanya arahan hingga instruksi dari PW terkait pergerakan sector digital.
    “Kami mendapat input banyak dari agenda ini. Hasil evaluasi, mayoritas kompetensi sahabat-sahabat di Cabang sudah baik, namun memang butuh bimbingan,” ungkapnya.
    Adapun, Workshop dan Konsolidasi ini dihadiri 31 Ketua /Koordinator Media-Cyber PC GP Ansor se Jateng (atau yang mewakili). Hanya 4 PC yang tidak mengirimkan delegasi dari 35 PC GP Ansor se Jawa Tengah.
    Pihaknya juga mengapresiasi PC GP Ansor Demak yang dengan baik mendukung terselenggaranya kegiatan ini. (Media PW GP Ansor Jateng)