Tag: sorbansantri

  • di Saat Sedekah Lebih Utama Dari Pada Ibadah Haji

    di Saat Sedekah Lebih Utama Dari Pada Ibadah Haji

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Dari TV9 menanyakan tema Kiswah sore ini. Saya jawab silahkan kalau ada usulan tema. Ternyata melihat di FB saya soal penundaan jamaah haji dan gambar orang yang tawaf dengan memberi sedekah kepada fakir dan miskin, serta kisah yang dialami seorang Tabi’in, Ibnu Mubarak. Saya pun menyanggupi tema ini.

    Kisah ulama Salaf ini sebenarnya dapat dijumpai dalam literatur kitab-kitab Fikih Syafi’iyah, seperti yang dijelaskan oleh Syekh Dimyathi Syatha, Guru para pendiri NU di Negeri Hijaz, Makkah:

    ﻭاﻟﻤﺮاﺩ ﺑﻤﻦ ﺗﺠﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﻧﻔﻘﺘﻪ اﻟﺰﻭﺟﺔ، ﻭاﻟﻘﺮﻳﺐ، ﻭاﻟﻤﻤﻠﻮﻙ اﻟﻤﺤﺘﺎﺝ ﻟﺨﺪﻣﺘﻪ، ﻭﺃﻫﻞ اﻟﻀﺮﻭﺭاﺕ ﻣﻦ اﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﻟﻮ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺃﻗﺎﺭﺑﻪ ﻟﻤﺎ ﺫﻛﺮﻭﻩ ﻓﻲ اﻟﺴﻴﺮ ﻣﻦ ﺃﻥ ﺩﻓﻊ ﺿﺮﻭﺭاﺕ اﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺑﺈﻃﻌﺎﻡ ﺟﺎﺋﻊ، ﻭﻛﺴﻮﺓ ﻋﺎﺭ، ﻭﻧﺤﻮﻫﻤﺎ ﻓﺮﺽ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻣﻠﻚ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﻛﻔﺎﻳﺔ ﺳﻨﺔ. ﻭﻗﺪ ﺃﻫﻤﻞ ﻫﺬا ﻏﺎﻟﺐ اﻟﻨﺎﺱ، ﺣﺘﻰ ﻣﻦ ﻳﻨﺘﻤﻲ ﺇﻟﻰ اﻟﺼﻼﺡ

    (Penjelasan awal bahwa orang yang wajib haji adalah orang yang memiliki kemampuan biaya transportasi ke Makkah, pulang pergi, serta biaya hidup untuk keluarga yang di rumah)

    Yang dimaksud keluarga yang wajib diberi nafkah adalah istri, keluarga dekat, hamba sahaya dan orang-orang yang sangat membutuhkan dari umat Islam, meskipun bukan keluarganya.

    Seperti telah dijelaskan oleh para ulama dalam Bab Jihad bahwa menghilangkan kesulitan umat Islam dengan memberi makan orang yang kelaparan, memberi pakaian orang yang telanjang dan sebagainya adalah fardhu kifayah (kewajiban kolektif) bagi orang yang memiliki kekayaan lebih untuk dimakan selama 1 tahun. Tetapi masalah ini banyak diabaikan oleh umat Islam hingga oleh mereka yang menganggap dirinya Soleh (I’anah At-Thalibin 2/319) kh. Ma’ruf Khozin

  • SOAL BANGKITNYA PKI ALA GATOT, KALAU KATA GUS DUR: KENAPA TAKUT? PKI AJA DITAKUTI

    SOAL BANGKITNYA PKI ALA GATOT, KALAU KATA GUS DUR: KENAPA TAKUT? PKI AJA DITAKUTI

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Gatot Nurmantyo mengarahkan tudingan serius kepada pencabut TAP MPRS 1966 soal PKI dan ajaran komunisme. Padahal sosok yang mencabut itu adalah Gus Dur. Nah lho?

    Ada yang serius dari tudingan Gatot Nurmantyo mengenai kekhawatiran soal kebangkitan PKI ketika diwawancarai Rosiana Silalahi dalam acara Rosi di Kompas TV.

    Salah satunya adalah tudingan bahwa pencabutan TAP MPRS merupakan upaya yang dilakukan oleh PKI, iya, PKI yang Partai Komunis Indonesia itu, yang kalau kata Pak Kivlan Zen sudah bangkit dan punya anggota sebanyak 60 juta—jauh lebih banyak dari yang ikut demo 212.

    Berikut kutipannya, ”Habis itu tuntutan soal pencabutan TAP MPRS nomor 1966, siapa lagi kalau bukan itu? Siapa lagi kalau bukan PKI itu?”

    Salah satu tudingan—dari banyak tuduhan sebenarnya—ada hal yang cukup unik mengenai pencabutan TAP MPRS 1966 yang disebutkan Gatot tersebut. Seperti yang kita juga sudah tahu, undang-undang ini berisi (salah satu di antaranya) mengenai larangan ajaran marxisme-komunisme dan PKI beserta dampak diskrimatif terhadap simpatisan maupun keturunannya.

    Tudingan Gatot ini sangat bisa dimaknai langsung mengarah ke K.H. Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan Gus Dur. Ya jelas, salah satu tokoh yang getol dengan pencabutan TAP MPRS pada zaman itu adalah Gus Dur ketika menjabat sebagai presiden. Hal yang pada perkembangannya jadi salah satu sebab (di antara sebab-sebab lain) Gus Dur dilengserkan dari kursi kepresidenan.

    Silogisme sederhananya ya seperti ini;

    TAP MPRS 1966 merugikan orang-orang PKI
    Orang PKI tidak suka dengan TAP MPRS 1966
    Kalau ada yang tidak suka dengan aturan ini berarti dia PKI
    Gus Dur mencabut TAP MPRS 1966
    _____ (silakan isi sendiri)

    Ketika wawancara berlangsung, Rosi sebenarnya sudah mewanti-wanti Gatot untuk memikirkan ulang jawaban ini. Sebab, tentu saja, tudingan ini sangat serius. Mengarahkan simpulan sederhana membabi buta kepada orang yang mencabut TAP MPRS adalah PKI jelas mencederai banyak ”santri-santri” Gus Dur.

    Pertanyaan seputar pilihan yang Gus Dur lakukan saat itu masih jadi perbincangan hangat—terlebih sampai saat ini. Apalagi ketika isu kebangkitan PKI selalu digaungkan setiap tahun di Indonesia.

    Jika sebelumnya Indonesia mengenal dua musim; musim hujan dan kemarau, belakangan ini kita ketambahan satu musim lagi, yakni; musim isu kebangkitan PKI, yang terjadi pada periode akhir September sampai awal Oktober.

    ”Sebab bertentangan dengan Undang-undang Dasar, Mas,” kata Gus Dur saat menjawab alasan di balik dirinya mencabut aturan tersebut.

    Undang-undang yang mana memangnya, Gus? Bukannya muncul kesan Gus Dur bisa saja dianggap melindungi orang-orang PKI?

    ”Ha terserah, kesan nggak kesan. Terserah,” jawab Gus Dur lagi seperti tidak peduli ketika diwawancara Andy F. Noya pada 2005 silam. “Undang-undang melindungi semua,” lanjut Gus Dur yang kemudian menjelaskan bahwa undang-undang itu merupakan turunan praktik dari Pancasila ketika belum ada, yang lebih dikenal dengan: Bhinneka Tunggal Ika.

    Ketidakpedulian Gus Dur mengenai citra yang diterimanya dari masyarakat inilah yang sebenarnya menggambarkan bagaimana Gus Dur lebih peduli kepada kemanusiaan ketimbang urusan politik atau urusan hukum. Bahkan sampai pada titik tertentu, Gus Dur tidak peduli dirinya harus dimusuhi oleh banyak orang. Entah apa persepsi masyakat, Gus Dur selalu berujar, ”Biar sejarah nanti yang membuktikan.”

    Dan benar, kita bisa merunut pada sejarah bagaimana sosok seorang Gus Dur dididik untuk punya rasa kepekaan terhadap sesama melebihi siapapun di republik ini. Jika dirunut dari latar pendidikannya kepekaan ini justru lahir bukan dari masa ketika Gus Dur sekolah di Mesir, Irak, atau bahkan sampai ”nyasar” ke Eropa, melainkan dari sebuah kota di Jawa Timur: Jombang.

    Di Pondok Bahrul Ulum Tambak Beras, Jombang, Gus Dur diamanahi untuk menjadi keamanan pondok. Mengurus santri-santri yang nakal. Dan sebagaimana lumrahnya bagian keamanan pondok, Gus Dur pun tak segan-segan menghukum santri-santri yang melanggar peraturan. Penegakan hukum di pondok ada di tangan Gus Dur muda saat itu.

    Sampai suatu ketika muncul kasus yang menggegerkan. Seorang santri putra ketahuan menyimpan kutang di dalam lemarinya. Iya, kutang, daleman untuk perempuan itu. Sudah barang tentu hal ini segera dilaporkan oleh Gus Dur ke pengasuh, Kiai Abdul Fattah Hasyim. Harapan Gus Dur, si santri ini bisa segera dikeluarkan saja dari pondok karena kenakalannya sudah mengarah pada perbuatan mesum.

    Tapi apa kemudian tanggapan Kiai Fattah di hadapan Gus Dur muda ketika menerima laporan?

    Santri nakal itu malah diminta untuk tinggal bersama Kiai Fattah. Benar memang dikeluarkan dari pondok, tapi justru dimasukkan ke ndalem. Ke kediaman pengasuh di kamar khusus.

    Tentu saja muncul berbagai macam pertanyaan dari keputusan Kiai Fattah ini. Bukannya muncul kesan kalau Kiai justru malah melindungi santri-santri yang nakalnya kelewatan? Uniknya, kelihatan benar Kiai Fattah tidak peduli dengan kesan dari orang lain soal pilihannya ini.

    ”Ha terserah, kesan nggak kesan. Terserah.”

    Si santri ini pun tinggal bersama Kiai Fattah. Sepanjang malam jadi ”terpaksa” ikut tahajud karena dibangunkan langsung oleh kiainya, ketika mengaji kitab jadi petugas yang mengurus kitab-kitab apa yang akan dikaji oleh kiainya, sampai kemudian si santri ini berubah benar-benar jadi orang saleh. Kenakalannya hilang tidak serta-merta, melainkan melebur karena berkumpul langsung dengan orang paling saleh dan bijak di lingkungan pesantren tersebut selama bertahun-tahun. Sosok yang tak lain tak bukan adalah Kiai Fattah sendiri.

    Dari sanalah kemudian Gus Dur mendapatkan pelajaran paling berharga dalam hidupnya—dan juga bagi bangsa ini. ”Ternyata di atas hukum, ada yang lebih penting lagi, yakni kemanusiaan,” begitu kira-kira pelajaran yang bisa dipetik.

    Secara aspek hukum dan peraturan pondok pesantren, si santri sudah sangat layak untuk dikeluarkan. Perbuatannya melebihi kenalakan santri pada umumnya. Melakukan perbuatan mesum—jangankan di pesantren—di luar pesantren sekali pun seseorang bisa berurusan secara pidana. Tapi apa yang dilakukan Kiai Fattah ini tidak seperti itu.

    Bisa saja paman Gus Dur ini memilih mengeluarkan si santri. Secara citra, Kiai Fattah bisa saja mendapatkan predikat sebagai pengasuh yang tegas, berani, dan tidak pandang bulu, tapi ada aspek lain yang diajarkan untuk mendidik para santrinya. Yakni: rasa kemanusiaan. Bahwa semua manusia selalu punya peluang untuk bisa berubah jadi lebih baik, asal kamu rela untuk memilih jalan pedang yang tidak disukai oleh banyak orang. Layaknya pilihan yang dilakukan Kiai Fattah, yang nanti ditiru Gus Dur saat jadi Presiden.

    Secara pengetahuan dan keilmuan, apa yang didapatkan Gus Dur mungkin tidak sebanyak dengan pendidikan Gus Dur di luar negeri. Namun di Tambakberas ini, Gus Dur mendapatkan pelajaran bagaimana caranya memerlakukan seorang manusia dengan sebaik-baiknya.

    Entah itu seorang mesum, entah itu seorang suporter beringas, bahkan entah itu seorang PKI sekalipun. Mereka semua manusia. Dan karena manusia, mereka pantas menerima hak-hak kemanusiaan yang tidak didapatkan dari aturan-aturan diskriminatif terhadap dosa yang belum tentu mereka pernah lakukan sebelumnya.

    ”Kalau belakangan ini ada kekhawatiran PKI akan bangkit?” tanya Andy F. Noya kemudian—sekitar 13 tahun yang lalu—kepada Gus Dur. Hadirin terdiam dengan pertanyaan yang menakutkan itu.

    ”Kenapa takut? PKI aja ditakuti,” jawab Gus Dur santai. Hadirin tertawa, ketakutan barusan hilang seketika. (SANTRINU)

  • IPPNU DAN IPPNU MWCNU PACET MEMBUKA DONASI PEDULI REKAN RIO PENDERITA LUPUS DAN KEBOCORAN GINJAL

    IPPNU DAN IPPNU MWCNU PACET MEMBUKA DONASI PEDULI REKAN RIO PENDERITA LUPUS DAN KEBOCORAN GINJAL

    SORBANSANTRI.COM
    Muhammad Rio Firmansa Basyaria berjuang Penyakit Lupus dan Kebocoran Ginjal

    SORBAN SANTRI- Muhammad Rio Firmansa Basyaria merupakan salah satu kader IPNU Kuripansari Kec. Pacet Mojokerto, yang tengah berjuang melawan komplikasi yang dideritanya pasca operasi Usus Buntu, yaitu Penyakit Lupus dan Kebocoran Ginjal.

    Saat ini rekan Rio tengah membutuhkan dukungan penuh untuk kesembuhannya. Bulan kemarin, pihak Rumah Sakit menyatakan bahwa penyakit yang diderita Rio membutuhkan waktu yang cukup lama, yakni 2 tahun 6 bulan, dan bahkan hingga seumur hidup.

    Sebagai konsekuensi, rekan Rio diharuskan untuk menjalani opname intensif tiap bulannya dengan  Kemo Terapi, sampai pihak Rumah Sakit menyatakan penyakit yang dideritanya benar-benar sembuh. Tentunya biaya yang dibutuhkan juga tidak sedikit. Sedikitnya total biaya yang dibutuhkan ditaksir mencapai nominal angka 40 juta.

    Oleh karena itu, kami atas nama solidaritas kemanusiaan pelajar mengajak seluruh lapisan masyarakat Indonesia untuk ikut serta membantu dalam proses penyembuhan rekan Rio.

    Uluran donasi berupa dana sangat kami butuhkan dalam hal ini dengan kisaran nominal minimal Rp. 1000 sampai tak terhingga.

    Penyaluran Donasi :

    • Via Transfer Bank BRI : 7856-01-006289-53-7 (A.n.M RIZKILLAH)
    • Via PAYPAL https://www.paypal.me/pedulirio
    • Via Offline melalui Ketua PAC IPNU-IPPNU Pacet/Ketua Ranting IPNU-IPPNU Kuripan sari

      Sesudah menyalurkan donasi wajib konfirmasi ke CP yang ada.

    Kontak Person:

    • +62 815-5440-0274 (Rizkillah)
    • +62 813-3565-1335 (Amy)

    Dengan ini, kami akan sangat berterimakasih apabila masyarakat majemuk bersedia menyisihkan sedikit rezeki yang dimiliki untuk berdonasi. (Abi SORBAN)

  • Ketika Para Ulama Besar Bertemu.

    Ketika Para Ulama Besar Bertemu.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Merendahlah, karena sebagaimana air, ilmu tak akan pernah mengalir ke tempat yang lebih tinggi…. Ini sejumput cerita tentang seorang ulama besar bernama Syekh Abu Ishaq Asy-Syirazi (393–476 H/1003–1083 M).

    Nama lengkap ulama besar mazhab Syafi’i ini adalah Abu Ishaq Ibrahim bin Ali bin Yusuf bin Abdillah Asy-Syirazi Al-Fayruzabadi. Kitab Al-Muhazzab karya Imam Abu Ishaq Asy-Syirazi adalah salah satu kitab rujukan utama dalam mazhab Syafi’i sampai abad ke 6 hijriah.

    Al-Muhazzab banyak menjadi bahan kajian ilmiah bagi para ulama, sehingga muncul banyak karya ilmiah yang didasarkan darinya baik berupa Syarah dan Hasyiah. Yang paling termasyhur tentu saja kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab karangan Imam Nawawi.

    Suatu ketika Syekh Abu Ishaq Asy-Syirazi menjadi utusan Khalifah ke Bastam dalam menyelesaikan ketegangan yang terjadi antara Sultan Malik Syah dengan ‘Amid Abu al-Fath bin Laits, seorang pejabat di Iraq.

    Demikian dikisahkan dalam al-Kamil fit Tarikh (juz 8, halaman 283). Ini artinya Khalifah al-Muqtadi sangat mempercayai Syekh Abu Ishaq Asy-Syirazi.

    Nama besar Syekh Abu Ishaq asy-Syirazi, sebagai utusan Khalifah, menjadi magnet tersendiri. Para ulama keluar menemui beliau, termasuk Syekh Juwaini yang dikenal sebagai Imam al-Haramain, guru dari Imam al-Ghazali. Rakyat juga berbondong-bondong menyambut sambil membawa roti dan buah-buahan.

    Dikisahkan seorang Syekh Sufi bernama as-Sahlaki mendatangi Syekh Abu Ishaq asy-Syirazi. Ibn al-Atsir menyebut Sahlaki ini sebagai “Syaikhun Kabirun”. Abu Ishaq yang diberitahu kedatangan Syekh as-Sahlaki ini langsung keluar menemuinya dengan berjalan kaki.

    Syekh as-Sahlaki segera turun dari kendaraannya dan mencium tangan Syekh Abu Ishaq. Syekh Abu Ishaq membalas penghormatan ini dengan mencium kaki Syekh as-Sahlaki, lantas menempatkan Syekh as-Sahlaki di kursinya, sementara Syekh Abu Ishaq memilih duduk di bawah di antara kedua tangan Syekh as-Sahlaki.

    Jelas tampak kedua orang ulama besar berbeda disiplin ilmu ini saling menghargai. Yang satu ahli fiqh; satunya lagi seorang sufi. Syekh as-Sahlaki memberi hadiah, yang disebut-sebut merupakan perbendaharaan dari masa Syekh Abu Yazid al-Busthami, seorang sufi agung generasi sebelumnya. Syekh Abu Ishaq asy-Syirazi menerimanya dengan gembira.

    Syekh as-Sahlaki ini, hasil pelacakan saya, nama lengkapnya adalah Abu al-Fadl Muhammad bin Ali bin Ahmad as-Sahlaki. Beliau mengumpulkan berbagai pernyataan dan ujaran Syekh Abu Yazid al-Busthami.

    Itulah contoh pertemuan antara seorang faqih dengan seorang sufi. Contoh ini menjadi penting karena seringkali terjadi pertentangan antara ahli Hadits dengan ahli Fiqh, dan juga antara ahli Fiqh dengan ahli Tasawuf. Maka jauh-jauh hari Imam Malik sudah mengingatkan:

    “Barang siapa bertasawuf tanpa berfikih maka dia zindiq. Barang siapa berfikih tanpa bertasawuf maka dia fasik. Barang siapa menggabung keduanya maka dia akan sampai pada hakikat.”

    Para ulama, apapun disiplin keilmuannya, bila bertemu akan saling menghormati.
    Bahkan kalaupun mereka saling berbeda pandangan.
    Tidak ada caci-maki yang keluar dari lisan mereka. Itulah akhlak yang diwariskan kepada kita semua.
    Maukah kita meneladaninya?
    Insya Allah.

    Sumber:
    Dalam kitab al-Kamil fit Tarikh (juz 8, halaman 283).

  • APA MAKSUDNYA CARA CEPAT BELAJAR AGAMA?

    APA MAKSUDNYA CARA CEPAT BELAJAR AGAMA?

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Melihat postingan ini, saya (kyai abdi Kurnia djohan) menduga bahwa penyampai informasi ini tidak membaca kitab Hadits Shahih al-Bukhari, walaupun sering mendaku sebagai pengamal sunnah. Apa pasal? Sebab, di dalam kitab shahih al-Bukhari dimuat hadits tentang tidak terburu-buru di dalam mempelajari ilmu agama atau belajar agama.

    Di sini saya hanya menampilkan sekelumit saja dari Shahih al-Bukhari. Bahwa sejak menerima wahyu surat al-Mudatsir, Rasulullah tidak mendapatkan wahyu selama beberapa bulan. Syaikh Ahmad Khudhori Beik di dalam kitab Nurul Yaqin menulis kira-kira 2 bulan Rasulullah tidak menerima wahyu.

    Rasulullah rindu dengan kedatangan malaikat Jibril alaihissalam. Beliau sangat mengharapkan datangnya wahyu. Di tengah tingginya semangat itu, Allah menegur beliau dengan ayat:

    (لَا تُحَرِّكۡ بِهِۦ لِسَانَكَ لِتَعۡجَلَ بِهِۦۤ)

    Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur’an) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.

    [Surat Al-Qiyamah 16]

    Peristiwa turunnya ayat ini diriwayatkan di dalam Shahih al-Bukhari. Sejak turunnya ayat tersebut, Rasulullah menerapkan pola belajar tidak menambah pelajaran kepada para sahabat, sebelum mereka paham 10 ayat. Kabar tentang penerapan pola ini disampaikan oleh Sayyidina Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu.

    Dari situ, kita bisa menarik simpulan bahwa Rasulullah dan para sahabat tidak menerapkan cara cepat di dalam belajar agama. Rasulullah menerapkan sebuah pola yang mendorong umatnya untuk memahami muatan nilai yang terdapat di dalam al-Qur’an, termasuk juga sunnah beliau.

    Pola yang tidak mengutamakan kecepatan di dalam belajar itu pula yang dipahami oleh al-Imam Abdullah bin al-Mubarak yang mengatakan bahwa mempelajari adab lebih didahulukan daripada ilmu. Para ulama salaf menjelaskan bagaimana mereka berjuang selama puluhan tahun untuk memahami adab dan mempelajari ilmu selama beberapa tahun.

    Jadi, belajar agama tidak mengenal istilah cara cepat. Karena akhir dari rangkaian proses mempelajari ilmu agama bukan untuk mendapat sebutan syaikh, kiai, ustadz atau profesor. Tapi, akhir dari proses belajar agama adalah menjadi hamba Allah (abdullah). Dan sebutan itu, nanti Allah sendiri yang menyampaikan ketika semua berjumpa dengan Allah pada hari kiamat. Wallahu a’lam. (ALA_NU)

  • Tokoh Agama Dunia Bingung pada NU

    Tokoh Agama Dunia Bingung pada NU

    SORBANSANTRI.COM
    Syeikh al-Bouthiy dan NU

    SORBAN SANTRI- Ketika KH Aunullah A’la Habib (Gus Aun) ke Yerussalem, Israel saat pertemuan tokoh-tokoh agama di dunia, kemudian ada keheranan dari yang hadir pada pertemuan tersebut.

    Mereka heran kenapa ada organisasi masyarakat Islam modelnya seperti NU. Warganya 90 juta (sekarang 100 juta lebih), punya militer seperti Banser waktu itu 5 juta (sekarang lebih), punya kumpulan pendekar yaitu Pagar Nusa yang jumlahnya jutaan. Tapi tidak pernah mau menguasai atau mengambil alih kepemimpinan di Indonesia. Mereka pun terheran-heran. Mereka heran, apa karena memang NU tidak tahu caranya atau bagaimana.

    Kemudian Gus Aun pun menjelaskan, bahwa orang-orang NU itu adalah murid-murid para ulama yang punya sanad keilmuan yang nyambung kepada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.

    Artinya, orang-orang NU belajar kepada ulama tidak pernah diajarkan untuk merebut kekuasaan, menguasai, bughot atau memberontak. Yang diajarkan oleh para kyai-kyai NU adalah bahwa orang-orang NU harus menjadi rahmat dan menebar kemanfaatan dan membantu Indonesia untuk lebih baik. Itu saja. Sekali lagi tidak ada dalam kamus NU untuk kudeta.

    Mereka pun masih belum paham dengan jawaban Gus Aun, dan mereka masih tetap bingung. Sebab, mau dijelaskan bagaimana pun, mereka tetap akan bingung dengan NU.

    Tapi itulah NU. Tidak ada di dunia ini ormas seperti NU yang tidak punya tujuan kudeta. Tidak ada.

    Begitulah NU. Maka bersyukur alhmadulillah karena NU telah dibimbing oleh ulama-ulama dan kiai-kiai yang senantiasa terus istiqamah, berkomitmen untuk NKRI.

    (KH Aunullah A’la Habib)

  • Pelantikan Masa khidmat 2020-2022 Fatayat PCINU Ranting Taichung – Taiwan

    Pelantikan Masa khidmat 2020-2022 Fatayat PCINU Ranting Taichung – Taiwan

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Taiwan, Taichung
    minggu, 14 Juni 2020 Pelantikan Fatayat PCINU Ranting Taichung – Taiwan Oleh Ketua Fatayat pusat Taiwan, Masa khidmat 2020-2022.

    Beserta Pengajian Umum dalam rangka peresmian “Musholla Nahdlatul Ulama” PCINU Taiwan Ranting Taichung, bersama Romo Yai Arif Yudi (Ketua Tanfidziyah PCINU Taiwan).

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    Semoga kedepanya PCINU Taiwan bersama Banom banomnya (Ansor, Banser, Fatayat, Muslimat, lazisnu, dls) selalu diberikan kemudahan, kelancaran, kesuksesan dan keberkahan dalam menebarkan Syiar Islam Ahlussunnah Wal Jamaah AnNahdliyah di Negara Taiwan, yang moderat, ramah, santun, dan damai, tetap mengutamakan Adab, Akhlaq, teposeliro dan budipekerti yang baik Ciri khas Budaya Nusantara Indonesia. (RED)

    PCINU Taiwan
    PCINU Taiwan Ranting Taichung
    PCINU Taiwan Ranting Changhua
    PCINU Taiwan Ranting Kaohsiung
    #GenerasiMudaNU
    #GenerasiMudaNUTaiwan

  • Gus Baha’: Agama Itu Dimulai dari Kesenangan

    Gus Baha’: Agama Itu Dimulai dari Kesenangan

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Islam sebagai agama tidak pernah membuat penganutnya merasakan penderitaan. Hanya orang-orang yang tidak taat saja yang merasa gelisah dan menderita. Mereka menjebak dirinya dalam kesulitan, keresahan dan penderitaan. Padahal agama sudah memberi jalan dan ruang yang penuh dengan keceriaan, kenikmatan, ketenangan, bahkan ‘kepuasan’.

    Tidak heran jika Gus Baha’ menyampaikan “Agama itu dimulai dari kesenangan, happy, farah kalau dalam bahasa Arab” Karena Agama sendiri adalah jalan dan ruang yang indah penuh kedamaian. Maka memulainya tentu dengan kesenangan, sebab orang yang beragama melangkah di jalan kemudian masuk di ruang yang terang oleh cahaya kebahagiaan.

    Lebih tegas Gus Baha menghaturkan ayat,

    قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

    “Katakanlah, Wahai Muhammad, dengan fadhal Allah, anugerah Allah dan rahmat Allah. Kemudian dengan itu kamu harus senang. Sehingga dengan senang kepada Allah dan Rasul itu nikmatnya masyaallah“.

    Siapa yang tidak menginginkan anuegrah dan berharap rahmat Allah? Siapapun pasti menunggu ini semua. Karena ketika seorang hamba mendapatkan anugerah dan merasakan rahmat Allah, dia akan mendapatkan kenikmatan yang tiada tara. Apalagi sampai larut dalam kesenangan kepada Allah dan Rasul-Nya. Sungguh tidak ada apapun yang bisa menandinginya.

    Dawuh Gus Baha’ “Andaikan senang itu bisa ditakar, orang yang sedang tahajjud, menangisi dosanya. Itu senengnya jika dibandingkan dengan orang yang sedang dugem, mesti kalah, mesti senengan sedang tahajjud. Karena orang-orang maksiat itu sebenarnya orang-orang yang susah”

    Ya, sungguh senang tiada kata yang sanggup menjelaskannya, jika seseorang sudah menemukan manisnya beribadah kepada Allah. Dan tidak ada orang yang merasa, kesenangan yang didapatkan dari kemaksiatan menjadi kesenangan yang membuat dirinya bahagia, justru dia gelisah dan susah. Sungguh berbeda antara kesenangan yang dirasakan dari ketaatan dan kemaksiatan.

    Gus Baha’ menggambarkan orang yang shalat tahajjud, “Sementara orang yang tahajjud senengnya sangat terasa dan terus diingat. Semisal tadi malam bagaimana menangisi dosa, menangisi nasib. Kemudian menjadi tenang karena kembali ingat kepada Allah dan Rasul. Itu luar biasa senengnya”

    Alhasil, kunci mendapatkan kesenangan beribadah adalah dimulai dengan rasa senang. Jika sudah dimulai dengan kesenangan, ibadah pun menjadi nyaman dilaksanakan. Kemudian berbuah menjadi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Inilah yang dilakukan oleh para ulama kita.

    Karena para ulama sangat mengerti bahwa agama itu adalah jalan kesenangan, maka memulainya harus dengan rasa senang sehingga merasakan manisnya beribadah. Berbeda dengan orang yang melakukan ibadah karena merasa beban atau sekedar menggugurkan kewajiban. Sehingga bukan dengan rasa kesenangan untuk memulai beribadah, melainkan karena keterpaksaan. Mana bisa orang yang dalam keterpaksaan dan tak ada rasa senang akan merasakan kesenangan. Untuk merasakan senang harus diawali dengan senag juga.

    Sama juga seseorang yang menyampaikan dakwah agama. Ketika ia berdakwah dengan main klaim salah sana sini, ditambah dengan kata yang tidak pantas alias umpatan caci maki, bisa saja dia memulai dakwah agama berdasarkan kebencian bukan kesenangan. Na’udzubillah.

    Disarikan dari ngaji bareng Gus Baha pada link video https://www.youtube.com/watch?v=xj0WuVOLA10

    Semoga kita bisa meneladani orang-orang saleh! (Gus tama)

  • ANSOR BANSER ALABIO KALSEL BERSINERGI MELAKUKAN PENGGALANGAN DANA UNTUK MUSIBAH KEBAKARAN

    ANSOR BANSER ALABIO KALSEL BERSINERGI MELAKUKAN PENGGALANGAN DANA UNTUK MUSIBAH KEBAKARAN

    SORBANSANTRI.COM
    Ansor Banser Alabio

    BANSER SATKORWIL KALIMANTAN SELATAN- Jiwa, semangat, peduli tidak kenal lelah dilakukan oleh Ansor, Banser Balakar (Barisan Ansor Serbaguna Penanggulangan Kebakaran) Cabang Alabio Kalimantan Selatan. Upaya mereka dilakukan dengan cara memberikan motivasi pada warga yang terdampak dan melakukan penggalangan dana untuk warga Desa Banyu Tajun Hulu yang di timpa musibah kebakaran.

    SORBANSANTRI.COM
    Penggalangan dana oleh Ansor Banser Alabio Kalimantan Selatan

     

    Kegiatan penggalangan dana tersebut dilakukan 3 hari yang dimulai dari Tanggal 15-17 Juni 2020 dengan 3 titik lokasi, yaitu Jembatan H.Fakhrudin, Pasar Alabio dan Jalan Desa Sungai Sandung. Dengan harapan agar semua warga dan pengendara ikut apresiasi dengan jalan amal sebagai wujud kepedulian sosial terhadap sesama. Dan mudah-mudahan semua dan apa saja yang sudah sahabat Ansor Banser Balakar mendapat ganjaran pahala dari Allah SWT & mendapat keberkahan.Ungkap M.Said (ketua GP Ansor Alabio).

    SORBANSANTRI.COM SORBANSANTRI.COM

    Dari semua aktivitas dan kegiatan tersebut, tidak luput dari adanya koordinasi yang bagus antara Ketua PC GP Ansor Alabio M.Said dan Kasatkorcab Banser Alabio Rif’at. Dengan harapan kedepan agar marwah dalam berorganisasi yang membawa misi sebagai pasukan penjaga aqidah Ahlussunnah wal jama’ah, dapat apresiasi yang bagus untuk warga, negara dan agama. Sebagai salah satu syiar yang perlu dan harus dijaga.(Gusti FikRa Hidayatullah)

  • Seleksi Ketat Menjadi Guru Agama

    Seleksi Ketat Menjadi Guru Agama

    SORBANSANTRI.COM

    Imam Al-Ghazali berkata:

    ﻭﻗﺪ ﺣﻜﻲ ﻋﻦ ﺑﻌﺾ اﻷﻣﻢ اﻟﺴﺎﻟﻔﺔ ﺃﻧﻬﻢ ﻛﺎﻧﻮا ﻳﺨﺘﺒﺮﻭﻥ اﻟﻤﺘﻌﻠﻢ ﻣﺪﺓ ﻓﻲ ﺃﺧﻼﻗﻪ، ﻓﺈﻥ ﻭﺟﺪﻭا ﻓﻴﻪ ﺧﻠﻘﺎً ﺭﺩّﻳﺎً ﻣﻨﻌﻮﻩ اﻟﺘﻌﻠﻢ ﺃﺷﺪ اﻟﻤﻨﻊ.

    Telah diceritakan dari generasi sebelumnya bahwa mereka menguji para murid selama menjadi pendidik akhlaknya. Jika mereka tidak lulus maka mereka tidak diperkenankan melanjutkan

    ﻭﻗﺎﻟﻮا ﺇﻧﻪ ﻳﺴﺘﻌﻴﻦ ﺑﺎﻟﻌﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﻣﻘﺘﻀﻰ اﻟﺨﻠﻖ اﻟﺮﺩﻱ، ﻓﻴﺼﻴﺮ اﻟﻌﻠﻢ ﺁﻟﺔ ﺷﺮّ ﻓﻲ ﺣﻘﻪ

    Para guru mengatakan: “Ilmu bagi orang yang berakhlak buruk akan menjadi alat berbuat kejelekan baginya”

    ﻭﺇﻥ ﻭﺟﺪﻭﻩ ﻣﻬﺬﺏ اﻷﺧﻼﻕ ﻗﻴﺪﻭﻩ ﻓﻲ ﺩاﺭ اﻟﻌﻠﻢ، ﻭﻋﻠّﻤﻮﻩ ﻭﻣﺎ ﺃﻃﻠﻘﻮﻩ ﻗﺒﻞ اﻻﺳﺘﻜﻤﺎﻝ، ﺧﻴﻔﺔ ﺃﻥ ﻳﻘﺘﺼﺮ ﻋﻠﻰ اﻟﺒﻌﺾ، ﻭﻻ ﺗﻜﻤﻞ ﻧﻔﺴﻪ، ﻓﻴﻔﺴﺪ ﺑﻪ ﺩﻳﻨﻪ ﻭﺩﻳﻦ ﻏﻴﺮﻩ

    Jika mereka memiliki akhlak yang baik maka mereka dikarantina di tempat pendidikan (pesantren), mereka diajari dan tidak dilepaskan (wisuda) sebelum sempurna. Khawatir ilmunya setengah matang dan tidak sempurna bagi dirinya. Maka MEMBAHAYAKAN bagi AGAMANYA dan AGAMA ORANG LAIN.

    ﻭﺑﻬﺬا اﻻﺧﺘﺒﺎﺭ ﻗﻴﻞ: ” ﻧﻌﻮﺫ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﻧﺼﻒ ﻣﺘﻜﻠﻢ ﻭﻧﺼﻒ ﻃﺒﻴﺐ. ﻓﺬﻟﻚ ﻳﻔﺴﺪ اﻟﺪﻳﻦ ﻭﻫﺬا ﻳﻔﺴﺪ اﻟﺤﻴﺎﺓ اﻟﺪﻧﻴﺎ “.

    Oleh karena itu ada ungkapan: “Kami berlindung kepada Allah dari ahli agama yang setengah matang dan dari dokter setengah matang. Yang itu merusak agama dan yang ini merusak kehidupan dunia” (Mizan Al-Amal 1/370)

    Kita tidak menghalangi siapapun untuk berdakwah, untuk berbagi ilmu, mengajak kebaikan dan seterusnya. Tapi bagi mereka yang tidak menjalani pendidikan Agama Islam mulai dari dasar hingga tingkat tertinggi diharapkan untuk sadar diri dalam berfatwa, mengambil hukum dari Al-Qur’an dan Hadis, menentang ulama yang lebih alim dan sebagainya.

    #KHmarufKhozin