Tag: sorbansantri

  • KETIKA VIRUS CORONA MEMBUNGKAM WAHABI

    KETIKA VIRUS CORONA MEMBUNGKAM WAHABI

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN Infokom |

    Oleh Ayik Heriansyah

    Setelah menyaksikan pemerintah Arab Saudi memerintahkan agar masjid-masjid di Arab Saudi dikosongkan, kecuali Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, masihkah kaum Wahabi di Indonesia menuduh NU sebagai kelompok ahlul bid’ah?! Setelah menyaksikan pemerintah Arab Saudi melarang umrah, thawaf dan sa’i, masihkah kaum Wahabi di Indonesia menuduh NU sebagai kelompok ahlul bid’ah?!

    Lalu setelah mendengar Menteri Urusan Agama Islam Arab Saudi memerintahkan shalat jenazah di kuburan, masihkah kaum Wahabi di Indonesia menuduh NU sebagai kelompok ahlul bid’ah?! Setelah negara Qatar dan Uni Emirat Arab menutup semua masjid, masihkah kaum Wahabi di Indonesia menuduh NU sebagai kelompok ahlul bid’ah?!

    Bukankah menutup masjid, melarang umrah, thawaf, sa’i dan menshalatkan jenazah di kuburan itu, bid’ah?! Bukankah Nabi saw, sahabat dan generasi salafus shalih tidak pernah melakukan hal yang demikian?! Mengapa kaum Wahabi di Indonesia diam seribu bahasa menyaksikan bid’ah terbesar yang dilakukan oleh negara-negara “sunnah” di Arab?! Atau Apakah kaum Wahabi di Indonesia tidak punya istilah syar’i untuk membenarkan bid’ah-bid’ah tersebut?

    Kemudian ketika mendengar Hai’ah Kibaril Ulama Arab Saudi, Ulama senior Al Azhar, lembaga fatwa Qatar, Kuwait, UEA, dan MUI, mengeluarkan fatwa agar mengganti shalat jum’at dengan shalat zhuhur, menghimbau agar masjid-masjid tidak menyelenggarakan shalat berjama’ah. Merenggangkan shaf shalat dengan jarak 1 – 4 meter. Membawa sajadah sendiri-sendiri. Membasuh tangan dengan cairan sanitizer setelah wudlu, masihkah kaum Wahabi mengatakan NU organisasinya ulama-ulama liberal?!

    Bukankah mengganti shalat jum’at dengan shalat zhuhur karena alasan kemashlahatan, menghimbau masjid-masjid tidak menyelenggarakan shalat berjama’ah, merenggangkan shaf shalat, membawa sajadah sendiri-sendiri dan membasuh tangan dengan cairan sanitizer setelah wudlu, itu semua pemikiran liberal?!

    Setelah pemerintah Italia mengerahkan daya upayanya melawan virus corona. Setelah Perdana Menteri Italia mengatakan semua langkah duniawi sudah dilakukan, dan berharap kepada langit untuk menghentikan wabah corona, masihkah kaum Wahabi di Indonesia mengatakan tradisi istighatsah, shalawatan dan tahlil yang diamalkan warga NU untuk mengetuk pintu langit, sebagai amalannya ahlul bid’ah?!

    Kaum Wahabi di Indonesia, diam seribu bahasa. Seolah-olah membenarkan bid’ah yang dilakukan negara Arab Saudi yang sebenarnya bid’ah hasanah karena mereka tidak mau mengakui kebenaran dan keberadaan bid’ah hasanah. Bid’ah yang sudah ada sejak zaman Nabi, sahabat dan salafus shalih.

    Al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) mengatakan dalam kitab Fathul Bari :
    والتحقيق أنها أن كانت مما تندرج تحت مستحسن في الشرع فهي حسنة وأن كانت مما تندرج تحت مستقبح في الشرع فهي مستقبحة وإلا فهي منقسم المباح وقد تنقسم إلى الأحكام الخمسة
    Dan yang pasti bid’ah itu jika masuk di bawah yang dianggap baik dalam syara` maka ia adalah hasanah dan jika masuk di bawah yang dianggap buruk dalam syara maka ia adalah buruk dan jika tidak (tidak masuk dalam keduanya) maka ia bagian dari hal mubah dan bid’ah itu terbagi kepada hukum yang lima.

    Bahwa bid’ah hasanah itu ada dan syar’i. Tanpa disadari kaum Wahabi sendiri sudah mengamalkannya. Diakui atau tidak.

    Bandung, 20 Maret 2020

    (LDNU Banjar)

  • Selamat jalan KOMANDAN & SAHABAT KU

    Selamat jalan KOMANDAN & SAHABAT KU

    Infokom NU Mojokerto//Innalillahi Wainna ilaihi Rooji’uun…!! Komandan Satkornas Banser, sekaligus Wasekjen Bidang Hankam, Sahabat Ir.H.Alfa Isnaeni. Pada pukul 11.19wib dipanggil Gusti ALLOH SWT…..

    SORBANSANTRI.COM
    Husnul khotimah

    Seputar perjalanan Rombongan Jenazah Menuju ke Kab.Tulungagung : Sekitar pukul 15.00wib Jenazah Beliau Baru di lepas Oleh Ketum Ansor Gus Yaqut Colil Qoumas dari PBNU menuju Bandara Soekarno Hatta.
    Jam 17.00wib pesawat berangkat dari Bandara Sukarno Hatta Jakarta menuju Bandara Juanda Surabaya.
    Jam 18.30wib Tiba Bandara Juanda Surabaya dilanjut menuju kediaman Beliau Kab.Tulungagung
    Jam 21.30wib jenazah tiba di rumah duka Tulungagung.

    ALFA ISNAINI adalah salah satu sosok seorang pejuang sejati di organisasi kepemudaan NU,mulai dari pengurus IPNU,ketua PW GP ANSOR Jatim hingga dipercaya untuk menjadi seorang pemimpin BANSER Nasional (KASATKORNAS) sampai beliau meninggal. Lelaki yang berasal dari Kabupaten Tulungagung tepatnya di jalan Sentot Prawirodirjo No.09 gang Hakim RT.03/04 kelurahan Panggungrejo Kec.Tulungagung Kab.Tulungagung Prov.Jatim ini selalu siap dan tanggap apabila ada yang memohon kehadirannya disetiap kegiatan BANSER di seluruh INDONESIA.


    Selamat jalan Sahabat Alfa Isnaeni Kasatkornas Banser.
    Khusnul khatimah Ndan ALFA.

    Perjuangan-Khidmat dan Bakti jenengan kepada NU dan NKRI yang belum selesai biar kami yang melanjutkan Perjuangan Jenengan tersebu. Yang bisa membuat jenengan senang dan bahagia di sisi-NYA

    # By.choirul Infokom NU Mojokerto

  • “Totalitas dan Loyalitas”  NU Canggu-Jetis

    “Totalitas dan Loyalitas” NU Canggu-Jetis

    Infokom PAC Jetis:: Bukan NU Canggu namanya jika tidak ada gebrakan baru , setelah sukses mengadakan MDS , baksos , atraksi Pagar Nusa , kali ini di selah selah pelantikan Pengurus Anak Ranting Balongsono , NU Canggu kembali menunjukan kiprahnya mengibarkan bendera Ahlisunnah Waljamaah Annahdliyah.Kegiatan ini di laksanakan pada hari Senin tanggal 09/03/2020 pukul 19.00wib-selesai di Mushola Al-Iklas Balongsono desa Canggu-Jetis-Mojokerto.

    SORBANSANTRI.COM
    Pengurus dan Anggota NU Canggu

    Ide ide kader kader NU Canggu seperti tak pernah padam demi mencapai ridho ALLOH SWT .. Dengan balutan acara Lailatul ijtima ‘yang di mulai dari siang hari bakti sosial pengobatan bekam secara gratis yang di hadiri terapis bekam dari internal NU Canggu Ansor dan Banser Husada serta beberapa terapis dari ranting tetangga dengan jumlah puluhan pasien dari warga masyarakat sekitar ..

    Puncak acara pada malam hari di awali dengan sholat isyak berjamaah dilanjut sholat sholat sunah istighosah Mahallul Qiyam dengan di iringi group ISHARI ranting yang merupakan aset dari NU sendiri …. Adapun dalam sambutanya ketua ranting NU Canggu yakni Ust H Alim Sadikin menyampaikan “kiprah NU Canggu selama 7 bulan kepengurusanya bisa membentuk Lima pengurus Anak Ranting belum lagi banom banom nya serta berhasil menggerakkan coin NU yang fenomenal yaitu hampir enam juta per bulanya …”

    Adapun dalam ceramahnya KH Abd Adzim Alawi yang juga ketua PC NU kab mojokerto menekankan “kembali perlunya keyakian yang utuh / hakkul yakin dengan idielogi NU yaitu ajaran dan ajakan kebaikan yang khasanah bil hikmah sesuai perintah di Al Qur anul karim …” Lanjut beliau lagi “NU tidak hanya sekedar organisasi biasa karena NU pewaris para Nabi yang di rintis oleh mbah Hasyim Asy’ari dan jika ada pemilihan pengurus NU di semua jajaran maka kader NU tidak boleh menolak karena itu hakikatnya Mbah Hasim Asyari sendiri yang memilih ….”

    SORBANSANTRI.COM
    Sambutan Kyai Adhim

    Pelantikan pengurus Anak Ranting di pimpin langsung oleh ketua MWC NU H Khoirul Amin SE serta doa oleh Kyai Nur Aliman al Hafidz sebagai Muhktasyar MWC ….

    Wallahu a’ lam

    By : timkreatifNUcanggu/Irul infokom

  • Kiai Abbas Singa Jawa Barat

    Kiai Abbas Singa Jawa Barat

    SORBANSANTRI.COM

    Perang 10 November Melawan Belanda di Surabaya, Kiai Abbas Buntet Meledakkan Butiran Tasbih dan Menghancurkan Pesawat dengan Hempasan Selendang (Kiai-kiai sakti di tanah jawa)

    Inilah yang membuat para penjajah lari terbirit birit karna melihat sendiri karomah para wali di tanah jawa. Kala itu, 10 November di Surabaya Kiai Abbas ditunjuk menjadi komandan perang oleh Hadrotussyaikh. Hasyim Asyari. Bersama Kiai lainnya, dengan gagah Kiai Abbas membantai pasukan Belanda.

    Dahulu kaum santri lekat dengan sarung dan bakiak. Paket itu tak hanya untuk aktivitas sehari-hari para santri. Pada jaman penjajahan Belanda, bakiak juga dipakai santri untuk berperang.

    Hal ini dilakukan oleh komandan perang 10 November 1945 Kiai Abbas Abdul Jamil dari Pesantren Buntet Cirebon. Dalam pertempuran Surabaya yang tanggalnya diabadikan sebagai Hari Pahlawan itu, Kiai Abbas menggunakan bakiak menghadang hujan peluru Belanda.

    “Bakiak tersebut yang digunakan oleh Kiai Abbas untuk memimpin peperangan 10 November,” ujar penulis buku Kisah-kisah dari Buntet Pesantren, Munib Rowandi, Kamis (10/11/2016).

    Selain menggunakan bakiak, lanjutnya, ternyata Kiai Abbas juga menggunakan alu ( alat penumbuk padi ) dan tasbih untuk melawan para penjajah dalam peristiwa besar tersebut.

    Munib mendapatkan data peristiwa 10 November tersebut dari penuturan pengawal Kiai Abbas yang bernama Abdul Wahid. Seperti yang dituliskan oleh Abdul Wahid, Kiai Abbas memimpin perang 10 November dengan menggunakan bakiak yang dipegangnya sejak dari Cirebon.

    Dalam kisah yang didapatkan dari Abdul Wachid, diketahui Kiai Abbas berangkat dari Cirebon beserta kiai dan santri dengan menggunakan kereta api. Mereka singgah terlebih dahulu di kediaman Kiai Bisri di Rembang Jawa Tengah.

    Di tempat itulah, para kiai dari berbagai daerah yang berjumlah sekitar 15 orang melakukan musyawarah dan dilanjutkan dengan perjalanan menuju Surabaya dengan menggunakan mobil.

    Meski semangat arek-arek Suroboyo untuk menyerang tentara sekutu saat itu sudah kuat, namun mereka ditahan oleh Kiai Hasyim Asy’ari. Kiai Hasyim meminta masyarakat untuk terlebih dahulu menunggu kedatangan Kiai Abbas dari Pesantren Buntet Cirebon.

    Kiai Cholil Bisri pernah bercerita, bahwa Kiai Abbas mengibaskan sorbannya dan mengakibatkan pesawat terbang milik musuh hancur,” kata Munib.

    Kiai Abbas juga dibantu oleh beberapa Kiai lainnya yang juga memiliki karomah luar biasa, membuat penjajah lari ketakutan.

  • Amanah Kiai Sahal

    Amanah Kiai Sahal

    SORBANSANTRI.COM
    Foto: Kiai Sahal Mahfudh menjadi Pemimpin Sidang dalam Muktamar NU di Yogyakarta tahun 1989. Di sampingnya Ada KH Ahmad Shiddiq (Rais Am Syuriyah PBNU) yang memakai sorban putih samping Bapak Menteri.

    Salah satu karakter utama Kiai Sahal adalah amanah. Amanah ini sifat para Nabi yang diteruskan oleh Ulama yang menjadi ahli Waris para Nabi yang bertugas menyampaikan Risalah Islam di muka bumi.

    Amanah dimaknai dengan bisa-dapat dipercaya. Orang yang amanah akan mencurahkan segala kemampuan (daya-upaya) untuk dapat melaksanakan amanah yang dipercayakan padanya.

    Amanah lahir dari sifat tanggungjawab penuh seseorang dalam melaksanakan tugas yang diemban. IA all-out dalam melaksanakan tugas sehingga lahir Prestasi Demi Prestasi yang mencengangkan Dan unpredictable.

    Urgensi sifat amanah dijelaskan dalam al-Quran Dan Hadis Nabi.

    والذين هم لامنتهم وعهدهم راعون

    Dan orang-orang yang Menjaga amanah-amanahnya Dan janjinya (QS. Al-Mu’minun 8)

    ان الله يأمركم أن تؤدوا الامانات الي أهلها

    Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu semua untuk melaksanakan amanah kepada yang berhak (QS. An-Nisa’ 85)

    لا ايمان لمن لا أمانة له ولا دين لمن لا عهد له

    Tidak dianggap Punya Iman bagi orang yang tidak bisa dipercaya Dan Tidak dianggap Punya Agama bagi orang yang tidak menepati janji (HR. Ahmad).

    اية المنافق ثلاث إذا حدث كذب وإذا وعد اخلف وإذا ائتمن خان

    Tanda orang munafik Ada tiga, ketika berbicara bohong, ketika berjanji mengingkari, Dan ketika diberi amanah berkhianat (Muttafaqun Alaih).

    Dalam banyak tulisan, Kiai Sahal menjelaskan Salah satu sifat utama seorang Muslim adalah amanah. Kiai Sahal sering mengutip ayat dalam QS. Al-Qashash 28:26:

    ان خير من استأجرت القوي الأمين

    Sesungguhnya sebaik-baiknya orang yang kamu jadikan pekerja adalah orang yang kuat Dan dapat dipercaya (amanah).

    Kiai Sahal sering mengutip hadis:

    المؤمن القوي خير واحب الي الله من المؤمن الضعيف

    Orang mukmin yang kuat lebih baik Dan lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah (HR. Imam Muslim).

    Dalam konteks Islam, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi, orang Tidak boleh mencari atau memperebutkan amanah karena amanah hanya diberikan kepada orang yang benar-benar mampu melaksanakannya.

    Ingat hadis Nabi:

    اذا وسد الأمر الي غير أهله فانتظر الساعة

    Jika suatu perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya (HR. Imam Bukhari).

    Namun, dalam waktu darurat, seperti Tidak Ada orang lain yang pantas memegang amanah, maka seseorang boleh mencalonkan Dan memperebutkan amanah, bukan Demi kepentingan pribadi (meraih kekuasaan), tapi Demi kepentingan Umum (tegaknya keadilan Dan kesejahteraan umat).

    Hal ini tersirat dalam QS. Yusuf 12:55:

    قال رب اجعلني علي خزائن الأرض اني حفيظ عليم

    Nabi Yusuf berkata: Wahai pemimpinku, jadikan aku Bendahara kekayaan bumi Mesir sesungguhnya aku orang yang bisa Menjaga Dan mengetahui.

    Permintaan Nabi Yusuf kepada Raja Mesir saat itu Tidak lepas dari realitas riil bahwa hanya Nabi Yusuf yang bisa melaksanakan amanah untuk mengatur Ekonomi bangsa Mesir. Fakta membuktikan, di tangan Nabi Yusuf, Ekonomi Mesir Jaya Dan menjadi rujukan negara-negara lain saat terjadi resesi-krisis global, khususnya dalam Hal pangan.

    Kiai Sahal Mahfudh

    Berbagai tanggungjawab yang diserahkan kepada Kiai Sahal membuktikan bahwa Kiai Sahal adalah orang yang amanah. Posisi sebagai Rais Am Syuriyah PBNU Dan Ketua Umum MUI Pusat Tidak mungkin diberikan kecuali kepada orang yang benar-benar sudah terbukti amanahnya dalam mengemban tanggungjawab besar.

    Beberapa indikator bahwa Kiai Sahal adalah pemimpin amanah adalah sebagai berikut:

    Pertama, saat pulang (bukan boyong) dari Pondok Sarang, Kiai Sahal tiba-tiba diserahi pamannya KH Abdullah Zain Salam Dan guru-guru untuk memimpin Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) Kajen, sebuah Madrasah yang dirintis kakeknya KH Abdussalam, yang berhasil melahirkan ulama-ulama besar.

    Kiai Sahal Tidak menolak amanah ini, tapi menerima amanah ini dengan penuh tanggungjawab.

    Ketika mengemban amanah sebagai Direktur PIM ini, Tidak terhitung terobosan positif yang diinisiasi Kiai Sahal. Berdirinya Aliyah, Madrasah Diniyah Ula Dan Wustha, Himpunan Siswa Mathali’ul Falah Putra-Putri (HSM-HISMAWATI), Taman Gizi HISMAWATI, Dan lain-lain sebagian terobosan Kiai Sahal.

    Kedua, ketika diserahi amanah menjadi Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah tahun 1982, Kiai Sahal menerima amanah ini, meskipun Rais Syuriyah sebelumnya (ketika Kiai Sahal menjadi Katib Syuriyah), yaitu KH Ahmad Kendal berkenan menjadi Wakil Rais untuk membimbing Kiai Sahal.

    Ketiga, ketika diserahi amanah jabatan Rektor INISNU (Institut Islam Nahdlatul Ulama) Jepara, Kiai Sahal melaksanakan amanah ini dengan penuh tanggungjawab meskipun tugas-tugas dalam skala Nasional Dan regional menumpuk. Tugas sebagai Rektor ini beliau emban sampai INISNU berubah menjadi UNISNU (Universitas Islam Nahdlatul Ulama).

    Keempat, ketika diserahi memimpin Pondok Pesantren Maslakul Huda untuk melanjutkan kepemimpinan Ayahnya, KH Mahfudh Salam yang merintis Pondok ini, Kiai Sahal melaksanakan dengan sepenuh hati. Pondok Pesantren Maslakul Huda di bawah kepemimpinan Kiai Sahal tidak hanya bergerak di bidang pendidikan tafaqquh fiddin, tapi juga bergerak dalam pemberdayaan Ekonomi warga Kajen Dan sekitarnya.

    Kelima, ketika diserahi amanah sebagai Ketua Umum MUI Jawa Tengah, Kiai Sahal menerimanya sampai Dua periode. Menurut sumber, di era kepemimpinan Kiai Sahal, MUI Jateng berhasil membangun Kantor karena kedisiplinan Kiai Sahal dalam menertibkan keuangan lembaga sehingga transparan Dan akuntabel.

    Keenam, ketika diamanahi tugas Maha Berat, yaitu Rais Am Syuriyah PBNU di Muktamar NU di Lirboyo tahun 1999, Kiai Sahal menerima amanah besar ini dengan penuh tanggungjawab. Beliau Tidak memanfaatkan posisi ini untuk kepentingan pribadi Dan kelompok. Justru beliau berjuang untuk kemajuan warga NU Dan bangsa secara keseluruhan. Maka wajar jika Kiai Sahal dipilih sebagai Rais Am Syuriyah PBNU tiga periode (sampai akhir hayat).

    Ketujuh, ketika diserahi amanah menjadi Ketua Umum MUI Pusat tahun 2000, beliau melaksanakan amanah besar ini dengan sungguh-sungguh. Maka wajar jika Kiai Sahal dipilih kembali menjadi Ketua Umum MUI sampai tiga periode (sampai akhir hayatnya). Di era kepemimpinan Kiai Sahal di MUI ini, berdiri Kantor MUI yang representatif.

    Tujuh bukti di atas menunjukkan amanah Kiai Sahal Mahfudh yang menjadi inspirasi Dan motivasi para santri untuk meneladaninya.

    فتشبهوا إن لم تكونوا مثلهم – ان التشبه بالرجال فلاح

    IPMAFA, Jumat, 11 Rajab 1441 – 6 Maret 2020

    Foto: Kiai Sahal Mahfudh menjadi Pemimpin Sidang dalam Muktamar NU di Yogyakarta tahun 1989. Di sampingnya Ada KH Ahmad Shiddiq (Rais Am Syuriyah PBNU) yang memakai sorban putih samping Bapak Menteri.

    Sumber: ULAMA & KIAI Nusantara

  • Diklat Satgas Anti Narkoba di Banyumas

    Diklat Satgas Anti Narkoba di Banyumas

    InfokomBanserNU- Sedikitnya 120 orang peserta dari berbagai kecamatan di Banyumas mengikuti Diklat Satgas Anti Narkoba yang diselenggarakan oleh Badan Ansor Anti Narkoba (Baanar) Banyumas, di Aula Palawi Baturraden, Sabtu-Minggu (29/2-1/3).

    Kepala Baanar Banyumas, Suhardiman mengungkapkan, melalui kegiatan diklat dan pembentukan satgas anti narkoba ini, nantinya pengurus di setiap kecamatan bisa terbentuk. “Setelah dibentuknya kepengurusan di tingkat kecamatan, kedepan targetnya setiap desa terdapat Satgas Anti Narkoba,” terangnya.

    Kegiatan yag dilaksanakan selama dua hari kemarin peserta mendapat berbagai pemahaman, terkait pencegahan, penanggulangan, termasuk materi sosialisasi bahaya narkoba. Pengurus kecamatan nantinya juga akan melakukan pengkaderan di masing-masing wilayahnya.

    Adapun divisi berada di bawah pengurusan kecamatan yakni, bidang pencegahan, bidang sosialisasi dan pengkaderan, serta bidang advokasi. “Terkait advokasi, kami juga sudah melakukan penandatangannan pakta integritas, jika memang kedapatan ada yang bermain, maka kita juga tidak akan memberi pendampingan,” terangnya.

    Sebelum dilantik menjadi satgas, salah satu rencana tindak lanjut dari peserta yag sudah mengikuti diklat, nantinya mereka akan melakukan sosialisasi minimal 3 kali di wilayah masing-masing. “Setelah mereka melakukan kegiatan bersama masyarakat, maka baru kita kukuhkan sebagai satgas Anti Narkoba,” tambahnya.

    Adapun narasumber yang hadir dalam diklat kemarin yakni, Kapolresta Banyumas, Kabag Hukum Pemda Banyumas, BNN Banyumas, Komisi Perlindungan Aids (KPA) Banyumas, Kepala BAANAR Jateng Taufik Hidayat, dan Deputi Bidang Pemberdayaan BAANAR Jateng Dosen Undip Fahmi Arifianto.

    Lebih Lanjut diungkapkan, BAANAR kini juga sudah menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, terkait dengan pencegahan dan penanggulangan narkoba. Hal mendasar yang menjadi urgensi terus dilakukannya sosialisasi dan pencegahan peredaran narkoba, yakni karena semakin canggihnya peredaran narkoba.

  • Kisah KH.As’ad Syamsul Arifin Saat Disuruh Mbah Kholil Bangkalan ( Pada Tahun 1924 )

    Kisah KH.As’ad Syamsul Arifin Saat Disuruh Mbah Kholil Bangkalan ( Pada Tahun 1924 )

    InfokomBanserNU- Asalnya saya ini mengaji di pagi hari, dimarahi oleh kyai, karena saya tidak bisa mengucapkan huruf Ro’. Saya ini pelat (cadal). “Arrohman Arrohim…”

    Kyai marah: “Bagaimana kamu membaca al-Quran kok seperti ini? Disengaja apa tidak?!”

    “Saya tidak sengaja Kyai. Saya ini pelat.”

    Kyai kemudian keluar (Kyai Kholil melakukan sesuatu). Kemudian esok harinya pelat saya ini hilang. Ini salah satu kekeramatan Kyai yang diberikan kepada saya.

    Kedua, saya dipanggil lagi: “Mana yang cedal itu? Sudah sembuh cedalnya?”

    “Sudah Kyai.”

    “Ke sini. Besok kamu pergi ke Hasyim Asy’ari Jombang. Tahu rumahnya?”

    “Tahu.”

    “Kok tahu? Pernah mondok di sana?”

    “Tidak. Pernah sowan.”

    “Tongkat ini antarkan, berikan pada Hasyim. Ini tongkat kasihkan.”

    “Ya, kyai.”

    “Kamu punya uang?”

    “Tidak punya, kyai.”

    “Ini.”

    Saya diberikan uang Ringgit, uang perak yang bulat. Saya letakkan di kantong. Tidak saya pakai. Sampai sekarang masih ada. Tidak beranak, tapi berbuah (berkah). Beranaknya tidak ada. Kalau buahnya banyak. Saya simpan. Ini berkah. Ini buahnya.

    Setelah keesokan harinya saya mau berangkat, saya dipanggil lagi: “Ke sini kamu! Ada ongkosnya?”

    “Ada kyai.”

    “Tidak makan kamu? Tidak merokok kamu? Kamu kan suka merokok?”

    Saya dikasih lagi 1 Ringgit bulat. Saya simpan lagi. Saya sudah punya 5 Rupiah. Uang ini tidak saya apa-apakan. Masih ada sampai sekarang. Kyai keluar: “Ini (tongkat) kasihkan ya, (Kyai Kholil membaca QS. Thaha ayat 17-21):

    وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١

    “Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.”

    Karena saya ini namanya masih muda. Masih gagah. Sekarang saja sudah keriput. Gagah pakai tongkat dilihat terus sama orang-orang. Kata orang Arab Ampel: “Orang ini gila. Muda pegang tongkat.”

    Ada yang lain bilang: “Ini wali.”

    Wah macam-macam perkataan orang. Ada yang bilang gila, ada yang bilang wali. Saya tidak mau tahu, saya hanya disuruh Kyai. Wali atau tidak, gila atau tidak terserah kamu.

    Saya terus berjalan. Saya terus diolok-olok, gila. Karena masih muda pakai tongkat. Jadi perkataan orang tidak bisa diikuti. Rusak semua, yang menghina terlalu parah. Yang memuji juga keterlaluan. Wali itu, kok tahu? Jadi ini ujian. Saya diuji oleh Kyai. Saya terus jalan.

    Sampai di Tebuireng, (Kyai Hasyim bertanya): “Siapa ini?”

    “Saya, Kyai.”

    “Anak mana?”

    “Dari Madura, Kyai.”

    “Siapa namanya?”

    “As’ad.”

    “Anaknya siapa?”

    “Anaknya Maimunah dan Syamsul Arifin.”

    “Anaknya Maimunah kamu?”

    “Ya, Kyai”

    “Keponakanku kamu, Nak. Ada apa?”

    “Begini Kyai, saya disuruh Kyai (Kholil) untuk mengantar tongkat.”

    “Tongkat apa?”

    “Ini, Kyai.”

    “Sebentar, sebentar…”

    Ini orang yang sadar. Kyai ini pintar. Sadar, hadziq (cerdas). “Bagaimana ceritanya?”

    Tongkat ini tidak langsung diambil. Tapi ditanya dulu mengapa saya diberi tongkat. Saya menyampaikan ayat:

    وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١

    “Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.”

    “Alhamdulillah, Nak. Saya ingin mendirikan Jam’iyah Ulama. Saya teruskan kalau begini. Tongkat ini tongkat Nabi Musa yang diberikan Kyai Kholil kepada saya.”

    Inilah rencana mendirikan Jam’iyah Ulama. Belum ada Nahdlatul Ulama. Apa katanya? Saya belum pernah mendengar kabar berdirinya Jam’iyah Ulama. Saya tidak mengerti.

    Setelah itu saya mau pulang. “Mau pulang kamu?”

    “Ya, Kyai.”

    “Cukup uang sakunya?”

    “Cukup, Kyai.”

    “Saya cukup didoakan saja, Kyai.”

    “Ya, mari. Haturkan sama Kyai, bahwa rencana saya untuk mendirikan Jam’iyah Ulama akan diteruskan.”

    Inilah asalnya Jam’iyatul Ulama.

    Tahun 1924 akhir, saya dipanggil lagi oleh Kyai Kholil: “As’ad, ke sini! Kamu tidak lupa rumahnya Hasyim?”

    “Tidak, Kyai.”

    “Hasyim Asy’ari?”

    “Ya, Kyai.”

    “Di mana rumahnya.”

    “Tebuireng.”

    “Dari mana asalnya?”

    “Dari Keras (Jombang). Putranya Kyai Asy’ari Keras.”

    “Ya, benar. Di mana Keras?”

    “Di baratnya Seblak.”

    “Ya, kok tahu kamu?”

    “Ya, Kyai.”

    “Ini tasbih antarkan.”

    “Ya, Kyai.”

    Kemudian diberi uang 1 Ringgit dan rokok. Saya kumpulkan. Semuanya menjadi 3 Ringgit dengan yang dulu. Tidak ada yang saya pakai. Saya ingin tahu buahnya.

    Terus, pagi hari Kyai keluar dari Langgar: “Ke sini, makan dulu!”

    “Tidak, Kyai. Sudah minum wedang dan jajan,”

    “Dari mana kamu dapat?”

    “Saya beli di jalan, Kyai”

    “Jangan membeli di jalan! Jangan makan di jalan! Santri kok makan di jalan?”

    “Ya, Kyai.”

    Saya makan di jalan dimarahami. Santri kok menjual harga dirinya? Akhirnya saya ditanya: “Cukup itu?”

    “Cukup, Kyai.”

    “Tidak!”

    Diberi lagi oleh Kyai. Dikasih lagi 1 Ringgit. Saya simpan lagi. Kemudian tasbih itu dipegang ujungnya: “Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar.” Jadi Ya Jabbar 1 kali putaran tasbih. Ya Qahhar 1 kali putaran tasbih. Saya disuruh dzikir.

    “Ini.”

    Disuruh ambil. Saya tengadahkan leher saya. “Kok leher?”

    “Ya, Kyai. Tolong diletakkan di leher saya supaya tidak terjatuh.”

    “Ya, kalau begitu.”

    Jadi saya berkalung tasbih. Masih muda berkalung tasbih. Saya berjalan lagi, bertemu kembali dengan yang membicarakan saya dulu: “Ini orang yang megang tongkat itu? Wah.. Hadza majnun.” Ada yang bilang “wali”, ya seperti tadi. Jadi saya tidak menjawab. Saya tidak bicara kalau belum bertemu Kyai. Saya berpuasa. Saya tidak bicara, tidak makan, tidak merokok, karena amanatnya Kyai. Saya tidak berani berbuat apa-apa. Sebagaimana kepada Rasulullah, ini kepada guru. Saya tidak berani. Saya berpuasa. Saya tidak makan, tidak minum tidak merokok. Tidak terpakai uang saya.

    Ada yang narik: “Karcis! karcis!”

    Saya tidak ditanya. Saya pikir ini karena tasbih dan tongkat. Saya pura-pura tidur karena tidak punya karcis. Jadi selama perjalanan 2 kali saya tidak pernah membeli karcis. Mungkin karena tidak melihat saya. Ini sudah jelas keramatnya Kyai. Jadi Auliya’ itu punya karomah. Saya semakin yakin dengan karomah. Saya semakin yakin.

    Saya lalu sampai di Tebuireng, Kyai (Hasyim) tanya: “Apa itu?”

    “Saya mengantarkan tasbih.”

    “Masya Allah, Masya Allah. Saya diperhatikan betul oleh guru saya. Mana tasbihnya?”

    “Ini, Kyai.” (dengan menjulurkan leher).

    “Lho?”

    “Ini, Kyai. Tasbih ini dikalungkan oleh Kyai ke leher saya, sampai sekarang saya tidak memegangnya. Saya takut su’ul adab (tidak sopan) kepada guru. Sebab tasbih ini untuk Anda. Saya tidak akan berbuat apa-apa terhadap barang milik Anda.”

    Kemudian diambil oleh Kyai: “Apa kata Kyai?”

    “Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar.”

    “Siapa yang berani pada NU akan HANCUR.
    Siapa yang berani pada ulama akan HANCUR.” Ini dawuhnya.

    ALLAHUMMA sholli ‘alaa sayyidina muhammad wa angzilhu almaq ‘ada almuqorrobba ‘indaka yaumal qiyyamah
    wa ‘alaa aalihi wa shohbihi wa barrik wa ssalim ajma’in

    (Ansor Pejogol)

  • LTMNU PC Temanggung dan NU-Care LAZISNU Temanggung adakan Rapat koordinasi Galakkan Sinergi

    LTMNU PC Temanggung dan NU-Care LAZISNU Temanggung adakan Rapat koordinasi Galakkan Sinergi

    InfokomBanserNU- Upaya Mewujudkan Sinkronisasi antar lembaga dan banom NU, jajaran Pengurus LTMNU PC Temanggung mengadakan rapat koordinasi dengan jajaran pengurus NU-Care Lazisnu PC Temanggung.

    Rapat ini dilaksanakan pada 16 Desember 2019 lalu, di Kantor PCNU Temanggung yang dihadiri oleh KH. Badarudin (Ketua LTMNU), KH. Masturi (WaKa LTMNU), KH. Saifurrahman(Ketua NU-Care LAZISNU), Haris (Media NU-Care LAZISNU) Beserta beberapa anggota jajaran kepengurusan LTMNU dan NU-Care LAZISNU Lainnya.

    Dalam rapat ini membahas sinkronisasi program LTMNU dengan NU-Care Lazisnu terkait alokasi dana pilar jaminan kesejahteraan Imam masjid, operasional Masjid dan Musholla, selain itu menekankan agar LTMNU selalu bergandengan erat dengan Lembaga dan Banom lain, Karena hal tersebuat adalah Satu-Satunya Cara akan terwujudnya sebuah sinergi antar lembaga dan banom yang solid yang nantinya akan dapat menghindari terjadinya miss komunikasi program kegiatan, yang kedepannya Semua program kegiatan akan berjalan lebih baik dan maksimal.

    Akhir pertemuan Rapat Ini dihangatkan dengan Beberapa pesan dari ketua, waka LTMNU, dan ketua lazisnu bahwa segala hal yang berkaitan dengan proker Semuanya harus tertata rapi dan tertarget. Untuk yang berkaitan dengan dedikasi KH. Masturi menyampaikan: “Hidmah di NU dituntut bukti bukan hanya sekedar simbul untuk gagah-gagahan.”

    Semoga Dengan adanya Rapat koordinasi ini Bisa menjadi bekal didalam mengawali pelaksanaan kinerja kepengurusan LTMNU PC Temanggung untuk menjadi yang lebih baik dan maju. Amin …

    Team media LTMNU PC Temanggung

     

  • Pubertas atau Aqil Baligh Dalam Agama Punya Sikap Suka Menyalahkan

    Pubertas atau Aqil Baligh Dalam Agama Punya Sikap Suka Menyalahkan

    InfokomBanserNU- Semua orang pernah mengalami pubertas beragama, tapi biasanya itu gak lama, asal terus belajar dan tak berhenti membaca.

    Di pesantren, santri kelas wushto yg lagi semangat belajar Nahwu pasti sensi banget saat lihat kosakata arab yang i’robnya salah. Santri Ulya senyum-senyum saja. “Maklum belum hatam Alfiyah” katanya.

    Waktu ngajinya masih Fathul Qorib, keluar dari kamar mandi jinjit-jinjit, sarung diangkat di atas betis karena takut najis. Waktu udah hatam Fathul Jawad, baru sadar kalau semua itu lebay dan melampau batas.

    Pada ngaku gak, waktu ngaji Sulam Taufiq dikit-dikit bilang Murtad dan Syirik.
    Tapi setelah mempelajari syarahnya, Isy’adur Rofiq jadi lebih arif dan gak asal kritik.
    Mereka yang baru belajar baca Quran Terjemah, baca ayat jihad yang terbayang perang dan darah.

    Coba selami tafsirnya, pasti paham bagaimana sulitnya menahan amarah demi tersebarnya islam yang rahmah. Semakin bertambah ilmu semakin ringan menyelesaikan persoalan.
    Ibarat balon yang diisi Hellium bisa terbang melayang. Beda sama yang ditiup dengan mulut, melembung tapi nggelundung.

    Ngaji itu tak kenal berhenti, dari bayi sampai mati.
    Apakah biar menang debat? Bukan. Tapi biar tahu kalau kita ini gak tahu.

    #NUgarislucu
    wes ngunu ae

    (wali)