
Tag: sorbansantri
-

SURAT UNTUK ADEK KU YANG CANTIK PENDUKUNG HTI
wp.sorbansantri.com –Adek ku yang cantik pendukung HTI..Dek, apa kabar..?Senang melihatmu begitu atraktif mendukung Hizbut Thahrir.Adek pasti sama dengan sekian ratus pendukung Hizbut Thahrir di seluruh dunia, bermimpi tentang indahnya negeri ini ketika berada di bawah naungan khilafah.Tapi coba abang ingatkan dulu sebuah peristiwa..Adek kenal wanita yang bernama Bibi Aisha..?Bibi Aisha adalah gadis muda cerdas yang tinggal di Afghanistan.Ia sebelumnya baik-baik saja sebelum ayahnya berhutang pada organisasi Taliban.Taliban ini adalah pendukung khilafah, sama seperti yang Hizbut Thahrir lakukan.Mereka punya keyakinan yang sama.Akhirnya Bibi Aisha dikawinkan paksa pada usia 14 tahun, justru saat dia sedang menikmati masa remajanya.Dan adek tahu apa yang terjadi pada Bibi Aisha..?Dia dihajar habis oleh suaminya, karena konsep khilafah yang mereka yakini tidak mengenal wanita sebagai pendamping, hanya aksesori.Bibi Aisha kabur dari suaminya tetapi ia tertangkap.Dan tahu apa yang dialami Bibi Aisha, dek..?Hidungnya yang mancung dipotong oleh suaminya dan Bibi Aisha ditinggal dalam kondisi koma karena kekurangan darah.Untunglah ia ditemukan oleh orang baik dan dilarikan ke rumah sakit.Wajah Bibi Aisha dengan hidungnya yang hilang kemudian menjadi cover majalah Time tahun 2010 dan ia bercerita tentang kehidupan di Afghanistan pasca penguasaan kelompok Taliban yang meyakini negara Islam.Penderitaan Bibi Aisha juga yang diderita para wanita di Nigeria yang diculik oleh kelompok Boko Haram yang meyakini konsep khilafah yang sama.Jangan tanya apa yang dilakukan ISIS kepada wanita dan para gadis yang bahkan belum matang di Irak dan Suriah.Mereka habis-habisan diperkosa..Adekku yang cantik..Adek harusnya bersyukur tinggal di negeri tercinta ini.Negeri indah yang memuliakan wanita.Mendorong wanita supaya bisa setara dengan pria.Memberikan pendidikan yang sama tanpa membedakan siapa dia.Banyak pahlawan wanita disini, yang terkenal salah satunya adalah RA Kartini, yang berjuang untuk mendapatkan sisi yang sama dengan para lelaki.Adek bisa masih cantik dan bebas bersuara karena konsep dan sistem Pancasila di negeri ini.Jika Indonesia menjadi negeri Islam seperti yang adek dambakan, adek sudah pasti tidak bisa turun ke jalan apalagi bersuara keras seperti sekarang yang adek lakukan.Adek bisa-bisa sudah dikawinkan sejak dini dan harus patuh pada suami untuk tidak boleh kemana-mana, bahkan untuk shopping keluar saja.Belum lagi mengalami kekerasan..Adekku yang cantik boleh-boleh saja bermimpi tentang negara Islam, tetapi manakah di dunia ini yang sudah menerapkan sistemnya..?Belum ada dek.., karena mengerikan.Bahkan negara sekelas Arab Saudi saja masih monarkhi, dan dari penerapan syariat mereka wanita berada di kelas dua.Mereka baru boleh menyetir mobil sendiri baru-baru saja.Bukan karena Saudi menghormati wanita, tapi karena ekonomi mereka sedang berada pada titik terendah dan penerapan supir untuk wanita membebani kas negara.Jadi adek seharusnya cukup bersyukur saja bahwa adek ada di tempat yang memuliakan wanita.Negeri Indonesia adalah surganya.Tidak perlu ribut menggantinya dengan sistem yang bahkan adek tidak mengerti dampaknya.Mungkin Bibi Aisha dan banyak wanita lain di dunia yang ditindas dengan sistem khilafah yang salah akan berseru..,“Hai cantik… Nikmat Tuhan manakah yang kau ingkari dengan hidup di negeri seperti Indonesia ini..?Lihatlah kami, diri kami ditindas setiap hari karena kearoganan sebuah sistem yang menjadikan wanita sebagai aksesori.Bersyukurlah, apakah tidak cukup bagimu semua ini..?”Adekku yang cantik, belajarlah dengan baik.Jadilah wanita yang bisa mengangkat derajat dan harkat sesamamu nanti.Tidak usah meributkan hal yang tidak kau mengerti.Biar kami yang menjaga negeri ini dan cukuplah dirimu mendukung perjuangan kami menjaga dirimu, kaum wanita sepertimu dan ibu pertiwi.Salam dari abang(sumber) -

IPNU IPPNU Adalah Ruh Organisasi Kaderisasi
InfokomBanserNU- Sebagai organisasi pengkaderan, tentunya IPNU dan IPPNU mempunyai jenjang atau fase pengkaderan bagi anggota-anggotanya.
Fase pertama adalah Masa Kesetiaan Anggota (Makesta). Makesta adalah rekruitmen awal Rekan-Rekanita akan dibaiat menjadi anggota IPNU IPPNU.Kader IPNU-IPPNU berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, pesantren, pemuda desa, Ikatan Remaja Masjid (Irmas) dan mahasiswa.
Pada fase ini, anggota mulai belajar memahami akidah, Fikrah, Amaliah, Syiasyah NU dan lain-lainnya.Jadi Rekan-rekanita ikut Makesta dimana nih??
Yuk coba absen
Siapa tahu kita Seangkatan..Salam berjuta
Belajar Berjuang BertaqwaTeam Media Pelajar
PAC IPNU-IPPNU Kedungbanteng Kab. Banyumas.
Alamat : Gedung MWC NU Kedungbanteng lantai 2 Jln raya Karangnangka kec Kedungbanteng#pelajarkedungbanteng
#pacipnuippnukedungbanteng
#dkaccbpkppkedungbanteng
#pcipnuippnubanyumas -

Nasihat Ketua MUI ke Ustaz Yahya Waloni: Mualaf Belajar Dulu

wp.sorbansantri.com -Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis menanggapi soal pernyataan Ustaz Yahya Waloni yang mengaku menabrak seekor anjing.
Cholil memberikan sebuah nasihat yang menyinggung tentang seorang mualaf. Perlu diketahui, bahwa Ustaz Yahya Waloni merupakan seorang mualaf.
Melalui akun Twitter @cholilnafis, dirinya menanggapi perbuatan Ustaz Yahya Waloni.
Menurut Cholil, seorang mualaf harus belajar terlebih dahulu untuk menjadi ustaz sehingga tidak perlu terburu-buru.
“Mualaf harusnya belajar dulu jangan buru-buru jadi ustaz. Masyarakat pun hendaknya cari penceramah yang bisa ngaji dan berilmu. Ini perlu dibina dibimbing, kecuali kalau tak mau ya,” cuitnya, dikutip Suara.com.
Lebih lanjut, Cholil mengatakan mualaf sebaiknya tidak menjelekkan agama sebelumnya. Selain itu, mualaf juga tidak boleh membenci makhluk hidup termasuk anjing.
“Mualaf itu tak boleh menjelekan agama sebelumnya, tak boleh membenci mahkluk Allah meskipun anjing,” lanjutnya.
Sebelumnya, Cholil Nafis juga pernah mengomentari soal mualaf. Menurutnya, orang mualaf belum memiliki banyak ilmu soal agama Islam.
Cholil mengatakan seorang mualaf sebaiknya tidak menyampaikan sesuatu yang tidak ia ketahui kepastiannya.
“Saya pernah komentar tentang mualaf, bahwa ia orang yang baru masuk Islam sehingga tak banyak tahu tentang Islam. Sampaikan soal mengapa ia memilih Islam tapi jangan ceramah ajaran Islam yang tak dia ketahui,” ujar Cholil.
Ustaz Yahya Waloni sempat mengaku pernah sengaja menabrak seekora anjing hingga kakinya pincang.
“Ku tabrak juga satu ekor anjing, ga tau siapa yang punya itu, lari pincang kakinya. Kalau kambing saya masih rem, ku lihat anjing najis, ku tembak satu kali di depan-depan,” katanya.
(sumber suara.com)
-

NAHDLATUL ULAMA’ DAN PANCASILA IDEOLOGI NEGARA
InfokomBanserNU-
1. Ketuhanan yang maha esa
• katakanlah : Dialah Allah yang maha Esa. (QS. Al-Ikhlas, [112] : 1)2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
• Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, hendaklah kamu menjadi manusia yang adil.
(QS. An-Nisa’, [4] :135)3. Persatuan Indonesia.
• dan kami menjadikan kamu berbagai bangsa” dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal.
(QS. Al-Hujarat, [49] :13)4. Kerakyatan yang dipimpin oleh khidmat kebaijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
• Sedangkan urusan mereka (diputuskan) dg musyawarah diantara mereka.
(QS. As-Syuro, [42] : 38)5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
• sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.
(QS. An-Nahl, [16] : 90)(red.abi)
-

Doa minta keteguhan hati
InfokomBanserNU- Setiap hamba pasti sangat butuh meminta keteguhan diatas islam kepada Allah.
Kekokohan atau Keteguhan iman ini sangat dibutuhkan setiap Muslim dalam urusan dunianya, dibutuhkan pula di kubur dan Akhiratnya.
Maka sering-seringlah kita senantiasa Berdzikir kepada Allah ☺يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
_Yaa muqollibal quluub, tsabbit qolbii ‘alaa diinik_
Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.
(HR. Tirmidzi no. 3522 dan Ahmad 6: 315 hasan)
Yuuuk Rekan-rekanita perbanyak dzikir kita,
Agar senantiasa iman kita terjaga dengan baik..Salam berjuta
Belajar Berjuang BertaqwaTeam Media Pelajar
PAC IPNU-IPPNU Kedungbanteng Kab. Banyumas.
Alamat : Gedung MWC NU Kedungbanteng lantai 2 Jln raya Karangnangka kec Kedungbanteng#pelajarkedungbanteng
#pacipnuippnukedungbanteng
#dkaccbkkppkedungbanteng
#pcipnuippnubanyumas -

TURBA PC; ANSOR masa depan NU
Infokom NU Mojokerto; Perjalanan TURBA PC GP ANSOR Kab.Mojokerto terus digalakkan di semua PAC,pada malam,hari Selasa tanggal 18 feb 2020 pukul 20.00 wib-selesai bertempat di kantor mwcNU Kec.Puri adalah TURBA PC yang ke-8 di PAC GP ANSOR Kec.Puri.

Sambutan ketua PC GP ANSOR Seperti pada TURBA di PAC sebelumnya,di PAC Puri dihadiri oleh Ketua dan Sekertaris PC GP ANSOR Kab.Mojokerto,Kasatkorcab BANSER Kab.Mojokerto beserta jajaran dan lembaga PC lainya.

Jajaran pengurus PC Kab.Mojokerto Dalam TURBA tersebut ketua PC GP ANSOR Kab.Mojokerto memberi sambutan mengenai; 1.Khullu Ansorrulloh=Ansor adalah agamanya ALLOH SWT. 2.Generasi ANSOR adalah Masa depan/penerus NU. 3.Barang siapa yang ikut dan memperjuangkan NU….Maka dia,istri-anaknya,keluarga dan sudara2 nya diakui jadi muridnya KH.Hasim Asy’ari.

Jajaran ANSOR-BANSER PAC PURI Suatu kebanggaan kita semuanya dan keluarga kita apabila kita semuanya bisa dan siap ikut serta memperjuangkan amalan2 NU.

Foto Bersama Infokom PAC PURI
By. Irul Infokom,19/02/2020
-

Mengenal Pencipta Shalawat Nahdliyyah

Oleh Abdul Moqsith Ghazali
wp.sorbansantri.com – Belakangan warga NU luar Jawa Timur sudah mulai tahu nama pencipta Shalawat Nahdhiyah, yang tak lain dan tak bukan adalah KH Hasan Abdul Wafi. Siapa KH Hasan Abdul Wafi? Mari saya jelaskan secara singkat. Ia lahir di Pamkesasan Madura tahun 1923 dan wafat di PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo Jawa Timur pada Rabu, 31 Juli 2000. Lahir dari pasangan KH. Miftahul Arifin ibn Kiai Hadu dan Nyai Nyai Lathifah ibn Kiai Jamaluddin ibn Kiai Ruham.
Berbagai sumber mengisahkan bahwa Kiai Hadu dan Kiai Ruham adalah saudara kandung. Dan kita tahu bahwa Kiai Ruham adalah kakek dari KH. R. As’ad Syamsul Arifin ibn KH.R Syamsul Arifin ibn Kiai Ruham (1841-1951). Dengan demikian, jika dirunut dari jalur ayah, maka KH. Hasan Abdul Wafi adalah sepupu KH. R. As’ad Syamsul Arifin (1897-1990).
Namun, dari jalur ibu, Kiai Hasan Abdul Wafi adalah keponakan Kiai As’ad, karena ibunda Kiai Hasan (Nyai Lathifah) adalah anak dari Kiai Jamaluddin Ruham yang notabene kakak kandung KH.R Syamsul Arifin. Namun, Kiai Hasan Abdul Wafi dan enam kakaknya seperti KH Sufyan Miftahul Arifin Situbondo (1912-2012 M.) dan Kiai Masduqi Miftahul Arifin (ayahanda KH. Badri Masduqi Probolinggo [1942-2002]) lebih memilih memanggil paman pada Kiai As’ad dan bukan kakak.
Singkatnya, jika melalui jalur ayahandanya, Kiai Hasan Abdul Wafi adalah Bani Hadu, maka melalui jalur ibundanya, beliau adalah Bani Ruham.
Wafat dan dikebumikan di Pesantren Nurul Jadid Paiton karena Kiai Hasan Abdul Wafi adalah menantu KH Zaini Mun’im (1906-1976), Pendiri dan Pengasuh Pertama PP. Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Beliau menikah dengan Nyai Aisyah binti Zaini Mun’im. Bukan hanya menantu, dari jalur ibu, Kiai Hasan Abdul Wafi sebenarnya masih ada hubungan keluarga dengan Kiai Zaini. Ini karena istri Kiai Ruham yang bernama Nyai Nur Sari adalah saudara kandung Kiai Mudarik/Kiai Mudrikah.
Jika dibentangkan, maka silsilahnya adalah Kiai Hasan Abdul Wafi ibn Nyai Lathifah binti Nyai Nur Sari binti Kiai Ismail. Sementara silsilah Kiai Zaini adalah Kiai Zaini ibn Kiai Abdul Mun’im ibn Kiai Mudarik ibn Kiai Ismail. Dengan demikian, nasab Kiai Hasan dan Kiai Zaini bertemu di Kiai Isma’il (keponakan Kiai Mahalli, Pendiri Pesantren Kembang Kuning Pamekasan tahun 1619 M.)
Demikian nasab biologis Kiai Hasan Abdul Wafi yang terhubung dengan Kiai As’ad Syamsul Arifin dan Kiai Zaini Mun’im. Bagaimana nasab ilmunya?
Sebagaimana Kiai As’ad dan Kiai Zaini Mun’im yang santri kelana, maka Kiai Hasan Abdul Wafi juga. Ia malang melintang dari satu pesantren ke pesantren lain. Pertama-tama tentu Kiai Hasan belajar pada orang tuanya. Setelah ayah dan ibunya wafat ketika beliau masih kecil, maka Kiai Hasan melanjutkan studi ke Pesantren Banyuanyar yang saat itu diasuh oleh KH Abdul Madjid ibn Kiai Abdul Hamid ibn Kiai Itsbat.
Tak hanya Kiai Hasan Abdul Wafi yang belajar di Pesantren Banyuanyar Pamekasan. Satu tahun sebelum Kiai Hasan Abdul Wafi lahir (1923), tahun 1922 KH Zaini Mun’im mondok di Pesantren Banyuanyar Pamekasan asuhan KH Abdul Hamid yang dibantu putranya, KH Abdul Madjid (wafat tahun 1958 M.). Hal yang sama juga dilakukan Kiai As’ad Syamsul Arifin. Beliau juga berguru pada Kiai Abdul Hamid. B
Bahkan, menurut penuturan KH Muhyiddin Abdushomad (Rais Syuriah PCNU Jember), Kiai As’ad sempat menjadi menantu Kiai Abdul Madjid saat beliau menikahi Nyai Tuhfah binti Kiai Abdul Madjid. Setelah menikah selama dua tahun, karena satu dan lain hal, mereka berpisah, pernikahan tak bisa dilanjutkan.
Dengan demikian jelas, sekiranya Kiai Hasan Abdul Wafi belajar pada Kiai Abdul Madjid Banyuanyar, maka Kiai As’ad dan Kiai Zaini Mun’im belajar pada ayahanda Kiai Abdul Madjid, yaitu Kiai Abdul Hamid.
Beberapa naskah menyebutkan bahwa Kiai Abdul Hamid ibn Kiai Itsbat wafat tahun 1931 di Mekah dan dikuburkan di Pekuburan Ma’la bersama kuburan para ulama, para Sahabat Nabi, dan Siti Khadijah binti Khuwailid (istri Nabi Muhammad SAW). Dan sepeninggal Kiai Abdul Hamid, persisnya tahun 1943 Kiai Abdul Madjid mendirikan pesantren sendiri yang diberi nama “Pondok Pesantren Mambaul Ulum” Bata-Bata Pamekasan.
Usai belajar di Banyuanyar Pamekasan Madura, Kiai Hasan Abdul Wafi melanjutkan studi ke sebuah pesantren di Sidoarjo asuhan KH Sahlan selama dua tahun dan selanjutnya ke PP Darul Ulum Paterongan Rejoso Jombang yang saat itu sedang diasuh KH Ramli Tamim (1888-1958 M.), ayahanda KH Mustain Ramli (1931-1985). Tak hanya Kiai Hasan Abdul Wafi, putra KH Zaini Mun’im seperti KH Moh. Hasyim Zaini (1939-1984) dan KH Abdul Wahid Zaini (1942-2002) juga pernah belajar di Pesantren Paterongan Rejoso Jombang ini.
Beda dengan dengan enam saudaranya yang lain yang hanya studi di pesantren-pesantren di Jawa Timur, mka Kiai Hasan Abdul Wafi menempuh pendidikan dengan lokasi paling jauh, yaitu Pondok Pesantren Krapyak Jogyakarta. Di pesantren yang kuat tradisi al-Qur’annya ini, Kiai Hasan mendapatkan suasana akademis baru yang beda dengan pesantren-pesantren sebelumnya yang bertitik tekan pada fikih dan tasawuf.
Di Krapyak, Kiai Hasan melengkapi diri dengan ilmu-ilmu qiraat langsung dari induknya, Ahlul Qur’an. Namun, apakah ketika mondok di Krapyak, beliau sempat berjumpa Kiai Munawwir yang wafat tahun 1942? Walahhu’alam.
Yang jelas, dari pengembaraan panjangnya mulai dari Banyuanyar hingga Krapyak, Kiai Hasan Abdul Wafi tak pulang ke Pamekasan lagi. Tahun 1956, Kiai Hasan Abdul Wafi melanjutkan belajarnya pada Kiai Zaini Mun’im yang saat itu merintis pendirian Pesantren Nurul Jadid. Bersama sang kakak, KH Ahmad Sufyan Miftahul Arifin, Kiai Hasan Abdul Wafi ikut membantu pembangunan pesantren tersebut.
Di Nurul Jadid, Kiai Hasan rupanya tak hanya mendapat ilmu melainkan juga istri. Tahun 1957, Kiai Hasan menikahi Nyai Aisyah Zaini Mun’im dengan dikaruniai 12 anak, salah satunya KH Kholilurrahman (mantan Bupati Pamekasan).
Dalam berorganisasi, Kiai Hasan Abdul Wafi juga mengikuti langkah Kiai Zaini Mun’im; aktif di NU bukan di organisasi lain. Sebagaimana dikisahkan sebagian sumber, awalnya ketika NU keluar dari Masyumi tahun 1952, Kiai Zaini sempat bimbang antara bertahan di Masyumi dan hijrah ke Partai NU.
Kebimbangan ini bisa dimaklumi. Di satu sisi, Kiai Abdul Madjid putra Kiai Abdul Hamid yang sekaligus guru Kiai Hasan Abdul Wafi tersebut mengajak Kiai Zaini untuk aktif di AKUI, organisasi yang berada di bawah payung Masyumi. Sementara di sini lain, Kiai Zaini masih memiliki keterikatan batin dan kontak perjuangan dengan para kiai alumni Pesantren Demangan Bangkalan asuhan Saikhuna Kholil Bangkalan dan Pesantren Tebuireng asuhan KH Hasyim Asy’ari yang sebagian besar memilih membesarkan Partai NU daripada yang lain.
Berhari-hari dalam kebimbangan, Kiai Zaini Mu’im melakukan permenungan mendalam dan menjalani shalat istikhorah. Akhirnya, ditemukan jawaban langit bahwa dirinya mantap memilih NU sebagai media perjuangan dengan konsekuensi keluar dari Masyumi.
Sejak itu, Kiai Zaini dan seluruh keluarga besar PP Nurul Jadid termasuk Kiai Hasan Abdul Wafi aktif ber-NU. Tak hanya menjadi warga NU biasa, Kiai Zaini pernah menjadi Rais Syuriah PCNU Kraksaan Probolinggo. Dan mengikuti jalan hidup Kiai Zaini, Kiai Hasan Abdul Wafi juga pernah menjabat Rais Syuriah PCNU Kraksaan.
Putusan Munas NU tahun 1983 agar NU kembali ke khittah 1926 melegakan Kiai Hasan Abdul Wafi. Sejak itu, beliau tak melibatkan diri dalam carut-marut politik praktis. Kiai Hasan berkonsentrasi pada upaya menjadikan NU sebagai media dakwah untuk mengedukasi masyarakat.
Beliau berkeliling dari desa ke desa untuk menyampaikan ajaran Islam Ahlussunnah Waljamaah Annahdliyah. Semboyannya yang paling terkenal, masyarakat harus memiliki pengetahuan setara S2, yaitu Sullam Safinah.
Tak hanya berdakwah ke kampung-kampung. Kiai Hasan Abdul Wafi juga rajin mengikuti aktivitas bahtsul masail NU, mulai dari tingkat PCNU hingga PWNU bahkan Munas dan Muktamar NU.
Di beberapa diskusi dan bahtsul masail, Kiai Hasan Abdul Wafi berada dalam lingkaran diskusi panas dengan para kiai NU lain. Natijah-natijah hukum Islam yang disampaikan para nara sumber seminar dan perumus bahtsul masail kerap mendapatkan tantangan akademik cukup kuat dari KH Hasan Abdul Wafi.
Dalam sebuah acara halaqah tentang hukum bunga bank yang diselenggarakan Ma’had Aly Situbondo Jawa Timur, Kiai Hasan Abdul Wafi misalnya terlibat dalam diskusi tajam dengan Prof. Dr. KH Sjechul Hadi Permono (1941-2010). Tarik tambang tambang pemikiran tak terhindarkan.
Namun, alhamdulillah, diskusi yang sempat panas itu berhasilkan didinginkan oleh sang moderator piawai, KH Yusuf Muhammad Jember (1952-2004). Ya Allah, tiga kiai itu sekarang sudah tidak ada, dipanggil Allah. Allah rahimahum wa nawwara quburahum wa a’ada ‘alaina min barakatihim.
Akhirnya, saya mengenang Kiai Hasan Abdul Wafi sebagai orang alim terutama di bidang fikih, teguh pendirian, dan memiliki komitmen ke-NU-an cukup kuat. Soal komitmen ke-NU-annya salah satunya tercermin melalui Shalawat Nahdhiyah-nya yang kini berkumandang di mana-mana.. (abi sorban)
-

Makam Kiai Asy’ari Keras Diwek Jombang

Makam Ayahanda KH Hasyim Asy’ari di Keras di Diwek Jombang.
Kiai Asy’ari adalah pendiri Pesantren Keras, yang terletak di Desa Keras, Kecamatan Diwek, Jombang, Jawa Timur, sekitar tahun 1876. Ayahanda KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan pengasuh Pesantren Tebuireng, ini dikenal pula sebagai perintis tradisi keilmuan pesantren di daerah Jombang.
Lahir di Demak, Jawa Tengah, sekitar tahun 1830. Menurut informasi dari keluarga Pesantren Tebuireng, seperti ditulis KH. M. Ishom Hadziq, ayah beliau bernama Abdul Wahid bin Abdul Halim.Abdul Wahid adalah salah seorang komandan pasukan Diponegoro yang menggunakan nama “Pangeran Gareng”, di bawah Panglima Sentot Alibasyah Prawirodirdjo. Nasab Kiai Asy’ari merujuk hingga ke Pangeran Benowo bin Jaka Tingkir alias Sultan Pajang. Sejak muda Kiai Asy’ari nyantri di Pesantren Gedang, dekat Tambakberas, Jombang, sekitar dua kilometer dari pusat kota, dan berguru pada Kiai Usman. Pesantren Gedang didirikan oleh Kiai Abdus Salam atau dikenal dengan nama Kiai Shihah. Kiai asal Lasem, Rembang, ini bersama istrinya, Muslimah, membuka hutan di Gedang untuk mendirikan permukiman dan pesantren pada tahun 1825. Di antara santri beliau adalah Kiai Usman. Sufi dan ahli tarekat ini dinikahkan dengan putri sulung guru beliau bernama Nyai Layyinah. Keduanya kemudian dikarunia seorang putri sulung bernama Halimah (lahir 1851, disapa Winih).
Tidak lama setelah Kiai Usman wafat, sekitar tahun 1855 Halimah – ketika itu baru menginjak usia empat tahun – dinikahkan dengan Kiai Asy’ari, santri senior Kiai Usman, yang berusia 25 tahun. Alasan pernikahan ini adalah untuk menyelamatkan garis keturunan pendiri pesantren yang akan menjadi pelanjut kepengasuhan pesantren usai wafatnya sang guru. Pasangan baru ini kemudian dikaruniai putra-putri: Nafiah, Ahmad Sholeh, Muhammad Hasyim (lahir 1871), Rodliah, Hasan, Anis, Fathonah, Maimunah, Ma’shum, Nahrowi dan Adnan. Putra ketiga beliau ini yang kemudian terkenal sebagai pendiri Pesantren Tebuireng dan pendiri Nahdlatul Ulama. Nyai Halimah dikenal suka melakoni tirakat dan praktik sufi lainnya – mengikuti jejak ayahnya.
Beliau pernah berpuasa selama tiga tahun berturut-turut dengan niat tertentu. Puasa tahun pertama ditujukan untuk kebaikan keluarga, tahun kedua diniatkan untuk kebaikan santrinya. Dan puasa tahun ketiga dimaksudkan untuk kemaslahatan masyarakat. Konon, saking khusyuknya dalam bertirakat, suatu hari saat mencuci beras, beras tersebut berubah menjadi butir-butir emas!
Kiai Asy’ari kemudian pindah bersama keluarganya ke Desa Keras dan mendirikan pesantren di sana sekitar tahun 1876. Sementara Pesantren Gedang berkembang menjadi Pesantren Tambakberas, Jombang, di bawah kepengasuhan saudara misan Kiai Asy’ari yaitu Kiai Said, yang kemudian menurunkan Kiai Chasbullah, ayahahanda KH. Abdul Wahab Chasbullah, pendiri NU.Waktu itu Kiai Hasyim masih kecil, dan baru diboyong dari tempat kelahirannya di Gedang. Di bawah asuhan Kiai Asy’ari Pesantren Keras mengandalkan ngaji kitab-kitab sorogan dan baru belakangan di abad 20 mulai dibuka madrasah. Kebanyakan yang mondok berasal dari Jawa Tengah, terutama dari Ambarawa dan Salatiga. Sementara yang berasal dari Jombang lebih banyak menjadi santri kalong. Untuk sampai di pesantren ini, dari Surabaya kita naik bis jurusan Kediri, lalu turun di Desa Kwaron. Setelah itu naik becak ke arah barat, sekitar satu kilometer, maka sampailah ke alamat yang dituju.
Para santri tidak tinggal di pondok, tapi ditempatkan di rumah-rumah penduduk. Ini dimaksudkan agar dakwah Islam bisa langsung dirasakan oleh masyarakat sekitar. Memang tidak terlihat pemondokan besar, di pesantren inilah KH. Hasyim Asy’ari digembleng pertama kali oleh ayahnya sebelum mengembara berguru menuntut ilmu di beberapa pesantren.
Kiai Asy’ari wafat sekitar tahun 1890 dan dimakamkan di lingkungan Pesantren Keras. Ketika putra ketiga beliau, KH. Hasyim Asy’ari, menikah di tahun 1892 dengan Nyai Nafisah, putri KH. Ya’qub bin Hamdani, pengasuh Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, Kiai Asy’ari sudah tiada. Pesantren Keras kemudian dikelola masing-masing oleh putra beliau, KH. Saleh, dan menantu beliau, KH. Alwi, yang dikenal ahli bela diri dan kanuragan.
Di tahun 1930-an, pesantren kemudian diasuh oleh KH. Basuni, lalu KH. Salahuddin (di masa itu tidak ada lagi yang mondok di tahun 1970-an), kemudian KH. Ahmad Labib di tahun 1990-an. Meski tidak sebesar Pesantren Tebuireng, Pesantren Keras mulai membuka madrasah dan berganti nama menjadi Pesantren Al-Asy’ari keras
Sumber : Khusnul Irfan Fauzi
-

ALHAMDULILLAH KIAI NAHDHATUL ULAMA’ BIKIN ULAH LAGI

Alhamdulillah! Kiai NU Meluruskan Khalid Basalamah yang Tidak Paham Dalil Tabarruk
Beredarnya video bikinan tim “da’wah” Ustadz Khalid Basalamah benar-benar sangat berhasil membuat saya -wong ndeso ini- merangkai tulisan-tulisan yang saya dedikasikan buat tim beliau agar dibaca.
Bukan karena saya lebih bisa, karena ternyata Ustadz Khalid lebih terkenal daripada saya.
Bukan karena saya banyak tahu, tapi karena saya ingin meluruskan orang-orang yang sok tahu.
Terlebih dalam video itu ada sosok Kiai yang kami -para santri- sangat kagumi dan sangat hormati. KH. Maimun Zubair. Juga sosok santri dan situasi pesantren.
Baik Tim Ustadz Khalid,
Ketika santri berebut mencium tangan Kiai, mereka berharap berkah dari beliau. Apakah itu salah? Sama sekali tidak. At-Tabarruk atau berharap berkah artinya : berharap tambah dan berlipatnya nilai ibadah. Bertabarruk bukan menyembah. Tolong Pahami itu.
Dalam Al Qur’an, konsep tabarruk telah ada, seperti tertuang dalam Surat Al Baqoroh ayat 125 :
وَاتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى
“Kenapa sholat di Maqam Ibrahim?” Ini ada unsur tabarruk.
Begitu juga dalam Surat Yusuf ayat 93 dan 96:
اذْهَبُواْ بِقَمِيصِي هَذَا فَأَلْقُوهُ عَلَى وَجْهِ أَبِي يَأْتِ بَصِيرًا
فَلَمَّا أَن جَاء الْبَشِيرُ أَلْقَاهُ عَلَى وَجْهِهِ فَارْتَدَّ بَصِيرًا“Kenapa baju Nabi Yusuf yang dijadikan sebagai pelantara kesembuhan Mata Nabi Ya’qub?” Ini juga Tabarruk.
Dalam Hadits Rasulullah Riwayat Muslim (1305) konsep tabarruk tertuang ketika Rasulullah membiarkan rambut mulianya dimiliki oleh para sahabat.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَتَى مِنًى فَأَتَى الْجَمْرَةَ فَرَمَاهَا ثُمَّ أَتَى مَنْزِلَهُ بِمِنًى وَنَحَرَ ثُمَّ قَالَ لِلْحَلاَّقِ « خُذْ ». وَأَشَارَ إِلَى جَانِبِهِ الأَيْمَنِ ثُمَّ الأَيْسَرِ ثُمَّ جَعَلَ يُعْطِيهِ النَّاسَ.
“Kenapa Rasulullah membiarkan rambut beliau dibagi-bagikan kepada para sahabat?” Karena Beliau meridloi tabarruk.
Kenapa ketika perang Yarmuk, Kholid bingung mencari pecinya padahal bisa saja ia memakai peci yang lain atau peci apa saja? Karena dalam pecinya ada rambut Rasulullah yang beliau cukur saat berumroh, dan tidak ada satupun peperangan yang ia hadiri dengan memakai peci itu kecuali Allah memberikan kemenangan kepada umat islam. Inilah tabarruk.
Ada sebuah sumur di Madinah yang bernama sumur Bidla’ah. Nabi pernah meludahi air dalam sumur ini, sehingga setiap melewati sumur ini, Muslimin hampir pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan meminum airnya. Tabarruk juga ini namanya.
(Majma’ Az Zawa’id Wa Manba’ Al Fawa’id, Nuruddin Ali bin Abi Bakar Al Haitsamy)
Belum lagi riwayat Imam Bukhari tentang bagaimana para sahabat ketika tangannya berhasil menangkap dahak Rasulullah, ia mengusapkan keseluruh tubuhnya. Ketika Rasulullah berwudlu, para sahabat hampir seperti akan berperang hanya karena berebut sisa air wudlu Beliau. Semua itu dalam konsep Tabarruk bukan?
Mungkin kalian akan berkata : “Ah, itukan kepada Rasulullah. Kalau selain Rasulullah beda dong? gak boleh dong?
Oke, coba perhatikan yang berikut :
Seorang Abdurrahman bin Razin (Tabi’in) bergegas mencium tangan Sahabat Salamah bin Akwa’ berharap keberkahan dari tangan yang pernah bersentuhan dengan Rasulullah.
Begitu pula alasan Tsabit Al-Bunani (Tabi’in), ketika ia mencium tangan Sahabat Anas bin Malik setelah bertanya : “Apakah engkau menyentuh Rasulullah dengan tangan ini?” dan Sahabat Anas menjawab : “Ya”.
Abu Aliyah, seorang ulama Salaf, mencium dan mengusap-usapkan apel pemberian sahabat Anas karena menganggap apel itu telah dipegang oleh tangan yang pernah menyentuh Rasulullah. Semua dengan alasan tabarruk lho.
Kalian akan membantah lagi : “Loh, itu kan masih ada hubungannya dengan Rasulullah. Pasti beda dong kalau tanpa ada hubungannya dengan beliau”
Eits, jangan ambil kesimpulan terburu-buru dong, emang terbiasa begitu kalian ya…. Perhatikan yang berikut ini dulu : Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah pernah mencium tangan dan kedua kaki pamannya Sahabat Abbas. Ketika bertemu, Imam Muslim mencium wajah gurunya -Imam Bukhari- diantara kedua mata beliau, lalu meminta restu agar beliau dapat mencium kedua kaki gurunya itu.
Apa alasannya? tabarruk.
Bahkan, Rasulullah pernah bertabarruk kepada kaum muslimin. Dalam sebuah kitab yang bernama Al Jami’ As Shoghir Wa Ziyadatih (Al Fath Al Kabir) yang ditulis oleh Muhammad Nashiruddin Al Albani (pasti kalian kenal dong beliau itu siapa) tertulis sebagai berikut :
“كان يبعث إلى المطاهر فيؤتى بالماء فيشربه , يرجو بركة أيدي المسلمين”
Bahwa Rasulullah meminum air dari tempat bersucinya para muslimin seraya berharap keberkahan mereka.
Disebuah kesempatan Rasulullah jelas tidak suka para sahabat mengambil air dari sumur Kaum Tsamud lalu memerintahkan mereka mengambil air dari sumur yang pernah diminum airnya oleh unta Nabi Sholeh. Hal ini tertuang dalam Hadits berikut :
عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ أَخْبَرَهُ أَنَّ النَّاسَ نَزَلُوا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى الْحِجْرِ أَرْضِ ثَمُودَ فَاسْتَقَوْا مِنْ آبَارِهَا وَعَجَنُوا بِهِ الْعَجِينَ فَأَمَرَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُهَرِيقُوا مَا اسْتَقَوْا وَيَعْلِفُوا الإِبِلَ الْعَجِينَ وَأَمَرَهُمْ أَنْ يَسْتَقُوا مِنَ الْبِئْرِ الَّتِى كَانَتْ تَرِدُهَا النَّاقَةُ.
Jadi, saudaraku sesama muslim, khusus teruntuk “tim da’wah Ustadz Khalid yang terhormat”.
Bertabarruk itu boleh kok, bertabarruk itu dianjurkan kok. Jadi kalau kalian tidak menemukan referensi tentang itu, please deh, jangan terus kalian anggap amaliah kami salah, syirik dan lain sebagainya. Kami lo memaklumi kalau kalian begitu dibatasi dengan literasi dan pemahaman yang mudah dan instan tanpa penggalian lebih dalam ala santri, karena kalian tidak akan mampu seperti santri yang mau mengenyam pendidikan lebih lama guna bertafaqquh fid diin.
Oh iya, ada ya kopi sampai bernilai jual tinggi karena ada unsur tabarruk? Kalau ada, emang kalian gak setuju ya?
Lalu, Kenapa ya, di Negeri Wahabi ada sebuah gedung mewah dan megah yang didedikasikan untuk Syekh Utsaimin dan bahkan menganggap “keramat” pena yang terakhir beliau pakai sebelum beliau meninggal lalu menyimpannya dengan sistem keamanan tinggi bak menyimpan berlian bernilai triliunan rupiah?
Hm, sudahlah, emang kalian begitu sih.
Ada satu lagi, pesan Ustadz Khalid Basalamah agar tidak meminum air sisa minumannya dan tidak mencium tangannya ketika bertemu, dengan senang hati akan kami jalankan. Karena, kriteria orang-orang yang pantas dicium tangannya dan diminum air sisa minumannya -sangat kebetulan- tidak terdapat pada diri beliau. Jadi jangan khawatir, tanpa dimintapun, kami tak akan melakukannya.
Wallahu A’lamu Bis Showab.
H. Abdul Aziz. AR, Anggota Team Kiswah Aswaja NU Center PCNU Bangil
Sumber: https://bangkitmedia.com/kiai-nu-meluruskan-khalid-basalamah-yang-tidak-paham-dalil-tabarruk/
(InfokomBanserNu)
