Tag: sorbansantri

  • OLAH RAGA YANG BERNILAI PAHALA

    OLAH RAGA YANG BERNILAI PAHALA

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Ibnu al-Mubarak -rahimahullah- menyatakan:
    “Sungguh banyak suatu perbuatan baik yang (terlihat) kecil (pahalanya) yang (dengan) niat (mengharap ridha Allah) dapat membuat besar pahalanya. Dan sungguh banyak perbuatan baik (yang terlihat) besar (pahalanya) yang (dengan) niat (kurang ikhlas) dapat membuat kecil pahalanya.”
    Ketahuilah bahwa perbuatan baik itu harus disertai niat agar mendapatkan pahala.
    Jika tidak ada niat, maka perbuatan baik tersebut tidak mendapatkan pahala.
    Letak niat berada di hati.
    Contohnya:
    – Niat wudhu ketika awal membasuh wajah.
    – Niat shalat ketika takbiratul ihram, yaitu ketika mengucapkan lafazh Allaahu akbar.
    – Niat puasa (fardhu) ketika terbenam matahari sampai terbit fajar.
    Sedangkan perbuatan buruk tidak membutuhkan niat.
    – Orang yang mencuri mendapatkan dosa, meskipun dia tidak niat mencuri.
    – Orang yang membuka aib orang lain tanpa hak mendapatkan dosa, meskipun dia tidak niat ghibah.
    – Orang yang memukul orang lain dengan sengaja tanpa hak mendapatkan dosa, meskipun dia tidak niat memukul.
    Sedangkan perbuatan mubah akan mendapatkan pahala, jika diniatkan untuk ketaatan.
    – Orang yang makan akan mendapatkan pahala, jika diniatkan untuk ibadah.
    – Orang yang tidur akan mendapatkan pahala, jika diniatkan agar kuat beribadah.
    – Orang yang berolah raga akan mendapatkan pahala, jika diniatkan untuk menjaga kesehatan sehingga mudah beribadah.
    Semoga Allaah senantiasa memudahkan kita untuk menghadirkan niat ketika melakukan perbuatan baik, aamiin (PC NU BREBES)
  • INI 9 KOMANDAN PERANG YANG PERNAH DIMILIKI NU

    INI 9 KOMANDAN PERANG YANG PERNAH DIMILIKI NU

    SORBAN SANTRI- Kontribusi Nahdlatul Ulama dalam membebaskan bumi pertiwi dari penjajahan, tidak dapat ditanggalkan begitu saja dari alur sejarah kemerdekaan Indonesia. Hizbullah menjadi salah satu motor penggerak para pejuang kala itu. Dari pergolakan perjuangan inilah muncul nama-nama besar para komandan perang NU yang patut kita teladani bersama.

    1. KH. ZAINUL ARIFIN
    Postur tubuhnya yang tegap, gagah dan berparas tampan menguatkan profil dirinya sebagai seorang pejuang sejati. Pria kelahiran Barus, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara pada tahun 1909 ini memang identik dengan Hizbullah. Tampuk kepemimpinan organisasi ini juga pernah dijabatnya sejak awal Januari 1945. Sebagai seorang komandan dirinya selalu memberikan contoh yang baik kepada para bawahannya.Geliat perjuangannya memang tidak terekam jelas dalam sejarah. Namun, dengan diangkatnya Kiai Zainul sebagai Komandan Hizbullah menandakan dirinya berperan besar dalam pergulatan perjuangan NU melawan penjajah. Pria yang masih keturunan dari Raja Barus (Sutan Ramali Pohan bin Sutan Sahi Alain) ini juga telah banyak terkontribusi baik bagi NU maupun negara. Jabatan sebagai Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Kerja III (1962-1963) menjadi satu komitmen khusus kesetiaannya kepada negara. Di akhir hayatnya (2 Maret 1963) ia tercatat sebagai Pahlawan Nasional dan penyandang penghargaan Mahaputera dari pemerintah.

    2. KH. MASJKUR
    Lahir di Singosari, Malang, 1315 H/30 Desember 1900 M. Masa mudanya banyak ia habiskan untuk merantau dari pesantren ke pesantren. Pengembaraannya dimulai dari Pesantren Bungkuk di Singosari, berlanjut ke Pondok Sono, Siwalanpanji, Tebuireng hingga berguru kepada Syaikhona Cholil Bangkalan.

    Di masa-masa perjuangan revolusi pembebasan atas penjajahan, Kiai Masjkur aktif turut berjuang sebagai seorang pejuang. Tak ayal jabatan sebagai Ketua Markas Tertinggi Sabilillah (1945-1947) diamanahkan kepada dirinya. Dan di masa Mr. Amir Syarifuddin ia ditunjuk secara resmi untuk menjadi anggota Badan Pembela Pertahanan Negara.

    Banyak perjuangan lain yang ia tunjukkan demi mengabdi pada negara. Bahkan dirinya juga tercatat pernah menjabat sebagai seorang Menteri Agama hingga 4 kabinet. Pada 19 Desember 1992 dirinya harus berpulang ke Rahmatullah. Dan di waktu pemakaman itulah dirinya mendapat penghormatan secara militer, berkat jasa-jasanya yang besar terhadap negara.

    3. KH. MUNASIR ALI
    Dilahirkan di daerah Modopuro, Mojasari, Mojokerto pada 2 Maret 1919 dari seorang ayah bernama H. Ali yang merupakan seorang kepala desa yang dihormati di daerahnya. Selama perang kemerdekaan meletus Kiai Munasir aktif sebagai seorang pejuang dan berkarir di dunia kemiliteran.

    Karirnya dimulai dengan mengikuti latihan kemiliteran prajurit Jepang dengan masuk sebagai anggota penerangan Heiho. Aktif sebagai pasukan Hizbullah dengan menjadi Komandan Batalyon Condromowo dan turut andil dalam mendirikan Hizbullah Cabang Mojokerto. Dan ketika Hizbullah melebur ke dalam barisan TNI, Kiai Munasir juga terdaftar sebagai anggota aktif, hingga dirinya diangkat menjadi Komandan Batalyon 39 TNI AD.

    Di akhir hayatnya pada 1 Januari 2002 pelbagai penghargaan pernah diberikan kepadanya mulai dari Satya Lentjana peristiwa Perang Kemerdekaan I dan II, Bintang Gerilya dan lain sebagainya.

    4. KH. SULLAM SYAMSUN
    Dia adalah satu-satunya penyandang pangkat tertinggi kemiliteran dari para tokoh NU yang pernah aktif di sana. KH. Sullam Syamsun begitulah nama lengkapnya dilahirkan di Malang 29 April 1922.

    Pada masa karir keaktifannya di dunia kemiliteran pelbagai jabatan telah ia rengkuh mulai dari Komandan Kompi I merangkap Wakil Batalyon I Brigade IV Brawijaya, Komandan Keamanan Malang Kota, Komandan Batalyon 523, 514, Pa Teritorium V/Brawijaya dan pada tahun 1977 pensiun penuh dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI.

    5. KH. ISKANDAR SULAIMAN
    Terlahir dari nasab keturunan bangsawan yang kaya raya. Iskandar Sulaiman tak menampakkan sedikitpun raut kepongahan. Justru ia dikenal sebagai seorang yang sangat dermawan.

    Selepas perjalanannya menimba ilmu di Pesantren Tebuireng, dengan kekayaannya digunakannya untuk memakmurkan masyarakat sekitar sekaligus memperkenalkan NU kepada masyarakat. Beberapa unit pendidikan seperti madrasah dan kegiatan penunjang lain turut didirikannya.

    Namun, karirnya tidak hanya berhenti sebagai seorang pengajar saja. Di masa menjelang dan setelah masa kemerdekaan ia aktif di dunia kemiliteran. Semangat nasionalisme selalu terpancar dari sosoknya. Perjuangan itu terus ia lakukan hingga pangkat terakhir yang pernah ia raih sebagai seorang kolonel.

    6. KH. HASYIM LATIEF
    Dilahirkan di daerah Sumobito, Jombang pada 17 Mei 1928. Nama lengkapnya ialah Hasyim Latief, ia dikenal sebagai seorang tokoh Hizbullah. Awal karirnya di Hizbullah ia mulai di kala ia berstatus sebagai peserta pada pelatihan opsir Hizbullah di Cibarusa, Bogor (1945) Se-Jawa dan Madura.

    Di saat Hizbullah Jombang didirikan, Kiai Hasyim Latief lansung menjabat sebagai seorang komandan latihan. Dan ketika kisaran tahun 1947 terjadi peleburan antara TNI dengan Hizbullah, ia masuk ke dalam resimen 293 dengan komandan Letkol KH. A. Wahib Wehab. Pangkat terakhimya yang ia panggul adalah Komandan Kompi I Yon Munasir. Sayang, perjuangannya harus terhenti pada Mei 2005, pada usia 77 tahun dirinya dipanggil Sang Khalik.

    7. KH. ZAINAL MUSTOFA
    Nama kecilnya adalah Hudaeni. Lahir dari keluarga petani berkecukupan, putra pasangan Nawapi dan Nyonya Ratmah, di kampung Bageur, Desa Cimerah, Kecamatan Singaparna. Dikenal sebagai salah satu tokoh NU yang memiliki banyak pengikut (baik dari kalangan santri dan masyarakat) sekaligus getol dalam menyemangatkan gerakan perlawanan terhadap penjajahan.

    Ia selalu menyerang kebijakan politik kolonial Belanda yang kerap disampaikannya dalam ceramah dan khutbah-khutbahnya. Di masa penjajahan Jepang dirinya juga mengatur strategi perlawanan terhadap Jepang. Dengan semangat jihad membela kebenaran agama dan memperjuangkan bangsa, KH. Zaenal Mustafa merencanakan akan mengadakan perlawanan terhadap Jepang pada tanggal 25 Pebruari 1944 (1 Maulud 1363 H).

    Ia juga turut serta mengomandoi perlawanan terhadap Jepang di Sukamanah Tasikmalaya. Namun sayang perjuangannya harus berakhir di balik jeruji besi. Pesantren yang didirikannya harus ditutup oleh Jepang. Dan atas jasa-jasa itulah kini KH. Zainal Mustofa diangkat sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 064/TK/Tahun 1972.

    8. H. ABDUL MANAN WIJAYA
    Namanya cukup melegenda di wilayah Kotatif Batu. Itu karena namanya telah dijadikan sebagai nama jalan, tepatnya Jl. Manan Wijaya, yang membentang di sepanjang daerah Pujon. Nama aslinya Rumpoko, lahir di Pujon pada 1910. Ayahnya seorang mandor jalan. Manan Wijaya adalah alumni Pesantren Tebuireng Jombang.

    Ketika PETA dibentuk, ia langsung bergabung dengan kesatuan militer Jepang tersebut meski sebagai tentara aktif, namun sosok santri selalu tampak. Ia juga rutin berlangganan Suara NU dan Suara Ansor dari Surabaya.

    Setelah menjadi pembicara dalam rapat akbar di Tebuireng (1967) dan menyebut “Hamid Roesdi itu Ketua Ansor” ia diMabeskan hingga pensiun.
    Pensiun dengan pangkat terakhir Brigjen. Jenazah dimakamkan di Desa Sisir Kecamatan Batu, atas permintaan sendiri, karena tidak mau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.

    9. HAMID ROESDI
    Nama Hamid Roesdi telah menjadi legenda pahlawan masyarakat Kota Malang, sama halnya nama Bung Tomo untuk masyarakat Surabaya. Bahkan nama Hamid Roesdi tidak hanya dijadikan sebagai nama jalan di pusat kota, tapi juga nama terminal di Kedungkandang. Patungnya juga dapat dilihat di Malang.

    Lahir di Sumbermanjing Kulon (Pagak) Malang Selatan pada 1917. Ia putera ke empat H. Umar Roesdi.

    Di masa penjajahan Jepang ia masuk pendidikan perwira Bo Ei Gyugun Kanku Kyokutai di Bogor, kemudian menjadi Cudancho PETA di Malang Syu Dai I Daidan (Dai I Cudan) yang berkedudukan di Glagah Aren Sumbermanjing.

    Awal 1947 diangkat sebagai komandan Resimen Infantri 38 Divisi VII Untung Suropati dan sebagai Komandan Pertahanan Daerah Malang berkedudukan di Pandaan Pasuruan. Pada waktu penumpasan PKI Muso (Madiun Affair) ia menjabat Komandan Komando Penumpasan PKI Muso di daerah Malang Selatan (Turen-Donomulyo).

    Menghadapi Clash II Belanda menjabat Komandan Sub Wherkreise I dan memimpin gerilya di daerah pendudukan Malang Timur dengan pangkat mayor. Pada 8 Maret 1949 ia gugur bersama pasukannya di daerah Wonokoyo, Kedungkandang pukul 03.00 dinihari. (abi sorban)

  • Pekikan Takbir Nasionalisme

    Pekikan Takbir Nasionalisme

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Pengabdian atas Pertiwi ini, tentu bukan hanya tentang pangkat dan jabatan saja, namun lebih dari itu, ini tentang Ketulusan dan Keikhlasan sebuah perjuangan.
    Bung Tomo yang kebetulan representasi dari NU dan para pahlawan pendahulu lainnya, adalah Patriot yang hingga kini masih sangat terasa gaung nasionalismenya, bung tomo dengan pasukan santri dan doa kyai, telah secara nyata turut serta memperjuangkan kemerdekaan NKRI tercinta ini.
    Kami selaku Nahdhiyin muda, sangat masih punya keyakinan yang begitu dalam, Bahwa sebagai generasi penerus, BANSER bersama elemen muda lainnya akan selalu bisa bersinergi untuk bahu membahu menjaga Negeri ini, dari rong-rongan kaum yang tak punya jiwa nasionalisme.
    Kita yaqini bersama, bahwa NU dan Organisasi Kemasyarakatan lainnya, juga akan mampu menciptakan Generasi-Generasi selayaknya Bung Tomo atau Jendral Soedirman.
    Karena Generasi Sudirman dan Bung Tomo inilah, generasi yang Takbirnya Murni dari hati demi kesatuan BANSA, AGAMA dan NEGARA, bukanlah Takbir yang dipekikkan demi kepentingan politik sesaat…
    Dirgahayu ke-75 TNI. Semoga TNI makin kuat, makin kukuh, makin kompak, menjaga kedaulatan NKRI, dan semakin dicintai rakyat Indonesia.(mwc nu srumbung)
  • GIAT RUTIN KADER PENGGERAK NU, MENASIONALKAN TIRYAQUL MUJARROB BIL WALIL MUQORROB

    GIAT RUTIN KADER PENGGERAK NU, MENASIONALKAN TIRYAQUL MUJARROB BIL WALIL MUQORROB

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Jum’at, 02 Oktober 2020. Pertama kalinya kegiatan rutin kader penggerak NU di adakan di Kecamatan Pacet Mojokerto, tepatnya di Masjid Nurul Iman Pacet Nggapuk Pacet Mojokerto. yang bertujuan untuk membentengi serta menjaga IDEOLOGI bagi semua kader-kader NU dengan mengamalkan TIRYAQUL MUJARROB BIL WALIL MUQORROB yang oleh KH. Adnan Anwar diperintah unuk di NASIONALKAN.

    SORBANSANTRI.COM
    pembacaan TIRYAQUL MUJARROB BIL WALIL MUQORROBTIRYAQUL MUJARROB BIL WALIL MUQORROB di Masjid Nurul Iman Pacet Mojokerto

    Kegiatan yang dimulai ba’da isya’ tersebut, dihadiri oleh kader-kader yang pernah mengikuti pelatihan dan bimbingan dalam lembaga dan banom NU seperti PKPNU – MKNU – DTD – DIKLATSAR – PKD – DIKLATAMA – MAKESTA – LKD Fatayat- DLL. Uniknya dalam acara tersebut adalah banyaknya silaturrakhim antar kader dengan sedikit acara ceremonial karena kegiatan ini hanya ada 3 acara inti yaitu Tawassul, pembacaan TIRYAQUL MUJARROB BIL WALIL MUQORROB dan Makhallul Qiyam selebihnya itu adalah acara silaturrokhin dan santai ngobrol sesama kader.

    Dan dalam tema serta pokok bahasan dalam kegiatan tersebut adalah NKRI Harga Mati… Nderek NU sak lawase (ikut NU selamanya). Tema ini sangat dikedepankan dalam kegiatan ini sebagai wadah dan pemantapan IDEOLOGI kader Agar mandiri dalam menjalani Berbangsa dan Bernegara, tetap berpegang teguh dalam IDEOLOGI ASWAJA NU.

    Semoga kita tetap kompak, semangat dalam ber NU, tidak goyah dalam menjalani cerita berbangsa dan bernegara. Bukan Kader NU dalam Kepentingan, Bukan Kader NU dalam Balas Budi, Bukan Kader NU yang Ragu-ragu, tetapi Sebagai Kader NU yang KOKOH. (abi sorban)

    BACAAN TIRYAQUL MUJARROB BIL WALIL MUQORROB

  • 1000 LEBIH SAHABAT ISHARI NU HADIR DI PACET DAN CERITA MULYANYA SHOLAWAT

    1000 LEBIH SAHABAT ISHARI NU HADIR DI PACET DAN CERITA MULYANYA SHOLAWAT

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Dalam acara Haul H. Drail, HJ, Daiyah dan Gus H. Samiun, yang diadakan pada hari kamis, 1 Oktober 2020 yang bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila, banyak jama’ah dan sahabat ISHARI NU dari berbagai wilayah hadir dalam acara yang diadakan di Dsn Treceh Desa Sajen Kec. Pacet Mojokerto.

    Acara yang dimulai ba’da Sholat Magrib itu berakhir dinihari pukul 01.00 wib 2 Oktober 2020 yang dilanjut dengan khotmil Qur’an sampai Subuh. Mengingat padatnya acara dan banyaknya tamu yang hadir dari berbagai wilayah maka, Banser Satkoryon Pacet mengadakan koordinasi yang rapi dalam kegiatan tersebut.

    Mengingat tempat parkir yang berada di tengah perkampungan warga, banser satkoryon pacet sampai membagi 10 titik pos penjagaan dalam pengaturan lalu lintas, demi kelancaran kendaraan yang biasa keluar masuk pada daerah tersebut.

    Tampak hadir ulama’ dan kiai seperti Pengasuh Pondok Pesantren Fatchul Ulum Pacet KH. Muslikh Abbas dan Mbah Khusain Ilyas yang dalam kesempatan tersebut sempat memberikan cerita dongeng oSholawat.

    Telah dikisahkan Oleh Kiai NAWAWI yang diceritakan ini adalah seseorang yang bernama KABUL. Dan Menurut cerita Mbah Khusain Ilyas, kiai NAWAWI kalau mati ingin seperti KABUL. Apa sih yang dilakukan KABUL itu?

    Bahwa kiai NAWAWI itu suka membaca sholawat, apalagi pas acara maulud nabi, dan KABUL itu pekerjaannya gembala kambing dan kambingnya itu tidak kurang dari 5000 ekor. Setiap malam jum’at ada kegiatan sholawat dan KABUL ini bilang ke kiai NAWAWI kalau ada kegiatan sholawat dipersilahkan ambil kambingnya untuk dijadikan makanan pada acara sholawat tersebut. Jadi setiap malam jum’at selalu ada pengambilan kambing buat hormat dalam kegiatan sholawat.

    Jaman dahulu musholla / langgar itu mangkring (ada diatas) dan dibawahnya itu kolong, Jadi KABUL itu suka sholawatan pas membaca Ashroqol Badru, pasti ada di bawah langgar atau musholla dan membaca paling keras sendiri diantara jama’ah karena sangat cintanya sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.

    Cerita ini berjalan beberapa tahun, cuma KABUL ini menderita penyakit kulit (borok sekujur tubuhnya) semua badannya itu melepuh. Ketika akan ada lagi kegiatan sholawat itu, salah seorang utusan kiai NAWAWI itu berencana mengambil kambing buat acara sholawat, KABUL ini minta ijin gak bisa ikut kegiatan sholawat dikarenakan luka borok sekujur tubuhnya dan berbau tidak sedap serta gak bisa memakai pakaian jadi tidak bisa ikut kegiatan sholawat yang rutin diadakan oleh kiai NAWAWI.

    Ketika acara sholawat dimulai, pas membaca Ashroqol Badru, dan KABUL ini sangat sayangnya dengan Nabi Muhammad SAW maka bangunlah KABUL dari rumah menuju langgar/musholla itu dalam keadaan telanjang dan merangkak menuju bawah musholla, karena sangat sayangnya pada Nabi Muhammad SAW. Setelah srokalan selesai, seperti ada bulan jatuh yang cahayanya itu terang benderang dan berjalan kearah musholla. KABUL marah dan menggerutu, ada orang yang telanjang begini kok malah di dekati.

    Cahaya itu tambah dekat dan semakin dekat dengan KABUL dan KABUL semakin marah, kok tambah didekati dalam keadaan telanjang itu. Dan akhirnya pipi kanan KABUL itu di pegang oleh cahaya tadi dan bilang ” KABUUUL, aku Rusullulloh SAW ” dan apa yang terjadi… KABUL disayang dicium dengan Nabi Muhammad SAW kemudian KABUL meninggal dunia. Makanya kiai NAWAWI berkata kalau mati ingin didoakan seperti matinya KABUL.

    Setelah kematian KABUL dibawah langgar / musholla tadi, yang didatangi Nabi Muhammad SAW itu kiai NAWAWI, kemudian Nabi Muhammad SAW menyuruh sekaligus memberitahukan kalau KABUL sekarang meninggal dan ada di bawah langgar / musholla, besok setelah selesai sholat subuh panggulen ( gendong ) dan harus kamu yang gendong, kalau sucikan harus kamu yang pangku, kalau dikubur harus kamu yang memasukkan keliang lahat (kuburan). Subhanalloh..

    Padahal TUBUH kabul banyak borok serta baunya gak sedap, setelah di cium dengan Nabi Muhammad SAW, Air yang jatuh menjadi harum. Mudah-mudahan kita semua akan di sayang oleh Nabi Muhammad SAW.( abi sorban)

  • Kritikan Gus Baha Untuk Orang-orang NU

    Kritikan Gus Baha Untuk Orang-orang NU

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- NU itu terlalu banyak pengajian umum. Tradisi ngaji (kitab) mulai hilang. Itu lampu merah. Orang kaya suka ulama. Suka kiai. Tapi maunya ngatur ulama, tidak mau diatur ulama.
    Saya gak mau ngaji yang ribet itu. Harus pasang panggung, sound system, yang penting bupati datang. Ribet.
    Mereka habis 50 juta, 100 juta tidak masalah. Tapi sesuai mau mereka, yang datang jamaahnya banyak. Coba, kalo nuruti maunya kiai, ulama, ngajinya menganalisa kitab, uangnya buat mencetak naskah, pasti tidak mau.
    Saya ingin kebesaran ulama itu kembali, yaitu bisa mengatur orang kaya. Bukan seperti sekarang, diatur orang kaya.
    Banyak yang datang minta pengajian umun, bawa alphard, saya jawab kalo mau ngaji datang ke sini saja. Kalo kiai diatur-atur, kan ribet. Bukan saya anti. Dan itu perlu. Tapi sudah over. Tapi tradisi ngaji yang sebenarnya, yang jadi standar NU, sudah mulai ditinggalkan. Ditambah, kiai yang kedonyan, cinta dunia. Klop. Yang kaya, tahunya memuliakan kiai dengan uang, kiainya juga senang. Musibah. Terutama di Jawa Timur. Saya keluar dari kantor PWNU Jawa Timur, langsung dikasih voucher umroh. Saya jawab, tidak, saya kiai Jawa Tengah.
    Makanya saat saya diundang di Tebu Ireng, Pondok Syaikhona Kholil, Termas … Saya mau asal, disediakan naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Kholil, Syaikh Mahfudz Termas.
    Ya, saya ngajinya kitab para pendiri pesantren itu. Bukan ngaji Gus Baha tapi ngaji Mbah Hasyim Asy’ari, dll.
    Ini kan musibah. Selama ini dzurriyah, para cucu tidak peduli dengan naskah pendiri. Padahal ada ahli filologi, pengumpul naskah. Naskah masyayikh kita ada di luar negeri, cucunya ga punya.
    Saya punya naskahnya Syaikh Mahfudz yang tidak ada di Termas. Saya dikasih Mbah Moen. Akhirnya, para cucu ngaji ke sini.
    Coba, Sirojut Tholibin di cetak di mana-mana, termasuk Yaman. Namun, kita tahu nasibnya di Jampes.
    Kiai-kiai NU itu sudah alim. Ngerti hukum secara tafsil, kok malah hobi bicara yang mujmal. Ini kan sudah mau pinter, di suruh goblok lagi.
    Anda itu ngaji, sampai buka kamus, meneliti tiap kata, harusnya ngajarnya seperti itu. Agar tetap alim.
    Ada kiai yang sehari manggung 3 kali. Padahal, pasti dia tidak paham problem dakwah di setiap tempat itu. Dia tidak tahu objeknya, tidak tahu obatnya. Pasti bicaranya standar, itu-itu saja, yang penting lucu dan menarik. Mana ada waktu untuk belajar lebih dalam?
    Akhirnya ada orang ceramah ditambahi musik macam-macam. Karena dia tidak alim. Tidak terkontrol, yang penting menarik. Akhirnya ya goblok beneran. Pondok NU juga ikut-ikutan tren. Bikin acara, ya pengajian umum. Yang datang banyak. Masak, pondok NU mengundang Ustad/Kiai yg tidak jelas. Karena ikut tren tadi. Tidak tahu, keduanya itu kategorinya apa, detailnya mereka. Musibah lagi, warga NU membaca tulisan Gus Ulil, Nusron bahkan Abu Janda tapi tidak tahu naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari.
    Saya hanya ingin, tradisi ilmiah di NU itu kembali. Kiai tidak boleh diatur orang kaya. Jika tidak, NU bisa habis (orang alimnya). Saya di NU ditugasi ini, bukan yang lain. Maka, saat saya di Lirboyo, saya bilang ‘Gus Kafa, saya lebih senang disambut 4 santri yang benar-benar niat ngaji, daripada banyak santri yang niatnya tidak jelas’. Kemudian, setiap kali saya ke Lirboyo, anak, mantu, cucu dikumpulkan dulu ngaji sama saya.
    Jika, kita 5 tahun saja memulai. NU akan hebat. Jika bukan anak kita yang jadi alim, cucu kita akan jadi ulama. Itulah NU. NU itu harusnya melahirkan kiai – allamah, bukan kiai-mubaligh seperti sekarang. Dan saya melihat sudah lampu merah. Padahal di zaman kakek saya, bahasa Arab itu seperti bahasa Jawa. Saya punya tulisannya Mbah Hasyim Asy’ari yang surat-suratan dengan kakek saya dengan bahasa Arab.
    Keilmuan, kealiman ini jangan habis. Dulu para pendiri, kakek kita, allamah, punya naskah. Jika kita terus begini, bisa habis. (abi sorban)
    Penjelasan Gus Baha; ( KH. Ahmad Bahauddin Nursalim) dalam pengajian beliau
  • Kitab Titik Nol Penuh Kenangan, Kisah KH. Ma’ruf Khozin Waktu Santri

    Kitab Titik Nol Penuh Kenangan, Kisah KH. Ma’ruf Khozin Waktu Santri

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Entah kenapa pagi ini tiba-tiba saya membuka lemari dan mendapatkan kitab Tarsyih Mustafidin, sebuah kitab yang penuh kenangan bagi saya. Karena di dalam Kitab inilah tercatat perubahan drastis dalam diri saya.
    Sebelumnya saya sama seperti kebanyakan santri yang dibiayai oleh orang tua, yang boleh dibilang berkecukupan. Kalau mau minta uang dipenuhi oleh orang tuanya. Dan segala fasilitas pondok yang lain juga diwujudkan. Saat itu antara tahun 1994 sampai tahun 2000.
    Saya sama seperti santri yang lain. Tidak terlalu menonjol dalam prestasi. Kalau dibangunin sulit, tidurnya juga sampai larut malam. Subuhnya bangun paling lambat, kecuali kalau kiai langsung yang keliling pondok sambil membangunkan santri.
    Kebiasaan saya nongkrong di kantin, sering ‘khoyal’ (cangkrukan) di dapur dengan 1 gelas kopi dijoin 3-4 teman, kadang di bawah jemuran untuk menghindari dari keamanan pondok (termasuk Gus Umronuddin dan Ust Agha  lladzifie / Pak Ghofur).
    Kenyamanan bagi santri nakal semacam itu tiba-tiba terhenti ketika Abah saya wafat, tepat 2 hari setelah pergantian Milenium tahun 2000. Sejak saat itu saya merasa kehidupan sudah berakhir. Sudah tidak bisa melanjutkan kehidupan. Sudah terasa berat menjalani hari-hari tanpa Abah. Saat kembali ke pondok pun tidak ada semangat, tidak ada gairah.
    Selama di pondok saya berusaha untuk melupakan hal-hal yang berkaitan dengan Abah saya, tapi saat berada di kantin Pondok yang teringat hanya wajah Abah saya. Ketika bercengkrama dengan teman-teman yang lain yang terbayang juga Abah saya. Ketika di dapur pun yang terbesit di dalam pikiran adalah kenangan bersama Abah. Semua diliputi perasaan yang terus menghantui itu.
    Belum saya temukan bagaimana caranya supaya hilang. Tapi ketika membuka kitab tiba-tiba lenyap pikiran itu. Semakin lama membuka kitab semakin tidak ingat terhadap Abah. Maka saya pun terus membuka kitab dan kebetulan di kamar saya ada Kamus Munawir besar, saya cari makna kitab yang tidak saya ketahui di kamus tersebut.
    Saya pun kemudian meminjam kepada kakak saya, Mas Nasihudin, kitab Fathul Muin yang sudah penuh dengan makna dari ngaji beliau kepada Kiai Fuad Jazuli. Lalu saya salin ke kitab saya ini yang bernama kitab Tarsyih Al-Mustafidin, yang bagian atasnya adalah Syarah dan Matan dari Fathul Mu’in.
    Di situlah saya merasakan nikmat betul memaknai kitab, sama sekali tidak ada ingatan terhadap orang tua yang sudah wafat. Ketika kemudian terbangun malam saya pun kemudian memaknai kitab ini. dan terasa nikmat kalau ditemani oleh kopi khas anak pondok, namanya kopi Brontoseno. Ada teman yang kebetulan mengetahui saat itu, di antaranya Mas Amin (Zinedine).
    Terus saya lakukan itu beberapa bulan. Sampai memaknai kitab Fathul Mu’in ini khatam (13 Agustus 2000, walaupun sudah khatam di hari-hari aktif saya masih ngaji Fathul Mu’in kepada Gus Zidni dan Gus Ma’mun). Setelah itu berlanjut ke beberapa kitab yang lain.
    Dari situlah saya merasa ada perubahan dalam hidup saya. Saya tidak menyalahkan kalau ada teman-teman yang menjumpai kehidupan saya di Pondok pada kisaran di bawah tahun 2000, menganggap Ma’ruf itu tukang tidur, itu sukanya di kantin bla bla bla. Tidak salah anggapan itu.
    Tetapi terkadang Allah memberi kesempatan kepada hamba-Nya untuk berubah dan memperbaiki diri. Dari perjalanan hidup saya tersebut saya belajar tidak meremehkan orang lain. Mereka masih berpeluang besar diberi kesempatan oleh Allah untuk menjadi lebih baik. Justru kitalah yang tidak boleh terlalu ujub, bangga diri, sebab boleh jadi tergelincir dalam kesombongan. Naudzubillah. (abi sorban)
    Sumber KH. Ma’ruf Khozin
  • Sejarah K.H. Raden Ma’mun Nawawi Cibogo

    Sejarah K.H. Raden Ma’mun Nawawi Cibogo

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- K.H. Raden Ma’mun Nawawi adalah seorang ulama ternama kelahiran Cibogo, Cibarusah, Bekasi. Kiai Ma’mun Nawawi akrab dengan panggilan Mama’ Cibogo. Lahir pada hari Kamis bulan Jumadil Akhir 1334 H/1915 M.
    Ngaji di Purwakarta Sampai Mekkah
    Perjalanan keilmuan Kiai Ma’mun Nawawi dimulai pada usia 15 tahun. Setelah mendapat didikan langsung dari ayahnya, beliau melanjutkan studi ke pesantren yang diasuh oleh Tugabus Bakri bin Seda (Mama Sempur) di Plered Sempur Purwakarta hingga 7 tahun. Kecerdasan dan akhlak Kiai Ma’mun Nawawi diakui oleh seluruh santri, baik junior maupun senior. Hal demikian sampai menjadikan Kiai Ma’mun Nawawi diangkat menjadi menantu oleh pemilik pondok pesantren, yaitu Mama’ (panggilan untuk tokoh agama di Sunda) Sempur.
    Selesai di Purwakarta, beliau melanjutkan studinya ke Mekkah selama 2 tahun. Selama di Mekkah, beliau berguru pada lebih dari 13 muallif (pengarang kitab), diantaranya adalah al-Muhaddits as-Sayyid Alawi al-Maliki, Mama KH. Mukhtar Ath Tharid, dan syaikh ‘Ali al Maliki. Mengaji di Jawa Timur Sampai Tanah Betawi Sekembalinya dari Mekkah, saat itu usianya 24 tahun, Kiai Ma’mun Nawawi melanjutkan perjalanan keilmuannya ke Pesantren Tebuireng Jombang di bawah asuhan Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dan pesantren Syaikh Ihsan Jampes Kediri.
    Menarik dicatat bahwa Kiai Ma’mun dan Syaikh Ihsan Jampes, keduanya sama-sama menulis kitab tentang rokok. Syaikh Ihsan Jampes (guru) menulis kitab yang berjudul Irsyad al-Ikhwan fi Bayani Syurb al-Qahwah wa ad-Dukhan berisi penyeimbang atas larangan-larangan merokok.Sedangkan kitab Kiai Ma’mun Nawawi (murid) berjudul Risalat Syurb ad-Dukhan yang berisi rambu-rambu larangan merokok. Sang Guru diketahui sebagai perokok berat, sedangan Sang Murid sangat anti terhadap rokok. Perbedaan ilmiah semacam ini sudah terjadi di Nusantara sejak zaman dahulu.
    Setelah menyelesaikan perjalanan di pulau Jawa bagian timur, beliau belajar lagi ke pesantren yang diasuh Syaikh KH. Manshur bin Abdul Hamid al-Batawi, pengarang kitab Sullam an-Nayirain, di Jembatan Lima, Jakarta. Kitab Sullam an-Nayirain berisi tentang ilmu falak. Kitab ini mampu dipelajari dan dikuasai oleh Kiai Ma’mun Nawawi selama 40 hari saja.
    Secara umum Kiai Ma’mun Nawawi lebih dikenal sebagai ulama falakiyah. Sampai saat ini, Cibogo, kampung kelahiran beliau, memiliki kalender sendiri dalam perhitungan awal bulan, tahun, puasa, dan lebaran. Maka dalam jangka waktu sepuluh tahun, ada saja perbedaan antara kalender Cibogo dengan pemerintah dalam penentuan awal puasa dan lebaran. Karena basis kalender Cibogo adalah hisab, sedangkan pemerintah adalah rukyat.
    Dalam bidang Hadis, Kiai Ma’mun Nawawi berguru kepada al-Muhaddis Ali al-Maliki, al-Muhaddis as-Sayyid ‘Alawi bin ‘Abbas, dan Syaikh Mukhtar Ath-Tharid al-Bogori di Makkah. Untuk al-Muhaddis Ali al-Maliki, Syaikh Muhammad Yasin al-Fadni sampai mencatat tersendiri periwayatan darinya dalam karya al Maslak al Jaliy fi Asanid Fadhilah as-Syaikh Muhammad Ali al Maliki. Di Indonesia, beliau berguru kepada Hadlratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Bukti bahwa beliau ulama yang mempuni dalam bidang Hadis adalah hadirnya kitab Bahjat al Wudluh fi Hadis Opat Puluh (Empat Puluh) dengan metode dan isi yang akan kami paparkan pada tulisan mendatang.
    Dari Laskar Hizbullah sampai Produktif Menulis Selain sibuk dengan ilmu, Kiai Ma’mun Nawawi juga punya pernanan penting dalam catatan sejarah kemerdekaan Indonesia. Berbekal kedekatan Kiai Ma’mun Nawawi dengan sang guru, Hadlratussyaikh Hasyim Asy’ari dan anaknya K.H Wahid Hasyim, ditambah dengan daerah strategis, Cibarusah didaulat menjadi tuan rumah pusat pelatihan Laskar Hizbullah pada masa revolusi dan reformasi kemerdekaan Indonesia.
    Majalah Tempo, 18 April 2011, menggambarkan adanya fakta perjuangan heroik “Laskar Allah” dari Cibarusah. Sekitar lima ratus pemuda berkemeja dengan celana tanggung biru berbaris keluar dari barak-barak anyaman bambu. Para calon opsir ini bersiap mengikuti upacara pembukaan latihan Laskar Hizbullah di Desa Cibarusah, Bekasi. Suatu pagi pada Februari 1945.
    Dalam situasi segenting itu, semangat literasi Kiai Ma’mun Nawawi melahirkan karya-karya yang memenuhi dahaga masyarakat, terutama masyarakat Sunda. Tidak kurang dari enam puluh tiga karya lahir dari “tangan dingin” beliau. Karya-karya beliau mencakup keilmuan Islam dalam bidang Hadis, fikih, astronomi (falak), sastra, dan lain-lain. Pada umumnya karya-karya beliau ditulis dengan menggunakan arab pegon dan berbahasa Sunda.
    Akhir Hayat Kiai Ma’mun Nawawi wafat pada malam Jum’at 26 Muharram 1395 H pukul 01.15 WIB yang bertepatan dengan tanggal 7 Februari 1975 M di Cibogo pada usia 63 tahun (1912-1975). Pondok pesantrennya saat ini diteruskan oleh salah satu putranya, KH. Jamaluddin Nawawi. Makam Kiai Ma’mun Nawawi berada di sekitar pesantren dan banyak dikunjungi orang baik dari Bekasi, Banten, atau Bogor, khususnya pada bulan Maulid.
    Tulisan ini disarikan dari buku “Peranan K.H Raden Ma’mun Nawawi dan Laskar Hizbullah Pada Masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia,” (Dinas Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Bekasi, 2018) karya A. Sopandi & A. Jaelani dengan beberapa pengembangan hasil penelitian penulis).
  • Haul KH.MUSTHOFA bin SINGOKERTO Canggu Jetis mojokerto di era pandemi covid-19

    Haul KH.MUSTHOFA bin SINGOKERTO Canggu Jetis mojokerto di era pandemi covid-19

    Sorban jetis_KH. Muhammad Musthofa bin singokerto salah satu kyai sakti mojokerto, makam beliau di masjid al musthofa, masjid peninggalan beliau di wilayah canggu jetis mojokerto, selain terkenal sakti, beliau juga adalah salah satu ulama yang menyebarkan agama islam di wilayah canggu dan sekitarnya

    SORBANSANTRI.COM
    KH. Moh. Musthofa bin Singokerto

    Untuk mengenang jasa beliau, santri dan warga canggu tiap tahun mengadakan haul di masjid al musthofa, yang di hadiri ribuan santri dan warga sekitar. Berbeda dengan tahun tahun sebelumnya tahun ini haul di laksanakan dengan sederhana, karena mengingat masih dalam kondisi pandemi covid-19, yang di hadiri sekitar 450 santri dan warga canggu.(30/09/20)

    SORBANSANTRI.COM
    Makam KH. Moh. Musthofa bin Singokerto

    Menurut keterangan dari ketua takmir masjid al musthofa Ustadz NUR ALIMAN mengatakan ” sebelum acara di laksanakan pihak takmir sudah berkoordinasi sama kepala desa canggu dan pihak keamanan yang akhirnya di ijinkan melaksanakan acara haul tahun ini, dengan syarat harus bisa memenuhi protokol kesehatan, dan alhamdulillah dengan di bantu BANSER semuanya yang hadir memakai masker, cuci tangan sebelum masuk masjid dan menjaga jarak” untuk undangan menurut Ustadz NUR ALIMAN hanya takmir masjid al musthofa, dan pengurus NU CANGGU serta banomnya, sekitar seratusan undangan tapi yang hadir di luar dugaan masih hampir lima ratusan

    SORBANSANTRI.COM

    Gus DARTOK MULYADI selaku Ketua GP ANSOR CANGGU saat di temui team SORBAN mengatakan “setelah ada permintaan pam BANSER dari pihak takmir masjid al musthofa pada acara haul KH. M MUSTHOFA bin SINGOKERTO Langsung saya intruksikan kepada BANSER canggu untuk hadir semua dan yang hadir sekitar 20 personil, dan kami juga di bantu sahabat2 PAGAR NUSA canggu ada 5 sahabat, dan alhamdulillah acara berjalan dengan lancar aman sampai selesai”

    SORBANSANTRI.COM

    Pantauan dari lokasi acara nampak dari seragam yang di pakai ada NU canggu, ANSOR, MUSLIMAT, FATAYAT, IPNU, PAGARNUSA di kelompok ibu ibu ada sekelompok seragam batik IPPNU, mereka semua tertib dan khusuk mengikuti acara sampai selesai

    By:alim sorban

  • AMALAN MENEMPATI RUMAH BARU

    AMALAN MENEMPATI RUMAH BARU

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Kita patut bersyukur menempati rumah baru karena itu adalah nikmat Allah yg patut disyukuri. Agar rumah atau tempat yg baru dihuni mendapatkan keberkahan dan aman dari gangguan jin, sebagian ulama menganjurkan kita untuk melakukan amalan sebagai berikut.

    1. Membaca Surat Al-Fatihah 3 kali

    2. Kemudian membaca Surat Al-Mu’minun ayat 28-29 sbg berikut:

    فَإِذَا اسْتَوَيْتَ أَنتَ وَمَن مَّعَكَ عَلَى الْفُلْكِ فَقُلِ الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي نَجَّانَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ * وَقُل رَّبِّ أَنزِلْنِي مُنزَلاً مُّبَارَكًا وَأَنتَ خَيْرُ الْمُنزِلِينَ

    Artinya, “Bila kau dan pengikutmu sudah di atas kapal, maka katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah yg menyelamatkan kami dari kaum aniaya.’ Katakanlah, ‘Tuhanku, tempatkan aku di tempat yg berkah karena Engkau sebaik2 pemberi tempat.’

    3. Kemudian membaca doa sebagai berikut sebanyak 3 kali:

    اَللهم يَا مَنْ فَلَقَ الْبَحْرَ لِمُوْسَى بْنِ عِمْرَانَ وَنَجَّى يُوْنُسَ مِنْ بَطْنِ الْحُوْتِ وَسَيَّرَ الْفُلْكَ لِمَنْ شَاءَ أَنْتَ الْعَالِمُ بِعَدَدِ قَطْرِ الْبِحَارِ وَذَرَّاتِ الرِّمَالِ يَا خاَلِقَ أَصْنَافِ عَجَائِبِ الْمَخُلُوْقَاتِ أَسْأَلُكَ الْكِفَايَةَ يَا كَافِيَ مَنْ اِسْتَكْفَاهُ يَا مُجِيْبَ مَنْ دَعَاهُ يَا مُقِيْلَ مَنْ رَجَاهُ أَنْتَ الْكَافِيْ لَا كَافِيَ إِلَّا أَنْتَ اِكْفِنِيْ شَرَّمَا أَخاَفُ وَأَحْذَرُ وَامْلَأْ مَنْزِلِيْ هَذَا خَيْراً وَبَرَكَةً وَصَلِّ عَلَى نَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.

    Allâhumma yâ man falaqal bahra li Mûsâ bin ‘Imrân, wa najjâ Yûnusa min bathnil hût, wa sayyaral fulka li man syâ’a, antal ‘âlimu bi ‘adadi qathril bihâri, wa dzarrâtir rimal. Yâ Khâliqa ashnâfi ‘ajâ’ibil makhlûqât. As’alukal kifâyah, yâ kâfiya man istakfâh, yâ Mujîba man da‘âh, yâ muqîla man rajâh. Antal kâfi, lâ kâfiya illa anta. Ikfinî syarra ma akhâfu wa ahdzar. Wamla’ manzilî hâdzâ khairan wa barakah. Washalli ‘ala nabiyyika wa rasûlika sayyidina Muhammadin wa âlihi wa shahbih wa sallim.

    Artinya, “Ya Allah yg membelah lautan untuk Musa bin ‘Imran, dan menyelamatkan Yunus dari perut ikan besar, yg menjalankan perahu kepada siapapun yg dikehendaki. Engkau mengetahui jumlah tetesan air laut dan satuan2 kerikil. Wahai zat yg menciptakan beberapa macam keajaiban makhluk2. Aku memohon kepada-Mu kecukupan, wahai zat yg mencukupi hamba yg memintakan kecukupan kepada-Nya. Wahai zat yg mengabulkan hamba yg berdoa kepada-Nya, yang mengampuni hamba yang mengharap rahmat-Nya, Engkau maha mencukupi. Tiada yg mencukupi selain-Mu. Cukupilah aku dari keburukan sesuatu yg kukhawatirkan, penuhilah tempatku ini dengan kebaikan dan keberkahan. Shalawat salam semoga tercurah kepada nabi dan utusan-Mu, junjungan kami, Nabi Muhammad SAW, dan kepada para keluarga serta sahabatnya.”

    Amalan di atas dibaca setiap pagi dan sore selama tiga hari berturut2. Amalan ini dikutip dari Kitab Al-Wasa’ilis Syafi’ah karya Syekh Al-Habib Muhammad bin Ali Khirid Al-Alawi Al-Husaini At-Tarimi, Beirut, Darul Hawi, cetakan kedua, 1999 M, halalaman 512.

    Wallahu a‘lam

    Jangan lupa doa masuk rumah lainnya, yakni mengucap salam. Dengan begitu, harapannya seseorang bisa dijauhi dari gangguan jin atau setan. Perintah mengucap salam tertulis dalam Al-Quran surat An-Nur: 61 yg berbunyi:

    فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً

    Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah2 (ini) hendak lah kamu memberi salam kepada (penghuni yg berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yg ditetapkan dari sisi Allah, yg diberi berkat lagi baik. (abi SORBAN)