Tag: sorbansantri

  • IPNU-IPPNU Jepara Siap Tancap Gas, Setelah Terima Kendaraan Operasional,

    IPNU-IPPNU Jepara Siap Tancap Gas, Setelah Terima Kendaraan Operasional,

    SORBANSANTRI.COM
    IPNU-IPPNU Jepara terima bantuan mobil operasional dari PCNU setempatipnu,ippnu,jateng,

    wp.sorbansantri.com – Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatakan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Jepara menerima bantuan kendaraan mobil operasional dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jepara pada Sabtu (13/2) malam di SMK Hadziqiyyah Nalumsari Jepara.

    Penyerahan dilakukan oleh Ketua PCNU Jepara KH Hayatun Abdullah Hadziq kepada ketua PC IPNU Jepara Nurus Salam dan ketua PC IPPNU Jepara Wiwik Widayati. Momen penyerahan tersebut bersamaan dengan kegiatan Latin-Latpel PC IPNU-IPPNU Jepara.

    Ketua PCNU Jepara, KH Hayatun Abdullah mengucapkan selamat dan mengapresiasi perkembangan IPNU-IPPNU di Kabupaten Jepara yang dinilainya semakin maju. “Dalam lima tahun terakhir ini, IPNU-IPPNU Kabupaten Jepara banyak mengalami kemajuan yang positif baik dari segi keorganisasian maupun kegiatannya,” terangnya.

    Maka dari itu, kami selaku pengurus NU Jepara mengapresiasi para pelajar NU Jepara ini agar ke depannya lebih baik dan maju. “Dengan bantuan mobil ini kita harapkan laju organisasi IPNU-IPPNU di Jepara semakin maju dan dapat bermanfaat untuk organisasi,” tambahnya.

    Ketua PC IPNU Jepara Nurus Salam berterima kasih kepada PCNU Jepara yang selama ini mendukung penuh segala kegiatan IPNU-IPPNU di Jepara. “Kami ucapkan banyak terima kasih kepada orang tua kami PCNU Jepara yang sudah memberikan bantuan kendaraan operasional, semoga ini menjadi spirit baru kepada kami untuk lebih cepat dan mudah dalam pergerakan organisasi,” katanya.

    Hal yang sama juga dikatakan Ketua PC IPPNU Jepara Wiwik Widayati, Ia mengaku senang dan akan memanfaatkan penuh kendaraan operasional ini untuk kepentingan organisasi. “Dengan bantuan kendaraan operasional ini, kami akan lebih mudah dalam menjalankan organisasi IPNU-IPPNU. Apalagi di Jepara ini termasuk wilayah yang luas, terdapat enam belas kecamatan, puluhan komisariat, dan ratusan ranting,” tandasnya.

    Kontributor: Wafa
    Editor: M Ngisom Al-Barony

  • DATUK KALAMPAYAN, ULAMA BANJAR YANG PALING KOMPLIT PENCAPAIANNYA

    DATUK KALAMPAYAN, ULAMA BANJAR YANG PALING KOMPLIT PENCAPAIANNYA

    InfokomBanserNU– Syekh M. Arsyad Al Banjari atau masyhurnya di kenal dengan sebutan Datuk Kalampayan. Banyak sekali pencapaian beliau yang mungkin jarang sekali dapat di capai oleh generasi selanjutnya, diantaranya:

    1. Akhlaqnya

    Salah satu Akhlaq Mulia beliau adalah mengarang Kitab Sabilal Muhtadin atas dasar Ilmunya menghargai warga Kalimantan yang bermazhab Syafi’i. Dimana bumi dipijak disitu langit di junjung.

    2. Ilmunya

    Datuk Kalampayan belajar ilmu di Makkah selama 30 tahun lebih. Berguru dengan Syekh Sulaiman Al Kurdi dan Syekh Samman Al Madani yang merupakan dua Tokoh Ulama di zamannya.

    3. Karyanya

    Karya Datuk Kalampayan yang begitu Masyhur adalah Kitab Fiqih Sabilal Muhtadin. Kitab ini begitu terkenal di Nusantara bahkan pernah dicetak ulang di Makkah, Istambul dan Mesir.

    4. Keturunannya

    Keturunan Datuk Kalampayan pun begitu banyak yang Masyhur menjadi Ulama besar. Seperti Syekh Husein Kedah Al Banjari (Malaysia), Syekh Syarwani Abdan Al Banjari (Bangil, Jatim), Syekh M. Zaini bin Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul), Syekh Surgi Mufti (Banjarmasin), dan banyak lagi keturunan beliau yang menjadi Ulama besar.

    (red. Abi InfokomBanserNU)

  • Ansor Retail Diharapkan Bisa Meningkatkan Kesejahteraan UMKM Kendal

    Ansor Retail Diharapkan Bisa Meningkatkan Kesejahteraan UMKM Kendal

    wp.sorbansantri.com – Ketua Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor (PC GP Ansor) Kendal, Misbachul Munir atau yang akrab disapa Gus Misbach berencana kembali memberdayakan program perekonomian di PC GP Ansor Kendal, yang selama ini secara organisasi belum terstruktur dengan baik.

    Rencana ini disampaikan Gus Misbach, saat diskusi santai di sebuah kedai kopi Jalan Tembus Kendal, bersama Dirut Retail Ansor, Gus Hasan Taufik, Ketua Bidang Perekonomian PC GP Ansor Kendal, Mashuri dan Ketua PAC GP Ansor Boja, Kasan As’ari.

    Gus Misbach mengatakan, beberapa bisnis retail yang telah berjalan dan memiliki peluang pasar besar akan segera ditata kembali. Seperti pertanian jagung di Kaliwungu Selatan, Ansormart di Rowosari, koperasi di Boja, budi daya udang panami di Kendal, dan budi daya kambing etawa di Cepiring.

    “Rencananya itu semua nanti akan kami tata, kemudian kami kelola melalui manajemen retail Ansor agar lebih tertata rapi,” ucapnya.

    Penataan dan pemberdayaan usaha yang dimaksud, agar Ansor Kendal memiliki kemandirian ekonomi. Menurutnya, kemandirian ekonomi organisasi sangatlah penting untuk menggerakkan roda organisasi.

    “Pemberdayaan ini sengaja kami lakukan melihat adanya sebuah peluang. Informasi dari teman di wilayah, Kementerian Perekonomian memberikan 10 kuota Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi pengusaha yang usahanya sudah berjalan,” terangnya.

    Gus Misbach berharap, dengan adanya KUR tersebut dapat meningkatkan usaha yang digeluti para kader Ansor dan bisa merangkul pelaku UMKM di Kabupaten Kendal.

    Ditegaskan, orientasi pengurus periode 2020-2024 sesuai dengan amanah dari ketua yang lama adalah pemberdayaan ekonomi kader. Pasalnya, pada periode yang lalu orientasinya banyak bergerak dalam bidang ideologi.

    “Untuk sosialisasi penataan perekonomian PC GP Ansor Kendal akan dilakukan setelah pelantikan pengurus PC GP Ansor Kendal, yang rencananya akan digelar Minggu (26/7/2020) besok,” jelas Gus Misbach.

    Sementara itu, Ketua Bidang Perekonomian PC GP Ansor Kendal, Mashuri mengatakan, untuk mensukseskan upaya pemberdayaan perekonomian, dirinya akan segera berkoordinasi dengan beberapa pengurus kecamatan.

    “Kami berharap progam ini dapat berjalan sukses dan didukung semua pihak termasuk pelaku UMKM, demi peningkatan kesejahteran kader dan masyarakat umum,” ucapnya.

    Upaya pemberdayaan perekonomian ini mendapat support langsung dari Direktur Utama Ansor Retail, Hasan Taufik. Dikatakan, support yang diberikan lebih ke arah pembenahan sistem manajemen.

    “Jadi ada tiga hal yang kita berikan, yakni penataan sistem manajemen, pelatihan dan pengembangan SDM dan pembangunan struktur modal,” ujarnya.

    Dalam hal teknis, menurut Gus Hasan, ke depan akan dibuatkan aplikasi yang memudahkan masyarakat untuk mencari berbagai bahan kebutuhan yang ditawarkan oleh Ansor Retail.

    “Kami berharap usaha ini berjalan dengan baik, sehingga roda perekonomian khususnya pelaku UMKM di wilayah Kabupaten Kendal bisa terbantukan oleh kader GP Ansor,” pungkasnya.(HS)

  • Cinta Kiai Hamid Pasuruan Kepada Banser NU.

    Cinta Kiai Hamid Pasuruan Kepada Banser NU.

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com – Kyai dan Habib sangat mencintai Banser (Barisan Ansor Serbaguna). Dari segi ‎namanya, Barisan Ansor Serbaguna, sangat identik dengan sahabat Ansor Madinah. Karakteristik ‎dari sahabat Ansor itu “menolong sesama tanpa pamrih”. Ansor berarti “menolong Rasulullah ‎SAW dan sahabat yang datang dari Makkah”. Kaum Ansor sangat mencintai Rasulullah SAW, ‎sehingga apa-pun akan dilakukan untuk baginda Rasulullah SAW.‎
    Nah, begitulah kira-kira ulama-ulama NU ketika mendirikan Barisan Ansor Serbaguna ‎‎(Banser). Para ulama NU, mendirikan Banser karena isyarat-isyarat langit hasil dari istikharah. ‎Bukan gagah-gagahan, walaipun memang terlihat gagah beneran. Tentu saja konteks nya ke-‎Indonesiaan. Banser, satu-satunya aset penjaga NKRI yang harus tetap dirawat dan dijaga. ‎Semua tahu, berdirinya NKRI, tidak lepas dari peran Kyai Hasyim Asy’ari, KH Wahab ‎Hasbullah, KH Siddiq Jember, KH Ahmad Dahlan dan juga para ulama lainnya. ‎
    Apalagi, saat ini salah satu tokoh terkemuka Barisan Ansor Serbaguna (Banser) adalah ‎‎“Maulana Habib Lutfi Pekalongan” seorang ulama dari kalangan Durriyah Rasulullah SAW. ‎Sang Habib tanpa sungkan-sungkan memakai busana Banser, begitu juga dengan Habib Zainal ‎Abidin. Bahkan, Habib Saikhan yang terkenal Habib Jaddab. ‎
    Jangan pernah khawatir, jika ada yang tidak suka terhadap Banser. Itu sudah wajar. ‎Karena memang tugasnya Banser menjaga marwah Kyai dan Habaib di Indonesia. Sebab, ‎sampai saat ini (2020) banyak Habaib dan Kyai NU, tetap setia dan mencintai Banser. Orang ‎yang mencibir Banser, kadang suatu saat tetap membutuhkannya.‎
    Berdirinya Banser sudah direstuai oleh pendiri NU, Hadratusysyaikh KH Muhammad ‎Hasyim Asy’ari serta ratusan Kyai dan Durriyah Rasulullah. Banser berdiri mengawal Ulama ‎dan NKRI yang ber Pancasila. Banser akan terdepan membela Ulama dan Habaib, serta NKRI ‎dari perongrong Pancasila.‎
    Seorang kekasih Allah Sayyid Ali Kwitang datang dari Jakarta ke meluncur menuju ‎Banyuwangi karena melihat dengan Bashirah (mata batin) seorang ketua PCNU KH Muhammad ‎Ali Manshur Shiddiq Basyaiban Banyuwangi sedang menulis bait-bair syair memuji Rasulullah ‎SAW dan sahabatnya karena ingin membandingi gerakan Gerwani di Banyuwangi. Kemudian bait-‎bait syair itu dikenal dengan “sholawat badar”. Kedatangan Habib Ali Kwitang, karena arahan ‎dari Rasulullah SAW melalui mimpinya.‎
    KH Siddiq, merupakan sosok ulama ahli hadis yang nasabanya nyambung dengan ‎‎“Basyaiban” yang diyakini masih durriyah Rasulullah SAW. KH Siddiq Jember salah satu ‎murid seorang pakar hadis Makkah yaitu Syekh Muhammad Mahfudz Al-Turmusi Makkah. ‎Kemudian Syekh Muhammad Yasin Al-Fadani Makkah menyebutkan nama-nama gurunya di ‎Indonesia, salah satunya adalah “Syekh Siddiq Jember”. Hampir semua putra-putra Syekh ‎Siddiq jember menjadi ulama besar, seperti’ KH Ahmad Siddiq, KH Abdullah Siddiq, KH ‎Mahfudz Siddiq, dan KH Muhammad Ali Manshur yang pengubah Saolawat Badar.‎
    Awal berdirinya Banser, yang tidak suka adalah PKI, NII, DII. Banser dengan semangat ‎Sholawat Badar tidak pernah surut menyuarakan kebenaran. Mendatangi siapa-pun orang yang ‎meng-ganggu dan merongrong NKRI. Bahkan, saat seorang Habaib di sakiti di Solo, Banser ikut ‎serta menjaga. Kalau-pun ada oknum Banser yang kurang terpuji, tetap harus di berikan ‎pembinaan. Para ulama dan Habaib adalah orang-orang yang mendidik dan membina Banser di ‎seluruh Nusantara.‎
    Sebuah kisah menarik dari Mbah Hamid Pasuruan. Sosok waliyullah besar. KH Maemun ‎Zuber mengatakan “beliau menjadi wali besar antaranya karena biirul walidaian”. Suatu ‎ketika salah satu anggota Ansor yang sudah lulus dari Latihan Kader Lanjutan (LKL). Namun, ‎dia melakukan tindakan tidak terpuji yang bisa mencoreng nama Ansor. Maka, komandan atau ‎ketua Banser (Barisan Ansor Serbaguna) Gus Zaki Ubed akan mengeluarkan surat pemecatan ‎kepada Anggota Ansor. ‎
    Selanjutnya, Gus Zaki sowan kepada Syekh KH Hamid, dengan harapan apa yang ‎dilakukan itu disetujui. Ternyata, KH Hamid tidak setuju. Beliau malah mengatakan “jadi bapak ‎itu harus bijaksana. Kemudian KH Hamid memberikan contoh. Seorang Bapak yang membawa ‎anaknya ke resepsi. Anak itu diberi pakaian yang bagus. Tiba-tiba ketika resepsi berlangsung, ‎sang anak buang air besar, mengotori pakaiannya sendiri dan bapaknya yang menggendong.‎
    ‎“Iku anak ojok kuen buwak (itu anak jangan engkau buang)”. Wong saiki akeh sing ‎butuh anak, dipek wong anak itu” (Jaman sekarang banyak orang butuh anak, nanti kalau ‎dibuang bisa diambil orang”. Jadi Bapak harus berani korban perasaan dam menderita demi ‎kepentingan anak-anaknya. ‎
    Kemudian Gus Zaki bertanya “jadi bagaimana?‎
    Mbah Hamid menjawab “Yo, cewokono maneh, (ya ceboki, lalu gendong lagi dia”. KH ‎Hamid sangat bijaksana di dalam melihat setiap masalah yang terjadi. Begitulah cara pandang ‎kekasih Allah SWT. Teringat Nabi Ibrahim as, walaupun banyak orang yang mengingkari nya ‎beliau berkata “siapa yang ikut aku termasuk golonganku, siapa yang durhaka kepada Allah, ‎maka sesungguhnya Allah maha pengampun”.‎
    Barisan Ansor Serbaguna sudah di jalur yang benar. Menjaga eksistensi NKRI dan ‎Pancasila. Dan setia kepada ulama dan Kyai. Wataknya seperti sahabat Ansor Madinah, ‎menolong tidak ada pamrih. Ketika ada seorang Kyai di hina, Banser datang, ketika ada yang ‎ingin merusak NKRI, Banser juga siap-siapa membela. Termasuk sikap terhadap HT (Hizbu ‎Tahrir) juga sudah benar, karena HT menghina Durriyah Rasulullah SAW yaitu Habib Lutfi ‎Pekalongan. ( ‎Penulis: Dr Abdul Adzim Irsad, Malang )
  • ARAB SAUDI MENANGKAP ULAMA-ULAMA WAHABI

    ARAB SAUDI MENANGKAP ULAMA-ULAMA WAHABI

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com – Arab Saudi menangkap ulama-ulama Wahabi demi langkah reformasi dan demokratisasi Arab Saudi. Muhammad bin Salman atau Pangeran Salman adalah orang yang berada di balik agenda tersebut.
    Terjadi lagi, pemerintah Arab Saudi menangkap ulama-ulama Wahabi. Kali ini ulama dan qori’ terkenal, Syeikh Abdullah Basfar ditangkap oleh pihak otoritas Arab Saudi. Beberapa kasus penangkapan ulama dilakukan oleh Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir ini.
    Syeikh Abdullah adalah seorang profesor di departemen Sharia dan Islamic Studies di King Abdul Aziz University di Jeddah. Ia juga merupakan mantan Sekretaris Jenderal Organisasi Kitab dan Sunnah Dunia. Sebelumnya, Arab Saudi dikabarkan sudah menahan Syekh Saud Al-Funaisan. Al-Funaisan sendiri adalah seorang profesor universitas dan mantan dekan fakultas Syariah di Universitas Al-Imam di Riyadh.
    Langkah Arab Saudi menangkap ulama-ulama Wahabi menguatkan asumsi terkait upaya pemerintah Arab Saudi untuk mengamankan dan mereformasi Arab Saudi atas inisiasi Muhammad bin Salman (MBS).
    Penangkapan Ulama dan Reformasi MBS.
    Beberapa kasus penangkapan ulama yang dilakukan oleh Arab Saudi menjadi semacam “pembersihan” pahak keagamaan. Kini MBS melakukan reformasi di dalam negaranya. Ia ingin mengubah citra Arab Saudi dengan paham moderasi Islam.
    Ulama-ulama yang ditangkap oleh pihak kerajaan dianggap melakukan tindakan dan ceramah-ceramahnya mengganggu stabilitas kerajaan. Oleh karena itu, pihak MBS dan para pendukungnya menindak mereka agar tidak mengganggu dan menjadi ancaman kepentingan internal kerajaan.
    MBS melakukan berbagai kebijakan penting dan kontroversial. Ia tengah mereformasi Arab Saudi. Kebijakan kontroversial yang dilakukannya, diantaranya yakni memperbolehkan perempuan untuk menyetir mobil, menonton sepak bola di lapangan, dan beberapa kebijakan yang mengarah pada reformasi birokrasi Arab Saudi.
    Bagi kaum muda dan perempuan Arab Saudi, MBS adalah sosok pembaruan di tubuh kerajaan Arab Saudi. Ia menjadi tumpuan mereka ditengah kungkungan kebijakan Arab Saudi yang rigid dan kaku.
    Tetapi, bagi kaum ulama Wahabi Arab Saudi, MBS telah melanggar pemahaman keagamaan Arab Saudi yang sudah tumbuh subur di negara “Penjaga Dua Kota Suci”. Kondisi ini membuat otoritas kerajaan harus melakukan tindakan tersebut.
    Moderasi Beragama Arab Saudi
    Kebijakan MBS yang dinilai banyak pihak memiliki dua sisi yang berseberangan. Di salah satu sisi, kebijakan reformasi Arab Saudi memiliki dampak besar dan memberikan kebebasan bagi kaum muda Arab Saudi dan melonggarkan mereka untuk mengekspresikan apa yang mereka inginkan selama ini.
    Moderasi beragama menjadi kebijakan dan keputusan yang diinisiasi MBS. Hal ini dilakukan ditengah paham Wahabisme yang dianggap terlalu kaku dan tidak memberikan ruang bagi banyak kaum muda dan perempuan Arab Saudi.
    Kebijakan Arab Saudi lainnya yang berusaha menggemakan moderasi beragama yakni melakukan diskusi intens dengan salah satu organisasi massa Islam moderat di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU).
    Pihak Arab Saudi dan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel, telah melakukan diskusi terkait moderasi beragama tersebut. Diskusi ini juga menunjukkan bahwa Arab Saudi ingin melakukan reformasi keagamaan dengan menggemakan moderasi beragama. Sikap MBS melalui pelbagai kebijakan kontroversial di Arab Saudi dianggap sebagai tindakan “out of the box”. Ia juga tengah mempersiapkan menuju visi Arab Saudi 2030. (sumber harakah. id)
  • TANPA MANTIQ, KITA LUMPUH NALAR BERJAMAAH

    TANPA MANTIQ, KITA LUMPUH NALAR BERJAMAAH

    InfokomBanserNU – Oleh Abu Zein Fardany Mayoritas kaum santri di Banua ini menganggap guna ilmu Mantiq untuk memahami isi kitab kuning. Bahkan seorang kenalan saya sendiri yang notabene pengasuh pesantren berpendapat demikian.
    Pendapat seperti inilah yang membuat kaum santri tertinggal jauh dalam dunia pemikiran.

    Ilmu Mantiq berguna untuk membangun struktur berfikir. Ibarat gedung, semua informasi atau pengetahuan yang kita dapat hanyalah bahan bangunan, tidak menjadi sebuah gedung bila tidak disusun sedemikian rupa oleh para tukang bangunan. Nah ilmu untuk menyusun bangunan ini adalah Ilmu Mantiq.

    Karenanya, sebanyak apapun bacaan seseorang, bila Ia tidak pandai dalam ber-Mantiq maka pengetahuannya hanya sebatas informasi. Tidak terstruktur dan tidak bisa menjadi sebuah naungan atau tempat berteduh. Pun juga sangat mudah digiring oleh orang yang menggunakan Mantiq namun secara menyimpang.

    Imam al-Ghazali, dalam salah satu bukunya, menegaskan bahwa orang yang tidak mempelajari ilmu Mantiq, kredibilitas keilmuannya patut dipertanyakan. Karena tanpa ilmu ini orang akan berpikir seenaknya, layaknya kaum sofis yang doyan membuat kerusuhan dan menyusahkan banyak orang.

    Sebagai contoh sederhana, kita tentu masih ingat dengan peristiwa Aksi Bela Islam. Saya tak bermaksud untuk mengungkit-ngungkit kembali kisah masa lalu itu. Tapi mari kita bayangkan, berapa banyak dana yang harus dikeluarkan untuk meletuskan peristiwa politis itu? Jawabannya tentu sangat banyak.

    Bahkan, selain ongkos material, moralitas kita juga hampir terkuras. Dinding-dinding media sosial penuh sesak dengan ujaran kebencian. Sesama Muslim saling menghujat, saling mengafirkan, bahkan saling ancam-mengancam.

    Apa sebab utama dari itu semua?
    Ya, itu semua sebenarnya bukan hanya gara-gara Ahok yang diduga menista agama. Tapi itu semua adalah kesalahan kita yang terburu-buru dalam menghakimi orang. Semua itu bermula dari ketidakmampuan kita untuk mendudukkan terlebih dahulu makna atau definisi yang tepat dari istilah yang kita perdebatkan saat itu.

    Ketika itu, seperti yang kita ketahui, kita semua berdebat keras seputar penistaan agama. Ahok adalah penista al-Quran, Penista Agama, musuh Islam dan sebagainya.
    Tapi, jika ada yang bertanya: Apa itu definsi penista Agama? Apa yang dimaksud musuh Islam? Apa yang dimaksud al-Quran? Apa perbedaan antara al-Quran dan penafsiran atas al-Quran? Kadang kita sendiri menjawab seenaknya.

    Pada akhirnya kita hanya berdebat mengenai sesuatu yang kita sendiri tidak mampu untuk memaknainya secara mendalam. Konsekuensinya, kita melihat potret kehidupan sosial yang tidak sehat. Alih-alih menampilkan wajah agama penuh rahmat, yang kita tampilkan justru adalah wajah agama yang mudah menaburkan kata-kata sesat serta laknat-melaknat.

    Nah, persis pada titik inilah ilmu mantiq itu diperlukan. Ilmu ini bukan saja memiliki kaitan erat dengan ilmu-ilmu yang lain, tapi juga memiliki relevansi yang kuat dalam konteks kehidupan sehari-hari kita.

    Termasuk juga, peristiwa menjelang Pilpres kemaren, di mana kita dijebak dengan istilah-istilah “Presiden Pilihan Ulama” dan semacamnya. Ini adalah bukti kegagalan kita dalam ber-Mantiq. Nalar kita lumpuh…!

    Parahnya… Ini terjadi bukan hanya pada kalangan awam, tapi juga pada kelas santri dan mereka yang kepalanya berlilit serban…!!!

    Apakah sudah sedemikian parah musibah yang menimpa umat Islam? Lumpuh nalar berjamaah dan dipimpin oleh imam?

    Innaa Lillah Wa Innaa Ilaihi Raaji’uun…

    (red. Abi Infokom)

  • Mbah Kyai Ismail Ibrahim, Kyai Ahli Riyadoh dari Kedungmaling

    Mbah Kyai Ismail Ibrahim, Kyai Ahli Riyadoh dari Kedungmaling

    SORBANSANTRI.COM

    Ada satu desa yang namanya sangat unik di daerah Brangkal Kab. Mojokerto. Namanya Kedungmaling. Dari cerita mulut ke mulut, nama itu diperoleh dari suatu cerita dimana daerah Brangkal dulu terdapat Kedung. Kedung itu adalah bagian dari sungai yang sangat dalam. Ia biasanya tenang, tetapi menghanyutkan. Pada suatu ketika, ada maling yang sedang lari dikejar-kejar oleh penduduk. Pada saat ia mengalami kebingungan, ia mencebur ke dalam sungai yang ada kedungnya itu tadi. Dan ia pun tenggelam ke dasar sungai itu. Peristiwa tenggelamnya maling di kedung sungai itulah yang kemudian menjadi penanda nama desa itu yang kelak kemudian diberi nama Desa Kedungmaling.

    Dulu, Desa Kedungmaling lebih banyak orang awamnya daripada orang yang mengerti agama. Tetapi seketika itu berubah seiring kedatangan seorang santri dari Kediri, namanya Ismail Ibrahim. Ismail Ibrahim pernah nyantri di Pondok Mojosari-Nganjuk. Kemudian melanjutkan mondoknya dengan durasi lama, yakni di Pondok Semelo, yang sekarang lebih dikenal dengan PP. Umar Zahid yang terletak di dusun Semelo, desa Kayen, kecamatan Bandarkedungmulyo-Jombang. Di Pondok ini, Ismail Ibrahim belajar berbagai fan ilmu ke-Islaman. Dan juga melatih jiwannya dengan riyadoh dibawah asuhan KH. Umar Zahid.

    Seperti pada umumnya Kyai-Kyai zaman dahulu, selain memikirkan tentang keilmuan santrinya, KH. Umar Zahid juga memikirkan masa depan santri-santrinya. Selain menikahkan, KH. Umar Zahid melalui KH. Munawir Sholeh mencarikan tempat berdakwah pada Ismail Ibrahim. Dan Ismail Ibrahim diberi alternative pilihan untuk mengabdikan ilmunya. Dan melalui sebuah istikhoroh dengan lambang surat an-Nasr, maka desa Kedungmaling-lah yang menjadi tempat pilihannya.

    Di Desa Kedungmaling, Ismail Ibrahim menempati sebuah Masjid kecil hasil wakaf dari Ibu Masriah. Ibu Masriah sendiri itu adalah istri dari Kyai Anwar (Ayah dari Pendiri STIE Al Anwar). Namun pernikahannya itu unik. Masing masing suami istri itu bekerja sendiri sendiri. Kyai Anwar berdagang, Ibu Masriah juga berdagang. Dagangannya Ibu Masriah itu diambil dari Surabaya. Tiap ke Surabaya, ia selalu mampir ke Pondok Nderesmo untuk ikut ngaji mendengarkan ceramahnya Mbah Kyai Mansur. Karena seringnya ngaji ke Ndresmo inilah, menjadikan ibu Masriah memiliki kedekatan dengan Mbah Mansur. Ibu Masriah dibimbing untuk menjadi wanita sholehah. Termasuk juga mengarahkan agar tabungan kekayaannya dipergunakan untuk diwakafkan membangun Masjid.

    Taqdir kemudian berkata, antara Kyai Anwar dan Ibu Masriah berpisah. Namun bukan berarti terjadi peristiwa pertengkaran yang berlarut larut. Harta gono gininya dibagi secara adil. Dan pembangunan Masjid atas suplay dari Kyai Anwar dan seorang pengusaha asal Jatirejo, Bapak Nur Kholis tetap berjalan hingga berdiri megah.

    Dan kemudian Ibu Masriah ini dinikahi oleh Kyai Munawir Sholeh. Dan atas perantara Kyai Munawir Sholeh itulah Ismail Ibrahim menempati Masjid hasil wakaf Ibu Masriah ini.
    Siti Sofiah, cucu dari Ibu Masriah bercerita, kalau Ismail Ibrahim dulu menempati rumah Ibu Masriah, yang sekarang menjadi PP. Riyadlul Quran. Setelah usai pembangunan, maka Ismail Ibrahim menempati Masjid yang telah dibangun.
    Di Masjid itu, Ismail Ibrahim merawat dan memakmurkan Masjid. Dan satu persatu para santri ikut mengaji kepada Ismail Ibrahim. Tetapi kata Masrurah, putrinya, bercerita kalau KH. Ismail Ibrahim waktu itu pernah merasa putus asa menghadapi masyarakat Kedungmaling yang banyak tidak bisa mengaji. Beruntung ada satu dua santrinya yang bisa mengaji sehingga menambah semangat untuk terus mengabdi di tempat yang baru itu.

    Dalam segi ekonomi, Ismail Ibrahim bekerja apa saja untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Namun demikian, ia tidak pernah berjodoh dengan pekerjaan itu. Hingga ia pun memutuskan untuk lebih mengkonsentrasikan “ngopeni” santri-santrinya.

    Meskipun dengan tertatih-tatih, Ismail Ibrahim tetap istiqomah dalam melayani santri dan masyarakatnya. Lambat laun, orang-orang Kedungmaling dan sekitarnya mengenal Ismail Ibrahim sebagai orang yang linuweh. Orang orang pun berbondong-bondong bertamu dan mengaji kepadanya. Dan kemudian memanggilnya dengan KH. Ismail Ibrahim.
    Masruroh bercerita, santri-santri KH. Ismail Ibrahim tidak banyak yang bermukim, paling sekitar 25 santri. Tetapi pada saat ramadhan tiba, Masjid berjubel jubel dengan santri yang mengaji. Para santri itu juga berinisiatif membuat gubuk-gubukan di sekitar Masjid untuk tempat mukim mereka. Bahkan masyarakat, baik masyarakat sekitar atau yang jauh, ikut pula bergabung mendengarkan ngaji dari KH. Ismail Ibrahim. Yang unik, para pedagang-pedagang, ikut ngaji sambil membawa daganganya, sebelum pergi ke pasar.
    Biasanya, kata Masruroh, KH. Ismail Ibrahim mengaji kitab Hikam karya Ibnu Athoillah yang terkenal itu. Selebihnya, KH. Ismail Ibrahim lebih menekankan pada penguasaan pembacaan al Quran pada santri-santrinya. Penguasaan pada al-Quran itu bisa dirunut ke PP. Semelo atau KH. Umar Zahid yang ahli dibidang al-Quran. Bahkan pondok ini pulalah yang melahirkan tokoh sebesar KH. Ahmad Munawir Krapyak dan KH. Ahmad Masduki (Pengasuh Roudlotul Tahfidzil Quran Perak-Jombang).

    KH. Ismail Ibrahim semakin diperhitungkan oleh masyarakat saat meletusnya pemberontakan PKI tahun 1965. KH. Ismail Ibrahim-lah yang membedeng Ansor-Ansor pada masa itu untuk menghadapi PKI. Dan terbukti pemberontakan PKI di Mojokerto mampu dipadamkan oleh bahu membahunya antara tentara dan Ansor.

    Tetapi dari pengakuan Masruroh, jauh sebelumnya, KH. Ismail Ibrahim, juga pernah ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan bergabung menjadi Hizbullah. Dan ia sempat menjadi pelindung KH. Wahid Hasyim saat beliau menjadi buron tentara Belanda yang hendak menghabisinya. Dan pada tahun 1955, KH. Ismail Ibrahim juga adalah penggerak partai NU. Hingga sebelum NU berfusi menjadi PPP, KH. Ismail Ibrahim-lah yang menjadi jurkam handal dari partai NU.

    Pada tahun 1968, saat putra kinasihnya KH. Basyaruddin menikah itulah, kata Ahmad Zaini, penanda mulai berkibarnya pesantren yang kemudian diberi nama Darul Hikmah. Pesantren Darul hikmah dikenal selain memperdalam ilmu agama, juga diajarkan kepada santri-santrinya untuk memperbanyak riyadoh-riyadoh. KH. Ismail Ibrahim sendiri, kenang Ahmad Zaini, adalah Kyai yang ahli riyadoh. Tiap malam KH. Ismail Ibrahim tidak pernah tidur. Bada subuh, KH. Ismail Ibrahim mengajak para santri-santrinya untuk berdzikir dan mengaji al-Quran sampai waktu dhuha. Baru setelah itu beliau istirahat.

    Tetapi bukan tanpa tantangan, orang orang yang tidak suka kepada KH. Ismail Ibrahim sering mengganggunya. Saat berceramah, kadang orang orang usil sering mengganggunya. Tetapi bukan KH. Ismail Ibrahim kalau tidak berani menantang para pengganggunya.

    Pernah suatu peristiwa, santri-santri Darul Hikmah disihir oleh seorang pentolan ormas di dekat desa Kedungmaling. Banyak santri santri mengalami kesurupan. KH. Ismail Ibrahim mengumpulkan para santri dan kemudian diterapi serta mengajak kepada seluruh santri untuk mengamalkan dzikir dzikir yang pernah diijazahkan oleh guru-gurunya. Dan pada akhirnya kembali pulalah sihir sihir yang ditiupkan oleh pemimpin ormas yang sekarang berkibar dalam balutan kesesatan itu.

    #

    Ahmad Zaini, santri KH. Ismail Ibrahim, mengenang pertemuan awalnya dengan KH. Ismail Ibrahim tatkala mendengar ceramahnya yang mempesona. Konon pula, setiap kali KH. Ismail Ibrahim berceramah, sesuatu yang ia ceramahkan itu akan terjadi ditempat itu. Ahmad Zaini akhirnya memutuskan nyantri ke KH. Ismail Ibrahim. Di hadapan KH. Ismail Ibrahim, Ahmad Zaini diajar bagaimana melayani masyarakat dengan mengisi kamar mandi dan tempat wudhu.

    Pelajaran melayani itu kelak dirasakan saat ia pada tahun 1975 dinikahkan dan ditempatkan untuk berdakwah di Desa Jalinan. Dengan masyarakat yang masih awam, ia melayani dengan sabar. Dan konon Masjid yang ia tempati untuk berdakwah itu, adalah jejak pohon keramat. Ketika pohon itu ditebang dan menjadi Masjid, maka orang pun tidak menggunakan sesajian ke tempat tempat angker, tetapi berubah ke Masjid.

    Menjelang usianya yang semakin sepuh, KH. Ismail Ibrahim seperti menjadi sentral bagi para Kyai-Kyai yang konon banyak orang menyebutnya sebagai wali. Mbah Ilyas dengan keanehan-keanehan yang dilakukan di pasar Brangkal, setiap kali ber-”operasi”, selalu menyempatkan untuk berkunjung ke rumah KH. Ismail Ibrahim. Pun dengan Mbah Ud Pagerwojo-Sidoarjo, seringsekali berkunjung ke KH. Ismail Ibrahim. Bahkan KH. Khusein Ilyas sendiri, setiap kali habis lelaku, senantiasa berkunjung ke rumah KH. Ismail Ibrahim.

    Tidak hanya sekadar para Kyai, para pengusaha-pengusaha pun mendekat kepada KH. Ismail Ibrahim. Pak Jakfaril, Ayah Mustofa Kamal Pasha, Mantan Bupati Mojokerto, sering bertandang ke rumah KH. Ismail Ibrahim. Ia sering memberi uang yang banyak kepada KH. Ismail Ibrahim. Katanya, ia suka dengan Kyai yang bekerja.

    #

    Ada satu hal dari karya KH. Ismail Ibrahim yang hingga sekarang tetap lestari. Apabila pesantren pesantren menggunakan haul sebagai sarana untuk mengirim doa kepada Kyai pendiri pesantrennya, tetapi jamiul jawami’ yang diselenggarakan oleh KH. Ismail Ibrahim diperuntukkan untuk seluruh penduduk langit dan penduduk bumi. Biasanya diadakan acara yang meriah selayaknya haul.

    Untuk mendanai jamiul jawami tidaklah mudah. Tetapi perlu biaya besar. Disinilah ada cerita unik. KH. Ismail Ibrahim menyurati Nabi Khidir. Siti Sofiah menuturkan kalau Ayahnya pernah diajak untuk mengirim surat oleh KH. Ismail Ibrahim ke Brondong Lamongan. Ia diajak ke tengah laut. Sampai ditengah laut, surat yang ditulis panjang dengan menggunakan bahasa Arab itu, dilepaskan ditengah laut.Ayah Siti Sofiah pernah bertanya, “Apa bisa sampai surat itu ke Nabi Khidir, Yi?” Dijawab oleh KH. Ismail Ibrahim, “Bisa sampai.” “Buktinya?”tanya Ayah Siti Sofiah. “Nanti kalau pas jamiul jawami, akan banyak yang memberi bandeng. Sebab saya minta bandeng kepada Nabi Khidir” jawab KH. Ismail Ibrahim tenang. Dan memang terbukti, orang orang yang tidak kenal dari berbagai penjuru, setiap jamiul jawami selalu saja ada yang memberi. Dan pengusaha pengusaha asal Gresik, banyak yang memberi bandeng.

    Pada tahun 1983, Masruroh menceritakan bagaimana meninggalnya KH. Ismail Ibrahim. Waktu itu ia masih kuliah dan kebetulan izin untuk menunggui sang Ayah yang sedang sakit. Semalaman suntuk KH. Ismail Ibrahim tidak tidur. Dan saat dicabut malaikat pun, kata Masruroh, beliau dalam kondisi sadar.

    KH. Ismail Ibrahim disemayamkan di dalam Pondok Pesantren. Para alumnus banyak yang menziarahi makamnya. Pun dengan masyarakat sekitar. Setiap tahun, santri dan masyarakat cancut tali wondo meng-hauli Mbah KH. Ismail Ibrahim.

    Isno el kayyis
    Ketua LTN NU Kab. Mojokerto

    Sumber wawancara dengan:

    1. Ning Masruroh Ismail Ibrahim pada tanggal 19 Januari 2019 (Beliau Putri dari KH. Ismail Ibrahim)
    2. Bu Nyai Siti Sofiah, Pengasuh PP. Riyadlul Quran, cucu dari Bu Masriah pada tanggal 20 Januari 2019
    3. Ahmad Zaini, Santri KH. Ismail Ibrahim, di Desa Jalinan, pada tanggal 20 Januari 2019
  • 4 SIFAT PILAR YANG HARUS DIJAGA ANSOR

    4 SIFAT PILAR YANG HARUS DIJAGA ANSOR

    InfokomBanserNU- Kegiatan TURBA yang diadakan di TPQ ANNUR Pacet Utara pada 14 Februari 2020, kali ini Ketua PC GP Ansor Mojokerto Gus Ali M Nasih memberikan penjelasan lengkap yang

    pertama mengenai pentingnya menjaga Amaliyah-amaliyah Annahdliyah dan Menjaga IDEOLOGI. Dan dalam ideologi itu ada Tawassuth, tidak liberal dan radikal. Hal ini didasari Firman Alloh SWT :

    وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً

    Dan demikianlah kami jadikan kamu sekalian (umat Islam) umat pertengahan (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) manusia umumnya dan supaya Allah SWT menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) kamu sekalian. (QS al-Baqarah: 143).

    Ada Tawazun Seimbang dalam menghadapi kehidupan termasuk dalam penggunaan Ijma’ dan Qiyas, dalam Firman Alloh SWT :

    لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

    Sunguh kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti kebenaran yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka al-kitab dan neraca (penimbang keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. (QS al-Hadid: 25)

    I’tidal, Tegak dan lurus tidak mudah terprovokasi dan sifat Tasamuh, toleransi tidak individu dalam ideologi, menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama, Firman Alloh SWT :

    فَقُولَا لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

    Maka berbicaralah kamu berdua (Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS) kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut dan mudah-mudahan ia ingat dan takut. (QS. Thaha: 44)

    Yang kedua ansor banser harus mempunyai sifat Mu’adalah adil dan terbuka
    yang ketiga ansor banser harus mempunyai sifat Harakah gerakan selaras bersama sama dari hulu sampai hilir.
    dan yang terakhir ansor banser harus mempunyai sifat Ghiroh, semangat perjuangan dari hati dan jangan luntur.

    Hal ini penting dilakukan dan dijaga oleh ansor banser karena yang demikian itu sifat dari Ansor Banser. Kegiatan TURBA di PAC GP Ansor pacet berakhir pukul 00.00 wib.

    #infokombansernu #pcgpansormojokerto #pacgpansorpacet #turba2020 #ideologi
    (red.infokom)

  • BERDANDAN JUGA HARUS JUJUR

    BERDANDAN JUGA HARUS JUJUR

    SORBANSANTRI.COM
    Oleh Ayik Heriansyah
    wp.sorbansantri.com – Akhir-akhir ini kita jumpai banyak orang HTI yang dandanannya tidak mencerminkan kondisinya. Misalnya bukan alumni Al-Azhar berdandan ala Azhari. Bukan kiai berdandan ala kiai. Bukan habib berdandan ala habaib. Ada lagi dandanan tidak serasi dengan fikrah yang dianutnya. Misalnya bersarung ala kiai Aswaja Nahdliyah, tapi menyuarakan khilafah. Bersorban ala Habaib tapi membenci ulil ‘amri.
    Ada juga yang menghiasi dirinya dengan mengenakan gelar-gelar keagamaan seperti ajengan, buya, kiai, tuan guru, guru dan sebagainya tapi kualitas ilmu, adab, akhlak dan ruhiyahnya jauh dari mencerminkan gelar-gelar tersebut. Gelar-gelar keagamaan diberikan masyarakat sebagai bentuk pengakuan atas kualitas orang yang digelari. Gelar-gelar itu tidak bisa diberikan kepada diri sendiri atau kepada orang lain yang satu komunitas.
    Sudah bisa ditebak, motivasi di balik dandanan dan bergelar keagamaan yang dikenakan oleh ustadz yang tidak sesuai dengan keadaan dirinya, untuk menarik perhatian orang. Akan tetapi itu adalah suatu bentuk penipuan. Yang jelas, yang pertama kena tipu adalah dirinya sendiri, baru kemudian ada orang-orang awam ikut tertipu.
    Keserasian dandanan dengan kondisi seseorang menunjukkan kejujurannya. Di dalam kitab Lathaiful Minan, diceritakan bahwa ada seorang ahlu shuffah yang meninggal dunia. Di sampingnya ditemukan dua keeping dinar. Melihat itu Rasulullah saw bersabda, “ini dua barang di neraka.”
    Syaikh Abul Hasan asy-Syadziliy mengatakan bahwa banyak orang yang meninggal dunia pada masa Rasulullah saw dalam keadaan meninggalkan harta, namun Rasulullah saw tidak berkomentar seperti komentar di atas. Sebab, mereka tidak menyembunyikan sesuatu yang berlawanan dengan penampilan lahirnya. Sementara orang itu menampakkan kemiskinan padahal memiliki dua dinar. Ketika apa yang disembunyikannya tampak, Rasulullah saw berujar, “ini dua barang dari neraka”
    Ada cerita menarik tentang kejujuran ulama waliyullah dalam berdandan. Abul Qasim al-Junaid seorang waliyullah pemuka para sufi guru al-Hallaj. Sewaktu para ulama syariat sepakat untuk menghukum al-Hallaj, al-Junaid sedang mengenakan jubah sufi. Karena itu ia tidak mau membubuhkan tanda tangan. Tapi Khalifah mengatakan mereka butuh tanda tangan al-Junaid.
    Lalu al-Junaid pulang dan ganti pakaian dengan sorban dan jubah ulama syariat. Setelah itu al-Junaid menandatangani putusan para ulama syariat tersebut. Al-Junaid menulis: “Kami memutuskan berdasarkan hal-hal yang terlihat. Sementara tentang kebenaran yang terbenam di dalam kalbu, hanya Allah yang Maha Tahu.” Kisah ini diceritakan Syaikh Fariduddin al-Attar di dalam kitab Tadzkiratul Auliya Bab al-Hallaj.
    Amal akan diterima jika dilakukan dengan benar dan jujur (shidq). Kata Syaikh Ibnu ‘Athaillah: “Jika kau menghendaki pahala untuk suatu amal, kau dituntut untuk mengerjakannya dengan benar dan jujur (shidq).” Sebab, balasan tidak akan diberikan kecuali untuk amal yang sempurna dari sisi wujud amal itu sendiri dan dari sisi niatnya. Semua terkandung dalam kata shidq yang berarti benar dan jujur, jelas Syaikh Zarruq di dalam syarah al-Hikam-nya.
    Amal yang manipulatif dengan dandanan dan gelar keagamaan yang tidak sesuai, terlihat seolah-olah sedang mengerjakan ketaatan, akan tetapi belum tentu diterima. Lebih lanjut Syaikh Ibnu ‘Athaillah bertutur, “Mungkin Dia membukakan untukmu pintu taat, dan tidak membukakan untukmu pintu penerimaan.” Kata Syaikh Zarruq, “amal tanpa penerimaan adalah seperti tidak beramal.” Na’udzubillah min dzalik. (abi sorban)
  • Anatomi Radikalisme di Indonesia

    Anatomi Radikalisme di Indonesia

    Oleh M. Kholid Syeirazi. Sekjen ISNU Pusat

    Radikalisme ada pada semua agama, tetapi dalam Islam, radikalisme atau fundamentalisme terbukti memainkan peran politik terpenting sejak abad ke-18 (Barber, 1995: 206). Radikalisme dan fundamentalisme, sebagai istilah, sering bertukar tempat karena bermuara pada satu ide: menjalankan agama sampai ke akar-akarnya, mendasarkan seluruh aspek kehidupan kepada agama.

    Kaum fundamentalis Islam umumnya menganggap Islam adalah agama sempurna yang mencakup kerangka acuan semua aspek kehidupan—duniawi dan ukhrawi—mengatur manusia sejak dari cara makan, tidur, bersuci, beribadah, berniaga, hingga bernegara. Mereka menganggap aturan bernegara sama bakunya dengan ketentuan syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji. Ketentuan ibâdah dan siyâsah sama-sama tawqîfî (doktriner). Menjalankan rukun Islam tidak sah tanpa menegakkan kepemimpinan politik Islam. Persoalan politik dan nashbul imâmah, menurut mereka, termasuk pokok dan rukun agama
    (ركن من أركان الدين وأصل من أصوله)
    Meragukan apalagi mengabaikan nizâm Islâm berkonsekuensi membatalkan status keislaman seseorang.

    Tradisi takfir (memvonis orang lain kafir, red) bermula dari paham politik Khawarij yang memutlakkan pandangan politik-agama dan menggemakan jargon:
    لا حكم الا الله
    (tidak ada hukum selain hukum Allah).

    Dalam sejarah Islam, radikalisme bersumber dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah doktrin dan ideologi, faktor eksternal adalah imperialisme atau persepsi imperialisme dan ketidakadilan yang merundung umat Islam. Narasi ini akan menggali sumber internal radikalisme dengan melacak akar doktinernya pada paham salafi yang berkembang di Timur Tengah sejak abad ke-12 M dan mengeras menjadi ajaran salafi-jihadi pada abad ke-20 M. Pengaruh ideologi salafi dan salafi-jihadi meluas hingga ke Indonesia dan menjadi tantangan terhadap kemajemukan dan kelangsungan NKRI.

    Bahan Baku Radikalisme Secara internal, radikalisme bermuara dari doktrin kesempurnaan dan keserba-mencakupan Islam (شمولية الاسلام). Islam sempurna, karena itu tidak perlu ditambah dan dikurangi. Ajarannya mencakup semua, karena itu tidak perlu mencari tuntunan dari luar Islam. Contoh terbaik dari kesempurnaan Islam adalah praktik kehidupan generasi salafus shâlih. Mereka adalah tiga generasi terbaik dalam rentang tiga abad sejak zaman Nabi dan Sahabat, Tâbi’în, hingga Tâbiu’t Tâbi’în. Sahabat adalah mereka yang bertemu Nabi dan mengakui risalahnya. Tâbi’în adalah mereka yang tidak bertemu Nabi tetapi bertemu Sahabat. Tâbiu’t Tâbi’în adalah mereka yang tidak bertemu Nabi dan Sahabat tetapi bertemu dengan Tâbi’în. Nabi bersabda:
    خير الناس قرني، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم
    “Sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada masaku, kemudian masa sesudah mereka, kemudian masa sesudah mereka.” (HR Bukhari-Muslim)

    Tercakup dalam masa itu adalah para pionir mazhab-mazhab fiqih Islam seperti Imam Hanafi (80 -148 H), Imam Maliki (93-179 H), Imam Syafi’i (150-204 H), dan Imam Hanbali (164-241 H) serta pemuka aliran teologi Islam Imam Abu Hasan al-Asyari (260-324 H).

    Sebenarnya seluruh golongan Islam yang mengakui dan mengikuti mazhab adalah salafi. Namun, belakangan, salafi merujuk kepada gerakan salafisme yang dilancarkan Ibn Taimiyah (661-728 H/1263-1328 M), pembela ortodoksi Islam yang paling keras. Bermazhab Hanbali dan cenderung tekstualis, Ibn Taimiyah adalah pemuka puritanisme Islam, sebuah paham absolutis yang tak kenal kompromi dalam beragama dan cenderung memandang realitas pluralis sebagai suatu bentuk kontaminasi atas kebenaran sejati (Abou El Fadl, 2007: 29). Ibn Taimiyah sangat menentang praktik keagamaan sufi dan tarekat yang dituding sarat bid’ah dan kemusyrikan.Dia juga menolak pemerintahan manusia (human rule) dan bahwa kepemimpinan politik harus berdasarkan syariah. Hidup di masa politik bergolak akibat invasi bangsa Tartar, pena Ibn Taimiyah setajam pedangnya. Fatwa-fatwa Ibn Taimiyah menjadi rujukan hampir seluruh kaum fundamentalis Muslim dan gerakan radikal jihadis kontemporer (Bonney, 2004: 111; Tibi, 1998: 38). Fatwa Ibn Taimiyah yang paling populer adalah fatwa Il-Yasiq. Fatwa Il-Yasiq (Vassa/Great Zasag Law) adalah hukum kompilasi Mongol yang dibuat Genghis Khan, diberlakukan oleh Mahmud Ghazan Khan (1271 – 1304 M), penguasa Mongol ke-7 yang telah masuk Islam di area Syam. Menurut Ibn Taimiyah, meskipun Muslim, Ghazan Khan tetap wajib diperangi karena memberlakukan selain hukum Allah. Kata Ibn Taimiyah (Ibn Katsir, 1988: 24):
    « إذا رأيتموني من ذلك الجانب وعلى رأسي مصحف فاقتلوني»
    “Jika kalian lihat aku di sisi pasukan Tartar, bunuhlah aku meskipun di atas kepalaku terdapat mushaf.”
    Fatwa Il-Yasiq ini terkenal dan menjadi rujukan kaum jihadis untuk memerangi setiap penguasa yang menolak mengadopsi hukum Islam, meskipun dia seorang Muslim. Namun, tidak seorang pun yang menerapkannya untuk menilai realitas masa kini hingga Abdus Salam Farag melakukannya (As-Siba’i, 2002: 8). Farag adalah pentolan Jama’ah Jihad Mesir yang mengotaki pembunuhan Presiden Anwar Sadat pada 1981.

    Ajaran Ibn Taimiyah menjadi gerakan revolusioner di tangan Muhammad ibn Abdul Wahhab (1115-1206 H/ 1701-1793 M). Beraliansi dengan Muhammad Ibn Saud(1710–1765 M), kepala suku Dir’iyah, Wahhabisme memulai aktivitas takfir berdarah untuk memurnikan tauhid dan ritual umat Islam. Pada era 1700-an, Wahhabisme melakukan serangkaian pembunuhan dan penjarahan di seluruh wilayah Arabia. Pada 1802, aliansi Saud-Wahhab menyerbu Karbala dan membunuh sebagian besar kaum Syiah serta merampas properti, senjata, baju, karpet, emas, perak, dan mushaf al-Qur’an (Algar, 2002: 23-25).


    Belasan tahun setelah wafatnya Ibn Abdul Wahhab, Wahhabisme masuk ke Tanah Air melalui tiga orang Minangkabau yang pulang haji pada 1803 M dan membawa ajaran salafi. Mereka adalah Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang. Mereka membentuk kaum Padri yang keras memerangi praktik bid’ah dan khurafat serta mengobarkan jihad melawan kaum Adat. Orang yang tak mau tunduk dibunuh, surau-suraunya diserang dan dibakar (Parlindungan, 2007). Perang saudara bergolak selama dua puluh tahun (1803-1823 M). Pada 1825, di bawah kepemimpinan Tunku Imam Bonjol, Kaum Padri dan Kaum Adat berkompromi dan menghasilkan semboyan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Ajaran purifikasi muncul kembali dalam sejumlah ormas Islam yang dibentuk menjelang Indonesia merdeka yaitu Muhammadiyah (1912), Al-Irsyad (1914), dan Persis (1923). Dakwah mereka di satu sisi adalah memerangi TBC (tahayul, bid’ah, dan churafat) dan mewujudkan “Islam murni” sehingga bisa disebut salafi. Di sisi lain, mereka ingin umat Islam maju dan mengambil aspek tertentu dari kemajuan Barat sehingga disebut kaum modernis. Kiblatnya adalah gagasan-gagasan tajdid Islam Jamaludin al-Afghani (1838 – 1897 M), Muhammad Abduh (1849 – 1905 M), dan Rashid Rida (1865 – 1935 M).

    Gerakan reformisme Islam Abduh menimbulkan gelombang sekularisasi politik dan agama. Sejumlah murid Abduh, seperti Saad Zaghlul, mendirikan Partai Wafd yang berhaluan nasionalis sekuler. Alî Abd Râziq menulis buku Al-Islâm wa Ushûl al-Hukm yang mendukung langkah Ataturk menghapuskan Khilâfah dan menyatakan bahwa agama tidak berurusan dengan politik.

    Resah dengan gelombang sekulerisasi, Rashid Rida lantas “mewahabikan” kembali gerakan tajdid Abduh dan menghadirkan ulang Ahmad ibn Hanbal dan Ibn Taimiyah (Hanafi, 1989: 21). Pembelotan Rida terhadap tradisi reformatoris Abduh kelak menyiapkan jalan bagi lahirnya Al-Ikhwan al-Muslimûn(IM), induk organisasi militan yang didirikan muridnya, Hasan al-Banna, pada 1928.

    Kaum modernis Islam goncang di antara salafisme yang menuntut purifikasi dan modernisme yang mengakui segi positif kemajuan Barat. Di Indonesia, aspirasi mereka adalah formalisasi syariat Islam. Ini diperjuangkan oleh para tokohnya seperti Ahmad Hasan dan Muhammad Natsir (Persis) serta KH Agus Salim, Ki Bagus Hadikusuma, dan Abdul Kahar Muzakir (Muhammadiyah) yang gigih membela konsep negara Islam sepanjang tahun 1920-an hingga 1945. Gagasan ini juga didukung oleh KH A.Wahid Hasyim (NU) dan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo (Partai Syarikat Islam Indonesia/PSII) yang punya latar belakang keagamaan tradisional. Perjuangan ini berhasil melalui Piagam Jakarta 22 Juni 1945, tetapi tujuh kata berbunyi “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” itu berumur pendek: didrop sehari setelah Indonesia merdeka demi menghindari perpecahan dan keberatan dari rakyat Indonesia Timur.

    _Bersambung_

    (LDNU BANJAR)