
SORBAN SANTRI- Kisah ini diceritakan oleh Ketua Umum PBNU Dr KH. Idham Chalid pada tahun 1970-an pada instruktur kader NU di Cisarua Bogor Jawa Barat.




SORBAN SANTRI – Konferensi Anak Cabang (Konferancab) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Sei Beduk kembali mengamanahkan Tapuk pimpinan kepada sahabat Muhamad Fajri
Konferancab yang mengambil tema Mengamalkan Aswaja NU dan Menjaga NKRI Harga Mati, dibuka oleh Rahmad Budi Harto, S.E M.Si ketua Pimpinan Wilayah gerakan pemuda Ansor provinsi Kepri, Minggu ( 13/09/2020).
Dalam sambutannya Rahmad mengajak kepada seluruh kader-kader Ansor Banser untuk tetap aktif dan eksis serta selalu menjaga silaturahmi. ” Tetap mengedepankan silaturahmi jaga kekompakan”.
Rahmad juga menambahkan bahwa Ansor Banser harus tetap satu komando, tidak boleh melangkah sendiri-sendiri tanpa komando. Ia juga berharap Konferancab Sei Beduk ini menghasilkan pemimpin yang amanah dapat bekerja dan membesarkan Ansor Banser di Sei Beduk.
“Iya, harapanya siapapun yang terpilih menjadi ketua untuk tetap mengedepankan etika dan silaturahmi. Rangkul semua stackholder dan kibarkan bendera Ansor Banser di Sei Beduk setinggi-tingginya.”
Sementara itu ketua terpilih Ansor Sei Beduk Masa Khidmat 2020-2022, Muhammad Fajri mengatakan Konferancab ini harus dijadikan sebagai media untuk konsolidasi organisasi, bukan ajang untuk saling menjatuhkan. Dengan memperbanyak silaturahmi akan menumbuhkan semangat kekeluargaan.
“KonferAncab ini harus dijadikan sebagai media untuk konsolidasi organisasi dan terus memperkuat jati diri dan akar historisnya sebagai gerakan moral kemasyarakatan yang lahir dan dibesarkan oleh Nahdalatul Ulama.” Kata Fajri.
Untuk diketahui, Konferancab PAC Ansor Sei Beduk dilaksanakan di Mako Banser Sei Beduk, kelurahan mangsang. Selain dihadiri oleh Ketua PW Ansor Kepri terlihat juga jajaran Pengurus Cabang Ansor Batam. Selama Konferancab berlangsung, panitia menghimbau untuk tetap mengikuti protokol kesehatan dan menggunakan masker.(SORBAN Sei Beduk)


jpnn.com, LAMPUNG – Salah satu anggota Mujahid 212 Damai Hari Lubis meminta Polri segera mengusut tuntas penyerangan yang dialami Syekh Ali Jaber saat berceramah di Bandar Lampung, Minggu (13/9).
Damai meminta kepada penyidik Polri agar tidak terburu-buru menyimpulkan pelaku adalah orang gila. “Harus diusut tentang motif dari si pelaku,sehingga berani menusuk seorang ulama. Kali ini sebaiknya Polri jangan lagi terburu-buru menyimpulkan pelaku gila seperti acap kali publik dengar,” kata Damai dalam keterangannya, Minggu.
Damai menerangkan, pihaknya yang selalu mendukung para ulama mengaku bingung dan heran kepada pemerintah. Pasalnya, pemerintah seperti tidak serius dalam mengusut aksi kriminal yang dialami ulama.
“Kali ini kami sangat berharap kepolisian segera mengungkap latar belakang pelaku, apakah ini benar pelaku sengaja atau mengidap sakit jiwa,” imbuh Damai. Apabila pelaku tidak sakit jiwa, maka harus dikejar juga apa yang menjadi alasan utama penyerangan. Damai curiga ada pihak yang sengaja menyuruh pelaku menjalankan aksi tersebut.
“Harus dipastikan gila hanya pura-pura gila. Bila benar pelaku mengalami sakit jiwa, kepolisian sangat perlu melibatkan psikolog atau ahli jiwa untuk membuktikannya secara ilmiah serta bertanggung jawab secara hukum,” tegas Damai. Sebelumnya, Kabid Humas Polda Lampung Kombes Zahwani Pandra Arsyad mengatakan, Ali Jaber saat kejadian baru memberikan tausiah sekitar 15 menit di Masjid Falahuddin, Kota Bandar Lampung.
Penusuk yang teridentifikasi berbaju kuning lalu merangsek naik ke atas mimbar menusuk Ali.
“Tiba-tiba ada seseorang laki-laki tidak dikenal langsung menghampiri dari sebelah kanan. Nah, dengan itu maka terjadilah kemudian dengan refleks yang tinggi, sempat melakukan tangkisan. Tetapi kena lengan sebelah kanan di bahu,” kata Pandra kepada JPNN.com. (cuy/jpnn)




SORBAN SANTRI- SURAT TERBUKA Organisasi Papua Merdeka (OPM), Buat Presiden RI. JOKO WIDODO.
“Kami Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang sebelumnya memberontak ingin berpisah dari NKRI, kini kami memutuskan kembali kepangkuan NKRI…..”
“Setelah bertahun-tahun lamanya kekayaan alam kami dirampas, dikuras, dan diperas oleh Perusahaan-perusahaan tambang. Dampak tambang tersebut ekosistem alam kami jadi rusak sedemikian hebat. Otomatis kami protes dan memberontak, karena kami mencintai tanah warisan leluhur kami dimana jiwa kami telah menyatu dengan alam.
Rusaknya alam kami, berarti rusak jiwa raga kami.
Kami memberontak namun tidak berdaya melawan “senjata penguasa.”
Kami hanya bisa melihat dari jauh, kami hanya bisa menangis menyaksikan Surga Kecil yang dianugrahkan Tuhan untuk kami jaga dan rawat, dirusak dan diperkosa oleh penguasa yang tamak.
Tanah yang telah turun-temurun kami diami, dikotori dan diporak-porandakan oleh tangan besi.
Penguasa menghunuskan senjatanya, membunuh saudara-saudara kami yang memberontak karena mempertahankan tanah warisan nenek moyang kami.
Entah kepada siapa lagi kami mengadu, tak ada yang peduli.
Melalui surat terbuka ini kami nyatakan, bahwa telah lama kami berDoa supaya lahir seorang Pemimpin yang mempedulikan kami, peduli terhadap tanah kami, nasib kami, penderitaan kami, dan masa depan kami. Kami percaya Tuhan tidak tidur…..
Ketika kekayaan alam kami diambil, tanah kami dirusak, apa yang kami dapat? Nothing…
Kami seperti “sapi perah” bagi penguasa. Susu kami diperas dan kami ditinggalkan.
Tidak ada kompensasi nyata dari Penguasa membangun tanah kami yang katanya juga “Indonesia”.
Semua janji-janji pembangunan, janji-janji kesejahtraan, hanyalah janji-janji kosong. Buktinya nihil.
Kami sadar kalau kami sudah diperdaya oleh Penguasa yang kami harapkan, yang kami jadikan tempat mengadu dan bernaung. Sehingga kami yang dianak tirikan inipun putus asa, lalu kami berinisiatif melakukan perlawanan terhadap Penguasa dengan apapun yang kami punya, dan apapun yang kami tahu. Walaupun dengan senjata seadanya, tapi kami punya kekompakan yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Tekad kami hanya satu, “Papua harus pisah dari NKRI”! Kami menyebut diri kami Organisasi Papua Merdeka (OPM), sebagai kelompok pemberontak. Dan kamilah yang menulis surat terbuka ini supaya bisa sampai kepada Bapak Jokowi. Tanah kami yang subur, yang berlimpah kekayaan alamnya, harus kami perjuangkan meskipun dengan menyabung nyawa.
Katanya “Indonesia” tapi kami tidak diperhatikan. Katanya “Indonesia” tapi kami dianak tirikan. Katanya “Indonesia” tapi tanah kami dijarah dan kami diabaikan.
Yang kami tahu Indonesia itu ada dipulau Jawa, bukan tanah Papua atau “Sabang sampai Meraoke seperti nyanyian Lagu Kebangsaan itu”. Bukan…! Buktinya dipulau Jawa saja yang lengkap fasilitasnya, lengkap pembangunannya, dan lengkap segala-galanya.
Harga BBM mencapai Rp120 ribu, kami tidak pernah Demo. Harga kebutuhan pokok tingginya selangit, kami tidak pernah Demo. Kami tidak diajarkan untuk mengeluh dan menggerutu, kami ditempa menjadi pribadi yang tangguh untuk mampu manghadapi kerasnya kehidupan. Hingga kami terbiasa hidup dihutan, bangunan rumah hanya gubuk tanpa penerangan. Kami terbiasa hidup seadanya, kami terbisa hidup menderita, ya,, kami sudah terbiasa….
Kami tidak kenal bangunan rumah yang terbuat dari tembok semen, karena harga semen mencapai Rp 2 juta per shak. Tapi bukan berarti kami ingin terus menerus hidup seperti ini, kami juga ingin maju seperti yang lainnya.
Kami juga ingin anak-anak kami kelak bisa merasakan kehidupan yang lebih layak dan lebih baik dari kehidupan kami yang sekarang. Itu Doa kami….. Ternyata Tuhan jawab Doa kami.
“Doa kami supaya lahir seorang pemimpin yang peduli dan mengerti dengan penderitaan rakyatnya yang nyaris putus asa itu, terjawab didiri Bapak Jokowi…” Kehadiran Bapak Jokowi merupakan jawaban Tuhan atas Doa kami.
Pemimpin yang jujur dan adil ialah Bapak Jokowi.
Berkat kehadiran Bapak Jokowi, tanah kami dihargai, alam kami diperhatikan, kesejahteraan kami diperjuangkan, segala keluh-kesah kami, pergumulan kami, harapan kami, dan Doa-doa kami, semuanya terjawab.
Bukti nyata pembangunan dan infrastructure, juga program-program lainnya yang memajukan Papua, menumbuhkan harapan masa depan dan kesejahteraan bagi kami dan anak-cucu kami.
Kami Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang sebelumnya memberontak ingin berpisah dari NKRI, kini kami memutuskan kembali kepangkuan NKRI…..
Bapak Jokowi adalah anugrah terbesar bagi kami masyarakat Papua.
Bapak sudah membangun tanah kami, dan kami akan membesarkan anak-anak kami dengan sehat. Kami akan memberitahukan kepada mereka (anak-anak kami) bahwa Papua juga bagian dari NKRI.
Dan yang lebih penting adalah, kami dengan bangga hati akan menceritakan kepada anak-cucu kami bahwa dulu ada seorang Presiden yang jujur, adil, dan berjasa besar bagi pembangunan ditanah Papua. Namanya Joko Widodo.
Sejarah ini akan menjadi legenda abadi dan tak terlupakan dibumi Cendrawasih……
Kami berjanji: Sepenuh hati, jiwa dan raga, mendukung Kepememimpinan Bapak Presiden Joko Widodo, untuk Indonesia lebih maju dan disegani oleh dunia internasional….
Terima kasih Bapak jokowi, kami anak-anak Papua menyatakan: Kau adalah “Bapak Papua”
GOD BLESS YOU Godfather Joko Widodo. (post syafif hidayatulloh)
Salam Hormat…..


ketika umat nasrani menjaga masjid di New Zeland minhum pun berkata “subhanalloh, salut,kagum, kita teloransi








SORBAN SANTRI – Para ulama Ahlussunnah sepakat bahwa nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah tawqifiyyah.
Artinya bahwa nama-nama dan sifat-sifat Allah hanya ditetapkan oleh Syara’.
Yaitu ditetapkan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan oleh Rasulullah dalam Hadits-Hadits yang sahih. Tidak ditetapkan dengan jalan Ijtihad. Pendapat ini banyak diungkapkan oleh para ulama kita.
Diantaranya oleh Syekh Ibrahim al-Laqqani dalam Jawharah at-Tawhid;
واختير أن اسماه توقيفية
كذا الصفات فاحفظ السمعية
“Dan pendapat yang dipilih adalah bahwa Nama-Nama Allah adalah Tauqifiyyah.
Demikian pula Sifat-Sifat-Nya. Maka hafalkan olehmu apa yang datang secara sam’i (datang dalam ketetapan Syara’)”.
Para ulama kita mengatakan bahwa dalam menetapkan sifat-sifat bagi Allah adalah hanya dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan oleh Rasulullah dalam Hadits-Hadits yang sahih.
Ini artinya; lafazh-lafazh yang disandarkan kepada Allah yang berlaku dalam makna idhafat (penyandaran) saja maka itu semua tidak boleh ditetapkan sebagai Sifat-Sifat bagi-Nya. Al-Hafizh Ibnul Jawzi dalam bantahan terhadap kaum Musyabbihah Mujassimah berkata:
أنهم سموا الأخبار أخبار صفات، وإنما هي إضافات، وليس كل مضاف صفة، فإنه قال سبحانه وتعالى: ونفخت فيه من روحي (سورة الحجر: 29) وليس لله صفة تسمى روحا، فقد ابتدع من سمى المضاف صفة. اهـ (1)
”Mereka selalu menamakan setiap teks yang memberitakan tentang Allah sebagai sifat-sifat-Nya. Padahal tujuan teks-teks tersebut hanya untuk mengungkapkan penyandaran saja (al-Idlafah).
[Artinya penyandaran sesuatu kepada nama Allah untuk menunjukan bahwa Allah memuliakan perkara tersebut].
Padahal tidak setiap bentuk Idlafah itu dalam pengertian sifat. Contoh, firman Allah tentang Nabi Isa:
وَنَفَخْتُ فيْه مِنْ رُوْحِي (سورة الحجر: 29)
Kata “من روحي” dalam ayat ini tidak boleh dipahami bahwa Allah memiliki sifat yang disebut dengan “ruh” [lalu sebagian ruh tersebut adalah bagian dari Nabi Isa yang ditiupkan kepadanya].
(Tetapi yang dimaksud adalah bahwa ruh tersebut adalah ruh yang dimuliakan oleh Allah). Barangsiapa memahami bahwa setiap Idlafah itu sebagai sifat maka dia seorang yang telah sesat dan ahli bid’ah”.
Dengan demikian dapat kita pahami bahwa tidak setiap segala yang disandarkan kepada Allah, baik dalam teks-teks Al-Qur’an atau Hadits-Hadits Nabi dapat disebut sebagai sifat Bagi-Nya.
Kesimpulan ini harus dipahami dengan benar.
Karena jika tidak maka seseorang akan menetapkan segala apapun bagi Allah dengan dalih ada penyebutannya dalam Al-Qur’an dan Hadits, walaupun itu sifat-sifat benda, seperti gerak, turun, naik, bentuk, ukuran, tempat, arah, anggota-anggota badan, dan lainnya. Na’udzu Billah.(abi SORBAN)