studi tentang masa lalu, termasuk peristiwa, tokoh, budaya, dan perkembangan yang terjadi dalam suatu periode waktu tertentu. Studi sejarah mencakup penelitian, interpretasi, dan analisis terhadap sumber-sumber sejarah, seperti dokumen tertulis, artefak arkeologi, rekaman audio-visual, dan saksi mata. Tujuan dari studi sejarah adalah untuk memahami dan menggambarkan evolusi manusia, peradaban, kebudayaan, dan peristiwa yang membentuk dunia seperti yang kita kenal saat ini.
Kyai Ihsan bin Dahlan Jampes dan Kyai Ahmad abu Fadlol Senori
cyberaswaja.online- Sekitar 7-8 tahun yang lalu, saat haflah ahir sanah Pondok Pesantren Tarbiyatunnasyi’in Paculgoang Jombang, KH Maemoen Zubair disela2 tausyiahnya menuturkan bahwa di bumi nusantara ini ada beberapa ulama yg beliau kagumi, bukan semata2 karena kealimannya,tetapi juga karena keunikanya. Diantaranya :
1. Kyai Ihsan bin Dahlan Jampes. Suatu saat beliau (mbah moen) di ajak abahnya (mbah zubair) silaturrahmi ke jampes untuk tabarrukan & mengenal lebih dekat sosok mbah Ihsan, melihat kitab Sirojuttolibin karangan beliau yg begitu mendunia & begitu dikagumi banyak ulama2 nusantara hingga manca negara , tentulah beliau jg seorang kyai yg sangat mahir bebahasa arab (berdialog arab), karena itu tanpa sungkan2 mbah Zubair langsung memulai perbincangan dg berbahasa arab, tetapi mbah Ihsan selalu menyahutinya dg bahasa jawa Nggeh, nggeh yai (ya, ya yai) . . ,setelah lewat beberapa pembicaraan barulah mbah Ihsan berkata :” Ngapunten yai, ngagem boso jawi mawon, kulo niku saget maham kitab2, nanging kulo mboten saget ngendikan boso arab”. (Maaf yai, pakai bahasa jawa saja dialognya, saya itu bisa memaham kitab2 berbahasa arab, tetapi saya tidak mahir berbahasa arab).
Unik memang pengakuan beliau itu, sesuatu yg tidak lazim untuk seorang ulama yg punya karya sekaliber karya beliau, walau tidak menutup kemungkinan bahwa pengakuan itu semata hanyalah ungkapan tawadlu’ beliau.
Konon, Kyai Jazuli Ploso pun sempat keqi & heran melihat apa yg ada pada diri mbah Ihsan ini, saat beliau berdua sama2 mbalah kitab (meberikan pengajian dg membacakan kitab tertentu) di masjidil haram. Kyai Jazuli yg disamping dikenal akan keluasan ilmunya, jg sangat fasih lisannya, uraian2 beliau yg luas & menarik serta mudah dipahami membuat orang tidak pernah bosan mendengarkan pengajiannya,tetapi meski demikian, yg mengikuti pengajian beliau selalu tidak sebanyak yg mengikuti pengajian mbah Ihsan, padahal mbah Ihsan hanya membacanya saja dg ma’na ala jawa & jarang sekali menguraikan atau menjabarkannya.
2 . Kyai Ahmad abu Fadlol Senori. Karya2 beliau menunjukkan betapa luas perbendaharan kosa kata bahasa arab beliau, (mbah moen menyebutnya sang kamus berjalan), susunan & untaian bahasanya yg indah menawan,ma’na yg mendalam, serta dzauq (intuisi) bahasa arabnya yg terasa kuat mengakar. Seakan beliau seperti ulama yg sudah puluhan tahun mengenyam pendidikan di timur tengah. Padahal, jangankan bermukim di negara arab, pergi haji saja beliau belum sempat, mondokpun hanya di Tebuireng Jombang, itupun juga tidak lebih dari 7 bulan.
Mendengar cerita mbah Moen bahwa mbah Fadlol belum sempat menjalankan ibadah haji tentu semakin menambah keunikan beliau, mungkin karna beliau memang belum termasuk orang yg sudah berkewajiban menjalankan ibadah haji. Andai beliau menginginkannya, tentu masyarakat sekitar beliau atau orang2 kaya yg mengenal beliau akan berebut membantunya. Tetapi beliau bukanlah tipe orang yg memaksakan menjalankan sebuah ibadah yg belum menjadi sebuah tuntutan dalam dirinya baik tuntutan wajib ataupun sunah, karena cara yg demikian itu tentu akan bisa mengurangi nilai keihlasan dalam menjalankannya.
Dalam sejarah ulama2 kita dahulu, ternyata ada yg lebih unik lagi katimbang cerita itu, Al Qodli ibn Hani’ berkisah :
امامان ما اتفق لهما الحج، ابو اسحاق الشيرازي وقاضي القضاة ابو عبد الله الدامغان، اما ابو اسحاق فكان ففيرا، ولو اراده لحملوه على الاعناق، والاخرلو اراده لأمكنه على السندس والاستبرق.
(Ada dua Imam besar yg belum sempat menjalankan ibadah haji, yaitu imam Abu Ishaq as-Syiroziy & Qodli qudlot (gelar hakim tertinggi) Abu Abdillah Addamighoni. Imam Abu Ishaq lantaran pilihan hidup beliau sebagai orang miskin, andai beliau mau, pastilah penduduk kota Baghdad tempat beliau menetap akan berebut memberangkatkannya, Sedang Imam Abu Abdillah lantaran kesibukannya sebagai hakim tertinggi yg tidak memberinya kesempatan untuk menunaikannya).
Padahal Imam Abu Ishaq dalam kitab al MUHADZAB nya demikian luas & detail sekali penjabaran beliau terkait ritual ibadah haji yg jauh lebih lengkap dibanding buku2 panduan haji milik KBIH manapun, bak seorang yg sudah puluhan kali menjalankan ibadah haji. Dalam menjelaskan tempat2 bersejarah di tanah harampun demikian gamblang sekali,seakan beliau melihat langsung tempat2 itu & memang begitulah adanya. Dalam ktb karomatul aulia disebutkankan bahwa diantara karomah beliau, bisa melihat langsung masjidil haram dan ka’bahnya dari kediaman beliau di Baghdad.
Melihat kelebihan & keutaman beliau2 semua, tidak menutup kemungkinan jika beliau2 sebenarnya sudah menunaikan ibadah haji meski tidak melalui cara2 yg biasa ditempuh oleh manusia pada umumnya walau secara lahiriah mereka terlihat belum melakukannya, Atau paling tidak, beliau2 itu semua sudah dicatat oleh Alloh swt sebagai hamba2 yg sudah menjalankan ibadah haji yg jauh melebihi derajat orang2 yg sudah berulang kali menjalankan ibadah haji sekalipun. Wallohu A’lam.
اعاد الله علينا من بركاتهم وكرامتهم واسرارهم وشفاعتهم في الدنيا والاخرة آمين.
cyberaswaja.online- Tahun 1993 aku bermimpi berlutut di kaki Rasulullah saw, menangis rindu tak kuat untuk ingin jumpa. Maka Sang Nabi saw menepuk pundakku, “Tenang dan sabarlah.. . sebelum usiamu mencapai 40 tahun kau sudah kumpul bersamaku.”
AlHabib Mundzir AlMusawa : Aku teringat mimpiku beberapa minggu yang lalu. Aku berdiri dengan pakaian lusuh bagai kuli yang bekerja sepanjang hari, di hadapanku Rasulullah saw berdiri di pintu kemah besar dan megah, seraya bersabda, “Semua orang tak tega melihat kau kelelahan wahai Munzir, aku lebih tak tega lagi… kembalilah padaku, masuklah kedalam kemahku dan istirahatlah….”
Kujenguk dalam kemah mewah itu ada Guru Mulia (Habib Umar bin Hafidz) seraya berkata, “Kalau aku bisa keluar dan masuk ke sini kapan saja, tapi Engkau wahai Munzir jika masuk kemah ini kau tak akan kembali ke dunia.”
Maka Rasulullah saw terus mengajakku masuk, “Masuklah… kau sudah kelelahan… kau tak punya rumah di dunia (memang saya hingga saat ini masih belum punya rumah). Tak ada rumah untukmu di dunia, karena rumahmu adalah di sini bersamaku… serumah denganku… seatapdenganku…. makan dan minum
bersamaku…. masuklah!”
Lalu aku berkata, “Lalu bagaimana dengan Fatah Jakarta? (Fatah tegaknya panji kedamaian Rasulullah saw).”
Maka beberapa orang menjawab di belakangku, “Wafatmu akan membangkit kan ribuan hati untuk
meneruskan cita-citamu…! Masuklah…!”
Lalu malaikat Izrail as. menggenggamku dari belakang, ia memegang dua pundakku, terasa seluruh uratku sudah digenggamannya, seraya berkata, “Mari… ku antar kau masuk… mari…”
Maka kutepis tangannnya dan aku berkata, “Saya masih mau membantu Guru Mulia saya.”
Maka Rasulullah saw memerintahkan Izrail as untuk melepaskanku. Aku terbangun…. Semalam ketika aku rebah dalam kegelapan kulihat dua tamu bertubuh cahaya, namun wajahnya tidak bertentuk kecuali hanya cahaya. Ia memperkenalkan bahwa ia adalah Izrail as. Kukatakan padanya, “Belum… belum… aku masih ingin bakti pada Guru Muliaku… pergilah dulu!” Maka ia pun menghilang raib begitu saja. Tahun 1993 aku bermimpi berlutut di kaki Rasulullah saw, menangis rindu tak kuat untuk ingin jumpa. Maka Sang Nabi saw menepuk pundakku, “Tenang dan sabarlah.. . sebelum usiamu mencapai 40 tahun kau sudah kumpul bersamaku.” Usia saya kini 39 tahun pada 23 Februari 1973. Peradangan otak ini adalah penyakit terakhirku. Aku senang wafat dengan penyakit ini, karena Rasulullah saw beberapa bulan sebelum wafatnya terus mengeluhkan sakit kepala. Salam rinduku untuk kalian semua jamaah Majelis Rasulullah saw kelak, jika terjadi sesuatu padaku maka teruskan perjuanganku… ampuni kesalahanku… kita akan jumpa kelak dengan perjumpaan yang abadi…
Amiin
Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairoh bahwa Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang melihatku disaat tidur maka seakan-akan dia melihatku pada saat terjaga dan setan tidaklah dapat menyerupaiku.” (HR. Bukhori)
Juga hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang melihatku disaat tidur maka sungguh dia telah melihatku. Sesungguhnya setan tidak bisa menyerupaiku.”(HR, Tirimidzi, dia berkata ini adalah hadits hasan shahih). (abi sorban)
cyberaswaja.online – Safinah Ra. adalah seorang pembantu dirumah Rasulullah Saw. Suatu hari ia mengadakan perjalanan yang lumayan cukup jauh, sebab untuk sampai ketempat itu selain menggunakan kendaraan unta, Safinah juga harus menggunakan kapal laut. Setelah ia tiba dipelabuhan kapal, Safinah langsung naik kapal yang akan membawanya ketempat yang ia tuju. Tak lama kemudian kapalpun berangkat meninggalkan pelabuhan.
Setelah berada dikapal cukup lama, waktu cuaca sangat bersahabat, dengan dihiasi pemandangan yang indah dan tiupan angin sepoi-sepoi. Sebuah perjalanan yang sungguh mengasyikkan Safinah waktu itu. Tak lama kemudian secara tiba-tiba Safinah terbangun dari tidurnya karena mendengas suara gaduh yang mengusik tidurnya. Ternyata orang-orang yang berada dalam kapal sedang panik, karena kapal telah diterjang ombak yang tingginya setinggi bukit, langit menjadi gelap dan angin bertiup dengan sangat kencang yang disertai hujan yang lebat dengan diiringi suara petir yang menggelegar. Tidak disangka cuaca yang tadinya bersahabat berubah menjadi garang dan mengerikan. Keadaan itulah orang-orang yang berada didalam kapal berteriak ketakutan karena panik.
Pembantu Rasulullah inipun tak tahu harus bagaimana dan tidak pula tahu apa yang harus ia lakukan karena kapal terombang-ambing diterjang badai ombak yang besar. Kapal pun mulai mengalami kebocoran disana-sini. Safinah kemudian pasrah atas kehendak Allah Swt. apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia berdoa memohon pertolongan Allah Swt. atas bencana itu.
Kajadian yang tidak diharapkan pun terjadi, kapal yang tumpangi Safinah inipun pecah diterjang ombak yang besar dan kuat. Kapal pun terbelah. Safinah kemudian tenggelam, kemudian berenang kepermukanan air laut dan mendapati sebauh papan kapal yang pecah itu digunakannya untuk berpegangan. Safinah pun hanyut mengikuti derasnya arus air yang bergelombang. Tentunya hal itu tidak mudah ia lakukan, karena tangannya yang terluka yang sudah pasti perih dan sakit lantaran sesekali dihempas oleh ombak, tetapi ia terus berusaha berpegang dengan papan itu dengan harapan agar selamat dan sampat ketepi pantai.
Sampai akhirnya Safinah terdampar disebuah pulau yang berhutan sangat lebat. Ia pun bersyukur diberi keselamatan oleh Allah Swt. dan mendapat keberuntungan saat kapal pecah akibat terjangan ombak yang besar. Setelah berhasil menemukan air tawar di sebuah sungai, ia menyelusuri air sungai untuk mencari perkampungan. Namun ditengah perjalanan ada ada seekor Harimau menghadang, ia terlihat sedang lapar yang seolah-olah siap menerkam Safinah. Safinah mencoba tetap tenang, sebab ketakutan akan menyebabkan hewan yang buas itu akan lebih ganas dan beringas.
Lalu Safinah berkata kepada Harimau itu:
“Wahai harimau, aku adalah pelayan Rasulullah Saw.,”
Perkataan itu meluncur dari mulutnya tanpa disadarinya. Safinah seperti mendapat ilham dari Allah Swt. Tanpa disangka harimau itu kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya, seakan harimau itu mengerti dengan apa yang telah diucapkan Safinah kepadanya. Harimau itu mendekat dan ketika berada didepan Safinah, harimau itu kemudian menunduk menurunkan punggungnya agar Safinah menaikinya.
Safinah yakin bahwa binatang ini tidak akan membahayakannya, lantas ia memberanikan diri untuk menaiki punggung harimau itu. Ternyata keyakinannya benar bahwa binatang itu bersahabat. harimau itu kemudian berjalan pelan membawa kesebuat tempat yang biasa dilalui orang. Setelah sampai harimau itu kemudian pergi meninggalkan Safinah dengan disertai suara auman harimau itu seperti mengucapkan selamat jalan kepada Safinah dan dijawab olehnya dengan ucapan terimah kasih dan doa keselamatan dari Allah Swt.
HIKMAH DIBALIK KISAH
Kisah safinah adalah sebuah kisah dari sebagian hamba Allah yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt. Menyerahkan semua hidupnya atas kehendak Allah Swt. Sabar dalam menghadapi cobaan, senantiasa bertawakal diiringi dengan usaha dan doa, maka sesulit apapun keadaan yang kita hadapi akan terasa mudah kita selesaikan, karena yakin Allah Swt adalah Tuhan kita dan yakin sepenuh hati Bahwa Dia akan menolong kita. Benar nggak sahabat Muslim. Subhanallah
Semoga kisah ini dapat menjadikan sebuah pelajaran yang baik untuk kita semua. Alhamdulillahi Robbil ‘alamin. Amin. (abi sorban)
cyberaswaja.online – Film berdurasi 54 menit 45 detik ini merupakan Film Dokumenter Nahdlatul Ulama (NU) dan Sejarah Kebangsaan. Film ini mengungkap sejarah-sejarah yang terhapus dan perjalanan Nahdlatul Ulama sejak sebelum berdirinya hingga masa kini.
Narasumber dalam film dokumenter yang dipersembahkan oleh Yayasan Ircos Jakarta dan Yayasan 135 ini, antara lain :
1. KH. A. Musthofa Bisri
2. Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirodj, MA.
3. KH. Muchitz Muzadi
4. Yenni Wahid, MA
5. KH. Hasyim Muzadi
6. Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD, MH, MU
7. Ir. KH. Salahuddin Wahid
8. Dr. Andree Feillard
[su_youtube url=”https://youtu.be/bOgkegxuUcM”]
Film dokumenter ini sangat penting untuk ditonton oleh seluruh warga NU khususnya, masyarakat Indonesia pada umumnya. Sebab pentingnya sejarah Indonesia sertai kaitannya dengan organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia, yakni Nahdlatul Ulama.
Sayangnya, dalam video itu keliru mencantumkan logo NU. Didalam video ini terdapat logo “NU Salah” pada menit ke 02:12 yang memang banyak beredar di internet, bahkan tak jarang digunakan oleh sebagian warga NU yang kurang teliti menggunakan logo NU. (abi-sorban)
Pada suatu malam, ada seorang warga desa karangpoh yang bermimpi disuruh membersihkan tempat pembuangan sampah, keesokan harinya, warga itupun membersihkan sampah dan menebangi suket / rumput. Warga tersebut menemukan makam kuno tidak hanya satu, tapi 9 makam yang selama ini tertimbun dlm tumpukan sampah. Salah satu makam itulah yang kemudian dipercaya warga setempat sebagai makam Mbah Buyut Biting.
Ada yang mengatakan bahwa Buyut Biting ini satu generasi dengan Sunan Giri VI dan Buyut Senggulu di Desa Terate atau pada saat pemerintahan Panembahan Mas Witono. Beliau mengabdi pada Sunan Giri VI, bahkan ketika Sunan Giri sedang tidur, Beliau selalu menjaga agar jangan sampai ada nyamuk yang mengganggu tidurnya. Beliau menjaga Panembahan Mas Witono dalam tidurnya dengan cara membawa biting untuk menghalau nyamuk yang mengganggu. Karena hal itulah, Beliau disebut sebagai Buyut Biting.
Memang banyak versi yang beredar di masyarakat sekitar karangpoh tentang Buyut Biting. Meski demikian mereka tetap mengangap bahwa makam aulia yang berada di sekitar kampung harus dijaga dan dirawat demi menjaga kearifan budaya lokal.
Lokasi makam yang terletak di Jl. Abdul Karim Gang 9, RT 07, RW 01, Desa Karangpoh, kecamatan Gresik itu juga termasuk makam aulia? Lantas, siapakah Buyut Biting itu? Memang data tertulis mengenai makam Mbah Buyut Biting belum diketemukan sehingga kita masih terus mencari data2 pendukung. (M.Ha)
SORBAN Infokom –Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Dan ceritakanlah (Muḥammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Ādam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Hābīl) diterima dan dari yang lain (Qābīl) tidak diterima. Dia (Qābīl) berkata: “Sungguh, aku pasti membunuhmu!” Dia (Hābil) berkata: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (‘amal) dari orang yang bertaqwa”. “Sungguh, jika engkau (Qābīl) menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Rabb seluruh alam.” “Sesungguhnya aku ingin agar engkau kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka engkau akan menjadi penghuni neraka; dan itulah balasan bagi orang yang zhalim.” Maka nafsu (Qābīl) mendorongnya untuk membunuh saudaranya, kemudian dia pun (benar-benar) membunuhnya, maka jadilah dia termasuk orang yang rugi. Kemudian Allah mengutus seekor burung gagak menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya (Qābīl) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Qābīl berkata: “Oh, celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Maka jadilah dia termasuk orang yang menyesal.” (QS. al-Mā’idah [5]: 27-31).
Kami telah menyebutkan kisah yang disebutkan ayat tersebut di dalam at-Tafsīr, dan kami anggap cukup; sehingga tidak perlu disebutkan kembali dalam pembahasan ini. (1321) Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah semata.
Di sini kami hanya akan menyebutkan kesimpulan penjelasan yang telah disebutkan oleh para ulama’ salaf. As-Suddī meriwayatkan dari Abū Mālik dan Abū Shāliḥ, dari Ibnu ‘Abbās. Dan dari Murrah yang bersumber pada Ibnu Mas‘ūd, juga dari sekelompok shahabat, bahwasanya Ādam menikahkan anak laki-laki yang dilahirkan dari satu proses kehamilan dengan anak perempuan yang dilahirkan dari proses kehamilan yang lain. Maka dari itu, Hābīl ingin menikahi saudari Qābīl. Qābīl lebih besar dari Hābīl, dan saudarinya lebih cantik dari saudari Hābīl. Karena Qābīl juga memendam rasa terhadap saudarinya; dan tidak ingin menyerahkannya kepada Hābīl, maka ketika Ādam memerintahkan Qābīl untuk menikahkan Hābīl dengan saudarinya, dia menolak perintah ayahnya.
(Sebagai jalan tengahnya), Ādam memerintahkan mereka berdua agar mempersembahkan sebuah qurban. Setelah itu Ādam pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Saat itu, Ādam meminta langit untuk menjaga anak-anaknya, namun langit menolak permintaannya. Demikian juga dengan bumi dan gunung-gunung; mereka menolak permintaan Ādam untuk menjaga anak-anaknya. Di saat yang sama. Qābīl justru menerima permintaan tersebut.
Tatkala Ādam pergi, mereka berdua (Qābīl dan Hābīl) mulai mempersembahkan kurbannya. Hābīl berqurban dengan unta betina yang gemuk, padahal dia memiliki kambing. Sedangkan Qābīl berqurban dengan seikat padi yang sangat buruk bijinya. Lalu api turun dari langit dan memakan qurban yang dipersembahkan oleh Hābīl, dan membiarkan qurban yang dipersembahkan oleh Qābīl. Qābīl pun marah seraya berkata: “Wahai Hābīl, aku akan membunuhmu sehingga engkau tidak menikahi saudariku.” Hābīl menjawab: “Sesungguhnya Allah hanya akan menerima (qurban) yang dipersembahkan oleh orang-orang yang bertaqwa.” (1332).
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dari jalur yang lain, (1343) dari ‘Abdullāh bin ‘Amru, dia berkata: “Demi Allah, sebenarnya yang terbunuh itu (Hābīl) adalah lebih kuat dari yang membunuh (Qābīl). Namun perasaan berdosa menghalangi tangannya untuk membalasnya.” (1354).
Abu Ja‘far al-Baqir menyebutkan bahwa Adam memerintahkan Hābīl dan Qābīl untuk berqurban. Dan yang dikabulkan (oleh Allah) adalah qurban yang dipersembahkan oleh Hābīl, bukan Qābīl. Lalu Qābīl berkata kepada Ādam: “Qurban Hābīl diterima karena engkau mendoakannya, dan tidak mendoakan diriku.” Akhirnya, Qābīl mengancam saudaranya; Hābīl.
Suatu malam, Hābīl terlambat pulang dalam mengembala hewan ternaknya. Maka dari itu, Ādam mengutus Qābīl untuk menemui saudaranya tersebut. Ketika Qābīl pergi menemui saudaranya, dia berkata kepadanya: “Mengapa hanya qurbanmu yang diqabulkan, sedangkan qurban yang aku persembahkan tidak diterima?” Hābīl menjawab: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertaqwa.” Mendengar jawaban itu, Qābīl pun marah dan memukul saudaranya dengan besi yang dia pegang, hingga saudaranya tewas.
Ada yang berpendapat bahwa Qābīl membunuh saudaranya dengan batu besar yang ia timpakan ke kepala saudaranya yang tengah tidur. Pendapat lain mengatakan Qābīl mencekik Hābīl dengan cekikan yang sangat keras dan menggigitnya sebagaimana yang dilakukan oleh binatang buas hingga dia meninggal dunia. Wallāhu a‘lam.
Saat diancam bunuh oleh saudaranya, Hābīl menjawab: “Sungguh, jika engkau (Qābīl) menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Rabb seluruh alam.” (QS. al-Mā’idah [5]: 28), menunjukkan akhlak yang baik, rasa khawatir dan takut kepada Allah ‘azza wa jalla, dan sebagai perbuatan wara‘ untuk tidak membalas perbuatan buruk yang dilakukan oleh saudaranya terhadap dirinya dengan keburukan yang setimpal.
Oleh sebab itu, di dalam shahih al-Bukhārī dan Muslim (1365) disebutkan hadits dari Rasūlullāh s.a.w. bahwa beliau bersabda: “Jika dua muslim berhadap-hadapan dengan kedua pedangnya, maka keduanya sama-sama masuk neraka.” Maka para shahabat bertanya: “Kalau yang membunuh sudah maklum. Lantas, bagaimana bisa yang dibunuh juga demikian?” Nabi s.a.w. menjawab: “Karena dia juga berkehendak membunuh saudaranya.”
“Sesungguhnya aku ingin agar engkau kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka engkau akan menjadi penghuni neraka; dan itulah balasan bagi orang yang zhalim.” Yakni, saya (Hābīl) tidak ingin membalas untuk membunuhmu meskipun aku lebih kuat dan lebih pemberani dibandingkan dirimu. Apabila dirimu melakukan apa yang kamu inginkan , tentulah engkau akan kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri. Yakni menanggung dosa karena telah membunuhku, dan dosa-dosa yang telah engkau lakukan sebelumnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Mujāhid, as-Suddī, Ibnu Jarīr, dan yang lainnya.
Maksudnya, bukanlah berarti dosa-dosa orang yang terbunuh akan dibebankan kepada pembunuhnya; sebagaimana anggapan sebagian orang. Dan Ibnu Jarīr telah menyebutkan ijma‘ yang menyelisihi pendapat tersebut. (1376).
Adapun hadits yang diriwayatkan oleh sebagian orang yang tidak dikenal, menyatakan bahwa Nabi s.a.w. pernah bersabda: “Tidak ada yang ditinggalkan oleh pembunuh bagi orang yang dibunuhnya, kecuali dosa.” Sesungguhnya hadits tersebut tidak ada dasarnya, dan tidak dikenal di dalam kitab-kitab hadits dengan sanad yang shaḥīḥ, ḥasan, atau dha‘īf sekalipun. (1387) Akan tetapi sebagian orang berpendapat bahwa, pada hari kiamat kelak orang yang terbunuh akan menuntut pembunuhnya. Sehingga ketika kebaikan orang yang membunuhnya tersebut telah habis karena kezhaliman yang dilakukannya, maka keburukan-keburukan orang yang terbunuh akan dibebankan kepadanya, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits shahih tentang akibat segala bentuk kezhaliman. (1398) Dan pembunuhan adalah bentuk kezhaliman yang paling besar. Wallāhu a‘lam. Hal itu semua telah kami sebutkan di dalam pembahasan tafsir. (1409) Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah semata.
Imām Aḥamd (14110), Abū Dāūd, dan at-Tirmidzī meriwayatkan dari Sa‘ad bin Abī Waqqāsh, dia berkata ketika terjadi pembunuhan ‘Utsmān bin ‘Affān: “Saya bersaksi bahwa Rasūlullāh s.a.w. pernah bersabda: “Kelak akan timbul suatu fitnah. Orang yang duduk saat itu lebih baik dari orang yang berdiri. Orang yang berdiri lebih baik dari orang yang berjalan. Dan orang yang berjalan lebih baik dari orang yang berlari kecil.” Kemudian Abū Sa‘īd bertanya: “Bagaimana menurut anda apabila ada seseorang yang masuk ke rumahku dan dia membentangkan tangannya kepadaku untuk membunuhku?” Rasūlullāh s.a.w. menjawab: “Jadilah seperti putra Ādam”.” Sedangkan Imām Muslim dan ahli sunan kecuali an-Nasā’ī meriwayatkan hadits serupa dari Abū Dzarr. (14211).
Ibnu Mardawaih (14312) meriwayatkan hadits tersebut dari Ḥudzaifah ibn-ul-Yaman secara marfū‘ dengan redaksi: “Jadilah yang terbaik dari kedua anak Ādam.”
Imām Aḥmad juga berkata: (14413) Telah menceritakan kepada kami Abū Mu‘āwiyah dan Wakī‘, telah menceritakan kepada kami al-A‘masy, dari ‘Abdullāh bin Murrah, dari Masrūq, dari Ibnu Mas‘ūd, dia berkata bahwa Rasūlullāh s.a.w. bersabda:
“Tidaklah seorang jiwa dibunuh secara zhalim, melainkan anak Adam yang pertama ikut menanggung dosanya. Karena dialah orang pertama yang memberi contoh pembunuhan.”
Hadits itu diriwayatkan oleh al-Jamā‘ah (14514) selain Abū Dāūd melalui jalur al-A‘masy. Hadits serupa juga diriwayatkan dari ‘Abdullāh bin ‘Amru bin al-‘Āsh dan Ibrāhīm an-Nakha‘ī. (14615).
Di atas gunung Qasiun; yang terletak di sebelah utara Damaskus terdapat sebuah gua yang bernama gua darah. Gua itu dikenal sebagai tempat di mana Qābīl membunuh saudaranya; Hābīl. Sebagaimana yang mereka nukil dari Ahli Kitāb. Wallāhu a‘lam.
Al-Ḥāfizh Ibnu ‘Asākir (14716) menyebutkan sebuah keterangan di dalam tarjamah Aḥmad bin Katsīr – dia menuturkan bahwa Aḥmad bin Katsīr termasuk orang shalih – , bahwasanya dia bermimpi melihat Nabi s.a.w., Abū Bakar, ‘Umar bin Khaththāb, dan Hābīl. Lalu orang tersebut meminta Hābīl bersumpah bahwa ini adalah darahnya, dan Hābīl pun bersumpah; memenuhi permintaannya. Disebutkan pula bahwa Hābīl memohon kepada Allah agar menjadikan tempat tersebut sebagai tempat dikabulkannya doa, kemudian Allah mengabulkan permohonannya Hābīl, Abū Bakar, dan ‘Umar bin Khaththāb mendatangi tempat ini setiap hari Khamis.” Seandainya mimpi tersebut benar berasal dari Aḥmad bin Katsīr, maka hal itu tetap tidak memenuhi ketetapan hukum syar‘i. Wallāhu a‘lam. ( sorban-abi)
SORBAN Infokom- Syekh Abdul Qadir Al-Jailani adalah sosok ulama besar yang dikenang sepanjang masa. Karomah-karomahnya sangat masyhur, apalagi beliau dikenal sebagai rajanya para wali (Sulthonul Aulia’). Syekh Abdul Qadir Al-Jailani juga meninggalkan banyak karya yang sampai sekarang dikaji di seluruh dunia. Karya-karyanya menjadi referensi utama dalam ilmu tasawuf.
Di tengah kondisi wabah penyakit mematikan saat ini, sosok Syekh Abdul Qadir Al-Jailani juga menjadi rujukan tawasul para ulama dan umat Islam ketika meminta pertolongan dari Allah SWT. Namanya selalu dikenang dalam berbagai majlis taklim, majlis mujahadah, majlis ilmu, dan lainnya.
Dalam Kitab Tafrihul Khotirfi Mananaqibi Sayyid Abdul Qodir, dijelaskan bahwa Syekh Abdul Qadir Al-Jailani pernah menyembuhkan orang-orang yang terjangkit wabah Thaun yaitu suatu penyakit menular yang mematikan.
Saat itu, wabah penyakit Thaun sangat mematikan, bahkan sampai ada ribuan manusia yang meninggal setiap harinya. Di tengah kondisi itu, maka para ulama, petinggi pemerintah dan orang-orang terhormat menghadap kepada tuan syekh mereka memohon untuk menolak wabah penyakit tersebut.
“Barang siapa orang yang memakan rerumputan madrasahku niscaya akan disembuhkan Allah dari thaun,” kata Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.
Kemudian orang-orang mengambil dan memakan rumput itu sehingga rerumputan itu tidak mencukupinya.
“Barang siapa yang meminum air madrasahku niscaya disembuhkan Allah dari thaun,” lanjut Syekh Abdul Qadir.
Kemudian orang-orang meminum air itu, hingga hilang wabah thaun dengan izin Allah.
Dengan tawasul kita kepada beliau mudah-mudahan wabah penyakit yang ada pada zaman kita ini segera dihilangkan dengan izin Allah. Aamiin. (red.abi)
SORBAN Infokom – Memajang foto guru mulia dan orang shalih adalah hal mulia, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam : Maukah kuberitahu orang – orang mulia diantara kalian?, mereka yang jika dipandang wajahnya akan membuat orang ingat pada Allah. (HR. Adabul Mufrad olehImam Bukhari)
Mengenai larangan memasang lukisan di masa Nabi shallallahu alaihi wasallam, yang para kuffar menggambar para shalihin dan Nabi di masanya dahulu, dilarang oleh Rasululullah shallallahu alaihi wasallam, karena disembah, namun jika justru untuk menambah ketakwaan kita pada Allah Ta’ala maka hal itu baik, dan diriwayatkan oleh Hujjatul islam Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy bahwa salah seorang istri Nabi shallallahu alaihi wasallam memperlihatkan cermin kecil, ketika Ibn Abbas radliyallahu anhu melihatnya maka cermin itu tak menampakkan wajahnya, tapi menampakkan wajah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Rasul shallallahu alaihi wasallam pernah berkaca dengan cermin itu, maka cermin itu merekam wajah Sang Nabi shallallahu alaihi wasallam dan tak hilang selamanya (Fathul Baari Bisyarah Shahih Bukhari). (red.abi)
SORBAN Infokom –Setelah pandemi Covid-19, banyak sahabat FB, terutama dari kalangan santri NU, yang menuliskan semacam doa berbentuk syair yang dilantunkan berulang-ulang. Konon syair singkat di bawah ini adalah ijazah dari Hadlratus-Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, salah seorang pendiri organisasi Nahdlatul Ulama.
لي خمسة أطفي بها حر الوباء الحاطمة
المصطفى والمرتضى وابناهما وفاطمة
Saat saya membacanya berulangkali, hati saya terus menerus bertanya, dari manakah asal usul doa itu?
Alhamdulillah, saat saya menelaah sebuah kitab setebal 440 halaman berjudul الملاحق في فقه دعوة النور, karya al-Syaikh Sa’id al-Nursi, secara tak sengaja saya mendapatkan jawabannya.
Pada halaman 81 dalam kitab tersebut antara lain tertulis kalimat sebagai berikut:
وقد قال أحد الفاضلين للإستشفاء والإستشفاع:
لي خمسة أطفي بها نار الوباء الحاطمة
المصطفى والمرتضى وابناهما وفاطمة
Selanjutnya setelah kalimat di atas di bawah footnote tertulis kalimat yang menunjukkan referensi syair di atas, yaitu sebagai berikut:
ورد في مجموعة الأحزاب للكمشخانوي جزء ٢ ص ٥٠٥ في دعاء دفع الطاعون. وفيه : لي خمسة أطفي بها حر الوباء ٠٠٠. الخ.
Kitab di atas lengkapnya berjudul مجموعة الأحزاب الشاذلية adalah sekumpulan hizb yang disusun oleh al-Quthb Abi al-Hasan al-Syadzili yang dikumpulkan oleh al-Syaikh Dliya’ al-Din Ahmad bin Musthafa bin Abdurrahman al-Kamsyakhanawi al-Naqsabandi al-Mujaddidi al-Khalidi (wafat: 1311 H.)
Pernah seorang Arab Badwi menarik dengan begitu kasar jubah buatan Najran yang kasar kainnya, yang dipakai oleh Rasulullah SAW hingga berbekas leher baginda. Tetapi Rasulullah SAW tidak marah, malah menghadiahkan jubah itu kepada Arab Badwi tersebut.