Tag: Nahdlatul Ulama

  • PBNU ke Depan: Kepemimpinan yang Menjaga Akar, Menyapa Zaman

    PBNU ke Depan: Kepemimpinan yang Menjaga Akar, Menyapa Zaman

    Oleh :
    Abdul Ghofar Fathoni
    Ketua PC LBMNU Kab. Mojokerto

    Dinamika kebangsaan, perubahan sosial yang cepat, serta tantangan internal umat menuntut PBNU dipimpin oleh figur yang tidak hanya kuat secara struktural, tetapi juga matang secara kultural dan visioner secara strategis. NU hari ini membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjaga tradisi sekaligus memandu transformasi. Dalam konteks itulah, duet KH. Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam dan Gus Salam sebagai Ketua Umum PBNU menjadi pilihan yang relevan dan rasional.

    Sebagai Rais Aam, KH. Said Aqil Siradj memiliki legitimasi keilmuan dan pengalaman yang tidak diragukan. Beliau bukan hanya sosok ulama dengan basis intelektual kuat, tetapi juga figur yang telah teruji dalam memimpin NU di tengah dinamika politik dan sosial yang keras. Kapasitasnya dalam merawat khittah, menjaga marwah ulama, serta memosisikan NU sebagai kekuatan moral bangsa adalah modal penting untuk kepemimpinan ke depan.

    Lebih dari itu, KH. Said dikenal memiliki jejaring luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Hal ini menjadikannya figur strategis dalam menjaga posisi NU sebagai organisasi Islam moderat yang berpengaruh dan diperhitungkan. Di tengah meningkatnya polarisasi dan ekstremisme, kehadiran Rais Aam yang berwibawa dan diterima lintas kelompok menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar pilihan.

    Sementara itu, posisi Ketua Umum PBNU membutuhkan sosok eksekutor yang lincah, komunikatif, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Gus Salam merepresentasikan kebutuhan tersebut. Ia membawa semangat generasi baru NU yang memahami tata kelola organisasi modern, penguatan ekonomi umat, serta pentingnya inovasi dalam pelayanan jam’iyyah. Kepemimpinannya diharapkan mampu menggerakkan mesin organisasi secara lebih efektif dan profesional.

    Gus Salam juga memiliki kedekatan kultural dengan kader muda NU tanpa kehilangan akar tradisinya. Ini penting untuk menjembatani jarak antara struktur dan basis, antara nilai-nilai pesantren dan tantangan era digital. NU tidak boleh terjebak nostalgia, tetapi juga tidak boleh tercerabut dari akarnya. Gus Salam berada di titik temu itu.

    Kombinasi KH. Said Aqil Siradj dan Gus Salam mencerminkan keseimbangan antara hikmah dan energi, antara kebijaksanaan ulama sepuh dan dinamika kepemimpinan muda. Rais Aam menjadi penjaga nilai dan arah, sementara Ketua Umum menjadi penggerak program dan konsolidator organisasi. Relasi ini bukan tumpang tindih, tetapi saling melengkapi.

    Pada akhirnya, kepemimpinan PBNU ke depan harus mampu menjawab dua hal sekaligus: menjaga jati diri NU dan mempersiapkannya menghadapi masa depan. Duet KH. Said Aqil Siradj dan Gus Salam menawarkan harapan akan kepemimpinan yang stabil, inklusif, dan progresif—sebuah kepemimpinan yang tidak hanya kuat di dalam, tetapi juga relevan di hadapan umat dan bangsa.

  • KONSEP MAJLIS SYURIAH ; SYURIAH YANG LEGITIMIT INSTITUSIONAL

    KONSEP MAJLIS SYURIAH ; SYURIAH YANG LEGITIMIT INSTITUSIONAL

    *Abdus Salam Sohib

    Sejarah berdirinya NU secara isntitusional adalah sejarah keorganisasian keagamaan yang memliki kekuatan ulama sebagai simbol ketokohan yang terlegitimasi baik sikap maupun gagasan. Keutamaan dari setiap dinamika yang terjadi di tubuh NU, Syuriah sebagai tokoh ulama selalu menjadi jalan berkeputusan yang berdasarkan cara pandang jami’iyah sekaligus perpektif jama’ah.

    Hadrotus Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari memiliki legacy institusional yang sangat bersejarah, yaitu berkeputusan mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad dalam penguatan kemerdekaan yang menjadi keputusan kelembagaan NU saat itu, Kyai Wahab Hasbullah justru lebih di kenal dengan berbagai ide pembaharuan pergerakan ke-NU-an, mulai dari pelopor Komite Hijaz atas restu Kyai Hasyim, Nadhdlatut Tujjar, Taswirul Afkar, Syubbanul Wathon. Kyai Bisri Syansuri saat menjadi rois am sangat melekat sebagai ahli fiqih yang memiliki legacy perancang undang undang pernikahan yang memasukkan ketentuan fiqih sebagai dasar pernikahan di Indonesia, dan juga berkeputusan pancasila sebagai dasar negara yang legitimit berdasarkan fiqih siyasah. Kyai Ali Maksum saat menjadi Rois Am sangat kuat dengan keadaan politik tarik menarik NU dalam kancah politik saat itu, dan Kyai Ali Maksum menjadi penggerak jalan damai bagi persatuan di antara kader NU yang telah terpolarisasi dalam berbagai jalan politik masing masing hingga Kyai Ali Maksum bersama Kyai Ahmad Siddiq melakukan langkah fiqih yang mendasari pancasila sebagai asas tunggal dan kembalinya NU ke Khittah 1926 pada Muktamar Situbondo tahun 1984. Saat Kyai Ahmad Siddiq menjadi Rois Am sangat di kenal sebagai salah satu perumus khittah 1926 sekaligus penjaga khittah 1926 yang konsisten. Dan, yang sangat di kenal dari Kyai Ahmad Siddiq hingga saat ini adalah rumusan trilogi ukhuwah, yaitu ukhuwan islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariah. Kyai Ilyas Ruhiyat saat menjadi Rois Am waktu itu sangat kuat dengan konsistensi sikap dalam menghadapi keadaan politik orde baru yang berjarak dengan NU, dengan konsistensi Kyai Ilyas Ruhiyat, Gusdur yang waktu itu sebagai sebagai Ketua Umum Tanfidziyah justru memiliki penjaga kelembagaan NU yang sangat kokoh, konsisten dan tidak goyah dengan intervensi politik. Hingga Kyai Ilyas Ruhiyat ikut menjadi deklarator berdirinya PKB supaya kelembagaan NU tetap di jalan kelembagaan keagamaan. Kyai Sahal Mahfud saat menjadi Rois Am memiliki legacy keilmuan Fiqih Sosial sebagai metodologi fiqih yang kontekstual dan transformatif, melihat syariat Islam sebagai kerangka untuk menjawab masalah sosial kontemporer seperti kemiskinan, ketidakadilan gender, dan krisis ekologi, bukan hanya hukum ritual. Dan saat Kyai Ma’ruf Amin sebagai Rois Am sangat di kenal dengan konseptor ekonomi syariah Indonesia. Perannya sangat besar dalam memajukan ekonomi syariah nasional, memimpin pengembangan industri keuangan syariah, mempromosikan sertifikasi halal, mendorong sinergi antara ulama dan akademisi, serta menggerakkan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) untuk mewujudkan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia dengan prinsip keadilan, keumatan, dan kedaulatan. Tentu, sejarah panjang kelembagaan syuriah di NU sangat kental dengan kekuatan figur yang mampu beradaptasi dengan keadaan dan zaman yang sekaligus memiliki karakter sebagai penjaga jam’iyah.

    Saat ini, perkembangan zaman dalam pengelolaan jam’iyah NU sangat dinamis. Keterbukaan akses dan jaringan dari semua pihak menjadi tantangan yang tidak mudah bagi NU. Siapapun bisa menjadi mitra produktifnya NU, baik dari sisi sosial, politik, budaya, bahkan ekonomi. Karena itu NU menjadi kelembagaan yang sangat di incar dari berbagai keinginan untuk memperluas pergerakan semua pihak yang berkepentingan dengan dampaknya kelembagaan NU. Hingga banyak persoalan yang muncul di NU karena akibat dari situasi keterbukaan yang tidak bisa di bendung. Dan berbagai persoalan dan tantangan itu, NU butuh supremasi kelembagaan yang kuat. Maka, mengembalikan fungsi syuriah sebagai institusi yang memiliki ketangguhan konsistensi jam’iyah perlu di rumuskan. Salah satu cara pandang yang menguatkan supremasi syuriah adalah dengan menjadikan kelembagaan syuriah sebagai majlis kolektif para ulama yang secara sikap dan keilmuan memiliki konistensi penjaga jam’iyah.

    MAJLIS SYURIAH

    Istilah yang bisa digambarkan dengan mudah adalah semacam Majlis Permusyawaratan Syuriah. Majlis ini terdiri dari sejumlah ulama yang memimpin NU dalam satu periode secara kolektif dan kepemimpinannya ditunjuk bergiliran setiap tahun hinggab selesai dalam satu periode lima tahun. Majlis Syuriah dapat merumuskan kepemimpinan tanfidziyah dalam satu periode yang di putuskan dalam Muktamar NU. Kenapa ide ini menjadi cara pandang baru dalam keberlangsungan kelembagaan NU. Karena saat ini NU butuh kelembagaan kolektif supaya menjadi lembaga yang tangguh dari berbagai intervensi yang memungkinkan NU di tarik dalam pusaran kepentingan tertentu. Ada beberapa keutamaan yang dapat dijadikan pondasi kekokohan keberlangsungan kelembagaan NU dengan format majlis syuriah :

    1. Indepensi Institusi. NU akan mempunyai struktur yang mengembalikan fungsi syuriah sebagai supremasi institusi yang lebih independen, bisa memilah antara sikap individu dan sikap kelembagaan. Begitupun dengan kebutuhan keputusan syari’ah keagaamaan, akan memiliki kekuatan yang legitimit karena manjadi pendapat yang jumhur.
    2. Kontrol kelembagaan. Majlis Syuriah akan lebih memiliki obyektifitas dalam kontrol kelembagaan NU yang dijalankan oleh tanfidziyah. Tidak ada lagi persoalan individu, tidak ada lagi persoalan suka dan tidak suka kepada pribadi, tidak ada lagi individu yang dominan, tidak ada pihak pihak yang mengataskan pribadi tertentu untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.
    3. Konsistensi keberlanjutan. Saat ini, perkembangan NU perlu keberlanjutan tatanan di semua sektor. Ada banyak pengembangan ekonomi di berbagai kelembagaan NU yang telah berjalan dengan sangat produktif, ada banyak rumah sakit atau pelayanan kesehatan yang terus tumbuh, ada banyak lembaga pendidikan dan universitas yang semakin berkembang, ada banyak majlis keagamaan yang menjadi representasi jamaah NU. Semua ini tidak boleh menjadi ajang intervensi personal yang bisa merusak tatanan setiap ada pergantian periode kepengurusan
    4. Penjaga Otorita Institusi. Dengan adanya Majlis Syuriah tidak perlu lagi ada majlis tahkim yang menjadi lembaga pemutus masalah. Karena Majlis Syuriah melalui kepemimpinan yang kolektif bisa melakukan permusyawatan yang dapat memutuskan persoalan antar pihak di internal NU maupun pihak yang melanggar aturan secara kelembagaan maupun secara syariah.
    5. Penjaga Martabat Keilmuan. Majlis Syuriah adalah kumpulan para ulama yang legitimit kealimannya yang bisa mewakili keilmuan ahlussunah waljamaah di dalam forum intelektual islam di Indonesia maupun di berbagai negara.

    Semoga pemikian ini menjadi arah baru bagi NU yang harus tetap istiqomah an-nahdliyah baik sebagai jam’iyah maupun berkhidmat kepada jamaah, bangsa dan negara.

  • PBNU Klarifikasi Beredarnya Dokumen Risalah Rapat Syuriyah di Media Sosial

    PBNU Klarifikasi Beredarnya Dokumen Risalah Rapat Syuriyah di Media Sosial

    Jakarta — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi mengeluarkan klarifikasi terkait tersebarnya dokumen Risalah Rapat Harian Syuriyah di berbagai platform media sosial sejak 21 November 2025. Klarifikasi tersebut disampaikan melalui surat bernomor 4778/PB.02/A.1.01.47/99/11/2025 yang ditandatangani secara elektronik oleh pimpinan PBNU.

    Dalam penjelasannya, PBNU menegaskan bahwa dokumen risalah yang beredar belum memiliki kekuatan administrasi dan belum dapat dinyatakan sebagai dokumen resmi organisasi.


    Rapat Syuriyah Diikuti 37 Anggota dan Sah Secara Kuorum

    Rapat Harian Syuriyah digelar pada 20 November 2025 di Hotel Aston City Jakarta dan dihadiri 37 dari 53 anggota, sehingga memenuhi ketentuan kuorum sebagaimana diatur dalam Peraturan Perkumpulan NU. Sebanyak 7 anggota absen dengan izin, sementara 9 tidak hadir tanpa keterangan.

    PBNU menegaskan bahwa rapat berjalan sesuai mekanisme organisasi dan pembahasan berlangsung sebagaimana agenda yang ditetapkan.


    Risalah Belum Sah Secara Administratif

    Meski rapat sah, PBNU menegaskan bahwa risalah rapat yang beredar belum melalui prosedur legalisasi administrasi organisasi, sebagaimana diatur dalam:

    • Peraturan Perkumpulan NU Nomor 16 Tahun 2025 tentang Pedoman Administrasi, dan
    • Peraturan Perkumpulan Nomor 10 Tahun 2025 terkait legalisasi dokumen dan pengesahan keputusan.

    Surat tersebut menjelaskan bahwa risalah harus ditandatangani oleh pihak yang berwenang sebelum dinyatakan sah, dan hal itu belum terjadi pada dokumen yang beredar di publik. Karena itu, PBNU menyatakan bahwa risalah tersebut belum bisa dijadikan dasar keputusan atau acuan resmi organisasi.


    Surat Pengantar Belum Ditandatangani

    PBNU juga menyebutkan bahwa surat pengantar risalah rapat seharusnya ditandatangani oleh pejabat organisasi sesuai aturan, namun hingga klarifikasi dipublikasikan, dokumen tersebut belum ditandatangani, sehingga status administratifnya belum terverifikasi.


    Pertemuan Internal dan Penyerahan Kembali Dokumen

    Surat tabayun PBNU juga mengungkap bahwa telah dilakukan pertemuan internal antar pengurus untuk mereview dokumen yang beredar dan menyerahkannya kembali kepada pejabat berwenang untuk proses pengecekan formal sesuai mekanisme.


    Harapan Agar Publik Tidak Keliru Memahami Informasi

    Melalui klarifikasi ini, PBNU berharap masyarakat, pengurus wilayah, dan pengurus cabang tidak keliru memahami status dokumen yang beredar, serta mengimbau agar informasi terkait keputusan organisasi tetap merujuk pada dokumen resmi yang telah melalui tahapan administrasi sesuai ketentuan.

  • PBNU Diuji, JATMAN Tolak Undangan, Ancam Kudeta

    PBNU Diuji, JATMAN Tolak Undangan, Ancam Kudeta

    Surabaya, Sorbansantri.com – Keharmonisan internal Nahdlatul Ulama (NU) kembali diuji. Kali ini, Jami’yah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An-Nahdliyah (JATMAN) menolak undangan silaturahmi dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Keputusan ini diambil setelah JATMAN mencurigai adanya upaya pengambilalihan kepengurusan.


    Dalam surat resmi yang ditandatangani oleh Rois Aam JATMAN, Dr Habib Muhammad Luthfiy Ali Bin Yahya, JATMAN secara tegas melarang seluruh anggotanya untuk menghadiri acara silaturahmi yang dijadwalkan pada tanggal 19 September 2024 di Hotel Bumi Kota Surabaya. JATMAN menilai bahwa acara tersebut bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan sebuah upaya untuk mengkudeta kepengurusan yang sah.


    “Kami telah memantau bahwa materi silaturahmi yang akan diselenggarakan PBNU tersebut substansinya adalah menindaklanjuti hasil perbincangan kehadiran sekelompok orang yang mengatasnamakan mursyid JATMAN ke PBNU dan diterima oleh Ketua Umum PBNU,” tulis Rois Aam JATMAN dalam suratnya.


    JATMAN juga mengancam akan memberikan sanksi tegas bagi seluruh anggota yang nekat menghadiri acara tersebut. Sanksi tersebut akan berupa sanksi keanggotaan dan kemungkinan sanksi lainnya yang akan ditentukan kemudian.


    Menanggapi penolakan JATMAN, pihak PBNU belum memberikan pernyataan resmi. Namun, surat undangan yang ditandatangani oleh Wakil Ketua Umum PBNU, KH Zulfa Mustofa, dan Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, Drs H Lukman Khakim, menunjukkan bahwa PBNU sangat mengharapkan terjalinnya silaturahmi yang baik dengan JATMAN.


    Konflik antara PBNU dan JATMAN ini tentunya menimbulkan kekhawatiran di kalangan Nahdliyin. Banyak yang berharap agar kedua belah pihak dapat menyelesaikan masalah ini secara musyawarah dan mufakat demi menjaga keutuhan NU.

  • Respons Berbeda NU dan Muhammadiyah: Konsesi Tambang Jokowi Picu Perdebatan

    Respons Berbeda NU dan Muhammadiyah: Konsesi Tambang Jokowi Picu Perdebatan

    Berita Video

    wp.sorbansantri.com – Keputusan Presiden Joko Widodo mengizinkan organisasi masyarakat (ormas) keagamaan mengelola konsesi tambang melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 25 Tahun 2024 mendapat respons beragam dari dua ormas keagamaan terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

    NU Puji Jokowi dan Bentuk Perusahaan

    Pengurus Besar NU (PBNU) memuji keputusan Presiden Jokowi tersebut dan langsung bergerak cepat dengan membentuk perusahaan untuk mengelola konsesi tambang itu. Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, menyebut kebijakan ini sebagai langkah berani yang penting untuk memanfaatkan sumber daya alam demi kemaslahatan rakyat secara lebih langsung.

    “Kebijakan ini merupakan langkah berani yang menjadi terobosan penting untuk memperluas pemanfaatan sumber daya-sumber daya alam yang dikuasai negara untuk kemaslahatan rakyat secara lebih langsung,” ujar Gus Yahya pada Senin (3/6/2024). Yahya juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Presiden Jokowi atas keputusan ini.

    PBNU mengeklaim memiliki kemampuan dan sumber daya manusia yang mumpuni untuk mengelola konsesi tambang yang diberikan negara. “Nahdlatul Ulama telah siap dengan sumber daya-sumber daya manusia yang mumpuni, perangkat organisasional yang lengkap dan jaringan bisnis yang cukup kuat untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab tersebut,” kata Yahya.

    PBNU bahkan telah menunjuk bendahara umumnya, Gudfan Arif Ghofur, sebagai penanggung jawab dalam pengelolaan usaha pertambangan ini. “Kami sudah bikin PT-nya, kami sudah punya PT dan penanggung jawab utamanya adalah bendahara umum yang juga seorang pengusaha tambang,” jelas Yahya kepada wartawan pada Kamis (6/6/2024).

    Muhammadiyah Tak Gegabah

    Di sisi lain, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah lebih berhati-hati dalam merespons keputusan ini. Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa pemberian izin pengelolaan tambang harus melalui persyaratan ketat dan tidak otomatis diterima oleh ormas keagamaan.

    “Kemungkinan ormas keagamaan mengelola tambang tidak otomatis karena harus memenuhi persyaratan,” ujar Mu’ti. Hingga saat ini, belum ada pembicaraan resmi antara pemerintah dan Muhammadiyah terkait pengelolaan tambang tersebut.

    Majelis Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) PP Muhammadiyah juga memberikan respons tegas. Mereka menyebut pemberian izin pengelolaan tambang tanpa melalui proses lelang melanggar hukum dan membuka potensi tindak pidana korupsi. “Pemberian WIUP mineral logam dan batubara secara langsung tanpa melalui proses lelang merupakan pelanggaran terhadap UU Minerba dan merupakan penyalahgunaan kewenangan yang dapat berpotensi menjadi tindak pidana korupsi,” tegas Ketua Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah, Trisno Raharjo.

    Majelis Hukum dan HAM juga menekankan bahwa PP Muhammadiyah perlu mempertimbangkan dengan hati-hati tawaran pengelolaan tambang ini, mengingat Perpres Nomor 70 Tahun 2023 bertentangan dengan UU Minerba dan UU Administrasi Pemerintahan. “PP Muhammadiyah wajib memiliki aturan tata kelola yang baik agar siap dan mampu mengantisipasi dampak yang ditimbulkan terkait kegiatan pertambangan,” tambah Trisno. (AI Sorban)

    @beritasorban Keputusan Presiden Joko Widodo memberikan izin konsesi tambang kepada ormas keagamaan menuai respons beragam dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. PBNU memuji langkah Jokowi, menyebutnya sebagai terobosan penting, dan segera membentuk perusahaan tambang. Ketua Umum PBNU, Gus Yahya, menyatakan kesiapan NU dengan sumber daya manusia yang mumpuni. Sebaliknya, PP Muhammadiyah berhati-hati, menekankan pentingnya persyaratan ketat dan mengkritisi potensi korupsi tanpa proses lelang. Majelis Hukum dan HAM Muhammadiyah menilai kebijakan ini melanggar UU Minerba dan UU Administrasi Pemerintahan. Respons kedua ormas besar ini menunjukkan perbedaan pendekatan terhadap kebijakan pemerintah. #KonsesiTambang #NUvsMuhammadiyah #ResponsOrmas #JokowiKebijakan #TambangIndonesia #PBNU #PPMuhammadiyah #OrmasKeagamaan #PertambanganIndonesia #HukumTambang #fypシ゚ #breakup #fypシ゚viral ♬ suara asli – Sorban Santri
  • Biografi KH. Marzuki Mustamar: Ulama Tegas dan Peduli

    Biografi KH. Marzuki Mustamar: Ulama Tegas dan Peduli

    Berita Video

    Sorbansantri.com – KH. Marzuki Mustamar, lahir di Blitar, Jawa Timur pada 22 September 1966, merupakan sosok ulama yang memiliki pengaruh besar dalam dunia pendidikan dan organisasi keagamaan di Indonesia. Putra dari KH. Mustamar dan Nyai Hj. Siti Zainab ini sejak kecil telah mendapat pendidikan agama yang ketat dari kedua orang tuanya. Di bawah bimbingan mereka, beliau mulai mempelajari Al-Qur’an dan dasar-dasar agama, membangun fondasi yang kuat untuk perjalanan intelektual dan spiritualnya di masa depan.

    Pendidikan Awal dan Menengah

    KH. Marzuki mengawali pendidikan formalnya di SMP Hasanuddin, kemudian melanjutkan ke Madrasah Aliyah Negeri Tlogo Blitar. Di masa mudanya, beliau beruntung mendapat bimbingan dari beberapa kyai ternama di Blitar. Beliau mendalami ilmu balaghoh dan mantek dari Kyai Hamzah, ilmu fikih dari Kyai Abdul Mudjib, serta ilmu hadis dari Kyai Hasbullah Ridwan. Pada masa pendidikan di Madrasah Aliyah, beliau telah menyelesaikan khatam kitab Hadits Muslim dan beberapa kitab lainnya, menunjukkan kecemerlangan akademisnya sejak usia dini.

    Pendidikan Tinggi dan Gelar Akademis

    Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, KH. Marzuki melanjutkan studinya ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Malang, yang sekarang dikenal sebagai Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Di sana, beliau mengambil jurusan Perbandingan Mazhab dan meraih gelar Sarjana Muda pada tahun 1990, kemudian gelar Sarjana pada tahun 1993. Dedikasinya dalam bidang akademis tidak berhenti di situ; beliau melanjutkan ke jenjang Pascasarjana di IAIN Malang dan meraih gelar Magister dalam Ilmu Falak pada tahun 2000. Pada tahun 2011, beliau memperoleh gelar Doktor dalam Ilmu Ushul Fiqih dari Universitas Muhammadiyah Malang.

    Kiprah dalam Organisasi Nahdlatul Ulama

    Selain kegiatan akademis, KH. Marzuki Mustamar juga aktif dalam berbagai organisasi keagamaan, terutama Nahdlatul Ulama (NU). Beliau menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Malang selama dua periode, sebelum akhirnya terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur pada periode 2018-2023.

    Selama menjabat sebagai Ketua PWNU Jawa Timur, KH. Marzuki berupaya meningkatkan kualitas pendidikan dan dakwah NU di wilayah tersebut. Beliau juga aktif terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan, menunjukkan komitmennya dalam memberikan pelayanan kepada umat.

    Penghargaan dan Pengakuan

    KH. Marzuki Mustamar dikenal sebagai ulama yang tegas, berwibawa, dan peduli terhadap umat. Dedikasi dan kontribusinya telah diakui secara luas, dengan berbagai penghargaan yang diterimanya. Beberapa di antaranya adalah “Tokoh Perubahan” dari majalah Tempo pada tahun 2019, “Tokoh Inspiratif” dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang pada tahun 2020, dan “Tokoh Berdedikasi” dari Universitas Muhammadiyah Malang pada tahun 2021.

    Kontribusi untuk Nahdlatul Ulama dan Indonesia

    Kehadiran KH. Marzuki Mustamar dalam dunia keagamaan dan pendidikan memberikan kontribusi besar bagi kemajuan Nahdlatul Ulama dan Indonesia secara keseluruhan. Dengan kepemimpinan yang visioner dan komitmen yang kuat terhadap nilai-nilai Islam, beliau terus berupaya memperkuat pondasi pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial di masyarakat. KH. Marzuki Mustamar bukan hanya seorang ulama, tetapi juga seorang pemimpin yang menginspirasi banyak orang untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara. (AI Sorban)

    @beritasorban KH Marzuki dikenal sebagai Ketua PWNU Jawa Timur periode 2018-2023, di mana beliau berupaya meningkatkan kualitas pendidikan dan dakwah NU. Selain itu, beliau aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan. Dedikasi dan kepemimpinannya yang tegas telah mendapat pengakuan luas, termasuk penghargaan 'Tokoh Perubahan' dari majalah Tempo pada tahun 2019 dan 'Tokoh Inspiratif' dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tahun 2020. KH Marzuki Mustamar adalah contoh ulama yang peduli dan berdedikasi untuk umat. #KHMarzukiMustamar #UlamaTegas #PWNUJatim #TokohInspiratif #NahdlatulUlama #PendidikanIslam #PemimpinBerdedikasi #FypProfile #fypシ゚ ♬ suara asli – Sorban Santri
  • Mukibul Pura-Pura Lupa Pada Sejarah

    Mukibul Pura-Pura Lupa Pada Sejarah

    Mojokerto, SorbanSantri.com – Sejarah mencatat bahwa awal kemerdekaan Indonesia diwarnai oleh berbagai perjuangan dan pengkhianatan. Salah satunya adalah kisah Muso Al-Musawwa Klan Balawi, seorang habib yang mengajarkan ideologi komunisme. Muso, yang terinspirasi oleh ideologi komunisme dari Yaman, terlibat dalam pembunuhan Gubernur pertama Jawa Timur, Suryo. TNI akhirnya menumpas Muso dan komplotannya, membakar mereka hidup-hidup di Alun-alun Purworejo.

    Tragedi ini seharusnya menjadi pelajaran penting bahwa rakyat Indonesia hanya menginginkan Pancasila sebagai dasar negara. Namun, ketika Muso menyebarkan komunisme, mengapa Rabithah Alawiyah (RA) tidak memperingatkannya? Pertanyaan ini kembali mengemuka ketika sejarah berulang di tahun 1965 dengan tokoh Achmad Ja’far Al-Aidid atau D.N. Aidit, serta para habaib lainnya yang memperjuangkan sistem komunisme di Indonesia. Mereka juga berakhir tragis, seperti Aidit yang ditembak mati di Boyolali.

    Tidak hanya pada masa awal kemerdekaan, propaganda radikal kembali muncul. Rizieq Shihab, misalnya, mempengaruhi umat Islam di Indonesia untuk mendukung ISIS. Namun, RA tidak mengambil tindakan tegas untuk memperingatkannya. Demikian pula pada tahun 2012, ketika keterlibatan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dalam Front Pembela Islam (FPI) terjadi, RA dan habaib lainnya tidak melakukan pencegahan yang diperlukan.

    Laman: 1 2

  • MENJAGA AKIDAH

    MENJAGA AKIDAH

    oleh (KH DR Surahman Hidayat MA) SCC Pusat

    إنَّ الْحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفرهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنُعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللّه فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِل فَلاَ هَادِي لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إلَهَ إلاّ اللّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ والصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى حَبِيْبِنَا وَحَبِيْبِ رَبِّ العالمَيْنَ إمامِ المتقين وقَائدِ الغُرِّ المُحَجَّلِينَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وأنصاره وأحْبَابِه وَمَنْ تَبِعَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمّا بَعْدُ».

    فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ:
    يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

    KHUTBAH I

    Jamaah Jum’at rahimakumullah

    Alhamduillahi rabbil ‘alamin, puji dan syukur hanya milik Allah Swt yang telah memberikan banyak nikmat dan rahmat-Nya kepada kita. Terutama nikmat Iman, Islam, dan Ihsan. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada suri tauladan umat manusia, baginda Nabi Muhammad saw, kepada seluruh keluarga, para sahabat, serta seluruh ummatnya hingga akhir zaman.

    Di antara keistimewaan yang Allah berikan kepada umat Muhammad saw adalah umat ini dijadikan oleh Allah sebagai khairu ummah (umat terbaik) yang dihadirkan untuk memberikan maslahat kepada umat manusia. Allah befirman,

    كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ

    Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah (QS Ali Imran: 110)

    Posisi umat terbaik tersebut bukan pilihan pribadi dan bukan pula keinginan manusia. Namun merupakan pilihan dan ketetapan Allah berdasarkan hikmah dan pengetahuan-Nya. Karena itu sudah seyogyanya umat Islam bangga dan bersyukur atas posisi terhormat yang Allah berikan. Mereka harus menunjukkan identitas dan jati dirinya sebagainya umat yang terbaik dan mulia, baik dalam hal ibadah, akhlak, muamalah, dan terutama dalam hal akidah.

    Tauhid sebagai pondasi utama akidah umat harus benar-benar ditunjukkan dan dijaga dengan baik. Ia adalah bagian dari jalan Islam dan jalan yang lurus yang senantiasa menjadi satu-satunya doa dalam surat al-Fatihah yang dibaca pada setiap shalat dan berbagai kesempatan lainnya.

    اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

     صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ


    “Tunjuk
    i kami jalan yang lurus, jalan orang yang Kauberi nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurka, dan bukan (jalan) mereka yang sesat” (QS. Al-Fatihah ayat 7).

    Jalan Islam atau jalan yang lurus inilah yang akan mengantarkan pada nikmat Allah yang kekal abadi. Ia adalah jalan keselamatan dan kebahagiaan. Kelurusan dan keistikamahan akidah menjadi kuncinya. Tidak boleh mengikuti jalan keyakinan kelompok lain yang dimurka atau jalan keyakinan kelompok lain yang tersesat jalan. Dengan kata lain, tidak boleh meniru, menyerupai, dan mencontoh hal-hal yang terkait dengan keyakinan dan akidah umat di luar Islam.

    مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم

     Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia bagian dari mereka. (HR Abu Daud)

    Karena itu, umat Islam harus bangga dengan akidahnya sendiri. Salah satunya dengan memuliakan dan mengagungkan syiar-syiar dan ajaran Islam. Pasalnya, itu adalah salah satu bentuk ketakwaan dalam hati. Allah befirman,

    ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

    Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. (QS al-Hajj: 32).

    Wujud lain dari bangga dengan akidah Islam adalah tidak menyembah dan tidak meminta kecuali kepada-Nya (iyyaka na’budu wa iyyaka na’sta’in). Dialah Tuhan dan sandaran satu-satunya. Dialah yang layak disembah dan diminta. Hanya Dia yang dapat memenuhi seluruh harapan baik hamba. Serta hanya Dia yang dapat memberikan apresiasi dan balasan terbaik kepada amal saleh manusia.

    Oleh sebab itu, beribadah, berdoa, dan bersandar harus kepada-Nya semata. Itulah yang dilakukan oleh Nabi saw. Pada saat-saat genting, di antaranya pada saat perang Badar, Nabi saw bangkit berdiri di saat malam untuk berdoa bermunajat kepada-Nya. Tiada lagi harapan dan sandaran kecuali kepada Allah Swt.

    إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُم بِأَلْفٍ مِّنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِ قُلُوبُكُمْ ۚ وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِندِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

    (Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut” Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS al-Anfal: 9-10).

    Demikianlah, doa dan munajat yang tulus disertai dengan ikhtiar dan ibadah yang benar akan menghasilkan pengabulan yang luar biasa. Allah memberikan kabar gembira, ketenangan sikap optimis, dan keyakinan bahwa hanya Allah yang dapat menghadirkan kemenangan meskipun dalam kondisi yang sulit dan tampak mustahil.

    Bagi Allah tidak ada yang mustahil. Dia Mahakuasa melakukan apa saja. Yang penting ada  keikhlasan dalam beramal ibadah, disertai dengan ikhtiar yang maksimal, serta doa dengan penuh keyakinan, dengan itu semua insya Allah Dia akan mengabulkan dan memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya.

    يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِنۡ تَـنۡصُرُوا اللّٰهَ يَنۡصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ اَقۡدَامَكُمۡ

    Hai orang-orang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

    Itulah janji Allah. Sangat mudah bagi Allah untuk melindungi dan menjaga bangsa ini dari kehancuran. Sangat mudah bagi Allah untuk menolong dan membela agama-Nya. Sangat mudah bagi Allah mewujudkan kemuliaan agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta dalam mewujudkan tujuan nasional. Yang harus dilakukan oleh kita selaku umat-Nya adalah memenuhi perintah-nya, menjauhi larangan-Nya, memantaskan diri untuk mendapat janji-Nya disertai prasangka baik pada-Nya.

    أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي

    Sesungguhnya Aku berdasarkan pada prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku akan selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku.(HR al-Bukhari)

    Semoga taufik dan inayah Allah membersamai kita semua.

    بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ بالْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ تِلاَوَتَه فِي كُلِّ وَقْتٍ وَحِين إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. واسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

    KHUTBAH II

     اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا، أَمَّا بَعْدُ،

    فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

     اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،

    اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ

    اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وشَمَاتة الأعْداَء وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً،

    اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ

    رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

    عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ الْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر

  • Cerminan Pahlawan NU dalam Membangun Peradaban Indonesia

    Cerminan Pahlawan NU dalam Membangun Peradaban Indonesia

    wp.sorbansantri.com – Sebagai bagian dari Gerakan Pemuda Ansor dan Banser, para anggota Banser (Barisan Ansor Serbaguna) memiliki alasan tersendiri untuk merasa bangga dan berbeda dari yang lain. Mereka bukan hanya mengenakan seragam Banser sebagai atribut semata, melainkan melalui proses panjang dan berjenjang untuk mendapatkan pengakuan sebagai anggota Banser yang sesungguhnya.

    Salah satu hal yang membuat Banser begitu istimewa adalah proses pengenalan dan pendidikan yang dikenal dengan Diklatsar/DTD (Diklat Kader Banser/Didik Latihan Dasa Serbaguna). Hanya melalui Diklatsar inilah seseorang dapat meraih gelar Banser. Namun, perjalanan tidak berhenti di situ, karena bagi yang ingin meniti jenjang kepemimpinan di dalam Banser, mereka harus mengikuti Susbalan (Susunan Balai Latihan) dan mencapai pendidikan tertinggi, Susbanpim (Susunan Balai Pimpinan).

    Tidak hanya itu, Banser juga memiliki unit-unit khusus seperti Corps Provost Banser, Balantas, Bagana, Balakar, Protokoler Banser, Basada, Baritim, yang hanya dapat diakses setelah melewati proses seleksi dan Diklatsus (Diklat Khusus). Semua ini dirancang untuk mencetak generasi Banser yang berani, tangguh, dan siap menjaga serta membela NU (Nahdlatul Ulama) dan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

    Kekuatan Banser tidak hanya berasal dari pelatihan fisik dan teknis, melainkan juga dari do’a dan barokah yang diberikan oleh para Kyai dan Alim Ulama NU. Kegiatan Banser sendiri mencakup aspek keagamaan, kemanusiaan, sosial kemasyarakatan, pembangunan, serta bela negara, yang selaras dengan program kegiatan Gerakan Pemuda Ansor dan Banser.

    Banser bukan sekadar organisasi, melainkan sebuah pesantren kedisiplinan, bela negara, dan penjaga Pancasila dalam kerangka Ahlussunnah Wal Jama’ah An Nahdliyah. Mereka adalah cerminan terbaik yang bisa diceritakan kepada generasi penerus, sebagai pahlawan Nahdlatul Ulama yang digdaya dalam membangun peradaban Indonesia, memperjuangkan agama, bangsa, dan negara. (AI Sorban)

  • KISAH DAHSYATNYA SHOLAWAT NABI

    KISAH DAHSYATNYA SHOLAWAT NABI

    Malaikat Jibril AS:

    ”Wahai Rasulullah, Barang siapa yang membaca shalawa keatasmu, tiap-tiap hari sebanyak sepuluh kali, maka akan aku bimbing tangannya dan akan aku bawa di melintasi titian (Shirathal Mustaqim) seperti kilat menyambar”.

    @beritasorban

    KISAH DAHSYATNYA SHOLAWAT NABI Malaikat Jibril AS: ”Wahai Rasulullah, Barang siapa yang membaca shalawa keatasmu, tiap-tiap hari sebanyak sepuluh kali, maka akan aku bimbing tangannya dan akan aku bawa di melintasi titian (Shirathal Mustaqim) seperti kilat menyambar”. Baca selengkapnya https://wp.sorbansantri.com/kisah-dahsyatnya-sholawat-nabi/ sorbansantri beritasorban sholawat #hikmah

    ♬ suara asli – Sorban Santri – Sorban Santri

    Malaikat Mikail AS:

    ”Ya Rasulullah, mereka yang bersholawat keatasmu, akan aku beri mereka itu minuman dari telagamu”

    Malaikat Isrofil AS:

    ”Mereka yang bershalawat kepadamu, aku akan sujud kepada Allah SWT dan aku tidak akan mengangkat kepalaku, sehingga Allah SWT mengampuni orang itu (yang bershalawat)”.

    Malaikat Izrail AS:

    ”Bagi mereka yang bershalawat kepadamu, akan aku cabut ruh mereka itu dengan selembut-lembutnya seperti aku mencabut ruh pada Nabi-nabi”.

    Allahumma Sholli ”Alla Sayyidina Muhammad Wa’Alaa Ali Sayyidina Muhammad.

    Kutipan dari kitab: Kifayatul Atqiya.

    Laman: 1 2 3