Organisasi atau jam’iyah nahdlatul ulama’ (NU) di dirikan pada tanggal 31 januari 1926, saat ini usianya sudah memasuki ke 96 tahun, Banser merupakan pasukan yang bertugas mengawal dan menjaga para kyai dan ulama’ serta berperan penting menjaga kesatuan NKRI kususnya kepada warga Nahdiyin, Harlah NU yang ke 96 kali mengambil tema “ KEMANDIRIAN DALAM BERKHIDMAT UNTUK PERADABAN DUNIA”
Satkoryon BANSER kecamatan ngoro kabupaten Mojokerto pada hari minggu (30/01/2022) mengadakan apel upacara dalam rangka memperingati harlah NU ke 96 tahun di pantai gemah tulungagung, pada upacara kali ini yang menjadi inspektur upacara adalah ketua PAC GP ANSOR kecamatan ngoro.
Sahabat Saufi selaku ketua PAC GP ANSOR kecamatan ngoro selaku inspektur upacara mengatakan di hadapan para kader Ansor Banser yang ikut apel ‘ kita sebagai pasukan yang bertugas menjaga dan boleh di bilang sebagai benteng ulama’, kita harus rela berkorban apa saja demi menjaga warwah NU, kekompakan dan kesolitan kita adalah kuncinya, kita sebagai anggota Ansor Banser harus siap bila mendapatkan tugas dari para kyai dan ulama’ lebih lebih kepada jam’iyah Nahdlatul ulama’
Di akhir sambutannya beliau menegaskan Satkoryon Banser kecamatan ngoro adalah pusat basisnya banser se kabupaten mojokerto dan sudah banyak yang menjadi perwira maka sudah selayaknya bisa menjadi contoh tauladan kepada anggota banser yang dari daerah lain,
” jiwa loyalitas dan militansi mari kita tanamkan dan kita tunjukkan kepada masyarakat kalau Banser itu ada dan siap di butuhkan kapanpun dan di manapun” ucapnya dengan tegas sambil mengepalkan tangan kanannya.
Acara berlangsung kurang lebih selama 1 jam di awali dengan menyanyikan lagu Indonesia raya, mars ansor, maes banser dan yang terakhir di tutup doa oleh H, edi selaku pengurus Rijalul Ansor kecamatan ngoro, semoga kita semua di akui santrinya hadrotussyeh Hasyim Asyari selaku pendiri jam’iyah nahdlatul ulama’, dan semua bisa khusnul khotimah.
SATKORYON BANSER kecamatan ngoro Kabupaten mojokerto jawa timur melaksanakan wisata religi ke makam para aulia’ yang berada di jombang, Kediri dan tulungagung yang di laksanakan pada hari sabtu (29/01/2022) malam pemberangkatan dari gedung terpadu MWCNU kecamatan ngoro yang di ikuti oleh para anggota PAC GP ANSOR, BANSER , dan juga RIJALUL ANSOR.
Kegiatan wisata religi ini adalah ziarah ke makam Mbah hasym (KH. HASYM ASYARI) pendiri Nahdlatul Ulama, makam Gus Dur (KH. ABDUL RAHMAN WAHID) Jombang, Gus Mik Kediri, dan mantan komandan SATKORNAS BANSER, H. Alfa Isnaini, Tujuan diadakannya kegiatan ini selain untuk menjalin silaturrahmi juga untuk mengenang dan menteladani jasa para ulama’ dan auliya’, yang telah menginspirasi juga memotifasi kepada para anggota banser kususnya, contohnya Gus Dur semasa hidupnya beliau yang telah memompa dan juga membangkitkan ghirroh semangat Banser untuk menjadi pasukan yang bertugas untuk menjaga para kyai dan ulama’.
Menurut komandan JAZIL selaku panglima atau kasatkoryon banser kecamatan ngoro mengatakan
“mari kita niatkan ziaroh ini selain untuk ibadah juga mari kita meniru perjuangan para muassis ini dan menerapkan ke hati kita masing masing, baik dari segi semangatnya maupun pengorbanan beliau, jiwa loyalitas dan totalitas kita terapkan kepada masyarakat lebih lebih kepada jamiyyah nahdlatul ulama’
Beliau juga menginformasikan bahwa harapan diadakannya kegiatan ini supaya tercipta rasa kekeluarggan, kekompakan, kerukunan dan juga rasa persaudaraan antar anggota yang akhirnya bisa melaksanakan tugas organisasi secara maksimal, mudah mudahan berkah dari para muassis semua bisa terkabul dan di ridhoi ALLOH swt. (hasan-ngoro)
Meneguhkan Khidmah organisasi, JQH NU Kab. Mojokerto Menggelar Konferensi
Wisma NU – Jamiyyatul Qurra wal Huffazh (JQH) adalah organisasi yang special, demikian kata Ustad Fatkhur Rahman, dalam sambutan Konferensi ke IV JQH NU Kab. Mojokerto di aula NU pada sabtu (8/02/20). Spesialnya, kata ketua JQH NU Kab. Mojokerto itu, dikarenakan organisasi ini dibentuk oleh ulama-ulama sepuh yang ahli di bidang al-Quran.
“Pendiri JQH adalah ulama ulama sepuh. Para ulama pendiri JQH saat ini sudah banyak meninggal dunia. Tinggal satu yang masih hidup yakni KH. Basori Alwi. Semoga beliau dipanjangkan hidupnya sehingga bisa tetap membimbing kita semua” tukas Ustad Fatkhur Rahman.
Ulama-ulama pendiri JQH dulu, tutur Laki-Laki alumnus Pesantren Ilmu Al-Quran Malang ini, pada tahun 1949 berkumpul di Masjid Ampel. Sebelum subuh mereka melantunkan Qiroah secara bergantian. Perkumpulan itu lambat laun menjadi banyak. Dan kemudian terdengar oleh KH. Wahid Hasyim yang kala itu sudah menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia. Dan atas restu KH. Wahid Hasyim maka perkumpulan ulama ahli Quro’ itu kemudian menjadi Jamiyyatul Qurro wal Huffazh. Dan pada tahun 1959, Jammiyatul Qurro wal Huffazh secara resmi menjadi Badan Otonom Nahdlatul Ulama.
Hanya saja dalam perjalan selanjutnya, JQH Nahdlatul Ulama berubah menjadi Lembaga. Dan pada tahun 1999, melalui Muktamar NU di Lirboyo Kediri, JQH Nahdlatul Ulama berubah menjadi Badan Otonom lagi hingga sekarang.
Perjalanan panjang itu, dengan jasa para muassis JQH, Ustad Fatkhur Rahman berharap agar kelak, pengurus selanjutnya di JQH NU Kab. Mojokerto, mampu mengemban tugas secara serius untuk memajukan organisasi.
Senada dengan Ustad Fatkhur Rahman, KH. Abdul Adzim Alwi, Ketua PCNU Kab. Mojokerto berharap agar kepengurusan JQH NU Kab. Mojokerto terus menata diri dan ikut bergeliat bersama dengan Banom-Banom lainnya. Kata alumnus Pondok Pesantren Al Falah Kediri itu, sesuai dengan AD/ART, Badan Otonom harus memiliki kepengurusan dari tingkat PC hingga Ranting.
“Para penghafal Al-Quran di Jawa Timur itu, paling banyak ada di Mojokerto. Karenanya pengurus JQH harus memaksimalkan penghafal al-Quran yang banyak itu untuk membuat kepengurusan dari PC hingga Ranting” tukas KH. Abdul Adzim.
Menanggapi seruan dari KH. Abdul Adzim agar JQH terus berbenah dalam struktur kepengurusannya, KH. M. Zainul Arifin, Ketua JQH Jawa Timur, mengapresiasi seruan itu. Dan JQH Propinsi juga akan membuat JQH Award agar struktur keorganisasian JQH di daerah daerah bisa berlomba memperbaiki diri. Hanya saja, kata KH. M. Zainul Arifin, JQH memerlukan dukungan dari elemen khususnya pemerintah, dalam hal ini pemerintah kabupaten Mojokerto. Ketua JQH Jawa Timur itu menyatakan selama ini, dibeberapa daerah dukungan pemerintah kurang maksimal terhadap para Quro’ dan Huffazh.
Menanggapi tuntutan dari Ketua JQH NU Jawa Timur tersebut, Didik Khusnul Yaqin yang mewakili Bupati Mojokerto yang berhalangan hadir menyampaikan bahwa selama ini pemerintah Kabupaten Mojokerto telah melakukan perhatian yang khusus kepada para penghafal al-Quran. Seperti mengundang waktu pergantian tahun baru baik tahun baru Masehi maupun tahun baru Hijriah. Juga pada saat haul Syekh Jumadil Kubro selalu melibatkan para penghafal al-Quran. Hanya saja, ia mengakui, bahwa perhatian untuk para Quro’ belum maksimal. Karenanya ini akan menjadi bahan musyawarah ke depannya, agar para Quro memperoleh perhatian yang semestinya.
“Intinya kita mensuport pada JQH ini. Dan kita berharap JQH selain membaca dan menghafal al-Quran juga membantu masyarakat untuk mampu mengamalkan nilai nilai al-Quran” tukas mantan Camat Dawar Blandong itu. (Isno)
Ahad, 12 Januari 2020 telah dilaksanakan Pengajian Rutin oleh LDNU PCNU Kabupaten Mojokerto bekerjasama dengan LDNU MWCNU Kecamatan Pacet. Pengajian yang bertempat di Masjid Al Ikhlas Desa Petak Kecamatan Pacet ini dihadiri kurang lebih 2000 jamaah dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama, Pengurus LDNU tiap-tiap Kecamatan, Pengurus MWCNU Pacet, Bapak Camat Pacet, Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor dan IPNU-IPPNU dan jamaah rutin dari berbagai Kecamatan di wilayah Kabupaten Mojokerto.
Sebelum acara dimulai dibuka dengan Khotmil Qur’an oleh PAC JQH (Jam’iyyatul Qurra wal Huffaz) Kecamatan Pacet dan Pembacaan Sholawat Nabi oleh PAC ISHARI Kecamatan Pacet.
Kesuksesan itu tidak luput dari koordinasi yang baik antara pengurus NU dan masyarakat khususnya warga Desa Petak sebagai tuan rumah. Pengurus MWCNU Pacet dan LDNU-nya jauh-jauh hari telah mempersiapkan dan berkoordinasi dengan Banom-banom, Takmir Masjid dan pihak keamanan.
Mengingat masjid Al Ikhlas lokasinya tepat ditepi jalan raya utama Mojosari – Pacet Maka tidaklah heran kalau urusan keamanan Lalu lintas dibackup oleh Satkoryon Banser Kecamatan Pacet dan juga dibantu Linmas setempat, pastinya tak luput dari pantauan Polsek Pacet.
Gondang, Cyberaswaja.online- Satuan Khusus Barisan Ansor Serbaguna Husada (BASADA) Kab.Mojokerto bersama BANSER HUSADA dari Surabaya Mengelar BAKSOS dengan Pemeriksaan dan Terapi, serta menangani keluhan penyakit, bekerja sama dengan Ponpes Kursi Biru di Dusun Wewe Desa Bening Kecamatan Gondang, Kab.Mojokerto.
Foto: Baksos BASADA di Ponpes Kursi Biru
Bertempat di Ponpes Kursi Biru, acara dibuka mulai pukul 06:30 WIB ini mendapatkan respon baik oleh masyarakat sekitar untuk berobat. Namun Sebelumnya kegiatan Baksos dimulai, anggota BASADA terlebih dahulu melakukan Do’a, agar diberikan kelancaran, manfaat mulai awal hingga akhir. 29/12/2019.
Foto: Jenis pelayanan Baksos BASADAFoto: Registrasi Peserta Baksos BASADA
Kerjasama Baksos BASADA memberikan pelayanan pengobatan diantaranya; Pemeriksaan dan Terapi, cek gula darah, cek asam urat, cek tekanan darah, totok wajah, pijat refleksi, terapi bekam, gurah, saturasi oksigen, bioelektrik, hypnoterapi.
Foto: Proses pelayananpengobatan Baksos BASADA
Diantaranya beberapa nama masyarakat yang mengikuti kegiatan Baksos Pengobatan BASADA, Bpk. Puji dari desa Bening (pengobatan bio Elektrik), Mas,Johar Demak Jateng (totok wajah.totok.punggung), Cak Narto.wono giri jateng (gurah mata,gurah hidung), bapak Saikhu dari Desa Sasap Kecamatan Sooko (gurah hidung/mata), H.Zaenal Arifin Kades Jatidukuh pengobatan Bio Elektrik, Ibu.Hj.miftah Desa Wonoploso (konsultasi). Ibu Nunuk Kecamatan Watu Tulis Sidoarjo (konsultasi), B.Purati Dsn.Tlasih Desa tawar Kecamatan Gondang (konsultasi), Bapak Ulil Millah H.S (ruqyah), bapak NURI dusun BACEM Desa Bening Kecamatan Gondang (TOTOK PUNGGUNG), dan masih banyak peserta lainnya.
Foto: Salah satu jenis Pengobatan oleh BASADA
Berkaitan dengan tujuan Baksos oleh Banser Husada ini, ia menjelaskan, “Membatu masyarakat dalam memberikan pelayanan pengobatan Gratis, dan untuk administrasi se ikhlasnya” tegas, sahabat Ali Alif anggota BASADA Cabang Kab.Mojokerto ini. (WG/Infokom)
Foto: Do’a Sebelum dan sesudah BaksosFoto: BASADA melakukan Pengobatan TerapiFoto: BASADA dalam Baksos PengobatanFoto: BASADA Baksos Kesehatan kepada Masyarakat
Mojokerto, Cyberaswaja.online- Salam Satu Komando, merupakan Intruksi yang harus dilaksanakan sampai tingkat bawah. PIMPINAN ANAK CABANG GERAKAN PEMUDA ANSOR (GP ANSOR) KECAMATAN GONDANG, menurunkan Pasukan Militansinya yaitu BANSER untuk berperan menjaga dan mengamankan NATAL 2019.
Menjaga gereja bagi Banser adalah menjaga Indonesia. Karena negeri besar ini dulu merdeka juga bukan hanya perjuangan umat muslim saja, tetapi semua kelompok termasuk. Ummat Kristiani.
Tepat di Gereja BTHEL TABERNAKEL, Desa Jati Dukuh, pasukan militan Ansor yaitu BANSER bersama aparat keamanan, bahkan ada bapak kepala Desa Jati Dukuh juga hadir di Malam Natal 2019 tersebut. Bersama sama membangun Toleransi dalam beragama.
“Malam Natal ini, mari kita tingkatkan Toleransi, Saling Menghormati, menjaga keamanan agar kondusif dan berjalan dengan baik”, ungkapnya Kades Jatidukuh bapak H. Zainul Arifin, dalam sambutanya.
Kehadiran Banser tersebut membuat Jamaah Gereja dalam melaksanakan ibadahnya merasa Adem, bentuk Toleransi yang diberikan kepada ummat Kristiani ini, merupakan sikap Banser bawa kita saudara sebangsa dan setanah Air Indonesia, karena NKRI Harga mati, seyogyanya kita tetap menjaga seduluran dalam menjalankan ibadah walau berbeda agama.“Sesuai Instruksi dari Ketua PAC GP Ansor kami hadir menjalankan tugas, sebagai bentuk Toleransi beragama, daerah kami kondusif, dan jamaah gereja senang dan adem”. Tegas Anggota BAGANA Banser Kab.mojokerto Sahabat Amir. (WakGenk/Infokom).Foto:sambutan Kades Jati Dukuh BPK. H. Zainul ArifinFoto: anggota Banser PAM Keamanan Depan GerejaFoto: Malamnl Natal 2019 Di Gereja JatidukuhFoto: Banser bersama aparat keamanan SetempatFoto: sahabat banserAmir BAGANA (Banser Tanggap Bencana) Kab.Mojokerto
Di Ultah Satu Tahun kepemimpinan KH. Abdul Adhim sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Mojokerto Tahun 2019 ini, kami PC GP Ansor Kabupaten Mojokerto Menyampaikan SELAMAT dan SUKSES atas capaian Bapak Saat ini yang luar biasa seperti Tim Aset, Tim Sarpras, Tim Pengkaderan, Tim pergerakan Lembaga dan Banom Hampir semua lini bergairah ghiroh perjuanganya nampak bergerak dan masife, Meskipun ada yg perlu disupport lagi.
Kami sebagai Anak hanya bisa mendoakan Dalam kepemimpinan Bapak Kiyai kedepan, agar senantiasa diberikan kemudahan, kelancaran dan Kekuatan Baik Moriil Maupun Materiil tak kalah pentingnya kesehatan dan panjang umur Bapak Kiyai sehingga perjalanan Kepemimpinan Bapak Kiyai mengemban tugas dan Amanah bisa terselesaikan dengan baik dan menjadikan PCNU Kabupaten Mojokerto sebagai salah satu percontohan bagi PCNU yang lain.
Amin…
Tidak banyak kisah yang terungkap tentang sosok Kyai Zainal Alim. Ulama yang ditunjuk sebagai Rois Syuriah NU Mojokerto itu wafat tanpa meninggalkan keturunan. Makamnya di komplek pemakaman Losari tidak terawat dengan baik. Dari berbagai penelusuran hanya sedikit yang bisa didapatkan.
Kyai Zainal Alim berasal dari daerah Sidayu Gresik. Kota kecil di pesisir laut Jawa itu merupakan salah satu pusat perkembangan agama Islam. Beberapa keturunan Arab yang berprofesi sebagai saudagar menetap disana. Dari salah satu keturunan Arab itulah Kyai Zainal Alim dilahirkan.
Layaknya keturunan Arab, Kyai Zainal Alim berpostur tinggi besar dengan warna kulit kuning mendapatkan didikan ilmu agama yang mumpuni. Beliau kemudian pindah ke Mojokerto bersama istrinya untuk mengembangkan usahanya. Tempat yang dipilih adalah kampung Suronatan, sebuah kampung yang terletak di tepi kali Brantas.
Seperti umumnya orang Arab, Kyai Zainal Alim juga berprofesi sebagai pedagang. Setiap harinya berniaga di pasar Tanjung yang dibangun oleh Gemeente Mojokerto untuk menggantikan pasar Pahing. Barang yang dijual berupa pakaian, sarung dan kopyah. Profesi yang digelutinya memberi kehidupan yang layak bagi keluarga Kyai Zainal Alim.
Sebuah langgar kemudian didirikan dekat rumahnya yang dikenal sebagai Langgar Zainal Alim atau langgar Suronatan. Langgar yang bergaya Jawa itu digunakan tempat mengaji anak-anak di sekitarnya. Kegiatan ngaji yang semakin lama semakin berkembang dengan jumlah santri yang terus bertambah.
Sebagai pendidik, Kyai Zainal Alim ternyata berpikir jauh ke depan. Melihat banyaknya anak yang datang ke langgar Suronatan, beliau berkeinginan untuk memberi bekal ilmu yang lebih. Setidaknya ilmu berhitung ala sekolah model Belanda harus diberikan pada santri-santri disana. Keinginan itu untuk mengimbangi pendidikan sekolah sekuler yang didirikan penjajah Belanda.
Ide itu ternyata disambut baik oleh koleganya di NU Mojokerto. Pada akhirnya disepakati berdirinya Madrasah Ibtidaiyah NU yang bertempat di langgar Kyai Zainal Alim. Madrasah itu yang menjadi embrio MI Al Muhsinun yang hingga sekarang berdiri di komplek Masjid Agung Kauman.
Ketokohan Kyai Zainal Alim sangat dihormati oleh kalangan Kyai Mojokerto. Hal itu terbukti ketika dibentuk organisasi NU di Mojokerto pada tahun 1928. Para ulama sepakat menunjuk beliau sebagai figur sentral organisasi yang didirikan oleh Kyai Hasyim Asy’ari tersebut. NU yang biasa dipimpin oleh pengasuh pesantren ternyata berbeda penerapannya di Mojokerto. Kyai Zainal Alim tidak memiliki pesantren, hanya mengajar ngaji di langgarnya saja. Pada saat itu sudah ada beberapa pesantren seperti Pesantren Besuk, Kemlagi dan Karangsari Sooko, yang sudah lama berdiri. Namun para kyai menyerahkan jabatan tertinggi organisasi pada Kyai Zainal Alim. Kemungkinan karena faktor ketokohan yang membuat beliau dipercaya memimpin NU Mojokerto.
Dalam menjalankan roda organisasi NU, Kyai Zainal Alim berpartner dengan Kyai Nawawi Jagalan. Duet itu mirip dengan kolaborasi Kyai Hasyim dan Kyai Wahab Hasbullah. Kyai Zainal Alim sosok yang tenang, sedangkan Kyai Nawawi figur yang dinamis dengan mobilitas tinggi.
Belum ada data pasti kapan Kyai Zainal Alim wafat. Nama beliau tidak lagi terdengar ketika Jepang datang. Saat pergantian kekuasaan itu kendali NU Mojokerto sudah beralih ke tangan Kyai Nawawi. Besar kemungkinan Rois Syuriah NU Mojokerto meninggal antara tahun 1942-1943.
Atas petunjuk H. Ghumson, mantan aktivis GP Ansor tahun 1960-an, makam Kyai Zainal Alim dapat diketemukan.
Saat ini makam Kyai Zainal terlihat tidak terawat. Sebuah nisan tua tanpa tulisan terpasang pada pusaranya. Karena tidak memiliki keturunan dan tidak ada tulisan penanda sehingga tidak banyak orang mengetahuinya. Sebagai tokoh pendiri NU Mojokerto, maka selayaknya para penerusnya memberi perhatian terhadap makam beliau tersebut.
Jika mau serius menelusuri masih ada kemungkinan kisah Kyai Zainal Alim bisa didapati. Selain menggali di sekitar Suronatan bisa juga melacaknya ke Sidayu, tempat kelahirannya.
Mojokerto, Cyber Aswaja.online Gerakan Pemuda Ansor Pimpinan Anak Cabang Gondang Mengikuti Agenda menanam sebanyak 200 pohon jenis beringin, Pinus dan Akasiya. Bersama Pemerintahan dan Karangtaruna Desa Ngembat, beserta Para Relawan Pecinta Alam. Mereka menempatkan pohon yang dibawah oleh Pemerintahan Desa Ngembat itu di Sepanjang Lereng Gunung Buthok Dusun Blentreng Desa Ngembat Kecamatan Gondang, Mojokerto, Ahad (8/12).
Penanaman pohon dilakukan guna Menghijaukan kembali lahan kritis dan lahan bekas kebakaran hutan. Meminalisir terjadinya Longsor serta melakukan upaya aset Masyarakat untuk Generasi Penerus.
Pengurus GP Ansor Kecamatan Gondang, Menugaskan Satuan Kordinasi Rayon Banser nya untuk ikut dalam kegiatan tersebut. Bibit pohon yang dberikan Perangkat Desa dan Karangtaruna tersebut sebanyak 400 pohon, yang akan ditanam. “Diberikan 400 pohon bibit, namun yang ditanam 200 pohon, sisanya nanti setelah musim hujan 200 pohon tersebut akan kembali ditanam,” kata Satkorkel Banser sahabat Sanusi.
Dipilihnya kegiatan tersebut, merupakan bentuk Salah satu Kecintaan Banser Terhadap alam semesta ini, kegiatan yang di mulai pukul 07:00-11:00 WIB, mendapatkan respon yang positif dan Harapan masyarakat semoga generasi Penerus bisa memelihara dan selalu menjaganya.
Biro Infokom Banser dan Media Memorandum Timur dalam pentajaman jurnalistik
SORBAN SANTRI- Sabtu, 21 Nov 2020, jajaran biro infokom banser Satkorcab Banser kab. Mojokerto bersama perwakilan media memorandum timur mengadakan pelatihan penajaman wartawan khususnya dibidang jurnalistik.
Pelatihan sekaligus pemantapan jurnalistik yang diadakan di Pondok al istiqomah Dlanggu kab. Mojokerto itu berlangsung selama 7 jam yang dimulai dari pukul 20.00 – 02.00 wib dini hari Melihat dari banyaknya sahabat” Ansor dan Banser yang hadir, menunjukkan bahwa keinginan untuk menguasai dunia dari media digital sangatlah tinggi. Terlihat masing-masing PAC mengeluarkan anggotanya sebagai perwakilan di daerahnya masing-masing. (21/11)
Peningkatan jurnalistik ini dirasakan sangat penting dikarenakan semakin banyaknya kegiatan yang ada tiap-tiap PAC di Kab. Mojokerto yang setiap harinya selalu ada acara dan kegiatan baik itu sosial ataupun rutinan.
Ketua PC GP Ansor Kab. Mojokerto Gus Ali M Nasih telah melakukan koordinasi dan kerjasama yang bagus dengan media Memorandum Timur sehingga pelaksanaan pelatihan dan penajaman bidang jusnalis bisa berjalan sesuai rencana dan tentu saja banyak ilmu serta menambah silaturrahmi dengan media yang sudah mempunyai nama besar seperti Memorandum. (abi sorban)