Kategori: Religius

berita yang fokus pada aspek keagamaan, seperti ajaran agama, praktik keagamaan, perkembangan dalam komunitas keagamaan, dan isu-isu terkait keagamaan. Berita ini dapat mencakup liputan tentang acara keagamaan, ceramah agama, perayaan agama, dan pandangan agama terhadap isu-isu kontemporer. Tujuannya adalah untuk memberikan informasi yang mendalam dan mendukung pemahaman yang lebih baik tentang aspek keagamaan dalam masyarakat.

  • SANAD ILMU NAHDLATUL ULAMA

    SANAD ILMU NAHDLATUL ULAMA

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Kesemuanya itu mempunyai sanad yang tsiqah sampai ke Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Nahnu ashhabul haq fiddini wassiyasi. NU adalah aliran yang benar.

    Keilmuan dalam Islam terbagi menjadi 3 yaitu:
    1. Aqidah(tauhid)
    2. Syariah (fiqh)
    3. Akhlak (Tasawuf)

    SANAD AQIDAH ASY’ARIYYAH ANNAHDLIYYAH

    Para ulama Tanah Air, seperti KH. M. Hasyim Asy’ari Jombang, KH. Nawawi bin Nur Hasan Pasuruan, KH. Muhammad Baqir Yogyakarta, KH. Abdul Wahhab Hasbullah Jombang, KH. Bisri Syansuri, KH. Baidhawi bin Abdul Aziz Lasem, KH. Ma’shum bin Ahmad Lasem, KH. Muhammad Dimyathi Termas, KH. Shiddiq bin Abdullah Jember, KH. Muhammad Faqih bin Abdul Jabbar Maskumambang, KH. Abbas Buntet Cirebon dan lain-lain. Para beliau ini berguru kepada:

    Syaikh Muhammad Mahfudz bin Abdullah at-Tarmasi (1285-1338 H/1868-1920 M), dari gurunya
    Syaikh as-Sayyid Abubakar Utsman bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi al-Husaini asy-Syafi’i (w. 1310 H/1892 M), dari gurunya
    Syaikh as-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (1231-1304 H/1816-1886 M), dari gurunya
    Syaikh Utsman bin Hasan ad-Dimyathi, dari gurunya
    Syaikh Muhammad bin Ali asy-Syanawani asy-Syafi’i (w. 1233 H/1818 M), dari gurunya
    Syaikh Isa bin Ahmad al-Barawi az-Zubairi asy-Syafi’i (w. 1182 H/1768 M), dari gurunya
    Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Muhammad ad-Dafari asy-Syafi’i (w. setelah 1161 H/ M), dari gurunya
    Syaikh Salim bin Abdullah al-Bashri asy-Syafi’i (w. 1160 H/1747 M), dari gurunya
    Syaikh Abdullah bin Salim al-Bashri al-Makki asy-Syafi’i (1048-1134 H/1638-1722 M), dari gurunya
    Syaikh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin al-‘Ala’ al-Babili asy-Syafi’i al-Azhari (1000-1077 H/1591-1666), dari gurunya
    Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Ghunaimi (964-1044 H/1557-1634 M), dari gurunya
    Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Ahmad ar-Ramli (919-1004 H/1513-1596 M), dari gurunya
    Syaikh al-Islam, Qadhi al-Qudhat Zainuddin Abu Yahya Zakariya bin Muhammad al-Anshari (826-926 H/1423-1520 M), dari gurunya
    Al-Hafidz Taqiyyuddin Muhammad bin Muhammad bin Fahad al-Makki asy-Syafi’i al-‘Alawi al-Hasyimi (787-871 H/1385-1466 M), dari gurunya
    Syaikh Majduddin Abu Thahir Muhammad bin Ya’qub al-Lughawi asy-Syirazi al-Fairuzabadi (729-817 H/1329-1415 M), dari gurunya
    Al-Hafidz Sirajuddin Umar bin Ali al-Qazwini (683-750 H/1284-1349 M), dari gurunya
    Al-Qadhi Abubakar Muhammad bin Abdullah al-Taftazani, dari gurunya
    Syarafuddin Abubakar Muhammad bin Muhammad al-Harawi, dari gurunya
    Syaikh Fakhruddin Muhammad bin Umar ar-Razi (544-606 H/1150-1210 M), dari gurunya
    Syaikh Dhiyauddin Umar bin al-Husain ar-Razi (hidup sebelum 559 H/1164 M), dari gurunya
    Syaikh Abu al-Qasim Salman bin Nashir bin Imran al-Anshari al-Arghiyani (w. 512 H/1118 M), dari gurunya
    Imam al-Haramain Dhiyauddin Abu al-Ma’ali Abdul Malik bin Abdullah al-Juwaini (419-478 H/1028-1085 M), dari gurunya
    Al-Ustadz Abu al-Qasim Abdul Jabbar bin Ali bin Muhammad bin Haskan al-Asfarayini al-Iskaf (w. 452 H/1034 M), dari gurunya
    Ruknuddin al-Ustadz Abu Ishaq al-Asfarayini (w. 418 H/1027 M), dari gurunya
    Syaikh al-Mutakallimin Abu al-Hasan al-Bahili, dari gurunya
    Syaikh as-Sunnah, Imam al-Mutakallimin Abu al-Hasan al-Asy’ari (270-330 H/883-947 M), dari gurunya
    Al-Hafidz Zakariya as-Saji (220-307 H), dari gurunya
    Imam Rabi’ al-Muradi (w. 270), dari gurunya
    Imam al-Muzani (w. 264 H), dari gurunya
    Imam Muhammad bin Idris bin Syafi’ (w. 204), dari gurunya
    Imam Malik bin Anas, dari gurunya
    Imam Nafi’, dari gurunya
    Sahabat Ibnu Umar Ra., dari
    Sayyidina Rasulullah Saw.
    Ibnu Qadhi Syuhbah menjelaskan bahwa Imam al-Asy’ari berguru kepada Syaikh Zakariya as-Saji, beliau dari Rabi’ dan al-Muzani, keduanya adalah murid Imam asy-Syafi’i. Dari al-Hafidz Zakariya as-Saji inilah Imam al-Asy’ari mengutip riwayat dalam madzhab Ahlussunnah. (Lihat dalam Thabaqat asy-Syafi’iyyah juz 1 hal. 7)
    SANAD AQIDAH MATURIDIYYAH ANNAHDLIYYAH

    Para ulama Tanah Air, seperti KH. M. Hasyim Asy’ari Jombang, KH. Nawawi bin Nur Hasan Pasuruan, KH. Muhammad Baqir Yogyakarta, KH. Abdul Wahhab Hasbullah Jombang, KH. Bisri Syansuri, KH. Baidhawi bin Abdul Aziz Lasem, KH. Ma’shum bin Ahmad Lasem, KH. Muhammad Dimyathi Termas, KH. Shiddiq bin Abdullah Jember, KH. Muhammad Faqih bin Abdul Jabbar Maskumambang, KH. Abbas Buntet Cirebon dan lain-lain. Para beliau ini berguru kepada:
    Syaikh Muhammad Mahfudz bin Abdullah at-Tarmasi (1285-1338 H/1868-1920 M), dari gurunya
    Syaikh as-Sayyid Abubakar bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi (w. 1310 H/1892 M), dari gurunya
    Syaikh as-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (1231-1304 H/1816-1886 M), dari gurunya
    Syaikh Utsman bin Hasan ad-Dimyathi, dari gurunya
    Syaikh Muhammad bin Ali asy-Syanwani (w. 1233 H/1818 M), dari gurunya
    Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Hasan al-Munir as-Samanudi asy-Syafi’i (1099-1199 H/1688-1785M), dari gurunya
    Burhanuddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Budairi al-Husaini ad-Dimyathi al-Asy’ari asy-Syafi’i, populer dengan sebutan Ibn al-Mayyit (w. 1131 H/1719 M), dari gurunya
    Burhanuddin Abu al-‘Irfan al-Mulla Ibrahim bin Hasan al-Kurani (1025-1101 H/1616-1690 M), dari gurunya
    Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Yunus al-Qusyasyi ad-Dajani al-Husaini (991-1071 H/1583-1661 M), dari gurunya
    Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Ahmad ar-Ramli (919-1004 H/1513-1596 M), dari gurunya
    Syaikh al-Islam Zakariya al-Anshari (826-926 H/1423-1520), dari gurunya
    Al-Hafidz Ibn Hajar al-‘Asqalani (773-852 H/1372-1449 M), dari gurunya
    Syaikh Syamsuddin Muhammad al-Qurasyi, dari gurunya
    Syaikh Abu Muhammad Abdullah bin Hajjaj al-Kasyqari, dari gurunya
    Syaikh Hisyamuddin Husain bin Ali as-Saghnaqi (w. 711 H/1311 M), dari gurunya
    Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Nashr an-Nasafi (w. 693 H/1294 M), dari gurunya
    Al-Hafidz Najmuddin Umar bin Muhammad an-Nasafi (461-537 H/1068-1142 M), dari gurunya
    Al-Qadhi Shadrul Islam Abu al-Yusr Muhammad bin Muhammad bin Husain al-Bazdawi (421-493 H/1030-1100 M), dari gurunya
    Syaikh Muhammad bin Husain al-Bazdawi, dari gurunya
    Syaikh Husain bin Abdu Karim al-Bazdawi, dari gurunya
    Syaikh Abu Muhammad Abdul Karim bin Musa bin Isa al-Bazdawi (w. 390 H/1000 M), dari gurunya
    Imam Abu Manshur al-Maturidi (w. 333 H/945 M).
    Demikian mata rantai sanad madzhab al-Asy’ari dan madzhab al-Maturidi yang sampai kepada guru-guru kita, para tokoh pendiri organisasi Nahdlatul Ulama. Selain sanad di atas, masih banyak jalur-jalur lain yang menyambungkan mata rantai akidah Ahlussunnah wal Jama’ah kepada para ulama terdahulu, hingga kepada Rasulullah Saw.

    SANAD ILMU FIQIH NAHDLATUL ULAMA

    Sanad Imam Syafi’i (w. 204 H) kepada Rasulullah Shalla Allahu Alaihi wa Sallama memiliki 2 Jalur, Jalur Imam Malik dan Jalur Imam Abu Hanifah.

    1. Jalur Imam Malik

    Imam Malik bin Anas (w. 179 H, Pendiri Madzhab Malikiyah) berguru kepada ① Ibnu Syihab al-Zuhri (w. 124 H), ② Nafi’ Maula Abdillah bin Umar (w. 117 H), ③ Abu Zunad (w. 136 H), ④ Rabiah al-Ra’y (w. 136H), dan ⑤ Yahya bin Said (w. 143 H)

    Kesemuanya berguru kepada ① Abdullah bin Abdullah bin Mas’ud (w. 94 H), ② Urwah bin Zubair (w. 94 H), ③ al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar (w. 106 H), ④ Said bin Musayyab (w. 94 H), ⑤ Sulaiman bin Yasar (w. 107 H), ⑥ Kharihaj bin Zaid bin Tsabit (w.100 H), ⑦ dan Salim bin Abdullah bin Umar (w.106 H).

    Kesemuanya berguru kepada ① Umar bin Khattab (w. 22 H), ② Utsman bin Affan (w. 35 H),③ Abdullah bin Umar (w. 73 H), ④ Abdullah bin Abbas (w. 68 H), dan ⑤ Zaid bin Tsabit (w. 45 H).

    Kesemua Sahabat dari Rasulullah Shalla Allahu Alaihi wa Sallama

    1. Jalur Imam Abu Hanifah

    Imam Syafii berguru kepada Muhammad bin al-Hasan (w. 189 H), berguru kepada Abu Hanifah (w. 150 H, Pendiri Madzhab Hanafiyah), berguru kepada Hammad bin Abi Sulaiman (w. 120 H).

    Berguru kepada ① Ibrahim bin Yazid al-Nakhai (w. 95 H), ② al-Hasan al-Basri (w. 110 H), dan ③ Amir bin Syarahbil (w. 104 H).

    Kesemuanya berguru kepada ① Syuraih bin al-Haris al-Kindi (w. 78 H), ② Alqamah bin Qais al-Nakhai (w. 62 H), ③ Masruq bin al-Ajda’ al-Hamdani (w. 62 H), ④ al-Aswad bin Yazid bin Qais al-Nakhai (w. 95 H).

    Kesemuanya berguru kepada ① Abdullah bin Mas’ud (w. 32 H) dan ② Ali bin Abi Thalib (w. 40 H)

    Kesemua Sahabat dari Rasulullah Shalla Allahu Alaihi wa Sallama

    Madzhab Syafiiyah terdiri dari beberapa generasi (Thabqah).

    Thabqah I Murid-Murid Imam Syafi’i

    Abdullah bin Zubair Abu Bakar al-Humaidi (w. 219 H), Abu Ya’qub Yusuf bin Yahya al-Buwaithi (w. 231 H), Ishaq bin Rahuwaih (w. 238 H), Abu Utsman al-Qadhi Muhammad bin Syafi’i (w. 240 H), Ahmad bin Hanbal (w. 241 H, Pendiri Madzhab Hanbali), Harmalah bin Yahya bin Abdullah al-Tajibi (w. 243 H), Abu Ali al-Husain bin Ali bin Yazid al-Karabisi (w. 245 H), Abu Tsaur al-Kulabi al-Baghdadi (w. 246 H), Ahmad bin Yahya bin Wazir bin Sulaiman al-Tajibi (w. 250 H), al-Bukhari (w. 256 H), al-Hasan bin Muhammad bin al-Shabbah al-Za’farani (w. 260 H).

    Thabqah II

    Abu Ibrahim Ismail bin Yahya al-Muzani (w. 264 H), Ahmad bin al-Sayyar (w. 268 H), al-Rabi’ bin Sulaiman (w. 270 H), Abu Dawud (w. 275 H), Abu Hatim (w. 277 H), al-Darimi (w. 280 H), Ibnu Abi al-Dunya (w. 281 H), Abu Abdillah al-Marwazi (w. 294 H), Abu Ja’far al-Tirmidzi (w. 295 H), Al-Junaid al-Baghdadi (w. 298 H).

    Thabqah III

    al-Nasai (w. 303 H), Ibnu Suraij (w. 306 H), Ibnu al-Mundzir (w. 318 H), Abu Hasan al-Asy’ari (w. 324 H, Imam Ahlissunah Dalam Aqidah), Ibnu al-Qash (w. 335 H), Abu Ishaq al-Marwazi (w. 340 H), al-Mas’udi (w. 346 H), Abu Ali al-Thabari (w. 350 H), al-Qaffal al-Kabir al-Syasyi (w. 366 H), Ibnu Abi Hatim (w. 381 H), Al-Daruquthni (w. 385 H).

    Thabqah IV

    al-Qadhi Abu Bakar al-Baqillani (w. 403 H), Ibnu al-Mahamili (w. 415 H), Mahmud bin Sabaktakin (w. 422 H), Abu Muhammad al-Juwaini (w. 438 H), al-Mawardi (w. 458 H), Ahmad bin Husain al-Baihaqi (w. 458 H), al-Qadhi al-Marwazi (w. 462 H), Abu al-Qasim al-Qusyairi (w. 465 H), Abu Ishaq al-Syairazi (w. 476 H), Imam al-Haramain (w. 478 H), Al-Karmani (w. 500 H).

    Thabqah V

    al-Ghazali (w. 505 H), Abu Bakar al-Syasyi (w. 507 H), al-Baghawi (w. 516 H), al-Hamdzani (w. 521 H), al-Syahrastani (w. 548 H), al-Amudi (w. 551 H), Ibnu Asakir (w. 576 H), Ibnu al-Anbari (w. 577 H), Abu Syuja’ al-Ashbihani (w. 593 H).

    Thabqah VI

    Ibnu al-Atsir (w. 606 H), Fakhruddin al-Razi (w. 606 H), Aminuddin Abu al-Khair al-Tibrizi (w. 621 H), al-Rafii (w. 623 H), Ali al-Sakhawi (w. 643 H), Izzuddin bin Abdissalam (w. 660 H), Ibnu Malik (w. 672 H), Muhyiddin Syaraf al-Nawawi (w. 676 H), Al-Baidhawi (w. 691 H).

    Thabqah VII

    Ibnu Daqiq al-Id (w. 702 H), Quthbuddin al-Syairazi (w. 710 H), Najmuddin al-Qamuli (w. 727 H), Taqiyuddin al-Subki (w. 756 H), Tajuddin al-Subki (w. 771 H), Jamaluddin al-Asnawi (w. 772 H), Ibnu Katsir (w. 774 H), Ibnu al-Mulaqqin (w. 804 H), al-Zarkasyi (w. 780 H).

    Thabqah VIII

    Sirajuddin al-Bulqini (w. 805 H), Zainuddin al-Iraqi (w. 806 H), Ibnu al-Muqri (w. 837 H), Syihabuddin al-Ramli (w. 844 H), Ibnu Ruslan (w. 844 H), Ibnu Zahrah (w. 848 H), Ibnu Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H), Jalaluddin al-Mahalli (w. 864 H), Kamaluddin Ibnu Imam al-Kamiliyah (w. 874 H).

    Thabqah IX

    Jalaluddin al-Suyuthi (w. 911 H), al-Qasthalani (w. 923 H), Zakariya al-Anshari (w. 928 H), Zainuddin al-Malibari (w. 972 H), Abdul Wahhab al-Sya’rani (w. 973 H), Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H), al-Khatib al-Syirbini (w. 977 H), Ibnu al-Qasim al-Ubbadi (w. 994 H).

    Thabqah X

    Syamsuddin al-Ramli (w. 1004 H), Abu Bakar al-Syinwani (w. 1019 H), Syihabuddin al-Subki (w. 1032 H), Ibnu ‘Alan al-Makki (w. 1057 H), al-Raniri (w. 1068 H), Syihabuddin al-Qulyubi (w. 1070 H), Muhammad al-Kaurani (w. 1078 H), Ibrahim al-Maimuni (w. 1079 H), Ali al-Syibramalisi (w. 1078 H), Abdurrauf al-Fanshuri (w. 1094 H).

    Thabqah XI

    Najmuddin al-Hifni (w. 1101 H), Ibrahim al-Kaurani (w. 1101 H), Ilyas al-Kurdi (w. 1138 H), Abdul Karim al-Syarabati (w. 1178 H), Jamaluddin al-Hifni (w. 1178 H), Isa al-Barmawi (w. 1178 H), Athiyah al-Ajhuri (w. 1190 H), Ahmad al-Syuja’i (w. 1197 H).

    Thabqah XII

    Abdushomad al-Palimbani (w. 1203 H), Sulaiman al-Jamal (w. 1204 H), Sulaiman al-Bujairimi (w. 1221 H), Arsyad al-Banjari (w. 1227 H), Muhammad al-Syinwani (w. 1233 H), Muhammad al-Fudhali (w. 1236 H), Khalid al-Naqsyabandi (w. 1242 H), Abdurrahman Ba’alawi al-Hadhrami (w. 1254 H), Khatib al-Sanbasi (w. 1289 H), Ibrahim al-Bajuri (w. 1276 H).

    Thabqah XIII

    Zaini Dahlan (w. 1303 H), al-Bakri Muhammad Syatha (w. 1310 H), Nawawi al-Bantani (w. 1315 H), Shalih Darat (w. 1321 H), Muhammad Amin al-Kurdi (w. 1332 H), Ahmad Khatib al-Minangkabawi (w. 1334 H), Mahfudz al-Tarmasi (w. 1338 H), Ahmad Khalil al-Bangkalani (w. 1345 H), Yusuf bin Ismail al-Nabhani (w. 1350 H).

    Thabqah XIV

    KH Hasyim Asy’ari (w. 1367 H), Pendiri Jamiyah Nahdlatul Ulama

    Referensi:

    1. Muhammad Abu Zahrah “al-Syafi’i”
    2. Hadlari Bik “Tarikh Tasyri”
    3. Sirajuddin Abbas “Tabaqat al-Syafi’iyah”

    SANAD TASHAWWUF ANNAHDLIYYAH

    Dalam bidang Tasawuf, Nahdlatul Ulama mengikuti Imam al-Junaid al-Baghdadi (w. 297H.) dan Abu Hamid al-Ghazali (450-505 H./1058-1111 M.). KH. M. Hasyim Asy’ari berguru kepada:
    Syaikh Mahfudz at-Tarmasi, dari gurunya
    Syaikh Abubakar bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi, dari gurunya
    Syaikh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, dari gurunya
    Syaikh Utsman bin Hasan ad-Dimyathi, dari gurunya
    Syaikh Muhammad bin Ali asy-Syinwani, dari gurunya
    Syaikh Abdullah bin Hijazi, (memiliki dua jalur, pertama) dari gurunya Mahmud bin Abu Yazid al-Kurdi, dari gurunya Muhammad bin Salim al-Hifni, (kedua) dari al-Hifni, dari gurunya
    Syaikh Mushtafa al-Bakri (w. 1162 H), dari gurunya
    Syaikh Abdullathif al-Halabi, dari gurunya
    Syaikh Musthafa al-Afandi, dari gurunya
    Syaikh Ali Qarrah Basya, dari gurunya
    Syaikh Ismail al-Jurumi, dari gurunya
    Syaikh Umar al-Fuadi, dari gurunya
    Syaikh Muhyiddin al-Qasthamuni, dari gurunya
    Syaikh Sya’ban al-Qasthamuni, dari gurunya
    Syaikh Khairuddin al-Waqqadi, dari gurunya
    Syaikh Sulthan Afandi (populer dengan Jamal al-Halwati), dari gurunya
    Syaikh Muhammad bin Bahauddin asy-Syairawani, dari gurunya
    Syaikh Jalaluddin Yahya al-Bakuri, dari gurunya
    Syaikh Shadruddin al-Jayani, dari gurunya
    Syaikh Izzuddin asy-Syarwani, dari gurunya
    Syaikh Muhammad Amiram al-Khalwati, dari gurunya
    Syaikh Umar al-Khalwati, dari saudaranya
    Syaikh Muhammad al-Khalwati asy-Syarwani, dari gurunya
    Syaikh Ibrahim az-Zahid al-Kailani, dari gurunya
    Syaikh Jamaluddin at-Tibrizi (populer dengan Ibnu Shaidalani), dari gurunya
    Syaikh Syihabuddin Muhammad bin Mahmud al-Atiqi asy-Syairazi, dari gurunya
    Syaikh Ruknuddin Abu Ghanaim Muhammad bin Fadhl an-Najjasyi, dari gurunya
    Syaikh Quthbuddin Muhammad bin Ahmad al-Abhari, dari gurunya
    Syaikh Abu Najib al-Abhari (wf. 563 H), dari gurunya
    Syaikh Umar al-Bakri, dari gurunya
    Syaikh Wajihuddin al-Qadhi, dari gurunya
    Syaikh Muhammad al-Bakri, dari gurunya
    Syaikh Ahmad ad-Dainuri, dari gurunya
    Syaikh Mamsyad ad-Dainuri, dari gurunya
    Imam Abul Qasim al-Junaid al-Baghdadi (w. 297 H), dari gurunya
    Imam Sirri as-Saqathi (w. 253 H), dari gurunya
    Imam Abu Mahfudz Ma’ruf al-Karakhi (w. 200 H), dari gurunya
    Imam Dawud ath-Thai (w. 165 H), dari gurunya
    Imam Habib al-Ajami, dari gurunya
    Imam Hasan al-Bashri (w. 110 H), dari gurunya
    Amirul Mu’minin Sayyidina Ali bin Abi Thalib Ra. (w. 40 H), dari gurunya
    Sayyidina Rasulullah Saw.

    Diambil dari akun Nun Al Bani

  • KISAH AS-SYIBLI DICIUM KENINGNYA OLEH RASULULLAH

    KISAH AS-SYIBLI DICIUM KENINGNYA OLEH RASULULLAH

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI-
    Di dalam dunia tasawuf kita mengenal banyak tokoh sufi yang memiliki perjalanan hidup dan pengalaman rohani yang luar biasa⁣. Salah satu di antara tokoh-tokoh sufi itu adalah Syekh Abu Bakr As-Syibli⁣

    Wali yang memiliki nama asli Dulaf bin Jahdar ini lahir dan hidup di Kota Baghdad selama 87 tahun. Meninggal dan dikuburkan di kota yang sama pada tahun 334 H. ⁣

    Syekh Nawawi Banten dalam kitabnya Nashâihul ‘Ibâd menuturkan sebuah cerita menarik tentang wali yang akrab dipanggil As-Syibli ini.⁣

    Satu ketika As-Syibli datang menemui Ibnu Mujahid. Melihat ada seorang ulama besar yang datang, Ibnu Mujahid segera bangun dan menyambut hangat kedatangan As-Syibli.⁣ Ia rangkul dan peluk sang tamu sembari mencium kening di antara kedua matanya.⁣

    Melihat perlakuan yang dilakukan Ibnu Mujahid kepada As-Syibli ini seseorang bertanya, “Mengapa engkau lakukan ini pada As-Syibli wahai Ibnu Mujahid?”

    Atas pertanyaan ini Ibnu Mujahid menjawab, “Kulakukan itu karena aku melihat di dalam mimpi Rasulullah melakukan hal serupa kepada As-Syibli.”⁣

    Kemudian Ibnu Mujahid bercerita, bahwa ia pernah bermimpi melihat As-Syibli datang menemui Rasulullah. Melihat kedatangan As-Syibli Rasulullah segera menyambut dengan memeluknya seraya mencium kening di antara kedua matanya.⁣

    Melihat pemandangan itu Ibnu Mujahid, di dalam mimpinya, bertanya kepada Rasul, “Mengapa engkau lakukan ini kepada As-Syibli wahai Rasulullah?”

    Rasulullah menjawab, “Ya, aku lakukan itu kepada As-Syibli karena ia tidak melakukan shalat fardhu kecuali setelahnya ia selalu membaca ayat laqod jâ’akum Rasûlun min anfusikum (dua ayat terakhir dari Surat At-Taubah). Kemudian setelahnya As-Syibli bershalawat dengan mengatakan shallallâhu ‘alaika yâ Muhammad.”

    Setelah mimpi itu, Ibnu Mujahid bertemu dengan As-Syibli dan menanyakan bacaan apa yang selalu dibaca ketika selesai melakukan shalat fardhu.⁣

    Dan ternyata As-Syibli menjawab bahwa ia selalu membaca ayat dan shalawat tersebut di atas setiap kali selesai shalat fardhu. (abi sorban)

    ⁣Sumber: Muhammad Nawawi Al-Jawi, Nashâihul ‘Ibâd.

  • Harus Bermazhab Dalam Memahami Dalil Qur’an dan Hadis? (Ngaji Bersama Pertamina)

    Harus Bermazhab Dalam Memahami Dalil Qur’an dan Hadis? (Ngaji Bersama Pertamina)

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI-
      Saya paling suka memberi contoh dengan perumpamaan yang mudah dipahami oleh jamaah. Karena Masjid Wal Ashri Pertamina ingin memahami ilmu Fikih dalam metode bermazhab maka saya memberi contoh seperti yang mereka geluti setiap harinya, soal minyak.
    Ibaratnya ayat-ayat di dalam Al-Qur’an itu seperti minyak bumi. Minyak bumi ditemukan bersama-sama dengan gas alam. Lalu, minyak bumi yang telah dipisahkan dari gas alam disebut juga minyak mentah (crude oil). Minyak mentah dapat dibedakan menjadi:
    – Light crude oil (Minyak mentah ringan) yang mengandung kadar logam dan belerang rendah, berwarna terang dan bersifat encer (viskositas rendah).
    – Heavy crude oil (Minyak mentah berat) yang mengandung kadar logam dan belerang tinggi, memiliki viskositas tinggi sehingga harus dipanaskan agar meleleh.
    Setelah memalui proses tertentu minyak di atas baru bisa digunakan untuk mobil, bus, pesawat, kapal dan sebagainya (lihat gambar). Jadi, tidak ada ceritanya minyak mentah bumi langsung dimasukkan ke tangki mobil terus bisa berjalan.
    Demikian pula dalil-dalil dalam Qur’an dan Hadis, ada banyak topik yang belum terpisah antara ayat hukum, ayat kisah, ayat perumpamaan, ayat Muhkam dan Mutasyabih, juga ada kalimat-kalimat yang masih general, ada sekian ayat dan hadis yang sudah dihapus dengan dalil yang lain, dan sebagainya.
    Dari proses pengolahan dalil tersebut, jika melalui pendekatan Ra’yu (rasional) menghasilkan Mazhab Hanafi. Jika menggunakan pendekatan tradisional menghasilkan Mazhab Maliki. Jika menggunakan pendekatan yang menggabungkan rasional dan tradisional menghasilkan Mazhab Syafi’i. Jika pendekatan Fundamental akan menghasilkan Mazhab Hambali. Hasil ijtihad ulama madzhab ini disebut Fikih. Kita tinggal mempraktekkan tata cara shalat, puasa, haji dan sebagainya, seperti kita tinggal menggunakan gas, bensin, solar dan lainnya.
    Jadi, apa bermazhab itu? Kajiannya siang ini menemani istirahat siang Anda bersama para Pimpinan dan Staf Pertamina Surabaya. (abi sorban)
    sumber kh. ma’ruf  khozin
  • TOLERANSI BANSER, INSPIRASI DUNIA

    TOLERANSI BANSER, INSPIRASI DUNIA

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Pasca Insiden tak manusiawi di New zealand. Saat ini Banyak Umat kristen dll, berlomba-lomba menciptakan rasa aman dalam bernegara dengan melindungi Umat Islam yg tengah beribadah dalam masjid. Seakan-akan Mereka ikut merasakan kesedihan dan kegelisahan yg merundung hati orang² muslim mereka bukan saja menyadari bahwa umat islam dinegara_nya adalah komunitas kecil [kelompok Minoritas] yg harus dilindungi. Mereka turun kelapangan [Masjid] memasang dada utk melindungi saudara_nya setanah air.
    Dan hal ini,Sikap solidaritas yg mereka tunjukan adalah sikap terpuji didalam Islam meski dilakukan oleh Saudara kita yg Non muslim apalagi kalau sikap toleransi dalam beragama diatas dilakukan oleh agama islam yg makna sebetul nya dari islam adalah selamat, pasrah, damai.
    Agama Perdamaian di indonesia,sudah jamak kita lihat seringkali dilakukan juga oleh Barisan Anshor serba guna [Banser NU].
    ﺩﺭﺀ ﺍﻟﻤﻔﺎﺳﺪ ﻣﻘﺪﻡ ﻋﻠﻰ
    ﺟﻠﺐ ﺍﻟﻤﺼﺎﻟﺢ .
    Mencegah kerusakan lebih diutamakan dibandingkan dengan mendatangkan suatu kebaikan. Senada dengan Pribahasa yg sering kita dengarkan : Mencegah lebih baik daripada mengobati. Bom Bunuh diri bukanlah Jihad, bukan juga mati syahid,Hal ini sudah final dalam pembahasan fiqih bahwa hal itu bukan SYAHID. tidak ada Agama yg mengajarkan Umatnya melakukan kekerasan Namun siapa kira..??? Ternyata ada kelompok yg faham_nya salah,kebablasen dalam beragama,tidak mau belajar kepada Ulama/Kyai yg tidak diragukan sanad keilmuannya Menganggap bahwa tindakan kriminal tersebut disangka perbuatan yg diridhoi oleh Allah.
    Ironis_nya, mereka meneriakan Kalimat Suci disaat mereka melakukan aksi kekerasan tersebut [Bom Bunuh diri].
    Hal itu kerap mereka lakukan,terutama dalam waktu waktu tertentu, Natal,Tahun Baru Masehi dll. Dan seringkali terjadi yg menjadi sasaran mereka adalah Gereja.Maka,Banser pasang dada. Pejuang Toleransi satu ini tak mau melihat saudara_nya setanah Air diperlakukan seperti Kafir Harbi [Golongan yg patut diperangi sebab memusuhi islam].
    Dan menyadari bahwa kelompok Minoritas juga perlu diberlakukan keadilan yg Nyata. Padahal Non Islam diNusantara, baik itu Kristen, katolik ,Budha,Hindu dan Kong hucu bukanlah kelompok yg tepat jika dilabeli sebagai kelompok yg memusuhi islam. Toh sejarah yg mengatakan bahwa mereka [Agama diluar Islam] ikut berjuang mati matian Dalam merebut Kemerdekaan Republik Indonesaia.Kita ini sama Mereka yg bukan seagama adalah saudara setanah air.
    Banser sudah memberikan contoh atas perintah gusdur betapa sangat luasnya pemikiran gusdur, bukan sekedar mengamankan gereja atas nama kemanusiaan.tapi secara langsung ingin menitipkan keselamatan umat islam minoritas diberbagai pelosok indonesia & di seluruh didunia, jelasnya menjaga gereja bukan berarti se7 atas aqidah mereka. Menjaga minoritas menjaga gereja bukan tujuan sebenarnya justru makna yg adalah yg tersirat menjaga keutuhan berbangsa & bernegara menciptakan negara yg aman untuk semua golongan.
    Namun, apa yg d lakukan oleh saudara umat nasrani di sana ternyata sudah jauh jauh hari di lakukan oleh anggota banser kita yg demi menjaga teloransi & kedamaian di negri tercintanya. Anggota banser rela meluangkan waktunya demi menjaga gereja saat suadara umat nasrani melakukan ibadahnya.
    Bahkan salah satu banser yg bernama RIYANTO gugur atas aksi heroiknya yang menyelamatkan ratusan nyawa dr bom teroris di gereja Almarhum RIYANTO benar menunjukan bahwa dirinya adalah GUSDURian sejati.
    Agama adalah Keyakinan di setiap individu masing”. Namun memberikan cinta dan kasih sayang. Maka sudah kewajiban dari semua makhluk yg bernama manusia.
    ketika umat nasrani menjaga masjid di New Zeland minhum pun berkata “subhanalloh, salut,kagum, kita teloransi 
    Namun, ketika anggota banser,melihatkan tindakan Toleransinya. eh malah para minhum berteriak “huh dasar antek kapir? Liberpul ,ngapain jaga gereja segala” . Mbelgedes ,Maha benar minhum dengan segala kentirnya. (ansor banser nogosari)
    Salam NKRI HARGA MATI…!!!
  • Cara Imam Syafi’i Mencetak Golden Generation

    Cara Imam Syafi’i Mencetak Golden Generation

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Para Sahabat kita di Eropa sebenarnya sedang menempuh pendidikan S2 atau S3, bahkan menjadi Guru Besar. Namun mereka masih menyempatkan diri berkhidmat untuk organisasi NU. Saya melihat saat ini sedang dalam masa generasi keemasannya, khususnya yang saya tahu sendiri adalah PCI NU Jerman. Ada Prof
    Hendro Wicaksono, Dr Wahyu Wijaya Hadiwikarta, Dr Muhammad Rodlin Billah, Bu Rina Agustina, Dr Miftahussurur, Mas Arrayyan dll.
    Bagi saya ini masih embrio “Golden Generation”. Sebab mereka bertemu tanpa disengaja, memiliki kesepahaman, bercita-cita bareng dan merealisasikan programnya. Generasi emas sebenarnya adalah ketika orang-orang hebat tersebut berhasil mengkader generasi sesudahnya, setelah beliau semua pulang ke tanah airnya, di Jerman sana masih ada penerusnya.
    Sebagai contoh adalah keberhasilan Imam kita dalam mengkader penerusnya. Imam Syafi’i punya banyak murid. Diantara muridnya ada 2 orang yang bernama Rabi’. Yang pertama Rabi’ Al-Muradi dan yang kedua Rabi’ Al-Jaizi.
    Kejadian berikut dialami oleh Rabi’ Al-Muradi, siapa sangka di masa belajarnya ia adalah murid ‘telmi’. Berikut riwayatnya:
    ﻭﻗﺎﻝ اﻟﻘﻔﺎﻝ ﻓﻰ ﻓﺘﺎﻭﻳﻪ ﻛﺎﻥ اﻟﺮﺑﻴﻊ ﺑﻄﺊ اﻟﻔﻬﻢ ﻓﻜﺮﺭ اﻟﺸﺎﻓﻌﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﺴﺄﻟﺔ ﻭاﺣﺪﺓ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﻣﺮﺓ ﻓﻠﻢ ﻳﻔﻬﻢ ﻭﻗﺎﻡ ﻣﻦ اﻟﻤﺠﻠﺲ ﺣﻴﺎء ﻓﺪﻋﺎﻩ اﻟﺸﺎﻓﻌﻰ ﻓﻰ ﺧﻠﻮﺓ ﻭﻛﺮﺭ ﻋﻠﻴﻪ ﺣﺘﻰ ﻓﻬﻢ
    Al-Qaffal mengatakan dalam Fatawinya bahwa “Rabi’ adalah orang yang tidak cerdas. Asy-Syafi’i mengajarnya dengan mengulang-ulang 1 masalah sampai 40 kali, Rabi’ belum paham juga. Rabi’ pun pergi dari tempat belajar karena malu. Asy-Syafi’i memanggilnya di tempat sepi dan mengulang-ulang pelajaran hingga ia paham” (As-Subki, Thabaqat Syafi’iyah, 2/134)
    Ternyata, Rabi’ Al-Muradi inilah yang di masa berikutnya menjadi sosok ulama yang menyebarkan ilmu-ilmu Imam Syafi’i. Sebab Rabi’ inilah yang meriwayatkan pendapat Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm, kitab induk Mazhab Syafi’i. Selain beliau masih banyak murid Asy-Syafi’i yang lain, seperti Al-Muzani, Al-Buwaithi, Harmalah dan sebagainya.
    Untuk semuanya saya haturkan jazakumullah Khoiron katsiron, semoga Allah memberi keberkahan dan perlindungan kepada panjenengan di PCI NU Jerman. (post kh. ma’ruf khozin)
  • WAHABI PAHAMNYA HTI ORMASNYA DAN PKS PARTAINYA

    WAHABI PAHAMNYA HTI ORMASNYA DAN PKS PARTAINYA

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI-
    Bukan fanatik ,tapi belajar dari fakta yang ada.
    1. Ngaku NU tapi alergi dgn Kiai Said. Secara demokratis, Kiai Said adalah pemimpin terpilih. Ini real. Fakta yg tdk bisa dipungkiri. Ditambah menuduh beliau Syiah, Liberal.Di saat yg sama diam2 ia jatuh hati pd Sugik, Felix, Baequni dll. Masya allah. Mesra sekali.
    2. Ngaku NU malah ngece-ngece Banser. Banser iki Banom NU kang.. Saya yakin, yang type begini belum pernah ikut MKNU, PKD, Makesta IPNU/IPPNU dan segala diklat kursus NU. Di matanya sih NU hanya sebatas tahlil dan Marhabanan.
    3. Ngaku NU tapi sepakat dgn orientasi HTI. Aneh banget. NU itu Nasionalis-Agamis, sedang HTI adalah Separatis atau golongan yang akan membuat negara baru dlm negara. Bodohnya lagi, ia percaya dgn isu dihembuskan HTI bhw NU disusupi PKI.Pdhl, PKI sdh dibumihanguskan Banser. Padahal, PKI & HTI di mata Konstitusi sama terlarangnya. Mereka ini teriak PKI kepada orang yang telah membumihanguskan PKI.
    4. Ngaku NU tapi tidak paham dengan komoditi bendera Tauhid yang dijadikan alat Politik menggunakan wajah agama. Ini asli korban HTI tingkat dewa.
    5. Ngaku NU selain anti Banser malah Pro FPI. FPI emang seneng ngaku NU, tapi NU bukan FPI.
    6. Ngaku NU tapi kasih embel-embel Lurus segala. Daridulu, NU sejak 1926 ya NU. Tidak ada itu lurus, bengkok, belak-belok, naik-turun.
    Kalau sampean gak tahu. Itu masih untung karena tidak kena beban taklif alias dima’fu, kalau sudah dikasih info kok masih ngeyel. Ya sakarepmu, pujare ira. Sampean bisa lihat sliweran di Medsos. Orang macam begini ya satu paket. Sama saja dari point 1-6 ya orangnya itu2 aja. (abi sorban)
  • KEUTAMAAN DAN KEBESARAN ASH SHOLAWAT AL HUSAINIYYAH

    KEUTAMAAN DAN KEBESARAN ASH SHOLAWAT AL HUSAINIYYAH

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI-
    Telah di riwayatkan dari Sulthonil Aulia’ Sayyidina Asy Syaikh Abdil Qodir Al-Jilanni Al Hasani R.A Beliau R.A Berkata kepada sebagian murid dan pecintanya karena allah RahimaHhumullaaHh : Ambil “ASH SHOLAWAT AL HUSAINNIYAH” ini dariku karena sesunguhnya saya telah menerima dan mengambil secara langsung melalui ilham dari Allah SWT.
    Lantas saya haturkan keharibaan Junjugan Annabiyul A’dlam SAW. Dengan niat memohon
    penjelasan, petunjuk tentang keutamaan dan kebesaran dalam “ASH SHOLAWAT AL HUSAINIYYAH” ini sebelum saya sempat mengungkapkan dan mengutarakannya beliau Annabiyul A’dlam Rasulullah SAW. memberi jawaban dan penjelasan dengan bersabda :
    “Sesunguhnya di dalam “ASH SHOLAWAT AL HUSAINIYYAH” ini, ada sesuatu rahasia yang besar, yang tidak terhitung, dan terduga serta terbatas (Sirrun Min Asrooril-laHh SubhanaHh)
    di dalam keutamaan serta kebesaranya”.
    Bagi seseorang yang memiliki dan mengamalkanya, di mulyakan oleh Allah SWT. setingi-tingi derajat di sisi-Nya dan di hantarkan serta disampaikan kepuncak kesempurnaan.
    Dan bagi seseorang yang mempunyai suatu kepentingan yang sangat penting, dengan berpelantara (Wasilah) membaca “ASH SHOLAWAT AL HUSAINIYYAH” tidak akan tersia-sia dan hampa prasangka baik dan harapanya atas luas dan agungnya rahmat Allah SWT. tidak tertolak segala do’a dan permohonanya keharibaan Allah SWT.
    Serta bagi seseorang yang membaca “ASH SHOLAWAT AL HUSAINIYYAH” walau hanya satu kali, atau hanya sekedar membawanya saja. akan di ampuni dosanya oleh Allah SWT. dan serta dosa orang yang menyertainya dalam satu majlis atau kumpulan (Jamaah) menjelang roh dan ajalnya telah tiba untuk kembali kepangkuan rahmat dan pengampunan Allah SWT. maka turun dan mendampingi serta menyertainya empat AL MALAIKAH AR RAHMAH, yang membawa rahmat dan perlindungan dari Allah SWT.
    1. Malaikat yang melindungi dan dan mencegahnya dari segala gangguan dan tipu daya syetan arrojim, yang menjerumuskanya, untuk meninggalkan dunia yang fana dengan tidak membawa iman kehadirat Allah SWT. (Su’ul khotimah) Na’udzhubillah mindzhalik.
    2. Malaikat yang mengajari membimbing dan menuntunya membaca kalimah ASYSYAHADAH
    3. Malaikat yang memberinya air minum satu gelas dari telaga Al Kautsar.
    4. Malaikat yang di tanganya membawa bejana dari emas, penuh dengan buah-buahan dari surga dengan membawa berita gembira tentang kedudukanya di surga sambil berkata : “Bergembiralah dan bergembiralah wahai hamba Allah! sebelum keluar dan kembali roh dan ajalnya keharibaan Allah SWT.
    Maka telihat dan tampaklah olehnya kedudukanya di dalam surga dan di sisi Allah SWT.
    Semoga kita semua diberikan kekuatan bisa istiqomah, tuma’ninah, ngelampahi amaliyah tersebut yang telah Beliau (Romo Yai Achmad Asrori Al Ishaqy RA,) ijazahkan kepada kita semua 😇😍😊 Aamiinnn Aamiinn Aamiinn Yaa Robbal Aamin. (gaya saiya)
  • Nama-Nama Dan Sifat-Sifat Allah Adalah Tawqifiyyah

    Nama-Nama Dan Sifat-Sifat Allah Adalah Tawqifiyyah

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Para ulama Ahlussunnah sepakat bahwa nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah tawqifiyyah.

    Artinya bahwa nama-nama dan sifat-sifat Allah hanya ditetapkan oleh Syara’.

    Yaitu ditetapkan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan oleh Rasulullah dalam Hadits-Hadits yang sahih. Tidak ditetapkan dengan jalan Ijtihad. Pendapat ini banyak diungkapkan oleh para ulama kita.

    Diantaranya oleh Syekh Ibrahim al-Laqqani dalam Jawharah at-Tawhid;

    واختير أن اسماه توقيفية

    كذا الصفات فاحفظ السمعية

    “Dan pendapat yang dipilih adalah bahwa Nama-Nama Allah adalah Tauqifiyyah.

    Demikian pula Sifat-Sifat-Nya. Maka hafalkan olehmu apa yang datang secara sam’i (datang dalam ketetapan Syara’)”.

    Para ulama kita mengatakan bahwa dalam menetapkan sifat-sifat bagi Allah adalah hanya dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan oleh Rasulullah dalam Hadits-Hadits yang sahih.

    Ini artinya; lafazh-lafazh yang disandarkan kepada Allah yang berlaku dalam makna idhafat (penyandaran) saja maka itu semua tidak boleh ditetapkan sebagai Sifat-Sifat bagi-Nya. Al-Hafizh Ibnul Jawzi dalam bantahan terhadap kaum Musyabbihah Mujassimah berkata:

    أنهم سموا الأخبار أخبار صفات، وإنما هي إضافات، وليس كل مضاف صفة، فإنه قال سبحانه وتعالى: ونفخت فيه من روحي (سورة الحجر: 29) وليس لله صفة تسمى روحا، فقد ابتدع من سمى المضاف صفة. اهـ (1)

    ”Mereka selalu menamakan setiap teks yang memberitakan tentang Allah sebagai sifat-sifat-Nya. Padahal tujuan teks-teks tersebut hanya untuk mengungkapkan penyandaran saja (al-Idlafah).

    [Artinya penyandaran sesuatu kepada nama Allah untuk menunjukan bahwa Allah memuliakan perkara tersebut].

    Padahal tidak setiap bentuk Idlafah itu dalam pengertian sifat. Contoh, firman Allah tentang Nabi Isa:

    وَنَفَخْتُ فيْه مِنْ رُوْحِي (سورة الحجر: 29)

    Kata “من روحي” dalam ayat ini tidak boleh dipahami bahwa Allah memiliki sifat yang disebut dengan “ruh” [lalu sebagian ruh tersebut adalah bagian dari Nabi Isa yang ditiupkan kepadanya].

    (Tetapi yang dimaksud adalah bahwa ruh tersebut adalah ruh yang dimuliakan oleh Allah). Barangsiapa memahami bahwa setiap Idlafah itu sebagai sifat maka dia seorang yang telah sesat dan ahli bid’ah”.

    Dengan demikian dapat kita pahami bahwa tidak setiap segala yang disandarkan kepada Allah, baik dalam teks-teks Al-Qur’an atau Hadits-Hadits Nabi dapat disebut sebagai sifat Bagi-Nya.

    Kesimpulan ini harus dipahami dengan benar.

    Karena jika tidak maka seseorang akan menetapkan segala apapun bagi Allah dengan dalih ada penyebutannya dalam Al-Qur’an dan Hadits, walaupun itu sifat-sifat benda, seperti gerak, turun, naik, bentuk, ukuran, tempat, arah, anggota-anggota badan, dan lainnya. Na’udzu Billah.(abi SORBAN)

  • Isi Kitab Karya Mbah Hasyim Asy’ari Yang Di Temukan Di Jagalempeni Wanasari Brebes

    Isi Kitab Karya Mbah Hasyim Asy’ari Yang Di Temukan Di Jagalempeni Wanasari Brebes

    SORBANSANTRI.COM
    Foto Gus Sholah dalam acara sambutan diacara LBM PCNU Brebes yang ke-2 Di Rubath Al Musyarraf Al Musyarrof Penggarutan Bumiayu
    SORBAN SANTRI- Yah itulah kitab beliau yang berjudul RISALAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH, diantara isinya adalah:
    (kitab bisa dilihat di sini [irp posts=”2133″ name=”PERPUSTAKAAN”]
    Di antara penyebab muncul dan terjadinya penyimpangan-penyimpangan dalam Islam menurut KH Muhammad Hasyim Asy’ari adalah:
    1. Tidak menguasai seluk beluk bahasa Arab yang sesuai dengan zaman turunnya wahyu dan juga tidak menguasai berbagai gaya bahasa (Asälïb) dalam bahasa Arab. Mbah Hasyim Asy^ari menegaskan bahwa sekian banyak orang tersesat dari jalan yang benar (aqidah & pemikirannya sesat) dikarenakan mengikuti pemahaman orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang berbagai gaya bahasa dalam bahasa arab.  Beliau menyatakan: “Al Ashmu^i meriwayatkan dari al Khalïl dari Abü ^Amr ibn al ^Ala-‘, ia berkata: “أَكْثَرُ مَنْ تَزَنْدَقَ بِالعِرَاقِ لِجَهْلِهِمْ بِالعَرَبِـيَّةِ”. “Kebanyakan orang yang menjadi kafir zindik di Irak disebabkan kebodohan mereka tentang bahasa Arab.”
    2. Tidak Memiliki Perangkat Keilmuan yang Cukup Ketika menjelaskan kewajiban bermadzhab bagi orang awam, Mbah Häsyim Asy^ari menjelaskan bahwa pemahaman orang awam tidak diperhitungkan sama sekali, selama tidak sesuai dengan pemahaman para ulama yang mu’tabar (Ahlul Haqq al Akäbir al Akhyär).

    [irp]

    Karena sesungguhnya timbulnya masalah bukan berada pada teks-teks al Qur’an ataupun hadits-hadits yang shahih, melainkan terletak pada pemahaman yang keliru (bodoh bergaya mampu) terhadap teks-teks tersebut.
    Oleh karenanya, setiap ahli bid^ah dan orang yang tersesat-pun mengaku memahami ajaran-ajaran mereka yang batil dari al Kitab dan as-Sunnah.
    Demikian penting kaedah ini untuk diikuti dan diamalkan, sehingga Mbah Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa seseorang yang bukan mujtahid mutlak diharuskan bertaklid (mengikuti) kepada salah satu madzhab empat dan tidak boleh memahami sendiri dan beristidläl (mengambil hukum) langsung dari ayat-ayat al Qur’an dan hadits-hadits Nabi.
    [irp]
    Oleh karenanya, mari warga NU berhati-hatilah dalam memilih guru, ketahuilah kebenaran (carilah ilmu) dari guru yang tsiqoh, mumpuni (pemahamannya sohih) dan bersanad jelas, terlebih dalam mengaji tentang aqidah.
    Tiadalah kegiatan yang lebih mulia dibanding dengan mengaji, mengaji dan mengaji.
    (KH. Muhammad Häsyim Asy^ari –rohimahuLlöh–, Risälah Ahl as-Sunnah wa al-Jamä^ah fi Hadïts al-Mawtä wa Asyräth as-Sä^ah wa Bayän Mafhüm as-Sunnah wa al-Bid^ah, hlm. 13) (pcnu brebes)
  • Setiap Bidah Sesat?

    Setiap Bidah Sesat?

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI-
    Setiap Bidah Sesat? Ya, karena hadisnya memang berbunyi Kullu bidatin dhalalah. Setiap Bid’ah adalah sesat. Tidak ada Bid’ah Hasanah atau bidah yang dianggap baik. Anda ikut Nabi apa ikut kyai? Kalau ikut Nabi setiap bidah adalah sesat. Hanya para kyai yang membagi ada Bid’ah Hasanah / terpuji dan Bid’ah Sayyiah / tercela.
    Itu menurut mereka. Nyatanya Syekh Bin Baz dan Syekh Ustaimin juga membagi Bid’ah Lughawiyah (secara bahasa) dan Bid’ah ‘Adiyah (secara tradisi). Ada juga yang membagi Bid’ah Diniyah (dalam agama) dan Bid’ah Dunyawiyah (dalam urusan dunia).
    Lho, ternyata mereka menerima pembagian Bid’ah versi ulama mereka dan menolak pembagian ulama kita. Ya kita tanyakan balik: “Ikut Nabi apa ikut para Syekh itu?”
    Kajiannya malam ini ini FB Aswaja Muda. (abi sorban)
    SUMBER KH MA’RUF KHOZIN