Tag: sorbansantri

  • TEKS ARAB QUNUT NAZILAH

    TEKS ARAB QUNUT NAZILAH

    SORBAN Infokom – PBNU menghimbau membaca qunut nazilah yang merupakan salah satu daripada tiga jenis qunut yang sunat dibaca mengikut Mazhab Syafii selain qunut dalam Solat Subuh dan qunut pada separuh malam kedua terakhir Ramadan dalam Solat Sunat Witir.

    Qunut Nazilah sunat dibacakan ketika umat Islam didatangi bala bencana atau ditimpa musibah seperti peperangan, wabak, kemarau dan sebagainya. Bacaan Qunut Nazilah ini pernah dibacakan oleh Rasulullah allallahu`alaihi wasallam ketika kejadian pembunuhan beramai-ramai 60 orang penghafaz al-Quran selama sebulan berdasarkan hadis berikut yang bermaksud:

    “Sesungguhnya Nabi sallallahu`alaihiwasallam telah membaca doa qunut pada waktu selain dari Subuh ketika turunnya sewaktu pembunuhan sahabat-sahabatnya penghafaz-penghafaz al-Quran.”

    SORBANSANTRI.COM

    Adapun bacaan Teks Arab Qunut Nazilah sebagai berikut:

    اَللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيْمَنْ هَدَيْتَ, وَعَافِنَا فِيْمَنْ عَافَيْتَ, وَتَوَلَّناَ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ, وَبَارِكْ لَناَ فِيْمَا اَعْطَيْتَ
    وَقِناَ شَرَّمَا قَضَيْتَ, فَإِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ, فَإِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ, وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ, تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ نَسْتَغْفِرُكَ وَنَتُوْبُ إِلَيْكَ

    Artinya : Ya Alloh tunjukkanlah kepadaku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk. Dan berilah kesehatan kepadaku sebagaimana mereka yang telah Engkau berik kesehatan. Dan peliharalah diriku sebagaimana orang yang telah Engkau peliharakan.

    Dan berilah keberkahan bagiku pada apa-apa yang telah Engkau kurniakan. Dan selamatkan aku dari bahaya kejahatan yang Engkau telah tentukan. Maka sesungguhnya Engkaulah yang menghukum dan bukan kena hukum.

    Maka sesungguhnya tidak hina orang yang Engkau pimpin. Dan tidak mulia orang yang Engkau memusuhinya. Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha tinggi.

    Hanya untuk-Mu segala pujian diatas yang Engkau tentukan. Aku memohon ampun dari-Mu dan aku bertaubat kepada Engkau (Dan semoga Allah) mencurahkan rahmat dan sejahtera kepada junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

    اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِينُكَ وَنَسْتَغْفِرُ كَ وَنَسْتَهْدِيكَ وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْكَ وَنُثْنِي عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ نَشْكُرَكَ وَلَا نَكْفُرُكَ وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ
    اَللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَكَ نُصَلِّي وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ نَرْجُو رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ إِنَّ عَذَابَكَ الْجِدَّ بِالْكُفَّارِ مُلْحَقٌ

    Artinya: “Tuhan kami, kami memohon bantuan-Mu, meminta ampunan-Mu, mengharap petunjuk-Mu, beriman kepada-Mu, bertawakkal kepada-Mu, memuji-Mu, bersyukur dan tidak mengingkari atas semua kebaikan-Mu, dan kami menarik diri serta meninggalkan mereka yang mendurhakai-Mu.

    Tuhan kami, hanya Kau yang kami sembah, hanya kepada-Mu kami hadapkan shalat ini dan bersujud, hanya kepada-Mu kami berjalan dan berlari.

    Kami mengaharapkan rahmat-Mu. Kami takut pada siksa-Mu karena siksa-Mu yang keras itu akan menimpa orang-orang kafir.”

    اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّاالْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْشَّدَائِدَ وَالْفِتَنِ وَالْمِحَنَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ
    وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

  • LAZISNU MWC NU PACET BAGIKAN HAND SANITIZER

    LAZISNU MWC NU PACET BAGIKAN HAND SANITIZER

    SORBAN Infokom – Ditengah maraknya pemberitaan dan kabar tentang virus Corona ( covid-19) Sahabat Anas Atas nama perwakilan Lazisnu MWC pacet dan Sahabat Yusril sebagai perwakilan IPNU/IPPNU Pacet, ikut berpartisipasi dalam pembagian hand sanitiser.Acara pembagian sanitizer ke masjid-masjid dimulai pukul 13.00 wib ( selesai sholat jum’at) sampai pukul 17.00 wib. (Jum’at, 27 Maret 2020)
    kegiatan tersebut dimulai dari berkumpulnnya tim di graha NU pacet ke timur sampai Desa Cembor, ke utara Desa Pandan, terakhir ke selatan Desa Pacet.

    Sasaran tujuan utama adalah masjid tiap-tiap jalur yang disebutkan tadi dan yang diutamakan masjid jalur raya yang sering didatangi jama’ah dari luar kota.
    Adapun agenda yang dilakukan adalah untuk mendukung progam NU PEDULI dalam hal tanggap covid-19 agar dapat meminimalisir penyebaran virus corona khususnya di Kawasan Pacet. Sahabat Anas berharap LAZIZNU MWC Pacet bisa berperan aktif dalam mencegah penyebaran virus covid-19 dan tentunya wabah corona segera berakhir. ( red. abi SorBan Infokom )

  • RAHASIA NABI KHIDIR BERUMUR PANJANG

    RAHASIA NABI KHIDIR BERUMUR PANJANG

    SORBAN Infokom –  Kisah ini diriwayatkan oleh Ats-Tsa’labi dari Imam Ali ra.

    Semoga dengan kisah ini akan lebih memantapkan keimanan kita kepada Allah SWT, bahwa jika Allah SWT berkehendak maka akan TERJADILAH. Tak seorang pun yang mampu menghalanginya.

    Berikut Kisahnya.

    Pada zaman dahulu hiduplah seorang hamba Allah SWT yang melebihkan kepada dirinya dengan menjadi seorang raja. Dialah Raja Iskandar Zulkarnaen, yang namanya telah tersebut dalam Al Qur’an.

    Pada tahun 322 SM, Raja Iskandar Zulkarnaen berniat mengadakan perjalanan untuk mengelilingi bumi dan Allah SWT mewakilkan salah satu malaikatnya yang bernama Rofa’il untuk menyertainya dalam perjalanan panjang itu.

    Dialog Malaikat dan Raja Iskandar Zulkarnaen.

    Karena ditemani oleh seorang malaikat, Raja Zulkarnaen banyak mengajukan pertanyaan seputar dunia dan akhirat serta isinya. Salah satu pertanyaan yang paling terkenal adalah tentang ibadah para malaikat di langit.

    “Wahai Malaikat Rofa’il, ceritakanlah kepadaku tentang ibadahnya para malaikat yang ada di langit,” tanya Raja Zulkarnaen.

    “Para malaikat yang ada di langit ibadahnya ada yang berdiri tidak mengangkat kepala selama-lamanya, ada juga yang bersujud tidak mengangkat kepala selama-lamanya, ada pula yang rukuk tidak mengangkat kepala selama-lamanya,” jawab Malaikat Rofa’il.

    “Duh, alangkah senangnya hati ini seandainya aku bisa hidup bertahun-tahun lamanya untuk beribadah kepada Allah SWT,” kata Raja Zulkarnaen.

    “Wahai raja, sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan sumber air di bumi. Namanya Ainul Hayat, artinya sumber air hidup. Maka barang siapa yang meminum airnya seteguk, maka ia tidak akan mati sampai hari kiamat atau jika ia memohon kepada Allah SWT untuk dimatikan,” kata Malaikat Rofa’il.

    “Apakah engkau tahu tempat Ainul Hayat itu wahai Malaikat Rofa’il?” tanya raja.

    “Sesungguhnya Ainul Hayat itu berada di bumi yang gelap,” jawab Malaikat Rofail.

    Setelah Raja Zulkarnaen mendengar penuturan malaikat Rofa’il tentang Ainul Hayat itu, maka raja segera mengumpulkan para alim ulama pada saat itu. Sebelumnya, raja bertanya kepada mereka tentang letak Ainul Hayat, tapi mereka semua menjawab tidak tahu.

    “Wahai para alim ulama, tahukah kalian dimanakah letak Ainul Hayat itu?” tanya raja.

    “Kami tidak mengetahuinya wahai baginda, hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui,” jawab salah seorang ulama.

    Di luar dugaan, dari pertanyaan Raja Zulkarnaen tersebut, ada salah seorang ulama yang mampu menjawab meski tidak sedetail letaknya.

    “Sesungguhnya aku pernah membaca di dalam wasiat Nabi Adam as bahwa beliau berkata bahwa sesungguhnya Allah SWT meletakkan Ainul Hayat itu di bumi yang gelap,” kata ulama itu.

    “Dimanakah bumi yang gelap itu?” tanya raja.

    “Yaitu di tempat terbitnya matahari,” jawab orang alim ulama itu.

    Kemudian Raja Zulkarnaen menyuruh para pengawalnya untuk menyiapkan segala keperluan untuk mencari dan mendatangi tempat Ainul Hayat itu.

    “Kuda apa yang sangat tajam penglihatannya di waktu gelap?” tanya raja.

    “Kuda betina yang masih perawan,” jawab para sahabatnya.

    Akhirnya raja mengumpulkan seribu kuda betina yang masih perawan dan ia memilih diantara 6 ribu tentaranya yang pandai serta ahli dalam mencambuk. Di antara para tentara itu, ada yang bernama Nabi Khidir as, bahkan beliau menjabat sebagai perdana menteri kala itu.

    Perjalanan Mencari Ainul Hayat.

    Setelah dirasa semua cukup dan siap, maka berangkatlah Raja Zulkarnaen dan Nabi Khidir as yang berjalan di depan pasukan. Setelah sekian lama mencari, akhirnya mereka mengetahui tempat terbitnya matahari.

    Mereka pun menuju arah terbitnya matahari tersebut.

    Perjalanan ke tempat tujuan tersebut memakan waktu 12 tahun lamanya untuk sampai di bumi yang gelap itu. Gelapnya bukanlah seperti di waktu malam hari, melainkan gelap karena ada pancaran seperti asap.

    Raja Zulkarnaen sudah tak sabar lagi hendak masuk ke tempat gelap itu, namun salah seorang cendikiawan mencegahnya. Para tentara berkata kepada raja,

    “Wahai Baginda, sesungguhnya raja-raja yang terdahulu tidak ada yang masuk ke tempat gelap ini, karena tempat yang gelap ini berbahaya.”

    “Wahai prajurit, kita harus memasukinya, tidak boleh tidak,” sanggah sang raja.

    Karena raja bersikeras hendak masuk, maka tak ada seorang pun yang berani melarangnya.

    “Diamlah dan tunggulah kalian di sini selama 12 tahun. Jika aku bisa datang kepada kalian dalam masa itu, maka kedatanganku terhadap kalian termasuk baik. Dan jika aku tidak datang dalam 12 tahun, maka pulanglah kalian kembali ke negeri kalian,” ujar sang raja.

    Setelah itu raja mendekat dan bertanya kepada malaikat Rofa’il,

    “Apabila kita melewati tempat gelap ini, apakah kita dapat melihat kawan-kawan kita?”

    “Tidak bisa kelihatan<” jawab Malaikat Rofa’il.

    “Akan tetapi aku memberimu sebuah merjan atau mutiara. Jika mutiara itu ke atas bumi, maka mutiara itu dapat emnjerit dengan suara yang keras, dengan demikian kawan-kawan kalian yang tersesat jalan dapat kembali kepada kalian,” jelas Malaikat Rofa’il lebih lanjut.

    Masuk ke Ainul Hayat.

    Demikianlah, akhirnya Raja Iskandar Zulkarnaen masuk ke tempat yang gelap itu. Selama 18 hari lamanya tidak pernah melihat matahari dan bulan, tidak pernah melihat malam maupun siang. Tidak pernah melihat burung dan binatang liar, sedangkan raja berjalan dengan didampingi Nabi Khidir as.

    Pada saat mereka berjalan, maka ALlah SWT memberi wahyu kepada Nabi Khidir as.

    “Bahwa sesungguhnya Ainul Hayat itu berada di sebelah kanan jurang dan Ainul Hayat ini Aku khususkan untuk kamu.”

    Setelah Nabi Khidir as menerima wahyu itu, beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya,

    “Berhentilah kalian di tempat masing-masing dan jangan kalian emninggalkan tempat kalian sebelum aku datang kepada kalian.”

    Kemudian Nabi Khidir as menuju kanan jurang hingga beliau menemukan Ainul Hayat itu. Beliau turun dari kudanya, melepaskan pakaiannya dan turun ke Ainul Ahaya tersebut. Beliau mandi dan minum air sumber hidup tersebut dan beliau merasakan bahwa airnya lebih manis daripaada madu.

    Sesudah mandi dan minum air tersebut, beliau keluar dari tempat itu kemudian menemui Raja Iskandar Zulkarnaen. Raja tidak mengetahui apa yang telah terjadi atas diri Nabi Khidir as.

    Wallahu A’lam. (kalam Ulama’)

  • Dalil Shokhih dan Dhoif yang bisa dijadikan sebagai hujjah  menghadapi wabah penyakit

    Dalil Shokhih dan Dhoif yang bisa dijadikan sebagai hujjah menghadapi wabah penyakit

    Hadist-hadist shahih yang bisa dijadikan sebagai hujjah dalam membimbing ummat untuk menghadapi wabah penyakit antara lain sebagai berikut:

    Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim.

    قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطَّاعُونُ آيَةُ الرِّجْزِ ابْتَلَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ نَاسًا مِنْ عِبَادِهِ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَفِرُّوا مِنْهُ

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

    Hadist Shahih 2

    Riwayat Bukhari dan Muslim

    قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُورِدَنَّ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ

    Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

    Hadist Shahih 3

    قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak boleh berbuat madlarat dan hal yang menimbulkan madlarat.” (HR Ibn Majah dan Ahmad ibn Hanbal dari Abdullah ibn ‘Abbas)

    Hadist Shahih 4

    Hadist Sahih Riwayat Bukhari dan Muslim tentang Anjuran Sholat di rumah ketika hujan pada siang hari Jum’at.

    عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ
    قَالَ لِمُؤَذِّنِهِ فِي يَوْمٍ مَطِيرٍ إِذَا قُلْتَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَلَا تَقُلْ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ قُلْ صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ قَالَ فَكَأَنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا ذَاكَ فَقَالَ أَتَعْجَبُونَ مِنْ ذَا قَدْ فَعَلَ ذَا مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي إِنَّ الْجُمُعَةَ عَزْمَةٌ وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أُخْرِجَكُمْ فَتَمْشُوا فِي الطِّينِ وَالدَّحْضِ

    dari Abdullah bin Abbas dia mengatakan kepada muadzinnya ketika turun hujan (pada siang hari Jum’at), jika engkau telah mengucapkan “Asyhadu an laa ilaaha illallaah, asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, ” maka janganlah kamu mengucapkan “Hayya alash shalaah, ” namun ucapkanlah shalluu fii buyuutikum (Shalatlah kalian di persinggahan kalian).” Abdullah bin Abbas berkata; “Ternyata orang-orang sepertinya tidak menyetujui hal ini, lalu ia berkata; “Apakah kalian merasa heran terhadap ini kesemua? Padahal yang demikian pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku (maksudnya Rasulullah saw). Shalat jum’at memang wajib, namun aku tidak suka jika harus membuat kalian keluar sehingga kalian berjalan di lumpur dan comberan.” (HR. Bukhori Muslim dari Abdullah ibn Abbas).

    Hadist Shahih 5

    Hadist panjang riwayat Bukhari Muslim yang artinya sbb.

    Pada suatu ketika ‘Umar bin Khaththab pergi ke Syam. Setelah sampai di Saragh, pimpinan tentaranya di Syam datang menyambutnya. Antara lain terdapat Abu “Ubaidah bin Jarrah dan para sahabat yang lain. Mereka mengabarkan kepada ‘Umar bahwa wabah penyakit sedang berjangkit di Syam. Umar kemudian bermusyawarah dengan para tokoh Muhajirin, Anshor dan pemimpin Quraish.

    Lalu ‘Umar menyerukan kepada rombongannya; ‘Besok pagi-pagi aku akan kembali pulang. Karena itu bersiap-siaplah kalian! ‘ Abu ‘Ubaidah bin Jarrah bertanya; ‘Apakah kita hendak lari dari takdir Allah? ‘ Jawab ‘Umar; ‘Mengapa kamu bertanya demikian hai Abu ‘Ubaidah? Agaknya ‘Umar tidak mau berdebat dengannya. Dia menjawab; Ya, kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah. Bagaimana pendapatmu, seandainya engkau mempunyai seekor unta, lalu engkau turun ke lembah yang mempunyai dua sisi. Yang satu subur dan yang lain tandus. Bukanlah jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur, engkau menggembala dengan takdir Allah juga, dan jika engkau menggembala di tempat tandus engkau menggembala dengan takdir Allah? ‘

    Tiba-tiba datang ‘Abdurrahman bin ‘Auf yang sejak tadi belum hadir karena suatu urusan. Lalu dia berkata; ‘Aku mengerti masalah ini. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri.’ Ibnu ‘Abbas berkata; ‘Umar bin Khaththab lalu mengucapkan puji syukur kepada Allah, setelah itu dia pergi.’ (HR Bukhari dan Muslim).

    Adapun di antara hadis hadis dha’if yang sering digunakan adalah:

    Hadist Dha’if 1

    Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

    إِنَّ اللهَ تَعَالَى إِذَا أَنْزَلَ عَاهَةً مِنَ السَّمَاءِ عَلَى أَهْلِ الأرْضِ صُرِفَتْ عَنْ عُمَّارِ الْمَسَاجِدِ.

    Sesungguhnya apabila Allah ta’ala menurunkan penyakit dari langit kepada penduduk bumi maka Allah menjauhkan penyakit itu dari orang-orang yang meramaikan masjid.

    Hadits riwayat Ibnu Asakir (juz 17 hlm 11) dan Ibnu Adi (juz 3 hlm 232).

    Hadis ini dinyatakan sebagai hadis dhaif oleh Nashir al-Din al-Albani dalam kitab Silsilat al-ahadits al-Dho’ifat wa al-Maudhu’at, juz IV, hal. 222, hadis no. 1851.

    Hadist Dha’if 2

    Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

    إِذا أرَادَ الله بِقَوْمٍ عاهةً نَظَرَ إِلَى أهْلِ المَساجِدِ فَصَرَفَ عَنْهُمْ

    Apabila Allah menghendaki penyakit pada suatu kaum, maka Allah melihat ahli masjid, lalu menjauhkan penyakit itu dari mereka.

    Riwayat Ibnu Adi (juz 3 hlm 233); al-Dailami (al-Ghumari, al-Mudawi juz 1 hlm 292 [220]); Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbihan (juz 1 hlm 159); dan al-Daraquthni dalam al-Afrad (Tafsir Ibn Katsir juz 2 hlm 341).

    Hadis ini adalah hadis dha’if. (lihat Nashiruddin al-Albani, Shahih wa Dha’if al-Jami’ al-Shoghir, juz IV, hal. 380, hadis no. 1358).

    Hadist Dha’if 3

    Sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

    يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ” إِنِّي لَأَهُمُّ بِأَهْلِ الْأَرْضِ عَذَابًا فَإِذَا نَظَرْتُ إِلَى عُمَّارِ بُيُوتِي والْمُتَحَابِّينَ فِيَّ والْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ صَرَفْتُ عَنْهُمْ ”

    Allah عز وجل berfirman: “Sesungguhnya Aku bermaksud menurunkan azab kepada penduduk bumi, maka apabila Aku melihat orang-orang yang meramaikan rumah-rumah-Ku, yang saling mencintai karena Aku, dan orang-orang yang memohon ampunan pada waktu sahur, maka Aku jauhkan azab itu dari mereka.

    Riwayat al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman [2946].

    Hadis ini dho’if Jiddan. (Lihat Nashiruddin al-Albani, Kitab Shahih wa Dha’if al-Jami’ al-Shaghir, juz 9, hal. 121, hadis no. 3674).

    Hadist Dha’if 4

    Sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

    “إِذَا عَاهَةٌ مِنَ السَّمَاءِ أُنْزِلَتْ صُرِفَتْ عَنْ عُمَّارِ الْمَسَاجِدِ”

    Apabila penyakit diturunkan dari langit, maka dijauhkan dari orang-orang yang meramaikan masjid.

    Riwayat al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman [2947]; dan Ibnu Adi (juz 3 hlm 232). Al-Baihaqi berkata: “Beberapa jalur dari Anas bin Malik dalam arti yang sama, apabila digabung, maka memberikan kekuatan (untuk diamalkan)”.

    Hadist ini Dha’if. (Lihat Nashiruddin al-Albani, al-Silsilah al-Dha’ifah, juz IV, hal. 350, hadis no. 1851).

  • SORBAN ANSOR BANSER PACET LAWAN CORONA

    SORBAN ANSOR BANSER PACET LAWAN CORONA

    SORBAN Infokom- Lawan Corona yang sedang marak dan banyak dibicarakan berbagai media sosial dan  pemberitaan yang sangat gencar-gencarnya oleh semua media baik berita online dan Offline. Ansor Banser Pacet
    Mojokerto melakukan tindakan pencegahan menghalau virus corona khususnya untuk kawasan wisata pacet dan sekitarnya.Dikarenakan penyebaran virus covid 19 atau yang lebih dikenal dengan nama corona semakin mendekati wilayah pacet yang dikenal dengan pusat wisata atau sebagai bogornya surabaya, pada hari ini Selasa, 24 Maret 2020 sorban ansor banser pacet melakukan tindakan cepat yang dimulai dari group s.k.r banser pacet di whatsapp senin malam, aksi cepat tanggap dari team banser Bagana Basada dan balantas, langsung melakukan koordinasi
    cepat dan pagi hari tadi (selasa 24 maret 2020) kegiatan lawan corona dengan pencegahan mulai berlangsung pagi pukul 07.00 wib.

    Dikarenakan semakin banyaknya dan antusias warga NU pacet dan masyarakat sekitar dalam siaga pencegahan melalui penyemprotan disinfektan, aksi tersebut harus dibagi dan diteruskan hari berikutnya. Dan alhamdulillah , aksi sorban ( ansor banser) pacet mojokerto hari ini sudah dapat 13 titik target penyemprotan. 13 titik tersebut adalah :

    1. Masjid Nurul Iman Pacet Nggapuk
    2. Pondok Pesantren Al Falah
    3. Masjid Attaubah Pacet Selatan (ngepreh)
    4. Masjid Arrahmah Pacet Selatan (nggutean)
    5. Musholla Sendi 2
    6. Masjid Baitussalam Sendi Pacet
    7. Masjid Arrahmah Podorejo
    8. Masjid Nurul Huda Treceh
    9. Musholla Baiturrohman Sukorejo
    10. TPQ Al Amin Sukorejo
    11. Masjid Alhidayah Wonokoyo Candi Watu
    12. TPQ Candi Watu

    Kegiatan tersebut Berakhir Pukul 13.00 wib. Dalam proses penyemprotan tersebut banyak anggota sorban (ansor Banser) pacet yang merasakan mata pedih karena semprotan tersebut, untuk antisipasi esok hari, diharapkan sahabat-sahabat sorban sudah sangat siap menjalani penyemprotan disinfectan melawan corona.

    Dan untuk menjaga dan mengajak masyarakat agar lebih waspada serta tanggap dengan wabah corona yang menyerang 2/3 dunia. Ansor Banser Pacet Menempelkan himbauan pada tiap-tiap tempat yang sudah disemprot
    disinfectan serta memberikan sosialisasi pencegahan corona itu bagai mana dan bagaimana cara menghindarinya. Ansor Banser Pacet memberikan wawasan pada warga mengenai penyebaran virus dari gagang pintu, tiang yang sekiranya sering banyak orang pegang, mikrofon masjid, uang / duit, ponsel, setir motor dan sebagainya. dan disarankan selalu cuci tangan, jaga wudhu, jaga Sholat 5 waktu, dan mengamalkan sunnah ” Menjauh dari wabah, serta jangan bepergian jika kena wabah “.

    [irp posts=”3661″ name=”Dalil Shokhih dan Dhoif yang bisa dijadikan sebagai hujjah menghadapi wabah penyakit”]

    Diperlukan kesadaran sosial dan ketanggapan yang tinggi dalam menghadapi wabah tersebut, seharusnya pemerintah lebih tegas dan masyarakat lebih sadar akan adanya wabah tersebut. tidak jarang dari kegiatan penyemprotan tersebut banyak menemui wisatawan  yang rata-rata plat kendaraan berasal dari zona merah wabah corona,  seperti Malang Surabaya masih banyak yang tidak menghiraukan tentang LOCK DOWN yang oleh pemerintah sudah diberlakukan,

    Mudah-mudahan bencana wabah ini segera hilang dan kita semua diberi kesehatan serta bisa mengambil hikmah dari wabah corona tersebut… Aamiin Ya Robbal’alamiin..Semangat terus sahabat Sorban (ansor banser) pacet. (red- Abi Infokom)

  • Penanaman Pohon Dan Penyemprotan Disinfektan PEMERINTAH DESA SAMBIROTO Bekerjasama Dengan GP ANSOR Dan NU Ranting Sambiroto

    Penanaman Pohon Dan Penyemprotan Disinfektan PEMERINTAH DESA SAMBIROTO Bekerjasama Dengan GP ANSOR Dan NU Ranting Sambiroto

    SORBAN Infokom – Ahad, 22 Maret 2020, Giat Bakti Sosial Dalam rangka pencegahan penyebaran Virus dan penghijauan lingkungan, PEMDES Sambiroto Kecamatan Padas Bekerjasama dengan GP ANSOR dan NU Ranting Sambiroto melakukan giat bakti sosial yaitu penanaman pohon dan penyemprotan disinfektan di lingkungan Desa Sambiroto Padas.

    Penanaman pohon di lakukan di sepanjang pinggiran jalan Desa Sambiroto dan Penyemprotan disinfektan dilakukan di tempat – tempat yang menjadi perkumpulan atau kerumunan khalayak banyak seperti Kantor Desa, Masjid, Mushola, Madin, Tempat Posyandu dll. 

    Antusias dirasakan karena banyak dari anggota TNI, POLRI, BANSER, ANSOR Turut aktif dalam Kegiatan Ini.
    Semoga Apa yang menjadi Ikhtiar bersama ini bisa menjadi penangkal penyebaran virus dan penghijauan lingkungan untuk lingkungan yang sehat, aman dan sejahtera. (red – ansor banser padas)

  • HASTAPORA UPACARA PERNIKAHAN ANGGOTA BANSER SATKORYON PACET SUKSES DILAKSANAKAN

    HASTAPORA UPACARA PERNIKAHAN ANGGOTA BANSER SATKORYON PACET SUKSES DILAKSANAKAN

    SORBAN Infokom – HASTAPORA oleh Banser Satkoryon Pacet Mojokerto yang diadakan di Desa Wonokerto / Kramajetak Kecamatan Pacet Mojokerto terjadi Minggu siang hari pukul 13.00 wib. tanggal 22 Maret 2020. dilaksanakan dengan lancar dan sukses, meskipun baru pertamakali digelar. 

    Koordinasi dan semangat yang bagus dari semua anggota Banser Satkoryon Pacet, menghasilkan kesuksesan acara hastapora pernikahan yang di laksanakan di Desa Wonokerto Kramajetak Kec. Pacet. Sahabat-sahabat banser sudah mulai hadir pukul 12.00 wib.

        

    HASTAPORA yang di mulai pukul 13.00 wib itu diawali dengan datangnya iring-iringan pengantin dan disambut dengan basisan anggota banser saling berhadapan dipinggir jalan dengan tangan kanan mengarah ke depan sebagai wujud penghormatan pada pengantin dan tamu pengantar. selanjutnya pasangan pengantin diberikan sedikit saran oleh Ketua GP Ansor Pacet sahabat Mujiburrohman mengenai pernikahan.

    Acara tersebut berakhir dengan ramah tamah dan foto bareng dengan pasangan pengantin. diharapkan dengan adanya hasta pora banser, akan memberi warna lain di setiap acara pernikahan anggota banser sehingga semakin diakui existensi keberadaan banser di masyarakat. (abi-Infokom)

  • Persiapan Hasta Pora Upacara Pernikahan Anggota Banser SATKORYON PACET

    Persiapan Hasta Pora Upacara Pernikahan Anggota Banser SATKORYON PACET

    SORBAN Infokom – Persiapan hasta pora anggota banser yang diadakan di Desa Wonokerto / Kramajetak Kecamatan Pacet, dilakukan oleh BANSER SATKORYON PACET pada hari Minggu, 22 Maret 2020 dipimpin oleh ketua PAC GP ANSOR PACET sahabat Mujibur rohman, Pentingnya upacara hasta pora ini adalah untuk menghormati anggota banser yang sedang melaksanakan hari yang berbahagia tersebut.

    Dimulai dari persiapan dan melakukan koordinasi dengan masing-masing bagaian tugas yang akan dilaksanakan. Ditempat yang sejuk sahabat Mujibur rohman memberikan arahan mulai dari awal sampai akhir upacara hasta pora. Persiapan ini dilakukan mulai pukul 12.00 wib.

    Acara hasta pora yang diadakan di desa wonokerto /kramajetak ini adalah lanjutan dari hasta pora kemarin yang diadakan di Dsn Sukorejo Desa Kemiri kec pacet Mojokerto. Yang mana momen tersebut adalah Pertama kali yang di adakan di PAC GP ANSOR PACET dan dilaksanakan dengan sukses lancar dalam tiap-tiap rangkaian acara hasta pora. (abi-infokom)

  • SUNGAI SURGA, PERJALANAN NABI MUHAMMAD SAW

    SUNGAI SURGA, PERJALANAN NABI MUHAMMAD SAW

    SORBAN INFOKOM –

    بسم الله الرحمن الرحيم…

    Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam juga pernah bersabda,

    “Pada malam perjalananku ke langit, diperlihatkan kepadaku semua surga. Maka aku melihat empat macam sungai:

    sungai air,

    sungai susu,

    sungai khamar,

    dan sungai madu jernih.

    Hal itu sebagimana disebutkan di dalam Al-Qur’an pada surat Muhammad ayat 15. Lalu aku bertanya kepada Jibril, ‘Darimana air itu bersumber dan kemana mengalirnya?’ Jibril menjawab, ‘Mengalir dari telaga al-Kautsar, tetapi aku belum mengetahui dari mana sumber dari air ini. Coba kutanyakan terlebih dahulu kepada Tuhanmu.’

    Kemudian datanglah malaikat dan berkata kepadaku, ‘Hai Rasulullah, pejamkanlah matamu.’ Tiba-tiba aku berada di dekat sebuah pohon, sedang di sisinya terdapat sebuah kubah – yang terdiri dari mutiara putih, sedangkan pintunya terdiri dari yaqut hijau dan kuncinya dari emas merah –

    Jika dunia beserta seluruh isinya diletakkan di atas kubah itu, maka dunia beserta isinya ini bagaikan burung yang hinggap di atas gunung, atau seperti telur yang diletakkan di atas gunung.

    Aku melihat sungai-sungai itu mengalir dari bawah kubah itu. Ketika aku hendak kembali, malaikat itu berkata sekaligus mempersilahkan aku untuk memasukinya. Lalu aku bertanya, ‘Bagaimana aku bisa masuk sedangkan pintunya terkunci?’

    Malaikat tadi kemudian mengatakan: ‘Kuncinya berada di tanganmu. Yaitu lafal bismillaahir rahmaanir rahiim. Tiba-tiba pintu kubah yang tadinya tertutup kemudian terbuka lebar. Dan aku pun masuk ke dalamnya. Aku menyaksikan dari keempat sudut kubah tersebut mengalir keempat sungai yang tadi aku lihat dari luar.

    Ketika aku hendak pulang, malaikat tadi menunjukkan adanya tulisan bismillaahir rahmaanir rahiim tertulis di sudut atas masing-masing kubah itu. Aku menyaksikan bahwa sungai-sungai itu airnya bersumber dari lafal bismillaahir rahmaanir rahiim.

    Sungai air bersumber dari miim dari lafal bismillah. Sungai susu bersumber dari ha dari lafal Allah. Sungai khamar bersumber dari mim dari lafal ar-Rahman. Sedangkan sungai madu bersumber dari mim dari lafal ar-Rahim.

    Dengan menyaksikan secara langsung sumber sungai itu maka aku dapat mengetahui bahwa sumber-sumber sungai itu berasal dari lafal bismillaahir rahmaanir rahiim.

    Kemudian Allah berfirman: “Hai Muhammad, barangsiapa dari umatmu yang menyebut-Ku dengan nama-nama ini, akan Aku beri minum dari sungai-sungai ini.” (Dalam kitab Misykatul Anwar)

  • INI TULISAN YANG ADA DI TONGKAT NABI MUSA

    INI TULISAN YANG ADA DI TONGKAT NABI MUSA

    SORBAN Infokom

    بسم الله الرحمن الرحيم..

    Syekh Nawawi Banten menceritakan bahwa panjang tongkat Nabi Musa mencapai sepuluh hasta. Tongkat ini bercabang dua. Tongkat ini merupakan salah satu bentuk mukjizat yang dianugerahkan Allah SWT kepada Nabi Musa.

    Tongkat Nabi Musa ini tersebut di dalam Al-Qur’an. Awalnya tongkat hanya berfungsi sebagai tongkat penggembala biasa, yaitu menggiring kambing. Tetapi berkat kuasa Allah, tongkat ini memiliki banyak fungsi yang membantu Nabi Musa dalam menghadapi kedurhakaan umatnya.

    Konon, tongkat Nabi Musa ini dapat menyala di kegelapan. Tentu saja hal ini sangat membantu Nabi Musa dalam menempuh perjalanan di malam hari.

    Adapun catatan bijak tersebut terukir pada tongkat Nabi Musa. Catatan ini mengajarkan sikap wajar bagi penguasa, kaum ulama dan cendekia, orang kaya, dan orang miskin. Catatan itu secara lengkap dikutip oleh Syekh Nawawi Banten dalam Syarah Barzanji berikut ini:

    كل سلطان لا يعدل في سلطانه هو وفرعون سواء وكل عالم لا يعمل بعلمه هو وإبليس سواء وكل غني لا ينتفع بماله هو وقارون سواء وكل فقير لا يصبر على فقره هو والكلب سواء

    “Setiap penguasa yang tidak adil dalam kekuasaannya tiada bedanya dengan Fir’aun. Setiap ulama dan ilmuwan yang tidak mengamalkan ilmunya tiada bedanya dengan Iblis. Setiap orang kaya yang tidak bermanfaat hartanya (bagi orang lain dan dirinya) tiada bedanya dengan Qarun. Setiap orang miskin yang tidak sabar atas kemiskinannya tiada bedanya dengan anjing,” (Lihat Syekh Nawawi Banten, Madarijus Shu’ud ila Iktisa’il Burud, hal. 33).

    Semua catatan ini mendorong penguasa untuk bersikap adil, kaum terpelajar untuk tidak mengkhianati pengetahuannya, orang kaya untuk bersikap dermawan, dan orang miskin untuk bersikap sabar. Semua sikap proporsional itu diperlukan untuk menjaga kehidupan sosial dan politik yang sehat.

    Sikap sabar di sini tentu saja bukan dalam pengertian pasif. Anjuran sabar itu bukan berarti menuntut orang miskin berdiam diri. Mereka yang miskin harus bergerak aktif untuk memperbaiki nasibnya di tengah kesabaran.

    Yang jelas, sikap sabar di sini bermakna pengendalian diri agar tidak kalap di tengah kemiskinan.

    Wallahu A‘lam

    (kalam ulama’)