Kategori: Amaliyah

aktivitas atau kegiatan yang dilakukan secara praktis, terutama dalam konteks keagamaan atau kehidupan spiritual. Dalam konteks agama Islam, amaliyah seringkali merujuk kepada amal ibadah atau amal kebaikan yang dilakukan oleh seorang Muslim sebagai bagian dari ibadah dan pengabdian kepada Allah SWT

  • Terungkapnya Misteri Shalawat Nariyah

    Terungkapnya Misteri Shalawat Nariyah

    wp.sorbansantri.com- Shalawat Nariyah merupakan salah satu shalawat yang mustajab. Shalawat ini juga diyakini para ahli sebagai kunci gudang yang mumpuni. Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mundah dan Jabir, Rasulullah SAW bersabda, yang artinya:“Siapa membaca shalawat kepadaku sehari 100 kali (dalam riwayat lain): Siapa membaca shalawal kepadaku 100 kali maka Allah akan mengijabahi 100 kali hajatnya; 70 hajatnya di akhirat, dan 30 di dunia… Dan hadits Rasulullah yang mengatakan; Perbanyaklah shahawat kepadaku karena dapat memecahkan masalah dan menghilangkan kesedihan.”
    Oleh karena itu, maka tak heran apabila shalawat Nariyah sering dilantunkan oleh umat muslim. Pasalnya bacaan shalawat ini diyakini memiliki banyak keutamaan. Lantas apa saja manfaat membaca shalawat Nariyah? Simak beberapa manfaatnya berikut ini.

    1. Dibukakan Pintu Rezeki
    2. Dikabulkan Hajatnya
    3. Dimudahkan Urusannya
    4. Dihindarkan dari Bahaya

    Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat dirinya yang mulia hujanpun turun, dan semoga terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau.

  • Kumpulan Syair Bijak Rabiah Al-Adawiyah: Cinta, Ibadah, dan Pengabdian yang Mendalam

    Kumpulan Syair Bijak Rabiah Al-Adawiyah: Cinta, Ibadah, dan Pengabdian yang Mendalam

    wp.sorbansantri.com – Rabiah Al-Adawiyah, seorang tokoh spiritual dan penyair Muslimah dari abad ke-8, dikenal karena syair-syairnya yang penuh makna dan mendalam. Dalam kumpulan syairnya yang diwariskan dari generasi ke generasi, Rabiah menyampaikan pesan-pesan tentang cinta kepada Tuhan, makna ibadah, dan pengabdian yang tulus.

    Dalam syair pertamanya, Rabiah mengajak untuk menyembah Tuhan bukan karena takut neraka atau mengharap surga, melainkan karena cinta yang tulus kepada-Nya. Ini mencerminkan pandangan spiritual yang mendalam bahwa hubungan dengan Tuhan bukanlah sekadar mencari imbalan atau menghindari hukuman, tetapi lebih pada ikatan batin yang mendalam.

    Syair-syair berikutnya juga menggambarkan nuansa yang sama. Rabiah mengekspresikan keinginannya untuk tenggelam dalam cinta Tuhan, melepaskan diri dari segala gangguan dunia, dan mengabdikan diri dengan penuh ketulusan.

    Namun, syair-syairnya juga mengkritik pandangan-pandangan yang sempit tentang ibadah. Rabiah menyoroti bahwa menyembah Tuhan semata karena takut neraka atau menginginkan surga bukanlah esensi dari ibadah yang sejati. Ia menekankan bahwa pengabdian seharusnya dilandaskan pada cinta yang tulus kepada-Nya, bukan semata-mata demi imbalan atau keselamatan diri.

    Dalam kesederhanaan kata-kata, Rabiah Al-Adawiyah mengajarkan makna yang dalam tentang cinta sejati kepada Tuhan, kesucian ibadah, dan pengabdian yang tulus tanpa pamrih. Syair-syairnya menjadi pengingat bagi kita untuk selalu mengabdi dengan cinta dan ketulusan, bukan karena takut atau mengharapkan imbalan. (AI Sorban)

  • Pelaksanaan Puasa Syawal

    Pelaksanaan Puasa Syawal

    wp.sorbansantri.com – Puasa Syawal, juga dikenal sebagai puasa enam hari setelah Hari Raya Idul Fitri, adalah tradisi sunnah yang dianjurkan dalam agama Islam. Puasa ini dimulai pada hari pertama bulan Syawal, setelah selesai menjalankan puasa wajib Ramadan. Pelaksanaannya cukup sederhana, di mana umat Islam berpuasa selama enam hari berturut-turut setelah Idul Fitri.

    Puasa Syawal memiliki banyak keutamaan dalam Islam. Salah satu keutamaannya adalah pahala yang besar, di mana Rasulullah Muhammad SAW bersabda bahwa siapa pun yang berpuasa Ramadan kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka akan mendapat pahala seperti puasa setahun penuh. Ini menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk terus meningkatkan amal ibadah setelah bulan Ramadan.

     

  • Pembukaan Porsadin Kabupaten Mojokerto Disambut dengan Tari Sufi dan Safin

    Pembukaan Porsadin Kabupaten Mojokerto Disambut dengan Tari Sufi dan Safin

    Sorbansantri.Com – Keberadaan madrasah diniyah ta’miriyah berperan sangat penting dalam upaya pembentukan karakter bangsa. Di lain sisi merupakan lembaga pendidikan keagamaan Islam yang diharapkan mampu untuk mempertahankan eksistensinya ditengah kemajemukan dan kemajuan budaya. Oleh karena itu, tentunya perlu adanya upaya hal-hal yang strategis dalam membangun sinergi antar Madrasah diniyah ta’miriyah. Salah satunya dengan dilaksanakannya pekan olah raga dan seni diniyah pada hari jum’at (05-8-22) di gedung Olah Raga Dinas Pendidikan kabupaten Mojokerto.

    Acara yang dihadiri oleh kepala dinas pendidikan kabupaten Mojokerto, kepala Dispupporapat Mojokerto, ketua KONI Mojokerto, ketua FKDT Mojokerto, pimpinan Pondok Pesantren An Nahdliyah Mengelo Mojokerto, perwakilan pengurus PC NU kabupaten Mojokerto serta tamu undangan yang hadir, acara pembukaan disambut dengan penampilan tari sufi dan tari safin untuk mengiringi kemeriahan acara.

    Menurut ketua PLT Dinas Pendidikan kabupaten Mojokerto merujuk dasar hukum kegiatan PORSADIN kali ini adalah yang pertama sesuai UU nomer 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional, yang kedua peraturan pemerintah 55 tahun 2007 tentang pendidikan agama dan keagamaan dan yang ketiga ketiga anggaran dasar dan rumah tangga forum komunikasi diniyah ta’miriyah, terangnya.

    Sambutan Gus Ali Muhammad Nasih Sebagai Ketua FKDT
    Sambutan Gus Ali Muhammad Nasih Sebagai Ketua FKDT

    Lanjut kata ketua PLT Diknas kabupaten Mojokerto, adapun tujuan diadakannya PORSADIN adalah yang pertama menggali dan mengembangkan potensi santri madrasah diniyah ta’miriyah melalui bakat dan minat, yang kedua membangun sinergi dan ikatan silaturrahmi antar madrasah diniyah ta’miriyah dalam rangka meningkatkan peran fungsi pendidikan diniyah sebagai penguatan pembentukan karakter dan penyempurna bangsa, yang ketiga memperkuat peran fungsi dan posisi organisasi Forum Komunikasi Diniyah Ta’miriyah (FKDT) sebagai wadah ikatan silaturrahmi madrasah diniyah ta’miriyah.

    Adapun sasaran dari program ini adalah para santri dan lembaga diniyah ta’miriyah serta pihak-pihak terkait, beliau juga mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak pemerintahan kabupaten mojokerto karena biasanya kegiatan PORSADIN ini kita mengeluarkan anggaran sendiri namun pada tahun ini semua anggaran disupport oleh bupati diambilkan dari ABPD dinas pendidikan kabupaten Mojokerto, imbuhnya. Hasan Ngoro

  • Ayo Jadi Beradab Saat Bertamu, Perhatikan Beberapa Adabnya!

    Ayo Jadi Beradab Saat Bertamu, Perhatikan Beberapa Adabnya!

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Islam adalah agama terlengkap dan semua teratur, termasuk dalam bertamu. Rasulullah SAW telah mengajarkan umatnya adab bertamu dalam kehidupan sehari-hari. Adab tersebut telah tertulis jelas dalam hadits-hadits, lalu diajarkan pada tiap generasi muslimin.

    Berikut adab bertamu berdasar hadits Rasulullah SAW, itu artinya begitulah Rasulullah mengajarkannya kepada kita:

    1. Tidak Berdiri Tepat di Depan Pintu

    Seorang tamu hendaknya berdiri di sisi kanan pintu, bukan tepat di depannya. Mengapa demikian? Karena jika pintu telah dibuka oleh tuan rumah, maka tamu tidak dapat melihat seluruh isi rumah. Selain itu, tamu tidak akan dapat melihat hal-hal yang tidak dibenarkan untuk dilihat.

    Adab ini tertulis dalam hadits berikut:

    كان رسول الله إذا أتى باب قوم لم يستقبل الباب من تلقاء و جهه و لكن ركنها الأيمن أو الأيسر و يقول السلام عليكم السلام عليكم

    Artinya: Adalah Rasulullah SAW apabila mendatangi pintu suatu kaum, beliau tidak menghadapkan wajahnya di depan pintu, tetapi berada di sebelah kanan atau kirinya dan mengucapkan assalamu’alaikum… assalamu’alaikum…”

  • Puasa Ramadanmu InsyaAllah Lancar dan Sukses! Lakukan 5 Cara Ini Sekarang

    Puasa Ramadanmu InsyaAllah Lancar dan Sukses! Lakukan 5 Cara Ini Sekarang

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.comSebagai umat Muslim yang taat dan patuh pada perintah Tuhannya, Allah SWT, menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadan adalah salah satu bukti kita beriman, sanggup melakukan, dan mengamalkan perbuatan baik dengan iklash dan tawakal.

    Ramadan tinggal menghitung hari, bulan penuh berkah dimana ibadah atau perbuatan baik sekecil apapun akan mendapat ganjaran pahala berkalilipat dari bulan-bulan lainnya. Begitu istimewanya bulan Ramadan dosa-dosa kita akan dihapus 10 hari terakhir berpuasa. Maka kita seharusnya berlomba mengerjakan ibadah wajib lebih khusu’, perbanyak berbuat kebaikan, beramal, membaca Al Quran, perbanyak shalat sunnah, dan perbanyak dzikir.

    Ummat Muslim sejati tentu akan menyambut antusias kedatangan bulan Ramadan ini. Untuk itu saya akan bagikan tips buat kamu yang mungkin masih menghadapi kendala ketika menjalankan ibadah puasa. Tentu saja puasanya orang dewasa berbeda dengan cara berpuasanya anak-anak. Lapar, haus, sabar, dan menahan nafsu keduniawian baru dasar dalam tingkatan berpuasa yang lebih tinggi.
    Jadi, mari kita mulai pemanasannya dari sekarang.

    Nah, supaya puasamu bisa lancar dan tidak ‘bolong’ di tengah jalan alangkah lebih baik kita mulai membiasakan diri dari sekarang seperti melakukan ibadah shalat tepat waktu, yang tadinya shalat dilakukan diujung waktu mulai sekarang lakukanlah tepat waktu dimasjid terutama bagi kaum laki-laki.

    “Sebaik-baiknya melaksanakan sholat adalah di awal waktu. Atau ketika mendengar kumandang adzan atau pun menyadari telah masuk waktu sholat”.

  • Lembaga Da’wah Nahdlatul Ulama’ (LDNU) MWCNU Kecamatan Ngoro Gelar Lailatul Ijtima’ di Ranting NU Candiharjo

    Lembaga Da’wah Nahdlatul Ulama’ (LDNU) MWCNU Kecamatan Ngoro Gelar Lailatul Ijtima’ di Ranting NU Candiharjo

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Majlis wakil cabang nahdlatul ulama’ (MWCNU) kecamatan ngoro pada hari jum’at (18-02-2022) mengadakan kegiatan rutin jum’at paing yakni lailatul ijtima’ yang di bawah naungan lembaga da’wah nahdlatul ulama’ (LDNU) dimasjid BAITURROHMAH dusun perjito desa candiharjo kecamatan ngoro.

    Dalam acara ini yang dihadiri oleh seluruh banom NU yang ada di kecamatan ngoro, baik di tingkatan ranting maupun ditingkatan PAC, para pejabat jajaran pemerintahan desa candiharjo, namun kali ini jajaran pengurus ranting NU candiharjo merasa kehilangan atas meninggalnya kader NU sekaligus selaku kepala dusun beliau adalah bapak anang sujiono.

    (lebih…)

  • SEDEKAH SELAMA 7 HARI DARI KEMATIAN

    SEDEKAH SELAMA 7 HARI DARI KEMATIAN

    SORBANSANTRI.COM

    asNUter, wp.sorbansantri.com –  

    عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَيُّ اْلإِسْلاَمِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ (رواه البخاري، 11)

    Dari Abdullah bin Amr , “Ada seorang laki-laki bertanya pada Nabi , “Perbuatan apakah yang paling baik?” Rasulullah menjawab, “Menyuguhkan makanan dan mengucapkan salam, baik kepada orang yang engkau kenal atau tidak.” (HR. al-Bukhari [11]).

    عَنْ سُفْيَانَ (الثَّوْرِيّ) قَالَ قَالَ طَاوُوْس إِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُوْنَ فِي قُبُوْرِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ أْنْ يُطْعَمَ عَنْهُمْ تِلْكَ اْلأَيَّامَ

    (المطالب العلية للحافظ ابن حجر 5 / 330 والبداية والنهاية لابن كثير 9 / 270 وشرح صحيح البخارى لابن بطال 3 / 271 وعمدة القاري شرح صحيح البخارى للعيني 12 / 277)

    “Imam Ahmad mengutip pernyataan Thawus: Sesungguhnya orang-orang yang mati mendapatkan ujian di kubur mereka selama 7 hari. Maka para sahabat senang untuk memberi sedekah pada 7 hari tersebut” (Ibnu Hajar dalam al-Mathalib al-Aliyah V/330, Abu Nuaim dalam Hilyat al-Auliya’ IV/11, Ibnu al-Jauzi dalam Shifat al-Shafwah I/20, Ibnu Katsir (murid Ibnu Taimiyah, ahli Tafsir) dalam al-Bidayah wa al-Nihayah IX/270, Ibnu Baththal dalam Syarah al-Bukhari III/271 dan al-Aini

    فَائِدَة رَوَى أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلَ فِي الزُّهْدِ وَأَبُوْ نُعَيْمٍ فِي الْحِلْيَةِ عَنْ طَاوُسٍ أَنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُوْنَ فِي قُبُوْرِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ أَنْ يُطْعِمُوْا عَنْهُمْ تِلْكَ اْلأَيَّامِ إِسْنَادُهُ صَحِيْح وَلَهُ حُكْمُ الرَّفْعِ وَذَكَرَ ابْنُ جُرَيْجٍ فِي مُصَنَّفِهِ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عَمِيْرٍ أَنَّ الْمُؤْمِنَ يُفْتَنُ سَبْعًا وَالْمُنَافِقَ أَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا وَسَنَدُهُ صَحِيْح أَيْضًا وَذَكَرَ ابْنُ رَجَبَ فِي اْلقُبُوْرِ عَنْ مُجَاهِدٍ أَنَّ اْلأَرْوَاحَ عَلَى الْقُبُوْرِ سَبْعَةَ أَيَّامٍ مِنْ يَوْمِ الدَّفْنِ لاَ تُفَارِقُهُ وَلَمْ أَقِفْ عَلَى سَنَدِهِ (الديباج على مسلم بن الحجاج للحافظ جلال الدين السيوطي 2 / 490)

    “Ahmad meriwayatkan dalam kitab Zuhud dan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah dari Thawus bahwa ‘sesungguhnya orang-orang yang mati mendapatkan ujian di kubur mereka selama 7 hari. Maka para sahabat senang untuk memberi sedekah pada 7 hari tersebut’. Sanad riwayat ini sahih dan berstatus hadis marfu’. Ibnu Juraij menyebutkan dalam kitab al-Mushannaf dari Ubaid bin Amir bahwa ‘orang mukmin mendapatkan ujian (di kubur) selama 7 hari, dan orang munafik selama 40 hari’. Sanadnya juga shahih. Ibnu Rajab menyebutkan dalam kitab al-Kubur dari Mujahid bahwa ‘arwah berada dalam kubur selama 7 hari sejak dimakamkan dan tidak berpisah’. Tetapi saya tidak menemukan sanadnya” (al-Dibaj Syarah sahih

     

    • إِنَّ سُنَّةَ اْلإطْعَامِ سَبْعَةَ أَيَّامٍ بَلَغَنِي أَنَّهَا مُسْتَمِرَّة إلَى اْلآنَ بِمَكَّةَ وَالْمَدِيْنَةِ فَالظَّاهِرُ أَنَّهَا لَمْ تُتْرَكْ مِنْ عَهْدِ الصَّحَابَةِ إِلَى اْلآنَ وَإِنَّهُمْ أَخَذُوْهَا خَلَفًا عَنْ سَلَفٍ إلَى الصَّدْرِ اْلأَوَّلِ (الحاوي للفتاوي للسيوطي – ج 3 / ص 288)

     

    Al-Hafidz As-Suyuthi berkata: “Anjuran memberi makanan 7 hari, telah sampai kepada saya bahwa hal itu berlangsung hingga sekarang di Makkah dan Madinah. Secara Dzahir hal itu tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat hingga sekarang, dan mereka meneruskannya secara turun temurun dari masa Awal” (al-Haawii 3/288)

     

    Syaikh Muhammad Ali bin Husain al-Maliki berkata :

     

    اِعْلَمْ اَنَّ الْجَاوِيِّيْنَ غَالِبًا اِذَا مَاتَ اَحَدُهُمْ جَاؤُوْا اِلَى اَهْلِهِ بِنَحْوِ اْلاَرُزِّ نَيِّئًا ثُمَّ طَبَّخُوْهُ بَعْدَ التَّمْلِيْكِ وَقَدَّمُوْهُ ِلاَهْلِهِ وَلِلْحَاضِرِيْنَ عَمَلاً بِخَبَرِ “اصْنَعُوْا ِلاَلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا” وَطَمَعًا فِي ثَوَابِ مَا فِي السُّؤَالِ بَلْ وَرَجَاءَ ثَوَابِ اْلاِطْعَامِ لِلْمَيِّتِ عَلَى اَنَّ اْلعَلاَّمَةَ الشَّرْقَاوِيَ قَالَ فِي شَرْحِ تَجْرِيْدِ الْبُخَارِي مَا نَصُّهُ وَالصَّحِيْحُ اَنَّ سُؤَالَ الْقَبْرِ مَرَّةٌ وَاحِدَةٌ وَقِيْلَ يُفْتَنُ الْمُؤْمِنُ سَبْعًا وَالْكَافِرُ اَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا وَمِنْ ثَمَّ كَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ اَنْ يُطْعَمَ عَنِ الْمُؤْمِنِ سَبْعَةَ اَيَّامٍ مِنْ دَفْنِهِ اهــ بِحُرُوْفِهِ (بلوغ الامنية بفتاوى النوازل العصرية مع انارة الدجى شرح نظم تنوير الحجا 215-219)   

    “Ketahuilah, pada umumnya orang-orang Jawa jika diantara mereka ada yang meninggal, maka mereka datang pada keluarganya dengan membawa beras mentah, kemudian memasaknya setelah proses serah terima, dan dihidangkan untuk keluarga dan para pelayat, untuk mengamalkan hadis: ‘Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far’ dan untuk mengharap pahala sebagaimana dalam pertanyaan (pahala tahlil untuk mayit), bahkan pahala sedekah untuk mayit. Hal ini berdasarkan pendapat Syaikh al-Syarqawi dalam syarah kitab Tajrid al-Bukhari yang berbunyi: Pendapat yang shahih bahwa pertanyaan dalam kubur hanya satu kali. Ada pendapat lain bahwa orang mukmin mendapat ujian di kuburnya selama 7 hari dan orang kafir selama 40 hari tiap pagi. Oleh karenanya para ulama terdahulu menganjurkan memberi makan untuk  orang mukmin selama 7 hari setelah pemakaman” (Bulugh al-Amniyah dalam kitab Inarat al-Duja 215-219). (abi sorban)

  • KELUARGA MAYIT MEMBERIKAN HIDANGAN

    KELUARGA MAYIT MEMBERIKAN HIDANGAN

    SORBANSANTRI.COM

    asnuter, wp.sorbansantri.com – Diantara perkara yang sudah menjadi tradisi atau kebiasan dikalangan masyarakat kita adalah memberikan  hidangan ketika ada keluarga yang meninggal dunia.

    Apakah hal semacam ini bias dibenarkan menurut tinjauan syariat agama ?

    عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا كَانَتْ إِذَا مَاتَ الْمَيِّتُ مِنْ أَهْلِهَا فَاجْتَمَعَ لِذَلِكَ النِّسَاءُ ثمَّ تَفَرَّقْنَ إِلاَّ أَهْلَهَا وَخَاصَّتَهَا أَمَرَتْ بِبُرْمَةٍ مِنْ تَلْبِيْنَةٍ فَطُبِخَتْ ثُمَّ صُنِعَ ثَرِيْد فَصُبَّتِ التَّلْبِيْنَةُ عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَتْ كُلْنَ مِنْهَا فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ التَّلْبِيْنَةُ مَجَمَّة لِفُؤَادِ الْمَرِيْضِ تَذْهَبُ بِبَعْضِ الْحُزْنِ    (رواه البخاري رقم 5417 ورقم 5689 ومسلم رقم 2216)

    “Diriwayatkan bahwa ketika keluarga Aisyah ada yang wafat maka wanita-wanita berkumpul, kemudian mereka pulang kecuali keluarga dan orang-orang tertentu saja. Aisyah memerintahkan untuk memasak semacam makanan adonan yang disebut Talbinah. Aisyah berkata: Makanlah! Karena saya mendengar Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya Talbinah dapat memperteguh hati orang yang sakit dan dapat menghilangkan sebagian kesusahannya” (HR al-Bukhari No 5417, No 5689 dan Muslim No 2216)

    فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى إِبَاحَةِ صُنْعِ أَهْلِ الْمَيِّتِ الطَّعَامَ وَالدَّعْوَةِ إِلَيْهِ بَلْ ذُكِرَ فِي الْبَزَّازِيَّةِ أَيْضًا مِنْ كِتَابِ اْلاِسْتِحْسَانِ وَإِنِ اتَّخَذَ طَعَامًا لِلْفُقَرَاءِ كَانَ حَسَنًا ا هـ

     (حاشية الطحطاوي على مراقي الفلاح شرح نور الإيضاح 1 / 410)

    “Hadis ini (riwayat ‘Ashim bin Kulaib) menunjukkan diperbolehkannya bagi keluarga yang meninggal untuk membuat makanan dan mengundang orang lain. Bahkan disebutkan dalam kitab al-Bazzaziyah juga secara metode Istihsan, yaitu bila membuatkan makanan untuk orang-orang fakir maka hukumnya bagus” (Hasyiyah al-Thahthawi I/410)

    وَعَنِ الْأَحْنَفِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ: حِيْنَ طُعِنَ عُمَرُ أَمَرَ صُهَيْبًا أَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثَلَاثًا, وَأَمَرَ بِأَنْ يَجْعَلَ لِلنَاسِ طَعَامًا,

    (ذكر الحافظ ابن حجر في كتابه “المطالب العالية في زوائد المسانيد الثمانية” (1/199), وقال إسناده حسن )

    “ Dari al-Ahnaf bin Qais dia berkata: ketika sayyidina Umar RA menjelang wafat (karena ditikam dengan pisau oleh Abu lu’lu’ah al-Majusi) beliau menugas Suhaib untuk melaksanakan shalat dengan orang banyak tiga kali dan memerintahkan agar menyuguhkan makanan untuk mereka. (dinukil oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab al-Mathalib al-’Aliyah, Juz I, hal. 199, dengan sanad yang hasan).

    Kesimpulan :

    Melihat beberapa dalil diatas,bahwa tradisi memberikan hidangan kepada orang yang bertakziyah,hukumnya diperbolehkan,sebagaimana yang sudah berlaku dimasyarakat kita, bahkan hal tersebut sudah dilaksanakan sejak zaman generasi sahabat dan dicontohkan sendiri oleh Ummil Mukminin Siti Aisyah RA, dan juga anjuran salah satu Khulafatur Rasyidin yakni Umar Bin Khattab . (gus khotib – asnuter)

  • Kitab Nazham “Sejarah Besar Nahdlatul Ulama” Karangan KH. Abdul Halim Leuwimunding

    Kitab Nazham “Sejarah Besar Nahdlatul Ulama” Karangan KH. Abdul Halim Leuwimunding

    Mojokerto, Sorban santri. Com – Ini adalah naskah kitab yang berjudul “Sejarah Perjuangan Kiai Haji Abdul Wahhab” karangan salah satu pendiri organisasi Nahdtalul Ulama (NU) yang berasal dari Pasundan (Jawa Barat), tepatnya dari Leuwimunding, Majalengka, yaitu KH. Abdul Halim (1898-1972 M).

    Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu-Indonesia beraksara Arab (Jawi-Pegon) dalam bentuk nazhaman (puisi). Meski berjudul “Sejarah Perjuangan Kiyahi Haji Abdul Wahhab” (KH. Abdul Wahhab Hasbullah), namun kandungan kitab ini mengungkapkan sejarah besar pendirian dan perjuangan NU dari masa ke masa.

    KH. Abdul Halim Leuwimunding adalah salah satu murid terdekat dari KH. Abdul Wahhab Hasbullah (Tambak Beras Jombang), sekalus kader andalan beliau. Ketika ikut sama-sama membidani kehaliran NU pada tahun 1926 M di Surabaya, KH. Abdul Halim Leuwimunding menjadi salah satu pendiri termuda (selain KH. As’ad Syamsul Arifin, Asembagus Situbondo), sekaligus satu-satunya pendiri yang berasal dari Pasundan. Pada saat itu, KH. Abdul Wahhab Hasbullah menunjuk KH. Abdul Halim Leuwimunding sebagai katib tsani.

    Melalui kitab ini, sejarah organisasi Islam berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah itu didedahkan oleh KH. Abdul Halim Leuwimunding dalam bentuk puisi secara runut, ringkas, dan kaya akan data serta informasi. Karena itu, keberadaan kitab ini menjadi sangat penting sebagai salah satu sumber utama sejarah besar NU yang langsung ditulis oleh salah satu pendirinya.

    Saya mendapatkan salinan naskah ini dari sahabat saya al-Fadhil Agus H. Muhammad al-Barra putra KH. Asep Saefuddin Halim, yang merupakan cucu dari pengarang kitab ini. Rencananya kitab ini akan dijadikan beliau sebagai bahan utama kajian disertasi doktoral beliau pada Departemen Filologi Universitas Padjadjaran Bandung.

    Pada kolofon, disebutkan penulisan kitab ini diselesaikan pada 12 September 1970 M (bertepatan dengan 11 Rajab 1390 Hijri). Kitab ini kemudian dicetak oleh Percetakan “Baru” yang terletak di Jalan Pajagalan 3, Bandung (Jawa Barat), dengan tebal 31 halaman. Tertulis di sana;

    ‎دافت إذن دي جيتاك ايني رواية # ياله تغكال دوابلاس ايتو تفات

    ‎سفتيمبر سمبيلان بلس توجوه فولوه # سيا مغهادف كجومباغ دغن سغكوه

    ‎مودهمودهان توهن ممبري منفعة # فدا رواية ايني يغ سيا سيغكات

    (Dapat izin dicetak ini riwayat # ialah tanggal dua belas itu tepat

    September Sembilan belas tujuh puluh # saya menghadap ke Jombang dengan sungguh

    Mudah-mudahan Tuhan memberi manfaat # pada riwayat ini yang saya singkat)

    Melihat tanggal penulisan kitab ini dalam tahun Hijriah, yaitu 11 Rajab 1390 H), tampaknya kitab ini ditulis untuk menyambut peringatan hari lahir NU yang ke-46. Organisasi NU sendiri diresmikan pada 16 Rajab 1344 Hijri (bertepatan 31 Januari 1926 Masehi).

    Dalam kata pengantarnya, KH. Abdul Halim Leuwimunding mengatakan jika banyak koleganya yang hendak mengetahui sejarah besar NU dari awal mula berdirinya, peran serta kiprahnya dalam perjuangan keagamaan Islam, kebangsaan Indonesia, serta kemanusiaan, hingga sampai pada tahun 1970 ketika karya ini ditulis dan NU sudah menjadi sebuah organisasi keislaman terbesar di Nusantara. Beliau menulis;

    ‎سيا بكين رواية فدا فوكويا # بياق تمان ايغين مغتاهوئييا

    ‎ايغين تاؤ اسال () برديرييا # هيغكا جدي فرتي بسارله ياتيا
    Sumber : https://www.facebook.com/1784976351/posts/10211145309226990/

    ‎ميلوروه سوده دي كنال ناميا # تيدأ اسيغ دونيا مغتاهوئييا

    ‎مكا يغ تيمفو برديري فرتاميا # هيا تيغكال يغ ميسيه امفات اوراغيا

    (Saya bikin riwayat pada poko[k]nya # banyak teman ingin mengetahuinya

    Ingin tau asal NU berdirinya # hingga jadi [se]perti besarlah nyatanya

    Menyeluruh sudah dikenal namanya # tidak asing dunia mengetahuinya

    Maka yang tempo berdiri pertamanya # hanya tinggal yang masih empat orangnya).

    KH. Abdul Halim Leuwimunding kemudian melanjutkan;

    ‎سيا يويون اياله دغن سعيران # بييار اناك2 تاؤ بركمبيرأن

    ‎مغتاهوئي علماء جارا برفيكير # مغتاهوئي تراديسي بهان فميكير

    ‎مورني تيدأ ترجامفور ايدي فنجاجه # سباب غرتي صفة منوسيا حرية

    (Saya susun ialah dengan si’iran # biar anak-anak tau bergembiraan

    Mengetahui ulama cara berpikir # mengetahui tradisi bahan pemikir

    Murni tidak tercampuri ide penjajah # sebab ngerti sifat manusia huriah [merdeka]).

    Dalam menulis kitab nazham sejarah besar NU ini, KH. Abdul Halim terlebih dahulu meminta izin dan restu dari KH. Abdul Wahhab Hasbullah (w. 1971 M) dan KH. Ahmad Syaikhu (w. ?), dan KH. Idham Cholid (yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum PBNU). KH. Abdul Halim Leuwimunding menulis;

    ‎سيا مينتا اذن فا كياهي وهاب # سباب ايتو كورو سيا وقتو طلب

    ‎مينتا اذن فا شيخو ياله سبابيا # سباب سورابيا مولائي برديرييا

    ‎جوكا مينتا اذن ككتوا عموم # فا كياهي إدهام فيمفنان هارس معلوم

    (Saya minta izin Pak Kiyai Wahhab # sebab itu guru saya waktu tholab (belajar)

    Minta izin Pak Syaikhu ialah sebabnya # sebab Surabaya mulai berdirinya (NU)

    Juga minta izin ke ketua umum # Pak Kiyai Idham (Cholid) pemimpin harus maklum).

    Dikatakan oleh KH. Abdul Halim Leuwimunding, bahwa dalam menyusun kitab nazham sejarah besar NU ini, dirinya bersandar pada muktamar-muktamar NU yang hingga pada masa itu sudah berlangsung 24 kali. Kesemua (24) muktamar itu selalu dihadiri oleh beliau. Karena itu, sebaga macam perkembangan, perubahan, dan keputusan NU dari masa ke masa dapat diketahui dengan sangat baik oleh beliau.

    KH. Abdul Halim Leuwimunding wafat dan dikebumikan di tempat kelahirannya di Leuwimunding, Majalengka, pada 11 April 1972 M (bertepatan dengan 26 Safar 1392 Hijri). Beliau meninggalkan sebuah pesantren dan institusi pendidikan yang masih lestari hingga kini, yaitu Sabilul Chalim. Salah satu putra beliau, KH. Asep Saeful Halim, tinggal dan berkarir di Surabaya dengan mendirikan pesantren unggulan Amanatul Ummah. KH. Asep Saeful Halim pernah menjabat sebagai ketua PCNU Surabaya dan Ketua PERGUNU PBNU

    Sumber : https://www.facebook.com/1784976351/posts/10211145309226990/

    (Anwar sorban)