Tag: banser

  • Kepala Densus 99 Pusat Hadir Haul 19 Riyanto

    Kepala Densus 99 Pusat Hadir Haul 19 Riyanto

    Cyberaswaja.online. Mojokerto, tepat Haul 19 Alm. Riyanto pahlawan Banser, dihadiri Oleh Ka Densus 99 Sahabat Nuruzzaman. Dalam agenda Seminar Nasional dengan tema “kontra radikalisme dan masa depan Bhineka Tunggal Ika”, bertempat di Balai kota Mojokerto, kegiatan tersebut mendapatkan antusiasme dari kader GP Ansor, Banser dalam mengikuti kegiatan Seminar Nasional tersebut (14/12).Seminar Nasional juga menghadirkan, Pendeta Pdt. Brahim Kharimatus, M.Div.M.Th, Dari Satgas Anti-Teror Polri BPK. DR. Didik Nobi Rahmanto, hadir juga BPK. AKBP. Bogiek Sugiyarto, S.H, S.I.K, M.H selaku Kapolres Mojokerto kota.

    SORBANSANTRI.COM
    Kasatkorcab Banser Mojokerto

    Selain tokoh tokoh diatas, dihadiri Dari Keluarga Alm. Riyanto, Serta Saksi Hidup Kejadian BOM Natal tahun 2000. Serta Pengurus GP Ansor dan Satkorcab Banser Kabupaten Mojokerto.Sejarah mencatat kepahlawan Alm. Riyanto Sebagai Banser hasil dari didikan kyai, yang selalu menjaga Pentingnya Bhineka Tuggal Ika.(WakGenk/infokom)

  • TURBA SEORANG ULAMA “Disipilin Jam’iyah ala Kyai Nawawi”

    TURBA SEORANG ULAMA “Disipilin Jam’iyah ala Kyai Nawawi”

    Ada sebuah artikel yang ditulis oleh KH. Wahid Hasyim yang judulnya “Mengapa Saya Memilih NU”. Isi tulisannya tentang rasionalisasi pilihan terhadap organisasi para kyai itu. Setelah memaparkan kelemahannya dimana NU ditempatkan sebagai organ non-radikal serta tidak cukup memiliki intelektual maka beliau menyatakan bila keunggulan NU ada di faktor Ulama-nya dan ketegasannya terhadap anggota.

    Dari sisi ketegasan, Kyai Wahid menyatakan NU “streng”, terlampau “keras” didalam tuntutannya pada anggota. Keras dalam lingkup kewajiban agama. Tiap anggota NU harus “beres” sembahyangnya, jum’atannya, puasa dan lain kewajiban agamanya. NU didalam hal kehidupan “prive” anggotanya mempunyai ukuran yang berat.

    Seorang anggota NU bisa dipecat jika dinilai melanggar norma agama, melakukan perbuatan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Mereka yang dipecat akan ditarik kartu anggotanya serta diumumkan pada khalayak. Dengan demikian jika seseorang dipecat sama artinya dia mendapatkan sanksi sosial.

    Pengurus NU Mojokerto terbentuk tahun 1928 atau dua tahun setelah dideklarasikan sebagai organisasi para ulama. KH Zainal Alim Suronatan terpilih sebagai ketua syuriyah saat itu. KH Nawawi ditetapkan sebagai salah satu wakilnya. Komposisi itu mirip dengan duet Mbah Hasyim dan Mbah Wahab. Mbah Hasyim sebagai penjaga moral dan Mbah Wahab selaku operator lapangan. Di Mojokerto, Kyai Zainal Alim yang memang dikenal alim didampingi pekerja keras pada diri Kyai Nawawi. Dalam menjalankan organisasi, Kyai Nawawi lebih suka berprinsip “sepi ing pamrih rame ing gawe”. Tidak ingin terlalu menyukai popularitas dan bekerja secara diam. Konsep itu beliau lakukan dengan turun langsung ke bawah atau kring, sebutan untuk pengurus ranting atau desa pada masa lalu. Turba itu dijalankannya sendiri untuk meninjau kondisi pengurus NU, biasanya dengan mengendarai dokar.

    Pada suatu hari, Kyai Nawawi mengunjungi Kring Modopuro Mojosari. Sesampainya di rumah ketua NU setempat kebetulan empunya rumah sedang tidak ada. Maka Kyai Nawawi memutuskan untuk menunggu. Setelah tuan rumah pulang ditanya dari mana dan dijawab baru pulang dari warung. Kyai Nawawi selanjutnya meminta buku organisasi yang dibawanya. Setelah itu beliau menyatakan jika tuan rumah dipecat sebagai anggota NU karena telah melakukan perbuatan yang tidak terpuji, yaitu siang hari nongkrong di warung.

    Mengapa demikan ? Untuk menjelaskan hai itu harus ditarik pada kondisi sosiokutur dan sosiopolitik yang diambil NU saat itu. NU sedang berhadapan dengan kelompok Islam modernis yang ingin menghabisi Amaliyah ala kaum Nahdliyyin. Karena itu NU wajib menjaga disiplin dan moral anggotanya agar tetap memiliki semangat “satu barisan”, Kedua. NU juga berupaya menciptakan identitasnya yang tentu berbeda dengan indentitas kelompok lainya dengan jargon “man tashabbaha bi qaumin fahua minhum”. Ketiga, NU melihat saat itu budaya “marung” merupakan bagian dari identitas kolonial yang suka menghamburkan uang di tempat makan-minum atau berfoya-foya

    Betapa kerasnya aturan organisasi ketika itu. Sementara saya setiap hari nongkrong di warung kopi.

    Sidowangun, 3 Juli 2015

    SORBANSANTRI.COM

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanfiq

  • OPTIMASI INFOKOM BANSER PC MOJOKERTO

    OPTIMASI INFOKOM BANSER PC MOJOKERTO

    SORBANSANTRI.COMDiiringi hujan lebat dan angin tidak mematahkan semangat bagi sahabat-sahabat Banser untuk update informasi tehnolagi….

  • Cara menghadapi tanggapan buruk mengenai status di sosmed

    Cara menghadapi tanggapan buruk mengenai status di sosmed

    InfokomBanserNU-Jangan mudah terprovokasi dengan tanggapan diinternet seperti gambar ini. karena hal seperti ini bisa terindex mesin pencarian, akibatnya bisa terindex jelek di internet.
    Kita manfaatin hastag (#) untuk identifikasi dan memasukkan mereka pada database hastag tersebut.

    SORBANSANTRI.COM
    salah satu contoh tanggapan buruk tentang banser


    Tujuannya jika ada orang yang terkena hastag, akan lebih mudah pengelompokan data buat zona hastag tersebut.
    catatan : BUKANKAH TAG ADALAH YANG PALING PENTING BUAT SEO AGAR MUDAH DI IDENTIFIKASI MESIN PENCARIAN? CONTOHNYA GOOGLE