Tag: sorbansantri

  • Apa sih Ijma’- Qiyas….???

    Apa sih Ijma’- Qiyas….???

    PAC GP Ansor Pacet- Alasan kitab madzhab Syafi’i menyebut ijma’ dan qiyas sebagai landasan hukumBerdasarkan hadits:
    تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِى
    Maka landasan hukum di dalam Islam itu hanya dua, yaitu al-Qur’an dan Hadits. Mengapa di dalam kitab-kitab madzhab Syafi’i ada dua masukan sebagai landasan hukum, ijma’ dan qiyas?Kalau menurut prinsip dari pendirian golongan syi’ah, memang ijma’ dan qiyas itu tidak dapat digunakan sebagai landasan Hukum. Akan tetapi bagi madzhab Syafi’i dan juga madzhab mu’tabar yang lain, menggunakan ijma’ dan qiyas sebagai landasan hukum itu, tidak menyimpang dari Al-Qur’an dan Hadits, sebab Al-Qur’an dan Hadits sendiri juga memerintahkan supaya kita menggunakan Ijma’ dan Qiyas.

    Kami persilahkan baca Al-Qur’an ayat 115 di dalam surat An-Nisa’:وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ اْلهَدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ اْلمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيْرًا. Barang siapa menentang Rasul sesudah terang petunjuk baginya dan menuruti selain jalannya ornag-orang mu’min, maka Allah membiarkan akan dia bersama apa yang dia sukai, dan Allah akan memasukkan dia di dalam neraka jahannam, sejelek-jelek tempat kembali.Hadits Shohihain:لاَتَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَتِى ظَاهِرِيْنَ عَلىَ اْلحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ خِلاَفُ مَنْ خَالَفَهُمْ. Tidak henti-hentinya segolongan dari umatku, selalu terang-terangan bersama-sama membela hak (kebenaran), tidak mempengaruhi mereka tentangan orang-orang yang menentang kepadanya.

    Kami persilahkan baca ayat surat Al-Hasyr:فَاعْتَبِرُوْا يَا اُولِى اْلأَبْصَارِMaka ambil contohlah engkau, hai orang-orang yang mempunyai pengertian.Surat Amirul Mu’minin Umar bin Khottob yang ditujukan kepada Abi Musa Al-Asy’ari:َالْفَهْمَ اَلْفَهْمَ فِيْمَا اَدَّى إِلَيْكَ مِمَّا لَيْسَ فِى قُرْآنٍ وَلاَ فِى سُنَّةٍ، ثُمَّ قِسِ اْلأُمُوْرَ عِنْدَ ذَلِكَ Pahamilah! Pahamilah! Di dalam apa yang datang kepadamu, daripada yang tidak ada di dalam Al-Qur’an dan sunah Rasul, kemudian kiaskanlah perkara-perkara itu ketika perkara-perkara itu tidak ada di dalam Al-Qur’an dan Hadits.(mjbr)

  • Akidah Seorang Mukmin – KITAB BIDAYATUL HIDAYAH

    Akidah Seorang Mukmin – KITAB BIDAYATUL HIDAYAH

    Ngaji, InfokomBanserNU-

    بسم الله الرحمن الرحيم  Kemudian, seorang mukalaf minimal harus meyakini tafsiran dari kata-kata “tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah.” Jika ia membenarkan Rasul saw., maka ia juga harus membenarkan beliau dalam hal sifat-sifat Allah Swt.

    Dia Zat Yang Maha hidup, Berkuasa, Mengetahui, Berbicara, dan Berkehendak Tak ada sesuatu pun yang serupa dengan- Nya. Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat. Namun, ia tak harus meneliti hakikat sifat-sifat Allah tersebut serta tak harus mengetahui apakah kalam dan ilmu Allah bersifat qadim atau baru. Bahkan, tak jadi masalah walaupun hal RI tak pernah terlintas dalam benaknya sampai ia matt dalam keadaan mukmin. Ia tak wajib mempelajari dalil dalil yang dikemukakan oleh para ahli kalam. Selama hatinya meyakini al-Haq, walaupun dengan iman yang tak disertai dahi dan argumen, ia sudah merupakan muk mi n. Rasulullah saw. tidak membebani lebih dari itu.

    Begitulah keyakinan global yang dimiliki oleh bangsa Arab dan masyarakat awam, kecuali mereka yan berada di negeri- negeri dimana masalah-masalah tentang qadim dan barunya kalam Allah, serta istiwa dan nuzul Allah, ramai diperdebatkan. Jika hatinya tak terlibat dengan hal itu dan hanya sibuk dengan ibadah dan amal salehnya, maka tak ada beban apa pun baginya. Namun, jika ia juga memikirkan hal itu, maka minimal ia harus mengakui keyakinan orang-orang salaf yang mengatakan bahwa Alquran itu qadim, bahwa Al- quran adalah kalam Allah, bukan makhluk, bahwa istiwa Allah adalah benar, bahwa menanyakan tentangnya adalah bidah, dan bahwa bagaimana cara istiwa itu tidak diketahui.

    Ia cukup beriman dengan apa yang dikatakan syariat secara global tanpa mencari-cari hakikat dan caranya. Jika hal itu masih tidak berguna juga, dimana hatinya masih bimbang dan ragu, jika memungkinkan, hendaknya keraguan tersebut dihilangkan dengan penjelasan yang mudah dipahami walaupun tidak kuat dan tidak memuaskan bagi para ahli kalam. Itu sudah cukup dan tak perlu pembuktian dalil. Namun, lebih baik lagi kalau kerisauannya itu bisa dihilangkan dengan dalil yang sebenarnya. Sebab, dalil tidak sempurna kecuali dengan memahami pertanyaan dan jawabannya. Bila sesuatu yang samar itu disebutkan, hatinya akan ingkar dan pemahamannya tak mampu menangkap jawabannya. Sebab, sementara kesamaran tersebut tampak jelas, jawabannya pelik dan membingungkan sehingga sukar dipahami akal. Oleh karena itu, orang-orang salaf tak mau mengkaji dan membahas masalah ilmu kalam. Hal itu mereka lakukan untuk kepentingan masyarakat awam yang lemah.

    Adapun orang-orang yang sibuk memahami berbagai hakikat, mereka memiliki telaga yang sangat membingungkan. Tidak membicarakan masalah ilmu kalam kepada orang awam adalah seperti melarang anak kecil mendekati pinggir sungai karena takut tenggelam. Sedangkan orang-orang tertentu diperbolehkan karena mereka mahir dalam berenang. Hanya saja, ini merupakan tempat yang bisa membuat orang lupa diri dan membuat kaki tergelincir, dimana, orang yang akalnya lemah merasa akalnya sempurna. Ia mengira dirinya bisa mengetahui segala sesuatu dan dirinya termasuk orang hebat. Bisa jadi, mereka berenang dan tenggelam dalam lautan tanpa ia sadari. Hanya segelintir orang saja dari mereka yang menempuh jalan para salaf dalam mengimani para rasul serta dalam membenarkan apa yang diturunkan Allah Swt. dan apa yang diberitakan Rasul-Nya dimana mereka tak mencari-cari dalil dan argumen. Melainkan, mereka sibuk dengan ketakwaan.

    Demikianlah, ketika Nabi saw. melihat para sahabatnya sibuk berdebat, beliau marah hingga memerah kedua pipi beliau dan berkata, “Apakah kalian diperintahkan untuk ini. Kalian mengumpamakan sebagian isi Kitabullah dengan yang lain. Perhatikan! apa yang Allah perintahkan pada kalian kerjakanlah, sedangkan yang dilarang kalian tinggalkan. ” Ini merupakan peringatan terhadap manhaj yang benar. Lengkapnya, hal itu kami jelaskan dalam kitab Qawa ’id al- Aqaa ’id.

    IMAM AL GHAZALI RH | BIDAYATUL HIDAYAH

  • Hujjah Ahlissunnah Wal Jama’ah Membela Kebenaran Amaliah Nahdhiyyin

    Hujjah Ahlissunnah Wal Jama’ah Membela Kebenaran Amaliah Nahdhiyyin

    [pdf-embedder url=”https://wp.sorbansantri.com/wp-content/uploads/2020/01/Hujjah_Ahlissunnah_Wal_Jamaah_KH.pdf”]

  • 20 Pemabuk Tobat Di Hadapan Habib Munzir

    20 Pemabuk Tobat Di Hadapan Habib Munzir

    Kisah, InfokomBanserNU- Seorang miskin sedih dan nangis. Anaknya meninggal, tapi masyarakat dan ustadz sekitarnya tak mau menshalatkan dan menguburkan di kuburan umum. Kenapa? Anaknya seorang pemuda yang nakal, narkoba, pemabuk, dan seabrek label nagatif lainnya. Sebelum meninggal, pemuda itu bertaubat, mencium kaki ibunya dan meminta maaf kepada ibunya. Tak lama setelah itu, pemuda itu wafat.

    Mendengar kabar ini, Habib Mundzir langsung meluncur menuju rumah duka. Saat itu sudah larut malam, karena Habib Mundzir sedang dalam sebuah acara.

    “Habib, jangan masuk rumah saya. Saya orang miskin, tidak mampu memberi apa-apa buat Habib. Saya tak mampu memberi amplop, ya Habib,” kata lelaki tua yang tak lain adalah ayah dari pemuda yang meninggal. Si ayah itu memang orang miskin, sehingga tak berani menerima tamu ustadz karena takut memberi amplop.

    SORBANSANTRI.COM
    Habib Munzir

    Habib Mundzir tergetar hatinya. Merasa sedih dan malu melihat kondisi bapak itu. Akhirnya, dengan lemah lembut Habib mengajak orang tua itu masuk rumahnya. Habib melihat ruangan tamu dengan dinding tanah, tembok yang kusut, lampu yang redup. Di ruang tamu itu ada 20 anak muda gondrong yang terdiam, teman anaknya yang baru saja meninggal.

    “Anak saya dikuburkan di sebelah rumah, dan belum dingajikan karena saya tak mampu membayar orang yang mengaji. Paketnya 300 ribu (saat itu-red),” kata pak tua itu. .

    Melihat kondisi demikian, Habib Mundzir kemudian memerintah kepada jamaahnya agar mengerahkan 100 orang mengaji Al-Qur’an dan dzikir secara bergantian sampai 3 hari 3 malam. Semua kebutuhan konsumsi ditanggung semua oleh Habib.

    Habib Mundzir kemudian mendatangi makam pemuda tadi, berdoa kemudian menyampaikan tausiyah singkat. Subhanallah! 20 anak muda yang menjadi teman narkoba dan mabuk itu akhirnya taubat bersama Habib Mudzir. Mereka berjanji belajar ngaji, bekerja dengan baik, menikah, dan meninggalkan kemaksiatan.

    “Habib, anak saya itu matinya disiksa Allah kah..?,” pak tua bertanya karena masih bersedih, walaupun juga gembira karena 20 pemuda itu bertaubat.

    (kalam ulama’)

  • Menasehati Diri cara Islam – KITAB BIDAYATUL HIDAYAH

    Menasehati Diri cara Islam – KITAB BIDAYATUL HIDAYAH

    Ngaji, InfokomBanserNU-

    بسم الله الرحمن الرحيم Berbicara tentang nasihat, aku melihat diriku tak pantas untuk memberikannya. Sebab, nasihat seperti zakat. Nisab-nya adalah mengambil nasihat atau pelajaran untuk diri sendiri.  Siapa yang tak sampai pada nisab, bagaimana ia akan  mengeluarkan zakat? Orang yang tak memiliki cahaya tak  mungkin dijadikan alat penerang oleh yang lain. Bagaimana bayangan akan lurus bila kayunya bengkok? Allah Swt.

    mewahyukan kepada Isa bin Maryam, “Nasihatilah dirimu! Jika engkau telah mengambil nasihat, maka nasihatilah orang-orang. Jika tidak, malulah kepada-Ku.” Nabi kita saw bersabda, “Aku tinggalkan untuk kalian dua pemberi nasihat: yang berbicara dan yang diam.” Pemberi nasihat yang berbicara adalah Alquran, sedangkan yang diam adalah kematian. Keduanya sudah cukup bagi mereka yang mau mengambil nasihat. Siapa yang tak mau mengambil nasihat dan keduanya, bagaimana ia akan menasihati orang lain? Aku telah menasihati diriku dengan keduanya. Lalu aku pun membenarkan dan menerimanya dengan ucapan dan akal, tapi tidak dalam kenyataan dan perbuatan. Aku berkata pada diri ini, “Apakah engkau percaya bahwa Alquran merupakan pemberi nasihat yang berbicara dan juru nasihat yang benar, serta merupakan kalam Allah yang diturunkan tanpa ada kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya?” Ia menjawab, “Benar.” Allah Swt. berfirman, “Siapa yang menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepadanya balasan amal perbuatan mereka dii dunia dan mereka di dunia ini tak akan dirugikan. Mereka itulah yang tidak akan memperoleh apa-apa di akhirat kecuali neraka. Dan gugurlah semua amal perbuatan mereka serta batallah apa yang mereka kerjakan ” (Q.S. Hud: 15-16).

    Allah Swt. menjanjikan neraka bagimu karena engkau menginginkan dunia. Segala sesuatu yang tak menyertaimu setelah mati, adalah termasuk dunia. Apakah engkau telah membersihkan diri dan keinginan dan cinta pada dunia? Seandainya ada seorang dokter Nasrani yang memastikan bahwa engkau akan mati atau sakit jika memenuhi nafsu syahwat yang paling menggiurkan, niscaya engkau akan takut dan menghindarinya. Apakah dokter Nasrani itu lebih engkau percayai ketimbang Allah Swt.? Jika itu terjadi, betapa kufurnya engkau! Atau apakah menurutmu penyakit itu lebih hebat dibandingkan neraka? Jika demikian, betapa bodohnya engkau ini! Engkau membenarkan tapi tak mau mengambil pelajaran. Bahkan engkau terus saja condong kepada dunia. Lalu aku datangi diriku dan kuberikan padanya juru nasihat yang diam (kematian). Kukatakan, “Pemberi nasihat yang berbicara (Alquran) telah memberitahukan tentang pemberi nasihat yang diam (kematian), yakni ketika Allah berfirman, ‘Sesungguhnya kematian yang kalian hindari akan menjumpai kalian. Kemudian kalian akan dikembalikan kepada alam gaib. Lalu Dia akan memberitahukan kepada kalian tentang apa yang telah kalian kerjakan’ (Q.S. al- Jumuah: 8).” Kukatakan padanya, “Engkau telah condong pada dunia. Tidakkah engkau percaya bahwa kematian pasti akan mendatangimu? Kematian tersebut akan memutuskan semua yang kau punyai dan akan merampas semua yang kau senangi. Setiap sesuatu yang akan datang adalah sangat dekat, sedangkan yang jauh adalah yang tidak pernah datang. Allah Swt. berfirman, ‘Bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kenikmatan pada mereka selama beberapa tahun? Kemudian datang pada mereka siksa yang telah dijanjikan untuk mereka? Tidak berguna bagi mereka apa yang telah mereka nikmati itu. ’ (Q.S. asySyuara: 205-206).”

    SORBANSANTRI.COM
    BIDAYATUL HIDAYAH

    Jiwa yang merdeka dan bijaksana akan keluar dari dunia sebelum ia dikeluarkan darinya. Sementara jiwa yang lawwamah (sering mencela) akan terus memegang dunia sampai ia keluar dari dunia dalam keadaan rugi, menyesal, dan sedih. Lantas ia berkata, “Engkau benar.” Itu hanya ucapan belaka tapi tidak diwujudkan. Karena, ia tak mau berusaha sama sekali dalam membekali diri untuk akhirat sebagaimana ia merancang dunianya. Ia juga tak mau berusaha mencari rida Allah Swt. sebagaimana ia mencari rida dunia. Bahkan, tidak sebagaimana ia mencari rida manusia. Ia tak pernah malu kepada Allah sebagaimana ia malu kepada seorang manusia. Ia tak mengumpulkan persiapan untuk negeri akhirat sebagaimana ia menyiapkan segala sesuatu untuk menghadapi musim kemarau. Ia begitu gelisah ketika berada di awal musim dingin manakala belum selesai mengumpulkan perlengkapan yang ia butuhkan untuknya, padahal kematian barangkali akan menjemputnya sebelum musim dingin itu tiba.

    Kukatakan padanya, “Bukankah engkau bersiap-siap menghadapi musim kemarau sesuai dengan lama waktunya lalu engkau membuat perleng- kapan musim kemarau sesuai dengan kadar ketahananmu menghadapi panas?” Ia menjawab: “Benar.” “Kalau begitu”, kataku, “Bermaksiatlah kepada Allah sesuai dengan kadar ketahananmu menghadapi neraka dan bersiap-siaplah untuk akhirat sesuai dengan kadar lamamu tinggal di sana.” Ia menjawab, “Ini merupakan kewajiban yang tak mungkin diabaikan kecuali oleh seorang yang dungu.” Ia terus dengan tabiatnya itu. Aku seperti yang disebutkan oleh para ahli hikmat, “Ada segolongan manusia yang separuh dirinya telah mati dan sepatuhnya lagi tak tercegah.” Aku termasuk di antara mereka. Ketika aku melihat diriku keras kepala dengan perbuatan yang melampaui batas tanpa mau mengambil manfaat dari nasihat kematian dan Alquran, maka yang paling utama harus dilakukan adalah mencari sebabnya disertai pengakuan yang tulus.

    Hal itu merupakan sesuatu yang menakjubkan. Aku terus-menerus mencari hingga aku menemukan sebabnya. Ternyata aku terlalu tenang. Oleh karena itu berhati-hatilah darinya. Itulah penyakit kronis dan sebab utama yang membuat manusia tertipu dan lupa. Yaitu, keyakinan bahwa maut masih lama. Seandainya ada orang jujur yang memberikan kabar pada seseorang di siang hari bahwa ia akan mati pada malam nanti atau ia akan mati seminggu atau sebulan lagi, niscaya ia akan istikamah berada di jalan yang lurus dan pastilah ia meninggalkan segala sesuatu yang ia anggap akan menipunya dan tidak mengarah pada Allah SWT.

    Jelaslah bahwa siapa yang memasuki waktu pagi sedang ia berharap bisa mendapati waktu sore, atau sebaliknya siapa yang berada di waktu sore lalu berharap bisa mendapati waktu pagi, maka sebenarnya ia lemah dan menunda-nunda amalnya. Ia hanya bisa berjalan dengan tidak berdaya. Karena itu, aku nasihati orang itu dan diriku juga dengan nasihat yang diberikan Rasullah saw ketika beliau bersabda, ” Salatlah seperti salatnya orang yang akan berpisah (dengan dunia). ” Beliau telah diberi kemampuan berbicara dengan ucapan yang singkat, padat, dan tegas.

    Itulah nasihat yang berguna. Siapa yang menyadari dalam setiap salatnya bahwa salat yang ia kerjakan merupakan salat terakhir, maka hatinya akan khusyuk dan dengan mudah ia bisa mempersiapkan diri sesudahnya. Tapi, siapa yang tak bisa melakukan hal itu, ia senantiasa akan lalai, tertipu, dan selalu menunda-nunda hingga kematian tiba. Hingga, pada akhirnya ia menyesal karena waktu telah tiada.

    Aku harap ia memohonkan kepada Allah agar aku diberi kedudukan tersebut karena aku ingin meraihnyg tapi tak mampu. Aku juga mewasiatkan padanya agar hanya rida dengannya dan berhati-hati terhadap berbagai tipuan yang ada. Tipuan jiwa hanya bisa diketahui oleh mereka yang cendekia.

    IMAM AL GHAZALI RH | BIDAYATUL HIDAYAH

     

     

     

  • ACHJAD, KONSTITUANTE NO 468

    ACHJAD, KONSTITUANTE NO 468

    SORBANSANTRI.COM

    Berdasar biodata keanggotaan

    Achjad adalah anggota Konstituante dari fraksi partai NU. Lahir di Mojokerto, 6 Maret 1918 dan bertempat tinggal di Jl. Midji 34 Kota Mojokerto Jawa Timur. Menjadi anggota Konstituante hasil pemilihan tahun 1955 mewakili Propinsi Jawa Timur dengan nomer anggota 468. Sedangkan di fraksi NU mendapat nomer urut 86. Terklasifikasi sebagai anggota biasa karena tidak memegang jabatan struktural di lembaga perumus konstitusi tersebut.

    Pendidikan yang dilaluinya mulai dari Sekolah Rakyat (SR) Midji, sekolah setingkat SD pada jaman penjajahan Belanda. Melanjutkan ke pesantren Tebuireng Jombang sekaligus masuk ke sekolah Madrasah Nidomiyah (SMN). Madrasah tersebut memberi pelajaran setara MULO (SMP) pada masa itu.

    Sepulang dari pesantren masuk ke organisasi NU dan dipercaya menjabat Sekretaris NU Cabang Mojokerto pada tahun 1938. Mendirikan Gerakan Pemuda Ansor bersama kawan-kawan pemuda muslim lainnya tahun 1939 dan ditunjuk sebagai ketua Cabang Ansor Mojokerto untuk pertama kalinya. Rangkap jabatan sebagai sebagai sekretaris NU dan Ketua Ansor itu dijalani hingga tahun 1942 saat dirinya diberi amanah memegang jabatan Ketua Cabang NU Mojokerto.

    Saat penjajah Jepang masuk, Achjad dijadikan Ken-Sidoom Mojokerto. Entah jabatan apa itu. Namun jika melihat kata Ken yang artinya Kabupaten maka itu bagian dari struktur lembaga formal yang disirikan oleh Jepang. Pada masa itu pula beliau membidani lahirnya Barisan Hizbullah/Sabilillah di Mojokerto.

    Pada masa perjuangan kemerdekaan aktif sebagai komandan kompi dalam kesatuan Lasykar Hizbullah hingga kemudian kesatuan itu dilebur menjadi satu TNI. Jabatan yang diemban tetap sebagai komandan kompi 34 di kesatuan Batalyon (Bn) 39 pimpinan Mayor Moenasir Ali tahun 1948. Achjad kemudian ditetapkan sebagai Kepala Markas atau kepala staf Bn 39 dengan pangkat Kapten mulai tahun 1949 hingga mundur dari TNI pada tahun 1952.

    Pengabdiannya di masyarakat dilanjutkan dengan menduduki kursi Dewan Perwakilan Rakjat Daerah Sementara (DPRDS) Kota Kecil Mojokerto. Saat pemilihan anggota Konstituante namanya masuk menjadi salah satu yang terpilih mewakili Partai NU. Achjat dilantik sebagai anggota Konstituante pada tanggal 9 Noperber 1955. Pada akhirnya kembali pulang ke Mojokerto saat Konstituante dibubarkan dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

    Mengelo, 4 Maret 2018

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • BUKU MENJERAT GUS DUR AGENDA PELENGSERAN PRESIDEN

    BUKU MENJERAT GUS DUR AGENDA PELENGSERAN PRESIDEN

    InfokomBanserNU- Haul Gus Dur tahun ini agak beda. Haul terasa lebih hangat karena bersamaan dengan peluncuran buku “Menjerat Gus Dur”. Di buku itu misalnya dikisahkan soal agenda pelengseran Presiden Gus Dur. Tak main-main, buku itu menyebut sejumlah nama yang terlibat dalam skenario pelengseran itu.

    Buku itu berguna terutama bagi generasi belakangan yang tidak hidup di era Presiden Gus Dur. Tapi bagi generasi senior yang membaca koran, tabloid serta majalah yang menarasikan pernyataan para tokoh politik kontra Gus Dur saat itu, buku ini lebih bersifat komplementer. Sebab, pelengseran Gus Dur itu bukan agenda tersembunyi. Betapa sejumlah tokoh bicara di TV dengan terus terang menyatakan keinginannya menjatuhkan Gus Dur.

    Sejumlah pimpinan organisasi kemahasiswaan bukan hanya turun ke jalan memprotes Gus Dur. Mereka juga wira-wiri masuk TV untuk menegaskan kegeramannya pada Gus Dur. Jika aktivis angkatan 98 bangga berhasil menurunkan Soeharto, maka beberapa aktivis mahasiswa angkatan 2000 menepuk dada dengan bangga karena sukses menurunkan Gus Dur. Padahal, jelas beda antara Gus Dur dan Pak Harto.

    Apapun itu, sejarah politik kekuasaan Indonesia perlu terus ditulis agar generasi mendatang bisa mengambil pelajaran. Bahwa bukan hanya pemimpin zalim yang bisa jatuhkan, pemimpin bersih seperti Gus Dur pun bisa dilengserkan. Saya jadi ingat pepatah Arab, “al haqqu bila nizham yaghlibuhu al bathil bi nizham”.

    Selasa, 31 Desember 2019
    Salam,

    Cc Abdul Moqsith Ghazali

    (post.muhammad khoirunnadzirin)

  • Rutinan LDNU di Kec.Mojosari Mojokerto

    Rutinan LDNU di Kec.Mojosari Mojokerto

    Mojosari. Pada hari Minggu tanggal 29 Des 2019 kec.Mojosari mengadakan giat rutin LDNU di masjid Wonokusumo,Mojosari Alhamdulillah dihadiri oleh KH.ADHIM ketua PCNU Kab.Mojokerto serta seribu jama’ah dari kalangan NU. Tidak ketinggalan BANSER yang selalu berperan aktif dalam pengamanan semua kegiatan yang diadakan oleh NU. #Siapa kita….. NU #infokom Mojokerto
  • Informasi Kehilangan Dompet diPengajian Gus Miftah Pungging Mojosari

    Informasi Kehilangan Dompet diPengajian Gus Miftah Pungging Mojosari

    Infokom Mojokerto- Telah hilang sebuah DOMPET WARNA HITAM atas nama SUHARIYADI beramatkan di Desa Jotangan RT.07 Mojosari – Mojokerto. yang berisikan= 1 identitas KTP, 2 SIM, 2 surat STNK dan uang sekitar Rp.700.000 – Rp.800.000

    Mohon yang menemukan bisa mengembalikan kepada pemiliknya dengan no WA:0857-3022-7371 atau bisa menghubungi kami Biro Infokom Mojokerto. Yang menemukan tolong dikembalikan kepada pemiliknya,dan….. SILAHKAN DIAMBIL UANG YANG ADA DIDOMPET.

    SORBANSANTRI.COM
    SUHARIYADI Alamati Desa Jotangan RT.07 Mojosari – Mojokerto

  • BANSER PAM PENGKADERAN DI YPI DARUN NAJAH JATIREJO

    BANSER PAM PENGKADERAN DI YPI DARUN NAJAH JATIREJO

    Jatirejo, Cyberaswaja.online- Banser Jatirejo bertugas Jaga Kelancaran di Pengkaderan yang ada di Desa Gading, sudah tugas Banser untuk mengawal kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh NU, agar berjalan aman dan tertib serta kondusif.

    SORBANSANTRI.COM
    Foto: Banser Jatirejo pos PAM

    Tepat di Desa Gading Kecamatan Jatirejo Kab.Mojokerto, terlihat Banser sigap dalam jalanya acara tersebut, dengan pembagian POS PAM masing-masing, merupakan instruksi yang harus dilaksanakan oleh kader militan Ansor tersebut.

    SORBANSANTRI.COM
    Foto: Pos PAM Banser Jatirejo di YPI DARUN Najah

    Berada di YPI DARUN NAJAH desa Gading, acara yang dilaksanakan selama tiga hari dua mala ini, PAM Banser mendapatkan giliran tugas Jaga selama pelaksanaan acara berlangsung, Peran kehadiran Banser suksesnya acara tersebut peran pelaksanaan tugas dalam bingkai “Satu Komando”.29/12/2019

    SORBANSANTRI.COM
    Foto: dari Kanan Ketua PAC GP Ansor Jatirejo

    “NU yang ada di sini kan dominan kultural, adanya Pengkaderan semacam ini kita terpanggil walaupun selama ini amalaiyah-amaliyah NU sudah dilakukan tiap hari, pemantapan mengikuti pengkaderan untuk organisasi akan semakin kuat sampai ke akar akarnya” tegas, Sahabat Sholikhudin Tokoh sekaligus Mantan Ketua PAC GP Ansor Jatirejo ini. (WG/Infokom)