Tag: kabupaten mojokerto

  • JIHAD ngaJI aHADan LDNU KAB. MOJOKERTO

    JIHAD ngaJI aHADan LDNU KAB. MOJOKERTO

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama’ yang berperan sebagai pelaksana kebijakan Nahdlatul Ulama’khususnya yang berkaitan dengan bidang dakwah yang menganut faham ahlussunnah wal jamaah Kab. Mojokerto, menyelenggarakan acara JIHAD (ngaJIaHADan) di Masjid “Riyadlus Sholikhin” Dusun Paras Desa Kembang Belor Kec. Pacet Kab. Mojokerto.

    Acara JIHAD tersebut dihadiri 1600 Jama’ah serta tamu Undangan yang berasal dari Kabupaten Mojokerto. Satkoryon Banser Pacet menurunkan 20 an BALANTAS dalam acara yang digelar di Masjid “Riyadlus Sholikhin” Paras Kembang Belor.

    SORBANSANTRI.COM
    Pelaksanaan apel satkoryon Banser Pacet sebelum kegiatan pelayanan dan pengamanan

    Adapun kajian yang diperoleh dalam acara pengajian ahadan (JIHAD) adalah:

    1. Ibadah adalah merupakan buahnya ilmu dan faedahnya umur.
    2. Ibadah tampa dengan ilmu mardudun ( di tolak) sedangkan umur tampa di gunakan untuk ibadah tidak ada manfaatnya.
    3. Ibadah merupakan sarana seseorang menjadi kekasihnya Allah.
    4. Ciri seseorang yg mulia dan agung di sisi Allah adalah rajin beribadah
    5. Hidup yang selalu pasrah kepada Allah akan senantiasa tenang.
    6. Sebagai manusia syariatnya tetap berusaha dan ihtiyar walaupun pada hakekatnya semua kehendak Allah. Contoh orang yg sakit tetap berusaha berobat untuk sembuh tapi ingat bukan obat atau dokder yg membuat sembuh melaikan Allah swt.
    7. Tidak semua doa yg kita panjatkan di kabulkan Allah di dunia , tapi yakin semua akan di tetimakan kelak di akhetat. Seandainya semua doa manusia di ijabah sekaligus yakin kehidupan manusia akan rusak dan hancur.

    Semoga kegiatan LDNU dalam acara Ngaji Ahadan (JIHAD) dapat istiqomah dan menjadi sumber ilmu serta silaturrokhim antar jama’ah dan kiai di Kabupaten Mojokerto. Aamiin Ya Robbal’alamiin… (abi SORBAN)

  • KETUA ANSOR SERUKAN KADER JANGAN PILIH BUPATI YANG DI USUNG DARI PARTAI PKS

    KETUA ANSOR SERUKAN KADER JANGAN PILIH BUPATI YANG DI USUNG DARI PARTAI PKS

    Mojokerto.Cyberaswaja.online – Pertarungan pilihan Bupati dan wakil bupati serentak di Indonesia sebentar lagi berlangsung. Memasuki Memasuki tahun politik 2020, memberikan sikap dan arahan tegas Ketua Ansor Cabang kepada Kadernya yang tersebar di wilayah kabupaten Mojokerto. Bertepatan pelaksanaan DTD (Diklat Terpadu Dasar) Banser (Barisan Ansor Serbaguna), dihadiri Tokoh Undangan, KH. Adzim Alwy (Ketua PC NU Kab.Mojokerto), KH.Manshur (Ketua MWC NU Jatirejo), Muspika Jatirejo, Bapak Kepala Desa Sumberagung, serta Banom NU Se Kec.Jatirejo. Dengan seksama mengikuti Pembukaan Acara terebut. 20/12/19.
    SORBANSANTRI.COM
    Doc.Ketua PC GP Ansor Pimpin Apel
    Pada sambutan sekaligus Pembukaan DTD Banser Di Kecamatan Jatirejo, Panglima Tertinggi Banser Kab.Mojokerto tersebut, menyampaikan dihadapan Puluhan Kader Kader Militan GP Ansor, BANSER, Tamu Undangan VIP serta tokoh tokoh NU, Toko Masyatakat beserta Banom Banom NU yang respon dengan tepuk tangan begitu meriah. “Salam Satu Komando Sahabatku, Pengkaderan di Ansor Banser terus menerus dilakukan, Hal ini adalah salah satunya membentengi NKRI, khususnya berkaitan menjelang tahun Politik 2020, Kader Ansor Jangan Pilih Pasangan Yang di Usung dari Partai PKS. Mereka secara ideologi berbeda dan berlawanan dengan Kita Ansor dan Nahdlatul Ulama (NU), oleh karena itu sikap harus tegas, membentengi NKRI dan NU, manut Kyai ne NU, bila perlu tahun politik 2020 kita Tengelamkan PKS. Apakah Sahabat2 siap…!! (Siap!!!/jawab PesertaApel) Salam Satu Komando”. Tegas Ketua PC GP Ansor Kab. Mojokerto, Gus Moh. Ali Nasikh.
    SORBANSANTRI.COM
    Foto: tiga dari kiri jas hijau ketua PC NU
    SORBANSANTRI.COM
    Doc. Tamu Undangan VIP
    SORBANSANTRI.COM
    Doc. DTD Banser Kec.Jatirejo
    SORBANSANTRI.COM
  • Kasus Uighur, PP GP Ansor Minta Klarifikasi atas Lahan Minyak dan Gas di Xinjiang

    Kasus Uighur, PP GP Ansor Minta Klarifikasi atas Lahan Minyak dan Gas di Xinjiang

    Cyberaswaja.online, Mojokerto – Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, tudingan persekusi yang dialami etnis muslim Uighur di Xinjiang tersebut diduga berlatar belakang ekonomi.  Menurut Yaqut, berdasar data yang diperoleh pihaknya dan kemudian diolah, kasus yang menimpa etnis Uighur di Xinjiang ini tak lain soal penguasaan lahan saja. Isu agama, budaya dan lainnya, lanjut Yaqut, membuat motif aslinya tampak kabur, dan membuat kasus menjadi semakin rumit. “Dari data yang kita peroleh, di Xinjiang itu ada beberapa blok migas, sumur gas, dan pipa gas. Bahkan dalam catatan kita pernah ditawarkan 30 blok migas di tahun 2017. Semua bloknya onshore (di daratan). Jadi, berita tentang etnis muslim Uighur dengan segala bumbunya seperti ditulis The Wall Street Journal, saya kira perlu ada klarifikasi. Jangan-jangan ini hanya soal ingin menguasai lahan di Xinjiang yang kaya akan sumber daya alam saja,” tandas Gus Yaqut, sapaan akrab Ketum GP Ansor ini, Senin (16/12/2019). Sebab itu, kata Gus Yaqut, GP Ansor memilih bersikap hati-hati. Namun demikian dia mendesak adanya klarifikasi yang cepat sekaligus tepat dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tiongkok. Begitu juga Kementerian Luar Negeri RI mengenai hal ini. Lalu sama-sama mendiskusikan apa yang bisa dan sebaiknya Indonesia lakukan untuk menciptakan perdamaian dunia, termasuk di Xinjiang. Dijelaskan, kasus etnis muslim Uighur tersebut adalah masalah geopolitik. Politisasi terhadap kasus ini, yakni Islam vs Tiongkok, ujarnya, justru membuat komplikasi dari kasus yang sudah rumit tersebut. Ditambah dengan konstelasi politik hari ini yang cenderung berwujud sebagai “neo cold war geopolitics di mana ada benturan politik ekonomi dan ideologi antara Barat (Amerika) dan Timur (Tiongkok).  Di sisi lain, kata Gus Yaqut, GP Ansor memahami bahwa Tiongkok memiliki kepentingan untuk mengundang dan memperkuat hubungan (engagement) dengan para stakeholders dan key opinion leaders dari seluruh negara di dunia. Tujuannya untuk melihat masalah Uighur, termasuk tokoh NU, Muhammadiyah, akademisi, dan lainnya. “Ansor juga dapat memahami bagaimana Amerika dan aliansinya melalui semua kanalnya bersuara untuk kepentingan dan keuntungan mereka, termasuk Wall Street Journal (WSJ) yang membeberkan laporan terkait hal ini, tapi di saat bersamaan mempromosikan layanan subscribe untuk jadi pembacanya,” tutup ketum PP GP Ansor ini.  sumber : https://www.timesindonesia.co.id/read/news/243342/kasus-uighur-pp-gp-ansor-minta-klarifikasi-atas-lahan-minyak-dan-gas-di-xinjiang
    #PP GP ANSOR  #UIGHUR  #XINJIANG
  • Tribute to Riyanto Banser NU

    Tribute to Riyanto Banser NU

    Alfatihah……

    Mengenang 19 tahun lalu Desember pada tahun 2000, tak banyak orang yang tahu aksi pahlawan ini. Kisah Riyanto Banser NU yang meninggal karena ledakan bom teroris untuk selamatkan jemaat di Gereja Eben Haezer.
    Pada malam Natal itu, Riyanto merupakan salah satu dari empat orang Banser NU yang dikirim GP Ansor Mojokerto untuk menjaga perayaan Natal.
    Lelaki kelahiran Kediri, 23 November 1975 itu ditugaskan oleh GP Ansor Mojokerto.
    Semula, Misa Malam Natal itu berlangsung khusuk, tetapi ternyata hanya berlangsung separuh jalan.
    Sekitar pukul 20.30 WIB, seorang jemaat menaruh curiga pada sebuah bingkisan yang tergeletak tak bertuan di depan pintu masuk gereja.

    Riyanto pun memberanikan diri membuka bingkisan itu. Ia membongkar kantong plastik hitam itu di hadapan petugas pengamanan gereja, termasuk seorang polisi Polsek setempat. Di dalamnya tampak menjulur sepasang kabel. Tiba-tiba muncul percikan api. Riyanto langsung berteriak sigap, “Tiaraaaapp!” dan kemudian terjadi kepanikan dalam Gereja. Riyanto segera keluar ruangan dan melemparkan bungkusan bom itu ke tong sampah, namun terpental. Ia kemudian berinisiatif mengamankan bom dengan memungut kembali untuk dilemparkan ke tempat yang lebih jauh lagi dari jemaat. Namun, bom meledak dalam pelukan Riyanto sebelum sempat dilempar. Tubuh pria itu terpental, berhamburan. Sekitar 3 jam kemudian, sisa-sisa tubuh Riyanto baru ditemukan di sebelah utara kompleks gereja, sekitar 100 meter dari pusat ledakan. Jari dan wajahnya hancur, Ia pun meninggal seketika.

    Seorang yang beragama Muslim sejati yang rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan orang lain yang tidak seagama dengannya dan sedang merayakan hari keagamaannya.
    Gus Dur pernah berujar, “Riyanto telah menunjukkan diri sebagai umat beragama yang kaya nilai kemanusiaan. Semoga dia mendapatkan imbalan sesuai pengorbanannya.”

    #TributeToRiyanto

    #BanserNU

    #HubbulWathonMinalIman

    #HaulXllXRiyanto

  • PENGURUS CABANG NU KABUPATEN MOJOKERTO TANAM POHON

    PENGURUS CABANG NU KABUPATEN MOJOKERTO TANAM POHON

    CyberAswaja.online. Mojokerto, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Mojokerto, melakukan Penanaman Pohon di Desa Dilem Kecamatan Gondang. Dengan tema “Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita”.

    Hadir dalam kegiatan yang dilakukan 2 hari tersebut diantaranya; Wakil ketua dan wakil sekretaris PC NU Kabupaten MOJOKERTO, Ketua LPBI NU beserta pengurus, Kepala Desa Dilem bersama seluruh stafnya, Pengurus Ranting NU Desa Dilem, potensi relawan kab Mojokerto, komunitas pecinta alam, Pramuka, perwakilan muslimat, perwakilan fatayat, Bagana, Perwakilan Perhutani, karang taruna desa Dilem.

    SORBANSANTRI.COM

    Sebanyak 2400 bibit Pohon di Tanam di daerah Lereng Gunung Welirang Tepatnya Bukit Semar yang merupakan salah satu destinasi Wisata yang ada di Desa Dilem, dengan kehadiran peserta – 450 orang.(15/12).

    SORBANSANTRI.COM

    Penanaman Pohon tersebut untuk menghijaukan kembali setelah musim kemarau yang panjang, dengan datangnya musim Hujan sebentar lagi tanam pohon tersebut semoga tumbuh dan menopang kehidupan generasi mendatang.

    Dipilihnya kegiatan tersebut, merupakan bentuk Salah satu Kecintaan PC NU beserta Banomnya Terhadap alam semesta ini, kegiatan yang di mulai pukul 08:30- sampai selesai, serta Peran pemerintahan desa Dilem yang bekerja sama. “Tanam 1000 pohon yang bekerja sama dengan PC NU Kab.Mojokerto disini LPBI NU (Bpk. Saiful Anam, S.Ag) merupakan rasa syukur dan kecintaan kita kepada alam, untuk tabungan generasi berikutnya agar selalu melestarikan dan menjaganya” ungkap Kades Dilem Bpk. H. Zainal Arifin. (wakGenk/Infokom)

  • RIJALUL ANSOR NGORO BERSHOLAWAT

    RIJALUL ANSOR NGORO BERSHOLAWAT

    Cyberswaja.online. Ngoro, Sholawat Bergema di Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto, di bawah Gerakan Pemuda Ansor Ngoro, melalui Lembaga Majlis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor (LMDS RA) nya, melaksanakan Shalawat bersama tokoh pemerintahan dan masyarakat sekitar.(14/12).

    Agenda Bulanan yang merupakan Program Dari LMDS RA ini, yang dikemas dengan Pengajian Umum Tidak hanya melantunkan shalawat, namun diisi dengan Santunan yatim Piantu juga.

    SORBANSANTRI.COM

    Banyaknya kehadiran Jama’ah dari berbagai kalangan dan umur tersebut, menunggu Ceramah Agama sesepuh Kyai dari Karangnongko Kab.Mojokerto yaitu Mbah KH. Khusein Ilyas, sebagai acara puncaknya.

    “Agenda ini merupakan program yang di tetapkan dan berganti tempat di setiap bulan” tegas Sahabat Surotin Selaku Ketua PAC GP Ansor Ngoro.

    Kegiatan berjalan lancar, keamanan dari Banser Ngoro tersebut berperan aktif selama acara berlangsung. (WakGenk/infokom/)

  • Kepala Densus 99 Pusat Hadir Haul 19 Riyanto

    Kepala Densus 99 Pusat Hadir Haul 19 Riyanto

    Cyberaswaja.online. Mojokerto, tepat Haul 19 Alm. Riyanto pahlawan Banser, dihadiri Oleh Ka Densus 99 Sahabat Nuruzzaman. Dalam agenda Seminar Nasional dengan tema “kontra radikalisme dan masa depan Bhineka Tunggal Ika”, bertempat di Balai kota Mojokerto, kegiatan tersebut mendapatkan antusiasme dari kader GP Ansor, Banser dalam mengikuti kegiatan Seminar Nasional tersebut (14/12).Seminar Nasional juga menghadirkan, Pendeta Pdt. Brahim Kharimatus, M.Div.M.Th, Dari Satgas Anti-Teror Polri BPK. DR. Didik Nobi Rahmanto, hadir juga BPK. AKBP. Bogiek Sugiyarto, S.H, S.I.K, M.H selaku Kapolres Mojokerto kota.

    SORBANSANTRI.COM
    Kasatkorcab Banser Mojokerto

    Selain tokoh tokoh diatas, dihadiri Dari Keluarga Alm. Riyanto, Serta Saksi Hidup Kejadian BOM Natal tahun 2000. Serta Pengurus GP Ansor dan Satkorcab Banser Kabupaten Mojokerto.Sejarah mencatat kepahlawan Alm. Riyanto Sebagai Banser hasil dari didikan kyai, yang selalu menjaga Pentingnya Bhineka Tuggal Ika.(WakGenk/infokom)

  • PERTEMPURAN PACET PEBRUARI 1949 SEDAHSYAT PERTEMPURAN SURABAYA.

    PERTEMPURAN PACET PEBRUARI 1949 SEDAHSYAT PERTEMPURAN SURABAYA.

    Pertempuran Pacet Pebruari 1949 Sedahsyat pertempuran Surabaya

    Ketika berburu buku di Kios buku Velodrom Malang, sebuah sebuah buku yang lama aku cari. SAM KARYA BHIRAWA ANORAGA, buku yang menceritakan tentang perjuangan tentara dari Kodam Brawijaya. Terdapat satu paragraf menarik dalam buku tersebut, yaitu paragraf yang membenarkan keyakinanku tentang perang di Mojokerto. Keyakinan itu yang dulu mendorong lahirnya buku GARIS DEPAN PERTEMPURAN

    Memang hanya satu paragraf tetapi itu sudah cukup untuk dijadikan sebagai dasar pengakuan bahwa Mojokerto benar-benar sebuah garis depan perjuangan kemerdekaan. Sebuah peristiwa besar yang tidak banyak ditulis dalam sejarah kita. Bagaimana mungkin, peristiwa yang menelan korban lebih kurang 1000 orang prajurit luput dari catatan ?

    Pertempuran Pacet yang berlangsung dari Januari hingga pebruari 1949 telah memusnahkan 1/3 dari kekuatan pasukan Komando Hayam Wuruk. Sebuah pasukan komando yang dibentuk dari gabungan batalyon Mansyur, Batalyon Bambang Yuwono dan Batalyon Tjipto. Pasukan gabungan itu dikenal dengan nama pasukan MBT, sesuai dengan singkatan nama para komandan batalyonnya. Perintah buat pasukan komando itu adalah menyerang Surabaya dari arah selatan atau dari sidoarjo.

    Pada awal pertempuran, mereka berhasil menguasai daerah Pacet, Mojosari, Ngoro dan Trawas. Dari sana mereka menjadikannya sebagai basis teretorial untuk masuk ke Surabaya. Upaya masuk lewat jembatan Ngoro, Tanjangrono dan Porong tidak berhasil karena dijaga ketat oleh musuh. Sementara. Menyeberang langsung lewat sungai porong nyaris tidak mungkin karena airnya sedang besar besarnya di musim hujan kala itu.

    Kekuatan pasukan MBT kian bertambah ketika ada beberapa kesatuan pejuang masuk ke wilayah Mojosari selatan. Mayor Moenasir datang dengan separuh anggota batalyonnya setelah gagal merebut Brangkal. Sebagian anggota batalyon Moenasir yang dikenal dengan sebutan Batalyon Tjondromowo itu masuk ke utara sungai membantu Mayor Djarot yang berusaha masuk ke Surabaya juga. Ikut bergabung juga Kapten Soemadi dengan anggota kompinya yang dinamakan kompi Macan Putih. Kompi tempur atau Stot-trop iki masuk ke Pacet usai meloloskan diri dari kepungan musuh di Mendalan Kediri.

    Pada pertengahan bulan pebruari, konsolidasi musuh sudah selesai. Kekuatan pasukan belanda disiapkan secara matang berikut senjata beratnya. Pertempuran besar kembali terjadi di Dlanggu dan para pejuang terjepit. Belanda juga membuat siasat perisai hidup dengan menggiring penduduk di depan pasukannya. Dari belakang muntahan peluru dari tank dan meriam terarah pada posisi tentara republik.

    Pertarungan berlangsung sengit mulai pagi hingga malam. Dan kegelapan malam yang menyelamatkan pasukan komando hayam wuruk itu. Mereka mampu lolos dari kepungan, namun sebagian anggotanya tidak bisa kembali ke induk pasukannya, entah meninggal atau hilang. Sebagian dari yang meninggal adalah prajurit yang pernah dilatih dalam kamp pelatihan Hizbullah di Cibarusa. Kapten Mat Yatim, komandan kompi batalyon Mansyur Solikhi dan Madjid Asmara, kepala staf batalyon gugur pada pertempuran di Ngembeh Dlanggu. Batalyon Mansyur yang terkenal keberaniannya dalam pertempuran kehilangan hampir separuh anggotanya. Kesatuan yang merupakan peleburan dari resimen Hizbullah karesidenan Surabaya itu tetap berdiri hingga penyerahan kedaulatan pada akhir tahun 1949.

    Sebagian pejuang berhasil lolos dari pertempuran itu namun jauh lebih banyak lagi yang gugur atau hilang tak kembali ke induk pasukannya. Kyai Achyat Chalimy menyebut besarnya korban di Batalyon Moenasir dengan julukan “Batalyon Ilang”, batalyon yang musnah. Ya, dalam konsolidasi di Cukir Jombang, Moenasir menghitung anggota pasukannya hanya sebagian kecil yang bisa dikumpulkan kembali, sebagian lainnya tidak hadir di tempat yang disepakati sebagai titik kumpul. Karena kehilangan anggota itulah Abah Yat menyebutnya Batalyon Ilang. Maka untuk mencukupi jumlah personil satu batalyon, Mayor Moenasir merekrut anggota baru dari pesantren di sekitar Cukir. Dengan memobilisasi santri itulah Batalyon Moenasir selamat dari likwidasi atau pembubaran. Batalyon ini baru membubarkan diri setelah kemerdekaan berhasil dicapai.

    Bagaimana dengan korban dari pihak lawan?. Menurut penuturan Pak Yazid Qohar (alm) yang menerima cerita dari Abah Yat, pada hari selesainya pertempuran besar itu truk-truk Belanda datang mengevakuasi korban baik yang meninggal maupun terluka. Korban itu kemudian dibawa ke Surabaya. Tidak diketahui berapa jumlah korban tersebut. Sedangkan korban dari rakyat dan pejuang dibiarkan bergeletakan di tempat.

    Sayangnya, pertempuran besar itu tidak ditandai dengan monumen yang layak. Monumen yang patut dijadikan pengingat bahwa ribuan nyawa telah melayang di sana demi mempertahankan kata KEMERDEKAAN.

    Sudowangun, 24 Nopember 2014

    SORBANSANTRI.COM

    Sumber : Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • KH. AHYAT CHALIMY

    KH. AHYAT CHALIMY

    KH. Ahyat Chalimy (bagian 2)

    Baca bagian ke-1

    H. Qodri, memanggil kedua keponakannya – Aslan dan adiknya, bernama Ahyat yang mulai menginjak masa remaja. Ia bercerita kepada kedua keponakannya, ; “ Ayahmu adalah keturunan dari Mbah Rofi’i yang berasal dari Giri, Gresik, sedang Ibumu adalah keturunan dari Mbah Rowiyo, yang berasal dari Ampel, Surabaya.”1) Katanya, memulai paparan ceritanya. Mbah Rofi’i dan Mbah Rowiyo adalah Pahlawan Islam, karena beliau itu adalah anggota pasukan Tumenggung Kertosono, yang merupakan salah satu Panglima Perang Pangeran Diponegoro, dari Mataram, Jawa Tengah. Mbah Rofi’i dan Mbah Rowiyo dibawah pimpinan Tumenggung Kertosono, berangkat ke Jawa Tengah, berperang melawan Kompeni Belanda, bersama Pangeran Diponegoro.

    Karena kelicikan dan tipu muslihat Kompeni Belanda, P. Diponegoro akhirnya ditangkap kompeni Belanda. Pasukan Diponegoro kocar-kacir. Mbah Rowiyo dan Mbah Rofi’i berniat kembali pulang ke Giri dan Ampel. Karena sulitnya menempuh perjalanan pulang, keduanya nekad mengikuti aliran sungai Brantas. Mulai dari Kertosono, kedua beliau terapung-apung beberapa hari, keduanya akhirnya bertekad, dimanapun keduanya terdampar, maka disitulah mereka akan bertempat tinggal. Berkat pertolongan Alloh SWT. Keduanya terdampar di Kecamatan Gedeg, Mojokerto. Akhirnya kedua beliau menetap di Gedeg, tepatnya di desa Gedek. Sekarang, selain makam Mbah Rowiyo, beberapa keturunannya masih bertempat tinggal di Desa Gedeg.

    K.H. Ahyat Halimy, dilahirkan pada tahun 1918, dari pasangan suami istri Hj. Marfu’ah binti Ali dan H. Abd. Halim dari Gedeg. Ayahanda K.H. Ahyat Halimy, meninggal dunia ketika usia kandungan Ibunya baru memasuki bulan ketiga, sedang kakak-kandungnya, K.H. Aslan, lahir pada tahun 1914. Kedua anak yatim ini kemudian di asuh oleh Ibundanya bersama Pakde-nya yang bernama H. Thohir. Ibunda K.H. Ahyat Halimy akhirnya wafat pada tahun 1938, ketika K.H. Ahyat memasuki usia 17 tahun. Pakde H. Thohir ini pula yang membawa dua Yatim bersama Ibunya, untuk bertempat tinggal di Desa Miji (Sekarang lokasi makam Alm. K.H. Ahyat Halimy).

    Masa kecil K.H. Ahyat Halimy beserta kakak kandung-nya, dijalani di Kota Mojokerto. Keduanya sekolah di Sekolah Rakyat Miji (Sekarang SD Miji I), setelah lulus, mereka melan-jutkan sekolahnya ke Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Mereka juga sempat diajar secara langsung oleh Hadrotussyaih K.H. Hasyim Asy’ari, dan putra beliau K.H. Wahid Hasyim, bahkan karena usianya yang hampir sebaya, K.H. Wahid Hasyim selain sebagai guru berperan pula sebagai sahabat dalam melakukan berbagai diskusi, serta dalam satu barisan perjuangan di masa Proklamasi kemerdekaan.

    Selama belajar di Tebuireng, K.H. Ahyat kecil dikenal sebagai santri yang disiplin. Postur tubuh dan wajahnya menyerupai keturunan Arab, gagah dan tampan. Tetapi perilakunya sangat sopan. Ia juga dikenal sebagai anak yang suka menolong teman santri yang lain. Menanak nasi dan menghidangkannya untuk disantap bersama teman-temannya, merupakan pekerjaan yang setiap hari dilakukan dengan sukarela. K.H. Munasir dari Pekukuhan, Mojosari, sebagai teman seka-mar di Pondok Pesantren Tebuireng, pernah memberi kesaksian pada beberapa orang dari pengurus Cabang GP. Ansor di rumahnya dengan mengatakan ; “ Pak Yat, sejak kecil sudah kelihatan kalau akan jadi Kiyai. Dia tidak pernah meninggalkan sholat jama’ah, tidak pernah mau menggunjingkan teman-temannya, bahkan selalu menempatkan diri sebagai pelayan dari teman-temannya. Saya termasuk orang yang paling beruntung ketika mondok di Tebuireng, karena nggak pernah ngliwet atau bahkan nyuci pakaian. Karena semua sudah dikerjakan oleh Pak Yat.”

    Pengakuan dan kesaksian serupa, juga diberikan oleh teman-teman satu angkatan, antara lain ; K.H. Abdullah Siddiq, dari Jember. K.H. Mansur Burhan dari Surabaya, dan K.H. Zainuri dari Qudus.

    Tahun 1938, K.H. Ahyat Halimy beserta kakak kandungnya, K.H. Aslan, kembali ke Mojokerto dan melakukan berbagai aktifitas. Sebagai pemuda, bersama dengan beberapa temannya, antara lain Sdr. M. Thoyib, M. Thohir, Sholeh Rus-man, Aslan, Mansur Solihi, dan Munasir, mendirikan Ansoru Nahdlatul Ulama (ANO) yang sekarang dikenal sebagai Gerakan Pemuda Ansor. Pada tahun yang sama K.H. Ahyat Halimy, juga diangkat sebagai Sekretaris Tanfidziyah NU Mojokerto, periode kepengurusan yang kedua (1938 s/d 1940).

    Seluruh aktivitas itu dikerjakan dengan tanpa meninggalkan aktivitas “ta’lim”, atau belajar, baik ke Tebuireng mau-pun ke K.H. Romly di Rejoso, Peterongan, Jombang. Akhirnya pada tahun 1940, K.H. Ahyat Halimy mempersunting Badriyah, seorang janda dari desa Gayam, Kecamatan Mojowarno, putri dari K.H. Moh Hisyam yang juga memangku Pondok Pesantren. Suami pertama Nyai Badriyah bernama Fauzan, beliau adalah kakak kelas K.H. Ahyat Halimy, waktu belajar di Tebuireng. Perceraian antara Nyai Badriyah dengan P. Fauzan ini berlangsung baik-baik, semata-mata karena sudah bukan jodohnya lagi. Buktinya, ketika Nyai Badriyah ini dipersunting oleh K.H. Ahyat Halimy, P. Fauzan sempat menitipkan Nyai Badriyah kepada K.H. Ahyat Halimy secara langsung. P. Fauzan berpesan agar Nyai Badriyah dijaga dengan baik.

    Aktivitas K.H. Ahyat yang luar biasa banyak ini, tentu saja mengurangi waktu untuk urusan rumah tangga. Kehidupan rumah tangganya dari segi finansial sangat buruk. Untung istrinya masih sangat setia menemani. “ Setelah pulang dari pengungsian pada Tahun 1946 – 1949, yaitu mulai permulaan tahun 1950, merupakan tahun paling berat bagi rumah tangga saya” tulis K.H. Ahyat Halimy, dalam artikel Sejarah Pondok Sabilul Muttaqin. “Saya bersama keluarga menempati rumah tua, dindingnya sudah lapuk. Kalau malam sulit untuk tidur lelap, karena angin dingin menerobos celah-celah dinding yang sudah lapuk”.

    Pada masa sulit ini, K.H. Ahyat Halimy sempat terpilih menjadi anggota Konstituante (Semacam MPR) di Jakarta, yaitu pada masa berlakunya UUDS RI Tahun 1950, tetapi tugas ini hanya dijalani sekitar dua tahun. K.H. Ahyat Halimy mengajukan pengunduran diri dari anggota Konstituante, karena merasa ini bukan makom atau bidang keahliannya. Keputusan yang bagi kebanyakan orang terasa sangat aneh. Betapa tidak, ketika belum mendapatkan pekerjaan yang bisa menjamin kelancaran kehidupan rumah tangganya, K.H. Ahyat Halimy memilih mengundurkan diri dari anggota Konstituante hanya karena merasa bukan bidang keahliannya, pada hal menjadi anggota Konstituante (MPR) berarti “pekerjaan” yang lumayan juga ?.

    Keadaan sulit ini, mengingatkan K.H. Ahyat Halimy pada “dawuh” K.H. Ahmad Basyari Sukonegoro dari Cianjur ;” Sopo wonge ziarah wali songo sarono urut-urut, Insya Alloh oleh barokahe Walisongo” (Barang siapa yang mau berziarah ke makam Walisongo secara berurutan, Insya Alloh akan men-dapat barokah dari Walisongo). K.H. Ahyat Halimy pun akhirnya berangkat ziarah ke Walisongo, menggunakan kendaraan apa saja, dengan bekal uang hasil penjualan gelang milik istrinya. “Lelono” ini membutuhkan waktu satu bulan lebih.

    Ketika sampai di makam Sinuhun Syarif Hidayatullah (Sunan Giri), K.H. Ahyat Halimy mendapat isyarah, bahwa makom-nya ada di dalam Mihrab (tempat Imam Sholat). Isyarah yang sama juga di dapat oleh K.H. Ahyat Halimy, ketika berholwat di makam Batuampar, Madura. K.H. Ahyat Halimy bermimpi ketemu Rosulloh SAW, yang juga menyatakan bahwa makom-nya ada di dalam Mihrab. Isarah-isarah itu kemudian digabungkan oleh beliau, dengan berpedoman pada perilaku Hadratus syaih K.H. Hasyim Asy’ari, yang pernah bercerita, setelah berbagai macam pekerjaan ditempuh dan dijalani, oleh Hadrotussyaih bahkan sampai menjadi “blantik jaran”, akhirnya Hadrotus syaih berkata “ Bareng aku hidmatul ilmu, maka opo wae hasil kabeh”. ( Bersama saya, mengabdi kepada Ilmu, maka apapun akan terpenuhi ).

    Berdasarkan pengalaman-pengalaman diatas, maka sejak tanggal 25 Januari 1956, K.H. Ahyat Halimy mulai bertekad untuk mengabdi pada ilmu, dan mengadakan kuliah subuh, di surau kecil peninggalan datuknya + 150 tahun yang lalu. Kitab yang dibaca adalah kitab Kasyifat al Sajaa’, sesuai dengan saran K.H. Romly, Rejoso Jombang dengan mengatakan “ Kang Ahyat, kitab niku manfaat kangge tiyang Jawi !”. Sejak itu sampai dengan sekarang, kuliah subuh itu terus diselenggarakan secara istiqomah, kecuali hari raya Idul Fitri, di tempat yang sama, yaitu surau kecil yang sekarang telah berubah menjadi Masjid dan Komplek Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin.


    1). Beberapa Ulama sepuh, terutama ulama dari Pasuruan dan Jember, mengatakan bahwa Mbah Rofi’i dan Mbah Rowiyo, bukan saja dari Ampel dan Giri, tetapi kedua beliau adalah juga kerabat dari Sunan Giri dan Sunan Ampel. Namun K.H. Ahyat Halimy, setiap kali bercerita hanya mengatakan Mbah Rowiyo dari Giri, dan Mbah Rofi’i dari Ampel.

    SORBANSANTRI.COM

  • KH. AHYAT CHALIMY

    KH. AHYAT CHALIMY

    KH. Ahyat Chalimy (bagian 1)

    Jamaah sholat Isya’ di surau kecil itu baru saja usai. Beberapa anak muda masih asyik bercengkerama di teras surau. Ahyat, salah seorang dari anak muda itu, beranjak pulang ke rumahnya yang berada di sebelah surau. Beberapa saat kemudian Ahyat kembali sambil membawa cobek dan ulekan. “Ayo rujakan !” katanya pada teman-temannya. Rusman dan Thoyib yang dikenal jago memanjat, segera beraksi, memanjat pohon mangga yang berada persis didepan surau. Selain memanjat mangga, seluruh kegiatan “ngrujak” dilakukan oleh Ahyat. Bukan saja membuat rujak, waktu “liwetan” (menanak nasi untuk dimakan bersama), Ahyat juga yang mengerjakan. Diantara 12 pemuda yang suka bercengkerama di surau itu, Ahyat dikenal teman-temannya sebagai anak yang suka melayani teman-temannya.

    Sambil makan rujak, mereka berbicara mengenai banyak hal. Mulai dari masalah agama, sampai informasi terkini yang mereka dengar dari radio atau dari pembicaraan orang dewasa. Malam itu mereka membicarakan Perang Dunia ke dua, dimana Jerman dan Jepang sudah mulai menguasai beberapa negara. Kabarnya, Belanda sudah mulai diserang Jerman, dan tentara Jepang sudah menguasai Malaka. Tak penting apakah informasi itu akurat atau tidak, topik pembicaraan mereka selesai atau tidak. Yang penting mereka kumpul-kumpul, berinteraksi dan makan bersama.

    Setelah selesai makan rujak, tiba-tiba Ahyat usul untuk membuat kegiatan latihan pencak silat dan baris berbaris. Usul ini disambut dengan senang hati, dan mereka mulai mengajak pemuda yang lain untuk bergabung. Seluruh kegiatan ini dipusatkan di surau kecil, berukuran 5 X 5 m, yang terletak di ujung barat Jalan Miji No. 36 Mojokerto. Biasanya latihan silat diselenggarakan di depan surau, dan latihan baris berbaris, berangkat dari surau menuju ke Pulorejo. Disekitar jembatan Pulorejo itulah mereka latihan baris dengan lebih intensif.

    Mereka sama sekali tidak menduga, apalagi merencanakan, bahwa dari komunitas 12 orang itu kemudian berkembang menjadi puluhan orang, bahkan ratusan pemuda militan yang tergabung dalam laskar rakyat Hisbullah pada perang Kemerdekaan tahun 1945. Pasukan Hisbullah yang pertama dibentuk pada tahun 1943 dan mendapatkan fasilitasi dari Pemerintah Pendudukan Jepang, berupa latihan dasar perang gerilya, untuk mempertahankan Indonesia dibawah kepemimpinan Jepang. Dua tahun kemudian, setelah Proklamasi dikumandangkan, “Pasukan Hisbullah” yang dibentuk melalui forum “rujakan” ini telah mempunyai kekuatan dua batalyon. Batalyon pertama dipimpin oleh Mansur Sholikhi, dan Batalyon kedua dipimpin oleh Munasir.

    Bukan itu saja, surau kecil milik keluarga H. Abd. Halim di Desa Mentikan, tepatnya Jl. Miji No.36 itu menjadi pusat berbagai macam aktifitas keagamaan, sosial dan kebangsaan, yang dimotori oleh dua bersaudara yaitu K.H. Ahyat Halimy dan kakak kandungnya K.H. Aslan. Di Surau ini pula, Syarikat Tani Islam Indonesia (STII) didirikan, yaitu pada tahun 1951. Tahun 1965, surau ini menjadi pusat penumpasan G.30.S PKI dan tempat kelahiran barisan Orde Baru yang diberi nama Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Dengan fasilitasi dan dorongan dari K.H. Ahyat Halimy, tahun 1968, didirikan pula Koperasi Tani yang dimotori oleh H. Husein Abd Gani ( kakak kandung Ruslan Abdul Gani, sesepuh PNI). Bahkan sejak tahun 1958 sampai sekarang, surau ini selalu digunakan untuk kegiatan sosial berupa Khitanan Massal, yang terus berlangsung setiap bulan Dzul Hijjah sampai sekarang.

    Tanggal 29 April 1964, K.H. Ahyat mulai membangun surau itu menjadi Pondok Pesantren hanya dengan modal keyakinan dan tekad yang besar. Ketika pembangunan dimulai, dengan menggali pondasi, K.H. Ahyat tidak mempunyai modal sama sekali, satu-satunya modal yang dimiliki adalah “do’a” dari Almukarrom Kanjeng Sunan Giri, dalam mimpinya, “Kowe tak dungakno iso mbangun bangunan”, kata Kanjeng Sunan. Kemudian ketika batu pertama diletakkan, datang orang tak dikenal memberikan bantuan berupa 23.000 batu bata merah.

    Maka berdirilah Pondok Pesantren, sebagai pusat pendidikan dan pengkaderan pemuda-pemuda Islam, pusat kegiatan sosial keagamaan, sosial kemasyarakatan, serta politik kebangsaan, yang semuanya didasarkan pada landasan Iman kepada Alloh SWT dan Rosul-Nya, Tasdiq, Ihlas. Yakin, Sabar dan Syukur, serta Tawakkal kepada Alloh SWT.

    Pondok Pesantren “Sabilul Muttaqin” ini telah didaftarkan sebagai Badan Hukum melalui Akte Notaris Gusti Johan Nomor 156 tertanggal 20 Desember 1972 dengan nama Yayasan “Sabilul Muttaqin”, dan berkedudukan di Jl. K.H. Wahid Hasyim (dulu Jl. Miji) Nomor 38 Mojokerto. Untuk mencapai lokasi ini, sebenarnya tidaklah terlalu sulit, sebab semua kendaraan umum di Kota Mojokerto, tahu persis tempat ini, anda cukup mengatakan “Pondoke Abah Yat” maka anda akan diantar kesana. Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin ini memang lebih dikenal oleh masyarakat awam dengan sebutan “Pondoke Abah Yat”.

    SORBANSANTRI.COM