Tag: nkri

  • SOAL KEMELUT DI NATUNA, PBNU SIAP JIHAD DEMI NKRI

    SOAL KEMELUT DI NATUNA, PBNU SIAP JIHAD DEMI NKRI

    Infokom BanserNU- Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyatakan siap berjihad demi mempertahankan setiap jengkal kedaulatan NKRI.

    Hal ini disampaikan Ketua Umum PBNU Kiai Said Aqil Siradj saat memberikan keterangan resmi organisasi keislaman tersebut terkait aksi Tiongkok yang memasuki Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di Perairan Natuna.

    “Dalam pandangan Nahdlatul Ulama sebagaimana dinyatakan oleh pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy’ari, hukum membela keutuhan tanah air adalah fardu ain atau wajib bagi setiap orang Islam. Dan barang siapa mati demi tanah airnya, maka ia mati syahid,” kata Kiai Said dalam konferensi pers di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Senin (6/1).

    Menurut Said, kedudukan laut amat strategis sebagai basis pertahanan. Karena itu pulau-pulau perbatasan, termasuk yang rawan gejolak di Laut China Selatan, tidak boleh lagi disebut sebagai pulau terluar, tetapi terdepan.

    “Ketidaksungguhan pemerintah dalam melaksanakan konsep pembangunan berparadigma maritim, termasuk dalam geopolitik, ekonomi, dan pertahanan, akan membuat Indonesia kehilangan 75 persen potensinya untuk maju dan sejahtera dan memimpin dunia sebagai bangsa bahari seperti amanat founding fathers,” katanya.

    Oleh karena itu, Kiai Said juga mengingatkan kepada pemerintah, jangan negara lembek, meski Tiongkok merupakan salah satu investor di Indonesia.

    “Meskipun Tiongkok merupakan investor terbesar ketiga di Indonesia, Nahdlatul Ulama meminta Pemerintah RI tidak lembek dan tidak menegosiasikan perihal kedaulatan teritorial dengan kepentingan ekonomi. Keutuhan dan kesatuan wilayah NKRI, di darat dan di laut, dan juga di udara adalah harga mati yang tidak bisa ditukar dengan kepentingan apa pun. Dalam jangka panjang, Nahdlatul Ulama meminta Pemerintah RI untuk mengarusutamakan fungsi laut dan maritim sebagai kekuatan ekonomi dan geopolitik,” kata Kiai Said.

    #HubbulWathonMinalIman

  • JANGAN NGAKU NGAKU NAHDLIYYIN NAHDLATUL ULAMA KALAU MASIH INGIN MENGHANCURKAN NKRI

    JANGAN NGAKU NGAKU NAHDLIYYIN NAHDLATUL ULAMA KALAU MASIH INGIN MENGHANCURKAN NKRI

    Infokom Banser NU – 

    KH. Hasyim Asyari Tidak Pernah Melawan Negara atas Nama Agama
    .
    “Hadrotus Syekh KH. Hasyim Asy’ari membela Negara dengan menggunakan Agama, tapi tidak melawan Negara dengan menggunakan Agama.”
    .
    Berbeda dengan kondisi saat ini, agama dijadikan alat untuk menyerang dan membusukkan pemerintah yang sah. Golangan tersebut menggunakan simbol-simbol Islami untuk membikin gaduh negeri.
    .
    Mereka kencang sekali meneriakkan takbir, memakai bendera tauhid, mengatasnamakan agama dan Tuhan untuk melampiaskan nafsunya, rakus dengan kekuasaan.
    .
    Seharusnya, agama menjadi penguat negara bukan agama sebagai penghancur negara. Kalau agama hanya bertugas mempentungi negara, maka jangan salahkan pula jika negara menggebug para penganut agama itu.
    .
    Dari sini terlihat jelas bahwa sekarang ini banyak penganut agama yang gagal paham, tak mampu memahami agama dengan baik dan benar. Bukan salah agamanya, akan tetapi salah manusianya yang memaknai agama dengan nafsu dan semaunya sendiri.
    .
    Bahkan Pendapat dan Pedoman Beliau sangat Terkenal dengan Ucapan beliau.”HUBBUL-WATHON MINAL-IIMAAN”,mencintai tanah air sebagian dari iman.

  • DI/TII Bunuh Kyai NU karena NU Bela NKRI tidak Bela Negara Islam

    DI/TII Bunuh Kyai NU karena NU Bela NKRI tidak Bela Negara Islam

    Ibnu Muljam kita dapati yg belajar agama namun bukan dari guru yg bersanad , bersambung ilmunya sampai Nabi SAW. Sehingga zaman nabi dan salaf pun mereka cendrung khawarij suka memberontak. Untungnya umumnya kyai bersanad ilmu agamanya, ini yg dibenci para khawarij. Berbeda dg ustadz2 Muhammadiyah dapat kita lihat punya semangat yg dekat dg ghirrah DI TII, khilafah HTIatau NII, akibat tidak bermadzhab dan tidak bersanad.

    Sepulang dari Bandung menuju Jakarta, Idham Chalid, Ketua I PBNU, menginap di Puncak. Tiba-tiba gerombolan DI/TII menembakinya dari arah perbukitan. Dia tiarap di kolong ranjang. Untungnya, segera datang bantuan tentara dari Cipanas. Kontak senjata berlangsung berjam-jam. Malam menjadi bising karena desingan peluru. Mereka lari menjelang subuh dengan menderita banyak korban jiwa dan luka-luka. Di pihak tentara juga ada yang terluka.

    Pengalaman lain yang dialami Idham ketika naik kereta api menuju Jawa Timur. Dia ditembaki gerombolan DI/TII antara Gambir dan Pegangsaan. Beruntung peluru hanya mengenai ujung kopiah ajudannya, H. Djumaksum. “Sasaran tembakan pastilah saya, menteri yang mengurusi keamanan,” kata Idham dalam biografinya, Tanggungjawab Politik NU dalam Sejarah.

    Dari 24 Maret 1956 hingga 9 April 1957, Idham menjabat Wakil Perdana Menteri merangkap Kepala Badan Keamanan. Salah satu perhatian utama Kabinet Ali Sastroamidjojo II itu adalah pemulihan keamanan dari DI/TII di Jawa Barat, Jawa Tengah, Aceh, dan Sulawesi Selatan.

    “Tugas saya yang paling berat adalah menghadapi gerombolan yang membawa dalil-dalil agama Islam, yaitu Darul Islam Kartosuwiryo di Jawa Barat, Ibnu Hadjar di Kalimantan Selatan, Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan, dan Tengku Daud Beureueh di Aceh,” kata Idham.

    Menurut Idham, DI/TII merugikan Islam. Banyak umat Islam yang menjadi korban kekejaman mereka. Mungkin di Aceh tidak terjadi perbuatan seperti di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan di mana gerombolan DI/TII membakar madrasah dan masjid yang tidak sependapat dengan mereka.

    “NU yang dianggap sebagai pengkhianat Islam karena keluar dari Masjumi juga dianggap musuh utama DI/TII. Mereka menganggap NU membantu Republik Indonesia Kafir (RIK). Apalagi salah seorang ketuanya menjadi wakil perdana menteri yang memegang urusan keamanan. Beberapa orang pimpinan cabang NU di Jawa Barat dibakar rumahnya oleh DI/TII, bahkan ada yang ditembak mati. Suatu rapat NU pernah diserang mereka,” kata Idham.

    Sejarawan Cornelis van Dijk mengungkapkan bahwa pada Juli 1953 DI/TII melancarkan aksi serentak. Komandan DI/TII di Ciamis Selatan, Uchjan Effendi, memerintahkan pasukannya meningkatkan aksi untuk mengacaukan musuh. Mereka melakukan tindakan apa pun untuk membuat kekacauan.

    “Angkatan Kepolisian Negara Islam, misalnya, ditugaskan untuk menghukum warga yang tidak sepakat dengan Darul Islam. Uchjan juga memberikan perintah kepada masing-masing satuan Angkatan Kepolisian yang beroperasi pada tingkat kecamatan. Mereka ditugaskan untuk membunuh paling sedikit satu orang warga dan membakar paling sedikit lima bangunan yang didirikan pemerintah Republik dalam waktu dua minggu. Ancamannya, bila ada anggota yang gagal melakukan aksi ini akan dituntut secara hukum,” tulis Van Dijk dalam Darul Islam: Sebuah Pemberontakan.

    Dalam menghadapi DI/TII, Idham melibatkan para kiai. Dia membentuk KPK (Kiai-Kiai Pembantu Keamanan) yang diketuai KH Muslich dari Jakarta. Anggotanya ditunjuk satu orang dari masing-masing wilayah di mana terdapat DI/TII. Khusus untuk Jawa Barat sebagai daerah yang paling luas dikuasai DI/TII, KPK menunjuk dua orang wakil yaitu KH Dimyati (Ciparai) dan Moh. Marsid.

    Anggota KPK lainnya antara lain KH Baidowi Tafsir (Jakarta), KH Malik (Jawa Tengah), KH As’ad Syamsul Arifin (Jawa Timur), KH Ahmad Sanusi (Kalimantan), KH Zahri (Lampung), KH Jusuf Umar (Sumatra Selatan), KH Kahar Ma’ruf (Sumatra Tengah), Tengku Mohammad Ali Panglima Pulen (Aceh dan Sumatra Utara), dan KH Abdullah Joesoef (Sulawesi).

    “Mereka dengan sungguh-sungguh melaksanakan panggilan kewajibannya sebagai seorang Islam dan warga negara untuk berbicara dengan rakyat tentang kesadaran mematuhi ajaran agama dan hidup bernegara,” kata Idham.

    Mereka menghubungi para kiai di daerah masing-masing untuk menyampaikan kesadaran itu karena gangguan keamanan yang berlarut-larut merugikan negara dan rakyat. Mereka melakukan kegiatannya melalui pengajian atau kegiatan lainnya.

    Panglima-panglima militer di daerah gembira dengan adanya KPK. Dalam setiap peninjauan maupun operasi militer mereka selalu mengikutsertakan KPK. Di daerah yang berhasil dikuasai, sang kiai memberikan ceramah kepada rakyat. Mereka juga memberikan penyadaran kepada anggota gerombolan DI/TII yang menyerah.

    “Mereka sama sekali tidak diganjar dengan nilai penghasilan tertentu, tetapi hanya mendapat sekadar uang jalan dan uang saku,” kata Idham. “Jasa kiai-kiai pembantu keamanan tidak bisa saya lupakan.”

  • SIAPAPUN YANG PUNYA NIAT JAHAT DENGAN INDONESIA, JURUS AWALNYA MELUMPUHKAN NU

    SIAPAPUN YANG PUNYA NIAT JAHAT DENGAN INDONESIA, JURUS AWALNYA MELUMPUHKAN NU

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com- Apalagi Sama Mereka Yang Punya Niat Aneh-Aneh Sama Negara…  Yah masih ingatkan? dengan Muktamar NU ke-29 tahun 1994 lalu di Cipasung, Tasikmalaya.
    Ketika itu Orde Baru berusaha mengkudeta NU dari tangan Gus Dur dengan membuat sosok tandingan bernama Abu Hasan.
    Namun Gus Dur secara heroik tetap berhasil memenangkan pemilihan Ketua Umum PBNU untuk lima tahun berikutnya. Para ulama-pun “tetangisan” karena Gus Dur mampu melewati tekanan rezim Soeharto yang datang bertubi-tubi sejak bertahun sebelumnya.
    Beberapa surat kabar mengandaikan pertarungan ini seperti oplet melawan panser, dan oplet memenangkannya.
    Mohamad Sobary menangkap peristiwa dramatis itu dengan tulisan yang tak kalah sarkastisnya “Menang Jadi Arang, Kalah Jadi Abu Hasan.”
    NU sejak dulu jadi sasaran untuk direbut, dipecah, jika perlu dihancurkan. Ini terjadi karena NU adalah tipikal “benda hidup yang mudah bergaul, tapi tidak mudah untuk digauli”, meminjam penerjemahan HB. Jassin dalam Zarathustra.
    NU adalah ganjalan bagi siapapun yang punya niat “aneh-aneh” terhadap bangsa ini. Banyak yang terkecoh – seolah gampangan, tapi ketika diajak berkhianat kepada Pancasila, NU tak mau kompromi.
    Karenanya sudah dengan berbagai cara NU berusaha dikebiri, sejak era PKI, HTI hingga era FPI.
    NU oleh kaum komunis bahkan disebut “Para Penyembah Tahayul”, oleh kaum Wahabi disebut “Para Penyembah Kuburan” dan berkali-kali Rizieq Shihab menyerang Ketua Umum NU sembari menghina dengan “membuta-butakan” Gus Dur.
    Tapi dasar NU, ia tak pernah bergeser. “Maqomnya” sebagai pengawal kemajemukan bangsa tetap terjaga istiqomah.
    Rumus paling sederhana adalah siapapun yang punya niat jahat dengan bangsa ini, pasti ingin melumpuhkan NU sebagai jurus awal.
    Dan itu dilakukan oleh siapapun, termasuk oleh warga yang mengaku aqidah-nya sama. Janganlah mengira bahwa FPI amaliyah-nya berbeda dengan NU, termasuk mereka yang mengepung kediaman ibunda Mahfud MD kemarin – mereka sama, hanya niatan kepada bangsa ini berbeda.
    Kesetiaan Nahdlatul Ulama kepada negara ini tidak akan pernah berubah. Dan tidak akan pernah mengendur hanya karena stigma “receh” yang seringkali diarahkan pada NU.
    NU mungkin saja oplet, tapi pernah mengalahkan panser – mereka yang sekedar gerobak, harap berpikir ulang untuk bisa menghancurkan NU.
    Dan akhirnya, ternyata karomah para masyayih NU adalah salah satu senjata ampuh masih kuat & tegaknya NU.
    Alhamdulillaah… (PC NU BREBES)
  • Maheer At-Thuwailibi Keterlaluan Singgung Habib Lutfi

    Maheer At-Thuwailibi Keterlaluan Singgung Habib Lutfi

    SORBANSANTRI.COMSORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Habib Luthfi yang saya tahu, tak pernah mengujar kebencian kepada siapapun, jangankan caci maki, menyindir personal pun tak ada.
    Ceramah beliau selalu ajakan agar kita bersatu, jangan terpecah belah, jaga persatuan dan kesatuan bangsa, rawat NKRI dan Pancasila. Tapi pengusung khilafah begitu sangat membenci beliau? Tak jarang beliau selalu dihina dan dicaci maki oleh kelompok ini contohnya oleh si soni eranata ini.
    Ketika Habib yang getol bela Negara, bela kesatuan dan persatuan bangsa dihinakan, tak terdengar istilah bela Habib dari kubu yang paling gencar merasa paling bela agama bahkan imam besarnya seorang Habib.
    Berbeda jika Habib dr golongan mereka terkena kasus penganiayaan dan terjerat hukum, mereka paling keras berteriak ‘kriminalisasi ulama/habib’ ‘rezim zolim’ dll.
    Aneh.. Dasar pembajak agama!!!! (abi sorban)
  • OPM (Organisasi Papua Merdeka) KEMBALI KEPANGKUAN NKRI

    OPM (Organisasi Papua Merdeka) KEMBALI KEPANGKUAN NKRI

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- SURAT TERBUKA Organisasi Papua Merdeka (OPM), Buat Presiden RI. JOKO WIDODO.
    “Kami Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang sebelumnya memberontak ingin berpisah dari NKRI, kini kami memutuskan kembali kepangkuan NKRI…..”
    “Setelah bertahun-tahun lamanya kekayaan alam kami dirampas, dikuras, dan diperas oleh Perusahaan-perusahaan tambang. Dampak tambang tersebut ekosistem alam kami jadi rusak sedemikian hebat. Otomatis kami protes dan memberontak, karena kami mencintai tanah warisan leluhur kami dimana jiwa kami telah menyatu dengan alam.

    Rusaknya alam kami, berarti rusak jiwa raga kami.
    Kami memberontak namun tidak berdaya melawan “senjata penguasa.”
    Kami hanya bisa melihat dari jauh, kami hanya bisa menangis menyaksikan Surga Kecil yang dianugrahkan Tuhan untuk kami jaga dan rawat, dirusak dan diperkosa oleh penguasa yang tamak.
    Tanah yang telah turun-temurun kami diami, dikotori dan diporak-porandakan oleh tangan besi.
    Penguasa menghunuskan senjatanya, membunuh saudara-saudara kami yang memberontak karena mempertahankan tanah warisan nenek moyang kami.

    Entah kepada siapa lagi kami mengadu, tak ada yang peduli.
    Melalui surat terbuka ini kami nyatakan, bahwa telah lama kami berDoa supaya lahir seorang Pemimpin yang mempedulikan kami, peduli terhadap tanah kami, nasib kami, penderitaan kami, dan masa depan kami. Kami percaya Tuhan tidak tidur…..
    Ketika kekayaan alam kami diambil, tanah kami dirusak, apa yang kami dapat? Nothing…
    Kami seperti “sapi perah” bagi penguasa. Susu kami diperas dan kami ditinggalkan.

    Tidak ada kompensasi nyata dari Penguasa membangun tanah kami yang katanya juga “Indonesia”.
    Semua janji-janji pembangunan, janji-janji kesejahtraan, hanyalah janji-janji kosong. Buktinya nihil.
    Kami sadar kalau kami sudah diperdaya oleh Penguasa yang kami harapkan, yang kami jadikan tempat mengadu dan bernaung. Sehingga kami yang dianak tirikan inipun putus asa, lalu kami berinisiatif melakukan perlawanan terhadap Penguasa dengan apapun yang kami punya, dan apapun yang kami tahu. Walaupun dengan senjata seadanya, tapi kami punya kekompakan yang tidak bisa dibeli dengan uang.

    Tekad kami hanya satu, “Papua harus pisah dari NKRI”! Kami menyebut diri kami Organisasi Papua Merdeka (OPM), sebagai kelompok pemberontak. Dan kamilah yang menulis surat terbuka ini supaya bisa sampai kepada Bapak Jokowi. Tanah kami yang subur, yang berlimpah kekayaan alamnya, harus kami perjuangkan meskipun dengan menyabung nyawa.

    Katanya “Indonesia” tapi kami tidak diperhatikan. Katanya “Indonesia” tapi kami dianak tirikan. Katanya “Indonesia” tapi tanah kami dijarah dan kami diabaikan.
    Yang kami tahu Indonesia itu ada dipulau Jawa, bukan tanah Papua atau “Sabang sampai Meraoke seperti nyanyian Lagu Kebangsaan itu”. Bukan…! Buktinya dipulau Jawa saja yang lengkap fasilitasnya, lengkap pembangunannya, dan lengkap segala-galanya.

    Harga BBM mencapai Rp120 ribu, kami tidak pernah Demo. Harga kebutuhan pokok tingginya selangit, kami tidak pernah Demo. Kami tidak diajarkan untuk mengeluh dan menggerutu, kami ditempa menjadi pribadi yang tangguh untuk mampu manghadapi kerasnya kehidupan. Hingga kami terbiasa hidup dihutan, bangunan rumah hanya gubuk tanpa penerangan. Kami terbiasa hidup seadanya, kami terbisa hidup menderita, ya,, kami sudah terbiasa….
    Kami tidak kenal bangunan rumah yang terbuat dari tembok semen, karena harga semen mencapai Rp 2 juta per shak. Tapi bukan berarti kami ingin terus menerus hidup seperti ini, kami juga ingin maju seperti yang lainnya.

    Kami juga ingin anak-anak kami kelak bisa merasakan kehidupan yang lebih layak dan lebih baik dari kehidupan kami yang sekarang. Itu Doa kami….. Ternyata Tuhan jawab Doa kami.
    “Doa kami supaya lahir seorang pemimpin yang peduli dan mengerti dengan penderitaan rakyatnya yang nyaris putus asa itu, terjawab didiri Bapak Jokowi…” Kehadiran Bapak Jokowi merupakan jawaban Tuhan atas Doa kami.
    Pemimpin yang jujur dan adil ialah Bapak Jokowi.

    Berkat kehadiran Bapak Jokowi, tanah kami dihargai, alam kami diperhatikan, kesejahteraan kami diperjuangkan, segala keluh-kesah kami, pergumulan kami, harapan kami, dan Doa-doa kami, semuanya terjawab.
    Bukti nyata pembangunan dan infrastructure, juga program-program lainnya yang memajukan Papua, menumbuhkan harapan masa depan dan kesejahteraan bagi kami dan anak-cucu kami.
    Kami Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang sebelumnya memberontak ingin berpisah dari NKRI, kini kami memutuskan kembali kepangkuan NKRI…..

    Bapak Jokowi adalah anugrah terbesar bagi kami masyarakat Papua.
    Bapak sudah membangun tanah kami, dan kami akan membesarkan anak-anak kami dengan sehat. Kami akan memberitahukan kepada mereka (anak-anak kami) bahwa Papua juga bagian dari NKRI.
    Dan yang lebih penting adalah, kami dengan bangga hati akan menceritakan kepada anak-cucu kami bahwa dulu ada seorang Presiden yang jujur, adil, dan berjasa besar bagi pembangunan ditanah Papua. Namanya Joko Widodo.
    Sejarah ini akan menjadi legenda abadi dan tak terlupakan dibumi Cendrawasih……

    Kami berjanji: Sepenuh hati, jiwa dan raga, mendukung Kepememimpinan Bapak Presiden Joko Widodo, untuk Indonesia lebih maju dan disegani oleh dunia internasional….
    Terima kasih Bapak jokowi, kami anak-anak Papua menyatakan: Kau adalah “Bapak Papua”
    GOD BLESS YOU Godfather Joko Widodo. (post syafif hidayatulloh)
    Salam Hormat…..

  • JENDRAL TNI (PURN) MOELDOKO REKOMENDASIKAN BANSER NU SEBAGAI KOMPONEN CADANGAN ( KOMPCAD)

    JENDRAL TNI (PURN) MOELDOKO REKOMENDASIKAN BANSER NU SEBAGAI KOMPONEN CADANGAN ( KOMPCAD)

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI-
    Kepala Staf Kepresidenan ( KSP) Jendral TNI( Purn) Moeldoko menilai, BANSER ANSOR SERBAGUNA ( BANSER) Ansor sangat layak menjadi komponen Pertahanan, sebab BANSER Ansor memiliki Struktur yang lengkap dari tingkat Pusat dan Daerah.

    Menurut Moeldoko, untuk menjadi Komponen Cadangan, Banser perlu dilatih lagi soal kedisiplinan Fisik dan mental, serta penggunaan Senjata.

    Moeldoko juga mengapresiasi program seperti Susbanpim untuk peningkatan kemampuan kepemimpinan dalam organisasi.

    “Kalau di tentara ini ibarat Sesko, jadi saya baru tau BANSER juga punya Structure pelatihan yang sangat baik dari tingkat dasar hingga tingkat tinggi, ini menyiapkan pemimpin masa depan ,” tegas Moeldoko.

    Kegiatan dihadiri Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas, Kapolda Jatim Irjen Luki Kasatkorwil BANSER Jatim M. Irsyad Yusuf, Sekda Provinsi Jawa Timur Heru Tjahjono, Kasatkornas BANSER Alfa Isnaeni, Sekjen GP Ansor Abdul Rachman, Ketua PW Ansor Jatim Syafiq Sauqi, Pejabat TNI & POLRI serta ribuan Kadet Ansor dan Banser.

    Sebelum memberikan arahan, Gus Yaqut sapaan akrab dari Ketum PP GP ANSOR Yaqut Cholil Qoumas, menyematkan Jaket Banser Kepada Moeldoko.

    Pada Kesempatan itu Moeldoko, meminta BANSER juga memberikan Kontribusi yang lebih nyata dalam pembangunan Bangsa dan Negara.

    Gus Yaqut menanggapi Moeldoko dikatakan, sebelum ada usulan UU Komponen Cadangan BANSER dari dulu juga sudah siap sebagai Komponen Cadangan.

    ” Tanpa ada UU pun BANSER sudah siap ketika ada gangguan terhadap Bangsa dan Negara ini, Banser pasti akan ikut terlibat dalam mempertahankan NKRI.
    Enggak usah ditanya lagi, Banser pasti dan sudah siap membantu jika itu dibutuhkan kapan saja dimana saja, ” tegas Gus Yaqut.

    Gus Yaqut mengatakan, Susbanpim V yang diikuti ratusan peserta dari seluruh Provinsi di Indonesia ini salah satu bentuk kesopanan itu.

    Susbanpim ini adalah pendidikan BANSER tertinggi yang bertujuan mencetak pimpinan BANSER di masing- masing tingkatan dari Sabang Sampai Merauke.

    Kita selalu siapkan para pemimpin Banser agar Organisasi ini berjalan dengan baik dan profesional dalam menjawab dinamika yang menggelinding Secara Cepat sekali,” tegas Gus Yaqut. (ABI SORBAN)

    #BanserBerSatu
    #NUBerSatu

  • ADA YANG MAU MEMBAKAR NEGERI INI

    ADA YANG MAU MEMBAKAR NEGERI INI

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Pernahkah kita memperhatikan cara kerja lampu atau kompor minyak tanah? Kenapa api hanya membakar ujung atas sumbunya saja? Karena sifat api hanya membakar apa yang ada diatasnya.

    Kalau begitu, bukankah posisi api itu sudah paling atas, dan seharusnya ia akan padam? Betul, seharusnya ia padam jika tidak ada bahan bakar.

    Minyak tanah itulah yang akan membuat api itu akan terus menyala. Dan api hanya mengikuti sifat alamiah atau hukum alam saja.

    Begitu juga dalam kehidupan. Sifat api dalam hati kita hanya membakar apa yang ada diatasnya. Api iri, cemburu, dengki dsb hanya membakar akibat keinginan yang lebih tinggi.

    Hukum alam api di dalam hati kita hanya akan memiliki sifat iri kepada orang yang lebih sukses, pandai, kaya, rupawan, dsb. Intinya, hanya kepada orang-orang yang berada di atas level kita.

    Ini tidak hanya berlaku secara personal.

    Juga berlaku secara kelompok, organisasi bahkan sampai pada level negara.

    Hati kita dengan lampu minyak setidaknya sebuah analogi yang identik. Api itu harus tetap menyala namun terukur agar menjadi semangat dalam kehidupan.

    Api yang kecil akan menerangi, namun jika ia besar dan tak terkendali justru akan membakar dirinya sendiri dan apa yang ada disekitarnya.

    Pun begitu dengan minyaknya sebagai pembakar semangat. Ia juga harus terukur dan terarah. Itulah kenapa ia hanya boleh mengalir dalam sumbu dan bukan disiramkan yang bisa memicu kebakaran.

    Jika seperti ini, ia bukan sebagai penyemangat melainkan sebagai provokator yang sifatnya merusak.

    Dalam skala sosial, semangat itu sendiri manifestasinya bisa dalam kehidupan berbangsa dan beragama. Contohnya, ketika ada fenomena pembakaran bendera PKI.

    Orang-orang yang memiliki nalar dan akal yang masih sehat, tentu bisa menyimpulkan bahwa hal tersebut adalah rekayasa.

    Ideologi yang sudah tidak laku, tiba-tiba bangkit dan dikabarkan memiliki anggota 60 juta lebih di Indonesia.

    Disinilah perlunya ukuran nalar dan semangat kebangsaan yang terarah.

    Begitu pula dengan fenomena Klepon sebagai jajanan tradisional yang dianggap tidak Islami. Ini juga dituntut nalar dan semangat beragama yang terukur dan terarah.

    Dan terakhir tentang kejadian pembakaran baliho seorang tokoh.

    Bagi orang yang memiliki nalar dan akal yang masih sehat, tentu akan paham sifat api yang membakar apa yang ada di atasnya.

    Itulah kenapa dalam video pembakaran bendera PKI dengan baliho gambar tokoh itu akan terlihat perbedaan cara atau teknis membakarnya.

    Bendera dibakar dari bawah, sedangkan baliho dibakar dari atas.

    Yang satu akan mudah terbakar, sementara satunya akan padam.

    Apalagi terduga pelakunya terafiliasi pada kelompok yang sama.

    Perhatikan, pikirkan dan rasakan. Sudah jelas bahwa rupanya ada penyiram minyak dalam kehidupan berbangsa dan beragama di negeri kita ini.

    Tujuannya bukannya untuk menerangi, melainkan agar negeri ini terbakar oleh adu domba akibat “ghirah” yang tak terkendali.

    Semoga kita selalu cinta damai…
    Walaupun blakangan ini ada perbedaan dan perdebatan politik hingga membawa sejarah palsu dan saling tidak menghargai.

    Hentikan itu semua, kita 1 saudara seatap NKRI HARGA MATI

    Kalian yang berjiwa cinta damai ayo repost foto ini mari tumbuhkan lagi jiwa nasionalisme kita..! Untuk Indonesai Raya ( POST SANTRI NU)

  • MEMBELA TANAH AIR TIDAK ADA DALILNYA

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Seumur-umur tidak ada yang berani menantang Hadratussyeikh KH Hasyim Asyari. Jangankan menantang, menentangpun tidak ada yang berani. Bahkan mendongakkan kepala dihadapan beliau saja tidak ada yang berani. Hanya HTI yang berani “berlawanan” dengan Hadratussyeikh. Hanya satu kata yang patut disematkan kepada Felix Siauw, belajar lagi.

    Gelar “Hadratussyeikh” bukan gelar sembarangan. Hadratussyeikh itu gelar di atasnya syeikh. Di Arab bahkan Timur Tengahpun paling tinggi gelarnya hanya “syeikh”. Artinya di tanah Hijaz, beliau sangat dihormati. Bahkan ketika Mbah Wahab (KH Wahab Hasbullah) yang ditunjuk untuk menggagalkan pembongkaran makam Nabi, yang dilakukan pemerintah Arab Saudi ketika itu, beliau “disepelekan” ulama Sunni dan Syiah Arab. Namun begitu beliau bilang muridnya Hadratussyeikh KH Hasyim Asyari, langsung ulama Sunni dan Syiah hormat ke beliau (Mbah Wahab) karena ta’dzim kepada Hadratussyeikh KH Hasyim Asyari.

    Lha kok sekarang, ada orang HTI si Felix yang muallaf (baru masuk Islam) berani-beraninya berkata nasionalisme tak ada dalilnya, yang mana berlawanan statemen dengan Hadratussyeikh. Dengan “ijtihad” beliau Hadratussyeikh yang meletakkan posisi Islam dan Indonesia, keislaman dengan kebangsaan dalam satu nafas sehingga didapatkan jargon HUBBUL WATHON MINAL IMAN, cinta tanah air sebagian dari iman.

    Eeehhhh…..si Felix justru bilang nasionalisme tak ada dalilnya, yang mana bertentangan dengan apa yang di-“fatwa”-kan KH Hasyim Asyari. Beliau Hadratussyeikh itu paham sekali Alquran Hadits. Hadratussyeikh mendapat ijazah dan sanad langsung hadits Shahih Bukhari Muslim. Beliau juga hafal dan paham kutubussittah beserta rijalul haditsnya.

    Lha kok……. si Felix bilang nasionalisme tak ada dalilnya, yang.menentang Hadratussyeikh, beliau telah menelorkan jargon hubbul wathon minal iman. Apakah si Felix lebih alim dari Hadratussyeik KH Hasyim Asyari. Padahal ketika itu beliau adalah satu-satunya ulama rujukan, baik ulama Timur Tengah maupun Indonesia. Bung Karno pun saat mau memutuskan perjalanan bangsa Indonesia selalu mohon arahan dan doa restu Hadratussyeikh.

    HUBBUL WATHON MINAL IMAN, cinta tanah air (nasionalisme) sebagian dari iman. Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari berkata:

    “Agama dan nasionalisme adalah dua kutub yang tak berseberangan. Nasionalisme adalah bagian dari agama dan keduanya saling menguatkan”

    Doa Nabi ﷺ :
    “Ya Allah jadikanlah kami mencintai Madinah seperti cinta kami kepada Makkah” (HR Bukhari).

    Doa kami bangsa Indonesia:
    “Ya Allah, jadikan kami mencintai Indonesia seperti cinta kami kepada Makkah dan Madinah, kota yang dicintai Rasul-Mu”

    Lha kok ada anak kemarin sore, dedengkot HTI berani menegasikan beliau Hadratussyeik. Ya, hanya satu kata untuk si Felix, belajar lagi.(abi-sorban)

  • MenjadiOrator Aksi Bela Pancasila Tak Hafal Sila ke 4, Eko: Dsrnya Khilafah Ya Khilafah Saja

    MenjadiOrator Aksi Bela Pancasila Tak Hafal Sila ke 4, Eko: Dsrnya Khilafah Ya Khilafah Saja

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Unjuk rasa Aliansi Nasional Anti-Komunis (ANAK) NKRI menolak Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) pada Rabu (24/6/2020) lalu, masih menjadi perbincangan hangat di media sosial.

    Aliansi yang terdiri dari gabungan sejumlah ormas Islam seperti FPI, PA 212 dan GNPF-U itu ramai dibicarakan menyusul beredarnya foto dan video pembakaran bendera PKI dan PDIP.

    Selain pembakaran bendera, salah satu video yang juga tak luput dari perhatian netizen dari aksi bertajuk ‘Selamatkan NKRI dan Pancasila dari Komunisme’ itu adalah video salah satu orator aksi yang tidak hafal sila keempat Pancasila.

    Dalam video berdurasi 44 detik yang beredar luas di media sosial, sang orator yang berada di atas panggung mengajak massa aksi untuk bersama-sama mengucapkan Pancasila.

    Menggunakan pengeras suara, pria bergamis putih itu menyebut sila pertama hingga ketiga dengan lantang dan diikuti massa aksi.

    Namun, saat menyebut sila keempat Pancasila yang seharusnya berbunyi ‘Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan,’ orator itu justru salah menyebut.

    “Permusyawaratan yang dipimpin oleh hikmat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat (berhenti sejenak)… kebijaksanaan permusyawaratan dan perwakilan,” ujar sang orator.

    Menariknya, kesalahan itu itu juga diikuti oleh sejumlah peserta aksi. dengan mengulang apa yang disampaikan oleh si orator aksi.

    Sontak, hal tersebut membuat si perekam video pun ikut tertawa dan mencoba mengoreksi dari kejauhan.

    Video tersebut juga dibagikan oleh pegiat media sosial yang juga penulis Eko Kuntadhi di akun Twitternya pada Rabu (24/6/2020).

    “Para pembela Pancasila yang gak hapal sila-silanya. Kalau emang dasarnya khilafah. Ya, khilafah aja. Gak usah ngaku-ngaku pembela Pancasila!” sindir @eko_kuntadhi pada unggahan video itu. (SUMBER)