“ما كان الله لا يجمع هذه الأمة على ضلالة أبداً، وإن يد الله مع الجماعة هكذا، فعليكم السواد الأعظم، فإن من شذ في النار”
“Sesungguhnya Allah tidak menghimpun umat ini diatas kesesatan selamanya. Dan tangan Allah bersama Al jama’ah. maka hendaklah kalian bersama As-Sawad Al-A’dzham [kelompok muslimin terbanyak] dan barangsiapa yang menyimpang, maka ia menyimpang ke neraka”(Hadist shahih riwayat Al-Hakim dan At-Tirmidzi )
Pada hadits lain disebutkan Rasululullah ﷺ bersabda ;
“Dan sesungguhnya umat agama ini akan pecah menjadi tujuh puluh tiga golongan,
tujuh puluh dua di neraka, dan hanya satu di surga; dan dia adalah Al jama’ah [kelompok mayoritas]”.
(HR. Abu Dawud)
Rasululullah ﷺ bersabda ;
إن أمتي لا تجتمع على ضلالة . فإذا رأيتم اختلافا فعليكم بالسواد الأعظم…
“Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadi perselisihan maka ikutilah kelompok mayoritas [as-sawad al a’dzham].”
(HR. Ibnu Majah, Abdullah bin Hamid, at Tabrani, al Lalika’i, Abu Nu’aim. Menurut Al Hafidz As Suyuthi dalam Jamius Shoghir, ini adalah hadits Shahih)
al-Imam as-Suyuthi rahimahullaah menafsirkan kata As-sawadul A’dzham sebagai sekelompok (jamaah) manusia yang mayoritas/terbanyak, yang bersatu dalam satu jalan manhaj yang lurus. (Lihat: Syarah Sunan Ibnu Majah: 1/283). Menurut al-Hafidz al-Muhaddits Imam Suyuthi, As-Sawad Al-A’dzham merupakan mayoritas umat Islam.
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Atsqolani menukil perkataan Imam Ath-Thabari mengenai makna kata “jama’ah” dalam hadits Bukhari yang berbunyi, “Hendaknya kalian bersama jamaah”, beliau berkata, “Jamaah adalah As-Sawad Al-A’dzham.” (Lihat Fathul Bari juz 13 hal. 37)
Ibnu Hajar al-Atsqolani pun memaknai “Jama’ah” sebagai As-Sawad Al-A’zhom (mayoritas umat Islam). (abi sorban)
SorBan Santri-Ketika kapal Nabi Nuh masih berada diatas air ketika banjir besar. Kapal masih berlayar diatas air tanpa mengetahui kemana arah untuk dituju. Kerana tujuan semata hanya untuk menyelamatkan diri dari bencana air banjir tersebut. Malangnya, segala kotoran yang dibuang oleh para binatang membuat keadaan dikapal menjadi tambah bermasalah. Sehingga banyak menimbulkan penyakit bagi anak kapal yang tinggal didalamnya. Nabi Nuh hanya melihat dan diam dan menyerahkan urusan ini kepada Allah SWT. Nabi Nuh lalu bermohon agar dibukakan jalan keluar dari permasalahan ini.
Maka Malaikat Jibril menemui Nabi Nuh dan memerintahkannya untuk mengusap dahi seekor gajah. Setelah arahan itu disampaikan maka Nabi Nuh AS mengusap dahi seekor gajah yang ada didepannya. Atas Kuasa Allah SWT maka keluarlah sepasang babi dari belalai gajah yang diusapkannya. Semua anak kapal yang menyaksikan tampak keheranan dengan peristiwa ajaib tersebut. Maka babilah yang akan menyapu bersih seluruh kotoran yang ada dikapal tersebut. Karena demikian itu adalah makanannya. Tampak Nabi Nuh lega masalah yang dihadapinya selesai.
Malangnya,iblis telah menyusup didalam kapal bahtera yang dihuni oleh Nabi Nuh dan para pengikutnya. Lantas iblis membuat onar didalam kapal. Dia mengusapkan bagian belakang tubuh babi tersebut, lalu muncullah dari hidung babi tersebut sepasang tikus. Tikus tersebut menggigit-gigit papan papan dan barang-barang yang ada didalam kapal.
“Dari mana sebab datangnya semua ini, sehingga semua barang-barang yang ada dikapal habis dan rusak” ucap Nabi Nuh keheranan. Maka Jibril mendatangi beliau dan memberitahukannya, bahwa yang melakukan ini semua adalah akibat iblis. Lantas Jibril menyampaikan kepada Nabi Nuh agar mengusap bagian belakang tubuh harimau. Maka Nabi Nuh mengusap bagian belakang tubuh harimau. Ketika Nabi Nuh mengusapnya maka keluarlah sepasang kucing yang kemudian segera memburu tikus-tikus yang ada didalam kapal. Begitulah Sejarah penciptaan babi, kucing, dan tikus di bumi.(abi sorban)
cyberaswaja.online –Kalimat di atas kerap sekali terdengar, menghenyakkan kita semua. Mempertanyakan kapasitas muktabaroh Ulama, dan membandingkan dengan Kanjeng Nabi yang memang jelas tidak berbanding sama sekali. Jika tidak faham, maka akan jelas sekali seolah-olah banyak perkara yang dilakukan oleh Kyai bertentangan dengan Kanjeng Nabi.
Kyai itu tidak berpendapat melalui hayalan beliau sendiri, melainkan berdasarkan ajaran dari Kyainya Kyai juga. Demikian seterusnya hingga sanad bersambung kepada Kanjeng Nabi. Jadi tidaklah benar bahwa Kyai itu menyelisihi Kanjeng Nabi.
Ibaratnya, saat Kanjeng Nabi memerintahkan kita untuk “ngliwet sego”. Maka yang dilakukan Kyai bukan ‘sego diliwet’, melainkan akan ‘mususi’ beras, ‘dikaru’. Setelah setengah matang, ‘beras karon’ ini ditanak dalam dandang. Inilah yang disebut ngliwet sego.
Sementara, mereka yang tidak punya guru yang jelas sanadnya, begitu ada perintah Kanjeng Nabi untuk ‘ngliwet sego’, maka yang mereka lakukan adalah mencari nasi untuk diliwet. Karena dalam hayalannya yang namanya ‘ngilwet sego’ berarti harus ada ‘sego’ kemudian ‘diliwet’.
Tidak sampai di situ, mereka memprovokasi, mencaci maki dan mentertawakan serta menganggap kita bodoh, salah, menyelisihi Quran Hadits karena diperintahkan ‘ngliwet sego’, tapi malah kita ‘mususi beras’ dst.
Itulah gambaran bagi wong NU yang belajar dari Kyai dalam memahami Quran dan Hadits, jika dibandingkan dengan mereka yang over percaya diri “memurnikan” Quran Hadits dan langsung mengambil hukum dari sumbernya, tanpa menggunakan ilmu alat.
Lalu, mereka akan mempertanyakan kepada kita, “Anda percaya dengan Nabi atau Kyai?”, seakan-akan Kyai kita itu salah dan tersesat dalam memahami nash suci. Bagi masyarakat awam, hal ini tentu akan bisa menjerumuskan mereka untuk tidak percaya lagi dengan para ulama muktabaroh an nahdliyyah.
Maka kita saksikan akhirnya, mereka beribadah, berijtihad dan mengambil hukum tidak jelas jluntrungnya karena memang tidak pernah dilakukan oleh generasi-generasi Ulama terdahulu.(abi sorban)
Yang paling tersangkut dengan Pancasila dan RUU HIP adalah HTI, karena ideologi Pancasila, UU HIP dan aturan-aturan turunannya akan menjadi payung hukum untuk menindak pengurus dan anggota HTI.
Wajar, HTI paling getol menentang RUU HIP secara keseluruhan.
HTI membangkitkan isu PKI/Komunisme sebagai dalih dan tameng.
HTI sadar mereka sangat kecil, harus ajak sebanyak-banyaknya teman untuk menolak RUU HIP.
HTI menciptakan kondisi perlawanan. Khusus kepada tokoh-tokoh oposisi kritis dan organisasi Islam (FPI, HRS Centre, PA 212) yang berseberangan dengan pemerintah.
Sejak awal HTI menggalang opini melalui acara dialog dan diskusi virtual via zoom. Diperkuat dengan narasi-narasi di media sosial yang kebanyakan menggunakan nama Akhmad Khozinuddin.
Setelah kondisi tercipta, opini menguat kemudian muncul inisiatif untuk melakukan aksi, HTI secara perlahan dan teratur mulai menarik diri.
Dengan alasan sudah dibubarkan, HTI menolak ikut serta dalam aksi. Paling-paling HTI sumbang saran dan pemikiran tentang isi dan isu yang digaungkan saat aksi. Atau HTI menawarkan satu, dua orang aktivisnya untuk orasi dengan kapasitas sebagai pribadi atau menggunakan nama lembaga lain.
Dengan alasan sudah dilarang juga, HTI menolak lambang (bendera) organisasi mereka dicantumkan di media publikasi aksi. Akan tetapi HTI akan memasokkan bendera mereka di panggung dan di tengah massa aksi.
HTI ingin memukul lawan politiknya (pemerintah) tapi tetap aman, bersih dan tanpa resiko. Untuk itu digunakanlah tangan pihak ketiga (tokoh-tokoh oposisi kritis, FPI, HRS Centre dan PA 212). Strategi ini dinamakan “nabok silih tangan.”
Selama aksi berjalan, HTI diam, sembunyi dan tiarap, sambil memantau situasi. Dalam keadaan siap membuat isu dan narasi selanjutnya.
para ulama kita dahulu teramat sulit mengajarkan ilmu Islam dan mewariskan kepada kita yang sudah berjalan ribuan tahun akan ambyar dan hancur lebur dengan komentar seperti di atas ini
SORBAN SANTRI- Orang-orang NU dan yang mengikuti sistem 4 madzhab tidak serta merta menerima hadis, kecuali hadis tersebut sudah diseleksi oleh ahli fikih dalam ijtihadnya. Mengapa?
Dalil, baik ayat Al-Qur’an maupun hadis adakalanya memiliki redaksi umum dan khusus. Ada yang jangkauannya luas (mutlaq) dan terbatas (muqayyad). Ada yang hukumnya dihapus (mansukh) dan yang menghapus (nasikh). Siapa yang mengetahui dan menguasai ilmu ini? Ya ulama ahli fikih, khususnya 4 madzhab.
Bedanya dengan ahli hadis? Ahli hadis itu menghafal redaksi atau teks hadis, mengetahui masing-masing nama perawi dan tingkatan jarh dan ta’dil (penilaian lemah atau terpercaya), menguasai kualitas hadis dari sahih, hasan, dhaif (ada 36 macam) hingga yang hadis palsu.
Jadi ahli hadis itu ibaratnya adalah apoteker. Ahli fikih adalah dokternya. Understand? Kalau ada orang sakit parah apa ke dokter dulu atau langsung cari obat di apotik? Ya, ke dokter dulu. Demikian pula kalau ada permasalahan agama yang tahu dosis dalil untuk suatu permasalahan adalah ulama ahli fikih.
Ahli Hadis Syekh Waki’ (129 H) bertanya kepada para muridnya: “Mana hadis yang lebih kalian senangi?
1. Dari A’masy, dari Abu Wail dari Ibnu Mas’ud? (Jalur ahli hadis)
2. Dari Sufyan, dari Mansur Ibrahim, dari Alqamah, dari Ibnu Mas’ud? (Jalur ahli fikih)”
Murid-muridnya menjawab: “Kami lebih senang yang ke 1 (jalur ahli hadis)”
Syekh Waki’ menjawab: “Jalur pertama adalah dari ahli hadis ke ahli hadis. Dan jalur kedua dari ahli fikih ke ahli fikih.” Beliau menyimpulkan:
“Hadis yang diriwayatkan dan dibahas oleh ahli fikih lebih baik dari pada hadis yang dikaji oleh ulama ahli hadis” (Al-Hafidz Ibnu Katsir, Al-Baits Al-Hatsits, 1/22)
Ali bin Al-Madini berkata: “Hadis yang dikaji ulama ahli fikih lebih mereka suka dari pada hadis para ahli hadis” (Ibnu Abi Hatim Al-Jarh wa Ta’dil 2/25). (KH.MA’RUF KHOZIN)
SORBAN SANTRI-Sejak ngaji online bisa dilakukan oleh setiap Ustadz dan caranya juga gampang, cukup pakai hp, tripod dan headset, langsung bisa ngaji. Tidak perlu tim dakwah, tidak usah pakai jasa profesional dan sebagainya. Di satu sisi ada nilai positifnya.
Di sisi lain ada semangat yang berlebih sehingga ingin ngaji terus di akun Medsosnya. Ngaji dan menyebarkan ilmu memang baik. Tapi kita lihat dulu bagaimana dahulu para Sahabat yang ngaji kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.
Abdullah bin Mas’ud mengajarkan ilmu setiap hari Kamis (seminggu sekali). Ada yang bertanya: “Wahai Abu Abdirrahman, saya senang jika kamu mengajar kami tiap hari”
Ibnu Mas’ud menjawab: “Bukan aku tak mau. Tapi aku takut kalian jadi bosan. Saya carikan waktu ceramah untuk kalian seperti yang dilakukan oleh Nabi shalallahu alaihi wasallam kepada kami, karena takut kami jadi bosan” (HR Bukhari)
Ibnu Abbas berkata: “Ajari ilmu kepada umat setiap Jum’at sekali. Jika tidak, boleh 2 kali. Jika ingin menambah maka 3 kali (dalam sepekan). Jangan jadikan umat Islam bosan terhadap Al-Qur’an” (Sahih Bukhari)
Alam Medsos tidak sama dengan Santri yang menetap di pondok. Tiap hari ngaji kitab, bahas ilmu dan seterusnya, karena memang dunianya bergelut dengan ilmu. Di alam Medsos terlalu banyak jenis manusia.
Jangan-jangan saya yang menulis tiap hari di FB ini juga cepat membosankan netizen? ” kata KH. Ma’ruf Khozin di beranda FB”
(Dhawuh Kanjeng Sunan Ampel kepada Kanjeng Sunan Kalijaga)
cyberaswaja.online-Tulisan ini sebenarnya sudah disebarkan melalui status postingan di facebook dan mendapatkan sambutan positif dari masyarakat luas. Namun, melihat kondisi yang semakin giat menyerang NU, maka kami ingin mengangkat tulisan ini ke dalam website.
Pola-pola dan cara-cara menyerang NU, penulis sarikan dari temuan-temuan di media sosial, baik di youtube, facebook, Grop WA, instagram sampai kepada twitter. Mereka yang menyerang itu bukan dan belum tentu orang NU. Karena di medsos siapa saja bisa ngomong apa saja, tanpa sumber yang jelas, maka jatuhnya bisa hoax dan ujaran kebencian. Kita masih kesulitan menelusur sumber tulisan itu, kecuali jika memiliki alat yang canggih untuk melacak sumber dan arah share-an informasi.
1. Mengaku NU
Pola pertama dengan merendahkan KH. Said Aqil Siradj selaku Ketua Umum PBNU.
Cara ini biasanya terucap dengan kata: “saya ini juga NU, tapi NU nya Mbah Hasyim Asy’ari bukan Said Aqil Siradj” ada lagi “Saya ini NU sejak lahir, tapi NU sekarang beda dengan NU nya Mbah Hasyim” dan masih banyak varian perkataan yang intinya merendahkan KH. Said Aqil Siradj selaku Ketua Umum PBNU.
Padahal kita bisa ber-NU ala Mbah Hasyim Asy’ari ya harus lewat jalurnya, yaitu PBNU. Harus ada sanad yang jelas, sehingga sanad keilmuwan NU itu bagaikan untaian emas dari Mbah Hasyim Asy’ari, Rais Akbar kepada Ulama dan Pimpinan NU sesudahnya.
Pola kedua: Muncul pula kelompok-organisasi dan grop medsos liar yang mengaku NU dan Aswaja tapi hendak menggiring secara halus jama’ah yang polos untuk dijerumuskan menjelekkan NU.
2. Mengaku Santri
Dahulu banyak orang anti dengan kata Santri, dianggap kuno dan identik NU. Tapi, muncul sebuah gerakan halus dan senyap, khususnya di media sosial penggunaan kata “Santri” tapi malah menolak PBNU. Biasanya bergerak di grop-grop WA dan facebook, beberapa di instagram. Maka, pengguna media sosial jangan tertipu dan mudah kagum kalau ada yang mengaku-aku di medsos.
3. Memusuhi Pimpinan NU
Kyai Haji Said Aqil Siradj adalah Ketua Umum PBNU. Ketua Umum adalah amanah terpenting di NU. Marwah Ketua Umum PBNU sama juga Marwah NU.
Pola saat ini, ada arus untuk membuat de-legitimasi (tidak percaya) kepada KH. Said Aqil Siradj, dengan segala fitnah yang ditujukan kepada beliau.
Bukan hanya Ketua Umum, tapi juga Rais Aam dan Khatib Syuriah juga pernah difitnah. Semata-mata untuk de-legitimasi. Agar arah pikiran masyarakat umum: “Ketuanya aja kayak gitu, pasti NU yang dipimpin juga kayak gitu”.
4. Memusuhi Banser
Banser adalah anak dari GP. Ansor, sebuah Banom di NU. Penyerangan kepada Banser juga termasuk ke dalam nomor 3, yaitu : Membuat de-legitimasi. Kita tahu, komitmen Kebangsaan inilah yang senantiasa dijaga Banser, dan NU pada umumnya.
5. Menyerang Tradisi dan Amaliyah
Ini sudah dari dahulu. Tetap NU tetap istiqomah dan semakin kuat dengan menjelaskan dalil-dalil yang kuat.
Dan fenomena organisasi nyempal adalah ingin “asal beda” dari NU dan jelekin NU. Tapi setelah NU nunjukkin dalil-dalil kuatnya, maka larinya kalau gak pake taktik “menyerupakan diri dengan NU” ya “menyerang Banser atau Kyai Said”
Jangan terlalu mudah dan terpancing dengan postingan di medsos, di internet pada umumnya. Internet itu sebuah jagad sendiri, makanya disebut jagad maya atau dunia maya. Dunia yang luas dan siapa saja bisa dengan mudah menyebar hoax dan ujaran kebencian.
Rumusnya hidup di era media sosial, internet dan dunia maya adalah “Ojo Kagetan, Ojo Gumunan” (Dhawuh Kanjeng Sunan Ampel kepada Kanjeng Sunan Kalijaga)
Maka, segenap Jama’ah dan Jam’iyyah NU tetap Istiqomah dalam Dakwah.
Pahami NU itu apa dan bagaimana. Kenali Para Ulama dan Pimpinan NU dan bagaimana adab bersikap kepada mereka. (abi sorban)
NU bukan sekedar organisasi biasa maka keadaban harus tetap dipakai.
cyberaswaja.online-Ulama NU Banten Dengan Keluasan Ilmu Namun Tetap Sederhana Bagi kalangan santri, pemburu barokah khususnya Nahdliyin warga NU yang tinggal di Jabodetabek nama beliau mungkin tidaklah asing lagi, sosok guru keagamaan yang tampil sederhana, santun murah senyum dan tentunya dengan keluasan ilmu beliau, cara penyampaian dakwah yang sejuk, mudah di terima dan di cerna semua kalangan. Setiap pengajian beliau tidak pernah sepi dari pengunjung dari mana saja, ada yang dari jakarta, bekasi, bogor hingga karawang dan purwakarta, mulai dari pedagang kaki lima hingga pejabat semua rela ndlosor alias duduk di alas tikar ngariung bersama.
Abah KH.Uci Turtusi memiliki kedekatan khusus dengan tokoh-tokoh NU dari dulu hingga sekarang, beliau sangat dekat dengan Gusdur, KH.Abuya Muhtadi, Habib Luthfi bin Yahya, KH.Said Aqil Siradj hingga KH.Ma’ruf Amin.
Dengan logat sunda nya yang masih sangat kental beliau suka membaur secara langsung di masyarakat, tidak heran walaupun beliau tidak muncul di televisi, tidak memiliki chanel khusus Youtube atau tim dakwah media lainnya beliau tetap di sowani para tokoh-tokoh besar, para komunitas pemuda keagamaan hingga hingga para aparatur sipil negara yang sekedar ingin nasihat beliau.
Kesaksian beliau tentang kewalian Gusdur juga di balas dengan kesaksian Gusdur bahwa kelak beliau benar-benar akan menjadi salah satu ulama besar tanah banten.
Beliau juga salah satu kyai yang gemar & hafal membaca kitab kuning, yang selama ini menjadi kitab penting kalangan santri pesantren dan ulama-ulama Nusantara lainnya.
Semoga guru-guru kita semua di berikan kesehatan, terus menebar barokah dari setiap manfaat ilmu-ilmu yang beliau amalkan pada masyarakat dan santri.( fb. santrinu)
cyberaswaja.online- Penggagas istilah “Halal bi Halal” ini adalah KH Abdul Wahab Chasbullah. Ceritanya begini: Setelah Indonesia merdeka 1945, pada tahun 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum. Sementara pemberontakan terjadi dimana-mana, diantaranya DI/TII, PKI Madiun.
Pada tahun 1948, yaitu dipertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara, untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat. Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturrahim, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahmi.
Lalu Bung Karno menjawab, “Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain”.
“Itu gampang”, kata Kiai Wahab.
“Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah ‘halal bi halal’, jelas Kiai Wahab.
Dari saran Kiai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahmi yang diberi judul ‘Halal bi Halal’ dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.
Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno menyelenggarakan Halal bi Halal yang kemudian diikuti juga oleh warga masyarakat secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama. Jadi Bung Karno bergerak lewat instansi pemerintah, sementara Kiai Wahab menggerakkan warga dari bawah. Jadilah Halal bi Halal sebagai kegiatan rutin dan budaya Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri seperti sekarang.
Kalau kegiatan halal bihalal sendiri, kegiatan ini dimulai sejak KGPAA Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa. Setelah Idul Fitri, beliau menyelenggarakan pertemuan antara raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana.
Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Kemudian budaya seperti ini ditiru oleh masyarakat luas termasuk organisasi keagamaan dan instansi pemerintah.akan tetapi itu baru kegiatannya bukan nama dari kegiatannya. kegiatan seperti dilakukan Pangeran Sambernyawa belum menyebutkan istilah “Halal bi Halal”, meskipun esensinya sudah ada.
Tapi istilah “halal bi halal” ini secara nyata dicetuskan oleh KH. Wahab Chasbullah dengan analisa pertama (thalabu halâl bi tharîqin halâl) adalah: mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan. Atau dengan analisis kedua (halâl “yujza’u” bi halâl) adalah: pembebasan kesalahan dibalas pula dengan pembebasan kesalahan dengan cara saling memaafkan.
Wallahul Muwaffiq ila Aqwamith Thoriq
KH Masdar Farid Mas’udi
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
Cerita dengan judul Sejarah Propaganda PKI ini sengaja saya buat untuk memperkaya wawasan sejarah kebangsaan kita semua sebagai bangsa Indonesia. Dan pemilihan referensi dari NU sengaja saya pilih agar pembahasan sejarah PKI yang saya sampaikan menjadi netral dengan tidak ada bumbu-bumbu politik.
PKI BURU KYAI DAN SANTRI (KEJADIAN TAHUN 1948)
Kekejaman PKI sebelum Pemilu pertama 1955 terjadi begitu masif dibanyak tempat. Selain untuk menyikat para lawan yang dianggap batu sandungan, hal ini juga dilakukan PKI untuk membuat masyarakat Non PKI segan terhadap mereka. Aksi Perampokan, Penculikan, Pengerusakan hingga Pembunuhan begitu masif dilakukan PKI dibeberapa daerah yang menjadi basis mereka. PKI tidak suka dengan kalangan Pesantren kala itu, bagi mereka kalangan Pesantren dianggap bisa menjadi alat perlawanan untuk PKI, makanya Pesantren harus dibabat untuk mengurangi kekuatan mereka. Perburuan terhadap para ulama pimpinan pesantren terus dilakukan, seorang kiai yang pesantrennya berada jauh di luar Magetan juga menjadi sasaran. Magetan merupakan Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Madiun Pusat Kegiatan PKI saat itu. PKI menyiapkan sumur-sumur dengan kedalaman 10-20 meter sebagai tempat kuburan massal tawanan mereka.
KH Imam Shafwan Pemimpin Pesantren Kebonsari Magetan bersama kedua orang anaknya yaitu K Zubair dan K. Abu Bawani yang sedang memimpin pengajian juga dibantai oleh FDR-PKI. Pada umumnya para kiai telah mempersiapkan diri dengan ilmu kanuragan untuk membentengi diri dari serangan penjahat terutama gerombolan PKI, hal itu dialami oleh Kiai Imam Shofwan, saat dianiaya PKI, walaupun kedua anaknya telah tewas, tetapi sang kiai masih bertahan walaupun menghadapi berbagai siksaan. Karena PKI sudah jengkel dan tidak sabar lagi kemudian dimasukkan hidup-hidup dalam sumur, didalam sumur KH Imam Shofwan masih sempat mengumandangkan adzan yang disaksikan oleh beberapa santtrinya, tetapi kemudian dikubur dalam keadaan masih hidup oleh pasukan Pesindo-PKI. PKI melakukan pembunuhan dan pembantaian dengan beragam cara, mulai dari menyembelih, Menembak, mencincang (Mutilasi), membakar hidup-hidup, hingga mengubur hidup-hidup para tawanan mereka.
Dengan ancaman Senapan, PKI membawa para Santri ke tempat tahanan. (republika.co.id)
Peristiwa serupa dialami oleh KH Soelaiman Zuhdi Affandi ketika sedang i’tikaf di masjid ditangkap oleh gerombolan PKI, setelah diseret keluar dari masjid lalu dimasukkan tahanan di Pabrik Gula Gorang-Gareng. Setelah itu dipindahkan ke tempat tahanan lain di Magetan dengan dinaikkan kereta api berjejal dengan tahanan lain. Setibanya di Desa Soco, para tahanan termasuk K Soilaeman disiksa. Karena Kiai ini juga seorang yang digdaya, maka tidak mudah dibunuh. Karena kejenghkelannya lalu pleh PKI dimasukkan ke dalam sumur tua dalam keadaan hidup-hidup. Lain lagi dengan cerita yang dialami KH Hamzah, saat mendengar pemberontakan PKI di Madiun Kiai ini hendak pergi ke Magetan. Tetapi ketika baru sampai di Desa Bathokan telah disergap PKI, kemudian di tahan beberapa hari tanpa diberi makan baru setelah itu dikubur hidup-hidup. Para tawanan yang mati akan dimasukan kedalam sumur, tak jarang tawanan yang masih hidup juga dimasukan kedalam sumur bercampur dengan mayat-mayat tawan yang telah mati, Para tawanan hidup ini tak jarang dilempari batu dari atas sumur sebelum akhirnya ditimbun hidup-hidup. Dalam sumur-sumur pembantaian PKI yang tersebar dibeberapa titik di Magetan dan Madiun ditemukan mayat-mayat Kyai, Santri, Polisi, Lurah, hingga Camat, ada yang ditembak hingga disembelih oleh PKI.
Seorang Korban PKI digantung dan siksa di depan umum. (historia.id) Monumen di Desa Kresek, Kec. Wungu – Madiun, Patung Musso Yang Sedang Memegang Pedang yang Hendak Memenggal Kyai Husen, Seorang Pimpinan Pesantren yang Juga Anggota DPRD Madiun pada 1948. (sumber: detik.com)
Pesantren Tegalrejo yang didirikan oleh para Prajurit Pangeran Diponegoro di Magetan yang dipimpin oleh Kiai Imam Mulyo itu tidak lepas dari serbuan PKI. Pada 18 September Pesantren ini dikepung oleh ratusan orang PKI, tetapi Kiai Imam Mulyo terus bertahan dengan para santrinya. Kepada para santri Kiai Imam Mulyo menasehati agar tidak menyakiti PKI, Padahal saat itu PKI sudah mulai melempar dan menembaki pesantren. Dengan ilmu kanuragan yang dimiliki kyai Imam Mulyo para santri dilarang keluar dari pagar pesantren, disertai pekikan Allahu Akbar para Santri melakukan perlawanan dari dalam Pondok sehingga PKI pun gagal menghancurkan pesantren. Pada hari berikutnya PKI melakukan serangan lagi bahkan dengan senjata lebih lengkap. Pesantren ditembaki bahkan dilempari puluhan granat, anehnya tidak ada tembakan yang mengena sasaran, bahkan tidak satupun granat yang sudah dilepas picunya bisa meletus. Hanya saja ada seorang santri yang melangggar aturan Kiai Imam yakni ia keluar pagar menyerang PKI. Ketika melakukan serangan itulah santri Tegalrejo bisa ditembak hingga mati. Gagalnya serangan itu PKI membuat taktik lain, yaitu mengajak berunding, di dalam perundingan itu mereka ditangkap dan dibunuh.
PKI melakukan Pembakaran Kampung, Masjid dan Pesantren di Madiun pada 1948. (republika.co.id)
Kisah lainnya pada Senin 20/9/1948, tiba-tiba datang sebuah truk yang berisi orang-orang PKI baik laki-laki maupun perempuan mendatangi kampung Kauman – Madiun. Seorang perempuan PKI tiba-tiba berteriak kepada seluruh penduduk Kauman. Dia mengatakan bahwa salah seorang anggota PKI telah mati terbunuh di Kampung Kauman dan mereka akan membalas dendam, Padahal warga Kauman tidak merasa telah membunuh seseorang di kampungnya. Dan benar saja ancaman PKI itu benar-benar dilakukan, 4 hari berselang yakni pada jumat 24/9/2020 orang-orang PKI seperti kumpulan tawon yang tiba-tiba menyerbu Kampung Kauman bersenjata klewang, senapan, clurit, dll. Rumah-rumah dibakar sehingga seluruh penghuni keluar dari persembunyiannya. Dalam aksi pembumihangusan Kampung Kauman itu, tak kurang dari 72 rumah terbakar, dan sekitar 149 laki-laki digiring ke Maospati. Dari Maospati seluruh tawanan dimasukkan ke dalam gudang pabrik rokok, kemudian diangkut dengan lori milik pabrik gula ke kawasan Glodok untuk disembelih. Namun pembantaian terhadap warga Kauman ini gagal karena Pasukan PKI Pro Pemerintah menyelamatkan mereka.
Saat pemberontakan PKI di sekitar Madiun saat itu keadaan begitu mencekam, orang-orang PKI memutuskan saluran telepon, mereka juga gencar melakukan sweping bersekala besar untuk melakukan penculikan, Jalan-jalan juga penuh dengan orang-orang PKI yang melakukan pencegatan terhadap kendaraan yang lewat dengan target para Pejabat dan tokoh Agama. Banyak Pejabat dan tokoh Agama menjadi korban keganasan PKI karena tidak sempat menyelamatkan diri, PKI melakukan pemburuan di banyak tempat dan pembantaian dilakukan secara serentak di kota-kota sekitar Madiun, mulai dari Magetan, Ponorogo, Trenggalek, Ngawi dan Tulungagung. Terutama daearah-daerah yang selama ini menjadi basis PKI.
Peta Jawa timur (kompas.com)
PKI juga terus memburu para kiai pimpinan pesantren hingga jauh di luar Madiun. Di Pacitan salah satunya, disana terdapat pesantren kuno yang sangat terkenal yang biasa dikenal dengan Pesantren Tremas. Dari sana lahir ulama besar yang berkaliber internasional yang sangat disegani yaitu Kiai Mahfudz Attarmasi yang kemudian menjadi syeikh di tanah suci.Pada tahun 1948 pesantren ini dipimpin oleh KH Hamid Dimyati, selain seorang pengajar dia ini juga aktivis pergerakan yang menjadi anggota Parlemen di Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Ketika terjadi pemberontakan Madiun situasi menjadi kacau, karena saluran komunikasi terputus maka KH Hamid Dimyati berinisiatif melakukan komunikasi langsung dengan bertemu para pemimpin Republik Indonesia di Yogyakarta.
KH. Hamid Dimyathi. (pondoktremas.com)Rute Pacitan-Yogyajarta yang harus melewati Wonogiri. (sumber peta: kompas.com)
Sambil melakukan penyamaran dan perjalan secara sembunyi-sembunyi KH. Hamid Dimyati akhirnya menuju Yogyakarta, Tetap ketika rombongan KH. Dimyati masuk Kabupaten Wonogiri PKI ternyata telah membuat penjagaan dijalan-jalan yang sangatlah ketat mengingat Wonogiri merupakan daerah perbatasan memasuki Yogyakarta Ibukota Negara saat itu, akhirnya penyamaran Kiai Dimyathi terbongkar oleh PKI, rombongannya pun yang berjumlah 15 orang ditangkap gerombolan PKI. Mereka dimasukkan ke dalam tahanan Baturetno dalam tahanan itu disiksa dengan kejam. Ketika tahanan itu penuh rombongan Kyai Dimyathi itu dipindah ke rumah tahanan Tirtomoyo. Di dalam tahanan itu siksaan terus dilakukan, kemudian akhirnya semuanya dibunuh oleh PKI dan dimasukkan kedalam sumur sebagai kuburan massal.
Hanya satu orang yang dibiarkan hidup yaitu Shoimun, yang sengaja dilepas oleh PKI sebagai teror dan peringatan agar terbunuhnya Kiai besar dan anggota KNIP itu diketahui oleh masyarakat luas dan didengar oleh pemerintah. Shoimun itu pulalah yang menunjukkan tempat pembantaian, dan setelah sumur pembantaian tersebut diketahui kemudian hari lalu digali, jenazah Kiai beserta para aktivis pergerakan serta para santrinya yang tinggal tulang berserakan itu kemudian dipindahkan ke taman Makam Pahlawan sebagai tanda jasa bagi para pahlawan pembela Kemerdekaan Indonesia yang dibantai oleh PKI-Pesindo yang anti agama. Bersambung,,
[irp posts=”4759″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 1)”]
[irp posts=”4772″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 2)”]
[irp posts=”4788″ name=”Sejarah Kekejaman PKI Versi NU (Bagian 3)”]
[irp posts=”4826″ name=”Sejarah Propaganda dan Kekejaman PKI Versi NU [Part 4]”]
Referensi: Abdul Mun’im & Tim PBNU. 2013. Benturan NU-PKI 1948-1965 (Hal 56-62). Jakarta: PBNU & Langgar Swadaya