Tag: ulama

  • KH. AHYAT CHALIMY

    KH. AHYAT CHALIMY

    KH. Ahyat Chalimy (bagian 1)

    Jamaah sholat Isya’ di surau kecil itu baru saja usai. Beberapa anak muda masih asyik bercengkerama di teras surau. Ahyat, salah seorang dari anak muda itu, beranjak pulang ke rumahnya yang berada di sebelah surau. Beberapa saat kemudian Ahyat kembali sambil membawa cobek dan ulekan. “Ayo rujakan !” katanya pada teman-temannya. Rusman dan Thoyib yang dikenal jago memanjat, segera beraksi, memanjat pohon mangga yang berada persis didepan surau. Selain memanjat mangga, seluruh kegiatan “ngrujak” dilakukan oleh Ahyat. Bukan saja membuat rujak, waktu “liwetan” (menanak nasi untuk dimakan bersama), Ahyat juga yang mengerjakan. Diantara 12 pemuda yang suka bercengkerama di surau itu, Ahyat dikenal teman-temannya sebagai anak yang suka melayani teman-temannya.

    Sambil makan rujak, mereka berbicara mengenai banyak hal. Mulai dari masalah agama, sampai informasi terkini yang mereka dengar dari radio atau dari pembicaraan orang dewasa. Malam itu mereka membicarakan Perang Dunia ke dua, dimana Jerman dan Jepang sudah mulai menguasai beberapa negara. Kabarnya, Belanda sudah mulai diserang Jerman, dan tentara Jepang sudah menguasai Malaka. Tak penting apakah informasi itu akurat atau tidak, topik pembicaraan mereka selesai atau tidak. Yang penting mereka kumpul-kumpul, berinteraksi dan makan bersama.

    Setelah selesai makan rujak, tiba-tiba Ahyat usul untuk membuat kegiatan latihan pencak silat dan baris berbaris. Usul ini disambut dengan senang hati, dan mereka mulai mengajak pemuda yang lain untuk bergabung. Seluruh kegiatan ini dipusatkan di surau kecil, berukuran 5 X 5 m, yang terletak di ujung barat Jalan Miji No. 36 Mojokerto. Biasanya latihan silat diselenggarakan di depan surau, dan latihan baris berbaris, berangkat dari surau menuju ke Pulorejo. Disekitar jembatan Pulorejo itulah mereka latihan baris dengan lebih intensif.

    Mereka sama sekali tidak menduga, apalagi merencanakan, bahwa dari komunitas 12 orang itu kemudian berkembang menjadi puluhan orang, bahkan ratusan pemuda militan yang tergabung dalam laskar rakyat Hisbullah pada perang Kemerdekaan tahun 1945. Pasukan Hisbullah yang pertama dibentuk pada tahun 1943 dan mendapatkan fasilitasi dari Pemerintah Pendudukan Jepang, berupa latihan dasar perang gerilya, untuk mempertahankan Indonesia dibawah kepemimpinan Jepang. Dua tahun kemudian, setelah Proklamasi dikumandangkan, “Pasukan Hisbullah” yang dibentuk melalui forum “rujakan” ini telah mempunyai kekuatan dua batalyon. Batalyon pertama dipimpin oleh Mansur Sholikhi, dan Batalyon kedua dipimpin oleh Munasir.

    Bukan itu saja, surau kecil milik keluarga H. Abd. Halim di Desa Mentikan, tepatnya Jl. Miji No.36 itu menjadi pusat berbagai macam aktifitas keagamaan, sosial dan kebangsaan, yang dimotori oleh dua bersaudara yaitu K.H. Ahyat Halimy dan kakak kandungnya K.H. Aslan. Di Surau ini pula, Syarikat Tani Islam Indonesia (STII) didirikan, yaitu pada tahun 1951. Tahun 1965, surau ini menjadi pusat penumpasan G.30.S PKI dan tempat kelahiran barisan Orde Baru yang diberi nama Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Dengan fasilitasi dan dorongan dari K.H. Ahyat Halimy, tahun 1968, didirikan pula Koperasi Tani yang dimotori oleh H. Husein Abd Gani ( kakak kandung Ruslan Abdul Gani, sesepuh PNI). Bahkan sejak tahun 1958 sampai sekarang, surau ini selalu digunakan untuk kegiatan sosial berupa Khitanan Massal, yang terus berlangsung setiap bulan Dzul Hijjah sampai sekarang.

    Tanggal 29 April 1964, K.H. Ahyat mulai membangun surau itu menjadi Pondok Pesantren hanya dengan modal keyakinan dan tekad yang besar. Ketika pembangunan dimulai, dengan menggali pondasi, K.H. Ahyat tidak mempunyai modal sama sekali, satu-satunya modal yang dimiliki adalah “do’a” dari Almukarrom Kanjeng Sunan Giri, dalam mimpinya, “Kowe tak dungakno iso mbangun bangunan”, kata Kanjeng Sunan. Kemudian ketika batu pertama diletakkan, datang orang tak dikenal memberikan bantuan berupa 23.000 batu bata merah.

    Maka berdirilah Pondok Pesantren, sebagai pusat pendidikan dan pengkaderan pemuda-pemuda Islam, pusat kegiatan sosial keagamaan, sosial kemasyarakatan, serta politik kebangsaan, yang semuanya didasarkan pada landasan Iman kepada Alloh SWT dan Rosul-Nya, Tasdiq, Ihlas. Yakin, Sabar dan Syukur, serta Tawakkal kepada Alloh SWT.

    Pondok Pesantren “Sabilul Muttaqin” ini telah didaftarkan sebagai Badan Hukum melalui Akte Notaris Gusti Johan Nomor 156 tertanggal 20 Desember 1972 dengan nama Yayasan “Sabilul Muttaqin”, dan berkedudukan di Jl. K.H. Wahid Hasyim (dulu Jl. Miji) Nomor 38 Mojokerto. Untuk mencapai lokasi ini, sebenarnya tidaklah terlalu sulit, sebab semua kendaraan umum di Kota Mojokerto, tahu persis tempat ini, anda cukup mengatakan “Pondoke Abah Yat” maka anda akan diantar kesana. Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin ini memang lebih dikenal oleh masyarakat awam dengan sebutan “Pondoke Abah Yat”.

    SORBANSANTRI.COM

  • KH. AHYAT HALIMI, SANTRI MBAH HASYIM YANG DISEGANI.

    KH. AHYAT HALIMI, SANTRI MBAH HASYIM YANG DISEGANI.

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Siapa sangka dari kegemaran menikmati rujak dan makan bersama akhirnya lahir barisan perang yang disegani. Surau kecil juga mampu menjadi markas dalam membincang persoalan umat dan bangsa.Jamaah shalat Isya’ di surau kecil itu baru saja usai. Beberapa anak muda masih asyik bercengkerama di teras surau. Ahyat, salah seorang dari anak muda itu, beranjak pulang ke rumahnya yang berada di sebelah surau. Beberapa saat kemudian ia kembali sambil membawa cobek dan ulekan. “Ayo rujakan!” katanya pada teman lainnya.

    Rusman dan Thoyib yang dikenal jago memanjat, segera beraksi menaklukkan pohon mangga yang berada persis di depan surau. Selain memanjat mangga, seluruh kegiatan “ngrujak” dilakukan Ahyat. Bukan saja membuat rujak, waktu “liwetan” (menanak nasi untuk dimakan bersama), ia juga yang mengerjakan. Di antara 12 pemuda yang suka bercengkerama di surau itu, ia dikenal sebagai anak yang suka melayani mereka.Membincang Persoalan BangsaSambil makan rujak, mereka berbicara mengenai banyak hal. Mulai dari masalah agama, sampai informasi terkini yang didengar dari radio atau dari pembicaraan orang dewasa.

    Malam itu mereka membicarakan perang dunia ke dua, dimana Jerman dan Jepang sudah mulai menguasai beberapa negara. Kabarnya, Belanda sudah mulai diserang Jerman, dan tentara Jepang sudah menguasai Malaka. Tidak penting apakah informasi itu akurat atau tidak, topik pembicaraan mereka selesai atau tidak. Yang penting mereka kumpul, berinteraksi dan makan bersama.Setelah selesai makan rujak, tiba-tiba Ahyat usul untuk membuat kegiatan latihan pencak silat dan baris berbaris.

    Usul ini disambut senang hati, dan mereka mulai mengajak pemuda lain bergabung. Seluruh kegiatan dipusatkan di surau kecil, berukuran 5 × 5 m, yang terletak di ujung barat Jalan Miji No. 36 Mojokerto Jawa Timur. Biasanya latihan silat diselenggarakan di depan surau, dan latihan baris berbaris, berangkat dari surau menuju ke Pulorejo. Di sekitar jembatan Pulorejo itulah mereka latihan baris lebih intensif.Mereka sama sekali tidak menduga, apalagi merencanakan, bahwa dari komunitas 12 orang itu kemudian berkembang menjadi puluhan orang, bahkan ratusan pemuda militan yang tergabung dalam laskar rakyat Hizbullah.

    Pasukan ini yang pertama dibentuk pada tahun 1943 dan mendapatkan fasilitasi dari Jepang, berupa latihan dasar perang gerilya, untuk mempertahankan Indonesia. Dua tahun kemudian, setelah proklamasi dikumandangkan, “Pasukan Hizbullah” yang dibentuk melalui forum “rujakan” ini telah mempunyai kekuatan dua batalyon. Batalyon pertama dipimpin Mansur Sholikhi, dan Batalyon kedua dipimpin oleh Munasir.Bukan itu saja, surau kecil milik keluarga H Abdul Halim di Desa Mentikan, tepatnya jalan Miji No.36 itu menjadi pusat berbagai macam aktifitas keagamaan, sosial dan kebangsaan yang dimotori dua bersaudara yaitu Ahyat Halimy dan kakak kandungnya Aslan.

    Di surau ini pula, tahun 1951 Syarikat Tani Islam Indonesia (STII) didirikan.. Tahun 1965, surau ini juga menjadi pusat penumpasan G30S PKI dan tempat kelahiran barisan Orde Baru yang diberi nama Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Dengan fasilitasi dan dorongan dari Ahyat Halimy, tahun 1968, didirikan Koperasi Tani yang dimotori H Husein Abdul Gani (kakak kandung Ruslan Abdul Gani, sesepuh PNI).

    Bahkan sejak tahun 1958 sampai sekarang, surau ini selalu digunakan kegiatan sosial berupa khitanan massal yang terus berlangsung setiap bulan Dzulhijjah.Sosok PelayanTanggal 29 April 1964, KH Ahyat mulai membangun surau itu menjadi pondok pesantren hanya dengan modal keyakinan dan tekad yang besar. Ketika pembangunan dimulai, dengan menggali pondasi, ia sama sekali tidak mempunyai modal. Satu-satunya yang dimiliki adalah “doa” dari almukarram Kanjeng Sunan Giri.

    Itupun diperoleh dari mimpi. “Kowe tak dungakno iso mbangun bangunan,” kata kanjeng Sunan. Kemudian ketika batu pertama diletakkan, datang orang tidak dikenal memberikan bantuan berupa 23.000 batu bata merah.Maka berdirilah pondok pesantren sebagai pusat pendidikan dan pengkaderan pemuda Islam, pusat kegiatan sosial keagamaan, kemasyarakatan, serta politik kebangsaan, yang semuanya didasarkan pada landasan iman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, tasdiq, ihlas, yakin, sabar dan syukur, serta tawakkal kepada-Nya.

    Pondok Pesantren “Sabilul Muttaqin” telah didaftarkan sebagai badan hukum melalui Akte Notaris Gusti Johan Nomor 156 tertanggal 20 Desember 1972 dengan nama Yayasan “Sabilul Muttaqin” dan berkedudukan di Jl KH Wahid Hasyim (dulu Jl. Miji) nomor 38 Mojokerto. Untuk mencapai lokasi, sebenarnya tidaklah terlalu sulit. Sebab semua kendaraan umum di kota Mojokerto tahu persis tempat ini.

    Anda cukup mengatakan “Pondoke Abah Yat” maka pembaca akan diantar ke sana. Pondok ini memang lebih dikenal masyarakat awam dengan sebutan “Pondoke Abah Yat”.KH Ahyat Halimi, dilahirkan pada tahun 1918 dari pasangan suami istri Hj Marfu’ah binti Ali dan H Abdul Halim dari Gedeg. Ayahnya meninggal ketika usia kandungan sang ibu baru memasuki bulan ketiga, sedang kakak kandungnya, Aslan lahir pada tahun 1914.

    Kedua anak yatim ini kemudian diasuh ibundanya bersama sang paman yang bernama H Thohir. Namun sang ibu juga wafat pada tahun 1938. Sang paman pula yang membawa dua yatim bersaudara ini bersama ibunya untuk bertempat tinggal di Desa Miji (sekarang lokasi makam almarhum KH Ahyat Halimi).Masa kecil Ahyat Halimi beserta kakak kandungnya, dijalani di Kota Mojokerto.

    Keduanya sekolah di Sekolah Rakyat Miji (sekarang SD Miji I). Setelah lulus melanjutkan ke Pesantren Tebuireng Jombang. Mereka juga sempat berguru secara langsung kepada hadratus syaikh KH Hasyim Asy’ari dan putranya Kiai Wahid Hasyim. Bahkan karena usianya yang hampir sebaya, Kiai Wahid Hasyim selain sebagai guru berperan pula sebagai sahabat dalam berbagai diskusi serta dalam satu barisan perjuangan saat proklamasi kemerdekaan.Selama belajar di Tebuireng, Ahyat kecil dikenal sebagai santri disiplin. Postur tubuh dan wajahnya menyerupai keturunan Arab, gagah dan tampan. Perilakunya sangat sopan. Ia juga dikenal sebagai anak yang suka menolong santri.

    Menanak nasi dan menghidangkan untuk disantap bersama merupakan pekerjaan setiap hari dengan sukarela. KH Munasir dari Pekukuhan Mojosari, sebagai teman sekamar di Tebuireng pernah memberi kesaksian pada beberapa orang dari Ansor dengan mengatakan; “Pak Yat, sejak kecil sudah kelihatan kalau akan jadi kiai. Dia tidak pernah meninggalkan shalat jamaah, tidak pernah mau menggunjing teman, bahkan selalu menempatkan diri sebagai pelayan mereka,” terangnya. “Saya termasuk orang yang paling beruntung ketika mondok di Tebuireng, karena tidak pernah ngliwet atau bahkan nyuci pakaian. Karena semua sudah dikerjakan Pak Yat,” lanjutnya. Subhanallah.

    Pengakuan dan kesaksian serupa diberikan teman satu angkatan antara lain KH Abdullah Siddiq, Jember, KH Mansur Burhan (Surabaya) dan KH Zainuri dari Qudus.Tahun 1938, Ahyat Halimi beserta kakaknya Aslan, kembali ke Mojokerto. Sebagai pemuda, bersama temannya, antara lain M Thoyib, M Thohir, Sholeh Rusman, Aslan, Mansur Solihi, dan Munasir, mendirikan Ansoru Nahdlatul Ulama (ANO) yang sekarang dikenal sebagai Gerakan Pemuda Ansor.

    Pada tahun yang sama ia juga diangkat sebagai Sekretaris Tanfidziyah NU Mojokerto selama dua periode (1938 – 1940).Seluruh aktifitas dikerjakan dengan tanpa meninggalkan ta’lim atau belajar, baik ke Tebuireng maupun ke KH Romli di Rejoso, Peterongan. Akhirnya pada tahun 1940, KH Ahyat Halimy mempersunting Badriyah, seorang janda dari desa Gayam, Kecamatan Mojowarno, putri KH Mohammad Hisyam yang juga memangku pesantren.Aktifitas Ahyat yang luar biasa ini tentu mengurangi waktu rumah tangga.

    Untung istrinya sangat setia. “Permulaan tahun 1950, merupakan tahun paling berat bagi rumah tangga saya,” tulisnya dalam artikel Sejarah Pondok Sabilul Muttaqin. “Saya bersama keluarga menempati rumah tua, dindingnya lapuk. Kalau malam sulit untuk tidur lelap karena angin dingin menerobos celah dinding yang sudah lapuk,” tulisnya.Pada masa sulit ini, KH Ahyat Halimi sempat terpilih menjadi anggota konstituante (semacam MPR) dan bertugas di Jakarta, yaitu pada masa berlakunya UUDS RI Tahun 1950.

    Tetapi tugas ini hanya dijalani sekitar dua tahun. Ia mengajukan pengunduran diri dari anggota konstituante, karena merasa bukan makom atau ahliannya. Keputusan yang bagi kebanyakan orang terasa sangat aneh. Betapa tidak, ketika belum mendapatkan pekerjaan yang bisa menjamin kelancaran kebutuhan rumah tangga, ia memilih mengundurkan diri hanya karena merasa tidak mampu. Padahal menjadi anggota konstituante adalah “pekerjaan” lumayan.Ketika keadaan sulit ini, mengingatkannya kepada dawuh KH Ahmad Basyari Sukonegoro dari Cianjur. ”Sopo wonge ziarah Walisongo sarono urut-urut, insya Allah oleh barokahe Walisongo.” (Barangsiapa yang mau berziarah ke makam Walisongo secara berurutan, insya Allah akan mendapat barokah dari Walisongo).

    Ia pun akhirnya berangkat ziarah ke Walisongo, dengan bekal hasil penjualan gelang milik sang istri. “Lelono” ini membutuhkan waktu satu bulan lebih.Ketika sampai di makam Sinuhun Syarif Hidayatullah (Sunan Giri), ia mendapat isyarah bahwa _maqom-_nya ada di dalam mihrab (tempat imam shalat). Isyarah yang sama juga didapat ketika berkhalwat di makam Batuampar, Madura dengan bermimpi bertemu Rasullah SAW, yang juga menyatakan isyarah serupa.Isyarah itu kemudian digabungkan dengan berpedoman pada perilaku hadratus syaikh KH Hasyim Asy’ari. Karena beliau pernah bercerita, setelah berbagai macam pekerjaan ditempuh dan dijalani bahkan sampai menjadi “blantik jaran”, akhirnya hadratus syaih berkata “Bareng aku hidmatul ilmu, maka opo wae hasil kabeh.” (Bersama saya mengabdi kepada ilmu, maka apapun akan terpenuhi).

    Berdasarkan pengalaman tersebut, sejak 25 Januari 1956, ia mulai bertekad mengabdikan ilmu dan mengadakan kuliah subuh, di surau kecil peninggalan leluhurnya. Kitab yang dibaca adalah Kasyifat al Sajaa’. Hal ini sesuai dengan saran KH Romly Rejoso Jombang dengan mengatakan “Kang Ahyat, kitab niku manfaat kangge tiyang Jawi.” Sejak itu sampai dengan kini kuliah subuh terus diselenggarakan secara istiqamah, kecuali hari raya Idul Fitri. Di tempat yang sama yaitu surau kecil yang sekarang telah berubah menjadi masjid dan komplek Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin. (Syaifullah/Aula)

  • MEMBENCI NU ITU BISA KUWALAT

    MEMBENCI NU ITU BISA KUWALAT

    Infokom Banser NU-Bukan senjata musuh, tapi kebodohan umat yang ampuh digunakan alat untuk menghancurkan agama Islam.

    Mereka telah berhasil menghasut dan memprovokasi orang awam untuk membenci ulama2 NU dengan memfitnah menggunakan cara memotong dan memelintir pidato2 para kiyai NU, serta menggiring opini dari maksud awal tujuan pidato itu disampaikan. Namun sejarah telah membuktikan bahwa atas pertolongan Allah, NU hingga kini masih dilindungi dan masih dapat memberikan manfaat bagi banyak umat.

    Karena NU didirikan dengan ikhlas dan hasil tirakat para ULAMA dan HABAIB, untuk membentengi kehancuran agama Islam dari virus Wahabi. Ingat! NU berdiri tujuan utamanya adalah melawan Neo Khawarij yang berbungkus paham Wahabi. Sedangkan para pembenci NU, mereka timbul dan kemudian tenggelam. Mereka datang dan kemudian pergi terusir dari panggung kemuliaan. Sejarah kelam Neo Khawarij menghancurkan Islam dengan memelintir ajaran2 agama Islam untuk memusuhi sesama saudaranya.

    Mereka memanfaatkan kebodohan orang Awam dengan simbol2 agama dan penampilan2 Shalih. Namun faktanya, para sahabat Nabipun tidak luput dari kejahatan mereka, sehingga Umar, Ustman, dan cucu Nabi akhirnya terbunuh menggunakan dalil2 agama. Sehingga garis keturunan Nabi dari jalur laki2 musnah di muka bumi disebabkan kejahatan Neo Khawarij yang kini berbaju Wahabi. Jangan mudah tertipu simbol2 Islami dan penampilan2 keshalihan, sebab itu memang sengaja digunakan senjata mengelabui orang awam oleh Neo Khawarij untuk mengacaukan dan menghancurkan agama Islam dari dalam.

    “Akhir zaman, nantinya orang berilmu akan dibantah oleh orang yang bodoh.”
    #…………(Dawuh Gus Qoyyum)………….#

    Bedanya NU dan Salafi/Wahabi, FPI, HTI, ialah, kalau NU berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan,
    sedngkan Salafi/Wahabi, berjuang Merusak, Memberontak dan Mendemo Negara yang sudah merdeka. Terbukti Pelaku2 Terorris di Indonesia Berjenggot, Bercelana Cingkrang, Penjahat Berjubah berkedok agama sang pengasong Khilafah.

    #SantriNderekKyaiDanHabaib #SantriNU
    #RijalulAswajaNU #RijalulAnsorNU #NU
    #AswajaNU #GP_AnsorNU #PagarNusaNU
    #BanserNU #FattayatNU #IPPNU #HWMI
    #NahdlatulUlamaBersamaNKRI_Bersatu

    Rijalul Ansor ASWAJA NU

  • Mimpi Mbah Hasyim Asy’ari

    Mimpi Mbah Hasyim Asy’ari

    SEORANG pemuda dari Jombang sedang nyantri di Kademangan, Madura. Tugasnya mengurusi kuda milik sang guru, Syeikhona Khalil. Alhasil kesempatannya mengaji pun tak terlampau banyak.

    Suatu hari, Syeikhona kerawuhan tamu dari tanah Jawa; seorang kiai yang santrinya masih berjumlah puluhan. Setelah diajak duduk sambil menikmati suguhan, tamu tersebut mengutarakan keperluannya pada tuan rumah–yang mulia.

    “Mbah Kholil, niat saya yang pertama datang ke sini adalah ingin silaturahim, dan yang kedua, hendak menikahkan putri saya. Berhubung dia sudah dewasa, kiranya patut saya carikan jodoh, apalagi usia saya juga sudah di ambang pintu ajal. Tak lama lagi Allah pasti memanggil jiwa saya, Mbah. Jika ada calonnya, saya mohon petunjuk dan izin untuk mencarikan.”

    Tanpa berpikir panjang, Mbah Kholil langsung memanggil santrinya yang sedang mengurusi kuda–di belakang rumah.

    “Hasyim..!”

    Demi mendengar suara gurunya memanggil, si santri langsung lari terbirit-birit menghadap sang guru.

    “Dalem, Mbah Kholil. Panjenengan memanggil saya?”
    “Iya.”

    Tanpa banyak tanya lagi, pemuda Hasyim langsung diam merunduk. Lalu Syeikhona berkata pada tamu beliau.

    “Ini dia calon yang kamu cari itu, yang akan meneruskan perjuanganmu nanti.”

    Si tamu pun terkejut bukan kepalang. Tak sanggup berpikir sambil bergumam dalam hatinya,

    “Apa iya sih santri mblasaken seperti ini yang akan mengurusi pesantrenku? Aku tidak yakin bila anak ini banyak ilmunya.”

    Saat bersamaan, santri Hasyim pun terkejut pula sambil berkata dalam hatinya, “Apa iya Mbah Kholil tega akan menjodohkan saya dengan putri seorang ulama yang begitu mulia?”

    “Sudahlah, kamu pulang saja dan siapkan selamatannya di rumahmu. Tiga hari lagi aqad nikah dilaksanakan. Nah, kamu Hasyim, sana kembali ke belakang!”

    Hasyim pun kembali ke tempat tugasnya dengan hati risau, pikiran kacau-balau, dan perasaan galau, sembari bertanya-tanya: ‘Bagaimana saya bisa menjalani ini semua? Kenapa guru tidak memberi tahu saya sebelumnya atau paling tidak menawarkannya terlebih dahulu?’

    Gundah gulana, bimbang, ragu, dan bingung terus berkecamuk dalam pikiran Hasyim. Pada saat seperti itulah inayah Allah ditampakkan kepadanya. Ia teringat suatu hari saat Syeikhona sedang mulang kitab dan menurunkan dawuh:

    “Sesiapa di antara kalian yang ingin tercapai hajatnya, maka bacalah selawat Nariyah sebanyak mungkin, pada waktu ijabah yang sangat dianjurkan, yaitu setelah separuh malam hingga menjelang Subuh.”

    Tengah malam itu juga, Hasyim melaksanakan apa yang pernah diucapkan Syeikhona. Menjelang Subuh ia keboboan. Kala itulah hal ajaib terjadi dalam mimpinya. Ia bertemu Imam al-Bukhari ra yang mengajarkan padanya hadis Shahih selama empatpuluh tahun. Manakala terjaga, Hasyim tertegun atas mimpi mistikal yang ia alami.

    Pada malam kedua, hal yang sama terjadi lagi. Kali ini dalam mimpinya, Hasyim mendaras ilmu pada Imam as-Syafi’i yang kemudian mengajarkan padanya ragam kitab fikih dari empat madzhab: Syafi’i, Hanafi, Maliki dan Hanbali, juga selama empatpuluh tahun.

    Pada malam ketiga, ia kembali bermimpi dan mengaos ilmu dengan Imam al-Ghazali dan Syeikh Junayd al Baghdadi, yang mengajarkan padanya puspragam kitab tasawuf selama empatpuluh tahun. Ketiga mimpi itu kemudian menyisakan pertanyaan besar dalam pikiran Hasyim: apa makna dari semua mimpi itu.

    Keesokan hari, ia hendak bertanya pada Syeikhona namun sudah tidak ada kesempatan lagi, kerana justru ia malah disuruh bergegas menuju rumah calon mertuanya–guna melangsungkan aqad nikah.

    Guru-murid ini pun berangkat. Setiba di tempat tujuan, aqad nikah langsung digelar. Sejak kedatangan hingga kemudian hendak pulang, Syeikhona sama sekali tak berkata apa pun, kecuali saat akan berpamitan.

    “Hasyim, kamu jangan nyelewang-nyeleweng ya! Ibadah ikut yang dicontohkan Nabi Saw melalui ulamanya, dan ikutilah ulama Allah agar selamat. Allah pasti bersamamu.”

    “Inggih, Mbah. Sendiko dawuh,” jawab Hasyim dalam manjura.

    Sementara kepada mertua Hasyim, Syeikhona bertitah.

    “Jangan ragu dengan Hasyim! Dia sudah mengaji 120 tahun lamanya.”

    Semua hadirin nampak kebingungan. Santri yang baru saja menikah di hadapan mereka belum lagi mencapai usia limapuluh tahun. Hasyim juga tak kalah ngungun. Bagaimana mungkin gurunya tahu perihal mimpi mistikalnya. Tak peduli dengan itu semua, Syeikhona pun kembali ke Bangkalan.

    Esok hari, Hasyim diuji sang mertua. Ia ingin membuktikan sealim apakah menantu yang dijagokan gurunya itu. Ujian membaca kitab pun dihelat di masjid pesantren. Hasyim mulai gugup. Keringatnya panas-dingin. Sementara di tempat biasa mertuanya duduk, sudah disediakan dua kitab tafsir dan hadis. Di tempat yang sama, Hasyim juga dipersilakan duduk.

    Ujian ini jadi kian menakjubkan kala Hasyim langsung membaca dengan fasih, hafal luar kepala, serta membahas laiknya para masyayikh yang sudah kenyang dengan segudang ilmu–tanpa memegang bahkan membuka dua kitab tersebut. Tanpa kesalahan sama sekali.

    Para ustadz dan santri senior yang semula tak yakin dengan kemampuan Hasyim, seketika takjub. Begitu pun mertuanya yang mengintip dari celah jendela rumahnya. Sedari hari itu hingga seterusnya, Hasyim muda beroleh tugas mulang semua kitab klasik dari pelbagai cabang ilmu tradisional Islam. Di depan namanya lantas tersematlah satu kata baru: Kiai Hasyim Asy’ari. Karomah ini pula yang kelak memunculkan gelar baru di depan nama Beliau setelah mendirikan Pesantren Tebuireng: Hadratus Syeikh (maha guru)

    Demikianlah sekelumit kisah karomah Syeikhona Kholil Bangkalan yang diterima Hadratus Syeikh, dan masih banyak lagi karomah Beliau yang dialami dan disaksikan para santrinya yang lain.

    Semoga Allah senantiasa mengalirkan tetesan berkah dan manfaat dari kehidupan beliau-beliau yang mulia, kepada kita dan anak cucu. #Aamiin #Yaa #Robbal ‘#Aalamiin . Lahumul #Faatihah …

    Copas by LTNU Turen