SATKORYON BANSER kecamatan ngoro Kabupaten mojokerto jawa timur melaksanakan wisata religi ke makam para aulia’ yang berada di jombang, Kediri dan tulungagung yang di laksanakan pada hari sabtu (29/01/2022) malam pemberangkatan dari gedung terpadu MWCNU kecamatan ngoro yang di ikuti oleh para anggota PAC GP ANSOR, BANSER , dan juga RIJALUL ANSOR.
Kegiatan wisata religi ini adalah ziarah ke makam Mbah hasym (KH. HASYM ASYARI) pendiri Nahdlatul Ulama, makam Gus Dur (KH. ABDUL RAHMAN WAHID) Jombang, Gus Mik Kediri, dan mantan komandan SATKORNAS BANSER, H. Alfa Isnaini, Tujuan diadakannya kegiatan ini selain untuk menjalin silaturrahmi juga untuk mengenang dan menteladani jasa para ulama’ dan auliya’, yang telah menginspirasi juga memotifasi kepada para anggota banser kususnya, contohnya Gus Dur semasa hidupnya beliau yang telah memompa dan juga membangkitkan ghirroh semangat Banser untuk menjadi pasukan yang bertugas untuk menjaga para kyai dan ulama’.
Menurut komandan JAZIL selaku panglima atau kasatkoryon banser kecamatan ngoro mengatakan
“mari kita niatkan ziaroh ini selain untuk ibadah juga mari kita meniru perjuangan para muassis ini dan menerapkan ke hati kita masing masing, baik dari segi semangatnya maupun pengorbanan beliau, jiwa loyalitas dan totalitas kita terapkan kepada masyarakat lebih lebih kepada jamiyyah nahdlatul ulama’
Beliau juga menginformasikan bahwa harapan diadakannya kegiatan ini supaya tercipta rasa kekeluarggan, kekompakan, kerukunan dan juga rasa persaudaraan antar anggota yang akhirnya bisa melaksanakan tugas organisasi secara maksimal, mudah mudahan berkah dari para muassis semua bisa terkabul dan di ridhoi ALLOH swt. (hasan-ngoro)
Alhamdulillah dengan memuji syukur kehadirat Allah SWT kita bisa merasakan nikmatnya iman dan Islam. Nikmat yang melebihi apapun dan tidak dapat ditukar dengan apapun. Dengan nikmat Iman dan Islam, kita bisa merasakan kebahagiaan dalam semua hal. Marilah kita gunakan nikmat yang telah Allah limpahkan itu dengan menjaga keimanan dan ketakwaan.
Jamaah shalat Jum’at yang diberkahi Allah
Pada kesempatan ini, khatib akan menyampaikan tentang khutbah yang berjudul “Berpegang teguh pada ajaran Ahlussunnah wal Jamaah”.
Ada tiga kata yang membentuk istilah Ahlussunnah wal Jamaah yaitu:
Ahl, berarti keluarga, golongan, atau pengikut. 2. Al-Sunnah, secara bahasa bermakna al-thariqah (jalan).
Al-Jama’ah, berasal dari kata jama’ah artinya mengumpulkan sesuatu, dengan mendekatkan sebagian ke sebagian lain. Jama’ah berasal dari kata ijtima’ (perkumpulan), lawan kata dari tafarruq(perceraian), dan furqah(perpecahan). Jama’ah adalah sekelompok orang banyak dan dikatakan sekelompok manusia yang berkumpul berdasarkan satu tujuan. Menurut istilah “sunnah” adalah suatu cara untuk nama yang diridhai dalam agama, yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW atau selainnya dari kalangan orang yang mengerti tentang Islam seperti para sahabat Rasulullah. Secara istilah, aswaja atau Ahlusunnah wal jama’ah golongan yang mengikuti ajaran rasulullah dan para sahabat-sahabatnya.
Dalam kajian akidah/ilmu kalam, istilah Ahlussunnah wal Jama’ah dinisbatkan pada paham yang diusung oleh Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi, yang menentang paham Khawarij dan Jabariyah (yang cenderung tekstual atau ekstrim) dan paham Qadariyah dan Mu’tazilah (yang cenderung liberal).
Dalam kajian fikih, istilah Ahlussunnah wal Jama’ah dinisbatkan pada paham Sunni yaitu merujuk pada fikih 4 (empat) madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) yang berbeda dengan paham fikih Syi’ah.
Kemudian, pengertian Ahlussunnah wal Jama’ah dalam bidang tashawwuf, NU mengikuti Imam al-Junaidi al-Bagdadi dan Imam al-Ghazali at-Thusi.
Tentang Wajibnya kita sebagai umat Islam untuk ikut dalam kelompok mayoritas umat Islam sebagaimana Sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam:
“Sesungguhnya Umatku tidak akan bersepakat atas kesesatan. Sekiranya kamu lihat perselisihan, maka hendaklah kamu ambil ‘As-Sawad Al-‘Adzom’ yakni kelompok mayoritas” {Ibnu Majah : 3940}
Tiga Ciri Utama Kelompok mayoritas umat Islam atau Aswaja
Sebagai kelompok mayoritas pada setiap masa atau setiap zaman
Mereka berpegang teguh kepada ajaran Rasul dan para sahabatnya dan ulama setelahnya
Mereka tidak suka mengkafirkan sesama muslim.
Pendapat paling jelas dalam mengidentifikasi Jamaah dan As-Sawad al-A’dzam adalah kitab Al-Yawaqit wal Jawahir karya Abdul Wahhab al-Sya’rani;
Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa yang dimaksud dengan Ahlussunnah wal Jamaah dalam pemahaman orang-orang sekarang ini adalah, Syaikh Abul Hasan Ali al-Asy’ari dan imam sebelumnya seperti Syaikh Abu Manshur al-Maturidi.
Menurut Syekh Hasyim Asy’ari dalam Zidayat Ta’liyat, Ahlussunnah wal Jamaah adalah kelompok ahli tafsir, ahli hadits dan ahli fiqih. Merekalah yang mengikuti dan berpegang teguh dengan sunnah Nabi SAW dan sunnah Khulafaur Rasyidin setelahnya. Mereka adalah kelompok yang selamat (al-Firqah an-Najiyah). Saat ini, kelompok tersebut terhimpun dalam mazhab yang empat, yaitu mazhab Hanafi, Syafi’i, Maliki, dan Hambali.
Jamaah shalat Jum’at yang dirahmati Allah
Ditengah maraknya berbagai aliran-aliran Islam, marilah kita semua berpegang teguh pada ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah. Istiqamah mengamalkan ajaran Aswaja sebagai kelompok mayoritas umat Islam yang telah diamalkan oleh ulama-ulama kita, guru-guru kita sejak dulu. Jangan sekali-kali menyempal atau mengikuti kelompok minoritas yang cenderung tekstual atau ekstrim dan sebaliknya yakni liberal. Ikut dalam kelompok mayoritas adalah sebagai jalan kita dalam mengamalkan firman Allah dalam surat An-Nisa’: 59
Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
Selasa, 23 Agustus 1946, Mojokerto diliputi duka. Seorang syuhada telah tiada, pergi menghadap padanya. Keinginannya untuk gugur di medan perjuangan tercapai dan kepergiannya diiringi berjuta doa.
Kyai Nawawi adalah Rois Syuriah NU Mojokerto kedua setelah meninggalnya Kyai Zainal Alim. Kyai berpostur kecil itu dikenal memiliki keberanian yang besar. Meskipun menduduki berbagai jabatan tetapi dia tidak pernah tinggal diam di garis belakang. Beliau lebih senang ikut bertempur di garis depan untuk memberi tauladan pada anak buahnya, para anggota Lasykar Sabilillah Mojokerto yang dipimpinnya.
Kerap kali ulama asal Desa Kemantren Mojokerto itu berkata, “Kalau kalian kurang giat saya pimpin, kalian akan saya tinggal. Saya ingin bertemu bidadari di akhirat nanti..”. Kalimat yang beliau tunjukkan dengan menolak mundur ketika lawan mengepungnya di dusun Botokan Desa Plembungan Sukodono Kabupaten Sidoarjo pada tanggal 22 Agustus 1946.
Pada tubuhnya terdapat beberapa tusukan bayonet, salah satunya tepat di lehernya. Darah segar terus mengucur dari tubuhnya. Kyai pemberani itu memang menjadi incaran lawan. Dan hari itu, di belakang rumah H. Nur Hasan, jenazahnya diketemukan.
Jasad Kyai Nawawi berhasil diselamatkan setelah pasukan pejuang membunuh semua pasukan lawan yang mengeroyok sang kyai. Pada hari itu juga jenazahnya dibawa pulang ke Mojokerto.
Gugurnya Kyai Nawawi cepat menyebar di daerah asalnya. Ribuan orang sudah menyambut memenuhi halaman stasiun Mojokerto. Ketika diturunkan dari gerbong kereta api yang membawanya dari stasiun Tarik langsung disambut dengan Isak tangis kesedihan. Cucuran air mata yang berbaur dengan tetesan darah segar yang masih keluar saat Kyai Nawawi dibawa ke langgar Jagalan, rumahnya.
Esok pagi, pemakaman sudah ditetapkan. Keluarga beliau memilih komplek pemakaman umum Losari Gedeg sebagai tempat peristirahatan terakhirnya. Tawaran untuk dimakamkan di Taman Bahagia Mojokerto, sekarang disebut Taman Makam Pahlawan Gajah Mada, ditolak dengan alasan pesan Kyai Nawawi yang ingin dimakamkan bersama warga lainnya. Ya, beliau ingin tetap bersama warga lainnya sebagai orang biasa.
Proses pemakaman berlangsung haru. Ribuan pelayat berdatangan dari berbagai penjuru. Saat keranda diberangkatkan, pengiring berjejal di sepanjang jalanan dari rumah hingga komplek makam yang berjarak sekitar 2 kilo meter tersebut. Saking banyaknya orang, untuk masuk dan menyaksikan pemakaman pun sulit sekali.
Upacara pemakaman dipimpin oleh Kyai Abdul Ghani, penghulu Mojokerto. Para pejabat pemerintahan dan komandan militer ikut menyaksikan untuk memberi penghormatan terakhir pada Kyai yang berprofesi sebagai tukang jahit tersebut. Dan ribuan orang menjadi saksi bahwa beliau adalah syuhada yang gugur membela negeri. Kyai Nawawi menepati janji sekaligus menunjukkan bagaimana melaksanakan Fatwa Jihad gurunya, Mbah Hasyim Asy’ari.
Besarnya perhatian rakyat Mojokerto saat pemakaman berlangsung menunjukkan betapa beliau sangat dihormati. Sebagai tokoh penting kala itu, Kyai Nawawi tidak segan mendampingi langsung para pejuang republik bertempur di garis depan. Wafatnya beliau sedemikian heroik dengan tidak menyerah meski telah dikepung musuh. Pada akhirnya, seperti yang dinadzarkannya, Kyai Nawawi memenuhi takdirnya sebagai syuhada, syahid di medan laga
Untuk mengenang jasa Kyai Nawawi dibuatlah monumen sederhana di lokasi gugurnya sang Syuhada. Monumen itu dibuat atas prakarsa Kyai Achyat Chalimy, Ketua NU Mojokerto yang sekaligus meresmikannya dengan menandatangani prasasti.
سافر الحبيب احمد بن محمد بلفقيه رضي الله عنه الى جاوة ((سرباية)) ومكث بها بقية حياته وتوفي بـ سرباية.
وعند وفاته رأى الحبيب عبدالقادر صاحب خيلة -اي ابن اخت الحبيب احمد بن محمد بلفقيه- وكان بتريم، أن السلف في البرزخ كانوا على غاية من الانتظار لاستقبال احد الوافدين اليهم، فسألهم، فقالوا: ان الفقيه والسلف منتظرين احد ابنائهم توفي في سرباية..
ثم رأى كأنهم جاؤا بالميت الى زنبل ودفن امام قبر الفقيه المقدم، فانتبه الرائي وانتظر خبرا من جاوة عن موت احد العلويين،
فكان الأمر كما ذكر حيث وصل اليهم خبر وفاة الحبيب احمد بن محمد بلفقيه، وكانت الرؤيا موافقة ليوم وفاته.
وقيل ايضا، إنه لما توفي ودفن في المقبرة طمس القبر عن الأنظار ولم يقفوا عليه، فاغتم لذلك ولده عبدالقادر، فلما كان في النام رأى والده يقول له: لا تبحث عني، فإني قد نقلت الى زنبل.
Al Habib Ahmad Bin Muhammad Bilfagih Ra menempuh perjalanan hijrah nya menuju pulau jawa, tepat nya di kota Surabaya, dan di sisa umur beliau, beliau menetap di kota surabaya hingga wafat di surabaya.
dan Ketika wafatnya habib ahmad bin muhammad bil fagih , maka al Habib Abdul Qadir Shohib Cheilah Ra (Keponakan Al Habib Ahmad Bin Muhammad Bilfagih Ra) yang mana ia berada di Kota Tarim beliau bermimpi bahwasanya para salaf (Salaf Saadah Al Ba’Alawi) di alam barzakh mereka sedang keadaan benar2 menunggu kedatangan salah satu pendatang kepada mereka.
Maka Al Habib Abdul Qadir Shohib Cheilah Ra menanyakan kepada mereka tentang hal itu.
maka Mereka mengatakan; Sesungguh nya Sayyidina Al fagih Al mugaddam Ra dan para Salaf Al Ba’Alawi mereka sedang menunggu kedatangan salah satu anak cucu mereka yang wafat di surabaya.
Kemudian Al Habib Abdul Qadir Shohib Cheilah Ra melihat seakan2 mereka (para Salaf) datang dengan membawa jenazah menuju ke pemakaman Zanbal Tarim dan di kebumikan di depan Makam Sayyidina Al fagih Al mugaddam Ra.
Lalu Al Habib Abdul Qadir Shohib Cheilah Ra terbangun dari tidurnya. maka beliau menunggu kabar salah satu seorang Sadah Alawiyyin yang wafat di jawa.
Maka mimpi tersebut pun menjadi kenyataan.
Yaitu dimana sampailah kepada mereka kabar wafatnya Al Habib Ahmad Bin Muhammad Bilfagih Ra, dan mimpi yang beliau alami persis bersamaan dengan hari wafatnya habib ahmad bin muhammad bilfagih di surabaya.
Dan juga di riwayatkan; Ketika Al Habib Ahmad Bin Muhammad Bilfagih Ra wafat dan di kebumikan di kuburan, makam beliau menghilang dari pandangan orang2, mereka tidak mengetahui / mendapati nya.
Maka putra beliau yang bernama Al Habib Abdul Qadir Bin Ahmad Bilfagih Ra merasa sedih akan kejadian tersebut. maka ketika Al Habib Abdul Qadir Bin Ahmad Bilfagih Ra tidur, beliau melihat Ayahanda nya di dalam mimpi berkata pada beliau:
“Jangan cari aku, karena sesungguhnya aku telah di pindahkan ke pemakaman Zanbal..!”
( لوامع النور للحبيب أبوبكر ألعدني بن على ألمشهور ج٢ ص ١٠٦ ) (red.abi)
Almaghfurlah KH. Maksum Jauhari merupakan salah satu pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur. Dahulu, Sebelum mendirikan persatuan pendekar muda pencak silat pagar nusa dibawah naungan Nahdlatul Ulama beliau terkenal sebagai sosok yang banyak karomah, ahli tirakat (puasa) dan ahli dzikir, ilmu kebatinan atau karomah-nya sangat diluar nalar manusia biasa, salah satunya yaitu hampir semua hewan buas di hutan belantara hanya sekali panggil datang menghampirinya dan langsung takluk atau patuh pada beliau. Hampir semua hewan buas seperti harimau, ular besar hingga serigala langsung menundukkan kepalanya jika KH. Maksum Jauhari melewati hutan.
Peristiwa tersebut sudah banyak dan biasa disaksikan sahabat-sahabat KH. Maksum Jauhari. Konon karomah seperti itu diapat dari para Sunan atau Wali Allah untuk menjaga diri dalam mendakwahkan Islam di tanah Nusantara dahulu. Meskipun karomahnya sangat disegani, beliau tetap ramah mudah bersahabat dengan semua orang, juga sangat sederhana dikesehariannya dalam mendakwahkan Islam pada santri-santrinya juga masyarakat. (Red. M.Ha)
Makam Ayahanda KH Hasyim Asy’ari di Keras di Diwek Jombang.
Kiai Asy’ari adalah pendiri Pesantren Keras, yang terletak di Desa Keras, Kecamatan Diwek, Jombang, Jawa Timur, sekitar tahun 1876. Ayahanda KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan pengasuh Pesantren Tebuireng, ini dikenal pula sebagai perintis tradisi keilmuan pesantren di daerah Jombang. Lahir di Demak, Jawa Tengah, sekitar tahun 1830. Menurut informasi dari keluarga Pesantren Tebuireng, seperti ditulis KH. M. Ishom Hadziq, ayah beliau bernama Abdul Wahid bin Abdul Halim.
Abdul Wahid adalah salah seorang komandan pasukan Diponegoro yang menggunakan nama “Pangeran Gareng”, di bawah Panglima Sentot Alibasyah Prawirodirdjo. Nasab Kiai Asy’ari merujuk hingga ke Pangeran Benowo bin Jaka Tingkir alias Sultan Pajang. Sejak muda Kiai Asy’ari nyantri di Pesantren Gedang, dekat Tambakberas, Jombang, sekitar dua kilometer dari pusat kota, dan berguru pada Kiai Usman. Pesantren Gedang didirikan oleh Kiai Abdus Salam atau dikenal dengan nama Kiai Shihah. Kiai asal Lasem, Rembang, ini bersama istrinya, Muslimah, membuka hutan di Gedang untuk mendirikan permukiman dan pesantren pada tahun 1825. Di antara santri beliau adalah Kiai Usman. Sufi dan ahli tarekat ini dinikahkan dengan putri sulung guru beliau bernama Nyai Layyinah. Keduanya kemudian dikarunia seorang putri sulung bernama Halimah (lahir 1851, disapa Winih).
Tidak lama setelah Kiai Usman wafat, sekitar tahun 1855 Halimah – ketika itu baru menginjak usia empat tahun – dinikahkan dengan Kiai Asy’ari, santri senior Kiai Usman, yang berusia 25 tahun. Alasan pernikahan ini adalah untuk menyelamatkan garis keturunan pendiri pesantren yang akan menjadi pelanjut kepengasuhan pesantren usai wafatnya sang guru. Pasangan baru ini kemudian dikaruniai putra-putri: Nafiah, Ahmad Sholeh, Muhammad Hasyim (lahir 1871), Rodliah, Hasan, Anis, Fathonah, Maimunah, Ma’shum, Nahrowi dan Adnan. Putra ketiga beliau ini yang kemudian terkenal sebagai pendiri Pesantren Tebuireng dan pendiri Nahdlatul Ulama. Nyai Halimah dikenal suka melakoni tirakat dan praktik sufi lainnya – mengikuti jejak ayahnya.
Beliau pernah berpuasa selama tiga tahun berturut-turut dengan niat tertentu. Puasa tahun pertama ditujukan untuk kebaikan keluarga, tahun kedua diniatkan untuk kebaikan santrinya. Dan puasa tahun ketiga dimaksudkan untuk kemaslahatan masyarakat. Konon, saking khusyuknya dalam bertirakat, suatu hari saat mencuci beras, beras tersebut berubah menjadi butir-butir emas! Kiai Asy’ari kemudian pindah bersama keluarganya ke Desa Keras dan mendirikan pesantren di sana sekitar tahun 1876. Sementara Pesantren Gedang berkembang menjadi Pesantren Tambakberas, Jombang, di bawah kepengasuhan saudara misan Kiai Asy’ari yaitu Kiai Said, yang kemudian menurunkan Kiai Chasbullah, ayahahanda KH. Abdul Wahab Chasbullah, pendiri NU.
Waktu itu Kiai Hasyim masih kecil, dan baru diboyong dari tempat kelahirannya di Gedang. Di bawah asuhan Kiai Asy’ari Pesantren Keras mengandalkan ngaji kitab-kitab sorogan dan baru belakangan di abad 20 mulai dibuka madrasah. Kebanyakan yang mondok berasal dari Jawa Tengah, terutama dari Ambarawa dan Salatiga. Sementara yang berasal dari Jombang lebih banyak menjadi santri kalong. Untuk sampai di pesantren ini, dari Surabaya kita naik bis jurusan Kediri, lalu turun di Desa Kwaron. Setelah itu naik becak ke arah barat, sekitar satu kilometer, maka sampailah ke alamat yang dituju.
Para santri tidak tinggal di pondok, tapi ditempatkan di rumah-rumah penduduk. Ini dimaksudkan agar dakwah Islam bisa langsung dirasakan oleh masyarakat sekitar. Memang tidak terlihat pemondokan besar, di pesantren inilah KH. Hasyim Asy’ari digembleng pertama kali oleh ayahnya sebelum mengembara berguru menuntut ilmu di beberapa pesantren.
Kiai Asy’ari wafat sekitar tahun 1890 dan dimakamkan di lingkungan Pesantren Keras. Ketika putra ketiga beliau, KH. Hasyim Asy’ari, menikah di tahun 1892 dengan Nyai Nafisah, putri KH. Ya’qub bin Hamdani, pengasuh Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, Kiai Asy’ari sudah tiada. Pesantren Keras kemudian dikelola masing-masing oleh putra beliau, KH. Saleh, dan menantu beliau, KH. Alwi, yang dikenal ahli bela diri dan kanuragan.
Di tahun 1930-an, pesantren kemudian diasuh oleh KH. Basuni, lalu KH. Salahuddin (di masa itu tidak ada lagi yang mondok di tahun 1970-an), kemudian KH. Ahmad Labib di tahun 1990-an. Meski tidak sebesar Pesantren Tebuireng, Pesantren Keras mulai membuka madrasah dan berganti nama menjadi Pesantren Al-Asy’ari keras
Tidak semua orang yang menjadi Kiai itu berasal dari keturunan seorang Kiai. Tetapi ada juga seseorang yang menyandang status ke-kiaiannya dari proses perjalanan riyadoh dan kealiman ilmunya. Selain kealiman dan kewibawannya, tentu pengakuan dari masyarakat juga menjadi factor penentu. Dan tentu saja itu bisa dimaknai bahwa proses seseorang menjadi Kiai karena adanya interaksi aktif dengan masyarakat. Dan masyarakat melihat kelebihan atau daya linuweh yang dimiliki seseorang itu yang kemudian pantas disebut sebagai seorang Kiai.
Kiai, dimasa dulu, juga kini, selalu menjadi rujukan terhadap berbagai hal dalam kehidupan umat. Karena masyarakat menganggap, Kiai memiliki selain ilmu tentunya, juga kedekatan dengan Tuhan. Sehingga doa-doanya mustajabah. Karenanya selain meminta nasehat, biasanya masyarakat meminta wirid atau doa-doa mustajabah yang mampu menyelesaikan permasalahan umat.
Dan tentu saja juga, penulis tidak mengingkari, apabila terjadi disrupsi terhadap penyebutan Kiai, tanpa ada prasyarat sebagai ahli riyadoh dan kealiman, misalnya pengurus structural di suatu ormas. Ini permasalahan lain. Tulisan ini akan menyuguhkan Kiai yang memiliki prasyarat ahli riyadoh dan alim. Dan contoh Kiai yang memiliki prasyarat ahli riyadoh dan kadar kealimannya yang tidak diragukan lagi itu ialah Kiai Istad Djanawi. Tulisan sederhana ini akan mengungkapkannya.
Asal Muasal Kiai Istad Djanawi
Kiai Istad Djanawi berasal dari Kertosono, tepatnya di Desa Kalianyar. Desa Kalianyar hingga sekarang dikenal dengan nama Desa Mbothe. Nama Mbothe ini mengingatkan pada sebuah tanaman yang bisa digunakan untuk makanan ringan bahkan juga bisa dipergunakan sebagai campuran untuk sayur makanan. Bisa jadi di desa ini dulu banyak tanaman Mbothenya sehingga lebih dikenal dengan nama desa Mbothe.
Kiai Istad Djanawi Ia lahir pada tahun 1875 dari pasangan Djanawi dan Marsiyem. Djanawi sendiri adalah seorang petani yang taat. Pun Marsiyem, adalah ibu rumah tangga yang baik yang mengasuh anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.
Meskipun bukan berasal dari keluarga Kiai, tetapi Ayah Kiai Istad Djanawi merupakan petani taat, yang perhatian terhadap pendidikan putranya, khususnya pendidikan agama. Karenanya sejak kecil, Istad Djanawi sudah mengenyam pendidikan agama secara kuat. Baik pendidikan dari ayahnya langsung maupun ke Kiai Kiai dikampungnya yang alim.
Sebagaimana diketahui, bahwa desa Mbothe adalah desa yang dekat dengan banyak pesantrennya. Seperti Pesantren Mojosari, Pesantren Mangunsari, Pesantren Sekar Putih, dan Pesantren Kedunglo Bandar Lord an lain lain. Karenanya desa ini memperoleh rembesan barokah dari banyaknya pesantren disekitarnya dengan banyaknya alumni pesantren yang berkiprah berdakwah mengembangkan Islam di desa ini. Sehingga kehidupan beragama dan pendidikan agamanya sangat berakar di tengah masyarakat.
Dan saat Istad Djanawi berpamitan untuk melanjutkan pendidikan agamanya ke Pesantren, ayahnya pun mengizinkannya. Sebab, selain sudah menjadi kultur ditengah masyarakat, juga di pesantrenlah pendidikan alternative yang menjadi pilihan, ketika pendidikan Belanda yang diskriminasi, tak terjangkau oleh masyarakat kecil.
Yang menjadi pilihan Istad Djanawi adalah Pesantren Mangunsari. Pesantren yang terletak di Desa Mangunsari Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk. Pengasuhnya waktu itu adalah Kiai Imam Bahri. Istad Djanawi memperdalam ilmu-ilmu alat, Fiqh, tasawuf, Aqidah Akhlak dan lain lain dalam waktu yang lama.
Namun dahaga Intelektualnya belum terpuaskan. Ia kemudian melanjutnya nyantrinya ke Kiai Kholil Bangkalan-Madura. Seorang Kiai yang menjadi punjernya Kiai waktu itu, sehingga banyak Kiai yang memanggilnya Syaikhona. Di Syaikhona Kholil ini, Istad Djanawi memperdalam ilmu alat dan juga tasawuf serta kitab kitab salaf yang menjadi rujukan dalam ilmu agama.
Meskipun sudah mumpuni ilmu agamanya, namun Istad Djanawi belum merasa puas apabila belum menemukan seorang mursyid yang akan membimbingnya menuju kepada Allah. Atas isyarat yang diterimanya, ia pun kemudian melakukan perjalanan menemui sang Mursyid. Dan di Desa Besuk Curahmalang Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang, Kiai Istad Djanawi menemukan mursyidnya. Beliau adalah Syeikh Umar Bisri, mursyid Thoriqoh Naqsabandiyah Kholidiyah Mujaddadiyah. Pada Syeikh Umar Bisri ini, selain berbaiat pada thoriqohnya, Kiai Istad Djanawi juga belajar banyak riyadoh riyadoh taqarub ilalloh.
Sebagaimana para salik, dalam perjalanan menuju kepada Allah selalu ada godaan dan rintangan. Tetapi karena ia dibimbing oleh guru Agung yang pernah menempuh lika liku perjalanan menuju kepada Allah, ia dapat diselematkan dari halangan dan rintangan itu. Suatu kali Kiai Istad Djanawi didatangi ular besar sekali. Ular itu menawarkan berbagai kesaktian yang tidak bisa diperoleh oleh manusia biasa. Ular itu menunjukkan berbagai kesaktian yang mengagumkan. Meskipun demikian, dikarenakan bimbingan gurunya, Kiai Istad Djanawi tidak tergoda sedikitpun. Ia tetap bersiteguh dalam jalan menuju kepada Allah.
Usai memperoleh pencerahan dalam dunia spiritualnya, tidak menjadikan Kiai Istad Djanawi menyendiri bertapa menikmati keasyikan dunia spiritualnya. Namun tugas selanjutnya sesungguhnya lebih berat. Ia harus membumikan pesan-pesan langit ke bumi pertiwi.
Kiai Istad Djanawi pun memperoleh petunjuk untuk menemukan suatu tempat yang kelak akan dipergunakan untuk mendakwahkan agama Allah. Ia pun melakukan perjalanan ke Mojokerto dengan sesekali mengunjungi makam-makam aulia sepanjang perjalanan. Karena perjalanan yang panjang dengan perbekalan yang telah habis, ketika sampai di Desa Melaten Kecamatan Mojosari, Kiai Istad Djanawi tidak sadarkan diri. Ia pun kemudian ditolong oleh warga setempat. Setelah kondisinya pulih, ia pun melanjutkan perjalanan.
Sesampai di Desa Graji Kecamatan Dlanggu, Kiai Istad Djanawi singgah untuk beberapa lama. Bahkan ia pun memiliki seorang santri yang selalu melayani kebutuhannya. Namanya Karim. Di Desa ini, Kiai Istad Djanawi tak berhenti henti untuk melakukan mujahadah. Hingga pada suatu kali, ia memperoleh mimpi yang penuh makna. Ia bermimpi didatangi oleh berada di suatu mushola kecil. Di Depan Mushola kecil itu berdiri dua orang perempuan. Sedang dibelakang Mushola, terdapat makam yang diatasnya berdiri seorang laki-laki pendek memakai blangkon. Lelaki itu kemudian berbicara meminta bantuan kepada Kiai Istad Djanawi.
Isyarat dalam mimpi itu membuat Kiai Istad Djanawi penasaran. Bersama dengan santrinya, ia menelusuri jejak jejak mimpinya. Setiap kampung dicari musholanya dan dicocokkan dengan mimpinya. Tetapi tak satu pun Mushola seperti dalam mimpinya. Hingga ia sampai di sebuah desa Tawar Kecamatan Gondang, ia menemukan sebuah Mushola yang mirip dengan mimpinya. Ia pun kemudian meminta izin untuk singgah di Mushola ini. Dari keterangan warga setempat, diketahui bahwa makam dibelakang Mushola adalah makamnya Kiai Burhani. Kiai Burhani memiliki seorang istri yang bernama Nyai Watiah. Dan Nyai Watiah itu memiliki tujuh anak. Dan salah satu anaknya itu kebetulan seorang janda tanpa anak.
Kiai Burhani adalah pendakwah di desa tersebut. Hanya saja, dakwah yang dikembangkannya kurang berhasil dalam membina masyarakat. Masyarakat masih banyak yang awam dalam mengamalkan syariat syariat Islam. Namun belum banyak perubahan yang dilakukannya, Allah sudah menakdirkan ia kembali ke haribaan-Nya.
Kiai Istad Djanawi kemudian berusaha menghidupkan kegiatan Mushola ini. Dengan sholat jamaah dan Ngaji. Bertepatan pula pada saat itu, sudah masuk pada bulan ramadhan. Mushola kecil itu pun semarak.
Perubahan yang ada pada kehidupan religius di Mushola kecil itu setelah kedatangan Kiai Istad Djanawi sontak membuat Janda dari Kiai Burhani tertarik untuk meminangnya menjadi menantunya. Kiai Istad Djanawi dijodohkan dengan anaknya yang berstatus janda tanpa anak yang bernama Fathimah Jayun Yaumi. Gayung pun bersambut, Kiai Istad Djanawi yang sudah berumur 40 tahun pun menerima dengan lapang dada. Pernikahannya pun diberlangsungkan. Dari pernikahannya itu lahir dua belas anak yang bernama Haidlor Ali, Sulaiman Afandi, Khoirul Anam, Riyadlul Badiah, Muhajir, Zaenah, Muhayanah, Musyarofah, Baidlowi, Ahmad Syamsuddin, Isroil, dan Nur Roihanah.
#
Dalam kehidupan sehari-hari Kiai Istad Djanawi melakukan aktivitas seperti kebanyakan warga Tawar. Bahkan yang tidak umum, Kiai Istad Djanawi ba’da melakukan aktivitas ritual ibadah pagi, dari qiyamul lail, sholat subuh, dan pembacaan aurot thoriqoh yang berlangsung hingga waktu dhuha, jalan jalan ke pasar untuk sarapan dan berjualan. Kiai Istad Djanawi bahkan terkenal sebagai seorang makelar. Ia menjual padi, palawijo, bahkan juga rumah. Dari aktivitas jual beli dengan masyarakat itulah Kiai Istad Djanawi pelan pelan mengajak masyarakat untuk berkehidupan yang sesuai dengan agama tanpa menyinggung perasaan masyarakat.
Lambat laun, masyarakat pun banyak yang berguru kepada Kiai Istad Djanawi. Berbagai persoalan ditanyakan kepada Kiai Istad Djanawi. Dan Kiai Istad Djanawi melayani dengan sepenuh hati. Beliau sabar menghadapi masyarakat yang berbeda beda karakternya.
Dalam soal Aqidah, seperti karakter dakwah awal di daerah abangan, biasanya akan berhadapan dengan keyakinan suatu tempat yang diyakini akan kesakralannya. Dahulu di Desa Tawar ada puthuk, semacam tempat yang penuh pohon dengan gundukan tanah, yang disakralkan. Tempat ini juga angker. Saking angkernya, banyak orang kemudian menghubungkan semua kejadian dengan tempat ini. Bahwa sebab marabahaya juga berasal dari puthuk ini. Agar kehidupan berjalan normal, maka mereka akan memberikan sesajen. Dan disinilah masyarakat tanpa sadar tergelincir dalam kesesatan aqidah.
Maka, Kiai Istad Djanawi membongkar tempat ini. Santri santrinya dikerahkan. Sayangnya, ada satu kejadian yang membuat orang orang membenarkan keangkeran puthuk ini. Salah satu murid terkubur terkena longsoran tanah puthuk ini. Namun beruntung, dengan kekeramatan Kiai Istad Djanawi, sang murid bisa ditemukan tubuhnya yang terkubur di tanah, dalam keadaan masih hidup.
#
Pada tahun 1947, Kiai Istad Djanawi mulai membuka baiat Thariqah Naqsabandiyah Kholidiyah Mujaddadiyah. Tentu saja atas izin dari guru yang pernah mengijazahinya yakni Syekh Umar Bisri Curah Malang. Banyak masyarakat yang turut berbaiat kepadanya. Tiap hari senin malam dan kamis malam diadakan khususiyah untuk murid murid thoriqoh. Karena pelaksanaan khususiyah hingga larut malam, maka para murid yang rumahnya jauh, bermalam hingga pagi hari. Dan dipagi hari, Kiai Istad Djanawi memberikan hidangan sarapan secara gratis.
Lambat laun, murid murid thoriqohnya pun semakin banyak. Tidak hanya di wilayah Mojokerto saja bahkan sampai diluar Mojokerto. Thoriqoh ini hingga saat ini masih dilanjutkan oleh putranya yakni KH. Syamsudin sepeninggal Kiai Istad Djanawi.
#
Pada tahun 1947 Kiai Istad Djanawi mendirikan Madrasah Ibtidaiyah di Desa Tawar. Banyak sambutan atas berdirinya Madrasah Ibtidaiyah ini. Orang tua banyak yang mendaftarkan anak-anaknya ke Madrasah Ibtidaiyah ini. Sehingga pembelajaran di gedung yang dididirikan tidak memuat jumlah siswanya. Pembelajaran dilakukan sampai di serambi Masjid dan di rumah Kiai Istad Djanawi sendiri.
Pada tahun 1953, Kiai Istad Djanawi mendirikan bangunan sekolah dengan biaya sendiri. Sebab tempat yang digunakan untuk pembelajaran Madrasah Ibtidaiyah sudah tidak memadai lagi. Kiai Istad Djanawi mendirikan tiga bangunan lagi. Meskipun semi permanen, tetapi sudah dikatakan layak pada masanya. Di Madrasah Ibtidaiyah ini, kurikulum yang digunakan kurikulum klasik berkhas pesantren. Yakni berbasis kitab kuning. Kiai Istad Djanawi mengajarkan Kitab Talim Mutaalim dalam bentuk nadzam nadzam yang dihafal oleh santri santrinya. Juga mengajarkan kitab Safinatun Najah, kitab fiqh dasar yang memuat dasar dasar hukum Islam sehari hari. Pada tingkat lanjut, Kiai Istad Djanawi juga mengajarkan Tafsir Jalalain.
Selanjutnya Madrasah Ibtidaiyah ini dikembangkan oleh putra putrinya, hingga berkembang seperti sekarang ini. Di Desa Tawar telah berdiri MI, MTS, hingga MA dan Pondok pesantren tentunya.
Tentang Pondok Pesantren, sebenarnya sejak era Kiai Istad Djanawi, sudah ada rencana membangun pesantren. Hanya saja, belum terlaksana proses pendiriannya, Kiai Istad Djanawi telah berpulang ke rahmatullah. Di tangan putra putranyalah dikemudian pesantren itu berdiri besar, hingga sekarang ini.
Tepat diusianya yang ke 80, yakni pada tanggal 5 November 1959, Kiai Istad Djanawi menghembuskan nafas terakhirnya setelah berjuang dari sakit paru parunya. Isak tangis dari putra putrinya mengiringi jenazahnya. Pun kerabat serta santri santrinya.
Berita kematiannya menyebar luas. Masyarakat merasakan duka yang mendalam atas wafatnya seorang ulama yang mengayomi. Berduyun duyun pentakziyah memenuhi rumah Kiai Istad Djanawi.
Pukul 10.00 WIB, jenazah diberangkatkan oleh KH. Kholil dari Simping Dlanggu. Diiringi pula oleh para Kiai yang Masyhur di Mojokerto seperti KH. Ismail Ibrahim (Pengasuh PP. Kedungmaling Sooko), KH. Ahyat Chalimi (Pengasuh PP. Sabilul Muttaqin), dan KH. Yahdi Matlab (Pengasuh PP. Mojogeneng) dan lain lain.
InfokomBanserNU- Ditanggal 11 Februari Ini Ada 2 Ulama Besar Kalimantan Selatan Tanggal Lahirnya Sama Akan Tetapi Tahunnya Berbeda,Yaitu Pertama Adalah Alhm.Guru DiSekumpuL(K.H.Muhammad Zaini bin Abdul Ghani/Abah Guru SekumpuL).
Dan Yang Kedua Adalah Guru Ibad(K.H.Badruddin bin K.H.Ahmad Zaini).
1- Sedikit Manaqib Alhm.Guru DiSekumpuL.
11 Februari 1942 Adalah Kelahiran Ulama Besar Ditanah Banjar dan Juga Seorang Auliya Allah,Beliau Adalah Alhm.Guru DiSekumpuL(K.H.Muhammad Zaini bin Abdul Ghani).
Beliau Adalah Dzurriyat Syaikh Muhammad Arsyad bin Abdullah aLBanjari(Datu Kalampayan).Pangkat Beliau Sejak Kecil Sudah Diangkat Menjadi Wali Qutub.dan Beliau Mempunyai Kerajaan Tersendiri Didalam Surga.Yang Mengisi Kerajaan Beliau Adalah Orang Yang Beliau Pilih Tentunya Para Pecinta Beliau.
Beliau Dilahirkan DiKampung Tunggul Irang Sebrang Martapura. Nama Ayah Beliau Adalah H.Abdul Ghani bin H.Abdul Manaf. Nama Ibu Beliau Adalah Hj.Masliyah binti H.Mulya. Dari Segi Keturunan,Kakek Beliau(H.Abdul Manaf)Adalah Dzurriyat Datu Kalampayan(Syaikh Muhammad Arsyad bin Abdullah aLBanjari).
Sedangkan Nenek Beliau(Salbiyah)Ada Garis Keturunan Dari Sunan Giri(Maulana Ainul Yaqin).
Diantara Guru Beliau Adalah Paman Beliau Sendiri Yaitu Guru Semman Mulya dan Guru Bangil(Guru Syarwani Abdan). Nama Beliau Sewaktu KeciL Adalah Qusyairi.
Beliau Mempunyai 2 Orang Putera Yang Bernama H.Muhammad Amin Badali dan H.Ahmad Hafi Badali.Mudah2an Keduanya Panjang Umur,Sehat Badan dan Dimudahkan Segala Urusan,,Aamiin.
Alhm.Guru DiSekumpuL Wafat Pada Tanggal 9 Agustus 2005 Bertepatan Tanggal 05 Rajab 1426 H.
Walaupun Beliau Sudah Meninggalkan Kita Semua Akan Tetapi Jasa2 Beliau Selalu Kita Kenang.
Dan Ditanggal Kelahiran Beliau Ini Sepatutnya Kita Bersyukur Berharap Berkat dan Syafa’at Beliau Semoga Terkumpul Diakhirat Bersama Beliau Berkat Cinta Kepada Beliau.
2-Sedikit Manaqib Guru Ibad.
Nama beliau K.H.Badruddin bin K.H.Ahmad Zaini bin K.H.AbdurRahman bin H.Zainuddin bin AbdusShamad bin Abdullah aLbanjari. Orang Martapura biasa memanggil beliau Guru Ibad.
Beliau dilahirkan pada tanggal 11 Februari 1937 M/29 Dzulqo’dah 1355 H didesa Tunggul Irang Martapura.
Ayah beliau bernama K.H.Ahmad Zaini,sedangkan Ibu beliau bernama Hj.Jannah.
Diantara Guru2 beliau dikalimantan adalah
K.H.Husein Qodri(Kakak Kandung Beliau)
K.H.Muhammad Sya’rani Arif
K.H.Muhammad Semman Mulya
K.H.Muhammad Salim Ma’ruf
K.H.Badruddin adalah orang yang pertama kali yang membawakan Maulid aLhabsy Simtudduror dikalimantan yang mana beliau dapat izin dari guru beliau,akan tetapi beliau menyerahkannya kepada K.H.Muhammad Zaini bin Abdul Ghani(alhm.guru disekumpul)untuk mengembangkannya kekalimantan khususnya kalimantan selatan sampai sekarang ini.
Kyai Falaq Bogor pernah menyerahkan Selempang warna coklat kepada Guru Ibad.Kyai Falaq menyuruh Guru Ibad untuk mengurusi dipemerintahan.maka dari itu K.H.Badruddin sering menjabat dipemerintahan pada masa itu.
K.H.Badruddin juga pernah memimpin pesantren darussalam martapura periode ke-7 tahun 1976-1992.
Beliau wafat pada tanggal 23 Desember 1992/28 Jumadil Akhir 1413 H
Beliau dimaqomkan dipemaqoman alkah keluarga didesa Tunggul Irang,Martapura berdampingan dengan Kakek,Ayah dan Saudara2nya.
Mudah2an Berkat Rasulullah,Para Auliya dan Orang2 Sholeh,,Segala Dosa dan Kesalahan Dzohir Bathin Seumur Hidup Diampuni Allah,Qobul Segala Hajat,Selamat Dunia Akhirat,Husnul Khatimah dan Masuk Surga Bighoiri Hisaab,,Aamiin..!!!
#K.H.Badruddin bin H.Ahmad Zaini
#K.H.Muhammad Zaini bin H.Abdul Ghani
Pada suatu hari, protokol Istana Negara datang ke kediaman Mbah Wahab Hasbullah. Dia menyampaikan jika akan ada kegiatan Presiden Soekarno yang juga mengundang Rois Syuriah Partai NU untuk hadir. Dan karena itu diharuskan para undangan mengenakan pakaian jas lengkap dengan dasinya.
Pada hari pelaksanaan, Mbah Wahab pun muncul di Istana. Kehadiran beliau ternyata membuat para undangan lainnya terkesima. Mereka heran sebab Mbah Wahab memakai jas dan sekaligus berdasi tetapi tidak memakai celana dan bersepatu. Mbah Wahab seperti biasa memakai sarung dan sendal saja untuk menggantikan celana panjang dan juga sepatu sebagai padanan jas yang dikenakannya. Maka jadilah Mbah Wahab satu-satunya peserta acara yang beda diantara yang lainnya.
Sarung memang tidak pernah lepas dari Mbah Wahab dalam kegiatan apapun, tidak peduli meski itu kegiatan resmi dengan aturan protokoler kenegaraan. Sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung maupun anggota DPR-RI beliau tetap setia dengan sarungannya. Karena itu beliau dikenal sebagai politisi sarungan. Istilah yang awalnya dibuat oleh golongan modernis untuk menunjuk kelompok islam tradisionalis. Istilah konotasi dengan tujuan merendahkan.
Perjalanan sarung sebagai sebuah identitas NU ternyata memiliki sejarah panjang. Sarung ditengarai datang ke Indonesia dibawa oleh para pedagang muslim asal Gujarat. Mereka berdagang di pelabuhan-pelabuhan dengan memakai kain sarung. Karena itu mereka disebut sebagai Orang Selam atau orang Islam dengan sarung sebagai identitasnya. Setelah Islam berkembang di Nusantara maka sarung pun ikut menjadi salah satu atributnya. Maka kain sarung itu bersanding dengan kain batik yang dililitkan seperti yang biasa dikenakan oleh orang Jawa.
Secara pemakaian, sarung tentu lebih praktis dibandingkan dengan lilitan kain batik. Sarung bisa cepat dikenakan maupun di lepas. Demikian pula dengan fungsinya yang dapat digunakan sebagai selimut tubuh bila malam datang. Bagi masyarakat pantai atau, kain sarung seolah menjadi barang wajib yang harus dibawa ketika bekerja hingga melahirkan istilah “cul dayung adol sarung”, jika berhenti melaut terpaksa jual sarung yang dimiliki.
Saat penjajahan Belanda semakin menguat maka sarung menjadi sebuah identitas perlawanan budaya. Belanda memang gencar mengenalkan gaya hidup barat dengan jas dan celana selaku atribut kemodernan. Para priyayi mulai banyak meninggalkan lilitan kain batik untuk bertukar dengan celana. Kampanye tersebut mendapatkan perlawanan dari para kyai dan ulama yang tidak ingin rakyat hanyut oleh arus ke-Belanda-belandaan.
Untuk melakukan perlawanan budaya maka dipakailah sarung sebagai ciri pembeda. Untuk menguatkan perlawanan itu dikaitkan dengan hadits “Mantasyabbaha bi qaumin fahuwa minhum”. Barang siapa menyerupai suatu kaum maka ia akan digolongkan sebagai kaum tersebut.
Meskipun penerapan dalil tersebut mendapat perlawanan dari kelompok Islam yang tidak sepakat, para kyai terus menerapkannya. Maka dijadikanlah sarung sebagai pakaian “wajib” bagi para santri yang belajar di pesantren. Pesantren itu sendiri juga merupakan simbol perlawanan terhadap pola pendidikan sekolah kolonial. Klop sudah identitas perlawanan yang digagas.
Dalam sebuah artikel di Koran Jawa Pos yang terbit pada 1 September 1989 menulis jika di Jawa pernah terjadi gerakan swadesi pada tahun 1932. Gerakan yang bertujuan melawan atau menolak membeli produk asing itu menjadikan sarung sebagai pakaian rakyat. Sarung buatan Pekalongan pun menjadi naik produksinya.
Setelah Indonesia merdeka, dibentuklah sebuah organisasi politik yang mewadahi aspirasi umat Islam yang dinamakan Masyumi. Hampir semua organisasi Islam masuk dalam Masyumi tersebut, termasuk NU. Pada awalnya persoalan perbedaan pandangan politik tidak mengemuka di Masyumi saat Mbah Hasyim ditunjuk sebagai pucuk pimpinan Masyumi. Sikap merendahkan NU muncul setelah Mbah Hasyim wafat pada tahun 1947. Dalam Konggres Masyumi di Jogjakarta, Desember 1949, Walikota Jogjakarta, Muhammad Saleh, yang juga tokoh Muhammadiyah mulai menyerang secara verbal dengan kalimat, “Politik adalah luas, Politik ini, saudara-saudara, tidak bisa dibicarakan sambil memegang tasbih, jangan dikira scope-nya politik ini hanya di sekeliling pondok dan pesantren saja..”.
Peran politik NU di Masyumi kian dipinggirkan setelah kekuasaan Syuriah atau dewan syuro dipangkas dan Masyumi dikendalikan oleh kaum Islam Modernis. Dengan begitu peran kyai tidak lagi dijadikan rujukan penentuan sikap politik Masyumi lagi. Hubungan itu semakin meruncing saat posisi menteri agama yang biasa diberikan pada NU kemudian dialihkan pada Fakih Usman dari Muhammadiyah dalam kabinet Wilopo tahun 1952. Sebelum itu, kedudukan anggota parlemen NU hanya diberi jatah 7 kursi oleh Masyumi. Karena peristiwa politik yang menyakitkan itulah NU mengambil keputusan keluar dari Partai Masyumi.
Sebuah keputusan yang bukan hanya mengagetkan Masyumi bahkan kalangan NU pun sebagian menentanghnya. Meskipun banyak orang yang meragukan kemampuan NU untuk mengarungi dunia politik, namun Mbah Wahab yang menjadi Rois Syuriah Partai NU tidak bergeming. Dalam rapat partai NU, Mbah Wahab menegaskan, “Kalau tuan-tuan ragu kepada kebenaran sikap yang kita ambil, nah silahkan saja tuan-tuan tetap duduk dalam Masyumi. Biarlah saya sendiri pimpin NU sebagai partai politik yang memisahkan diri dari Masyumi. Saya cuma minta ditemani satu orang pemuda, cukup satu orang, sebagai sekretaris saya. Tuan-tuan boleh lihat nanti,”.
Tahun 1955, hanya dalam waktu 3 tahun setelah keluar dari Masyumi, NU harus bertarung dalam kerasnya pemilu yang pertama setelah merdeka. Dengan mengenakan kain sarung Mbah Wahab berkeliling menjadi juru kampanye. Pun demikian dengan para kyai yang berdiri dibelakangnya. Dan dunia menyaksikan kenaikan kursi yang luar biasa dari hasil kerja kaum sarungan tersebut. Partai NU menduduki posisi ketiga dalam jumlah suara yang berhasil dikumpulkannya. Meski masih kalah dengan partai Masyumi namun bergaining politik NU naik mengalahkan Masyumi.
Kini istilah kaum sarungan yang dulu dipakai untuk merendahkan dengan bangga dipakai sebagai identitas diri santri. Kaum sarungan tidak lagi dianggap kecil, apalagi setelah Partai Masyumi dibubarkan karena ikut dalam pemberontakan PRRI. NU sebagai partai memang sudah selesai namun perannya terus lestari.
Selalu ada sisi menarik dari perjalanan organisasi NU. Ketika Muktamar NU ke-13 dilaksanakan di Menes, Banten tahun 1938, diputuskan bahwa Muktamar selanjutnya akan digelar di Magelang pada tahun berikutnya. Muktamar NU pada zaman itu memang dilaksanakan setiap tahun.
Yang menarik, pengambilan tempat di Magelang menjadi aneh karena saat diputuskan, di Magelang belum terbentuk kepengurusan NU. Terlebih lagi, Magelang dikenal pusat konsentrasi penyebaran Kristen di tanah Jawa. Setelah penangkapan Pangeran Diponegoro di Magelang yang menandai berakhirnya Java Oorlog (perang Jawa), diketahui banyak ulama yang pindah dari wilayah Bagelen itu. Pindahnya para ulama dan kyai dari Magelang tentu membuat api Islam meredup. Sebaliknya penyebaran agama Nasrani semakin pesat.
Dalam buku Berangkat Dari Pesantren, KH. Saifudin Zuhri menyebutkan, usulan Magelang sebagai lokasi pertemuan akbar NU se-Hindia Belanda dilakukan oleh RH Muhtar, Konsul NU Banyumas. Saat menyampaikan usulan, beliau tidak menyebutkan bahwa di Magelang belum ada pengurus NU. Seandainya kondisi itu disampaikan, tentu ditolak muktamirin.
Sebagai konsekwensi usulannya, Konsul NU Banyumas atau Jawa Tengah bagian Selatan, segera turun meratakan jalan menuju muktamar Magelang. Satu persatu para Ulama didatangi dengan dibantu ketua NU Cabang Purworejo dan Temanggung. Dengan mendekati para tokoh yang ternyata masih keturunan orang-orang yang pernah berjuang bersama Diponegoro, usaha itu membuahkan hasil.
Hasilnya, organisasi NU Magelang dibentuk pada bulan Mei 1939, atau 3 bulan sebelum pelaksanaan Muktamar. Tulang punggung berdirinya NU disana adalah Kyai R Hadi Alwi dan KH Fathoni dari pesantren Tonoboyo. Ada juga nama H Kodri yang menjabat lurah Kauman Magelang dan anaknya, Abdulwahab, seorang pengusaha. Di samping itu terdapat KH Baidlowi, imam Masjid Jami’ Magelang dan Kyai Moh Siraj, guru ngaji di Wates. Mereka mendapat dukungan dari Mbah Dalhar dari pesantren Watucongol.
Berkat perjuangan mereka, gairah umat Islam bisa dibangkitkan. Beberapa hari sebelum pelaksanaan, sumbangan berupa barang dan bahan makanan berdatangan. Rakyat memikul beras, sayuran, kayu bakar, menuntun kambing atau membawa beberapa ekor ayam mendatangi panitia muktamar di Hotel Semarang yang lokasinya ada di kampung Pacinan Magelang. Seluruh sumbangan itu kemudian dibacakan dalam pembukaan muktamar.
Muktamar itu sendiri dilaksanakan pada tanggal 1-7 Juli dengan peserta sebanyak 358 utusan syuriah, 123 tanfidziyah, dan 33 perwakilan barisan ansor NU. Pembukaan dilakukan dengan dihadiri oleh 2000 orang dari peserta, tamu undangan dan panitia. Undangan yang datang antara lain dari perwakilan Muhammadiyah, Jong Islaminten Bond (JIB), GIA, PII, Wal Fajri Jogja dan lain-lain.
Keputusan penting yang dihasilkan adalah rekomendasi yang mendesak agar aturan guru (guru ordonansi) 1925 dicabut dan juga menghapus subsidi pemerintah Hindia Belanda kepada semua agama. Kebijakan ordonansi guru, semacam sertifikasi oleh pemerintah kolonial memang merugikan lembaga pendidikan milik NU. Karena kebanyakan gurunya lukisan pesantren yang tidak memiliki ijazah formal. Mereka yang tidak memiliki ijazah formal yang disertifikasi tidak boleh melakukan kegiatan mengajar. Sementara subsidi pendidikan juga senada, dimana yang banyak dibantu adalah lembaga pendidikan non-muslim. Keputusan bidang organisasi adalah mengesahkan Pandu NU, Muslimat, dan departeman Ma’arif yang dipimpin oleh KH Wahid Hasyim.
Hasil keputusan lain yang ditetapkan adalah mengenai kedudukan penghulu, masalah pembacaan qunut Nazilah, soal sembahyang dalam perjalanan kereta api serta masalah hukum agama lainnya. Ikut dibahas pula persoalan pemisahan tanah makam bagi orang muslim dan non muslim.
Masalah luar negeri juga ikut dibicarakan, yaitu soal bantuan dan penggalangan dana bagi perjuangan Palestina. Termasuk menjadi topik diskusi adalah soal import barang dari Jepang yang saat itu sedang melakukan ekspansi dagang dengan sistem dumping.
Muktamar kemudian ditutup dalam sebuah rapat umum di Lapangan Tidar Magelang. Tercatat lebih dari 50 ribu orang hadir pada kegiatan yang dipimpin oleh Zainul Arifin, Konsul NU Jawa Barat. Beberapa orang kyai menyampaikan pidato di hadapan warga yang hadir, antara lain, KH. Wahab Hasbullah, KH. Abdul Karim Pasuruan, KH. R. Asnawi Kudus, KH. Mustaqim, KH. Abdul Manap Surabaya, S. Abdullah Gathmyr, dan KH. Hasjim Asy’ari. Sementara pembacaan do’a dipimpin oleh KH. Kholil Lasem.
Sekarang dapat kita bayangkan sebuah kepanitiaan baru dibentuk 3 bulan menjelang kegiatan. Panitia itu harus bertanggung jawab atas seluruh akomodasi selama seminggu penuh. Kemampuan panitia untuk mengorganisir semua potensi yang dimiliki merupakan kunci keberhasilan pelaksanaan Muktamar. Dan itu mampu dilakukan oleh sebuah organisasi bernama NU Magelang.
Dari kisah penyelenggaraan Muktamar tersebut dapat ditarik pelajaran tentang kemandirian organisasi NU. Warga NU dengan ikhlas memberikan bantuan harta bendanya demi suksesnya Muktamar tersebut.