Kategori: Religius

berita yang fokus pada aspek keagamaan, seperti ajaran agama, praktik keagamaan, perkembangan dalam komunitas keagamaan, dan isu-isu terkait keagamaan. Berita ini dapat mencakup liputan tentang acara keagamaan, ceramah agama, perayaan agama, dan pandangan agama terhadap isu-isu kontemporer. Tujuannya adalah untuk memberikan informasi yang mendalam dan mendukung pemahaman yang lebih baik tentang aspek keagamaan dalam masyarakat.

  • INFOKOM BANSER CERDAS DI IMAN CERDAS DI LAPANGAN TEGAP DI BARISAN TEGAP DI PERJUANGAN, PERSONIL INFOKOM BANSER HARUS BERKARAKTER l

    INFOKOM BANSER CERDAS DI IMAN CERDAS DI LAPANGAN TEGAP DI BARISAN TEGAP DI PERJUANGAN, PERSONIL INFOKOM BANSER HARUS BERKARAKTER l

    SORBANSANTRI.COMJatim, wp.sorbansantri.com – INFOKOM sebagai Alat struktural SATUAN BANSER mulai dari Jajaran SATKORNAS hingga SATKORCAB.

    Dalam juklaknya Infokom menugaskan Personilnya untuk Mampu mempunyai Kualifikasi yang kuat untuk menjalankan tugas pada Internal Satuan maupun TUGAS Internal Jamiyah NU- Banom.

    Yang mana sebagai Personil Infokom harus mempunyai SIKAP Aktif  Kreatif dan Responsif. begitu Vitalnya sebuah Informasi sebagai bahan Komunikasi, untuk memberi dan menunjang dari apa-apa yang sifatnya Pergerakan, Kemajuan dan Kendala. Untuk selanjutnya akan menjadi bahan yang harus disampaikan pada Arah dan Tujuannya.

    Sebagai Personil INFOKOM BANSER agar memenuhi KUALIFIKASI DISIPLIN dan DEDIKASI dalam Tugas dan Fungsi alat DAYA JUANG SATUAN maka, INFOKOM BANSER mengajarkan beberapa Point KARAKTER: 1. KARAKTER MENTAL 2 KARAKTER DEDIKASI 3 KARAKTER SIKAP.

    Untuk kedepannya berharap agar  Jajaran Infokom Banser mampu memberikan sumbangsihnya pada Satuan BANSER dan Jamiyah NU dengan mampu mengikuti perkembangan Peradaban yang terus Berubah dan Maju. (Infokom Jatim)

  • Kitab Nazham “Sejarah Besar Nahdlatul Ulama” Karangan KH. Abdul Halim Leuwimunding

    Kitab Nazham “Sejarah Besar Nahdlatul Ulama” Karangan KH. Abdul Halim Leuwimunding

    Mojokerto, Sorban santri. Com – Ini adalah naskah kitab yang berjudul “Sejarah Perjuangan Kiai Haji Abdul Wahhab” karangan salah satu pendiri organisasi Nahdtalul Ulama (NU) yang berasal dari Pasundan (Jawa Barat), tepatnya dari Leuwimunding, Majalengka, yaitu KH. Abdul Halim (1898-1972 M).

    Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu-Indonesia beraksara Arab (Jawi-Pegon) dalam bentuk nazhaman (puisi). Meski berjudul “Sejarah Perjuangan Kiyahi Haji Abdul Wahhab” (KH. Abdul Wahhab Hasbullah), namun kandungan kitab ini mengungkapkan sejarah besar pendirian dan perjuangan NU dari masa ke masa.

    KH. Abdul Halim Leuwimunding adalah salah satu murid terdekat dari KH. Abdul Wahhab Hasbullah (Tambak Beras Jombang), sekalus kader andalan beliau. Ketika ikut sama-sama membidani kehaliran NU pada tahun 1926 M di Surabaya, KH. Abdul Halim Leuwimunding menjadi salah satu pendiri termuda (selain KH. As’ad Syamsul Arifin, Asembagus Situbondo), sekaligus satu-satunya pendiri yang berasal dari Pasundan. Pada saat itu, KH. Abdul Wahhab Hasbullah menunjuk KH. Abdul Halim Leuwimunding sebagai katib tsani.

    Melalui kitab ini, sejarah organisasi Islam berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah itu didedahkan oleh KH. Abdul Halim Leuwimunding dalam bentuk puisi secara runut, ringkas, dan kaya akan data serta informasi. Karena itu, keberadaan kitab ini menjadi sangat penting sebagai salah satu sumber utama sejarah besar NU yang langsung ditulis oleh salah satu pendirinya.

    Saya mendapatkan salinan naskah ini dari sahabat saya al-Fadhil Agus H. Muhammad al-Barra putra KH. Asep Saefuddin Halim, yang merupakan cucu dari pengarang kitab ini. Rencananya kitab ini akan dijadikan beliau sebagai bahan utama kajian disertasi doktoral beliau pada Departemen Filologi Universitas Padjadjaran Bandung.

    Pada kolofon, disebutkan penulisan kitab ini diselesaikan pada 12 September 1970 M (bertepatan dengan 11 Rajab 1390 Hijri). Kitab ini kemudian dicetak oleh Percetakan “Baru” yang terletak di Jalan Pajagalan 3, Bandung (Jawa Barat), dengan tebal 31 halaman. Tertulis di sana;

    ‎دافت إذن دي جيتاك ايني رواية # ياله تغكال دوابلاس ايتو تفات

    ‎سفتيمبر سمبيلان بلس توجوه فولوه # سيا مغهادف كجومباغ دغن سغكوه

    ‎مودهمودهان توهن ممبري منفعة # فدا رواية ايني يغ سيا سيغكات

    (Dapat izin dicetak ini riwayat # ialah tanggal dua belas itu tepat

    September Sembilan belas tujuh puluh # saya menghadap ke Jombang dengan sungguh

    Mudah-mudahan Tuhan memberi manfaat # pada riwayat ini yang saya singkat)

    Melihat tanggal penulisan kitab ini dalam tahun Hijriah, yaitu 11 Rajab 1390 H), tampaknya kitab ini ditulis untuk menyambut peringatan hari lahir NU yang ke-46. Organisasi NU sendiri diresmikan pada 16 Rajab 1344 Hijri (bertepatan 31 Januari 1926 Masehi).

    Dalam kata pengantarnya, KH. Abdul Halim Leuwimunding mengatakan jika banyak koleganya yang hendak mengetahui sejarah besar NU dari awal mula berdirinya, peran serta kiprahnya dalam perjuangan keagamaan Islam, kebangsaan Indonesia, serta kemanusiaan, hingga sampai pada tahun 1970 ketika karya ini ditulis dan NU sudah menjadi sebuah organisasi keislaman terbesar di Nusantara. Beliau menulis;

    ‎سيا بكين رواية فدا فوكويا # بياق تمان ايغين مغتاهوئييا

    ‎ايغين تاؤ اسال () برديرييا # هيغكا جدي فرتي بسارله ياتيا
    Sumber : https://www.facebook.com/1784976351/posts/10211145309226990/

    ‎ميلوروه سوده دي كنال ناميا # تيدأ اسيغ دونيا مغتاهوئييا

    ‎مكا يغ تيمفو برديري فرتاميا # هيا تيغكال يغ ميسيه امفات اوراغيا

    (Saya bikin riwayat pada poko[k]nya # banyak teman ingin mengetahuinya

    Ingin tau asal NU berdirinya # hingga jadi [se]perti besarlah nyatanya

    Menyeluruh sudah dikenal namanya # tidak asing dunia mengetahuinya

    Maka yang tempo berdiri pertamanya # hanya tinggal yang masih empat orangnya).

    KH. Abdul Halim Leuwimunding kemudian melanjutkan;

    ‎سيا يويون اياله دغن سعيران # بييار اناك2 تاؤ بركمبيرأن

    ‎مغتاهوئي علماء جارا برفيكير # مغتاهوئي تراديسي بهان فميكير

    ‎مورني تيدأ ترجامفور ايدي فنجاجه # سباب غرتي صفة منوسيا حرية

    (Saya susun ialah dengan si’iran # biar anak-anak tau bergembiraan

    Mengetahui ulama cara berpikir # mengetahui tradisi bahan pemikir

    Murni tidak tercampuri ide penjajah # sebab ngerti sifat manusia huriah [merdeka]).

    Dalam menulis kitab nazham sejarah besar NU ini, KH. Abdul Halim terlebih dahulu meminta izin dan restu dari KH. Abdul Wahhab Hasbullah (w. 1971 M) dan KH. Ahmad Syaikhu (w. ?), dan KH. Idham Cholid (yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum PBNU). KH. Abdul Halim Leuwimunding menulis;

    ‎سيا مينتا اذن فا كياهي وهاب # سباب ايتو كورو سيا وقتو طلب

    ‎مينتا اذن فا شيخو ياله سبابيا # سباب سورابيا مولائي برديرييا

    ‎جوكا مينتا اذن ككتوا عموم # فا كياهي إدهام فيمفنان هارس معلوم

    (Saya minta izin Pak Kiyai Wahhab # sebab itu guru saya waktu tholab (belajar)

    Minta izin Pak Syaikhu ialah sebabnya # sebab Surabaya mulai berdirinya (NU)

    Juga minta izin ke ketua umum # Pak Kiyai Idham (Cholid) pemimpin harus maklum).

    Dikatakan oleh KH. Abdul Halim Leuwimunding, bahwa dalam menyusun kitab nazham sejarah besar NU ini, dirinya bersandar pada muktamar-muktamar NU yang hingga pada masa itu sudah berlangsung 24 kali. Kesemua (24) muktamar itu selalu dihadiri oleh beliau. Karena itu, sebaga macam perkembangan, perubahan, dan keputusan NU dari masa ke masa dapat diketahui dengan sangat baik oleh beliau.

    KH. Abdul Halim Leuwimunding wafat dan dikebumikan di tempat kelahirannya di Leuwimunding, Majalengka, pada 11 April 1972 M (bertepatan dengan 26 Safar 1392 Hijri). Beliau meninggalkan sebuah pesantren dan institusi pendidikan yang masih lestari hingga kini, yaitu Sabilul Chalim. Salah satu putra beliau, KH. Asep Saeful Halim, tinggal dan berkarir di Surabaya dengan mendirikan pesantren unggulan Amanatul Ummah. KH. Asep Saeful Halim pernah menjabat sebagai ketua PCNU Surabaya dan Ketua PERGUNU PBNU

    Sumber : https://www.facebook.com/1784976351/posts/10211145309226990/

    (Anwar sorban)

  • Rijalul Ansor Pacet Gelar Dzikir dan Sholawat Bersama Jajaran Ranting

    Rijalul Ansor Pacet Gelar Dzikir dan Sholawat Bersama Jajaran Ranting

    SORBANSANTRI.COM

    Mojokerto, wp.sorbansantri.com –  Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor (MDSRA) pimpinan anak cabang Gerakan pemuda Ansor Kecamatan Pacet (GP ANSOR PAC PACET) gelar doa bersama bersama ranting jajaran.

    Bertempat di Mushollah Baitul Jannah Dusun Belor Desa KembangBelor, minggu (26/12/21) acara berjalan dengan penuh agenda. Dalam kegiatan ini tidak lupa dengan tawasul serta tahlil yang dipimpin oleh sahabat Dimyati dari ranting Kembangbelor.

    Serta pembacaaan manaqib yang dilakukan oleh seluruh jajaran ranting se Kecamatan Pacet dilanjutkan dengan pembacaan mahallul qiyam.

    Ketua RA Ansor Pacet Handika Rosadi menjelaskan kegiatan ini sebagai bentuk silaturahmi antar jajaran ranting dan untuk berkoordinasi antar ranting. “Acara ini juga sebagai ajang silaturahmi serta ramah tama antar jajaran (PAC GP Ansor Kecamtan pacet)”. Ungkap Handika.

    Khuluqul Muslim selaku tuan rumah dari kegiatan ini juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh sahabat yang dapat hadir dalam acara dzikir dan sholawat yang menjadi agenda rutin dari LMDRA GP PAC Pacet.

    “Semoga dengan kehadiran menjadi berkah untuk kita bersama” ungkapnya. (erik LTN NU Pacet)

  • Mencetak Kader Pasukan Yang Elit Satkoryon Banser PAC Ngoro Gelar Latber PBB

    Mencetak Kader Pasukan Yang Elit Satkoryon Banser PAC Ngoro Gelar Latber PBB

    Mojokerto.Sorbansantri.com – Demi mencetak kader pasukan yang elit di dalam lapangan maka di perlukan sikap sempurna terutama dalam baris berbaris, terutama ketika ada acara apel gelar pasukan, tidak cukup bermodal kerapian dalam tampilan saja melainkan harus di imbangi dengan kesempurnaan dan keserasian dalam berbaris, maka demi membentuk kader pasukan yang sesungguhnya,Satkoryon Banser Ngoro mengadakan latihan PBB (Pelatihan Baris Berbaris) yang di pandu langsung oleh anggota TNI pada setiap hari Minggu pagi di halaman kawasan candi jedong yang berada di desa Wotan mas Jedong.

    Dalam latihan bersama ini melibatkan semua unsur baik Satsus, Perwira maupun anggota Banser biasa.

    Adapun tujuan di adakannya latihan ini di harapkan bagi semua anggota bisa menimpa ilmu dalam hal baris berbaris dan lain sebagainya, walaupun dulu sudah pernah di ajarkan di dalam DIKLATSAR akan tetapi perlu kita asah lagi demi mengevaluasi diri kita pribadi di dalam baris berbaris, terang Kasatkoryon Banser PAC Ngoro sahabat Khoirul Jazil.

    Harapan di adakannya latber PBB ini agar supaya para anggota Banser PAC Ngoro bisa menambah ilmu di dalam hal baris berbaris, karena walaupun di wilayah Ngoro basisnya Banser dan banyak yang sudah tingkat perwira kita yakin kalau tidak kita asah lagi maka akan lupa dan salah ketika bertugas, mari kita manfaatkan latihan bersama ini dengan penuh sungguh sungguh. (Hasan)

  • RESEP HABIB LUTHFI BIN YAHYA AGAR DAPAT MERASAKAN NIKMATNYA BERDZIKIR

    RESEP HABIB LUTHFI BIN YAHYA AGAR DAPAT MERASAKAN NIKMATNYA BERDZIKIR

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com – Presiden Thoriqoh sedunia, Habib Luthfi Bin Yahya Pekalongan, didalam sebuah pengajiannya memberikan sebuah pesan agar selalu berdzikir menyebut Asma-Nya dimanapun dan dalam keadaan apapun.
    “Hendaknya kita membangun jiwa dengan senantiasa berdzikir menyebut asmaNya. Dengan begitu secara tidak langsung, kita selalu diingatkan bahwa diri kita sedang dilihat dan didengar oleh Allah,” tutur Habib Luthfi.
    Pada tahap awal, mungkin belum bisa merasakan hasilnya. Namun ketika berdzikir terus-menerus akan merasa dilihat dan di dengar oleh Tuhan, tentu itu akan timbul perubahan dalam diri.
    Seperti halnya seorang pesilat. Karena sering berlatih maka sensor refleksnya menjadi hidup. “Ketika terpeleset, sembilan puluh persen dia akan selamat tanpa cidera. Sementara yang tak pernah latihan, akan lebih banyak cideranya ketimbang selamatnya,” kata Beliau membandingkan.
    Latihan-latihan semacam itulah yang akan melahirkan rasa syukur atas segala limpahan karunia yang telah diberikanNya. Dan salah satu aplikasi dari rasa syukur itu adalah dengan menjaga agar indera kita selalu mengerjakan hal kebaikan dan kebenaran.
    Dengan cara menjaga mata dari pandangan yang buruk, menjaga mulut dari ucapan yang kurang baik, dan seterusnya. “Mata, mulut, telinga dan seluruh anggota tubuh itu bisa dilatih. Demikian pula dengan hati.
    Cara menjaganya, adalah dengan selalu berprasangka baik terhadap orang lain,” terang Habib Luthfi memberikan resep.
    Editor: M Anas Mahfudhi
  • RAWI UNIVESITAS IMAM SYAFI’I HADRAMAUT, YAMAN ADAKAN IJTIMA’ NASIONAL

    RAWI UNIVESITAS IMAM SYAFI’I HADRAMAUT, YAMAN ADAKAN IJTIMA’ NASIONAL

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Rabu, 15 Desember 2021, Ikatan Alumni Universitas Imam Syafi’i, Mukalla, Hadramaut, Yaman yang tergabung dalam organisasi Rabithah Al-Atha’ wal Irfan (RAWI) sukses mengadakan Ijtima’ Nasional dalam rangka menyambut Duf’ah ke empat Alumnus Universitas Imam Syafi’I Mukalla, Hadramaut, Yaman.

    Universitas Imam Syafii Mukalla, Hadramaut, Yaman adalah salah satu Universitas Favorit yang menjadi tujuan para pencari ilmu belajar di Negeri Sejuta Wali Yaman ini, Universitas yang diasuh oleh Ulama Besar Yaman Sayyidi Syaikh Al-Allamah Dr. Muhammad Ali Ba’athiyyah telah menelorkan para juru dakwah yang tersebar diseluruh penjuru nusantara dan dunia.

    Dalam rangka menguatkan persatuan para alumni, RAWI mengadakan Ijtima’ Nasional yang dilaksanakan 2 hari di Pondok Pesantren Matla’ul Anwar Kota Cirebon yang diasuh oleh salah satu alumnus Universitas Imam Syafii Yaman Ustadz Sofi Maulana, Lc, S.Pd, MA. Al Hafidz, RAWI menghadirkan seluruh dai dan Asatidz angkatan ke empat yang berasal dari penjuru Indonesia misalnya Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera, Kalimantan dan daerah lainnya.

    Ijtima’ dimulai pukul 16.00 WIB diawali dengan pembacaarn Maulid Nabi yang dipimpin oleh Al Munsid Ustadz Arif Fathur Rahman, M.Pd. dan Ustadz Fadli Aziz, Lc, kemudian dilanjutkan sambutan dari tuan rumah. Dalam sambutannya tuan rumah Ustadz Sofi Maulana selaku tuan rumah merasa bersyukur bisa menjadi tuan rumah, beliau berharap perkumpulan seperti ini selalu istiqomah sebagai bentuk irtibat para alumnus kepada guru Mulia Sayyidi Syekh Dr. Muhammad bin Ali Baatiyah.

     

    Sambutan berikutnya dari Pembina Yayasan Rabithah Al-Atha’ wal Irfan (RAWI) sekaligus Wakil Ketua RAWI Ustadz Hafidz, M.Pd. “Kelulusan kalian Laisa minan Nihayat ( bukanlah akhir dari sebuah perjuangan ) akan tetapi kelulusan kalian dari Hadramaut adalah Nuqtotul Bidayah ( titik awal dari hakikat perjuangan ), maka siapkan diri kalian untuk bisa bermanfaat bagi masyarakat dan umat dengan niat khidmah kepada Sayyidi Syekh Hafidzahullahu Ta’ala (As-Syaikh Dr. Muhammad bin Aly Ba’atiyah )”.

    “Ciri-ciri kesuksesan seorang penuntut ilmu adalah adanya Irtibat ( sambungan dzahir dan batin ) antara murid dengan guru setelah lulus, dan adanya sambungan antara satu murid dengan yang lain terkhusus kepada alumnus yang lebih dahulu dan hendaknya selalu memiliki sifat Al Ihatiram wa Fadl As-Sabiq.” Pungkas ulama muda yang juga menjadi Pengajar di Pondok Pesantren Darus Sa’adah Malang ini.

    Ketua Yayasan Rabithah Al-Atha’ wal Irfan (RAWI) Ustadz H. Minanurrahman, M.Pd dalam sambutannya merasa bersyukur dengan semangat Duf’ah Robi’ah dalam acara Ijtima’ ini.

    “Saya berharap dengan terselenggaranya Ijtima’ Rabithah Al-Atha wal Irfan (RAWI) ini menjadikan semakin kuatnya hubungan persaudaraan antara pengurus RAWI dan anggota, sehingga RAWI lebih eksis dalam menyebarkan Dakwah Islamiyah, Syiar Syariah, Tarbiyah dan Dakwah berbasis Ahlussunnah Waljamaah di Indonesia sesuai Manhaj Dakwah Sayyidi Syekh Dr. Muhammad bin Aly Ba’atiyah.”

    “Kita harus kompak, kita harus bersama-sama, tidak boleh ada yang keluar dari jalur dan manhaj Sayyidi Syaikh, karena dengan persatuan yang kokok kita akan lebih mudah dan maju dalam menjalankan visi dakwah mulia ini.” Pungkas Pemuda yang sekarang menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Darul Mannan Bankalan Madura ini.

    Acara berikutnya adalah penyampaian pesan melalui Telepon dari Hadramaut oleh Ustadz Arif Rahman Rasyadi, M.Pd., beliau menyampaikan bahwa Al Walid Asy Syaikh Muhammad bin Ali Batiyah bersyukur dan senang atas terselengggaranya acara ini. Ada harapan kuat dari Syaikh untuk seluruh peserta agar mengikuti acara seperti ini secara istiqomah.

    Sebelum menuju pada acara musyawarah bersama, peserta terlebih dahulu mendengarkan motivasi dan strategi dakwah dari salah satu Pengurus RAWI pusat yang telah sukses membuat dakwah dan pesantren online yaitu ustadz Ahmad Fahim, M.Pd. Pendakwah yang juga Penulis buku ini mengajak seluruh peserta untuk bergabung bersama, merapatkan barisan untuk bisa menyebarluaskan ilmu yang telah didapatkan dari Yaman.

    Acara dilanjutkan dengan  Pembahasan Strategi Dakwah, Melengkapi Kepengurusan RAWI dan Penyampaian visi misi serta profil RAWI oleh Pengurus. Ijtima’ Ulama menghasilkan semakin lengkapnya stuktur kepengurusan RAWI dengan ditambahnya pengurus baru dari Duf’ah Rabiah.

    Khusus Duf’ah Rabi’ah ( Alumnus Universitas Imam Syafii, Mukalla, Hadramaut, Yaman angkatan keempat ) pada pagi harinya mengadakan pertemuan khusus untuk membentuk kepengurusan Duf’ah. Dan telah terpilih sebagai Syuriyah ( Dewan Pertimbangan dan Penasehat ) :

    1. Raden KH. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha, M.A. ( Pondok Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan, Surakarta )
    2. Habib Hasan bin Ja’far Baabud ( Pondok Pesantren Al Bahjah Cirebon ) dan
    3. Al-Ustadz Muhamad Hasyim Asy’ari, Lc. ( Pondok Pesantren Darus Saadah Malang ).

    Adapun Ketua Duf’ah Rabi’ah terpilih adalah Ustadz M. Sofi Maulana, M.A. ( Pondok Pesantren Ma’taul Anwar Cirebon ) dengan sekretaris Ustadz Ahmad Mahdi, Lc ( Pondok Pesantren Darus Solihin, Batu, Malang ) dan bendahara Ustadz Ahmad Haris, Lc. ( Pondok Pesantren Ilmu Qur’an Singosari Malang )

    Dalam rangka melengkapi keberkahan Ijtima’ Nasional ini, peserta Ijtima’ dipimpin oleh tuan rumah mengadakan Ziarah bersama ke Makam Sunan Gunung Jati Cirebon, Makam Syarif Fatahillah ( Pangeran Jayakarta ) dan Syarifah Muda’im ( Nyimas Rarasantang ), setelah ziarah, para peserta Ijtima’ Nasional RAWI mengadakan kunjungan ke ndalem KH. Yahya Zainul Maarif ( Buya Yahya ) di Pondok Pesantren Al Bahjah Cirebon. Dalam pertemuan tersebut para peserta Ijtima’ Nasional RAWI mendapatkan banyak wejangan tentang pentingnya keikhlasan dalam berdakwah dan petingnya kekompakan dan kebersamaan dalm berdakwah. (abi sorban)

  • DOKTRIN EKSTRIMIS RADIKALIS TERORIS MENGHANCURKAN ORANG BODOH DAN MELUMPUHKAN ORANG JENIUS

    DOKTRIN EKSTRIMIS RADIKALIS TERORIS MENGHANCURKAN ORANG BODOH DAN MELUMPUHKAN ORANG JENIUS

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Untuk menjadi ekstrimis radikalis teroris tidak butuh orang orang pinter, hanya berbekal dengan semangat takbir dan semangat jihad serta mengepalkan tangan dengan emosi hujatan kebencian dengan membangun klimaks tempramental serta memusuhi orang Yang tidak sepandangan.serta semangat mengkafirkan semua orang.

    Ruang dan potensi para selebritis yang baru hijrah ditahbiskan menjadi ustadz ustadzah tanpa dasar dengan menugasi mengendorsmen produk produk di setigmakan islami dan syar,i dengan sejumlah iklan iklan uang menampakkan dengan balutan ayat dan hadist Nabi Yang dianggap penguat manfaat dan produk tersebut semisal madu kurma habbatussauda dan lain untuk masalah brand pakaian harus memakai katanya ala Nabi,semisal celana cingkrang gamis dll. Padahal tidak semua di Amini Nabi.
    Sedangkan orang orang bodoh yang tak tahu apa apa di manfaatkan sebagai aneksasi agen agen keras pengebombaman dan hujatan serta pembidahan danitu sangat efektif. Karna otaknnya sudah dicuci mereka yang belum paham Agama ditiupkan ditelinganya dengan tidak akan masuk surga tanpa perang melawan orang kafir dengan kebiadapan jargon. Hidup hanya sekali harus berjuang perang yakin melawan kedhaliman bahkan bila perlu syahid bunuh diri.
    Untuk orang orang pinter dilumpuhkan otaknya dengan cara meyakinkan dengan menjadikanya sebagai ketua dan pemimpin lasykar untuk membebaskan umat dari kebodohan dan kejumudan. Kebodohan Yang di maksud adalah tali rantai nasionalisme negara dan bangsa menuju negara islam kaffah dan khilafah.
    Selain itu orang orang pinter baik dari Akademisi praktisi yang cerdas menjadi tumpul karena derasnya doktrinasi dengan iming-iming kenikmatan sek dan poligami yang dikemas Islami. Bukan hanya itu mereka diajak makar mengkritik dan menyerang pemerintah membabi buta dengan alasa kafir thaghut dan dzolim serta memunculkan distrust terhadap Pancasila lalu membuat provokasi dimana-mana terutama di dunia maya.
    Untuk anak kecil mulai paud TK akan di ajari mars dan nyayi dan semangat jihad dan mengibarkan bendera bendera dari negara timur tengah Yang digambarkan masih kemelut dan belum damai bunga benci pada negara dan bangsa sendiri.
    Fenomena fenomena diatas sepertinya tidak kentara dan terlihat jelas namun konsep pembalutan agama dan pengutamaan simbol dan lambang itu nantinya yang akan menjadikan Islam dhahiran sebagaimana Agama formalitas tanpa substansi yang jelas, yakni toleransi kasihnya sayang dan menghargai sesama akan hilang dan munculan intoleran lalu meletupkan gejala radikalitas.
    Yang paling mengerikan ketika hasil doktrinasi itu telah mengerak membuncah pada hati dan pikiran orang bodoh dan orang pinter serta anak anak kecil Yang polos tanpa siraman rohani dari guru dan masyayih. Maka mereka akan menjadi monster monster pembunuh mengatas-namakan jihad dan surga dan memusuhi orang tuanya yang tidak sama dengan pikirannya. (abdulloh faizin)
  • Haul Ke XXI Riyanto PC GP Ansor Kota Mojokerto Gelar Apel Kebhinekaan dan Doa Bersama

    Haul Ke XXI Riyanto PC GP Ansor Kota Mojokerto Gelar Apel Kebhinekaan dan Doa Bersama

    Sorbansantri.Com – Haul almarhum sahabat Riyanto adalah agenda rutin tiap tahun yang dilaksanakan oleh Jajaran Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Mojokerto. Tahun 2021 ini memperingati Haul yang ke XXI (ke-21)dilaksanakan pada hari minggu (19/12/2021) di lapangan Prajurit kulon. Dengan tema “Apel Kebhinekaan dan Gelar Pasukan”

    Acara dilaksanakan dari pagi pukul 07.00 dimulai dengan Apel Pasukan kemudian dilanjutkan dengan doa bersama dan tabur bunga di makam almarhum Riyanto (Makam umum Prajurit Kulon)

    Dalam pelaksanaan Apel dipimpin langsung oleh Ahmad Saifulloh S.Pd.I (ketua PC GP Ansor Kota Mojokerto) yang akrab dipanggil Gus Ipung, sebagai Komandan Apel sahabat Zaenal Abidin, dengan diikuti kurang lebih 300 Anggota Banser juga dari sahabat Pagar Nusa dan Senkom. Hadir juga tamu undangan dari Polres kota, Kodim, PAC Ansor terdekat,IPNU-IPPNU.

    Dalam sambutanya Gus Ipung mengatakan bahwa “Kita (Ansor Banser) selain harus menjaga marwah organisasi,membentengi para Ulama dan NKRI juga harus bisa menjaga marwah serta membentengi diri sendiri dengan keilmuan, kwalitas dan kapasitas untuk menghadapi dunia luar.”.

    “Ansor Banser harus bisa mewujudkan dan menghidupkan NKRI yang penuh dengan kesejahteraan, keadilan dan kesentosaan dan Ansor Banser harus mampu bersikap adil dan seimbang serta harus mampu menjaga dan membangun toleransi antar kehidupan manusia” Lanjut Gus Ipung.

    “Senjata yang paling ampuh bukanlah senjata yang paling canggih dan besar tapi senjata yang paling ampuh adalah Pesatuan dan Kesatuan”. Pungkas Gus Ipung.
    (Anwar-sorban)

  • Fenomena Kopiah Hitam dan Putih

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com – Di Pondok Pesantren Mbah Maimun, santri dilarang memakai peci putih. Alasannya, karena orang pergi haji di desa-desa adalah dengan menjual tanah, sawah, tegal atau menabung belasan tahun bahkan sampai berpuluh-puluh tahun. Sementara simbul yang mereka pakai setelah pulang dari haji adalah peci putih.
    “Kalau kamu memakai peci putih seharga 5.000 rupiah, apakah tidak menyakiti hati mereka?” ujar Mbah Maimun sebagaimana diceritakan oleh Gus Baha’.
    Bukan haram dalam kategori fiqh, tapi haram dalam kategori akhlaq. Begini, kata Mbah Moen, ini menurut Gus Baha ya, bahwa orang-orang yang berangkat haji itu butuh perjuangan yang hebat, bahkan dibela-belanin jual sawah segala.
    Nah, Mbah Moen tidak ingin melukai perasaan orang-orang yang telah berangkat haji dengan perjuangan yang sangat berat tersebut dengan prilaku santri yang melecehkan dengan cara memakai kopiah haji yang harganya cuma 5000 an itu. Jangan sampai, prilaku santri di pondok Mbah Moen itu mendowngrade makna haji.
    ( Fatwa itu hanya untuk Sarang, bukan santri yang lain, apalagi berlaku general ke ummat Islam seluruhnya, fatwa ini bertujuan menjaga akhlaq santri-santri Sarang saja)
    Sementara itu, di pesantren Gus Baha’ sendiri, ya kadang ada santri yang memakai peci putih. “Saya tidak melarang mereka. Cuma kadang saya panggil, saya kasih tahu:
    Cung, nek iso aja nganggo kethu putih wong kowe durung kaji…” kata Gus Baha’ sambil tertawa ngakak.
    Gus Baha’ kemudian melanjutkan bahwa menjadi orang alim itu memang repot. Bisa serba salah.
    Di Jawa Timur, asal orang sudah berhaji biasa memakai jubah dan bersorban. Tapi rata-rata di Jawa Tengah Pantura, orang berjubah itu dianggap sudah bisa dan ahli membaca kitab. Kalau sampai berani berjubah tapi tidak bisa membaca kitab dianggap aneh.
    Menurut Gus Baha’, secara hukum memang benar di Jawa Timur, karena memakai jubah dan bersorban itu sunah. Tapi dari sisi kurasi orang alim, tepat di daerah pantura Jawa Tengah. Sebab nanti tidak ada bedanya antara orang yang alim dan orang awam. Antara orang yang menguasai berbagai kitab dengan orang yang baru belajar membaca kitab.
    “Itulah sebabnya, baju saya putih tapi kopiah saya hitam. Saya memakai baju putih sebagai pengingat bahwa bagaimanapun saya sudah melakukan sunah. Sementara saya memakai kopiah hitam sebagai bagian dari menghormati guru sekaligus sudah terbiasa karena lama menjadi santri”. (abi sorban)
  • Kita Lebih Keren Daripada Malaikat, Itu Mahsyur!

    Kita Lebih Keren Daripada Malaikat, Itu Mahsyur!

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com – Nabi pernah bersabda, “Nanti pada zaman akhir itu orang-orangnya pada top-top. Bahkan aku rindu dengan umatku yang ada di akhir zaman.”
    Perkataan dari Nabi SAW tersebut pun mengundang tanya dari para sahabat. Para sahabat bertanya, “Bukankah itu adalah malaikat..?”
    Nabi menjawab, “Malaikat beriman itu wajar, sebab dia berada disamping Allah, kalau tidak beriman sangat keterlaluan.”
    “Kalau begitu para Nabi..?”
    Lalu Nabi pun menjawab, “Kalau Nabi sangat wajar kalau beriman, sebab mereka dapat wahyu dan pernah melihat Malaikat Jibril.”
    Dan para sahabat pun bertanya kembali yang ketiga kalinya kepada Nabi.
    “Kalau begitu para sahabat..?”
    Nabi pun kembali menjawab, “Kalian beriman itu karena saya yang mendidik.”
    “Lalu yang Anda maksud siapa..?”, tanya Sahabat
    Gus Baha’ menjelaskan bahwa Nabi begitu bangga dengan umat akhir zaman. Nabi Muhammad SAW mengatakan kepada para sahabat, “Umatku yang hidup di akhir zaman. Dia itu orang yang tidak pernah melihatku, tapi tetap beriman denganku. Tidak pernah melihat surga tapi meminta surga. Tidak pernah melihat neraka tapi ternyata takut dengannya.”
    Ternyata satu hal saja yang membuat umat akhir zaman menjadi lebih hebat dari para malaikat dan Nabi itu adalah mempunyai kepercayaan pada Nabi SAW yang tidak se-zaman dengan mereka.
    “Jadi, hanya modal percaya/yakin saja. Jadi, itu malah keren sebab hanya modal percaya atau yakin saja. Ngono lho khin…” pungkas Gus Baha’
    اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ۞ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ ۞ وَالخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ والنَّاصِرِ الحَقِّ بِالحَقِّ ۞ وَالهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ ۞ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيمِ ۩
    (pengajian gus baha’)