Tag: nu

  • Sejarah Propaganda dan Kekejaman PKI Versi NU [Part 4]

    Sejarah Propaganda dan Kekejaman PKI Versi NU [Part 4]

    SORBANSANTRI.COM

    Cerita dengan judul Sejarah Propaganda PKI ini sengaja saya buat untuk memperkaya wawasan sejarah kebangsaan kita semua sebagai bangsa Indonesia. Dan pemilihan referensi dari NU sengaja saya pilih agar pembahasan sejarah PKI yang saya sampaikan menjadi netral dengan tidak ada bumbu-bumbu politik.
    PKI BURU KYAI DAN SANTRI (KEJADIAN TAHUN 1948)
    Kekejaman PKI sebelum Pemilu pertama 1955 terjadi begitu masif dibanyak tempat. Selain untuk menyikat para lawan yang dianggap batu sandungan, hal ini juga dilakukan PKI untuk membuat masyarakat Non PKI segan terhadap mereka. Aksi Perampokan, Penculikan, Pengerusakan hingga Pembunuhan begitu masif dilakukan PKI dibeberapa daerah yang menjadi basis mereka. PKI tidak suka dengan kalangan Pesantren kala itu, bagi mereka kalangan Pesantren dianggap bisa menjadi alat perlawanan untuk PKI, makanya Pesantren harus dibabat untuk mengurangi kekuatan mereka. Perburuan terhadap para ulama pimpinan pesantren terus dilakukan, seorang kiai yang pesantrennya berada jauh di luar Magetan juga menjadi sasaran. Magetan merupakan Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Madiun Pusat Kegiatan PKI saat itu. PKI menyiapkan sumur-sumur dengan kedalaman 10-20 meter sebagai tempat kuburan massal tawanan mereka.
    KH Imam Shafwan Pemimpin Pesantren Kebonsari Magetan bersama kedua orang anaknya yaitu K Zubair dan K. Abu Bawani yang sedang memimpin pengajian juga dibantai oleh FDR-PKI. Pada umumnya para kiai telah mempersiapkan diri dengan ilmu kanuragan untuk membentengi diri dari serangan penjahat terutama gerombolan PKI, hal itu dialami oleh Kiai Imam Shofwan, saat dianiaya PKI, walaupun kedua anaknya telah tewas, tetapi sang kiai masih bertahan walaupun menghadapi berbagai siksaan. Karena PKI sudah jengkel dan tidak sabar lagi kemudian dimasukkan hidup-hidup dalam sumur, didalam sumur KH Imam Shofwan masih sempat mengumandangkan adzan yang disaksikan oleh beberapa santtrinya, tetapi kemudian dikubur dalam keadaan masih hidup oleh pasukan Pesindo-PKI. PKI melakukan pembunuhan dan pembantaian dengan beragam cara, mulai dari menyembelih, Menembak, mencincang (Mutilasi), membakar hidup-hidup, hingga mengubur hidup-hidup para tawanan mereka.
    SORBANSANTRI.COM
    Dengan ancaman Senapan, PKI membawa para Santri ke tempat tahanan. (republika.co.id)

    Peristiwa serupa dialami oleh KH Soelaiman Zuhdi Affandi ketika sedang i’tikaf di masjid ditangkap oleh gerombolan PKI, setelah diseret keluar dari masjid lalu dimasukkan tahanan di Pabrik Gula Gorang-Gareng. Setelah itu dipindahkan ke tempat tahanan lain di Magetan dengan dinaikkan kereta api berjejal dengan tahanan lain. Setibanya di Desa Soco, para tahanan termasuk K Soilaeman disiksa. Karena Kiai ini juga seorang yang digdaya, maka tidak mudah dibunuh. Karena kejenghkelannya lalu pleh PKI dimasukkan ke dalam sumur tua dalam keadaan hidup-hidup. Lain lagi dengan cerita yang dialami KH Hamzah, saat mendengar pemberontakan PKI di Madiun Kiai ini hendak pergi ke Magetan. Tetapi ketika baru sampai di Desa Bathokan telah disergap PKI, kemudian di tahan beberapa hari tanpa diberi makan baru setelah itu dikubur hidup-hidup. Para tawanan yang mati akan dimasukan kedalam sumur, tak jarang tawanan yang masih hidup juga dimasukan kedalam sumur bercampur dengan mayat-mayat tawan yang telah mati, Para tawanan hidup ini tak jarang dilempari batu dari atas sumur sebelum akhirnya ditimbun hidup-hidup. Dalam sumur-sumur pembantaian PKI yang tersebar dibeberapa titik di Magetan dan Madiun ditemukan mayat-mayat Kyai, Santri, Polisi, Lurah, hingga Camat, ada yang ditembak hingga disembelih oleh PKI.

    SORBANSANTRI.COM
    Seorang Korban PKI digantung dan siksa di depan umum. (historia.id)
    SORBANSANTRI.COM Monumen di Desa Kresek, Kec. Wungu – Madiun, Patung Musso Yang Sedang Memegang Pedang yang Hendak Memenggal Kyai Husen, Seorang Pimpinan Pesantren yang Juga Anggota DPRD Madiun pada 1948. (sumber: detik.com)

    Pesantren Tegalrejo yang didirikan oleh para Prajurit Pangeran Diponegoro di Magetan yang dipimpin oleh Kiai Imam Mulyo itu tidak lepas dari serbuan PKI. Pada 18 September Pesantren ini dikepung oleh ratusan orang PKI, tetapi Kiai Imam Mulyo terus bertahan dengan para santrinya. Kepada para santri Kiai Imam Mulyo menasehati agar tidak menyakiti PKI, Padahal saat itu PKI sudah mulai melempar dan menembaki pesantren. Dengan ilmu kanuragan yang dimiliki kyai Imam Mulyo  para santri dilarang keluar dari pagar pesantren, disertai pekikan Allahu Akbar para Santri melakukan perlawanan dari dalam Pondok sehingga PKI pun gagal menghancurkan pesantren. Pada hari berikutnya PKI melakukan serangan lagi bahkan dengan senjata lebih lengkap. Pesantren ditembaki bahkan dilempari puluhan granat, anehnya tidak ada tembakan yang mengena sasaran, bahkan tidak satupun granat yang sudah dilepas picunya bisa meletus. Hanya saja ada seorang santri yang melangggar aturan Kiai Imam yakni ia keluar pagar menyerang PKI. Ketika melakukan serangan itulah santri Tegalrejo bisa ditembak hingga mati. Gagalnya serangan itu PKI membuat taktik lain, yaitu mengajak berunding, di dalam perundingan itu mereka ditangkap dan dibunuh.

    SORBANSANTRI.COM
    PKI melakukan Pembakaran Kampung, Masjid dan Pesantren di Madiun pada 1948. (republika.co.id)
    Kisah lainnya pada Senin 20/9/1948, tiba-tiba datang sebuah truk yang berisi orang-orang PKI baik laki-laki maupun perempuan mendatangi kampung Kauman – Madiun. Seorang perempuan PKI tiba-tiba berteriak kepada seluruh penduduk Kauman. Dia mengatakan bahwa salah seorang anggota PKI telah mati terbunuh di Kampung Kauman dan mereka akan membalas dendam, Padahal warga Kauman tidak merasa telah membunuh seseorang di kampungnya. Dan benar saja ancaman PKI itu benar-benar dilakukan, 4 hari berselang yakni pada jumat 24/9/2020 orang-orang PKI seperti kumpulan tawon yang tiba-tiba menyerbu Kampung Kauman bersenjata klewang, senapan, clurit, dll. Rumah-rumah dibakar sehingga seluruh penghuni keluar dari persembunyiannya. Dalam aksi pembumihangusan Kampung Kauman itu, tak kurang dari 72 rumah terbakar, dan sekitar 149 laki-laki digiring ke Maospati. Dari Maospati seluruh tawanan dimasukkan ke dalam gudang pabrik rokok, kemudian diangkut dengan lori milik pabrik gula ke kawasan Glodok untuk disembelih. Namun pembantaian terhadap warga Kauman ini gagal karena Pasukan PKI Pro Pemerintah menyelamatkan mereka. 
    Saat pemberontakan PKI di sekitar Madiun saat itu keadaan begitu mencekam, orang-orang PKI memutuskan saluran telepon, mereka juga gencar melakukan sweping bersekala besar untuk melakukan penculikan, Jalan-jalan juga penuh dengan orang-orang PKI yang melakukan pencegatan terhadap kendaraan yang lewat dengan target para Pejabat dan tokoh Agama. Banyak Pejabat dan tokoh Agama menjadi korban keganasan PKI karena tidak sempat menyelamatkan diri, PKI melakukan pemburuan di banyak tempat dan pembantaian dilakukan secara serentak di kota-kota sekitar Madiun, mulai dari Magetan, Ponorogo, Trenggalek, Ngawi dan Tulungagung. Terutama daearah-daerah yang selama ini menjadi basis PKI.
    SORBANSANTRI.COM
    Peta Jawa timur (kompas.com)

    PKI juga terus memburu para kiai pimpinan pesantren hingga jauh di luar Madiun. Di Pacitan salah satunya, disana terdapat pesantren kuno yang sangat terkenal yang biasa dikenal dengan Pesantren Tremas. Dari sana lahir ulama besar yang berkaliber internasional yang sangat disegani yaitu Kiai Mahfudz Attarmasi yang kemudian menjadi syeikh di tanah suci.Pada tahun 1948 pesantren ini dipimpin oleh KH Hamid Dimyati, selain seorang pengajar dia ini juga aktivis pergerakan yang menjadi anggota Parlemen di Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Ketika terjadi pemberontakan Madiun situasi menjadi kacau, karena saluran komunikasi terputus maka KH Hamid Dimyati berinisiatif melakukan komunikasi langsung dengan bertemu para pemimpin Republik Indonesia di Yogyakarta.

    SORBANSANTRI.COM
    KH. Hamid Dimyathi. (pondoktremas.com)
    SORBANSANTRI.COM
    Rute Pacitan-Yogyajarta yang harus melewati Wonogiri. (sumber peta: kompas.com)

    Sambil melakukan penyamaran dan perjalan secara sembunyi-sembunyi KH. Hamid Dimyati akhirnya menuju Yogyakarta, Tetap ketika rombongan KH. Dimyati masuk Kabupaten Wonogiri PKI ternyata telah membuat penjagaan dijalan-jalan yang sangatlah ketat mengingat Wonogiri merupakan daerah perbatasan memasuki Yogyakarta Ibukota Negara saat itu, akhirnya penyamaran Kiai Dimyathi terbongkar oleh PKI, rombongannya pun yang berjumlah 15 orang ditangkap gerombolan PKI. Mereka dimasukkan ke dalam tahanan Baturetno dalam tahanan itu disiksa dengan kejam. Ketika tahanan itu penuh rombongan Kyai Dimyathi itu dipindah ke rumah tahanan Tirtomoyo. Di dalam tahanan itu siksaan terus dilakukan, kemudian akhirnya semuanya dibunuh oleh PKI dan dimasukkan kedalam sumur sebagai kuburan massal.

    Hanya satu orang yang dibiarkan hidup yaitu Shoimun, yang sengaja dilepas oleh PKI sebagai teror dan peringatan agar terbunuhnya Kiai besar dan anggota KNIP itu diketahui oleh masyarakat luas dan didengar oleh pemerintah. Shoimun itu pulalah yang menunjukkan tempat pembantaian, dan setelah sumur pembantaian tersebut diketahui kemudian hari lalu digali, jenazah Kiai beserta para aktivis pergerakan serta para santrinya yang tinggal tulang berserakan itu kemudian dipindahkan ke taman Makam Pahlawan sebagai tanda jasa bagi para pahlawan pembela Kemerdekaan Indonesia yang dibantai oleh PKI-Pesindo yang anti agama. Bersambung,,

    [irp posts=”4759″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 1)”]

    [irp posts=”4772″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 2)”]

    [irp posts=”4788″ name=”Sejarah Kekejaman PKI Versi NU (Bagian 3)”]

    [irp posts=”4826″ name=”Sejarah Propaganda dan Kekejaman PKI Versi NU [Part 4]”]

    SORBANSANTRI.COM
    Referensi:
    Abdul Mun’im & Tim PBNU. 2013. Benturan NU-PKI 1948-1965 (Hal 56-62). Jakarta: PBNU & Langgar Swadaya
  • Meneguhkan Aqidah Asy’ariyah

    Meneguhkan Aqidah Asy’ariyah

    SORBANSANTRI.COM
    Oleh: KH. Ma’ruf Khozin

    Semalam saya berkesempatan ikut ngaji Aqidah Asy’ariyah bersama para pakar Aqidah. Selama ini memang saya masih lebih banyak berkutat dengan Fikih dan seputaran Amaliah Aswaja. Beruntungnya dahulu saat mondok di Ploso saya sempat khatam ngaji Ramadhan kitab Tuhfah Al Murid Syarah Jauharah At-Tauhid, karya Syaikhul Islam wal Azhar, Ibrahim Al Bajuri. Pengajian tersebut diasuh oleh Gus Firjaun Jhon Barlam (Putra KH Ahmad Siddiq, Rais Am PBNU semasa Gus Dur).

    Perdebatan di ranah Aqidah memang tidak seramai masalah tuduhan Bid’ah, Khurafat dan Syirik. Karena memang belum terlalu banyak dari mereka. Namun bukan berarti tidak penting. Justru sangat penting. Sebab yang menyebarkan Aqidah yang berlawanan dengan Asy’ariyah saat ini adalah mereka yang menyamakan Allah dengan makhluk-Nya, seperti Allah berada di arah tertentu, firman Allah sama seperti perkataan makhluk dan sebagainya. Allah Maha Suci dari ungkapan mereka semuanya.

    Metode yang digunakan adalah mudzakarah, bergantian dari para pakar Aqidah yang menyampaikan. Sesekali para pakar inilah yang menyampaikan bahan pertanyaan, sehingga menguji adrenalin, bagaimana mungkin dalam waktu bersamaan tanpa persiapan jawaban, namun tiba-tiba banyak yang bisa terjawab. Subhanallah. Inilah ilmu-ilmu Allah yang diberikan kepada para ulama muda kita.

    Dari beberapa pakar tersebut saya melihat memang ada yang betul-betul menguasai dalil Naqli (Qur’an dan Sunnah) di bidang Aqidah. Juga dalil-dalil Aqli yang dahulu pernah meramaikan jagad perdebatan di masa-masa Imam Al-Ghazali, Ar-Razi, Al-Baidhawi dan sebagainya. Dan diantara yang menguasai keduanya adalah Host-nya, yang memandu kami dengan bahasa yang mudah dipahami, yaitu Sayidi Al-Habib Geys Bin Abdurrahman Assegaf.

    Nikmat ngaji Aqidah Asy’ariyah dengan para ahlinya ini membuat saya ingin menghentikan detak perjalanan jam yang terasa cepat, dimulai jam 20.00 dan selesai jam 22.30. Dan semua berakhir ketika para istri kyai tersebut memberi isyarat kepada para suami bahwa ini adalah malam Jum’at.

    •] Kiriman gambar dari Habib Geys, serasi antara HP dan laptopnya.

  • Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 2)

    Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 2)

    SORBANSANTRI.COM
    Logo Partai Komunis Indonesia (Tribunnews.com)

    SORBAN SANTRI – Berita dengan judul Sejarah Propaganda PKI ini sengaja saya buat untuk memperkaya wawasan sejarah kebangsaan kita semua sebagai bangsa Indonesia. Dan pemilihan referensi dari NU sengaja saya pilih agar pembahasan sejarah PKI yang saya sampaikan menjadi netral dengan tidak ada bumbu-bumbu politik.

    NU PINDAHKAN KANTOR PUSAT DI MADIUN

    Sejak dikeluarkannya peringatan oleh KH Hasyim Asy’ari tahun 1947 kala Muhtamar NU-17 di Madiun, kalangan NU sendiri selalu siaga terhadap serbuan PKI, tetapi mengingat besarnya kekuatan PKI maka sulit dibendung. Selama masa revolusi itu kantor pusat PBNU pun sengaja dipindahkan dari Surabaya ke Madiun sehingga kesibukan para tokoh NU terpusat di Madiun. Selepas Muhtamar NU-17 Madiun, KH Wahab Hasbullah seorang Pemimpin Besar NU ditugaskan untuk mengkonsolidasi NU dan Barisan Sabilillah se Jawa. Pertemuan ini sebenarnya untuk menghadapi agresi Belanda tetapi juga sekaligus membentengi Indonesia dari komunis, yang sudah merajalela di mana-mana.
    SORBANSANTRI.COM
    dari kiri : KH. Bisri Sansyuri – Hadratus Saikh Hasyim Asy’ari- KH. Ahmad Dahlan
    Pertemuan yang dihadiri petinggi NU dan pimpinan Sabilillah se Jawa tersebut diselenggarakan di kota Ngawi yang jaraknya sangat dekat dengan Madiun, Pertemuan itu digagas guna mengumpulkan kekuatan NU untuk menghadapiagresi Belanda ke-2 hingga menghadapi propaganda PKI yang semakin masif melakukan aksinya. Para kiai mendapatkan tugas beragam, seperti KH Yusuf Hasyim (putra KH. Hasyim Asyari) mendapatkan tugas mengkonsolidasikan para ulama Pesantren yang ada di sekitar kota Madiun. Bersamaan dengan dilaksanakannya pertemuan antara pemipin NU dan Pimpinan Hisbullah Sabilillah itu terjadilah peristiwa Kudeta berdarah di Madiun. Pertemuan itu langsung ditutup seluruh peserta disuruh segera kembali ke daerah, masing-masing untuk jihad menghadapi PKI. Untuk bisa keluar dari Ngawi juga sangat susah, tetapi karena semuanya telah belajar strategi dan taktik bertempur di Cibarusa selama masa penjajahan Jepang, maka merka bisa keluar dari ngawi dengan selamat. Termasuk Kiai Wahab sendiri sebagai tokoh terkemuka NU yang wajahnya sangat mudah dikenali, ketika kembali ke Surabaya harus melewati Madiun. Gara bisa menembus blokde PKI dengan selamat, maka Kiai itu berhasil keluar dari Ngawi bahkan melewati Madiun dengan selamat sampai ke Surabaya dengan menyamar sebagai orang biasa, sehingga bisa menyelamatkan diri dari sergapan PKI.
    PKI UNJUK KEBOLEHAN JUMLAH MASSA
    Dalam beberapa kesempatan untuk menyongsong tahun 1955 (Event Pemilu pertama Indonesia) PKI mulai melakukan konsolidasi dan rapat umum terbuka di berbagai pelosok negeri terutama di daerah-daerah yang dekat Basis mereka di Madiun Jawa Timur. Bebererapa kali PKI menggelar kegiatan Rapat Umum dengan menghadirkan Puluhan Ribu Massa, hal ini nampaknya sengaja dilakukan PKI untuk memperlihatkan jumlah mereka di Indonesia kala itu. Padahal tidak semua yang hadir di acara PKI adalah orang PKI, banyak juga masyarakat umum yang di mobilisasi dan dipaksa untuk ikut menghadiri acara PKI. Karena jika tidak mau keselamatannya terancam para warga pun terpaksa mengikuti saja ajakan itu.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM
    sumber gambar: Pinterest.com

    Sebagai puncak dari semua manuver dan provokasi tadi adalah diselengarakannya rapat umum yang dihadiri langsung oleh Muso maupun Amir Syarifuddin pada bulan Agustus tahun 1948 di beberapa tempat seperti Madiun, Trenggalek dan juga di kota kota lain di sekitar Jawa Timur –Jawa Tengah, sebagai strategi PKI untuk show of forceterhadap kekuatan mereka untuk menguasai Republik Indonesia. Semua tokoh PKI setempat dan daerah serta dari CC-PKI hadir dalam rapat umum yang dihadiri puluhan ribu orang. Tetapi bukan semuanya PKI, sebagian masyarakat desa yang tidak tahu-menahu urusan politik tetapi dimobilisasi secara paksa oleh PKI. Mereka ikuti saja kehendak PKI, kalau mereka menolak jiwa mereka akan terancam. Dengan demikian kekuatan PKI kelihatan sangat besar sehingga bisa menggetarkan lawan.

    SORBANSANTRI.COM
    Tokoh PKI Musso (historia.id)
    SORBANSANTRI.COM
    Tentara FDR PKI (historia.id)
    Suatu ketika KH Yusuf Hasyim (anak KH. Hasyim Asyari) melakukan konsolidasi barisan kiai NU di Kota Madiun, kota itu terlihat sangat lengang, warga menghindarkan diri supaya tidak bertemu dengan tentara FDR-PKI terutama dari unsur Pesindo yang sangat agresif. Mereka berkeliaran ke seluruh sudut kota dan desa dengan seragam serba hitam dengan selendang merah bersenjata api atau pedang, siap membunuh dan merampas siapa saja yang ditemui. Pasukan keamanan baik Tentara maupun Polisi sendiri kelihatan sudah kewalahan mengatasi keadaan, sehingga kelompok PKI leluasa melakukan teror dan penindasan. Saat itulah para Kiai yang dikunjungi menyarankan agar K Yusuf Hasyim segera meninggalkan Madiun karena takut bertemu dengan tentara FDR-PKI . Kiai Yusuf Hasyim berhasil keluar dari Madiun dengan selamat, kemudian mendengar kabar para kiai yang kemarin di kunjungi sudah menjadi syuhada dibantai oleh PKI.
     PROKLAMIRKAN NEGARA SOVIET MADIUN, PKI BANTAI BIROKRAT
    SORBANSANTRI.COM
    sumber: Buku Benturan NU-PKI 1948-1965

    Untuk memperluas pengaruh Front Demokrasi Rakyat (FDR) PKI serta untuk mempersiapkan kader-kader militan PKI, PKI Menyusun siasat untuk mengambil alih karesidenan Madiun dan beberapa daerah disekitarnya untuk di jadikan Negara Komunis. Setelah situasi sudah dianggap matang maka FDR yang berada di Kota Madiun yang dipimpin oleh Soemarsono pada tengah malam sekitar jam 24.00 WIB pada 18 September 1948, memproklamasikan pemerintahan baru yang disebut sebagai Pemerintah Front Nasional, sebagai lawan dari Pemerintah Republik Indonesia, hal itu merupakan cikal bakal berdirinya negara komunis yang dinamakan Negara Soviet Madiun.
    Gerakan ini dimulai dengan menyerbu ke markas Tentara, ke kantor Polisi, setelah pasukan keamanan itu dilumpuhkan baru menyerang perkantoran pemerintah. PKI menjebol berbagai penjara yang ada daerah basisnya untuk membebaskan para aktivis PKI dan penjahat kriminal lainnya yang ditahan aparat kepolisian. Kelompok itulah yang kemudian direkrut sebagai kekuatan PKI dalam melakukan serangan terhadap lawannya. Dengan disemangati balas dendam pada polisi dan aparat negara lainnya, mereka terus melakukan penangkapan dan pembantaian kepada siap saja yang dianggap menghalangi gerakan mereka.

    SORBANSANTRI.COM
    (sumber gambar: Merdeka.com)
    SORBANSANTRI.COM
    Monumen Surjo di Ngawi (musabab.com)

    Setelah posisi mereka kuat di karasidenan Madiun lalu PKI menuju sasaran utama yakni merebut Kantor Residen Madiun serta instansi pemerintah lainnya. Saat itu Residen Madiun Mr. Samadikun kebetulan tidak ada di Madiun, karena sedang bertemu dengan pemerintah RI di Yogyakarta, maka selamatlah ia dari pembunuhan. Sementara wakilnya yaitu Patih berha sil ditangkap dan dibunuh pemberontak. Demikian juga nasib yang dialami pimpinan daerah seluruh Karesidenan Madiun seperti Magetan, Ngawi, Ponorogo, Pacitan dilakukan penangkapan terhadap para pejabat pemerintah, para bupati, patih, wedono dan para asistennya ditangkap dan dibunuh. Pejabat tinggi yang menjadi korban peristiwa ini adalah R. Soerjo Gubernur pertama Jawa Timur yang ditelanjangi dan dibunuh oleh PKI dengan tangan dan kaki terikat, PKI juga membunuh 2 personel Polisi yang saat itu menemani R. Soerjo mereka adalah Kombes M. Doerjat (Kapolda Jatim saat itu) dan Kompol Soeroso, rombongan para Birokrat / pejabat pemerintah daerah yang sedang melewati Ngawi juga dijegat dan dibantai oleh PKI yang jenazahnya dilempar ke tepi Bengawan Solo.

    SORBANSANTRI.COM
    sumber gambar; agustusl.blogspot.com

    Sebagai langkah lanjutan dari kudeta berdarah itu PKI yang bukan pemerintah resmi melakukan penggantian kepala pemerintahan, sebagai Residen untuk menggantikan Mr. Samadikun ditunjuklah Abdul Muthalib sebagai Residen, dia seorang tokoh Pesindo bekas Wakil Residen Surabaya. Kemudian Soemarsono pemimpin pemberontak ditetapkan sebagai Gubernur Militer, sementara wakilnya adalah Soepardi bekas Walikota Madiun, Komandan Militer dipimpin oleh Kolonel Joko Sujono yang sejak awal mendampingi pimpinan pemberontak Soemarsono. Demikian juga seluruh kepala jawatan di seluruh jajaran diganti dengan orang-orang PKI, sehingga daerah Madiun dan sekitarnya sepenuhnya betul telah dikuasai PKI dan di situlah mereka melakukan pembantaian terhadap orang-orang non PKI. Secara serentak beberapa pimpinan derah yang dikuasasi PKI diganti dengan orang-orang PKI seperti di Ngawi, Blora, Pati dan sebagainya. Ketika kelompok FDR pimpinan Soemarsono telah menguasasi Madiun dan sekitarnya barulah pada 19 September 1948 pimpinan tertingi FDR Muso dan Amir Syarifuddin masuk ke Madiun dengan disambut meriah oleh para pemberontak seraya meneriakkan “Menang Perang!”. Di tengah gerombolan pemberontak itulah Muso segera memberikan pernyataan terbuka yang disiarkan oleh Radio Front Nasional yang ditujukan pada seluruh rakyat Indonesia:

    “Pada tanggal 18 September 1948 Rakyat Daerah Madiun telah memegang kekuasaan negara dalam tangannya sendiri. Dengan begitu rakyat Madiun telah melaksanakan kewajiban Revolusi Nasional ini, bahwa ia seharusnya dipimpin oleh rakyat sensdiri dan bukan oleh kelas lain. ….Mereka sewaktu pemerintahan pendudukan Jepang menjadi quisling-quisling budak Jepang, tukang jual Romusa. Sekarang mereka akan menjual Indonesia dan rakyatnya sekali lagi pada imperialis Amerika.
    Lupakan Soekarno cs bahwa ia telah membantu dan mengesahkan kejahatan Siliwangi dan kaum teroris itu???. Apa maksud Soekarno Cs ex pedagang Romusa telah melepaskan penjahat-penjahat Trotskis Tan Malaka Cs yang telah mencoba merobohkan kepresidenannya. Dalam tiga tahun ini teranglah pula bahwa Soekarno Hatta ex Romusa Verkopers, quisling telah menjalankan politik kapitula si terhadap Belanda…….Bolehkan orang semacam itu bilang bahwa mereka mempunyai hak yang sah untuk memerintah Republik Indonesia Kita ??? . Bukan Soekarno bukan Hatta yang melawan Belanda , Inggris dan Amerika, tetapi rakyat Indonesia sendiri” Ujar Musso

    Dengan seruan Muso yang tegas itu maka kalau selama ini PKI telah melakukan berbagai teror dan ancaman, tetapi sejak dicetuskannya Negara Soviet Madiun itu betul-betul melaksanakan apa yang diancamkan selama ini, yaitu melakukan pembunuhan. Sebenarnya kalangan pesantren dan aparat keamanan baik kepolisian maupun TNI telah mengetahui gelagat PKI itu untuk memberontak, tetapi karena semuanya dilakukan dalam waktu cepat dan mendadak, maka serangan tidak sempat ditangkis akhirnya memakan banyak korban.

    BUNG KARNO MEMBALAS SERUAN MUSSO
    SORBANSANTRI.COM
    Pasukan Divisi Siliwangi (historia.id)

    Pemberontakan yang terjadi di Madiun itu segera direspon oleh pemerintah pusat. Melihat langkah inkonstitusional pengambilan kekuasaan yang dilakuakn PKI yang disertai dengan kekejaman itu pemerintah pusat yang berada di Yogayakarta di bawah pimpinan Soekarno Hatta segera bersikap. Kemudian saat itu juga mengeluarkan kecaman dan sekaligus siaran kepada seluruh rakyat Indonesia agar tidak terkecoh oleh ajakan pemberontak dan setia menjaga pemerintahan dan bersatu padu merebut kembali Madiun:

    “Kemarin pagi PKI Muso mengadakan perampasan kekuasaan di Madiun, dan mendirikan di sana pemerintah Soviet di bawah kepemimpinan Muso. Perampasan ini mereka pandang sebagai permulaan untuk merebut seluruh Pemerintah Republik Indonesia. ……. Atas nama perjuangan untuk Indonesia merdeka aku berseru kepadamu. Pada saat yang begini genting, di mana engkau dan kita sekalian mengalami cobaan yang sebesar-besarnya dalam menentukan nasib kita sendiri dan adalah memilih di antara dua; Ikut Muso dengan PKI nya, yang akan membawa bangkrutnya cita-cita Indonesai merdeka atau ikut Soekarno/Hatta yang Insya’allah dengan bantuan Tuhan akan memimpin Negara Republik Indonesia yang Merdeka tidak dijajah negara apapun juga. Rebut kembali Madiun, mari jangan ragu, Insyaallah kita pasti Menang.” Seruan Bung Karno saat itu.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM
    Laskar Hisbullah dan Sabilillah Yang didirikan oleh KH. Wahab Chasbullah. Sumber: republika.co.id & historia.id

    Sebagai pemerintah yang sah dan sebagai presiden yang dicintai dan ditaati maka rakyat dan kalangan TNI memilih Soekarno dan melawan Muso. Karena itu Seruan Presiden Soekarno itu langsung dijalankan dengan melakukan orasi penumpasan PKI dengan mengerahkan Divisi Siliwangi yang saat itu sedang hijrah berada di Yogyakarta, serta didukung oleh pasukan Hisbullah dan Sabilillah yang berada di Yogya pula. Seruan presiden itu kemudian dicetak dijadikan pamflet yang disebar melalui udara ke berbagai daerah yang diduduki oleh PKI. Seruan presiden itu menyadarkan banyak kelompok yang tertipu oleh Muso. Akhirnya mereka sadar, ternyata mereka bukan diajak melawan Belanda tetapi melawan pemerintah yang sah melawan Bung Karno pemimpin Besar yang mereka cintai. Akhirnya mereka enggan ikut FDR PKI, mereka mulai berbalik melawan PKI untuk membela Bung Karno. Bersambung,,

    [irp posts=”4759″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 1)”]

    [irp posts=”4772″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 2)”]

    [irp posts=”4788″ name=”Sejarah Kekejaman PKI Versi NU (Bagian 3)”]

    [irp posts=”4826″ name=”Sejarah Propaganda dan Kekejaman PKI Versi NU [Part 4]”]

    SORBANSANTRI.COM
    Referensi:
    Abdul Mun’im & Tim PBNU. 2013. Benturan NU-PKI 1948-1965 (Hal 43-48). Jakarta: PBNU & Langgar Swadaya

    Di tengah situasi di mana birokrat dan pejabat pemerintah menjadi sasaran penangkapan dan pembunuhan, kebutuhan akan administrasi dan dokumentasi yang efisien kini banyak mengandalkan perangkat lunak resmi dengan prosedur aktivasi seperti yang disediakan oleh www.kmspico.lc untuk memastikan kelangsungan operasional.

  • Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 1)

    Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 1)

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Beberapa hari ini media sosial Facebook dibuat heboh dengan sebuah video viral yang menyebutkan jika ada sebuah toko retail di Palembang yang menjual sebuah stiker berlambang Palu Arit (kumparan.com), dan siapa sangka jika pada 23/5/2020 kemarin merupakan 100 tahun PKI berdiri di negeri ini (republika.co.id). Hal ini pun mengundang keprihatinan kami, dimana cerita-cerita soal PKI dulu sering saya dengar dari orang-orang tua di kampung saya yang menyebut bahwa PKI ini Partai yang menghalalkan segala cara dan kerap membuat resah masyarakat pada jamannya. Dan karena nya PKI kemudian diburu oleh masyarakat banyak hingga akhirnya partai ini pun dibubarkan pemerintah, dan faham komunisme dilarang di negeri kita tercinta ini.

    Namun sayang, adanya toko yang menjual stiker bergambar logo PKI baru-baru ini cukup membuat banyak orang miris, dan disini kami ingin menyampaikan cerita soal PKI versi NU (Nahdhatul Ulama). Karena saat kita bicara PKI, dewasa ini saya banyak melihat beragam versi yang muncul di blog-blog pribadi hingga di media sosial, yang konteksnya saya rasa sudah berbumbu politik, dimana pembahasan PKI acapkali menyerempet tokoh Soekarno (Orde Lama) dan Soeharto (Orde Baru). Maka dari itu, saya ingin menyajikan cerita PKI ini dari Versi NU. Dan Bostingan ini akan saya buat beberapa bagian, tulisan ini semata-mata kami sajikan untuk memperbanyak tulisan mengenai sejarah PKI di dunia digital, selamat membaca.

    PROPAGANDA PKI DI PEKALONGAN YANG GAGAL
    Dalam melakukan kegiatannya, Partai Komunis Indonesia (PKI) dibantu oleh beberapa Ormas Undergrow mereka untuk bisa memuluskan beragam agenda yang mereka buat. dan ormas-ormas undergrow dari beberapa partai yang ada di Indonesia kala itu (tahun: 1940-1960an) bisa sahabat lihat dibawah ini.

    SORBANSANTRI.COM
    sumber: Buku Berjudul Benturan NU – PKI

    Pada tahun 1945 diawal kemerdekaan, Walaupun posisinya masih lemah dan masih ilegal tetapi PKI mulai beringas berani menyerang pejabat pemerintah dan tempat ibadah, sebagaimana dilaporkan oleh KH Muhammad Ilyas selaku Konsul NU Kawasan Utara Jawa kepada PBNU:

    “Revolusi Pekalongan gara-gara (orang) dari negeri Porworejo bernama Sarjoyo, Ia datang ke Pekalongan memproklamasikan dirinya sebagai residen Pekalongan. Lalu memproklamasikan Pekalongan menjadi Soviet, komunis. Dikobarkan di tiga kabupaten yaitu Tegal, Pemalang dan Pekalonmgan. Bukan main perilaku orang komunis yang di luar batas itu, baik ucapannya maupun perbuatannya, serambi masjid dikencingi, haji-haji diteriaki agen Arab, kiai-kiai dikatakan penipu. Pekik Merdeka diganti dengan pekik .. Soviet.
    Untung Alhamadulillah Pekalongan yang terkenal fanatik Islam, kalau martabat agamanya dinodai, rakyat berbondong-bodong menjadi barisan manusia yang menyerbu rumah bupati dan pejabat komunis sambil mengarahkan bambu runcing mereka ke sasaran dan menyerukan yel yel Merdeka…Merdeka.. ya Merdeka.” Tulis laporan KH. Muhammad Ilyas kepada PBNU saat itu.

    PKI selalu memanfaatkan peluang apapun untuk merebut kekuasaan, dan sarana agama baik masjid, pesantren atau langgar (Musholla) selalu menjadi sasaran serangan mereka. Karena mereka menganggap tempat ibadah itu sebagai pusat simpul gerakan Islam. Meskipun provokasi mereka di daerah Pekalongan gagal tetapi mereka masih terus melakukan konsolidasi dan propaganda di bawah tanah di seluruh tanah air.

    SORBANSANTRI.COM
    Kampanye PKI Saat itu. (sumber: tirto.id)

    Saat itu partai yang berdiri berkelompok menurut aliran ideologi masing-masing, kelompok yang berideologi nasionalis berkelompok di Partai Nasional Indonesia (PNI), partai berideologi Islam seperti NU, Muhammadiyah, Sarekat Islam, Washliyah, dan lain sebagainya bergabung di Partai Masyumi. Semantara kelompok yang berhaluan Marxis seperti kelompok komunis, kelompok sosialis dan Murba serta kelompok buruh, berdiri sendiri-sendiri dan ada tiga partai Marxis saat itu yaitu Partai Komunis Indoneisa (PKI) ada Partai Sosialis Indonesia (PSI) ada Partai Buruh Indonesia (PBI) dan ada Partai Murba.
    Melihat hal itu tokoh PKI terutama Muso prihatin lalu berusaha menyatukan kelomopk Marxis yang ada. Maka pada 24 Agustus 1948 Polit Biro Central Comite PKI mengeluarkan kebijakan satu partai kelas buruh (Marxis). Dari situ kemudian PKI, Partai Sosialis dan Partai Buruh Indonesia digabung menjadi satu barisan kedalam Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang diketuai Muso dan Amir Syarifuddin, sekretarisnya adalah DN Aidit yang kesemuanya adalah tokoh PKI. Sementara Partai Murba pimpinan Tan Malaka tidak masuk dalam aliansi Marxis tersebut. Dengan terbentuknya Fron itu maka PKI semakin agresif. Karena front itu dipimpin PKI maka masyarakat tidak ikut menyebut sebagai FDR, Pesindo atau PBI, melainkan secara gampang menyebutnya sebagai PKI.

    PROPAGANDA PKI SETELAH MENJADI PARPOL LEGAL

    Setelah menjadi partai yang legal, maka PKI mulai melakukan propaganda dan konsolidasi partai secara terbuka berkompetisi dengan patai-partai besar yang lain, terutama PNI, NU/ Masyumi. Sebagai partai yang berideologi proletariat yang peduli pada rakyat tertindas maka propaganda PKI banyak diarahkan daerah yang kondisi ekonominya sangat minus. Ternyata strategi PKI ini berhasil sangat baik, terbukti PKI mendapat dukungan kuat di berbagai daerah yang secaraa ekonomi dan geografis dan secara teologis atau keagamaan saat itu masih terbelakang. Sesuai dengan kriteria itu dan pertimbangan strategis lainnya Madiun dijadikan sebagai pusat gerakan PKI. Daerah Madiun dan sekitarnya seperti Pacitan, Trenggalek, Tulungangung, Ngawi, Boyolali, Porwodadi, Bojonegoro hingga Pati, terus melingkar sampai Magelang, Klaten, Solo, dan Wonogiri merupakan tempat basis pengembangan PKI.

    SORBANSANTRI.COM
    Logo Partai Komunis Indonesia (Tribunnews.com)

    Madiun menjadi titik pusat dari daerah itu, karena itulah aktivitas PKI dipusatkan di Madiun dan disangga oleh daerah sekitarnya yang telah kuat kader PKI nya. Ibukota RI yang saat itu di Yogyakarta pun sebenarnya menjadi daerah yang telah terkepung oleh PKI karena begitu dekatnya basis PKI dengan ibukota negara saat itu. Dengan kerja keras dan sistematis, maka memasuki tahun 1947 konsolidasi PKI sudah nyaris merata, kepengurusan partai sudah menjangkau daerah pedalaman, sehingga berbagai manuver sudah mulai mereka lakukan.
    Dengan semangat progresif & revolusioner, PKI berhasil merekrut banyak kalangan, baik buruh, petani yang dijanjikan tanah garapan, para birokrat, termasuk kalangan aparat. Para guru juga sudah mulai banyak dipengaruhi termasuk PGRI di kawasan itu mulai didominasi PKI. Kalangan jagoan, baik kalangan warok, para pendekar, termasuk kelompok bajingan segera menjadi bagian penting dari PKI. Bahkan kelompok terakhir itulah yang dijadikan kelompok pemukul lawan.
    Untuk membuat kecemasan dan disintegrasi sosial, PKI melakukan teror seperti dengan perampokan & pembunuhan. Jika kriminalitas sebelumnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi di malam hari. Perampokan yang dilakukan saat ini dilakukan pada siang hari secara terangterangan. Mereka berani melakukan aksi di siang bolong karena merasa ada yang melindungi bahkan ada yang memerintahkan yaitu PKI.

    SORBANSANTRI.COM
    Perampokan ilustrasi (detik.com)

    Sasaran utama perampokan ini adalah para kiai, ulama atau ustadz, termasuk aparat desa yang belum mau ikut PKI. Di luar hal itu terlihat seperti kriminalitas biasa, tetapi setelah diselidiki oleh para pimpinan GP-Ansor jelas terlihat jika para bajingan yang melakukan perampokan tersebut adalah anggota PKI yang mendapatkan restu dari pimpinan partai setempat untuk melakukan teror. Umumya masyarakat sekitar mengenal siapa warga desanya yang PKI dan bukan, sehingga sangat mudah mengidentifikasi.

    Situasi makin kacau & menakutkan. Tiap malam terjadi perampokan & pencurian, disertai penganiayaan & pembunuhan. Sasarannya tokoh agama, tokoh Masjumi atau tokoh NU dan orang kaya yang sudah naik haji. Dan kalau kebetulan punya anak gadis atau perawan, tidak segan-segan diperkosa. Orang-rang sudah tahu bahwa pelakunya adalah orang-orang komunis PKI..
    Bagi orang yang ingin selamat dari perampokan, pencurian dan penganiayaan, maka jauhilah tokoh agama, Masyumi dan NU dan bergabunglah pada PKI… PKI dan orang-orang komunis telah menjadi monster yang menakutkan. Orang awam atau rakyat jelata atau yang rumahnya terpencil di pelosok pedesaan merasa tidak aman dan tak terlindungi oleh pemerintah. Mereka (dipaksa) bergabung dengan orang-orang PKI untuk mendapatkan perlindungan. Sementara bagi Warga NU mulai meninggalkan tempat ke daerah yang diangap aman.” Ujar salah satu saksi sejarah di Madiun kala itu.

    NU SENGAJA GELAR MUHTAMAR DI MADIUN

    Namun ada hal cukup menarik saat itu, saat di Madiun PKI sedang melakukan Propaganda dengan beragam aksi kriminalitas yang terjadi, NU justru menggelar Muhtamar Ke-17 nya pada 24 Mei 1947 di Madiun. Hal itu dilakukan Untuk memberikan ketenangan pada umat dan mencegah perluasan manuver PKI, NU menggelar Muhtamar ke-17 di Madiun juga Untuk melindungi warga dan ulama dari tekanan PKI saat itu.

    SORBANSANTRI.COM
    logo NU (cyberaswaja.online)

    Madiun menjadi pusat Kegiatan Nasional PKI kala itu, maka NU pun bersiasat mengadakan acara tandingan berskala Nasional juga di Madiun dengan tajuk Muhtamar NU ke-17. Madiun pun kemudian didatangi oleh gelombang jamaah NU yang memasuki Madiun, dan datangnya ribuan Pendekar NU dari berbagai daerah untuk menjaga jalannya Muhtamar. Dalam Muhtamar itu hadir Ulama dan juga para pengurus NU se-Indonesia, Muhtamar itu juga di hadiri KH. Hasyim Asyari sebagai Rais Akbar NU saat itu, dalam ceramahnya Hadrotus syech KH. Hasyim Asyari menyampaikan:

    “Ada beberapa hal lagi yang sangat berbahaya dan tercela melebihi hal yang sudah saya sampaikan, yaitu tersebarnya berbagai ajaran yang mengarah pada kekufuran dan penyimpangan, baik di kalangan anak-anak, pemuda Islam baik di desa maupun di berbagai kota. Saat ini telah tersebar ajaran historis materialisme yaitu suatu prinsip yang berpandangan bahwa tiada realitas di dunia ini kecuali benda, tidak ada roh dan tidak ada alam ghaib. Tidak percaya adanya kehidupan sesudah mati.
    Bahaya besar ini tidak akan terelakkan bila sudah tertanam dalam hati serta jiwa pemuda kita dan yang demikian itu akan mengubah keyakinan dasar mereka terhadap agama Islam yang kita anut. Bergerak dan bangkitlah wahai saudaraku para ulama, kuatkan barisanmu, satukan sluruh kekuatanmu, tetaplah tegar & percayalah bahwa tidak sedikit golongan yang kecil mampu mengalahkan golongan besar hanya karena kehendak Allah, krena Allah selalu bersama orang yang sabar.” Kutipan ceramah KH. Hasyim Asyari

    Acara Muhtamar NU di Madiun itu pun seperti memberikan angin segar untuk menguatkan masyarakat non PKI disana, menguatkan aparat, para pemuda dan peajar, hingga para birokrasi. Dalam acara itu, KH. Hasyim Asyari menginstruksikan seluruh Potensi yang ada di Pesantren NU di daerah Madiun dan sekitarnya termasuk pasukan Hizbullah dan Sabilillah yang baru saja turun dari medan tempur melawan penjajah di Ambarawa dan Surabaya untuk ikut menjaga keamanan daerahnya.

    Kalangan aparat keamanan yang selama ini tercekam, terutama dari Kepolisian mulai berani menindak kelompok yang melakukan pencurian dan perampokan. Kawanan perampok di Desa Bendungan Kabupaten Trenggalek yang dianggap sebagai pusatnya PKI di Kabupeten itu digerebek oleh Polisi. Tapi tak lama kemudian segerombolan Warok dari Ponorogo dan para pendekar PKI setempat yang berjumalh 150 orang mengepung Kantor Dinas Kepolisian dan kantor Kejaksaan Trenggelek menuntut dibebaskannya teman mereka yang ditahan. Tetapi Komandan Polisi Letnan R. Rustamadji menolak tuntutan mererka dan berujung perdebatan yang sengit.
    Sebenarnya para warok itu telah dikepung oleh aparat TNI dan pasukan Hizbullah dan Sabilillah. Seandainya PKI menyerbu kantor Polisi, mereka akan dipukul oleh Hizbullah dan TNI dari belakang. Mengetahui hal itu akhirnya mereka pergi dengan melontarkan ancaman akan menyerbu dengan bala pasukan lebih banyak lagi. Tapi itu tak pernah terjadi. Bersambung,,

    [irp posts=”4759″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 1)”]

    [irp posts=”4772″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 2)”]

    [irp posts=”4788″ name=”Sejarah Kekejaman PKI Versi NU (Bagian 3)”]

    [irp posts=”4826″ name=”Sejarah Propaganda dan Kekejaman PKI Versi NU [Part 4]”]

    SORBANSANTRI.COM
    Abdul Mun’im & Tim PBNU. 2013. Benturan NU-PKI 1948-1965 (Hal 35-42). Jakarta: PBNU & Langgar Swadaya
  • KEBANGKITAN ISLAM DI DUNIA DIMULAI DARI INDONESIA, DIBAWAH NAUNGAN NAHDLATUL ULAMA, MAKA JANGAN JAUH DARI NAHDLATUL ULAMA

    KEBANGKITAN ISLAM DI DUNIA DIMULAI DARI INDONESIA, DIBAWAH NAUNGAN NAHDLATUL ULAMA, MAKA JANGAN JAUH DARI NAHDLATUL ULAMA

    SORBANSANTRI.COM
    Habib Husein bin Hasyim bin Toha Ba’agil

    Dawuh Dari Sang Cucu Rasulullah SAW:

    “KEBANGKITAN ISLAM DI DUNIA DIMULAI DARI INDONESIA, DIBAWAH NAUNGAN NAHDLATUL ULAMA, MAKA JANGAN JAUH DARI NAHDLATUL ULAMA”
    Pesan Habib Husein bin Hasyim bin Toha Ba’agil, SH, M.Kn

    (Majlis Ta’lim Wal Maulid Ar-Ridwan Tuban)

    Terbukti ketika hampir semua Lembaga-lembaga penting keagamaan seperti Liga Arab Dunia, Al-Azhar Mesir, hingga para mahasiswa maroko, sudan berbondong-bondong menimba ilmu di pesantren-pesantren Indonesia, hampir semua lembaga keagamaan islam sudah berkunjung ke PBNU menjalin hubungan keilmuan hingga kerjasama demi sebuah perdamaian, Nahdlatul Ulama terkenal dengan penerus sanad ajaran Rasulullah SAW. keilmuannya masih murni dari penerus sahabat, tabi’in, tabi’i imam mahzab imam hadits hingga para wali Allah yang sudah wafat maupun masih hidup.

    Walau saat ini ada upaya merongrong dan melakukan pembusukan kepada NU,tetap satukan tekad dibawah naungan NU..

    Banyak kita temukan orang mengaku2 NU tapi justru sikapnya menjelek2an NU. (abi sorban)

  • UMAT ISLAM INDONESIA

    UMAT ISLAM INDONESIA

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- ISLAM dari dulu ada di Indonesia Damai duduk berdampingan dengan agama lain tidak ada yang saling menghina, karena ulama ulamanya merangkul, banyak non muslim yang simpati dan masuk islam, itulah dakwah yang dikembangkan di indonesia.

    Kita dari dulu saling gotong royong tanpa perselisihan Banser menjaga kiyai2 menjaga guru ngaji juga kadang diminta mengamankan ibadah agama lain.

    Islam yang dikenalkan di indonesia SANTUN PENUH TATA KRAMA selaras dengan budaya serta ikut melestarikannya, yang tadinya ada faham mendekat syirik dirubah jadi tausiyah serta pengenalan sang pencipta/Allah SWT, sesembahan makanan dirubah jadi memberi makan pada saudara2 yang kekurangan, jampi-jampi dirubah menjadi Dzikir dan mengingat Allah SWT, Ulamanya berjalan seiringan dengan pemerintahan menjadi penasihat dalam mengambil keputusan dan membuat undang-undang tanpa melukai umat lain, memaafkan walau kadang ada perselisihan antara umat lain, musyawarah seperti apa yg dicontohkan Baginda Rasulullah SAW. dan para sahabat-sahabat, itulah islam di indonesia, islam yg menjadi rachmat bagi seluruh alam, yang dari dulu ada di indonesia.

    Borobudur masih berdiri tegak, Gereja dan Masjid punya tempat sendiri (bagiku agamaku, bagimu agamamu) tapi dalam satu rumah namanya NKRI, itulah yang menjadikan indonesia menjadi mayoritas muslim

    Sadar atau tidak sampai saat ini kita masih sholat dengan damai, ngaji dengan damai, anak-anak kita masih nyaman bermain diluar rumah tanpa takut ada boom meledak, tidakkah kalian syukuri itu.. Dakwah dan dakwah itu yang ditanamkan ulama-ulama jaman dulu, istighfar dan terus beristighfar, walau hidup kekurangan. kita masih damai memandang bulan dimalam hari, sembari mengingat sang pencipta, ingatkah masa kecil kita di ingatkan dengan perayaan perayaan pengenalan terhadap junjungan nabi besar muhammad SAW dimana musholla-Musholla dan Masjid Masjid sangat ramai, makanan melimpah, semua seakan akan bahagia sungguh, tidakah kita syukuri itu? (ARFIYANTO ARIFIN)

  • Setelah Pesantren Berubah Wajah Dari NU ke Wahabi

    Setelah Pesantren Berubah Wajah Dari NU ke Wahabi

    SORBANSANTRI.COM
    ilustrasi

    cyberaswaja.online– Berbagai studi tentang pesantren menunjukkan, meski pelan pesantren senantiasa mengalami perubahan. Namun karena sangat pelan, perubahan-perubahan itu baru bisa dikenali melalui waktu yang panjang. Dalam ilmu sejarah hal demikian dikenal sebagai longe-durée, yaitu sejarah jangka panjang terkait dengan perubahan struktural yang lambat sekali. Di sini diperlukan ketelitian dan ketelatenan dalam mengikuti denyut-denyut kecil perubahan itu.

    Perubahan di pesantren senantiasa dikaitkan dengan figur kiai. Dalam studinya, Manfred Ziemek (1983) misalnya, membuktikan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan yang berpengaruh penting bagi perubahan sosial masyarakat desa. Demikian juga dengan Hiroko Horikoshi (1987). Ia menyoroti peran kiai sebagai aktor penting dalam perubahan sosial.

    Menurutnya, kiai berperan penting sebagai penyaring informasi untuk memacu perubahan pesantren dan masyarakat sekitarnya. Kiai juga bertindak sebagai mediator dan cultural broker (makelar budaya).

    Meski peneliti-peneliti tersebut berhasil membuktikan perubahan-perubahan di pesantren dan peran kiai dalam proses perubahan itu, namun perubahan itu tetap dalam konteks pengembangan peran pesantren. Aspek-aspek ideologis pesantren masih tetap dalam bingkai kulturalnya.

    Namun, dalam waktu yang panjang, perubahan dalam pesantren tidak selalu menuju ke arah yang dikehendaki. Ada perubahan-perubahan menuju ke arah yang mengkhawatirkan, yaitu metamorfosis sejumlah pesantren menjadi kekuatan wahabisme. Hal ini diamati secara cermat dalam desertasi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang ditulis M. Suparta, sekarang menjabat sebagai Irjen Depag RI. Desertasi ini diujikan pada akhir Agustus tahun 2008.

    Studi tentang perubahan orientasi pesantren ini mengambil fokus dua pesantren, yaitu Maskumambang Gresik dan al-Fatah Magetan. Desertasi yang diujikan pada 20/9/08 itu memperlihatkan bahwa perubahan orientasi keilmuan kiai mempunyai pengaruh besar untuk mengubah wajah pesantren yang pada gilirannya mempengaruhi wajah keagamaan masyarakat.

    Dua pesantren yang distudi desertasi ini termasuk pesantren tua, yakni Pesantren Maskumambang berdiri tahun 1859 oleh Kiai Abdul Jabbar (w. 1907), dan pesantren al-Fatah didirikan pada 1912 oleh Kiai Siddiq (w. 1950). Pada awalnya, dua pesantren ini dapat dikatakan sebagai tipikal pesantren NU yang mengembangkan paham ahl al-sunnah wa al-jama’ah (aswaja).

    Namun dalam perjalanannya, kedua pesantren tersebut berganti wajah. Pesantren Maskumambang berganti wajah dari pesantren salafiyah-aswaja menjadi modern-wahabi. Sedang al-Fatah Magetan berubah dari salafiyah-tarekat-aswaja menjadi pesantren berwajah majlis tabligh.

    Perubahan itu merupakan hasil dari interaksi dua pesantren ini dengan dunia luar. Pesantren Maskumambang bergerak ke arah wahabi pada generasi kedua, yang diwakili figur Kiai Ammar Faqih (w.1965) setelah dia belajar ke Mekah dan Madinah dan persentuhannya dengan karya Muhammad bin Abdul Wahab, Kitab al-Tauhid ketika menjalankan ibadah haji. Perubahan orientasi Pesantren Maskumambang semakin jelas ketika Kiai Nadjih Ahjad mengganti posisi Kiai Ammar Faqih.

    Sedang pesantren al-Fatah Magetan berubah wajah menjadi majlis tablig setelah Kiai Uzairon belajar ke Mesir dan Kiai Noor Tohir belajar ke Mekah. Kedua pengasuh al-Fatah tersebut berkenalan dengan majlis tablig yang didirikan Maulana Muhammad Ilyas bin Muhammad Ismail al-Kandahlawi (w. 1944). Hubungan itu dilanjutkan dengan kunjungan jama’ah tabligh dari India dan Pakistan ke al-Fatah Magetan pada 1984 dan 1988.

    Peristiwa ini pada 1989 sempat memunculkan ketegangan antara Pesantren al-Fatah dengan PCNU Magetan. Ketika itu, Kiai Uzairon menjabat sebagai Rais Syuriah, dan Kiai Noor Tohir sebagai Katib Syuriyah PCNU Magetan. Forum tabayyun itu ternyata tidak menemukan titik temu.

    Kiai Uzairon dan Kiai Noor Tohir akhirnya menyatakan keluar dari NU dan memilih mengembangkan majlis tabligh. Sejak itu, Pesantren al-Fatah semakin menjauh dari komunitas NU dan semakin mantap mengembangkan karakter keberagamaan majlis tabligh dengan khuruj (keluar menyebarkan agama) menjadi ciri khasnya.

    Karena peristiwa ini, banyak wali santri yang berontak. Wali santri banyak yang tidak bisa menerima pilihan pengelola Pesantren al-Fattah. Akhirnya, sekitar 500 santri ditarik orang tuanya dan dipindahkan ke pesantren lain.

    Penulis yakin, metamorfosis dan perubahan orientasi pesantren demikian tidak hanya dialami Maskumambang Gresik dan al-Fatah Magetan. Masih banyak sejumlah pesantren NU yang ikut tergerus gelombang wahabisme. Kalau Ketua Umum PB NU, Hasyim Muzadi, menyatakan Islam Indonesia diserang ideologi trans-nasional, kasus Maskumambang dan al-Fatah bisa menjadi contoh riil.

    Bahkan, kini medan pertarungan itu tidak hanya melalui pesantren. Masjid-masjid sebagai basis kehidupan sosial keagamaan masyarakat juga menjadi ajang kontestasi. Dari berbagai informasi yang penulis peroleh, masjid-masjid yang dikelola warga NU banyak sekali yang “diserobot” kelompok wahabi dan aliran puritan lainnya.

    Dari kenyataan tersebut, ada beberapa hal yang layak dicatat. Pertama, jika selama ini NU mengklaim mempunyai soko guru yang kokoh, yaitu pesantren, ternyata kini pesantren telah mengalami metamorfosis yang melahirkan wajah baru pesantren yang jauh dari karakter ke-NU-an. Meski saya tidak percaya semua pesantren NU akan terbawa arus ini, namun jika tidak diwaspadai bukan tidak mungkin paham keagamaan NU akan semakin dipandang asing di negerinya sendiri. NU juga akan semakin kehilangan legitimasi pesantren.

    Kedua, pelajaran berharga dari Pesantren Maskumambang dan al-Fatah adalah ternyata jaringan tokoh-tokoh pesantren yang dibangun melalui belajar di luar negeri, terutama Mekkah dan Madinah mempunyai pengaruh besar dalam mengubah wajah pesantren. Memang tidak sumua alumni Mekkah dan Madinah menjadi wahabi, namun mengabaikan hal ini juga bukan sikap yang baik.

    Ketiga, NU memang punya lembaga yang secara khusus membidangi soal pesantren, yaitu Rabithah al-Ma’ahid al-Islamiyah (RMI). Lembaga ini perlu diorientasikan untuk melihat perkembangan pesantren-pesantren NU dari sisi orientasi ideologisnya. Hal ini memang bukan perkara mudah. Meski NU mengklaim mempunyai basis pesantren, tapi pesantren di lingkungan NU mempunyai otonomi penuh yang tidak bisa dicampuri dan diintervensi pengurus struktural NU. Pesantren NU lebih bisa digerakkan melalui hubungan guru-murid, daripada hubungan struktur NU.

    Memang, perubahan adalah keniscayaan yang tidak bisa ditolak. Arus perubahan terkadang juga tidak terduga. Dan kini, pesantren di hadapkan pada berbagai pilihan perubahan. Harus diakui, di sini umat Islam, termasuk warga NU dan pesantren, sering tergagap dalam menghadapi berbagai arus perubahan. Saya yakin, pesantren memang tidak akan bisa hilang dari bumi Indonesia. Masalahnya adalah pesantren jenis apa yang akan hidup. Inilah tantangan yang harus dihadapi. (abi sorban)

  • MEMBONGKAR KESESATAN KETUM PBNU

    MEMBONGKAR KESESATAN KETUM PBNU

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online – Nama lengkapnya adalah Prof Dr KH Said Aqil Sirad, Lc, MA. Lahir di Cirebon 3 Juli 1953.

    Sebelum menduduki posisi terhormat, sebagai Ketum PBNU tahun 2010 hingga kini, sangat akrab dipanggil Kang Said ( Kang Said ). Beliau ali di bidang Tasawuf dan perdebatan. Ahmad Mushaddeq yang mengaku Nabi, takluk di tangan beliau.

    Kang Said masa mudanya adalah seorang kutu buku, pernah tinggal di Arab Saudi selama 13 tahun. Beberapa teman kuliahnya menjuluki Kang Said sebagai kamus berjalan, karena memang anak dari pasangan KH Aqil Siradj dan Hj Afifah sejak kecil sudah terlihat bibit kecerdasannya. Walau semua Kiyai sepuh di Cirebon tahu bahwa kedua orang tua Kang Said hanyalah keluarga sederhana bahkan taraf kehidupannya bisa dikatakan pas-pasan.

    Ya begitulah Kang Said?! Dalam waktu yang tidak sebentar dia pernah mengenyam pendidikan di sarang WAHABI. Suami dari Hj Nurhayati yang menikah pada tanggal 13 Juli 19977, secara resmi meraih gelar Sarjana hingga Doktor di Universitas King Azis dan Ummul Qurro ternyata pernah nyantri di pesantren Lirboyo Kediri dan Krapyak Jogjakarta. Diapun pernah belajar pada masternya ulama ASWAJA dunia yakni kepada Maha Guru Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki.

    Saking lamanya di Arab, beberapa anak Kang Said malah ada yang lahir di tanah yang menjadi tonggak sejarah lahirnya Islam (Makkah Al-Mukarramah).

    Kang Said anak dari KH Aqil, cucunya KH Siraj ini dari garis nasab mewarisi darah kentalnya seorang tokoh harismatik pejuang Aswaja di jaman kolonial sekaligus sebagai Kiyai yang terjun langsung secara aktif melawan penjajah, leluhurnya ini di Cirebon dikenal sebagai Mbah Yai Muhammad Said Gedongan, yang nasabnya bersambung secara sah hingga ke salah satu tokoh Waly Sembilan yakni Sunan Gunung Jati.

    Ya dialah Kang Said, pemimpin ormas Islam terbesar di dunia ini namanya sering disebut-sebut didalam beberapa pertemuan penting yang di adakan oleh para pimpinan negara, ketua ormas, tokoh masyarakat dan akademisi Islam ataupun lintas agama dari dalam negeri maupun luar negeri. Lantas apa yang membuat menarik nama Kang Said disebut?!

    Hal inilah yang kemudian menjadi acuan penting untuk membongkar kesesatan Kang Said. Setidaknya ada 3 hal penting yang perlu dibongkar soal kesesatan itu, yakni:

    Yang PERTAMA, Kang Said yang jelas-jelas mengenyam pendidikan secara konvensional di negara yang menjadi sarang sekaligus lahirnya Madzhab Wahabi, begitu pulang ke Indonesia bukan mengajarkan produk extreem ajaran Wahabi, justru Kang Said malah menjadi salah satu figur pemimpin terkemuka yang dengan terang-terangan melalui semangat jihadnya menjadi garda terdepan untuk memperjuangkan sekaligus mempertahankan ajaran ASWAJA.

    Yang KEDUA, Kang Said menolak keras segala macam ajakan, kegiatan, pergerakan hingga perkumpulan yang hendak menggeser ideologi negara dari PANCASILA menuju KHILAFAH ISLAMIYAH. Karena baginya PANCASILA adalah final dan NKRI harga MATI.

    Yang KETIGA, Kang Said tidak sependapat bahkan bersikap tegas tidak akan sepaham hingga kiyamat terhadap suatu gerakan yang dipelopori oleh tokoh mainstream, dimana mereka dengan segala cara menggunakan media dakwah Islam untuk mengklaim gerakannya paling benar, paling suci dan paling bertauhid. Hingga kerap ditemukan mereka mengadakan aksi yang tak jauh dari semacam model bar-bar, ganas dan selalu mengadopsi ayat-ayat perang untuk melakukan serangan bom bunuh diri, sama sekali tidak sesuai dengan peradaban negeri loh jinawi ini. Maka dari itu Kang Said, memunculkan platform ISLAM NUSANTARA yang memiliki ciri khas dakwah Islam yang santun, ramah dan penuh toleransi sebagaimana ciri khas dakwah para Waly Sembilan sejak berabad-abad silam.

    LOH SESATNYA KANG SAID DIMANA?
    Sesatnya Kang Said ada di OTAK para antek-antek yang anti PANCASILA, ada didalam jiwa para manusia yang menginginkan INDONESIA menjadi negara berideologi KHILAFAH ISLAMIYAH, ada didalam pemikir ISLAM yang terkena virus ARABISASI, ada didalam tubuh-tubuh bar-bar yang benci kepada NU dan Ulama yang NJAWANI. Jangan tanya siapa mereka? Kecuali memang perlu di instal ulang pola berpikirnya.

    Maka jangan kaget, komplotan itu dengan segala cara akan menyerang habis-habisan seorang anak yang dilahirkan dan dibesarkan 65 tahun yang lalu oleh Kiyai sederhana tinggal di Cirebon, salah satu keturunan SUNAN GUNUNG JATI yang berarti juga dzuriyah RASULULLAH. Beliau adalah KETUM PBNU – KH Prof Dr Said Aqil Siradj, Kiyai yang merelakan apa saja asal NKRI tidak bubar dan PANCASILA tetap jaya sepanjang jaman, meskipun dirinya mungkin akan menjadi tumbal pertama demi keselamatan bangsa sekaligus kebenaran ajaran kaum ASWAJA. (red. Abi)

    #GenerasiMudaNU

    #sorbansantrinu

    #INFOKOMBANSERNU

    #cyberaswaja

  • Pedoman, Aqidah, Asas dan Tujuan Nahdlatul Ulama

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online – Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi yang didirikan para kyai-kyai yang berpengaruh, KH. Hasyim Asy’ari merupakan simbol ulama besar yang berpengaruh. Tujuan didirikannya Nahdlatul Ulama diantaranya adalah memelihara, melestarikan, mengembangkan dan mengamalkan ajaran Islam Ahlus Sunnah Wa al-Jama’ah yang menganut madzhab empat, yakni : Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hambali. Disamping itu juga bagaimana bisa menyatukan antara ulama dan [para pengikutnya-pengikutnya serta melakukan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan kemaslahan masyaraka, kemajuan bangsa dan ketingian harkat dan martabat manusia.

    Islam Ahlus Sunnah Wa al-Jama’ah adalah ajaran yang disampaikan Nabi Muhammad SAW kepada sahabat-sahabat-Nya dan beliau amalkan serta diamalkan para sahabat, paham Ahlus Sunnah Wa al-Jama’ah dalam Nahdlatul Ulama mencakup aspek aqidah, syariah dan akhlak. Ketiganya, merupakan satu kesatuan ajaran yang mencakup seluruh aspek prinsip keagamaan Islam. Ahlus Sunnah Wa al-Jama’ah didasarkan pada manhaj (pola pemikiran) Asy’ariyah dan Maturidiyah dalam bidang aqidah, dalam bidang fiqih menganut empat madzhab besar (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) dalam bidang tasawuf menganut manhaj Imam al-Ghazali dan Imam Abu al-Qasim al-Junaidi al-Bagdadi, serta imam lainnya yang sejalan dengan syari’ah Islam.
    Ciri utama Aswaja NU adalah sikap tawassuth dan i’tidal (tengah-tengah atau keseimbangan). Yakni selalu seimbang dalam menggunakan dalail, antara dalil naqli dan dalil aqli, antara pendapat jabariyah dan qodariyah, sikap moderat dalam menghadapi perubahan dunyawiyah. Dalam masalah fiqih sikap pertengahan antara ”ijtihad” dan taqlid buta, yaitu dengan cara bermadzhab, ciri suikap ini adalah tegas dalam hal-hal yang qathi’iyyat dan toreran dalam hal-hal zhanniyyat.

    Pedoman:
    Nahdlatul Ulama berpedoman kepada Al-Qur’an, As-Sunnah, Al-Ijma’ dan Al-Qiyas.
    Aqidah :
    Nahdlatul Ulama sebagai Jam’iyyah Diniyah Islamiyah beraqidah/berasas Islam menurut Faham Ahlussunnah Wal Jama’ah dan menganut salah satu dari madzhab empat: Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali.
    Asas :
    Dalam Kehidupan Berbangsa Dan Bernegara, Nahdlatul Ulama Berpedoman Kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan Dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Indonesia.
    Tujuan :
    Berlakuanya ajaran Islam yangberhaluan Ahlussunnah Wal Jama’ah dan mengikuti salah satu madzhab 4 ditengah-tengah kehidupan masyarakat didalam wadah Negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
    Pedoman
    NU mempunyai lambang berupa gambar bola diikat dengan tali, dilingkari oleh lima bintas diatas garis khatulistiwa, sehingga seluruhnya berjumlah sembilan bintang, serta terdapat tulisan Nahdlatul Ulama dengan huruf Arab yang melintang bola dunia dan menelusuri garis khatulistiwa. Lambang tersebut diciptakan oleh KH. RIDLWAN ABDULLAH, dilukis dengan warna putih diatas warna  hijau.

    (abi sorban)

  • Fatwa Pendiri Nahdlatul Ulama KH. Hasyim Asy’ari Tentang Syi’ah

    Fatwa Pendiri Nahdlatul Ulama KH. Hasyim Asy’ari Tentang Syi’ah

    SORBANSANTRI.COM
    KH. HASYIM ASYARI dan NAHDLATUL ULAMA’

    Fatwa Pendiri Nahdhatul Ulama
    Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari (1292-1366 H, 1875-1947 M)
    Tentang Syi’ah
    :
    فصل في بيان تمسك أهل جاوى بمذهب أهل السنة والجماعة، وبيان ابتداء ظهور البدع وانتشارها في أرض جاوى، وبيان أنواع المبتدعين في هذا الزمان.
    قد كان مسلموا الأقطار الجاوية في الأزمان السالفة الخالية متفقي الآراء والمذهب ومتحدي المأخذ والمشرب، فكلهم في الفقه على المذهب النفيس مذهب الإمام محمد بن إدريس، وفي أصول الدين على مذهب الإمام أبي الحسن الأشعري، وفي التصوف على مذهب الإمام الغزالي والإمام أبي الحسن الشاذلي رضي الله عنهم أجمعين.
    ثم إنه حدث في عام الف وثلاثمائة وثلاثين أحزاب متنوعة وآراء متدافعة وأقوال متضاربة، ورجال متجاذبة، فمنهم سلفيون قائمون على ما عليه أسلافهم من التمذهب بالمذهب المعين والتمسك بالكتب المعتبرة المتداولة، ومحبة أهل البيت والأولياء والصالحين، والتبرك بهم أحياء وأمواتا، وزيارة القبور وتلقين الميت والصدقة عنه واعتقاد الشفاعة ونفع الدعاء والتوسل وغير ذلك…
    ومنهم رافضيون يسبون سيدنا أبا بكر وعمر رضي الله عنهما ويكرهون الصحابة رضي الله عنهم، ويبالغون هوى سيدنا علي وأهل بيته رضوان الله عليهم أجميعن، قال السيد محمد في شرح القاموس: وبعضهم يرتقي إلى الكفر والزندقة أعاذنا الله والمسلمين منها. قال القاضي عياض في الشفا: عن عبد الله بن مغفل قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (الله الله في أصحابي لا تتخذوهم غرضا بعدى فمن أحبهم فبحبي أحبهم ومن أبغضهم فببغضي أبغضهم ومن آذاهم فقد آذانى ومن آذانى فقد آذى الله ومن آذى الله يوشك أن يأخذه) وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم (لا تسبوا أصحابي فمن سبهم فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل الله منه صرفا ولا عدلا) وقال صلى الله عليه وسلم (لا تسبوا أصحابي فإنه يجئ قوم في آخر الزمان يسبون أصحابي فلا تصلوا عليهم ولا تصلوا معهم ولا تناكحوهم ولا تجالسوهم وإن مرضوا فلا تعودوهم) وعنه صلى الله عليه وسلم (من سب أصحابي فاضربوه) وقد أعلم النبي صلى الله عليه وسلم أن سبهم وآذاهم يؤذيه وأذى النبي صلى الله عليه وسلم حرام فقال (لا تؤذوني في أصحابي ومن آذاهم فقد آذانى) وقال (لا تؤذوني في عائشة) وقال في فاطمة (بضعة منى يؤذيني ما آذاها). اهـ (الشيخ محمد هاشم أشعري، رسالة أهل السنة والجماعة، ص 9-10).

    Maqolah 1:
    Pasal untuk menjelaskan penduduk Jawi berpegang kepada madzhab Ahlusunnah wal Jama’ah, dan awal kemunculan bid’ah dan meluasnya di Jawa, serta macam-macam ahli bid’ah di zaman ini.
    Umat islam yang mendiami wilayah Jawa sejak zaman dahulu telah bersepakat dan menyatu dalam pandangan keagamaannya. Di bidang fikih, mereka berpegang kepada mazhab Imam Syafi’I, di bidang ushuluddin berpegang kepada mazhab Abu Al-Hasan Al-Asy’ari, dan di bidang tasawuf berpegang kepada mazhab Abu Hamid Al-Ghazali dan Abu Al-Hasan Al-Syadzili, semoga Allah meridhoi mereka semua. Kemudian pada tahun 1330 H muncul kelompok, pandangan, ucapan dan tokoh-tokoh yang saling berseberangan dan beraneka ragam. Di antara mereka adalah kaum salaf yang memegang teguh tradisi para tokoh pendahulu mereka dengan bermazhab dengan satu mazhab dan kitab-kitab mu’tabar, kecintaan terhadap Ahlul Bait Nabi, para wali dan orang-orang salih, selain itu juga tabarruk dengan mereka baik ketika masih hidup atau setelah wafat, ziarah kubur, mentalqin mayit, bersedekah untuk mayit, meyakini syafaat, manfaat doa dan tawassul serta lain sebagainya.

    Di antara mereka juga ada golongan rofidhoh yang suka mencaci Sayidina Abu Bakr dan ‘Umar RA., membenci para sahabat nabi dan berlebihan dalam mencintai Sayidina ‘Ali dan anggota keluarganya, semoga Allah meridhoi mereka semua. Berkata Sayyid Muhammad dalam Syarah Qamus, sebagian mereka bahkan sampai pada tingkatan kafir dan zindiq, semoga Allah melindungi kita dan umat Islam dari aliran ini. Berkata Al-Qadhi ‘Iyadh dalam kitab As-Syifa bi Ta’rif Huquq Al-Musthafa, dari Abdillah ibn Mughafal, Rasulullah SAW bersabda: Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah mengenai sahabat-sahabatku. Janganlah kamu menjadikan mereka sebagai sasaran caci-maki sesudah aku tiada. Barangsiapa mencintai mereka, maka semata-mata karena mencintaiku. Dan barang siapa membenci mereka, maka berarti semata-mata karena membenciku. Dan barangsiapa menyakiti mereka berarti dia telah menyakiti aku, dan barangsiapa menyakiti aku berarti dia telah menyakiti Allah. Dan barangsiapa telah menyakiti Allah dikhawatirkan Allah akan menghukumnya. (HR al-Tirmidzi dalam Sunan al-Tirmidzi Juz V/hal. 696 hadits No. 3762). Rasulullah SAW bersabda, Janganlah kamu mencela para sahabatku, Maka siapa yang mencela mereka, atasnya laknat dari Allah, para malaikat dan seluruh manusia. Allah Ta’ala tidak akan menerima amal darinya pada hari kiamat, baik yang wajib maupun yang sunnah. (HR. Abu Nu’aim, Al-Thabrani dan Al-Hakim)

    Rasulullah SAW bersabda, Janganlah kamu mencaci para sahabatku, sebab di akhir zaman nanti akan datang suatu kaum yang mencela para sahabatku, maka jangan kamu menyolati atas mereka dan shalat bersama mereka, jangan kamu menikahkan mereka dan jangan duduk-duduk bersama mereka, jika sakit jangan kamu jenguk mereka. Nabi SAW telah kabarkan bahwa mencela dan menyakiti mereka adalah juga menyakiti Nabi, sedangkan menyakiti Nabi haram hukumnya. Rasul SAW bersabda: Jangan kamu sakiti aku dalam perkara sahabatku, dan siapa yang menyakiti mereka berarti menyakiti aku. Beliau bersabda, Jangan kamu menyakiti aku dengan cara menyakiti Fatimah. Sebab Fatimah adalah darah dagingku, apa saja yang menyakitinya berarti telah menyakiti aku. (Risalat Ahli Sunnah wal Jama’ah, h.9-10)

    المقالة الثانية:
    وليس مذهب في هذه الأزمنة المتأخرة بهذه الصفة إلا المذاهب الأربعة، اللهم إلا مذهب الإمامية والزيدية وهم أهل البدعة لا يجوز الاعتماد على أقاويلهم. اهـ (الشيخ محمد هاشم أشعري، رسالة في تأكد الأخذ بمذاهب الأئمة الأربعة، ص 29).
    Maqolah 2:
    Bukanlah yang disebut mazhab pada masa-masa sekarang ini dengan sifat yang demikian itu kecuali Mazahib Arba’ah (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I dan Imam Ahmad). Selain dari pada itu, seperti mazhab Syiah Imamiyah dan Syiah Zaidiyah, mereka adalah ahul bid’ah yang tidak boleh berpegang kepada pandangan-pandangan mereka. (Risalah fi Ta’akkud Al-Akhdzi bi Al-Madzahib Al-Arba’ah, h.29)

    المقالة الثالثة:
    أما أهل السنة فهم أهل التفسير والحديث والفقه، فإنهم المهتدون المتمسكون بسنة النبي صلى الله عليه وسلم والخلفاء بعده الراشدين، وهم الطائفة الناجية، قالوا وقد اجتمعت اليوم في مذاهب أربعة الحنفيون والشافعيون والمالكيون والحنبليون، ومن كان خارجا عن هذه الأربعة في هذا الزمان فهو من المبتدعة. اهـ اهـ (الشيخ محمد هاشم أشعري، زيادة تعليقات، ص 24-25).
    Maqolah 3:
    Adapun Ahlusunnah mereka adalah para Ahli Tafsir, Hadits dan Fiqih. Sungguh merekalah yang mendapat petunjuk dan berpegang teguh dengan sunnah Nabi Muhammad SAW dan para khalifah yang rasyid setelah beliau. Mereka adalah ‘kelompok yang selamat’ (thaifah najiyah). Para ulama berkata, pada saat ini kelompok yang selamat itu terhimpun dalam mazhab yang empat; Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hanbali. Maka siapa saja yang keluar atau di luar empat mazhab itu adalah ahlul bid’ah di masa ini. (Ziyadat Ta’liqat, h. 24-25)

    المقالة الرابعة
    وَاصْدَعْ بِمَاتُؤْمَرُ لِتَنْقَمِعَ الْبِدَعُ عَنْ اَهْلِ اْلمَدَرِوَالْحَجَرِ. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم “اِذَاظَهَرَتِ الْفِتَنُ اَوِالْبِدَعُ وسُب اَصْحَابِيْ فَلْيُظْهِرِالْعَالِمُ عِلْمَهُ فَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالناسِ اَجْمَعِيْنَ

    Sampaikan secara terang-terangan apa yang diperintahkan Allah kepadamu, agar bid’ah-bid’ah terberantas dari semua orang. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila fitnah-fitnah dan bid’ah-bid’ah muncul dan sahabat-sahabatku di caci maki, maka hendaklah orang-orang alim menampilkan ilmunya. Barang siapa tidak berbuat begitu, maka dia akan terkena laknat Allah, laknat Malaikat dan semua orang.” (Muqadimah Qanun Asasi Nahdlatul Ulama)..

    (abi-sorban)