
Tag: sorban santri
-

KH. Bahauddin Nur Salim Rais Syuriah PBNU
wp.sorbansantri.com- Posisi apapun sama sekali bukan tujuan. Tidak menjadi apapun juga tidak masalah. Tidak kenal juga tidak masalah. Tidak diakui keberadaannya juga tidak masalah. Tidak dihormati juga tidak masalah. Justru bisa bersembunyi dari perhatian banyak orang malah lebih leluasa dan santai.Mendapatkan penghormatan bukan berarti kesuksesan. Menghormati belum tentu karena betul-betul memiliki rasa hormat. Bisa aja orang yang menghormati kita karena takut, karena diharuskan, karena mereka bekerja untuk kita, mereka butuh sama kita atau supaya terlihat pantas saja.“Hidup Ndak usah dibuat sulit, nggak usah ruwet, asal tidak maksiat, bisa menjadi pribadi yang menyenangkan dan bermanfaat bagi orang, serta tidak mengusik hidup orang lain, itu sudah cukup”. (red) -

YANG MENGHINA AGAMAMU, TIDAK MERUSAK AGAMAMU, YANG MERUSAK AGAMAMU JUSTRU PERILAKU MU
SORBAN SANTRI- Jika ada yg menghina agamamu, perlukah bereaksi yg sangat2 berlebihan, bereaksi yg sangat sadis seperti memenggal kepala orang tsb dan membunuh yg lainnya yg tdk berdosa ? Justru perilaku yg seperti ini bukan perilaku orang yg beragama yg dijiwanya ada Tuhan, justru perilaku yg seperti ini akan berbalik menyerang menghantam agama sendiri dan disamaratakan karena ketidaktahuan, bahwa perilaku yg seperti itu akan dinilai bahwa agama ini adalah benar agama kekerasan dan menakutkan dan akhirnya yg merusak agamamu justru perilaku mu.Dan akhirnya benarlah apa yg dikatakan Imam Ali bin Abi Thalib : ” Musuh islam bukanlah agama Nasrani dan Yahudi melainkan kebodohan umat islam itu sendiri “.Jika ada yg mengkritik agamamu, maka janganlah cepat2 diteriaki penistaan agama, lalu marah, ngamuk dan demo, tetapi bercerminlah, introspeksilah, koreksilah diri sendiri, jangan merasa yg paling benar, berlakulah bijak, mungkin bisa jadi semua yg dikritiknya itu benar, bahwa selama ini beragama rajin beribadah tapi tidak mengenal Tuhan itu sendiri, sibukan Tuhan tapi melupakan kemanusiaan, maka berterimakasihlah dan perbaikilah maka dgn demikian agamamu akan semakin dihormati. Mereka akan menilai perilakumu dan perilakumu itu akan mencerminkan kualitas diri dan agamamu dan yang merusak agamamu justru perilakumu.Tuhan tidak perlu dibela, Dia sudah maha segalanya. Belalah mereka yang diperlakukan tidak adil. ( Gus Dur )Sibuk membela Tuhan, memprovokasi utk melakukan pembunuhan dgn judul membela agama, membunuh atas nama agama tetapi melupakan kemanusiaan, sama sekali melupakan kemanusiaan dan hanya sibukan Tuhan, saya berani pastikan yg seperti ini Tuhan tidak akan suka, Tuhan sangat benci manusia yg seperti ini, bangga membunuh atas nama agama yg diperintahkan Tuhan kata mereka, sebaliknya Tuhan sendiri tidak pernah memerintahkan yg seperti itu, sebab semua itu mereka telah menjadi Tuhan.Agama tertinggi adalah kemanusiaan dan belalah mereka yg diperlakukan tidak adil, belalah saudara2 kita yg lain agama yg dilarang beribadah dan mendirikan tempat ibadah, belalah minoritas tertindas.Sucikan nama Tuhanmu, jangan takbir untuk perpecahan. ( Prof.KH.Quraish Shihab )Sibukan Tuhan tetapi melupakan kemanusiaan, memekikan nama Tuhan tetapi untuk perpecahan, untuk memprovokasi, mempolitisasi, mengadu domba dan memecah belah, untuk kejahatan kemanusiaan, Tuhan diperalat atas nama kepentingan. Bersihkan hati, bersihkan nama Tuhan, jika Tuhan telah bersemayam didlm hati maka tertanamlah inti agama, bahwa hakikat/inti agama adalah kemanusiaan.Jangan hanya berhenti mencintai agama, tapi agamakanlah cinta . ( Gus Dur )Jika orang2 muslim, Yahudi, kristen dan orang2 dari agama lain memahami agama mereka dengan baik, maka akan ada satu agama, agama cinta dan kedamaian dan belas kasihan. ( Syekh Muhammad Said Al Jamal )(sorban santri) -

lirik dan lagu mars Hari Santri Nasional

SORBAN SANTRI- Peringatan Hari Santri Nasional ditetapkan sejak tahun 2015 oleh Presiden Jokowi. Sehingga pada tahun ini bertepatan dengan perayaan yang ke 5. Hari Santri Nasional 2020 kali ini mengusung tema “Santri Sehat Indonesia Kuat” Dalam memperingati Hari Santri Nasional 2020 tidak jarang para santri dan pesantren menyanyikan lagu mars Hari Santri.
Berikut ini adalah lirik dan lagu mars Hari Santri Nasional 2020:
22 Oktober 45- Resolusi jihad panggilan jiwa
Santri dan ulama tetap setia
Berkorban pertahankan IndonesiaSaat ini kita telah merdeka
Mari teruskan perjuangan ulama
Berperan aktif dengan dasar pancasila
Nusantara tanggungjawab kitaHari santri, hari santri, hari santri
hari santri bukti cinta pada negeri
Ridho dan rahmat dari Ilahi
NKRI harga matiAyo santri, ayo santri, ayo santri
Ayo ngaji dan patuh pada kyai
Jayalah bangsa jayalah negara
Jayalah pesantren kitaMari bersiap kita berangkat
Ke pesantren dengan penuh semangat
Raih cita-cita luruskan niat
Mengabdi tuk kemaslahatan umatHari santri, hari santri, hari santri
hari santri bukti cinta pada negeri
Ridho dan rahmat dari Ilahi
NKRI harga matiAyo santri, ayo santri, ayo santri
Ayo ngaji dan patuh pada kyai
Jayalah bangsa jayalah negara
Jayalah pesantren kitaJayalah bangsa negara
Jayalah Indonesia
Jayalah Indonesia(abi sorban)
#sorbansantrinu
-

Mengaji Kepada Kiai Fuad Jazuli, Ploso

Foto KH Fuad Jazuli SORBAN SANTRI- Sudah menjadi kebiasaan saya setiap Hari Santri menulis sekilas catatan saya berguru kepada para kiai di Ploso. Periode pertama menulis tentang KH Nurul Huda Jazuli dan kedua tentang KH Zainuddin Jazuli. ابقاهما الله بالسلامة والعافية.Tahun ini tentu giliran adik beliau berdua, KH Fuad Jazuli. Tulisan kali ini berbeda dengan tulisan-tulisan sebelumnya. Saat menulis pun mata saya penuh air mata, di leher terasa berat menahan tangis. Sebab hari ini bersamaan dengan 7 hari wafat beliau namun saya belum bisa ziarah dan takziah ke Pondok Ploso, Kediri.Saya menjadi santri di Ploso sejak 1994. Saat itu saya menjumpai para kiai sedang tinggi-tingginya semangat mengaji disertai kesehatan yang prima. Jarang kami temukan Kiai Zainuddin Jazuli libur ngaji Taqrib sore hari. Bisa dihitung dalam setahun atau nyaris tidak ada liburnya Kiai Nurul Huda Jazuli dari ngaji Sahih Bukhari di sore hari dan Tafsir Jalalain setelah Maghrib.Kecuali saat Yai Zainuddin melaksanakan ibadah haji maka lebih dalam 1 bulan pengajian beliau digantikan sementara oleh adik beliau, Yai Fuad Allahu yarhamhu. Di situlah pertama kali saya mengikuti pengajian beliau. Kalau sowan kepada beliau sudah diantar oleh Abah saya saat pertama kali mondok.Bagi para santri pemula seperti saya terasa cocok ngaji kepada Yai Fuad, cara bacanya pelan, ada nada khas, memiliki retorika, kadang lafaz diulang lagi, setelah diberi penjelasan beliau bertanya: “Mpun tam (selesai), Gus?”, baru beliau melanjutkan bacaan berikutnya.Pada sebuah kesempatan saat beliau ngaos, dengan bahasa Jawa beliau dawuh: “Ngaji Fathul Qarib niki luwih gampang timbangan maen skak. Menawi skak tasih mikir, Gus. Moco Fathul Qarib mpun boten perlu mikir”. Artinya: “Ngaji kitab Fathul Qarib ini lebih mudah dari pada catur. Kalau catur masih perlu mikir berat. Kalau baca kitab Fathul Qarib tidak perlu mikir”, tentu maksud beliau adalah motivasi agar kita rajin belajar dan membiasakan membaca kitab.Sayangnya saya tidak bisa mengaji lebih banyak kepada beliau kecuali Ramadhan, karena saya keburu boyong pada 2002. Dan Yai Fuad ini menggantikan Yai Zainuddin mengaji Fathul Qarib setelah Yai Zainuddin mencapai usia uzur dalam membaca kitab, dan alhamdulilah hingga saat ini beliau dikaruniai panjang umur. (ABI SORBAN) -

MALAM RENUNGAN SANTRI DIPERINGATAN HARI SANTRI 2020

SORBAN SANTRI- Ditengah maraknya perang ideologi yang ada di Negara Indonesia ini dirasakan sangat mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara. Apalagi sudah banyak pemikiran yang sudah masuk dalam tubuh organisasi NU itu sendiri. Mengingat NU adalah organisasi yang besar maka, banyak pula permasahalan – permasalahan kecil yang berpotensi merusak marwah NU.
Gus Nafi’ di Hari Santri 2020 Pacet Mojokerto Perwakilan Banom NU membaca Tiryaqul Mujarrot bilwaliyil Muqorrob Sekretaris MWC NU Pacet Ustad Agus di Hari Santri 2020 Pacet Mojokerto Tokoh dan Pengurus NU Kecamatan Pacet Mojokerto Dalam peringatan hari santri 22 Oktober 2020, semua banom NU yang ada di Kecamatan Pacet Mojokerto seperti Fatayat, muslimat,IPNU,IPPNU,Pagar Nusa, Ansor Banser dll, berpumpul menjadi satu dengan tekat 1 komando Dalam Menjaga Ideologi Aswaja Annahdliyah. Sebagai penggerak kader, tentunya Ansor dan Banser kec.pacet mojokerto sangat bersemangat menyatukan semua kader NU sebagai perwujudan benteng yang kokoh dengan maraknya perang ideologi yang ada di Negara Indonesia khususnya kawasan Pacet Mojokerto dan sekitarnya.
Selasa, 21 Oktober 2020, semua kader berkumpul di Gedung Ghara MWC NU Pacet untuk mengikuti acara peringatan hari santri 2020. Dimulai dari pengurus dan para kader berkumpul ± 200 kader yang menghadiri kegiatan tersebut. Acara dimulai dari pukul 18.30 wib dan selesai dini hari pukul 00.00 wib. Semuanya kompak dan semangat dalam mengikuti setiap tahapan acara seperti Pembacaan kitab Tarqiyatul Mujarrob Bilwaliyil Muqorrob, Makhallul Qiyam, dan Pembicara yang bertemakan PERAN KADER DALAM MENJAGA IDEOLOGI ASWAJA ANNAHDLIYAH.
Fatayat Pacet Aktif Dalam Giat Rutin Mengajarkan Si Kecil Berkhidmat di NU Kader NU dalam Hari Santri 2020 Makhallul Qiyam Kader NU Harapan dari kegiatan ini adalah, menjaga marwah NU, memperkokoh Ideologi NU khususnya warga dan kader NU dikecamatan Pacet Mojokerto agar tidak mudah diporak porandakan oleh semua yang mengancam organisasi NU. Selain itu juga, kegiatan ini bermaksud untuk meluruskan lagi saudara-saudara kader NU yang lalai dalam berjuang dan berkhidmat di NU, sehingga benar-benar di akui menjadi santri oleh mbah hasyim asy’ari selaku pendiri organisasi terbesar di Dunia, yaitu Nahdlotul Ulama’.
Alhamdulillah, kegiatan ini sudah berjalan ke 11 kali belum genap 1 bulan, yang dilaksanakan secara bergilir dari desa ke desa se Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto. dan diharapkan bisa istiqomah dalam Giat Rutin Kader Penggerak NU. (abi sorban)
-

DARI 5 KRITERIA KELOMPOK NU INI, KITA MASUK YANG MANA?
SORBAN SANTRI- KH. Manarul Hidayat wakil ro’is PBNU pernah mengatakan dalam ceramahnya bahwa, ktriteria orang NU itu ada 5 (lima).
1. Kelompok yang tidak tahu apa itu NU, tapi suka sama NU. Kelompok ini tidak tahu Bagaimana itu NU, apa yang dilakukan NU, tidak mengerti apa itu NU tetapi mereka senang terhadap NU. Bahkan singkatan NU Nahdlotul Ulama’ itu mereka ada yang tahu dan tidak tahu. Akan tetapi kalau ditanya kamu itu dari mana sih ? mereka menjawab NU.
2. Kelompok yang tahu tentang NU. Bagaimana NU itu, apa saja yang dikerjakan NU, mereka tahu. Akan tetapi kelompok ini tidak mau peduli tentang NU. Dan mereka tahu kalau NU itu berlandaskan Ahlussunnah wal jama’ah, mereka tahu ciri-ciri NU seperti apa. Tetapi mereka gak mau tahu NU mau maju atau jatuh, mereka tidak peduli. Tetapi kelompok ini jika dikatakan tidak NU, mereka tidak mau dan mengaku NU.
3. Kelompok yang hanya memanfaatkan kebesaran NU. Kelompok ini tahu persis NU itu seperti apa, akan tetapi NU mereka gunakan untuk kepentingan pribadi. Mereka manfaatkan NU untuk kepentingan bukan untuk khidmat pada organisasi NU. Kelompok yang seperti ini berpegang pada NU untuk hidup, bukan Hidup untuk NU. Mereka lebih mengutamakan kepentingan pribadi dari pada berkhidmat untuk NU.
4. Kelompok yang nyata nyata benci dengan NU. Kelompok seperti ini berani menentang NU, bahkan mengkafirkan amaliyah NU. Akan tetapi kalau kelompok ini dikatakan bukan NU mereka tidak terima dan tetap mengaku NU dengan tujuan mencari keselamatan karena mereka sadar kalau NU itu mayoritas.
5. Kelompok yang didoakan mbah kyai Hasyim dan dianggap santri oleh mbah kyai Hasyim. Kelompok yang seperti ini dengan pengetahuannya tentang NU itu seperti apa, NU itu mempunyai kegiatan apa, NU itu mempunyai amalan apa, mereka benar-benar menjalankan dan mengamalkan. Artinya mereka berkhidmat di NU tanpa pamrih, tulus dan ikhlas. Kelompok yang seperti ini cuma bertujuan untuk kemaslakhatan ummat dan yang difikir itu ummat bukan yang lain. Seperti nanti dapat imbalan apa, nanti memperoleh apa, dll. Kelompok seperti ini tidak peduli ada di struktural atau non struktural, dicatat jadi pengurus atau tidak di organisasi NU, mereka hanya bertekat menghidupkan Amaliyah NU, Kegiatan NU, menjaga ideologi NU.
Semoga kita termasuk golongan yang nomor 5 (lima) dan diakui menjadi santrinya mbah hasyim asy’ari.. Aamiin Ya Robbal’alamiin.. Al-Fatikhah.. (abi sorban)
-

Rabu Wekasan Menurut NU

SORBAN SANTRI- Besok adalah malam Rabu Wekasan yaitu malam Rabu terakhir (wekasan) di bulan Shafar.
Sebagian orang ahli ma’rifat termasuk orang yang ahli mukasyafah mengatakan setiap tahun Allah menurunkan bala’ (bencana) yang berjumlah 320.000. Kesemuanya diturunkan pada hari Rabu yang terakhir di bulan Shafar. Maka dianjurkan hari itu shalat 4 raka’at dengan 2 salaman,” katanya,Kiai Jamal menjelaskan, shalat yang dilakukan tersebut diniati dengan shalat mutlak.
Pada setiap rakaat dalam shalat tersebut membaca
Al-Fatihah sekali,
surat Al-Kautsar sebanyak 17 kali,
surat Al-Ikhlas lima kali, Al-Falaq sekali dan An-Nas sekali.
“Kemudian setelah salam membaca doa dan shalatnya tidak berjamaah. Tapi dilakukan bersama-sama di lokasi yang sama pula,” tambahnya.Tradisi Rabu Wekasan sudah berlangsung secara turun-temurun di kalangan masyarakat Jawa, Sunda, Madura, dan lain-lain. Bentuk ritual Rabu Wekasan umumnya dilakukan dengan shalat , berdoa dengan doa-doa khusus, selamatan, sedekah, silaturrahin, dan berbuat baik kepada sesama.
Asal-usul tradisi ini bermula dari anjuran Syeikh Ahmad bin Umar Ad-Dairobi (W.1151 H) dalam kitab Fathul Malik Al-Majid Al-Mu-Allaf Li Naf’il ‘Abid Wa Qam’i Kulli Jabbar ‘Anid (biasa disebut Mujarrobat Ad-Dairobi).
Anjuran serupa juga terdapat pada kitab Al-Jawahir Al-Khams karya Syeikh Muhammad bin Khathiruddin Al-‘Atthar (W. 970 H), Hasyiyah As-Sittin, dan sebagainya.
Keputusan musyawarah NU Jawa Tengah tahun 1978 di Magelang juga menegaskan bahwa shalat khusus Rabo Wekasan hukumnya haram, kecuali jika diniati shalat sunnah muthlaqah atau niat shalat hajat. Kemudian Muktamar NU ke-25 di Surabaya (20-25 Desember 1971 M) juga melarang shalat yang tidak ada dasar hukumnya, kecuali diniati shalat mutlak.
“Shalatnya bisa di pagi (dluha) atau habis shalat maghrib,” pungkas Mustasyar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur ini. (abi sorban)












