Tag: sorban santri

  • Kepada NU Dan Banser Mojokerto. Bersediakah Kalian Menolong Kami Lagi?

    Kepada NU Dan Banser Mojokerto. Bersediakah Kalian Menolong Kami Lagi?

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Lagi-lagi terjadi di Indonesia. Hak beribadah dijadikan musyawarah. Musyawarahnya pun musyawarah tanpa peri kemanusiaan dan peri keadilan. Sama sekali tidak ada perwakilan dari gereja, lembaga Kristen, Bimas Kristen atau setidaknya dari FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama). Lalu setelah itu pihak desa sok bijak meminta Sumarmi memenuhi persyaratan SKB dua menteri sebelum melakukan pembangunan rumah ibadah. Sementara sebelumnya, renovasi rumah Sumarmi tiba-tiba jadi polemik setelah berhembus kabar bahwa kediaman Sumarmi akan dijadikan gereja gara-gara bentuk renovasi rumahnya menyerupai gereja lengkap dengan glassblock salib di eksterior depan bagian atas. Sumarmipun sudah mengalah menghilangkan glassblock itu sehingga tidak ada salib.

    Melihat kelakuan mereka yang seperti ini, mungkinkah ijin mendirikan gereja di rumah Sumarmi didapatkan? Sementara melihat salib doang berupa glassblock, mereka sudah ketakutan kejang-kejang begitu. Trus gaya-gaya mau mengijinkan sebuah gereja berdiri di sana? Ngga mungkin banget khan.
    Yang menyakitkan adalah saat kegiatan ibadah dan doa bersama umat Kristen dianggap sebagai kegiatan yang meresahkan warga. Sekarang mari kita bayangkan jika ada warga minoritas mengatakan ibadah dan doa bersama umat mayoritas adalah kegiatan yang meresahkan warga. Pasal penistaan pasti langsung bicara. Dari kasus inilah saya menumpahkan semua isi hati saya dalam artikel ini. Sejahat itukah kalian memperlakukan orang lain, sementara diri kalian sendiri tak suka diperlakukan seperti itu? Lalu kepada siapakah kami warga minoritas bisa mengadu tentang ketidakadilan seperti ini selain kepada Tuhan?
    Mengadu pada Presiden Jokowi sudah sering kami lakukan lewat banyak tulisan. Tapi tampaknya Jokowi terlalu sibuk dengan pembangunan berderet-deret infrastruktur yang ada. Mengadu pada Menteri Agama “Islam” RI juga sama saja. Inilah yang dinamakan salah mengadu.
    Dari sinilah saya langsung teringat pada teman-teman NU dan Banser yang selama ini sangat baik pada kami umat minoritas. Saya terkenang pada Banser Riyanto dari Mojokerto. Atas dasar inilah saya memberanikan diri minta tolong “lagi” pada teman-teman NU dan Banser Mojokerto untuk membantu menyelesaikan masalah intoleransi di sana. Semoga kali ini saya tidak salah mengadu. Amin. Terpujilah Tuhan.
    (Berikut adalah berita yang redaksi peroleh dari Group FB yang bersumber dari seword)
    (ABI SORBAN)
  • SUKSESNYA RAKERANCAB II PAC GP ANSOR PACET MOJOKERTO

    SUKSESNYA RAKERANCAB II PAC GP ANSOR PACET MOJOKERTO

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Rancangan Kerja suatu organisasi adalah agenda penting dalam melihat jalan dan tidaknya suatu organisasi. Dan alhamdulillah PAC GP Ansor Kecamatan Pacet sudah banyak melakukan kegiatan bahkan menjadikannya sebagai rutinitas seperti Pembacaan Manaqib dan Majlis Sholawat dan Dzikir. Meskipun masih ada juga yang belum terlaksana akibat padatnya jadwal kegiatan diluar rancangan apalagi adanya wabah covid-19 ini.

    [su_youtube url=”https://youtu.be/M2E1d1qFzls”]

    Dan yang patut dibanggakan dalam masa kepemimpinan sahabat Mujibur Rohman adalah masih optimis bisa melaksanakan agenda-agenda kegiatan yang belum tercover selama 3 bulan kedepan. Kita butuh kekompakan.. kita butuh semangat… keberanian, fokus dan cerdik apalagi saat ini dimasa musim pandemi, Kata Mujibur Rohman selaku Ketua PAC GP Ansor Pacet Mojokerto.

    Untuk mensukseskan agenda tersebut maka, disela rapat diadakannya pembagian 3 komisi dengan harapan bisa fokus untuk masing-masing rencana kegiatan yaitu Komisi A (keansoran), B (kebanseran) dan C (rijalul ansor). dan Alhamdulillah tiap-tiap komisi dapat melaksanakan rencana kerjanya dengan cepat, untuk kegiatan 3 bulan kedepan.

    Dalam kegiatan RAKERANCAB II PAC GP ANSOR PACET MOJOKERTO, yang diadakan pada Hari Sabtu, 28 September 2020, dimulai pukul 15.00 wib, dan bertempat di Balai Desa Cepokolimo, yang kebetulan Kepala Desa Cepokolimo adalah anggota PAC GP Ansor Kec. Pacet juga yakni Sahabat Mahfudz Sulaiman. Mudah-mudahan sahabat-sahabat Ansor Banser nanti bisa menjadi Kepala Desa di Desanya masing-masing seperti Sahabat Mahfudz Sulaiman, Kata Sekretaris Umum PC GP Ansor Kab. Mojokerto sahabat Mokh Yunus.

    SORBANSANTRI.COM

    Alhamdulillah acara RAKERANCAB II PAC GP ANSOR PACET MOJOKERTO ini Sukses dan dilaksanakan dengan Lancar. Dan dihadiri oleh ketua PC GP Ansor Kab. Mojokerto, Gus Ali Muhammad Nasih dan Hampir semua anggota Ansor, Banser dan Rijalul Ansor menghadiri kegiatan tersebut. (abi SORBAN)

  • IPNU-IPPNU PACET  MELAKSANAKAN MAKESTA SEBAGAI BENTUK PENGKADERAN

    IPNU-IPPNU PACET MELAKSANAKAN MAKESTA SEBAGAI BENTUK PENGKADERAN

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Guna mewujudkan kader yang berwawasan dan Cinta akan IPNU IPPNU. PAC IPNU IPPNU Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto gelar kaderisasi formal tingkat dasar IPNU-IPPNU yakni Makesta anak cabang pacet(MACAPAT).

    Kegiatan berlangsung di Graha NU Pacet, pada hari Sabtu-Minggu tanggal 26-27 September 2020. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 51 peserta dari Ranting IPNU-IPPNU dan juga Diniyah se kecamatan Pacet.

    Rekan Yusril sebagai ketua PAC IPNU Pacet mengatakan bahwa terlaksana nya MACAPAT ini adalah untuk menambah wawasan dan rasa cinta anggota IPNU-IPPNU Kecamatan Pacet pada NU dan IPNU-IPPNU,terlebih di masa pandemi seperti ini. Dirinya juga sangat mengapresiasi peserta, karena mereka adalah anggota anggota pilihan. “Peserta Makesta kali ini adalah anggota pilihan, karena mereka mau mengikuti Makesta ini, walaupun di tengah masa pandemi” Jelasnya.

    Ketua PAC IPPNU Pacet Rekanita Diyah menambahkan bahwa lewat Makesta ini, anggota IPNU IPPNU Pacet harus bisa menjadi anggota yang tahan banting. “Dalam berproses di IPNU-IPPNU tidaklah terus berjalan mulus, pasti akan ada masalah yang menghinggapi,tetapi jangan sampai kalian berhenti hanya karena ada masalah yang terjadi” Ujarnya.

    Sedangkan Ketua Majelis Wakil Cabang NU Pacet Bapak H. Yusuf mengatakan bahwa dalam IPNU-IPPNU bahkan NU, Makesta adalah kaderisasi Formal yang paling dasar. Bapak H. Yusuf berharap anggota Makesta ini dapat terus Istiqomah dan tidak hanya berhenti di IPNU IPPNU tetapi juga terus berproses sampai masuk kejajaran NU dan Muslimat NU. (yus SORBAN)

  • Dosa Jariyah Yang Dapat Menghapus Semua Amal Shalih

    Dosa Jariyah Yang Dapat Menghapus Semua Amal Shalih

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Kyai menyampaikan bahwa jika budaya lokal Korea (K-Pop) saja bisa meng-internasional bahkan digemari hingga Amerika. Maka anak muda Indonesia mestinya mampu menjadikan budaya lokal Indonesia menjadi menginternasional pula. Termasuk “Budaya Santri”, agar diupayakan menjadi budaya nasional dan bahkan menginternasional.
    Nasihat beliau sangat simpel dan sekaligus sangat visioner. Namun para “pembuat” berita dan para tukang “fitnah” telah dengan sengaja menggoreng informasi ini untuk tujuan membuat narasi fitnah dan menyebar kebencian.
    Akibatnya para Netizen yang sebagian bersumbu pendek dan kurang cermat membaca terburu-buru menghujat beliau. Narasi negatif berbentuk gambar dibagikan ribuan kali di berbagai akun media sosial. Hingga terwujudlah Dosa Jariyah yang dapat menghapus semua amal shalih.
    Ketahuilah, Bahwa menghina Kyai Ma’ruf Amin telah mengakibatkan tiga dosa besar, yakni Menghina Sulthan, Menghina Ulama dan Menghina Orangtua.
    1. MENGHINA UMARO’ (SULTHON):
    Menghina Pemerintah adalah dosa besar
    dan sama saja telah menghina Allah. Nabi Saw bersabda:
    مَنْ أَهَانَ السُّلْطَانَ أَهَانَهُ اللهُ. رواه الترمذي
    “Barangsiapa yang menghina
    seorang penguasa, maka Allah akan menghinakannya.” (HR al-Tirmidzi, no. 2224).
    2. MENGHINA ULAMA.
    Darah dagingnya ulama adalah racun, maka menghinanya sama saja makan racun. Kyai Ma’ruf bukan ulama biasa, tetapi beliau adalah “Al-Kubarâ’” (الكبراء), yakni ulama besar, sesepuh dan sangat dituakan oleh kaum muslimin di Indonesia. Para ustadz-ustadz muda saja kita hormati, apalagi beliau selaku Ulama Kubara’. Al-Hafidz Ibnu Asakir
    dalam “Tabyin Kadzib Al-Muftari” berkata:
    ” واعْلَمْ يَا أخِي، أَنَّ لُحُومَ العُلَماءِ مَسْمُومَةٌ، وَعَادةُ اللهِ في هَتْكِ أسْتَارِ مُنْتَقِصِيهِمْ مَعْلُومَةٌ، لأنَّ الوَقِيعَةَ فِيهِمْ بِمَا هُمْ مِنْهُ بَرَاءٌ أمْرُهُ عَظِيم ٌ، والتَّناوُلُ لأعْراضِهِم بالزُّورِ والافْتِراءِ مَرْتَعٌ وَخيمٌ ، والاختِلاقُ عَلَى من اخْتارهُ اللهُ مِنْهُم لِنَعْشِ العِلْمِ خُلُقٌ ذَمِيمٌ “.
    Artinya: “Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya daging para ulama itu beracun (menggunjingnya adalah dosa besar), dan kebiasaan Allah dalam menyingkap kedok para pencela mereka (ulama) telah diketahui bersama.
    Karena mencela mereka dengan sesuatu yang tidak ada pada mereka, merupakan petaka besar, dan melecehkan kehormatan mereka dengan cara dusta dan mengada-ada merupakan kebiasaan buruk, dan menentang mereka yang telah Allah pilih untuk menebarkan ilmu, merupakan perangai tercela”.
    3. MENGHINA ORANGTUA.
    Beliau adalah Syaikh al-Kabir dan telah berjasa banyak buat bangsa dan negara ini. Maka menghina beliau sungguh sama saja telah menghina Orangtua sendiri. Nabi Saw bersabda:
    لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
    Artinya: “Bukan termasuk ummatku, siapa yang tidak memuliakan orang yang
    lebih tua, menyayangi orang yang lebih muda dan memuliakan hak-hak orang alim (Ulama).”
    WARNING (PERINGATAN) Kepada segenap netizen mari bijak bermedia sosial dan bijak menelaah informasi. Telitilah setiap informasi yang datang dan jangan cepat percaya. Apalagi hanya berupa judul berita dan gambar-gambar editan. Kita harus menyadari bahwa hari ini ada gerombolan politik yang menghalalkan fitnah untuk menjatuhkan pihak lain.
    Mungkin bagi mereka ada istilah “Fitnah Syariah”. Bahkan sekali waktu mereka teriak “Bela Ulama”, namun disisi lain mereka “mencaci ulama yang lain”. Bagi mereka Para Ulama yang sejalan dengan gerbong politik mereka itulah yang dipuja-puja seperti “Malaikat”. Sebaliknya ulama yang tidak berada di gerbong yang sama akan terus dituduh
    Ulama Sû’ dan mereka sebarkan fitnah atasnya.
    Kelompok ini sewaktu-waktu tampak seperti bertuhan dan bahkan menjual nama “Tuhan” agar umat mau berpihak kepada mereka. Tapi kadang-kadang mereka seperti tidak bertuhan, karena menggunakan FITNAH demi tujuan politik. Kader-kader mereka getol menyebarkan fitnah itu dan mereka merasa bahwa itulah JIHAD.
    Seolah mereka lupa bahwa ada ALLAH yang selalu mengawasi kelakuan mereka. Padahal Allah Ta’ala berfirman: “FITNAH ITU LEBIH KEJAM DARI PEMBUNUHAN”.
    Percayalah bahwa kebenaran tidak akan pernah diperjuangkan dengan cara BATHIL.
    Kepada segenap “Santri”, Mari kita berjihad di media sosial untuk meluruskan semua fitnah atas ulama kita.
    Sesuai dengan pesan Mbah Yai (K.H. Ma’ruf Amin), Mari kita menginternasionalkan “BUDAYA SANTRI”. Kalau K-Pop saja bisa, SANTRI mengapa tidak. (abi sorban)
  • TERNYATA WAHABI ITU ADALAH FIRQOH SESAT DAN BERPEMAHAMAN KHOWARIJ DAN SAYA BERLEPAS DIRI DARI FIRQOH WAHABI

    TERNYATA WAHABI ITU ADALAH FIRQOH SESAT DAN BERPEMAHAMAN KHOWARIJ DAN SAYA BERLEPAS DIRI DARI FIRQOH WAHABI

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Dialog Ilmiah yang sangat menarik antara Syaikh Muhammad bin Sa’ad Asy Syuwai’ir dengan para masyaikh / dosen-dosen disalah satu Universitas Islam di Maroko
    Salah seorang Dosen berkata : “Sungguh hati kami sangat mencintai Keraja’an Saudi Arabia, demikian pula dengan jiwa-jiwa dan hati-hati kaum muslimin sangat condong kepadanya, dimana setiap kaum muslimin sangat ingin pergi kesana, bahkan antara kami dengan kalian sangat dekat jaraknya. Namun sayang, kalian berada diatas suatu Madzhab, yang kalau kalian tinggalkan tentu akan lebih baik, yaitu Madzhab Wahabi.”
    Kemudian Asy Syaikh dengan tenangnya menjawab : “Sungguh banyak pengetahuan yang keliru yang melekat dalam pikiran manusia, yang mana pengetahuan tersebut bukan diambil dari sumber-sumber yang terpercaya, dan mungkin kalian pun mendapat khabar-khabar yang tidak tepat dalam hal ini.
    Baiklah, agar pemahaman kita bersatu, maka saya minta kepada kalian dalam diskusi ini agar mengeluarkan argumen-argumen yang diambil dari sumber-sumber yang terpercaya, dan saya rasa di Universitas ini terdapat Perpustaka’an yang menyediakan kitab-kitab sejarah islam terpercaya. Dan juga hendaknya kita semaksimal mungkin untuk menjauhi sifat Fanatisme dan Emosional.”
    Dosen itu berkata : “saya setuju denganmu, dan biarkanlah para Masyaikh yang ada dihadapan kita menjadi saksi dan hakim diantara kita.”
    Asy Syaikh berkata : “saya terima, Setelah bertawakal kepada Allah, saya persilahkan kepada anda untuk melontarkan masalah sebagai pembuka diskusi kita ini.
    Dosen itu pun berkata : “Baiklah kita ambil satu contoh, ada sebuah fatwa yang menyatakan bahwa firqoh wahabi adalah Firqoh yang sesat. Disebutkan dalam kitab Al-Mi’yar yang ditulis oleh Al Imam Al-Wansyarisi, Beliau menyebutkan bahwa Al-Imam Al-Lakhmi pernah ditanya tentang suatu negeri yang disitu orang-orang Wahabiyyun membangun sebuah masjid, “Bolehkan kita Shalat di Masiid yang dibangun oleh orang-orang wahabi itu ?”
    maka Imam Al-Lakhmi pun menjawab : “Firqoh Wahabiyyah adalah firqoh yang sesat, yang masjidnya wajib untuk dihancurkan, karena mereka telah menyelisihi kepada jalannya kaum mu’minin, dan telah membuat bid’ah yang sesat dan wajib bagi kaum muslimin untuk mengusir mereka dari negeri-negeri kaum muslimin“. (wajib kita ketahui bahwa Imam Al-Wansyarisi dan Imam Al-Lakhmi adalah ulama ahlusunnah).
    Dosen itu berkata lagi : “Saya rasa kita sudah sepakat akan hal ini, bahwa tindakan kalian adalah salah selama ini”,
    Kemudian Asy Syaikh menjawab : ”Tunggu dulu…!! kita belum sepakat, lagipula diskusi kita ini baru dimulai, dan perlu anda ketahui bahwasannya sangat banyak fatwa yang seperti ini yang dikeluarkan oleh para ulama sebelum dan sesudah Al-Lakhmi, untuk itu tolong anda sebutkan terlebih dahulu kitab yang menjadi rujukan kalian itu…!!”
    Dosen itu berkata : ”Anda ingin saya membacakannya dari fatwanya saja, atau saya mulai dari sampulnya…??”
    Asy Syaikh menjawab : ”Dari sampul luarnya saja.”
    Dosen itu kemudian mengambil kitabnya dan membacakannya : ”Namanya adalah Kitab Al-Mi’yar, yang dikarang oleh Ahmad bin Muhammad Al-Wansyarisi. Wafat pada tahun 914 H di kota Fas, di Maroko”.
    Kemudian Asy Syaikh berkata kepada salah seorang penulis di sebelahnya : “Wahai syaikh, tolong catat baik-baik.
    Imam Al-Wansyarisi wafat pada tahun 914 H. Kemudian bisakah anda menghadirkan biografi Imam Al-Lakhmi…??”
    Dosen itu berkata : “Ya”
    Kemudian dia berdiri menuju salah satu rak perpustaka’an, lalu dia membawakan satu juz dari salah satu kitab-kitab yang mengumpulkan biografi ulama. Didalam kitab tersebut terdapat biografi Ali bin Muhammad Al-Lakhmi, seorang Mufti Andalusia dan Afrika Utara.
    Kemudian Asy Syaikh berkata : “Kapan beliau wafat ?”
    Yang membaca kitab menjawab : “Beliau wafat pada tahun 478 H“
    Asy Syaikh berkata kepada seorang penulis tadi : “Wahai syaikh tolong dicatat tahun wafatnya Syaikh Al-Lakhmi” kemudian ditulis.
    Lalu dengan tegasnya Asy Syaikh berkata :
    “Wahai para masyaikh…!! Saya ingin bertanya kepada antum semua, Apakah mungkin ada ulama yang memfatwakan tentang kesesatan suatu kelompok yang belum datang (lahir)…?! kecuali kalau dapat wahyu…??”
    Mereka semua menjawab : “Tentu tidak mungkin, Tolong perjelas lagi maksud anda…!!”
    Asy syaikh berkata lagi : “Bukankah wahabi yang kalian anggap sesat itu adalah dakwahnya yang dibawa dan dibangun oleh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab…??”
    Mereka berkata : “Siapa lagi…?!”
    Asy Syaikh berkata : “Coba tolong perhatikan…!!
    Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir pada tahun 1115 H dan wafat pada tahun 1206 H.
    Nah, ketika Al-Imam Al-Lakhmi berfatwa seperi itu, jauh RATUSAN TAHUN lamanya sebelum syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir. Bahkan sampai 22 generasi ke atas dari beliau sama belum ada yang lahir, apalagi berdakwah.
    KAIF ? GIMANA INI ?
    (Merekapun terdiam beberapa saat..) Kemudian mereka berkata : “Lalu sebenarnya siapa yang dimaksud Wahabi oleh Imam Al-Lakhmi tersebut ? Mohon dijelaskan dengan dalil yang memuaskan, kami ingin mengetahui yang sebenarnya…!!”
    Asy Syaikh pun menjawab dengan tenang :
    “Apakah anda memiliki kitab “Al-Firaq Fii Syimal Afriqiya”, yang ditulis oleh Al-Faradbil, seorang kebangsa’an Francis…??”
    Dosen itu berkata : “Ya ini ada”
    Asy Syaikh pun berkata : “Coba tolong buka di huruf “wau” .
    Maka dibukalah huruf tersebut dan munculah sebuah judul yang tertulis “Wahabiyyah“.
    Kemudian Asy Syaikh menyuruh kepada Dosen itu untuk membacakan tentang biografi firqoh wahabiyyah itu.
    Dosen itupun membacakannya : ”Wahabi atau Wahabiyyah adalah sebuah sekte KHOWARIJ ABADHIYYAH yang dicetuskan oleh “Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum Al- Khoriji Al-Abadhi” Orang ini telah banyak menghapus Syari’at Islam, dia menghapus kewajiban menunaikan ibadah haji dan telah terjadi peperangan antara dia dengan beberapa orang yang menentangnya. Dia wafat pada tahun 197 H di kota Thorat di Afrika Utara. Penulis mengatakan bahwa firqoh ini dinamai dengan nama pendirinya, dikarenakan memunculkan banyak perubahan dan dan keyakinan dalam madzhabnya. Mereka sangat membenci Ahlussunnah.
    Setelah Dosen itu membacakan kitabnya Asy Syaikh berkata : “Inilah Wahabi yang dimaksud oleh imam Al-Lakhmi, inilah wahabi yang telah memecah belah kaum muslimin dan merekalah yang difatwakan oleh para ulama Andalusia dan Afrika Utara sebagaimana yang telah kalian dapati sendiri dari kitab-kitab yang kalian miliki.
    Adapun Dakwah yang dibawa oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab” yang didukung oleh Al-Imam Muhammad bin Su’ud Rahimuhumallah, maka dia bertentangan dengan amalan dakwah Khowarij, karena dakwah beliau ini tegak diatas kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih, dan beliau menjauhkan semua yang bertentangan dengan keduanya, mereka mendakwahkah tauhid, melarang berbuat syirik, mengajak umat kepada Sunnah dan menjauhinya kepada bid’ah, dan ini merupakan Manhaj Dakwahnya para Nabi dan Rasul.
    Semoga bermanfaat
    (Lihat kitab Al Kamil oleh Ibnu Atsir)
  • Akan Hancur Negara Indonesia Jika Beri Peluang Manhaj Takfiriyah, HTI, PKS

    Akan Hancur Negara Indonesia Jika Beri Peluang Manhaj Takfiriyah, HTI, PKS

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI-
    Awal dari segalanya adalah Manhaj Takfiriyah, yang sekarang bisa berkembang di Indonesia ini menjadi Organisasi seperti HTI, menjadi Partai seperti PKS. Banyak sekarang ini mempunyai pemikiran mengkafirkan orang di luar keyakinan dia. Sedikit-sedikit kalau melakukan ini dibilang kafir, sedikit-sedikit dibilang bid’ah, sehingga yang masuk surga cuma dia saja. Kok ndak takut masuk surga sendirian? inilah bedanya Wali Songo Waliyulloh dengan wali jenggot salafy wahabi.

    Yang sekarang terjadi adalah agama dihadapkan kepada negara, maka akan memberikan suasana kalau negara akan menjadi penindas agama kemudian agama akan menjadi pemberontak dalam suatu negara.

    Dalam kondisi tersebut, dalam jangka panjang pasti akan membahayakan Kesatuan Negara Republik Indonesia.

    Seharusnya NU dan Muhammadiyah yang dimodali oleh negara, untuk mendeteksi Manhaj Takfiriyah tadi. Tapi masih banyak mereka yang tampak dalam gerakan mengkafirkan orang, membidahkan orang, itu masih dimodali oleh Pemerintah dan asing. Bahkan diberi kesempatan kebebasan menjalankan doktrin-doktrinnya yang jauh dari ajaran ASWAJA ANNAHDLIYAH NU dan PANCASILA. Lebih ironisnya lagi mereka masih diberi kedudukan di pemerintahan, seperti Gubernur, Bupati, DPR, dan lain-lain.

    Jadi kita tidak usah anti asing sementara kita menerima uang asing. yang tidak asing dan yang betul-betul asli made in Indonesia itu NU dan Muhammadiyah.

    ini kalau sudah kena Manhaj Takfiriyah tadi, Semuanya akan Bubar semua, Negara Kacau, banyak Demo menentang pemerintah, mudahnya mengkafirkan, sering tuduh menuduh dan lain-lain.

    Sehingga pengrusakan adalah bagian dari ibadah seperti demo 212, demo 411, demo bela ulama’, padahal pengertian aman itu adalah anamu wa amilus sholihat tapi bagaimana Amanu itu bisa dilakukan dengan wafasaadu??! ini semuanya menjadi renungan kita.

    tapi karena sekarang bukan ketuhanan yang maha esa tapi keuangan yang maha kuasa, Maka ini merayap dan mewabah sampai mana mana di bumi nusantara ini.Dijadikan agitasi oleh para teroris untuk terus melawan negara.

    Rata-rata rakyat minta Bagaimana cara Indonesia Aman dalam satu kesatuan NKRI, bagaimana caranya? ya dimulai dari HULUnya, dilaksanakan pelan-pelan melalui pendidikan ketegasan hukum dll. (abi sorban)

  • MENJAGA IDEOLOGI SERTA SOLIDARITAS LEWAT TAWASSUL DAN DO’A

    MENJAGA IDEOLOGI SERTA SOLIDARITAS LEWAT TAWASSUL DAN DO’A

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Ada hal yang sangat menarik dan patut diteladani dalam makna persaudaraan yang ada di Ansor dan Banser. Mengingat Ansor adalah pagar bajanya aqidah Aswaja NU dan Benteng NKRI harus selalu kokoh dan serempak dalam gerakan.

    Ada cerita lain waktu sahabat-sahabat PAC GP Ansor Banser Pacet dalam kegiatan yang diadakan warga NU asal Mojokerto hadir pada acara Haul ke-12 Syeikh Mahmud Muchtar Cirebon tanggal 21 September 2020, disela-sela waktu ishoma kegiatan acara haul, sahabat-sahabat PAC GP ANSOR Pacet Mojokerto masih menyempatkan doa dan ziarah ke makam syeikh Mahmud Muchtar Cirebon untuk tawassul dan mendoakan sahabat SORBAN (Ansor Banser) di Pacet agar selalu diberi kesehatan dan kekuatan dalam berjuang menegakkan IDEOLOGI.

    Mengingat masa-masa Pilkada serempak PILBUB 2020 di Mojokerto banyak penyimpangan IDEOLOGI dalam memperjuangkan Aqidah Annahdliyah. Masih banyak Bapak kita (MWC) dan Sahabat kita ( Lembaga dan Banom), masih belum mengetahui baik itu sadar apa tidak bahwa saat ini kita dalam masa perang IDEOLOGI dan ada penyelewengan secara struktural dengan meng atas namakan NU.

    Untuk itu kami berharap agar semua kader yang masih ragu-ragu dalam berpolitik, yang masih mementingkan kepentingan sendiri dalam politik, diberikan kecerahan hati dan pikiran untuk tetap setia memegang teguh IDEOLOGI ASWAJA NU” ungkap sahabat Sunardi yang memimpin dalam kegiatan doa dan tawassul PAC GP ANSOR PACET. (Abi SORBAN )

  • 1 TAHUN LEBIH GIAT BAKSOS DILAKUKAN GP ANSOR RANTING PUNGGING

    1 TAHUN LEBIH GIAT BAKSOS DILAKUKAN GP ANSOR RANTING PUNGGING

    SORBANSANTRI.COM
    Relawan BAKSOS GP Ansor Ranting Pungging

    SORBAN SANTRI- Minggu, 20 September 2020, GP Ansor Ranting Pungging mengadakan giat sosial yang berupa BAKSOS untuk kesekian kalinya. Yang mana dalam kegiatan itu adalah merupakan agenda acara kegiatan yang dilaksanakan rutinan setiap 1 bulan sekali, “alhamdulillah kegiatan baksos dari masjid dan musholla sudah 1 Tahun berjalan” Kata Moh.sulaiman afandi, selaku koordinator dalam setiap kegiatan baksos GP Ansor Ranting Pungging.

    SORBANSANTRI.COM
    Moh. Sulaiman Afandi Koordinator Baksos GP Ansor Ranting Pungging

    Pada kegiatan kali ini GP Ansor Ranting Pungging melaksanakan kegiatan Bhakti Sosial di Masjid Baitunnajah Dusun Gebang Desa Pungging yang dimulai Pukul 07.30 wib – selesai. Ada puluhan personil dalam kegiatan tersebut dengan membawa peralatan masing-masing seperti sapu, timba, sabun, dll yang diperlukan dalam kegiatan BAKSOS tersebut.

    Kegiatan ini berjalan sangat bagus karena selalu ada koordinasi dalam setiap melakukan kegiatan. Dengan harapan agar dengan adanya giat BAKSOS yang diadakan oleh GP Ansor Ranting Pungging ini, memberikan manfaat dan memberikan tauladan buat para remaja, kader-kader tentang betapa pentingnya kerukunan, kenyamanan, dan kebersamaan.

    Uniknya dalam setiap selesai kegiatan BAKSOS oleh GP Ansor Ranting Pungging, selalu memberikan kenang-kenangan berupa Jam Dinding buat Masjid dan Musholla dengan harapan agar bermanfaat bagi jama’ah masjid dan musholla setempat.

    Mudah-mudahan kegiatan yang diadakan oleh GP Ansor Ranting Pungging memberikan inspirasi buat GP Ansor Ranting lainnya sehingga kekompakan, kebersamaan, dalam satu wadah organisasi Nahdlatul Ulama’dan terasa sampai pada tingkat bawah. (abi SORBAN)

  • Mbah Hasan Genggong Kyai Spiritual Berdirinya NU

    Mbah Hasan Genggong Kyai Spiritual Berdirinya NU

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Dulu, dalam suatu majelis, Habib Ali Kwitang pernah berjumpa dengan Kyai Moh. Hasan Genggong. Sejenak Habib Ali Kwitang tertegun.
    Lalu dipeluknya Kyai Hasan sepuh dengan penuh keharuan. Air mata mengaliri pipi Habib Ali Kwitang. Saat itu ada seorang yang menemani Habib Ali Kwitang dan bertanya :
    “Bib, siapakah orang tua yang sangat sepuh ini yang engkau peluk tubuhnya..?” tanya lelaki itu.
    Sambil menyeka air mata, Habib Ali Kwitang berkata : “Ketahuilah anakku, aku sering bermimpi berjumpa dengan Rasulullah. Dan aku sering mendapati orang sepuh ini ikut mengiringi Rasulullah sambil memegangi tangan Rasulullah…” jawab Habib Ali sambil menunjuk kepada Kyai Hasan Genggong.
    Beliau Kiai Hasan Genggong adalah Seorang Sholihin Beliau Pendiri Pesantren Genggong Daerah Kraksan Probolinggo…
    Jika Kiai Hasan akan kedatangan tamu dari ahlul bait (keturunan Rasulullah), beliau langsung keluar sambil berlari dan berkata “ada rahatul Mustofa/wangi Nabi Muhammad”. Padahal cucu Rasul tadi masih belum sampai ke tempat Kiai Hasan.
    Di antara keramat Kiai Hasan Genggong adalah cerita datangnya seorang tamu yang menyewa sebuah mobil dengan seorang sopir habib. Cuma, ceritanya, tamu yang menyewa itu tidak mengetahui kalau supir tersebut adalah seorang habib.
    Kiai Hasan berkata kepada anak-anaknya, “Ayo rapikan kamar, kita mau kedatangan habib”.
    Setelah orang itu datang ke rumah Kiai Hasan, beliau bertanya, “mana sopirmu?”
    “Sopir saya tidur, Kiai,”
    “Di mana tidurnya?”
    “Di mobil, Kiai?”
    “Saya mau dekati sopir itu boleh minta izin?”
    Setelah mendapatkan izin, Kiai Hasan Genggong mendekati mobil sang tamu.
    “Habib, bangun bib!” Pinta Kiai Hasan.
    Sang sopir itu jelas kaget karena selama ini tidak ada yang memanggilnya habib.
    Bila Kiai Hasan ditanya oleh orang lain tentang bagaimana cara mengetahui kalau sopir itu adalah habib, beliau selalu menjawab begini, “Saya tahu karena bau keringatnya adalah bau keringat Kanjeng Nabi Muhammad Saw.”.
    Subhanallah…
    Beliau Kiai Hasan Genggong juga memiliki taalluq batin dengan Habib Ali bin Muhammad alHabsyi sohibul maulid.
    Diceritakan ketika zaman Alhabib Ali bin Muhammad bin Husain Al Habsyi Seiwun (Pengarang Maulid Simthud Durar). Ada seorang Auliya Allah bernama Al habib Abdul Qadir bin Quthban Assegaf. Habib Abdul Qadir bin Quthban adalah seorang ‘alim yang sangat gemar bersilaturrahim kepada para ‘alim ulama’ para waliyullah yang masih hidup di zaman tersebut. Kegemaran Beliau bersilaturrahim bukan hanya terbatas di wilayah Hadramaut Yaman saja. Tapi juga sampai ke pulau Jawa Indonesia.
    Bahkan juga sampai ke kediaman Hadratussyaikh KH. Mohammad Hasan Sepuh Genggong Probolinggo. Ketika tiba dikediaman Kiai Hasan Sepuh Genggong, Habib Abdul Qadir disambut dengan ramah. Beliau berdua pun berbincang bincang. Tentunya dengan bahasa arab.
    Sampai pada akhirnya kiai Hasan sepuh bertanya, yang kalau diterjemahkan:
    “Habib, bagaimana kabarnya Habib Ali Habsyi Seiwun (pengarang Simtudhurar)??”.
    Ditanya seperti itu, Habib Abdul Qadir terkejut dan terheran-heran. Bagaimana bisa Kiai Hasan Sepuh Genggong mengenali Habib Ali Habsyi Seiwun. Sedangkan Kiai Hasan secara dzahir tidak pernah ke Hadramaut Yaman, dan Habib Ali Habsyi Seiwun juga tidak pernah ke Indonesia.
    Seolah mengetahui apa yang ada di hati Habib Abdul Qadir, Kiai Hasan kembali berkata, “Habib Ali Al Habsyi Seiwun itu kulitnya seperti ini … (menyebutkan), wajahnya begini… (menyebutkan), kalau duduk seperti ini… (disebutkan), jalannya seperti ini… (disebutkan), di kediaman Habib Ali rumahnya seperti ini… (menyebutkan), di depannya ada masjid bernama Masjid Riyadh dan tiangnya ada… (menyebutkan)”.
    Dan bertambah kagumlah Habib Abdul Qadir bin Quthban. Takjub oleh Kiai Hasan Sepuh Genggong yang menyebutkan secara detail seolah-olah beliau sangat akrab dengan Habib Ali Al-Habsyi dan mengetahui keadaan rumahnya di kota Seiwun Hadramaut Yaman. Padahal Kiai Hasan tidak pernah sampai ke sana. Lalu setelah cukup berbincang-bincang, tak lama kemudian, Habib Abdul Qadir bin Quthban pun berpamitan pulang.
    Ketika sekembalinya dari tanah Jawa ke Yaman. Habib Abdul Qadir bin Quthban mengunjungi kota Seiwun, untuk bertemu dengan Al Imam Al ‘Arifbillah Al Habib Ali Al Habsyi Seiwun. Ketika sudah sampai di kediaman Habib Ali Habsyi dan berhadapan dengan beliau, di tengah-tengah perbincangan, Habib Ali Al Habsyi bertanya : “Wahai Sayyid Abdul Qadir, apakah di Jawa engkau bertemu dengan seorang syekh bernama Hasan Jawi (Jawa maksudnya)”.
    Habib Abdul Qadir teringat pertemuannya dengan Kiai Hasan Sepuh Genggong. Beliau mengangguk meng-iyakan. Lalu Habib Ali Al Habsyi berkata : “Syekh Hasan itu kulitnya seperti ini… (menyebutkan), wajahnya seperti ini… (menyebutkan), duduknya begini… (mencontohkan), jalannya seperti ini… (menceritakan), dan di rumahnya begini… (menjelaskan)”.
    Hingga Habib Abdul Qadir takjub dengan detailnya penjelasan beliau, padahal beliau tidak pernah ke indonesia.
    Saat proses awal pendirian NU, Kiai Hasan Genggong juga diminta pendapat dan nasihat oleh almarhum Kiai Haji Abdul Wahab Hasbullah, KH As’ad Syamsul Arifn dan para pendiri NU lain atas rekomendasi dari Syaikhuna Kholil Bangkalan dan Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari
    Kiai Hasan Genggong pernah menyatakan bahwa berjuang ikhlas di NU akan mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat. Insyaallah…
    “من اعان نهضةالعلماء، فقد سعد فى الدنيا والأخرة”
    “Barang siapa yang menolong (berjuang ikhlas) NU, Maka hidup beruntung di dunia dan di akhirat.”
  • TIDAK KEMBALI PULANG SEBELUM KITA YANG MENANG

    TIDAK KEMBALI PULANG SEBELUM KITA YANG MENANG

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI-
    Kalimat ini pastilah sangat familier bagi Banser (Barisan Ansor Serbaguna) dan para pecintanya. Digaungkan membahana menebar semangat yang luar biasa.

    Namun, belum banyak yang tahu bahwa penggalan kalimat ini bukanlah kalimat biasa. Namun, kalimat penuh karomah yang pernah diucapkan oleh perempuan mulia pada zaman Rosulullah SAW.

    Beliaulah sahabiyah mulia Nusaibah Binti Ka’ab Al Anshoriyah RA. Beliau inilah yang berhasil melobi duta Islam Sayyidina Mus’ab Bin Umair RA supaya bisa langsung bersyahadat di hadapan Rosulullah SAW.

    Maka masuklah beliau dalam rombongan Bai’at Aqobah Kedua dan masuk jajaran assabuqunal awwalun dari kalangan Anshor. Tentu saja hal ini merupakan kejadian langka pada zamannya. Peristiwa luar biasa ini sampai diabadikan Gusti Allah dalam firmannya di QS Al Mumtahanah:12.

    Bunda Nusaibah inilah yang termasuk turut mengkondisikan Madinah sehingga menjadi tempat ternyaman untuk dakwah Rosulullah, sebab penduduknya sudah banyak yang menerima ajaran Islam.

    Beliau pulalah yang tampil luar biasa dengan memberikan “bonus” bagi perempuan yang berkenan masuk Islam akan diajarkan baca tulis. Dari jasa beliau inilah kelak di kemudian hari lahir generasi-generasi jenius dari ibu-ibu yang jenius. Yang mendakwahkan Islam hingga seluruh penjuru dunia.

    Dikisahkan, suatu pagi buta, ketika penduduk Madinah masih terlelap, beliau melihat kepulan debu dari kejauhan. Ini bukan pertanda baik. Ini merupakan pertanda ada musuh dengan pasukan berkuda dalam jumlah besar hendak menyerang Madinah.

    Perempuan agung ini segera masuk rumah. Membangunkan suami tercintanya. Sayyidina Sa’id Bin ‘Ashim RA. Beliau mengambil pedang dan memberikan kepada suaminya. Meminta supaya segera memberitahu Rosulullah.

    “Jangan kembali pulang sampai kita menang…!!!”. Itulah kalimat yang beliau ucapkan kepada sang suami. Sayyidina Said melapor kepada Rosulullah.

    Kaum Muslimin segera menggalang kekuatan. Menghadang penyerang di luar kota Madinah, di sekitar Bukit Uhud. Adapun Bunda Nusaibah tidak mau ketinggalan. Beliau segera menyiapkan perbekalan dan obat-obatan bagi para pejuang.

    Tibalah perang berkecamuk. Ketika pasukan Muslimin lengah, mengira bahwa musuh telah kalah, maka pasukan pemanah yang ada di bukit turun.

    Kesempatan ini dipakai oleh pasukan kafir menyerang kembali barisan kaum Muslimin. Lalu kocar-kacirlah barisan ini. Orang-orang bubar dari sekitar Rosulullah.

    Bunda Nusaibah meminta suaminya melindungi Rosulullah. Karena semua energi musuh ditujukan untuk menghabisi Kanjeng Nabi, maka jebollah pertahanan Sayyidina Sa’id. Beberapa kali tebasan pedang musuh mengakhiri pertahannya. Menuntaskan tugas mulia sebagai talangpati Rosulullah.

    Dan yang terjadi bisa ditebak. Pasukan kafir semakin merangsek ke arah Kanjeng Nabi. Beliau hanya menangkisi serangan dari berbagai penjuru hingga pelipis beliau terserempet anak panah.

    Melihat kejadian ini membuat Bunda Nusaibah segera bertindak. Beliau mengambil pedang dan menaiki kuda seraya memecah kepungan.

    Membabat puluhan tentara yang hendak melukai Rosulullah. Para Sahabat melihat kejadian ini terpesona luar biasa. Menyaksikan seorang perempuan menjadi perisai Rosulullah SAW.

    Lalu Para Sahabat Mulia merapatkan barisan dan berhasil memukul mundur Barisan Kafir. Kejadian ini membuat Bunda Nusaibah mendapatkan luka yang sangat parah sehingga jatuh pingsan. Beliau tidak sempat melihat akhir perang Uhud ini.

    Ketika bangun, beliau tidak bertanya tentang suami dan anaknya yang turut menjemput janji syahidnya. Yang beliau tanyakan adalah, “Bagaimana keadaan Rosulullah?”

    Ketika dijawab bahwa Baginda dalam kondisi tak kurang suatu apapun, beliau tersenyum bahagia, “Asalkan Baginda Rosul baik-baik saja, apapun yang terjadi maka biarlah terjadi”.

    Semoga cerita ini menjadi teladan bagi Ansor dan para pecintanya. Kepada perempuan NU terutama.

    Jadi, semangatlah selalu. Dan ketika Mars Banser dikumandangkan, turutlah bersemangat. Ngalap berkah Bunda tercinta kita Nusaibah Binti Ka’ab Al Anshoriyah RA. (Allahumma sholli ala Sayyidina Muhammad…). (abi sorban)

    Sumber : Aby Fidzi