Tag: Nahdlatul Ulama

  • KH. ZAINUDDIN BIN MU’MIN MOJOSARI NGANJUK.

    KH. ZAINUDDIN BIN MU’MIN MOJOSARI NGANJUK.

    SORBANSANTRI.COM

    Sorban Santri – KH. Zainuddin merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tua di Dusun Mojosari, Loceret, Nganjuk, Jawa Timur generasi ke 7 Penerus Pesantren ini. Pondok Pesantren Mojosari didirikan pada tahun 1720 M oleh Kyai Ali Imron, Bendungan.

    Ketika menjadi santri di pesantren Langitan, Tuban, Kiai Zainuddin yang asal Padangan, Bojonegoro diambil menantu oleh pengasuh pondok tersebut, dan diminta untuk meneruskan kepemimpinan Pondok Mojosari. Di bawah kepemimpinannya, Ponpes Mojosari mencapai kejayaannya.

    Kyai Zainuddin adalah sosok Kyai yang istiqomah, diakui kewaliannya dan sangat peduli dengan lingkungan, ini dibuktikan dengan banyaknya hewan piaraan dirumahnya, spt sapi, kuda, kambing, bebek, ayam dan lainnya. Seakan-akan rumahnya mirip kebun binatang.

    Meski di kenal sebagai Waliyullah, kegiatan KH Zainuddin sehari-hari tak jauh berbeda dengan petani pada umumnya, tapi ia terkenal sangat disiplin dan istiqamah. Jam 22.00 setelah selesai mengajar dimalam hari, sang kiai istirahat hingga jam 02.00 lalu shalat tahajjud, membaca Al Qur’an atau melakukan ibadah-ibadah lain yang bertujuan Taqarrub/mendekatkan diri kepada Allah hingga menjelang datang waktu subuh.

    Namun adakalanya, sembil menanti subuh, Beliu berputar-putar mengelilingi pekarangan yang banyak ditumbuhi pohon buah-buahan, dikumpulkannya buah sawo, jambu dan buah-buahan lainnya yang berjatuhan untuk makanan ternak. Setelah itu barulah Beliu membangunkan para santri di pondok dengan menyebut nama mereka satu per satu. Begitu banyak nama santri yang beliau hafal.

    Apabila musim penghujan tiba, biasanya santri agak sulit bangun pagi, untuk mengatasinya KH. Zainuddin tidak pernah kehabisan taktik. Beliau keliling membawa wadah air dan selembar serbet (kain lap). Serbet yang sudah dibasahi itu kemudian ditempelkan atau diteteskan airnya ketubuh siapa saja yang belum bangun, tak peduli santri atau tamu yang kebetulan sowan ke pondok.

    Santri yang terkejut merasakan tetesan air itu mulai bergerak bangun, namun lucunya Kyai Zainuddin malah dengan sigapnya bersembunyi dibalik pintu tak ubahnya seperti anak kecil yang sedang bermain petak umpet. Hal ini terus dilakukan sampai santri benar-benar bangun.

    Untuk santri yang masih juga membandel, padahal sudah berulang kali tetesan air mengenai tubuhnya maka Kyai Zainuddin meneteskan minyak tanah dari sumbu lampu kaleng. Si santripun bisa jengkel dan bangun sampil berteriak : “wo bocah nakal !!! mbeling tenan, nganggo lengo gas” (wah nakal, keterlaluan banget, pakai minyak tanah). Dan santri itupun hanya bisa tersipu malu ketika mengetahui pelakunya adalah kiainya sendiri. Kyai Zainuddin yang terkenal nyentrik ini memang memiliki selera humor tinggi sehingga santri-santri sangat akrab dengan Beliau.

    Usai shalat Subuh, Kegiatan Kyai Zainuddin dilanjutkan dengan pengajian, dari kitab yang kecil maupun besar. Sekitar jam 07.00 diambilnya sapu lidi, dan dengan sigap Beliau membersihkan halaman rumah sampai ke kandang kuda, sapi, kambing dan ayam. Kalau perlu, Beliau juga turut memberi makan binatang-binatang ternak piaraannya, kiai Zainuddin termasuk penyayang binatang dan rajin menjaga kebersihan lingkungan.

    Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Kiai Zainuddin bekerja keras, mengayun cangkul, menanam singkong, jagung atau pisang. Dan untuk keperluan kesehatan, juga membuat apotek hidup dihalaman ndalemnya.

    Pada suatu hari, Hadlrotusyaikh KH. Hasyim Asy’ari banyak mendapatkan laporan dari masyarakat, tentang pertunjukan di pondok Mojosari yang dianggap tabu di kalangan “NU” saat itu, Setelah melakukan rapat dengan sejumlah Kyai, akhirnya KH. Hasyim Asy’ari memutuskan akan mengirim surat pribadi yang berisi peringatan kepada KH. Zainuddin, Mojosari, supaya melarang santri-santrinya menyelenggarakan acara-acara yang berbau munkarot.

    Ketika surat itu akan dikirim, malam harinya kiai Hasyim bermimpi berjama’ah dengan banyak alim ulama di sebuah masjid. Dan yang mengherankan adalah dengan jelas dia melihat bahwa yang menjadi imamnya adalah KH Zainuddin Mojosari, sedangkan KH. Hasyim sendiri berada di shof agak belakang. maka dia mengurungkan niatnya mengirimkan surat tersebut karena segan dan sangat menghargai kiai Zainuddin.

    Keluarbiasaan yang lain, demikian tingginya mata batin kiai Zainuddin, sehingga dia dapat mengetahui muridnya bakal menjadi ulama besar, itu terjadi pada diri Jazuli, anak Muhammad Utsman, seorang naib dari Desa Ploso, Kediri.

    Konon, Jazuli sudah berada di Batavia untuk masuk Stovia, sekolah kedokteran tempo dulu. Ketika Kiai Zainuddin mengetahui hal itu, ia segera menemui ayah Jazuli dan minta agar Jazuli ditarik pulang. “Dia tidak cocok sekolah disana,” ujarnya mengingatkan.

    Karena yang menyuruh adalah seorang kiai besar, Naib Utsman tidak berani menolak, dikirimnya surat ke Batavia dengan pesan agar Jazuli segera pulang atas saran Kiai Zainuddin. Jazuli sendiri ketika menerima surat itu dapat memahami keputusan tersebut dengan legawa (besar hati), meski ia telah bermukim disana selama beberapa bulan.

    Kenyataannya memang demikian, Jazuli Utsman akhirnya dikenal sebagai ulama, pemimpin Pondok Pesantren Ploso,Kediri.

    Suatu waktu Kyai Zainuddin mengatakan kepada Jazuli “Cepat kamu datang ke Mojosari”, sebab kala itu Jazuli tinggal di luar pondok karena kemampuan finansialnya tidak mengizinkan untuk tinggal di pondok. “Saya tidak punya uang, kyai” jawab Jazuli polos. “Ah Weslah, nanti kamu akan menjadi blawong” kata Kyai Zainuddin.

    Jazuli tidak mengerti apa arti blawong, makanya dia diam saja. Yang terpikir di benaknya adalah posisinya yang serba sulit. Kalau masuk ke pondok, kiriman uang dari rumah tidak cukup, tapi kalau tetap di luar pondok, berarti tidak taat pada gurunya. Oleh karena itu, predikat blawong hanya melintas sekilas di benaknya. Ia tahu bahwa kiai sering memanggil para santri dengan nama julukan daripada nama sebenarnya. Dan julukan itu dibuat sang Kyai sesukanya sendiri. Namun hal itu bukan di anggap kelakar, karena di yakini dapat menembus hal-hal yang bersifat batiniyyah, termasuk masa depan bagi santrinya.

    Rupanya permintaan Kyai Zainuddin agar Jazuli pindah ke pondok, bukan basa-basi. Sampai tiga kali hal itu di kemukakan, sehingga akhirnya Jazuli tinggal di pondok menanti perintah gurunya. Ia di tempatkan disebuah kamar bersama tiga santri lainnya yang merupakan murid-murid kesayangannya. Kelak, mereka ini menjadi kiai yang sukses di desanya masing-masing.

    Nama Kyai Jazuli Utsman sangat terkenal, dan jauh-jauh hari telah di ketahui oleh Kiai Zainuddin bahwa ia bakal menjadi seorang ulama besar, dengan menjulukinya blawong, ternyata blawong adalah nama panggilan seekor burung perkutut mahal yang bunyinya sangat indah dan merdu di kerajaan Majapahit, sehingga semua orang menyimak kicaunya. Ketenaran Kiai Zainuddin menjadi daya tarik masyarakat awam untuk datang ke pesantrennya. Mereka berdatangan dari berbagai penjuru, minta doa dan berkah serta keselamatan.

  • KH Bisri Syansuri Salah Satu Ulama Barisan Fiqih Indonesia

    KH Bisri Syansuri Salah Satu Ulama Barisan Fiqih Indonesia

    SORBANSANTRI.COM

    Sorban Santri – KH Bisri Syansuri adalah salah seorang kiai pendiri NU yang dinilai menyelesaikan persoalan melalui pendekatan fiqih murni. Pandangan ini terkadang sering bertolak belakang dengan kiai pendiri NU yang lain, yaitu KH Abdul Wahab Hasbullah yang ahli di bidang ilmu ushul fiqih. Meski demikian, keduanya menyandarkan pendapat pada literatur keilmuan Islam yang luas, buah kaderisasi langsung dari Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dan ulama-ulama pinilih lain.

    KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyebutnya kakeknya itu sebagai kiai dalam barisan fiqih bersama teman-temannya yang lain, di antaranya Abdul Manaf dari Kediri, As’ad Syamsul Arifin dari Situbondo Ahmad Baidowi dari Banyumas, Abdul Karim dari Sedayu, Nahrawi dari Malang, Maksum Ali dari Pesantren Maskumambang di Sedayu dan lain-lain. Barisan peminat fiqih dan penganut hukum agama yang tangguh ini menjadi kiai-kiai pesantren yang sekarang ini merupakan pusat pendalaman ilmu-ilmu agama di pulau Jawa.

    Menurut Gus Dur yang mengutip perkataan Kiai Syukri Ghozali, mereka adalah generasi terbaik yang langsung dididik oleh Kiai Haji Hasyim Asy’ari.

    Kecenderungannya terhadap fiqih Kiai Bisri ini akan kelihatan menonjol dalam kehidupannya baik sebagai seorang kiai maupun ketika ia memimpin Nahdlatul Ulama.

    Proses Belajar 
    Kiai Bisri dilahirkan di pada hari Rabu tanggal 28 Dzulhijjah tahun 1304 H atau 18 September 1886 di Tayu, Pati. Semasa kecil, Bisri belajar pada KH Abd Salam, seorang ahli dan hafal Al-Qur’an dan juga ahli dalam bidang fiqih. Atas bimbingannya ia belajar ilmu nahwu, saraf, fiqih, tasawuf, tafsir, hadits. Gurunya itu dikenal sebagai tokoh yang disiplin dalam menjalankan aturan-aturan agama. Watak ini menjadi salah satu kepribadian Bisri yang melekat di kemudian hari. 

    Sekitar usia 15 tahun, tiap bulan Ramadhan, Bisri mulai belajar ilmu agama di luar tanah kelahirannya, pada kedua tokoh agama yang terkenal pada waktu itu yaitu KH Kholil Kasingan Rembang dan KH Syu’aib Sarang Lasem. 

    Kemudian ia melanjutkan berguru kepada Syaikhona Kholil Bangkalan. Di pesantren inilah ia kemudian bertemu dengan Abdul Wahab Hasbullah, seorang yang kemudian menjadi kawan dekatnya hingga akhir hayat di samping sebagai kakak iparnya. 

    Lalu Bisri berguru kepada Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng. Di pesantren itu, ia belajar selama 6 tahun. Ia memperoleh ijazah dari gurunya untuk mengajarkan kitab-kitab agama yang terkenal dalam literatur lama mulai dari kitab fiqih Al-Zubad hingga ke kitab-kitab hadits seperti Bukhari dan Muslim.

    Gus Dur menilai literatur keagamaan yang dikuasai Kiai Bisri terasa terlalu bersifat sepihak karena lebih ditekankan pada literatur fiqih yang lama, tapi penguasaan itu memiliki intensitas luar biasa sehingga secara keseluruhan membentuk sebuah kebulatan yang matang dalam kepribadiannya dan pandangan hidupnya.

    Pada tahun 1912 sampai 1913 Kiai Bisri Syansuri berangkat melanjutkan pendidikan ke Mekah bersama Abdul Wahab Hasbullah. Di kota suci  itu, mereka belajar kepada Syekh Muhammad Bakir Syekh Muhammad Said Yamani Syekh Ibrahim Madani, dan Syekh Al-Maliki. Juga kepada guru-guru Kiai Haji Hasyim Asy’ari, yaitu Kiai Haji Ahmad Khatib Padang dan Syekh Mahfudz Tremas. 

    Mendirikan Pesantren Perempuan 
    Sepulang dari Mekkah, Kiai Bisri mendirikan pesantren di Denanyar, Jombang. Pada tahun 1919 KH Bisri Syansuri membuat percobaan yang sangat menarik yaitu dengan mendirikan kelas untuk santri perempuan di pesantrennya. Para santri putri itu adalah anak tetangga sekitar yang diajar di beranda belakang rumahnya. 

    Menurut Gus Dur, langkah Kiai Bisri tersebut terbilang aneh di mata ulama pesantren, namun itu tidak luput dari pengamatan gurunya yaitu Kiai Hasyim Asy’ari yang datang di kemudian hari melihat langsung perkembangan kelas perempuan tersebut.

    Meskipun tidak mendapatkan izin khusus dari Kiai Hasyim, Kiai Bisri tetap melanjutkan kelas perempuan tersebut karena sang guru juga tidak memberikan larangan. Bagi Gus Dur, ini adalah hal yang menarik. Sebab, ketika sahabat-sahabat karibnya saat di Mekkah mendirikan cabang Sarekat Islam, Kiai Bisri tidak ikut karena dia menunggu izin dari Kiai Haji Hasyim Asy’ari. Namun ketika mendirikan kelas khusus perempuan dia tidak menunggu mendapatkannya. 

    Bagi Gus Dur ini adalah sebuah proses pematangan dalam fiqih Kiai Bisri yang di kemudian hari akan kelihatan, yang akan memantapkannya mengambil keputusan sendiri berdasarkan pemahaman fiqihnya juga tanpa harus kehilangan hormat kepada guru.

    Memimpin NU dan Melawan RUU Perkawinan Orde Baru
    Setelah Kiai Abdul Wahab Hasbullah wafat, Rais Aam NU berada di pundak KH Bisri Syansuri pada tahun 1972, era mulai menguatnya pemerintahan Orde Baru. Tantangan besar yang pertama adalah munculnya sebuah Rancangan Undang-Undang Perkawinan yang secara keseluruhan berwatak begitu jauh dari ketentuan-ketentuan hukum agama, sehingga tidak ada alternatif lain kecuali menolaknya. Sangat menarik untuk diikuti bahwa proses perundingan dalam upaya menyetujui RUU tersebut agar menjadi Undang-Undang (UU) berlangsung sangat alot dan ketat.

    Sebagian besar peserta yang terlibat dalam proses perundingan tersebut berasal dari NU yang berhadapan dengan unsur dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Hal ini menunjukkan, begitu besarnya pengaruh para ulama di dalam dan di luar PPP pada saat itu.

    “Para jenderal yang saat itu memiliki nama dan wewenang yang cukup besar, seperti Soemitro, Daryatmo dan Soedomo harus berhadapan dengan Kiai Bisri yang terkenal tidak mengenal kompromi dan penganut penerapan Masa Perjuangan dan Perpolitikan KH. Bisri Syansuri fiqih secara ketat,” demikian tulis H. Abd. Aziz Masyhuri, dalam bukunya Al-Magfurlah KH. Bisri Syansuri, Cita-cita dan Pengabdiannya.

    Kemudian, Kiai Bisri bersama kiai-kiai NU lain membuat RUU tandingan, di dalam buku KH Abdus Salam menjelaskan RUU itu dengan mengutip Andrée Feillard, dalam bukunya “Nu Vis-à-vis Negara: Pencarian Isi, Bentuk dan Makna.

    Isi RUU Alternatif rancangan para ulama yang dimotori KH Bisri Syansuri, yang meliputi

    Pertama, Perkawinan bagi orang muslim harus dilakukan secara keagamaan dan tidak secara sipil (pasal 2: NU berhasil memenangkan pendapatnya); 

    Kedua, masa ‘iddah, saat istri mendapatkan nafkah setelah diceraikan harus diperpendek. Pemerintah mengusulkan satu tahun, sedangkan NU minta tiga bulan karena menuntut seorang dari Muslimat, suami berhak rujuk kembali kepada istri selama masa ‘iddah itu. Tidak ada perkecualian diberlakukan bagi wanita usia lanjut.

    Ketiga, pernikahan setelah kehamilan di luar nikah tidak diizinkan. NU cukup berhasil dalam arti definisi anak yang sah adalah yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan.

    Keempat, pertunangan dilarang karena “dapat mendorong ke arah perzinahan. NU berhasil, pasal 13 ini dihapus. 

    Kelima, Anak angkat tidak memiliki hak yang sama dengan anak kandung. Dalam hal ini NU berhasil; pasal 42 mengatakan bahwa anak yang sah adalah yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan.

    Keenam, penghapusan sebuah pasal dari rancangan undang-undang yang diajukan yang menyatakan bahwa perbedaan agama bukan halangan bagi perkawinan. Pasal 11 ini dihilangkan dan tidak disinggung.

    Ketujuh, batas usia yang diperkenankan untuk menikah ditetapkan adalah 16 tahun, bukan 18 tahun bagi wanita 19 tahun bagi pria dan bukan 21 tahun. Pada pasal 7 ini, NU berhasil.

    Kedelapan, penghapusan pasal mengenai pembagian rata harta bersama antara wanita dan pria karena dalam Islam “hasil usaha masing-masing suami atau istri secara sendiri-sendiri menjadi milik masing-masing yang mengusahakannya”. Pada pasal ini, NU berhasil. 

    Kesembilan, NU menolak larangan perkawinan antara dua orang yang memiliki hubungan sebagai anak angkat dan orang tua angkat atau anak-anak dari orang tua angkat. Pasal ini disempurnakan menjadi hubungan sebagai anak angkat tidak dilarang, tetapi disinggung pula soal hubungan persusuan. 

    Kesepuluh, NU menolak larangan melangsungkan perkawinan lagi antara suami-istri yang telah bercerai. Dalam pasal 10 ini, NU berhasil.

    Perlawanan NU dalam RUU Perkawinan di awal Orde Baru tersebut tidak terlepas dari Kiai Bisri Syansuri ahli fiqih yang telah matang, bersama kiai-kiai NU lain.

    Sumbe : Abdullah Alawi

  • Islam Bukan Agama Yang Memberatkan

    Islam Bukan Agama Yang Memberatkan

    SORBANSANTRI.COM

    Sorban Santri – Ilmu dalam Islam, khususnya Fikih (tata cara berkaitan melakukan ibadah) ada yang di tataran permukaan dan ada pula lapisan dalamnya. Yang di permukaan terlihat kaku dan keras. Namun di bagian terdalam terlihat lentur dan fleksibel.

    Misalnya, orang yang baru belajar bab najis akan berhadapan dengan berbagai bentuk najis dan macam-macam cara mensucikannya. Namun dalam kondisi tertentu saat kesulitan dan ketidakmampuan, misalnya najis telah merata dan sulit dihilangkan, maka Fikih Islam mengenal istilah Ma’fu Anhu atau ditolerir.

    Bersuci menghilangkan Hadas besar dan kecil harus menggunakan air. Namun jika tidak menemukan air, atau ada air namun tidak dapat digunakan karena orangnya sakit -yang telah diberi tahu oleh dokter bahwa jika menggunakan air maka akan tambah parah atau sembuh semakin lama-, atau air digunakan untuk diminum dan sebagainya maka ada alternatif bersuci dengan tanah, disebut Tayammum.

    Shalat berdiri hukumnya wajib. Namun dalam kondisi tertentu, misalnya sakit, maka Islam memperbolehkan shalat dengan cara duduk. Jika tidak mampu maka dengan berbaring dan seterusnya.

    Shalat juga memiliki hitungan jumlah dan waktu, tidak boleh dilakukan kurang atau di luar waktu shalat. Tapi ketika dalam keadaan bepergian yang jauh, atau berada dalam rumah sedang sakit, maka Islam memberi solusi shalat Qashar dan Jamak.

    Puasa hukumnya wajib bagi setiap Muslim yang sehat, mampu dan tidak sedang bepergian jauh. Namun jika ada kendala tertentu maka boleh tidak puasa namun wajib diganti di lain hari. Untuk sebagian orang tertentu malah cukup membayar fidyah 6 ons beras.

    Makan bangkai, darah dan babi hukumnya haram. Namun bila tidak menemukan sama sekali makanan yang halal sementara jika tidak makan makanan haram menyebabkan pada kematian atau hampir mati, maka diperbolehkan sebatas terhindar dari mati. Artinya setelah menemukan yang halal maka tidak boleh mengkonsumsi makanan haram lagi.

    Kok sepertinya dalam Islam banyak keringanan? Sebab Allah berfirman:

    وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ

    (Al-Ĥaj: 78) – “… dan Allah sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan…”

    ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ، ﻋَﻦِ اﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ: «ﺇِﻥَّ اﻟﺪِّﻳﻦَ ﻳُﺴْﺮٌ، ﻭَﻟَﻦْ ﻳﺸﺎﺩ اﻟﺪِّﻳﻦَ ﺃَﺣَﺪٌ ﺇِﻻَّ ﻏَﻠَﺒَﻪُ، ﻓَﺴَﺪِّﺩُﻭا ﻭَﻗَﺎﺭِﺑُﻮا، ﻭَﺃَﺑْﺸِﺮُﻭا»

    Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Islam itu agama yang mudah. Tidaklah seseorang melakukan ajaran agama dengan memaksakan diri di luar kemampuannya kecuali akan kembali kepada kemudahan. Lakukanlah dengan tengah-tengah dan mendekati pada kesempurnaan. Serta berilah kabar gembira” (HR Bukhari)

    Sumber : Ma’ruf Khozin

  • JANGAN SUUDZON KEPADA ULAMA YANG DEKAT PENGUASA

    JANGAN SUUDZON KEPADA ULAMA YANG DEKAT PENGUASA

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online – Boleh saja nyinyir kepada “ulama” yang dekat penguasa yang kedekatannya “terbukti” (bukan “terasumsi” atau “teropini”) membuatnya terjerumus kepada perbuatan nista. Memperjual beli agama. Menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Menjadi stempel “halal” terhadap kezaliman penguasa.

    Memang, idealnya ulama merangkap sebagai umara dan sebaliknya. Akan tetapi sangat sedikit orang yang mempunyai dua kualitas itu sekaligus. Pemisahan kepemimpinan agama (ulama) dan politik (umara) disebabkan karena tidak semua ulama mempunyai kemampuan sebagai umara, dan tidak semua umara yang memiliki kualitas sebagai ulama. Pemisahan ini bukan berarti penghilangan fungsi ulama dan umara. Bukan juga penegasian satu sama lain.

    Hubungan ulama dan penguasa (umara) sangat dinamis. Namun, pada dasarnya, kepentingan ulama terhadap penguasa adalah agar ajaran agama bisa dijalankan selurus-lurusnya oleh penguasa. Mengawal umara supaya menjalani pemerintahan dengan adil dan beradab. Ulama juga berkepentingan menjaga kemaslahatan umat disampaikan oleh penguasa.

    Sebagaimana yang dijelaskan Syaikh Ibnu ‘Athaillah dalam kitab Lathaiful Minan, setiap zaman selalu ada ulama waliyullah yang dimuliakan oleh penguasa di zamannya. Para penguasa itu mentaati dan mematuhi ulama waliyullah di zamannya, Ada lagi ulama waliyullah yang hilir mudik di tempat penguasa dan pejabat untuk memenuhi kebutuhan para hamba.

    Orang-orang awam nyinyir, “seandainya dia ulama waliyullah tentu tidak hilir mudik di tempat penguasa dunia.” Tentu saja pandangan seperti itu keliru, kata Syaikh Ibnu ‘Athaillah, jangan lihat hilir mudiknya di tempat penguasa, namun lihatlah bagaimana sikapnya. Jika ia datang ke tempat penguasa demi kepentingan para hamba Allah, untuk melenyapkan kesulitan mereka, menjadi penghubung bagi mereka,…serta tetap melakukan amar ma’ruf nahi munkar, kebiasaanya itu tidak menurunkan kehormatannya.

    Tentang Syaikh Abul Hasan asy-Syadziliy, Syaikh al-Imam Taqiyuddin Muhammad bin Ali al-Qusyairi mengatakan: “Orang-orang dan para pejabat tidak mengetahui kedudukan Syaikh Abul Hasan asy-Syadziliy karena ia sering hilir mudik di tempat mereka guna membantu para hamba.”

    Syaikh Ibnu ‘Athaillah menceritakan di dalam kitab Lathiful Minan. Suatu ketika Syaikh Abul Hasan asy-Syadziliy waktu di Iskandaria, memanggil seorang dokter Yahudi untuk mengobati seseorang. Tetapi dokter Yahudi menolak sebelum mendapat izin dari yang yang berwenang. Ada aturan dari pemerintah, dokter tidak boleh mengobati kecuali ada izin dari kepala dokter di Kairo.

    Lalu Syaikh Abul Hasan asy-Syadziliy berangkat ke Kairo meminta izin untuk dokter Yahudi. Setelah mendapat izin, ia langsung pulang tanpa menginap. Lalu memberi surat izin kepadanya. Dokter Yahudi terkesima dan sangat kagum dengan keluhuran akhlak Syaikh Abul Hasan asy-Syadziliy.

    Hilir mudik ulama waliyullah di tempat penguasa dalam rangka mengurus kebutuhan umat, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang berakhlah tinggi. Mereka mengorbankan dan menghinakan dirinya demi meraih ridla Allah. Mereka mengetahui luasnya rahmat Allah. Dengan rahmat Allah mereka memperlakukan hamba Allah.

    Oleh Ayik Heriansyah
    Pengurus LD PWNU Jabar

  • Al-Quran Terbitan PBNU (Bagian I)

    Al-Quran Terbitan PBNU (Bagian I)

    SORBANSANTRI.COM
    SORBANSANTRI.COM

    Syukur kehadirat Allah yang tak terhingga saat Lembaga Ta’lif wa Nasyr (Infokom) PBNU berhasil menerbitkan Mushaf Al-Qur’an yang diberi nama Ar-Risalah. Beberapa bulan lalu Ketua LTN PBNU Cak Hari Usmayadi Cak Usma meminta untuk dituliskan beberapa dalil Amaliah NU seputar tema-tema yang berkaitan dengan Al-Qur’an. In syaa Allah meliputi:

    1. Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an
    2. Al-Qur’an Sebagai Penolong di Akhirat
    3. 1 Huruf Al-Qur’an Berpahala 10 Kebaikan
    4. Pahala Mendengarkan (Semaan) Al-Qur’an
    5. Doa Khatam Al-Qur’an
    6. Membaca Al-Qur’an di Makam
    7. Mengeraskan Bacaan Al-Qur’an
    8. Pengajian Diawali Bacaan Al-Qur’an
    9. Al-Qur’an Sebagai Doa Ruqyah (Pengobatan)
    10. Keutamaan Sebagian Surat Al-Qur’an:
    • Surat Al-Kahfi
    • Surat Tabarak
    • Surat Al-Waqiah
    • Surat Al-fatihah
    • Surat Yasin di Malam Jum’at

    Sumber : Ma’ruf Khozin

  • Apa Istimewanya Al-Qur’an Terbitan PBNU? (Bagian II)

    Apa Istimewanya Al-Qur’an Terbitan PBNU? (Bagian II)

    SORBANSANTRI.COM

    Begini kawan, saya termasuk orang yang berfikiran out of the box (mboten semerap terjemahan yang pas). Intinya kalau Al-Qur’an terbitan PBNU ini sama persis dengan yang sudah ada di pasaran maka saya tidak akan repot-repot memberi rekomendasi. Sebab kepala saya masih agak pening. Tapi untuk yang 1 ini saya abaikan sementara dan semoga tidak kambuh (kebetulan stok obat migrain dan vertigo masih banyak dan saya tulis sebelum imsak).

    Keistimewaan Mushaf Ar-Risalah PBNU ini adalah:

    1. Jelas nama besar NU. Mayoritas pembaca Al-Qur’an di negeri kita adalah warga Nahdliyyin.
    2. Grafisnya itu lho. Indonesia bangets pokoknya. Ada motif batiknya. Ada unsur Serambi Makkah, Aceh. Juga batu nisan Sultan Malikussaleh (cocok bagi para pecinta ziarah kubur). Tak ketinggalan motif bunga-bunga, termasuk yang Khas Kalimantan yaitu kembang Kenanga.
    3. Ada petunjuk dalil-dalil hadis seputar mengamalkan surat-surat tertentu dalam Al-Qur’an. Sekaligus memberi bantahan kepada Salafi yang menuduh bahwa Qur’an-nya orang-orang NU cuma Yasin saja. Kata mereka: “Buktinya yang mereka baca saat Tahlilan dan ziarah kubur cuma Yasin saja”. Ternyata yang dicetak PBNU adalah 114 Surat.

    Sumber : Ma’ruf Khozin

  • MELUMPUHKAN NU DENGAN OPERASI NAGA HIJAU

    MELUMPUHKAN NU DENGAN OPERASI NAGA HIJAU

    SORBANSANTRI.COM

    Tulisan di bawah ini saya ambil dari karya KH. Abdul Mun’im. Saat Orde Baru berkuasa, NU berhadapan dengan penguasa. Absurdnya, ormas Islam lain yang sering menyuarakan ukhuwah Islam justeru bungkam seribu bahasa saat NU direpresi. Lebih naif lagi, Orde Baru saat membungkam dan hendak menghabisi NU dibantu oleh beberapa kelompok Islam militan atau radikal. Berikut kisahnya.

    Saat KH Abdurrahman Wahid memegang tampuk pimpinan NU, ternyata kepengurusannya tidak diakui pemerintah Orde Baru. Maka untuk mengacaukan kepemimpinan Gus Dur, diciptakan konflik dengan mendorong berdirinya NU tandingan yang dipimpin Abu Hasan.

    Para ulama NU dituduh memfitnah, lalu satu persatu ulama NU diperiksa di Polda Jakarta Raya, Hal itu semata untuk meruntuhkan mental para ulama. Tetapi soliditas waga NU semakin kuat. Para pimpinan NU terutama Abdurrahman Wahid yang saat itu juga sebagai ketua Forum Demokrasi dilarang bicara di mana-mana, juga dijegal dengan berbagai cara.

    Ketika cara halus tidak bisa dipakai, maka cara yang lebih keras dilakukan, yaitu dengan melakukan tindakan militer. Basis NU di daerah tapal kuda khususnya Banyuwangi mulai dijadikan target operasi.

    Pertama yang dilakukan adalah dengan dalih memberantas dukun santet. Ternyata yang disebut dukun santet adalah para kiai, yang memang semua kiai memiliki kemampuan tradisional sebagai tabib. Para kiai NU itu dibantai satu-persatu oleh keompok tak dikenal, tetapi ada juga yang dilakukan oleh masyarakat setempat setelah diprovokasi oleh pihak luar. Ratusan kiai menjadi korban operasi ini. Banyak kiai mendapatkan teror dan ancaman.

    Operasi yang semula di Banyuwangi itu mulai menyebar ke daerah Jawa Timur yang lain akhirnya merebak ke seluruh Jawa. Anehnya yang dijadikan sasaran hanya para ulama NU, ulama dari ormas lslam lain tidak ada yang menjadi korban.

    Karena aparat keamanan tidak bisa membantu, masyarakat NU dalam mengatasi operasi ninja itu, maka banser dan masyarakat dengan dibimbing oleh para kiai sendiri melakukan penjagaan. Dalam penjagaan itu berhasil menangkap beberapa pelakunya yang berpakaian ninja. Anehnya setelah tertangkap mereka menjadi orang gila yang tidak bisa diajak berkomunikasi. Saat itu muncul orang gila di berbagai tempat.

    Melihat kenyataan itu, KH Hasyim Muzadi Ketua NU Wilayah Jawa Timur marah sambil meledek pada pemerintah, bahwa tidak mungkin ada organisasi orang gila atau koperasi orang gila, kok tiba-tiba muncul orang gila di mana-mana, padahal jumlah orang gila di daerah ini sangat terbatas, dan sebagian besar dirawat di rumah sakit jiwa.

    Tentu ini ulah orang waras yang terorganisir secara rapi untuk membuat kerusuhan dan pembantaian. Demikian protes Hasyim Muzadi. Operasi ninja ini sangat merepotkan NU, karena para ninja itu memiliki kemampuan tempur yang sangat tinggi, bisa menculik kiai yang sudah dijaga dengan ketat, sehingga merepotkan para pendekar pesantren. Tetapi dengan ketinggian ilmu kanuragan kaum santri, serta kekompakan mereka gerakan kelompok ninja sedikit banyak bisa ditanggulangi.

    Sayang, saat NU menghadapi penindasan dan pembantaian luar biasa itu, tidak ada ormas Islam lain yang membantu. Ukhuwah Islamiyah yang dibangun NU selama ini tidak mereka terapkan. Demikian juga kalangan minoritas yang selama ini dibela oleh NU khususnya Gus Dur dengan segala risiko, tetapi kelompok minoritas tidak memberikan bantuannya saat mengenaskan seperti itu. Kelihatan kelompok lain hanya minta perlindungan dan bantuan NU, tetapi mereka tetap enggan membantu NU. Ini sangat ironis, namun demikian NU tidak pernah surut membantu siapapun.

    Setelah suasana agak reda, berbagai kelompok termasuk lembaga swadaya masyarakat melakukan investigasi dan membentuk tim pencari fakta, maka ditemukan banyak keanehan dan kejanggalan dalam operasi para ninja itu, dimana menunjukkan adanya keterlibatan kelompok Orde Baru bahkan beberapa kelompok Islam militan dalam operasi tersebut.

    KH. Abdurrahman Wahid kemudian membeberkan bahwa kesemuanya gerakan militer tersebut adalah operasi naga hijau yang sengaja dilakukan oleh rezim Orde Baru untuk menghancurkan kekuatan NU. Dalam operasi itu 400 orang pimpinan dan warga NU tewas dibantai, selama masa pembantaian itu NU tidak pernah mendapat bantuan apalagi perlindungan dari aparat keamanan TNI dan Polri. NU dengan Banser dan Pagar Nusa serta pasukan santri menghadapi sendiri. Dengan kesigapan itu operasi militer ninja yang disebar ke seluruh Jawa itu bisa ditanggulangi oleh NU sendiri.

    Sementara umat Islam yang lain tenang-tenang tidak diserang dan juga tidak berusaha membantu NU. Tetapi NU sudah kuat sehingga tanpa bantuan sudah mampu mengatasi persoalan sendiri.


    Buku Sejarah Tambakberas dipegang dan dibaca KH. Ma’ruf Amin

    Oleh Kiai Ainur Rofiq

  • KARENA NU BUKAN PAHLAWAN KESIANGAN

    KARENA NU BUKAN PAHLAWAN KESIANGAN

    SORBANSANTRI.COM

    Jasa NU terhadap negeri ini tak dapat diabaikan. Mulai dari Islamisasi secara damai, memperjuangkan negeri ini dari penjajahan, turut memproklamasikan kemerdekaan hingga ikut dalam membangun bangsa. Tak salah jika NU adalah penyangga NKRI. Jika tidak ada NU maka sudah dapat dipastikan NKRI bubar. Tidak heran jika NU mati-matian membela NKRI apapun taruhannya.

    NU mengakui bahwa NKRI adalah negara kesepakatan. Diperjuangkan bukan hanya satu golongan dan didirikan bukan hanya satu kelompok agama melainkan penuh ragam kebhinekaan. Atas dasar itu, maka NU menerima Pancasila sebagai dasar negara dengan penuh suka cita. Pancasila adalah fitrah sekaligus rahmat bagi bangsa Indonesia. Tak boleh diingkari dan tak boleh dikhianati.

    Kesetiaan NU terhadap negeri ini bukan omong kosong dan sudah dibuktikan secara nyata, lahir dan batin. Banyak tokoh-tokoh NU baik yang tercatat bahkan lebih banyak yang tak tercatat dalam tinta sejarah sebagai pahlawan. Bagi NU, diabadikan atau tidak, tak menjadi persoalan karena keikhlasan tak membutuhkan tanda jasa dan gelar kehormatan.

    Yang menjadi persoalan dan menjadi musuh besar bagi NU adalah kelompok-kelompok yang mencoba merusak negeri ini. Kelompok-kelompok pendatang dan baru kenal Islam namun berupaya merusak kebhinekaan atas nama Islam. Kelompok-kelompok anti Pancasila yang menggunakan simbol-simbol agama untuk melakukan pemberontakan, pembodohan dan hinggga penyesatan.

    Kelompok inilah yang disebut sebagai pahlawan kesiangan. Mengaku sebagai pembela Islam, pembela rasulullah, pembela ulama, penegak syariah namun sikap dan karakternya tak mencerminkan sebagai pejuang Islam. Kehadirannya sedikitpun tak membawa rahmat melainkan sebagai penghujat, penebar kebohongan dan pembawa ideologi makar.

    Disebut pahlawan kesiangan karena seolah hanya kelompok mereka yang memperjuangkan Islam. Seolah hanya golongannya yang membela kepentingan Islam. Diluar golongannya, dianggap anti Islam, dituduh tak paham ajaran Islam. NKRI yang sudah lama tegak berdiri, mereka anggap belum syar’i, perlu diislamkan karena masih dalam kondisi kekafiran dan kemusyrikan.

    Pahlawan kesiangan itu bernama kaum khilafah. Pancasila bagi mereka adalah produk kafir-jahiliyah dan simbol thaghut-berhala yang wajib dibasmi. Maka sangat wajar dalam sepanjang sejarah NKRI, kaum khilafah terus berupaya merongrong kedaulatan negara untuk menancamkan ideologi khilafahnya. Mulai dari DI/TII, HTI hingga Khilafatul Muslimin.

    Bukan hanya tidak bermanfaat kehadiran mereka bagi negeri ini namun sangat membahayakan bagi masa depan bangsa. Virusnya kian tersebar dalam ruang kehidupan. Mulai dari institusi Polri, BUMN, Lembaga Pendidikan hingga PNS/ASN, walau tak semua, sudah terpapar ideologi radikal khilafah.

    Kaum khilafah adalah kaum yang buta sejarah tentang NKRI. Tidak paham bagaimana NKRI ini ditegakkan dengan susah payah oleh seluruh elemen bangsa tanpa membedakan identitas agama mereka. Pancasila adalah jalan tengah bagi persatuan bangsa. Apabila diusik dan diubah maka rusaklah persatuan bangsa ini.

    Apakah mereka tidak paham bahwa negara ini bukan negara agama melainkan negara yang penduduknya beragama. Adanya ideologi Pancasila sebagai bukti bahwa negara ini sudah sangat bersyariah dan tak perlu diubah. Jika diubah menjadi negara syariah belum menjadi jaminan akan lebih baik bahkan bisa bubrah.

    NU sebagai ormas moderat yang turut berkontribusi melahirkan NKRI tak pernah mempermasalahkan Pancasila karena Pancasila sebagai tuntunan bernegara yang tak bertentangan dengan syariat Islam bahkan lahir dari beberapa prinsip ajaran Islam. Dengan Pancasila, NU terus berupaya mensyar’ikan nusantara sesuai dengan konteks masyarakat nusantara yang heterogen. Jadi, bagi NU, untuk membentuk negara yang ideal sesuai ajaran Islam tak perlu menegakkan khilafah atau ideologi negara syariah.

    Bagi NU, menegakkan ajaran Islam dengan cara menghayati ajaran Islam setiap pemeluknya masing-masing sehingga ajarannya diamalkan dalam setiap perbuatan. Menegakkan ajaran rasulullah bagi NU tak perlu menerapkan negara daulah atau negara syariah karena rasulullah tak pernah mewajibkan umatnya untuk membentuk negara syariah melainkan kondisional sesuai dengan konteks dan kesepakatan masyarakatnya. Cukup meneladani akhlak rasulullah dengan menabar rahmat kepada seluruh manusia apapun agamanya. Justru dengan adanya Pancasila, masyarakat Indonesia telah mencontoh rasulullah dalam mendirikan negara Madinah yang terhimpun atas kemajemukan sebagaimana NKRI. Pancasila adalah perwujudan Piagam Madinahnya bangsa Indonesia.

    Jadi, hidup di NKRI tak perlu lagi menjadi pahlawan kesiangan yang berupaya memformat baru konsep negara yang sudah syar’i dan final. NU yang sudah jelas turut andil mendirikan NKRI tak pernah teriak-teriak khilafah dan ganti sistem tapi mengapa anak-anak yang baru lahir kemarin sore merasa lebih paham tentang ajaran Islam dan merasa lebih ahli dalam merumuskan negara. Aneh.

    Mudah saja hidup di NKRI. Jika memang ingin tetap hidup di NKRI maka terima saja semua sistem berbangsa dan bernegara yang sudah dibuat oleh pendiri bangsa ini. Tak perlu membuat rumusan sendiri yang tak laku dan tak disukai oleh rakyat Indonesia. Jika memang tetap kukuh ingin mendirikan negara khilafah yang auto masuk surga tanpa hisab maka silakan saja buat negara yang jauh dari NKRI. Gitu aja kok repot? Tapi anehnya, kaum khilafah tetap kerasan di NKRI dan beranak pinak, padalah kata mereka negara ini adalah thaghut. Ajib! (Suryono Zakka)

    Credit: Hubbul Wathon Minal Iman

  • Saya Tidak Mau Menggunakan Duitnya NU

    Saya Tidak Mau Menggunakan Duitnya NU

    SORBANSANTRI.COM

    Suatu hari PBNU mengadakan sebuah acara di Surabaya, mengundang duta-duta besar negara sahabat, dan pelayanan-nya pun VVIP. Lebih-lebih KH. Sahal Mahfudz, sebagai Ra’is Amm PBNU, tentu bisa mendapatkan pelayanan yang lebih.

    Di Kota Pahlawan ini, Mbah Sahal -sapaan mulianya, selama dua hari bermalam di sebuah hotel berbintang. Tapi, ketika panitia acara ingin membayar kamar hotel yang ditempati Kyai Sahal, beliau bilang: “Ndak usah, aku jek duwe duet dewe,” (Tidak, saya masih punya uang sendiri), sambil berjalan ke kasir. Panitia pun masih merayu Kyai sahal agar mau dibayari oleh panitia. Mbah Kyai Sahal tetap bilang “Ndak usah” sambil beliau mengeluarkan uang dari tasnya. Setelah itu panitia masih berkata: “Mana bon-nya yai, biar kami ganti.” Mbah Sahal dawuh: “Ndak usah, aku moh nganggo duite NU. Aku gowo duetku dewe ae. Nek NU iku urip-urip NU, ojo sepisan-pisan golek urip nok NU.” (Tidak, saya tidak mau menggunakan duitnya NU. Saya pakai uang saya sendiri saja. Di NU itu harus menghidupi NU, jangan sekali-kali mencari hidup di NU).

    Sifat Mbah Kyai Sahal patut kita contoh. Beliau benar-benar tulus, ikhlas mengabdi untuk NU. Padahal sekelas Ra’is Amm seperti mbah sahal tentu mudah sekali bagi beliau untuk mendapat fasilitas dari NU. Semoga amal ibadah beliau diterima Allah SWT. Al-Fatihah

  • Pedoman, Aqidah, Asas dan Tujuan Nahdlatul Ulama

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online – Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi yang didirikan para kyai-kyai yang berpengaruh, KH. Hasyim Asy’ari merupakan simbol ulama besar yang berpengaruh. Tujuan didirikannya Nahdlatul Ulama diantaranya adalah memelihara, melestarikan, mengembangkan dan mengamalkan ajaran Islam Ahlus Sunnah Wa al-Jama’ah yang menganut madzhab empat, yakni : Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hambali. Disamping itu juga bagaimana bisa menyatukan antara ulama dan [para pengikutnya-pengikutnya serta melakukan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan kemaslahan masyaraka, kemajuan bangsa dan ketingian harkat dan martabat manusia.

    Islam Ahlus Sunnah Wa al-Jama’ah adalah ajaran yang disampaikan Nabi Muhammad SAW kepada sahabat-sahabat-Nya dan beliau amalkan serta diamalkan para sahabat, paham Ahlus Sunnah Wa al-Jama’ah dalam Nahdlatul Ulama mencakup aspek aqidah, syariah dan akhlak. Ketiganya, merupakan satu kesatuan ajaran yang mencakup seluruh aspek prinsip keagamaan Islam. Ahlus Sunnah Wa al-Jama’ah didasarkan pada manhaj (pola pemikiran) Asy’ariyah dan Maturidiyah dalam bidang aqidah, dalam bidang fiqih menganut empat madzhab besar (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) dalam bidang tasawuf menganut manhaj Imam al-Ghazali dan Imam Abu al-Qasim al-Junaidi al-Bagdadi, serta imam lainnya yang sejalan dengan syari’ah Islam.
    Ciri utama Aswaja NU adalah sikap tawassuth dan i’tidal (tengah-tengah atau keseimbangan). Yakni selalu seimbang dalam menggunakan dalail, antara dalil naqli dan dalil aqli, antara pendapat jabariyah dan qodariyah, sikap moderat dalam menghadapi perubahan dunyawiyah. Dalam masalah fiqih sikap pertengahan antara ”ijtihad” dan taqlid buta, yaitu dengan cara bermadzhab, ciri suikap ini adalah tegas dalam hal-hal yang qathi’iyyat dan toreran dalam hal-hal zhanniyyat.

    Pedoman:
    Nahdlatul Ulama berpedoman kepada Al-Qur’an, As-Sunnah, Al-Ijma’ dan Al-Qiyas.
    Aqidah :
    Nahdlatul Ulama sebagai Jam’iyyah Diniyah Islamiyah beraqidah/berasas Islam menurut Faham Ahlussunnah Wal Jama’ah dan menganut salah satu dari madzhab empat: Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali.
    Asas :
    Dalam Kehidupan Berbangsa Dan Bernegara, Nahdlatul Ulama Berpedoman Kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan Dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Indonesia.
    Tujuan :
    Berlakuanya ajaran Islam yangberhaluan Ahlussunnah Wal Jama’ah dan mengikuti salah satu madzhab 4 ditengah-tengah kehidupan masyarakat didalam wadah Negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
    Pedoman
    NU mempunyai lambang berupa gambar bola diikat dengan tali, dilingkari oleh lima bintas diatas garis khatulistiwa, sehingga seluruhnya berjumlah sembilan bintang, serta terdapat tulisan Nahdlatul Ulama dengan huruf Arab yang melintang bola dunia dan menelusuri garis khatulistiwa. Lambang tersebut diciptakan oleh KH. RIDLWAN ABDULLAH, dilukis dengan warna putih diatas warna  hijau.

    (abi sorban)