Kategori: Religius

berita yang fokus pada aspek keagamaan, seperti ajaran agama, praktik keagamaan, perkembangan dalam komunitas keagamaan, dan isu-isu terkait keagamaan. Berita ini dapat mencakup liputan tentang acara keagamaan, ceramah agama, perayaan agama, dan pandangan agama terhadap isu-isu kontemporer. Tujuannya adalah untuk memberikan informasi yang mendalam dan mendukung pemahaman yang lebih baik tentang aspek keagamaan dalam masyarakat.

  • Akhirnya ditemukan Sanad Syair Li khomsatun

    Akhirnya ditemukan Sanad Syair Li khomsatun

    SORBAN Infokom – Setelah pandemi Covid-19, banyak sahabat FB, terutama dari kalangan santri NU, yang menuliskan semacam doa berbentuk syair yang dilantunkan berulang-ulang. Konon syair singkat di bawah ini adalah ijazah dari Hadlratus-Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, salah seorang pendiri organisasi Nahdlatul Ulama.

    لي خمسة أطفي بها حر الوباء الحاطمة
    المصطفى والمرتضى وابناهما وفاطمة

    Saat saya membacanya berulangkali, hati saya terus menerus bertanya, dari manakah asal usul doa itu?

    Alhamdulillah, saat saya menelaah sebuah kitab setebal 440 halaman berjudul الملاحق في فقه دعوة النور, karya al-Syaikh Sa’id al-Nursi, secara tak sengaja saya mendapatkan jawabannya.

    SORBANSANTRI.COM

    Pada halaman 81 dalam kitab tersebut antara lain tertulis kalimat sebagai berikut:

    وقد قال أحد الفاضلين للإستشفاء والإستشفاع:

    لي خمسة أطفي بها نار الوباء الحاطمة
    المصطفى والمرتضى وابناهما وفاطمة

    Selanjutnya setelah kalimat di atas di bawah footnote tertulis kalimat yang menunjukkan referensi syair di atas, yaitu sebagai berikut:

    ورد في مجموعة الأحزاب للكمشخانوي جزء ٢ ص ٥٠٥ في دعاء دفع الطاعون. وفيه : لي خمسة أطفي بها حر الوباء ٠٠٠. الخ.

    Kitab di atas lengkapnya berjudul مجموعة الأحزاب الشاذلية adalah sekumpulan hizb yang disusun oleh al-Quthb Abi al-Hasan al-Syadzili yang dikumpulkan oleh al-Syaikh Dliya’ al-Din Ahmad bin Musthafa bin Abdurrahman al-Kamsyakhanawi al-Naqsabandi al-Mujaddidi al-Khalidi (wafat: 1311 H.)

    Oleh: KH. Ishomuddin

  • Bagaimana Tentang Keindahan Allah Ta’ala ?

    Bagaimana Tentang Keindahan Allah Ta’ala ?

    SORBAN Infokom – Keindahan Allah tak bisa disifatkan, karena berbeda dengan segenap makhluk dan tidak menyerupai makhluk, Allah Ta’ala itu sangat Indah, dan akan semakin indah terasa, dengan hubungan batin kita yang semakin banyak meninggalkan larangannya dan mematuhinya,
    Dia ‘Azza wa Jalla akan mengalirkan cinta kepada hati hamba-Nya sehingga hamba-Nya mulai asyik pada Nya.

    Nah.. inilah sorga terindah sebelum mereka mengenal sorga, dan kelak mereka melihat keindahan Allah, dan Allah jadikan tempat tinggal mereka di sorga, dan sungguh jika disuruh memilih untuk tinggal di neraka namun boleh melihat keindahan Allah maka semua mereka akan meninggalkan sorga dan masuk ke neraka.
    Sebagaimana diriwayatkan ketika seorang hamba yang terakhir keluar dari neraka setelah mungkin ratusan ribu tahun dihancur
    leburkan di api neraka, setelah jutaan kali tubuhnya dihidupkan kembali dan disiksa, lalu ia dihadapkan pada Allah.., ia melihat Allah.., lalu Allah bertanya padanya, hambaku, berapa lama kau di api neraka?, hamba itu berkata : “aku tak pernah merasakan siksa neraka..”.
    kenapa?, hilang seluruh kepedihan neraka karena melihat keindahan Allah Ta’ala…

    Nah.., namun Allah menempatkan hamba hamba yang rindu pada-Nya adalah di sorga, maka mereka meminta sorga karena tahu sorga adalah tempat terdekat pada Allah, mereka mendambakan sorga karena itu tempat orang yang dicintai Allah, mereka mengharap sorga karena di sorga lah mereka akan sering berjumpa dan melihat Allah..

    (kenali aqidahmu – habib munzir)

  • Allah Ada Dimana? Mengenai Ayat Tasybih

    Allah Ada Dimana? Mengenai Ayat Tasybih

    SORBAN Infokom – Mengenai ayat mutasyabih yang sebenarnya para Imam dan Muhadditsin selalu berusaha menghindari untuk membahasnya, namun justru sekarang sangat digandrungi dan makin banyak muncul masa kini. Jika salah memahami maka akan terjatuh dalam jurang kemusyrikan, seperti membahas bahwa Allah ada di langit, mempunyai tangan, wajah dll, yang hanya membuat kerancuan dalam kesucian Tauhid Illahi pada benak muslimin, akan tetapi karena semaraknya masalah ini diangkat ke permukaan, maka perlu kita perjelas mengenai ayat – ayat dan hadits tersebut.

    Dimanakah Allah?
    Sebagaimana makna Istiwa, ada yang mengatakan bahwa Allah itu bersemayam di Arsy, dengan menafsirkan kalimat ”ISTIWA” dengan makna ”BERSEMAYAM atau ADA DI SUATU TEMPAT”. Darimana menemukan makna kalimat Istiwa adalah semayam?, padahal tak mungkin kita katakan bahwa Allah itu bersemayam disuatu tempat, karena bertentangan dengan ayat – ayat dan nash hadits lain.
    Bila kita mengatakan Allah ada di Arsy, maka dimana Allah sebelum Arsy itu ada? Dan berarti Allah membutuhkan ruang, berarti berwujud seperti makhluk.

    Berkata Hujjatul Islam Almuhaddits Al Imam Malik rahimahullah ketika datang seseorang yang bertanya makna ayat : ”Arrahmaanu ’alal Arsyistawa”, Imam Malik menjawab :
    ”Majhul, Ma’qul, Imaan bihi wajib, wa su’al ’anhu bid’ah (tidak diketahui maknanya, dan tidak boleh mengatakannya mustahil, percaya akannya wajib, bertanya tentang ini
    adalah Bid’ah Munkarah)
    , dan kulihat engkau ini orang jahat, keluarkan dia..!”. Demikian ucapan Imam Malik pada penanya ini, hingga ia mengatakannya : ”kulihat engkau ini orang
    jahat”, lalu mengusirnya.

    Masalah ayat atau hadist tasybih (tangan atau wajah) dalam ilmu tauhid terdapat dua pendapat dalam menafsirkannya.
    1. Pendapat Tafwidh Ma’a tanzih
    2. Pendapat Ta’wil

    II.1.1. Madzhab Tafwidh Ma’a Tanzih
    Madzhab Tafwidh Ma’a Tanzih yaitu mengambil dhahir lafadz dan menyerahkan maknanya kepada Allah Ta’ala, dengan I’tiqad Tanzih (mensucikan Allah dari segala penyerupaan)
    Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal masalah hadist sifat, ia berkata ”Nu’minu biha wa nushoddiq biha bilaa kaif wala makna”, (Kita percaya dengan hal itu, dan membenarkannya tanpa menanyakannya bagaimana, dan tanpa makna) Madzhab inilah yang juga dipegang oleh Imam Abu Hanifah.
    Dan kini muncullah faham mujjassimah yaitu dhohirnya memegang madzhab tafwidh tapi menyerupakan Allah dengan mahluk, bukan seperti para Imam yang memegang madzhab tafwidh.

    II.1.2. Madzhab Takwil
    Madzhab Takwil yaitu menakwilkan ayat atau hadist tasybih sesuai dengan ke-Esaan dan Keagungan Allah Ta’ala, dan madzhab ini arjah (lebih baik untuk diikuti) karena terdapat
    penjelasan dan menghilangkan awhaam (khayalan dan syak wasangka) pada muslimin umumnya, sebagaimana Imam Syafii, Imam Bukhari, Imam Nawawi dll. (Syarah Jauharat Attauhid oleh Imam Baajuri)
    Pendapat ini juga terdapat dalam Alqur’an dan sunnah, juga banyak dipakai oleh para sahabat, tabiin dan imam – imam ahlussunnah waljamaah.
    Diriwayatkan dalam hadtist Qudsiy bahwa Allah Ta’ala berfirman : ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits No.2569)

    Apakah kita bisa mensifatkan sakit kepada Allah tapi tidak seperti sakitnya kita?
    Berkata Imam Nawawi berkenaan hadits qudsiy diatas dalam kitabnya yaitu Syarah Nawawiy alaa Shahih Muslim bahwa yang dimaksud sakit pada Allah adalah hamba-Nya, dan kemuliaan serta kedekatan-Nya pada hamba-Nya itu. ”Wa ma’na ajadtaniy indahu ya’niy wajadta tsawaabii wa karoomatii indahu” dan makna ucapan : akan kau temui aku disisinya adalah akan kau temui pahalaku dan kedermawanan-Ku dengan menjenguknya
    (Syarh Nawawi ala Shahih Muslim Juz 16 hal 125)
    Dan banyak pula para sahabat, tabiin, dan para Imam ahlussunnah waljamaah yang berpegang pada pendapat Ta’wil, seperti Imam Ibn Abbas, Imam Malik, Imam Bukhari, Imam Tirmidziy, Imam Abul Hasan Al Asy’ariy, Imam Ibnul Jauziy dll (lihat Daf’ussyubhat Attasybiih oleh
    Imam Ibn Jauziy).

    Maka jelas bahwa akal tak akan mampu memecahkan rahasia keberadaan Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya : ”Maha Suci Tuhan-Mu Tuhan Yang Maha Memiliki Kemegahan dari apa – apa yang mereka sifatkan, maka salam sejahtera lah bagi para Rasul, dan segala puji atas Tuhan sekalian alam” . (QS. Asshaffat : 180-182).
    Walillahittaufiq. (Sumber – Kenali Aqidahmu karangan habib munzir )

  • TEKS ARAB QUNUT NAZILAH

    TEKS ARAB QUNUT NAZILAH

    SORBAN Infokom – PBNU menghimbau membaca qunut nazilah yang merupakan salah satu daripada tiga jenis qunut yang sunat dibaca mengikut Mazhab Syafii selain qunut dalam Solat Subuh dan qunut pada separuh malam kedua terakhir Ramadan dalam Solat Sunat Witir.

    Qunut Nazilah sunat dibacakan ketika umat Islam didatangi bala bencana atau ditimpa musibah seperti peperangan, wabak, kemarau dan sebagainya. Bacaan Qunut Nazilah ini pernah dibacakan oleh Rasulullah allallahu`alaihi wasallam ketika kejadian pembunuhan beramai-ramai 60 orang penghafaz al-Quran selama sebulan berdasarkan hadis berikut yang bermaksud:

    “Sesungguhnya Nabi sallallahu`alaihiwasallam telah membaca doa qunut pada waktu selain dari Subuh ketika turunnya sewaktu pembunuhan sahabat-sahabatnya penghafaz-penghafaz al-Quran.”

    SORBANSANTRI.COM

    Adapun bacaan Teks Arab Qunut Nazilah sebagai berikut:

    اَللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيْمَنْ هَدَيْتَ, وَعَافِنَا فِيْمَنْ عَافَيْتَ, وَتَوَلَّناَ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ, وَبَارِكْ لَناَ فِيْمَا اَعْطَيْتَ
    وَقِناَ شَرَّمَا قَضَيْتَ, فَإِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ, فَإِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ, وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ, تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ نَسْتَغْفِرُكَ وَنَتُوْبُ إِلَيْكَ

    Artinya : Ya Alloh tunjukkanlah kepadaku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk. Dan berilah kesehatan kepadaku sebagaimana mereka yang telah Engkau berik kesehatan. Dan peliharalah diriku sebagaimana orang yang telah Engkau peliharakan.

    Dan berilah keberkahan bagiku pada apa-apa yang telah Engkau kurniakan. Dan selamatkan aku dari bahaya kejahatan yang Engkau telah tentukan. Maka sesungguhnya Engkaulah yang menghukum dan bukan kena hukum.

    Maka sesungguhnya tidak hina orang yang Engkau pimpin. Dan tidak mulia orang yang Engkau memusuhinya. Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha tinggi.

    Hanya untuk-Mu segala pujian diatas yang Engkau tentukan. Aku memohon ampun dari-Mu dan aku bertaubat kepada Engkau (Dan semoga Allah) mencurahkan rahmat dan sejahtera kepada junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

    اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِينُكَ وَنَسْتَغْفِرُ كَ وَنَسْتَهْدِيكَ وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْكَ وَنُثْنِي عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ نَشْكُرَكَ وَلَا نَكْفُرُكَ وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ
    اَللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَكَ نُصَلِّي وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ نَرْجُو رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ إِنَّ عَذَابَكَ الْجِدَّ بِالْكُفَّارِ مُلْحَقٌ

    Artinya: “Tuhan kami, kami memohon bantuan-Mu, meminta ampunan-Mu, mengharap petunjuk-Mu, beriman kepada-Mu, bertawakkal kepada-Mu, memuji-Mu, bersyukur dan tidak mengingkari atas semua kebaikan-Mu, dan kami menarik diri serta meninggalkan mereka yang mendurhakai-Mu.

    Tuhan kami, hanya Kau yang kami sembah, hanya kepada-Mu kami hadapkan shalat ini dan bersujud, hanya kepada-Mu kami berjalan dan berlari.

    Kami mengaharapkan rahmat-Mu. Kami takut pada siksa-Mu karena siksa-Mu yang keras itu akan menimpa orang-orang kafir.”

    اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّاالْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْشَّدَائِدَ وَالْفِتَنِ وَالْمِحَنَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ
    وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

  • Dalil Shokhih dan Dhoif yang bisa dijadikan sebagai hujjah  menghadapi wabah penyakit

    Dalil Shokhih dan Dhoif yang bisa dijadikan sebagai hujjah menghadapi wabah penyakit

    Hadist-hadist shahih yang bisa dijadikan sebagai hujjah dalam membimbing ummat untuk menghadapi wabah penyakit antara lain sebagai berikut:

    Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim.

    قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطَّاعُونُ آيَةُ الرِّجْزِ ابْتَلَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ نَاسًا مِنْ عِبَادِهِ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَفِرُّوا مِنْهُ

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

    Hadist Shahih 2

    Riwayat Bukhari dan Muslim

    قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُورِدَنَّ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ

    Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

    Hadist Shahih 3

    قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak boleh berbuat madlarat dan hal yang menimbulkan madlarat.” (HR Ibn Majah dan Ahmad ibn Hanbal dari Abdullah ibn ‘Abbas)

    Hadist Shahih 4

    Hadist Sahih Riwayat Bukhari dan Muslim tentang Anjuran Sholat di rumah ketika hujan pada siang hari Jum’at.

    عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ
    قَالَ لِمُؤَذِّنِهِ فِي يَوْمٍ مَطِيرٍ إِذَا قُلْتَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَلَا تَقُلْ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ قُلْ صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ قَالَ فَكَأَنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا ذَاكَ فَقَالَ أَتَعْجَبُونَ مِنْ ذَا قَدْ فَعَلَ ذَا مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي إِنَّ الْجُمُعَةَ عَزْمَةٌ وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أُخْرِجَكُمْ فَتَمْشُوا فِي الطِّينِ وَالدَّحْضِ

    dari Abdullah bin Abbas dia mengatakan kepada muadzinnya ketika turun hujan (pada siang hari Jum’at), jika engkau telah mengucapkan “Asyhadu an laa ilaaha illallaah, asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, ” maka janganlah kamu mengucapkan “Hayya alash shalaah, ” namun ucapkanlah shalluu fii buyuutikum (Shalatlah kalian di persinggahan kalian).” Abdullah bin Abbas berkata; “Ternyata orang-orang sepertinya tidak menyetujui hal ini, lalu ia berkata; “Apakah kalian merasa heran terhadap ini kesemua? Padahal yang demikian pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku (maksudnya Rasulullah saw). Shalat jum’at memang wajib, namun aku tidak suka jika harus membuat kalian keluar sehingga kalian berjalan di lumpur dan comberan.” (HR. Bukhori Muslim dari Abdullah ibn Abbas).

    Hadist Shahih 5

    Hadist panjang riwayat Bukhari Muslim yang artinya sbb.

    Pada suatu ketika ‘Umar bin Khaththab pergi ke Syam. Setelah sampai di Saragh, pimpinan tentaranya di Syam datang menyambutnya. Antara lain terdapat Abu “Ubaidah bin Jarrah dan para sahabat yang lain. Mereka mengabarkan kepada ‘Umar bahwa wabah penyakit sedang berjangkit di Syam. Umar kemudian bermusyawarah dengan para tokoh Muhajirin, Anshor dan pemimpin Quraish.

    Lalu ‘Umar menyerukan kepada rombongannya; ‘Besok pagi-pagi aku akan kembali pulang. Karena itu bersiap-siaplah kalian! ‘ Abu ‘Ubaidah bin Jarrah bertanya; ‘Apakah kita hendak lari dari takdir Allah? ‘ Jawab ‘Umar; ‘Mengapa kamu bertanya demikian hai Abu ‘Ubaidah? Agaknya ‘Umar tidak mau berdebat dengannya. Dia menjawab; Ya, kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah. Bagaimana pendapatmu, seandainya engkau mempunyai seekor unta, lalu engkau turun ke lembah yang mempunyai dua sisi. Yang satu subur dan yang lain tandus. Bukanlah jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur, engkau menggembala dengan takdir Allah juga, dan jika engkau menggembala di tempat tandus engkau menggembala dengan takdir Allah? ‘

    Tiba-tiba datang ‘Abdurrahman bin ‘Auf yang sejak tadi belum hadir karena suatu urusan. Lalu dia berkata; ‘Aku mengerti masalah ini. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri.’ Ibnu ‘Abbas berkata; ‘Umar bin Khaththab lalu mengucapkan puji syukur kepada Allah, setelah itu dia pergi.’ (HR Bukhari dan Muslim).

    Adapun di antara hadis hadis dha’if yang sering digunakan adalah:

    Hadist Dha’if 1

    Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

    إِنَّ اللهَ تَعَالَى إِذَا أَنْزَلَ عَاهَةً مِنَ السَّمَاءِ عَلَى أَهْلِ الأرْضِ صُرِفَتْ عَنْ عُمَّارِ الْمَسَاجِدِ.

    Sesungguhnya apabila Allah ta’ala menurunkan penyakit dari langit kepada penduduk bumi maka Allah menjauhkan penyakit itu dari orang-orang yang meramaikan masjid.

    Hadits riwayat Ibnu Asakir (juz 17 hlm 11) dan Ibnu Adi (juz 3 hlm 232).

    Hadis ini dinyatakan sebagai hadis dhaif oleh Nashir al-Din al-Albani dalam kitab Silsilat al-ahadits al-Dho’ifat wa al-Maudhu’at, juz IV, hal. 222, hadis no. 1851.

    Hadist Dha’if 2

    Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

    إِذا أرَادَ الله بِقَوْمٍ عاهةً نَظَرَ إِلَى أهْلِ المَساجِدِ فَصَرَفَ عَنْهُمْ

    Apabila Allah menghendaki penyakit pada suatu kaum, maka Allah melihat ahli masjid, lalu menjauhkan penyakit itu dari mereka.

    Riwayat Ibnu Adi (juz 3 hlm 233); al-Dailami (al-Ghumari, al-Mudawi juz 1 hlm 292 [220]); Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbihan (juz 1 hlm 159); dan al-Daraquthni dalam al-Afrad (Tafsir Ibn Katsir juz 2 hlm 341).

    Hadis ini adalah hadis dha’if. (lihat Nashiruddin al-Albani, Shahih wa Dha’if al-Jami’ al-Shoghir, juz IV, hal. 380, hadis no. 1358).

    Hadist Dha’if 3

    Sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

    يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ” إِنِّي لَأَهُمُّ بِأَهْلِ الْأَرْضِ عَذَابًا فَإِذَا نَظَرْتُ إِلَى عُمَّارِ بُيُوتِي والْمُتَحَابِّينَ فِيَّ والْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ صَرَفْتُ عَنْهُمْ ”

    Allah عز وجل berfirman: “Sesungguhnya Aku bermaksud menurunkan azab kepada penduduk bumi, maka apabila Aku melihat orang-orang yang meramaikan rumah-rumah-Ku, yang saling mencintai karena Aku, dan orang-orang yang memohon ampunan pada waktu sahur, maka Aku jauhkan azab itu dari mereka.

    Riwayat al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman [2946].

    Hadis ini dho’if Jiddan. (Lihat Nashiruddin al-Albani, Kitab Shahih wa Dha’if al-Jami’ al-Shaghir, juz 9, hal. 121, hadis no. 3674).

    Hadist Dha’if 4

    Sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

    “إِذَا عَاهَةٌ مِنَ السَّمَاءِ أُنْزِلَتْ صُرِفَتْ عَنْ عُمَّارِ الْمَسَاجِدِ”

    Apabila penyakit diturunkan dari langit, maka dijauhkan dari orang-orang yang meramaikan masjid.

    Riwayat al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman [2947]; dan Ibnu Adi (juz 3 hlm 232). Al-Baihaqi berkata: “Beberapa jalur dari Anas bin Malik dalam arti yang sama, apabila digabung, maka memberikan kekuatan (untuk diamalkan)”.

    Hadist ini Dha’if. (Lihat Nashiruddin al-Albani, al-Silsilah al-Dha’ifah, juz IV, hal. 350, hadis no. 1851).

  • Selamat jalan KOMANDAN & SAHABAT KU

    Selamat jalan KOMANDAN & SAHABAT KU

    Infokom NU Mojokerto//Innalillahi Wainna ilaihi Rooji’uun…!! Komandan Satkornas Banser, sekaligus Wasekjen Bidang Hankam, Sahabat Ir.H.Alfa Isnaeni. Pada pukul 11.19wib dipanggil Gusti ALLOH SWT…..

    SORBANSANTRI.COM
    Husnul khotimah

    Seputar perjalanan Rombongan Jenazah Menuju ke Kab.Tulungagung : Sekitar pukul 15.00wib Jenazah Beliau Baru di lepas Oleh Ketum Ansor Gus Yaqut Colil Qoumas dari PBNU menuju Bandara Soekarno Hatta.
    Jam 17.00wib pesawat berangkat dari Bandara Sukarno Hatta Jakarta menuju Bandara Juanda Surabaya.
    Jam 18.30wib Tiba Bandara Juanda Surabaya dilanjut menuju kediaman Beliau Kab.Tulungagung
    Jam 21.30wib jenazah tiba di rumah duka Tulungagung.

    ALFA ISNAINI adalah salah satu sosok seorang pejuang sejati di organisasi kepemudaan NU,mulai dari pengurus IPNU,ketua PW GP ANSOR Jatim hingga dipercaya untuk menjadi seorang pemimpin BANSER Nasional (KASATKORNAS) sampai beliau meninggal. Lelaki yang berasal dari Kabupaten Tulungagung tepatnya di jalan Sentot Prawirodirjo No.09 gang Hakim RT.03/04 kelurahan Panggungrejo Kec.Tulungagung Kab.Tulungagung Prov.Jatim ini selalu siap dan tanggap apabila ada yang memohon kehadirannya disetiap kegiatan BANSER di seluruh INDONESIA.


    Selamat jalan Sahabat Alfa Isnaeni Kasatkornas Banser.
    Khusnul khatimah Ndan ALFA.

    Perjuangan-Khidmat dan Bakti jenengan kepada NU dan NKRI yang belum selesai biar kami yang melanjutkan Perjuangan Jenengan tersebu. Yang bisa membuat jenengan senang dan bahagia di sisi-NYA

    # By.choirul Infokom NU Mojokerto

  • “Totalitas dan Loyalitas”  NU Canggu-Jetis

    “Totalitas dan Loyalitas” NU Canggu-Jetis

    Infokom PAC Jetis:: Bukan NU Canggu namanya jika tidak ada gebrakan baru , setelah sukses mengadakan MDS , baksos , atraksi Pagar Nusa , kali ini di selah selah pelantikan Pengurus Anak Ranting Balongsono , NU Canggu kembali menunjukan kiprahnya mengibarkan bendera Ahlisunnah Waljamaah Annahdliyah.Kegiatan ini di laksanakan pada hari Senin tanggal 09/03/2020 pukul 19.00wib-selesai di Mushola Al-Iklas Balongsono desa Canggu-Jetis-Mojokerto.

    SORBANSANTRI.COM
    Pengurus dan Anggota NU Canggu

    Ide ide kader kader NU Canggu seperti tak pernah padam demi mencapai ridho ALLOH SWT .. Dengan balutan acara Lailatul ijtima ‘yang di mulai dari siang hari bakti sosial pengobatan bekam secara gratis yang di hadiri terapis bekam dari internal NU Canggu Ansor dan Banser Husada serta beberapa terapis dari ranting tetangga dengan jumlah puluhan pasien dari warga masyarakat sekitar ..

    Puncak acara pada malam hari di awali dengan sholat isyak berjamaah dilanjut sholat sholat sunah istighosah Mahallul Qiyam dengan di iringi group ISHARI ranting yang merupakan aset dari NU sendiri …. Adapun dalam sambutanya ketua ranting NU Canggu yakni Ust H Alim Sadikin menyampaikan “kiprah NU Canggu selama 7 bulan kepengurusanya bisa membentuk Lima pengurus Anak Ranting belum lagi banom banom nya serta berhasil menggerakkan coin NU yang fenomenal yaitu hampir enam juta per bulanya …”

    Adapun dalam ceramahnya KH Abd Adzim Alawi yang juga ketua PC NU kab mojokerto menekankan “kembali perlunya keyakian yang utuh / hakkul yakin dengan idielogi NU yaitu ajaran dan ajakan kebaikan yang khasanah bil hikmah sesuai perintah di Al Qur anul karim …” Lanjut beliau lagi “NU tidak hanya sekedar organisasi biasa karena NU pewaris para Nabi yang di rintis oleh mbah Hasyim Asy’ari dan jika ada pemilihan pengurus NU di semua jajaran maka kader NU tidak boleh menolak karena itu hakikatnya Mbah Hasim Asyari sendiri yang memilih ….”

    SORBANSANTRI.COM
    Sambutan Kyai Adhim

    Pelantikan pengurus Anak Ranting di pimpin langsung oleh ketua MWC NU H Khoirul Amin SE serta doa oleh Kyai Nur Aliman al Hafidz sebagai Muhktasyar MWC ….

    Wallahu a’ lam

    By : timkreatifNUcanggu/Irul infokom

  • Kisah KH.As’ad Syamsul Arifin Saat Disuruh Mbah Kholil Bangkalan ( Pada Tahun 1924 )

    Kisah KH.As’ad Syamsul Arifin Saat Disuruh Mbah Kholil Bangkalan ( Pada Tahun 1924 )

    InfokomBanserNU- Asalnya saya ini mengaji di pagi hari, dimarahi oleh kyai, karena saya tidak bisa mengucapkan huruf Ro’. Saya ini pelat (cadal). “Arrohman Arrohim…”

    Kyai marah: “Bagaimana kamu membaca al-Quran kok seperti ini? Disengaja apa tidak?!”

    “Saya tidak sengaja Kyai. Saya ini pelat.”

    Kyai kemudian keluar (Kyai Kholil melakukan sesuatu). Kemudian esok harinya pelat saya ini hilang. Ini salah satu kekeramatan Kyai yang diberikan kepada saya.

    Kedua, saya dipanggil lagi: “Mana yang cedal itu? Sudah sembuh cedalnya?”

    “Sudah Kyai.”

    “Ke sini. Besok kamu pergi ke Hasyim Asy’ari Jombang. Tahu rumahnya?”

    “Tahu.”

    “Kok tahu? Pernah mondok di sana?”

    “Tidak. Pernah sowan.”

    “Tongkat ini antarkan, berikan pada Hasyim. Ini tongkat kasihkan.”

    “Ya, kyai.”

    “Kamu punya uang?”

    “Tidak punya, kyai.”

    “Ini.”

    Saya diberikan uang Ringgit, uang perak yang bulat. Saya letakkan di kantong. Tidak saya pakai. Sampai sekarang masih ada. Tidak beranak, tapi berbuah (berkah). Beranaknya tidak ada. Kalau buahnya banyak. Saya simpan. Ini berkah. Ini buahnya.

    Setelah keesokan harinya saya mau berangkat, saya dipanggil lagi: “Ke sini kamu! Ada ongkosnya?”

    “Ada kyai.”

    “Tidak makan kamu? Tidak merokok kamu? Kamu kan suka merokok?”

    Saya dikasih lagi 1 Ringgit bulat. Saya simpan lagi. Saya sudah punya 5 Rupiah. Uang ini tidak saya apa-apakan. Masih ada sampai sekarang. Kyai keluar: “Ini (tongkat) kasihkan ya, (Kyai Kholil membaca QS. Thaha ayat 17-21):

    وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١

    “Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.”

    Karena saya ini namanya masih muda. Masih gagah. Sekarang saja sudah keriput. Gagah pakai tongkat dilihat terus sama orang-orang. Kata orang Arab Ampel: “Orang ini gila. Muda pegang tongkat.”

    Ada yang lain bilang: “Ini wali.”

    Wah macam-macam perkataan orang. Ada yang bilang gila, ada yang bilang wali. Saya tidak mau tahu, saya hanya disuruh Kyai. Wali atau tidak, gila atau tidak terserah kamu.

    Saya terus berjalan. Saya terus diolok-olok, gila. Karena masih muda pakai tongkat. Jadi perkataan orang tidak bisa diikuti. Rusak semua, yang menghina terlalu parah. Yang memuji juga keterlaluan. Wali itu, kok tahu? Jadi ini ujian. Saya diuji oleh Kyai. Saya terus jalan.

    Sampai di Tebuireng, (Kyai Hasyim bertanya): “Siapa ini?”

    “Saya, Kyai.”

    “Anak mana?”

    “Dari Madura, Kyai.”

    “Siapa namanya?”

    “As’ad.”

    “Anaknya siapa?”

    “Anaknya Maimunah dan Syamsul Arifin.”

    “Anaknya Maimunah kamu?”

    “Ya, Kyai”

    “Keponakanku kamu, Nak. Ada apa?”

    “Begini Kyai, saya disuruh Kyai (Kholil) untuk mengantar tongkat.”

    “Tongkat apa?”

    “Ini, Kyai.”

    “Sebentar, sebentar…”

    Ini orang yang sadar. Kyai ini pintar. Sadar, hadziq (cerdas). “Bagaimana ceritanya?”

    Tongkat ini tidak langsung diambil. Tapi ditanya dulu mengapa saya diberi tongkat. Saya menyampaikan ayat:

    وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١

    “Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.”

    “Alhamdulillah, Nak. Saya ingin mendirikan Jam’iyah Ulama. Saya teruskan kalau begini. Tongkat ini tongkat Nabi Musa yang diberikan Kyai Kholil kepada saya.”

    Inilah rencana mendirikan Jam’iyah Ulama. Belum ada Nahdlatul Ulama. Apa katanya? Saya belum pernah mendengar kabar berdirinya Jam’iyah Ulama. Saya tidak mengerti.

    Setelah itu saya mau pulang. “Mau pulang kamu?”

    “Ya, Kyai.”

    “Cukup uang sakunya?”

    “Cukup, Kyai.”

    “Saya cukup didoakan saja, Kyai.”

    “Ya, mari. Haturkan sama Kyai, bahwa rencana saya untuk mendirikan Jam’iyah Ulama akan diteruskan.”

    Inilah asalnya Jam’iyatul Ulama.

    Tahun 1924 akhir, saya dipanggil lagi oleh Kyai Kholil: “As’ad, ke sini! Kamu tidak lupa rumahnya Hasyim?”

    “Tidak, Kyai.”

    “Hasyim Asy’ari?”

    “Ya, Kyai.”

    “Di mana rumahnya.”

    “Tebuireng.”

    “Dari mana asalnya?”

    “Dari Keras (Jombang). Putranya Kyai Asy’ari Keras.”

    “Ya, benar. Di mana Keras?”

    “Di baratnya Seblak.”

    “Ya, kok tahu kamu?”

    “Ya, Kyai.”

    “Ini tasbih antarkan.”

    “Ya, Kyai.”

    Kemudian diberi uang 1 Ringgit dan rokok. Saya kumpulkan. Semuanya menjadi 3 Ringgit dengan yang dulu. Tidak ada yang saya pakai. Saya ingin tahu buahnya.

    Terus, pagi hari Kyai keluar dari Langgar: “Ke sini, makan dulu!”

    “Tidak, Kyai. Sudah minum wedang dan jajan,”

    “Dari mana kamu dapat?”

    “Saya beli di jalan, Kyai”

    “Jangan membeli di jalan! Jangan makan di jalan! Santri kok makan di jalan?”

    “Ya, Kyai.”

    Saya makan di jalan dimarahami. Santri kok menjual harga dirinya? Akhirnya saya ditanya: “Cukup itu?”

    “Cukup, Kyai.”

    “Tidak!”

    Diberi lagi oleh Kyai. Dikasih lagi 1 Ringgit. Saya simpan lagi. Kemudian tasbih itu dipegang ujungnya: “Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar.” Jadi Ya Jabbar 1 kali putaran tasbih. Ya Qahhar 1 kali putaran tasbih. Saya disuruh dzikir.

    “Ini.”

    Disuruh ambil. Saya tengadahkan leher saya. “Kok leher?”

    “Ya, Kyai. Tolong diletakkan di leher saya supaya tidak terjatuh.”

    “Ya, kalau begitu.”

    Jadi saya berkalung tasbih. Masih muda berkalung tasbih. Saya berjalan lagi, bertemu kembali dengan yang membicarakan saya dulu: “Ini orang yang megang tongkat itu? Wah.. Hadza majnun.” Ada yang bilang “wali”, ya seperti tadi. Jadi saya tidak menjawab. Saya tidak bicara kalau belum bertemu Kyai. Saya berpuasa. Saya tidak bicara, tidak makan, tidak merokok, karena amanatnya Kyai. Saya tidak berani berbuat apa-apa. Sebagaimana kepada Rasulullah, ini kepada guru. Saya tidak berani. Saya berpuasa. Saya tidak makan, tidak minum tidak merokok. Tidak terpakai uang saya.

    Ada yang narik: “Karcis! karcis!”

    Saya tidak ditanya. Saya pikir ini karena tasbih dan tongkat. Saya pura-pura tidur karena tidak punya karcis. Jadi selama perjalanan 2 kali saya tidak pernah membeli karcis. Mungkin karena tidak melihat saya. Ini sudah jelas keramatnya Kyai. Jadi Auliya’ itu punya karomah. Saya semakin yakin dengan karomah. Saya semakin yakin.

    Saya lalu sampai di Tebuireng, Kyai (Hasyim) tanya: “Apa itu?”

    “Saya mengantarkan tasbih.”

    “Masya Allah, Masya Allah. Saya diperhatikan betul oleh guru saya. Mana tasbihnya?”

    “Ini, Kyai.” (dengan menjulurkan leher).

    “Lho?”

    “Ini, Kyai. Tasbih ini dikalungkan oleh Kyai ke leher saya, sampai sekarang saya tidak memegangnya. Saya takut su’ul adab (tidak sopan) kepada guru. Sebab tasbih ini untuk Anda. Saya tidak akan berbuat apa-apa terhadap barang milik Anda.”

    Kemudian diambil oleh Kyai: “Apa kata Kyai?”

    “Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar.”

    “Siapa yang berani pada NU akan HANCUR.
    Siapa yang berani pada ulama akan HANCUR.” Ini dawuhnya.

    ALLAHUMMA sholli ‘alaa sayyidina muhammad wa angzilhu almaq ‘ada almuqorrobba ‘indaka yaumal qiyyamah
    wa ‘alaa aalihi wa shohbihi wa barrik wa ssalim ajma’in

    (Ansor Pejogol)

  • Hujjah Ahlissunnah Wal Jama’ah Membela Kebenaran Amaliah Nahdhiyyin

    Hujjah Ahlissunnah Wal Jama’ah Membela Kebenaran Amaliah Nahdhiyyin

    [pdf-embedder url=”https://wp.sorbansantri.com/wp-content/uploads/2020/01/Hujjah_Ahlissunnah_Wal_Jamaah_KH.pdf”]